Pj terapan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pj terapan

on

  • 703 views

Penginderaan Jauh Terapan

Penginderaan Jauh Terapan

Statistics

Views

Total Views
703
Views on SlideShare
703
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
31
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Pj terapan Pj terapan Document Transcript

  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: 1907-5022Yogyakarta, 20 Juni 2009 APLIKASI DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK IDENTIFIKASI TINGKAT KERAGAMAN PENGGUNAAN LAHAN Dwi Nowo Martono Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN ) Jl. Pemuda Persil No.1, Jakarta. 13220 Telp. (021) 8478814, Hp: 08159949809 E-mail: nowo2003@yahoo.comABSTRACT This research is examine level of variety landuse and road network by calculating entropy indeks each“Rukun Wilayah (RW)” in Cibatok subdistrict Bogor. High resolution Remote sensing “quick bird” data is usedto identify landuse and road network distribution. Base on interpetation result by remote sensing data, thereare 3 class of landuse which are rice field, mix garden and settlement. Rice field dominate 73,063% of wholeresearch area. Settlement spread each RW in Cibatok Village, The other side mix garden less spread, becauseonly in RW 03 and RW 04. The highest heterogeneous land use in RW 08 with average entropy value 0,866 andthe most homogeneous in RW 01 with entropy value 0,452. Entropy value not related with level of accessibility.Kata Kunci: remote sensing, land use, entropy1. LATAR BELAKANG 2. CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI Pelaksanaan pengembangan wilayah perdesaan (QUICKBIRD)memerlukan suatu perencanaan yang matang. Digital Globe (perusahaan Swasta AS), tahunPerencanaan tersebut dilakukan dalam rangka 2002 meluncurkan satelit komersial dengan namamengalokasikan secara spasial sumber daya Quickbird, beresolusi spasial hingga 60 sentimeteryang dimiliki setiap wilayah perdesaan sehingga dan 2,4 meter untuk moda pankromatik danoptimal. Pendekatan secara spasial perlu dilakukan, multispektral. Sampai saat ini Citra Quickbirdmengingat semua kegiatan pemanfaatan ruang beresolusi spasial paling tinggi dibanding citraperdesaan baik sosial maupun ekonomi satelit komersial lain. Selain resolusi spasialmembutuhkan lokasi atau tempat yang secara sangat tinggi, dalam system perekamannyahirarkis dan fungsional saling berkaitan antara satu menggunakan linear array CCD-biasa disebutdengan yang lainnya. Hal ini didasarkan pada pushbroom scanner. Jangkauan liputan satelitkenyataan bahwa kondisi tata guna lahan wilayah resolusi tinggi seperti Quickbird kurang dari 20 kmperdesaan di Indonesia sangat beragam. Oleh karena karena beresolusi tinggi dan posisi orbitnya rendah,itu setiap pengambilan kebijakan pemanfaatan ruang 400-600 km di atas Bumi. Berdasarkanperlu memperhatikan kondisi keragaman pengalaman penulis, dengan luas liputan 16,5 xpenggunaan lahan di wilayah yang bersangkutan. 16,5 km², data Quickbird untuk 4 saluran Desa Cibatok Satu di Kabupaten Bogor ditambah 1 saluran pankromatik telahmerupakan salah satu contoh wilayah perdesaan dari menghabiskan tempat 1,8 gigabyte. Data sebesar inisekian banyak wilayah perdesaan di Indonesia yang disimpan dalam 1 file tanpa kompresi pada resolusitata guna lahannya beranekaragam. Oleh karena itu radiometrik 16 bit per pixel.tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sebaran Semua sistem menghasilkan dua macam data:dan luas tata guna lahan dan jaringan jalan setiap RW multispektral pada empat saluran spektral (biru,menggunakan data penginderaan jauh Quick Bird hijau, merah, dan inframerah dekat atau B, H,dan mengkaji keanekaragamannya berdasarkan M, dan IMD), serta pankromatik (PAN) yangperhitungan nilai Entropy. beroperasi di wilayah gelombang tampak mata dan Perhitungan nilai entropy dalam penelitian perluasannya. Resolusi spasial tinggi ditujukanini dilakukan untuk dua jenis fenomena yaitu untuk mendukung aplikasi kekotaan, sepertipenggunaan lahan dan jaringan jalan, bertujuan pengenalan pola permukiman, perkembangan danmengetahui tingkat keragaman penggunaan lahan perluasan daerah terbangun. Saluran-salurandan jaringan jalan setiap RW, Semakin banyak spektral B, H, M, IMD, dan PAN cenderungjumlah peluang penggunaan lahan dan jaringan jalan dipilih, karena telah terbukti efektif dalamdan semakin rata sebaran luas atau jenis menyajikan variasi fenomena yang terkait denganpemanfaatannya, nilai entropy semakin besar. kota. Diharapkan hasil kajian ini dapat digunakan Kondisi vegetasi tampak jelas pada komposisioleh pemerintah daerah setempat dalam perencanaan warna semu (false color), yang tersusun ataspengembangan wilayahnya. saluran-saluran B, H, IMD ataupun H, M, IMD yang D-27
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: 1907-5022Yogyakarta, 20 Juni 2009masing- masing ditandai dengan urutan warna biru, satelit resolusi tinggi Quick Bird Pansharpenhijau, dan merah. Pada citra komposit warna ini, tahun 2006 seperti disajikan Gambar 1.vegetasi dengan berbagai tingkat kerapatantampak bergradasi kemerahan. Kehadiran Quickbird telah melahirkan eforiabaru. pada praktisi inderaja yang jenuh denganpenggunaan metode baku analisis citra berbasisLandsat dan SPOT. Klasifikasi multispektralstandar berdasarkan resolusi spasial sekitar 20-30meter seringkali dianggap kurang halus untukkajian wilayah pertanian dan urban di Jawa.Model-model dengan knowledge-based techniques(KBT) yang berbasis Landsat dan SPOTumumnya tidak tersedia dalam menu baku diperangkat lunak komersial, dan lebih sulitdioperasikan. Quickbird menjawab kebutuhan itu. Resolusi60 cm bila dipadukan dengan saluran Gambar 1. Citra Quickbirb Pansharpen Desamultispektralnya akan menghasilkan pan-sharped Cibatok Kabupaten Bogorimage, yang mampu menonjolkan variasi obyekhingga marka jalan dan tembok penjara. Citra ini Sedangkan data pendukungnya meliputimudah sekali diinterpretasi secara visual. Meski Peta digital indikasi batas administrasi tahundemikian, para pakar inderaja saat ini masih 2005 dari Bakosurtanal, data monografi desabergulat dengan pengembangan metode ekstraksi dan titik titik koordinat GPS orde 3.informasi otomatis berbasis citra resolusi tinggi Secara umum metode penelitian ini dibagiseperti Quickbird. Resolusi spasial yang sangat menjadi empat tahapan, yaitu tahaptinggi pada Quickbird telah melahirkan masalah pengumpulan data textual (tabel, grafik danbaru dalam inderaja digital, di mana respons spektral tex) maupun peta/data spasial. Tahapobyek tidak berhubungan langsung dengan selanjutnya adalah pengolahan citra Quickkarakter obyek secara utuh, melainkan bagian- Bird pansharpened, meliputi rektifikasibagiannya. Bayangkan citra multispektral SPOT-5 berbasis batas administrasi desa danberesolusi 10 meter, maka dengan relatif mudah interpretasi penggunaan lahan termasukjaringan jalan dapat kita klasifikasi secara otomatis identifikasi jaringan jalan. Tahap ketiga adalahke dalam kategori-kategori .jalan aspal., .jalan menghitung luas wilayah dan luas penggunaanbeton., dan .jalan tanah., karena jalan-jalan jalan serta menghitung panjang jaringan jalanselebar sekitar 5 hingga 12 meter akan dikenali untuk setiap RW. Tahap Akhir adalahsebagai piksel-piksel dengan nilai tertentu. menghitung nilai entropy (Hi) jenisNamun, pada resolusi 60 cm, jalan selebar 15 meter penggunaan lahan dan jaringan jalan setiapakan terisi dengan pedagang kakilima, marka jalan, RW dengan menggunakan rumus dari Shannon danpengendara motor, dan bahkan koran yang Weaver (1949) diformulasikan sebagai berikut :tergeletak di tengah jalan. (Danoedoro, 2004) n Hi = − K ∑ pij log pij (1) j =1Tabel 1. Karaktristik Quickbird xij Sistem Quickbird pij = 600 km, 98.2o, sun-synchronous, xi (2) Orbit 10:00 AM crossing Hi Hi H i = = (3) Swath Width 20 km (CCD-array) Hi max log n Sensor linear array CCD Off-track Keterangan : Tidak tersedia Hi = entropy penggunaan lahan setiap wilayah RW viewing 0.45 -0.52 (1), 0.52-0.60 (2), 0.63- ke-i; Band Spektral 0.69 (3), 0.76-0.90 (4), 1.55-1.75 H’i = entropy relatif penggunaan lahan setiap (µm) (5), 10.4-12.50 (6), 2.08-2.34 (7), wilayah RW ke-i; 0.50-0.90 (PAN) Hi max = entropy maksimal penggunaan lahan setiap (Resolusi wilayah RW, bernilai log n ; 60 m (PAN), 2.4 m (band 1-5, 7) spasial) K = konstanta pembobot positif, bernilai 1 jika tidak dilakukan pembobotan;3. METODOLOGI pij = peluang munculnya setiap jenis Data utama yang digunakan dalam penggunaan lahan ke j di wilayah RW ke-i,penelitian ini adalah data penginderaan jauh dinyatakan sebagai proporsi jenis kejadian ke D-28
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: 1907-5022Yogyakarta, 20 Juni 2009 j di wilayah ke-i; padi, kemudian sayuran, jagung, kacang tanah,xij = Luas jenis penggunaan lahan ke j di wilayah dan ubi jalar, sedangkan kebun yang ada RW ke-i; merupakan kebun campuran yang terdiri darixi = Luas total penggunaan lahan di wilayah RW lebih dari satu macam tanaman, seperti ketela ke-i. pohon, pisang, kelapa, dan lainnya. Sebaran spasial penggunaan lahan hasil interpretasi citra ditampilkan Semakin heterogen jenis penggunaan lahan, pada Gambar 3.semakin rata sebaran peluang munculnya jenispenggunaan lahan di suatu wilayah. Hal ini berartinilai entropy wilayah tersebut semakin besar.Besarnya nilai entropy memiliki kisaran 0 sampailog n. Entropy suatu wilayah bernilai nol apabiladi wilayah tersebut hanya terdapat satu jenispenggunaan lahan. Entropy maksimal apabilapeluang munculnya semua jenis penggunaanlahan sama besar atau bemilai 1/n. Secara sistimatis tahapan penelitiandijelaskan dalam diagram alir penelitian,seperti disajikan pada Gambar 2. Gambar 3. Sebaran Penggunaan Lahan di Desa Cibatok Satu Gambar 2. Diagram Alir Penelitian4. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 4. Peta Jaringan Jalan Desa Cibatok Satu Berdasarkan hasil interpretasi visual dari citrapenginderaan jauh Quick Bird dan didukung peta Setelah dilakukan tumpang susun (overlay)desa yang ada, maka penggunaan lahan di Desa dengan batas administrasi desa, maka luasCibatok Satu terdiri dari sawah, kebun campuran penggunaan lahan keseluruhan untuk sawah di Desadan pemukiman. Secara visual citra Quick Bird dapat Cibatok Satu adalah 130,412 Ha (73,063%)mengidentifikasi bangunan rumah dan jalan sedangkan kebun dan pemukiman masing-masingkampung yang tidak beraspal (tanah/Batu/Semen) memiliki luasan 15,096 Ha (8,457%) dan 32,985 Hadengan lebar kurang dari 1 meter yang ada di (18,480%). Luas jenis penggunaan lahan tiap RWwilayah permukiman. Dari citra Quick Bird, lahan disajikan Tabel 2.sawah mempunyai kenampakan yang sangat jelas Jenis jalan yang terdapat di Desa Cibatok Satudan mudah dibedakan dengan vegetasi lainnya. Ciri meliputi jalan negara, jalan jalan aspal, jalanutama kenampakan sawah adalah adanya galengan semen/batu, dan jalan tanah/setapak. Jalan negara(jalan tanah), bentuknya persegi dan teksturnya yang terdapat di desa ini merupakan jalan yanghalus/seragam. Tetapi data Quick Bird tidak dapat menghubungkan antara Provinsi Jawa Barat denganmengidentifikasi jenis tanaman atau vegetasi tanpa Provinsi Banten, dan Kabupaten Bogor denganbantuan data sekunder atau survei lapangan. Kotamadya Bogor. Sedangkan jalan aspal diBerdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun wilayah ini merupakan jalan kabupaten yang2006, Sawah yang terdapat di seluruh wilayah Desa menghubungkan Kecamatan CibungbulangCibatok Satu sebagian besar ditanami tanaman dengan Kecamatan Pamijahan Kabupaten D-29 View slide
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: 1907-5022Yogyakarta, 20 Juni 2009Bogor.Secara keseluruhan, masing-masing jenis lainnya. Sementara itu, wilayah RW yang memilikijalan memiliki panjang sebagai berikut : jalan negara tingkat keragaman penggunaan lahan paling rendah542,918 meter (6,423%), jalan aspal 3.001,642 (homogen) adalah RW 01, ditunjukkan oleh nilaimeter (35,512%), jalan semen/batu 1.190,412 meter entropy penggunaan lahan (HLi = 0,192).(14,083%), dan jalan tanah/setapak 3.717,582 meter Penggunaan lahan di wilayah ini didominasi sawah(43,982%). Keempat jenis jalan tersebut, tersebar dengan proporsi luasan sebesar 84,59% dari totaldi seluruh wilayah RW dengan panjang jalan yang wilayah RW 01.berbeda, membentuk jaringan jalan wilayah RW.Panjang setiap jenis jalan di setiap RW disajikanpada Tabel 3, dan secara spasial jaringan jalanditampilkan pada Gambar 4Tabel 2. Luas Penggunaan Lahan di Desa Cibatok Luas Penggunaan Lahan (Ha) Luas Wilayah Sawah Kebun Pemukiman (Ha) RW 01 23,768 0,069 4,258 28,096 RW 02 4,745 0,964 4,334 10,043 RW 03 4,826 0,366 4,766 9,958 RW 04 17,114 0,197 7,387 24,697 RW 05 24,501 6,878 2,860 34,239 RW 06 16,470 1,417 1,776 19,663 RW 07 9,691 1,402 1,263 12,356 Gambar 5. Peta Nilai Entropy Penggunaan Lahan RW 08 4,991 1,982 3,277 10,250 Desa Cibatok RW 09 24,306 1,820 3,063 29,190 Desa Tabel 4. Proporsi Luas dan Nilai Entropy Penggunaan 130,412 15,096 32,985 178,492 Cibatok Lahan Desa Cibatok Satu Proporsi LuasTabel 3. Panjang Jalan Desa Cibatok Satu Penggunaan Lahan (%) Panjang Jalan ( meter) Wilayah HLi. HLi. Jalan. Jalan. Jalan. Jalan. Total Jalan Sawah Kebun PemukimanWilayah Negar Aspal Batu/ Tanah/ (Meter) a Semen Setapak RW 01 84,59 0,24 15,157 0,192 0,403RW 01 0 519 0 506 1026 RW 02 47,24 9,60 43,154 0,409 0,857 RW 03 48,46 3,67 47,857 0,358 0,751RW 02 0 0 156 176 333 RW 04 69,29 0,79 29,910 0,284 0,595RW 03 305 260 38 374 979 RW 05 71,55 20,08 8,354 0,334 0,700RW 04 237 260 0 741 1240 RW 06 83,76 7,20 9,032 0,241 0,505 RW 07 78,43 11,34 10,221 0,291 0,610RW 05 0 428 0 1011 1439 RW 08 48,69 19,33 31,973 0,449 0,940RW 06 0 577 119 158 854 RW 09 83,27 6,23 10,494 0,244 0,512RW 07 0 0 147 195 342 Desa 73,06 8,45 18,480 0,326 0,683RW 08 0 525 469 499 1493 HL.j 0,88 0,72 0,908RW 09 0 430 259 53 743 HL.j 0,92 0,76 0,951 Desa HL.i max 0,47 542 3300 1190 3717 8452 Cibatok HL.j max 0,95 Berdasarkan hasil analisis tingkat keragaman Penggunaan lahan di Desa Cibatok Satu memilikipenggunaan lahan dan jaringan jalan di Desa jenis yang tersebar di seluruh wilayah RW denganCibatok Satu yang dilakukan dengan perhitungan luasan yang bervariasi. Sebaran tersebut dapatnilai entropy setiap wilayah RW (HLi) disajikan dipahami dengan nilai entropy penggunaan lahanpada Tabel 4, Tabel 5 dan secara spasial disajikan (HLj) yang disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan nilaipada Gambar 5 dan gambar 6. Berdasarkan hasil entropy jenis penggunaan lahan, pemukiman dantersebut dapat diketahui bahwa RW 08 memiliki sawah mempunyai sebaran luasan yang merata ditingkat keragaman penggunaan lahan yang paling Desa Cibatok Satu. Hal ini ditunjukkan oleh nilaitinggi (heterogen) yang ditunjukkan oleh nilai entropy pemukiman dan sawah masing masingentropy penggunaan lahan wilayah RW 08 (HLi = sebesar 0,908 dan 0,880. Sementara itu, kebun0,449) dimana luasan penggunaan lahan sawah, memiliki sebaran luasan yang paling tidak meratakebun dan pemukiman yang terdapat di wilayah ini dengan nilai entropy (HLj = 0,725) atau paling kecillebih proporsional dibandingkan wilayah RW dibandingkan nilai entropy pemukiman dan sawah. D-30 View slide
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: 1907-5022Yogyakarta, 20 Juni 2009 Analisis tingkat keragaman jaringan jalan di analisis dari nilai entropv jenis jalan (Hri) sepertiDesa Cibatok Satu dengan menghitung nilai entropy disajikan pada Tabel 5. diketahui bahwa jalanjaringan jalan setiap wilayah RW (Hri), diketahui tanah/setapak memiliki sebaran yang paling merata dibahwa RW 03 memiliki tingkat keragaman jaringan Desa Cibatok Satu, sedangkan yang paling tidakjalan paling tinggi (heterogen) di Desa Cibatok Satu merata adalah jalan negara. Jalan negara memilikidengan nilai entropy jaringan jalan wilayah RW 03 nilai entropv paling kecil (Hri= 0,298) dan hanyaadalah 0,526 (terbesar di bandingkan wilayah RW ditemui pada wilayah RW 03 dan RW 04 saja. Nilailainnya). entropv jalan tanah/setapak paling besar Sementara itu, wilayah RW yang mempunyai dibandingkan jenis jalan lainnya (Hrk = 0,844).tingkat keragaman jaringan jalan paling rendah Nilai entropv tidak terkait dengan aksesibilitas(homogen) adalah RW 05 dengan nilai entropy = jalan secara langsung. Aksesibilitas jalan lebih0,264. Jaringan jalan di wilayah ini didominasi oleh dipengaruhi oleh kerapatan jenis jalan, yangjalan tanah/setapak sebesar 70,261% dari total kualitasnya paling baik. Urutan kualitas jalan daripanjang jalan yang terdapat di RW 05. Nilai entropy yang paling baik di Desa Cibatok Satu adalah jalanyang menggambarkan tingkat keragaman jaringan negara, jalan aspal, jalan batu/semen dan jalan tanahjalan seluruh wilayah RW di Desa Cibatok Satu setapak.disajikan pada Tabel 5 , dan secara spasial sebaran Berdasarkan kerapatan jenis jalan yang disajikannilainya ditampilkan pada Gambar 6 pada Tabel 6. dapat diketahui bahwa wilayah RW 03 dan RW 04 tergolong memiliki aksesibilitas jalanTabel 5. Proporsi Panjang Jalan dan Nilai Entropy lebih tinggi dibandingkan wilayah RW lainnya,Jaringan Jalan dimana RW 03 paling tinggi aksesibilitas jalannya. Proporsi Panjang Jalan ( Meter) Tingginya aksesibilitas jalan kedua wilayah RW Nama RW Jalan Jalan Hr i Hr i tersebut ditunjukkan oleh kerapatan jalan negara di Jalan Jalan Semen/ tanah / wilayah RW 03 dan RW 04 masingmasing sebesar Negara Aspal Batu setapak 30,646 dan 9,626. Sementara itu, wilayah RW RW 01 0.00 50.63 0.00 49.36 0,30 0,50 RW 02 0.00 0.00 46.90 53.10 0,30 0,49 yang memiliki aksesibilitas jalan paling rendah RW 03 31.16 26.65 3.91 38.26 0,52 0,87 adalah wilayah RW 07. Wilayah ini hanya memiliki RW 04 19.16 21.03 0.00 59.79 0,41 0,68 jalan batu/semen dan jalan tanah/setapak, dengan RW 05 0.00 29.73 0.00 70.26 0,26 0,43 kerapatan jalan paling kecil dibandingkan wilayah RW 06 0.00 67.53 13.92 18.54 0,37 0,61 RW lainnya. RW 07 0.00 0.00 43.07 56.92 0,29 0,49 RW 08 0.00 35.15 31.41 33.43 0,47 0,79 RW 09 0.00 57.84 34.95 7.20 0,37 0,63 Tabel 6. Kerapatan Jenis Jalan di Desa Cibatok Satu Desa 6.42 35.51 14.08 43.98 0,51 0,85 Kerapatan Jalan (meter/hektar) Jalan Tanah Hr j 0,29 0,82 0,68 0,84 Wilayah Jalan Jalan Jalan Setapak Hr j 0,31 0,86 0,71 0,88 Negara Aspal Batu/Semen Hr i max 0,93 RW 01 0,000 18,495 0,000 18,029 Hrj max 0,95 RW 02 0,000 0,000 15,566 17,623 RW 03 30,646 26,204 3,848 37,622 RW 04 9,626 10,565 0,000 30,027 RW 05 0,000 12,503 0,000 29,539 RW 06 0,000 29,345 6,053 8,057 RW 07 0,000 0,000 11,951 15,795 RW 08 0,000 51,219 45,781 48,711 RW 09 0,000 14,732 8,901 1,834 Pembandingan nilai entropy penggunaan lahan dan jaringan jalan di Desa Cibatok Satu tidak dapat dilakukan secara langsung. Hal ini disebabkan karena penggunaan lahan dan jaringan jalan memiliki jumlah jenis kejadian yang berbeda. Perbedaan jumlah jenis kejadian tersebut menyebabkan perbedaan nilai entropy maksimal yang dapat Gambar 6. Peta Entropv Jaringan Jalan Desa diperoleh dari masing-masing kejadian. Cibatok Pembandingan dapat dilakukan untuk nilai entropy relatif dari setiap kejadian. Nilai entropy, relatif Sebaran jenis jaringan jalan setiap RW di Desa merupakan rasio antara nilai entropy suatu kejadianCibatok Satu memiliki keanekaragaman jenis jalan dengan nilai entropy maksimal dari kejadianyang tersebar di seluruh wilayah RW. Berdasarkan tersebut. D-31
  • Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) ISSN: 1907-5022Yogyakarta, 20 Juni 2009 Nilai entropy relatif setiap wilayah RW 4. Tingkat keragaman penggunaan lahan danmenggambarkan keragaman sifat dan jaringan jalan setiap RW bervariasi. Permukimanketidakteraturan antar wilayah RW yang ada di dan jalan tanah/setapak mempunyai sebaranDesa Cibatok Satu. Berdasarkan nilai entropy paling merata di setiap RW, sedangkan tutupanrelatif penggunaan lahan dan jaringan jalan di lahan kebun dan jalan negara paling tidaksetiap wilayah RW yang disajikan pada Tabel 7, merata. Jalan Negara hanya terdapat di RW 03dapat diketahui bahwa wilayah RW yang memiliki dan RW 04 saja.keragaman penggunaan lahan dan jaringan jalan 5. Wilayah RW yang memiliki tingkat keragamanyang homogen adalah wilayah RW 01 dan penggunaan lahan dan jaringan jalan palingRW 07. Wilayah RW 03 dan RW 08 memiliki tinggi adalah RW 08 dengan nilai entropy relatifkeragaman penggunaan lahan dan jaringan jalan rata rata 0,866 , sedangkan yang paling tidakyang heterogen. Wilayah RW 02 dan RW 05 merata adalah RW 01. dengan nilai entropymemiliki keragaman penggunaan lahan yang relatif rata rata 0,452.heterogen tetapi dengan keragaman jaringan jalan 6. Nilai entropy tidak terkait langsung denganyang homogen. Sebaliknya, RW 04, RW 06 dan tingkat aksesibilitas . Tingkat aksesibilitas lebihRW 09 memiliki keragaman penggunaan lahan dipengaruhi oleh faktor lain seperti kerapatanyang homogen tetapi keragaman jaringan jalannya jaringan jalan dan kualitas jalan.heterogen. PUSTAKATabel 7. Nilai Entropy Relatif Gabungan Anwar, A. dan Ernan Rustiadi, Pembangunan TataPenggunaan Lahan dan Jaringan Jalan Ruang (Spatial) Wilayah Perdesaan dalam Nilai entropy relatif Nilai Rangka Pembangunan Regional. Seminar entropy Bappenas. Jakarta. (2001). No RW Penggunaan Jaringan relatif Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. lahan jalan rata rata Peta Rupabumi Digital Indonesia. Lembar 1 RW 01 0.403 0.500 0.452 Leuwiliang 1209-134. Edisi 1. Skala 2 RW 02 0.857 0.499 0.678 1:25000. Bakosurtanal. Cibinong, (1999). 3 RW 03 0.751 0.873 0.812 Badan Pusat Statistik. Bogor dalam Angka, 4 RW 04 0.595 0.687 0.641 Kabupaten Bogor. (2006). 5 RW 05 0.700 0.439 0.570 Darma, H. S.. Analisis Spasial Pola Penggunaan 6 RW 06 0.505 0.615 0.560 Lahan dan Sebaran Fasilitas Fisik di 7 RW 07 0.610 0.493 0.552 Wilayah Inti Kawasan Agropolitan 8 RW 08 0.940 0.792 0.866 Kabupaten Cianjur. (2005). Skripsi S1. 9 RW 09 0.512 0.630 0.571 Departemen Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.5. KESIMPULAN Gocmen. Land Development Patterns, Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan di Desa Environmental Perceptions, and ResidentialCibatok Satu Kecamatan Cibulangbulang Kabupaten Preferences in Southeast MichiganBogor dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu : University. (2006). Dissertation. Michigan.1. Data penginderaan Jauh satelit sangat membantu United States. 183 Pages.. dan bahkan sebagai sarana mutlak yang harus Jayadinata, J. T.. Tata Guna Tanah dalam tersedia dalam analisis spasial kuantitaif tingkat Perencanaan Pedesaan, Perkotaan dan keragaman penggunaan lahan dan jaringan jalan Wilayah. Edisi Ketiga. Penerbit ITB. suatu wilayah. Bandung. (1999).2. Berdasarkan interpretasi dari data penginderaan Sumodiningrat, G.. Kemiskinan dan Pengembangan jauh, secara umum terdapat tiga jenis tutupan Ekonomi Perdesaan. Makalah pada Seminar lahan yaitu persawahan, kebun campuran dan Kritik Atas Kebijakan Pembangunan permukiman. Tutupan lahan yang paling Perdesaan di Indonesia. (2005). dominan adalah sawah, dengan luas sekitar 73% diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian dari total luas wilayah, sedangkan tutupan lahan Perencanaan dan Pengembangan Wilayah permukiman hanya 18,5% yang merupakan (P4W). Institut Pertanian Bogor. Bogor. tutupan lahan dengan luas terkecil. Ini berarti di Suroso dan Santoso, Pengaruh Perubahan Tata Desa Cibatok Satu adalah desa yang wilayahnya Guna Lahan Terhadap Debit Banjir Daerah sebagain besar di gunakan untuk pertanian dan Aliran Sungai Banjaran, (2006). Jurusan perkebunan. Teknik Sipil, Universitas Jenderal3. Jalan tanah/setapak paling banyak dijumpai di Soedirman. setiap RW yaitu hampir 44% dari total panjang Wikipedia.. Global Positioning System, (2005). jalan yang ada di Desa Cibatok Satu. Ini berarti http://id.wikipedia.org/wiki/GPS.htm. [28 kualitas jalan di wilayah kajian masih rendah. Desember 2005]. D-32