Your SlideShare is downloading. ×
Mengenal masyarakat tengger
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Mengenal masyarakat tengger

12,490

Published on

Data2 tugas laporan sejarah n sosio komplit.

Data2 tugas laporan sejarah n sosio komplit.

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
12,490
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
170
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Mengenal Masyarakat TenggerMengenal Masyarakat TenggerKeadaan Geografis Luas daerah Tengger kurang lebih 40km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat,di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empatkabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnyabergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yangterluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo,dengan ketinggian 2392 m, masih aktif mengeluarkan asap yang menggelembung ke angkasa. Disebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.Keadaan Tanah dan Tanam-tanaman Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman kerasyang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena,dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohoncemara sampai 3000 m di lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonanyang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalahkentang, kubis, ubi ketela, jagung dsb.Jenis Hewan Jenis hewan piaraan yang ada antara lain lembu dan kambing. Jenis binatang lainnyaadalah babi hutan (sus scrofa) rusa timur (cervus timorensis), serigala atau (muncak muntiacus),dan berkembang pula jenis macam tutul (panthera pardus), terdapat pula species burung,misalnya burung air.Iklim dan Cuaca Iklim daerah Tengger adalah hujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulanNovember-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan. Suhu udaraberubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3º - 18º Celsius. Selama musim hujan kelembabanudara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasadingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan.Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulaimenebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagihari sebelum fajar menyingsing.Penduduk dan Mata Pencaharian Penduduk di sekitar Taman Nasional Bromo kurang lebih sebanyak 128.181 jiwa dengandistribusi sebagai berikut: petani penggarap 48.625 orang (37,93%), buruh tani 10.461 orang
  • 2. (8,16%), karyawan dan ABRI 1.595 orang (1,24%), pedagang 3.009 orang (2,38%),pengrajin/industri kecil 343 orang (0,01%), dan lain-lain sekitar 64.140 orang (50,05%).Penduduk masyarakat Tengger pada umumnya bertempat tinggal berkelompok di bukit-bukitmendekati lahan pertanian. Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadahhujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat inisudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang, danwortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung akhir musim hujan mereka menanamjagung sebagai cadangan makanan pokok. Sejak zaman pemerintahan Majapahit, tingkat perkembangan penduduk Tengger tergolonglambat. Sejarah perkembangan masyarakat Tengger tidak diketahui dengan jelas, kecuali secarasamar sebagai hasil penelitian Nancy (1985).Sejarah dan LegendaPengertian Tengger Ditinjau dari arti etimologisnya tengger berarti „berdiri tegak‟, diam tanpa bergerak (Jawa).Sedangkan bila dikaitkan dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakatnya, Tenggerdiartikan sebagai tengering budhi luhur (Jawa), Tengger berarti tanda atau ciri yang memberikansifat khusus pada sesuatu. Dengan kata lain tengger dapat berarti „sifat-sifat budi pekerti luhur‟.Arti yang kedua adalah „daerah pegunungan‟, yang memang tepat dengan keadaan sebenarnyabahwa masyarakat Tengger berada pada lereng-lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Arti kata tengger juga dapat dianalisis dari mitos masyarakat Tengger, tentang suami istrisebagai cikal bakal atau yang pertama menghuni daerah itu, yaitu Roro Anteng, dan Joko Seger.Dalam legenda, suami istri tersebut mempunyai 25 anak, yang salah satunya dikorbankansebagai tumbal dengan masuk ke dalam kawah Gunung Bromo yakni Kusuma demi keselamatansaudara-saudaranya. Tengger merupakan singkatan dari kata teng dari asal kata anteng dan gerdari kata seger. Anteng mengandung arti sifat tidak banyak tingkah, dan tidak mudah terusik. Makna dari istilah tersebut tercermin pula pada kenyataan bahwa masyarakat Tenggerhidup sederhana, tenteram dan damai, bergotong-royong, bertoleransi tinggi, serta suka bekerjakeras. Mereka bekerja di ladang dari pagi sampai petang, bahkan sehari penuh tidak pulang kerumahnya, kecuali pada malam hari. Digambarkan oleh Suprijono (1992), masyarakat Tengger adalah rakyat yang patuh padapimpinan (sabda pandita ratu); taat melaksanakan tradisi seperti : selamatan perayaan hari besardan upacara adat; selalu memakai sarung jika berada di kawasan gunung Bromo; kontak sosialantar tetangga dilakukan secara langsung; kepercayaan kepada benda-benda gaib, tempat-tempatkeramat dan roh halus masih sangat kuat. Sifat pergaulan masyarakat Tengger komunal, dalam arti hubungan batin antar-wargaadalah erat, dan sikap serta tindakan untuk saling menolong sesama warga dilakukan baik antar-tetangga maupun antar-kerabatnya. Sikap tolong-menolong itu terwujud pada kegiatan bercocoktanam, mendirikan rumah, hajat keluarga, mengatasi bencana alam, dsb.
  • 3. Sejarah Masyarakat Tengger Masyarakat Tengger memiliki sifat khas, beragama Hindu-Budha yang terpadu denganadat kepercayaan tradisional. Masyarakat Tengger tergolong masih bersifat tradisional, dalamarti masih mampu mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya. Hingga sekarang, pada umumnyamereka hidup sangat sederhana, penuh dengan suasana kedamaian sebagai rakyat petani dilereng-lereng pegunungan yang curam, namun secara bertahap telah ikut menikmati hasilkemajuan teknologi modern dalam batas-batas tertentu.Tengger pada zaman Majapahit Sejak awal kerajaan Hindu di Indonesia Pegunungan Tengger diakui sebagai tanah suci.Penghuninya dianggap sebagai abdi spiritual yang patuh dan disebut hulun (abdi) dari SangHyang Widhi Wasa. Hal ini dapat dipelajari dari prasasti Tengger yang pertama ditemukanberasal dari abad ke-10. Prasasti itu berangka tahun 851 Saka (929 Masehi) dan menyebutkanbahwa sebuah desa bernama Walandit, terletak di pegunungan Tengger, adalah tempat sucikarena dihuni oleh hulun. Hal ini diperkuat pula dengan prasasti berangka tahun 1327 Saka(1405 M) yang ditemukan di daerah Penanjakan (desa Wonokitri). Prasasti ini menyatakanbahwa desa Walandit dihuni oleh hulun Hyang (abdi Tuhan) dan tanah di sekitarnya itu disebuthila-hila (suci) (Hefner, 1985:26). Oleh karenanya, desa tersebut dibebaskan dari pembayaranpajak. Masyarakat Tengger mempunyai hubungan historis dengan agama Hindu. Hal ini tampakpula dalam hubungan antara nama Bromo dengan dewa Brahma dalam agama Hindu. GunungBromo dijadikan tempat pemujaan kepada Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagaiDewa Brahma dan digunakan sebagai tempat penyucian para arwah untuk bisa naik keKahyangan. Sedangkan lautan pasir (segara wedhi) digambarkan sebagai jalan lintasan bagiarwah manusia dalam perjalanan penyucian sebelum bisa naik ke Kahyangan. Masyarakat Tengger mempunyai hubungan historis yang sangat erat dengan kerajaanMajapahit. Hal ini diperkuat pula dengan adanya berbagai alat upacara agama yang berasal darizaman kerajaan Majapahit, yang sampai saat ini masih dipakai oleh para Pandita Tengger. Alat-alat itu antara lain prasen „tempat air suci terbuat dari kuningan bergambar patung dari dewa danzodiak agama Hindu‟. Sebagian besar prasen yang digunakan di Tengger berangka tahun Saka di antara 1243 dan1352. Saat itu adalah masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Kenyataan ini diperkuat pula denganpengakuan penduduk masyarakat Tengger yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunanMajapahit. Alat-alat ritual lain yang berasal dari Majapahit antara lain adalah baju antrakusuma,sampet dsb. Demikian pula menurut naskah yang berasal dari Keraton Yogyakarta yangberangka tahun 1814 M (Nancy), konon daerah Tengger termasuk wilayah yang dihadiahkankepada Gajah Mada karena jasa-jasanya kepada keraton Majapahit.
  • 4. Tengger dari Abad ke-16 sampai ke-18 Keadaan daerah Tengger pada abad ke-16 sulit diketahui karena kurangnya informasimengenai sejarah Tengger. Dalam Serat Kandha (Nancy) diberitakan adanya seorang guruagama yang ikut berjuang melawan musuh Majapahit. Namun, karena kegagalannya keraton-keraton yang dulu terletak di bawah pegunungan Tengger dibongkar dan penghuninya diusir.Pada awal abad ke-17 situasi politik di pulau Jawa berubah, dengan adanya perpindahan pusatkekuasaan dari pesisir utara bergeser ke selatan. Sultan Agung memperluas kekuasaannya dariJawa Tengah ke Jawa Timur, yang akhirnya sampai pula ke daerah Tengger. Pusat kerajaanpengikut agama Hindu yang masih di ujung timur tinggal Blambangan, mereka lewatpegunungan Tengger dan merusahkan keraton, serta membawa sebagian orang Tengger keMataram. Namun demikian rakyat daerah Tengger itu masih tetap mempertahankan identitasnyadan melawan kekuasaan Mataram. Pada tahun 1680M, sewaktu Trunajaya gagal memberontakmelawan Mataram dan pasukan Belanda, ia lari ke timur. Kemudian ia dibantu oleh orangTengger. Demikian pula pada waktu Surapati melawan Mataram dan Pasukan Belanda, setelahterdesak ia juga lari ke ujung timur, ke Pasuruan dan dibantu oleh orang-orang Tengger.Perlawanan rakyat Tengger ini baru dapat dikuasai oleh pasukan Belanda pada tahun 1764.Tengger pada Abad ke-19 Pada tahun-tahun terakhir abad ke-18 pejabat Belanda mulai memasuki daerah Tenggeruntuk mengamati keadaan sosial ekonominya. Pada tahun 1785 didirikan sebagai pesanggrahandi Tosari, dan di daerah ini mulai ditanam sayur-mayur dari Eropa dan Amerika. Para pengamatBelanda itu memperhatikan tradisi Tengger, dan memperoleh gambaran bahwa daerah Tenggerbebas dari kejahatan, bebas dari candu; rakyat Tengger bersifat jujur dan lurus hati. Merekapemeluk agama Hindu yang memuja Brahma, Siwa dan Wisnu. Situasi politik abad ke-19 berubah. Kekurangan penduduk di daerah Tengger dansekitarnya menarik para pendatang dari daerah yang mulai memadat. Para penghuni baru mulaiberdatangan dan membuka pemukiman baru. Pada saat terjadi perlawanan Diponegoro terhadappasukan Belanda, yang akhirnya dapat dipatahkan, sebagian sisa pasukan Diponegoro lari ketimur dan menghuni daerah sekitar pegunungan Tengger. Sebagai akibatnya, daerah dataransekitar Tengger dihuni oleh pendatang baru dan menjadi terpisah dengan masyarakat Tenggerasli.Tengger Sesudah Tahun 1945 Peran masyarakat Tengger pada waktu perang kemerdekaan sesudah proklamasikemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak jelas. Seperti diungkapkanoleh Nancy, menjelang tahun 1945 rakyat Tengger mulai menggali lagi identitasnya denganmempelajari sejarah nenek moyangnya yang berasal dari daerah Majapahit. Agama yang dipelukpada waktu itu tidak jelas meskipun menyatakan diri beragama Budha, namun ciri-cirinya tidakjelas. Kemudian sejak tahun 1973 mulai diadakan pembinaan keagamaan, yaitu dengan memelukagama Hindu Dharma.
  • 5. LegendaAsal Mula Nama Tengger Pada zaman dahulu ada seorang putri dari Raja Brawijaya dengan permaisuri KerajaanMajapahit, yang cantik jelita, bernama Roro Anteng. Pada waktu itu keadaan kerajaan yangtenteram, sejahtera dan damai, mengalami perubahan situasi memburuk. Atas nasihat dan sarandan para pini sepuh kerajaan, Roro Anteng disuruh mencari tempat yang lebih aman, tenteramdan damai, daripada hidup di kerajaan. Ia dengan para punggawanya pergi ke pegununganTengger. Di desa Krajan ia singgah selama satu windu. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke desa Pananjakan dan menetap di desa itu sertamulai bercocok tanam. Di tengah pegunungan dekat gunung Bromo ada seorang pendetabernama Resi Dadap Putih, yang berasal dari sekitar Majapahit. Ia bertemu dengan Roro Antengyang datang dari Majapahit dan sedang mencari ayahnya. Roro Anteng kemudian diangkatmenjadi anak oleh Rsi Dadap Putih. Keduanya hidup berbahagia. Sementara itu Kediri juga dalam keadaan kacau, sebagai akibat dari situasi politik diMajapahit. Joko Seger, putra seorang Brahmana, mengasingkan din ke desa Keduwung sambilmencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini Joko Seger mendapatkaninformasi dan penduduk bahwa ada sejumlah orang dan Majapahit yang menetap di Pananjakan.Joko Seger kemudian meneruskan perjalanan sampai ke desa Pananjakan. Pada suatu hari, sewaktu pergi mencari air, Roro Anteng bertemu dengan Joko Seger yangminta tolong karena tersesat. Roro Anteng menolong dan mengajaknya pulang ke pondoknya.Sesampai di rumah, Roro Anteng dituduh oleh para pini sepuhnya telah berbuat serong denganlelaki yang diajaknya pulang itu. Joko Seger membelanya dan mengatakan bahwa hal itu tidakbenar, sekaligus mengutarakan ingin melamar gadis itu. Lamaran itu diterima. Adapun yangbertindak sebagai pengesah perkawinan sesuai dengan agama mereka adalah Resi Dadap Putih. Meskipun perkawinan Joko Seger dengan Roro Anteng sudah berusia sewindu, namunmereka belum juga dikaruniai anak. Mereka bersemedi (bertapa) selama 6 tahun dan setiap tahunberganti arah. Pertama kali mereka bertapa dengan menghadap ke timur, kemudian ke selatan, kebarat dan ke utara, ke bawah dan ke atas. Setelah semedi mereka ditanggapi oleh Sang HyangWidhi Wasa, dari puncak gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup kedalam jiwa Roro Anteng dan Joko Seger. Seketika ada getaran berupa wisik yang berisidikabulkan permohonan mereka, dengan janji bahwa anak bungsunya harus dikorbankan kekawah gunung Bromo. Setelah itu mereka berdua pulang ke pondoknya dan hidup dalamkeadaan aman, tenteram, damai dan sejahtera. Mereka kemudian dikaruniai putra 25 orang. Putra sebanyak 25 orang itu memang merupakan hasil permohonan suami istri itu,mengingat penduduk di Tengger pada saat itu sangat sedikit. Bertahun-tahun kemudian gunungBromo bergoncang dan mengeluarkan semburan api, sebagai isyarat bahwa sudah saatnya janjimereka ditepati. Suami istri itu ingat akan janji mereka, namun mereka tidak rela mengorbankansalah seorang anaknya, Putra bungsu, yang bernama R. Kusuma, disembunyikan oleh orangtuanya di suatu tempat sekitar desa Ngadas.
  • 6. Namun, semburan api itu sampai juga di tempat tersebut dan Raden R. Kusuma puntertarik ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara yang ditujukan kepada saudara-saudaranya supaya selalu hidup rukun. Ia rela sebagai wakil dari saudara-saudaranya danmasyarakat setempat untuk berkorban demi kesejahteraan dan kedamaian orang tua dan saudara-saudaranya. Ia berpesan pula bahwa setiap tanggal 14 Kasada minta upeti hasil bumi. Cerita lainmenunjukkan bahwa saudara-saudara R. Kusuma pun dianggap sebagai penjaga atau baureksatempat-tempat lainnya. Demikianlah cerita rakyat tentang asal mula nama Tengger, yaitu paduan dari nama RoroAnteng dan Joko Seger. Cerita itu juga berisi pesan teladan yang baik bagi masyarakat, agarmereka mau dan berani berkorban demi kesejahteraan, kedamaian, dan ketenteraman hidup anakcucu dan keturunannya serta masyarakat. Di samping itu diharapkan pula manusia harus selalubertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Dongeng Terjadinya Pegunungan di Kawasan Tengger Kecantikan dan keluhuran budi Roro Anteng terkenal luas, dianggap sebagai titisan Dewi,sehingga banyak berdatangan orang yang ingin melamarnya. Salah seorang pelamar berwatakraksasa (buta) bernama Kyai Bima, Dia adalah seorang penjahat ulung dan sakti. Roro Antengtidak dapat menolak begitu saja lamaran itu, maka ia menerimanya dengan syarat, Kyai Bimaharus membuatkan lautan di atas gunung dan selesai dalam waktu satu malam. Kyai Bima menyanggupi persyaratan tersebut dan bekerja keras menggali tanah untukmembuat lautan dengan menggunakan tempurung (bathok) yang bekasnya sekarang menjadiGunung Batok, dan lautan pasir (segara wedhi) terhampar luas di sekitar puncak Gunung Bromo.Untuk mengairi lautan dibuatkan sumur raksasa yang saat ini bekasnya menjadi kawah GunungBromo. Dengan rasa cemas Roro Anteng melihat kesaktian Kyai Bima yang hampir dapatmenyelesaikan pernyataannya. Roro Anteng mulai gelisah lalu ia berusaha menggagalkanpekerjaan Kyai Bima dengan menumbuk jagung seolah-olah fajar sudah akan menyingsing,meskipun sebenarnya hari masih malam. Mendengar suara orang menumbuk jagung, ayam-ayam bersahutan seakan-akan fajarsudah menyingsing. Mendengar kicauan burung-burung itu Kyai Bima terkejut. Disangkanyafajar telah menyingsing, padahal pekerjaannya belum selesai. Dengan sangat menyesal KyaiBima meninggalkan bukit Penanjakan karena merasa tidak mampu menyelesaikan pekerjaannyasebagai syarat pinangannya. Tanda bekas hasil karya Kyai Bima seperti diceritakan dalam legenda itu adalah : (1)segara wedhi, berupa hamparan pasir di bawah Gunung Bromo; (2) Gunung Batok, sebuah bukityang terletak di sebelah selatan Gunung Bromo, yang berbentuk seperti tempurung yangditengkurapkan; (3) gundukan tanah yang tersebar di daerah Tengger; yaitu : Gunung Pundak-lembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga, Gunung Gendera, dan lain-lain.
  • 7. Aji Saka Pada zaman dahulu (abad pertama Masehi?), ada seorang pengembara sakti bernama Sakake bumi Nusantara. Ia adalah seorang anak muda yang baru saja menyelesaikan pelajaran tentangkesusastraan di sebuah padepokan, yang dipimpin oleh seorang Resi. Ia mengembara bersamadua orang muridnya, yaitu Dora dan Sembada. Perjalanan mereka sangat panjang dan melalui hutan belantara. Dalam perjalanan merekasudah singgah di tempat-tempat suci dan keramat. Atas pengalamannya itu, mereka menjadisakti. Akhirnya sampailah mereka di sebuah pulau bernama Majesti. Lingkungan alam pulau itusangat indah dan membuat mereka terpesona. Karena perjalanan masih panjang dan bawaanmereka cukup berharga dan jumlahnya banyak, maka Saka mengadakan undian untukmenentukan siapa yang harus menjaga barang-barang tersebut. Yang mendapat tugas untukmenjaga adalah Dora. Sebelum berangkat, Saka meninggalkan sebuah keris yang diberi namaSarutama, dengan sebuah pesan agar jangan diberikan kepada siapa pun kecuali kepada Saka. Saka bersama Sembada meneruskan perjalanan. Akhirnya sampailah mereka di PulauJawa. Di pulau ini mereka bertemu suami istri yang sudab tua dan tidak mempunyai anak. Sakadan Sembada tinggal bersama mereka dan diangkat menjadi anak. Di Medang, tempat merekatinggal, ada seorang raja raksasa bernama Dewata Cengkar, yang memiliki kebiasaan buruk,yaitu makan daging manusia setiap hari. Pada suatu hari tibalah giliran bagi orang tua angkat Saka untuk mengirimkan seorangkorban. Oleh karena keluarga itu tidak mempunyai anak, maka sang Ibu yang menjadi korban.Saka mendengar berita buruk itu dan ia bersedia menjadi penggantinya. Berangkatlah ia keMedang untuk menjadi korban, disertai doa oleh kedua orangtua angkatnya agar dapatmengalahkan Dewata Cengkar. Sesampai di Medang Saka diterima oleh patih dan diantar kepada Dewata Cengkar.Melihat pemuda tampan dan cukup sehat itu, Dewata Cengkar sangat senang dan segera inginmemakannya. Sebelum dijadikan korban Saka minta agar kedua orang tua angkatnya diberitanah seluas ikat kepalanya dan pemberian itu disaksikan oleh rakyatnya. Permintaan itudikabulkan. Maka digelarlah ikat kepala itu di atas tanah, disaksikan banyak orang. Ikat kepalaSaka digelar dengan dibuka lipatannya. Ternyata lipatan itu tidak habis-habisnya, sehinggaakhirnya sampai di tepi laut selatan. Dewata Cengkar terus tergiring oleh penggelaran ikat kepalaitu. Akhirnya sampailah ia pada sebuah tebing, dan terjatuhlah ia ke laut. Sepeninggal Dewata Cengkar, negara Medang diperintah oleh Saka dengan gelar Aji Saka.Rakyat merasa hidup tenteram, aman dan sejahtera. Pada suatu hari Saka ingat pada muridnyayang menjaga keris dan barang-barang berharga miliknya di Pulau Majesti. Ia mengutusSembada untuk mengambil keris dan barang-barangnya itu dan Dora. Sesampai di Pulau Majesti, Sembada bertemu dengan Dora. Mereka sangat senang danberbahagia, saling berpelukan untuk menyatakan rindunya. Kemudian Sembada mengatakanbahwa kedatangannya atas utusan Saka, yang sekarang menjadi raja di Medang, untukmengambil keris yang dititipkan kepada Dora. Namun Dora menolak memberikannya,sebagaimana pesan Saka bahwa tidak boleh diambil oleh siapa pun kecuali oleh Saka sendiri.Keduanya bertengkar dan tidak ada yang mengalah untuk menyatakan kebenaran pesan yang
  • 8. diterima. Terjadilah perkelahian antara keduanya untuk memperebutkan pusaka Sarutama.Kedua saling memukul saling menusuk tanpa mempedulikan rasa sakit. Kedua sama kuat dansama Jayanya, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Akhirnya keduanya matibersama. Anehnya setelah mati Dora roboh ke barat, dan Sembada roboh ke timur. Setelah lama ditunggu dan kedua muridnya tidak datang, maka Aji Saka sendiri menuju ketempat Dora di Pulau Majesti. Setiba di Majesti diketahuinya bahwa kedua orang utusannya telahmeninggal dengan bekas tusukan pusaka Sarutama. Melihat kenyataan tersebut Prabu Aji Sakatergerak hatinya untuk memperingati pengabdian kedua muridnya dengan menciptakan AksaraJawa, yang berbunyi: HA-NA CA-RA-KA ada utusan DA-TA SA-WA-LA: saling bertengkarPA-DHA JA-YA-NYA : sama-sama berjaya (kuat dan sakti) MA-GA BA-THA-NGA : merekamenjadi bangkai.Klambi Antrakusuma Ada dua orang, bernama mbah Tunggak dan mbah Tampa, bertapa di gua Purwana,sebelah timur pedukuhan Baledono. Pada waktu tengah malam mereka melihat sebentuk bendaterbang di angkasa. Benda itu diikutinya dan akhirnya turun di Tunggul Wulung, kurang lebihsejauh 1 km dari Tosari ke arah Ngadiwono. Benda itu berhasil dipegang, tetapi kemudian lepasdan terbang kembali. Pertapa itu terus mengikutinya sampai akhirnya benda itu turun di CemaraGading, jurusan Kaliteja, dan dipegang kembali. Ternyata benda itu berupa klambi antakusuma.Pada saat itu terdengar suara yang mengatakan : “aku gelem digawe, ning rumaten sing apik”(saya boleh dipakai, tetapi peliharalah baik-baik). Namun sekarang benda itu sudah tidak adalagi. Konon katanya telah dijual orang-orang dukun Tosari, yang bernama Pak Kamar, kepadaorang Belanda. Dan sewaktu meninggal dunia, badan Pak Kamar hancur membusuk dalamwaktu singkat. Selain disebut sebagai antrakusuma, benda ini kadang-kadang disebut juga sebagaiantakusuma. Istilah antakusuma dipergunakan di wilayah Kabupaten Probolinggo, sepertiNgadas, Ngadisari, dan Sukapura. Sedangkan istilah antrakusuma dipakai di wilayah KabupatenPasuruan, seperti di Tosari, Wanakitri, Sedaeng dan Ngadiwono.
  • 9. Beberapa Peninggalan Nenek Moyang TenggerLegenda Ketiga legenda tersebut di atas oleh masyarakat Tengger dihafal, terutama oleh para dukunsebagai pemegang dan kepala adat. Khususnya legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger,selalu diceriterakan pada setiap upacara perayaan Kasada. Legenda tentang Aji Saka dikaitkandengan upacara Karo, sebagai contoh tentang kehidupan dan untuk manusia kembali kepada sifatdan sikap kejujurannya, yaitu pada zaman „Satya Yoga‟. Pada waktu itu penduduk masih sangatsedikit, sehingga hidup manusia masih serba kecukupan, makmur dan sejahtera.Jimat Klonthongan Jimat klonthongan merupakan benda warisan nenek moyang berisi gayung, sarak, sodar,tumbu, cepel, sejenis pakaian nenek moyang, dan sejumlah uang logam. Setiap desa memilikiuang logam tersebut yang digunakan dalam melaksanakan upacara Sodoran, sedangkan jimatklonthongan itu disimpan secara bergilir.Lontar (keropak) Di Tengger masih terdapat lontar (keropak) sebanyak 21 ikat, berisi tulisan Jawa lama,yang orang Tengger sendiri tidak bisa membacanya. Lontar tersebut saat ini disimpan oleh P.Rusma di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. (Mantra purwa bhumi,yang dipakai sebagai salah satu data dalam penelitian ini, merupakan salah satu isi dan lontartersebut).Penghitungan Tahun Saka Untuk pelaksanaan beberapa upacara penting, masyarakat Tengger menggunakanperhitungan kalender tersendiri, yang mereka namakan Tahun Saka atau Saka Warsa. Perhitungan Tahun Saka di Indonesia jatuh pada tanggal 1 (sepisan) sasih kedhasa (bulanke sepuluh), yaitu sehari setelah bulan tilem (bulan mati), tepatnya pada bulan Maret dalamTahun Masehi (Supriyono, 1992). Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung30 hari, sehingga dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan untuk wuku dan hari pasarantertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk, sehingga ada dua tanggal yang harus disatukandan akan terjadi pengurangan jumlah hari pada tiap tahunnya. Untuk melengkapi ataumenyempurnakannya diadakan perhitungan kembali setiap lima tahun, atau satu windu tahunwuku. Pada waktu itu ada bulan yang ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan Unan-unan, yang kemudian tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai bulan berikutnya,yaitu bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas.
  • 10. Agama, Adat dan KepercayaanAgama dan Kepercayaan Seperti penjelasan sebelumnya, sebelum tahun 1973 masih belum jelas agama yang dianutmasyarakat Tengger, kecuali mereka secara patuh melaksanakan berbagai upacara adat, antaralain: “Upacara Kasada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, dan beberapa upacara lainnya yangbersifat tradisional. Mereka masih belum melaksanakan ibadah agama sebagaimana ditentukanoleh agama-agama besar. Sejak tahun 1973 pembinaan agama mulai dilaksanakan. Menurut kepercayaan dari Parisada Jawa Timur, masyarakat Tengger digolongkanpemeluk agama Budha Mahayana dengan surat keputusan No. 00/PHB Jatim/Kept/III/73,tanggal 6 Maret 1973. Namun demikian, ditilik dari cara ibadah dan upacara keagamaannya,agama tersebut kurang menunjukkan tanda sifat ke-Budha-annya, kecuali pada setiap mantrayang dimulai dengan kata Hong, yang biasanya dipakai oleh masyarakat Tengger sebagaiberikut: “Abdi dalem sangep sumpah pandamelan ingkang kapasrahaken, lan andadosaken apisir,nindakaken penimbangan ingkang kalayan leres, pendamelan-pendamelan ingkang katekakakenmiturut dateng agami BUDA sarana lisan, inggih punika damel jawab ingkang leres, tampia brautami boten, kenging dhateng sepinten kemawon”. Upacara adat yang dilaksanakan menunjukkan adanya salah satu upacara agama Hindu,yaitu Galungan. Di samping itu sejumlah mantra yang biasa diucapkan pada setiap upacara adatbanyak mengandung ajaran agama Hindu. Akhirnya, oleh pembina keagamaan, ditetapkanbahwa masyarakat Tengger beragama Hindu. Adat kepercayaan masyarakat Tengger tercermin pada cerita rakyat di kalanganmasyarakat itu, berupa legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo dan Semeru. Keduatempat mi dianggap sebagai tempat suci dalam melaksanakan upacara keagamaan. Tempat suciyang utama adalah pada Segara Wedhi (lautan pasir). Di samping itu, ada beberapa tempat dibawah pohon-pohon besar yang biasa untuk tempat sesajen. Segara Wedhi digunakan untukupacara besar Kasada tiap tahun sekali. Daerah Tengger dianggap sebagai tempat suci. Hal ini dikuatkan dengan ditemukannyaprasasti Tengger dari awal abad ke-10. Prasasti itu terbuat dari batu dan bertahun Saka 851(tahun 929 Masehi), serta menyebutkan bahwa sebuah desa bernama Walandit, terletak dipegunungan Tengger, adalah tempat suci karena dihuni oleh hulun hyang atau abdi dewa-dewiagama Hindu (Nancy). Tempat ibadah yang utama ialah di sanggar pamujan, atau di rumah mereka sendiri. Barusetelah ada pembinaan, tuntunan oleh Parisada, maka didirikan pura tempat pemujaan, sepertihalnya di Bali. Pura itu sampai sekarang masih dalam pengembangan, dan masih memerlukanwaktu lama untuk menyempurnakannya (di Wonokitri 1991). Agama masyarakat Tengger sebenarnya dianggap cenderung kepada agama BudhaMahayana, meskipun bila ditinjau dari cara beribadah dan kepercayaannya lebih merupakanperpaduan antara agama Hindu, Budha dan kepercayaan tradisional. Untuk tetap mempersatukan
  • 11. masyarakat Tengger, pada tahun 1973 oleh para sesepuhnya diadakan musyawarah di balai desaNgadisari (Probolinggo). Pada kesempatan itu mereka menetapkan diri memeluk agama Hindudan secara khusus melestarikan ucapan Hong, seperti terdapat pada setiap permulaan mantratradisionalnya, sebagai permulaan salam. Salam khusus yang disetujui berbunyi Hong ulunbasuki langgeng yang berarti: “Semoga Tuhan tetap memberikan keselamatan atau kemakmuranyang kekal abadi kepada kita”. Pada dasarnya mereka menyembah pada Tuhan Yang Maha Esa yang diberi nama SangHyang Widhi Wasa. Sebelum diadakan pembinaan agama, masyarakat Tengger menamakanTuhan dengan sebutan Gusti, atau Gusti Ingkang Maha Agung. Secara resmi sejak tahun 1973 masuklah agama Hindu Dharma di wilayah Tengger, dansalam agama Hindu Om swasti astu. Dewasa ini telah diajarkan keimanan terhadap Tuhan YangMaha Esa seperti tersebut berikut ini, yaitu : Panca Sradha.1) Percaya kepada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan pencipta alam.2) Percaya adanya Atma (n) yaitu roh leluhur atau rohnya sendiri.3) Percaya adanya karmapala, yaitu hukum sebab-akibat. Kepercayaan pada karma pala inimerupakan inti ajaran agama Hindu maupun agama Budha, bahwa semua perbuatan manusia itupasti terikat pada hukum sebab-akibat. Setiap perbuatan pasti ada akibatnya, yang akan dialami oleh manusia baik sekarang maupun pada hidup yang akan datang.4) Percaya pada punarbawa (reinkarnasi). Kepercayaan ini adalah dan agama Hindu dan Budha,bahwa manusia itu terikat pada hukum hidup berkali-kali sesuai dengandharma hidupsebelumnya.5) Percaya pada moksa (sirna), yaitu bahwa apabila manusia telah mencapai moksa tidak akanterikat kembali pada punarbawa. Mereka akan berada pada tempat kedamaian abadi.Peranan Dukun Dukun merupakan pimpinan masyarakat yang berperan memimpin upacara keagamaan.Kedudukan dukun lebih tinggi daripada modin dalam agama Islam, namun lebih rendah daripedanda dalam masyarakat Bali. Di Tengger dahulu ada 36 orang dukun. Satu di antaranyamenjadi kepala dukun pandita yang memberi arahan serta petunjuk atau nasihat bagi para dukunlainnya. Dukun dipilih melalui musyawarah desa, diseleksi melalui ujian, serta diangkat olehpemerintah. Dukun berfungsi memimpin upacara keagamaan dan dibantu oleh legen. Pada waktumemimpin upacara keagamaan, dukun mengenakan baju antrakusuma atau rasukan dukundengan ikat kepala dan selempang, serta dilengkapi dengan alat-alat upacara seperti : prasen,genta, dan talam. Syarat menjadi dukun antara lain adalah : (1) berkemampuan, tekun, mampu menggalilegenda, memiliki kedalaman ilmu, dan bertempat tinggal dekat dengan lokasi; (2) disetujui olehmasyarakat melalui musyawarah; dan (3) diangkat oleh pemerintah. Untuk memperkuat karisma dan wibawa, seorang dukun diwajibkan menjalankan lakutertentu. Pada setiap bulan ketujuh dukun diharuskan melakukan mutih, yaitu selama satu bulantidak makan garam, gula, dan tidak kumpul dengan istri. Kerja sehari-hari tetap dilaksanakan,
  • 12. hanya dibatasi waktunya supaya tidak terlalu lelah. Laku mutih ini diibaratkan sebagai pengasahkemampuan batiniah yang bersifat spiritual. Diibaratkan seperti pisau, untuk menjadi tajam harusdiasah. Laku mutih ini bukan untuk setiap orang, dalam arti bahwa orang-orang yang bukandukun tidak harus melakukannya. Untuk dapat menjadi dukun diharuskan menguasai adat dan mantra-mantra yang dibacaatau diucapkan pada berbagai upacara adat. Pada umumnya dipandang bahwa seseorang bisamenjadi dukun setelah mencapai umur 40 tahun dan menguasai adat serta berbagai mantranya.Mantra-mantra tersebut dulu diwariskan secara lisan, akan tetapi sekarang di samping lisandiusahakan melalui tulisan,Upacara Adat dan Perayaan Dalam melaksanakan adat masyarakat di Tengger ada beberapa upacara penting sepertitersebut di bawah ini.(1) Upacara adati. Kasada Kasada merupakan hari penting untuk memperingati kemenangan Dharma melawanAdharma. Upacara perayaan ini dilakukan pada tanggal 14 dan 15 bulan purnama, pada bulankeduabelas (kasada). Penyelenggaraannya di lautan pasir, sisi utara kaki Gunung Batok, danupacara pengorbanannya di tepi kawah puncak Bromo. Perayaan ini merupakan hari rayaTengger. Perayaan dimulai sejak sore hari hingga pagi harinya pada bulan purnama. Di tempat upacara dilengkapi bambu berbentuk setelah lingkaran (melengkung) yangdihiasai 30 macam buah-buahan dan kue, yang disebut ongkek sebagai sesajen. Sesajen itunantinya ditenggelamkan sebagai korban di kawah gunung Bromo. Bahan untuk membuatongkek diambil dan desa yang selama satu tahun tidak ada warganya yang meninggal dunia.Setelah diberi mantra, ongkek itu ditenggelamkan oleh dukun dengan melemparkannya ke kawahBromo. Upacara ini hampir sama dengan upacara nglabuh pada masyarakat Jawa lainnya.Upacara ini dilakukan dengan mengucapkan mantra atau doa yang dipimpin oleh dukun, sebagaipuji syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa, atas berkat dan kasih sayangnya kepada umatmanusia. Upacara Kasada digunakan pula untuk mewisuda calon dukun baru. Upacara ini disebutdiksa widhi. Di samping itu, ada pula acara penyucian umat yang disebut upacara palukatan.ii. Karo Upacara Karo merupakan upacara yang bertujuan untuk kembali kepada kesucian, disebutjuga satya yoga. Hal ini atas dasar anggapan, bahwa pada zaman satya yoga masyarakat masihbersifat sangat sederhana dan berpegang pada kebenaran, jujur serta suci. Upacara ini dikaitkanpula dengan cerita Aji Saka dengan Dora dan Sembada memasuki tanah Jawa, danmenghancurkan keangkara-murkaan. Dengan upacara Karo ini diharapkan manusia menjadi suciatau bersih dan segala dosa dan kesalahannya. Hari raya Karo merupakan hari raya terbesar bagi masyarakat Tengger sesudah Kasada.Untuk tahun 1992, upacara Karo jatuh pada tanggal 23 Januari. Upacara pembukaannyadipustakan di desa Wanakitri, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Pada hari raya Karo itu
  • 13. masyarakat Tengger memperingati Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) yang telah menciptakandua jenis makhluk manusia (Karo), laki-laki dan perempuan sebagai leluhurnya. Bagimasyarakat Tengger peringatan hari raya Karo itu dikaitkan dengan leluhur mereka, yaitu RoroAnteng dan Joko Seger. Upacara Karo di Tengger berlangsung selama 12 hari, ditambah 2 hari untuk pembukaandan penutupan yang dilaksanakan secara serentak. Pada upacara Karo ini juga dilakukan sesajenatau selamatan bersama, disertai pembacaan mantra yang dipimpin oleh dukun. Di samping itujuga dilaksanakan persembahan sesajen di rumah masing-masing. Pada hari raja Karo itu digelartari tradisional sodoran dan permainan ojung. Pada dasarnya tari sodoran bersifat ritual, yangdikaitkan dengan upacara keagamaan. Hari raya Karo dilaksanakan juga untuk saling berkunjung antar warga masarakat. Haripertama dimulai dengan kunjungan warga masyarakat desa kepada kepala desa sebagai sesepuhdesa. Pada hari-hari berikutnya kepala desa berkunjung kepada seluruh warganya dan rumah kerumah. Dengan demikian, pelaksanaan peringatan hari raya Karo memakan waktu cukup lama.iii. Entas-entas Upacara Entas-entas secara khusus dilaksanakan untuk menyucikan atman (roh) orangyang telah meninggal dunia, yaitu pada hari yang ke-1000. Akan tetapi, pelaksanaannya seringdiadakan sebelüm hari ke-1000 untuk meringkas upacara-upacara kematian itu.Upacara Entas-entas dimaksudkan untuk menyucikan atman orang yang telah meninggal duniaagar dapat masuk surga. Biayanya cukup mahal oleh karena disertai dengan menyembelih kerbaujantan sebagai korban kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Pemotongan kerbau didahului dengan pembacaan mantra cukup panjang dan dalam waktuyang cukup lama pula, kurang lebih 2 jam. Sebagian daging kerbau tersebut boleh dimakan dansebagian lagi untuk pelaksanaan korban. Adapun mantra yang dibacakan, dalam bahasa Jawa Kuna, adalah seperti tersebut di bawahini:“O, purwabumi kamulan Paduka Bhattari Uma mijil saking limun limunira Hyang BhattaraGuru; Mulaning ana Bhattari minaka somah bhattara; Magya sira bhattara, mayoga sira Bhattari,mijil ta sira dewata Panca resi, sapta resi; Kosika, Sang Garga, Maitri, Kurusya, Sang Pratanjala‟(Nancy; 1985). Di beberapa daerah, mantra ini telah digunakan dengan bahasa Jawa baru, meskipun terjadiperubahan ucapan atau istilahnya (bdk, antara mantra yang digunakan di Ngadiwono dengan diNgadas, Malang - lihat lampiran), namun maknanya masih tetap sejiwa.Beberapa Alat Upacara dan Perangkat Sesajen1. Alat-alat Upacara Dalam pelaksanaan upacara Entas-entas, dukun mengenakan pakaian khusus danmenggunakan beberapa alat upacara. Pakaian khusus itu adalah:a. Baju antrakusuma, sehelai kain baju tanpa jahitan, yang diperoleh sebagai warisan dari nenek moyangnya. Baju ini disimpan pada klanthongan sebuah tanduk yang disimpan di atas loteng (sanggar agung); di samping itu dipakai juga ikat kepala dan selempang.
  • 14. b. . Prasen, berasal dari kata rasi atau praci (Skt) yang berarti zodiak. Prasen ini berupa mangkuk bergambar binatang dan zodiak. Beberapa prasen yang dimiliki oleh para dukun berangka tahun Saka: 1249, 1251, 1253, 1261; dan pada dua prasen lainnya terdapat tanda tahun Saka 1275. Tanda tahun ini menunjukkan masa berkuasanya pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi di Majapahit. Hal ini memperkuat anggapan bahwa penduduk Tengger berasal dari kerajaari Majapahit.c. Tali sampet, terbuat dari kain batik, atau kain berwarna kuning yang dipakai oleh pandhita Tengger.d. Genta, keropak dan prapen, sebagai pelengkap upacara.2. Sesajen untuk Upacara Karo Sesajen pada upacara Karo sebagai banten dinamakan kayopan agung yang terdiri dari 3nyiru/tampah berisi 9 buah tumpeng kecil beserta lauk-pauk: sate isi perut hewan, sayur kara,juadah ketan putih dan ketan hitam, conthong berisi apem, pisang, seikat pisang gubahan, daunsirih, kapur dan sepotong pinang (jambe ayu). Perangkat upacara lain adalah sedekahpraskayopan, yaitu sedekah yang terdiri dari setumpuk daun sirih (suruh agung) dan takir berisipinang dan bunga. Disamping itu ditaruh pula srembu, sebuah pincuk kecil berisi umbi, talas dankacang yang direbus dan diberi kelapa parut. Di atas praskayopan diletakkan beberapa helai kain. Semua sesajen itu kemudian dinaikkan ke atas loteng bersama jimat klanthongan.Pembacaan mantra dilakukan oleh dukun tertua, dengan permohonan agar desa dan penduduknyadikaruniai keselamatan. Pada malam hariinya dibunyikan gamelan, dan diteruskan denganpermainan teka-teki dan sodoran. Permainan ini ditutup dengan doa oleh dukun. Sedekahditurunkan dari loteng dan dibagi-bagikan uang logam yang akan dipakai - sebagai jimat bagisiapa yang memilikinya. Barang siapa mendapat uang logam tersebut harus mengganti denganmata uang yang lain, disimpan dalam klonthong untuk upacara Karo tahun depan. Setetahupacara Karo selesai, dilanjutkan dengan sedekah Karo, yaitu penduduk menghidangkan kue-kuebagi tamu-tamu yang datang mengunjunginya.3. Upacara Lain a. Upacara Unan-unan Upacara Unan-unan dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Untuk menentukan tahun digunakan cara hitungan khusus dari adat Tengger. Mereka juga menggunakan 12 bulan untuk tiap tahun, yang tiap bulan terdiri dan 30/31 hari. Umur tiap bulannya dihitung secara tradisional. Pada tanggal dan bulan tertentu terdapat tanggal yang digabungkan karena adanya mecak, yaitu tumbuknya dua tanggal. Catatan : Di Tengger masing-masing bulan dalam satu tahun dihitung mempunyai 30 hari. Dalam setiap tahun akan terdapat selisih 5 atau 6 hari. Setiap lima tahun sekali diadakan penyesuaian perhitungan jumlah hari. Pada periode lima tahunan, oleh karena setiap bulan terdapat selisih 5 atau 6 hari, maka jumlah sisa adalah 25 atau 26 hari.
  • 15. Jumlah hari tersebut dimasukkan pada hitungan bulan dhesta (bulan kesebelas), tidak termasuk bulan tersebut dan bulan sebelumnya. Dengan habisnya jumlah hari barulah perhitungan memasuki bulan dhesta. Masyarakat Tengger kemudian kembali pada perhitungan hari, bulan, dan tahun dengan jumlah hari untuk setiap bulan dihirung 30 hari. Keterangan : Kelima warna tersebut di atas tidak dapat dipisahkan dengan kiblat. Falsafah hidup mereka beranggapan bahwa timur adalah terbitnya matahari, yang melambangkan permulaan hidup (wetan: ”wiwitan itu permulaan”); dengan warna putih yang berarti kesucian, kebersihan, ataupun belum ada tulisannya. Selatan atau kidul melambangkan ibu sebagai sarana kelahiran manusia dengan warna merah sebagai lambang darah atau keturunan (kidul diartikan pula didudul dan ”didorong”). Barat atau kulon diartikan kelonan (berpelukan, tidur bersama) antara ibu dan bapak; jadi barat diartikán „bapak‟. Utara atau lor diartikan dengan lahir. Sedangkan tengah dianggap manca-warna atau bentuk yang terjadi.4. Kata-kata Mutiara (sesanti) Ada beberapa kata sesanti sebagai acuan pembentukan sikap, dan biasanya sangatberpengaruh terhadap ciri kepribadian manusia. Antara lain adalah seperti tersebut di bawah ini:a. Dalam adat ada japa mantra dalam agama ada puja mantra.b. Tat twam asi artinya aku adalah engkau dan engkau adalah aku;c. Kalau masih mentah sama adil, kaiau sudah masaic tidak ada harga;d.Titi luri artinya meneruskan adat istiadat nenek moyang;e.Mikul dhuwur mendhem jero artinya menghormati orang tua;f.Yen wis ana pasar ilang kumandharige, yen wis ana kedhung ilang banyune, yen wis donya ikidiarani sagodhong kelor iku wis katene ana rejane jaman, artinya apabila pasar sudah kehilangangemanya, apabila kedhung kehilangan airnya, apabila dunia tinggal selebar daun kelor, itupertanda kesejahteraan sudah mendatang.g.Genten kuwat artinya saling membantu.5. Konsep tentang Manusia a. Sifat Umum Di dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger mempunyai kebiasaan hidup sederhana, rajin dan damai. Mereka adalah petani. Ladang mereka di lereng-lereng gunung dan puncak- puncak berbatu. Alat pertanian yang mereka pakai sangat sederhana, terdiri dari cangkul linggis, dan semacamnya. Hasil pertaniannya itu terutama adalah jagung, kopi, kentang, kubis, bawang prei, padi gogo dsb. Kebanyakan mereka bertempat tinggal jauh dari ladangnya, sehingga harus membuat gubuh-gubuk sederhana di ladangnya untuk berteduh sementara waktu siang hari. Mereka bekerja sangat rajin dan pagi hingga petang hari di ladangnya. Pada umumnya masyarakat Tengger hidup sangat sederhana dan hemat. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta keperluan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
  • 16. Kehidupan masyarakat Tengger sangat dekat dengan keagamaan dan adat- istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun-temurun. Seperti telah dijelaskan pada uraian tentang agama dan kepercayaan, isi ajaran yang dianut sangat dekat dengan agama Hindu bercampur Budha dan adat istiadat setempat. Dukun berperan penting dalam melaksanakan upacara keagamaan. Dukun berperan dalam segala pelaksanaan adat, baik mengenai perkawinan, kematian atau kegiatan-kegiatan lainnya. Dukun sebagai tempat bertanya untuk mengatasi kesulitan ataupun berbagai masalah kehidupan. Kehidupan pada masyarakat Tengger penuh dengan kedamaian dan kondisi masyarakatnya sangat aman. Segala masalah dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah. Pelanggaran yang dilakukan cukup diselesaikan oleh lurah dan biasanya mereka patuh. Apabila cara ini tidak juga menolong, maka si pelaku pelanggaran itu cukup disatru (tidak diajak bicara) oleh seluruh penduduk. Mereka juga sangat patuh dengan segala peraturan pemerintah yang ada, seperti kewajiban membayak pajak, kerja bakti dan sebagainya. Bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Jawa yang masih berbau Jawa Kuno. Mereka menggunakan dua tingkatan bahasa yaitu ngoko, bahasa sehari-hari terhadap sesamanya, dan krama untuk komunikasi terhadap orang yang lebih tua atau orang tua yang dihormati. Pada masyarakat Tengger tidak terdapat adanya perbedaan kasta, dalam arti mereka berkedudukan sama.6. Konsep tentang Manusia Asal-Usul Manusia Ajaran tentang asal-usul manusia adalah seperti terdapat pada mantra purwa bhumi. Sedangkan tugas manusia di dunia ini dapat dipelajari melalui cara masyarakat Tengger memberi makna kepada aksara Jawa yang mereka kembangkan. Adapun makna yang dimaksudkan adalah seperti tersebut dibawah ini. h.n.c.r.k : hingsun nitahake cipta, rasa karsa, d,t,s,w,l : dumadi tetesing sarira wadi laksana, p, dh, j, y, ny : panca dhawuh jagad yekti nyawiji, m, g, b, th, ng : marmane gantia binuka thukul ngakasa. Apabila diartikan secara harfiah kurang lebih sebagai berikut: “Tuhan Yang Maha Esa menciptakan cahaya, rasa dan kehendak pada manusia, (manusia) dijadikan melalui badan gaib untuk melaksanakan lima perintah di dunia dengan kesungguhan hati (menyatu dalam dharma), agar saling terbuka tumbuh (berkembang) penuh kebebasan (ngakasa „menuju alam bebas angkasa‟)”. Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dilahirkan dan tidak ada menjadi ada atau dari alam gaib, untuk mengemban tugas di dunia ini melaksanakan lima perintah-Nya dengan menyatukan diri pada tugasnya, agar di dunia ini tumbuh keterbukaan dan perkembangan menuju kesempurnaan.
  • 17. Masih ada lagi tafsiran tentang aksara Jawa yang dikaitkan dengan cerita tentang AjiSaka, yaitu bahwa ada utusan, yang keduanya saling bertengkar (berebut kebenaran).Keduanya sama kuatnya (sama-sama berjaya), yang akhirnya keduanya mengalami nasibyang sama, yaitu menjadi mayat. Hal ini mengandung makna bahwa baik-buruk, senang-susah, sehat-sakit, adalah ada pada manusia dan tak dapat dihindari. Kesempurnaan hidupmanusia apabila dapat menyeimbangkan kedua hal itu.Hubungan Badan dan Roh Masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya merupakanpembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan halus yang bersifat abadi. Jika orangmeninggal, badannya pulang ke pertiwi (bumi), sedangkan sukmanya terbebas darimengalami suatu proses penyucian di dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidakmempunyai tempat berhenti. Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semuakejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan. Masyarakat Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagianterakhir ialah bagian timur yang disebut juga kawah candradimuka, yang akan menyucikansukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada hari ke-1000sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.Hubungan Antar-manusia Sesuai dengan ajaran yang hidup di masyarakat Tengger seperti terkandung dalamungkapan tat twam asi yang berarti „aku adalah engkau dan engkau adalah aku‟, terdapatajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setia, yaitu: i. setya budaya artinya, taat, tekun, mandiri; ii. setya wacana artinya setia pada ucapan; iii. setya semàya artinya setia padajanji; iv. setya laksana artinya patuh, tuhu, taat; v. setya mitra artinya setia kawan. Ajaran tentang kesetiaan berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat Tengger. Halini tampak pada sifat taat, tekun bekerja, toleransi tinggi, gotong-royong, serta rasa tanggungjawab. Penelitian terhadap masyarakat Tosari umpamanya menunjukkan bahwa padaumumnya mereka bekerja di ladangnya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore setiap hari secaratekun. Sikap gotong-royongnya terlihat pula pada waktu mendirikan pendopo agung di Tosari,adalah sebagai hasil jerih payah rakyat membuat jalan sepanjang 15 km dari Tosari menujuBromo (tahun 1971-1976). Demikian pula tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosialtercermin pada kesadaran rakyat untuk ikut serta menjaga keamanan, maupun ketertiban lalu-lintas jalan. Sifat lain yang positif adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan,yaitu kesediaan mereka untuk menerima orang asing atau orang lain, meskipun mereka tetappada sikap yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang Tengger.
  • 18. Mungkin sekali ajaran tentang tat twam asi telah mewarnai adanya sikap genten kuat atausaling menolong untuk menjadi kuat. Hubungan antara pria dan wanita tercermin pada sikap bahwa pria adalah sebagaipengayom bagi wanita, yaitu ngayomi, ngayani, ngayemi, artinya memberikan perlindungan,memberikan nafkah, serta menciptakan suasana tenteram dan damai.Sikap dan Pandangan Hidup(1) Pandangan tentang Perilaku Sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras(sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah,tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil).Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut kawruh buda (pengetahuan tentangwatak), yaitu:i. prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya;ii. prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana;iii. pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau pemerintah;iv. prasetya berarti setya;v. prayitna berarti waspada. Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikapkepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lainmengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkanpula sikap lain sebagai perwujudannya. Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidakikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah adakasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut sertadalam kegiatan gotong-royong. Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul denganorang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan merekatetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka lebihberorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia itubertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itutampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagipara putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya perkawinanbersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang berumah tanggadengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam hal melaksanakanadat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya sesuai dengan adatkebiasaan orang tuanya. Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko),aja jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankantanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya,yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur.
  • 19. Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke atas). Masyarakat Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria Tengger yang bersikap tat twam asi. Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar anak mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya. Sikap mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara mereka mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya kejayaan dan kesejahteraan masyarakatnya. Keterangan : Kelima warna tersebut di atas tidak dapat dipisahkari dengan kiblat. Falsafah hidup mereka beranggapan bahwa timur adalah terbitnya matahari, yang melambangkan permulaan hidup (wetan:‟ wiwitan itu permulaan‟); dengan warna putih yang berarti kesucian, kebersihan, ataupun belum ada tulisannya. Selatan atau kidul melambangkan ibu sebagai sarana kelahiran manusia dengan warna merah sebagai lambang. darah atau keturunan (kidul diartikan pula didudul dan didorong‟). Barat atau kulon diartikan kelonan (berpelukan, tidur bersama) antara ibu dan bapak; jadi barat diartikan „bapak‟. Utara atau lor diartikan dengan lahir. Sedangkan tengah dianggap manca-warna atau bentuk yang terjadi.7. Kata-kata Mutiara (sesanti) Ada beberapa kata ,esanti sebagai acuan pembentukan sikap, dan biasanya sangatberpengaruh terhadap ciri kepribadian manusia. Antara lain adalah seperti tersebut di bawah ini : a. Dalam adat ada japa mantra dalam agama ada puja mantra. b. Tat Twam Asi artinya aku adalah engkau dan engkau adalah aku; c. Kalau masih rnentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga; d. Titi luri artinya meneruskan adat istiadat nenek moyang; e. Mikul dhuwur mendhem jero artinya menghormati orang tua; f. Yen wis ana pasar ilang kumandha; ige, yen wis ana kedhung ilang banyune, yen wis donya iki diarani sagodhong kebor iku wis katene ana rejane jaman, artinya apabila pasar sudah kehilangan gemanya, apabila kedhung kehilangan airnya, apabila dunia tinggal selebar daun kelor, itu pertanda kesejahteraan sudah mendatang. g. Genten kuwat artinya saling membantu.8. Konsep tentang Manusia a. Sifat Umum Di dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger mempunyai kebiasaan hidup sederhana, rajin dan damai. Mereka adalah petani.
  • 20. Ladang mereka di lereng-lereng gunung dan puncak-puncak berbatu. Alat pertanian yang mereka pakai sangat sederhana, terdiri dan cangkul linggis, dan semacamnya. Hasil pertaniannya itu terutama adalah jagung, kopi, kentang, kubis, prei, padi gogo dsb. Kebanyakan mereka bertempat tinggal jauh dari ladangnya, sehingga harus membuat gubuh-gubuk sederhana di ladangnya untuk berteduh sementara waktu siang hari. Mereka bekerja sangat rajin dari pagi hingga petang hari di ladangnya. Pada umumnya masyarakat Tengger hidup sangat sederhana dan hemat. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta keperluan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya. Kehidupan masyarakat Tengger sangat dekat dengan keagamaan dan adat istiadat yang telah diwariskan dari nenek moyangnya secara turun- temurun. Seperti telah dijelaskan pada uraian tentang agama dan kepercayaan isi ajaran yang dianut sangat dekat dengan agama Hindu bercampur Budha dan adat istiadat setempat. Dukun berperan penting dalam melaksanakan upacara keagamaan. Dukun berperan dalam segala pelaksanaan adat, baik mengenai perkawinan, kematian atau kegiatan- kegiatan lainnya. Dukun sebagai tempat bertanya untuk mengatasi kesulitan ataupun berbagai masalah kehidupan. Kehidupan pada masyarakat Tengger penuh dengan kedamaian dan kondisi masyarakatnya sangat aman. Segala masalah dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah. Pelanggaran yang dilakukan cukup disclesaikan oleh lurah dan iasanya mereka patuh. Apabila cara ini tidak juga menolong, maka si pelaku pelanggaran itu cukup disatru (tidak diajak bicara) oleh seluruh penduduk. Mereka juga sangat patuh dengan segala peraturan pemerintah yang ada, seperti kewajiban membayak pajak, kerja bakti dan sebagainya. Bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Jawa yang rnasih berbati Jawa Kuno. Mereka menggunakan dua tingkatan bahasa yaitu ngoko, bahasa sehari-hari terhadap sesamanya, dan krama untuk komunikasi terhadap orang yang lebih tua atau orang tua yang dihormati. Pada masyarakat Tengger tidak terdapat adanya perbedaan kasta, dalam arti mereka berkedudukan sama.b. Asal-Usul Manusia Ajaran tentang asal usul manusia adalah seperti terdapat pada mantra purwa bhumi. Sedangkan tugas manusia di dunia ini dapat dipelajari melalui cara masyarakat Tengger memberi makna kepada aksara Jawa yang mereka kembangkan. Adapun makna yang dimaksudkan adalah seperti tersebut di bawah ini : h.n.c.r.k : hingsun nitahake cipta rasa karsa; d,t,s,w,l : dumadi tetesing sarira wadi laksana, p,dh,j,y, ny : panca dhawah jagad yekti nyawiji; m, g, b, th, ng : marmane gantia binuka thukul ngakasa. Apabila diartikan secara harfiah kurang lebih sebagai berikut: “Tuhan Yang Maha Esa menciptakan cahaya, rasa dan kehendak pada manusia, (manusia) dijadikan melalui badan gaib untuk melaksanakan lima perintah di dunia
  • 21. dengan kesungguhan hati (menyatu dalam dharma), agar saling terbuka tumbuh (berkembang) penuh kebebasan (ngakasa menuju alam bebas angkasa).” Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dilahirkan dari tidak ada menjadi ada atau dari alam gaib, untuk mengemban tugas di dunia ini melaksanakan lima perintah-Nya dengan menyatukan diri pada tugasnya, agar di dunia ini tumbuh keterbukaan dan perkembangan menuju kesempurnaan. Masih ada lagi tafsiran tentang aksara Jawa yang dikaitkan dengan cerita tentang Aji Saka, yaitu bahwa ada utusan, yang keduanya saling bertengkar (berebut kebenaran). Keduanya sama kuatnya (sama-sama berjaya), yang akhirnya keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu menjadi mayat. Hal ini mengandung makna bahwa. baik-buruk, senang- susah, sehat-sakit, adalah ada pada manusia dan tak dapat dihindari. Kesempurnaan hidup manusia apabila dapat menyeimbangkan kedua hal itu.c. Hubungan Badan dan Roh Masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya merupakan pembungkus sukrna (roh). Sukma adalah badan halus yang bersifat abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke perthiwi (bumi), sedangkan sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat berhenti. Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan. Masyarakat Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir ialah bagian timur yang disebut juga kawah candradimuka, yang akan menyucikan sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada hari ke-l000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.d. Hubungan Antar-manusia Sesuai dengan ajaran yang hidup di masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ungkapan tat twam asi yang berarti „aku adalah engkau dan engkau adalah aku‟, terdapat ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setia, yaitu:  setya budaya artinya, taat, tekun, mandiri;  setya wacana artinya setia pada ucapan;  setya semaya artinya setia pada janji;  setya laksana artinya patuh, tuhu, taat;  setya mitra artinya setia kawan. Ajaran tentang kesetiaan berpengarüh besar terhadap perilaku masyarakat Tengger. Hal ini tampak pada sifat taat, tekun bekerja, toleransi tinggi, gotong royong, serta rasa tanggung jawab. Penelitian terhadap masyarakat Tosari umpamanya menunjukkan bahwa pada umumnya mereka bekerja di ladangnya dari jam 06.00 pagi sampai jam 06.00 (18.00) sore setiap hari secara tekun. Sikap gotong royongnya terlihat pula pada waktu mendirikan pendopo agung di Tosari, adalah sebagai hasil jerih payah rakyat membuat jalan sepanjang 15 km dari Tosari menuju Bromo (tahun 1971-1976).
  • 22. Demikian pula tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial tercermin pada kesadaran rakyat untuk ikut serta menjaga keamanan, maupun ketertiban lalu lintas jalan. Sifat lain yang positif adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan, yaitu kesediaan mereka untuk menerima orang asing atau orang lain, meskipun mereka tetap pada sikap yang sesuai dengan identitas sebagai orang Tengger. Mungkin sekali ajaran tentang tat twam asi telah mewarnai adanya sikap genten kuat atau saling menolong untuk menjadi kuat. Hubungan antara pria dan wanita tercermin pada sikap bahwa pria adalah sebagai pengayom bagi wanita, yaitu ngayomi, ngayani, ngayemi, artinya memberikan perlindungan, memberikan nafkah, serta menciptakan suasana tenteram dan damai.e. Sikap dan Pandangan Hidup Pandangan tentang Perilaku Sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil). Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut kawruh buda (pengetahuan tentang watak), yaitu:  prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya;  prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana;  pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau pemerintah;  prasetya berarti setya;  prayitna berarti waspada. Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lain mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkan pula sikap lain sebagai perwujudannya. Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu „rasa malu apabila tidak ikut serta dalam kegiatan sosial‟. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah ada kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut serta dalam kegiatan gotong royong. Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan mereka tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itu tampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagi para putraputrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya perkawinan bersifat bebas.
  • 23. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya. Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankan tanah milik cara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya, yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur. Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-rnata hidup untuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhong (menengadahkan telapak tangan ke atas). Masyarakat Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria Tengger yang bersikap tat twam asi. Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar anak mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya. Sikap mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara. Mereka mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya kejayaan dan kesejahteraan masyarakatnya.9. Siklus Hidup Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut pandangan masyarakat Tengger, yakni: a. Umur 0 sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang bramacari yaitu masa yang tepat untuk pendidikan; b. Usia 21 (wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta, masa yang tepat untuk membangun rumah dan mandiri; c. 60 tahun ke atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai manusia usia lanjut untuk lebih mementingkan masa akhir hidupnya. Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang bermaksud hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.10. Pertunangan dan Perkawinan Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan (pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak.
  • 24. Apabila kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon) berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok. Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu barulah upacara perkawinan dilakukan. Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, „papan‟ tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih). Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas kawin. Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan.11. Hak Waris Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh kerelaan pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yang dibakukan. a. Kesenian dan Tata Rumah Kesenian Kesenian merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Hasil kesenian daerah, sebagai unsur dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Tengger, dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni seni panggung, seni musik dan seni tari. Di samping itu dapat pula dikelompokkan menjadi kesenian tradisional dan modern. Kesenian tradisional dapat dikelompokkan menjadi keseniän tradisional yang berasal dari masyarakat Tengger sendiri dan yang berasal dari luar daerah Tengger. Seni tari yang tradisional dan yang bersifat ash hanya ada dua, yaitu tari ujung dan tari sodoran. Kedua jenis tarian ini dilaksanakan pada upacara adat, yaitu pada waktu pembuatan jimat klonthong dan bertepatan dengan upacara Karo. Khusus untuk Desa Wonokitri dan Desa Sedhaeng, sebelum tari Ujung digelarkan, terlebih dahulu dilaksanakan dandosan berupa sesajen sedekah pangonan.
  • 25. Yang pertama, tari sodoran merupakan kesenian tradisional Tengger yang mengandungnilai keagamaan. Penarinya empat orang dan saling berhadapan, dimulai dengan jarakberjauhan dan terus bergerak mendekati lawannya. Mereka menari dengan diiringi bunyigamelan. Penari menunjukkan jarinya dalam gaya tariannya. Penunjukan telunjuk itusebagai lambang purusan dan pradazza, yang bermakna sebab pertama dan alam semestayang bersifat abadi. Yang kedua, tari ujung merupakan suatu kçsenian yang merakyat Kesenian ini seningdinamakan kesenian tiban. Biasanya tarian ml dimainkan setiap hari raya Karo, setelah- nyadran dan sebelum mulihe ping pitu „ dalam rangkaian upacara Karo. Tari ujungmenunjukkan makna lambang persahabatan, yaitu rasa bersatu dan merasakan suka-dukabersama. Pada tarian ini penari saling memukul bergantian dengan rotan berukuran kuranglebih satu meter. Seni tari lain yang sekarang banyakjuga disenangi oleh masyarakat Tengger antara lainadalah ludruk, kethoprak dan lain-lain yang berasal dan luar masyarakat Tengger. Kesenianini sewaktu-waktu dapat dipanggungkan apabila diperlukan. Seni musik yang masih bersifat tradisional dan berasal dan masyarakat engger sendiriadalah seni karawitan. Namun sekarang masyarakat ini juga menyenangi antara lain seniterbang gelipung, dan seni hadrah, sedangkan seni modern yang telah masuk adalahkeroncong, band, dan orkes melayu. Seni tari atau jenis kesenian yang memusatkan kepada gerakan, yang berasal dan luarmasyarakat Tengger namun saat ini mulai digemari, antara lain adalah pencak silat danakrobatik. Jenis kesenian ini banyak peminatnya danbisa diterima dengan baik. (Sebagaicatatan, seni wayang kulit untuk daerah Tosari hanya dimainkan untuk ruwatan, sedangkaridi Desa Ngadisari sama sekali tidak diperkenankan untuk dimainkan).b. Tata Rumah Rumah penduduk Tengger dibangun di atas tanah, yang sedapat mungkin dipilih padadaerah datar, dekat air, atau kalau terpaksa dipilih tanah yang dapat dibuat teras, dan jauhdan gangguan angiñ. Runah-rumah letaknya berdekatan atau menggerombol pada suatutempat yang dapat dimasuki dan berbagaf jurusany yang dihubungkan dengan jalan sempitatau gak lebar antara satu desa dengan desa lain. Desa induk yang disebut Jcrajan biasa-nyaterletak di tengah dengan jaringan jalan-jalan yang menghubungkan dengan desa lain.Pembangunan sebuah rumah selalu diawali dengan selamatan, demikiah pula apabilabangunan telah selesai (rampung) diadakan selamatan lagi. Pada setiap bangunan yangsedang dikejakan selalu terdapat sesajen, yang digantungkan pada tiang-tiang, berupamakanan, ketupat, lepet, pisang raja dan lain-lain. Bangunan rumah orang Tengger biasanyaluas sebab pada umumnya dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama, Ada kebiasaanbahwa seorang pria yang baru saja kawin akan tinggal bersama mertuanya.Tiang dan dinding rumahnya terbuat dan kayu dan atapnya terbuat dan bambu yang dibelah.Setelah bahan itu sulit diperoleh, dewasa ini masyarakat telah mengubah kebiasaan itudengan menggunakan atap dan seng, papan atau genteng.
  • 26. Alat rumah tangga tradisional yang hingga sekarang pada umumnya masih tetap ada adalah baiai-balai, semacam dipanyang ditaruh di depan rumah. Di dalam ruangan rumah itu disediakan pula tungku perapian (pra pen) yang terbuat dan batu atau semen. Perapian ini kurang lebih panjangnya 1/4 dari panjang ruangan yang ada. Di dekat perapian terdapat ruang duduk yang meliputi kurang lebih separuh dan seluruh ruangan. Apabila seorang tamu drtenima dan dipersilakan duduk di tempat ini menunjukkan bahwa tamu tersebut diterima dengan hormat. Selain digunakan untuk penghangat tubuh bagi penghuni rumah, perapian juga dimanfaatkan untuk mengeringkan jagung, atau bahan makan lainnya yang memerlukan pengawetan dan ditaruh di atas paga. Dekat tempat perapian itu terdapat pula alat-alat dapur, lesung, dan tangga. Halaman rumah mereka pada umumnya sempit (kecil) dan tidak ditanami pohon-pohonan. Di halaman itu pula terdapat sigiran, tempat untuk menggantungkan jagung yang belum dikupas. Selain itu, sigiran dimanfaatkan untuk menyimpan jagung, sehingga juga berfungsi sebagai lumbung untuk menyimpan sampai panen mendatang.12. Tengger sebagai Daerah Penyangga Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru Lokasi Taman Nasional Bromo terletak di pertemuan empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Daerah tersebut dihuni oleh masyarakat Tengger yang memiliki tradisi dan budaya khas, sebagai peninggalan nenek moyang sejak zaman Majapahit. Gunung Bromo merupakan gunung berapi, yang terus-menerus mengepulkan asap pada bagian tengah kalderanya. Gunung tersebut dikelilingi olëh laut pasir (segara wedhi), serta dikelilingi oleh pegunungan dengan jurang-jurang yang terjal. Ketinggian Gunung Bromo adalah 2392 m, Di sebelah selatannya berdiri gunung vulkanik Semeru yang masih aktif, dengan ketinggian 3676 m. Secara legendaris kedua gunung tersebut mempunyai kaitan, seperti telah dilukiskan dalam legenda pada uraian terdahulu. Di sekitar Gunung Biomo dan sebagian wilayah Gunung Semeru inilah masyarakat Tengger bermukim. Ditinjau secara sosial-budaya, masyarakat Tengger memiliki sifat khas tradisi dan budaya, yang secara historis merupakan peninggalan nenek moyang dan zaman Majapahit, dan sampai saat ini mampu bertahan. Sejak ditetapkan pada tahun 1982 sebagai daerah penyangga Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Tengger selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan dan dalam dan luar negeri. Di samping itu sejak tahun 1973 dengan ditetapkannya masyarakat Tengger sebagai pemeluk agama Hindu, maka mulai diadakan pembinaan intensif tentang keagamaan, namun masyarakat Tengger tampaknya belumbanyak terpengaruh oleh nilainilai budaya yang lain. Beberapa gejala yang tampak antara lain adalah, dengan adanya sentuhan langsung pembangunan yang terprogram dan datangnya para wisatawan yang berkunjung ke daerah Tengger in mereka mulai memanfaatkan kesempatan itu, antara lain dengan menyewakan rumah mereka untuk penginapan, menyewakan kuda-yang semua sebagai alat angkut hasil pertanian-untuk alat transportasi para wisatawan yang memerlukan. Meskipun telah banyak
  • 27. bergaul dengan para pendatang, namun sikap keaslian mereka masih tampak jelas dalam memperlakukan para wisatawan, yaitu sikap ramah, jujur dan gotong royong.13. Tengger sebagai Daerah Penyangga Taman Nasional Pengembangan suatu masyarakat berarti akan mengubah menjadi sesuatu yang lain, atau tetap mempertahankan keberadaannya dengan mengembangkan kemampuan dan kondisi masyarakat untuk mampu mandiri serta menjadi lebih bermanfaat dan lebih sempurna. Penetapan BromoTengger-Semeru menjadi taman nasional bermakna bahwa kondisi yang telah ada akan dilindungi dan dikembangkan agar lebih semarak dan menarik. Tengger sebagai daerah penyangga juga bermakna bahwa budaya masyarakat Tengger perlu dilestarikan dan dikembangkan menjadi lebih sempurna, terutama adat istiadat dan nilai-nilai budayanya yang relevan dengan kemajuan zaman, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara. Dengan masuknya para wisatawan ke daerah Tengger, tidak mustahil akan terjadi pergeseran nilainilai instrumental, namun apabila terus diadakan pembinaan sikap mental dengan tetap berpegang kepada nilai tradisional yang relevan, maka pergeseran nilai-nilai instrumental itu akan tetap dapat dicegah dan sekaligus dapat dipertahankan sifat keasliannya. Hubungan antara masyarakat Tengger dengan taman nasional sangat erat karena daerah Bromo-Tengger-Semeru sebagian besar dihuni oleh masyarakat Tengger. Apabila kondisi alamnya akan dikembangkan menjadi taman nasional maka masyarakat sekitarnya pun dituntut urituk mampu menyelamatkan, memelihara dan ikut mengembangkannya. Apabila masyarakat Tengger tidak diberi kesempatan untuk mengambil keuntungan dan taman nasional itu, tidak mustahil akan terjadi sikapmasa bodoh terhadapnya, tidak ikut menjaga ataupun menyelamatkannya. Masyarakat Tengger sebagai penyangga, sudah tentu berperan besar untuk menjaga kelestarian taman nasional. Demi kelestarian taman nasional itu, masyarakat Tengger diharapkan merasa ikut memiliki (handarbeni), membina (hamengkoni) dan sekaligus dapat memanfaatkannya. Di sekeliling taman nasional itu akan dikembangkan berbagai macam tumbuhan penyangga sebagai daerah buffer zone untuk melestarikan alam dan keindahannya, yang kondisinya perlu dijaga oleh masyarakat lingkungannya. Hal itu akan berhasil apabila lingkungan alamnya: mampu menyediakan berbagai kebutuhan dasar masyarakat sekitarnya, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun memberikan kepuasan dan kesenangan yang lain; dapat terselamatkan dari berbagai gangguan yang berasal dari manusia, binatang, ataupun gangguan lainnya; mampu mengembangkan sikap masyarakat untuk mencintai alam dan taman nasional; mampu melindungi manusia dan daerah pertanian sekitarnya dari gangguan binatang yang datang dari daerah penyangga itu sendiri.
  • 28. mampu meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, termasuk masyarakat Tengger, dan kesadaran akan pentingnya taman nasional itu; mampu menumbuhkan dan mengembangkan organisasi swadaya masyarakat dalam kaitannya dengan usaha-usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungannya; mampu membina eksistensi adat dan budaya masyarakat Tengger yang dapat memberikan konsumsi penyemarakan wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan taman nasional itu. Untuk mengembangkan buffer zone ini, ada suatu masaah yang perlu dipecahkan dengan penuh kebijaksanaan. Misalnya desa Ngadas yang terletak di daerah buffer zone. Masalahnya antara lain adalah apakah desa ini harus dipindahkan, atau dibiarkan tetap berada di daerah buffer zone. Apabila masyarakat itu dipindahkan akan terjadi kesulitan di mana akan ditempatkan, dan apabila tetap berada di daerah buffer sone, bagaimana pengelolaannya? Untuk memecahkan masalah ini diperlukan penelitian dan pertimbangan untung ruginya.14. Sejarah Masyarakat Tengger Masyarakat Tengger pada umumnya beranggapan bahwa mereka adalah pewaris adat istiadat tradisional Majapahit. Pernyataan ini dibenarnya oleh Prof. Nancy, sesuai dengan hasil penelitiannya tentang Masyarakat Tengger dalam Sejarah Nasional indonesia (1985), yang secara kronologis menerangkan asal kejadi an masyarakat Tengger itu. (Hal ini secara khusus sudah dibahas dalam Bab 2). Kajian sejarah menunjukkan bahwa adat masyarakat Tengger tidak menganut adanya perbedaan kasta karena memang tidak terdapat pemimpin agama yang kuat. Sebelum adanya pembinaan agama Hindu, dalam masyarakat Tengger tidak terdapat pedanda atau pendeta dan resi. Pada waktu itu hanya terdapat ketua adat (dukun) yang berpengaruh. Hal ini pula yang mungkin menyebabkan hilangnya identitas masyarakat dan kondisi terancamnya kehidupan spiritual serta pelaksanaan upacara adat pada akhir abad ke-19, seperti diungkapkan oleh Nancy. Baru setelah tahun 1945, masyarakat Tengger berkesempatan mengggali sejarah spiritual mereka secara mendalam. Berdasarkan kenyataan sejarah tersebut, maka pembinaan cara hidup dengan nilai spiritual yang mereka miliki dan dianut dewasa ini adalah sebagai dasar pembinaannya. Nilai- nilai spiritual zaman. Majapahit perlu digali sebagai dasar pembinaan dalam bidang keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa aspek positif yang dapat dipertahankan dan dikembangkan, antara lain sikap toleransi yang kuat untuk hidup berdampingan dengan masyarakat yang berlainan agama. Sikap gotong royong dan rukun yang telah dimiliki digunakan sebagai dasar pembinaan sikap berbangsa yang besar dan bersatu berdasarkan Pancasila sebagai dasar pembinaan kesadaran nasional. Masih banyak lagi nilai dan sikap hidup positif yang sekarang ini dimiliki oleh masyarakat Tengger yang perlu dibina dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman modern.
  • 29. 15. Sosial-Budaya Masyarakat Tengger Dewasa ini Ditinjau dan sudut alam lingkungan masyarakat Tengger yang terdiri dan daerah perbukitan yang terjal, puncak-puncak pegunungan yang cukup tinggi, dan secara fisik masih menunjukkan kesuburan tanahnya, masyarakat Tengger semestmnya terdiri atas kaum petani. Namun sesuai dengan catatan, bahwa penduduk yang dikategorikan sebagai petani penggarap hanya 37,93% dan buruh tani 8,16%, maka sekitar 54% penduduk tengger bukan tergolong petani. Oleh karena itu, perlu ada pemikiran yang bersungguh-sungguh untuk membangun masyarakat Tengger sebagai masyarakat penyangga taman nasional. Untuk pengembangannya diperlukan penyediaan lapangan kerja, dengan mencari berbagai alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat, sehingga tidak akan mengganggu kelangsungan hidup taman nasional itu sendiri. Sebagian besar tanah daerah Tengger yang berbukit dan berjurang terjal saat ini telah dijamah dan dihuni oleh kaum petani untuk usaha pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa apabila pertumbuhan penduduk tidak bisa dikendalikan dalam waktu yang relatif singkat, seluruh tanah yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pertanian, apabila tidak ada usaha lain yang lebih menguntungkan. Suatu alternatif telah ditetapkan, yaitu Tengger sebagai daerah penyangga taman nasional, maka perlu dipikirkan kondisi yang bagaimanakah yang tepat bagi masyarakat Tengger, sehingga mampu menciptakan kondisi yang menguntungkan? Jawabannya perlu digali dan kemampuan dan kondisi yang dalam masyarakat Tengger sendiri. a. Bidang Keagamaan Hasil penelitian rnenunjukkan bahwa sebelurn tahun 1973, masyarakat Tengger masih menganut kepercayaart yang bersifat tradisional dengan melakukan berbagai upacara, antara lain Kusada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, perkawinan, kematian, pendirian rumah, dan sebagainya. Berbagai upacara itu pada hakikatnya adalah untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keselamatan di dunia termasuk kelangsungan hidup dalam rumah tangga dan perkawinan, bertetangga, menempati rumah, keberhasilan dalam bertani, pembersihan dari dosa, dan sebagainya. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan negara untuk dapat masuk surga atau moksa. Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu, meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta, pedanda resi, ataupun biksu. Upacara- upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong, namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah, seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu. Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara. Namun dari hasil penelitian itu pun ditegaskan bahwa pengertian buda bukanlah Budha sebagai agama,
  • 30. melainkan istilah yang biasanya dipakai oleh masyarakat Jawa untuk menyebut agamasebelum Islam. Pada zaman kekuasaan Majapahit diakui adanya dua agama, yaitu Budha danHindu. Pada abad ke-14, setelah masuknya Islam, istilah buda digunakan untuk menyebutmereka yang belum menganut agama Islam. Sebagai perbandingan, para pujangga Yogyakartapada abad yang sama juga menggunakan istilah buda bagi mereka yang masih menganuttradisi lama (Majapahit). Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah, denganditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger, maka rakyatTengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yangdikembangkan di Bali. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari danKecamatan Sinduro, sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempatberibadah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa toleransi masyarakat Tengger terhadappemeluk agama lain cukup tinggi. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanyadalam melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain danmengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikajidari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagianutara Tengger telah memeluk agama islam, sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakatTengger tetap dengan tradisinya. Atas dasar kenyataan ini, maka pengungkapan nilai-nilaiyang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuaidengan alam modern.b. Upacara Adat Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan.Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahunsekali, satu windu tahun wuku.1) Upacara Kasada U[acara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo di lembah lautan pasir pada bulan ke12. Setelah berdoa tengah malam, upacara ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawahGunung Bromo sebagaimana dipesankan oleh leluhurnya, Raden Kusumaputra Rara Antengdan Jaka Seger. Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatanmasyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger. Upacara Kasada, selain untuk persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo, jugadigunakan untuk penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Di samping itu bisa juga diadakanpelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat olehmasyarakat Tengger sebagai pinisepuh. Upacara Kasada dianggap sebagai saat yang tepat untuk memamerkan objek wisataTaman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, karena dapat menarik perhatian orang dari berbagaidaerah dan mancanegara untuk berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. Dengandemikian, sekaligus dapat menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada parapengunjung.
  • 31. Upacara Karo dilaksanakan di rumah atau juga secara terpusat di kepala Desa/adat. Padabulan ke-2 atau Karo. Pada upacara ini diutamakan para rakyat saling berkunjung, dan kepalaadat perlu mengunjungi setiap rumah tangga para warganya. Pada upacara yang bersifatumum, dimulai dengan tari ujung dan tari sebagai rangkaian upacara, di samping itudikeluarkan juga jimat klonthong sebagai penyempurnaan upacaraUpacara karo itu dapat pula dimanfaatkan untuk menarik para wisatawan yang inginmengetahui sifat khas adat Tengger karena upacara ini tidak ditemukan di lain tempat, juga diBali sebagai pusat agama Hindu Dharma di Indonesia.2) Upacara Unan-unan juga bersifat khas. Tujuan utama upacara ini untuk bersih desa dalam arti luas. Pengertian bersih bukansemata-mata bersifat fisik, melainkan lebih bersifat ritual spiritual yaitu suatu permohonankepada Tuhan Yang Maha Esa, akan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat padaumumnya di Tengger. Oleh karena upacara ini juga bersifat masal, maka dapat puladimanfaatkan untuk memberikan daya tarik di bidang pariwisata. (Catatan secara empirikupacara ini belum diteliti dengan lengkap).3) Upacara-upacara lain bersifat individual, sehingga sedikit kemungkinan untuk dijadikan objek kepariwisataan. Di samping itu terdapat pula upacara Galungan, yang ada karena masuknya agama Hindu Dharma Bali.4) Mantra Beberapa mantra yang dibaca setiap upacara tradisional sudah dicatat oleh salah seorangdukun, yaitu Dukun Sujai, dan ditulis dengan huruf Jawa., Namun hingga sekarang masih adadua mantra besar yang penting masih belum terdokumentasikan, yaitu mantra purwa bhumidan mandhalagiri. Sebenarnya di Tengger masih terdapat 21 lontar yang disimpan dandikeramatkan oleh penduduk, yang salah satu di antaranya berisi mantra purwa bhumi.Apakah isinya sama dengan mantra purwa bhumi yang dihafal oleh pewaris, masih belumdiketahui. Di masyarakat Tengger terdapat pewaris mantra yang sampai saat ini masih hafalisi dan ucapan mantra purwa bhumi dan mandhalagiri, yang perlu dilestarikan, apabila daerahTengger akan digunakan sebagai daerah penyangga taman nasional dan sekaligus sebagaidaerah wisata adat atau budaya tradisional. Dengan mempelajari isi berbagai mantra yangterdapat di daerah Tengger, dapat diketahui isi kejiwaan dan pandangan hidup masyarakatTengger. Dengan cara demikian akan lebih memudahkan membina can mengem bangkamasyarakat Tengger, sehingga mampu hidup di tengah perkembangan dunia yang cepatberubah di alam globalsiasi.5) Makna Simbolik Beberapa Alat Upacara Setiap pelaksanaan upacara disertai dengan berbagai sesajen dan peralatannya. Apabiladikaji lebih mendalam, berbagai sesajen dan peralatan itu secara simbolik mempunyai maknatertentu.
  • 32. Makna simbolik ini akan sangat berguna sebagai alat pendidikan dan pewarisan nilai- nilai kepada masyarakat dan generasi. Sebagai contoh, pada sesajen sering terdapat empat atau lima macam warna makanan, antara lain juadah putih diartikan sebagai Sang Hyang Iswara yang berkedudukan di timur, melambangkan kelahiran ataupun sifat kesucian waktu manusia dilahirkan. Juga diartikan sebagai penglihatan (paninggal). Timur diartikan sebagai „permulaan‟ atau wiwitan atau wetan (Jw); juadah merah sebagai lambang Sang Hyang Bromo yang berkedudukan di selatan, yang diartikan pula sebagai pendengaran. Demikian pula jenis-jenis makanan dan warna lainnya, semuanya diberi makna simbolik. Dengan demikian, berlangsungnya setiap upacara adat merupakan kesempatan baik untuk menyampaikan makna yang terkandung dalam setiap alat upacara ataupun sesajen. Apabila arti lambang tersebut sungguh-sungguh dipahami dan dihayati akan berguna bagi manusia untuk membentuk dirinya sendiri.16. Konsep Tentang Manusia Seperti halnya masyarakat tradisional lainnya, masyarakat Tengger mempercayai adanya dualisme hubungan antara jiwa dan raga, antara sukma dan badan. Sukma atau roh manusia bersifat langgeng, berasal dan alam baka datang ke dunia fana, dan akan kembali ke alam baka lagi. Di samping itu dipercayai pula bahwa hubungan antara roh dan badan adalah terpisah, seperti hubungan antara burung dengan sangkarnya. Konsep tentang manusia bagi masyarakat tengger dapat dipelajari dan berbagai sumber antara lain dan mantra kata-kata sesanti, legenda dan tafsir mereka terhadap lambang-lambang tertentu. Beberapa mantra memang hanya dikuasai oleh para dukun atau orang yang dituakan oleh masyarakat Tengger, misalnya mantra purwa bhumi dan mandhalagiri, mantra ini dihafal juga oleh para dukun yang berkedudukan sebagai kepala adat dan jumlahnya sangat terbatas. Mereka adalah orangorang terkemuka yang dipandang berpengaruh dan dapat menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan konsep hidup. Jadi, mereka berpengaruh atas lingkungannya, sebagai panutan atau sebagai sumber pengetahuan tentang hidup. Mantra purwa bhumi berisi kejadian alam, termasuk kejadian manusia, yang mengandung ajaran bahwa manusia (Tengger) diwajibkan melaksanakan pemujaan melalui berbagai upacara, antara lain Galungan, Penawangan, Kasada, dan Kepitu, bulan purnama, dan bulan tilem. Apabila pemujaan itu dilakukan, maka manusia akan dibebaskan dan dosa-dosanya. Demikian pula dan beberapa mantra lain dapat dipelajari mengenai ajaran hidup dan konsep tentang manusia. Dan legenda dengan cerita Aji Saka, dapat dipelajari konsep tentang manusia, terutama dengan penafsirannya terhadap aksara jawaha-na-ca-ra-ka, yang menggambarkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia memiliki cipta, rasa dan karsa sebagai alat kejiwaan, sehingga mampu mengembangkan din sebagai pribadi manudiri, yang wajib melaksanakan lima tugas hidup untuk tumbuh menjadi manusia sempurna. Kelima tugas hidup itu belum begitu jelas, namun bisa dikaitkan dengan panca sradha maupun panca setya, yaitu kepercayaan akan adanya lima hakikat keimanan dan lima kesetiaan dalam melaksanakan hidup di dunia ini.
  • 33. Di samping penafsiran tersebut, secara harfiah pun aksara Jawa mengandung arti ada (dua orang) utusan, yang saling bertengkar (dan berkelahi), keduanya sama ampuhnya, dan akhirnya mati bersama. Dalam legenda kedua utusan itu dinamakan dora dan sem1da, yang berarti dusta dan konsekuen. Dan rangkaian katakatanya dapat diartikan bahwa pada dasarnya dalam din manusia ada dua sifat yang saling bertentangan, namun keduanya sama pentingnya. Atau dapat pula diartikan adanya dua utusan Tuhan, yang masing-mäsing membawa kebenaran sesuai dengan kondisi atau zamannya. Dalam hal ini masyarakat Tengger dapat memahami adanya agama lain (Islam) yang dipeluk oleh masyarakat tetangganya (dengan istilah geblag lor dan geblog kidul). Tafsiran terhadap makna ha-naca-ra-ka dapat diartikan sebagai pertentangan kedua utusan yang saling mempertahankan kebenanari masingmasing, atau bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan, sama teguhnya dalam memegang perinah, dan sama jayanya dalam memperjuangkan kebenaran, namun hal itu ternyata mengakibatkan kehancuran. Jadi, dalam mempertahankan kebenaran yang penting adalah marmane gun tya binuka thukul ngakasa, yang artinya saling terbuka tumbuh bebas, atau menyempurna. Sesanti (kata-kata mutiara) yang mereka gunakan juga sangat berperan sebagai acuan sikap hidup. Kenyataan itu adalah tercermin pada lima kawruh buda, yaitu prasaja, prayogya, pranata, prasetya, prayitna, yang bermakna :jujur, bijaksana, patuh pada pimpinan, setia, dan waspada. Di samping itu tercermin pula pada panca setia, yaitu setya budaya, setya wacana, setya semaya, setya laksana, dan setya mitra. Ungkapan itu bermakna orang hidup hendaklah bersikap taat, tekun, mandiri setia pada ucapan (janji), patuh, dan setia kawan. Ajaran tersebut tampak masih melekat pada sikap dan perilaku masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari- hari. Dan konsep tentang manusia dan konsep hidup tersebut, dapatlah diambil hikmahnya untukpengembangan masyarakat Tengger, antara lain tentang:(1) Penghormatan terhadap orang tua dan nenek moyang; kelanggengan roh manusia yangmeskipun telah berada didalam baka, namun tetap harus diusahakan kesucian dankesempurnaannya; roh-roh nenek moyang dimohonkan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa,hal ini mengandung nilai penghormatan kepada nenek moyang.(2) Membentuk identitas kepribadian yang utuh dan baik; dalam hidup di dunia ini hendaklahjujur, tidak dibuat-buat, dan ada adariya; bijaksana dalam setiap tindakan; patuh kepada negaradalam arti berkesadaran nasional yang tinggi; loyal dan waspada.(3) memiliki sikap sosialitas yang tinggi; dalam hubungan sosialnya hendaklah sadar akankemampuan pribadi, taat dan tekun bekerja; konsekuen dan menepati janji, patuh dan setiakawan.Di samping berbagai sikap pribadi dan sikap sosial yang pada dasarnya masih dimiliki olehmasyarakat Tengger, masih tampak jelas pula sikap toleransi yang tinggi, gotong royongmasyarakat, tekun dan kerja keras, ramah terhadap para pendatang. Berbagai sikap tersebut perludioertahankan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan zaman.
  • 34. 17. Kesenian dan Tata Rumah Tangga Kesenian asli yang berupa seni tan dan seni suara sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat. Ada dua macam seni tan yaitu tan ujung dan tan sodoran, yang keduanya diiringi dengan seni karawitan. Kedua seni tan tersebut sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat, terutama upacara perayaan Karo. Sebagai contoh, tan sodoran menggambarkan kejaian manusia yang berasal dan purusa dan pradama. Upacara Karo sendiri merupakan perayaan untuk memperingati kejadian manusia dan diharapkan manusia kembali kepada kemurnian dan kesuciannya, yaitu pada zaman satya Yoga, suatu zaman di mana kejujuran‟ atau ke-satya-an manusia dijunjung tinggi. Demikian pula tan ujung dilakukan pada waktu upacara Karo sebagai hiburan, sesudah nyadran dan sebelum mulihe ping pitu. Tari sodoran dilakukan pada pembukaan rangkaian upacara, sedangkan tari ujung dilakukan menjelang akhir rangkaian upacara. Rangkaian upacara diakhiri dengan tarian hiburan yang menunjukkan bahwa persahabatan itu selalu bersatu, suka-duka dirasakan bersama. Dalam tarian itu ditunjukkan teijadinya rasa sakit karena pukulan pada bagian badan tertentu yang boleh dipukul. Kedua tarian diiringi dengan gamelan karawitan. Irama lagu yang digunakan untuk mengiringi telah ditentukan, yang semuanya mengandung arti simbolik. Jenis alat tabuh (gamelan) mempunyai arti tersendiri, demikian pula irama lagu yang dikumandangkan juga melambangkan sesuatu maksud.18. Perubahan Nilai Perubahan nilai tidak terlepas dari pemahaman terhadap arti nilai itu sendiri. Nilai sangat erat hubungannya dengan pandangan manusia terhadap segala sesuatu sebagai objek pengenalnya, serta kaitannya dengan arti dan makna bagi manusia sebagai subjek yang menghendaki objek pengenalan tersebut. Objek yang dikenal oleh subjek adalah sebagai pengetahuan dan subjek terhadap objek tersebut. Pengetahuan tersebut akan bernilai bagi subjek, baik sebagai nilai yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki. Secara teoritis arti dan makna pengetahuan dan nilai itu dapat dibedakan, akan tetapi kenyataannya nilai melekat pada diri pengetahuan. Jadi dalam arti luas, pengetahuan itu sebagai nilai, dan nilai itu melekat pada diri pengetahuan. Pengetahuan datangnya dan objek yang dikenal oleh subjek melalui proses pengenalan, yang merupakan gambaran tentang objek yang dikenalnya. Jadi pengetahuan pada dasarnya bersifat objektif. Pengetahuan akan benar apabila cocok atau sesuai dengan objeknya. Kriteria pengetahuan adalah tentang kebenarannya. Sebaliknya, nilai adalah harta tentang sesuatu jika dihubungkan dengan kepentingan dan kebutuhan manusia. Jadi nilai itu lebih bersifat subjektif karena keberadaannya bergantung pada pandangan manusia terhadap sesuatu bagi kepentingan dan kebutuhan manusia. Sesuatu adalah bernilai apabila berharga bagi manusia sebagai subjek. Sebagai ukuran tentang nilai adalah baik-buruk, atau dalam arti luas adalah kebaikan. Sesuatu akan dikatakan bernilai positif apabila dikehendaki dan memberikan manfaat dalam arti memberi kebaikan bagi subjek.
  • 35. Hubungan antara pengetahuan dengan nilai adalah bahwa pengetahuan yang dimilikisubjek merupakan nilai-nilai, baik yang dikehendaki ataupun yang ditolaknya. Diterima atauditolaknya sesuatu sebagai yang bernilai bagi seseorang sangat bergantung pada pengetahuandan penilaiannya terhadap sesuatu itu. Atas dasar kenyataan itu, maka jelaslah bahwa antarapengetahuan dan nilai terkait erat, yang secara teoritis dapat dipisahkan dalam memahaminya,akan tetapi secara praktis nilai terletak pada pengetahuan itu sendiri. Hubungan antarakeduanya adalah sangat erat dan timbal balik. Pengetahuan timbul karena adanya kemampuansubjek (manusia) untuk mengenal objek, dan nilai itu terjadi karena adanya pengetahuan yangdinilai untuk dimilikinya. Dengan pengetahuan itu subjek dapat mengembangkan diri menjadiseperti sesuatu yang dikehendakinya. Nilai-nilai ada yang bersifat universal, ada pula yang bersifat partikular. Nilai universalbersifat abstrak umum, sedangkan yang partikular bersifat konkret instrumental. Nilai-nilaiinstrumental inilah yang dapat berubah sesuai dengan waktu dan kondisi, sedangkan yangabstrak-umum-universal adalah tetap tak berubah. Sebagai contoh nilai keadilan bersifatabstrak-umum-universal, sedangkan bentuk konkretnya yang bersifat instrumental dapatberubah, umpamanya adil diartikan sama rata dan sama rasa. Dalam kenyataan apakah merekayang bekerja Lebih intensif akan mendapatkan bagian yang sama dengan mereka yangbekerjanya kurang intensif, meskipun dalam kurun waktu yang sama? Apabila keduanyadisamakan, apakah itu adil? Permasalahan seperti inilah yang sering menjadi perbedaanpendapat. Dengan kata lain, apabila telah memasuki nilai-nilai instrumental sering terjadiberbagai perbedaan pendapat karena kurang jelasnya kriteria yang digunakan.

×