Your SlideShare is downloading. ×
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
58443826 e-book-regional
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

58443826 e-book-regional

2,136

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,136
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
167
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 10019
  • 2. KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT, yang dengan izin-Nya buku ini telah berhasil sayatulis dan diterbitkan. Shalawat dan salam disampaikan kepada nabi besar MuhammadSAW, yang telah memberikan motivasi yang kuat untuk ikut mengembangkan IlmuPengetahuan, dengan hadis beliau: ―tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina‖. Buku ini merupakan pengembangan dari sejumlah diktat kuliah yang pernahsaya tulis sejak tahun 1987, setelah saya menyelesaikan studi Magister pada JurusanPerencanaan Wilayah dan Kota di Institut Teknologi Bandung, dan mendapat tugas dariKetua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi UniversitasPadjadjaran untuk mencoba mengembangkan Mata Kuliah (MK) Ilmu EkonomiRegional (sebagai salah satu mata kuliah pilihan) di jurusan tersebut. Buku-buku untukrujukan mahasiswa S1 sangat terbatas, sedangkan buku-buku yang ada (seperti:Regional Economics dari HW Richardson) terlalu tinggi untuk mahasiswa S1. Buku-buku yang saya anggap dasar tersebut saya coba terjemahkan bagian-bagian yang sayaanggap penting, dan mengelaborasinya agar lebih mudah dipahami mahasiswa S1 dansaya berikan sebagai diktat kuliah. Pada pembuatan kontrak belajar dengan mahasiswa,pada awal semester, saya meminjamkan buku-buku yang saya miliki untuk dicopy paramahasiswa karena tidak tersedianya di perpustakaan dan juga di toko-toko buku.Sampai dengan tahun 2000 saya membina MK ini di tiga Universitas, yaitu diUniversitas Padjadjaran, Univesitas Islam Bandung, dan Universitas SiliwangiTasikmalaya. Sejak tahun 1995 saya ikut membina M.K. ini pada Program PascasarjanaUniversitas Padjadjaran, dan terakhir 2004 juga di Program Magister Ekonomi Terapam(MET) Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Buku ini baik dijadikakan sebagai rujukan untuk mahasiswa S1, karena telahdielaborasi dengan berbagai contoh ilustrasi dan gambar-gambar, yang dapat membantupara mahasiswa dalam mempelajari subyek studi ini, sebagai salah satu spesialisasi ilmuekonomi dengan pendekatandekatan spasial. Sedangkan untuk mahasiswa S2 juga baik,namun diwajibkan membaca buku-buku rujukannya yang asli, dan buku-buku lain yangbaru diterbitkan dan jurnal-jurnal. Mereka juga diwajibkan menulis makalah 12 – 15halaman untuk diseminarkan. Makalah tersebut sumbernya dapat dipilih dari studiperpustakaan, atau dari contoh-contoh kasus implenetasinya di dalam pembangunan.Buku ini juga memperlihatkan dengan jelas aspek-asper mikro dan makro ekonomiyang terkandung dalam pengajaran Ilmu Ekonomi Regional. Lahirnya Ilmu EkonomiPerkotaan (Urban Economics), karena kebutuhan dari adanya sifat-sifat ekonomiperkotaan yang khas masih dilihat sebagai satu kesatuan obyek studi (wilayah). Idialnyaekonomi pedesaan (Rural Economics) juga kita kembangkan dengan kecepatan yangsama. Insya Allah pada suatu saat akan ditambah dengan bab-bab ekonomi pedesaan. Saya yakin buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya akan sangatberterima kasih kepada para pembaca dan pengguna yang berkenan menyampaikankritik dan sarannya bagi perbaikannya lebih lanjut. Bandung, 6 Oktober 2005 Penulis. (Rusli Ghalib) i
  • 3. SAMBUTAN DEKAN FAKULTAS EKONOMU UNIVERSITAS PADJADJARAN Syukur Alhamdulillah, satu lagi buku yang merupakan karya tulis ilmiah dosendi lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Kali ini di bidang strudiPembangunan spesialis Ekonomi Regional dan Perkotaan. Saya sangat mengharapkan kiranya para dosen dapat memberikan perhatianyang seimbang terhadap tugas-tugas kita sebagai pengajar perguruan tinggi, yangmeliputi aspek-aspek pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.Karena dengan pelaksanaan tugas-tugas tersebut secara seimbang akan memberikandampak ganda bagi kita, yaitu dampak kepada peningkatan mutu pengajaran sebagaitugas pokok/meningkatkan mutu lulusan, kedua yaitu: dampak kepada universitassebagai wahana pelaksanaan misi mempercepat peningkatan kualitas sumberdayamanusia. Salah satu indikator awal berkembangnya mutu pengajaran adalahmeningkatnya penerbitan buku-buku yang ditulis dosen-dosen kita sebagai hasil studiperpustakaan, peningkatan jenjang studi, hasil penelitian, dan hasil pengabdian padamasyarakat. Dengan dapat diterbitkannya berbagai buku ajar juga berarti kita telahdapat membantu perguruan-perguruan tinggi lain yang masih perlu kita bantu, dimanabuku tersebut berfungsi sebai sumber informasi perkembangan ilmu yang tidak pernahberhenti, tanpa kita selalu harus hadir sendiri secara fisik. Kita sadari, banyak permasalahan yang membatasi para dosen kita untukmelaksanakan himbauan yang seperti ini. Oleh karena itu pula Fakultas Ekonomikhususnya, dan Universitas Padjadjaran umumnya, dalam upaya meningkatkan―Academic Atmosphere‖ melalui penerbitan buku ajar di kalangan dosen ini, tidakhanya menghimbau tepapi secara konkrit diupayakan melalui kebijakan insentif setafasilitas untuk menulis dan menerbitkan buku. Demikian, kiranya ajakan yang telah lama saya sampaikan ini menjadi lebihwujud. Akhirnya saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginyakepada sdr. Dr. H. Rusli Ghalib, SE., MSP. Dan saya harapkan terus memperki danmenyempurnakan buku ini dengan edisi berikutnya, dan terus menulis dengan judul-judul baru bagi pengembangan ilmu ekonomi. Bandung, 10 Oktober 2005 Dekan, Prof. Dr. Hj. Sutyastie Soemitro Remi, M.S. ii
  • 4. DAFTAR ISIPENGANTAR iSAMBUTAN DEKAN iiDAFTAR ISI iiiDAFTAR GAMBAR viiDAFTAR TABEL ixDAFTAR TABEL ixPENDAHULUAN 1 1.1. Aspek Sektoral 2 1.2. Aspek Regional 2 1.3 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Regional 3 1.4 Perwilayahan (Regionalisasi) Pembangunan 4 1.5 Tujuan Pembangunan Regional di Indonesia 5 1.6 Masalah-masalah Perwilayahan (Regionalisasi) di Indonesia 5 1.7. Keserasian Pembangunan antar Daerah 6 1.8. Penggunaan Teori Ekonomi Mikro dan Makro 7TEORI LOKASI PASAR (HARGA) SPASIAL 9 2.1 Teori Harga Spasial ( Spatial Price Theory) 9 2.1.1. Keseimbangan Harga Lokal dan Harga Spasial 9 2.1.2 Kasus 2 Wilayah 10 2.1.3 Kasus Wilayah Lebih Dari Dua 12 2.1.4 Kasus Tiga Wilayah 12 2.1.5 Kasus n- Wilayah 13 2.2. Pola-pola Sebaran Spasial Secara Umum 14 2.2.1. Pembeli Dengan Kurva Permintaan Sama Elastisitas Permintaannya Sama 15 2.2.2. Permintaan Pembeli Jauh Lebih Kecil tetapi Lebih Elastis. 16 2.2.3. Batas-batas Monopoly Spasial 17 2.2.4. Pengaturan Pasar Oleh Sebuah Industri 18 2.2.5.Dua Penjual di Lokasi-lokasi Yang Berbeda dan Dikitari Banyak Pembeli (Hukum Luas Areal Pasar). 19 2.2.6. Penjual Banyak Terkonsentrasi Sedangkan Pembeli Juga Banyak Tersebar.24 2.2.7. Pembeli Banyak Terkonsentrasi Sedangkan Penjual Juga Banyak tetapi Tersebar 25 2.2.8. Para Penjual dan Para Pembeli Sama-sama Tersebar tetapi Mempunyai Sebuah Pusat Pasar Bersama (Kasus Pasar Transito ) 27 2.2.9. Pembeli Maupun Penjual Tersebar (Persaingan Monopolistik/Oligopoli Spasial) 29 2.2.10. Alternatif Sistem Harga Spasial 31 2.2.11. Keragaman-keragaman Harga Spasial : A Testable Model. 33TEORI LOKASI INDUSTRI 35 3.1. Pendahuluan 35 3.2. Prinsip Lokasi Median 35 3.3. Persaingan Sepanjang Satu Garis Lurus 37 3.4. Industri Dengan Satu Pasar dan Satu Bahan Baku 38 3.5. Struktur Biaya Transpor (Transport Cost Structure) 39 3.6. Lokasi Industri Titik-Titik Ujung (End Points Location) 40 3.7. Keunggulan Lokasi Transhitment 41 iii
  • 5. 3.8. Lokasi Industri Kasus Satu Pasar dan Banyak Bahan Baku 42 3.9. Lokasi Industri dengan Pasar Banyak dan Bahan Baku Banyak 44 3.10. Peranan Biaya Produksi Error! Bookmark not defined.EKONOMI PERKOTAAN 48 4.1. Pendahuluan 48 4.2. Sifat-sifat Wilayah Perkotaan 49 4.3. Proses Tumbuh dan Berkembangnya Sebuah Kota 49 4.4. Perkembangan Ekonomi Perkotaan 50 4.5. Aktivitas Masyarakat Kota Yang Multi Aspek 51 4.6. Berkembangnya Sebuah Kota 52 4.7. Masalah Kota di Indonesia 53 4.8. Perencanaan Penduduk Kota 54 4.9. Pertumbuhan dan Perencanaan Penduduk Kota di Indonesia 55 4.10. Aglomerasi 57 4.11. Program Anti Konsentrasi dan Pengendalian Pertumbuhan Kota 57 4.12. Beberapa Model Observasi Lokasi Pemukiman Kota 58 4.12.1. Model Hawley 58 4.12.2. Model William Alonso 59 4.12.3. Model Becman 59 4.12.4. Model Wendt 60 4.12.5. Model Harbert Stevens (model Linear Programming) 60 4.12.6. Model Lowrey 61 4.12.7. Model Artle 61 4.13. Keterkaitan Wilayah 62 4.14. Pembangunan Wilayah di Negara-Negara ASEAN 64STRUKTUR TATA RUANG KOTA 66 5.1. Pendahuluan 66 5.2. Minimalisasi Biaya Ruang 66 5.3 Lingkungan Kota 68 5.4 Perilaku Konsumen Secara Spatial dan Lokasi Perdagangan Eceran 69 5.3. Model Banneal Ide 71 5.4. Perkiraan Dampak Transportasi Pada Penggunaan Lahan 72 5.4.1. Introduction and Overview (Oleh Paul F. Wendt) 72 5.4.2. Teori Pertumbuhan Kota 73 5.4.3. Model-model Land Use 74 5.5. Beberapa Observasi Pada Model-Model Struktur Tata Ruang Kota 76 5.6. Model Operasional 77 5.7. Keseimbangan Lokal Sebuah Perushaan Yang Beroperasi Di Kota N 80 5.8. Pemanfaatan Lahan 82 5.8.1.Persaingan dalam Pemanfaatan Lahan 83 5.8.2. Permintaan terhadap Lahan 83 5.8.3. Teori Lokasi dan Pertumbuhan Kota 85KERANGKA WILAYAH 86 6.1. Wilayah Sebagai Sebuah Konsep 86 6.1.1 Wilayah Homogen 86 6.1.2 Wilayah Modal (Wilayah Polarisasi) 87 6.1.3 Wilayah Perencanaan (Planning Region) 88 6.2. Akuntansi Wilayah (Regional Account) 90 iv
  • 6. 6.2.1. Pendahuluan 90 6.2.2 Perhitungan Hasil Produksi dan Pendapatan Regional 92 6.2.3 Perhitungan Input-Output Wilayah 95ANALISIS PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI WILAYAH 101 7.1. Pendahuluan 101 7.2. Analisis Indeks Konsentrasi 101 7.2.1. Angka Pengganda Tenaga Kerja 102 7.2.2. Analisis Location Quotient (LQ) 103 7.2.3. Analisis Concentration Indeks (CI) 104 7.2.4. Spesialisasi Indeks (SI) 105 7.2.5. Location Indeks (LI) 106 7.3 Analisis Shift and Share 106TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL 109 8.1 Pendahuluan 109 8.2 Perpektif Neo Klasik 112 8.2.1 Hubungan Model Satu-Sektor dengan Model Dua-Sektor 116 8.2.2. Akuntansi Pertumbuhan Wilayah dan Analisis Fungsi Produksi 119 8.2.3. Teknologi dan Pertumbuhan Endogenous Wilayah 121 8.3 Pandangan Keynesian Tentang Pertumbuhan Wilayah 125 8.3.1 Pendekatan Neraca Pembayaran Untuk Pertumbuhan 126 8.3.2 Hukum Verdoorn dan Pertumbuhan Kumulatif 130 8.4 Fungsi Cobb-Douglas dan Akuntansi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 134KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH 139 9.1. Konsep Wilayah 139 9.2. Kebijakan Pembangunan Wilayah (Daerah) 140 9.2.1 Perdebatan Kebijakan Perindustrian Nasional - Tindakan Khusus. 141 9.2.2 Kebijakan Moneter dan Pajak. 141 9.2.3 Kebijakan Sosial dan Kesejahteraan 142 9.2.4 Pekerjaan dan Kebijakan Pelatihan. 143 9.2.5 Kebijakan Perdagangan 143 9.2.6 Kebijakan Pembangunan Regional/Lokal 144 9.2.7 Kebijakan Nasional dan Pembangunan Ekonomi Regional 145 9.2.8 Tantangan-tantangan Baru dan Kesempatan untuk Lokal 146 9.2.9 Jenis-jenis Kumunitas dan Kesesempatan2 Pembangunan Ekonomi Lokal. 146ANALISIS KEBIJAKAN EKONOMI 148PERKOTAAN DAN REGIONAL 148 10.1 Pendahuluan 148 10.2 Kebijakan Perkotaan 150 10.2.1 Kebijakan-kebijakan Zoning Perkotaan 150 10.2.2 Kebijakan Regenerasi Kota 154 10.2.3 Pengelompokan (Centrification) 159 10.2.4 Jalur Hijau (Greenbelts) 160 10.3 Kebijakan Regional 162 10.3.2 Efek-efek Kesejahteraan dari Kebijakan Regional 166 10.3.3 Efek-efek Ekonomi Makro dari Kebijakan Regional. 168 10.4 Kesimpulan 172KEUANGAN DAERAH DAN PERENCANAAN 174PEMBANGUNAN DAERAH DI INDONESIA 174 v
  • 7. 11.1. Pendahuluan 174 11.2. Keuangan Daerah 174 11.2.1 Pendapatan Daerah 175 11.2.2 DAU dan DAK 176 11.2.3 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah 176 11.3 Belanja Daerah 177 11.3.1 Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 177 11.3.2 Pinjaman Daerah 177 11.4 Surplus dan Defisit APBD 178 11.5 Pemberian Insentif dan Kemudahan Iinvestasi 178 11.6 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) 179 11.7 Pengelolaan Barang Daerah 179 11.8 APBD Dasar Pengelolaan Keuangan Daerah 179 11.8.1 Perubahan APBD 179 11.8.2 Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 180 11.8.3 Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daearah Tentang APBD, Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.180 11.9 Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah 181 11.10. Tidak Seluruh Pembiayaan Infrastruktur dan Pelayanan Harus Dibiayai Pemerintah Daerah 182 10.11 Sumber Pembiayaan Sektor Swasta 183DAFTAR PUSTAKA 186 vi
  • 8. DAFTAR GAMBARGambar 1.1: Skema Analisis Ekonomi 1Gambar 1.2 : Mobilitas Faktor-Faktor Ekonomi Dua Wilayah 3Gambar 1.3 Kedudukan Ekonomi Regional di dalam Teori Ekonomi 8Gambar 2.1 Keseimbangan Harga Lokal 10Gambar 2.2: Interaksi Ekonomi Kasus Dua Wilayah (R1 dan R2) 10Gambar 2.3 Fungsi Biaya Transpor Non Linier Tanpa Biaya 11Gambar 2.4 : Diagram Keseimbangan Harga Spasial Kasus Dua Wilayah 12Gambar 2.5 Monopoli Spasial Kasus Dua Pasar 17Gambar 2.6 Pengendalian Pasar Spasial Oleh Monopolis 18Gambar 2.7: Pengaturan Pasar Dengan Cara Membagi Pasar Per Perusahaan 18Gambar 2.8: Dua Penjual di Dua Wilayah Yang Bertetangga 19Gambar 2.9 Batas Wilayah Jika Px = Py dan Txz = Tyz 21Gambar 2.10: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px < Py dan Txz = Tyz 22Gambar 2.11: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px = Py dan Txz < Pyz 23Gambar 2.12: Kasus Demanders Tersebar dan Suppliers Terkonsentrasi 24Gambar 2.13 Monopoli Spasial 25Gambar 2.14 Kasus Supplier Tersebar dan Demander Terkonsentrasi 26Gambar 2.15 Perbaikan Transportasi Menguntungkan Produsen Jauh 26Gambar 2.16 Demanders dan Supplier Tersebar Kasus Pasar Transito 27Gambar 2.17 Persaingan Pasar Lokal dan Pasar Transito 28Gambar 2.18 Demand dan Supply Pasar di Pasar Lokal dan Pasar Transito 28Gambar 2.19: Luas Are Pasar Masing-masing Perusahaan Berbentuk Segi Enam ( Losch ) 29Gambar 2.20 Persaingan Duopoli Secara Spasial 31Gambar 3.1: Sebaran Pelanggan Sepanjang Sebuah Garis 36Gambar 3.2: Proses Persaingan Sepanjang Garis Lurus 37Gambar 3.3 Biaya Transpor Industri Dengan Satu Bahan Baku dan Satu Pasar 38Gambar 3.4 Struktur Biaya Transpor Dengan dan Tanpa Biaya Terminal 39Gambar 3.5 Struktur Biaya Transpor Berdasarkan Jarak Angkut dan Pilihan Moda 40Gambar 3.6 Lokasi Industri Titik-titik Ujung 40Gambar 3.7: Keunggulan Lokasi Transhipment 41Gambar 3.8 Peta Isotims dan Isodapanes Penentuan Lokasi Optimal Error! Bookmark not defined.Gambar 3.9: Peta Isotims Biaya Distribusi yang Dikombinasikan Error! Bookmark not defined.Gambar 3.10: Isotims biaya perakitan yang dikombinasikan 45Gambar 3.11 Peta Isodapanes (Penjumlahan Isotims Biaya Distribusi dan Perakitan) 45Gambar 4.1 Prose Aglomerasi Menurut John Friedman 57Gamabar 5.1 Lokasi Optimal Perusahaan dalam Tata Ruang Kota 82Gambar 5.2 Struktur Biaya-biaya TC, AC dan MC 83Gambar 5.3 Hubungan antara Penerimaan dan Biaya dan Laba 84Gambar 5.4 Kemiringan Kurva Sewa Lahan 84Gambar 5.5 Kurva Sewa Bergelombang Pengaruh Pusat Yang Terstruktur 84Gambar 5.6 Kurva Sewa Gelombang Nail Pada Lokasi-lokasi Pusat kegiatan 85Gambar 8.1: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Model Satu-Sektor 113 vii
  • 9. Gambar 8-2: Batas Kemungkinan Produksi Antar Wilayah Untuk Model Satu Sektor 113Gambar 8.3: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Untuk Model Dua Sektor 114Gambar 8.4: Penyesuaian di Pasar Output pada Perluasan Wilayah 115Gambar 8.5: Penyesuaian Pasar Output Wilayah yang Berkontraksi 115Gambar 8.6: PPFC Antar Wilayah Dua Sektor 116Gambar 8.7: Kotak Edgeworth-Bowley Antar Wilayah dari Dua-Sektor ke Satu-Sektor 117Gambar 8.8: PPF dari Model Dua-Sektor Disesuaikan kepada Model Satu-Sektor 118Gambar 8.9: Penyebaran Teknologi Sepanjang Waktu 121Gambar 8.10: Tingkat Investasi Wilayah 128Gambar 8.11 Ekpor Wilayah dan Investasi 129Gambar 8.12: Pertumbuhan Mantap (Steady-State) Wilayah 131Gambar 8.13: Pertumbuhan Kumulatif Wilayah 132Gambar 8.14 Pertumbuhan Regional Kumulatif 134Gambar 10.1 Tingkat Kemiringan Sewa Lahan Industri Kota Berdasarkan Kondisi Pasar Lahan Persaingan 152Gambar 10.2: Kemiringan Kurva Sewa Lahan Industri Perkotaan Berdasarkan Sebuah Kebijakan Zoning. 153Gambar 10.3: Lahan tempat Tinggal (Lokasi Perumahan) Kota 156Gambar 10.4 Tata-guna Lahan Perumahan Sebagai Akibat Skema Peremajaan Pusat Kota. 157Gambar 10.5: Efek Kesejahteraan dari Skema Peremajaan Kota. 158Gambar 10.6: Penggabungan antar kota (Inter Urban Merging) 160Gambar 10.7 Efek-efek Harga Lahan dari sebuah Kebijakan Jalur Hijau. 161Gambar 10.8: Pengaruh-pengaruh Lingkungan Lokal dari Kebijakan Jalur Hijau (Greenbelt Policy) 163Gambar 10.9: Efek-efek Efisiensi Kesejahteraan dari Infrastruktur Regional 167Gambar 10.10 Efek-efek Ekonomi Makro Kebijakan Regional 169 viii
  • 10. DAFTAR TABELTabel 1.1: Contoh Matrik Hubungan Proyek-Proyek Sektoral dan Daerah ..................... 6Tabel 3.1: Perhitungan Lokasi Median .......................................................................... 36Tabel 3.2: Standar Biaya Asembly dan Distribusi Industri Peti Baja ............................ 42Tabel 3.3: Standarisasi Biaya Bahan Baku ...................... Error! Bookmark not defined.Tabel 6.1 Tabel Perhitungan Produksi dan Pendapatan Wilayah Richard Stone ........... 93Tabel 6.2: Perhitungan Input-Output Inter-Regional (dua wilayah, tiga komoditas/sektor) ................................................................................................... 96Tabel 8.1: Kontribusi Unsur-unsur Pertumbuhan PDB kill AS, 1948 –1997 .............. 138Tabel 9.1. Skema Pengelompokan Kebijakan .............................................................. 145Tabel 9.2. Ikhtiar Pembangunan oleh Jenis Komuniti.................................................. 146 ix
  • 11. BAB I PENDAHULUAN Perekonomian nasional suatu negara senantiasa memerlukan analisis. Analisistersebut diperlukan untuk dapat melihat kondisi ekonomi maupun perkembangannyadari waktu ke waktu. Pengetahuan tentang kondisi ekonomi dan perkembangannyatersebut diperlukan untuk mendukung suatu kebijakan, atau untuk melihat hasil-hasildari suatu kebijakan, atau untuk memperbaiki suatu kebijakan (evaluasi bagi suatukebijakan). Analisis juga diperlukan untuk tujuan-tujuan pendidikan, misalnya untukmembuktikan hipotesis-hipotesis. Suatu analisis dilakukan dengan memanfatkan model-model (teori-teori), yanglazim digunakan, yang telah terbukti akurat didalam membuat prediksi-prediksi. Ilmuekonomi memang penuh dengan model-model dan contoh-contoh ilustratif. Dengandidukung oleh data empiris dapat dibuat kesimpulan-kesimpulan menyangkut suatumasalah, dan dapat prediksi-prediksinya. Suatu perekonomian secara umum dapat dianalisis pada dua aspek, yaitu analisisaspek sektoral dan analisis aspek regonal. Kajian tersebut dapat dilakukan untuk tingkatekonomi nasional, maupun untuk tingkat ekonomi daerah (lokal). Untuk tingkatekonomi nasional aspek regional yang akan dilihat adalah ekonomi pada tingkat-tingkatsubnasional. Model analisisnya bisa sektoral lagi atau bukan sektoral. Sedangkan untukekonomi regional/daerah maka ekonomi daerah yang akan dilihat adalah ekonomisubregional, dan pendekatan analisisnya pun bisa aspek sektoral atau aspek regional.Semua itu sangat tergantung kepada tujuan/kepentingan dari suatu kajian. Model-modelanalisis regional yang lazim dilakukan antara lain: model analisis sektoral untuk tingkatregional, atau subreginal; model analisis Input Output Regional (I-O Analysis); modelanalisis arus barang, jasa dan manusia (Flows Analysis), dan model analisis infrastrukturwilayah (Regional Infastructure Analiysis). Pilihan model analisis akan tergantung kepada tujuan studi. Secara skematisdiperlihatkan pada gambar 1.1. Demikian pula model-model analisis aspek regionalmeliputi berbagai pendekatan, seperti pendekatan sektoral sendiri, pendekatan input-output, pendekatan arus barang, jasa, manusia dan kendaraan, dan sebagainya. ANALISIS EKONOMI NASIOALANALISIS ASPEK SEKTORAL ANALISIS ASPEK REGIONALANALISIS ASPEK SEKTORAL ANALISIS ASPEK REGIONAL Gambar 1.1: Skema Analisis Ekonomi 1
  • 12. 1.1. Aspek Sektoral Analisis aspek sektoral, baik perekonomian tingkat nasional, tingkat regional(sub nasional), maupun tingkat subregional perekonomian dilihat berdasarkan sektor-sektor kegiatan ekonomi atau lapangan usaha penduduk. Selama periode Raelita I s/dRelita V Indonesia membagi perekonomiannya ke dalam 11 sektor, yaitu : (1) SektorPertanian, (2) Sektor Pertambangan, (3) Sektor Perindustrian, (4) Sektor Listrik, Gasdan Air Minum, (5) Sektor Bangunan atau Konstruksi, (6) Sektor Perdagangan, Hoteldan Restoran, (7) Sektor Perangkutan dan Komunikasi, (8) Sektor Bank dan LembagaMeuangan Lainnya, (9) Sektor Sewa Rumah, (10) Sektor Pemerintahan dan PertahananKeamanan, dan (11) Sektor Jasa. Namun, sejak pelita VI jumlah sektor diciutkanmenjadi sembilan sektor, dimana sektor 8 dan 9 disatukan menjadi sektor 8 yang diberinama sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, dan sektor 10 dan 11 disatukanmenjadi sektor 9 yang diberi nama sektor Jasa-jasa. Sehingga nama-nama kesembilansektor tersebut menjadi: (1) Sektor Pertanian, (2) Sektor Pertambangan, (3) SektorIndustri (baca Sektor Industri Pengolahan), (4) Sektor Listrik, Gas dan Air Minum, (5)Sektor Bangunan dan Konstruksi, (6) Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, (7)Sektor Angkutan dan Komunikasi, (8) Sektor Keuangan, Persewaan dan JasaPerusahaan, dan (9) Sektor Jasa-jasa. Mungkin ada sektor-sektor yang dipecah lagimenjadi subsektor-subsektor. Misalnya, Sektor Pertanian dipecah meliputi subsektor-subsektor: Tanaman Bahan Makanan, Tanaman Perdagangan Rakyat, TanamanPerkebunan, Peternakan dan Hasil-hasilnya, Hasil Hutan, dan Hasil Perikanan . Jika dilihat berdasarkan judul subsektor, maka seluruhnya menjadi 26 subsektor.Selanjutnya jika dilihat dari sektor komoditi maka jumlahnya ada 75 sektor komoditi.Pembagian ini penting diketahui, karena jika kita ingin membuat analisis Input-Output(I-O), kita akan mengenal analisis-analisis I-O 9 sektor, 26 sektor, dan 75 sektor. Dasarpemilahannya adalah bersumber dari pembahagian ini. Berdasarkan sektor-sektor dan subsektor-subsektor tersebut suatu perekonomian,baik pada tingkat nasional, provinsi maupun pada tingkat daerah tingkat II(Kabupaten/kota) dapat dilihat kondisinya, dapat dilihat perkembangannya, dapatdirencanakan pertumbuhannya, dapat pula direncanakan tingkat keseimbanganpertumbuhan antar sektor atau subsektornya, dan dapat direncanakan perbaikan dalamaspek distribusi (Equity) diantara sektor-sektor, dan/atau golongan-golongan masyarakatberdasarkan komposisi partisipasinya.1.2. Aspek Regional Dalam aspek regional ini perekonomian nasional dilihat berdasarkan wilayah-wilayah perekonomian (Regions of Economy). Namun, wilayah-wilayah perekonomiantersebut mungkin sama, dan mungkin juga tidak sama dengan wilayah-wilayahadministrasi pemerintah daerah, mungkin merupakan kesatuan dua wilayah administrasipemerintah daerah atau lebih, atau mungkin juga sebuah wilayah administrasipemerintahan daerah dipecah masuk ke dalam wilayah ekonomi yang berbeda. Hal initidak menjadi masalah, karena konsep perwilahan (regionalisasi) sifatnya abstrak. Regionalisasi juga bisa berbeda-beda pendekatannya, yang tergantung kepadasystem negara. Misalnya, regionalisasi untuk negara-negara federasi seperti AS, India,Malaysia, daerah berarti negara bagian. Sedangkan untuk negara-negara yang menganutsistem kesatuan, yang terbagi kepada provinsi-provinsi hingga distrik-distrik (seperti: 2
  • 13. Inggeris, Cina, dan Indonesia), maka regionalisiasi bisa menjadi dua pendekatan, yaituberdasarkan administrasi pemerintahan di daerah, atau tidak berdasarkan administrasipemerintahan di daerah, antara lain dengan menggunakan pendekatan campuran darisistem wilayah homogen dan wilayah nodal sebagai dasar perwilayahan perencanaan. Menurut Richardson (1969) ada dua pola perwilayahan (regionalisasi), yaitu:(1) Wilayah sebagai lokasi-lokasi kegiatan ekonomi. Berdasarkan pola ini, wilayahmerupakan lokasi-lokasi sumber daya ekonomi dan tempat penduduk berdomisili.Berdasarkan pola ini ekonomi wilayah dikembangkan sesuai dengan potensi sumberdaya yang dimiliki wilayah masing-masing, dengan memanfaatkan kota-kota secaraberjenjang sebagai pusat-pusat pengembangan wilayah-wilayah sekitarnya (Hinterland).Pola ini diajarkan oleh teori pusat-pusat pertumbuhan (Growth Pole Theory).(2) Wilayah sebagai unit-unit ekonomi nasional, penyusun-penyusun ekonomi nasionalyang otonom. Pola ini diajarkan oleh teori agropolitan, yang merupakan pengembanganteori ekonomi Marxis (Neo Marxis Theory).1.3 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Regional Relatif Lebih Sulit Perencanaan pembangunan ekonomi regional jauh lebih sulit dibandingkandengan perencanaan pembangunan ekonomi nasional. Hal itu disebabkan oleh batas-batas daerah yang lebih terbuka dibandingkan batas-batas nasional. Karena batas-batasdaerah yang relatif terbuka tersebut, maka aliran factor-faktor produksi antar daerahlebih leluasa dibandingkan dengan antar negara. Daerah memiliki dasar hukum yanglemah dalam melakukan pengawasan terhadap arus keluar masuknya factor-faktorproduksi atau hasil-hasil produksi. Tenaga kerja akan mengalir dari wilayah yangmemiliki tingkat upah yang lebih rendah ke wilayah yang memiliki tingkat upah yanglebih tinggi. Begitu pula modal, akan mengalir dari daerah yang memiliki tingkat bungarendah ke wilayah yang memiliki tingkat bunga yang tinggi. RA RB N wA wB K rB rA Gambar 1.2 : Mobilitas Faktor-Faktor Ekonomi Dua Wilayah Keterangan: RA = wilayah A; RB = wilayah B; wA = tingkat upah di wilayah A;wB = tingkat upah di wilayah B; rA = tingkat bunga modal di wilayah A; rB = tingkatbunga modal di wilayah B. Jika wB > wA maka tenaga kerja (N) akan mengalir(bermigrasi) dari wilayah A ke wilayah B. Begitu pula jika rB > rA maka modal (K) akanmengalir dari wilayah A ke wilayah B. Upah dan bunga sebagai balas jasa input 3
  • 14. produksi tergantung pada penerimaan marginal (MRL; MRK) dari input tersebutmasing-masing di wilayah A dan di wilayah B. Dalam kondisi yang seperti itu wilayahA akan sulit membuat perencanaan ekonominya.1.4 Regionalisasi Pembangunan Regionalisasi (Perwilayahan) pembangunan merupakan bahagian dari prosesperencanaan pembangunan, sebagai usaha membagi wilayah nasianal menjadi wilayah-wilayah regional (subwilayah-subwilayah nasional), atau wilayah regional menjadiwilayah-wilayah subregional. Hasil penataan perwilayahan tersebut dinamakan wilayahperencanaan. Prinsip perwilayahan tidak sekedar membagi habis wilayah nasionalmenjadi sub-subwilayah nasional dan selanjutnya menjadi sub-subwilayah regional.Yang menjadi urgensinya adalah, pertama bagaimana ekonomi sub-subwilayah regionalterintegrasi dengan baik ke dalam ekonomi regional, dan ekonomi-ekonomi regionalterintegrasi dengan baik ke dalam ekonomi nasional, dan wilayah perencanaan ituefektif (unsur-unsur subjektifitas benar-benar diletakkan di atas suatu realitas). Perwilayahan pembangunan di Indonesia, berdasarkan pengalamanpembangunan selama periode Orde Baru (Repelita) misalnya, menghadapi masalah-masalah kesulitan tertentu. Masalah-masalah kesulitan tersebut bersumber dari warisankolonial. Sejarah penjajahan Belanda yang panjang, yang telah memilih Pulau Jawasebagai pusat kekuasaannya dalam menguasai pulau-pulau nusantara. Sebagai wilayahpusat kekuasaannya mereka telah membangun berbagai infrastruktur yang lebih baikdibandingkan dengan apa yang mereka bangun di luar Pulau Jawa. Kondisi tersebutmendorong perkembangan ekonomi dan sosial yang relatif lebih baik di Pulau Jawa,yang diikuti oleh arus manusia dan modal ke Pulau Jawa. Pulau Jawa disamping lebihideal sebagai lokasi kegiatan investasi juga karena jumlah penduduknya banyaksekaligus merupakan pasar yang lebih potensial. Dampak lebih lanjut dari kondisitersebut, maka investasi ke luar Jawa lebih pada kegiatan-kegiatan ekonomi yangberorientasi pada sumber daya alam, dan itupun akan terbatas pada sumber daya alamyang sulit dipindahkan secara efisien. Ditambah lagi dengan dampak dari kemajuansektor transportasi, maka kegiatan ekonomi yang lokasinya dipengaruhi oleh lokasibahan baku semakin terbatas. Menurut Prantilla, dalam bukunya ―National Development and Regional Policy‖(1981), pada tahap-tahap awal pelaksanaan Repelita di Indonesia, kegiatanpembangunan cenderung terkonsentrasi ke Jakarta dan sekitarnya. Keadaan ini tidakdikehendaki, dan tidak menguntungkan bagi pembangunan Indonesia. Keadaan tersebutterjadi oleh karena investasi swasta yang dicoba dorong melalui pembangunan olehpemerintah cenderung memilih lokasi Pulau Jawa, utamanya ke Jakarta dan sekitarnya.Oleh karena itu pada awal Repelita II dimunculkan konsep regionalisasi, dengan polaGrowth Pole. Memang, pola pembangunan regional di Indonesia tidak murnimenggunakan Model Growth Pole. Pada masa pemerintahan orde baru jugamelaksanakan pembangunan berdasarkan wilayah-wilayah administratif pemerintahdaerah, walaupun dengan mengkombinasikan berbagai model pembangunan wilayahlainnya seperti: model pembangunan daerah aliran sungai (DAS), model pembangunandaerah tertinggal, dan model-model lainnya. Artinya, disamping model pusat-pusatpengembangan juga dikombinasikan dengan model agropolitan, yang diwakili olehinpres-inpres (seperti: inpres Tingkat I, inpres Tingkat II, dan inpres desa). Itu semua 4
  • 15. diwujudkan baik dalam bentuk proyek-proyek sektoral di masing-masing daerahmaupun dalam bentuk program-program Inpres (Precident Decree Programs).1.5 Tujuan Pembangunan Regional di Indonesia Pembangunan regional di Indonesia khususnya selama pelaksanaan Repelitalebih dimaksudkan sebagai pembangunan daerah (Local Dedvelopment). Tujuannya,seperti yang dirumuskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yaitu untuk:(1) memelihara keseimbangan pembangunan antar sektor dan antar wilayah. (2)memelihara keseimbangan ekonomi antar wilayah dan mencegah kesenjangan antardaerah. (3) meningkatkan prakarsa daerah dan peran serta masyarakat dalampembangunan. (4) memelihara keserasian pembangunan antara pusat-pusat kegiatanpembangunan di wilayah-wilayah perkotaan dan di wilayah-wilayah sekitarnya. Menurut Prantilla, konsep perwilayahan di Indonesia pada masa Repelita yangsemula terdiri dari empat wilayah pembangunan utama (WPU) pada Repelita II (Medandan sekitarnya, Jakarta dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya dan Ujung Pandang dansekitarnya), belumlah dibangun di atas dasar-dasar yang secara teoritis kuat (Spesific).Tetapi dengan adanya konsep perwilayahan pembangunan tersebut, sedikit banyaktelah mendorong penyebaran kegiatan pembangunan ke seluruh wilayah nasionalIndonesia. Dalam Repelita III konsep perwilayah tersebut dirubah lagi menjadi 5 WPU,dimana WPU Ujung Pandang dan sekitarnya dipecah 2, yaitu WPU Ujung Pandang dansekitarnya dan WPU Ambon dan sekitarnya (yang Hinterland-nya meliputi wilayahprovinsi Maluku dan provinsi Irian Jaya). Masing-masing WPU tersebut dipecah lagimenjadi Wilayah-wilayah Pembangunan (WP-WP), dan selanjutnya WP dipecah lagiatas Subwilayah-subwilayah Pekbangunan (SWP-SWP). Sampai dengan Repelita VIkonsep perwilayahan tersebut masih terjadi perubahan-perubahan pada tingkat provinsi,seperti halnya di Jawa Barat. Perlu pula diketahui, bahwa selama konsep tersebutdirancang Badan Perencanaan Pembangunan, baik pada tingkat nasional, propinsi dandaerah tingkat II masih terus terjadi perubahan-perubahan dan mencari konsepperwilayahan yang lebih efektif. Bahkan untuk berbagai instansi, seperti PerusahaanMinyak Nasional (Pertamina), dan Perusahaan Negara Pos-Giro masing-masingmemiliki konsep perwilayahannya sendiri.1.6 Masalah-masalah Regionalisasi di Indonesia Ada empat permasalahan Regionalisasi (perwilayahan) di Indonesia, yaitu:(1) Secara teoritis wilayah harus dapat memperlihatkan spesifikasinya masing-masing,seperti adanya variasi dalam hal sumber daya ekonomi yang potensial, sehingga dapatdiambil kebijakan dalam pengembangan wilayah masing-masing yang lebih spesifik.Tetapi pada umumnya wilayah di Indonesia, memiliki kesamaan di dalam potensi danpermasalahan.(2) Wilayah nasional yang relatif luas dan berbentuk kepulauan. Kalau hanya dipecahmenjadi 5 WPU dan kurang lebih 80 WP, maka WPU-WPU tersebut terlalu luas.Akibatnya integrasi kesatuan-kesatuan WPU relatif lemah, lebih-lebih mengingat saranatransportasi yang masih terbatas, ditambah lagi dengan kondisi kepulauan itu sendiri.Sebagai perbandingan, Philipina yang jauh lebih kecil dari Indonesia membagi wilayahnasionalnya waktu itu atas 12 WPU dan aspek kelembagaan relatif lebih kuat. 5
  • 16. (3) Power daerah pada periode Repelita berada pada posisi yang sangat lemah, baik itupower politik, power financial, maupun power intelektual. Hal itu karena sistimpemerintahan sangat sentralistis.(4) Kontradiksi perwilayahan model pusat-pusat pertumbuhan dengan latar belakangtumbuhnya daerah di Indonesia, kalau WPU tersebut meliputi wilayah propinsi apalagikalau sempat memisahkan bagian-bagian propinsi kedalam WPU-WPU yang berbeda.Daerah-daerah di Indonesia berasal dari berbagai kerajaan yang berdiri sendiri-sendirisebelum penjajah datang. Setelah penjajah Belanda datang mereka menjajah kerajaan-kerajaan tersebut, secara yuridis administratif dalam tingkatan atau status yang berbeda-beda. Ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Ada yang sempat dijajah ataudiduduki selama 350 tahun dan ada yang kurang dari 50 tahun, itulah Hindia Belanda.Setelah Indonesia merdeka prinsip otonomi daerah dijamin oleh Undang-undang Dasar.Namun dalam implementasi kondisi otonomi daerah terus berubah-ubah.1.7. Keserasian Pembangunan antar Daerah Keserasian pembangunan antar daerah pada masa Repelita dikembangkanPemerintah Pusat (melalui perencanaan terpadu oleh Bappenas) berdasarkanpertimbangan sektoral, dimana proyek-proyek sektoral didistribusikan secara seimbangdiantara berbagai daerah berdasarkan matrik tertentu (Bintoro Tjokroamidjojo, 1983).Proyek-proyek dirangking, diberi bobot, dipilih sesuai dengan kebutuhan nasionalataupun daerah. Proyek-proyek investasi diusahakan untuk dapat memberikanpemerataan, dapat memberikan pengaruh penyebaran (Spreading Effect) bagiperekonomian daerah. Setiap proyek investasi memperhitungkan seberapa besar efekmultiplier bagi daerah, yang memberi dampak kepada perluasan kesempatan kerja, baiklangsung maupun tidak langsung, memberi dampak bagi peningkatan produktivitas sertanilai tambah bagi perekonomian daerah. Tabel 1.1: Contoh Matrik Hubungan Proyek-Proyek Sektoral dan Daerah Yang Dibuat Bappenas pada Masa Repelita PROYEK p1 p2 p3 pn ∑ DAEARAH d1 d1p1 d1p2 d1p3 d1pn D1 d2 d2p1 d2p2 d2p3 d2pn D2 d3 d3p1 d3p2 d3p3 d3pn D3 d28 D28p1 d28p2 d28p3 d28pn D28 ∑ P1 P2 P3 Pn I Sumber : Bintoro Tjokroamidjojo, Perencanaan Daerah.Keterangan : p1 p2 p3……………………….pn = proyek-proyek pembangunan; d1 d2d3……………………….d27 = propinsi-propinsi yang ada di wilayah nasional (=27 propinsi); 6
  • 17. d28 = nasional dianggap satu daerah lagi; p1 p2 p3, ……,pn= memiliki hubungan urut-urutan (rangking) dan hubungan-hubungan fungsional; p1, p2, p3, p4, .., pn = ditentukanI = Jumlah anggaran = jumlah nilai proyek: D1 , D2 , D3 , D4 ,……, D28 ditentukan.Dengan matrik tersebut diciptakan perimbangan antar daerah. Begitu pula pada levelpropinsi untuk antar kabupaten dari kabupaten untuk antar kecamatan. Sebenarnya pengertian pembangunan atau ekonomi regional tidak hanyamempermasalahkan bagaimana membagi habis wilayah geografi nasional atas wilayah-wilayah pembangunan ataupun wilayah-wilayah administrasi pemerintahan daerah dankemudian dikembangkan sesuai dengan potensi dan prospek spesialisasinya masing-masing, tetapi juga bagaimana mengembangkan wilayah-wilayah terbelakang(Depresed Area). Contohnya: Wilayah Appalachia di A.S, Wilayah Scotlandia diInggris, Wilayah Perancis Selatan di Perancis, dan Wilayah Italia Selatan di Italia. Untuk mengembangkan perekonomian daerah khususnya, dan seluruh aspekkehidupan masyarakat di daerah umumnya, pembangunan prasarana/sarana transportasimemegang peranan yang amat penting. Transportasi dapat meningkatkan derajatintegrasi wilayah. Sektor transportasi dan sektor Komunikasi sangat Membantu dalammeningkatkan integrasi wilayah. Dampaknya dapat meningkatkan perdagangan antardaerah, spesialisasi produksi antar daerah. Meningkatkan efisiensi dalam berproduksi,meningkatkan nilai tambah, meningkatkan pemanfaatan sumberdaya wilayah, danmeningkatkan efisiensi penggunaannya. Selanjutnya produksi dan konsumsi regionalmenjadi meningkat. Bagi Indonesia pembangunan sektor transportasi penting sekali, mengingatluasnya wilayah negara, besarnya jumlah penduduk, dan wilayah yang berbentukkepulauan. Proses pembangunan (industrialisasi) harus ditunjang oleh aktivitas danjaringan perdagangan yang lancar dan luas. Kegiatan perdagangan yang lancar dan luastersebut hanya mungkin terjadi jika sarana dan prasarana transportasi, dan kebijakannyamendukung. Peningkatan standar hidup penduduk hanya mungkin ditingkatkan melaluipeningkatan aktivitas ekonomi/investasi. Usaha untuk meningkatkan pendapatan rata-rata penduduk perlu diikuti dengan industrialisasi dan perdagangan yang luas, kalautidak maka negara besar tetapi ekonomi kecil. Kondisi tersebut kita alami sampaisekarang, misalanya diantara negara-negara ASEAN, dalam ukuran GNP absolutIndonesia merupakan yang terbesar, tetapi dalam ukuran perkapita adalah yang terkecil.Artinya, betul bahwa GNP Indonesia merupakan yang terbesar diantara Negara-negaraASEAN tatapi produktivitas pertenaga kerja, pendapatan perkapita, konsumsi rata-ratamasyarakat, sarana/prasarana pelayanan umum, konsumsi air bersih perkapita,konsumsi tenaga listrik perkapita, adalah yang terendah.1.8. Penggunaan Teori Ekonomi Mikro dan Makro Dalam Ekonomi Regional digunakan kedua aspek teori, baik teori ekonomimakro maupun teori ekonomi mikro. Pada tahap perkembangan pembangunan regionaldi Indonesia pada periode Reformasi sekarang ini, juga sudah menyentuh masalahpemerataan pembangunan antar daerah dengan mulai mencoba memberikan otonomiyang seluas-luasnya kepada daerah-daerah tingkat II. Bahkan sejak tahun anggaran1995/1996) daerah sudah dapat mengambil pinjaman (kredit) luar negeri untukmembiayai pembangunannya (seperti yang dilakukan oleh provinsi Jawa Tengah dalammembiayai pembangunan jalan tol kota Semarang). 7
  • 18. Ekonomi Makro - Pendapatan daerah (PDRB) - PDRB Perkapita - Investasi Daerah - Efek Multiplier di daerah - Konsumsi daerah Ekonomi Mikro Ekonomi Regional - Tabungan daerah - Ekspor daerah- Teori Harga Spasial - Pajak daerah- Teori Lokasi industri- Dan sebagainya - dan sebagainyaGambar 1.3 Kedudukan Ekonomi Regional di dalam Teori Ekonomi 8
  • 19. BAB II TEORI LOKASI PASAR (HARGA) SPASIAL2.1 Teori Harga Spasial ( Spatial Price Theory)2.1.1. Keseimbangan Harga Lokal dan Harga Spasial Harga dari suatu barang tidak harus sama di seluruh wilayah, mungkin di bagianpasar (wilayah) yang satu berbeda dengan di bagian pasar (wilayah) yang lain. Pasar-pasar yang secara tata ruang terpisah, kurva permintaan maupun kurva penawarannyamungkin berbeda satu dengan yang lain. Oleh karena itu harga dari satu barang tertentumungkin lebih tinggi dari yang dapat diperoleh di pasar yang lain. Perbedaan hargayang seperti itu dapat berlangsung lama, kalau di antara pasar-pasar tersebut tidakterintegrasi (tidak berlaku sistem perdagangan bebas). Artinya kalau barang-barangyang berada di pasar yang memiliki harga yang lebih rendah tidak bebas mengalir kepasar yang memiliki harga yang lebih tinggi. Terisolasinya pasar yang satu dari pasaryang lain bisa terjadi karena: (1) adanya biaya angkutan, (2) karena adanya pembatasanperdagangan, dan (3) karena kedua-duanya (adanya biaya angkutan dan jugapembatasan perdagangan). Jika sistem perdagangan bebas diberlakukan, maka barang akan mengalir dariwilayah yang memiliki harga lebih rendah ke wilayah yang memiliki harga lebih tinggi.Aliran barang tersebut akan berlangsung sampai harga barang tersebut hanya dibedakanoleh unit biaya transpornya (tercapainya keseimbangan harga spasial). Misalkan, suatubarang diproduksi dan dikonsumsi di semua wilayah. Selanjutnya, diasumsikan bahwasetiap wilayah memiliki hanya satu pasar yang menganut sistem persaingan sempurna.Wilayah yang satu dengan yang lain terpisah secara nyata oleh jarak tertentu.Diasumsikan pula antara wilayah yang satu dengan yang lainnya tidak ada perdagangan,membentuk keseimbangan harga internal di masing-masing daerah (keseimbanganharga lokal). Keseimbangan harga lokal yaitu keseimbangan harga yang dibentuk olehkekuatan-kekuatan permintaan dan penawaran local di masing-masing wilayah, ataukeseimbangan harga pada masing-masing pasar berdasarkan wilayah-wilayah geografidalam satu wilayah tata ruang). Keadaan tersebut akan berlangsung lama kalau asumsinya tidak berubah, yaitu:adanya pembatasan perdagangan secara legal, ada biaya angkutan antara satu wilayahdengan wilayah lain yang cukup tinggi (melebihi perbedaan harga lokal). Dengandemikian tidak memungkinkan barang tersebut diperoleh (didatangkan) dari wilayahyang lain, yaitu dari wilayah yang memiliki harga relative rendah. Akan lain halnya, kalau diberlakukannya sistem perdagangan bebas dan biayatransport antar wilayah nol. Barang akan mengalir dari wilayah yang memiliki hargarendah ke wilayah yang memiliki harga lebih tinggi, dan akan membentukkeseimbangan tunggal bagi semua wilayah. yang relatif rendah karena telahdikembangkan sistem transpor nasional/regional yang efisien. Kalau sistemperdagangan bebas diberlakukan, biaya transpor antar wilayah tetap positif,keseimbangan harga spasial akan terbentuk, dengan perbedaan-perbedaan harganyamendekati besarnya biaya transpor. 9
  • 20. R2 R1 P P S2 S1 A2 A1 D1 D2 qd1=qs Q qd2=qs Q 2 R3 1 S4 R4 P P S3 A4 A3 D4 D3 qd4=qs Q qd3=qs Q 4 3 Gambar 2.1 Keseimbangan Harga LokalKeterangan: R1, R2, R3, dan R4 adalah wilayah-wilayah (regions) 1, 2, 3, dan 4. A1, A2, A3, dan A4adalah harga-harga lokal di masing-masing wilayah (harga-harga tanpa perdagangan antar wilayah yangsatu dengan yang lain). Adapun proses terbentuknya keseimbangan spasial (untuk berbagai kasus)adalah sebagai berikut:2.1.2 Kasus 2 Wilayah R1 R2 Gambar 2.2: Interaksi Ekonomi Kasus Dua Wilayah (R1 dan R2)R1 dan R2 dipisahkan oleh suatu jarak tertentu. Misalkan : Biaya transport antara R1 -R2 = T21. Biaya transpor dari R1 ke R2 tidak perlu sama dengan kalau dari R2 ke R1.Begitu pula biaya transport tersebut tidak harus memiliki fungsi linier, memungkinkannon linier juga. 10
  • 21. Route (trayek) transpor tidak perlu bolak-balik. Pos-pos biaya transpor tersebutmeliputi, antara lain: biaya asuransi, biaya bunga modal, biaya transit (biaya bongkarmuat), dan lain-lain biaya yang dapat menambah biaya angkut. Diasumsikan pula,bahwa besar kecilnya volume angkutan tidak mempengaruhi biaya transpor per unit.Misalkan: tingkat harga di R1 = A1, di R2 = A2 (dalam keseimbangan konsumsi danproduksi lokal (kurva-kurva DD dan SS lokal ). Tidak ada pembatasan perdaganganantar wilayah (antara R1 dan R2 atau sebaliknya) . Biaya transport dari R2 ke R1 =T12, dari R1 ke R2 = T21, Proses pembentukan harga spasial akhir, yaitu tercapainyaharga keseimbangan pada masing-masing wilayah (pasar) Spasial, yaitu P1 untuk R1 danP2 untuk R2 setelah berlangsungnya perdagangan. Bila: A2 - A1 > T12 maka barang mengalir dari R1 ke R2. Jika A2 > A1tetapi A2 - A1 < T12 , maka kondisi yang demikian tidak akan terjadi perdagangan. JikaA1 > A2 dan A1 - A2 > T21 , maka barang akan mengalir dari R2 ke R1. Jika A1 > A2,tetapi A1 – A2 < T21, maka tidak akan terjadi perdagangan. Jadi, apabila perbedaanharga ≤ biaya transport tidak akan terjadi perdagangan (tidak terjadi perpindahansupply dari wilayah yang satu ke wilayah yang lain). Wilayah yang memiliki kondisiyang seperti itu A1 = P1 pada saat A2 = P2. BT BT = f (jarak) Jarak Gambar 2.3 Fungsi Biaya Transpor Non LinierTetapi apabila margin perdagangan lebih tinggi dari biaya transport, barang-barangyang diproduksi di wilayah tertentu dan harganya lebih rendah, akan mengalir kewilayah yang harganya lebih tinggi. Ini adalah keseimbangan harga spasial untuk kasusdua wilayah. Harga diantara dua wilayah akan dibedakan oleh unit biaya transpor untukberlangsungnya proses perdagangan. Kondisi perbedaan harga selebihnya tidak akanbertahan lama, karena kalau barang akan mengalir dari wilayah yang satu ke wilayahyang lain. Keseimbangan Harga Spasial. Harga keseimbangan spasial adalah P1 dan P2.Besarnya arus barang ekspor E dan import – E, atau (E12 = -E21 ) ditentukan olehskedul-skedul permintaan dan penawaran spasial di kedua wilayah (pasar) dan biaya-biaya transpor. 11
  • 22. Keterangan: P R1 = Wilayah Harga D2 S2 S2 Rendah R1 R2 Sumbu datar kiri (QR) S1 D1 dinaikkan sebesar biaya S1 1 A2 transport dari R2 ke R1 E12 P2 P1 (T12) R1 mengekspor ke R2 -E21 S2 S1 turun, S2S2 naik A1 S2 S2 D2 P1 > A1 dan P2 < A2 D1 S1 S 1 A1 = Harga lokal di R1 Q T21 Keseimbangan tercapai Q dimana E12 = E21 P = Harga Keseimbangan Spasial dan P2 = P1 + T21 Gambar 2.4 : Diagram Keseimbangan Harga Spasial Kasus Dua Wilayah2.1.3 Kasus Wilayah Lebih Dari Dua Asumsi yang dibuat tetap sama, yaitu jenis barang satu macam, dan berlakusistem perdagangan bebas antar wilayah. Jadi, ketentuan untuk kasus wilayah banyak(Multi Regions) ini adalah sebagai berikut :(i) ∑ E = 0, atau import = ekspor antar wilayah.(ii) Harga di wilayah yang mengekspor ditambah dengan biaya transpor per unit dari/ke wilayah yang bersangkutan sama dengan harga di wilayah yang mengimpor.2.1.4 Kasus Tiga Wilayah Kasus tiga wilayah masih relative mudah dipecahkan, dimana dibuat asumsibahwa ∑E =∑- E, harga keseimbangan spasial akhir dan perbedaan harga lokal wilayahsemula masing-masing wilayah dapat ditulis : E1 = b1 (P1 – A1); E2 = b2 (P2 – A2); E3 = b3 (P3 – A3) Keterangan: b1, b2 dan b3 = konstanta-konstanta untuk wilayah-wilayah R1, R2dan R3..A1, A2, dan A3 adalah harga-harga lokal di wilayah-wilayah R1, R2 dan diR3.T23, T31 dan T32 adalah biaya-biaya transpor dari R3 ke R2, dari R1 ke R3 dan dari R2ke R3, yang besarnya diketahui. P1, P2, P3 adalah harga-harga keseimbangan spasialakhir yang merupakan permasalahan yang ingin diketahui. Kesulitan: A (harga lokalwilayah), T (biaya transpor). Keduanya merupakan data yang harus terlebih duludiketahui untuk menentukan wilayah-wilayah mana yang akan mengimpor, wilayah-wilayah mana yang akan mengekspor dan wilayah-wilayah mana yang tidakmembentuk perdagangan. Penentuan sifat-sifat perdagangan masing-masing wilayahtersebut merupakan langkah pertama yang harus dilakukan, terutama sekali wilayah-wilayah netral dengan nilai A sedang. Kalau A1 < A2 < A3, maka arus barang dari R1 ke 12
  • 23. R2 dan R3 tidak terjadi ekspor ke R1. Jika P1 > A1, P3 < A3. P3 = P1 + T13, dan A2 > A1 ;A2 < A3. Pertanyaannya, wilayah mana yang pengimpor, dan wilayah mana yangpengekspor ? R1 dan R2 akan menentukan lebih lanjut P1 dan P3. Bila E1 + E3 = 0, P3 =P1 + T13, R2 akan mengimpor kalau P3 < (A2 + T23) ; atau akan mengekspor kalau P3 >(A2 + T23). Tetapi kalau tidak, dimana tidak terjadi perdagangan dengan R2 (kondisi R2dapat memenuhi sendiri kebutuhannya), maka P2 = A2 dan E = 0. Untuk R3, fungsiperdagangan dari R2 ke R3 pada mulanya terjadi, yaitu bersama-sama dengan R1 ke R3.Kalau impor dan ekspor R2 mencapai keseimbangan, dimana ditulis: P2 = ( P1 + T12 ),dan P3 = ( P1 + T13 ). E1 = - ( E2 + E3 ). Substitusi perdagangan diperlihatkan melaluifungsi ; E1 = - ( E2 + E3 ) b1 ( P1 – A1) = { - b2 ( P1 + T12 – A2 ) + b3 ( P1 + T13 – A3 )} b1 A1 b2 ( A2 T12 ) b3 ( A3 T13 ) dihasilkan : P1 b1 b2 b3 P1 dapat diperkirakan ; P2 ; P3 ; E1 ; E2 dan E3 juga dapat dihitungSebaliknya jika R2 menjadi pengekspor, kemudian didalam keseimbangannya : E1 + E2 = - E3 dan P3 = P2 + T23 = P1 + T13 Dalam kasus ini nilai P3 diperoleh dengan memecahkan persamaan : b3 A3 b1 (T13 A1 ) b2 (T23 A2 ) P3 b1 b2 b3 Dan seterusnya, dimana nilai-nilai variabel lainnya dapat diperoleh.2.1.5 Kasus n- Wilayah Pada contoh kasus tiga wilayah, volume perdangan antar wilayah masih lebihmudah diperkirakan.Contoh : kalau E21 dan E31 negatif, maka: E12 = - E21; E13 = - E31 Pada kasus n-wilayah setiap wilayah mungkin mengimpor dari wilayah lainatau mengekspor ke wilayah yang lain. Dengan demikian jumlah netto perdagangan tiapwilayah, volumenya tidak secara otomatis diketahui. Prosedur perhitungannya lebihsulit. Sejumlah metoda yang pernah diperkenalkan untuk memecahkan masalahkeseimbangan harga spasial kasus n- wilayah, atau model pasar banyak, antara lain: (1) Metoda Enke, yang menyusun sebuah sistem spasial tiruan denganmenggunakan sirkuit – sirkuit listrik. Harga-harga keseimbangan spasial dan biaya-biaya transpor dirancang sedemikian rupa untuk dapat dibaca pada alat-alat pengukurarus atau tegangan listrik yang diletakkan/dihubungkan secara spasial. Denganmenghidupkan saklar sistem akan bekerja dan membentuk keseimbangan akhir yangstabil dengan voltase-voltase meter serta amper-amper meter tertentu yang dapatdibaca, atau dipilih kemungkinan-kemungkinannya. (2) Metode Samuelson, yang melihat bahwa model tersebut dapat menjadisebuah permasalahan linier, dan bertujuan untuk memimimalkan ―net social pay-off‖, 13
  • 24. yaitu jumlah aljabar dari bagian-bagian wilayah di bawah kurva-kurva supply padasetiap pasar dikurangi sejumlah biaya transport (sisa bayaran social). Model tersebutdibuat untuk mencoba menyederhanakan dan mengatasi permasalahan keseimbanganharga spasial, manfaat perdagangan antar wilayah (pasar) secara timbal balik yangdihubungkan dengan sarana-sarana transportasi dengan biaya-biaya yang minimum. Disamping model linear yang di kembangkan oleh Samuelson tersebut jugadiperkenalkan model non linear (kwadratik). Richardson sendiri tidak menguraikanlebih lanjut model-model tersebut secara mendetil. Dia hanya menggambarkan arusbarang dari wilayah-wilayah yang memiliki harga lebih rendah ke wilayah-wilayahyang memiliki harga lebih tinggi dengan simbul-simbul panah, dan memperlihatkanalokasi barang-barang secara spasial. Kondisi keseimbangan spasial bertolak dari : totalekspor = total impor. Harga pada masing-masing wilayah = harga di wilayah-wilayahlain plus-minus biaya transpor per unit.2.2. Pola-pola Sebaran Spasial Secara Umum Sifat dasar dari wilayah secara spasial, atau pasar dalam suatu tata ruang, adalahsesuatu yang abstrak. Artinya, batas wilayah atau ruang lebih diartikan sebagai sesuatuyang berada di dalam pikiran. Di sini diasumsikan bahwa pembeli maupun produsendipusatkan pada sejumlah titik (pasar) yang satu dengan yang lainnya terpisahkan olehruang tidak berkegiatan ekonomi. Kebenaran asumsi ini relatif. Selanjutnyadiasumsikan pula bahwa komoditi homogen. Perbedaan-perbedaan spasial merupakansalah satu bentuk perbedaan terhadap produk. Produsen diasumsikan memberlakukansistem harga pabrik (Pf.o.b). Pertama : Space terbatas. Produsen dan konsumen berada pada titik yang sama.Bagaimana Efeknya? Kalau terdapat banyak produser dan juga banyak konsumen:memungkinkan terbentuk kondisi persaingan, tidak terdapat biaya transpor, hanya adasatu harga, es = ∞ dan ed = ∞. Cara yang paling sederhana untuk mengintrodusir kasusyang seperti ini adalah dengan membuat hipotesis 2 titik atau lebih. Pada setiap titikterdapat konsumen maupun produsen. Prosedur analisisnya sudah dibicarakansebelumnya (kasus dua wilayah dengan sistem perdagangan bebas). Keseimbanganharga spasial tergantung arus keseimbangan perdagangan. Tingkat harga yang berbedadiantara berbagai titik (pasar) hanya ditentukan oleh biaya transport di antara berbagaititik (pasar) tersebut. Dalam kasus seperti ini taksiran-taksiran dapat dibuat mendekatikenyataan, khususnya bagi perekonomian industri serta masyarakat urban area(perkotaan). Tetapi ini tidak berlaku untuk ruang (Space) dimana produsen dan konsumentidak berada pada titik yang sama. Perbedaan harga spasial dipengaruhi oleh sistempasar (tingkat persaingannya). Kalau sistem pasar yang berlaku adalah persaingan yangterbatas, permintaan relatif cukup besar dibandingkan hasil produksi, dalam kaitannyadengan LAC minimum perusahaan monopoli. Tetapi di dalam ekonomi ruang,kecepatan pertumbuhan permintaan terhadap hasil produksi sebuah perusahaanmonopoli biasanya dipengaruhi oleh factor jarak (biaya transpor). Adanya biaya tansportersebut akan menggeser kurva permintaan ke kiri (menurun), dengan asumsi selera danpendapatan tidak berubah. Kurva permintaan menjadi kurva jumlah keseluruhan(Aggregate) dari penyatuan permintaan-permintaan lokal. Tingkat barga tidak hanyaditentukan oleh luas area cakupan geografis, tetapi juga oleh volume penjualan padapasar tersebut. 14
  • 25. Kasus Produsen tunggal dengan pembeli banyak di sekitarnya (SpacialMonopoly). Kasus Spacial Monopoly merupakan sebuah model sederhana untukmemperlihatkan pengaruh biaya transport dan jarak terhadap permintaan. Jadi,asumsinya: Produser tunggal, demander banyak. Pada kasus sistem pasar monopolistakan ada diskriminasi harga di antara berbagai pasar, yaitu pasar dengan para pembeliyang memiliki elastisitas permintaan yang rendah dan para pembeli dengan elastisitaspermintaan tinggi. Pertanyaannya: apakah factor spasial membentuk diskriminasi hargaspasial?2.2.1. Pembeli Dengan Kurva Permintaan Sama Elastisitas Permintaannya Sama Kasus ini dibatasi oleh asumsi: biaya transpor tidak berpengaruh terhadappermintaan, harga monopolist hanya satu (tunggal) untuk semua pembeli pada lokasiyang sama, harga monopolis berbeda untuk lokasi yang berbeda. T = biaya transport perunit dari lokasi produsen ke lokasi pembeli A. Pada lokasi tersebut permintaan pembeliA = Q produk, dengan harga P dan elastisitas permintaan E, adalah sama pada setiaptitik pada kurva permintaan, untuk setiap pembeli. Harga tersebut dibayar pembelisebelum monopolis mengenakan biaya angkut. MR dari penjualan kepada A menjadi : d(PQ) P dQ Q dP MR T T dQ dQ Q dP P T ………………………………..(1) dQ ( P dQ) Elastisitas Demand = E (Q dP) p ( E 1) p T P T …………………………(2) E E Monopolist akan memaksimalisasikan penjualan kepada semua pembeli dimanaMR = MC. Ini berarti, apabila MC = C, maka harga yang dibayar oleh setiap pembeli dipasar A dapat dihitung dari : ( E 1) P T C E E (C T ) Jadi P …………………………………..(3) E 1 Harga yang diterapkan produsen pada lokasi pabrik (harga fob) : E (C T ) EC T P T T …………………. ………..(4) E 1 E 1 Harga f.o.b dikurangi MC : EC T C T P T C C ……………………….….(5) E 1 E 1 15
  • 26. Harga f.o.b yang ditetapkan monopolist pada lokasi pabrik (yaitu P – T )mengakibatkan adanya diskriminasi harga bagi para pembeli yang lebih jauh. Karena : ( EC T ) P T …………………………………..(6) ( E 1) Berdasarkan persamaan (6) tersebut nilai P akan meningkat kalau T meningkat,misalnya kalau jarak bertambah. Pembeli pada lokasi pabrik, dimana T = 0 (biayatransport tidak ada), membayar harga dengan mengeyampingkan MC, dengan nilai yang Csebanding kepada . Bagaimanapun, elastisitas permintaan (E) tak terhingga pada E 1kondisi persaingan Chamberlin yang murni dan wilayah harga diskriminasi spasialdikurangi dengan sendirinya, merupakan perluasan antara P dan MC. Model sederhanaini mendorong maksimalisasi keuntungan monopolist pada suatu diskriminasi pasarspasial untuk pembeli-pembeli yang lebih jauh. Bagaimanapun, hasil penelitianmenyangkut pembentukan harga secara praktis di seluruh dunia lebih sering didorongoleh diskriminasi harga antara pembeli yang lebih dekat dengan pembeli yang lebihjauh. Jadi factor-faktor jarak dan biaya transport mempengaruhi permintaan. Elastisitaspermintaan keseimbangan diasumsikan konstan (tidak berubah) untuk semua pembelidalam keadaan persaingan (pembeli banyak). Monpoli spasial yang murni sudah jarangditemui di dunia, produsen semakin terdorong kepada situasi persaingannya.2.2.2. Permintaan Pembeli Jauh Lebih Kecil tetapi Lebih Elastis. Untuk mengilustrasikan dalil ini dan efeknya terhadap harga diskriminasispasial, diasumsikan bahwa kurva permintaan linier dan kedua akses bekerja bersama-sama. Kita juga mengasumsikan bahwa para pembeli akan memiliki permintaan yangsama, yang mendapat pengaruh dari biaya-biaya transport yang sama. Biaya transportdapat diperlihatkan sebagai suatu pengurangan terhadap kurva demand (menggeserkurva demand ke arah yang lebih lemah dan sejajar), dalam gambar DBDB menjadiDADA, kedua kurva tersebut slope-nya sama bila unit biaya transport = T, diasumsikantetap tanpa memperhatikan jumlah permintaan. Kurva permintaan untuk pembeli-pembeli jauh dari lokasi penjual menggeser kurva tersebut sebanding dengan biayatransport. Untuk kurva-kurva permintaan yang ada, DBDB dan DADA berarti B adalahpembeli yang memiliki jarak tertentu (jauh) dari lokasi pabrik, kurva demand DADAlebih elastis. Perubahan pada harga akan memberikan perubahan mutlak yang samapada jumlah permintaan A dan B, karena kemiringan (Slope) DA dan DB sama, tetapiproporsi perubahan pada permintaan B lebih rendah dibandingkan permintaan A karenatotal permintaan B lebih besar pada tiap tingkat harga yang berlaku. Elastisitaspermintaan A lebih besar. Dalam hal ini, pembeli-pembeli terpencil memiliki elastisitaspermintaan lebih besar dibandingkan dengan elastisitas permintaan pembeli-pembelidekat. Untuk memperoleh laba maksimal, si monopolist akan memberlakukandiskriminasi terhadap pembeli-pembeli yang memiliki Ed elastis dengan yang memilikiEd yang relative kurang elastis. Gambar berikut memperlihatkan bahwa pembeli-pembeli A dan pembeli-pembeli B diasumsikan memiliki kurva permintaan garis lurus,dan DA bergeser ke kiri (turun) sebesar T. Diasumsikan bahwa MC monopolist konstanpada level C, dengan demikian pada semua sekala output monopolis akan menyamakan 16
  • 27. MC dengan MR bagi pembeli-pembeli A dan B, yaitu masing-masing di E dan F, danharga pabrik (Pf.o.b) masing-masing PA dan PB. DB DA PB FB PA FA C MC DA DB 0 Gambar 2.5 Monopoli Spasial Kasus Dua Pasar A dan B2.2.3. Batas-batas Monopoly Spasial Pengendalian yang sempurna dari sebuah perusahaan monopoly yang mencakupseluruh area pasar jarang terjadi. Diskriminasi harga terhadap konsumen-konsumenpasar yang berdekatan dalam praktek juga sulit dilakukan, karena pasar-pasar tersebutcenderung terintegrasi. Penjual dapat melakukan pengawasan paling baik, meliputipembeli-pembeli di sekitar (pasar dengan jarak sedang). Ini sama halnya, bila sebuahindustri yang terdiri dari sejumlah produsen, yang antara seorang produsen denganprodusen yang lain terpisah oleh jarak tertentu. Atau suplier tertentu akan memperolehpasar yang diproteksi. Diskriminasi untuk pasar yang relatif jauh biasanya terbatasdilakukan. Monopoly (produsen tunggal) Pasar Saingan dari perbatasan R1 R2 R3 Pasar Kontrol Kontrol Terbatas Terintegrasi Terbaik Q Keterangan: R1 = Pasar Dekat R2 = Pasar Jarak Sedang R3 = Pasar Jauh Pengendalian terbaik hanya dapat dilakukan di pasar jarak sedang. Untuk dapat mengendalikan semua pasar si monopolist harus menggunakan Pengaturan Suplier 17
  • 28. Monopoli dapat menguasai pasar secara keseluruhan dengan cara membentukagen-agen tunggal di masing-masing wilayah. Monopoli Suplier Monopoly R2 R3 R1 Gambar 2.6 Pengendalian Pasar Spasial Oleh Monopolis2.2.4. Pengaturan Pasar Oleh Sebuah Industri Industri Xi =Perusahaan-Perusahaan Sejenis (produsen Individu) X1 X2 X3 Masing-masing X4 X5 X6 individu X7 X8 X9 menguasai satu area pasar tertentu X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X8X9 Dimatikan Salah Satu Gambar 2.7: Pengaturan Pasar Dengan Cara Membagi Pasar Per Perusahaan Misalnya: Gula jatah Sumut = 6 Aceh = 2 DKI = 8 Jabar = 20 Kendala dalam melakukan diskriminasi untuk pasar-pasar yang relatif jauhkarena : Kemungkinan terjadinya penjualan kembali (Reshelling). Seorang penjualdiskriminasi berhadapan dengan penjual yang jauh, pembeli dekat membeli sebagiandari barang-barang dari penjual jauh tersebut dan menjual kembali. Jatah DKI hanya 8, dibeli lagi ½ jatah Aceh + 1½ jatah Sumut . Supply DKImenjadi 10 (naik/berlebih). Begitu pula jatah Jabar 20, dibeli lagi dari jatah-jatah 18
  • 29. propinsi lain. P pasar jauh naik, P pasar dekat turun, maka akan terjadi pendjualankembali ke pasar jauh melalui pasar tidak resmi (pasar gelap). Lokasi-lokasi penjual saingan monopoli jauh cenderung berusaha memperlemahmonopoli. Pasar jauh (wilayah belakang) cenderung saling membagi pasar diantara parapenjual (menekan monopoli pada pengaruhnya yang minimum). Penjual terdekatmemberlakukan harga distribusi = MR pada sekala produksi yang akan di pilih + biayatranspor. Kalau harga ditetapkan > MR + biaya transpor, dia akan tersisih. Kalau hargaditetapkan < MR + biaya transpor, dia tidak berusaha pada sekala produksi profitmaximizing/loss minimizing. Apabila pasar dirubah menjadi oligopoly, persaingan diantara penjual padalokasi-lokasi tersebut akan berkurang, dapat ditetapkan harga kesepakatan. Permintaandapat dihadapi bersama-sama. Harga dapat dikaitkan dengan sekala produksi masing-masing produsen secara kelompok. Setiap produsen dipersilahkan menggarap bagianpasarnya masing-masing. Namun oligopolist akan menemukan kesulitan dalam haladministrasi, karena biaya distribusi sama untuk wilayah yang luas dan kesulitanpengorganisasian, sehigga harga-harga kesepakatan dapat terjamin dicapai. Oleh karenaitu diskriminasi harga bagi penjual-penjual jauh cenderung sulit dilaksanakan.2.2.5.Dua Penjual di Lokasi-lokasi Yang Berbeda dan Dikitari Banyak Pembeli(Hukum Luas Areal Pasar). Kasus pasar yang terdapat lebih dari satu penjual. Pada dua wilayah geografisterdapat pasar-pasar penjualan X dan Y. Menurut analisis Samuelson – Enke, apabilabarang bebas bergerak dari pasar yang satu ke pasar yang lain, perbedaan harga dikedua pasar tersebut tidak mungkin lebih besar dari biaya transpor. Kasus Samuelson –Enke, dua pasar tersebut seperti dua kantung ekonomi di dalam sebuah wilayah kosong. X Y Diasumsikan seolah-olah diantara dua pasar fakum kegiatan ekonomi (tanpa pembeli), pembeli ragu-ragu ( z ) Gambar 2.8: Dua Penjual di Dua Wilayah Yang Bertetangga Di asumsikan pula lokasi-lokasi pasar X dan Y tetap. Waktu pergerakanmencapai lokasi yang satu dengan yang lain dapat diperkirakan (Teori LokasiHottelling, Chamberlain, Lerner, Linger, dan lain-lain). Juga diasumsikan bahwadiberlakukan harga f.o.b, sifat-sifat pasar duopoly dan oligopoly berlaku. Pada waktuyang tertentu semua pembeli mendapat harga yang sama. Pertanyaan : Bagaimana luasarea pasar masing-masing penjual? Dan bagaimana pula wilayah di sekitarnyadibagikan di antara kedua penjual tersebut? Bagaimana menentukan batas-batas areapasar di antara kedua penjual, atau bagaimana batas-batas cakupan masing-masing perludipertegas. Tujuannya adalah untuk mendapat hukum-hukum ekonomi dari kedua pasaryang bersangkutan. 19
  • 30. Kita asumsikan : Pasar X dan Y tetap dan dikitari oleh titik : Z1;Z2;Z3,……..Znsebagai titik-titik lokasi konsumen di luarnya; barang yang dijual satu macam danhomogen; Biaya transpor berfungsi linier, artinya biaya perunit sesuai dengan jarakpasar dari titik Z. Biaya angkut per unit antara X dan Z = Txz dan antara Y dan Z adalahTyz. Jarak X – Z = dxz dan Y – Z = dyz. Jadi kalau konsumen di Z membeli barang di X,maka dia akan membayar : Px + Txz . dxz per unit Apabila dia membeli di Y, dia akan membayar : Py + Tyz . dyz per unit Kalau Px + Txz . dxz = Py + Tyz . dyz, maka konsumen berada pada kepuasanyang sama ke mana dia akan berbelanja (ke X atau ke Y). Dengan demikian batascakupan antara daerah-daerah yang dipengaruhi pasar X dan pasar Y ditentukan olehpersamaan : Px + Txz . dxz = Py + Tyz . dyz ………………………………….. (1) TYZ PY PX d XZ dYZ ………………………………………….. (2) TXZ TXZ T P PX Kalau YZ selalu positif , Y mungkin ( + ) mungkin ( - ) Txz TXZ Persamaan menjadi : d XZ t dYZ p …………………..…(3) TYZ PY PX t , p TXZ TXZ Persamaan tersebut membentuk kurva-kurva indiferen sebuah keluargakonsumen, yang disebut hypercicles (jaring-jaring lingkaran). Kurva-kurva yangdimaksud tersebut mewakili sifat-sifat dari masing-masing keluarga si konsumen, lokasidari semua titik-titik angka perbandingan dari jarak dua lingkaran tertentu. Kurvatersebut kadang-kadang berbentuk ― bulat telur Descartes ― Persamaan (2) dan (3) memperlihatkan ketentuan-ketentuan tentang gejala-gejala pasar secara khusus, yang tergantung tidak hanya pada harga relatif di kedua Tpasar, tetapi juga pada angka perbandingan biaya transpor yaitu t ( atau = yz ), dan Txz Py Pxpada angka perbandingan selisih harga dengan biaya-biaya angkut p (atau = ). TxzBerdasarkan analisis ini dirumuskan hukum-hukum area pasar spasial secara umumsebagai berikut: Pasar persaingan untuk barang yang sama (homogen) merupakan sebuah hypercircles.Tiga Contoh Kasus Batas Wilayah (Area) Pasar Spasial Gambar 2.9, 2.10, dan 2.11 memperlihatkan tiga kasus sederhana sebagai bahanilustrasi untuk batas-batas pasar spasial.a) Px = Py dan Txz = Tyz 20
  • 31. Gambar 2.9 memperlihatkan kasus wilayah spasial apabila biaya angkut danharga pasar sama (Txz = Tyz dan Px = Py). Kurva batas wilayah berbentuk sebuah garislurus (BB), artinya batas antara pasar X dan pasar Y akan berbentuk sebuah garis lurus. 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B X Y B Gambar 2.9 Batas Wilayah Jika Px = Py dan Txz = Tyz Setiap titik pada kurva yang sama berbeda biaya angkut dari masing-masingpasar, tetapi harga pasarnya sama mengingat perbedaan biaya angkut akan berbedaharga pasar. Angka perbandingan (Ratio) perbedaan harga dengan biaya angkut darikedua pasar menentukan batas cakupan lokasi. Harga pasar yang relatif lebih tinggi danbiaya angkut yang relatif lebih rendah membentuk area pengaruh yang lebih luas. Kurvabatas-batas area pasar dan luas pengaruh cakupan tiap pasar tergantung kondisi ekonomiwilayah masing-masing. 21
  • 32. b) Px < Py dan Txz = Tyz Gambar 2.10 memperlihatkan biaya angkut dari kedua pasar sama, tetapi hargajual berbeda. Kurva batas kedua pasar tersebut akan merupakan suatu potonganhiperbola. Px < Py ; Txz = Tyz. 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B X Y Gambar 2.10: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px < Py dan Txz = Tyz c) Px = Py; Txz < Tyz Gambar 2.11 memperlihatkan harga pasar sama, sedangkan biaya angkutberbeda. Px = Py ; Txz < Tyz. Kurva batas area pasarnya berbentuk sebuah lingkaran. 22
  • 33. 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 B X Y Gambar 2.11: Batas Wilayah (Pasar) Jika Px = Py dan Txz < Pyz Diagram sebelah atas dilukis berdasarkan batas-batas luas yang dipengaruhi olehpara penjual dengan garis-garis batas penyebarannya, menggambarkan harga pasar danbiaya angkut yang berbeda-beda. Diagram tersebut berbentuk cabang-cabang yangberpotongan, hasil ilustrasi diagram luas area/pengaruh masing-masing pasar yangdilukiskan pada diagram bawah. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan luas pasarmasing-masing dari sekelompok penjual berpotongan, sebagai proyeksi dari angka- T Py Pxangka perbandingan (Ratio) : yz dan Txz Txz 23
  • 34. 2.2.6. Penjual Banyak Terkonsentrasi Sedangkan Pembeli Juga Banyak Tersebar. d d d R6 d d d d d d d d d d d d R5 d d R4 d d R3 s s d d s R2 s d R1 ds s Gambar 2.12: Kasus Demanders Tersebar dan Suppliers Terkonsentrasi Misalnya: penjual (s) dalam jumlah banyak terpusat pada R1 (satu titik); pembeli(d) dalam jumlah banyak tersebar di sekelilingnya mereka berada di sub-sub wilayahR1 – R6; barang yang dihasilkan oleh semua produsen di R1 tersebut diasumsikanhomogen. Barang bebas keluar masuk; Perusahaan-perusahaan dalam kondisipersaingan satu sama lain; Harga (P) tunggal; Revenue rata-rata dari setiap produsensama; batas area pasar masing-masing perusahaan berbeda; harga yang diberlakukanadalah harga of pabrik; kurva permintaan individu bergeser ke kiri oleh biaya transport.Harga (Pf.o.b) untuk daerah dengan jarak tertentu akan lebih rendah bagi perusahaanyang bekerja pada maksimalisasi profit (bekerja pada MR = MC = MRB = MRA).Elastisitas permintaan lebih besar di lokasi yang relatif jauh. Di Lokasi yang samajaraknya dengan lokasi produksi, dalam arti biaya transpornya sama, memiliki hargayang sama. Karena itu perlu diperhatikan sebaran konsumen secara tata ruang, bila inginmengetahui sifat-sifat efektif pasar. Perubahan pada jumlah output perusahaanmengakibatkan perubahan pada harga output : menghendaki radius pasar yang lebihluas, perubahan dalam tingkat harga mengakibatkan perbedaan tingkat elastisitas. Ingat,pada P yang rendah .Ed lebih rendah di lokasi dekat dari lokasi yang lebih jauh. Ingatpula suasana persaingan sempurna dan adanya lokasi-lokasi penjualan yang terbagi-bagi/berbeda, tingkat harga tertentu. Terjadi gangguan batas-batas area pasar denganharga tertentu sehubungan dengan perluasan radius area pasar oleh penjual tertentu. 24
  • 35. P Kurva permintaan menjadi lebih ciut semakin memiliki jarak dengan pusat produksi ( RA ) penciutan PA sebesar T. PB C MC 0 Q QA QB MR MRA B TAB Gambar 2.13 Monopoli Spasial2.2.7. Pembeli Banyak Terkonsentrasi Sedangkan Penjual Juga Banyak tetapiTersebar Produsen-produsen tersebar pada lokasi-lokasi subwilayah R1 - R6. Konsumenterkonsentrasi di R1 (misalnya sebuah kota). Semua pembeli membayar harga yangberlaku yaitu harga pabrik (Pf.o.b). Penerimaan bersih setiap perusahaan sama, walau adaperbedaan jarak dengan lokasi pembeli (kota). Produk homogen, berlaku sistem pasarpersaingan sempurna, dengan produk tunggal, dan kurva penerimaan individual firm(permintaan rata-rata per perusahaan) mendatar. Tidak menjadi masalah tentangdiberlakukannya Pf.o.b, atau penyaluran bebas (tidak ada yang mengendalikan harga),juga tidak ada masalah tentang biaya transpor yang akan menciutkan kurva permintaanatau menambah biaya (harga pabrik atau harga lokasi pembeli). Tetapi tingkat hargapada lokasi dengan elastisitas permintaan sempurna dapat dibedakan diantara penjualyang satu dengan yang lain, berdasarkan jarak lokasinya dengan pasar. 25
  • 36. s s s R6 s s s s s s s s s s s s R5 s s R4 s s R3 d d d d d R2 d d R1 dd d Gambar 2.14 Kasus Supplier Tersebar dan Demander Terkonsentrasi Kalau barang-barang tersebut dijual dengan harga lokasi konsumen kurva permintaan rata-rata digeser ke kiri oleh biaya transport, Harga pasar (P) akan meningkat. Di lain pihak kalau T turun maka harga pasar (P) turun (rendah). Penjualan (Qs = Qd ) naik. Ini akan memberi manfaat, atau keuntungan, harapan baru bagi penjual-penjual yang memiliki jarak lokasi yang relative jauh. Para penjual dengan lokasi dekat (sekitar pasar) terpukul. Jadi penurunan biaya variabel (atau biaya transport) sebagian produsen akan menguntungkan (semakin mantap memasuki pasar) yaitu produsen yang jauh dari lokasi pasar, untuk sebagian produsen yang lain cenderung kehilangan pasar mereka. Persaingan menjadi semakin tajam. Secara diagramatis diperlihatkan melalui gambar berikut : Z P Z’L X’ L X A N M A Y Y’ Gambar 2.15 Perbaikan Transportasi Menguntungkan Produsen Jauh Asumsi: Lokasi penjual-penjual terletak sepanjang garis LL; konsumen terkonsentrasi di M; biaya produksi konstan; biaya angkut perkesatuan jarak konstan; 26
  • 37. MZ adalah harga dengan antaran (harga perangko konsumen); harga pabrik (Pf.o.b) untukmasing-masing produsen diperlihatkan dengan garis tegak lurus sisi dasar segi tigaXYZ. Penjual-penjual di X dan Y tidak hanya melayani pasar yang bersangkutan;penjual-penjual di X dan Y mewakili penjual terjauh untuk pasar M. Jika biaya transporditurunkan maka kemiringan (Slope) XZ dan YZ akan berubah, dan batas wilayahpemasaran menjadi semakin luas. Kemiringan XZ menjadi X’Z’ dan YZ menjadi Y’;radius lokasi suppliers yang menjangkau pasar M semakin jauh, yaitu X’M dan Y’M.Harga di lokasi konsumen semakin rendah, dari MZ menjadi MZ‖. Para suppliers dekatmengalami pukulan, yaitu supplier yang berada di wilayah AA. Supplier di luar AA,yaitu AX’ dan AY’ memetik manfaat (keuntungan) dari menurunnya biaya transpor.2.2.8. Para Penjual dan Para Pembeli Sama-sama Tersebar tetapi MempunyaiSebuah Pusat Pasar Bersama (Kasus Pasar Transito) Asumsi: Pembeli di d1, d2, d3, d4, d5 hanya dapat memperoleh barang tersebut dipasar M1 walaupun produk SS tersebar dimana-mana. Ed di M = ; revenue yangdiperoleh masing-masing supplier sama, tetapi laba mungkin bervariasi, hal itudisebabkan, (diantaranya) dipengaruhi oleh jarak yang membedakan biaya transpor (T).Sungguhpun barang-barang tersebut dibawa kembali ke lokasi konsumen yang tersebar,tetapi barang-barang tersebut tetap disalurkan melalui pusat pasar M; ada persainganbaik diantara penjual maupun diantara pembeli. s s d2 d3 d2 d1 d3 d1 s s d4 s d5 d5 d4 s s s M s Gambar 2.16 Demanders dan Supplier Tersebar Kasus Pasar Transito Seperti diperihatkan gambar berikut ini, terbentuk dua garis harga yangmengerucut di pasar M. Setiap kesatuan jarak dari M harga keseimbangan bagi penjualtertentu dan berbeda dengan harga keseimbangan yang dibayarkan pembeli karena biayatransport menjadi 2X. Misalnya pada lokasi V, penjual menerima jumlah bersih Pv * V,sedangkan pembeli membayar CV * V (setiap unit). Padahal kalau para pembeli di Vmemesan barang pada produksi di V mungkin harga yang dibayar berada di antara P vV– CvV. Perbedaan penerimaan dan pengeluaran seperti itu merupakan manfaat bagipenjual maupun pembeli, lebih-lebih kalau letak lokasi mereka dari M relative jauh. Ini 27
  • 38. merupakan alternative dengan manfaat tertentu. Faktor ini berfungsi memberikankemantapan pada harga berdasarkan pada perkembangan biaya transport. C1 C2 CV E Harga dibayar konsumen di V per unit PV P1 P2 Harga yang diterima produsen di V/unit V M jarak Gambar 2.17 Persaingan Pasar Lokal dan Pasar Transito P Ed= S Cv Es= Pv D 0 Q Gambar 2.18 Demand dan Supply Pasar di Pasar Lokal dan Pasar Transito Harga di pasar transito M = ME. Harga pada setiap titik tergantung D dan Srelative setempat. Perbedaan harga antara titik yang satu dengan titik yang lain tetapada. Diagram permintaan dan penawaran di atas (Gambar 2.18) mengilustrasikan bahwaskedul-skedul permintaan dan penawaran dari setiap penjual dan pembeli mendatar padalimit-limit harga tertentu. Pada pasar-pasar lokal Ed dan Es = (pada harga Cv . V danPv . V). Para penjual lebih suka menyalurkan barangnya lewat M. Begitu pula padaharga > Cv . V pembeli lebih suka membeli di M. Semakin pendek penyalurankeuntungan akan lebih besar, oleh karena itu akan lebih banyak transaksi barang-barang berlangsung di pusat pasar M. Faktor kurangnya informasi pasar, fasilitaspemasaran di pasar M, maka M (pasar transito) tetap bersaing dengan pasar-pasar local. 28
  • 39. 2.2.9. Pembeli Maupun Penjual Tersebar (Persaingan Monopolistik/OligopoliSpasial) Asumsi dasar : para pembeli dan penjual tersebar; para penjual tersebar danjarang; perusahaan mempraktekkan produksinya pada sekala profit maximizing atauloss minimizing; barang diproduksi untuk mereka yang sanggup membeli pada hargatersebut; area penjualan berbentuk lingkaran (bundar); keluar masuk barang-barangbebas (Free Entry); industri terbentuk tetapi masing-masing perusahaan sejenismemiliki pasar sendiri-sendiri dengan jarak tertentu satu sama yang lain, memiliki jarakyang lebih jauh dengan perusahaan yang menjual dengan profit nol; area-area pasar darimasing-masing perusahaan akan berbentuk segi enam (area maksimum), akibat dariFree Entry perusahaan akan cenderung memadatkan area-area pasar yang ideal tersebut. Gambar 2.19: Luas Are Pasar setiap Perusahaan Berbentuk Segi Enam (Losch) Dengan terbentuknya industri, perusahaan-perusahaan secara individu harusdapat mempertahankan diri, yaitu dengan minimal profit = nol. Kalau ini yang terjadi,area pasar akan terbagi-bagi diantara penjual. Dengan kesenjangan tersebut harga-hargatidak dikaitkan dengan kondisi masing-masing bagian pasar, artinya tidak dilakukansuatu kebijakan harga. Produksi homogen, dengan demikian seorang produsen tidakterlepas dari persaingan. Memungkinkan masuknya barang-barang yang diproduksiprodusen di wilayah perbatasan tetapi tergantung perkembangan biaya transport.Dengan kata lain ada kemungkinan terjadinya substitusi dengan barang import. Modelini menyerupai model monopolistic. Kalau barang bebas keluar masuk, maka harga fob= biaya rata-rata; Pf.o.b > MC; harga dengan antaran (harga di lokasi konsumen) > MC +T. Tingkat harga untuk keseimbangan jangka panjang (pada setiap pasar) ditentukanAverage Cost (AC) perusahaan yang berproduksi di lokasi yang bersangkutan. Persaingan monopoli merupakan bentuk pasar spasial yang paling umum (seringdipraktekkan). Keseimbangan jangka panjang akan lebih dimantapkan, dimana sebagianprodusen tersisih, jumlah profit perusahaan-perusahaan yang bertahan terus beroperasimeningkat. Masing-masing penjual cenderung memiliki/menguasai lokasi masing-masing. Distribusi penjual akan lebih merata, sesuai dengan kondisi pembeli. Manfaat-manfaat pengelompokan penjual dikembangkan, atau terjadilah pengelompokkanpenjual. Pusat-pusat pertumbuhan penduduk (kota-kota) menjadi kelompok-kelompokpembeli, dengan demikian secara umum area pasar menjadi tidak homogen. Penjualancenderung berusaha mengontrol area pasar masing-masing. Dengan demikian dalamjangka panjang memungkinkan terbentuknya pasar oligopoly, area pasar menjadi pasar 29
  • 40. yang dikontrol secara bersama-sama dengan terbentuknya kerja sama produsen yangjumlahnya semakin terbatas. Walaupun para penjual dan pembeli diasumsikan dapat dikelompok-kelompokanmeliputi perluasan area, tetapi sebenarnya tidak homogen, saling mempengaruhi. Setiappenjual ada pesaingannya. Pembeli dan penjual pada setiap lokasi dalam arti cukupbanyak, akan tetapi pengaruh dari mereka masing-masing dibatasi oleh biaya transport.Setiap penjual dapat meningkatkan penjualannya dengan cara menjual pada harga yanglebih murah (pemotongan harga), atau dengan pemotongan-pemotongan biaya transpor.Jumlah pembeli banyak, pasar yang dikuasai menjadi lebih luas, menjangkau daerah-daerah yang lebih jauh. Lain halnya kalau mereka diorganisasi dan menetapkan hargabersama. Harga mungkin berbeda diantara penjual yang satu dengan yang penjual yanglain, tergantung pada lokasi masing-masing dimana mereka mendapatkan perlindunganorganisasi dari persaingan dalam batas-batas ruang tertentu dan batas-batas biayatransport. Didalam kondisi yang demikian persaingan secara terbatas masih ada, kurvapermintaan sudah tertentu dan kondisi ini dipakai sebagai stabilitas harga. Sistemkeseimbangan harga spasial dapat memperbesar fungsi permintaan, dan ini dipakaisebagai alasan-alasan manfaatnya, terutama pada tahapan-tahapan pengembanganproduk-produk yang mendatangkan sumberdaya-sumberdaya dari lokasi yang relatifjauh. Kurva permintaan lebih besar dari kurva penawaran oligopoly, tidak seperti kurvatiga bagian (lihat gambar untuk kasus 6). Bagian teratas memiliki elastisitas permintaanrelative tinggi (Ed = tinggi). Bila diberlakukan harga yang lebih tinggi akan kehilangansebagian pasarnya kalau pesaingnya menurunkan harga. Bagian bawah kurva memilikiEd yang tidak elastis. Kalau harga pesaing tetap, suatu penurunan harga akanmemperluas pasar baginya. Tetapi pada sisi lain akan memancing saingan menurunkanharga pula. Karena ketidakpastian reaksi pada tingkat-tingkat harga tersebut, makaoligopoly cenderung beroperasi pada bagian tengah-tengah kurva permintaan, bagian inimemiliki slope yang netral, melampaui sifat permintaan monopolistic. Dalam batas-batas ini monopolist dapat bekerja dengan kebebasan tertentu tanpa memperhitungkanadanya reaksi-reaksi dari para pesaing. Oligopplist memiliki jarak dengan pesaing makamencapai sekala terpenting, dengan kata lain memiliki keuntungan aglomerasi yangcukup besar pada lokasinya. Ilustrasi yang menggambarkan hubungan diantara berbagai aspek monopolyspasial dijelaskan melalui analisis sederhana Duopoly berikut ini: Asumsi : Industri terdiri dari 2 penjual yaitu X dan Y, masing-masingdilokasikan pada ujung-ujung (batas-batas) yang berhadap-hadapan dari sebuah batasarea pasar. Diberlakukan harga pabrik (Pf.o.b) yang sama yaitu P1X dan P1Y. Biayatranspor sama, baik dari X maupun dari Y. Harga di lokasi konsumen (denganpengantaran = delivery price) pada lingkup wilayah yang beda akan berbeda, missalC1B1 di B1. Andaikan perusahaan X, yang memiliki kelompok pembeli tertentu didalambatas-batas wilayah tertentu menaikkan harga of pabriknya dari P1x menjadi P2x, makaperusahaan Y akan menetapkan harga menjadi P3y. Perusahaan Y akan memetikmanfaat, karena P2x > P3y. Biaya transport tetap, kemiringan P2xC2 dan P3yC2 samaseperti P1XC1 dan P1YC1. Batas diantara kedua area pasar akan bergeser ke kiri (ke B2).Perusahaan X akan kehilangan area pasar penjualan dengan radius B2B1, dan areatersebut akan diambil oleh perusahaan Y. Perusahaan memperoleh tersebut tambahanpermintaan dan kesempatan menaikkan harga dan keuntungannya. 30
  • 41. C2 P2X C1 P3Y C3 C4 P1Y P1X X P4Y P4X X B2 B1 B3 Y Gambar 2.20 Persaingan Duopoli Secara Spasial Tetapi andaikata perusahaan X menurunkan harga dari P1X menjadi P4X, makaperusahaan Y akan kehilangan sebagian area pasarnya yang semula dikuasai, yaitu B3B1yang diambil oleh perusahaan X. Perusahaan Y akan menjawab dengan menurunkanharga dari P1Y menjadi P4Y . Batas diantara 2 pasar akan kembali ke B1, harga di B1 akanmenjadi B1C4. Keuntungan bagi kedua perusahaan akan turun, sebagai akibat tindakanperusahaan X dan kemudian mendapat reaksi dari perusahaan Y, terkecuali kalau Edpada harga tersebut tinggi. Reaksi-reaksi yang lebih banyak akan timbul pada oligopolyspasial. Ini membuat semua produsen/penjual khawatir, dan mereka akan mencobamempertahankan stabilitas harga dengan cara bekerja sama, melakukan diskriminasiharga dan sebagainya. Ini adalah penerapan apa yang disebut dengan Game Theory, yang kemungkinandikembangkan kalau zona-zona (area-area pasar) terdiri dari kesatuan-kesatuan yangluas, peka terhadap perubahan harga, perusahaan-perusahaan bekerja pada BEP.Masalahnya akan menjadi lebih rumit kalau kelompok penjual menjadi lebih besarjumlahnya, industri bebas keluar masuk perusahaan-perusahaan baru, biaya produksitidak mendukung mencapai lokasi yang dekat dengan zona perbatasan. Kemungkinan yang lain pada oligopoly spasial adalah terjadinya kerja samadalam hal harga untuk zona-zona dekat perbatasan. Mereka mencoba meningkatkankeuntungan dengan cara memancing meningkatnya pengeluaran konsumen. Bentukkerja sama yang dapat dipilih cukup banyak. Misalkan dengan memberlakukan ―PriceLeader ―, ― Pembagian pasar berdasarkan geografi ―, dan sebagainya. Keberhasilankerja sama yang demikian tergantung pada apakah bersedia atau tidak menghindarihadirnya perusahaan-perusahaan baru.2.2.10. Alternatif Sistem Harga Spasial Selain diberlakukannya harga of pabrik (Pf.o.b) terdapat pula harga alternatif yangditemukan pada oligopoly spasial, misalnya (yang terpenting) harga frangko pembeli, 31
  • 42. atau harga dengan antaran (Delivered Price ). Harga ini oleh para penjual disusundengan cara membebankan biaya transport rata-rata kepada Pf.o.b, dimana perusahaanberproduksi pada Profit Maximizing. Penyaluran barang-barang bebas ke seluruh arealpasar yang dikuasai semua penjual dan yang oleh para penjual juga diberlakukan sistemdiskriminasi. Para pembeli yang berada di sekitar lokasi para penjual yang diperluasatau dipersempit oleh perkembangan dalam pendistribuasian ke area-area penting. Volume penjualan kepada konsumen sangat dipengaruhi oleh sistem penyaluranyang bebas dan tingkat keseimbangan produsen masing-masing dimana harga fobdiberlakukan. Biaya transport (per satuan jarak) keseluruh titik (lokasi) di dalam areapasar tetap. Demikian pula halnya bilamana para pembeli terkonsentrasi pada satulokasi dan para penjual tersebar di sekitarnya. Kalau pengusaha (penjual) mengelompok dan tidak diberlakukan diskriminasidiantara mereka, sistem penyaluran bebas dapat dioperasikan, dimana keseimbanganharga tidak perlu diatur diantara para penjual. Stabilitas harga tergantung pada penjualsecara keseluruhan. Setiap penjual bebas melakukan diskriminasi harga denganmembedakan area-area pasar, tetapi diberlakukan harga prangko konsumen yang bebas,yang mana harga tersebut berbeda antara penjual yang satu dengan penjual yang lain.Dengan sifat harga yang bersaing tersebut, para penjual tidak dapat memperolehkeuntungan yang besar. Andaikata para penjual memiliki lokasi yang tertutup terhadappara pesaingnya, porsi area pasar yang berimpit cukup luas, maka harga perangkopembeli haruslah sama. Tanpa dapat membuat kesimpulan yang demikian (DeliveredPrice Same), terbuka peluang bagi sebuah perusahaan yang dekat dengan area pasaruntuk menyalurkan barangnya dengan harga perangko pabrik. Dengan demikianmereka kehilangan konsumen dekat, sistem harga perangko konsumen akan terpecah.Metoda harga prangko konsumen paling cocok kalau kondisi permintaan inelastic(untuk pembeli dekat). Sedangkan bagi pembeli jauh, dimana permintaan elastis tidakcocok. Perluasan batas-batas area pasar dengan penurunan biaya, menghasilkan selisihharga konsumen dapat diterapkan untuk seluruh negeri. Tidak masuk akal, bahwaperluasan area pasar dengan harga-harga prangko konsumen dilakukan melaluipenciutan laba bersih, ini artinya tidak mungkin dilakukan dengan cara memperkecildaya serap angkutan (berkurangnya partisipasi angkutan), yaitu di lain pihak untukmendukung harga konsumen yang rendah. Disamping itu juga dikenal pola harga ‖Basing Point‖ yaitu harga dengan caramemberlakukan Pf.o.b pada lokasi-lokasi (kota-kota) tertentu (Basing Point), tanpamemperhatikan di mana barang di produksi dan berapa biaya transport dari pabrik kelokasi basing point tersebut. Harga Basing Point memiliki sifat-sifat tertentu, dimanapada jarak tertentu dari basing point harga sama, tanpa memperhatikan dimana barangdijual atau siapa penjual, memungkinkan diskriminasi harga pada tahapan penjual yangdapat memberlakukan harga prangko pembeli (dari basing point ke lokasi pembeli yangtelah terrefleksi biaya transport). Harga basing point diberlakukan untuk suatu tujuanpenyimpangan dari pola kegiatan ekonomi spasial. Hal itu karena: pertama hal itu dapatdilakukan hingga titik persilangan harga dengan biaya angkutan lawan. Sebagian daripermintaan pembeli di wilayah hinterland sudah dipenuhi oleh saingan dari basing pointlain yang mulai lebih efisien; kedua dia menyimpang dari pola lokasi optimal. Perananperusahaan–perusahaan besar cenderung terpusat di sekitar lokasi, sedangkanperusahaan-perusahaan kecil melayani permintaan-permintaan kelompok pembeli jauh(di periphery), mungkin dari jalur supply yang besar-besaran. Metode ini bertahan, dan 32
  • 43. kemungkinan dapat beroperasinya metode-metode harga lain, seperti Basing Pointberganda (Multiple Basing Points), sebagai elemen-elemen berimbang.2.2.11. Keragaman-keragaman Harga Spasial : A Testable Model Pada umumnya analisis harga spasial dilakukan berdasarkan asumsi yang begituabstrak dan disajikan di dalam terminology model-model formal. Ini dilakukan untukmemungkinkan diperolehnya suatu pendekatan studi harga-harga spasial yang dapatdiuji secara empirisn seperti halnya pendekatan yang pernah dianjurkan W. Wentz.Analisis tersebut merupakan sumbangan yang berharga, dimana model itu tidak terikatdengan penentuan pembeli maupun penjual, tetapi dapat membantu pusat-pusatpenduduk yang padat (kota-kota) dan pemukiman-pemukiman penduduk yang tidakpadat (desa-desa). Adanya pengaruh-pengaruh waktu penyaluran terhadap dinamikaharga sampai dengan jarak tertentu. Berhubung keterbatasan teknik, hanya dilakukanuntuk kondisi pasar persaingan, dan dilakukan hanya untuk mempelajari pengaruhperbedaan-perbedaan geografis terhadap harga hasil-hasil pertanian. Model ini sangat sederhana, sesuai dengan dalil bahwa harga ditentukan olehpenawaran dan permintaan, tetapi tidak meliputi pengaruh factor spasial kepada harga.Harga suatu komoditi beragam dalam suatu ruang, meliputi adanya pengaruh faktorspasial terhadap permintaan dan penawaran. Sumbangan Wentz dalam teori hargaspasial adalah memperkenalkan metode-metode dengan intensitas penawaran danpermintaan yang terukur. Metode tersebut mengandalkan analisa gravity potential(Gravity Potential Analysis). Untuk mengukur permintaan Wentz menggambarkannyapada konsep potensi penduduk (Potential Population Concept). Konsentrasi pendudukberpengaruh langsung terhadap bagian-bagian lokasi. Tetapi pengaruh ini berkurangjika jarak meningkat. Kekuatan suatu area dipengaruhi oleh kelompok penduduk disekitarnya, dan pada setiap titik pada sebuah area dapat diukur intensitasnya denganpembagian area wilayah perekonomian oleh ukuran penduduk dan jarak. Potensi totalpenduduk pada setiap titik pada suatu wilayah perekonomian (area pasar, dansebagainya) dapat dihitung dengan pembagian wilayah perekonomian ke dalamsejumlah besar unit-unit area wilayah. Kemudian dengan pembagian penduduk tersebut,untuk setiap unit area wilayah dengan rata-rata jaraknya ke titik tertentu dapat dihitung.Berapa total potensi penduduk untuk suatu titik, yang diekspresikan denganmenggunakan terminology berapa reaksi pada setiap mil jarak dari titik tersebut dapatdihitung. Perkiraan potensi penduduk dapat dihitung dari berbagai titik. Permintaan bukan fungsi dari potensi penduduk saja. Setiap individu pendudukmungkin tidak memiliki bobot yang sama, tetapi juga dipengaruhi oleh pendapatannya.Ini diperhitungkan dalam memberikan bobot kepada penduduk di masing-masing area,dengan memperhitungkan besarnya pandapatan perkapita pertahun. Potensi tersebutdisebut ‖Gross Economic Population Potential‖ (GEPP), meliputi jumlah penduduk,lokasi, dan pendapatan. Kemudian dapat dubuat peta potensi melalui titik-titik yangmemiliki volume sama (garis dengan potensi sama) dan GEPP dapat digambarkansesuai dengan permintaan efektif yang terdistribusi secara geografis. Berdasarkan GEPPdiperoleh pula permintaan spasial suatu komoditi. Sebagai tambahan, faktor-faktortertentu seperti selera konsumen, elastisitas pendapatan dan permintaan untuk barangtersebut, dan harga barang penggantinya merupakan faktor-faktor pengembanganekonomi penduduk secara menyeluruh dan merupakan efek pengembangan pendapatansecara tata ruang. Model dengan nilai-nilai yang mungkin ditambahkan itu disebut 33
  • 44. ―Produk Demand Space Potential‖ (PDSP). Akan terjadi pengaruh-pengaruhpermintaan musiman dan siklus yang sifatnya sementara, memberikan pengaruh yangsama diukur dengan terminology permintaan persatuan waktu, yang disebut ProductDemand Time Potential (PDTP ). Pengaruh faktor jarak pada sisi penawaran juga harus diamati. Peta tersedianyaproduk secara potensial dapat dibuat seperti halnya membuat peta potensi penduduk.Keanekaragaman area dalam hal Product Supply Space Potential (PSSP), adalahsebagai gejala keragaman aksessibilitas lokasi dan total output. Titik dengan potensiwilayah tertinggi adalah titik yang paling besar aksesibilitasnya kepada komodititersebut dan pada titik ini besar pengaruh penawaran terhadap harga. PSSP juga dapatdigambarkan sebagai sebuah peta countour wilayah permintaan dan penawaran produkyang bervariasi di antara berbagai produk, dan potensi wilayah penawaran produkmemungkinkan bervariasi di antara komoditi-komoditi, karena luasnya wilayah geografiproduksi dari berbagai barang. Peta harga secara geografi juga memperlihatkan beberapa dimensi waktu yangpenting, khususnya untuk barang-barang pertanian, sebagai output yang dihasilkansecara musiman. Refleksi pengaruh penawaran selalu akan terlihat pada harga, misalnyaapakah barang-barang tersebut dapat disimpan selepas panen, jumlah persediaan, danoutput yang bisa diharapkan di masa depan. Intensitas penawaran sepanjang waktudapat diukur dengan menggunakan konsep ―Product Supply Time Potential‖ (PSTP),yang diperhitungkan dalam terminology unit-unit produksi persatuan waktu. Keragaman spasial di dalam intensitas penawaran dan permintaan cenderungmembentuk keragaman secara geografis pada harga suatu komoditi. Suatu pembuktianhipotesis secara umum harus digambarkan secara sebanding dengan porsinya, bahwaharga cenderung dipengaruhi langsung oleh wilayah permintaan potensial (potensiwaktu penawaran, dimana produk dengan output-output yang berfluktuasi besar menjadidasar). Andaikata harga produk sebagai variable terikat, PDSP, PDTP, ESSP dan PSTPsebagai variabel-variabel bebas dan setiap variabel yang ingin diketahui diteliti dibanyak lokasi (titik) didalam wilayah penelitian. Dengan asumsi bahwa variabel hargadan variabel-variabel lain tersebut merupakan sebuah fungsi, yang berarti bahwa faktor-faktor yang berinteraksi tersebut dapat dikwantitatifkan. Model Regresi multi variabelyang diluruskan (dilogkan), atau yang disebut ―Multi Linear Regression‖ dapat dipakaiuntuk mencari koefisien regresinya. Koefisien-koefisien regresi tersebut dapatdigunakan untuk memperkirakan tingkat harga pada setiap titik di suatu wilayah,dengan memperlihatkan bagaimana interaksi harga pada setiap titik tertentu ditentukanoleh interaksi variabel-variabel bebas, keragaman spasial dan temporal di dalamintensitas penawaran dan permintaan. Itulah sebetulnya ruang lingkup analisis keragaman harga spasial. Kita dapatmeneliti akibat-akibat atau dampak-dampak pada harga sehubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada lokasi-lokasi lain. Dampak umum kenaikan penawaranakan mendorong harga turun, tetapi turunnya harga pada lokasi-lokasi itu tergantungpada hubungan-hubungan spasial dari setiap titik yang dianalisis terhadap lokasispesifik (yaitu lokasi dimana kenaikan penawaran terjadi). Hal yang lebih ambisiusyang mungkin dilakukan adalah memperluas teori keseimbangan harga. Walrasian(suatu model yang tidak berdasarkan dimensi-dimensi static dan spaceless) denganmemasukkan waktu penawaran dan permintaan serta potensi ruang untuk berbagaibarang dan input-input produksi yang ada dalam fungsinya. 34
  • 45. BAB III TEORI LOKASI INDUSTRI3.1. Pendahuluan Masalah lokasi industri adalah bagian dari masalah bagaimana menyebarluaskankegiatan ekonomi di dalam suatu wilayah. Masalah ini secara spesifik terkait denganmasalah di mana suatu barang harus diproduksi, di mana dikonsumsi, dan bagaimanamendistribusikannya. Sebagaimana prisip ekonomi mikro, bahwa unit usaha ekonomi(perusahaan) haruslah senantiasa bekerja secara efisien, untuk menghemat sumberdaya,mampu bersaing, dan mampu menjawab keinginan konsumen secara maksimal. Salahsatu faktor yang memungkinkan tercapainya tingkat efisiensi tersebut adalah mampumemilih lokasi yang optimal. Banyak ahli ekonomi yang menulis tentang teori lokasi, antara lain: Van Thunen(1826), Webber (1909), Christaller (1933), August Losch (1940), William Alonso(1940), Hoover (1948), Perroux F (1950), dan Walter Isard (1956), yang intisari teori-teori tersebut akan disinggung pada bagian-bagian yang dianggap perlu, khususnya padasaat kita akan membahas Ekonomi Perkotaan. Seperti diketahui kota adalah wilayah,atau subwilayah dengan sifat-sifat tertentu, memiliki faktor-faktor daya tarik tertentu,dan cenderung menjadi lokasi konsentrasi berbagai aspek kegiatan manusia, utamanyaaspek kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Alonso, Webber, dan Losch menulis teoritentang lokasi pasar (Theory of Market Area), dan Perroux menulis teori pengembanganwilayah dengan kutub-kutub pertumbuhan (Regional Space). Himpunan perusahaan sejenis (Industry) dalam usahanya memaksimalisasikankeuntungan (Profit Maximizing) bagi masing-masing perusahaan (Individual Firm)cenderung mencari lokasi optimal. Pertanyaannya, apa faktor-faktor yang menetukanoptimal tersebut, bagaimana memanipulasi variabel-variabel yang mempengaruhinyaitu, yang banyak dan mungkin sulit dikuantifikasikan. Besar kemungkinan, parapengusaha yang lebih mampu mengkuantifikasikan variabel-variabel tersebut lebihmemiliki peluang untuk berhasil, dan ini tentu terkait dengan kemampuan perusahaanuntuk mempekerjakan para profesiaonal yang mampu membuat analisis-analisis untukmendukung keputusan-keputusan manajerial. Namun demikian, sebagian variabel yangbersifat umum, pemerintah dapat membantunya, antara lain dengan perencanaanwilayah dan lokasi-lokasi (zona-zona) industri.3.2. Prinsip Lokasi Median Untuk menjelaskan prinsip lokasi median ini dibuat sebuah contoh ilustrasi.Misalkan ada rencana pendirian sebuah perusahaan roti, yang selain memproduksi rotijuga mendistribusikannya kepada para langganan (konsumen). Baik biaya maupunvolume produksi diasumsikan tidak berpengaruh terhadap lokasi perusahaan tersebut.Satu-satunya variabel yang berpengaruh adalah biaya pengiriman (Distribution Cost).Dengan demikian untuk maksimalkan keuntungan dilakukan dengan meminimalkanbiaya pengiriman tersebut. Misalkan pula, bila lebih lanjut diketahui bahwa langganan bakal pabrik rotitersebut ada 7 orang, mereka berada di sepanjang jalan (lihat gambar 3.1), danperusahaan hanya bisa mengirim satu roti kepada seorang langganan pada setiap waktu 35
  • 46. pengiriman. Maka pertanyaannya adalah, di mana lokasi perusahaan roti tersebut yangterbaik (yang optimal, atau yang meminimalkan biaya pengirimannya). A B C D E F G 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Gambar 3.1: Sebaran Pelanggan Sepanjang Sebuah Garis Untuk menjawab pertanyaan teori tersebut, dicoba cari harga rata-rata dimanalokasi berjarak rata-rata (Mean) dianggap sebagai daya tarik, dengan menjumlahkanjarak antara satu langganan dengan langganan yang lainnya, mulai dari A sampaidengan G, lalu dibagi dengan jumlah pelanggan. Untuk itu, sebagai keterangan lebihlanjut, perhatikan tabel 3.1. Tabel 3.1: Perhitungan Lokasi Median Lang Jarak Jarak dari Jarak dari ganan Dari A lokasi E lokasi D A 0 6 4 B 1 5 3 C 2 4 2 D 4 2 0 E 6 0 2 F 14 8 10 G 15 9 11 Total Jarak 42 34 32 Diperoleh nilai rata-rata (Mean) 42 6 satuan jarak, berarti lokasi mean 7adalah 6 satuan jarak dari A yaitu E. Tetapi ternyata lokasi ini tidak meminimalkanbiaya distribusi. Perhatikan tabel jarak perjalanan dari lokasi D ke semua langgananternyata lebih singkat jaraknya, atau lebih rendah biaya distribusinya. Lokasi D akanmenghasilkan jumlah perjalanan total (Total Trips) lebih sedikit dibandingkan denganlokasi E. Titik yang dapat meminimalkan jarak total ke seluruh titik langganan lainnyamerupakan titik tengah-tengah (Median Point). Titik median adalah suatu titik dimanabaik di sebelah kiri atau di sebelah kanan suatu garis lurus terdapat titik-titik distribusiyang jumlahnya sama. Sedangkan titik jarak rata-rata (Mean Point) pada hakekatnyameminimalkan jumlah kuadrat dari jarak-jarak perjalanan, sehingga titik ini tidakrelevan dengan tujuan. Logika teori ini diterapkan dalam memilih lokasi perusahaan industri. Semuaindustri pengolahan perlu mendatangkan bahan-bahan baku (Inputs) produksi, dan jugaperlu menyalurkan hasil produksinya (Output). Perlu diperhitungkan, apakah bahanbakunya besar volumenya, banyak bahagian yang terbuang, dan sebagainya. Di sini adamasalah pilihan yang dikaitkan kepada biaya angkutan untuk mendatangkan bahanbaku. Begitu pula menyangkut biaya distribusi hasil produksi, apakah produk tersebutbarang yang mudah rusak atau tidak, bernilai tinggi atau tidak, dan sebagainya.Sehingga perlu menentukan dimana letak lokasi perusahaan yang paling ekonomis(Lokasi Optimal). Atau, dikaitkan contoh di atas (lokasi perusahaan roti), denganpelanggan di kota-kota A, B, C, D, E, F dan G, berapa produk yang distribusikan ke 36
  • 47. masing-masing kota. Misalnya ke kota A 200 unit, ke kota B 500 unit, ke kota C 650unit dan seterusnya. Kota-kota ada yang besar dan yang kecil maka dimana seharusnyalokasi perusahaan dipilih. Dengan bantuan teori ini problem tersebut dapat dipecahkan.3.3. Persaingan Sepanjang Satu Garis Lurus (Teori Hottelling) Apa yang baik bagi sebuah perusahaan mungkin tidak baik bagi perusahaanyang lain. Dengan demikian pada waktu dinyatakan bahwa lokasi perusahaan optimal,maka perlu dipertanyakan ―optimal‖ itu dari sudut pandang siapa? Optimal untuksebuah perusahaan belum tentu optimal untuk perusahaan yang lain. Optimal bagiprodusen belum tentu optimal bagi konsumen. Oleh karena itu, dalam permasalahanlokasi optimal ini ada tiga pihak yang memiliki sudut pandang yang berbeda, yaitu: (a)Konsumen, (b) Produsen, dan (c) Pemerintah. Misalkan seorang penjual cendol yang menjajakan cendolnya untuk konsumenwisatawan sepanjang pantai. Pembelinya tersebar merata di sepanjang pantai tersebut.Setiap orang ingin membeli satu gelas dan bersedia berjalan kaki sejauh yangdiperlukan untuk memperolehnya, walaupun sebenarnya orang-orang itu lebih sukakalau cendol tersebut dapat diperolehnya dengan berjalan sesingkat mungkin. Kalaupenjual cendol itu satu-satunya (penjual tunggal), dia tidak perlu memperhitungkandimana lokasi yang terbaik bagi semua pihak, karena semua konsumen yang inginminum cendol akan tunduk pada keputusan si produsen tunggal itu. Tetapi pemerintah(perencana) berkepentingan untuk meminimalkan perjalanan konsumen, dalam rangkamelaksanakan fungsinya sebagai pelayan masyarakat (memberi manfaat yang maksimalkepada masyarakat). Total perjalanan tersebut akan optimal kalau lokasi penjual cendolada di tengah-tengah (Median Point) rentang garis pantai wisata tersebut. Tetapi masalahnya akan berbeda kalau pedagang cendol ada dua, akan munculpersaingan diantara mereka. Keduanya ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, dan mereka sama sekali tidak berkepentingan terhadap fungsi pelayananumum. Persaingan tersebut akan menghasilkan suatu lokasi keseimbangan bersama bagikedua penjual. Proses itu akan menghasilkan konsentrasi kegiatan ke satu lokasi, atauyang disebut Aglomerasi. Tentu pemerintah tidak menginginkan keseimbangan lokasiyang seperti itu, tetapi menginginkan dekonsentrasi lokasi, atau lokasi optimal darisudut pandang pemerintah. Seluruh proses tersebut dijelaskan pada gambar 3.2 : PANTAI A B I O O . A II O B . B O A III O O . IV AB . O V A B . O . O Gambar 3.2: Proses Persaingan Sepanjang Garis Lurus Keterangan: I, II dan III adalah lokasi yang belum optimal bagi pengusaha 37
  • 48. IV adalah lokasi keseimbangan bagi mereka, dan tercipta kondisi Aglomerasi. Lokasi optimal menurut pandangan pemerintah (lokasi yang direncanakan)adalah V3.4. Industri Dengan Satu Pasar dan Satu Bahan Baku Misalkan sebuah pabrik peti baja yang menggunakan lembaran baja yang hanyadihasilkan oleh sebuah pabrik baja sebagai bahan bakunya. Peti baja tersebut dijualhanya ke kota C (perhatikan gambar). Diasumsikan, bahwa biaya produksi peti baja tersebut sama dimanapun lokasipembuatan dipilih. Dengan demikian satu-satunya pertimbangan pabrik adalahbagaimana meminimumkan biaya angkut bahan baku dan outputnya (Total TransportCost). Total Transport Cost terdiri dari biaya perakitan (Assembly Costs) dalammendatangkan input (plat-plat baja) dari kota M, dan biaya distribusi (Distribution Cost)dalam mengirimkan output (peti-peti baja) tersebut dari pabrik ke kota C. Jelasnya perhatikan gambar berikut : rm t0 Biaya Perakitan (Assembly Cost) Biaya Distribusi rc(T- t0) (Distribution Cost) rm t0 V=Lokasi Pabrik V to T - to C M T ( Jarak dari M ke C ) Gambar 3.3 Biaya Transpor Industri Dengan Satu Bahan Baku dan Satu Pasar Misalkan biaya angkut plat baja = rm km per peti, maka Assembly Cost per unit= rm t0 . Bila biaya distribusi = rc / km per unit, maka total biaya distribusi = rc T - t 0 .Kalau total transport cost = k, maka: k = rm t0 rc T - t0 ……………………………………… (1)Dengan demikian yang perlu dicari di dalam permasalahan ini adalah harga t0 yangmeminimalkan k dari persamaan (1). Untuk lokasi yang berjarak t0 dari gambar dapatdilihat total transport cost sama dengan Total Assembly Cost ditambahkan dengan TotalDistribution Cost. Gambar memperlihatkan bahwa biaya transport terkecil akan diperoleh bilapabrik tersebut berlokasi di M (di lokasi bahan bakunya), atau t0 = 0. Sebabnya adalah 38
  • 49. karena biaya perakitan kurva lebih menanjak dibandingkan dengan kurva biayadistribusi, dengan kata lain biaya angkut plat-plat baja km per unit lebih mahal daribiaya angkut peti km per unit (rc). Persamaan 1 dengan demikian: k = (rm – rc)t0 + rc.T …………………………………. (2)Berdasarkan rumusan persamaan (2) dapat diperoleh kemungkinan lokasi pabriktersebut, tergantung pada nilai rm dan rc, yaitu: (1) Bila rm > rc maka lokasi optimaladalah di M, (2) Bila rm < rc maka lokasi optimal adalah di C, dan (3) Bila rm = rc makalokasi optimal memungkinkan di C, di M atau di setiap titik di antara C dan M.3.5. Struktur Biaya Transpor (Transport Cost Structure) Dalam kenyataannya kenaikan biaya transpor tidak proporsional denganpertambahan jarak angkut. Hal itu disebabkan oleh:1. Adanya biaya terminal, seperti: (1) Biaya bongkar muat, (2) Biaya Pengepakan, dan (3) Biaya Administrasi. Dengan demikian biaya transpor dapat ditulis : BT = Sm + rm.t Keterangan: Sm adalah biaya terminal; rm adalah biaya transpor rata-rata/km, t = jarak. Dalam bentuk diagram digambarkan sebagai mana diperlihatkan gambar 3.4: Rm (Rp) B C A Sm 0 t Gambar 3.4 Struktur Biaya Transpor Dengan dan Tanpa Biaya Terminal Keterangan: A adalah biaya angkut proporsional terhadap jarak; B biaya angkutan dengan mempertimbangkan biaya terminal; C adalah biaya angkutan dengan mempertimbangkan biaya terminal dan juga penurunan biaya marginal atas setiap pertambahan kesatuan jarak. 1. Adanya pengaruh kategori jarak tempuh terhadap biaya transpor (seperti jarak dekat, jarak menengah dan jarak jauh, serta penggunaan jenis moda transpor yang sesuai. 39
  • 50. Rp Truck Kereta api Kapal laut Biaya Terminal t 0 t1 Sedang t2 Dekat Jauh Gambar 3.5 Struktur Biaya Transpor Berdasarkan Jarak Angkut dan Pilihan ModaKeterengan: 0-t1 = Jarak dekat; 0-t2 = jarak sedang; > 0-t2 = jarak jauh.3.6. Lokasi Industri Titik-Titik Ujung (End Points Location) Biaya Biaya transpor total Y Biaya distribusi Biaya perakitan X M T C T t (Jarak) Gambar 3.6 Lokasi Industri Titik-titik UjungKeterangan: X - Y adalah biaya terminal Biaya terminal dan bentuk kurva biaya transpor berpengaruh terhadap daya tariklokasi industri. Lokasi industri cenderung dipilih lokasi ujung (end points), seperti titik 40
  • 51. M dan C dalam gambar di atas. Dalam gambar, biaya transpor seperti untuk kasus platbaja dan peti baja, dikaji dengan menyesuaikan struktur biaya transpor yang lebihrealistis. Diperlihatkan pada gambar untuk kasus rm = rc, maka lokasi optimal tidak lagiarbitrasi (dimana saja antara M dan C). Karena adanya biaya terminal, dan bentuk kurvabiaya transpor yang realistis, maka biaya angkut terkecil terletak di M atau di C,sedangkan titik tengah menunjukkan biaya tertinggi.3.7. Keunggulan Lokasi Transhitment Lokasi transhitment adalah suatu lokasi dimana terjadi perpindahan barang darisatu jenis alat transpor (Moda) ke jenis alat transpor yang lain. Lokasi tersebutmisalnya pelabuhan laut, yaitu lokasi perpindahan angkutan dari kapal laut ke modatransportasi darat, atau sebaliknya. Lokasi transhipment tersebut memiliki keunggulan,seperti dijelaskan dengan gambar 5.6. Misalkan kasus pabrik peti baja seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, yangbahan bakunya adalah plat-plat baja yang didatangkan dari lokasi M sedangkan pasarhasil produksinya tunggal, yaitu kota C. Seandainya lokasi M dengan B dipisahkan olehlaut, dimana lokasi B adalah di lokasi pelabuhan. Sedangkan dari B ke C dapatditempuh dengan angkutan darat (truck atau kereta api). Dengan memperhatikangambar 3.7, maka kurva biaya perakitan (Assembly Cost) adalah a – b – c – d, dimana : e d f c b g a h M B C Gambar 3.7: Keunggulan Lokasi Transhipment Keterngan: a adalah biaya terminal di M; b adalah biaya angkutan laut dari M ke B; c adalahbiaya terminal di B; d adalah biaya angkut dengan kereta api dari B ke C. Kurva biaya distribusi(Distribution Cost) adalah e – f – g – h, dimana: e adalah biaya memindahkan output dari M ke B; fadalah biaya terminal di B; g adalah biaya memindahkan output dari B ke C; h adalah biaya terminal di C Kurva paling atas merupakan biaya transportasi total, dan merupakanpenjumlahan dari dua kurva lainnya. Karena ada biaya terminal dan biaya transhipmentmaka ada tiga titik minimum: (1) Kalau pabrik peti tersebut berlokasi di M maka biayatransport total menjadi e + f + g + h; (2) Kalau pabrik peti tersebut berlokasi di B makabiaya transport total menjadi a + b + g + h; dan (3) Kalau pabrik peti tersebut berlokasidi C maka biaya transport total menjadi a + b + c + d. Ketiga titik dengan biayatransport minimum tersebut memiliki biaya transport total yang sama, dimana lokasiterbaik tergantung dari nilai masing-masing komponen biayanya, yang mungkin 41
  • 52. berbeda-beda untuk kasus yang berbeda. Sering terjadi bahwa lokasi pelabuhanmerupakan lokasi terbaik. Biaya di pelabuhan (Transhipment Location) tergantung padaperkembangan teknologi kepelabuhan dan perkembangan teknologi transportasi.3.8. Lokasi Industri Kasus Satu Pasar dan Banyak Bahan Baku Untuk kasus seperti ini, maka jika digambarkan biaya transportasinya sudahmenjadi berdimensi tiga. Sebagai contoh diambil kasus industri dengan dua macambahan baku dan satu pasar. Misalkan dua bahan baku tersebut adalah N1 dan N2, satupasar hasil produksi (Output) adalah C. Pertama-tama yang perlu dilakukan adalahmenstandarisasi ukuran jumlah (Quantitas) bahan baku untuk setiap unit hasil produksi(peti baja). Misalnya untuk membuat satu peti baja diperlukan 2 ton N1 dan 1 ton N2.Biaya terminal adalah $ 1 perton bahan baku (baik untuk N1 atau N2). Diketahui pulabiaya angkut bahan baku N1 = $ 0,67 perton per 100 km. Sedangkan biaya angkut N2 =$ 1 perton per 100 km. Jadi, biaya angkut untuk bahan baku N1 dan N2 per unit peti bajatersebut adalah $ 1,34 + $ 1 = $ 2,34 perunit output per 100 km. Biaya terminal bahanbaku perunit hasil produksi = $ 3. Biaya angkut output $ 1 perton per 100 km, atau $ 3perunit per 100 km. Standard semua biaya diperlihatkan pada tabel 3.2. Tabel 3.2: Standar Biaya Asembly dan Distribusi Industri Peti Baja Jumlah Biaya Biaya ton yang Biaya angkut Biaya angkut dibutuh terminal perton terminal perunit No. Objek Biaya kan per perton per 100 per unit per 100 unit yang Km Km diangkut 1 2 3 4=1*2 5=4*3 Bahan baku 1 2 Ton $ 1,00 $ 0,67 $ 2,00 $ 1,34 N1 Bahan baku 2 1 Ton $ 1,00 $ 1,00 $ 1,00 $ 1,00 N2 Hasil 3 3 Ton $ 1,00 $ 1,00 $ 3,00 $ 3,00 Produksi Bahan baku N1 didatangkan dari lokasi M1 dan bahan baku N2 dar M2.Selanjutnya digambarkan di sekeliling M1 biaya transpor bahan baku (2 Ton) untuksetiap unit produk (peti baja) diperlihatkan dengan garis perjalanan (trips). Kurva inidisebut isotim. Isotim adalah garis (kurva) yang menghubungkan titik-titik sekeliling N1yang memiliki biaya transpor yang sama. Sekitar M2 juga digambarkan kurva isotims-nya (dengan kurva yang terputus-putus). Lingkaran garis putus-putus dengan titik pusatdi C memperlihatkan isotim hasil produksi. Semuanya dengan harga (nilai) seperti yangtertera di dalam tabel 3.2 di atas.Biaya transport total pada setiap titik adalah jumlah isotims, misalnya pada titik X:biaya untuk mengangkut 2 ton N1 adalah $ 10, 1 ton N2 $ 4 dan 1 unit hasil produksi kekota C $ 8. Total biaya transpor di lokasi X dapat dihitung, yaitu: $ 10 + $ 4 + $ 8 = $22. Bila dipetakan, maka kita akan memperoleh titik-titik atau lokasi-lokasi dengantotal biaya transport yang sama. Garis-garis yang menghubungkan titik-titik (lokasi-lokasi) dengan total biaya transport yang sama disebut Isodapanes. 42
  • 53. Gambar 3.8 Peta Isotims dan Isodapanes Penentuan Lokasi Optimal kan di lokasi mana yang memiliki total biaya transpor Minimum (PerhatikanGambar 3.7). Tetapi perlu pula diingat bahwa lokasi industri terbaik tidak hanyaditentukan oleh isodapan terendah, banyak lagi faktor-faktor lain yangmempengaruhinya. Paragaf 3.11 memperhitungkan faktor-faktor dimaksud. Karena proporsi output yang diangkut ke setiap pasar dapat dipetakan 10 M1 9 3 C 8 A 4 4 7 5 5 6 6 6 7 7 5 8 8 4 9 X 3 9 10 2 10 11 M2 11 12 13 14 43
  • 54. Lokasi pabrik terbaik adalah lokasi yang memiliki total biaya transpor minimum(Minimum Isodapan). Dalam gambar diperlihatkan oleh titik A. Titik A tersebut terletakdi dalam isodapan $ 20. Biasanya titik total biaya transpor minimum ini tidak terletak disalah satu lokasi bahan baku ataupun di lokasi pasar hasil produksi, tetapi berada diantaranya (Intermediate Point). Lokasi intermediate A merupakan titik minimum relatif.Minimum karena dibandingkan dengan total biaya transport di titik-titik lainnya.Misalnya kalau di lokasi M1 maka biaya transport adalah $ 10 (dari M2) + $ 9 (dari C) =$ 19. Sedangkan di lokasi dipilih di M2 total biaya transpor menjadi $14 (dari M1) + $10(dari C) = $24. Di lokasi C total biaya transpor sebesar $10 (dari M1) + $8 (dari M2) =$18. Ternyata dalam kasus ini lokasi C memiliki total biaya transpor yang paling3.9. Lokasi Industri dengan Pasar Banyak dan Bahan Baku Banyak Dengan menggunakan metode peta isodapanes di atas kita dapat memecahkanmasalah yang lebih rumit, yaitu menentukan lokasi optimal dari industri yang berpasardan berbahan baku banyak. Sebagai contoh, misal pasar-pasar hasil produksi terdiri dariC1, C2, dan C3 dan sumber bahan baku terdiri dari N1, N2, dan N3 didatangkan darilokasi-lokasi M1, M2, dan M3. Komposisi penjualan produk adalah 20 % ke C1, 30 % ke C2 dan 50 % ke C3.Berdasarkan kaidah lokasi median maka biaya distribusi minimum kalau lokasi industridi C3, namun peta Isotims diperlukan karena dalam metode ini total biaya transporterdiri dari dua unsur, yaitu biaya angkut hasil produksi (Distrution Cost) dan biayainput, atau biaya perakitan (Assembly Cost). Kita dapat menggambarkan petaisodapanes (kurva-kurva dengan biaya transpor total sama) dan menentukan isodapanesminimum. Tabel 3.3: Standarisasi Biaya Bahan Baku N1 N2 N3 Unit bahan baku yang diperlukan untuk setiap 2 1 1 unit hasil produksi Biaya transpor per unit $ 0,50 $ 0,50 $ 2,00 bahan baku per 100 km Biaya transport per unit bahan baku yang $ 1,00 $ 0,50 $ 2,00 diperlukan per unit hasil produksi . Begitu pula tingkat biaya transport perunit produk yang diangkut adalah $ 4per 100 km. Dengan demikian dapat dihitung biaya transpor ke masing-masing pasar.Kalau dimasukkan biaya terminal, maka besarnya biaya terminal untuk masing-masingpasar akan terbagi secara sebanding. Hasil perhitungan ini, dapat dipakai sebagai dasaruntuk menggambarkan peta isotims pada sekeliling masing-masing pasar, danselanjutnya dijumlahkan untuk mendapatkan isotims biaya distribusi. Lokasi biayaterendah juga di C3, dimana biaya distribusinya mencapai $ 8,5 per unit. Dengan 44
  • 55. prosedur yang sama dapat digambarkan isotims untuk setiap bahan baku danmenjumlahkannya untuk mendapatkan peta isotims biaya perakitan. Dasar pembuatanpeta isotim diperlihatkan dalam tabel 3.3. Dari kedua isotims di atas, yaitu masing-masing untuk biaya distribusi dan biayaperakitan, dapat diperoleh isodapanes yang menggambarkan total biaya transpor.Caranya yaitu dengan menjumlahkan isotims biaya distribusi dan isotims biayaperakitan. Biaya transport total minimum akan berada dimana biaya tersebut mencapai$ 19,70 per unit hasil produksi. Maka lokasi industri ditempatkan di A. M1 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 M3 M2 Gambar 3.10: Isotims biaya perakitan yang dikombinasikan Bahan N3 yang didatangkan dari M3 memiliki biaya transport yang relatif tinggi, karena volumenya besar. Karena itu M3 memiliki Total Transport Cost yang minimum. M1 M3 Distribusi ke C = C3 50%, maka 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 20 A 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 berdasarkan prinsip lokasi median Total M2 C2 Transport Cost L minimum di C3 C1 Gambar 3.11 Peta Isodapanes (Penjumlahan Isotims Biaya Distribusi dan Perakitan) 45
  • 56. M1 M3 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 C3 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 C1 M2 C2 Gambar 3.9: Peta Isotims Biaya Distribusi yang Dikombinasikan3.10. Peranan Biaya Produksi Misalkan pada titik L terletak di sebuah kota dengan kondisi surplus tenagakerja. Dengan demikian upah buruh lebih rendah dibandingkan dengan di lokasi-lokasilain. Pertanyaannya sekarang, apakah dengan rendahnya upah buruh sebagai satuvariabel baru tersebut memungkinkan lokasi optimal yang semula di A akan berpindahke L? 46
  • 57. Pengusaha harus menghitung penghematan per unit output yang dihasilkannyasebagai pengaruh upah buruh yang lebih rendah itu, sebagai salah satu faktor efisiensi.Misalkan penghematan mencapai $ 10, maka L akan menjadi lokasi optimal untukmenggantikan A. Pada peta isodapanes dapat dibaca bahwa total biaya transport di L =$ 25,50. Ini berarti $ 5,80 lebih mahal dibandingkan dengan total biaya transpor di A,karena total biaya transpor di A = $ 19,70. Mahalnya total biaya transpor di L tersebutakan tergantikan oleh rendahnya upah buruh di lokasi L tersebut, yaitu sebesar $ 10.Jadi di L ada pengurangan biaya produksi sebesar $ 4,20 per unit produk. Misalkan lagi di lokasi T terdapat keringanan pajak sebesar $ 1 per unit produk.Apakah Pengusaha akan memilih lokasi A, L atau T? Jelas pengusaha akan tetapmemilih lokasi L, karena efisiensi di L = $ 4,20 lebih efisien, sedang di T hanya $1penghematannya. Pemilihan lokasi disamping dipengaruhi oleh faktor-faktor biayatransportasi untuk perakitan dan distribusi, juga dipengaruhi oleh: upah buruh, tingkatpajak, dan faktor-faktor lainnya, seperti kondisi iklim yang khusus, kaitan dengankegiatan-kegiatan usaha lainnya (faktor eksternalities), dan sebagainya. 47
  • 58. BAB IV EKONOMI PERKOTAAN4.1. Pendahuluan Dewasa ini ekonomi perkotaan sudah menjadi salahsatu spesialis ilmu ekonomi,yang disebut Urban Economics. Lahirnya spesialis ilmu ekonomi perkotaan ini tidakterlepas dari sejarah munculnya masalah perkotaan pada pertengahan abad ke-20,dimana kota-kota menjadi miskin, kumuh, dan macet dalam segala aspek kehidupan.Proses urbanisasi pada awalnya membantu pemecahan masalah pengangguran diwilayah pedesaan, dan sekaligus membantu pertumbuhan sektor industri dan jasa diwilayah perkotaan. Proses tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi mikro dan makro.Namun, dalam prosesnya lebih lanjut (dalam jangka panjang), urbanisasi justru dapatmenimbulkan masalah perkotaan, dimana pada waktu kota tidak mampu lagimenyediakan lapangan pekerjaan produktif kepada penduduknya yang semakin berlipatganda, dan pemerintah kota tidak mampu lagi memberikan pelayanan yang memadaikepada penduduk kotanya. Kemakmuran berubah menjadi kemiskinan, keindahanberubah menjadi kekumuhan, kelancaran/keteraturan berubah menjadi kemacetan. Sebelumnya, sebagian para ahli memandang ekionomi perkotaan sebagaibahagian dari ekonomi wilayah (Regional Economics). Kota sebagai bagian dari sestemwilayah yang tidak dapat dipisahkan dari wilayah yang lebih luas, yang terdiri darisubwilayah perkotaan (Urban Area) dan sub-subwilayah perdesaan (Rural Areas).Diantara kedua subwilayah tersebut, dilihat dari sistem ekonomi wilayah, salingmemberikan pelayanan satu sama lain. Ide pengembangan spesialis ekonomi perkotaandilandasi oleh kekhasan permasalahan perekonomian di wilayah perkotaan, seperti:pendapatan perkapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah perdesaan disekitarnya, lapangan pekerjaan yang lebih beraneka ragam, sifat pengangguran yangterbuka, nilai sewa lahan yang didasarkan kepada nilai bangunan dan aktivitas diatasnya, infrastruktur dan pelayanan yang lebih lengkap dan padat, dan sebagainya.Keberadaan spesialisasi ekonomi perkotaan tidak terlepas dari adanya kekhasan-kekhasan tersebut, dan adanya kebutuhan analisis bagi mendukung pengembanganekonomi di wilayah perkotaan itu sendiri. Ekonomi perkotaan, sebagaimana halnya ekonomi regional, meliputi studiekonomi mikro dan makro. Sebagai contoh, yang termasuk studi ekonomi mikro antaralain teori sewa lahan, teori lokasi berbagai aktivitas ekonomi dan komplek perumahandi dalam struktur tata ruang sebuah kota, dan sebagainya. Sedangkan yang termasukstudi ekonomi makro antara lain PDRB kota, PDRB perpekerja kota, PDRB perkapitakota, konsumsi rumah tangga kota, pajak kota, tabungan kota, investasi kota, ekspor –impor kota, tingkat pertumbuhan ekonomi kota, dan sebagainya. Kota didefinisikan sebagai sebuah wilayah atau subwilayah yang memiliki sifat-sifat khusus tertentu, antara lain tingkat kepadatan penduduk yang relatif tinggidibandingkan dengan wilayah atau subwilayah di sekitarnya, lapangan pekerjaan yanglebih beraneka ragam, pendapatan perkapita yang relatif tinggi dibandingkan denganwilayah atau subwilayah di sekitarnya, dan infrastruktur yang relatif lebih lengkap.Menurut John Frietmann (1979), kota merupakan inti (Core) dari sebuah wilayah,merupakan pusat dari semua aspek kegiatan penduduk wilayah. 48
  • 59. 4.2. Sifat-sifat Wilayah Perkotaan John Freedman dan Cleyde Wever dalam bukunya Territory and Function: TheEvaluation of Regional Planning (1979) membagi suatu wilayah atas Core danPeriphery. Core adalah pusat dari sebuah wilayah, sedangkan Periphery adalah wilayahdi sekitar core atau subwilayah di sekitarnya atau hinterlandnya. Core merupakan lokasipusat kegiatan atau lokasi pusat pertumbuhan kegiatan penduduk di suatu wilayahdalam semua aspek kehidupan, yang meliputi aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dankebudayaan. Oleh karena itu core merupakan pusat kegiatan dan perkembangan semuaaspek kehidupan penduduk wilayah, maka sifat-sifatnya dapat dibedakan dengan bagianwilayah yang lain (Periphery). Pertama, jumlah penduduk di lokasi tersebut persatuanluas wilayah (tingkat kepadatan) relatif lebih tinggi. Artinya bila tingkat kepadatanpenduduk tersebut dibandingkan dengan tingkat kepadatan penduduk di bagian wilayahyang lain di sekitarnya (di Hinterland-nya). Kedua, fasilitas pelayanan lebih lengkap.Yang dimaksud dengan fasilitas pelayanan adalah kemudahan-kemudahan bagimendukung aktivitas penduduk dalam berbagai aspek, yang meliputi pelayanan fisik(seperti: jalan, kendaraan umum, listrik, telepon), pelayanan ekonomi (seperti: pasar,perbankan, lembaga asuransi, dsb.), pelayanan sosial (seperti: sekolah, rumah sakit),pelayanan rekreasi dan sebagainya. Ketiga, struktur pekerjaan penduduk di wilayahperkotaan lebih beraneka ragam. Core adalah subwilayah perkotaan dari sebuah wilayahyang luas, sedangkan Periphery adalah subwilayah pedesaannya. Jadi dapatdisimpulkan bahwa suatu kota secara definitif sekurang-kurangnya haruslah memenuhitiga criteria tersebut di atas, yaitu menyangkut: kepadatan penduduk, struktur pekerjaanpenduduk, dan kondisi sarana dan prasarana pelayanan umum.4.3. Proses Tumbuh dan Berkembangnya Sebuah Kota Ada tiga teori tentang proses tumbuhnya sebuah kota, yaitu: (1) Teori yangmengatakan bahwa sebuah kota tumbuh dari proses perkembangan tempat-tempatperistirahatan dalam perjalanan. (2) Teori yang mengatakan bahwa sebuah kota tumbuhdari proses perkembangan lokasi transit (bongkar muat barang atau naik turunpenumpang) diantara jenis-jenis angkutan. (3) Teori yang mengatakan bahwa sebuahkota tumbuh dari proses perkembangan lokasi distribusi atau koleksi barang-barang danjasa-jasa di suatu wilayah yang subur. Kota yang tumbuh dari perkembangan pusat-pusat peristirahatan dalamperjalanan. Sebagai contoh dikemukakan bagaimana asalmuasal tumbuhnya kota-kotadi pesisir timur Amerika Serikat. Menurut sejarahnya kota-kota di wilayah tersebutbermula dari perkembangan lokasi-lokasi peristirahatan orang-orang yang melakukanperjalanan dengan kuda. Adanya orang-orang yang melepaskan lelah, kemudian disusuloleh adanya orang-orang yang mencoba menyediakan pelayanan, seperti warung,penginapan, dan sebagainya muncullah tempat-tempat yang kemudian berkembangmenjadi sebuah kota. Oleh karena itu jarak antara kota yang satu dengan yang lain diwilayah tersebut relatif dekat-dekat, yaitu seukuran dengan lelahnya kuda dan perludiistirahatkan. Analog dengan kondisi perkembangan sarana transportasi dewasa ini,kota-kota baru bisa tumbuh dan berkembang sepanjang jalan raya, sejauh supir-supirtruk/bus perlu beristirahat dan mengistirahatkan kendaraannya. Kota yang tumbuh dari perkembangan lokasi transit. Lokasi transit bisa terjadiantara kapal laut dan angkutan sungai, kapal laut dengan angkutan darat (pelabuhan). 49
  • 60. Lokasi pelabuhan juga bisa berkembang menjadi sebuah kota. Contoh lain, angkutan-angkutan jalan raya sering berhenti pada persimpangan-pesimpangan jalan masuk kepedalaman yang dilayani oleh kenderaan-kedaraan kecil, sado/delman, becak, gerobak,ojek, dan sebagainya. Lama-kelamaan persimpangan jalan tersebut berproses menjadikota, yang mula-mula tumbuh karena adanya kebutuhan penumpang yang melakukantransit akan barang-barang dan jasa-jasa (berbelanja) yang kemudian diikuti olehmunculnya pelayanan dari orang-orang yang ingin mencari keuntungan. Analog denganlokasi transit ini mungkin persimpangan jalan tersebut berupa sebuah muara sungaidimana angkutan laut dan angkutan sungai saling melakukan kegiatan transit, mungkinjuga lokasi pelabuhan laut, lokasi pelabuhan udara, persimpangan jalan arteri denganjalan kolektor/distributor dan sebagainya. Kota yang tumbuh dari perkembangan sebuah wilayah yang subur. Wilayahyang subur akan dimanfaatkan oleh penduduk, khususnya di sektor pertanian. Kegiatanproduksi di sektor pertanian ini akan terbentuk pusat pelayanannya, yaitu lokasi pusatpenyaluran hasil produksi pertanian dan tempat mendapatkan kebutuhan-kebutuhankonsumsi dan input-input produksi pertanian. Dari waktu ke waktu pusat pelayanan ituakan berkembang dan memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai sebuah kota. Dalam perkembangan sekarang ini mungkin saja antara dibangun dandikembangkannya sebuah kota dengan kebutuhan akan lokasi peristirahatan dalamperjalanan, dengan lokasi transit, dan lokasi pengembangan sebuah wilayah yang suburbisa terjadi secara bersamaan waktu. Sebagai contoh, di Indonesia, kota Palangkarayadibangun dengan direncanakan terlebih dahulu, artinya dibangun bersamaan waktudengan pembangunan/pembukaan hinterlandnya, yaitu pembangunan provinsiKalimantan Tengah. Palangkaraya direncanakan dan dibangun sebagai pusat kegiatanpemerintahan (politik) dan pusat pelayanan ekonomi, pusat pelayanan sosial dankebudayaan untuk Kalimantan Tengah. Sejarah lahirnya kota Palangka Raya tidak dapatdilepaskan dari peranan Presiden RI pertama, Bung Karno.4.4. Perkembangan Ekonomi Perkotaan Dewasa ini ekonomi perkotaan sudah menjadi suatu spesialisasi ilmu ekonomi.Bahkan sebagian para ahli berpendapat bahwa ekonomi perkotaan sudah merupakansuatu disiplin ilmu tersendiri (Sukanto dan Karseno, 1994). Para ahli yang berpendapatdemikian itu mendasarkan pandangannya kepada luasnya masalah kajian dalamEkonomi Perkotaan. Adapun masalah-masalah tersebut: (1) Masalah perkembangan danpertumbuhan ekonomi di wilayah perkotaan. (2) Masalah penganguran di wilayahperkotaan. (3) Masalah pendapatan di wilayah perkotaan, baik pendapatan kota maupunpendapatan perkapita penduduk kota. (4) Masalah pemanfaatan tanah (Land Use) dannilai tanah di wilayah perkotaan. (5) Masalah pengangkutan (transportasi) di wilayahperkotaan. (6) Masalah infrastuktur di wilayah perkotaan. (7) Masalah fasilitaspelayanan di wilayah perkotaan. (8) Masalah-masalah wilayah perkotaan lainnya yangkhas. Semua masalah ini dapat diangkat aspek ekonominya, sebagai suatu aspekekonomi yang khas, baik mikro maupun makro. Melalui pemecahan aspek ekonomi darimasalah-masalah tersebut diharapkan semakain berkembang pula Ilmu EkonomiPerkotaan (Urban Economics). 50
  • 61. 4.5. Aktivitas Masyarakat Kota Yang Multi Aspek Kota tidak saja merupakan konsentrasi kegiatan ekonomi tetapi juga konsentrasikegiatan semua aspek kehidupan manusia. Masalah ini merupakan suatu kerumitandalam pemecahan permasalahan ekonomi perkotaan. Aspek-aspek tersebut melahirkansejarah, kelembagaan, pandangan hidup, dan sebagainya yang khas. Sebuah kota dalam hubungan dengan tata ruang meliputi keterkaitan ke dalamkota sendiri, ke dalam wilayah, dan ke luar wilayah (intra regional relationship daninter regional relationship). Faktor tersebut memberikan dampak terhadap kondisi danlingkungan suatu kota, baik dampak yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.Dampak yang diharapkan, misalnya masuknya modal, tenaga kerja terampil danterdidik, serta teknologi yang lebih maju. Sedangkan yang tidak diharapkan misalnyamasuknya penduduk tenaga kerja kasar yang berlebihan (urbanisasi) dan modal(investasi) yang sporadis sehingga menimbulkan kemacetan di segala bidang danpencemaran. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh urbanisasi, setelah kota tidakmampu lagi menyediakan lapangan pekerjaan yang layak (lapangan kerja produktif)kepada penduduknya dapat menimbulkan kemiskinan, lingkungan pemukiman menjadiburuk (kumuh), kesehatan buruk, pendidikan buruk, transportasi tidak lancar,lingkungan tercemar, dan sebagainya. Tentang masyarakat kota, menurut Sukanto dan Karseno (1982), terdapat tigapandangan, yaitu: (1) Pandangan liberal, (2) Pandangan konservatif, dan (3) Pandanganradikal. Pandangan liberal dan pandangan konservatif bertolak dari hipotesis yang sama,yaitu; ―bahwa masyarakat memiliki lembaga-lembaga tertentu dan hubungan-hubungantertentu‖. Hubungan-hubungan tersebut memunculkan perilaku-peilaku tertentu darisatuan-satuan pengambilan keputusan, sepeti rumah tangga pekerja, badan usaha, dansebagainya. Masing-masing satuan masyarakat dan satuan kerja tersebut menyesuaikandiri. Putusan akhir individu-individu adalah pilihan masing-masing dengan atau tanpamemperdulikan lembaga-lembaga yang ada. Setiap orang bebas mengusahakankesejahteraannya dalam batas-batas tertentu. Terdapat pula kegiatan-kegiatanmasyarakat yang dikombinasikan, yang menghasilkan keseimbangan sosial yang stabildan dinamis. Postulasi dasar pandangan-pandangan tersebut meliputi: (1) adanyakeseimbangan dalam aspek sosial, (2) keseimbangan masyarakat dalam pengertianbebas dan komplek, dan (3) perubahan dalam masyarakat yang terjadi secara perlahan-lahan (evolusi). Pokok-pokok dari ketiga pandangan tersebut adalah sebagai berikut:(a) Pandangan konservatif, dengan pokok-pokok pandangannya: (1) pemerintah harusdibatasi kegiatannya, (2) mekanisme pasar diandalkan untuk mengalokasikansumberdaya secara efektif, efisien dan memberi hasil yang maksimal, (3)mengutamakan kebebasan individu dan keteraturan masyarakat.(b) Pandangan Liberal, dengan pokok-pokok pandangannya: (1) pemerintah harusmembagi kembali pendapatannya, (2) bila mekanisme pasar tidak memuaskankonsumen, pemerintah harus berbuat sesuatu untuk memperbaikinya, dan (3)pemerintah harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang tidak mampu diadakan melaluimeknisme pasar, misalnya fasilitas pertahanan keamanan.(c) Pandangan Radikal, dengan pokok-pokok pandangannya: (1) Struktur dan evolusimasyarkat kota tergantung modus produksi yang dominan (masyarakat kapitalis tidaksama dengan masyarakat feodal dan tidak sama dengan masyarakat sosialis). (2) Modusproduksi pada masyarakat kapitalis adalah organisasi buruh melalui kontrak-kontrak 51
  • 62. kerja. (3) Metoda organisasi produksi meliputi usaha-usaha produksi dan distribusi. (4)Hubungan produksi dan distribusi menentukan dinamika masyarakat (masyarakat selalumenambah kekayaan). (5) Oleh karena hubungan produksi dan distribusi menentukandinamika, maka orang selalu berusaha dengan menjadi pekerja. Kapitalis akan selaluberusaha menjadi dominan melalui akumulasi kekayaan lewat perusahaan. (6) Dinamikamasyarakat menjurus kepada berbagai reaksi: (a) mekanisme dan pembagian kerja ataumenghasilkan akibat-akibat yang tidak terkendali, (b) kapitalisme menimbulkan usaha-usaha sosialisasi kerja, mengakibatkan manusia saling tergantung, kelompok-kelompoksaling menghancurkan persaingan merajalela, (c) konflik masyarakat timbul dari hasratselalu ingin memperbesar kapasitas produksi. (7) Lembaga perlu diubah untuk dapatmelayani perubahan-perubahan yang timbul dalam masyarakat. Menurut Sukanto dan Karseno (1982), ketiga aliran tersebut ada di Indonesia.Tetapi berhubung sesuatu hal, tidak terlihat dengan jelas.4.6. Berkembangnya Sebuah Kota Sebuah kota lahir, kemudian tumbuh membesar dan mati. Apakah factor-faktoryang menyebabkan sebuah kota tumbuh dan membesar? Faktor-faktor tersebut adalahberkembangnya aktivitas penduduk kota dalam semua aspek kehidupan (utamanyakegiatan ekonomi), proses terkonsentrasinya kegiatan penduduk tersebut ke kota yangbersangkutan (Aglomerasi), yang kemudian diikuti oleh perpindahan penduduk dariwilayah pedesaan ke kota tersebut (Urbanisasi). Faktor-faktor yang menyebabkanterkonsentrasinya kegiatan ekonomi ke wilayah perkotaan tersebut ada empat. Pertama,adalah faktor Scale Economics. Artinya melakukan kegiatan usaha berproduksi diwilayah perkotaan dapat menerapkan sekala produksi yang besar, dapat memilih sekalaproduksi yang optimal, yang terkait dengan tujuan efisiensi (Economies of Sale),berdampak setidak-tidaknya dapat memenuhi volume penjualan minimum untuk pabrik-pabrik baru (Minimum Threshold). Kedua, adalah faktor Comparative Advantage.Artinya berproduksi di wilayah perkotaan lebih rendah biaya produksinya dibandingkandengan berlokasi di wilayah pedesaan. Alasannya, karena adanya fasilitas pelayanan,dimana fasilitas pelayanan tersebut dapat dibangun dengan sekala produksi yangoptimal dan dapat dipilih teknologi yang efisien. Ketiga faktor Proximity. Artinyakedekatan kota ke berbagai pasar input dan output. Jadi faktor tersebut dapat menekanbiaya transpor Inputs (Assembly Cost) dan biaya distribusi Output (Delevery Cost).Faktor kedekatan ini temasuk kedekatan dengan perusahaan-perusahaan lain yangterkait, atau yang disebut faktor Externalities. Keempat, faktor Amenities. Artinyafaktor kemudahan-kemudahan yang disediakan pemerintah kota untuk menarikinvestasi, dan penduduk ke kotanya. Contohnya pemerintah kota penyediaanInfrastruktur yang baik, keringanan pajak, termasuk pelayanan-pelayanan pemerintahyang bersifat Externalities bagi perusahaan. Pemerintah kota selalu memelihara kotanyaindah, aman dan nyaman. Industri memerlukan lahan lokasi. Lahan lokasi tersebut dipilih di mana yangpaling ekonomis. Lahan lokasi yang paling ekonomis bukan di lokasi yang harga atausewa lahannya paling rendah, tetapi di lokasi optimum (Optimum Location). Lokasioptimum adalah lokasi dimana titik kombinansi biaya sewa lahan dengan jumlah ouputmaksimum yang dapat dicapai perusahaan bersinggungan (Richardson, 1969). Lahankota relatif terbatas. Pemanfaatan input lain yang masuk ke wilayah kota dari waktu kewaktu semakin meningkat, sehingga nisbah (Ratio) input-input tersebut terhadap lahan 52
  • 63. semakin meningkat. Harga atau sewa lahan kota menjadi terus meningkat. Salah satukemungkinan dampaknya yang akan terjadi adalah memperluas aktivitas kota kepinggiran kota. Kondisi tersebut mempercepat pertumbuhan area kota. Lahan-lahanpertanian di sekitar kota berubah fungsi menjadi lokasi-lokasi industri. Lalu diikutidengan perubahan lokasi pemukiman kota. Proses tersebut dinamakan proses Penetrasi,yaitu proses desakan suatu sektor kegiatan terhadap sektor kegiatan lain. Prosesterdesaknya sektor yang relatif kurang mampu membayar sewa lahan oleh sektor yanglebih mampu. Lahan pertanian berubah fungsi menjadi lahan lokasi industri, lokasi jasadan lahan lokasi pemukiman penduduk kota. Perubahan fungsi ini mengakibatkan nilaiekonomis lahan meningkat tajam. Pemilik lahan menyukai dampak tersebut. Tetapi sisinegatifnya area lahan pertanian akan terus berkurang, produksi bahan makananberkurang, dan pengangguran buruh tani akan meningkat. Oleh karena itu untukmenghindari perkembangan wilayah kota yang tidak diinginkan tersebut diberlakukankebijakan tata guna lahan (Land Use) dan jalur hijau (Greenbelt) yang ketat. Begitu pula di dalam kota, terjadi penetrasi dari satu sektor/subsektor kegiatanke sektor/subsektor kegiatan yang lain, yaitu ke subsektor yang mampu membayarsewa lahan lebih tinggi. Subwilayah kota yang semula merupakan area perumahanpenduduk berubah menjadi area pertokoan. Subwilayah kota yang semula areaperkantoran atau industri berubah menjadi area pertokoan atau perhotelan. Ini terjadikarena kemampuan membayar sewa lahan dari masing-masing aktifitas/peruntukanbersaing. Kemampuan membayar sewa lahan ditentukan oleh kemampuan menciptakannilai tambah dari jenis kegiatan masing-masing. Kemampuan menciptakan nilai tambahditentukan oleh intensitas penggunaan lahan dan nilai sewa per m2 dari lahan tersebut.Kemampuan pedagang menyewa toko per m2/tahun atau kemampuan orang-orang yangsedang berpergian menyewa kamar hotel per m2 rata-rata per tahun jauh lebih tinggidibandingkan dengan kemampuan penyewa ruangan kantor, penyewa rumah tinggal.Apalagi kalau dibandingkan dengan kemampuan petani yang ingin memanfaatkannyauntuk pertanian. Terkait dengan jenis peruntukan wilayah itu sendiri memungkinkanperbedaan intensitas penggunaan, misalnya untuk peruntukan yang dapatmenggandakan luas beberapa kali dengan cara menjadikannya lokasi gedung bertingkat,atau gedung pencakar langit. Inilah faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahanfungsi lahan dan penetrasi lokasi peruntukan ruang di wilayah perkotaan dansekelilingnya dan faktor tersebut adalah faktor ekonomis. Biaya transport (Transport Cost) dan kegiatan penduduk akan menentukanbesarnya kota (City Size). Besarnya kota dan lokasinya yang seimbang akanmenentukan keunggulan lokasi (Comparative Advantage). Jadi, Proximities, ScaleEconomies, dan Comparative Advantage, merupakan faktor-faktor penawaran (SupplyFactors). Disamping itu ada pula faktor lain yang dilihat sebagai faktor permintaan(Demand Faktor) yang juga menentukan perkembangan sebuah kota, yaitu faktorAmenities. Faktor Amenities ini berupa kemudahan-kemudahan yang tersedia di sebuahkota, yang berfungsi sebagai daya tarik bagi warganya. Misalnya pemerintah kota yangbaik, fasilitas umum yang lengkap, lingkungan yang sehat dan baik karena bebas daripencemaran, adanya rasa aman dan sebagainya.4.7. Masalah Kota di Indonesia Masalah kota di Indonesia, menurut Sukanto dan Karseno (1982) lebih komplek.Menurut dia ada tiga masalah pokok yang dapat diidentifikasi, yaitu: (a) Masyarakat 53
  • 64. kota masih menonjol ciri-ciri masyarakat pedesaannya, seperti sikap acuh tak acuh. (b)Masih lemah dalam kesadaran hukum. (c) Juga, masih lemah dalam penegakan hukum. Sebagai contoh, bila ada suatu permasalahan yang menyangkut kepentinganumum, masyarakat cenderung tidak memperdulikan. Barang-barang kepentingan umumsering dirusak, bahkan dicuri. Aparat hukum cenderung memilih-milih masalah,bertindak jika diperintah, berperilaku ulur tarik, kurang ada kepastian, dan sebagainya.4.8. Perencanaan Penduduk Kota Jumlah penduduk kota tumbuh relatif cepat dan perlu direncanakan agarpertumbuhannya sebanding dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan dan berbagaipelayanan yang diperlukan. Angka pertumbuhan penduduk kota terdiri atas angkapertumbuhan alamiah dan migrasi. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan penduduk kotaumumnya jauh di atas rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk wilayahnya secarakeseluruhan. Faktor yang menyebabkan perpindahan penduduk desa ke kota meliputifaktor ekonomis dan non ekonomis. Memang, faktor ekonomis merupakan faktor yangutama (Todaro, 1994). Adapun faktor ekonomis tersebut adalah tingkat upah di kotayang relatif lebih tinggi, atau pendapatan perkapita di kota yang relatif lebih tinggi.Faktor non ekonomis antara lain pelayanan yang lebih baik di kota, seperti pelayananpendidikan, pelayanan kesehatan, hiburan, dan sebagainya. Di samping itu juga faktorrasa bangga tinggal di kota, faktor adat-istiadat yang relatif ketat di desa, faktorkeamanan yang relatif kurang terjamin di desa, dan sebagainya. Semua faktor tersebutbisa dikelompokkan sebagai faktor-faktor daya tarik (Pole Factors) dan faktor-faktorpendorong (Push Factors). Pada sisi yang lain penduduk memerlukan pekerjaan yang produktif, ataupekerjaan yang layak. Jika tidak, banyak angkatan kerja yang menjadi kurang produktif,bahkan banyak yang mengangur (tidak produktif), selanjutnya kota akan terjebakkepada kondisi kemiskinan. Kondisi kemiskinan tersebut akan berdampak padakekumuhan, kerusakan lingkungan, kemacetan lalu lintas, bahkan kemacetan dalamsemua aspek kehidupan (seperti kurangnya pelayanan, suburnya kriminalitas, dansebagainya). Untuk membangun dan memelihara kondisi kota yang baik perluperencanaan yang komprehensif, meliputi aspek tata guna lahan, aspek ekonomi, aspeksosial budaya, aspek hukum, dan aspek kependudukan. Untuk negara yang sedang berkembang, seperti halnya Indonesia, komposisirelatif penduduk kota terhadap total penduduk wilayah masih perlu ditingkatkan.Karena peningkatan tersebut terkait dengan tujuan perubahan struktur ekonomi dalamjangka panjang. Namun proses perubahannya haruslah terencana dengan baik, sebabjika tidak perkembangan kota bisa terjebak kepada masalah kerusakan yang fatal,masalahnya akan menjadi lebih kompleks, yang akhirnya akan membutuhkan biayayang jauh lebih besar untuk merehabilitasinya dibandingkan dengan biaya membangundan memeliharanya secara berencana. Di samping itu ada titik optimal jumlah penduduksebuah kota dikaitkan dengan tujuan pertumbuhan pendapatan perkapita wilayah(peningkatan standar hidup penduduk suatu wilayah) juga terkait dengan interval-interval pendapatan perkapita tertentu (Henderson, 1994). Di negara-negara majukomposisi relatif penduduk kotanya sekitar 80% dari total penduduk wilayah. Ini tidakberarti negara sedang berkembang lansung bisa menyamainya tanpa perencanaan secarakomprenesif dan hati-hati. 54
  • 65. 4.9. Pertumbuhan dan Perencanaan Penduduk Kota di Indonesia Kondisi penduduk di Indonesia dewasa ini masih perlu mendorong pertumbuhanpenduduk dan pembesaran kota-kota. Tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhandan perubahan struktur ekonomi, walau itu harus dilakukan dengan hati-hati. Artinya,aktifitas ekonomi di wilayah perkotaan perlu didorong dengan penawaran tenaga kerjayang cukup. Sektor-sektor ekonomi perkotaan (sekunder dan tersier) memang memilikitingkat pertumbuhan yang relatif tinggi dibandingkan dengan sector-sektor ekonomiperdesaan (primer) dan kalau didorong perkembangannya melalu rencana pembangunanakan meningkatkan pendapatan perkapita penduduk, mempercepat peningkatan standarhidup penduduk. Dengan keterkaitan yang baik antara kegiatan ekonomi perkotaan danpedesaan di sekitarnya maka akan mendorong pula peningkatan pendapatan rata-ratapenduduk pedesaan. Ini merupakan bagian dari rencana pembangunan, dimana dariwaktu ke waktu jumlah penduduk yang berdiam di kota-kota akan didorong ke arahyang semakin seimbang dengan kemampuan sektor-sektor ekonomi dalam memberikanpekerjaan yang produktif di keseluruhan wilayah (pedesaan dan perkotaan sebagai satukesatuan). Tampaknya apa yang diharapkan itu sedang terjadi juga di Indonesia, walauproses tersebut tidak merata di semua pulau atau wilayah . Sebagai contoh pada tahun 1980 jumlah penduduk di Indonesia yang tinggal diwilayah perkotaan hanya 18% dari jumlah penduduk nasional pada saat itu. Pada tahun1988 komposisi itu telah berubah, yaitu menjadi 71,5% yang tinggal di wilayahpedesaan dan 28,5% di wilayah perkotaan. Kalau dilihat berdasarkan wilayah-wilayahkomposisi penduduk kota tersebut tidak merata. Kalau wilayah-wilayah diidentikkanberdasarkan pulau-pulau besar, maka keadaan tahun 1988 adalah sebagai berikut: (1)Pulau Sumatra dengan jumlah penduduk 35,8 juta jiwa (20,38% penduduk nasional)memiliki komposisi penduduk desa berbanding penduduk kota 76,7 : 23,3; (2) PulauJawa dengan jumlah penduduk 105,8 juta jiwa (60,22% penduduk nasional) memilikikomposisi 66,6 : 33,4; (3) Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk 8,5 juta jiwa(4,84% penduduk nasional) memiliki komposisi 75,0 : 25,0; (4) Pulau Sulawesi denganjumlah penduduk 12,3juta jiwa (7,00% penduduk nasional) memiliki komposisi 83,0 :17,0; (5) Pulau-pulau Bali dan Nusa Tenggara (termasuk Timor Timur) dengan jumlahpenduduk 10 juta jiwa (5,69% penduduk nasional) memiliki komposisi 90 : 10; Pulau-pulau Maluku dan Irian Jaya dengan jumlah penduduk 3 juta jiwa (1,88 % penduduknasional) memiliki komposisi 82 : 18. Kalau dilihat wilayah berdasarkan wilayah-wilayah pembangunan utama, yaituberdasarkan konsep enam WPU adalah sebagai berikut: (1) Untuk WPU-A, yangmeliputi D.I. Aceh, Sumut, Sumbar, dan Riau dengan pusat pengembangannya Medanmemiliki jumlah penduduk 20,02 juta jiwa. Jumlah penduduk wilayah pedesaanberbanding jumlah penduduk perkotaan adalah 80 : 20; (2) Untuk WPU-B, yangmeliputi Jambi, Sumatra Selatan, Begkulu dan Lampung dengan pusatpengembangannya Palembang memiliki jumlah penduduk 15,81 juta jiwa. Jumlahpenduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk perkotaan adalah 79 : 21; (3)Untuk WPU-C yang meliputi DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta danKalimantan Barat dengan pusat pengembangannya Jakarta memiliki jumlah penduduk66,3 juta jiwa. Jumlah penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah pendudukperkotaan adalah 58 : 42; (4) Untuk WPU-D yang meliputi Jawa Timur, Bali,Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan pusatpengembangannya Surabaya memiliki jumlah penduduk 40,65 juta jiwa. Jumlah 55
  • 66. penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk perkotaan adalah 75 : 25; (5)Untuk WPU-E yang meliputi Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara,Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timurdengan pusat pengembangannya Ujung Pandang memiliki jumlah penduduk 19,51 jutajiwa . Jumlah penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlah penduduk perkotaanadalah 84 : 16; (6) Untuk WPU-F yang meliputi Maluku dan Irian Jaya memiliki jumlahpenduduk 3,28 juta jiwa. Jumlah penduduk wilayah pedesaan berbanding jumlahpenduduk perkotaan 82 : 18. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi komposisi pendudukwilayah perkotaan tidak homogen diantara pulau-pulau besar dan juga diantaraWilayah-wilayah Pembangunan Utama di seluruh kepulauan wilayah nasional. Padatahun 1988, komposisi penduduk kota di Pulau Jawa sudah mencapai 33,3%, sedangkanPulau Sumatra dan Kalimantan antara 23%-25%. Pulau-pulau Nusa Tenggara dan PulauSulawesi antara 15%-17%. Begitu pula untuk pulau-pulau Maluku dan Irian Jaya antara13%-23%. Kalau dilihat berdasrkan WPU-WPU, komposisi penduduk wilayahperkotaan WPU-C sudah sangat menonjol sudah hampir mencapai 42%. Kondisi inisangat dipengaruhi oleh wilayah urban Jakarta yang berkembang pesat dalam jumlahpenduduknya. Barangkali satu hal yang juga menarik diperhatikan adalah bahwa PulauKalimantan yang tergolong jarang penduduknya dan memiliki system transportasi yangrelatif kurang baik itu memiliki pola permukiman penduduk kota yang menonjol(25,21%). Dan yang paling menonjol adalah Provinsi Kalimantan Timur dimana 42,6%penduduknya telah berdomisili di wilayah perkotaan . Perlu juga diketahui, bahwa sampai dengan berakhirnya Repelita V, masalahstruktur perkotaan di dalam kesatuan wilayah nasional tidak memperlihatkan suatu polaterstruktur/berjenjang sebagaimana kecenderungan berdasarkan teori. Kota-kota tidaktumbuh terstruktur. Diperkirakan hal itu disebabkan oleh sejarah orientasi wilayah atauketerkaitan aktifitas penduduk dalam berbagai aspek kehidupan di masa lalu, antaralain sejarah sistem transportasi nusantara, polarisasi wilayah dalam salingketergantungannya, sejarah struktur kerajaan-kerajaan di nusantara, dan sejarahkekuasaan kolonial di masa lalu. Demikian pula pola pembangunan wilayah atau daerahselama Repelita, yang berlangsung lebih dari 25 tahun, dimana kota-kota dibangun lebihbanyak berorientasi kepada tujuan yang ingin diwujudkan dibandingkan dengan usahapengembangan potensi keterkaitannya secara alamiah. Disamping itu, masalah kelebihan penduduk (Over Populated) dari beberapakota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Ujung Pandangmemerlukan dana subsidi yang besar sekali untuk merehabilitasi kekumuhan dankesemerautannya. Pengertian kelebihan penduduk di sini dimaksudkan sebagai suatukondisi dimana terbatasnya kemampuan kota-kota tersebut untuk mendukungtersedianya lapangan kerja dan pelayanan yang layak bagi penduduk (lapangan kerja,fasilitas sosial, lingkungan yang sehat, dan sebagainya). Pertumbuhan kota-kota tersebuttidak didukung oleh potensi ekonominya yang riil secara mandiri. Hidup danperkembangannya sangat dipengaruhi anggaran subsidi. Pendapatan kota jauh lebihkecil dibanding pengeluarannya. Perencanaan pengembangannya tidak dikaitkandengan titik optimasinya. Anggaran biaya tahunannya lebih besar dari penerimaantahunan yang asli (Government Expenditure > Local Taxes). Ketahanan ekonomi kotadi Indonesia khususnya di masa Repelita sangat ditentukan oleh kemampuan subsidipemerintah pusat. Hal itu memang dimungkinkan pada periode-periode, dimana negarabanyak menerima pajak dan laba dari perusahaan-perusahaan minyak bumi dan gas 56
  • 67. alam yaitu periode 1974 samapi dengan 1983, dan lain-lain sumber yang tidak dikaitkandengan potensi ekonomi lokal.4.10. Aglomerasi Aglomerasi merupakan kondisi terkonsentrasinya berbagai aspek kegiatanpenduduk ke lokasi perkotaan/sekitarnya. Sedangkan aglomerasi ekonomi adalahkondisi terkonsentrasinya kegiatan ekonomi ke wilayah perkotaan/sekitarnya. JohnFriedmann membuat teori yang cukup jelas mengenai proses aglomerasi ini. Apabilasuatu wilayah dengan kegiatan ekonomi yang kecil-kecil dan tersebar di seluruhwilayah, kemudian dibangun jalur transportasi (fasilitas perhubungan) yang baik makakegiatan ekonomi yang kecil-kecilan dan tersebar itu akan menghilang dan akan munculkegiatan-kegiatan ekonomi yang berskala besar yang terpusat di suatu lokasi(terkonsentrasi). Ini terjadi sebagai akibat adanya daya tarik kota terhadap kegiatantersebut yang merupakan faktor ekonomis. x xx x x x xx x x x x x x xx xx xx x x x x x x xx x xx xx x xx xx x Gambar 4.1 Proses Aglomerasi Menurut John Friedman Keterngan: x = aktivitas ekonomi = kota -- = jalan Aktivitas-aktiviatas ekonomi yang semula tersebar, akan terkonsentrasi kesekitar kota jika wilayah diberikan infrastruktur transportasi, tanpa diikuti perencanaanyang komprehensif, karena faktor kedekatan kota (Proximity) meningkat. Lihat pula teori Hottelling tentang aglomerasi sepanjang garis.4.11. Program Anti Konsentrasi dan Pengendalian Pertumbuhan Kota Pertumbuhan kota perlu dibatasi, jangan sampai terjebak kepada kondisikelebihan penduduk (Over Populated). Untuk itu pembangunan bidang transportasi disuatu wilayah perlu diimbangi dengan pembangunan perekonomian di wilayahpedesaannya. Tujuannya adalah untuk memelihara pendapatan rata-rata pendudukwilayah (antara penduduk kota dan desa) relatif seimbang. Kesenjangan pendapatanrata-rata ini adalah faktor ekonomis, yang menurut Todaro merupakan penyebab utamaurbanisasi. Disamping faktor tersebut terdapat pula factor-faktor lain, sepertiterbatasnya fasilitas-fasilitas pelayanan dan kurangnya rasa aman di wilayah pedesaan. Urbanisasi yang tidak mampu diimbangi dengan kemampuan menyediakanlapangan pekerjaan dan berbagai pelayanan yang dibutuhkan di wilayah perkotaan akan 57
  • 68. menimbulkan kemiskinan dan kekumuhan kota-kota. Kemiskinan akan menimbulkanmasalah-masalah kota, baik yang berwujud fisik maupun sosial. Pada akhirnyapemerintahlah yang harus memikul biaya rehabilitasi yang sangat besar. Sebagaicontoh: rehabilitasi kawasan Cicadas di kota Bandung, pada masa Repelita,membutuhkan biaya samapi U.S $30 juta, yang bersumber dari pinjaman Asing, yangditangani oleh Bandung Urban Development Programme (BUDP). Dana sebesar itutidak memungkinkan di biaya dari sumber pemerintah kota Bandung sendiri. Problemayang dipecahkan oleh BUDP ini hanya sebahagian kecil dari problem kekumuhan kotaBandung, yaitu hilangnya sungai Cidurian di Kecamatan Cicadas, akibat pertumbuhanpenduduk yang berlebihan dan ketidak pedulian masyarakat terhadap kerusakanlingkungan. Proses membesarnya kota-kota dengan jumlah penduduk puluhan juta jiwa,terutama berlangsung di negara-negara sedang berkembang yang daya dukungkeuangannya lemah. Ini pernah dikemukakan oleh Lembaga Kependudukan A.Ssebagai rekomendasi hasil studi berkenaan dengan perkembangan penduduk kota-kotadi dunia. Kondisi tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya dan belum begitu disadarioleh negara berkembang itu sendiri. Salah satu cara mengantisipasinya, sepeti yangdikemukakan oleh Rondenelly adalah dengan membangun fasilitas yang lebih baik danlengkap ke kota-kota yang berstatus kota sedang dan kecil dalam struktur kota wilayah,agar arus urbanisasi dapat dibelokkan ke kota-kota sedang dan kecil tersebut. Namundalam kenyataannya pembangunan kota tidak selalu berjalan sesuai dengan ketentuanilmiah. Sebagai contoh, Menurut Henderson, adanya faktor favoritisme elit penguasa(eksekutif dan legislative) terhadap kota-kota tertentu dalam proses pembangunan. Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa faktor–faktor yang menyebabkanmembesarnya kota-kota yang relatif cepat meliputi faktor ekonomis dan non ekonomis.Faktor-faktor tersebut ada yang berfungsi sebagai Pole Factors dan Push Factors.Faktor ekonomis merupakan faktor yang dominan. Urbanisasi mempercepatpertumbuhan penduduk kota, mengingat tingkat pertumbuhan penduduk kotamerupakan penjumlahan dari angka pertumbuhan alamiah dan angka pertumbuhanmigrasi. Peningkatan jumlah penduduk kota berarti pertumbuhan kota. Karena,pertumbuhan kota ukurannya adalah pertumbuhan jumlah penduduk kota itu sendiri.Dibedakan dengan pertumbuhan ekonomi kota, yang berarti pertumbuhan output nyatakota, atau output nyata perkapita di wilayah kota, atau pertumbuhan output nyata pertenaga kerja di kota. Ukuran pertumbuhan kota dilihat pada tingkat kepadatan pendudukper satuan luas wilayah kota dan jumlah total penduduk kota itu sendiri. Inimenunjukkan adanya hubungan pertumbuhan kota dengan tingkat pertumbuhanurbanisasi.4.12. Beberapa Model Observasi Lokasi Pemukiman Kota Sebagaimana dijelaskan oleh H.W. Richardson (1969), bahwa kebanyakan ahlimenganalisis struktur tata ruang kota bertolak dari analisis sosiologis dan analisisekonomi. Pada umumnya mereka memusatkan perhatian pada teori nilai tanah danpemukiman. Berikut ini di kemukakan beberapa model (hasil penelitian empiris):4.12.1. Model Hawley 58
  • 69. Menurut Hawley sebaran lokasi perumahan dipengaruhi oleh beberapa faktor:(a) Nilai tanah (tingkat sewa lahan); (b) Lokasi berbagai kegiatan penduduk; (c) Biayadan waktu transportasi ke pusat kegiatan. Nilai sewa rumah ditentukan oleh faktor-faktor tersebut. Hawley menemukan sebuah paradoks yang menyangkut lokasiperumahan kota ini, yang disebut Paradok Hawley, yang berbunyi ‖Keluarga-keluargayang berpendapatan rendah bertempat tinggal di lokasi-lokasi yang memiliki nilai tanahyang tinggi, sebaliknya keluarga-keluarga yang berpendapatan tinggi tinggal di lokasi–lokasi yang memiliki nilai tanah yang rendah.‖ Kaum buruh yang berpendapatan rendah menginginkan tinggal di sekitar lokasitempat kerja mereka (di pusat-pusat kegiatan sosial dan ekonomi), mereka menghindaribiaya transport yang tinggi. Bagi mereka biaya transport menjadi pertimbangan pokokdalam memilih tempat tinggal, pelayanan transport termasuk kebutuhan pokok, danmerupakan biaya tetap pada anggaran belanja keluarga. Motivasi mereka bertempattinggal di sekitar lokasi tempat bekerja/kegiatan pelayanan adalah untuk menghindaripengeluaran biaya transport keluarga yang tinggi. Tanah disekitar pusat-pusat kegiatancenderung menjadi objek spekulasi. Orang-orang kaya cenderung tidak memilih tinggaldi lokasi tersebut. Sewa tanah menjadi pertimbangan pokok orang-orang kaya dalammemilih tempat tinggal. Mereka menginginkan lahan lokasi tempat tinggal yang relatifluas. Sewa tanah di sekitar lokasi aktivitas cenderung tinggi. Kondisi perumahan/lingkungan pada lokasi sekitar pusat kegiatan biasanyamenjadi kurang terawat, karena sewa yang mampu dibayar oleh golongan yangberpendapatan rendah relatif rendah pula. Oleh karena itu, kemampuan melakukanperawatan rendah. Rumah tangga orang-orang miskin cenderung padat atau berdesak-desakan. Sebaliknya dari apa yang terjadi di lokasi tempat tinggal orang-orang kaya,alternatif penggunaan lahannya di lokasi yang dipilih lebih terbatas. Oleh karena itunilai lahan di lokasi tersebut rendah. Fasilitas-fasilitas lingkungan kehidupan orang-orang kaya relatif baik, penggunaan lokasi diatur dengan baik, sewa tempat tinggaldibayar tinggi, kebalikan dari sewa tanah. Tempat tinggal orang-orang kaya cenderungmemilih lokasi di pinggiran kota.4.12.2. Model Alonso William Alonso tidak mendasarkan analisisnya pada dinamika pertumbuhankota atau pada kebiasaan-kebiasaan spekulasi. Namun dia merinci beberapa faktor yangmempengaruhi lokasi perumahan kota, yaitu: (a) Kuatnya pengaruh nilai tanah padapemilihan lokasi; (b) Permintaan lokasi bervariasi sesuai dengan besarnya pendapatan;(c) Lokasi perumahan orang-orang kaya relatif tidak dipengaruhi oleh faktor biayapulang pergi ke kota (Commuter Cost); (d) Aksesibilitas berperan sebagai komoditiinferior. Aksesibilitas merupakan faktor waktu tempuh, faktor biaya transport, danfaktor kepadatan/intensitas penggunaan lahan. Aksesibilitas tinggi adalah waktu tempuhrendah biaya transport rendah intensitas pemakaian yang tinggi. Jadi elastisitaspendapatan (Income Elasticity) untuk tanah tinggi. Sebaliknya elastisitas pendapatanuntuk aksessibilitas ke pusat kota negatif.4.12.3. Model Becman 59
  • 70. Becman mendasarkan asumsi pemilihan lokasi tempat tinggal kepadamemaksimalkan ruang tinggal, pengeluaran rata-rata keluarga dan biaya commuting.Biaya-biaya tersebut merupakan fungsi pendapatan keluarga yang linier. Ini dipakaisebagai dasar penyebaran rumah (pasar perumahan). Rumah tangga orang-orang kayacenderung berlokasi di luar kota.4.12.4. Model Wendt Model Wendt disebut juga model operasional. Menurut Wendt, lokasiperumahan ditentukan oleh ―keseluruhan nilai, yang dipandang sebagai selisih nilaisecara keseluruhan dari biaya-biaya yang diharapkan bagi amortisasi rate‖ Fx( P, Y , S , Pu, PI ) (T Cc Im Dim) V fx( I , R, Cg )dimana: V = keseluruhan nilai tanah kota; Fx = ekspektasi; P = penduduk; Y =pendapatan rata-rata; S = penawaran tanah yang bersaing; Pu = pusat daya tarik yangbersaing; PI = investasi pemerintah; T = pajak daerah; = sigma atau jumlahkeseluruhan; Oc = biaya operasi; Im = bunga modal yang diinvestasikan untukpembangunannya; Dim = penyusutan pada proyek-proyek pembangunan; i = tingkatbunga; R = resiko investasi; Cg = kemungkinan kapital gains (hasil-hasil modal) Wendt menentukan nilai-nilai teoritis diantara fakta-fakta yang mempengaruhikeseluruhan nilai tanah dan pengaruh-pengaruh tersebut menentukan lokasi. Unsurpenerimaan dan biaya merupakan fungsi dari macam penggunaan. Pada pemakaian disektor industri pelayanan akan mendasarkan unsur penerimaan pada volume penjualanyang diharapkan di lokasi alternatif yang dipilih dan biaya operasi pendistribusiannya.Industri akan membandingkan penjualan produk potensial dengan biaya produksi.Rumah tangga akan membandingkan nilai biaya dan manfaat, dibandingkan denganberbagai lokasi alternatif. Membandingkan biaya Commuting, pajak, biayapembangunan, dan sebagainya.4.12.5. Model Stevens Model Harbert Stevens (Linear Programming Model) ini memperlihatkanbagaimana lokasi perumahan disebarkan di suatu wilayah hunian dalam hubungannyadengan usaha memaksimalkan kepuasan dan jumlah sewa yang dikeluarkan rumahtangga. Dasar asumsi yang dibuat di sini adalah, bahwa setiap orang ingin mencobamemenuhi kebutuhannya dan dikaitkan dengan biaya-biaya yang diperlukan untukberbagai kebutuhan pada lokasi tersebut, serta anggaran rumah tangga yang tersedia.Diasumsikan orang-orang memiliki pengetahuan yang cukup tentang disain lokasi yangoptimal untuk rumah tangga berdasarkan kelompok pendapatan yang berbeda-beda.Diharapkan pula, bahwa disain (rencana) tersebut memperhitungkan daya tampung padamasing-masing lokasi. Harbert Stevens mendasarkan modelnya kepada 4 faktor, yaitu:(1) jenis rumah; (2) derajat kedekatan (Amenity); (3) Preferency aksesibilitas; dan (4)ukuran tempat tinggal. Kesulitan yang kemudian timbul dalam penerapan model ini adalah: (a)bagaimana mengetahui secara sempurna sejumlah preferensi (keuntungan/kemudahan)untuk faktor-faktor lokasi tersebut. Faktor-faktor tersebut harus dihimpun dari berbagai 60
  • 71. penelitian berdasarkan sampel-sampel dengan memperhitungkan tingkat pendapatanpenduduk yang berbeda-beda, kedekatan, sarana-sarana yang berbeda, ukuran tempattinggal yang berbeda dan sebagainya; (b) bila model ini digunakan untuk tujuanprediksi, diasumsikan pula tidak terjadi perubahan selera.4.12.6. Model Lowrey Asumsi pokok model Lowrey adalah bahwa lokasi kegiatan sudah given dantingkat kegiatan eknomi ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat eksogen. Distribusiperumahan secara relatif ditentukan oleh pusat-pusat pekerjaan. Ukurannya adalahdistribusi trayek yang ada (Trip Distribution Indicies), berdasarkan studi transportasiwilayah. Dia mengembangkan 13 zona kompleks perumahan, yang untuk setiapkelompok perumahan terdiri dari 11 cicin konsentrasi, dengan radius satu mil. Dihitungtrayek asal ke tempat bekeja (Work Trip Originating) yang tiba di terminal sebelahluarnya (batas/lingkaran tetangga). Di sini diasumsikan adanya keseimbangan kesempatan kerja antar zona yangdigambarkan dalam bentuk lingkaran-lingkaran. Penelitian tentang kondisi yang adauntuk berbagai studi bertujuan untuk memperkirakan kesempatan kerja pada masing-masing lokasi kerja dan ini penting sekali. Lowrey juga membuat model kedua yaitumenghitung kamapanan terhadap padagang-padagang eceran sebagai dampak trayekyang ada tersebut. Jadi populasi terhadap pedagang eceran dapat diperkirakan dan jugaterhadap jenis-jenis pelayanan lainnya.4.12.7. Model Artle Artle memperkenalkan dua model operasional untuk memperkirakan distribusispasial, yaitu: (1) Model Pendapatan Potensial (Income Potential Model); (2) ModelRegresi (Regression Model)4.12.7.1 Model Pendapatan Potensial Model ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat kemampuan berbagai jenispelayanan, misalnya toko-toko eceran di dalam sebuah kota. Mencoba membagi kota kedalam bagian-bagian persegi empat (zona-zona) yang seimbang. Asumsi dasarnyaadalah bahwa pendapatan keluarga pada setiap zona memiliki potensi pengaruh padazona yang lain dan pengaruh tersebut menurun bila jaraknya bertambah. Gij * Yj Rumusnya: iVj dijdimana: Gij = sebuah konstanta ; Yj = pendapatan kelurga-keluarga segi empat i, j; dij= jarak antara segi empat i dan j, yaitu jarak antara pusat zona i dan zona j; n =jumlah segi empat Artle meneliti kondisi yang ada dengan maksud dapat memperkirakanpengeluaran pada setiap pelayanan berdasarkan data input-output yang dikaitkan denganpotensi pendapatan agregatif (Income Potential Aggregate) masing-masing zona. Hasilperhitungan tersebut diunakan untuk memperkirakan penawaran pelayanan yang dipilih/diberikan masing-masing zona, sehingga ada keterpaduan antara zona yang satu dengan 61
  • 72. zona yang lain. Biaya variabel rata-rata (AVC) pelayanan tertentu sama di setiap zona.Lokasi perumahan dapat dipakai sebagai basis perhitungan potensi pendapatan.Perbedaan sewa yang tinggi di antara zona dapat diabaikan. Model ini memerlukan datayang banyak. Jika sulit memperoleh data, maka Artle mengusulkan model regresisederhana.4.12.7.2 Model Regresi Sederhana Model Regresi Sederhana Artle bertolak dari ukuran rumah tangga, ukurantempat tinggal, dan pekerjaan penduduk sebagai variabel bebas yang mempengaruhijumlah bentukan pelayanan di setiap zona. Rumusnya: N = a + bPr + cPw + Z Dimana: N = jumlah pelayanan yang didirikan setiap zona; Pr = ukuran tempattinggal penduduk setiap zona; Pw = ukuran pekerjaan penduduk tiap zona; a, b, c =konstanta-konstanta; z = besaran sisa Model ini masih dapat dikembangkan lagi dengan memperhitungkan tingkatsewa pada masing-masing zona dan biaya transpornya. Implikasi kedua model tersebutsangat berbeda. Model pendapatan potensial mengasumsikan bahwa tidak ada batasantar zona. Sedangkan pada model regresi trayek antar zona dapat diabaikan.4.13. Keterkaitan Wilayah Keterkaitan wilayah dalam ajaran teori ekonomi regional merupakan faktorpenting. Sebagai contoh, dalam kasus pembangunan Appalachia di Amerika Serikat,dimana 77% dari anggaran biaya pembangunan yang disediakan oleh pemerintah untukwilayah tersebut digunakan untuk membangun jaringan jalan raya. Dalam halketerkaitan wilayah ini berkaitan dengan keterkaitan wilayah tersebut ke luar(Interregional Connections) dan keterkaitan antar sub-subwilayah yang bersangkutan(Intraregional Connections). Melalui peningkatan keterkaitan tersebut diharapkanpermasalahan surplus dan defisit produksi diantara wilayah-wilayah atau subwilayahmenjadi terpecahkan. Di dalam sejarah perkembangan ekonomi makro keterkaitan wilayah ini telahmenjadi dasar bagi berkembangnya perdagangan yang saling menguntungkan baik antarwilayah maupun diantara sub-sub wilayah sendiri, baik yang disebabkan oleh adanyafaktor perbedaan yang bersifat mutlak ataupun perbedaan yang bersifat relatif, sepertiperbedaan sumberdaya, biaya dan keuntungan (Absolute Advantage maupunComparative Advantage). Perdagangan menumbuhsuburkan unit-unit usaha mencapai puncak-puncakspesialisasi, efisiensi dan manfaat ekonominya, dimana sumber daya serta teknologiyang digunakan diasumsikan tidak berubah. Semua pihak akan dapat mengambilmanfaat, dapat mengkonsumsikan barang-barang dan jasa yang lebih meningkat. Dariaspek spasial, pada tahap pengembangan perdagangan, melahirkan kota-kota yangefisien. Melalui seleksi tumbuhnya industri barang dan jasa, wilayah perkotaanmendorong peningkatan efisien penggunaan sumber daya dan peningkatan produktivitastenaga kerja. Sebagai contoh dapat dikemukan apa yang terjadi di Amerika Serikat pada awalabad ke-20. Menurut Samuelson (1980), pada awal abad ke-20 kota-kota di Amerika 62
  • 73. Serikat tumbuh dengan pesat dan urbanisasi dipandang sebagai suatu proses yang salingmenguntungkan. Namun pada sekitar pertengahan abad ke-20 arus urbanisasi sudahdipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, terutama sekali dalam pandanganpemerintah-pemerintah kota. Tingkat penghidupan di wilayah perkotaan tidak lagi dapatmempertahankan lingkungan yang indah dan sehat. Biaya pengadaan perumahan-perumahan umum membengkak dan subsidinya menjadi membengkak pula. Pemerintahkemudian mencoba memecahkan masalah ini pada akar penyebabnya yaitu kurangnyaperhatian pada kehidupan pedesaan di masa lalu. Pemerintah membuat kebijaksanaanuntuk membangun sektor pertanian melalui Landreform dan Research pertanian olehuniversitas-universitas. Kebijaksanaan itu berhasil meningkatkan produksi sektorpertanian tetapi belum berhasil memperbaiki taraf hidup di wilayah pedesaan. Olehkarena produksi yang melimpah, elastisitas permintaan produk yang inelastis,kesejahteraan petani justru merosot. Langkah lebih lanjut pemerintah mengembangkansistem pemasaran produk-produk pertanian. Beban subsidi kepada kota-kota yangmenjebak angaran pemerintah kemudian berhasil dikendalikan. Dalam pada itu pada sisiyang lain muncul pula gagasan untuk mengurangi arus urbanisasi ke kota-kota besaryang tidak efisien lagi, yang ditulis oleh Dennis A Rondenelly. Rondenellymenganjurkan agar di kota-kota sedang (sekunder) dibangun fasilitas-fasilitas yanglebih baik dan lokasi industri didorong ke kota-kota sekunder tersebut. Dengandemikian diperkirakan arus urbanisasi akan terbelokkan ke kota-kota yang berpendudukantara 100.000 sampai 300.000 jiwa. Hasil stusi di banyak negara berkembang menunjukkan bahwa pertumbuhanpusat-pusat metropolitan yang besar selalu menghasilkan Backwash Effect kepadawilayah sekelilingnya. Tricklingdown Effect yang diharapkan tidak terbukti, danmodernisasi kota gagal meningkatkan kesejahteraan golongan miskin, khususnyamereka yang berada di pedesaan. Keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi telahmenyedot pendapatan wilayah pedesaan (Capital flight from rurals to urbans) terbuktisebagai suatu kenyataan. Dikatakan pula bahwa rencana-rencana pembangunan di negara-negara yangsedang berkembang, yang dimulai sekitar tahun 1970-an telah melupakan kebijakan-kebijakan yang bertujuan mengurangi kemiskinan melalui perencanaan tingkatpertumbuhan regional yang wajar dan tidak berusaha menghindari tumbuhnya wilayah-wilayah konsentrasi penduduk yang besar tersebut. Padahal sejak tahun 1950-ankeseimbangan penduduk antara wilayah perkotaan dan pedesaan telah berada padakondisi yang tidak menguntungkan bagi negara-negara yang sedang berkembang itusendiri, dimana rata-rata pertumbuhan penduduk kota mereka mencapai 4% pertahun. Pada tahun 1978 lembaga Demografi Amerika Serikat pernah mengadakanpenelitian terhadap 116 negara yang kesimpulannya terbukti bahwa pada umumnyapemerintah negara-negara berkembang tidak puas dengan tata ruang penyebaranpenduduknya (yaitu 68% menyatakan sangat tidak puas dan 42 % menyatakan setengahtidak puas). Didorong oleh pernyataan tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Duniadan Amerika Serikat berusaha mendorong usaha-usaha peningkatan peranan kota-kotasekunder, karena diperkirakan bahwa negara-negara sedang berkembang akan memilikilebih banyak kota-kota metropolitan dengan penduduknya jauh lebih besardibandingkan penduduk kota metropolitan di negara-negara maju sendiri. Diperkirakan61 kota metropolitan akan tumbuh di negara-negara sedang berkembang pada tahun 63
  • 74. 1990-an. Padahal di lain pihak negara-negara yang sedang berkembang sangat terbatasdalam kemapuannya untuk memelihara kondisi kota yang layak. Untuk membantu memecahkan masalah tersebut ditawarkan empat gagasankepada para perencana di negara-negara sedang berkembang, yaitu: (1) Mengurangikesenjangan antar wilayah melalui rencana pengembangan kota sekunder, melaluipenyebaran manfaat urbanisasi yang lebih kecil dan tersebar. (2) Mendorongperkembangan ekonomi pedesaan melalui rencana pengembangan kota sekunder dalambentuk usaha memberikan pelayanan dan pemasaran barang-barang pertanian untukmendorong penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak di sektor pertanian. (3)Mengusahakan peningkatan kapasitas administrasi untuk kota-kota sekunder. Dalamrangka mengorganisir pelayanan pertumbuhan produksi yang lebih efisien, danmenangani proses desentralisasi bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunanwilayah. (4) Berbarengan dengan usaha-usaha tersebut dilakukan pula pengurangantingkat kemiskinan di kota yang telah terlanjur membesar dengan cara meningkatkanproduktivitas tenaga kerja melalui pengorganisasian masyarakat perkotaan. Pada akhir uraian tersebut diakui pula bahwa perkembangan pembangunanregional di negara-negara yang sedang berkembang masih belum baik.4.14. Pembangunan Wilayah di Negara-Negara ASEAN Menurut Prantilla (1981), dari enam negara-negara ASEAN (pada waktu itu)empat diantaranya telah memasukkan pembangunan regional ke dalam rencanapembangunan nasionalnya, yaitu Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia. Keempatnegara ini memiliki bentuk dan bobot permasalahan yang berbeda, potensi sumber dayayang berbeda, kondisi geografis yang berbeda, posisi strategis yang tidak persis sama,dan kebijaksanaan yang berbeda termasuk dalam hal sistem perwilayahannya. TernyataMalaysia relatif kecil permasalahan disparitas interregionalnya dan memilikipendapatan perkapita yang paling tinggi diantara keempat negara tersebut. Malaysiatidak membuat perwilayahan pembangunan, mereka membagi wilayah-wilayahnyaberdasarkan negara-negara bagian yang sembilan, perencanaan regional terkonsentrasike pusat. Thailand membagi wilayah nasionalnya kepada empat wilayah pembangunan,dengan main sektornya hanya pertanian, khususnya beras. Sedangkan Philipinamembagi wilayah nasionalnya atas 12 regions, dan satu diantaranya adalah regionmetropolitan Manila. Regionalisasi di Philipina dibuat dengan jelas dimanapengorganisasiannya oleh lembaga-lembaga perencanaan disesuaikan dengankebijaksanaan regionalisasi. Di Indonesia, selama periode Repelita-I, belum begitu berdasar regionalisasinya,akan tetapi dinilai sangat menonjol pembangunannya karena ditunjang sumber dayapertambangan seperti minyak bumi, gas alam dan sebagainya. Telah diperkenalkanempat Wilayah Pembangunan Utama (WPU) pada Repelita II, dan berkembang mejadilima WPU sejak Repelita III, yang menurut Prantilla regionalisasi di Indonesia tidakmemiliki alasan-alasan ekonomi yang cukup kuat, hanya sekedar menentukan pusatpertumbuhan di samping Jakarta. Belum begitu terlihat adanya sifat-sifat(characteristics) dari masing–masing wilayah yang spesifik, baik dilihat dari kandungansumber daya alam (Natural Resources) maupun dari segi penduduk (Human Resources)sehingga tidak mudah dipilih main sector alternatif untuk dikembangkan dan dikaitkandengan pasar domestik dan dunia dalam suatu keterkaitan yang saling membutuhkandan efisien, atau adanya manfaat Comparative Cost atau Cooperative Advantage. 64
  • 75. Pembagian lima wilayah dan pusat pertumbuhan tersebut belum memperlihatkanadanya alasan-alasan teoritis maupun praktis yang dapat memberikan manfaat kepadapembangunan daerah ataupun nasional untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomiyang lebih tinggi dan pemerataan diantara daerah-daerah, untuk memperluaskesempatan kerja di wilayah-wilayah kekurangan lapangan pekerjaan, untukmemperkokoh kestabilan ekonomi nasional jangka panjang, dan untuk memeratakankegiatan ekonomi ke seluruh pelosok tanah air. 65
  • 76. BAB V STRUKTUR TATA RUANG KOTA5.1. Pendahuluan Bab ini akan memusatkan perhatian kepada teori ekonomi di dalam struktur tataruang kota. Bagaimana susunan tata ruang kota, baik kota besar ataupun kota kecil,ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi. Pengaruh kekuatan-kekuatan ekonomitersebut jelas terlihat pada waktu mendiskusikan faktor-faktor minimalisasi biaya danaksessibilitas. Masalah ini memang perlu didiskusikan, untuk mendapatkan pengertiankonprehensif tentang struktur kota-kota modern, membatasi asumsi-asumsi pasar bebas,dan mengkaji berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah, berkenaan denganperencanaan kota dan pelayanan umum. Sarjana ekonomi sendiri tidak mungkin mampumemberikan semua jawaban yang lenkap terhadap problema yang seperti itu, di sinidiperlukan analisis yang bersifat lintas spesialisasi ilmu (Interdisipliner).5.2. Minimalisasi Biaya Ruang Bertolak dari prinsip-prinsip dan sifat-sifat dari bagian-bagian ruang kota yangberbeda, telah mendorong lahirnya usaha untuk mengendalikan struktur tata ruang kota,meminimalisasi biaya dari bagian-bagian kota tersebut, diterima secara umum, sertalazim dilakukan secara sistimatis oleh pemerintah. Pertama kali definisi ini dibuat olehR.M. Haig (1920-an), kemudian dilanjutkan oleh Dorau dan Hinman, Ely danWehrwein, Roteliff, dan terakhir oleh Gutenberg dengan berbagai modifikasi. Bagianpokok dari teori tersebut adalah dimana ―Organisasi kota menggambarkan apa yangdilakukan oleh rumahtangga - rumahtangga dan perusahaan-perusahaan, atau yangdisebut ―bagian-bagian ruang‖ (Friction of Space). Biaya transportasi merupakan salah satu unsur biaya dari bagian-bagian ruangtersebut. Transportasi merupakan suatu alat pemecah bagi terbagi-baginya ruang kota,dan jaringan transportasi yang lebih efisien membuat biaya transpor lebih rendah danruang-ruang kota akan menjadi kurang terpecah-pecah kepada bagian-bagian kota, danlebih mudah terintegrasi satu sama lain. Sewa lahan diperhitungkan ke dalam biayamasing-masing bagian ruang kota, dan dengan demikian dapat diperoleh manfaat daribiaya transpor (Transport Cost Saving). Haig melanjutkan pikiran-pikiran majuR.M.Hurd. Studi R.M.Hurd yang meliputi 50 kota di Amerika Serikat, dan memasukkananalisis von Thunen, yang dikenal dengan analisis model pertanian (AgriculturalModel), sebagai awal dari perluasan model analisis nilai lahan untuk konteks perkotaan.Hurd menyimpulkan bahwa nilai lahan tergantung pada kedekatan (Proximity).Sedangkan von Thunen mengatakan bahwa sewa lahan akan semakin tinggi jika lahantersebut semakin dekat dengan pusat kota, karena alat pemuas (fasilitas) yang palingbanyak hanya dapat diperoleh di pusat kota, oleh karena dari bagian-bagian ruang kota(Friction of Space) pusat kota lebih menguntungkan dalam hal tenaga kerja dan waktu. ―Biaya dari bagian-bagian kota‖ meliputi: (a) biaya transpor, dan (b) sewatempat (dalam hal ini merupakan pengurangan dari biaya transpor juga), artinya sewa(r)↑ maka biaya transpor (T) . Sumbangan Haig dalam teori ekonomi tata ruang kotaini adalah menghubungkan kedua unsur biaya tersebut secara tegas. Bagaimanapunjumlah dari kedua unsur biaya tersebut tidak dilihat sebagai sesuatu yang tetap(Constant). Artinya, berbeda lokasi berbeda pula unsur-unsur biaya tersebut. Di dalam 66
  • 77. teori lokasi optimal untuk suatu kegiatan, biaya dipengaruhi oleh tingkat aksessibilitas.Tata letak kota ditentukan oleh prinsip-prinsip di atas. Jadi, bertolak dari logika bebastentang balas jasa, pasar tanah perkotaan merupakan pegangan di dalam cara mengelolaruang, atau biaya bagian-bagian ruang yang dihasilkan oleh keseluhan sewa tanahminimum dan biaya transpor kota. Bagaimana biaya-biaya harus diminimalkan,termasuk pengurangan faktot-faktor yang dapat mengurangi kegunaan (Disutility)perjalanan. Perbaikan-perbaikan ini menjadikan hipotesis lebih realistis, tetapi adakelemahan dilihat dari sudut kemampuan pelaksanaan, dikarenakan sebagian besarmasalah-masalah yang dimasukkan ke dalam penentuan nilai untuk suatu jangka waktuyang amat pendek (A Momentary Term) menjadi rendah kegunaannya. Berdasarkan formulasi semula, teori tersebut mengandung sejumlah kelemahan.Haig tidak menjelaskan bagaimana meminimalisasi biaya bagian-bagian ruang kota olehrumah tangga atau perusahaan untuk minimalisasi biaya-biaya agregat di seluruh kota.Apabila potensi penerimaan (Revenue) berbeda-beda di satu tempat dengan tempat yanglain, dan tujuan perusahaan memaksimalisasi laba, biaya dari bagian-bagian ruang kotaakan merupakan salah satu dari sekian banyak unsur biaya yang harus dikalkulasi dalampendekatan biaya dan penerimaan di setiap lokasi. Jadi hipotesis tersebut lebih mungkinditerapkan pada industri-industri pengolahan di dalam persaingan sempurna daripadasebuah toko eceran. Minimalisasi biaya dari bagian-bagian ruang kota hanya sebagaisebuah ukuran lokasi kerja di dalam kasus yang istimewa dimana penerimaan-penerimaan dan biaya-biaya yang lain semuanya konstan. Hipotesis tersebut jugakurang menjabarkan perilaku rumahtangga-rumahtangga dalam mencapai kepuasan.Biasanya rumahtangga memilih tempat untuk memaksimalkan kepuasan merekadibandingkan dengan meminimalkan biaya bagian-bagian ruang kota. Sebuahrumahtangga dapat menekan unsur sewa dari biaya-biaya bagian ruang dengan memilihukuran rumah yang lebih kecil. Apabila pilihan-pilihan untuk ukuran tempat tidakdiikutsertakan, dan biaya-biaya bagian ruang kota menjadi satu-satunya penentu lokasiperumahan, maka perumahan akan cenderung berjarak sangat jauh dari pusat kota. Menurut Haig prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan pada perencanaan kota.Fungsi perencana kota adalah menyeimbangi akibat-akibat dari ketidakbebasan pasar,yang dapat meningkatkan biaya dari bagian-bagian ruang kota, dengan merencanakanbiaya bagian-bagian ruang tersebut menjadi minimum. Tetapi benarkah asumsi-asumsipasar bebas dan informasi yang lengkap tersebut pasti terjadi, dimana hasil akhirnyabiaya-biaya dari bagian wilayah tata ruang secara keseluruhan menjadi minimum? Hanya sedikit contoh kasus yang memperlihatkan bahwa ini salah. Jika tuantanah telah memiliki pengetahuan menyeluruh ia mungkin akan menetapkan sewa tanahyang lebih rendah daripada menetapkannya sesuai dengan prosedur pasar bebas, hargatanah menjadi lebih rendah dibandingkan dengan harga yang ditentukan denganmekanisme pasar bebas. Ini karena para penawar cenderung berkurang dengan semakinjauh lokasi lahan dari pusat kota, dan ini diatur di dalam sistem pasar tersebut. Pada sisilain, harga-harga akan cenderung diturunkan pada bagian-bagian ruang kota dimanazona tersebut tidak jadi diusahakan, atau dibatalkan pengusahaannya. Biaya keseluruhanbagian-bagian ruang kota dapat dinaikkan atau diturunkan tergantung pada elastisitasharga permintaannya. Suatu pengaturan lokasi yang maksimum di seluruh kota pastiakan menurunkan biaya dari bagian-bagian tata ruang kota. Akhirnya, akibat dariperbedaan-perbedaan pada tingkat penyesuaian dapat mengubah keadaan dan dapat jugamemberi akibat pada biaya dari bagaian-bagian ruang kota. Sebagai misal, apabila Aadalah seorang penawar yang lebih tinggi untuk suatu lokasi tertentu, tetapi lokasi ini 67
  • 78. pernah ditingalkan B sebagai pengontrak lama, A mungkin membandingkannya denganbeberapa lokasi yang lain. Si A membuat pilihan diantara lokasi yang dekat atau yangjauh dari pusat kota, antara kapling kecil atau besar, dan pilihannya itu dipengaruhioleh biaya-biaya pada bagian-bagian ruang masing-masing. Misalkan biaya dari bagian-bagian ruang yang dipilih A tersebut lebih besar dari lokasi yang dikuasai B. Kemudianbiaya pemeliharaan bagian ruang si A tersebut lebih besar dari yang dikeluarkan si B.Apabila biaya bagian ruang A dikeluarkan lebih besar maka itu berarti menambahkeuntungan (Saving) bagi si B. Si B membayar sewa lebih rendah dan si A akanberkeinginan untuk membayar lebih rendah dari nilai kontrak tersebut. Biaya dari bagian-bagian ruang secara agregat biasanya cenderung turun daripada naik. Apabila tekanan biaya tersebut sampai kepada batas minimumnya, hipotesisminimalisasi biaya-biaya dari bagian ruang tersebut akan diletakkan kepada situasi-situasi yang luar biasa. Sebagai contoh, seorang perencana kota menargetkanminimalisasi biaya tersebut sendiri seperti memadatkan rumah-rumah yang dibangunpada kepadatan fisik yang maksimum di sekitar pusat kota dan membuat peraturan-peraturan yang menakutkan semua industri konstruksi dan perdagangan, dengandemikian menurunkan biaya bagian-bagian ruang di sektor ini hingga nol. Akan tetapiakankah suatu bentuk ruang yang seperti ini sesuai dengan perilaku maksimalisasikepuasan individual? Prinsip minimalisasi biaya bagian-bagian ruang mungkinmerupakan suatu unsur penting di dalam penjelasan struktur tata ruang sebuah kota.5.3 Lingkungan Kota Lingkungan kota juga merupakan suatu pendekatan hipotesis dari biaya-biayaminimum suatu bagian ruang kota, disesuaikan untuk mengangkat biaya-biaya variabelnon-ekonomi, seperti misalnya nilai tanah. Rumusan-rumusan distribusi ekologi danunit-unit pasar cenderung menjadi sedemikian rupa, dimana biaya total dari perolehan-perolehan kepuasan maksimum diminimalisir. Biaya tersebut telah tertera dalam suatudaftar, termasuk semua jenis kehilangan kegunaan (Disutility) seperti halnya biayaekonomi dan lain-lain bentuk biaya. Jelasnya, karena kehilangan kegunaan tidak dapatdiukur dalam terminilogi moneter, maka hipotesis dalam bentuk ini tidak dapat diuji. Suatu pembatasan kembali apa yang disebut terakhir dari teori minimalisasibiaya dari bagian-bagian ruang kota telah pernah dicoba oleh Guttenberg, tetapi diamenekankan pada pentingnya efisiensi transportasi di dalam penentuan struktur tataruang sebuah kota, dan rumusan-rumusan model ini disajikan dalam terminilogi yangdinamis. Dia melihat prinsip pengorganisasian adalah ―suatu upaya masyarakat dalammengatasi jarak‖. Guttenberg membagi kemungkinan lokasi kegiatan kota ke dalam duabagian, yaitu: bagian yang fasilitasnya disebarkan ke seluruh kota ―penyebaran fasilitas-fasilitas‖, dan bagian yang fasilitasnya dipusatkan lebih banyak pada satu pusat tertentu―pemusatan fasilitas-fasilitas‖. Tingkat campur tangan pemerintah pada disebarkan atautidak disebarkannya fasilitas-fasilitas tersebut tergantung pada efisiensi sistemtransportasi. Biaya transpor adalah penentu utama tingkat biaya bagian-bagian ruangkota, oleh karena itu suatu sistem transpor yang efisien sama dengan keberhasilan usahamasyarakat mengatasi jarak, dan memungkinkan suatu struktur kegiatan yang terpusat.Sebaliknya apabila transportasi terbatas, tempat-tempat kerja, pusat-pusat pelayanan,lembaga-lembaga perdagangan dan pemerintah dapat diasumsikan mengikuti suatu polayang tersebar. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam efisiensi tranportasi akan 68
  • 79. merubah pola struktur tata ruang oleh substitusi perizinan antara lokasi ruang pinggir(Periphery) dengan lokasi pusat (Centre).5.4 Perilaku Konsumen Secara Spatial dan Lokasi Perdagangan Eceran Menurut H.W Richardson, dengan berpedoman pada kegiatan toko eceran dapatdiperluas generalisasi-generalisasi empiris tentang struktur tata ruang kota, khususnya didalam konteks sebuah wilayah metropolitan. Penjualan perkapita lebih tinggi di pusatkota dibandingkan dengan di zona-zona (bagian-bagian) kota lainnya. Di luar sebuahradius dengan jarak 20 mil penjualan perkapita akan mulai meningkat lagi, sebagairefleksi dari pengaruh pusat perkotaan lainnya. Pola ini menggambarkan kekuatan kotabesar yang cenderung menarik para pembeli dari zona-zona tetangga. Bagaimanapunjarak yang lebih besar memecah tata ruang kepada zona-zona yang lebih kecil, trayek-trayek yang lebih jauh ke pusat kota akan berfungsi sebagai penyekat untuk melindungipusat-pusat lain dari persaingannya dengan pusat kota. Oleh karena itu faktor jarakmemastikan penjualan yang lebih tinggi untuk zona-zona pinggiran kota, dan untukkota-kota kecil yang tersebar, serta kota-kota besar dimana jarak trayek dari kota-kotabesar tersebut ke pusat-pusat toko eceran hinterland-hinterland-nya masing-masingcukup jauh. Hasil-hasil penelitian juga memperlihatkan berbagai kejelasan tentangjenis-jenis jarak di dalam pengalaman individu. Pusat utama tersebut dikhususkan padatoko-toko secara umum dan kelengkapan informasi dari bagian-bagian pinggiran kotapada barang-barang tahan lama (Durable Goods) umumnya. Sedangkan pakaian,barang-barang perhiasan, makanan, surat kabar, tembakau dan sejenisnya, biasanyadijual lebih tersebar. Di dalam sebuah analisis konseptual, yang didasarkan pada faktorjarak, disebutkan bahwa jarak akan membantu menjabarkan pola spasial yang luas padaaktivitas perdagangan eceran. Suatu pendekatan analisis untuk masalah yang seperti ini adalah apa yangdikenal dengan Gravity Potential Models, satu pendekatan yang paling tua digunakan,yang sekarang disebut model-model Gravity untuk trayek perdagangan eceran. Ini pulayang disebut hukum Rielly tentang gravitasi perdagangan eceran (Retail Gravitation),suatu bentuk trayek detil yang diperlihatkan oleh sebuah kota dari kebiasaan-kebiasaanindividual lokasi kota dengan wilayah hinterland-nya dalam proporsi yang sebandingdengan ukurannya (jumlah penduduknya) dan pada inverse penduduk terhadap jarakyang memisahkan sebuah zona rival dari pusat kota. Cakupan jarak area pasar tersebutdiantara dua pusat x dan y yang bersaing untuk penjualan di pusat-pusat perbelanjaan disebuah hinterland, yaitu: Px / dbx2 = Py / dby2dimana P adalah jumlah penduduk, dan dbx dan dby adalah jarak-jarak dari pusat areadalam bentuk segi enam dari subwilayah-subwilayah x dan y. Hukum Reilly adalah sebuah model khusus dari model gravity yang umum.Model tersebut adalah suatu model yang digeneralisasi, yang dapat diekspresikan didalam terminologi sebagai berikut: Fit = K (Adα / dijβ)dimana: Fij = frekuensi yang diharapkan dari interaksi antara titik asal dan titik tujuan;A= Atraksi dari zona tujuan j; dij = jarak antara zona i dan zona j; K = sebuah konstantaα dan β = parameter-parameter yang eksponensial, nilai yang diperkirakan. Di dalam konteks perdagangan eceran, bentuk interaksi potensial diantaraseorang konsumen dan sumber daya perdagangan eceran tersebut (toko secara 69
  • 80. individual, dan sebagainya), sebuah pusat perbelanjaan pada sebuah wilayah perkotaansecara langsung bervariasi dengan ukuran masing-masing sumber daya, berbandingterbalik dengan perbedaan jaraknya dari titik-titik asal para konsumen. Sebuah modelgravity jenis ini dapat digunakan untuk menjelaskan kenyataan bahwa pusat pertokoanyang lebih luas menarik langganan lebih banyak dibandingkan dengan pusat pertokoanyang kecil, dan memperlihatkan bagaimana kekuatan tersebut digambarkan untukmasing-masing pusat pertokoan dikurangi dengan faktor kenaikan jarak. Nilai masing-masing model ini akan tergantung pada prediksi kekuatannya, akantergantung pada bagian umum model yang diterapkan, akan tergantung pada masalahempiris seperti bagaimana mengukur A dan d, dan bagaimana memperkirakan α dan β.Ini adalah pertanyaan untuk metodologi penelitian, oleh karena itu tidak didiskusikanlebih lanjut di sini. Meskipun, masalah metodelogi ini berpengaruh kepada semuabagian dan permasalahannya relatif sedikit, tetapi perlu sekali kejelasan terhadappertanyaan empirisnya. Bagaimana akan diukur daya tarik dari pusat kota dan apaukurannya? Di dalam banyak kasus digunakan ukuran penduduk, adakalanya besarnyaarus barang dan jasa. Sebagai contoh sebuah penelitian tentang pola-pola perjalananyang baik, seperti dijabarkan dalam bentuk koreksi jumlah penduduk suatu area(wilayah) dengan angka pelipatannya terhadap pendapatan perkapita wilayahnya. Didalam mempertimbangkan daya tarik sebuah pusat pertokoan, dipergunakan volumepenjualan pertokoan tersebut sebagai sebuah indikator yang jelas. Di dalam banyakkasus, kekuatan daya tarik dari sebuah pusat pertokoan dapat dihitung berdasarkan jaraktertentu yang dipilihnya. Suatu Indeks dibutuhkan untuk memungkinkan sejumlah pusatyang ada pada setiap kompleks pertokoan yang umum dibedakan dengan bobot-bobotdaya tarik untuk jenis-jenis yang berhubungan, dengan bobot-bobot yang diberikankepada setiap kelompok yang berdasarkan ketentuan-ketentuan umum, mendasarkannyakepada faktor-faktor tertentu seperti halnya pengertian (Substansi) secara bebas yangdibutuhkan pada kedekatan tertentu dengan sumber daya dan perilaku berbelanja untukjenis-jenis barang dan mutu barang pilihan konsumen pada setiap pengalokasiansumberdaya–sumberdaya. Ukuran d dapat menghasilkan peningkatan pada sembarangwilayah apabila pemajakan rendah, permasalahan-permasalahan relatif sedikit. Sebagaicontoh, bagaimanakah jika dihubungkan dengan jarak fisik, atau waktu tempuh, ataudengan suatu ukuran jarak ekonomi (seperti biaya transpor ditambah dengan suatu nilaimoneter waktu yang terbuang di dalam perjalanan dan dari ketidaknyamananperjalanan)? Umumnya yang sering mengganggu adalah pertanyaan tentang apakah nilai-nilaitersebut akan diperlukan untuk bagian-bagian pendukungnya itu. Pangkat untuk variabeljarak tersebut, sering sekali diasumsikan harus 1 atau 2 (seperti halnya dalam hukumReilly); di sana tidak ada kesimpulan yang melekat atau yang menjadi sifatnya mengapatersebut dipilih sebagai nilai dan pengujian-pengujian empiris yang diberikan di sini. Sejumlah penelitian dilakukan untuk mengantisifasi linier atau square inverssetiap bulannya yang telah dihasilkan para peneliti sebelumnya untuk fungsi jarak.Akhirnya, apakah suatu eksponen akan diterapkan kepada A juga perlu dasar pemikiran,yang didasarkan pada hasil-hasil penelitian. Pada kebanyakan model tidak menerapkanpangkat (Exponent) atau kadang-kadang merupakan suatu bagian dari asumsi bahwanilai tersebut adalah satu kesatuan. Apapun tujuan penelitian, ekonomisasi aglomerasi(Aglomeration Economies) sangat penting, dimana variabel pangkat diterapkan untukmenjadi sebuah fungsi A. Ini berarti bahwa pangkat-pangkat (Exsponents) yangberbeda-beda akan membuat ukuran A lebih dari nilai. 70
  • 81. Nilai dari model-model Gravity sebagai suatu sumbangan terhadap pengertianperilaku konsumen secara spasial dan lokasi-lokasi pertokoan. Model ini pernah dikritikoleh Huff. Kritik tersebut terutama adalah, bahwa konsep gravity adalah sebuah dugaanEmpiris yang isi (Content) teoritisnya sangat sedikit. Model Gravity memprediksi danmelukiskan suatu pola interaksi spasial, tetapi tidak menjelaskan bagaimana polatersebut dibangun. Kemungkinannya, bahwa sebelum teori gravity dapat diuraikan padaterminologi perilaku optimis, seperti pada percobaan-percobaan perorangan/masyarakatuntuk meminimalkan biaya atau memaksimalkan kegunaan/kepuasan. Tetapi sedikitanalist gravity yang mencoba menyelidiki keberadaan (existence) teori ini, sepertimisalnya penggalian keterkaitannya dengan budaya (sifat alami) dari mana dasar teoritersebut, apabila ada pada model-model mereka. Kedua, Huff memiliki alasan bahwamodel-model gravity memiliki kekuatan prediksi yang rendah, karena di dalampandangannya, suatu model gravity akan menghasilkan kemungkinan yang lebih besardari interaksi yang dapat dipilih kota.5.3. Model Banneal Ide Model ini merupakan sebuah model yang berbeda, yang pernah dikenalkan olehBanneal dan Ide. Model tersebut bertolak dari anggapan bahwa seorang konsumen akanberbelanja pada suatu sumber lokasi apabila dia mempunyai fungsi permintaan sebagaiberikut: F (N,D) = w p (N) – v {(Cd…D+Cn √(N) + Ct)}adalah positif. F (N,D) mengukur net benefit (manfaat netto) konsumsi yang diperkirakan darikepergian ke suatu pusat penjualan pada sebuah sumber tertentu. Keragamannya dengansuatu jarak tertentu dari pusat perbelanjaan dan N adalah jumlah item yang dijual padapasar perbelanjaan tersebut. Biaya-biaya yang diasumsikan = Cd adalah sejumlah biaya transpor yangdianggap proporsional terhadap jarak Cn. √(N) adalah biaya-biaya nyata yangdiasumsikan untuk berbelanja, dan Ct adalah biaya opportunitas (Opportunity Cost )perbelanjaan ke lokasi-lokasi lain yang mungkin dipilih sebagai alternatif. p √(N) =fungsi kepuasan yang mungkin. w, v = bobot-bobot subjektif yang dibutuhkan olehkonsumsi. Implikasi-implikasi umum maupun khusus dapat ditarik dari model ini. Jumlahminimum dari item-item dibutuhkan untuk mempengaruhi seorang konsumenberbelanja pada pusat perbelanjaan, akan meningkat dengan meningkatnya D.Perbelanjaan yang memaksimalkan jarak adalah dimana perkiraan kegunaan nettokonsumen dari berbelanja pada pusat perbelanjaan adalah given sama dengan nol. Inidengan lokasi-lokasi kelengkapan F (N,D) = 0, dan pemecahan D, Alonso (1975) Sampai 1950-an, orang hanya mengetahui bahwa perencanaan regionaldimaksudkan sebagai pembangunan untuk pencapaian suatu pengembangansumberdaya-sumberdaya alam sebuah wilayah. Pada masa itu pembangunan secaraumum ditentukan oleh bendungan-bendungan, oleh pembangunan atau pengembangansumberdaya air untuk tujuan ganda (yaitu: tenaga listrik, irigasi, pengendalian banjir,jalur transportasi, dan rekreasi), dan pembangunan tanah (yaitu: pengendalian polatanaman secara teratur, pengendalian erosi, dan membuat perkiraan-perkiraan untukproduk-produk pertanian dan peternakan). 71
  • 82. Pembangunan industri kota hanya bagian dari pembangunan ekonomi wilayah. Modelini untuk memperbaiki atau mengembangkan sumberdaya yang dimiliki oleh suatuwilayah. Contoh, wilayah otoritas BendunganTennese di Amerika Serikat, atau yangdinamakan Tennessee Valley Authority. Di Columbia Bendungan Couca (CoucaValley), di Ghana Bendungan Sungai Volta (Volta River), di Swedia BendunganDomodar (Domodar Valley), di Mesir Bendungan Aswan, dan di Indonesia BendunganJatiluhur, dengann daerah Otoritasnya mencakup pengairan yang meliputi Karawang,Subang, Indramayu. Luas sawah teknisnya meningkat, luas area tanamnya meningkat.Produksi padi di wilayah tersebut meningkat. Produksi perikanan darat meningkat.Jatiluhur juga sumber tenaga listrik, sumber air minum untuk sebagian DKI dan tempatrekreasi bagi penduduk yang memerlukan di sekitarnya. Pembangunan seperti itu melibatkan banyak bidang keahlian (multi disiplin),seperti: sarjana teknik (Engineer), Sarjana Pertanian (Agronomist), Sarjana Ekonomi(Economist), dan sarjana-sarjana administrasi, sehingga memerlukan koordinasiterhadap berbagai aspek pembangunan yang ada di dalam satu proyek. Walter Isardmenyumbang banyak ke dalam literatur ekonomi lokasi dan analisis spasial. MenurutIsard ada kaitan antara kegiatan ekonomi dan pemukiman di suatu wilayah spasialsecara fisik. Wilayah-wilayah diintegrasikan dengan sarana/prasarana transportasi,sejajar, melintang dan diagonal. Wilayah merupakan lokasi pemukiman penduduk,lokasi sumber daya dan aktivitas. Tahun 1960, dengan diedit oleh John Friedmann danWillian Alonso mulai mencoba meletakkan dasar-dasar bagi disiplin RegionalEconomics ini. Teori-teori ini berkembang dengan perhatian khusus untuk mencapaikemerataan. Teori-teori lokasi dan organisasi spasial diajarkan di perguruan-perguruantinggi secara langsung atau tidak langsung. Pada awalnya ilmu ini dinilai sulit, tetapisekarang itu tidak, berpuluh-puluh bidang dan kolom matrik dapat dipecahkan olehkomputer hanya dalam waktu sekitar 5 menit. Yang penting program apa, datanyabenar, dan tentu saja orang di belakang komputer itu sendiri berkualitas.5.4. Perkiraan Dampak Transportasi Pada Penggunaan Lahan5.4.1. Introduction and Overview Menurut Paul F. Wendt, para perencana Land Use, sarjana-sarjana transportasi,pengembang komplek perumahan (Real Estate), analis pasar perumahan, dansebagainya, tertarik dengan perkiraan pertumbuhan wilayah pertokoan dan pedesaan dimasa mendatang. Literatur menyajikan berbagai teori berbeda-beda dan canggih.Tinjauan singkat terhadap berbagai pikiran di bidang ini dan kritik-kritik terhadapkesimpulannya bahwa ditemukan sebagian model yang dikembangkan tidakoperasional, tidak memiliki kemampuan memperkirakan tata kerja penduduk danperkembangan peruntukan lahan yang cukup cepat pada luas geografis yang terbatas.Permasalahan menjadi lebih tidak mudah untuk wilayah pedesaan. Tidak jarang, sebagai suatu kenyataan hidup bahwa perkiraan-perkiraanpertumbuhan yang berkembang di masa yang akan datang tidak hanya dibutuhkandalam sekala besar di sektor pemerintah dan swasta, tetapi selalu dibutuhkan olehorang-orang dan lembaga-lembaga pemerintah. Pada umumnya perkiraan-perkiraanpertumbuhan tersebut berdasarkan kepada kasus-kasus, proyeksi-proyeksi yang dibuatatas dasar kombinasi perasaan (Intuition) dan pendapat (Judgment). 72
  • 83. 5.4.2. Teori Pertumbuhan Kota Suatu kerangka kerja analisis yang ada di dalam sajian umum kebutuhan sektorswasta pada pegangan pembangunan kompleks pemenuhan dan investasi memilikiprosedur tertentu di dalam penelitian land use perkotaan. Menurut R. M. Hurd, sebagaihasil studi akhir dari perkembangan nilai land use di lebih dari 50 kota di AmerikaSerikat, menghasilkan deskripsi klasik tentang proses pertumbuhan perkotaan danpengaruh-pengaruh studi Klasik R. M. Haig tentang kota New York (1927),menjangkau 2 hal pokok penting tentang transportasi. Dua prinsip kunci dari pengaruhtranspor terhadap land use dan pertumbuhan wilayah metropolitan adalah: (a)Persaingan di antara para pemakai lahan dan peruntukan lahan pada pematangan lahanyang tertinggi aksesibilitasnya. (b) Akibat keuntungan relatif kepuasan transportasi padapasar komplek perumahan oleh perusahaan-perusahaan dagang dan individu-individu. Haig menyimpulkan proses pemilihan lokasi adalah sebagai berikut: ―bahwasuatu aktivitas ekonomi pada pencarian suatu lokasi ditemukan pada kedekatan pusatpertumbuhan; jika sewa lokasi meningkat maka transpor menurun. Jika suatu lokasimenjauhi pusat pertumbuhan maka tingkat sewanya akan menurun dan biaya transpornaik, tambahan jumlah dari 2 pos biaya tersebut (bagian-bagian biayanya), tidak tetap.Homer Hoyt, di dalam suatu studi empiriknya, ―The Structure and Growth ofResidential Neighborhoods‖ untuk administrasi perumahan Federal (1939) telahmemperluas prinsip Hurd tentang pertumbuhan kota yang diidentifikasikan sebagaiTeori Sektor. (a) Wilayah dengan perkembangan besar-besaran untuk pemukimancenderung dimulai dari titik given areal (Given Point) sepanjang garis yang dimapankan(terus berkembang) dari perjalanan pulang pergi ke inti (perdagangan). (b) Zonawilayah bersewa tinggi cenderung berproses kepada penurunan luas daerah yang bebasresiko banjir, dan menyebar sepanjang jalur (seperti pelabuhan, sungai dan pantai-pantailaut, dimana batas-batas air tidak digunakan untuk industri). (c) Distrik-distrikperumahan dengan sewa tinggi cederung mengalami penurunan dan memperluasbagian-bagian kota yang memiliki kebebasan pengembangan sebelum lokasipembuangan limbah dan pekuburan, yang dibatasi oleh perbatasan alam atauperbatasan-perbatasan buatan terhadap perluasan. (d) Wilayah-wilayah pemukimanyang lebih tinggi harganya, cenderung menimbulkan penurunan perumahan parapemimpin masyarakat. (d) Perkembangan pergerakan gedung-gedung kantor,perbankan, dan pusat-pusat perbelanjaan menarik wilayah-wilayah pemukiman padawilayah yang memiliki harga tinggi pada pengaruh-pengaruh umum yang sama secaralangung. Kecenderungan-kecenderungan perkembangan wilayah-wilayah pemukimanadalah: (a) Wilayah-wilayah pemukiman kelas tinggi cederung berkembang lebih cepatdi sepanjang jalur-jalur transpor. (b) Pertumbuhan wilayah-wilayah pemukiman dengandipengaruhi langsung oleh sewa tinggi dan dengan intensitas yang sama dan berlanjutsepanjang periode waktu. (c) Wilayah-wilayah perumahan mewah dengan sewa yangtinggi cenderung tumbuh berdekatan dengan pusat perdagangan dan wilayah-wilayahpemukiman lama. (d) Para pengembang komplek perumahan pengaruhnya dapatmencakup pertumbuhan pemukiman tingkat tinggi. Teori basis ekonomi (Economic Base), dilahirkan bukan oleh ahli-ahli ekonomigeografi, pada awal-awal bekerjanya para ahli ekonomi geografi, lembaga-lembagapembangunan industri, dan para sarjana ekonomi perkotaan. Teori basis ekonomi inidirumuskan sebagai sebuah teknik analisis oleh Weimer dan Hoyt pada tahun 1930-an.Langkah-langkah pada perkiraan wilayah kota dengan menggunakan metoda penduduk 73
  • 84. kota adalah: (a) Perkiraan pertumbuhan pada kesempatan kerja basis, yaitu kesempatankerja pada sektor industri, pertanian, pertambangan dan industri pengolahan barang-barang dan jasa-jasa yang pada umumnya diekspor dari wilayah tersebut. (b) Perkiraantersebut dihubungkan dengan pertumbuhan pada kesempatan kerja sektor bukan basis.(c) Memperhitungkan jumlah penduduk di masa yang akan datang yang didasarkanpada para pekerja tiap keluarga dan jumlah anggota keluarga. Setelah Perang Dunia II terjadi gelombang pertumbuhan urbanisasi.Konsekwensinya adalah meningkatnya kebutuhan trasportasi, pelayanan umum, danpelayanan lain-lainnya di wilayah perkotaan. Meningkatnya perhatian pada kebutuhanpenerapan teknologi pembangunan untuk wilayah-wilayah perkotaan yang sebandingdengan perkembangan jumlah penduduknya. Pada awalnya, perhatian lembaga ilmupengetahuan pengaruhnya relatif kurang efektif bagi pembangunan, terutama dalamteknik memprediksi kebutuhan-kebutuhan masa depan. Teori basis ekonomi dapatdigunakan sebagai dasar memperkirakan kebutuhan masa di masa yang akan datang,dihubungkan dengan pertumbuhan kesempatan kerja di bidang pelayanan. Hasilprediksi dari kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasi tersebut digunakanuntuk mengidentifikasi hal-hal yang bersifat umum yang menyangkut pertumbuhanperkotaan di masa yang akan datang. Teori-teori yang menyangkut pengembangansektor perindustrian, perdagangan dan lokasi permukiman kota sarat dengan kebijakan,dan hasil sangat terbatas, dan kebijakan-kebijakan tersebut sama sekali tidak didasarkanpada hasil-hasil study yang bersifat empiris. Pada hal pengembangan teknologi,khususnya teknologi transportasi dan forcasting bagi perencanaan tata guna lahan (LandUse) sangat penting.5.4.3. Model-model Land Use Model-model land use didisain untuk suatu jangka waktu yang sangat panjang,untuk aplikasi-aplikasi formulasi kebijakan-kebijakan land use untuk penggunaanperorangan, swasta dan pemerintah. Formulasi kebijakan tersebut dapat ditentukandalam bentuk angka-angka matematik, sebagai gambaran hubungan antara pertumbuhanekonomi di suatu wilayah di masa yang akan datang dengan variabel tertentu yangmempengaruhi aktivitas-aktivitas pembangunan dan alokasi lahan pada rencana tataguna lahan. Suatu penelitian (1972), yang membahas tentang pemodelan secara umum, danbahan dari penelitian aspek seni (Art observasi) dimana disain model kuantitatif pola-pola spasial pertumbuhan dan pengembangan kota menyisakan bagian-bagian yangdiubah selama dekade sebelumnya. Terutama semua model tersebut didasarkan padaprestasi yang memuaskan dari empat tugas dasar yang saling berkaitan, yaitu: (1)proyeksi komposisi tenaga kerja industri wilayah, (2) jumlah angkatan kerja dan lain-lain input yang diperlukan, (3) alokasi spasial tenaga kerja di wilayah tersebut, dan (4)distribusi spasial penduduk dan rumah tangga di wilayah tersebut. Masalah tersebut penting diteliti dimana perkembangan model tidak lagi sebagaihasil pengembangan teori basis ekonomi; pertumbuhan kota, atau pertumbuhan lokasi-lokasi perdagangan dan pemukiman. Tujuan tersebut dapat dilukiskan lebih tepatsebagai mencoba untuk mengintegrasikan pengetahuan yang sedang berlaku dan teknikdari sejumlah profesi untuk tujuan peramalan (forecasting) penduduk, kesempatan kerja,pendapatan, struktur-struktur industri dan kebutuhan perumahan wilayah. Yang menarikbagi mereka yaitu bahwa model-model tersebut memerlukan input-input datakomputer, yang menyangkut: perjalanan konsumen, perilaku pusat perbelanjaan, 74
  • 85. perindustrian, keputusan-keputusan pengalokasian perdangangan, semua asumsi pentingyang menarik bagi kebijaksanaan pemerintah, perumahan, investasi pemerintah,transportasi, dan land use. Tidak masuk akal, bahwa pemecahan masalah secara empiris dapat dilakukantanpa bisa mengukur nilai dari variabel-variabel yang ada pada model teori yangdigunakan. Tugas tersebut terlalu berat dan sulit dilaksanakan, karena kenyataannyapemakai-pemakai potensial dari hasil-hasil produksi pada awal masa pemodelandiperkirakan begitu banyak. Di dalam banyak kasus, dorongan dari lembaga-lembagaperencanaan pada fase-fase awal pemodelan tertarik pada perencanaan yang tepat, ataupada suatu alat perencanaan yang diasumsikan dapat dipergunakan untuk meramalkandampak dari kebijakan transportasi yang bermacam-macam, dan kebijaksanaan-kebijakan pemerintah di sektor lainnya . Lebih lanjut, para karyawan perencanaan ragu dengan hasil dari sebuah modelyang dipakai sebagai dasar untuk meniru kekuatan-kekuatan pasar di dalampembangunan tata guna lahan di masa yang akan datang, tanpa menyamakan masaberlakunya kerangka kebijaksanaan dengan masa mengoperasikan alat tersebut. Kotakhitam misterius terebut yang membuat ramalan-ramalan pertumbuhan ekonomi masayang akan datang dan pengembangan komplek perumahan tanpa alasan-alasan yangkuat, telah meningkatkan keraguan. Meskipun dengan keterbatasan-keterbatasan sepertiyang disebut di atas dan sebelum mesin itu diperkenalkan secara penuh, banyak proyekpemodelan tata guna lahan dalam sekala besar diajukan sebagai bagian biaya dandengan tingkatan keberhasilan yang bermacam-macam. Sebuah penelitian terbaru untuk Departemen Transportasi AS membanggakanlebih dari 60 judul buku atau artikel yang dipublikasikan pada dekade yang lalu yangmelukiskan dan mengevaluasi model-model tata guna lahan perkotaan, dan lima volumekepustakaan, literatur dipublikasikan di lapangan sebagai Progres Sistem LingkunganWilayah di Oak Redge National Laboratory yang meliputi lebih dari 5000 bagian. Perkembangbiakan usaha-usaha pemodelan dan literatur di dalam tahun-tahunterakhir tidak diletakkan pada pengupasan secara kritis dan mengevaluasi penilaian paraahli negara bagian. Suatu survei yang mensporsori usaha-usaha permodelan olehpemerintah dilakukan oleh Panitia. Model-model peramalan untuk perencanaan tersebutjuga dihasilkan oleh ahli-ahli di Universitas-universitas dan diseleksi Yayasan IlmuPengetahuan Nasional. Douglas B. Lee Jr, dalam artikel yang terakhir dengan judul ―Requien for Large-Scale Model’s‖ selanjutnya disebutkan sebagai tujuh model sain skala besar, yaitu: (1)1). Hypercomprehensiveness, (2) Grossness, (3) Hungriness, (4) Wrongheadedness, (5)Complicatedness, (6) Mechanicalness, dan (7) Expensiveness. Kesimpulan Lee tentanggagasan suatu model Land Uses terkait dengan operasional perencanaan transportasi.Rekomendasinya: (a) Suatu keseimbangan perlu diperiksa di antara teori, keobyektifandan lembaga, (b) Sebuah model memusatkan pada sebuah masalah kebijaksanaan dantidak pada sebuah metodologi, (c) Sebuah model harus simpel, (d) Medel harus dapatdimengerti oleh setiap calon pemakai. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan dari usaha-usaha pemodelanterdahulu didasarkan pada mengembangkan suatu kerangka kerja untuk suatu model tataguna lahan, perencanaan transportasi untuk dipergunakan di negara bagian Norwegia.Pemilihan momen tersebut, metetapkan banyak kelemahan-kelemahan model-modeltata guna lahan. Pertama, tidak ada teknik alternatif untuk menghadirkan model-modeltata guna lahan untuk mengintegrasikan kekuatan-kekuatan permintaan yang komplek, 75
  • 86. pengaruh perkembangan permintaan dan penawaran lahan di masa yang akan datang,alasan-alasan dibatasi oleh kebijaksanaan pemerintah yang akan saling mempengaruhisatu sama lain, fleksibel, kerangka kerja berulang (Iteratif). Kedua, suatu modelsimulasi mesin hitung untuk perkembangan tata guna lahan di masa yang akan datangmemerlukan asumsi-asumsi bagi setiap perhatian khusus untuk setiap variabel yangmungkin diidentifikasi berpengaruh pada perkembangan tata guna lahan. Ketiga, teknik-teknik programing mesin hitung dibangun untuk model simulasi tata guna lahanberdasarkan perkiraan efisiensi dari sensitivitas output dari model-model tersebut untukperubahan-perubahan di dalam variabel lapangan kerja, seperti yang dilukiskan didalam berbagai parameter pengaruh variabel-variabel. Keempat, disiplin intelektualdiasosiasikan dengan penggunaan model simulasi tata guna lahan, dibutuhkan untukpenggunaan model, mencakup asumsi-asumsi kebijakan pemerintah, swasta danperilaku. Tugas lebih lanjut dari sebuah tim pembangunan model adalah melakukansegala usaha bagaimana membiayai keuntungan-keuntungan yang begitu substansial,dan bagaimana membantu himpunan-himpunan dengan membangun model perencanaanyang berorientasi kepada ―mesin hitung‖, apabila pada waktu yang samamemperlihatkan terhindar dari kerugian-kerugian jika dilakukan dengan ―komputer‖.Tim pembangunan pemodelan tata guna lahan pada Sekolah Tinggi AdministrasiPerusahaan Universitas Georgia telah menyusun sebuah kerangka kerja untuk modeltata guna lahan bagi rencana transportasi yang dicoba menemukan kriteria-kriterianya.5.5. Beberapa Observasi Pada Model-Model Struktur Tata Ruang Kota Terlepas dari cara perlakuan hipotesis minimalisasi biaya bagian-bagian tataruang seperti yang telah didiskusikan di atas, dan analisis detil model-model tersebut(diantaranya untuk lokasi pemukiman, perusahaan perdagangan, dan hubungan tataruang antara para konsumen dan lokasi-lokasi berbelanja), dihindarkan ruang lebihbanyak dari yang terstruktur di dalam teori tersebut dan uraian model-model spasialyang disebarkan di dalam sebuah kota. Kebanyakan ahli analisis, khususnya analisis pendekatan sosiologi, kemudiananalisis pendekatan ekonomi, dikonsentrasikan pada teori nilai-nilai tanah permukiman.Hawley, sebagai contoh, memberikan alasan bahwa perumahan disebarkan berdasarkankepada (1) nilai lahan, (2) lokasi kegiatan, dan (3) biaya dan waktu yang dikeluarkanuntuk transportasi ke pusat kegiatan. Ketiga-tiga faktor tersebut dikombinasikan didalam suatu ukuran tunggal, yaitu nilai sewa tempat tinggal (rumah). Hawley menemukan sebuah paradox, yang disebut Paradoks Hawley, yangmengatakan bahwa keluarga-keluarga yang berpendapatan rendah hidup di lahan yangbernilai tinggi dan keluarga-keluarga kaya di lahan yang bernilai murah. Pemilikantempat tinggal di lahan dengan nilai tinggi biasanya di sebuah kondisi yang rumah danlingkungan yang buruk. Oleh karena sejak lahan-lahan tersebut diperuntukkan untukarea industri dan komersial lahan ini menjadi objek spekulasi di dalam mengambilposisi untuk dipergunakan bagi yang mengambil keuntungan lebih besar. Pemilik darilahan-lahan tersebut tidak bersedia mengeluarkan biaya pemeliharaan sebab sewanyarendah. Sewa yang rendah juga karena dekatnya lahan-lahan tersebut dengan objek-objek aktivitas yang jaraknya antar keluarga sangat dekat-dekat untuk mengimbangiperluasan dengan aksessibilitas. Rumah-rumah baru, dibangun pada lokasi yang nilai 76
  • 87. tanahnya rendah dengan alternatif penggunaan yang terbatas. Lahan-lahan tersebutmemiliki sewa yang tinggi karena baru dan mutunya baik, dan dekat dengan fasilitas-fasilitas tetapi jauh dari penggunaan yang tidak mendapat izin, juga cenderung dilayanidengan aksesibilitas yang baik ke pusat kota dan ke tempat pekerjaan. Ini berarti bahwapada saat nilai lahan pada fasilitas, grade-nya menurun, dengan jarak dari konsentrasikesatuan-kesatuan yang terhimpun, nilai sewa bangunan-bangunan tempat tinggalmeningkat. Itu adalah nilai-nilai sewa untuk tempat tinggal untuk orang-orang kaya,luas, mutu dan lingkungan tempat tinggal cenderung kebalikan dari nilai lahannya.Konsekuensi dari paradoks ini adalah pertumbuhan kota, yang nyata atau dikehendaki.Ini adalah pertumbuhan kota yang didasarkan kepada kegiatan-kegiatan spekulasi padawilayah potensial yang memburuk, dan pertumbuhan penduduk di rumah-rumah padalokasi dengan sewa lahan rendah, maka pembangunan rumah-rumah baru cenderungberlokasi di pinggiran kota. Alonso merangsang suatu uraian alternatif yang tidak bertolak pada dinamikapertumbuhan kota atau pada hukum yang bertentangan dengan para spekulator. Denganalasan-alasan bahwa pengaruh pada lahan adalah kuat dan sulit dipuaskan.Konsekuensinya, besarnya permintaan lokasi perumahan bervariasi sesuai denganpendapatan. Orang-orang kaya relatif kurang dipengaruhi oleh biaya-biaya pulang pergike kota. Mereka berorientasi kepada harga lahan, sedangkan orang miskin kepadalokasi. Kalau aksesibilitas rendah dibeli oleh orang-orang berpendapatan tinggi,aksesibilitas berperilaku sebagai barang inferior. Jadi, income elasticity of demanduntuk tanah adalah tinggi, tetapi untuk aksesibilitas ke pusat kota negatif, proposisitersebut menjadi sangat signifikan kebenarannya untuk kelompok orang-orang kaya.Apabila hipotesis tersebut diperluas, flat-flat mewah dekat pusat kota akan memuaskanpermintaan hanya untuk suatu proporsi kecil dari orang-orang kaya. Sebuah model yang mirip diperkenalkan oleh Beckmann. Dasar asumsinyaadalah di dalam hal peremajaan lokasi tempat tinggal, setiap tempat tinggaldimaksimalkan jumlah ruang tinggal dapat menghasilkan belanja perumahan,pengeluaran rata-rata pada perumahan dan komuter merupakan fungsi pendapatan;sebuah fungsi linier terhadap biaya komuter. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebutBeckmann menghasilkan suatu solusi pasar untuk distribusi spasial rumah tangga, yangmemperlihatkan susunan rumah tangga-rumah tangga orang-orang kaya berlokasi dibagian luar kota.5.6. Model Operasional Bagian-bagian perbincangan di atas di antaranya dihubungkan dengan penelitiantanah dan struktur tata ruang kota, atau dalam kasus Beckmann dihubungkan dengansuatu model matematik yang didasarkan pada asumsi-asumsi sederhana. Aliran lain darianalisis struktur tata ruang dari kota-kota dicoba untuk membangun model-model yanglebih realistis yang menghasilkan sejumlah usul operasional. Wendt, misalnya, mengeritik asumsi-asumsi sederhana dari sarjana-sarjanaekonomi lahan, selanjutnya seperti memecah kota atas pusat inti kota tunggal danmeliputi cakupan wilayah yang dipengaruhi biaya transpor. Atas dasar itu,diformulasikan sebuah model umum, dimana keseluruhan nilai lahan ditentukan sebagaiselisih antara nilai keseluruhan dan biaya-biaya yang dibagi dengan amortization rateyang diharapkan. Model tersebut dapat ditulis sebagai berikut: 77
  • 88. V = fx (P1 Y1S1Pu, PI) – (T+ OcItm+Dtm) fx (i1 R1 Cg)dimana: V adalah nilai keseluruhan dari lahan kota; fx adalah ekspektasi; P adalahjumlah penduduk; Y adalah pendapatan rata-rata; S adalah penawaran lahan bersaing;Pu adalah daya tarik yang competitive (keunggulan) dari suatu wilayah; PI adalahinvestasi pemerintah; T adalah jumlah pajak-pajak; Oc adalah biaya-biaya operasional;Itm adalah bunga modal yang diinvestasikan di dalam pengembangan; Dtm adalah nilaipenyusutan pada proyek-proyek yang dibangun; i adalah tingkat bunga; R adalah resikoproyek pembangunan; Cg adalah kemungkinan untuk mendapatkan hasil modal. Potensi operasional model ini bertolak dari kenyataan bahwa biasanya sasaranproduksi tergantung pada perputaran dari keseluruhan hasil produksi, pada jumlahkeseluruhan nilai lahan, yang kemudian dicoba menganalisis kondisi keseimbanganstatisnya itu. Wendt membuat suatu perbedaan yang kritis antara faktor-faktor yangmempengaruhi keseluruhan nilai lahan di suatu lokasi tertentu. Dalam hal ini komponenrevenue dan biaya merupakan fungsi jenis kegiatan produksi di atasnya, akan sangattergantung perpindahan dari pemakai yang satu ke pemakai yang lain, para pemakai dilingkungan industri pelayanan (jasa) akan mendasarkan komponen penerimaannya padavolume penjualan yang diharapkan pada lokasi alternatif tersebut dan biaya operasiperdagangan pada lokasi tersebut, para pemakai di sektor industri akan membandingkanpenjualan produksi potensial terhadap biaya produksi, untuk rumah tangga akan dilihatperbandingan antara nilai uang dari kemanfaatan lokasi-lokasi alternatif lain dan biayayang diukur/ditentukan oleh biaya-biaya pulang dan pergi ke kota, pajak-pajak, biaya-biaya membangun, dan sebagainya. Pendekatan lain adalah model linear programming dari Harbert Stevens tentangpembangunan tempat tinggal (perumahan). Model ini memperlihatkan bagaimanakemungkinan rumah tangga disebar ke lokasi-lokasi apabila mereka memaksimalkankepuasan dari jumlah keseluruhan pembayaran sewa. Model ini mengasumsikan bahwarumah tangga mencoba memuaskan kebutuhan-kebutuhan mereka terhadap perumahandan keinginan-keinginan pada pasar, dan keputusan terhadap lokasi tersebut dibaca padakesimpulan dari perbandingan biaya-biaya kebutuhan-kebutuhan perumahan dengananggaran rumah tangga yang tersedia. Diasumsikan rumah tangga memilikipengetahuan yang cukup, model tersebut didisain untuk lokasi-lokasi yang optimaluntuk rumah tangga pada kelompok-kelompok pendapatan yang berbeda-beda,diharapkan meliputi batas daya tampung di masing-masing zona hunian dan jumlahrumah tangga yang tepat pada tiap-tiap kelompok. Model tersebut mengenal empatfaktor lokasi, tingkat kenyamanan dan pelayanan (amenity), tingkat aksesibilitas(proximity) dan ukuran tempat tinggal (ukuran rumah). Kesulitan-kesulitan di dalampenerapan model ini timbul dari kebutuhan untuk mengetahui secara sempurna jumlahpreferensi (kesenangan/kemudahan) sebagai faktor-faktor lokasi. Informasi tersebutdihimpun dari survey-survey yang berdasarkan pada tingkat pendapatan yang berbedauntuk jenis perumahan tertentu, tingkat kedekatan dengan sarana-sarana pemuas danukuran rumah. Kebanyakan, apabila model yang seperti itu digunakan untuk tujuanprediksi, kita akan membutuhkan salah satu diantara dua asumsi, yaitu tidak terjadiperubahan selera atau membuat perkiraan preferensi masa depan. Lowrey mencoba meramalkan struktur tata guna tanah yang luas denganserangkaian model kredit pengaman yang terkait. Asumsi pokoknya adalah bahwa 78
  • 89. lokasi pusat-pusat pekerjaan yang basis adalah given dan tingkat efektivitas ekonomiadalah ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat eksogen. Model pertama dari Lowreyini adalah distribusi rumah tangga secara relatif terhadap pusat-pusat pekerjaan, yangmerupakan tujuan untuk membatasi keadaan seperti strategisnya lokasi lahan untukpembangunan rumah, dan tingkat kepadatan maksimum. Kunci imbalan yang digunakanadalah indeks distribusi trayek (Trip Distribution Indices) yang berupa kepadatan lalulintas yang memberi kemudahan bagi pembangunan sebuah wilayah perkotaan, ataustudi transportasi regional. Lowrey membangun setiap 13 zona komplek perumahansebagai suatu susunan/rangkaian 11 lingkaran (cincin) konsentrasi dari luas satu unitradius. Dia menghitung persentase dari seluruh trayek asal untuk pergi bekerja (WorkTrips Originating) dari setiap zona yang dapat diharapkan mencapai terminal di setiaplingkaran di sebelah luar yang berturut-turut, dengan asumsi bahwa sebuah di setiaplingkaran pendistribusian kesempatan kerja. Penelitian indeks-indeks oleh metode iniditerapkan untuk memperkirakan kesempatan kerja pada masing-masing lokasi kerja(Work Places) jadi pendatang (penduduk) pada sebaran tempat tinggal sebandingdengan kesempatan kerja. Model kedua yang didasarkan pada indeks trayek untuk empat jenispembentukan kemapanan para pedagang dan lain-lain trayek pelayanan. Indeks-indeksyang dihitung yang kemudian diterapkan kepada distribusi yang didapatkan oleh modelyang pertama agar memenuhi distribusi kegiatan para pengecer dan pelayanan di basisyang memberikan akses ke pasar-pasar, di dalam kasus rumah tangga-rumah tangga ini,hal yang pokok adalah pada keterbatasan ukuran minimum pasar yang dikhususkan. Artle, memperkenalkan dua model operasional tersebut untuk memperkirakandistribusi spasial untuk pembangunan/pembentukan (Establishment) jasa pedagangeceran (pengecer) di dalam kota, sebuah model pendapatan potensial (Income PotentialModel) dan sebuah model regresi (Regression Model). Pada model pendapatanpotensial, Artle membagi kota ke dalam sejumlah segi-empat yang seimbang. Dengandasar bahwa pendapatan di setiap zona tempat tinggal memiliki suatu pengaruhpotensial pada semua zona lain, tetapi pengaruh tersebut akan meningkat dengan jarakyang menurun. Pendapatan potensial yang dihasilkan oleh setiap zona/pada zona editunjukkan: i Vj = Gij Y / dij (j = 1, 2, … n)dimana: Gij = sebuah konstanta; Yj = pendapatan dari lokasi tempat tinggal j; dij = jaraki dan j, diukur untuk tujuan-tujuan sederhana seperti pajak antara titik-titik pusat; n =jumlah total dari zona Artle meneliti ramalan-ramalan tentang kondisi pengeluaran pada sembarangpelayanan dari data input output dan diterapkannya pada aggregate income potensialuntuk setiap zona yang berbentuk segi empat, dan dari prosedur ini diperkirakanpendapatan di masa yang akan datang untuk pelayanan yang dipilih sebagai hubungankepada zona-zona individual. Apabila pendapatan tiap zona di masa yang akan datangdapat diterima sebagai cadangan yang diperkirakan di masa yang akan datang, itukemudian memungkinkan untuk dibagikan kepada bagian-bagian yang berbeda dariwilayah kota tersebut, suatu jumlah total dari pedagang eceran dan pelayanan dibangundari jenis yang dipilih secara tepat. Prosedur tersebut menghasilkan asumsi-asumsisederhana tertentu, dimana biaya variabel rata-rata (AVC) pelayanan tertentu telah samadi setiap zona, bahwa lokasi-lokasi perumahan sendiri dapat dipergunakan sebagai titiktolak (basis) untuk perhitungan pendapatan potensial, kecenderungan pengabaianpengeluaran konsumsi untuk memperoleh pengaruh distribusi spasial dari pembentukan 79
  • 90. (establishment), pengabaian kemungkinan sewa yang tinggi di beberapa zona untukmenentukan lokasi. Kebutuhan data untuk model ini sangat besar, apabila informasi yang diperlukantidak ada maka mungkin tidak dapat diteliti. Artle menyarankan sebuah modelalternatif yang disebut model regresi sederhana. Penggunaan ukuran tempat tinggal,jumlah penduduk, dan ukuran pekerjaan penduduk per zona merupakan variabel-variabel independen mempengaruhi jumlah pembentukan pelayanan di setiap zona.Formula model regresi sederhana tersebut sebagai berikut: N = a + b Pr + c P w + Zdimana: N = jumlah pembentukan/kekuasaan-kekuasaan tiap zona; Pr = ukuran tempattinggal penduduk per zona; Pw = ukuran pekerjaan penduduk per zona; a, b, c =konstanta-konstanta; z = residual (sisa) Suatu model yang lebih canggih akan dapat disusun dari tingkat sewa-sewasebagai suatu pengaruh pada lokasi yang umum pada setiap zona dan beberapa ukurandari biaya transpor sebagai suatu pengaruh pada pusat-pusat lokasi dari pengecer danlainnya yang sama. Ini penting untuk dicatat bahwa implikasi teoritis dari kedua modeltersebut begitu berbeda; di dalam model income potential asumsinya tidak ada batasantar zona sesuai dengan kesimpulan pemilihan lokasi, tetapi model regresi menyatakanbahwa trayek antar zona dapat diabaikan.5.7. Keseimbangan Lokal Sebuah Perushaan Yang Beroperasi Di Kota N H.W. Richardson membuat pertanyaan, bagaimanakah sebuah perusahaanmemilih lokasi di dalam sebuah kota dikaitkan dengan jaraknya dengan pusat kota?Model yang diperkenalkan tergantung pada penyederhanaan tertentu. Kota diasumsikandipusatkan secara tepat, dan pusat yang lebih dipilih adalah yang memiliki akses kepadakonsumen terbesar. Masalah-masalah interdependensi lokal akibat pilihan pada hargaproduk perusahaan mengabaikan, dianggap sudah tertentu (Given). Jadi, volumepenjualan dan revenue dari penjualan lokal akan meningkat jika perusahaan dilokasikanlebih dekat ke pusat kota (Core). Diasumsikan lebih lanjut bahwa perubahan-perubahandiperlihatkan sesuai dengan struktur yang given berdasarkan keragaman dari harga-harga lahan yang merupakan kebalikan dengan arah dari pusat kota, dilukiskan olehfungsi Pd, dimana Pd adalah harga lahan pada lokasi given, d adalah jarak dari pusatkota. Diasumsikan bahwa fungsi harga ini ditentukan oleh supply dan demand; seluruhlahan urban dianggap sebagai berkualitas aktual dan dapat dibeli dan dijual secara bebasberdasarkan ketentuan mekanisme sebuah pasar persaingan tanpa adanya pembatasan-pembatasan kelembagaan. Banyak faktor yang mungkin mempengaruhi sewa lahanlokasi kota diabaikan, seperti halnya jenis perdagangan diasumsikan bisa di sembaranglokasi, dan pengaruh-pengaruh ekonomisasi aglomerasi dan deglomerasi belumdiperhitungkan. Diasumsikan bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimalkan laba(Profit Maximizing). Pada saat perusahaan bergerak menjauhi pusat kota maka penerimaannyacenderung menurun dan biaya operasinya meningkat (terutama karena meningkatnyabiaya transpor pada lokasi yang aksesibilitasnya menurun), tetapi ini akandikompensasikan dengan biaya lokasi (sewa lahan lokasi kota) yang lebih rendah. Jadi,pada waktu perusahaan bergerak menjauhi pusat kota, diikuti oleh kenaikan biayatranspor dan biaya-biaya lainnya, penerimaan (Revenue) menurun, dan biaya sewa jugamenurun. Apabila penerimaan perusahaan eksak yaitu harga dikalikan jumlah, laba 80
  • 91. tertentu yaitu penerimaan total dikurangi biaya total, maka untuk lokasi yang akanmenghasilkan laba yang berbeda. Di semua lokasi diantara pusat dan perbatasan kotatotal revenue akan sama disyaratkan sama untuk sebuah tingkatan jarak dari pusat kota,laba tambah biaya-biaya operasi akan sama penerimaan dengan catatan akan ada sedikitbiaya tambahan untuk membayar pengorbanan-pengorbanan tidak terduga yangberpengaruh terhadap terminologi laba. Mungkin juga akan ada tambahan biaya dengan suatu jumlah yang relatif besardari kesulitan lalu lintas (misalnya harus melewati jalan-jalan kecil) yang mungkinmengikuti fungsi-fungsi harga (sewa) yang diminta, yang semuanya dihubungkandengan suatu tingkat laba tertentu. Diasumsikan bahwa fungsi harga nyata lahan (Pd)yang telah tertentu. Perusahaan akan dilokasikan pada titik dimana harga yang akandibayar perusahaan menjamin pada kemungkinan laba yang tinggi. Pilihan lokasi tersebut dapat diperlihatkan dengan lebih mudah dengan bantuankonsep kurva harga yang diminta dan ditawarkan (Bid Price Curve). Fungsi harga yangdiminta tidak harus dihubungkan dengan harga aktual. Biasanya harga merupakansebuah fungsi hipotesis yang diperlihatkan oleh bagaimana harga lahan yangdihubungkan dengan jarak dari perusahaan tersebut dari pusat kota. Untukmeperlihatkan laba yang diterima sama pada semua lokasi, digambarkan kurva isoprofit.Fungsi tersebut memungkinkan ditentukan oleh Pd (x) yang dibaca sebagai harga (P)yang diminta. Suatu perusahaan pada setiap lokasi yang berjarak d dari pusat kota,memiliki laba yang sama apabila ukuran lokasi dioptimalisasikan, perusahaan akanmencapai tingkat laba yang konstan (x). Pada saat perusahaan mencapai tingkat labakonstan, perusahaan mencapai kepuasan yang diinginkan terhadap lokasi yangdimilikinya keseimbangan lokasi). Harga yang diminta di lokasi-lokasi tersebutmemungkinkan untuk mendefinisikan harga yang diminta (The Bid Price) P, padaterminologi harga dengan variabel tunggal yaitu jarak dari pusat kota adalah d. Ketentuan-ketentuan tentang fungsi Bid Price lahan milik (Properties): (a)Fungsi bid price bernilai tunggal. Untuk setiap tingkatan laba (x) tertentu, di sana hanyaada satu nilai p yang memungkinkan untuk setiap d yang sudah tertentu. (b) Curve bidprice, yang mewakili nilai yang berbeda dari laba yang sama, satu dengan yang lainnyatidak berpotongan. (c) Curve bid price yang lebih rendah mewakili tingkat laba tinggi,dan ini yang diharapkan oleh sebuah perusahaan. Bertolak dari laba sebagai selisihpenerimaan setelah dikurangi biaya operasi, jika harga tanah yang murah maka labanyatinggi. Curve di atas yang menghasilkan laba nol (x = 0) dapat diabaikan, karena jikapun digunakan akan merugikan perusahaan. (d) Biasanya fungsi bid price memilikikemiringan (Slope) yang menurun. Kemiringan tersebut seperti halnya tabungan padasewa persis sama dengan kehilangan penerimaan tambah peningkatan biaya operasi. Diagram bid price dapat digunakannya untuk memperlihatkan lokasi perusahaanyang seimbang. Gambar di atas memperlihatkan curve bid price sebuah keluarga. BPC1adalah tingkat laba X1, BPC2 adalah tingkat X2 dan BPC3 adalah tingkat laba X3,dimana X1>X2>X3. Jadi lokasi perusahaan dengan laba BPC1 dilebihkan dari lokasiperusahaan dengan laba BPC2, dan lokasi perusahaan dengan laba BPC2 lebih baik darilokasi perusahaan dengan laba BPC3. Pada Gambar diperlihatkan perusahaan dengansuatu struktur yang telah tertentu, dimana harga lahan Pd. Fungsi harga aktual tersebutdigambarkan dengan cara mengasumsikan bahwa harga lahan menurun dengankenaikan jarak dari pusat kota; ini suatu syarat keseimbangan yang dialami kebanyakankota. Di dalam gambar peta (Map) curve-curve bid price preferensi-preferensiperusahaan, dimana pada saat struktur harga Pd, diilustrasikan pada kemungkinan yang 81
  • 92. ada kepadanya. Perusahaan akan dilokasikan pada titik dimana fungsi harga merupakannilai kemiringan (Tangensial) kepada kurva Bid Rent yang paling rendah yang mungkindicapai. Pd tangensial pada BPC2, di dalam gambar, jadi dimana diwakili lokasi dedimana laba-laba dimaksimalisasikan (X2). unit sewa Pe BPC1(X1) BPC2(X2) BPC3 (x3) Pd 0 d0 Jarak Gambar 5.1 Lokasi Optimal Perusahaan dalam Tata Ruang Kota Slope Pd tersebut merupakan tangensial fungsi harga Pd dan sama dengankemiringan profit maximizing kurva bid price BPC2, dan titik singgungnya adalah titikseimbang. Lokasi yang terdekat ke pusat kota untuk fungsi harga Pd adalah de, Pdadalah harga tertinggi untuk BPC2. Sebagaimana diketahui bahwa slope kurva Bid Pricetersebut adalah suatu perubahan pada harga lahan yang dibutuhkan untuk menentukanpenurunan penerimaan dan untuk biaya yang lebih tinggi, dimana Pd yang lebih tinggimaka tabungan (Saving) di lokasi dengan biaya yang berkurang, pengurangan padapenerimaan kenaikan pada biaya operasi. Sebaliknya sebelah kanan de BPC2 lebihtinggi dari Pd, berarti bahwa tabungan (Saving) dari lahan tidak cukup untuk mengatasiberkurangnya penerimaan dan meningkatnya biaya-biaya. Perusahaan akan bergerakmendekati pusat kota dan berlokasi di titik keseimbangan de.5.8. Pemanfaatan Lahan Setiap kegiatan manusia memerlukan ruang dan ruangan tersebut berada di ataslahan. Lahan sebagaimana halnya faktor-faktor produksi lain (tenaga kerja, modal danskill) memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pemanfaatannya. Balas jasaterhadap lahan adalah sewa (Rent). Lahan merupakan sumber dasar makanan (lahanpertanian), lokasi di mana berdirinya gedung-gedung, dan area konsesi pertambangandan sebagainya. Pemanfaatan lahan sama dengan pemanfaatan lingkungan hidupmanusia, yang memerlukan pertimbangan bagi perkembangan mutu kehidupan yanglebih baik. 82
  • 93. 5.8.1.Persaingan dalam Pemanfaatan Lahan Dalam pemanfaatan lahan selalu ada persaingan. Lahan mempunyai kegunaanganda, analisis pemanfaatan lahan tidak hanya dapat bertolak dari konsep kegiatanindividu, tetapi juga bertolak dari konsep kegiatan ganda suatu daerah (wilayah).Permintaan terhadap lahan ditentukan oleh faktor kegunaan lahan itu sendiri danharganya. Faktor kegunaan ditentukan oleh letak lahan (peruntukan, strategis tidaknyalokasi/intensitas kegiatan/aksessibilitas). Harga lahan menentukan permintaan sertaintensitas persaingan untuk mendapatkannya. Ada kegiatan yang membutuhkan lahanlebih luas dibandingkan untuk kegiatan lain. Contoh: industri kehutanan, pertanianmembutuhkan lahan yang luas, sedangkan untuk kegiatan perkotaan relatif sempit.Maka terjadi transfer dari peruntukan kegiatan yang satu ke kegiatan yang lain,tergantung pada intensitas pemanfaatan dan nilai produktivitasnya. Terdapat persainganuntuk mendapatkan lahan, misalnya untuk tujuan perluasan kota. Lahan akan digunakanoleh mereka yang berani membayar sewa lebih mahal (pasar bebas). Suatu kenyataanbahwa perlu pengendalian atas pemanfaatan lahan. Akibatnya: (1) tidak diperolehmaksimalisasi keuntungan individu, (2) tidak diperoleh pola pemanfaatan yangoptimum bagi masyarakat.5.8.2. Permintaan terhadap Lahan Biaya MC TC AC Hasil Gambar 5.2 Struktur Biaya-biaya TC, AC dan MC Lahan ada yang lebih bernilai dan ada yang kurang bernilai, tergantung padakeberanian orang membayar harga atau sewanya. Jenis sewanya berbeda-beda, sesuaidengan jenis pemanfaatan. Perbedaan nilai lahan sesuai dengan tujuan pemanfaatan,diistilahkan dengan Rent Gradient. Tinggi rendahnya nilai lahan, atau bernilai kurangbernilainya lahan tersebut karena kondisi permukaan, yang disebut sewa permukaan(Surfaces Rent). Orientasi sewa lahan adalah kepada: (a) hasil produksi, (b) faktor-faktor produksi ad. a) hubungan tingkat hasil/ha dan biaya faktor produksi. Kurva biaya,tidak termasuk sewa untuk produksi pada setiap 1 ha lahan. Biaya: FC = (F); VC=(a Qb) ; Biaya rata-rata (=AC) TC = F + a Qb Biaya marginal (=MC); b = 1 Untuk melihat hasil, penerimaan total dikurangi dengan biaya total Hubungan antara TC dengan berbagai kemungkinan penerimaan, pemakai lahandan akibat-akibat yang mungkin timbul yaitu B-C (Surplus); D dimana sewa = 0 dan HJmerupakan subsidi atau sewa negatif yang diperlukan agar pemanfaatan tanah itu dapatdipertanggungjawabkan. Bila penerimaan = OL, 0L menggambarkan penerimaan hasil kegiatan yangdekat dengan pasar atau kegiatan lain yang pada hakekatnya menguntungkan. OM 83
  • 94. merupakan garis yang menunjukkan kegiatan batas. Hasil di bawah OE menyebabkanorang yang menggunakan lahan tak dapat menutup biaya-biaya dan sewa = 0. Cost TC L Revenue M B I F N C H D E A R=revenue G J Gambar 5.3 Hubungan antara Penerimaan dan Biaya dan Laba Sewa Rent gradien 0 Harga 100 0 Jarak dari pasar Gambar 5.4 Kemiringan Kurva Sewa Lahan Sewa akan meningkat lebih cepat jika lokasi semakin mendekati pasar danberkurang lebih lambat bila lokasinya semakin menjauhi pasar. Hasil perhektar relatif tinggi di lokasi-lokasi relatif dekat dengan pasar.Penerimaan dan sewa dapat diperoleh lebih sensitif terhadap biaya karena lebih banyakyang harus diangkut ke luar dari daerah tersebut. Oleh karena itu harga produk hanyaturun perlahan dengan bertambahnya jarak. Biaya transpor lebih mahal bila mengangkut Sewa Rent gradient Kota Jarak Pinggir kota Gambar 5.5 Kurva Sewa Bergelombang Pengaruh Pusat Yang Terstruktur 84
  • 95. dari jarak yang lebih jauh. Semuanya merupakan fungsi jarak, sehingga bentuk curvarent gradient itu concave. Di dalam kenyataannya antara pusat pasar dengan jarakterjauh membentuk rent gradient yang memiliki berbagai faktor yang menguntungkan,sehingga mungkin kurva rent gradien bergelombang.5.8.3. Teori Lokasi dan Pertumbuhan Kota Faktor-faktor apakah yang menyebabkan timbulnya kegiatan ekonomi kota? Perusahaan Pemerintah Penentuan lokasi terbaik Rumah tangga Teori-teori lokasi (terutama teori von Thunen) Sewa Jarak Pusat Kota Lokasi tertentu Pinggir kota Gambar 5.6 Kurva Sewa Gelombang Nail Pada Lokasi-lokasi Pusat kegiatan Apa penyebab-penyebab pertumbuhan kota? Bagaimana komposisi kegiatanproduktif yang ada di kota? Yang akan menentukan lokasi terbaik adalah perusahaan,pemerintah dan rumah tangga. Teori dasarnya adalah teori lokasi Van Thunen. Teori inipernah dilupakan orang selama satu abad, tetapi kemudian dikembangkan kembalisehubungan dengan kemampuannya dalam menjelaskan lokasi perkotaan, yang sangatpenting sehubungan dengan munculnya masalah perkotaan pada pertengahan abad ke-20 dan lahirnya ekonomi perkotaan (Urban Economics). 85
  • 96. BAB VI KERANGKA WILAYAH6.1. Wilayah Sebagai Sebuah Konsep Apa yang dijadikan dasar hukum suatu wilayah dan bagaimana ekonominasional dipecah ke dalam suatu sitem ekonomi wilayah perlu diperjelas, sebagaiprasyarat penting bagi analisis ekonomi wilayah. Dalam hal ini terdapat kesulitan,karena adanya dua konsepsi wilayah: Pertama: Wilayah berdasarkan administrasipemerintahan. Data bagi penelitian empiris tidak begitu sulit, karena tersedia padakantor-kantor pemerintah daerah dan lembaga-lembaga daerah. Kedua: Wilayah yangtidak didasarkan kepada batas-batas administrasi pemerintah Daerah, tetapi didasarkankepada pengaruh-pengaruh lokasi dan keseimbangan-keseimbangan harga spasial.Adanya konsep yang kedua ini mempersulit perumusan definisi wilayah. Suatu wilayahmungkin dikaitkan dengan suatu pusat konsentrasi penduduk dari suatu wilayah besar disekitarnya. Definisi wilayah dapat berbeda antara satu penelitian dengan penelitian yanglain, tergantung kepada tujuan penelitian itu masing-masing. Satu kesatuan ekonomi nasional yang dipecah menjadi beberapa wilayahekonomi regional maka wilayah-wilayah ekonomi regional tersebut haruslah definitif.Jadi kesulitan pertama adalah kesulitan definisi. Kesulitan yang kedua adalahbagaimana memecah ekonomi nasional tersebut ke dalam ekonomi-ekonomi wilayahyang saling terkait, atau menjadi wilayah-wilayah ekonomi yang terintegrasi.Berdasarkan pendekatan definisi ini, maka wilayah dapat dibedakan dalam tiga kategoripokok: (1) Wilayah-wilayah Homogen (Homogenous Regions). (2) Wilayah-wilayahModal (Modal Regions). (3) Wilayah-wilayah Perencanaan (Planning Regions).6.1.1 Wilayah Homogen Wilayah ini merupakan satu kesatuan tata ruang yang dibentuk oleh wilayah-wilayah yang memiliki sifat-sifat (charateristics) sama atau mirip. Misalnya: strukturproduksinya sama, struktur pekerjaan penduduk sama, faktor geografis, sumber dayaalam yang menonjol, dan mungkin pula meliputi sifat-sifat (characteristic) yang nonekonomis seperti: kesamaan perilaku sosial, latar belakang sejarah dan budaya,pandangan politik, dan sebagainya. Masalah yang ditemukan dalam kategori wilayah ini adalah, dimana beberapawilayah di sekitarnya mungkin saling terkait dalam hal-hal tertentu dan tidak terkaitdalam hal-hal yang lain. Kriteria homogen misalnya pendapatan perkapita. Kriteria inimungkin berguna bila diterapkan secara dinamis dan saling berketergantungan di antarapendapatan wilayah dalam proses pembangunan. Pendapatan perkapita tiap wilayahtersebut dapat dipakai sebagai ukuran maju mundurnya suatu wilayah atau sub-wilayahdalam proses pembangunan. D.C North memakai kesatuan daya tarik sebagai dasar kesatuan wilayah danekonomi wilayah diperlihatkan sebagai model ekonomi basis ekspor (Export Base).Perkembangan pada kegiatan ekspor base dilakukan untuk mencapai tingkat pendapatanwilayah yang lebih baik. Di dalam wilayah tersebut terjadi interaksi antara pusataglomerasi (pusat pertumbuhan) dengan wilayah pinggiran/sekitarnya (Periphery).Hasil ekspor akan memperbesar pendapatan wilayah dengan adanya penguatan prosesmultiplier. 86
  • 97. Dalam kasus seperti Indonesia, ekspor sumber daya alam dari daerah-daerah adaberbagai kemungkinan yang mungkin perlu dipertimbangkan, antara lain: Pertama:Sumber daya alam diekspor tetapi devisa tidak kembali langsung ke daerah pengekspor.Penguatan multiplier tidak terjadi secara langsung di daerah tersebut. Kedua: Sumberdaya alam diekspor dan devisa masuk langsung ke daerah tersebut. Penguatan multiplierakan terjadi secara langsung di daerah tersebut. Ketiga: Sumber daya alam dieksporsetelah di olah di daerah tersebut. Penguatan multiplier yang terjadi di daerah tersebutakan lebih besar. Kemungkinan yang ketiga ini adalah pilihan yang paling ideal. L. Vining berpendapat bahwa wilayah dapat dibentuk sektor ekspornya, jugasector ekspor tersebut membentuk arus pemasukan modal (Capital Inflow).Perdagangan tersebut meliputi perdagangan di dalam wilayah dan perdagangan ke luarwilayah. Area pengaruh tersebut dikategorikan sebagai sebuah wilayah. Model inimenganalisis MPC rumahtangga terhadap produk lokal, MPC terhadap produk antarwilayah dan elastisitas permintaan kelompok masyarakat berpendapatan rendahterhadap barang impor. Perhatian konsep analisis ini ditujukan terhadap wilayah terbatas, tetapi dapatmeluas meliputi analisis makro ekonomi wilayah secara keseluruhan yang merupakanteori penentuan pendapatan wilayah, pertumbuhan ekonomi wilayah, dan siklusekonomi wilayah. Secara langsung atau tidak langsung analisis ini mengandungpengertian akan adanya kesatuan tujuan jangka pendek dan jangka panjang di dalamaktifitas ekonomi wilayah, menyangkut gerak-gerik variabel-variabel parametertertentu, seperti: MPC (Marginal Propensity to Consume), MPI (Marginal Propensityto Import), MCOR (Margimal Capital Output Ratio), dan ASIR (Average Saving IncomeRatio). Variabel-variabel tersebut harus diasumsikan mendekati konstan meliputiwilayah besar guna memiliki kekuatan peramalan. Di dalam kenyataannya perbedaan-perbedaan di dalam suatu wilayah tetap ada.Ini merupakan gejala ekonomi yang umum, misalnya perbedaan karakteristik antarawilayah pedesaan dan wilayah perkotaan. Oleh karena itu pula di dalam sebuah wilayahterdapat perbedaan tingkat pendapatan dan selera penduduk di antara sub-subwilayahtersebut. Kepadatan penduduk sering tidak merata. Oleh karena itu pula konsep wilayahhomogen banyak ditinggalkan oleh ahli-ahli ekonomi regional. Terkecuali untukwilayah-wilayah yang sangat luas dan pusat-pusat pertumbuhan kota selalu diintrodusirsebagai homogen.6.1.2 Wilayah Modal (Wilayah Polarisasi) Perbedaan kategori wilayah ini adalah pada adanya saling ketergantungan diantara bagian-bagian wilayah yang berbeda. Hubungan di antara kesatuan-kesatuanwilayah di dalam batas (lingkupan) ruang berfungsi saling keterkaitan, dan tidakdimasukkan faktor jarak, sebagaimana halnya di dalam model grafiti potensial (GraffitiPotential Model). Ahli-ahli geografi berpendapat bahwa wilayah nodal ini merupakan wilayahyang real, sedangkan wilayah Homogen bersifat subjektif. Fungsi saling terkait terlihatpada gejala arus penduduk, arus barang dan jasa, arus komunikasi, dan rute alattransportasi. Arus tersebut biasanya tidak merata, terpola, dimana pada pusat-pusatkegiatan (kota-kota besar) arus tersebut lebih padat. Struktur arus akan terstruktur sesuaidengan pusat-pusat kegiatan (kota-kota) dan pengendalian terhadap arus-arus tersebutdilakukan di pusat-pusat kegiatan yang menonjol tersebut. Yang dimaksudkan dengansaling ketergantungan dalam hal ini adalah ketergantungan antara inti (core) dengan 87
  • 98. sub-sub wilayah sekitarnya. Ketergantungan in lebih ditekankan pada organisasi tataruang wilayah, seperti struktur kota, wilayah metropolitan dan wilayah pengaruhnya.Harus disadari bahwa konsep wilayah nodes ini sulit menentukan batas-bataswilayahnya. Yang menjadi perhatian tidak hanya fungsi saling keterkaitan secaraterstruktur ke dalam (intra regional connection/internal relationship) tetapi keterkaitanantara nodes dengan wilayah-wilayah lain (inter regional connection). Disamping itu,wilayah nodal juga mengungkapkan tentang sarana/prasarana yang terstruktur (jaringantransportasi, tenaga listrik, komunikasi, pipa air bersih, dan sebagainya). Demikian pulaarus (flow) lainnya, seperti migrasi antar wilayah, bahan baku industri pengolahan, danlain-lain sehingga terbentuk suatu kerangka tataruang yang luas. Dalam perkembangan fungsi keterkaitan wilayah tersebut ternyata fungsiketerkaitan pelayanan lebih baik dibandingkan fungsi keterkaitan produksi, karenafungsi keterkaitan pelayanan mendorong tumbuhnya berbagai bentuk kegiatan ekonominasional pada tingkat wilayah dan subwilayah. Tingkatan dan orientasi arus polarisasi dapat dilihat dalam banyak cara, seperti:Luas wilayah distribusi barang-barang eceran, distribusi barang-barang persediaan,persentase gerakan barang-barang pada masing-masing route transportasi, persentasearus penumpang pada masing-masing route transportasi, pola komuter (orang-orangyang hilir mudik antara rumah dan tempat kerja), kepadatan komunikasi telepon,kepadatan surat kabar, arus keuangan, konsentrasi mahasiswa/perguruan tinggi, sebaranfasilitas pelayanan sosial, sebaran fasilitas rekreasi, sebaran wilayah-wilayahkonsentrasi buruh, dan lain sebaginaya. Wilayah metropolitan secara umum sama dengan wilayah modal. Wilayahmetropolitan memiliki lebih dari satu pusat wilayah. Kepadatan penduduk menyerupaisebuah cincin.6.1.3 Wilayah Perencanaan (Planning Region) Wilayah perencanaan dibuat atas dasar: kedekatan, saling terkait secara logis,dan merupakan kesatuan pengambilan keputusan ekonomi. Planning Region disebutjuga Programming Region. Melalui perencanaan, pemerintah mencoba mengaturaktifitas dalam rangka meningkatkan manfaat bagi rakyat banyak. Pemerintah membuatkebijakan-kebijakan, dan salah satu kebijakan itu adalah kebijakan perwilayahan.Rencana-rencana atau program-program pemerintah tersebut diimplementasikan.Melalui perencanaan-perencanaan yang cukup fleksibel pemerintah membuatpengaturan-pengaturan tersebut berbeda-beda. Di negara-negara sosialis lebih ketat, dimana regionalisasi berarti pembagian wilayah negara dalam proses perencanaan kedalam bagian-bagian yang spesifik dan membuat dasar administrasinya. Statushukumnya kuat sekali. Di Indonesia pada periode orde lama, status hokum perencanaan lebih kuatdibandingkan dengan pada periode orde baru. Rencana Pembangunan SemestaBerencana (1959-1967), periode orde lama, dibuat berdasarkan Undang Undang(produk legislatif), sedangkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), sejak1969, dibuat berdasrkan peraturan pemerintah. Repelita relatif lebih mudah dilakukanpenyesuaian-penyesuaian oleh pemerintah (lebih fleksibel), sedangkan RencanaPembangunan Semesta Berencana tidak mudah untuk dilakukan penyesuaian-penyesuaian (kaku). Ketidakberhasilan Pembangunan Semesta Berencana 1959-1966 dinilai karenakurang realistis dan karena pada periode-periode tersebut bangsa Indonesia lebih banyak 88
  • 99. memberikan perhatian kepada masalah-masalah politik, masalah-masalah konsolidasiideologi nasional. Masalah efisiensi kurang mendapat perhatian. Pembangunandilaksanakan dengan system anggaran defisit, yang kemudian mengundang inflasimencapai sekitar 670% pertahun pada tahun 1965 dan terjadi kekacauan ekonomi. Untuk suatu wilayah perencanaan perlu diketahui ruang lingkup (batas-batas)pengaruhnya, sebagai batas-batas pengaruh ekonominya. Dengan demikian ekonomiwilayah tersebut dapat didorong dengan suatu perencanaan yang didasarkan kepadabatas-batasnya secara alamiah dan pengetahuan tentang sifat-sifat wilayah tersebut.Kalau perencanaan tidak memperhatikan fungsi-fungsi keterkaitan dari wilayah sepertiitu maka besar kemungkinan keputusan-keputusan pemerintah yang dibuat untukmendorong pembangunan wilayah tidak akan efektif. Untuk itu suatu perencanaanmemerlukan data statistik dan monografi wilayah yang tidak terbatasi oleh batas-bataswilayah administrtasi. Dalam perkembangannya lebih lanjut, wilayah perencanaan dapat sama denganwilayah modal. Wilayah perencanaan juga tidak berbeda dengan wilayah homogen.Kalau sifat-sifat homogen dipakai pada unit-unit wilayah perencanaan maka akan terjadipartisipasi, akan ada arus hubungan di antara pusat wilayah. Mengenai mana yang lebihpenting apakah wilayah homogen dengan wilayah nodal, itu tergantung kepada maksudperencanaan. Apabila yang diinginkan adalah berkembangnya saling keterkaitan antarwilayah maka yang lebih penting adalah wilayah modal. Akan tetapi kalau interestperencanaan itu adalah untuk kesatuan wilayah, maka yang lebih penting adalahwilayah homogen, yaitu didasarkan kepada saling pengaruh-mempengaruhi antar sub-subwilayah. Selain itu kategori suatu wilayah akan ditentukan oleh kedudukannya di dalamsatu kesatuan struktur wilayah nasional. Apabila ekonomi nasional dipecah ke dalamsejumlah ekonomi wilayah dengan baik dan jelas struktur internalnya, maka ekonomiwilayah seperti itu merupakan sub-sub wilayah perekonomian nasional di atas wilayah-wilayah homogen yang baik. Akan tetapi kalau sistem wilayah tersebut merupakan sistem ketidakseimbangan,membentuk wilayah-wilayah yang tidak sama, maka sistem wilayah seperti itudinamakan sistem wilayah polarisasi. Misalnya di dalam suatu wilayah nasionalterdapat dua wilayah yang besar-besar dan maju, dan selebihnya terdiri dari wilayah-wilayah yang kecil-kecil serta terbelakang, struktur ekonominya tidak tertata secaraberencana, tidak jelas keterkaitannya satu sama lain secara geografis, tidak jelasketerkaitan wilayah yang satu dengan yang lainnya dengan spesifikasi masing-masingsebagai satu kesatuan dalam wilayah nasional. Wilayah tersebut lebih memperlihatkanketerkaitan fungsinya pada arus polarisasi wilayah kepada dua wilayah yang maju saja,bukan arus antar wilayah secara keseluruhan dengan pusat-pusat wilayah tersebut, yangmemakai arus keterkaitan antar wilayah baik ke dalam maupun ke luar. Oleh karena itupilihan ideal sebuah wilayah perencanaan tergantung kepada tujuan yang ingin dicapai.Didasarkan kepada tujuan tersebut sekelompok wilayah diteliti, bagaimana strukturumum yang dimilikinya, bagaimana system integrasinya secara umum. Langkah selanjutnya adalah membuat kerangka sifat-sifat wilayah, akuntansiwilayah berdasarkan struktur umumnya, yang didasarkan kepada teori-teori, analisispendapatan wilayah dan pertumbuhan pendapatan/ekonomi wilayah. Diasumsikanbahwa wilayah-wilayah itu homogen, atau wilayah-wilayah tersebut sama denganwilayah perencanaan. Di dalam system akuntansi wilayah diakui (diterima) variabel-variabel: wilayah sebagai satu kesatuan produksi, pendapatan, konsumsi dan jarak, serta 89
  • 100. keterkaitan wilayah ke dalam (keterkaitan akuntansi input-output industri) digunakansebagai dasarnya.6.2. Akuntansi Wilayah (Regional Account) Uraian tentang akuntansi wilayah ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: 1. Pendahuluan 2. Pehitungan Pendapatan dan Produksi Wilayah 3. Perhitungan Input-Output Wilayah6.2.1. Pendahuluan Fungsi perhitungan pada tingkat wilayah sama saja dengan fungsi perhitunganpada tingkat nasional, yang bertujuan untuk dapat melakukan analisis ekonomi padatingkat wilayah, yaitu analisis ekonomi yang bersifat makro. Secara umum terdapatperbedaan antara analisis yang dilakukan untuk tujuan jangka pendek dan jangkapannjang. Banyak analisis yang lebih mengutamakan untuk menjawab masalah-masalahfluktuasi ekonomi jangka pendek, yaitu bagaimana dapat menjaga stabilisasi ekonomijangka pendek dari gelombang fluktusi siklus bisnis. Analisis ekonomi wilayah lebih ditujukan untuk maksud-maksud stabilitasekonomi jangka panjang, misalnya untuk perubahan struktur ekonomi wilayah. Adanyafluktuasi ekonomi jangka pendek yang penyebabnya merupakan hasil interaksi antarasatu wilayah dengan wilayah lain tidak dibicarakan dalam analisis wilayah, tetapi yanglebih diutamakan adalah perhatian kepada pertumbuhan ekonomi wilayah, bagaimanamasing-masing wilayah dapat menyesuaikan diri terhadap proses perkembangan jangkapanjang yang berkaitan erat dengan perkembangan sumberdaya-sumberdaya produksi(Inputs), perubahan teknologi dan perubahan struktur ekonomi wilayah. Kerangka akuntansi wilayah diperlukan untuk memecahkan masalah-masalahyang kompleks. Sifat dan fungsi-fungsi akuntansi wilayah tidak melihat kepada lebihkompleks atau sederhananya di dalam struktur perhitungan tersebut. Variabel-variabelyang digunakan sama, walaupun ada juga perbedaan-perbedaan antara keterkaitansecara akuntansi dengan keterkaitan secara teoritis. Akuntansi wilayah diekspresikandalam bentuk identitas neraca antar wilayah dan yang didefinisikan secara benar, yaituberdasarkan fakta-fakta yang ada. Sedangkan keterkaitan secara teoritis antar wilayahdidapatkan dari tujuan analisis, tidak persis benar, tetapi merupakan suatu generalisasiyang bersifat prediktif. Oleh karena itu pula akuntansi wilayah membimbing parateoritisi dapat mendefinisikan konsep-konsep wilayah secara jelas dan konsisten dengandata yang ada, baik data statistik maupun informasi-informasi lain. Dengan kata lain,sistem akuntansi wilayah membantu perkembangan teori ekonomi wilayah yang lebihmemiliki nilai operasional. Kedudukan akuntansi wilayah: Pertama, merupakan dukungan dasar sebelumdilakukan suatu evaluasi secara teoritis. Akuntansi wilayah dapat mengembangkansuatu kerangka untuk analisis kebijakan ekonomi wilayah. Kedua: memberikaninformasi yang objektif dalam melihat dampak evolusi yang dikaitkan dengan sistemregional sebagai akibat dari kebijaksanaan nasional, atau perubahan-perubahan dalamkegiatan ekonomi pada semua tingkat (pusat maupun daerah, atau nasional maupunregional). Ketiga: menyoroti perbedaan penting di antara kerangka akuntansi wilayahdengan akuntansi nasional. Ini diperlukan dalam rangka membangun suatu akuntansiwilayah secara nasional dengan asumsi bahwa wilayah adalah sebagai wilayah yang 90
  • 101. tertutup. Perdagangan antar wilayah dalam rangka saling mengembangkan di antarawilayah. Akuntansi wilayah mengikuti prosedur pengembangan analisis wilayah.Ekonomi suatu wilayah dipandang sebagai suatu ekonomi terbuka dan akuntansiwilayah disyaratkan harus dengan metode yang memudahkan untuk melihat dampakpengaruh kekuatan eksternal pada produksi-produksi local daerah yang bersangkutan.Struktur pencatatan dari akuntansi wilayah harus memungkinkan mengakomodasikanelemen-elemen eksogenus maupun endogenus, dan memperlihatkan interaksi-interaksiantara kegiatan-kegiatan ekonomi nasional, wilayah, dan ekonomi antar wilayah.Dengan kata lain diperlukan disain akuntansi wilayah dalam rangka memahami sifat-sifat keseimbangan ekonomi wilayah secara umum. Dari sistem akuntansi wilayahtersebut juga harus terlihat perkembangan sektor pemerintahan, sektor swasta, wilayahsecara individual, wilayah-wilayah terkebelakang, dan sebagainya. Juga lebih baik lagi,jika system akuntansi wilayah tersebut dapat memperlihatkan perkembangan sub-subwilayah secara parsial untuk dapat melakukan analisis terhadap kebijakan-kebijakanlokal. Disusunnya akuntansi wilayah dimaksudkan agar dapat memberikan informasitentang dampak dari keterkaitan ke dalam suatu wilayah secara individual, keterkaitanke luar dengan wilayah-wilayah lain/internasional, dan dampak dari kebijakanpemerintah pusat. Data kuantitatif seperti itu diperlukan untuk memperkirakan impor-ekspor wilayah yang luas, dikaitkan dengan nilai Marginal Propensity to Import (MPI),perbedaan pendapatan regional yang bersifat geografis (perbedaan PDRB antarwilayah). Perbedaan itu mungkin karena penduduk suatu wilayah yang bekerja diwilayah lain, dan/atau modal suatu wilayah ditanamkan di wilayah lain. Tentu saja dataini cukup sulit dihimpun, karena banyak transaksi-transaksi antar wilayah yang tidaktercatat, mengingat hal itu bukan sasaran pengawasan administrasi. Pengambil-pengambil keputusan memerlukan perkiraan pendapatan wilayah untuk memperkirakankapasitas pasar wilayah. Akuntansi ini menghasilkan perkiraan volume arus barangantar wilayah dan neraca pembayaran antar wilayah. Ini adalah kerangka akuntansiregional. Sumbangan wilayah kepada pemerintah pusat tidak diperhitungkan. Anggaranpemerintah pusat akan memberikan dampak kepada pembangunan wilayah. Demikianpula kontribusi relatif dari wilayah-wilayah secara individual terhadap total penerimaanpajak pemerintah pusat, pengaruhnya besar dan luas. Berdasarkan hal-hal tersebut makajelas bahwa struktur perhitungan nasional konvensional tetap dipakai pada akuntansiwilayah. Masalah-masalah wilayah biasanya dibedakan dengan masalah-masalah yangditonjolkan pada tingkat nasional, masalah-masalah wilayah tidak merupakan suatukebutuhan lebih lanjut untuk kelengkapan perhitungan pendapatan/produksi nasional,sebagai kerangka dasar informasi ekonomi. Sebagai contoh di dalam studi-studi―dampak evolusi‖ terhadap latar belakang perindustrian suatu wilayah mungkin lebihbanyak kegunaannya dibandingkan studi pembagian pusat-pusat tabungan dan investasi.Dari gambaran-gambaran tersebut di atas maka akan sulit diketahui kalau sistemakuntansi wilayah atas dasar geografi yang didasarkan kepada perkiraan-perkiraanimbal beli antar industri nasional yang tidak lengkap dari data arus pendapatan nasional. Akhirnya, dengan memperhatikan konsepsi perhitungan (akuntansi) pada tingkatwilayah tidak sampai mengaburkan faktanya, di mana suatu perhitungan yang demikianitu merupakan kerangka perhitungan empiris. Akuntansi wilayah adalah penggabungan 91
  • 102. data statistik dan bangun teori. Untuk mengefektifkan fungsi dari akuntansi wilayahharuslah dibangun berdasarkan apa adanya, dan yang paling pokok adalah tidakmenyulitkan dalam pengumpulan datanya. Di beberapa negara, terkecuali negara-negarayang menganut system konstitusi federal, system administrasi wilayah yang digunakansecara operasional untuk akuntansi wilayah, seperti halnya Inggris, tidak kaku. Untukmemperoleh data tersebut sangat mahal, dan proporsi-proporsi bagiannya tidak mungkindiukur tanpa adanya lembaga-lembaga baru yang ditugaskan untuk menghitungnya. Untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang perlu dibuat maka data pendapatanwilayah penting sekali, tetapi kalau transaksi-transaksi antar wilayah dan transaksiwilayah dengan luar negeri tidak terliput oleh pengawasan administrasi tidak mungkindilakukan akuntansi wilayah pada level yang lebih bawah. Perusahaan-perusahaan yangbersifat multiplant yang beroperasi di wilayah tersebut juga mungkin menambahmasalah-masalah statistik. Sebagai perusahaan yang memproduksi barang-barangsetengah jadi di satu wilayah dan digunakan sebagai bahan baku (mata rantai produksiindustri) di wilayah yang lain, di mana nilai produksi masing-masing wilayah mungkinsulit diketahui (sulit dicatat). Laba yang diperoleh perusahaan di masing-masingwilayah sulit dibagi-bagi/dihitung. Alokasi proyek-proyek tidak langsung untukwilayah-wilayah yang berbeda juga tidak mungkin dilakukan, terutama pajak yangdikenakan pada bahan baku/barang-barang setengah jadi di pelabuhan-pelabuhansebelum diangkut ke lokasi-lokasi tujuan memprosesnya lebih lanjut. Untuk barang-barang produksi rumah tangga juga ada masalah, dimana barang-barang tersebutbiasanya tidak dikenakan pajak pada level produksi, tetapi dikenakannya pada waktudikonsumsi, dimana saja di dalam wilayah suatu negara. Semua masalah-masalah yangseperti itu merupakan tambahan-tambahan masalah yang perlu mendapat pengkajiankembali, dimana konsepsi kerangka akuntansi wilayah menjadi lebih lengkap.6.2.2 Perhitungan Produk dan Pendapatan Regional Sebagai contoh diperkenalkan perhitungan Richard Stone, Departemen IlmuEkonomi Terapan Universitas Cambridge. Model ini mengelompokkan kegiatanekonomi wilayah (Daerah) ke dalam tiga kelompok utama, yaitu: (1) Produksi, (2)Konsumsi, dan (3) Investasi Di dalam suatu sistem perekonomian terbuka, pengelompokan seperti ini jugadiperlukan untuk menampung transaksi sisa perdagangan luar negeri. Sisa ekspor-imporini di satu kelompokkan dengan transaksi antar wilayah. Akuntansi wilayah tersebutdilengkapi pula dengan kelompok transaksi pemerintah pusat. Transaksi pemerintahpusat dipisahkan dengan transaksi daerah (wilayah) untuk menghindari kesalahan-kesalahan di dalam pencatatan transaksi yang dilakukan oleh organisasi verticalpemerintah pusat, yang bila disatukan dengan transaksi wilayah dapat mempengaruhineraca antarwilayah, menghilangkan signifikansi wilayah. Kegiatan-kegiatan produksipemerintah daerah dan berbagai bentuk produksi lainnya disatukan ke dalam kelompokperhitungan produksi, pendapatan dan modal wilayah. Susunan atau bentuk lengkap dari perhitungan (akuntansi) wilayah disajikandalam bentuk matrik sebagaimana diperlihatkan dalam tabel 6.1. Baris pertama dankolom-kolomnya meliputi tiga perhitungan. Impor semuanya dimasukkan ke dalamperhitungan produksi sebuah wilayah, diperlihatkan baris pertama, diimbangi denganbesaran-besaran yang diperlihatkan sebelumnya pada kolom pertama. Perkiraanpendapatan dan pengeluaran wilayah j disajikan di dalam baris dan kolom dua. Barisdan kolom tiga menyajikan perkiraan modal masuk dan modal ke luar wilayah j. 92
  • 103. Tiga perkiraan tersebut meliputi 14 perhitungan masukan bagi setiap wilayah.Total ketiga perhitungan tersebut menghasilkan: (1) Perkiraan produksi (GDP) wilayahpada harga yang berlaku, (2) Perkiraan pendapatan (GRI) + transfer-transfer bersihtahun berjalan. Perkiraan modal, tambahan bersih kekayaan wilayah dalam bentukpersediaan-persediaan investasi dan asset tetap, atau tambahan tagihan terhadapwilayah-wilayah lainnya. Perkiraan-perkiraan pemerintah pusat diperlihatkan pada baris4-6 kolom 5, yang merupakan aktifitas pendapatan dan pengeluaran pada tahun yangsedang berjalan. Baris 6 mewakili perkiraan modal pemerintah pusat. Perkiraan inimerupakan perpindahan dari lalu-lintas pemasukan modal baru, atau akibat dari neracapengeluaran dan penerimaan pemerintah pusat, dikaitkan dengan arus modal wilayahyang bersangkutan ke luar (kolom 3). Baris dan kolom 7-9 mewakili perkiraan-perkiraan produksi, pendapatan/pengeluaran dan modal, yang menyangkut transaksidengan wilayah-wilayah lain dan luar negeri. Tabel 6.1 Tabel Perhitungan Produksi dan Pendapatan Wilayah Richard Stone Ke Wilayah Pemerintah Wilayah2 lain Pusat dan luar negeri 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Dari P Y K P Y K P Y K Wilayah 1 P 0 Cjj Vjj 0 Cjg 0 Xjr 0 0 2 Y Ydj 0 0 0 Gjg 0 Yjr Gjr 0 3 K 0 Sjj 0 0 0 Tjg 0 0 0 Pemerintah Pusat 4 P 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Y Igj Dgj 0 0 0 -Sgg Ygr 0 0 6 K 0 0 Bgj 0 0 0 -Vgr 0 Bgr Wilayah-wilayah lain dan luar negeri 7 P 0 0 0 0 Crg 0 0 0 0 8 Y 0 0 0 0 Grg 0 Mrr 0 0 9 K 0 0 Brj 0 0 Trg 0 Nrr 0 93
  • 104. Keterangan: Y GDP pada harga berlaku wilayah j (termasuk apresiasi stock). Pajak tidak =dj langsung kurang subsidi yang dibayar wilayah j. = I Konsumsi rumahtangga dan pemerintah daerah wilayah j. Investasi bruto =gj wilayah j dalam bentuk asset tetap dan stocks, termasuk apresiasi stocks. = C Penjualan wilayah j kepada pemerintah pusat untuk tujuan konsumsi.jj Ekspor netto wilayah j ke semua wilayah lain dan luar negeri. Tabungan bruto = V wilayah j.jj Pajak langsung pendapatan wilayah yang dibayarkan kepada pemerintah = pusat. = C Transfer-transfer lancar, hadiah-hadiah dan hibah-hibah yang diterima =jg wilayah j dari pemerintah pusat. Penerimaan-penerimaan netto (faktor pendapatan) wilayah j dari semua = X wilayah dan luar negeri.jr Transfers lancar yang diterima wilayah j dari semua wilayah dan luar negeri. = S Transfers modal netto yang diterima wilayah j dari pemerintah pusat.jj Pinjaman bersih pemerintah pusat dari wilayah j. = D Pinjaman bersih seluruh wilayah lainnya dan luar negeri dari wilayah j.gj Pengeluaran lancar pemerintah pusat untuk luar negeri terhadap pembelian = barang-barang dan jasa-jasa. G Transfer lancar bersih luar negeri pemerintah pusat. =jg Defisit tabungan pemerintah pusat. = Pembayaran-pembayaran bersih (pendapatan factor) yang diterima pemerintah Y pusat dari semua wilayah lainnya dan luar negeri. =jr Transfer-transfer modal bersih yang dibayar pemerintah pusat ke luar negeri. Investasi yang bernilai negatif di dalam asset-aset tetap dan stocks dari = G pemerintah pusat.jr Pinjaman bersih pemerintah pusat dari luar negeri. = Transfer-transfer keseimbangan terhadap perkiraan-perkiraan pendapatan dan T pengeluaran, misalnya penerimaan negara dari penjualan barang/jasa dalamjg bentuk pendapatan faktor. = Transfer keseimbangan terhadap perhitungan transaksi modal, yaitu neraca B luar=negeri dalam perkiraan lancar dengan negara tersebut.gj Wilayah yang bersangkutan. B Pemerintah pusat. =rj Semua wilayah lainnya dan luar negeri. = Perkiraan produksi C Perkiraan pendapatan dan pengeluaran.rg Perkiraan modal. = Grg = - = Sgg = Y =gr = = 94
  • 105. Trg -Vgr Bgr Mrr Nrr j g r P Y K . Perkiraan-perkiraan ini memberikan kemungkinan bagi diketahuinya beberapabesaran ekonomi domestik dan nasional. Seperti Produk Domestik Bruto (GDP) padaharga yang berlaku + apresiasi stock = Ydj , yang merupakan produksi domestikwilayah j. Dapat pula diketahui total konsumsi, yaitu: C jj C jg C rj6.2.3 Perhitungan Input-Output Wilayah Pada perhitungan input-output willayah ini, industri (sektor-sektor ekonomi)dilihat pada tingkat wilayah, untuk melihat berbagai pengaruh perubahan yang datangdari luar terhadap ekonomi suatu wilayah. Tujuan perhitungan input-output tersebutmemiliki nilai yang lebih luas dari perhitungan-perhitungan produksi dan pendapatanwilayah. Atas dasar perhitungan ini maka kebutuhan-kebutuhan data untuk menyusunsebuah model input-output antar wilayah semakin banyak. Perhitungan input-outputmerupakan suatu perluasan dan modifikasi perhitungan-perhitungan produksi danpendapatan wilayah. Model input-output wilayah memasukkan asumsi-asumsi dasar model Leontiefyang umum. Setiap komoditas yang di-supply oleh industri tunggal atau sektor produksihanya digunakan satu metode, yaitu untuk pembuatan komoditi masing-masing dansektor masing-masing hanya terdapat satu input primer, dan tidak terdapat inputbersama. Pengembangan analisis ini menjadi suatu susunan analisis input-output antarwilayah. Adakalanya diperlukan asumsi-asumsi tambahan sebagai berikut:Pertama : Bahwa sistemnya tertutup, artinya tidak ada impor-ekspor (perdagangan luar negeri). Asumsi ini tidak realistis, oleh karena itu impor-ekspor diasumsikan sebagai suatu wilayah di samping wilayah-wilayah yang lain yang melakukan transaksi (perdagangan) dengan wilayah yang bersangkutan. 95
  • 106. Kedua: Analisis industri antar wilayah tersebut tidak hanya mengasumsikan koefisien produksinya tetap, tetapi koefisien perdaganganpun diasumsikan tidak berubah. Oleh karena itu, akibat dari perubahan tertentu tidak menyimpang dari perbedaan-perbedaan geografis di lokasi tersebut, yaitu yang menyangkut permintaan final atau sumber supply.Terakhir: Bahwa seluruh impor dari suatu wilayah tercatat pada matrik antar industri. Susunan hipotesis perhitungan input-output antar wilayah (inter-regional input-output) disajikan dalam tabel l6.2 berikut ini. Analisis ini, sebagai suatu ilustrasi, dibatasi hanya untuk dua wilayah (A dan B)dan tiga jenis komoditas saja (1,2 dan 3), yaitu: (a) Perkiraan-perkiraan antar-industridiperlihatkan pada kuadran kiri atas tabel, (b) Kegiatan-kegiatan produksi bersama-sama dikelompokkan kedalam sejumlah sektor-sektor, dalam kasus ini ada tiga sektor.Setiap sektor diperlihatkan di dalam sistem perkiraan ganda, sebagai produsen outputdan sebagai pemakai input, (c) Setiap unsur yang berhadapan memperlihatkan disposisioutput dari sektor itu dalam setiap wilayah, dan dari sumber (impor atau domestik).Jumlah keseluruhan unsur-unsur tersebut menghasilkan total penggunaan intermediateoleh wilayah (Wi). Tabel 6.2: Perhitungan Input-Output Inter-Regional (dua wilayah, tiga komoditas/sektor) Dari PemakaianKe Intermediate Pembelian Final Total Supply Sektor Pembelian Tot al Pemakai Eksp Pe Permintaa Produk 1 2 3 Total an or mb. n Total Impor si Final Fina =Total DomestDari Domestik l Supply ikSektorProd. 1 XAA11 XAA12 XAA13 XAA11 WA1 DA1 YA1 ZA1 XBA1 XAA1 XBA11 XBA12 XBA13 XBA11 XBB11 XBB12 XBB13 XBB11 WB1 DB1 YB1 ZB1 XAB1 XBB1 XAB11 XAB12 XAB13 XAB11 2 XAA21 XAA22 XAA33 XAA11 WA2 DA2 YA2 ZA2 XBA2 XAA2 XBA21 XBA22 XBA23 XBA21 XBB21 XBB22 XBB23 XBB21 WB2 DB2 YB2 ZB2 XAB2 XBB2 XAB21 XAB22 XAB23 XAB21 3 XAA31 XAA32 XAA33 XAA31 WA3 DA3 YA3 ZA3 XBA3 XAA3 XBA31 XBA32 XBA33 XBA31 XBB31 XBB32 XBB33 XBB31 AB AB AB AB WB3 DB3 YB3 ZB3 XAB3 XBB3 X 31 X 32 X 33 X 31Pembelia A U 1 UA2 UA3n 96
  • 107. Total(y.i. Inputyg UB1 UB 2 UB3diproduksi)Nilai VA1 V A2 VA3 VAD VABy VAy VATambah(input-input VB1 V B2 VB3 VBD VBAx VBy VBprimer)Total XA1+ XA2+ XA3+ DA XAB YA ZA XBA XAAproduksi MA1 MA2 MA3input-input XB1+ XB2+ XB3+ DB XBA YB ZB XAB XBByg MB1 MB2 MB3diimpor Penggunaan netto, seperti konsumsi, investasi, pemakaian pemerintah danekspor, digambarkan di dalam perkiraan-perkiraan pendapatan dan produksi, disatukanke dalam pos penggunaan final (Yi). Di dalam tabel I-O, dipecah ke dalam dua pos,yaitu pemakaian domestik final dan ekspor, yang diperlihatkan di dalam kuadran atas,yaitu: DiA X iAB Keterangan tabel: Simbol-simbol A dan B = Region-region (wilayah) A dan B, sedangkan angka1,2 dan 3 = komoditas-komoditas (sektor-sektor) 1,2 dan 3. Z1A = Penawaran total komoditas 1 di wilayah A X 1AA = Produksi total komoditas 1 di wilayah A X 1BA = Impor total komoditas 1 oleh wilayah A dari wilayah B X 1AB = Ekspor total komoditas 1 wilayah A ke wilayah B AA X 12 = Jumlah komoditas 1 produksi domestic yang digunakan di sektor 2 di wilayah A BA X 12 = Jumlah komoditas 1 yang diimpor dari wilayah B untuk digunakan di sektor 2 di wilayah A. AY1 = Pemakaian final komoditas 1 di wilayah A D1A = Penggunaan domestic final komoditas 1 di wilayah AW1 A = Penggunaan intermediate total komoditas 1 di wilayah AU 2A = Penggunaan total oleh sektor 2 di wilayah A dari input-input yang dibeli dari industri-industri lain AV2 = Penggunaan total input-input primer (nilai tambah) di sektor 2 di wilayah A X 1AA = Produksi domestic komoditas 1 di wilayah A M 2A =Penggunaan total oleh sektor 2 di wilayah A untuk input-input impor yang dibayar dari industri-industri di wilayah B. Kuadran kiri-atas tabel memperlihatkan prosedur sektor-sektor sebagai pembeliinput-input, yaitu input-input untuk wilayah yang bersangkutan yang diserap darisektor-sektor produksi lainnya, di dalam wilayah itu sendiri atau di luar wilayah itu 97
  • 108. sendiri. Jumlah keseluruhan input-input tersebut sama dengan total purchase of productinputs = Uj. Total produksi ditambah input-input yang diimpor untuk pemakaian sektor-i = (Xj + Mj), input-input primer ditambahkan kepada total pembelian. Yang dimaksuddengan input-input primer adalah belanja langsung kepada faktor-faktor primer (seperti:tanah, tenaga kerja dan modal) yang meliputi nilai tambah sektor, yang diperlihatkanpada kuadran kiri-bawah = Vj. Terakhir, pada kuadran kanan bawah didapatkan inputlangsung faktor-faktor primer untuk pemakaian final (contohnya yaitu: kesempatankerja sektor pemerintah dan pelayanan dalam negeri. Disain perhitungan input-output didasarkan kepada suatu pembagian pemakaianke dalam dua kategori, yaitu: pemakaian intermediate (pemakaian barang setengah jadi)dan pemakaian final (pemakaian barang jadi). Demikian pula input itu sendiri dibagikedalam dua kategori, yaitu: input yang diproduksi (input barang-barang setengah jadi)dan input primer. Ciri penting analisis penentuan pendapatan wilayah ini adalah dibedakannyaantara komponen-komponen input yang diproduksi (input setengah jadi) dan yangotonom (primer). Salah satu fungsi pokok perhitungan input-output adalah untukmemungkinkan para analist memisahkan gangguan efek-efek yang bersifat otonomus,misalnya perubahan pada permintaan final, perubahan pada transaksi-transaksi antarindustri dan karenanya perubahan pada produksi total di setiap sektor ekonomi. Simbol ZiA mewakili penawaran total komoditas i di wilayah A, dimana besaranini dipecah lagi ke dalam dua unsur, yaitu impor (XiBA) dan produksi domestik (XiAA).Bertolak dari persamaan yang harus seimbang, maka untuk setiap komoditas:Penawaran Total = Permintaan Total. Maka ZiA dapat juga diseimbangkan denganpermintaan total wilayah A, yaitu sebesar permintaan final dikurangi impor, ataupenggunaan intermediate total ditambah penggunaan domestik final, yaitu = WiA + DiA. Untuk dapat menjelaskan besaran-besaran arus antar-industri pada tingkatindustri antar sektor, perlu beberapa keterangan terhadap unit-unit wilayah individualdari matrik antar industri tersebut sebagai berikut: Permintaan (XijAA) masing-masingindustri (jA) untuk setiap komoditas yang diproduksi secara domestik (i) dapatdiperlihatkan sebagai sebuah fungsi produk sendiri pada tingkat tersebut. Denganmemasukkan elemen-elemen biaya tetap sama dengan nol, maka fungsi input menjadi: X ijAA mijA aijA X ijA …………………...………………(1)Keterangan: XijAA = permintaan sektor i dari sektor j yang digunakan di wilayah Adiproduksi oleh wilayah A; aijA = koefisien marginal input.mijA = porsi (bagian) input komoditas i yang disupply secara domestik di wilayah A. Permintaan industri (jA) untuk impor komoditas (i) dapat diperlihatkan dengan fungsi: X ijBA mij aijA X ijA ………………...……….…..…….(2) BA Apabila mijBA dihubungkan secara tertutup marginal propensity industri diwilayah A, untuk setiap mengimpor komoditi dari wilayah B, ternyata: BA X ijBA mij X ijAA X ijBA AA BADiketahui: mij mij 1 Dengan menggunakan koefisien yang tetap bagi keduanya, model input-outputdapat memperkirakan lemah atau kuatnya efek-efek secara kuantitatif tentangperubahan-perubahan pada permintaan output dan permintaan input, baik di dalam 98
  • 109. maupun di luar wilayah yang bersangkutan, yaitu dengan menggunakan matrik antar-industri. Hubungan-hubungan perhitungan input-output dapat diperlihatkan melaluisejumlah identitas, yang berdasarkan contoh di atas dapat disusun sebagai berikut: Z iA Wi A DiA X iAA X iBA ………………………..………………..(3)Keterangan: Wi A DiA = Permintaan Total di Wilayah A; X iAA X iBA =Pendapatan Total di Wilayah A Ini adalah persamaan keseimbangan (neraca) yang penting, dengan penguranganimpor dari permintaan final total dan juga dari produksi. Wi A mijAA aijA X jA mij aij aijA X jA ……………………….(4) BA BA Permintaan intermediate total untuk komoditas i di wilayah A. Juga: X iBA mij aij X jA ………………………………………………..(5) BA A Impor komoditas i oleh wilayah A. Kemudian subtitusikan persamaan (4) dan (5) ke (3), maka diperolehlah: X iAA mijAA aijA X jA DiA ………………………………………...(6) j Produksi Total di Wilayah A = Penggunaan Intermediate Total + PermintaanFinal Total – Impor. X iA Wi A Yi A X iBA ………………………………………………...(7) Oleh karena itu, maka: X iA X iAA X iAB …………………………………………………..…(8) Ini dapat ditulis: X iA mijAA aijA X jA DiA mijAB aijA X B ……………………..(9) j j j Dari kolom-kolom perkiraan (perhitungan) tersebut dapat diturunkan produksitotal untuk keseluruhan produksi total untuk keseluruhan jumlah input matrik. Jadi: X jA U jA V jA M jA …………………………………………..(10) Karena, U jA mijAA aijA X jA mij aijA X ijA …..…….……..…(11) BA i i Dan M A j m BA ij a A ij X …………………………………………(12) A j i Kemudian, X M ijAA aijA X jA V jA ………………………....(13) i A Karena X i X jA , maka persamaan (9) dan (13) dapat dijumlahkan untuk i jsetiap wilayah, dan selanjutnya diseimbangkan dengan setiap wilayah (region). mijAA aijA X jA DiA mijAB aij X B B j mijAA aijA X jA V jA …….(14) i j i i j i jPerkiraan seluruh transaksi inter-industri bertolak dari identitas pendapatan nasional, Yi Vj i jDengan kata lain: Permintaan Final = faktor dari perubahan-perubahan total yangmemiliki keterkaitan dengan identitas Produksi Nasional Bruto (PNB) dan PendapatanNasional Bruto (INB). 99
  • 110. Terakhir, neraca eksternal (neraca pembayaran) wilayah BBA X iAB X iBA ……………………………….………………...……(15) i iatau B A mijAB aij X B B j mij aijA X jA …………………….(16) BA i j i j 100
  • 111. BAB VII ANALISIS PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI WILAYAH7.1. Pendahuluan Salah satu sasaran pembangunan ekonomi jangka panjang adalah terjadinyaperubahan pada struktur ekonomi wilayah. Seperti diketahui bahwa pertumbuhanekonomi sebagai salah satu sasaran pembangunan, terutama bila dimulai dari kondisiketerbelakangan ke kondisi yang maju, akan disertai oleh proses perubahan padastruktur ekonomi wilayahnya. Tidak semua sektor dalam suatu perekonomian memilikikemampuan tumbuh yang sama. Oleh karena itu perencana pembangunan ekonomibiasanya akan memanfaatkan sektor-sektor yang dapat tumbuh tinggi (sektor basis, atausektor kunci, atau sektor unggulan) untuk mendorong pertumbuhan rata-rata yang relatiftinggi. Memang tidak selalu kebijakan yang seperti itu dapat dipilih begitu saja, karenahal itu dapat menghasilkan ketimpangan pendapatan antar sektor, antar kelompok danantar wilayah, jika komposisi lapangan perkerjaan pada masing-masing sektor tidakdiusahakan relatif proporsional dengan tingkat pertumbuhannya. Para perencanaekonomi biasanya mempertimbangkan pilihan pertumbuhan moderat untuk menghindariketimpangan yang mencolok. Pertanyaan penting yang perlu dijawab di sini adalah bagaimana kita mengetahuitentang proses perubahan struktur ekonomi itu terjadi di suatu wilayah? Ada beberapamodel analisis yang lazim digunakan untuk menganalisis proses perubahan strukturekonomi suatu wilayah. Model-model analisis tersebut dapat memberikan pengertianyang mendalam tentang proses perubahan struktur serta potensi ekonomi wilayah.Selanjutnya, hasil analisis ini dapat membantu memberikan dasar argumentasi yangkuat bagi suatu kebijakan yang diambil dalam perencanaan, ataupun untukmengevaluasi apakah pelaksanaan pembangunan mencapai sasaran yang direncanakanatau tidak. Hasil evaluasi tersebut juga dapat digunakan sebagai argumentasi untukmemperbaiki perencanaan pembangunan lebih lanjut. Ada enam model analisisperubahan struktur ekonomi yang akan dijelaskan pada bab ini, yaitu: model SektorEkonomi Basis, Model Location Quotion (Model LQ), model Concentration Index (CI),model Specialization Index (SI), model Lacation Indeks (LI) dan model Shift andShare.7.2. Analisis Indeks Konsentrasi John Glasson mengatakan bahwa kemakmuran satu wilayah berbeda denganwilayah yang lain. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan pada strukturekonominya, dan faktor ini merupakan faktor utama. Gambaran dari perbedaan strukturekonomi tersebut dapat tercermin pada data statistik, perkembangan neraca pembayaranantar wilayah, dan tabel input-output antar wilayah. Perubahan wilayah kepada kondisiyang lebih makmur tergantung kepada usaha-usaha di wilayah tersebut dalammenghasilkan barang-barang dan jasa-jasa, serta usaha-usaha pembangaunnan yangdiperlukan.7.2.1 Sektor Basis Ditinjau dari segi akademis, aktiviatas ekonomi wilayah dapat dibedakan atasdua jenis sektor aktivitas, yaitu sektor aktivitas basis (Basic Sectors) dan sektor 101
  • 112. aktiviatas bukan basis (Non-Basic Sectors). Aktivitas basis merupakan kegiatan yangmengekpor barang-barang dan pelayanan ke luar wilayah ekonominya atau memasarkanbarang-barang dan pelayanan kepada orang-orang yang datang dari luar perbatasanwilayah ekonominya. Sedangkan aktivitas bukan basis adalah kegiatan yangmenyediakan barang-barang dan pelayanan untuk keperluan penduduk yang tinggal diwilayah ekonomi sendiri. Aktivitas bukan basis tidak mengekspor barang/pelayanan keluar wilayah. Meningkatnya jumlah aktivitas ekonomi basis di suatu wilayah akanmembentuk arus pendapatan ke wilayah tersebut. Dengan meningkatnya aruspendapatan tersebut akan meningkat pula permintaan akan barang-barang danpelayanan di wilayah tersebut yang dihasilkan oleh sektor bukan basis. Sebaliknya,menurunnya aktivitas sektor basis di suatu wilayah akan mengakibatkan berkurangnyapendapatan yang mengalir ke wilayah tersebut dan akan mengurangi permintaanterhadap sektor bukan basis. Oleh karena itu aktivitas sektor basis sewajarnya berperansebagai penggerak utama bagi setiap perubahan dan berpengaruh ganda terhadapwilayah tersebut.7.2.1.1Angka Pengganda Pemanfaatan Tenaga Kerja Sektor basis akan memperluas kesempatan kerja, baik di sektor basis sendirimaupun di sekktor bukan pasis sebagai pengaruh aktivitasnya. Seberapa besar perluasankesempatan kerja yang diciptakan dapat dihitung. Dalam kaitan ini dikenal istilah apayang disebut angka pengganda pemanfaatan tenaga kerja (k). Contoh, suatu wilayah memiliki 500.000 orang penduduk yang bekerja.Penduduk yang bekerja itu sebanyak 250.000 orang bekerja dalam aktivitas ekonomisektor-sektor basis, dan 250.000 orang yang bekerja pada aktivitas ekonomi sektor-sektor bukan basis (1 : 1). Dengan demikian angka pengganda pemanfaatan tenaga kerja(k) di wilayah tersebut: 250.000 250.000 k 2 250.000 Dengan memiliki data sektor basis dan prospeknya di masa yang akan datang,serta angka pengganda pemanfaatan tenaga kerja perekonomian di wilayah tersebutdapat diperkirakan jumlah tenaga kerja yang akan terserap di masa yang akan datang.Misalnya, k = 2, tambahan tenaga kerja yang diserap sektor basis diperkirakan 20.000orang, maka tenaga kerja yang akan diserap sektor bukan basis 20.000 orang juga. Totaltenaga kerja yang akan dimanfaatkan perekonomian wilayah naik dari 500.000 orangmenjadi 540.000 orang, yaitu: T B (k ) 20 .000 ( 2) 40 .000Dimana: T adalah perubahan dalam jumlah tenaga kerja yang dimanfaatkan; Badalah perubahan jumlah tenaga kerja yang diperkirakan akan terjadi di sektor-sektorbasis; k adalah angka pengganda pemanfaatan tenaga kerja. Jika komposisi tenaga yangdimanfaatkan dalam perekonomian dengan jumlah penduduk adalah satu berbandingtiga (1 : 3) maka tambahan 40.000 yang diperkirakan akan dimanfaatkan pada aktivitassektor-sektor basis dan bukan basis akan menambah jumlah penduduk menjadi 540 * 3= 1.620.000 orang. 102
  • 113. Menurut Glasson, teori sektor basis ini memiliki kelemahan, terutama adanyakesulitan dalam menilai sektor basis dan bukan basis di lapangan. Sebagai contoh yangdikemukakannya, industri tambang batu bara yang menjual produknya terlebih dahulukepada perusahaan dalam wilayah, kemudian sebagian menyalurkannya kepada pabrik-pabrik di dalam wilayah dan sebagian lagi mengekspornya ke luar wilayah. Hasilperhitungan angka pengganda industri pertambangan batu bara jelas menjadi bukansektor basis, yang basis adalah sektor perdagangan. Kelemahan ini kemudian diatasidengan analisis pendekatan hasil bagi lokasi (Analisis Location Quotion), analisis LQ.7.2.2. Analisis Location Quotient (LQ) Menurut A. Bendavid (1991) LQ adalah suatu indeks untuk mengukur tingkatspesialisasi (relatif) suatu sektor atau subsektor ekonomi suatu wilayah tertentu.Pengertian relatif di sini diartikan sebagai tingkat perbandingan suatu wilayah denganwilayah yang lebih luas (wilayah referensinya), dimana wilayah yang diamatimerupakan bagian dari wilayah yang lebih luas tersebut. Misalnya, ukuran konsentrasisatu sektor atau subsektor di suatu provinsi dibandingkan dengan sektor atau subsektortersebut untuk tingkat nasionalnya. Demikian pula ukuran konsentrasi satu sektor atausubsektor pada tingkat kabupaten/kota dibandingkan dengan sektor atau subsektortersebut untuk tingkat provinsinya. Sebagaimana halnya Glasson, Bendavid jugamengatakan bahwa LQ dapat dinyatakan dalam beragam ukuran (Terminilogy), namunyang sering digunakan adalah ukuran kesempatan kerja (Sector or SubsectorEmployment) dan ukuran nilai tambah produk (Sektor or Subsector Value Added). Formula yang menggambarkan definisi indeks konsentrasi untuk terminologikesempatan kerja adalah sebagai berikut: E iR LQ E R ………………………………………………..(1) E iN ENDimana: LQ = Location Quotients; EiR = total angkatan kerja sektor i wilayah R; ER =total angkatan kerja wilayah R; EiN = total angkatan kerja sektor i di negara N; EN =total angkatan kerja di negara N Sedangkan formula yang menggambarkan definisi indeks konsentrasi untukterminologi nilai tambah produksi sebagai berikut: Vi R VR LQ ………………………………………………….(2) Vi N VNDimana: LQ = Location Quotionts; ViR = total nilai tambah produksi sektor i di daerahR; VR = total nilai tambah produksi di daerah R; ViN = total nilai tambah produksisektor i di negara N; VN = total nilai tambah produksi negara N. Jika nilai LQ > 1 maka sektor tersebut relatif di atas representasinya (OverRepresented) di daerah studi tersebut. Jika nilai LQ = 1 maka sektor tersebut relatifproporsional (Proportional). Dan jika nilai LQ < 1 maka sektor tersebut relatif di bawahproporsional (Under Represented) Menurut Bendavid, konsep LQ juga memiliki beberapa kelemahan, namun telahditemukan jalan keluar untuk mengatasi kelemahan tersebut. Kelemahannya adalah: (1)jika daerah yang diamati merupakan bahagian yang menonjol, baik dalam hal luas 103
  • 114. ataupun besarnya nilai tambah sektor, nilai pembaginya (nominator, E iN / E N )cenderung mendekati nilai pembilangnya (denominatornya, EiR / E R ), sehingga nilaiLQ-nya akan cenderung bias mendekati 1. Jalan keluarnya adalah menukar, ataumerubah wilayah referensinya dengan yang lebih luas. (2) Perbedaan produktivitas antarsektor dapat mengganggu gambaran kesimpulan objek analisis. Suatu daerah dapatteroverspesialisasi dalam aktivitas tertentu, tetapi karena produktivitas tenaga kerjanyarelatif lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain, maka hal tersebut tidak tercermindalam belanja angkatan kerja. Jalan keluarnya adalah dengan merubah terminologi LQ-nya. Oleh karena itu, indeks LQ dapat merupakan alat yang sangat berguna kalau indekstersebut tidak diterapkan secara otomatis, terlebih dulu mempertimbangkan kenyataan-kenyataan logis dari fenomena. Contoh-1 (perhitungan LQ ukuran tenaga kerja): Jika diketahui bahwa di daerahj mempekerjakan tenaga kerja di sektor i sebanyak 40.000 orang. Sedangkan totalkesempatan kerja di daerah j adalah 200.000 orang. Untuk wilayah referensinya jumlahtenaga kerja yang dipekerjakan di sektor i adalah 120.000 orang dan total kesempatankerja di seluruh sektor pada wilayah referensi 1.000.000 orang. Maka perhitungan LQ: 40.000 LQ 200.000 1,67 120.000 1.000.000 Contoh-2 (perhitungan LQ ukuran nilai tambah prosuksi): Bila diketahui sektor idi wilayah j menghasilkan nilai tambah produksi Rp 10 trilyun, total nilai tambahproduksi semua sektor Rp 100 trilyun. Nilai tambah produksi sektor i pada tingkatwilayah referensi Rp 32 trilyun dan total nilai tambah produksinya Rp 640 trilyun.Perhitungan LQ sektor i di wilayah j adalah: 10 LQ 100 2 32 6407.2.3. Analisis Concentration Indeks (CI) Model analisis ini mirip dengan model LQ. Tetapi model ini mengacu kepadarasio angkatan kerja dengan jumlah penduduk. EiR CI PR EiN PNdimana P adalah jumlah penduduk. Contoh-1 (Perhitungan CI ukuran tenaga kerja). Jika diketahui sektor i di wilajahj memiliki kesempatan kerja 40.000 orang dengan jumlah penduduh 240.000.Sedangkan sektor i di wilayah referensinya memiliki kesempatan kerja 120.000 orangdengan jumlah penduduknya 1.200.000 orang. Perhitungan CI: 40.000 CI 240.000 146 120.000 1.200.000 Perbedaan antara model LQ dengan model CI adalah, jika dijumlahkan LQsemua sektor dan dibagi dengan jumlah sektor maka hasilnya sama dengan 1. Tetapitidak demikian untuk CI, karena total angkatan kerja jumlahnya tidak sama dengan 104
  • 115. jumlah penduduk. Atau komposisi angkatan kerja dimungkinkan sekali berbeda untukwilayah yang berbeda. Disamping nominator dengan ukuran (terminologi) jumlah penduduk juga dapatdigunakan usia kerja, dan sebagainya. Baik model LQ maupun model CI dapat jugaditerapkan untuk wilayah kota dengan wilayah referensinya. Hasil-hasil perhitungandari data berurutan tahun (Time Series) akan memberikan makna yang lebih mendalamtentang kedua indeks tersebut. Tetapi intepretasinya hanya bisa dilakukan dengan latarbelakang adanya pengertian kuantitatif tentang situasi perekonomian di daerah dannegara yang bersangkutan (perlu kehati-hatian).7.2.4. Spesialisasi Indeks (SI) Analisis indeks ini merupakan salah satu cara untuk mengukur perilaku kegiatanekonomi secara keseluruhan. Misalnya, bagaimana tenaga kerja di suatu daerah tersebarke berbagai sektor ekonomi, yang dibandingkan secara relatif dengan kondisi wilayahreferensinya. Indeks ini juga bisa mengngunakan ukuran (Terminology) nilai tambahproduksi, dan lain-lain. Perbedaannya dengan model LQ dan model CI, seperti yangtelah dibicarakan terdahulu, yaitu jika indeks LQ dan CI memberikan undeks-indekssektor untuk suatu wilayah yang bersifat relatif terhadap wilayah referensinya, makaindeks SI merupakan indeks wilayah yang bersifat relatif terhadap wilayah referensinya. Prosedur perhitungannya memilikii empat langkah, yaitu: (1) menghitungbesarnya persentase angkatan kerja masing-masing sektor terhadap total kesempatankerja suatu daerah; (2) menghitung besarnya persentase angkatan kerja masing-masingsektor terhadap kesempatan kerja wilayah referensinya; (3) menghitung selisihpersentase angkatan kerja wilayah referensi dengan persentase angkatan kerja daerahyang bersangkutan untuk masing-masing sektor; (4) Jumlahkan seluruh nilai yangpositifnya dan bagi dengan 100. Itulah indeks SI. Nilainya akan berkisar antara 0sampai dengan 1. Jika nilainya sama dengan 0 maka distribusi angkatan kerja suatusektor di suatu daerah sama dengan wilaytah referensinya. Indeks SI juga dapatmenggunakan ukuran (Terminology) nilai tambah. Contoh perhitungannya:Sedtor (1) (2) (3) (4) (5) Angkatan Angkatan Persentase Persentase Selisih Kerja Kerja Angkatan Angkatan Persentase Daerah Wilayah Kerja Kerja (4) – (3) (orang) Referensi Daerah Wilayah (%) (orang) (%) Referensi (%) 1 40 600 50 75 +25 2 4 20 5 2,5 -2,5 3 8 60 10 7,5 -2,5 4 2 20 2,5 2,5 0 5 4 30 5 3,75 -1,25 6 10 80 12,5 10 -2,5 7 4 32 5 4 -1 8 3 27 3,75 3,43 -0,32 9 5 31 6,25 3,88 -2,37 80 800 100 100 105
  • 116. 1Jadi: SI = 25 100 4 Semakin besar nilai SI semakin terkonsentrasinya berbagai sektor ekonomi didaerah yang diamati secara relatif terhadap wilayah referensi. Terkecuali sektor 1, dansektor 4, sektor-sektor lainnya semua dengan kondisi under konsentrasi. Penerapanmetode ini juga perlu kehati-hatian.7.2.5. Location Indeks (LI) Indeks lain yang digunakan sebagai ukuran indeks konsentrasi adalah indekslokasi (LI). Walaupun demikian, LI tidak terfokus pada suatu daerah, tetapi pada suatusektor dan persebarannya diantara daerah-daerah yang berbeda di dalam suatu negara.Di dalam indeks ini diperbandingkan distribuasi angkatan kerja suatu sektor daerah-daerah dengan variabel referensinya. Misalnya, total angkatan kerja sektor industripengolahan dengan variabel referensinya. Keduanya dinyatakan dalam persen.Kemudian, untuk setiap daerah dihitung perbedaan selisihnya. Contoh: persentase angkatan kerja sektor pertanian sebuah daerah dikurangipersentase angkatan kerja daerah tersebut. Total selisih positif harus sama dengan totalselisih negatifnya. Jumlah selisih positif atau negatif dibagi 100. Besaran LI berkisardiantara 0 – 1. Jika LI = 0 berarti distribusi (sebaran) angkatan kerja di daerah itu samadengan variabel referensinya. Jika LI = 1, distribusi angkatan kerja secara keseluruhanberbeda dengan variabel referensinya. Contoh perhitungan: (1) (2) (3) (4) Wilayah Angkatan Total % dari (1) % dari (2)Pembangunan Kerja Angkatan terhadap terhadap (4) – (3) (WP) Sektor Kerja Nasional Nasional Industi (orang) (orang) (%) (%) (%)WP 1 25 2000 31,25 25,00 - 6,25WP 2 20 1000 25,00 12,5 0 -12,50WP 3 15 3000 18,75 37,50 +18,75WP 4 20 2000 25,00 25,00 - 0,00 80 8000 100,00 100,00Jumlah seluruh selisih = 18,75Maka LI = 18,75 : 100 = 0,1875 LI bersifat cenderung sebagai alat analisis sektoral, menyangkut distribusi(sebaran) angkatan kerja wilayah. LI berguna untuk mengetahui sektor mana yangpenting bagi sebuah daerah serta penyebarannya. LI juga dapat menggunakan ukurannilai tambah produksi, jika ingin melihat lokalisasi sumbangan produksi sektoral.7.3 Analisis Shift and Share Menurut Bendavid, konsep ini memperbaiki konsep LQ dan konsep-konsepkonsentrasi sektoral lainnya. Pada konsep ini dimasukkan unsur tingkat pertumbuhan.Tingkat pertumbuhan dihitung secara berurutan tahun (Time Series). Oleh karena itu,analisis Shift and Share ini besifat dinamis, sehingga dinilai dapat memberikan 106
  • 117. informasi yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan konsep LQ dan indekskonsentrasi lainnya. Namun demikian, masih diperlukan juga kehati-hatian dalammengintepretasikan hasil-hasil perhitungan yang didapat. Bendavid (1991) mengatakanbahwa perubahan relatif kesempatan kerja wilayah terhadap kesempatan kerja nasionalselama satu periode tertentu dapat digambarkan dalam tiga efek. Pertama, adalahdampak yang disebabkan oleh perubahan kesempatan kerja nasional pada wilayah yangbersangkuatan (National Growth Effect). Kedua, pengaruh dari berbagai sektor yangbersaing di dalam wilayah tersebut, ada sektor-sektror yang relatif tinggi dan ada yangrelatif rendah dalam menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan kondisi yang ada padatingkat nasional (Industrial Mix). Ketiga, suatu konsekwensi perubahan kesempatankerja nasioanal dalam industri (sektor) yang sejenis (Regional Share), dalam artipersaingan dianrata industri yang sama antar wilayah. Formulanya: R = N + M + S Dimana: R adalah perubahan pada kesempatan kerja regional; N unsurperubahan dari pengaruh pertumbuhan kesempatan kerja nasioanl kepada wilayah; Munsur perubahan dari pengaruh perpaduan kesempatan kerja antar sektor dalam wilayah;S adalah unsur pengaruh persaingan industri (sektor) yang sama antar wilayh. Ukuran (Terminology) kesempatan kerja (Sector or Subsector Employment),sepereti telah disebutkan di atas, dapat diganti dengan ukuran nilai tambah produk(Sektor or Subsector Value Added). Dengan bantuan model ini akan diperoleh suatugambaran informasi yang lebih mendalam tentang pertumbuhan ekonomi suatu wilayahdari ketiga unsur, atau unsur-unsur yang mempengaruhi pertumbuhan dan perubahanpada struktur ekonomi wilayah, yaitu: unsur pertumbuhan wilayah referensi (RegionalGrowth Component), unsur pertumbuhan karena perpaduan antar sektor di dalamwilayah (Sectoral, or Industrial Mix Component), dan unsur pertumbuahan karenapersaingan antar sektor antar wilayah (Competitive Effect Component). Latif Adam (1994) dan Tulus Tambunan (1994) menjabarkan ketiga unsurpertumbuhan tersebut sebagai berikut: Regional Growth Component diformulasikan sebagai berikut: t Qij Qij0 Qij , atau Qij Qt ij Qij ……………………………………(1) t t 0 Persamaan (1) dapat diperluas menjadi: t t 0 Y t 0 Qi Yt Qij Qit t Qij Qij 1 Qij 0 Qij ……............…………(2) Q0j Qi0 Y0 Qij Qi0 0 t 0 YtDimana: R = Qij = pertumbuhan total selama periode t ; N = Qij 1 = unsur Q0 j Qit Y t 0pertumbuhan wilayah referensi = National Growth Component; M = Q ij = Qi0 Y 0unsur pertumbuhan sektoral (industrtial) = Industrial Mix Componet; S = unsur t 0 Qij Qitpengaruh persaingan = Qij = Competitive Effect Component. Qij Qi0 0 Yang paling penting dalam analisis ini adalah gambaran tentang potensipertumbuhan ekonomi wilayah (daerah) tergantung pada: (1) perpaduan sektoral (TheSectoral Mix), yang meliputi sektor-sektor yang berbeda di dalam suatu wilayah, dan (2)kinerja masing-masing sektor. Di dalam perekonomian suatu wilayah terdapat sektor- 107
  • 118. sektor yang relatif baik dan relatif buruk. Pengertian relatif di sini dibandingkan diantara sektor satu dengan sektor lain. Pengertian baik atau buruk diartikan dalamterminologi yang ingin dilihat, misalnya dalam menyerap tenaga kerja melebihi porsipersentase wilayah referensi atau sebaliknya. Jika ya dinilai baik dan jika tidak dinilaiburuk. Suatu wilayah objek studi diharapkan memiliki lebih banyak sektor yangmemiliki perbedaan yang positif terhadap wilayah referensinya. Perbedaan itu disebutMix-Effect. Suatu sektor kadang memiliki kinerja yang berbeda dengan wilayahreferensinya. Perbedaan tersebut mungkin lebih besar atau lebih kecil dari yangdiharapkan, dengan mempertimbangkan perpaduan (The Mix), hal itu disebut ShereEffect. Untuk mendefinisikan kinerja sektor-sektor di suatu wilayah dihitung tingkatpertumbuhannya untuk beberapa tahun (yang disebut elemen dinamis). Berbeda dengandi dalam konsep LQ di mana elemen-elemen dinamis akan diperoleh jika dihitungberdasarkan seri waktu (dua kali pengamatan atau lebih). Sedangkan pada analisisShift-Share unsur dinamis tersebut sudah tercermin langsung di dalam modelnyasendiri, dengan menggunakan tingkat pertumbuhan. Selanjutnya, Mix-Effect diperoleh dengan cara: (1) menghitung besarnyaangkatan kerja hipotetis jika angkatan kerja wilayah tahun terakhir tumbuh dengantingkat yang sama dengan besarnya angkatan kerja wilayah referensi, dan (2)menghitung besarnya angkatan kerja hipotesis jika semua sektor di daerah yang diamatitumbuh dengan tingkat yang sama dengan semua sektor di dalam wilayah referensinya.Selisih tingkat pertumbuhan wilayah referensi dengan tingkat pertumbuhan wilayahyang diamati disebut Mix-Effect. Shere-Effect didapat dengan menghitung perbedaanantara besarnya angkatan kerja aktual dan besarnya angkatan kerja hipotetis (yangsudah dihitung sebelumnya) jika sektor-sektor di sebuah daerah tumbuh dengan tingkatyang sama dengan wilayah referensinya. Logika yang sama dapat diterapkan untukterminologi nilai tambah. 108
  • 119. BAB VIII TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI REGIONAL8.1 Pendahuluan Semua negara menginginkan adanya peningkatan standard hidup rakyatnya. Iniberarti semua negara akan senantiasa berusaha melakukan kegiatan pembangunan, yaitudengan mencoba menginventarisir potensi-potensi sumberdaya ekonomi yang ada,menyusun rencana-rencana pembangunan dan melaksanakannya melalui partisipasimasyarakat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula halnya padatingkat wilayah (daerah), setiap daerah ingin meningkatkan taraf hidup penduduk didaerahnya. Untuk itu pemerintah daerah akan berusaha mendorong pertumbuhanaktivitas ekonomi di daerahnya. Sebuah pertanyaan penting yang timbul di sini adalah:―faktor-faktor apakah yang melatarbelakangi pertumbuhan ekonomi tersebut‖. Menurut John Glasson, analisis pertumbuhan ekonomi makro dapat digunakansebagai model pertumbuhan ekonomi regional. Pertumbuhan ekonomi wilayah secaraagregat ditentukan oleh faktor-faktor endogenous dan eksogenus. Faktor-faktorendogenous merujuk kepada teori pertumbuhan dari Clark dan Fischer, yangberpendapat bahwa adanya pertambahan pendapatan perkapita di suatu wilayahdilatarbelakangi oleh adanya transformasi tenaga kerja secara berangsur-angsur darisektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri) dan sektor tersier (jasa). Adanyaperubahan secara berangsur-angsur pada sektor-sektor di dalam suatu wilayah akanmengakibatkan terbentuknya spesialisasi (pembagian kerja), menciptakan unsur dinamisbagi pertumbuhan ekonomi wilayah secara agregat. Perubahan-perubahan pada sektortersebut mengakibatkan meningkatnya pendapatan dan pengeluaran pekerja.Meningkatnya pendapatan akan mengakibatkan permintaan terhadap komoditi-komoditiyang dihasilkan sektor sekunder dan tersier yang lebih cepat dibandingkan denganterhadap komoditi-komoditi yang dihasilkan sektor primer. Dengan demikian terjadilahpeningkatan dalam output dan pendapatan wilayah. Perkembangan ekonomi suatu wilayah ada fase-fasenya, atau peringkat-peringkat ekonominya. Teori peringkat ekonomi ini, menurut Dominick Salvatore,dikembangkan oleh Friedrich List, Bruno Hinderbrand, Karl Bucher, dan Walter W.Rostow. Namun E. Wayne Nafziger hanya menyebut Walter W. Rostow sebagaipengembangnya. Rostow membagi proses pengembangan ekonomi ke dalam limaperingkat: yaitu (1) the traditional society; (2) the preconditions for take off; (3) the takeoff; (4) the drive to maturity; (5) the age of high mass consumption. Sedangkanpersyaratan untuk peringkat industrialisasi (precondition stage for industrialization)meliputi perubahan-perubahan yang radikal (radical changes) pada tiga sektor di luarsektor industri itu sendiri (three non-industrial sector), yaitu: (1) increased transportinvestment to enlarge the market and production specialization; (2) a revolution inagriculture, so that a growing urban population can be fed, and (3) an expansion ofimports, including capital, financed perhaps by exporting some natural resources.These changes, including increased capital formation, require a political elit interestedin economic development. Menurut Glasson pembangunan wilayah pada dasarnya merupakan prosespengembangan lima strata ekonomi dengan urutannya sebagai berikut: Peringkat pertama, yang disebut strata ekonomi subsistence, dimana keluarga-keluarga berproduksi cukup untuk kehidupan sendiri, investasi dan perdagangan relatif 109
  • 120. kecil. Penduduk pada umumnya bekerja di sektor pertanian dan berorientasi pada lokasisumberdaya alam. Peringkat kedua, dimana sektor transportasi sudah berkembang, wilayah dapatmengembangkan perdagangan dan spesialisasi produksi. Pada strata ini perekonomianmengembangkan usaha-usaha industri pedesaan bagi petani. Bahan baku dan tenagakerja disediakan pedesaan, oleh karena itu strata ini erat hubungannya denganpengembangan dari strata satu. Peringkat tiga, yaitu dengan berkembangnya peringkat dua (atau meningkatnyaperdagangan), diikuti pula oleh meningkatnya permintaan dan produksi sektorpertanian. Sektor pertanian dikembangkan secara ekstensif (yaitu mengembangkanusaha-usaha produksi biji-bijian, peternakan, buah-buahan dan sebagainya). Peringkat empat, dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnyapengembalian sektor pertanian, wilayah terpaksa mengalihkan harapan kepada sektorperindustrian. Pengembangan sektor industri meliputi tiga tahap, yaitu (1)mengembangkan industri pengolahan hasil-hasil pertanian, (2) mengembangkanindustri-industri lain yang spesifik. Kegagalan mengembangkan industri tahap (2) akanmenghadapi tekanan penduduk, merosotnya taraf hidup penduduk, ekonomi wilayah,dan kemunduran ekonomi secara keseluruhan. Peringkat terakhir, perekonomian melakukan pengembangan industri tahap 3(ketiga), yaitu industri yang memproduksi barang-barang untuk tujuan ekspor. Wilayahyang mencapai ekonomi peringkat ini diberi predikat sebagai wilayah maju, wilayahyang sudah sampai pada tahap mengekspor modal, keahlian, ketrampilan/rekayasa dandapat membantu manajemen pengelolaan wilayah-wilayah yang masih tertinggal. Proses pertumbuhan dan usaha-usaha pengembangan di atas merupakan dasarbagi pengembangan struktur organisasi industri. Proses ini memberikan perubahan-perubahan, dimana terjadi pengurangan dalam jumlah perusahaan-perusahaan kecil danbertambahnya jumlah perusahaan-perusahaan yang besar dan kukuh, serta terbentuknyapola lokasi usaha dalam wilayah, berpindahnya perusahaan-perusahaan ke pusat-pusatpertumbuhan. Teori pase-fase perkembangan ini mendapat kritikan dari sejumlah ahli ekonomipembangunan. Nafziger menyebut dua tokoh penting yang mengkritik teori Rostow ini,yaitu Ian Drummond, dan AK. Caincross. Glasson menyimpulkan kritikan-kritikantersebut. Pertama, peringkat pertama, kedua dan ketiga terlalu ketat, atau lima peringkatyang secara tegas berpendapat tentang perlunya industrialisasi untuk setiap wilayah.Mungkin ini lebih cocok untuk wilayah yang berkembang dan potensial memenuhipermintaan pasar di luar wilayah. Kedua, teori ini kurang memberikan perhatian padahubungan ekonomi ke luar wilayah. Ketiga, penggunaan faktor-faktor yang terlalumenyeluruh. Keempat, teori ini tidak memusatkan diri pada hal-hal yang kritis. Faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sama saja denganuntuk pertumbuhan ekonomi nasional, sebagaimana yang terdefinisikan dalam ―model-model ekonomi makro”. Model-model tersebut berorientasikan penawaran, menjelaskanhubungan fungsional output wilayah dengan faktor-faktor produksi wilayah, yangdiekspresikan sebagai berikut: On = fn (K, L, Q, Tr, T, So)…………………………………..(1)dimana: On = output potensial wilayah n; K = modal; L = tenaga kerja; Q = lahan(sumber primer); Tr = transportasi; T = teknologi; So = sistem sosial politik Samuelson (2001) menamakan model pertumbuhan ekonomi makro dengan―Aggregate Production Function (APF”). Model APF ini menganalisis kontribusi 110
  • 121. relatif dari empat faktor (roda) pertumbuhan ekonomi: modal, tenaga kerja, teknologi,dan bahan baku terhadap pertumbuhan ekonomi (pertumbuhan output nyata) suatuwilayah, yang diformulasikan sebagai berikut: Q = AF (K, L, R)……………………………………………….(2) F adalah simbol fungsi. Jika input-input modal (K), tenaga kerja (L) dansumberdaya alam (R) meningkat maka dapat diharapkan output nyata (Q) akanmeningkat. Begitu pula sebaliknya, output diperkirakan akan turun jika faktor produksitersebut berkurang. Teknologi (A) berfungsi menambah meningkatkan produktivitasinput-input. Kemajuan teknologi, dapat membawa kemajuan pada ekonomi wilayah,dalam pengertian dengan jumlah input yang sama dapat memproduksi output yang lebihbanyak. Sumber daya manusia (L) meliputi jumlah pekerja dan keahliannya. Banyaksarjana ekonomi percaya bahwa mutu input tenaga kerja (meliputi keahlian, ilmupengetahuan dan disiplin) merupakan unsur yang lebih penting di dalam pertumbuhanekonomi suatu wilayah. Sebagai contoh, barang-barang modal yang canggih hanya akandapat dijalankan dan dipelihara oleh pekerja-pekerja yang ahli dan terlatih. Sumber daya alam (R) meliputi tanah subur untuk bercocok tanam, air, mineral,minyak, gas alam, sumberdaya laut, hutan dan sebagainya. Banyak negara yangmemiliki pendapatan yang tinggi karena memiliki basis sumberdaya alam yangmelimpah. Namun keberhasilan ekonomi suatu negara ternyata tidak hanya tergantungkepada kekayaan sumber daya alamnya. Modal (K) meliputi modal nyata (tangible) dan modal tidak nyata (intangible).Modal nyata meliputi bangunan-bangunan, jalan-jembatan-pelabuhan, pembangkittenaga listrik, peralatan-peralatan kerja, dan persediaan barang jadi/setengah jadi.Pembentukan modal memerlukan pengorbanan rakyat selama bertahun-tahun, denganbersedia mengurangi konsumsinya dalam jangka waktu yang panjang untuk memupuktabungan, yang selanjutnya dibelanjakan kepada barang-barang modal investasi.Pengalaman menunjukkan bahwa negara-negara yang mengalami pertumbuhanekonomi lebih cepat adalah negara-negara yang cenderung menginvestasi lebih besar.Investasi dilakukan bersama-sama oleh pemerintah dan swasta. Investasi swastabiasanya mengalir setelah didahului oleh investasi-investasi pemerintah dalam bentukproyek-proyek bersekala besar. Proyek-proyek tersebut berkaitan dengan eksternalekonomis bagi investasi swasta. Proyek-proyek investasi pemerintah tersebut berupapembangunan infrastruktur (social overhead capital), termasuk proyek-proyekpendidikan, kesehatan dan research & development (R&D) yang sifatnya intangible. Perubahan teknologi dan inovasi (A) adalah faktor vital dan merupakantambahan terhadap tiga faktor yang disebut terdahulu. Perubahan teknologi dan inovasiadalah sesuatu yang terjadi secara terus menerus. Penemuan-penemuan baru danperbaikan-perbaikan di dalam teknik berproduksi bagaikan arus yang terus mengalir dantidak pernah berhenti ke dalam kegiatan produksi. Temuan-temuan baru biasanyadidahului oleh temuan-temuan dasar. Perubahan teknologi mencatat perubahan-perubahan di dalam proses produksi, diperkenalkannya produk-produk baru,pengetahuan baru, dan peningkatan produktivitas. Perkembangan teknologi dan inovasimendorong pertumbuhan produksi, meningkatkan standar hidup penduduk. Dari pendapat-pendapat H.W. Richardson (1969), Marion Temple (1994) danPhilip McCann (2001) disimpulkan: (1) pertumbuhan ekonomi wilayah umumnya akanselalu bervariasi antara suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya; (2) suatu wilayah 111
  • 122. yang tertinggal akan mengalami pertumbuhan yang relatif cepat bila dibukaperhubungannya dengan wilayah-wilayah yang relatif maju, atau dengan pusat-pusatperkembangan, (3) kota pusat-pusat pengembangan berperan sebagai penggerakperkembangan secara keseluruhan, (4) sedikit banyak pertumbuhan ekonomi pada levelnasional berbeda dengan pada level ekonomi wilayah, sehubungan dengan tingkatkebebasan bergerak sumberdaya-sumberdaya ekonomi antar wilayah dibandingkandengan antar negara, (5) pengembangan suatu wilayah akan mengakibatkan devergencedan convergence dalam jangka panjang dan (6) proses devergence dan convergenceberkaitan erat dengan aglomerasi dan urbanisasi. Phillip McCann mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan suatuproses yang kompleks, dan terkait dengan permasalahan pasar tenaga kerja danmultiplier. Dia mengangkat dua perspektif analisis tentang pertumbuhan ekonomiwilayah, yaitu perspektif Neoklasik dan perspektif Keynesian.8.2 Perpektif Neo Klasik Teori pertumbuhan ini dikembangkan oleh Solow (1956) dan Swan (1956).Menurut teori ini pertumbuhan ekonomi wilayah memiliki dua unsur penting, yaitu (1)unsur yang berkaitan dengan alokasi dan migrasi faktor-faktor produksi wilayah (yangdidasarkan pada dua kerangka analisis pula, yaitu analisis ―satu-sektor‖ dan analisis―dua-sektor‖; (2) unsur yang berkaitan dengan sifat-sifat hubungan antar faktor-faktorproduksi dan perubahan teknologi. Model ini mengasumsikan bahwa perekonomiandalam kondisi persaingan, permintaan terhadap faktor-faktor produksi ditentukan olehproduk marginalnya, yang teralokasikan berdasarkan mekanisme pasar dan digunakanpada produktivitas terbaiknya. Model “Satu-Sektor”. Model ini dikaitkan dengan alokasi dan migrasi faktor-faktor produksi wilayah, dimana berlaku hukum penurunan tambahan hasil yangsemakin menurun (the law of diminishing marginal return), yang menentukankomposisi faktor produksi variabel terhadap sejumlah faktor produksi tertentu. Prinsipdasar teori ini berkaitan erat dengan penurunan produktivitas faktor-faktor produksi.Pada kondisi jumlah modal tetap dan jumlah tenaga kerja yang terus meningkat makaproduk marginal tenaga kerja akan terus menurun. Demikian pula sebaliknya jikajumlah tenaga kerja tetap dan modal yang terus bertambah maka produk marginal modalakan turun. Argumentasi hukum ini diperluas penerapannya untuk faktor produksi yanglebih dari dua macam. Misalnya, jika faktor produksi lahan tetap, jumlah modal dantenaga kerja terus bertambah maka produk marginal modal dan tenaga kerja menjadirendah. Begitu pula jika ratio modal tenaga kerja (K/L) tinggi maka produk marginalmodal menjadi rendah, di lain pihak produk marginal tenaga kerja meningkat. Contoh, sebuah negara terdiri dari dua wilayah (A dan B). Jika ratiomodal/tenaga kerja di wilayah A lebih besar dari wilayah B ditulis: KA / LA > KB / LB………………………………………(3) Dengan demikian produk marginal modal di wilayah A relatif rendahdibandingkan dengan di wilayah B. Demikian pula produk marginal tenaga kerja diwilayah A lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah B. Dengan asumsi bahwa faktorproduksi tenaga kerja dihargai sesuai dengan produktivitas marginalnya, maka labamarginal akan lebih besar di wilayah B, sedangkan upah lebih tinggi di wilayah A. Dalam kondisi yang seperti itu faktor-faktor produksi bergerak (mobil factors)akan mengalir dari wilayah B ke A (misalnya: tenaga kerja dan modal). Pergerakan 112
  • 123. tersebut akan terus berlanjut jika ratio K/L di wilayah A masih lebih besar dari diwilayah B, dan akan berakhir jika telah sama, atau jika persamaan (1) menjadi: KA / LA = KB / LB……………………………..(4) LN LBC KBC C KAC E G QA4 D QA3 QA6 QB6 FQA2 QA1 A LAC Gambar 8.1: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Model Satu-Sektor Model “Dua-Sektor”. Model ini dikaitkan dengan alokasi faktor produksi danarus faktor produksi yang tinggi langsung mengarah ke suatu wilayah yang disebabkanoleh adanya perbedaan kondisi tertentu. Misalnya di dalam suatu negara terdapat duawilayah (A dan B), dimana proses produksi di wilayah A relatif padat modal sedangkandi wilayah B padat karya. Kondisi tersebut menghasilkan Contract Curve Edgeworth-Bowley Box antar wilayah menjadi tidak lurus, seperti diperlihatkan pada Gambar 8.3. Output wilayah B PPF QB3 E QB5 F QA4 QA2 Gambar 8-2: Batas Kemungkinan Produksi Antar Wilayah Untuk Model Satu Sektor Misalnya, pada kasus kenaikan permintaan output wilayah A, dan meningkatnyapermintaan ekspor output wilayah B (Gambar 8.4a). Peningkatan permintaan tersebut 113
  • 124. mendorong kenaikan harga di wilayah A dari PA1 ke PA2 dan kenaikan output wilayah Adari QA1 ke QA2, serta faktor-faktor produksi yang dimanfaatkan menjadi lebih intensif.Penerimaan produk marginal modal adalah sama dengan produk fisik marginal modaldikalikan dengan harga output yang diproduksi (MPK = MPPK x Po). Demikian pulaMPL = MPPL x Po. Jika harga output di wilayah A (PA) relatif meningkat dibandingkandengan di wilayah B (PB), ini berarti produk marginal modal yang digunakan di wilayahA relatif tinggi dibandingkan dengan di wilayah B. Demikian pula jika produk marginaltenaga kerja yang dipekerjakan di wilayah A lebih tinggi dibandingkan dengan diwilayah B. Dengan demikian dapat ditulis: MPAK > MPBK dan MPAL > MPBL………………. (4) Kondisi ini akan membentuk arus tenaga kerja dan modal dari wilayah B kewilayah A, karena penerimaan dari faktor produksi di wilayah A relatif lebih tinggi.Akibatnya kurva supply wilayah A bergeser ke kanan, dari S1A ke S2A. Jumlah outputyang ditawarkan bergeser dari Q2A menjadi Q3A. Dalam kondisi keseimbanganpersamaan (2) tingkat upah dan laba marginal di kedua wilayah sama. Solusi ModelSatu-Sektor ini dapat dianalisis berdasarkan perspektif efisiensi nominal dankesejahteraan agregatif, dengan menggunakan ―Edgeworth-Bowler Box‖ yangmenggambarkan tingkat penggunaan faktor produksi dan output kedua wilayah . LBT KN KBU B KBU Q1A U KBT T Q2A KAU Q1B Q2B KN KAT LAT A Gambar 8.3: Edgeworth-Bowley Box Antar Wilayah Untuk Model Dua Sektor Peningkatan penawaran output cenderung menekan harga di wilayah A, dari PA2ke PA1. Penurunan harga tersebut menurunkan penerimaan marginal baik modal maupuntenaga kerja di wilayah A. Pada waktu yang bersamaan, terjadi penurunan output diwilayah B, dari Q1B menjadi Q2B, maka harga output di wilayah B meningkat, sepertiterlihat pada Gambar 8.5. Kurva penawaran output di wilayah B bergeser ke kiri. Kenaikan harga output di wilayah B akan meningkatkan penerimaan marginalmodal dan tenaga kerja di wilayah B. Pada waktu harga output di wilayah A turun dandi wilayah B naik produk marginal modal di wilayah A dan B mengalami konvergensi.Dengan logika yang sama, produk marginal tenaga kerja di wilayah A dan B jugamengalami proses konvergensi. Keadaan ini akan terus berlanjut sampai produkmarginal kedua input produksi tersebut menjadi sama. 114
  • 125. S1A S1A S2A PA2 PA1 D2A D2A D1A D1A Q2A Q3A Q2A Q3A Gambar 8.4: Penyesuaian di Pasar Output pada Perluasan Wilayah S2B S1B P2B P1B D1B Q2B Q1B Gambar 8.5: Penyesuaian Pasar Output Wilayah yang Berkontraksi Masalah lainnya pada model dua sector adalah masalah elastisitas permintaandan penawaran. Tanpa informasi tentang masalah ini kasus-kasusnya tidak akanterpecahkan. Dengan mengasumsikan bahwa alokasi faktor-faktor produksi antarwilayah semula berada pada ―Pareto Efficient‖, atau di titik T pada Gambar 8.3. Dalamjangka panjang, akibat migrasi faktor-faktor produksi ―Pareto Efficient‖ akan bergeserke titik U, menghasilkan Contract Curve yang cembung. Harga modal relatif yangdipengaruhi tenaga kerja di kedua wilayah menjadi lebih rendah di titik Udibandingkan dengan di titik T. Pada Gambar 8.4 dapat dilihat bahwa perubahan relatifharga-harga faktor produksi akan merubah kemiringan MRS, yang tegak lurus terhadapContract Curve, baik untuk modal maupun untuk tenaga kerja. Dengan demikian,produk marginal modal dan tenaga kerja di antara kedua wilayah tersebut akanberproses kepada kondisi yang sama. Pada model dua-sektor, diasumsikan bahwa kedua wilayah memproduksi duajenis produk yang berbeda dengan fungsi produksi yang berbeda pula. Perbedaannya,produksi di wilayah A padat modal sedangkan di wilayah B padat karya. Implikasinya,tingkat transformasi marginal produk di antara kedua wilayah tersebut berubah secarateratur sesuai dengan tingkat output di wilayah masing-masing. Keadaan tersebutdiperlihatkan oleh kurva batas kemungkinan produksi (PPFC), dimana terjadi suatu 115
  • 126. pergerakan sepanjang Contract Curve dari titik T ke titik U, suatu gerakan menurunsepanjang PPFC, seperti diperlihatkan pada Gambar 8.6. Output Wilayah B T Q2B Q1B U Output Wilayah A Q2A Q1A Gambar 8.6: PPFC Antar Wilayah Dua Sektor8.2.1 Hubungan Model Satu-Sektor dengan Model Dua-Sektor Kemiringan PPF menggambarkan Marginal Rate of Transformation di antaradua output, dan diberikan oleh ratio biaya produksi marginal kedua barang padaberbagai kombinasi input. Pada model antar wilayah satu-sektor, pada Gambar 8.2, PPFantar wilayah merupakan sebuah garis lurus. Ini mengimplikasikan bahwa ratio biayaproduksi marginal untuk produksi diantara kedua wilayah tetap dan tidak dipengaruhioleh tingkat output di setiap wilayah. Dilihat dari pengaruhnya, kedua wilayah tersebutmemperlihatkan fungsi produksi yang sama dalam ukuran faktor-faktor produksimereka. Tetapi sangat berbeda untuk kasus model dua-sektor, dimana fungsi-fungsiproduksi masing-masing wilayah berbeda, dilihat dari ukuran faktor-faktor produksinya.Ratio biaya marginal di antara kedua wilayah berubah secara konstan dan tergantungpada tingkat output di masing-masing wilayah. Bentuk-bentuk ―Contract Curve‖ danPPF model dua-sektor ini mirip dengan pada model keseimbangan umum perdaganganinternasional yang didasarkan pada ―Comparative Advantage‖. Pada sisi lain, bentukgaris lurus ―Contract Curve‖ dan PPF pada model satu-sektor berbeda dari model duasektor, karena diantara kedua model tersebut ada perbedaan yang mendasar dalamproses relokasi faktor produksi wilayah. Untuk menjawab pertanyaan model yang manakah yang lebih baik, disimpulkanbeberapa sifat yang mendasar dari proses alokasi faktor-faktor produksi wilayah.Pertama, bahwa wilayah-wilayah yang berbeda di dalam sebuah negara diasumsikanlebih terbuka, dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang berbeda negara. Di dalamperekonomian wilayah pada sebuah negara diberlakukan satu rejim mata uang, satusistem hukum, dan satu kerangka budaya. Sedangkan perdagangan antar wilayah antarnegara memiliki rezim mata uang, kerangka hukum, dan kebiasaan yang berbeda.Alasan lain, wilayah-wilayah di dalam suatu negara relatif terbuka terhadap mobilitasfaktor-faktor produksi. Kegiatan-kegiatan pada lokasi-lokasi spesifik suatu wilayahtidak dapat ditiru begitu saja oleh semua wilayah, terkait dengan sumber daya masing-masing. Distribusi-distribusi spasial di suatu wilayah dipengaruhi oleh pola pasar secara 116
  • 127. spasial dan luas penawarannya. Fungsi-fungsi produksi diantara wilayah yang satudengan yang lain bervariasi, namun diantara negara yang satu dengan yang lain lebihberbeda. Hal itu karena adanya perbedaan terminologi pada porsi faktor-faktor produksiantar negara, sedangkan pada antar wilayah mobilitas faktor produksi memungkinkanberproses secara maksimum. Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, model ekonomidua sektor lebih memungkinkan bagi perekonomian wilayah. Alokasi faktor-faktorproduksi antar wilayah secara umum diperlihatkan oleh Gambar 8.1 dan 8.2,dibandingkan dengan Gambar 8.3 dan 8.6, terkecuali untuk output-output yang berbasiskesuburan tanah dan industri-industri primer. B2 ΔKN LN B1 KBV V KN2 KAV KN1 LAV LBVGambar 8.7: Kotak Edgeworth-Bowley Antar Wilayah dari Dua-Sektor ke Satu-Sektor Sebagai contoh ilustrasi, misalnya, dua negara (A dan B) dibandingkan dengandua wilayah di dalam sebuah negara. Pada periode awal negara A dan B terpisah, sepertidiperlihatkan dalam Gambar 8.8. Hubungan produksi kedua negara yang bersangkutandiperlihatkan oleh titik V. Pada alokasi faktor produksinya memperlihatkan bahwanegara A berproduksi secara padat modal, menggunakan KAV unit modal dan LAV unittenaga kerja. Sedangkan negara B padat karya, menggunakan KBV unit modal dan LBLunit tenaga kerja. Kedua negara memproduksi barang yang berbeda dan melakukanperdagangan berdasarkan prinsip-prinsip Comparative Advantage Ricardo. Di dalam periode berikutnya, kedua negara disatukan. Diharapkan terbentuknyaarus faktor-faktor produksi di antara kedua wilayah (A dan B) untuk mendorong alokasikepada kondisi yang lebih efisien. Kalau fungsi-fungsi produksi di antara kedua wilayahtetap berbeda maka berarti kegiatan-kegiatannya spesifik, ―Contract Curve‖ antarwilayah berdasarkan model dua-sektor, seperti diperlihatkan oleh garis AB1. Pada sisilain, kalau faktor-faktor produksi yang beraneka ragam itu umumnya faktor-faktorproduksi bergerak (mobil factors), telah menjadi sifat model satu-sektor bahwa modalakan mengalir dari wilayah A ke wilayah B, dan tenaga kerja akan bermigrasi dari B keA. Arus yang berdasarkan model satu-sektor tersebut akan membentuk ―ContractCurve‖ antar wilayah yang cenderung berkurang kecembungannya, dan untuk jangkapanjang akan menghasilkan sebuah kurva yang lurus, sebagaimana diperlihatkan olehkurva AB2 pada Gambar 8.7. Pada umumnya analisis integrasi ekonomi antar wilayahmengasumsikan bahwa untuk jangka panjang, arus faktor produksi antar wilayah modelsatu-sektor akan menjadi model pilihan utama alokasi faktor produksi wilayah, danmendominasi berbagai penyesuaian model dua sektor. 117
  • 128. Arus faktor-faktor produksi berfungsi sebagai pendorong realokasi faktor-faktorproduksi yang ada, merupakan proses integrasi ekonomi wilayah yang juga diasumsikanuntuk menambah keterkaitan perdagangan antar wilayah yang bersangkutan.Diasumsikan pula jumlah penduduk di kedua area kurang lebih tetap, maka kreasiperdagangan antar wilayah akan mempengaruhi penciptaan persediaan modal nasional.Di dalam analisis Edgeworth-Bowley Box diperlihatkan akibat perluasan modal inidengan perluasan pada sumbu vertikal Box. Perluasan modal yang terjadi melalui prosesintegrasi ekonomi wilayah diperlihatkan Gambar 8.7, yaitu ΔKN = (KN2 – KN1), dantingkat pertumbuhan modal sebagai akibat kreasi perdagangan (ΔKN/KN1). Dua ciri utama proses transisi dan integrasi ekonomi wilayah, yaitu: (1)realokasi faktor-faktor produksi antar wilayah sesuai dengan prinsip-prinsip model satu-sektor, yang berperanan penting terhadap pelurusan ―Contract Curve‖, penyamaan ratiomodal/tenaga kerja yang cenderung mengembalikan keseimbangan antar wilayah, (2)sehubungan dengan proses realokasi faktor produksi tersebut akan memperluaspersediaan modal wilayah (pengaruh integrasi ekonomi wilayah). Kombinasi kedua efekintegrasi wilayah tersebut diasumsikan akan menciptakan pertumbuhan ekonomiwilayah. Gambar 8.7 memperlihatkan terjadinya perubahan pada ―Contract Curve‖sehubungan dengan kombinasi efek-efek itu, sebagaimana diperlihatkan oleh perubahandari AB1 kepada AB2. Efek perubahan pada ―Contract Curve‖ tersebut dapat jugadiperlihatkan oleh perubahan-perubahan pada bentuk dan posisi PPF antar wilayah yanglurus dan positif. Gambar 8.8 memperlihatkan bahwa proses integrasi ekonomi wilayahmendorong kurva PPF kedua wilayah ke kanan (ke arah luar) dari posisi semula (PPF1)dan menjadi lurus. Hasil proses ini dalam jangka panjang adalah dimana kurva PPFantar wilayah tersebut menjadi lurus (PPF2). Output Wilayah B PPF2 PPF1 Output Wilayah B Gambar 8.8: PPF dari Model Dua-Sektor Disesuaikan kepada Model Satu-Sektor Proses tersebut di atas terjadi tanpa pertumbuhan pada persediaan tenaga kerja,oleh karena itu pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut berasal dari dua sumber yangberbeda, yaitu dari realokasi persediaan tenaga kerja antar wilayah, dan pertumbuhanpersediaan modal yang dikombinasikan dengan efek-efek kreasi perdagangan. Hasiljangka panjang dari proses integrasi ekonomi wilayah model satu sektor ini adalahadanya kecenderungan kembalinya wilayah-wilayah dengan fungsi produksi yang sama,ratio-ratio modal/tenaga kerja yang sama, yang dengan demikian tingkat pengembalianmodal akan konvergen. Hal yang sama juga terjadi pada tingkat upah wilayah. Karena 118
  • 129. berlangsungnya proses mobilitas faktor-faktor produksi antar wilayah, dengan demikian―Comparative Advantage‖ cenderung menghilang. Proses integrasi ekonomi wilayah model satu-sektor dan realokasi faktor-faktorproduksi yang digambarkan di sini membentuk dasar-dasar dari sekian banyak asumsitentang pertumbuhan ekonomi. Sebagai salah satu contoh, kasus ekonomi Uni Eropa.Pada kasus ini, ekonomi nasional masing-masing negara yang terpisah, yang kemudianditingkatkan integrasi Uni Eropa, meliputi penurunan tarif bea masuk secara progresif,penghapusan pembatasan perdagangan dan migrasi faktor-faktor produksi. Proses integrasi ini dipacu sejak 1990-an, dengan mulai diberlakukannya sistemPasar Bersama Eropa, dimana diberlakukannya kebebasan bermigrasi bagi tenaga kerjaantar negara yang bergabung ke dalam Uni Eropa, sebagai pelaksanaan realokasi faktorproduksi. Penerepan model pertumbuhan Satu-sektor Uni Eropa, juga diwujudkanmelalui efek-efek kreasi perdagangan dan aliran modal antar wilayah-wilayah yangpotensial. Apabila alasan model satu-sektor ini benar-benar dilaksanakan dalam suatuperiode waktu tertentu akan dapat disaksikan kecenderungan kembalinya konvergensiuntuk seluruh wilayah Uni Eropa. Faktor-faktor yang mendukung alasan satu-sektor,suatu konsep yang pertama kali dikemukakan Barro dan Sala-i-Martin (1992, 1995).Mereka mendorong menurunnya tingkat kesenjangan pendapatan perkapita nyatadiantara wilayah-wilayah Uni Eropa sepanjang periode, suatu proses yang disimbolkandengan ―σ-convergence”. Barro dan Sala-i-Martin menemukan juga faktor-faktor untukmendorong hubungan negatif diantara tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita dantingkat pendapatan perkapita semula, yaitu suatu proses yang disebut ―β-convergence”.8.2.2. Akuntansi Pertumbuhan Wilayah dan Analisis Fungsi Produksi Kelompok Neo Klasik berpendapat bahwa proses integrasi wilayah berperanpenting dalam realokasi faktor-faktor produksi lintas wilayah untuk model satu-sektor.Dengan berlangsungnya proses tersebut dalam jangka panjang, fungsi-fungsi produksidi semua wilayah (seperti: ratio modal/tenaga kerja, tingkat pengembalian modal dantingkat upah wilayah) cenderung menjadi konvergen. Garis perluasan produksinyamenjadi lurus. Pada tingkat alokasi faktor-faktor produksi yang lebih efisienpertumbuhan output akan meningkat. Proses ini dapat menciptakan pertumbuhantambahan sebagai akibat pengaruh kreasi perdagangan. Model ini bertolak dari prinsipbahwa sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah didasarkan kepadakerangka kerja fungsi produksinya. Untuk ini digunakan fungsi produksi Cobb-Douglasyang didefinisikan sebagai berikut: Qt = A Kα Lβ ……………………………… (5)dimana: Qt = output wilayah dalam jangka waktu t; A = konstanta; K = persediaanmodal wilayah; L = persediaan tenaga kerja wilayah; α = sumbangan modal di dalamperekonomian wilayah; β = sumbangan tenaga kerja di dalam perekonomian wilayah Fungsi Cobb Douglas memiliki dua faktor peramalan. Pertama, mengasumsikanbahwa sumbangan faktor produksinya konstan, yang diperlihatkan oleh kontribusirelatif laba dan upah terhadap total belanja di dalam perekonomian. Sumbangan-sumbangan tetap itu diwakili oleh α dan β. Kalau sumbangan faktor-faktor produksidiasumsikan tetap konstan, ini mengandung arti bahwa ratio modal/tenaga kerjakonstan. Kedua, konstan return to scale, yang berarti bahwa hubungan antara totaloutput dan total input yang digunakan proporsional. Artinya, sejumlah tertentu modal 119
  • 130. dan tenaga kerja akan menghasilkan sejumlah tertentu output, yang didefinisikansebagai nilai pengganda konstan (A). Artinya, jika jumlah kedua faktor produksi yangdigunakan dikali dua, maka total output akan menjadi dua kali (Ceteris Paribus).Dengan kata lain (α + β) = 1 atau β = (1- α). Persamaan (3) dimodifikasi, untuk memperhatikan faktor waktu. Hubunganantara output total dan input (selama perjalanan waktu) tidak statis, dalam arti bahwapenerapan teknik produksi dan teknologi baru dilakukan secara terus menerus dalamrangka meningkatkan efisiensi. Adopsi dan implementasi teknik produksi dan inovasiberlangsung sepanjang waktu, yang berarti meningkatkan tingkat output dari sejumlahinput yang sama (adanya peningkatan produktivitas). Penerapan teknologi diperlihatkanmelalui rencana kerja (blueprint) produksi, organisasi, inovasi dan komunikasi yangdiperlukan untuk semua perusahaan, dan yang menjadi media antara input-input yangdigunakan dan output yang dihasilkan. Tingkat teknologi dinyatakan dengan indeksteknologi (f). Diasumsikan tingkat teknologi meningkat selama periode waktu, makadimasukkan perubahan teknologi (eφt) ke dalam fungsi produksi Cobb Douglas periodet. Fungsi Produksi Cobb Douglas yang Constant Return to Scale menjadi: Qt = A eφt Kα L 1-α ……………………………………..(6) Pada alokasi faktor-faktor produksi antar wilayah model satu-sektormengimplikasikan bahwa wilayah-wilayah tersebut akan kembali konvergen,mengembalikan fungsi produksi, ratio-ratio modal/tenaga kerja yang sama. Pada fungsiproduksi Cobb-Douglas (4) ratio modal/tenaga kerja constant, yang diwakili oleh (α/1-α). Jadi dengan mengasumsikan bahwa pasar produk agregat wilayah dan industrisebagai persaingan sempurna, maka proses realokasi faktor produksi antar wilayahuntuk semua wilayah mengarah kepada fungsi produksi Cobb-Douglas yang sama. Metodologi fungsi produksi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk melihatbagaimana hubungan pertumbuhan output dengan perubahan-perubahan input padaproses produksi wilayah. Untuk tujuan tersebut fungsi produksi wilayah diubah menjadisebuah model pertumbuhan wilayah, dengan cara merubah persamaan (6) menjadipersamaan logaritma natural dan diturunkan terhadap waktu (yang berguna untukmenghitung pertumbuhan wilayah), yaitu: Qt = φ + αKt +(1- α) Lt ….. (7)dimana Qt, Kt, Lt mewakili tingkat pertumbuhan output, modal dan tenaga kerja wilayahdalam jangka waktu penelitian t. Perhitungan pertumbuhan persamaan (7) ini merumuskan, bahwa tingkatpertumbuhan output wilayah periode t merupakan penjumlahan dari tingkatpertumbuhan input-input produksi (modal dan tenaga kerja) yang sesuai dengan bobotkontribusi relatifnya ke dalam perekonomian, ditambah tingkat pertumbuhan teknologi(πμt). Di dalam terminologi perkiraan pertumbuhan itu, tingkat teknologi yang mewakilikontribusi pertumbuhan wilayah tidak dapat dihitung secara sederhana berdasarkanpada perubahan-perubahan kombinasi persediaan modal dan tenaga kerja wilayah yangoptimal. Terminologi f dapat dirujuk kepada residu ―pertumbuhan total produktivitasfaktor produksi‖ (Solow). Pertumbuhan teknologi tergantung pertumbuhan ratiomodal/tenaga kerja, sebagai alat prediksi umum. Kenaikan upah tergantung padapertumbuhan ratio modal/tenaga kerja dan juga tingkat teknologi. Untuk jangkapanjang, jika situasi mantap (steady state) memberikan tingkat keungtungan konstan,kenaikan upah tergantung pada tingkat teknologi. 120
  • 131. 8.2.3. Teknologi dan Pertumbuhan Endogenous Wilayah Berdasarkan persamaan (5), maka menurut Neo Klasik, pertumbuhan wilayahtergantung pada perubahan persediaan faktor-faktor produksi dan tingkat teknologiwilayah. Dengan asumsi bahwa faktor-faktor produksi bergerak bebas, maka perbedaantingkat pertumbuhan yang bersumber dari faktor-faktor produksi menjadi tidaksistematis untuk jangka panjang. Dengan demikian perbedaan pertumbuhan yangdisebabkan oleh perbedaan persediaan faktor produksi hanya mungkin terjadi untukjangka pendek dan menengah, sebagai akibat dari suatu proses penyesuaian kepadaefisiensi kepada Pareto Optimal dari alokasi faktor-faktor produksi. Pada sisi lain,pendekatan pertumbuhan ini perlu juga dipertimbangkan bahwa wilayah-wilayah yangberbeda dapat berbeda dalam tingkat teknologi, yang mengakibatkan pertumbuhannyamengikuti perbedaan yang sesuai dengan tingkat teknologi wilayah tersebut (f). Tingkat Penyebaran Teknologi X R* Y Z R Waktu 0 Gambar 8.9: Penyebaran Teknologi Sepanjang Waktu Teknologi dapat didefinisikan sebagai sejumlah pedoman pelaksanaan kerjayang lengkap ―cetak biru‖ bagi kegiatan produksi, organisasi dan komunikasi yangtersedia untuk semua perusahaan, dan merupakan mediasi yang menghubungkan faktor-faktor produksi (input) yang digunakan dengan output yang dihasilkan. Di sini adakesepakatan umum, dimana dalam kenyataannya penerapan teknologi baru oleh semuaperusahaan, industri dan wilayah bukanlah suatu proses yang terjadi secara tiba-tiba,seperti diasumsikan dalam model persaingan sempurna. Penyebaran teknologi secarakumulatif berlangsung sepanjang waktu yang cenderung memperlihatkan sebuah kurvayang berbentuk ―huruf S‖ (Gomulka 1971, Dosi 1998), dimana teknologi terkait denganwaktu penyebaran yang diperlukan dalam proses investasi dan mendapatkan inovasibagi seluruh perusahaan, sektor, atau wilayah. ―Bentuk-S‖ kumulatif diperlihatkan olehkurva OY pada Gambar 8.9, yang memperlihatkan bahwa tingkat penyebaran teknologimula-mula sangat lambat, walau terus meningkat. Setelah melewati jangka waktutertentu, penyebarannya mencapai maksimum (yang diperlihatkan oleh slope RR*)setelah itu kembali melambat. Akhirnya teknologi selesai tersebar di semua perusahaan,sektor, dan wilayah. Akhirnya tambahan penyebaran mendekati nol kembali. Asumsi dasar model Neo Klasik ―Satu-sektor‖ adalah perekonomian beradadalam persaingan sempurna, mobilitas faktor-faktor produksi berlangsung dengan 121
  • 132. sendirinya, dan tingkat teknologi tersebar melalui perusahaan-perusahan, sektor-sektor,dan wilayah-wilayah. Kemungkinan penyebaran teknologi berada pada kondisimaksimum, menyeluruh, dan selalu cepat terbaca. Di dalam terminologi gambar 10proses penyebaran teknologi cenderung seperti yang diperlihatkan oleh kurva OX. Pada sisi lain, kesimpulan Neo Klasik tersebut dapat memperlihatkan sejumlahkontradiksi, dihubungkan dengan kesimpulan-kesimpulan yang berkaitan denganaglomerasi sebelumnya, dimana pertumbuhannya didorong oleh lokalisasi yang dapatdilakukan untuk periode-periode yang panjang, karena adanya keunggulan teknologitertentu yang cenderung mengecualikan lokasi-lokasi yang tertentu pula. Demikian pulatingkat upah dan migrasi tenaga kerja dapat merangsang pertumbuhan di wilayah-wilayah tertentu secara geografis. Di dalam terminologi gambar 8.9, kenyataan tersebutmengimplikasikan bahwa penyebaran teknologi cenderung memperlihatkan prosesseperti yang diperlihatkan oleh kurva OZ, dimana adanya perbedaan-perbedaan didalam teknologi. Oleh karena itu, alasan-alasan Model Neo Klasik ―Satu-sektor‖ dapatmemunculkan sedikit pertanyaan pada kesimpulan-kesimpulan untuk jangka panjang.Masalah perbedaan tersebut disatukan dalam model ―New Growth Theory‖(Endogenous Theory). Pertama kali ―Endogenous Growth Theory‖ datang dari Romer(1986, 1987a) dan meliputi akuntansi pertumbuhan dalam sebuah kerangka kerjaakuntansi pertumbuhan Neo Klasik Orthodox, dimana pada waktu yang bersamaanberkembang pendapat bahwa teknologi merupakan faktor sisa yang berada di luarsistem suatu perekonomian, atau ―Exogenous Technology‖ (McCombie dan Thirwall1994). Pendekatan yang mengasumsikan bahwa peningkatan spesialisasi akanmeningkatkan output, yang didefinisikan sebagai sebuah fungsi dari jumlah unit barang-barang modal yang dispesialisasikan, yang disederhanakan sebagai persediaan modalagregat. Berdasarkan beberapa asumsi Romer tersebut dirumuskan fungsi produksi: Qt = A Lβ K ….. (8)dan dengan mentransformasikan persamaan (8) ke dalam bentuk logaritma danmendeferensiasikannya dengan memperhatikan faktor waktu, diperoleh persamaan: Qt = β Lt + Kt …..(9)dimana β = (1- α). Alasan di sini adalah bahwa semua pertumbuhan dicatat di dalamukuran pertumbuhan input-input, dengan permasalahan kunci mencapai tingkatspesialisasi input-input modal dan digabungkan dengan manfaat-manfaat spesialisasitenaga kerja. Salah satu alasan yang mendasari model aglomerasi adalah bahwapeningkatan spesialisasi lokasi spesifik. Kalau yang dispesialisasikan sungguh-sungguhmerupakan tempat spesifik, ―Model Pertumbuhan Endogenous‖ mengimplikasikanbahwa manfaat pertumbuhan tersebut cenderung akan dilokalisasikan juga. Romer (1987-b) mendiskusikan sumber-sumber potensial kedua dari―Endogenous Growth‖ yaitu persediaan ilmu pengetahuan. Untuk menghitungnya,dirumuskan fungsi produksi sebagai berikut: Qt = f(K,L,E)g(N) …… (10)dimana E adalah ilmu pengetahuan spesifik perusahaan, N ilmu pengetahuan umum, fdan g adalah hubungan-hubungan fungsional. Jika diasumsikan tingkat pertumbuhan Nsama dengan tingkat pertumbuhan E, dimana pertumbuhan-pertumbuhan tersebutsendiri sama dengan tingkat pertumbuhan K, dan F adalah hubungan fungsional Cobb-Douglas maka perhitungan jumlah output totalnya dapat ditulis: 122
  • 133. Qt = F(K,L)g(K) = (L1-α Kα)Kφ …… (11) Pengembalian yang meningkat merupakan faktor eksternal bagi perusahaan,yang menjamin dipertahankannya keseimbangan yang bersaing (McCombie andThirwall 1994). Di dalam terminologi tingkat pertumbuhan, persamaan (11) diubahmenjadi: Qt = (1- α)Lt + ( α+φ)Kt …… (12) Kalau (α+φ) sama dengan satu, pertumbuhan akan menjadi konstan. Dengandemikian kalau (α+φ) < 1 output total akan terus menurun. Dari kedua model Romer tersebut disimpulkan bahwa proporsi pertumbuhanoutput dijadikan dasar dalam menghitung residu yang mewakili pertumbuhan teknologi,menambahnya kepada proporsi modal. Sebelumnya, pertumbuhan output dari ilmupengetahuan diasumsikan langsung menambah pada tingkat persediaan modal yangdispesialisasikan, sedangkan pada kasus yang terakhir diasumsikan bahwa peningkatanilmu pengetahuan ditambahkan dengan tingkat pertumbuhan input modal. Lukas (1988) juga mendiskusikan input ilmu pengetahuan, tetapi fokusnya padatingkat modal SDM, berbeda dengan modal perusahaan yang dispesifikasikan. Padapendekatan ini diasumsikan bahwa tenaga kerja mengeluarkan sebagian waktu mereka(u) untuk belajar guna meningkatkan mutu modal manusia (H). Diasumsikan bahwadengan peningkatan mutu modal manusia akan meningkatkan produktivitasnya secaraindividual. Berdasarkan asumsi Lukas tersebut, pengaruh ―internal‖ H juga memilikipengaruh ―eksternal‖ J yang akan memberikan manfaat kepada semua pekerja lainnya.Bertolak dari asumsi-asumsi tersebut fungsi produksi dirumuskan menjadi: Qt = (uHL)1-α Kα Jφ …… (13) Jika diasumsikan juga bahwa pengaruh eksternal modal manusia (J) samadengan pengaruh internal (H), persamaan (11) dapat disederhanakan menjadi: Qt = (uHθL)1-α Kα …… (14)dimana θ = (1-α+γ)/(1-α). Untuk menciptakan pertumbuhan endogenous, model inidiperlukan untuk menentukan pertumbuhan modal manusia, yaitu: dH / dt = Hρ v(1-u) …… (15)dimana ρ dan v adalah konstanta-konstanta, dengan ketentuan bahwa ρ ≥ 1, yang berartitidak ada penurunan hasil terhadap generasi modal manusia. Jika digunakan sebuahkasus sederhana dimana ρ = 1, tingkat pertumbuhan modal didefinisikan denganpersamaan (15), konstanta λ, maka persamaan (14) dapat dirubah menjadi: Qt = (uLq eλt)1-α Kα …… (16)dimana Lq adalah jumlah unit tenaga kerja pada tingkat efisiensi dan mutu yang ada dandiberikan oleh Lq = Hθ A. Sejumlah satuan tenaga kerja tertentu dari kenaikan modalmanusia tertentu dapat sama dengan kenaikan sejumlah unit tenaga kerja pada tingkatefisiensi dan mutu yang tetap. Di dalam terminologi pertumbuhan persamaan (16)menjadi (McCombie dan Thirlwall, 1994): Qt = (1-α)(λ+Lt) + αKt = (1-α)(Lq)t +α Kt …..(17) 123
  • 134. Model ini menyimpulkan bahwa porsi pertumbuhan yang mendasari nilai sisauntuk teknologi (model Neo-Classic), berkenaan dengan tenaga kerja dapatdisempurnakan dengan penambahan modal manusia. Berbagai model ―pertumbuhan endogenous‖ memberikan pengertian yangberbeda terhadap sumber-sumber yang memungkinkan terjadinya pertumbuhankuantitatif. Untuk itu dapat dikaitkan setiap sumber pertumbuhan potensial kumulatifterhadap alasan-alasan spasial (Nijkamp dan Poot 1998). Model-model Romermengajarkan bahwa pertumbuhan endogenous dapat menimbulkan kenaikan yangbervariasi sehubungan dengan adanya pertumbuhan barang-barang modal yangdikhususkan, atau kenaikan pada ilmu pengetahuan dasar yang dikombinasikan denganbarang-barang modal tersebut, dan disatukan dengan pengaruh-pengaruh eksternal yangbersumber dari arus informasi. Sementara itu, model Lucas menganjurkan bahwapertumbuhan endogenous dapat dibangun dari investasi-investasi swasta pada modalmanusia, juga manfaat-manfaat yang datang dari atas kepada lingkungan sekitarnya.Bagaimanapun, mengindentifikasi secara empiris masalah delokalisasi, danpengisolasian sumber-sumber pertumbuhan yang demikian, sangat sulit untukmenentukan pengaruh lingkungan yang positif. Untuk menghindari problema tersebutsejumlah metoda tidak langsung pernah digunakan untuk mendapat ukuran-ukuranempiris perbedaan pertumbuhan antar wilayah yang sistematis berdasarkan pengaruh-pengaruh tekonologi. Terhadap lokasi-lokasi khusus, dicoba menganalisis apakah terjadiperbedaan-perbedaan yang sistematis pada perluasan arus informasi spasial, denganmenguji keragaman distribusi spasial berdasarkan ketentuan-ketentuan patent (Jaffe et.Al. 1993), riset dan aktifitas pembangunan (Cantwell dan Lammarino, 2000), atau didalam distribusi teknologi secara spasial yang dikaitkan dengan infrastruktur sepertiUniversitas (Acs et.al. 1992). Kebanyakan metoda tidak langsung yang memberikanpenjelasan kepada alasan-alasan yang terkait dengan lingkungan aglomerasi, yangmerupakan pengaruh lokalisasi teknologi, yang dibatasi penyebaran lintas ruang dengancepat. Suatu teori pertumbuhan endogenous spasial yang lemah, tanpa penurunanpengembalian terhadap modal dan akumulasi modal manusia, tidak mungkin tumbuhdrastis. Jika logika ini diterapkan untuk pembangunan wilayah, akan berimplikasibahwa semua aktivitas dan proses convergensi akan membentuk lokasi tunggal. Sifat-sifat alamiah ruang dari suatu perekonomian dapat memberikan pelambatan pada setiapproses yang drastis. Karena ini semuanya sesuai dengan sifat-sifatnya akan memberikanpengaruh terhadap pasar-pasar spasial, termasuk problema penerimaan secara tataruang. Kemacetan selalu muncul akibat pengelompokan industri di suatu lokasi tertentudalam suatu ruang, dan sebelum lingkungan sendiri memberikan dampak negatif daripengelompokan kumulatif tersebut. Neraca keseimbangan efek-efek lingkungan yangpositif dan negatif akan berperan penting terhadap realokasi faktor-faktor produksi didalam pengembalian faktor-faktor produksi secara nyata lintas ruang di dalam jangkapanjang yang cenderung mencari keseimbangannya. Meskipun model-modelpertumbuhan endogenous aglomerasi tidak sesuai dengan pembangunan yang mengarahkepada lokalisasi pada lokasi tunggal, pada sisi lain sesuai dengan notasi inovasi baru,dimana proses produksi semakin baik dan berlanjut cenderung kepada kondisi semula,berorientasi pada beberapa lokasi, namun dalam lingkungan pasar persaingan yangsemakin luas. Alasan ini berasal dari siklus produk model-model aglomerasi. Efek-efeklingkungan di area lokasi tersebut, dari mana inovasi bermula, akan menciptakanpeningkatan harga-harga perumahan di rilestat-rilestat local untuk jangka panjang, 124
  • 135. merupakan pengembalian nyata faktor produksi yang cenderung menjadi terintegrasidiantara wilayah. Pada sisi lain, pengembalian nominal faktor-faktor produksicenderung seimbang secara permanen (tetap sama diantara berbagai wilayah). Wilayah-wilayah yang mengembangkan inovasi-inovasi tertentu senantiasa memperlihatkanharga nominal faktor-faktor produksi yang lebih tinggi. Area tersebut cenderungmenjadi pusat-pusat kota yang dominan di dalam suatu wilayah perekonomian yangspasial, wilayah-wilayah pinggiran yang secara geografis lebih luas cenderungmemperlihatkan harga nominal yang lebih rendah, namun jauh lebih seimbang dalampengembalian faktor-faktor produksi secara nyata. Pengaruh lokalisasi pertumbuhanjangka pendek dan menengah terjadi di dalam satu ruang, sesuai dengan pendapatmodel ―Satu Sektor‖ yang mendasarinya pada arus faktor produksi antar wilayah.Pertumbuhan yang dilokalisasi dalam jangka panjang tidak sesuai dengan pandanganmodel ―Satu Sektor‖. Karena biaya lokasi yang terlokalisai secara geografis begitu padatakan menjadi sangat mahal. Pada waktu yang sama, secara sistematis pusat-pusarperiphery, perbedaan pengembalian nominal faktor-faktor produksinya sesuai denganketentuan alokasi faktor-faktor produksi Model Neo Classic ―Satu Sektor‖.8.3 Pandangan Keynesian Tentang Pertumbuhan Wilayah Pandangan-pandangan Keynesian untuk pertumbuhan ekonomi wilayahmerupakan pendekatan alternatif. Perekonomian suatu wilayah memiliki keterkaitan kedalam dan ke luar. Permintaan suatu wilayah meliputi permintaan dari dalam dan dariluar wilayah, kedua-duanya akan membentuk arus pendapatan dan multiplier wilayah.Ada kaitan antara arus investasi local dan pendapatan wilayah. Sehubungan denganpandangan tersebut mazhab Keynesian mengembangkan model multiplier pada tingkatwilayah (local). Sedikit banyaknya ada perbedaan antar pendapatan wilayah (local) dantingkat nasional. Arus pengeluaran pemerintah lokal cenderung mengalir untukmengimbangi pendapatan wilayah dan aliran tersebut relatif bebas dibandingkan denganpada tingkat nasional. Diasumsikan bahwa arus investasi sektor pemerintah lebih banyak mengalir kewilayah-wilayah dimana dana-dana local wilayah tersebut memungkinkan terbentuknyamodal investasi pada tahun berjalan dan tergantung pada tingkat pendapatan tahunberjalan. Tingkat pengeluaran investasi local biasanya lebih besar pada tahun berjalan,yang berimplikasi pada persediaan modal wilayah dapat ditingkatkan menjadi lebihefisien. Pertumbuhan ekonomi dari dalam wilayah bersumber dari jumlah dan mutuinput-input local. Secara umum pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari dalamwilayah merupakan fungsi dari modal wilayah. Model-model pertumbuhan wilayahKeynesian dikaitkan pula dengan investasi-investasi sumber daya manusia (SDM).Persediaan modal local merupakan fungsi dari pendapatan local per tahun. Dengandemikian tingkat pertumbuhan local dibatasi oleh tingkat pendapatan lokal. Tingkat pendapatan tahun berjalan akan dibatasi oleh permintaan terhadapoutput. Umumnya, diasumsikan bahwa banyak output wilayah yang dikonsumsi di luarwilayah. Pengeluaran wilayah juga tergantung pada pendapatan ekspornya. Pengertianekspor di sini meliputi ekspor antar wilayah dan luar negeri. Arus pendapatan wilayahyang bersumber dari ekspor-impor wilayah (neraca pembayaran wilayah) berpengaruhterhadap pertumbuhan ekonomi wilayah. 125
  • 136. 8.3.1 Pendekatan Neraca Pembayaran Untuk Pertumbuhan Logika pendekatan pertumbuhan ini didasarkan pada logika model pendapatan/pengeluaran sederhana, yaitu: Yr (C r I r Gr ) ( X r M r ) ……………………………………..(18) Tiga unsur dalam kurung pertama sisi kanan persamaan (18) mewakili unsur-unsur permintaan agregat disatukan sebagai kegiatan domestik wilayah tersebut, yangdisebut kelompok ―penyerapan domestik wilayah‖ (Ar). Sedangkan dua unsur dalamkurung sisi kanan persamaan merupakan unsur-unsur agregatif permintaan wilayah darisector perdagangan antar wilayah. Maka, untuk kondisi ekonomi wilayah yangseimbang dapat ditulis: (Yr Ar ) ( X r M r ) ………………………………………………(19)dimana (Yr-Ar) seimbang dengan sisi tambahan aset-aset dari wilayah-wilayah lain.Penggunaan model ini dianalogikan dengan neraca pembayaran tingkat nasional, yangdisesuaikan untuk kasus wilayah. Model neraca pembayaran pada tingkat nasional yangsederhana adalah sebagai berikut: CAN KAN BOF N 0 ……………………………………………..(20) Dimana CAN neraca berjalan, KAN neraca modal dan BOFN neraca devisa.Apabila neraca tahun berjalan surplus, ini berarti mendorong pertumbuhan nilai-nilaisaham domestik. Nilai tukar valuta sendiri naik secara relatif terhadap valuta asing.Neraca modal menggambarkan pertumbuhan asset luar negeri baik yang bersumber daripinjaman maupun dari saldo positif pendapatan luar negeri, milik warga negara yangditempatkan di luar negeri. Implikasi dari perkiraan modal yang surplus adalah adanyaarus uang dari negara lain ke dalam negeri yang dapat digunakan untuk dibelanjakankepada asset-aset domestik, atau aset-aset nasional di negara lain. Neraca devisa(finansial) menggambarkan jumlah kewajiban untuk mendapatkan pendapatan yangditerima dari dunia internasional, atau sisa permintaan dan penawaran valuta di pasarvaluta asing. Dalam persamaan dapat ditulis: CAN KAN BOF N ……………………………………………….(21) Jika sisi sebelah kiri persamaan (21) positif, negara yang bersangkutanmengalami neraca pembayaran yang surplus, dan jika negatif negara tersebutmengalami defisit. Jika sebuah negara mengalami neraca pembayaran yang surplusmaka asset-aset luar negerinya bertambah, atau hutang luar negerinya berkurang.Sebaliknya jika sebuah Negara mengalami neraca pembayaran yang defisit terpaksamengurangi asset-aset luar negerinya, atau menambah pinjaman luar negeri. Pada kasus perdagangan antar wilayah, seluruh transaksi berlangsung dalamvaluta sendiri dan tidak ada pembiayaan ofisial. Perdagangan antar wilayah tidak adabea masuk atau pembatasan-pembatasan perdagangan. Neraca pembayaran antarwilayah diekspresikan sebagai berikut. CAR KAR 0 ……………………………………………………….(22)Dimana CAR adalah neraca berjalan antar wilayah dan KAR neraca modal antar wilayah.Dalam keadaan seimbang antara neraca berjalan dan neraca modal menjadi sebagaiberikut: CAR KAR ………………………………………………………….(23) 126
  • 137. Ini berarti surplus netto perdagangan sebuah wilayah dalam bentuk barang-barang danjasa-jasa dengan wilayah lain (Xr-Mr) diimbangi oleh peningkatan netto asset wilayahtersebut dari wilayah-wilayah lain (Yr-Ar). Sebagai contoh, apabila industri sebuahwilayah dapat mengekspor produknya maka wilayah tersebut berhasil membentukpendapatan dari sektor perdagangan antar wilayah dan pendapatan tersebut dapatdigunakan untuk mengimpor barang-barang dan jasa-jasa dari wilayah lain dan jugadapat membeli asset-aset lebih banyak dari wilayah-wilayah lain (seperti: real estate diwilayah lain, asset-aset perusahaan yang ditempatkan di wilayah lain, dan sebagainya).Sebaliknya apabila sebuah wilayah mengalami neraca pembayaran antar wilayah yangdefisit, maka defisit tersebut harus dibiayai dengan sisa penjualan keseluruhan asset-asetdomestic mereka kepada pembeli-pembeli dari wilayah lain. Dan apabila sebuahwilayah mengalami neraca pembayaran yang seimbang itu berarti sisa peningkatanasset-aset yang bersumber dari perdagangan dengan wilayah-wilayah lain nol. Neracapembayaran antar wilayah yang surplus atau defisit merupakan sebuah permasalahanyang tidak dapat berlangsung secara terus-menerus. Wilayah yang terus-menerus defisitneraca pembayarannya akan semakin terbatas persediaan asset-aset domestiknya, danakan semakin terbatas kekayaan yang dapat dijual kepada pihak luar untuk membiayaidefisitnya. Oleh karena itu sebuah wilayah tidak mungkin memelihara defisit neracapembayaran untuk jangka waktu yang amat panjang. Implikasinya menyangkut dayaserap wilayah secara domestik, tingkat pendapatan wilayah, dan ekspor wilayah. Contoh: dua wilayah A dan B. A memiliki permintaan investasi yang relatiflemah sedangkan wilayah B relatif kuat. Wilayah-wilayah tersebut tidak memilikikontrol terhadap variabel moneter, karena merupakan otoritas bank Sentral (pusat), olehkarena itu tingkat bunga yang berlaku di setiap wilayah sama. Dalam kondisi yangseperti itu dapat dipandang bahwa wilayah individual sebagai suatu perekonomian kecilyang terbuka dengan kurva LM mendatar. Sebagaimana diperlihatkan gambar-10,tingkat bunga di kedua wilayah berada pada r*. Pada tingkat bunga ini, unsur investasidi wilayah A hanya bersumber dari pasar local (dari penyerapan domestic), membentukpendapatan wilayah pada tingkat YA. Jika pendapatan investasi lokal yang diperlukanuntuk kesempatan kerja penuh wilayah adalah YFA, maka kekurangan permintaan pasarterhadap tenaga kerja lokal (dalam teminologi pendapatan) adalah (YFA-YA). Di wilayahB, tingkat investasi lokal cukup untuk membentuk tingkat pendapatan wilayah, sesuaidengan kebutuhan pasar tenaga kerja pada tingkat bunga yang berlaku. Oleh karena itu,dengan logika ini, permasalahan tenaga kerja di wilayah A akan dapat diatasi jikatingkat bunga di wilayah A diturunkan dari r* ke r1. Sedangkan untuk wilayah B, jikatingkat bunga turun di bawah r* akan mengalami kekurangan supply tenaga kerja lokaldan akan mendorong terjadinya inflasi secara lokal di wilayah B. Namun kita ketahui,bahwa wilayah tidak memiliki otoritas untuk menyesuaikan tingkat bunga secara lokal,karena penggunaan mata uang tidak bebas baginya. Apabila otoritas monetermengetahui kedua wilayah menetapkan tingkat bunga untuk memelihara stabilitasharga, mereka akan menjaminnya pada tingkat bunga r*, akan memaksimalisasi tingkatkesempatan kerja lokal di kedua wilayah. Ini berarti bahwa wilayah yang bersangkutanmemelihara tingkat kesempatan kerja penuh dimana wilayah tertinggal memperlihatkanadanya masalah permintaan lapangan kerja lokal jangka pendek. Salah satu cara untuk mengurangi masalah pasar tenaga kerja yang tidakseimbang (pengangguran) di wilayah A adalah melalui arus migrasi ke wilayah B.Kondisi tersebut juga akan tidak efisien bila diatasi dengan penyesuaian tingkat bunga 127
  • 138. lokal, serta tidak dapat mencapai investasi internal pada tingkat Ir* mekanisme lebihlanjut adalah mendapatkan perluasan ekspor. Tingkat Bunga Tingkat Bunga r* LMA r* LMA r1 ISA ISB YA YFA YFB Gambar 8.10: Tingkat Investasi Wilayah Kuadran kanan atas Gambar 9.11 memuat diagram belanja pendapatan yangdiketahui. Diasumsikan bahwa tingkat investasi domestik wilayah secara internaltertentu, adalah Ir*, sesuai dengan tingkat bunga yang ditentukan secara eksternal (r*).Jika dibaca dari kanan ke kiri, kuadran kiri atas adalah inverse dalam kaitan investasidomestik dengan tingkat bunga. Kuadran kanan bawah menggambarkan pasar tenagadari investasi wilayah secara individual. Sebagaimana diperlihatkan pada model belanjapendapatan untuk kenaikan ekspor wilayah, dimana jumlah kenaikan ekspor ∆X.Kenaikan ekspor tersebut menghasilkan suatu kenaikan pada pendapatan wilayah, yaitudari Y1 menjadi Y2, pada tingkat bunga yang berlaku, implikasinya investasi wilayahsecara domestik meningkat dari IS1 ke IS2. Pada tingkat bunga yang berlaku akanmengalami kenaikan ekspor wilayah, karenanya akan meningkatkan investasi danpendapatan wilayah. Kenaikan tersebut mendapat pengaruh multiplier. Untuk melihat faktor-faktor penentu ekspor, investasi dan pendapatan wilayahditulis sebuah fungsi impor wilayah jangka panjang dari Thirlwall (1980), McCombiedan Thirlwall (1974), yaitu sebagai berikut: Pf M r aYr e …………………………………………………...(24) Pr dimana M adalah impor wilayah, Y pendapatan wilayah dan elastisitaspermintaan pendapatan untuk impor, Pf harga nominal barang-barang yang diproduksiwilayah lain. Pr harga nominal barang yang diproduksi wilayah domestik, e tingkatpertukaran (exchange rate) dan μ elastisitas permintaan impor. Dengan cara yang sama dapat ditulis fungsi permintaan impor wilayah sebagaiberikut: Pr Xr bZ ……………………………………………………..(25) ePfdimana X adalah ekspor wilayah, Z pendapatan dunia yang menganggur, ε elastisitaspendapatan permintaan ekspor wilayah r dari pendapatan dunia yang menganggur. . . . . . (M r ) t (Y r ) t (P f )t e t ( P t )t ...…………………………..(26) 128
  • 139. Sedangkan tingkat pertumbuhan ekspornya: . . . . . ( X r )t (Z ) t (P r )t et (P f )t ………………………….…..(27)dimana tingkat pertumbuhan dalam jangka waktu t disimpulkan oleh huruf-hurufbertitik di atasnya. IR AD IR* r r* ΔX Y r* Y1 Y2 r* r* LM Y2 Y1 Y Gambar 8.11 Ekspor Wilayah dan Investasi Dalam jangka panjang, diketahui bahwa wilayah tidak dapat berjalan denganneraca yang defisit. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan ekspor wilayah jangka panjangyang berkelanjutan, tergantung pada tingkat pertumbuhan ekspor wilayah, perubahanrelative harga-harga, biaya-biaya produksi dan lingkungan sebagai subyek perubahan-perubahan nilai tukar. Dengan kata lain: . . . Mr X r [ Pr Pf e] ……………………………………………...(28)dengan memasukkan persamaan (26) ke persamaan (27) diperoleh: 129
  • 140. . . Z (1 )[P Pf ] Yr …………………………………….(29) Pada aplikasi model-model neraca pembayaran Keynesian (khususnya PostKeynesian) untuk kasus-kasus wilayah, diasumsikan bahwa pengaruh harga relatif adapada kuadrat nominator yang berada di dalam tanda kurung besar persamaan (27),namun dianggap relatif tidak penting. Dalam kaitan ini ada tiga alasan utama, yaitu:pertama bahwa wilayah tidak memiliki kewenangan untuk menyesuaikan nilai matauang, kedua diasumsikan bahwa harga-harga secara umum pada industri ditentukanberdasarkan struktur pasar oligopolistik, yang dapat menjamin harga-harga relatif stabildiantara para produsen yang bersaing, walaupun dari sisi biaya-biaya bisa berubah(Lavaie 1992, Davidson 1994), ketiga diasumsikan bahwa biaya transaksi secarageografis dan persaingan secara spasial berarti berbeda-beda pada harga-harga nominaldi antara wilayah-wilayah, juga relatif stabil untuk jangka panjang. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, keseimbangan neraca pembayaran jangka panjang menjadi: . . . Z Xr Yr ……………………………………………………….(30) Dengan kata lain, neraca pembayaran membatasi tingkat pertumbuhanmaksimum jangka panjang dari suatu wilayah, sama dengan tingkat pertumbuhan duniajangka panjang dikalikan dengan ratio elastisitas permintaan pendapatan dunia untukpendapatan ekspor wilayah dibagi dengan elastisitas pendapatan wilayah untuk impor.Pada gilirannya sama dengan tingkat pertumbuhan ekspor wilayah jangka panjangdibagi dengan elastisitas permintaan pendapatan impor wilayah jangka panjang.mengurangi pertumbuhan ekononmi wilayah yang elastisitas permintaan impornyatinggi. Jadi, adalah suatu kenyataan bahwa neraca pembayaran dapat menjadi kendalapertumbuhan ekonomi suatu wilayah.8.3.2 Hukum Verdoorn dan Pertumbuhan Kumulatif Unsur terakhir teori pertumbuhan wilayah Keynesian atau Post-Keynesianadalah menyangkut perhatian pada ―skala ekonomis‖. Dalam pendekatan analisis skalaekonomis ini perhatian dipusatkan kepada ―Hukum Verdoorn‖ (Verdoom, 1949), yangmenemukan hubungan positif antara tingkat pertumbuhan produktifitas tenaga kerja danpertumbuhan output, yang dirumuskan sebagai berikut: . . a b Q …………………………………………………………..(31) . .dimana = tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, dan Q = tingkatpertumbuhan outputnya. Didasarkan pada hasil-hasil penelitian empiris, hokumVerdoorn mengasumsikan bahwa nilai α kira-kira 2%, dan nilai b (Coefisien Verdoorn)adalah 0.5. Nilai-nilai itu L sesuai dengan ketentuan produksi Neo Classic. yangmengindikasikan bahwa jumlah α + b = 1.33 (McCombie and Thirlwall 1994). 130
  • 141. q b Q 1/ 1 X h 1 s ( ) Gambar 8.12: Pertumbuhan Mantap (Steady-State) Wilayah Jika digunakan notasi yang dipakai pada ana1isis akuntansi pertumbuhan danfungsi produksi wilayah‖ di atas, maka persamaan (29) dapat ditulis menjadi: . . . (Q L) a b Q ……………………………………………………...(32) Penelitian awal dan persamaan (32) memberi kesan bahwa estimasiekonometrika dari hubungan yang diberikan oleh persamaan (31) akan memperlihatkansuatu permasalahan yang berlangsung secara bersamaan, mengingat terminilogi tersebutmewakili tingkat pertumbuhan output yang terlihat pada kedua sisi persamaan.Permasalahan ini pernah menjadi perdebatan (Kaldor 1975), Rowthorn 1975; Scott1988: McCombie dan Thirlwall 1994), karena asumsi dasar model-model Post-Keynesian yang langsung menyebabkan pertumbuhan secara eksplisit dari kanan ke kiri(Boulier 1984). Dengan kata lain, peningkatan pertumbuhan output dilihat sebagaisesuatu yang timbul dari dinamika ekonomi ―skala produksi ekonomis‖ di dalamkegiatan produksi, melalui belajar sambil bekerja‖ pada sebagian tenaga kerja (Arrow1962), dan juga meningkatkannya pengaruh pembentukan modal, dikombinasikandengan penyediaan kredit yang mudah pada kondisi perluasan output. Kalau asumsi―dinamika skala produksi ekonomis‖ Verdoonr dimasukkan ke dalam perbincangankendala pertumbuhan dan neraca pembayaran wilayah‖, dengan pendekatan diagramDixon dan Thirlwall (1975) selanjutnva dapat ditunjukkan bahwa pertumbuhan wilayahtertentu, sebagai jalan pintas yang memungkinkan menjadi penyebab pertumbuhankumulatif periode tertentu. 131
  • 142. Pada Gambar 8.11 diperlihatkan sejumlah kondisi yang menghasilkan tambahanpertumbuhan tingkat output wilayah yang konstan. Pada kuwadran kanan atas terlihatbahwa tingkat pentumbuhan ekspor wilayah adalah x, dan elastisitas permintaanpendapatan ekspor wilayah t, sebagai petunjuk tingkat pertumbuhan output q yangdibatasi oleh neraca pembayaran. Melalui efek Verdoorn. pada kuwadran kiri atasdiperlihatkan bahwa pertumbuhan output ini menimbulkan suatu pertumbuhanproduktivitas tenaga kerja lokal (h). Pada kuwadran kiri bawah dapat dilihat petunjukbagi penyesuaian kualitas harga-harga nyata output wilayah yang diproduksi, yang jatuhpada suatu tingkat s. Model-model mengasumsikan bahwa harga-harga relatif kurang-lebih sama diantara wilayah-wilayah. Untuk harga-harga output yang telah tertentu,peningkatan produktivitas tenaga kerja dapat diwujudkan dalam terminologi penerapan-penerapan mutu produk. Selain itu, penerapan mutu output wilayah akan diperluas kedalam kuwadran kanan bawah untuk peningkatan pertumbuhan ekspor wilayah x, suatuperluasan yang akan tergantung pada elastisitas permintaan pendapatan ekspor wilayah 1 . Pada kasus-kasus yang nyata pertumbuhan ekspor akan ditentukan sendiri tingkatpertumbuhan output q yang mantap (Steady state). Sebagaimana diperlihatkan padaGambar 8.12, merupakan fakta bahwa tingkat keseimbangan pertumbuhan mantap itubukanlah pertumbuhan wilayah untuk kembali convergen. Q b b q a X 1/ 2 h 2 Gambar 8.13: Pertumbuhan Kumulatif Wilayah Di dalam model-model Keynesian, tidak ada penjelasan mengapa pertumbuhanekonomi wilayah mantap harus otomatis. Sebagai contoh, kalau sebuah wilayahdicirikan oleh pengelompokan industri yang padat, memperlihatkan ekonomi 132
  • 143. aglomerasi, wilayah tersebut cenderung memproduksi output-output yang berinovasitinggi dan juga akan membeli input-input yang dibutuhkan secara lokal. Ini akanberimplikasi bahwa elastisitas permintaan pendapatan terhadap output-output wilayahtersebut cenderung lebih besar dibandingkan pada kasus pertumbuhan mantap, dan jugaelastisitas permintaan pendapatan wilayah untuk impor akan relatif rendah. Pada kasusimpor, situasi ini dapat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan mantap yangdiperlihatkan Gambar 8.12, dengan menggeser garis di dalam kuwadran kanan atas keatas seperti diperlihatkan Gambar 8.13, yang mewakili invers elastisitas permintaanpendapatan untuk impor, dari 1 1 menjadi 1 2 . Dengan cara yang sama pada kasusekspor, garis tersebut dapat digeser ke luar seperti dalam kuwadran kanan bawahGambar 8.12, yang mewakili elastisitas permintaan pendapatan untuk ekspor wilayahtersebut dari 1 ke 2 . Seperti yang terlihat pada sejumlah keadaan, kombinasielastisitas pendapatan ekspor yang tinggi, elastisitas pendapatan impor yang rendah, dan―return to scale‖ yang meningkat, dapat menghasilkan pertumbuhan kumulatif. Tingkatpertumbuhan nyata wilayah tergantung pada kondisi nilai-nilai elastisitas impor danekspor wilayah yang bersangkutan. Dengan cara yang sama, dapat digambarkan situasi yang sebaliknya, yaitu untuksebuah wilayah yang didominasi oleh produk yang elastisitas pendapatan ekspornyarelatif rendah, dan sangat tergantung impor. Sebagai contoh, kondisi pendapatan relatifrendah di wilayah periphery, industrinya menurun dan banyak perusahaan lokalmengalami kerugian, mengembangkan industri campuran untuk memberikankesempatan kerja kepada penduduk. Pada kasus ini, tingkat pengeluaran di dalamperekonomian lokal oleh perusahaan-perusahaan baru dan lama cenderung sangat kecil.Selain itu, kalau perusahaan-perusahaan baru dan lama dikhususkan untuk produksiproduk-produk jadi yang sifatnya standar, elastisitas pendapatan permintaan ekspornyasangat rendah. Situasi ini dapat dibandingkan dengan pertumbuhan mantap padaGambar 8.12, dengan menggeser ke bawah garis pada kuwadran kanan atas Gambar8.14. yang menggambarkan invers elastisitas permintaan pendapatan untuk impor, dari1 / 1 menjadi 1 / 3 . Dengan cara yang sama, untuk kasus ekspor, garis pada kuwadrankanan bawah Gambar 8.12 dapat digeser ke dalam, yang menggambarkan elastisitaspermintaan pendapatan untuk ekspor wilayah. dan 1 ke 3 . Sebagaimana dapat dilihatpada sejumlah kuwadran, kombinasi elastisitas pendapatan ekspor rendah, suatuelastisitas pendapatan ekspor wilayah yang tinggi, dan ―increasing return to scale‖,dapat menghasilkan kenaikan terhadap penurunan kumulatif. Sebagai manadikemukakan di atas, tingkat kemunduran aktual wilayah tergantung pada kondisi nilai-nilai elastisitas ekspor dan impor. Pendekatan-pendekatan Keynesian dan Post-Keynesian untuk pertumbuhanwilayah memiliki asumsi-asumsi dasar yang sangat berbeda dengan model-model Neo-Classic. Di dalam kenyataannya, model-model tersebut tidak memerlukan asumsibahwa faktor-faktor produksi dibayar sama dengan produk marginalnya. Walaupuntidak diperlukan asumsi, dimana produksi memperlihatkan ―constant return to scale‖dengan memperhatikan faktor-faktor input. Dengan cara yang sama, untuk model-modelpertumbuhan endogenous mengimplikasikan bahwa tidak ada faktor-faktorpertumbuhan jangka panjang, dengan mana sebuah wilayah diperkirakan akan kembalikonvergen. Tingkat pertumbuhan nyata wilayah akan tergantung pada perluasanekonomisasi atau disekonomisasi aglomerasi yang ada. 133
  • 144. q b a X 1/ 3 3 ( ) Gambar 8.14 Pertumbuhan Regional Kumulatif8.4 Fungsi Cobb-Douglas dan Akuntansi Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Pendekatan Classic maupun Neo-Classic kcduanya mengembangkan fungsiproduksi Cobb-Douglass untuk menjelaskan teori pertumbuhan ekonomi makro.Demikian pula untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi wilayah,. fungsi produksitersebut digunakan. Adapun fungsi produksi Cobb-Douglass dimaksud dirumuskansebagai berikut: t Qt Ae K L1 ………………………………………………………(1)dalam bentuk logaritmanya menjadi: ln Qt ln A t ln K (1 ) ln L ………………………………...(2)Persamaan (2) dideferensir dengan memperhatikan faktor waktu (t), maka diperoleh: dQ dK (1 ) dL ………………………………………..(3) Qdt K dt L dtyang selanjutnya dapat ditulis: . . . Qt K t (1 ) L t …………………………………………….(4) 134
  • 145. . . .dimana Qt , K t , Lt adalah tingkat pertumbuhan output, tingkat pertumbuhan modal dantingkat pertumbuhan tenaga kerja selama periode t. Sebagaimana diketahui bahwa upah tergantung pada produktivitas tenaga kerjadan pertumbuhan upah. Artinya, upah berkaitan erat dengan pertumbuhan produktivitastenaga kerja. Untuk dapat melihat sifat-sifat hubungan tersebut dapat diambil sisi kananunsur kedua (unsur tenaga kerja) yang ada pada persamaan (4). Dengan demikianproduktivitas tenaga kerja dapat diekspresikan sebagai berikut: . . . . . . Qt Lt Kt Lt Lt Lt ………………………………………..(5) atau . . . . Qt Lt (K t Lt ) ……………………………………………….(6) Sisi kiri persamaan (6) mewakili tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerjaperiode t, yang dihasilkan oleh tingkat pertumbuhan teknologi dan pertumbuhan ratiomodal/tenaga kerja, disesuaikan dengan sumbangan faktor produksi modal.Sebagaimana diketahui bahwa tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerjamenggambarkan tingkat pertumbuhan upah, dan ini sesuai dengan ketentuan modelSatu-Sektor, yang mendasarkannya kepada alasan alokasi faktor-faktor produksi. Pendekatan yang sama dapat juga digunakan untuk meneliti sumber-sumberpertumbuhan laba. Digunakan tingkat pertumbuhan modal dan kedua sisi persamaan (4)untuk mendapatkan persamaan yang mengekspresikan pertumbuhan produktivitasmodal. . . . . . . Qt K t K t K t Lt Lt …………………………………….(7)dan disusun kembali menjadi: . . . . . Qt K t (1 )( Lt Lt ) rt ……………………………………...(8) Sisi kiri persamaan (8) mewakili tingkat pertumbuhan produktivitas modal padaperiode 1, dan diperoleh dari penjumlahan tingkat teknologi dengan pertumbuhan ratiomodal/tenaga kerja, yang dibatasi oleh sumbangan faktor produksi tenaga kerja. Tingkatpertumbuhan produktivitas tenaga kerja menggambarkan tingkat pertumbuhankeuntungan. Ini sesuai dengan argumentasi model Satu-Sektor yang dikaitkan denganalokasi faktor-faktor produksi. Berdasarkan sumber-sumber pertumbuhan dalam kondisi pertumbuhan mantap,yang dalam keadaan tersebut tingkat pertumbuhan keuntungan adalah nol, dapat disetpertumbuhan keuntungan menjadi nol pada waktu tingkat pertumbuhan ratiooutput/modal sama dengan nol. Dengan kata lain akan ditulis: . . Qt K t ………………………………………………………………...(8) 135
  • 146. yang bila dikaitkan dengan persamaan (8) menjadi: . . . 0 (1 )( Lt tt ) rt …………………………………………….(10) . . . .atau. 0 (1 )(Qt Lt ) rt ………………………………………….(11) . . .yang implikasinya: wt Qt Lt ………………………………………….(12) 1 Dengan kata lain, pada kondisi pertumbuhan mantap, dimana tingkatpertumbuhan keuntungan nol, tingkat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja dan upahtergantung kepada tingkat teknologi dan sumbangan faktor produksi tenaga kerja didalam perekonomian tersebut. Catatan: hubungan antara pertumbuhan upah dan pertumbuhan produktivitastenaga kerja di dalam kerangka fungsi produksi Cobb-Douglass adalah sebagai berikut:upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja (w) sama dengan produk marginal tenagakerja (MPL), yang dihasilkan oleh produk fisik marginal tenaga kerja (MPPL) dikalikandengan harga output (Px) yang diproduksi. Pada fungsi produksi Cobb-Douglass indekstenaga kerja diberikan sebagai (1 ) yang didefinisikan sebagai bagian darielastisitas output terhadap input tenaga kcrja. Dengan kata lain: Q/Q Q L Q L (1 ) x x ……………………………...(a1) L/L Q L L QOleh karena (1 ) MPL / APL dimana MPL adalah produk marginal tenaga kcrja.dan APL adalah produk rata-rata tenaga kerja, dimana w yang dihasilkan oleh MPLmaka w diberikan oleh w (1 ) APL . Dengan cara yang sama, tingkat laba yang dibayarkan kepada modal r samadengan produk marginal modal (MPK), dan diberikan oleh produk fisik marginal modal(MPPK) dikalikan dengan harga output Px yang dihasilkan. Berdasarkan fungsi produksiCobb-Douglass, indeks modal adalah , yang didefinisikan sebagai bagian darielastisitas output terhadap input modal. Dengan kata lain: Q/Q Q K Q K x x ………………………………..(a2) K/K Q K K QOleh karena MPK / APK dimana MPK adalah produk marginal modal, dan APk,produk rata-rata modal. Pada tingkat laba r, yang diberikan produk marginal modal.Contoh Perhitungan Dengan Menggunakan model Neo-Classic: Samuelson (2001) memaparkan hasil penelitian terhadap kasus pertumbuhanekonomi Amerika Serikat selama periode satu abad terakhir, memberikan contohbagaimana menentukan kontribusi tenaga kcrja, modal, dan faktor produksi lainnya,serta perkembangan teknologi pada pertumbuhan output nasional. Diketahui, untukpertumbuhan ekonomi AS periode 1900 —1999, ¾ dari pendapatan nasional mengalirke buruh dan ¼ ke modal. Dengan mengasumsikan fungsi produksi ―constant return toscale‖. Dengan memasukkan komposisi sumbangan masing-masing faktor produksi kedalam persamaan, maka dapat diperoleh: 136
  • 147. % pertumbuhan Q = (1 ) (pertumbuhan L) + (pertumbuhan K) % pertumbuhan Q = ¾ (pertumbuhan L) + ¼ (Pertumbuhan K)atau untuk pertumbuhan per unit modal: Q % pertumbuhan = % perubahan Q - % perubahan L + TC L K = ¼ (% pertumbuhan ) + TC Ldimana TC adalah perubahan teknologi (Technological Change). Diketahui selama periode 1900 - 1999 jam kerja pekerja (L)di AS meningkat1.3% per tahun. dan modal (K) tumbuh 2,5% per tahun. Pertumbuhan output riil (Q)3.1% per tahun. Berdasarkan definisi di atas maka perubahan teknologi (TC) dapatdihitung setelah dihitung petumbuhan-pertumbuhan Q, K dan L, dengan persamaan: TC = % perubahan Q - (perubahan L) - (1 ) (perubahan K) untuk contoh di atas: TC = % perubahan Q – ¾ (perubahan L)-1/4 (perubahan K) Untuk menentukan kontribusi buruh, modal dan faktor-faktor produksi lainnyaterhadap pertumbuhan output nyata, disubtitusikan jumlah-jumlah representatif masing-masing faktor selama periode tersebut. Selama periode itu jam kerja buruh (L) tumbuh 1.3% per tahun, modal (K) tumbuh 2.5% per tahun, dan output riil (Q) tumbuh 3.1% pertahun. Maka perubahan teknologi (TC): TC = % perubahan Q/L – ¾ ( % pertunbuhan K.L) = 1.8 – ¼ = 1.5Dengan demikian 1.8% peningkatan output/tenaga kerja/tahun, 0.3% disebabkan olehpertumbuhan modal per tenaga kerja dan 1.5% disebabkan oleh perubahan teknologi.Selanjutnya kontribusi unsur-unsur pertumbuhan secara rinci diperlihatkan melalui . .tabel: 1.2. dimana = tingkat pertumbuhan produktifitas tenaga kerja, dan Q = tingkatpertumbuhan outputnya. Didasarkan pada hasil-hasil penelitian empiris, hokumVerdoorn mengasumsikan bahwa nilai α kira-kira 2%, dan nilai b (Coefisien Verdoorn)adalah 0.5. Nilai-nilai itu L sesuai dengan ketentuan produksi Neo Classic. yangmengindikasikan bahwa jumlah α + b = 1.33 (McCombie and Thirlwall 1994). 137
  • 148. Tabel 8.1: Kontribusi Unsur-unsur Pertumbuhan PDB riil AS, 1948 –1997 Uraian % per tahun % totalPertumbuhan PDB Riil (Sektor Bisnis Swasta) 3,55 100Kontribusi Input-input: 2.22 63 Modal 0.66 19 Tenaga Kerja 1.56 44Total pertumbuhan produktivitas faktor (Penelitian &Pengembangan Pendidikan. Kemajuan ilmu Pengetahuan.dan Sumber-sumber Lain). 1.33 37 138
  • 149. BAB IX KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH9.1. Konsep Wilayah Apa yang menjadi dasar dari konsep wilayah, atau konsep perwilayahan?Bagaimana perekonomian nasional dipecah ke dalam perekonomian wilayah (sub-subperekonomian nasional) sebagai suatu sistem ekonomi yang saling terkait danterpadu? Dasar tersebut perlu diperjelas, agar apa yang dimaksudkan dengan wilayah itusendiri terdefinisikan dengan jelas. Ada dua pengertian wilayah yang sering digunakan, yaitu:1. Wilayah berdasarkan batas-batas administratif pemerintahan Daerah, dan2. Wilayah yang tidak berdasarkan batas-batas administratif pemerintahan daerah.Konsep wilayah yang berdasarkan administratif pemerintahan daerah relatif lebihsederhana, dan jika ingin melakukan penelitian misalnya, batas-batas wilayahnya sudahjelas, dan datanya biasanya juga telah tersedia pada berbagai instansi di daerah tersebut,baik instansi pemerintah maupun non-pemerintah. Konsep wilayah yang tidakberdasarkan administrasi pemerintah yaitu wilayah yang didasarkan kepada pengaruh-pengaruh lokasi (kepada pengaruh daya tarik kota-kota tertentu) dan keseimbangan-keseimbangan harga secara spasial. Sesuai dengan urgensinya, sebagai mana yang telah disebutkan di atas, makadikenal ada tiga konsep wilayah secara umum, yaitu: 1. Wilayah Homogen (Homogenious Regions), 2. Wilayah Nodal (Nodal Regions) 3. Wilayah Perencanaan (Planning Regions). Yang dimaksud dengan wilayah homogen adalah suatu kesatuan tata-ruangwilayah yang memiliki sifat-sifat yang sama, misalnya: struktur produksinya sama,struktur pekerjaan penduduknya sama, faktor geografis, sumberdaya alam yangmenonjol sama, dan mungkin pula meliputi sifat-sifat nonekonomis yang sama, seperti:kesamaan perilaku sosial, latarbelakang sejarah dan sosial budaya, latar belakangpolitik, dan sebagainya. Kriteria-kriteria tersebut lebih tepat jika diterapkan secaradinamis. Misalnya pendapatan perkapita, struktur ekonomi dan struktur pekerjaanpenduduk bisa berubah dalam jangka panjang. Contoh wilayah homogen adalahWilayah Basis Ekspor. Wilayah nodal adalah suatu kesatuan tata-ruang wilayah yang saling tergantungdi antara bagian-bagian wilayah yang berbeda-beda. Hubungan di antara kesatuan-kesatuan wilayah di dalam batas-batas cakupan ruang tertentu berfungsi salingketerkaitan, tidak termasuk faktor jarak seperti pada model grafiti potensial. Fungsisaling terkait terlihat pada berbagai gejala, seperti: arus manusia, arus barang dan jasapada rute-rute transportasi, arus komunikasi, dan sebagainya. Struktur wilayah akantercermin pada struktur arus manusia, barang dan jasa, dan sebagainya, yang akanterstruktur sesuai dengan struktur pusat-pusat kegiatan (kota-kota) wilayah secaraterstruktur pula. Pengendalian terhadap arus-arus tersebut. Konsep wilayah ini sulitmenentukan batas-batasnya, yang menjadi perhatian adalah fungsi saling keterkaitansecara terstruktur, baik ke dalam wilayah maupun ke luar wilayah. Struktur wilayahdapat mengungkapkan struktur sarana/prasarana wilayah (seperti: jaringan transportasi,tenaga listrik, komunikasi, pipa air bersih, pelayanan perbankan, pelayanan pendidikan,pelayanan kesehatan, dan sebagainya). Demikian pula arus-arus lainnya (seperti: 139
  • 150. migrasi antar wilayah, bahan baku industri pengolahan, dan sebagainya). Dengan semuaitu telah terbentuk suatu kerangka tata-ruang wilayah yang luas. Wilayah perencanaan adalah suatu kesatuan tata-ruang wilayah yang dibuatmelalui suatu kebijakan perencanaan wilayah. Wilayah perencanaan dibuat atas dasarkedekatan, saling terkait secara logis, dan merupakan kesatuan pengambilan keputusanekonomi. Melalui perencanaan tersebut pemerintah mencoba mengatur berbagaiaktivitas, termasuk aktivitas ekonomi, untuk meningkatkan manfaat bagi penduduk.Setiap kebijakan yang diambil pemerintah, termasuk kebijakan perwilayahan, harusmampu meyakinkan masyarakat, dengan penuh alasan, bahwa kebijakan tersebut adalahpilihan yang paling bermanfaat bagi mereka. Suatu wilayah perencanaan mungkin merupakan pengkombinasian sifat-sifatwilayah homogen yang subjektif dengan sifat-sifat wilayah nodal yang objektif. Sifatwilayah homogen yang subjektif akan lebih mendorong partisipasi, sedangkan sifatwilayah nodal yang objektif akan memperkuat integrasi wilayah itu sendiri. Wilayahperencanaan perlu mengetahui batas-batas pengaruhnya secara alamiah, termasuk batas-batas pengaruh ekonomi. Dengan demikian ekonomi wilayah tersebut dapat didorongdengan suatu perencanaan yang didasarkan kepada batas-batas wilayah secara alamiahdan pengetahuan tentang sifat-sifat wilayah masing-masing. Jika batas-batas alamiahdan sifat-sifat wilayah tersebut kurang mendapat perhatian di dalam perencanaan, makabesar kemungkinan perencanaan yang dibuat untuk mendorong pertumbuahan ekonomitidak akan efektif. Untuk itu perencanaan memerlukan data statistik dan monografiwilayah yang tidak dibatasi oleh batas-batas administrasi pemerintahan, HW Richardson(1969) Pengertian lain mengenai wilayah yang memiliki sifat objektif adalah wilayahyang dilihat berdasarkan fenomena awal, sedangkan wilayah subjektif adalah wilayahyang direka oleh pikiran saja (John Glasson, 1978). Pandangan subjektif melihatwilayah sebagai sesuatu yang diharapkan terjadi, sedangkan pandangan objektif melihatwilayah sebagai suatu yang nyata, sebagai suatu kenyataan menyeluruh, suatu bagiandari suatu sistem (organisme) yang dapat diidentifikasi dan digambarkan sebagai suatukenyataan. Wilayah objektif lebih diterima secara umum sekarang ini, sebagai sesuatuyang telah berlangsung lama dalam sejarah.9.2. Kebijakan Pembangunan Wilayah (Daerah) Berbagai kebijakan nasional dan daerah perlu dibuat untuk digunakan sebagaidasar pembangunan wilayah (daerah). Kebijakan-kebijakan tersebut merupakanperalatan (instruments) pembangunan daerah. Peralatan-peralatan pembanguan daerahtersebut berupa UU, Peraturan Pemerintah Pusat, Keputusan Mentri, Peraturan Daerah(Perda), Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati/Walikota, dan sebagainya. Instrumentstersebut bertujuan untuk mengatur pembangunan daerah, meliputi ketentuan tentangotonomi (kekuasan) daerah, tentang keuangan daerah, tentang kelembagaan daerah, dansebagainya. Sebagai contoh, sekarang ini, UU no. 32 tahun 2004 yang mengaturtentang otonomi daerah, UU no. 33 tahun 2004 yang mengatur tentang perimbangankeuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Peraturan Pemerintah tentangBappeda Provinsi Daerah Tingkat-I, Peraturan Pemerintah tentang BappedaKabupaten/Kota Daerah Tingkat–II, dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi keekonomisan masyarakat adalah ekonomiinternasional di dalam luasnya, dengan berbagai percabangan untuk seluruh ekonomi 140
  • 151. nasional. Aktivitas Ekspor-Impor dapat menimbulkan dampak pada ekonomi nasional,apakah itu perkembangan tingkat inflasi, pengangguran, dan sebagainya. Dalammasalah ini akan menyatu dimensi-dimensi spasial dan psikologis, yang membuatpemerintah sangat sulit dalam mengambil keputusan. Mencoba menggunakan peralatankebijakan nasional yang berlaku untuk memperlihatkan pengaruh buruk terhadapperekonomian nasional. Kondisi tersebut juga mempengaruhi perekonomian daerah,karena akan berpengaruh buruk kepada pelaksanaan program-program nasional didaerah. Dalam menghadapi masalah seperti itu, mungkin diberlakukan kebijakanstrategis untuk memperbaiki kondisi umum, misalnya untuk mengatasi masalah krisiskesempatan kerja, dan sebagainya.9.2.1 Perdebatan tentang Kebijakan Perindustrian Nasional - Tindakan Khusus. Dalam melanjutkan perekonomian nasional yang kondisinya lemah, beberapakebijakan dari hasil perdebatan diajukan sebagai bagian dari kebijakan industri nasionalyang baru, yang bertujuan untuk memperbaiki perekonomian nasional. Dalam sejarah,dilakukannya pembangunan jalan kereta api, penemuan sistem sewa tanah yang lebihmendukung pembangunan, dan semua kebijakan perindustrian yang dilakukan padamasa depresi besar adalah contoh-contoh dari kebijakan tersebut. Memang banyakmuncul orang-orang yang tidak setuju pada waktu gagasan dan kebijakan tersebutdiajukan. Beberapa programnya, seperti New Deal, masih ada pandangan kritisnya danpandangan-pandangan kritis tersebut berlanjut setelah target-target diintrodusir. Alasan-alasan kebijakan industrialisasi cukup kuat. Di satu pihak pembaharu-pembaharu School of Economic Development ingin membangun kebijakan perindustrianyang baru, ingin meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu, ingin mewujutkan perencanaanekonomi. Mereka ini adalah kelompok gerakan reindustrialisasi nasional. Kelompok iniingin membangun kembali stock perindustrian nasional melalui membangun kebijakan-kebijakan insentif pajak, pengaturan perburuhan, dan menasionalisasikan infrastrukturpembiayaan. Kelompok yang lain ingin membangun kembali tradisi-tradisiperindustrian yang ada, seperti industri mobil, industri baja, dan industri-industri beratlainnya yang mungkin dikembangkan. Di dalam pandangan-pandangan yang lain, beberapa perencana dan sarjanaekonomi terkesan dengan sistem ekonomi Eropa yang mengusulkan kebijakanperindustrian tidak meliputi pemecahan secara eksplisit melalui lokalisasi perusahaan-perusahaan dan modal. Kelompok ini mendorong kedua pandangan kebijakan di atas.Mereka memiliki premis: ― barang yang dibisniskan adalah barang untuk komunitas danpara pekerja‖. Suatu pandangan maju yang lain sebagai alternatif adalah kebijakanperindustrian yang memiliki dimensi spasial, dan terlihat lebih manusiawi.Argumentasi-argumentasi spesifiknya adalah (1) kebijakan nasional dibutuhkan untukmeningkatkan kontrol sosial pada perubahan-perubahan ekonomi yang bersumber dariinvestasi-investasi perusahaan, (2) komunitas-komunitas membutuhkan sebuah proseduryang lebih umum dalam menentukan stabilitas ekonomi dan mutu hidup, dan (3) parapekerja harus memiliki pengawasan yang lebih baik untuk kebutuhan hidup mereka.9.2.2 Kebijakan Moneter dan Pajak. Kebijakan moneter merupakan kewenangan pemerintah pusat. Daerah tidakmemiliki mata uang sendiri, mata uang nasional berlaku untuk seluruh wilayah nasional.Dampak kebijakan moneter akan diterima semua daerah. Kebijakan moneter ada yangbersifat konservatif (ketat) ada yang fleksibel (longgar). Kebijakan yang konservatif 141
  • 152. adalah kebijakan yang secara konsisten melaksanakan ketentuan-ketentuan teoriekonomi moneter, guna menjaga kestabilan nilai uang, dan tidak menggunakankebijakan moneter untuk menyetir jalannya perekonomian. Sedangkan kebijakan yangfleksibel dimaksukan sebagai kebijakan moneter yang agak longgar, dan jika perludimanfaatkan untuk menyetir jalannya perekonomian. Buruk baiknya dampak kebijakantersebut kepada daerah dapat berbeda-beda, tergantung kondisi daerah masing-masing.Misalnya, kebijakan moneter yang konservatif dapat menyulitkan para pengambil kreditdalam mengembalikan utang-utangnya. Sedangkan kebijakan moneter yang fleksibeldapat membuat masyarakat tidak percaya kepada nilai uang, mendorong spekulasi danpenduduk tidak termotivasi untuk menabung. Kebijakan moneter yang longgar (yanginflatur), dalam batas-batas tertentu, dapat mendorong investasi dan meningkatkanlapangan kerja. Situasi ekonomi yang dipengaruhi uang ketat akan menurunkanpermintaan pasar terhadap barang-barang (hasil produksi). Permintaan terhadap barang-barang produk luar negeri meningkat, karena harganya menjadi relatif lebih murah danmutunya lebih baik. Kebijakan perpajakan sering digunakan sebagai salah satu unsur kebijakanpembangunan. Penyederhanaan sistem perpajakan nasional akan membatasi insentif-insentif untuk investasi yang tidak produktif. Perlindungan pajak, sama dengan usahamenyembunyikan pendapatan, dan jika dikombinasikan dengan tingkat pajak yangrendah, akan banyak mengalihkan kekayaan negara kembali ke perusahaan-perusahaanyang produktif. Investasi asing juga berpeluang untuk masuknya dolar yang belumdikenakan pajak. Pasar uang akan ditentukan oleh hasil-hasil dalam situasi tersebut. Kearah manapun gerakan-gerakan modal mengalir masyarakat harus membantuperusahaan-perusahaan dengan perencanaan yang hati-hati dan agar membantu secaraagresif hadirnya perusahaan-perusahaan baru, dan berkembangnya perusahaan-perusahaan lama.9.2.3 Kebijakan Sosial dan Kesejahteraan Di AS tahun 1961 lebih dari 65% keluarga kulit hitam kondisi ekonominya dibawah garis kemiskinan dan bekerja di dalam beberapa jenis pekerjaan. Tahun 1971,hanya 31% keluarga kulit hitam yang masih berada di bawah garis kemiskinan dan telahbekerja pada semua lapangan pekerjaan. Kebijakan nasional untuk kesejahteraanbiasanya bersifat sementara. Pada saat kehidupan sudah mapan nanti, tidak perlu lagiada kebijakan untuk mengatasi kondisi kesejahteraan dan adanya kebijakan bagi pekerjasosial. Masyarakat umum, termasuk rakyat miskin, akan merasa merendahkan darinyajika menerima santunan, dan kesan orang kepada orang-orang penerima utamanyasebagai orang-orang yang memiliki moral yang rendah dan penuh kelihaian. Satu carayang bisa dipilih untuk memecahkannya adalah dengan menggabungkan isu welfare(kesejahteraan) dengan workfare (kerja keras). Tujuannya adalah untuk membuatpenerima-penerima kesejahteraan meningkat keahlian dan kecakapannya dalam bekerjauntuk beralih dari menerima derma kepada memberi derma. Versi yang lain dari usahaini adalah perusahaan-perusahaan besar mulai melayani masyarakat denganmenggunakan penerima-penerima kesejahteraan sebagai tenaga kerja mereka. Dalampendekatan ini, lembaga-lembaga non-profit mempekerjakan orang-orang miskin ituuntuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang sejahtera. Para pekerja tersebutmembayar kesejahteraan mereka dengan penghasilan mereka sendiri yang ditambahdengan premi yang diberikan perusahaan-perusahaan bagi pelayanan sosial yangmendapat giliran bekerja (pekerja yang disubsidi). 142
  • 153. Kedua pendekatan berkembang menjadi pendekatan campuran. Meskipundemikian, pendekatan-pendekatan tersebut adalah sebuah alternatif, disangkutkandengan perusahaan-perusahaan besar dan lembaga-lembaga non-profit kepadapenduduk kelas bawah (kelompok miskin yang menganggur). Sebagai sasaran kebijakanekonomi pembangunan. Konsep-konsep itu merupakan saran yang potensial untukmeningkatkan modal manusia diantara penduduk wilayah perkotaan, denganmenggunakan wilayah opportunitas untuk menarik atau menguasai ekonomi basis.9.2.4 Pekerjaan dan Kebijakan Pelatihan. Wilayah yang paling inovatif bagi kebijakan ekonomi pembangunan untuktahun-tahun terakhir ini, yang telah terbukti di lapangan, adalah pekerjaan dan pelatihan.Adanya UU untuk Pekerjaan dan Pelatihan sebagai bagian dari kebijakan lapangangankerja dijalankan oleh kebijakan pembangunan ekonomi. Semula pekerjaan dan pelatihanyang didisain untuk memperbaiki kecakapan para pekerja di pusat-pusat pengangguranyang penting, atau memperbaiki kemampuan untuk mengisi lapangan-lapangan kerjatertentu atau segment-segment penduduk untuk memasuki pasar kerja. Permasalahannyasekarang dan untuk masa yang akan datang yang dapat diramalkan adalah: tidakmencukupinya lapangan pekerjaan, atau tidak mencukupinya lapangan pekerjaan yangbaik. Oleh karena itu perencana pembangunan untuk lapangan pekerjaan menjaditertarik dengan pertumbuhan jumlah pekerjaan, dan memperkenalkan ekonomi regionalyang dapat menyerap tenaga keja yang ada. Pembangunan ekonomi dan pembangunanlapangan pekerjaan harus sejalan. Bagaimana cara agar modal manusia dapatdigunakan untuk membantu perusahaan-perusahaan yang penuh persaingan, baikperusahaan-perusahan yang sudah ada atau perusahaan-perusahaan yang dibangun baru.Pada dekade yang lampau pemerintah pusat mengatasi masalah kesempatan kerja inimelalui kebijakan perindustrian, kemudian melalui program-program kebijakanekonomi, yang sengaja dibuat utuk membantu wilayah-wilayah pinggiran kota-kota, didalam kota-kota, dan wilayah pedesaan, melalui pelaksanaan pembangunan fisik, ataumendorong pengembangan industri. Kebijakan-kebijakan tersebut telah berhasilmengurangi pengangguran secara drastis.9.2.5 Kebijakan Perdagangan Apakah kondisi neraca pembayaran luar negeri surplus, defisit, atau seimbang.Ini merupakan salah satu indikator perekonomian yang penting bagi sebuah negara.Begitu pula pada tingkat daerah, neraca pembayaran antar daerah/luar negeri merupakansalah satu indikator penting. Neraca pembayaran tersebut memberi gambaran tentangaktivitas ekspor impor, baik pada neraca perdagangan barang, jasa, modal, dancadangan devisa. Bedanya pada neraca pembayaran antar daerah tidak ada biaya sektormoneter, karena hanya ada satu mata uang negara yang berlaku di semua daerah, yaitumata uang nasional. Jika sebuah negara, atau daerah melakukan ekspor berartinegara/daerah itu memiliki sektor ekonomi basis di sektor tersebut. Ekspor akanmemberikan pekerjaan bagi pertambahan penduduk, baik untuk sektor basis itu sendirimaupun untuk sektor non-basis. Surplus ekspor pada tingkat negara akan meningkatkannilai tukar (kurs) mata uang negara tersebut. Namun devisa itu sendiri juga dapatmenimbulkan tekanan inflasi di dalam negeri. Komoditi yang diproduksi denganbersubsidi, seperti komoditi pertanian di negara-negara maju juga dapat mengancamekspor komoditi pertanian dari negara berkembang. Penguasaan teknologi yang lebih 143
  • 154. baik dalam memproduksi suatu komoditi juga berpeluang menguasai pasar, dengancatatan bahwa yang berlaku adalah sistem perdagangan bebas (tanpa kebijakanproteksi).9.2.6 Kebijakan Pembangunan Regional/Lokal Kebijakan-kebijakan untuk wilayah tertinggal telah menjadi tonggak sejarahbagi New Deal (konsep pembangunan sosial ekonomi dari Presiden Roosevelt).Pembangunan Otorita Waduk Tennessee, listrik pedesaan, perluasan toko-toko koperasi,program-program besar yang ditujukan untuk wilayah pedesaan tertinggal, telahmenjadi bagian dari pola kehidupan di Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an, PresidenKennedy dan Presiden Johnson mengembangkan ide-ide cemerlang dengan menstimulirpembangunan-pembangunan dalam kota, wilayah-wilayah di sekitar kota, CentralBusiness Districts (CBD), dan wilayah-wilayah pedesaan. Program-program yangpernah dikembangkan sebelumnya tersebut dikembangkan kembali. Secara umum, hampir senua usaha pembangunan pemerintah pusat telahmenjadi tonggak awal orientasi. Pemerintah pusat melihat prosedur tersebut sebagaisebuah pembangunan yang mengintervensi langsung sektor swasta. Beberapa bentukintervensi terbatas telah sering dilakukan dengan program-program fisik, sepertipembangunan lokasi fasilitas-fasilitas tentara dan gedung-gedung pemerintah.Dilakukannya usaha-usaha oleh pemerintah federal (pemerintah pusat) untukmenstimulasi pembangunan ekonomi antar wilayah-wilayah dan kelompok-kelompoktermiskin. Hal itu secara tidak langsung adalah sebagai suatu usaha bersama pemerintahnasional dengan pemerintah lokal, di dalam mengaplikasikan program-program merekaterhadap masalah-masalah komunitas. Kedua pemerintah, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, secara diam-diammenyepakati bahwa pemerintah pusat membatasi diri pada pembiayaan tetapi tidakmenjadi pelaksana langsung program-program di daerah, yang bertujuan mendorongperubahan ekonomi. Pengkombinasian fungsi membiayai dan sekaligus mengintervensidari pemerintah pusat telah mendatangkan banyak kesulitan, yaitu dengan nenurunnyakeuangan federal yang tersedia untuk pembiayaan daerah. Pada saat sumbangan industrinasional terbatas, pemerintah lokal membutuhkan lebih banyak bimbingan (asistensi)pemerintah pusat, tetapi kenyataannya asistensi yang dapat diberikan juga berkurang.Pemerintah daerah dan pemerintah pusat menekankan sekali komitmennya pada duahal, yaitu: mengatasi pengangguran dan mendorong pembangunan. Dorongan-doronganyang dilakukan di masa lampau adalah dengan pembebasan pajak untuk masa-masatertentu, dan menyeimbangkan pengeluaran dan penerimaan daerah. Respon pemerintah pusat terhadap problem ini telah dapat mengurangi defisitpembiayaan, dan mengaitkannya dengan ketat kepada kekurangan pembiayaan. Secaraesensial, pemerintah nasional memberikan kepada pemerintah lokal lebih banyakkewenangan untuk memecahkan masalah-masalahnya dengan sumberdaya yang lebihsedikit. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada pemerintah daerah iniberpengaruh kepada pengambil kebijakan lokal, dimana pemerintah local menjadimemiliki lebih banyak kebijakan, memiliki dana yang melebihi dana-dana bantuanpemerintah federal (pemerintah pusat), dan memiliki lebih banyak opsi untukmengatasi masalah-masalah lokal. Pemerintah lokal harus menggunakan dana-danayang dimilikinya sebagai investasi untuk masa yang akan datang, dan sewaktu-waktumereka akan dihadapkan kepada membuat pinjaman untuk memenuhi kewajiban-kewajiban darurat. 144
  • 155. Pemerintah pusat merespon kebutuhan masyarakat dan individu-individu untukkesinambungan kebijakan ekonomi yang berfluktuasi. Kebijakan pemerintah daerahharus mampu mengambil tindakan konstruktif untuk mendekatkan kebutuhan denganpenerimaan mereka, baik jangka pendek maupun jangka panjang.9.2.7 Kebijakan Nasional dan Pembangunan Ekonomi Regional Sebagaimana tujuan perbincangan ini semula, kebijakan-kebijakan nasionaluntuk mendapatkan lapangan pekerjaan riil dengan konsekwensinya harus mendasariperbaikan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mampu bersaing, sepertipeningkatan kapasitas masyarakat lokal untuk mengembangkan kesempatan kerja.Pemerintah nasional dapat memperlihatkan kebijakan-kebijakannya, mempertinggikapasitas wilayah dan lokalitas untuk mengejar strategi pembangunan untukmemperkuat perolehan daya saing sendiri seirama dengan perkembangan ekonomi padatingkat nasional. Adapun skema pengelompokan kebijakan adalah sebagaimanadiperlihatkan pada tabel 9.1 berikut: Tabel 9.1. Skema Pengelompokan Kebijakan Dimensi Ekonomi Dimensi Spasial Kebijakan Sektoral Tdk. Samasekali Implisit Eksplisit Bukan Kebijakan Kebijakan2 Kebijakan2 Kebijakan2 Industri Ekonomi Umum Ekonomi dg. Regional Implikasi2 Regional Beberapa sektor Kebijakan2 Kebijakan2 Pembangunan didorong secara Sektoral Struktural Regional tidak langsung(seperti: Pertanian, Baja) Dorongan2 Kebijakan2 Kebijan2Struktural Pembangunan Industri Struktural Regional Ekonomi Lokal Menurut Sektor Menurut Kebijakan2 Asistensi Usaha Perusahaan/Pabrik-Perusahaan/Pabrik Struktural Lokal khusus Kebijakan2 Struktural Tujuan pembangunan ekonomi regional/lokal yang didasarkan kepada rumusanThe Organization of Economic Cooperation and Development (OECD), tahun 1986meliputi: (1) memperkuat posisi daya saing wilayah-wilayah dan lokasi-lokasi dalamwilayah-wilayah dengan mengembangkan potensinya, yang sumberdaya alam danmanusianya masih kurang termanfaatkan; (2) merealisasi kesempatan-kesempatanpertumbuhan ekonomi dari dalam (Endogeneous) melalui mengorganisasikan kembalikesempatan-kesempatan yang ada untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasasecara lokal; (3) memperbaiki tingkat kesempatan kerja dan opsi-opsi pengembangankarir jangka panjang untuk penduduk lokal; (4) meningkatkan partisipasi perekonomian 145
  • 156. lokal dari keadaan yang merugikan dari kelompok-kelompok minoritas; dan (5)memperbaiki lingkungan secara fisik sebagai suatu unsur kebutuhan memperbaiki iklimpembanguan bisnis dan mempertinggi mutu hidup penduduk sepempat.9.2.8 Tantangan-tantangan Baru dan Kesempatan Lokal Jika pemerintahan dan komunitas local mendasari pengorganisasian yangdihubungkan kepada institusi-institusi dengan mengangkat tantangan-tantangan yangdikaitkan kepada transformasi industri nasional yang didiskusikan di sini, mereka akanmengalami peningkatan yang dapat digambarkan ke dalam perdebatan sebagai jalanatau jalan-jalan keluar mengatasi ekonomi dari ekonomi lokal selanjutnya. Untukmempertemukan tantangan ini, pemimpin-pemimpin negara perlu menguji pilihan-pilihan yang ada dalam bentuk sebuah gambaran nyata. Dia dapat memberikankejelasan di mana industri, pertanian, dan sumberdaya lokal penyebab dislokasiekonomi untuk komunitas setempat. Bagaimana pun, dia tidak jelas, pemimpin lokalmemiliki kapasitas untuk merumuskan rencana-rencana memecahkan permasalahan-permasalahan ekonomi lokal secara jelas. Umumnya, penampilan-penampilankomunitas-komunitas berbeda-beda, tergantung pada keadaannya masing-masing. Sebagian kecil komunitas lokal dapat mengantisipasi pertumbuhan ekonominyadidasarkan kepada migrasi penduduk di dalam wilayah sendiri. Tingkat pertumbuhanpenduduk nasional untuk wilayah pedesaan memiliki subtansi yang rendah. Karenanya,wilayah-wilayah pertumbuhan umumnya dari komunitas-komunitas pinggiran kotayang terletak di luar kota-kota metropolitan besar. Tidak mungkin setiap komunitasdapat meningkatkan secara signifikan kesempatan kerja lokal mereka dengan menarikperusahaan-perusahaan industri baru. Sebagai kesimpulan, komunitas-komunitasdengan keterbatasan atau penurunan basis-basis ekonominya harus mengembangkanstrategi ekonomi yang lebih canggih kepada sisa lokasi yang dipengaruhi secara sosialdan ekonomi. Di sana akan meningkatkan tekanan-tekanan pada semua komunitasuntuk mengembangkan program-program yang akan dipecahkan oleh orang-orangdewasa di masa yang akan datang. Perbandingan geografi atau keuntungan transpotasiakan sama sekali tidak begitu lama ditentukan pada basis-basis sumberdaya alam yangada.9.2.9 Jenis-jenis Kumunitas dan Kesesempatan2 Pembangunan Ekonomi Lokal. Tabel 9.2. Ikhtiar Pembangunan dengan Jenis Komunitas Jenis Komunitas Ikhtiar Pembangunan Wilayah Pertumbuhan Mengelola Pertumbuhan Penduduk dan Alternatif Rencana Ekonomi Menstruturalkan Kembali Memvariasikan Ekonomi yang Ada dan Basis Wilayah Kesempatan KerjaMemundurkan (membangun) Mengelola Sumberdaya-sumberdaya Publik yang Ada Komunitas dan Wilayah Memelihara Menjaga Bisnis Lokal Sekitar Kota Meneliti Alternatif-alternatif Kegiatan Ekonomi Sesuai dengan Kapasitas Pemerintah dan Persyaratan Lapangan Kerja Komunitas. 146
  • 157. Komunitas dari berbagai ukuran menjadi sebuah ketentuan penting untukdimainkan di dalam membantu negara dan Departemen Pekerjaan Umum. PemerintahPusat membantu membentuk, memperluas perusahaan-perusahaan baru untuk bersaingdi pasar domestik dan internasional. Ada tiga jenis dasar komunitas yang meresponperubahan kondisi ekonomi, yaitu sebagaimana digambarkan tabel berikut: 147
  • 158. BAB X ANALISIS KEBIJAKAN EKONOMI PERKOTAAN DAN REGIONAL10.1 Pendahuluan Kebijakan ekonomi perkotaan (Urban Economy Policy) dan Wilayah (RegionalEconomy Policy) merupakan bentuk lain dari kebijakan ekonomi publik, yangmencakup pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaanyang bersifat geografis. Motivasi dan implementasi kebijakan ini memiliki ciri-ciri dansifat-sifat yang spesifik tata-ruang (Spacial). Tujuan kebijakan ini adalah mencaribentuk campurtangan pemerintah untuk mempengaruhi perkembangan kondisi ekonomidaerah (Local Economy). Persepsi ekonomi lokal akan ditentukan oleh sifat-sifatkebijakan, implementasi, dan evaluasinya. Definisi dan ruang lingkup ekonomi lokaldapat diperluas lebih dari ukuran sebuah ekonomi wilayah suburban secara individualsampai ekonomi sebuah wilayah perkotaan yang sangat besar (Metropolitan). Sejalandengan perkembangan definisi dan ruang lingkupnya, dapat berupa sebuahperekonomian wilayah yang lebih luas lagi, yaitu perekonomian sebuah kota ditambahhinterlandnya (Regional Economy). Indikator-indikator perekonomian regional terdiri dari kesempatan kerja rata-rata, tingkat pendapatan, harga rumah, dan sejumlah indikator sosial turunannya.Indikator-indikator tersebut dapat digunakan, atau dihitung untuk melihat kondisiwilayah atau subwilayah spasial yang dikaji, yang akan dijadikan dasar kebijakanperencanaan, implementasi dan evaluasi. Oleh karena itu pendekatan tentang kondisi―lingkungan ekonomi‖ juga akan tergantung pada ukuran spasial yang diambil, atauyang didefinisikan sebagai wilayah ―lokal‖. Dengan demikian yang dimaksud dengankebijakan ekonomi lokal dan regional secara umum dibagi ke dalam dua kelompokprakarsa dan kebijakan. Pertama, di sana terdapat sejumlah prakarsa yang difokuskansecara spesifik kepada lingkungan ekonomi perkotaan dan dengan target ukuran urbandan sub-urban tertentu. Semuanya akan dikaitkan dengan judul sejumlah kebijakanumum, yaitu ―kebijakan perkotaan‖ (Urban Policy). Kedua, di sana ada ukuran (Range)prakarsa yang ditargetkan pada sebuah ukuran spasial wilayah, dan segala sesuatunyaakan dikaitkan kepada satu judul dari sejumlah kebijakan umum yaitu ―kebijakanregional‖ (Regional Policy). Perbedaan umum diantara kebijakan ekonomi perkotaandan ekonomi regional yang pertama yaitu pembatasan dalam luas wilayah spasial (luasruang) yang menjadi fokus dan implentasi kebijakan, pada kebijakan ekonomi regionalyang ditujukan untuk diaplikasikan pada ukuran spasial yang lebih luas dibandingkanpada kebijakan ekonomi perkotaan.. Ukuran ruang kebijakan tersebut sebenarnya tidak hanya berbeda dalam lebihluas atau kurang luasnya, atau dengan kata lain ruang kebijakan perkotaan kurang luasdibandingkan ruang kebijakan regional. Perbedaan kedua ada pada sifat-sifat kebijakanyang akan diimplementasikan. Kebijakan ekonomi perkotaan dan regional dimotivasioleh pengaruh yang diperlukan untuk meningkatkan kondisi lingkungan ekonomi lokal.Perluasan kebijakan tertentu dapat didasarkan kepada bakal-bakal variabel yangmungkin untuk mengimplementasikan kebijakan, yang juga tergantung pada definisispasial lingkungan local itu sendiri. Sebagai contoh, apakah kebijakan itu untukpembangunan ekonomi urban atau suburban? Dengan demikian jelas, bahwa kebijakanyang dimaksudkan tidak untuk ekonomi sekala regional, karena dampak yang 148
  • 159. diinginkan cenderung dibatasi untuk wilayah lokal tertentu yang terbatas. Selanjutnyakebijakan ekonomi regional yang lebih luas didasarkan pada sifat-sifat lingkungan darisuatu kegiatan relokasi industri. Sebagai kebijakan ekonomi pada sekala suburbanselalu mencakup wilayah yang lebih luas meliputi sekala urban, karena dampaksebarannya yang akan meluas. Dengan kata lain pembenaran untuk kebijakan ekonomispasial tertentu juga akan menjadi bagian dari kebijakan wilayah spasial yang lebih luas,tergantung pada wilayah spasial yang menjadi objek kebijakan. Perbedaan ketiga antara kebijakan ekonomi perkotaan dan regional adalahmenyangkut masalah kelembagaan. Perbedaan ini menyangkut kerangka administrasidan pemerintahan, karenanya perlu dibedakan juga di dalam implementasinya. Inikarena area-area geografis yang menjadi fokus kebijakan spasial dapat melewati batas-batas administrasi pemerintahan daerah (Local Government) yang berbeda. Ini terutamasekali untuk kasus-kasus kebijakan spasial regional, yang biasanya mencakup wilayah-wilayah administrasi yang berbeda. Tetapi untuk kebijakan perkotaan umumnyamenggunakan sekala lebih-kurang, biasanya diimplementasikan pada tingkatadministrasi pemerintahan kotapraja yang tunggal. Perbedaan keempat adalah pada masalah pusat-pusat kegiatan, yang dapatdianalisis dan dievaluasi dengan berbagai pendekatan analisis, untuk melihat pengaruhdari kebijakan-kebijakan tersebut. Dilihat sifat-sifat kebijakan perkotaan dan regionalyang dijadikan sasaran tujuan kebijakan adalah sekala spasial yang umum untukmasing-masing. Banyak model spasial dapat didiskusikan untuk memperdalampengertian tentang ukuran dan terminilogi spasial yang mungkin berbeda. Model Weberdan Moses utamanya mendiskusikan pada terminologi kerangka antar wilayah (Inter-Regional), fasilitas produksi, dan alokasi produksi yang optimal mencakup sekalaspasial yang luas. Yang lainnya, model persaingan spasial dari Hottelling yang dapatdijadikan dasar suatu sekala regional antar wilayah dengan kebijakan bagi pengadaanfasilitas-fasilitas produksi yang lebih luas, atau pada sekala sub-urban dan urban jikaingin bertolak dari perusahaan-perusahaan pengecer kecil. Selanjutnya ada modelpengelompokan dan aglomerasi industri pada sebuah kota individual. Model tersebutberbeda dengan model tempat sentral (Central Pleace Model) dari Christaller, danLoch. Terakhir, model dari Krugman (1991), dan Fujita, dll. (1999) untuk sekala antarwilayah. Sementara itu ada pula model lokasi lahan kota (Urban Land Location) danpenentuan harga lahan, dimana model ini melihat kota secara individual. Kemudiandikenal pula model multiplier regional, uang diperuntukkan untuk sekala wilayah kotadan antar wilayah, seperti model kesempatan kerja dan migrasi tenaga kerja. Terakhirjuga model-model alokasi faktor produksi, pertumbuhan, dan neraca pembayaranwilayah. Kenyataan dari semua model tersebut, dibangun pada sekala-sekala spasialyang berbeda-beda, dan disarankan untuk memilih model yang sesuai dengan objeknyadalam mengaplikasikannya (sesuai dengan sekala, ciri dan sifat ruang wilayah).Dengan kata lain, ketetapan teknik analisis, atau kombinasi-kombinasi teknik analisisyang digunakan tergantung pada objek kebijakan dan sekala spasial. Pada sesi berikutnya akan didiskusikan kebijakan perkotaan (Urban Policy)terlebih dahulu. Jadi, pertama-tama akan didiskusikan kebijakan ekonomi spasial yangdiimplementasikan pada sekala kota secara individual, atau pada sekala bagian kota(Suburban). Langkah berikutnya akan didiskusikan kebijakan-kebijakan regional, yangdiimplementasikan sebagai kebijakan ekonomi spasial pada sekala ekonomi yang lebihluas. Dengan membuat perbedaan-perbedaan geografi yang seperti ini, diharapkan dapatmembuat pilihan-pilihan dalam penggunaan model-model yang lebih cocok untuk 149
  • 160. menganalisis dampak dari setiap rencana atau kebijakan yang berbeda yang melewatiwilayah-wilayah spasial yang dijadikan objek kebijakan itu sendiri.10.2 Kebijakan Perkotaan Kebijakan ekonomi yang diimplentasikan pada tingkat perkotaan (Urban Level),pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wilayah perkotaan atausubwilayahnya (Suburban Level) sebagai lokasi investasi. Bagaimanapun, untukberhasilnya sebuah kebijakan memerlukan target-target tertentu, memerlukan inisiatif-inisiatif untuk mendapatkan sektor-sektor atau jenis-jenis investasi tertentu yang dapatmempengaruhi ekonomi dan lingkungannya pada sekala perkotaan atau subperkotaanyang beraneka ragam sifatnya. Sektor-sektor yang umum dipandang paling pekaterhadap wilayah-wilayah spasial sekala kecil (wilayah perkotaan atau subwilayahperkotaan) adalah sektor pengembangan komplek perumahan (Real Estate) danpertanahan (Property). Oleh karena itu, kebijakan ekonomi perkotaan cenderungmemfokuskan diri pada pengembangan komplek perumahan dan pengembangan lahanlokasi, dan lain-lain sektor ekonomi perkotaan lokal. Kebijakan-kebijakan ekonomiperkotaan biasanya, atau terutama sekali, mencoba meningkatkan daya tarik relatif dariarea-area tertentu yang kurang terbangun via pengembangan sektor pertanahan dalamrangka meningkatkan daya tariknya. Untuk mencapai tujuan tersebut, kebijakanekonomi perkotaan melibatkan semua pihak dalam rangka pembebasan lahan-lahantidur, melakukan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga atau kerangka hukumyang memungkinkan terjadinya pembangunan ekonomi lokal tersebut. Ini diperlukankarena pengembangan sektor pertanahan dan komplek perumahan memerlukaninfrastruktur pasar yang mendukung transaksi-transaksi bagi proses pembangunansetempat, yang biasanya memiliki kendala kelembagaan dan hukum yang kompleks,dan yang biasanya juga berbeda diantara daerah yang satu dengan yang lain, dan/atau dinegara yang satu dengan di negara yang lain. Dengan adanya perubahan tersebut makamemungkinkan digunakan kebijakan publik untuk membimbing pengembangan polatata ruang dan partisipasi investasi sektor swasta agar tercapai tujuan-tujuan yang telahditetapkan sebelumnya (sesuai dengan yang ditetapkan dalam perencanaan kota ataubagian dari kota). Dasar-dasar pemikiran kebijakan perkotaan terutama ditentukan olehprioritas-prioritas politik, dan fokus dari kebijakan-kebijakan pembangunan yang sepertiitu cenderung ditujukan pada perubahan sifat-sifat lingkungan lokal. Dari sudut pandang analisis ekonomi, setiap kebijakan perkotaan akanberimplikasi berbeda untuk kelompok-kelompok sosial yang berbeda secara individual(Micro), seperti halnya kebijakan perekonomian secara keseluruhan (Macro). Dampakkesejahteraan dari kebijakan yang seperti itu haruslah dievaluasi secara terus menerusapakah berhasil atau tidak kebijakan tersebut dikaitkan dengan tujuannya. Terkaitdengan tujuan untuk dapat menilai hasil dari suatu kebijakan, pada dasarnya dibuat duajenis kebijakan spasial, yang kedua-duanya untuk mengembangkan lingkungan kotayang semakin baik.10.2.1 Kebijakan-kebijakan Zoning Perkotaan Salah satu kebijakan yang lazim digunakan para perencana tata-guna lahan kotadan tata ruang regional pada umumnya negara adalah aktivitas zonasi (Zoning Activity)secara geografis. Pada jenis kebijakan ini, jenis kegiatan yang berbeda hanya diatur 150
  • 161. melalui perizinan dalam memilih lokasi yang telah ditentukan oleh sebuah kota sesuaidengan rencananya. Dengan kata lain, sistem perencanaan tata – guna lahan kotadidukung oleh sistem hukumnya, dan lembaga tersebut akan menentukan dalampenataan jenis investasi dan kegiatan pembangunan tertentu yang memungkinkandipilih di dalam sebuah kota. Biasanya, jenis investasi dan aktivitas tersebut sekaligusditentukan bersama ukuran luas zona dalam ruang dua demensi (peta tata guna lahan)sebuah kota, ini juga sekaligus memberi gambaran tentang jumlah penawaran lahanlokasi terhadap suatu jenis kegiatan. Kadang-kadang sistem zoning ini juga bisa tidakberhasil, karena bekerjanya sistem zoning tersebut mendapat pengawasan (Control) dariharga lahan. Harga lahan sendiri ditentukan oleh interaksi permintaan pada harga pasarlahan lokasi tertentu. Sedangkan jumlah penawaran lahan telah ditentukan oleh sistemzoning sendiri untuk masing-masing jenis investasi dan aktivitas. Oleh karena itu, untukmemahami pengaruh harga pada kebijakan adalah penting untuk mempelajari hasilakhir harga lahan yang bertolak dari berbagai sistem harga. Sistem pasar lahan ada yangbersaing, suatu system pasar yang berlawanan dengan sistem intervensi. Sistem zoningmenganjurkan sistem pasar lahan yang bersaing. Untuk mendasari pengaruh tata-guna lahan terhadap kebijakan zoning, dapatdigunakan model penawaran-sewa (Bid-Rent). Model ini akan memungkinkan kitamembandingkan kemiringan (Slope) harga lahan dengan memperhatikan jarak ke pusatkota dan jenis penggunaan lahan, dalam kondisi pasar lahan persaingan dengan skema-skema zoning dari lahan kota itu sendiri. Model penawaran-sewa lahan mengasumsikanbahwa sudah tertentu (M), maka harga lahan lokal akan ditentukan olehaksessibilitasnya, dan didasari pada proporsi-proporsi faktor produksi. Sebagai contoh,untuk kasus sebuah kota yang umumnya terdiri dari tiga jenis aktivitas industri, yaitu:satu sektor pelayanan, satu sektor industri pengolahan, dan satu sektor distribusi danperdagangan eceran. Dalam terminologi lahan dan fasilitas pembangunan lingkunganketiga kelompok industri tersebut akan berbentuk kantor-kantor, faktor-faktor produksi,fasilitas perbengkelan, toko-toko dan fasilitas-fasilitas perdagangan secara berurutan. Iniberkaitan dengan masalah trade-off diantara aksessibilitas dan syarat-syarat ruang, dapatdiasumsikan bahwa sektor jasa umumnya akan diorientasikan berlokasi di pusat kota,sektor industri pengolahan sesudah sektor jasa tersebut, dan sektor perdagangan eceranberlokasi pada pinggiran kota yang bersangkutan. Berdasarkan kondisi-kondisi dari pengalaman teori tersebut, persaingan dalammendapatkan lahan akan berimplikasi bahwa kantor-kantor sektor jasa akan berlokasidiantara pusat kota (M) dan jarak d0 dari pusat kota. Faktor produksi industripengolahan dan perbengkelan akan dilokasikan di dalam cicin konsentrasi lahan untuksektor jasa, yaitu pada suatu jarak d0 dan dm dari pusat kota. Terakhir, sektor distribusidan perdagangan eceran akan dilokasikan diantara dm dan dr dari pusat kota.Kemiringan kurva penawaran-sewa lahan kota yang aktual diberikan oleh kurva yangmenyerupai tutup amplop, kemiringan kurva penawaran-sewa lahan ABC yangmerupakan tangensial kurva penawaran sewa lahan yang tertinggi pada masing-masinglokasi. Sebagaimana terlihat pada gambar tersebut, kemiringan kurva penawaran-sewalahan kota akan merupakan fungsi dari kemiringan kurva yang menurun secara teraturdan cembung ke arah titik asal (M). 151
  • 162. Sewa per m2 A B C Jarak M d0 dm drGambar 10.1 Tingkat Kemiringan Sewa Lahan Industri Kota Berdasarkan Kondisi Pasar Lahan Persaingan Lalu, dibandingkan hasil persaingan ini dengan suatu situasi dimana lahan kotayang dizonakan. Sebagai contoh, kita dapat membayangkan suatu situasi sebuah kotametropolitan dimana pemerintahan lokalnya yang melarang kegiatan-kegiatan industrimengambil lokasi di pusat kota sebagaimana mereka akan terdistribusi kepada tigaperuntukan yang bersaing. Sebuah keputusan dapat diambil untuk mempertahankan ataumenyempurnakan keindahan pusat kota, atau sebagai alternatif untuk menghindaripengaruh negatif, seperti polusi terhadap lingkungan lokal. Dalam keadaan seperti ini,otoritas perencanaan kota lokal dapat menentukan dimana izin hanya dapat diberikanuntuk lokasi toko bagi kegiatan perdagangan eceran, pada lokasi yang berdekatandengan pusat kota dimana aktivitas sektor jasa mengambil tempat. Dalam kondisi yangseperti itu, kebijakan zoning diorganisasikan sebagai sebuah ketentuan bagi sebuahpenyangga diantara pusat kota dan kegiatan industri pengolahan. Gambar 10.2memperlihatkan dimana zona toko eceran ditentukan sebagai sebuah area diantara jarakd1 dan d2 dari pusat kota (M). Pada waktu yang sama, otoritas perencanaan kota lokal dapat pula menentukanarea-area subwilayah perkotaan lainnya, yang merupakan lokasi perumahan pendudukberpendapatan rendah, dan area-area perumahan untuk kelompok berpendapatanmenengah dan tinggi yang tidak akan ditempati oleh aktivitas industri pengolahan.Industri pengolahan hanya akan ditempati di dalam salah satu area yang secara khususdizonakan untuk kegiatan jenis industri tersebut. Untuk itu, otoritas perencanaan lokal 152
  • 163. kota dapat mengkhususkan zona industri pengolahan tersebut tidak dapat diperluas lagidari jarak d3 dari pusat kota. Sementara itu, untuk mengkompensasikan ruang yangdikurangi dari sektor jasa di dalam kota untuk kehadiran zona toko eceran di dalamnya,otoritas perencanaan lokal hanya dapat memberikan izin untuk aktivitas sektor jasayang mengambil tempat berjarak antara d3 dan d4 dari pusat kota. Sebelum zona iniperencana dapat memberi izin untuk penggunaan campuran antara toko eceran dankegiatan sektor jasa. Sewa per m2 a d b c g h k j M d1 Jarak d2 d3 d4 d5Gambar 10.2: Kemiringan Kurva Sewa Lahan Industri Perkotaan Berdasarkan Sebuah Kebijakan Zoning. Di dalam situasi yang seperti ini, kemiringan kurva sewa lahan aktual akanbergerigi (Evans, 1985) menyerupai sebuah kurva permintaan yang menurun, sepertidiperlihatkan garis tebal pada gambar 10.2. Untuk melihat pengaruh kebijakanperencanaan terhadap kesejahteraan dapat dibandingkan dengan area di bawah kurvarent-gradient kasus dengan kebijakan zoning dan pasar lahan bersaing (gambar 10. 2)dengan kurva Rent-gradien lahan perkotaan aktual, atau rent-gradien yang menyerupaitutup amplop (gambar 10. 1). Perbedaannya diwakili oleh jumlah area abce dan ghjk.Kedua area tersebut mewakili kerugian total dari penerimaan sewa lahan perkotaanpada lokasi-lokasi yang dizonakan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak membayar sewalahan maksimum (sewa lahan berdasarkan sistem pasar lahan yang bersaing). Totalpenerimaan yang hilang tersebut mewakili biaya opportunitas kebijakan zoning, dansebagai refleksi dari kerugian kesejahteraan ekonomi perkotaan dari adanya kebijakanperencanaan. 153
  • 164. Kata kunci dari argumentasi di atas adalah, bahwa kebijakan perencanaanperkotaan tidak terhindarkan, dan akan memiliki implikasi kesejahteraan. Taksiranimplikasi kesejahteraan dari model analisis di atas diperlihatkan gambar 10.1 dan 10.2,dengan asumsi bahwa mekanisme pasar memiliki efisiensi yang terbesar. Suatu taksiranyang benar dari implikasi kebijakan tersebut juga tergantung pada persepsi tentangefisiensi dari mekanisme pasar tentang harga-harga yang terkoreksi dengan baik sertakemudahan-kemudahannya. Situasi tersebut tergambarkan pada gambar 10. 1 dan 10.2.yang mengasumsikan bahwa untuk pasar lahan penghargaannya di tiap lingkungan tidakdikoreksi oleh mekanisme pasar. Berdasarkan fakta yang ada, aspek-aspek keindahandari lingkungan pusat kota diasumsikan haruslah di bawah nilai dengan pertimbangan-pertimbangan biasa dari sektor swasta, sehingga keuntungan aktivitas industripengolahan dilakukan sepanjang masih memberikan manfaat positif, yang digabungkandengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh pemerintah. Jika kemudahan-kemudahan yang diberikan, yang pertama atau yang kedua dari solusi terbaik tidak adakemungkinan respon-respon terhadap kebijakan, tidak tepat menghindari kegagalanpasar di dalam konteks ini, otoritas pemerintah menyederhanakan responnya kepadasebuah mekanisme quota, dengan cara demikian sejumlah keterbatasan ditentukan padajumlah lahan yang ada pada lokasi tertentu, dan lahan dialokasikan dengan prosespenjatahan. Dengan dipilihnya skema pembangunan tertentu, maka hal itu akan tergantungkepada pengembangan lahan yang berdasarkan izin perencanaan dari otoritaspemerintahan lokal. Dengan menggunakan skema perencanaan tertentu, otoritas-otoritas perencanaan berputar ke luar, karena dibandingkan langsung dengan bentukyang dipresentasikan oleh pemerintah, bertolak dari gambar 10. 1 dan 10. 2, karena diadiasumsikan bahwa harga-harga lahan sektor swasta diberikan gambar 10. 1, tidakpersis sama merefleksikan manfaat sosial marginalnya. Ini adalah pembenaran bagikebijakan-kebijakan intervensi.10.2.2 Kebijakan Regenerasi Kota Kebijakan-kebijakan perencanaan tata-guna lahan untuk masa depan diberikanoleh gambaran perubahan-perubahan lingkungan dan kelembagaan yang mempengaruhibekerjanya pasar lahan kota. Pada umumnya, kebijakan-kebijakan yang seperti itudiimplementasikan dalam kondisi dimana otoritas-otoritas Pemerintah percaya bahwamekanisme pasar itu akan mengarah pada hasil-hasil yang secara sosial tidak efisienkarena adanya pengaruh ekternalitas. Bagaimanapun, di sana juga ada situasi-situasidimana dengan implementasi kebijakan tertentu yang menghasilkan pengaruh yangtidak dapat mendukung peningkatan kesejahteraan. Sebagai contoh, kasus skema-skema regenerasi kota, sebagai inisiatif yang akhir-akhir ini sedang populer di AmerikaUtara, seperti di kota-kota Philadelvia dan Boston, dan juga di Eropa seperti London,Manchaster, dan Rotterdam. Skema tersebut di disain secara spesifik untuk mendorongpembangunan area-area kota yang sedang mengalami kemunduran, untuk mencegahmigrasi ke luar (Outmigration) dan pemukiman kembali penduduk dari area-area pusatkota. Pada umumnya wilayah perkotaan memiliki keterkaitan ke luar yang banyak, yangmempengaruhi penduduk dan aktivitasnya selama tiga sampai empat dekade, berubahmenjadi penduduk dan kegiatan bisnis pusat-pusat perkotaan yang lebih kecil. Inilahyang disebut ―Urban-Rural Shift‖. Pertama, keterkaitan tersebut terjadi melaluipengenalan produksi, komunikasi, dan teknologi transportasi yang dapat mengurangipentingnya lokasi pusat perkotaan bagi kegiatan-kegiatan perusahaan. Kedua, pada 154
  • 165. kondisi meningkatnya pedapatan, terjadi perubahan pada pilihan rumah tangga padaruang dan mutu lingkungan yang lebih baik mendorong terjadinya outmigration,banyak orang pindah ke lokasi-lokasi yang lebih ke pinggiran, tetapi dengan kondisidimana lokasi-lokasi tersebut memiliki akses baik. Ketiga, persediaan modal perkotaantetap dapat membatasi kemampuan perusahaan-perusahaan untuk membentuk danmemperluas kembali lahan lokasi di pusat-pusat kota yang mendekati jalur-jalur hijau.Secara rata-rata hasil akhir dari beragam pengaruh tersebut cederung mengurangi dayatarik wilayah pusat kota bagi kebanyakan orang dan aktivitas bisnis. Kombinasi darikecenderungan tersebut sering mengarah pada penciptaan lokasi pembuangan sampahkota, dengan lahan yang biasanya disesuaikan pada pusat kota yang kurang terbangundan terlantar. Bagaimanapun pada umumnya otoritas pemerintahan sipil, cenderungseperti itu, lebih dihargai dan juga lebih maju. Untuk skedul meningkatkan keindahan wilayah dan kondisi kehidupanpenduduk, pada umumnya pemerintah kota telah mengimplementasikan skema-skemaregenerasi perkotaan. Di dalam skema-skema tersebut, lingkungan hukum dankelembagaan yang berkaitan dengan pasar lahan yang diberlakukan, dan diubah untukwilayah-wilayah yang diperkirakan tidak menghasilkan. Dengan cara yang samaotoritas kota umumnya tidak menghendaki kegiatan-kegiatan tersebut dilokasikanmemusat. Oleh karena itu, skema-skema regenerasi perkotaan harus didiskusikan padapasar-pasar komplek perumahan dari sektor hunian, dan sektor jasa yang umumnyasangat peka terhadap keragaman lingkungan kota. Dengan kata lain, skema tersebutbiasanya memiliki target untuk mendapatkan pembangunan perumahan dan propertilokal. Sehubungan dengan kasus tersebut didiskusikan kebijakan zonasi kota untukdapat diadopsi model penawaran-sewa (Bid-rent), atau model alokasi lahan kota untukmenganalisis dampak kesejahteraan dari skema pengembangan kota. Untuk dapatmelakukan ini kita memisalkan situasi di sebuah wilayah kota yang semulamenggantikan sebuah kota yang mengalami kemunduran dimana wilayah menganggurberada di pusat kota. Di dalam lahan yang tidak berpenduduk harga real estate nol,karena tidak ada orang yang bersedia pindah ke sana dan juga tidak ada kegiatan bisnisyang ingin berlokasi ke sana, dan berlaku sistem ekonomi pasar dan kondisi lingkungan.Situasi awal ini dapat diwakili oleh gambar 10.3, dengan asumsi untukpenyederhanaan bahwa di sana hanya ada dua kelompok pendapatan, yang satuberpendapatan rendah dan yang satu lagi berpendapatan tinggi. Kelompokberpendapatan rendah tinggal di sekitar pusat kota dengan radius d1 dari pusat kota.Kelompok yang berpendapatan tinggi tinggal pada lokasi dengan jarak d2 dari pusatkota. Kelompok berpendapatan tinggi tidak tinggal di wilayah yang berdekatan denganwilayah tinggal kelompok berpendapatan rendah, tetapi di sebuah wilayah yang terletakdi antara d1 dan d2. Di dalam wilayah yang letaknya seperti itu, prospek ekonominyarendah dan biasanya dengan sewa lahan nol, dan kondisi investasi yang tidakmenguntungkan. Di dalam situasi yang seperti itu , dimana otoritas pemerintah lokal mencobamengubah situasi yang digambarkan gambar 10.3, dengan memperbaiki keindahanlingkungan secara umum di sekitar pusat kota, mengajak otoritas perencanaan di dalambatas-batas kebijakannya untuk mempengaruhi perilaku pasar kompleks perumahan.Kebijakan-kebijakan tersebut dapat membuat pemerintah lokal tidak memilih dilingkungan tersebut, atau langsung dengan pengetatan peraturan zonasi real estate, ataudengan memberi subsidi pajak untuk para pengembang, atau dengan subsidi tidak 155
  • 166. langsung dimana pemerintah membangun infrastruktur khusus untuk publik yangkhusus, atau provisi untuk transportasi umum, atau dalam bentuk kerjasama-kerjasamausaha antara sektor pemerintah dan sektor swasta dalam bentuk-bentuk suratkesepakatan kerjasama yang tercantum di dalam skema-skema. Sewa/m2 Bid-rent curve untuk kelompok berpendapatan rendah Bid-rent curve untuk kelompok berpendapatan tinggi Jarak (d) M d1 d2 Gambar 10.3: Lahan tempat Tinggal (Lokasi Perumahan) Kota Bagaimanapun, dasar logika semua skema-skema regenerasi kota adalahuntuk mencoba melakukan perubahan pada bersama lingkungan investasi, yang denganitu pasar real estate lokal akan bekerja, akan terjadinya perubahan-perubahan dalamlingkungan fisik wilayah lokal. Kesimpulannya, dimana perilaku wilayah tersebutcenderung bertentangan dengan perilaku kurva bid-rent curve yang terus meningkatdari wilayah hunian kelompok yang berpendapatan rendah, digabungkan denganeksternalitas dengan persepsi-persepsi sosial. Karena itu, tujuan kebijakan perkotaanadalah untuk mengubah persepsi kelompok berpendapatan tinggi agar mendoronginvestasi real-estate oleh kelompok tersebut di pusat kota. 156
  • 167. Sewa/m2 Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan tinggi muda Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan rendah Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan tinggi tua Jarak (d) M dy dh Gambar 10.4 Tata-guna Lahan Perumahan Sebagai Akibat Skema Peremajaan Pusat Kota. Pengaruh-pengaruh kebijakan tertentu yang seperti itu dapat diperlihatkanseperti dalam gambar 7.4. Jika dilakukan pembangunan kembali wilayah lokal pusatkota diperkenankan berjalan terus, wilayah tersebut menjadi menarik untuk sebagiantertentu kelompok berpendapatan tinggi yang relatif memiliki kepentingan tinggiterhadap aksessibilitas ke pusat kota, yang sebelum pusat kota itu dikembangkan tidakingin kembali kelingkungan miskin tersebut. Untuk tujuan penyederhanaan, akan dirincisifat-sifat dari kelompok berpendapatan tinggi tersebut, khususnya untuk pendudukyang berusia muda, yang sebenarnya juga terdiri dari rumahtangga-rumahtangga keduakelompok pendapatan. Kurva bid-rent dari kelompok ini cenderung sangat landai. Padasisi lain, penduduk yang lebih tua, keluarga-keluarga yang memiliki bayi akan tetappada bid-rent-nya masing-masing. Jadi, dengan pembangunan kembali pusat kotatersebut akan ada keluarga-keluarga miskin yang terdesak, yang kehilangan tempattinggal. Dalam kondisi yang demikian, rumahtangga-rumahtangga yang terdesak itu,akan menjadi rumahahtangga-rumahtangga yang berpindah-pindah di daerah hunianpusat kota. 157
  • 168. Sewa/m2 Kurva Bid-rent kelompok berpendapatan tinggi sebelum skema Kurva Bid-rent kelompok berpendapatan rendah setelah skema Kurva bid-rent untuk kelompok berpendapatan rendah Kurva bid-rent untuk kelompok tinggiberpendapatan tinggi Jarak (d) M dI’ ’ d y d h h dI‖ ’ Gambar 10.5: Efek Kesejahteraan dari Skema Peremajaan Kota. Sebagai alternatif, penduduk kota yang berpendapatan rendah tetap stabil,karena kemampuannya untuk bermigrasi terbatas, setelah peremajaan pusat kota merekaakan tinggal di dalam wilayah hunian yang lebih jauh sedikit dari pusat kota. KurvaBid-rent individual kelompok berpendapatan rendah mengindikasikan sewa per meterpersegi yang berbeda yang harus mereka bayarkan, untuk memelihara tingkatkegunaan lahan, dimana kegunaan adalah fungsi dari total area lokasi yang dipakai.Jika pada masing-masing lokasi area lahan yang dipakai berkurang, pada kurva Bid-rent yang curam, maka kegunaan total dari perumahan individu akan berkurang.Dalam pengertian analisis Bid-rent menurunnya kegunaan ini diwakili oleh pergeseranyang meningkat di dalam kurva Bid-rent untuk kelompok yang berpendapatan rendah.Pergeseran di dalam kurva Bid-rent kelompok yang berpenghasilan rendah setelahadanya skema peremajaan kembali ini akan diwakili oleh suatu kenaikan sewa permeter persegi, yang dijual oleh kelompok berpenghasilan rendah pada masing-masinglokasi. Persaingan di pasar real-estate mengimplikasikan bahwa kelompokberpendapatan rendah menjadi meningkat area hunian mereka, yang mencakup areadiantara berjarak dy dan dh ke jarak di’ dan di‖ dari pusat kota. Dengan demikian,kelompok berpendapatan rendah akan meluaskan wilayah lingkungan hunian merekadengan mengambil lingkungan wilayah kedua kelompok yang berpendapatan tinggi.Bagaimanapun, meluasnya area lingkungan hunian kelompok berpendapatan rendah 158
  • 169. yang dijual ini, yang menghasilkan perubahan jarak batas-batasnya, disimpulkansebagai pergeseran fungsi Bid-rent kelompok tersebut. Kelompok berpenghasilanrendah tidak banyak kehilangan kesejahteraan sebagai akibat dari skema peremajaanpusat kota.10.2.3 Pengelompokan (Centrification) Diskusi tentang skema-skema pembangunan kembali kota di sini adalahmencoba dengan sebuah contoh ilustrasi membagi-bagi seluruh efek-efek kesejahteraanyang kompleks yang ada di dalam setiap gagasan kebijakan perkotaan. Di dalam kasusyang istimewa ini, kelompok yang berpenghasilan tinggi akan terdorong bergerak kebelakang, ke area-area di pinggiran kota melalui usaha perbaikan lingkungan fisik.Kelompok yang berpendapatan tinggi ini, dalam proses tersebut bergerak ke belakangdari area pusat kota, yang dikenal di dalam istilah pengelompokan (Gratification).Didalam beberapa kasus proses pengelompokan ini berlangsung secara alamiah.Biasanya, bagian-bagian kota yang sudah tua, seperti: London, New York, dan Parisyang memiliki pertumbuhan kesempatan kerja yang menyenangkan, setelah ada efekaglomerasi, setelah berkembangnya sektor-sektor tertentu seperti sektor keuangan,terbukti secara signifikan terjadinya pengelompokan-pengelompokan. Sungguhpundemikian, di kebanyakan kota-kota dan di dalam kota-kota tertentu ada yang sudahtidak menyenangkan, seperti halnya efek-efek aglomerasi, proses perkembangan pasarsendiri tidak bergerak ke pengelompokan. Di dalam situasi yang seperti itu, intervensikebijakan publik menjadi wajib dilakukan bila diyakini bahwa hasil dari proses tersebutakan baik jika dilihat dari pandangan sosial. Bagaimanapun, sebagaimana yang telahdisaksikan di sini, seperti halnya skema pembangunan kota mengandung konsekwensiyang tidak diinginkan, dimana yang diuntungkan oleh skema tersebut adalah kelompokyang berpendapatan tinggi, sedangkan kelompok yang berpendapatan rendah (orang-orang miskin) mendapatkan manfaat negatif dari skema tersebut. Sekarang, berbagaialasan dari gagasan-gagasan kebijakan yang seperti itu mencoba menghitung pengaruh-pengaruh dan manfaat-manfaat bagi semua golongan pendapatan, pada waktu terjadinyaproses terpolanya wilayah-wilayah hunian masyarakat secara geografis. Para perencanajuga tidak mempromosikan skema tersebut sebagai sesuatu yang akan memberikanmanfaat hanya kepada kelompok yang berpendapatan tinggi. Kebijakan-kebijakan yangdiambil secara umum dipercaya, bahwa dari pembangunan tersebut akan memberikanharapan bagi berkembangnya area-area kota yang mengalami kemunduran,melokalisasi manfaat-manfaat aglomerasi yang dapat direalisasi di dalam jangkapanjang berdasarkan pengelompokan aktivitas tersier (usaha jasa) dan kelompokpenduduk yang berpendapatan tinggi di pusat kota. Dengan kata lain, dengan targetyang berhati-hati dari skema-skema tertentu, para perencana mengharapkan denganmenggunakan investasi publik secara selektif dapat mendorong pertumbuhan aktivitasekonomi setempat. Pertumbuhan lokal tersebut diasumsikan akan memberikan manfaatkepada semua kelompok pendapatan secara lokal, seperti penciptaan kesempatan kerjalokal dan peningkatan kondisi lingkungan fisik lokal. Bagaimanapun, pengelompokanaktivitas dan manusia tidak cukup untuk mengembangkan ekonomisasi aglomerasilokal. Karena itu, pengaruh aglomerasi yang lebih menguntungkan kelompok yangberpendapatan rendah, sebagai kompensasi hilangnya kesejahteraan, merupakanspekulasi semata. Pada sisi lain, setiap kehilangan pengaruh aglomerasi akan hilangpula kesejahteraan pada kelompok yang berpenghasilan rendah, jika tidak hati-hati, 159
  • 170. mengingat kelompok yang berpendapatan tinggi akan menerima lebih banyak manfaatekonomi selama berlangsungnya pembangunan kota.10.2.4 Jalur Hijau (Greenbelts) Di beberapa negara yang kepadatan penduduknya secara spasial relatif tinggi,seperti Negeri Belanda, Korea Selatan, dan Inggeris, tata-guna dan alokasi lahan padakedua tingkat (nasional dan local), terutama yang diorganisasi di dalam suatu sistimjalur hijau. Jalur hijau adalah sebuah zona lahan di sekitar wilayah kota yang tidak akandiizinkan untuk dibangun di dalam skema pembangunan kota, dalam keadaanbagaimana pun. Dengan kata lain, jalur hijau adalah berbentuk sebuah cincinkonsentrasi di sekitar kota, yang diberikan batasan yang jelas di sekitar pinggiran areakota. Dasar pemikiran jalur hijau adalah untuk membatasi perluasan area kota ke luar,agar dapat terpertahankan dan terlindunginya lahan pedesaan. Motif kebijakan yangbersifat membatasi tersebut adalah, bahwa di negeri-negeri atau wilayah-wilayah yangpadat penduduk, perlindungan terhadap wilayah pedesaan merupakan prioritas nasional,mengingat lahan pedesaan relatif terbatas. Sewa/m2 Sewa/m2 rj2 rK2 rj1 rK1rA rA J K Rent-gradient sebelum pertumbuhan kota d1 d2 d3 d4 Rent-gradient setelah pertumbuhan kota d5 d6 Gambar 10.6: Penggabungan antar kota (Inter Urban Merging) Bertolak dari perspektif ini, nilai area pedesaan ditentukan terlebih dahulu,dalam ukuran-ukuran keindahan dan alasan-alasan kepurbakalaan, daripada ukuran-ukuran ekonomi yang sederhana. Oleh karena itu, untuk terjaminnya semua orangmendapatkan akses yang relatif mudah ke area-area lokal pedesaan, perluasan area kotadibatasi secara tegas. Secara implisits, asumsi-asumsi kebijakan yang demikian makamekanisme pasar lahan swasta tidak akan memasukkan nilai lahan perlindunganpedesaan sebagai ukuran biaya dan manfaat sosial, dan kegiatan pembangunanperkotaan akan dihargai hanya dengan ketertarikan kepada biaya dan manfaat swasta.Dengan demikian, rasionalitas jalur hijau adalah suatu permasalahan lingkungan hidup(eksternalitas). Pada sisi lain, sebagaimana halnya sebuah kebijakan, bersifat tidakdapat dihindari dan juga memiliki implikasi kesejahteraan 160
  • 171. Untuk dapat memahami logika dari sebuah jalur hijau kita dapat merujukgambar 10.6, dimana sebuah wilayah diasumsikan terdiri dari dua pusat kota, dengandua distrik pusat bisnis yang menarik kepada lokasi J dan lokasi K. Diasumsikan pulabahwa pendapatan upah yang diterima di lokasi J lebih tinggi dibandingkan dengan dilokasi K. Harga sewa lahan per m2 pasar persaingan adalah rj1 di lokasi J, yang lebihtinggi dari di lokasi K yaitu rk1. Kurva rent-gradient komveks untuk setiap area kota,yang terdiri dari fungsi-fungsi rent-gradient individual yang dibedakan untuk masing-masing kelompok pendapatan yang dipekerjakan pada setiap pusat kota. Sewa lahanpertanian diberikan pada tingkat rA pada semua lokasi, pasar untuk lahan diasumsikanbersaing, area kota yang dipusatkan pada J lebih luas dibandingkan dengan yangdipusatkan pada K. Area kota yang dipusatkan pada J seluas dari d2 ke d3 dan yangdipusatkan pada K seluas dari d4 ke d5. Area pertanian berada di sebelah kiri d2 dan disebelah kanan d5 dan diantara d3 dan d4. Dengan kata lain, pendapatan yang berlaku rj1dan rk1 diterima pada kegiatan di J dan K Ketertarikan dari kedua area kota dipisahkanoleh aktivitas pertanian. Land Rent-gradient aktual diwakili oleh garis tebal padagambar 10.7. Sewa/m2 Sewa/m2 rj3 rj2 rK 3 rj1 rK 2 rK 1 rA J K Lebih Besar Lebih Kecil d2 d3 d4 d5 rA Gambar 10.7 Efek-efek Harga Lahan dari sebuah Kebijakan Jalur Hijau. Sebagai contoh, jika untuk ekonomisasi aglomerasi, pendapatan nominal yangdapat dibayarkan pada lokasi J dan lokasi K meningkat dalam jangka waktu tertentusebesar 50% ke rJ2 dan rK2, kedua wilayah kota akan diperluas . Didalam kasus ini, landrent-gradient yang baru diperlihatkan oleh gambar 10.6, oleh garis-garis tebal. Jikadiperhatikan, wilayah kota yang berpusat di J akan tidak membesar dari lokasi d1 ke kiridan yang berpusat di K tidak akan meluas dari lokasi d6 ke kanan. Area diantara kota Jdan kota K sekarang tidak akan meluas oleh pembangunan kota-kota dari d1 ke d6. 161
  • 172. Untuk menghindari menggabungnya pusat-pusat kota bersamaan denganperjalanan waktu, maka otorita tata-guna lahan dapat menjalankan suatu kebijakan jalurhijau yang ketat untuk memelihara batas-batas kota. Pengaruh kebijakan yang seperti itudiperlihatkan pada gambar 10.6. Pada kasus ini, penerapan sistem perencanaan tata-guna lahan dengan jalur hijau di sekitar wilayah kota yang berpusat di J, begitu pula disekitar kota yang berpusat di K benar-benar tidak akan diberikan izin membangun padalokasi sebelah kiri d2 dan sebelah kanan d3 untuk kota yang berpusat di J, dan sebelahkiri d4 dan sebelah kanan d5 untuk kota yang berpusat di K. Di dalam situasi yangseperti itu kota-kota tumbuh sepanjang waktu sehubungan dengan ekonomisasiaglomerasi, jumlah lapangan kerja lokal akan meningkat, akan dibatasi perpindahan didalam daerah kota-kota yang sama. Ini akan menurunkan luas tempat tinggal rata-ratauntuk setiap rumah tangga. Konsekwensinya, kurva Bid-rent untuk setiap rumah tanggaindividual kota akan bergerak naik ke tingkat yang lebih tinggi, dibandingkan dengankasus situasi pasar lahan bersaing tanpa kebijakan jalur hijau. Kesimpulannya adalah,bahwa Land Rent-gradient amplop akan bergerak ke kanan atas, dan harga pasar sewalahan per meter persegi akan naik pada semua lokasi area kota ke tingkat yang lebihtinggi dibandingkan dengan pada kasus tanpa kebijakan jalur hijau. Pada gambar 10.7,pada Land rent-Gradient aktual berdasarkan kondisi pertumbuhan kota denganpembebanan kerugian kebijakan jalur hijau diperlihatkan oleh garis tebal gambar 10.7,dan Land Rent-gradient berdasarkan kondisi pertumbuhan kota tanpa kebijakan jalurhijau yang diberikan oleh garis tebal yang digambarkan terputus-putus. Padakesimpulan ini batas-batas desa kota d2, d3, d4, dan d5 tidak bersambung, sewa lahanyang dapat dibayarkan juga berbeda secara signifikan, selama perbatasan jalur hijautidak diubah. Dari gambaran kemungkinan biaya hidup masing-masing, semuapenderitaan penduduk kota sehubungan dengan hilangnya kesejahteraan tertuju kepadapembebanan kebijakan jalur hijau. Berdasarkan alasan-alasan tertentu juga dimungkinkan akan adanya pengaruh-pengaruh negatif dari kebijakan jalur hijau, yang mungkin lebih diperburuk olehperkiraan bahwa lingkungan pinggir kota akan dapat dipertahankan untuk jangkawaktu yang tidak terbatas. Kalau kemudahan-kemudahan lingkungan secara relatifdilokalisasi dan dilindungi dengan kebijakan pembangunan kota itu sendiri, kota akanterpelihara dalam jangka waktu yang panjang, akan mengimplikasikan bahwa orang-orang yang tinggal di pinggiran kota akan selalu menikmati kemudahan lingkunganyang lebih luas dibandingkan dengan orang yang tinggal di dalam area kota sampai kepusat kota. Kalau kelompok orang-orang yang berpendapatan rendah dibatasi tetaptertutup menuju pusat kota, ini mengimplikasikan bahwa hanya kelompok yangberpendapatan tinggi yang bergerak ke pinggiran kota, dimana Urban Rent-gradientakan menyerupai tutup amplop. Sekarang menjadi menyerupai huruf U yang landai.Pada kondisi harga-harga lahan diantara kota dan pedesaan yang relatif rendah, makalokasi di sekitar kota akan lebih banyak yang terjual. Sementara itu, umumnya manfaatjalur hijau akan mengalir ke rumahtangga-rumahtangga kelompok berpendapatan tinggi,yang dilahirkan di area kota.10.3 Kebijakan RegionalKebijakan-kebijakan ekonomi yang diimplementasikan pada tingkat regional seringdicoba, termasuk yang bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wilayah-wilayahtertentu sebagai lokasi investasi. Didalam kenyataannya kebijakan-kebijakan regional 162
  • 173. sering digunakan untuk meningkatkan daya tarik relatif wilayah-wilayah yang kurang terbangun. Dalam pengertian ini, kebijakan-kebijakan regional hampir sama dengan kebijakan peremajaan (Regeneration) perkotaan yang telah didiskusikan di atas. Bagaimanapun, kunci perbedaan diantara kebijakan regional dan kebijakan perkotaan terletak pada target untuk mengembalikan sektor-sektor industri, yang pada kebijakan regional cenderung sangat berbeda dibandingkan dengan kebijakan pada sekala kota. Sebagaimana diketahui, bahwa sektor-sektor industri dianggap sangat sensitif terhadap biaya sosial, dalam wilayah yang bersekala besar (regional), bukan pembangunan komplek-komplek perumahan dan properti seperti yang telah didiskusikan pada kebijakan pembangunan perkotaan. Sektor industri dimaksudkan meliputi sektor industri pengolahan dan sektor distribusi (perdagangan), beberapa sektor-sektor jasa komersial, sepanjang sektor-sektor tersebut cenderung menarik ke luar aktivitas ekonomi, jika tidak dikembangkan di dalam wilayah. Pada kebijakan regional dengan kebijakan perkotaan, untuk mencapai tujuan-tujuan kebijakan regional yang target- targetnya meliputi pengembangan institusi-institusi (kelembagaan) yang mengalami kemunduran-kemunduran, atau kebijakan yang menyangkut kerangka hukum untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal. Dampak-dampak pembangunan ekonomi lokal dari kebijakan regional dapat berbeda secara signifikan dengan dampak-dampak ekonomi dari kebijakan perkotaan pada perkembangan sektor-sektor dan wilayah- wilayah. Sewa/m Sewa/m 2 2 rJ3 rK3rA rA J K d2 d3 d4 d5 Gambar 10.8: Pengaruh-pengaruh Lingkungan Lokal dari Kebijakan Jalur Hijau (Greenbelt Policy) Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam memilih ukuran (Size) dan pola ruang (Spacial Pattern) dari setiap pengaruh pembangunan yang bersifat lokal yang mungkin 163
  • 174. terjadi dari kebijakan regional. Pada waktu yang sama pada kebijakan regional meliputipengadaan infrastruktur yang didanai publik (Pemerintah), yang terkait dengan biayasosial marginal dari kebijakan regional, dibandingkan secara relatif dengan jika tidakdiprakarsai kebijakan yang seperti itu. Oleh karena itu, dalam diskusi-diskusi berikut iniakan menggunakan dasar-dasar pendekatan analisis yang berbeda untuk menganalisispengaruh-pengaruh kebijakan regional pada tingkat ekonomi mikro, kesejahteraansosial, dan ekonomi makro.10.3.1 Pengaruh Agregat Mikro Ekonomi dari Kebijakan Regional Jenis-jenis kebijakan regional yang terbanyak dilakukan adalah kebijakan-kebijakan sisi penawaran, yaitu kebijakan-kebijakan yang mencoba meningkatkankondisi lingkungan untuk investasi lokal, dengan cara meningkatkan mutu (kualitas)input-input produksi lokal. Berdasarkan fakta-fakta, kebijakan regional sisi penawarancenderung memfokuskan perhatian pada input-input (faktor-faktor produksi) spesifiklokasi. Pada sebuah perekonomian antar wilayah yang spesifik, modal dan tenaga kerjamerupakan faktor-faktor produksi bergerak, hanya faktor produksi bahan baku yangtidak dipengaruhi intervensi kebijakan, kebijakan regional difokuskan untukmeningkatkan mutu input-input dan berbagai macam infrastruktur, yang secara tidaklangsung akan menurunkan biaya-biaya dari input-input lokal secara nyata.Alternatifnya, yang agak jarang dilakukan adalah kebijakan yang memfokuskanperhatian pada penurunan langsung biaya input-input lokal, seperti input lahan. Didalam kasus kebijakan-kebijakan regional yang mencoba meningkatkan mutuinput-input dan jenis infrastruktur lokal, fokus utamanya cenderung untukmeningkatkan infrastruktur transportasi lokal (Vickerman, 1991). Pengaruh yangdiperkirakan diperoleh dari kebijakan tersebut yang utama adalah mengurangi biayaaksessibilitas ke wilayah yang menjadi objek penelitian. Oleh karena itu, peningkatan-peningkatan secara umum dilihat di dalam unsur-unsur strategis dari infrastrukturtransportasi lokal, yang menghubungkan wilayah objek kajian tersebut ke bagian-bagian lain dari perekonomian antar wilayah. Ada dua kesimpulan dari pendekatanumum ini, yaitu: pertama adalah bahwa input-input transportasi dianggap sebagai input-input penting untuk hampir semua industri dan aktivitas-aktivitas komersial, baikbarang maupun manusia yang memerlukan mobilitas. Dari prospektif fungsi produktiftersebut, peningkatan di dalam input-input infrastruktur transportasi tersebut akan dapatdipandang sebagai peningkatan teknologi regional. Oleh karena, peningkatan di dalaminput-input transportasi tersebut akan meningkatkan total produktivitas faktor produksidari hampir semua kegiatan industri lokal, yang memperdagangkan outputnya secaraantar wilayah. Pertama-tama pengaruh yang diharapkan dari kebijakan regional yangseperti ini adalah untuk mendorong kegiatan industri-industri basis lokal yang sedangeksis, dengan peningkatan produktivitas lokal. Yang kedua, untuk industri-industri yangsecara relatif bergerak, perbedaan-perbedaan biaya transpor secara spasial diyakiniberpengaruh secara signifikan pada daya tarik menarik antar wilayah yang berbeda,dilihat dari lokasi-lokasi investasi. Jika dapat memperbaiki biaya-biaya transpor relatifdan aksessibilitas lokasi-lokasi, yang dapat mengurangi keterbelakangan wilayah, makadiperkirakan lebih lanjut akan mendapatkan migrasi investasi untuk mendorongperluasan industri-industri basis lokal melalui masuknya modal tambahan tersebut. Kebijakan-kebijakan regional jenis ini diimplementasikan sebagian-sebagianatau keseluruhan wilayah melalui yang dibiayai dengan dana-dana sektor publik.Pendanaan dijamin untuk area-area yang dipilih sebagai calon-calon penerima pinjaman 164
  • 175. keuangan regional. Bagaimanapun, apakah dengan atau tanpa kebijakan yang seperti itutetap akan pengaruh lokal, yang pengaruhnya itu terkait dengan ketentuan-ketentuan,atau syarat-syarat infrastruktur transportasi di dalam dan antar wilayah, pada biayatranspor, pada harga dan penerimaan marginal dari perubahan-perubahan biaya transporperusahaan-perusahaan domestik dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi antarwilayah. Sebagai contoh, program pembangunan yang diprakarsai di sebuah wilayah(daerah) tertentu secara umum akan mengurangi harga-harga dari semua output yangdiproduksi di wilayah itu pada setiap lokasi. Kebijakan ini mengasumsikan berlakunyapersaingan pasar yang luas, akan meningkatkan output-output wilayah secarakeseluruhan, yang dijual di dua wilayah dan wilayah-wilayah lain. Peningkatan outputpada sebagian perusahaan lokal yang sedang eksis dipengaruhi oleh: pertama kebijakanregional. Kedua, oleh pengaruh kebijakan regional yang ditujukan untuk mendorongimmigrasi investasi perusahaan ke dalam wilayah. Ketiga, pengaruh yang menyebabkanterjadinya penurunan biaya transpor, yang memberikan kemungkinan meluasnya lokasiperumahan ke dalam sebuah wilayah, yang dilatarbelakangi oleh harga-harga lahan.Bagaimanapun, persaingan di pasar faktor produksi (pasar input) akan berimplikasipada tabungan dari biaya transpor, yang akan segera diimbangi oleh harga-harga faktorproduksi lokal, sebagai keuntungan tetap yang tidak dapat dipelihara oleh kebijakan ini.Apakah peningkatan infrastruktur transportasi akan mendorong perusahaan-perusahaandari luar wilayah melakukan investasi di wilayah tersebut akan tergantung dalam halapa perusahaan-perusahaan itu akan mendapatkan kemudahan input-input produksinyadi wilayah itu. Kita dapat menganalisis pengaruh-pengaruh potensial dari sebuah kebijakantertentu, dengan membandingkan kesimpulan-kesimpulan argumentasinya. Sepertidiketahui, pengaruh lokasi-lokasi perumahan pada biaya-biaya transpor di suatu wilayahtertentu tergantung pada kemungkinan perubahan lokasi produksi dari perusahaan-perusahaan tersebut. Kalau perusahaan-perusahaan memiliki kemungkinan subtitusioutputnya nol akan terbatas, penurunan-penurunan biaya transpor yang dilokalisasiakan diabsorbir keefisienannya ke dalam skedul-skedul biaya perusahaan, olehpergerakan-pergerakan lebih lanjut area-area yang mampu menurunkan biayatranspornya secara relatif digabungkan dengan lokasi-lokasi yang lain. Kesimpulan iniadalah kesimpulan jenis kebijakan Klasik dari Weber. Dengan demikian, kebijakanregional akan berpengaruh nyata dan bertentangan dengan yang diharapkan. Sebagaialternatif, kalau perusahaan memiliki jarak yang jauh dari kemungkinan subtitusi,perusahaan-perusahaan akan sangat efisien dalam menyerap biaya transpor yangdilokalisasi dengan mensubtitusi antara kemudahan dan tingkat harga yang lebih rendahdari barang-barang yang dihasilkan di wilayah objek studi. Keadaan ini juga akanmendorong perusahaan bergerak ke area yang memiliki biaya transpor yang relatifrendah, dengan demikian kebijakan tersebut memiliki efek pengaruh dari peningkatanimmigrasi perusahaan-perusahaan ke dalam area (wilayah) tersebut. Kesimpulan iniadalah kesimpulan jenis kebijakan regional yang klasik dari Moses, kesimpulan yangterus terpelihara dengan kebijakan regional yang objektif. Berdasarkan diskusi di atas, bahwa pengaruh pembangunan regional lokal darigagasan meningkatkan infrastruktur transpor regional juga agak berat dalam membuatprediksi-prediksi. Jika perusahaan-perusahaan dapat mensubtitusi diantara berbagaiinput dengan mudah dan adil secara nyata, maka penurunan biaya transpor akanmendorong persaingan pada semua wilayah sesuai dengan ketentuan model satu sektor.Tetapi jika subtitusi input tidak mudah, hasil prediksinya menjadi sangat kompleks. 165
  • 176. Selanjutnya, peningkatan infrastruktur transportasi juga dapat me bertambah pengaruh-pengaruh regional yang dimiliki. Sebagaimana diketahui, biaya transpor yang overspace di dalam bagian busur (bagian dari kurva permintaan) ada batas-batas tarifnya,akan melindungi perusahaan-perusahaan lokal yang rendah efisiensinya dari persainganyang datang dari luar (Krugman, 1991). Pada biaya transpor yang direduksi olehkebijakan peningkatan infrastruktur regional, ini berarti bahwa sebagian perusahaanlokal tidak akan bertahan lama. Krugman dan Venables (1990) memperlihatkan bahwajika ekonomisasi aglomerasi dioperasikan di beberapa lokasi, efek negatif pada wilayah-wilayah tertinggal dapat menjadi target yang signifikan, sehubungan dengan merosotnyaupah lokal dari persaingan secara umum. Dengan demikian, dampak spasial darikebijakan pengembangan infrastruktur wilayah dan antar wilayah perlu dievaluasidengan hati-hati.10.3.2 Efek-efek Kesejahteraan dari Kebijakan Regional Dimana kebijakan regional didasarkan pada ketentuan investasi-investasitransportasi lokal, kita dapat bertolak dari sebuah perspektif sosial, apakah sebuahskema pembangunan jalan dapat dipilih di perekonomian yang relatif peripheral(wilayah pedesaan di sekitar kota). Misalnya, sebuah kasus dimana ada sebuah wilayahpedesaan kecil di sekitar sebuah kota yang memiliki kepadatan penduduk dan terpencar-pencar. Di wilayah tersebut dibangun infrastruktur jalan bebas hambatan baru, yangsecara signifikan akan mengurangi waktu perjalanan di antara wilayah pedesaantersebut dengan kotanya. Berkurangnya waktu perjalanan tersebut akan menekan biayatranspor, dan dalam hubungannya dengan transportasi bisnis akan menyebabkanmenurunnya biaya marginal (MC) semua output yang diproduksi dan dikonsumsi diwilayah tersebut. Bagaimanapun, penurunan MC terhadap semua output tersebutdibatasi oleh jumlah transaksi komersial yang terbatas, karena total jumlah pendudukwilayah (Region) tersebut relatif kecil. Pada sisi lain, jika infrastruktur jalan barutersebut dibangun di sebuah wilayah yang luas dan padat penduduknya, yanginfrastruktur jalannya telah relatif baik, penurunan waktu perjalanannya relatif kecildari rata-rata waktu perjalanan antara wilayah pedesaan tersebut dengan kotanya, hanyaakan menurunkan MC sedikit saja dari semua output yang diproduksi dan dikonsumsi diwilayah itu. Akibatnya adalah penurunan yang kecil saja pada MC tetapi pada sisi yanglain jumlah transaksi besar terhadap semua output yang diproduksi dan dikonsumsi diwilayah tersebut. Untuk membandingkan dua kasus efek tersebut kita mengembangkan gambar10.9, dengan cara itu efisiensi total dari perolehan kesejahteraan dari total jumlahtransaksi wilayah padat penduduk TH dan wilayah jarang penduduk TL. Untuk tujuanpenyederhanaan, diasumsikan bahwa biaya transpor semula yang dikombinasikandengan jumlah transaksi di dalam wilayah C di kedua wilayah. Lalu, jika sekaranginfrastruktur transportasi jalan baru dibangun di wilayah jarang penduduk akan terjadipenurunan yang besar pada MC, dikombinasikan dengan biaya transpor sekarangmenjadi CL. Penurunan besar biaya transpor dan penurunan yang signifikan di dalamMC dari semua transaksi individual yang melampaui ruang wilayah, memilikikonsekwensi mendorong suatu peningkatan pada transaksi-transaksi bisnis lokal.Perolehan total kesejahteraan sosial ini dikombinasikan dengan kenaikan padatransaksi-transaksi bisnis diperlihatkan oleh kenaikan jumlah transaksi dari Q menjadiQL. Pada sisi lain, apabila infrastruktur trasportasi baru tidak dibangun di wilayah padatpenduduk, penurunan MC dari transaksi-transaksi bisnis individual diperlihatkan oleh 166
  • 177. penurunan C ke CH yang hanya kecil saja. Ini dikarenakan infrastruktur transportasi diwilayah tersebut sudah baik dan bersifat ektensif, karenanya potensi penurunan biayatranspor untuk setiap transaksi bisnis indiviaual diperoleh dari suatu jumlah transaksiyang besar. Karena itu, peningkatan di dalam total kesejahteraan sosial didorong olehjatuhnya biaya transpor begitu luas, dan di dalam gambar 7.9 diperlihatkan olehmeningkatnya jumlah transaksi dari Q ke QH. Hasil ini merupakan manfaat daripenurunan MC dan pengembangan infrastruktur transportasi di suatu wilayah, yang didalam kenyataan lebih tinggi di dalam wilayah yang luas dan kepadatan penduduknyatinggi (wilayah sentral) dari pada wilayah kecil dan penduduknya jarang. Sebagai contoh indikasi-indikasi dari fenomena sebuah ekonomi masa depanbersama, di dalam buku-buku rujukan yang berpandangan ke bawah (kerakyatan),disebutkan bahwa dampak kesejahteraan dari campurtangan kebijakan publik tidakhanya di dalam aspek sosial, tetapi juga mencakup isu-isu tata-ruang yang akanmenentukan ukuran dari dampak mutlaknya. Keberagaman dalam jarak, distribusipenduduk secara tata-ruang dan distribusi pasar-pasarnya akan menentukan dampak-dampak dari kesejahteraan dari prakarsa-prakarsa kebijakan publik yang berhati-hatiitu. Perbedaan-perbedaan lokasi prakarsa-prakarsa kebijakan diantara ruang-ruang, akanmenghasilkan distribusi kesejahteraan di antara ruang, dan juga perbedaan ukuranabsolut dari dampak kesejahteraan. C (Biaya Transpor) TH TL C CH CL TH TL Q QL QH QL (Jumlah Output) Gambar 10.9: Efek-efek Efisiensi Kesejahteraan dari Infrastruktur Regional Pola-pola yang melatarbelakangi kesejahteraan sosial, misalnya pembenaranterhadap sejumlah pertanyaan terhadap sebagian kebijakan regional, karena walaupuninfrastruktur jalan raya secara signifikan meningkatkan kondisi kesejahteraan ekonomiperekonomian di daerah peripheral yang jarang penduduknya, jika program-programpembagunan di wilayah peripheral secara nyata telah dimulai, pembenaran terhadapkebijakan yang seperti itu hanya dapat diperoleh dari utamanya pada dasar-dasar politikdan sosial, biayanya pada ekonomi lapisan bawah. Pada sisi lain, kita dapat melihatbahwa biaya relatif dari ketentuan-ketentuan infrastruktur jalan jauh lebih rendah didalam ekonomisasi wilayah peripheral sehubungan dengan kewajiban-kewajiban yang 167
  • 178. lebih rendah, sewa lahan, dan upah yang lebih rendah. Dengan cara yang sama,pengaruh-pengaruh kemacetan di wilayah-wilayah yang padat penduduk dapatmengurangi manfaat potensial biaya sosial di wilayah padat penduduk dalam jangkapanjang, dan manfaat-manfaat dari skema yang digunakan dapat mengindikasikanbahwa perolehan-perolehan kesejahteraan sosial lebih besar di peripheral dari pada dipusat wilayah. Sebagai tambahan, efek-efek pertumbuhan yang dilokalisasi diusahandidorong di wilayah-wilayah peripheral dengan ketentuan-ketentuan (sifat-sifat) yangada pada infrastruktur publik, perolehan-perolehan kesejahteraan dikombinasikandengan kebijakan regional mungkin sangat signifikan. Didalam situasi ini, kurva-kurvabiaya kesejahteraan yang dilukiskan di gambar 10.9 akan dikembalikan, dengan kurva-kurva kesejahteraan sosial untuk wilayah peripheral menjadi amat terbatas, mengingatbahwa untuk wilayah peripheral relatif landai. Ini adalah evaluasi sosial analisis biayamanfaat dari seluruh potensi ekonomi dan dampak-dampak lingkungan dari kebijakan(Sossone dan Schaffer, 1978, Pearce dan Nash 1981, Layard dan Glaister 1994).Argumentasi yang sama dipegang untuk kebijakan regional yang didasarkan secaralangsung atau tidak langsung pada mensubsidi investasi-investasi migrasi ke dalamwilayah melalui penurunan-penurunan harga lahan, atau potongan-potongan pajaklokal (Swales 1997). Geografi memainkan sebuah prosedur di dalam menentukan keduaukuran absolut dan substitusi spasial dari dampak-dampak ekonomi dari prakarsa-prakarsa kebijakan publik . Oleh karena itu, dampak-dampak dari kebijakan-kebijakanregional perlu dievaluasi secara hati-hati dengan dasar spasial yang sifatnya abstrak (didalam pikiran) secara tidak langsung.10.3.3 Efek-efek Ekonomi Makro dari Kebijakan Regional. Sebagaimana halnya kita mendasarkan kebijakan regional masing-masingkepada perpektif ekonomi mikro agregat dan kesejahteraan sosial, kita dapat jugamendasarkannya secara rasional kebijakan regional tersebut kepada perpektif ekonomimakro. Pada diskusi-diskusi sebelumnya telah meyakinkan kita bahwa pada tingkatbunga umum mungkin tingkat investasi regional tidak cukup untuk mengatasi semuapengangguran pada tingkat lokal. Untuk sebuah model analisis ekonomi makro yangtidak begitu terbuka, tingkat bunga di dalam bagian-bagian wilayah ditentukan olehtekanan-tekanan permintaan di wilayah-wilayah yang netral. Di wilayah-wilayah yangberkesempatan kerja penuh, upah-upah dan sewa-sewa lahan nominal lokalnya tinggi.Persatuan buruh lokal dan kekurangan penawaran akan membuat kondisi tersebutberkelanjutan, menjadi sebuah sumber potensial bagi terbentuknya tekanan inflasi padaperekonomian regional lokal tersebut, dan tidak memungkinkan memperluas produksisebelum tingkat kesempatan kerja penuh. Karenanya, untuk menghindari inflasi lokalpermintaan regional lokal tidak boleh diperluas sebelum kesempatan kerja penuh.Ketentuan ini juga membatasi perluasan terhadap permintaan di dalam wilayah-wilayahlain yang dapat tumbuh dari aplikasi kebijakan regional, seperti yang diperlihatkan olehgambar 10.10. Di dalam gambar 10.10. kita membandingkan kasus dua wilayah A dan B,dimana wilayah A adalah wilayah yang relatif tidak bermasalah dengan kesempatankerja penuh, dan wilayah B merupakan sebuah wilayah tertinggal dengan disertaipengangguran terpaksa. Kita dapat mendasarkan kasus wilayah A yang digambarkan didalam empat kuadran sisi atas gambar 10.10. Di dalam kuadran kanan atas diperlihatkanbahwa tingkat pendapatan wilayah adalah YAI. Sebagaimana yang diperlihatkan didalam kuadran kiri atas, tingkat permintaan agregat regional memerlukan input-input 168
  • 179. Willayah A ADA ADA ADA 1 ADA 2 P LAF LA1 YA2YA1 i i ISA1 ISA2 i* i* LMA P YA2YA1 P* YA Willayah B ADB ADB ADB 3 LB ADB ADB 2 1 LBF LB2 LB1 YB1 B2 YB3 Y i i ISB ISB ISB 3 2 1 i* i* P P* YB1YB2 B3 YGambar 10.10 Efek-efek Ekonomi Makro Kebijakan Regional 169
  • 180. tenaga kerja, yang menjamin tingkat kesempatan kerja penuh pada LFA. Pada tingkatbunga tertentu i*, yang menjamin harga pada tingkat P*, tingkat permintaan tenagakerja penuh wilayah adalah YAI, yang ditentukan oleh skedul investasi lokal regionalISA. Dengan kata lain, kesempatan kerja penuh dipertahankan di wilayah yang relatiftidak bermasalah, tanpa menimbulkan inflasi lokal. Pada sisi lain, pada tingkat bungaumum i*, di wilayah B, untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja penuh danpendapatan lokal YB3 dan hanya mendapatkan tingkat pendapatan regional YB1. Tingkatpendapatan regional yang lebih rendah ini hanya memerlukan input-input buruh LB1,seperti halnya tingkat pengangguran lokal regional yang diperlihatkan oleh (LBF – LB1).Pengangguran di wilayah tertinggal B terus berlanjut karena pada tingkat bunga umumi*, tingkat investasi lokal tidak memungkinkan terjadinya arus migrasi investasi, untukkeseimbangan pasar buruh lokal, bila arus migrasi antar wilayah tidak cukup untukmenyeimbangkan pasar buruh lokal regional, dan tingkat bunga tidak dapat diturunkandi bawah i* keadaan tersebut akan bertahan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Sampai dengan kesimpulan ini, kita harus mendasari tingkat bunga ditetapkandan dipertahankan pada tingkat i*. Ini salah satu kekhususan saling terbuka danterkaitnya perekonomian antar wilayah, bahwa meningkatnya harga di sebuah wilayahdapat merambat begitu cepat ke wilayah yang lain. Di dalam kasus sebuahperekonomian nasional dimana sebuah wilayah yang relatif tidak bermasalah (relatifmaju) tidak mungkin terjadi kondisi kekurangan penawaran lokal, otoritas moneternasional dapat menetapkan tingkat bunga nasional tertentu agar wilayah tersebut segeraterhindar dari kelebihan tenaga kerja lokal dan harga lahan di wilayah maju.Kesimpulannya, bahwa otoritas moneter khawatir akan tingkat bunga yang rendahtersebut yang akan menyebabkan inflasi lokal di wilayah A, yang biasanya akanmenjalar ke wilayah-wilayah nasional yang lain. Walaupun tingkat kesempatan kerja yang meningkat akan memberikan manfaatkepada wilayah-wilayah tertinggal, di dalam investasi lokal dan tingkat bunga yangmenurun. Selain itu, pada kasus yang tidak memperhitungkan gangguan siklus bisnis,yang kadang-kadang dialami perekonomian nasional. Karenanya, wilayah maju secarakonsisten bertindak sebagai wilayah ―botle neck‖ dan rendahnya tingkat pendapatan diwilayah-wilayah tertinggal. Di dalam sistem ekonomi regional tertentu, penganggurandi wilayah tertinggal memelihara stabilitas harga-harga di wilayah A yang tidakterganggu, dan tercapainya stabilitas harga-harga secara nasional. Dengan kata lain,akan tetap ada suatu kondisi yang tidak hanya berbeda dalam permintaan individuallokal regional dan kondisi perbedaan kesempatan kerja sebagai bagian dari hasil-hasilkebijakan ekonomi, tetapi pada waktu yang sama kebijakan ekonomi makromenghasilkan kondisi yang berbeda-beda di antara bagian-bagiannya, di dalam kondisipermintaan dan penawaran nasional. Di dalam kondisi dimana tindakan-tindakan wilayah-wilayah maju merupakanbotle neck regional, kebijakan regional memiliki prosedur yang dapat dimainkan untukmemberikan harapan bagi pertumbuhan dan kesempatan kerja di wilayah maju dantertinggal, tanpa terjadinya tekanan-tekanan inflasi. Untuk memahami logika alasan-alasan di atas kita harus membandingkan kondisi tenaga kerja lokal di dalam duawilayah. Seperti yang dilihat pada gambar 10.10, investasi lokal yang umum, dankondisi-kondisi permintaan tenaga kerja di wilayah-wilayah tertinggal dikendalikanoleh keterbatasan-keterbatasan faktor penawaran dan tekanan inflasi di wilayah maju.Bagaimanapun, kebijakan regional sebagai sesuatu yang dapat memberikan harapanterhadap perbedaan-perbedaan permintaan pendapatan regional lokal dari YB1 ke YB2, 170
  • 181. dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan agregat wilayah tersebut dari ADB1 keADB2 akan mendorong peningkatan kesempatan kerja buruh lokal dari LB1 ke LB2.Menurunnya tingkat pengangguran lokal untuk jangka pendek disebabkan olehpenyebaran investasi ke wilayah maju, yang diperlihatkan oleh (LBF – LB2) dan dalamkenyataannya sama dengan penurunan kesempatan kerja lokal jangka pendek (LFA –LA2) di wilayah A. Wilayah B lebih banyak menerima dampak ketimbang ke wilayah A,dan dari ekspektasi perusahaan-perusahaan yang ada menyangkut fasilitas-pasilitasmereka akan lebih memilih wilayah B ketimbang wilayah A (wilayah maju) ke wilayahB (wilayah tertinggal). Manifestasi migrasi perusahaan-perusahaan ini, dimanaperusahaan-perusahaan baru akan lebih memilih bermigrasi ke di wilayah maju A daripada ke wilayah tertinggal B. Tujuan kebijakan regional tersebut, seperti halnyaketentuan-ketentuan tentang infrastruktur dan subsidi-subsidi Real Estate di wilayahtertinggal, yang dalam perluasannya kadang-kadang dapat diaplikasikan pada kedua-duanya di dalam aspek perencanaan tata-guna lahan di wilayah maju A, dapatmemberikan pengaruh melalui ketentuan arus investasi yang mengalir dari wilayah A. Efek penyebaran investasi ini dapat diperlihatkan melalui !0.10 denganpengurangan pada arus investasi lokal di wilayah A pada tingkat bunga umum i* dariISA1 ke ISA2 dan suatu perluasan pada arus investasi lokal di wilayah B pada tingkatbunga umum i* dari ISB1 ke ISB2. Penurunan investasi di wilayah A akan bergerak kesuatu penurunan pada pendapatan lokal regional yaitu dari YA1 Ke YA2, dan sebagaiakibatnya akan terjadi penurunan selanjutnya pada permintaan agregat dari ADA1 keADA2 akan bergeser ke suatu penurunan kesempatan kerja lokal dari tingkatkesempatan kerja regional penuh LAF ke tingkat kesempatan kerja yang lebih rendahLA1. Kesempatan kerja lokal jangka pendek menurun yang disebabkan oleh penyebaraninvestasi jalan dari wilayah maju yang diperlihatkan oleh (LAF – LA2). Bagaimanapun,peningkatan investasi lokal di wilayah B, dikombinasikan dengan kebijakan regional,akan menyebarkan efek peningkatan. Dalam keadaan yang seperti itu, tingkat hargapasar lokal di wilayah A akan mengalami perubahan sehubungan dengan penurunaninvestasi di wilayah tersebut, atau adanya perluasan investasi di wilayah B. Selain itu,peningkatan permintaan agregat di kedua wilayah sekarang diperlukan untukmemperluas output agar tidak timbul inflasi di wilayah A. Di wilayah A permintaanregional agregat dimungkinkan untuk ditingkatkan ke tingkat ADA1, yang telah tercapaisebelum kebijakan regional diaplikasikan. Pada tingkat permintaan regional agregat iniwilayah A akan berada pada pendapatan full employment lokal LAF, dan tingkat bungaumum i*, serta menjamin stabilitas harga pada P*. Dengan cara yang sama, di wilayahB permintaan regional agregat dimungkinkan terjadinya perluasan dari ADB2 ke ADB3.Pada tingkat ini permintaan regional agregat wilayah B akan menghasilkan pendapatanpada kesempatan kerja penuh lokal, investasi, dan tingkat permintaan terhadap buruhmasing-masing YB3, ISB3, dan IFB, pada tingkat bunga umum i*, yang menjaminstabilitas harga pada P di wilayah A.Peningkatan positif ekonomi makro ini berpengaruh kepada kedua wilayah melaluikompensasi penyebaran efek negatif di wilayah A yang maju, dan mula-mula kepadapenyebaran efek positif di wilayah tertinggal B. Dengan kata lain, penyebaran investasiyang dikombinasikan dengan kebijakan regional, memberi kemungkinan bahwapendapatan regional dan permintaan agregat di kedua wilayah dapat dipertahankanpada tingkat yang menjamin tingkat kesempatan kerja penuh lokal di kedua wilayahtanpa menimbulkan inflasi di wilayah bottle neck (wilayah maju). Karena itu, prosedurkebijakan regional juga dimaksudkan untuk meniadakan bottle neck di banyak wilayah, 171
  • 182. dikombinasikan dengan perbedaan investasi regional dengan keadaan tingkat bungabersama lintas wilayah (yang prosedurnya ditetapkan oleh otoritas moneter nasional)terutama untuk merespon kondisi permintaan di wilayah maju. Oleh karena itu, kalaumaksud dari kebijakan regional untuk menyebarkan efek-efek sebagaimana yangdikemukan sebelumnya, termasuk efek bagi peningkatan ekonomi makro di masing-masing wilayah, yang memungkinkan peningkatan permintaan agregat, terjaminnyakesempatan kerja penuh di kedua jenis wilayah tersebut, haruslah dipelihara di bawahsuatu regim moneter ekonomi makro yang stabil.10.4 Kesimpulan Di dalam bab ini kita telah mendiskusikan berbagai jenis gagasan kebijakan,sesuai dengan luasnya pengertian judul ―kebijakan wilayah dan kota‖. Kita telahmelihat, perbedaan umum diantara kebijakan-kebijakan perkotaan (Urban Policy) dankebijakan wilayah (Regional Policy) terletak pada sekala ruang (Spasial Scale), dimanadengan kebijakan-kebijakan tersebut ingin didapatkan efek-efek tertentu dari masing-masing jenis kebijakan yang sesuai dengan tujuan dan sekala ruang dari objek kebijakanitu sendiri. Dampak-dampak yang diharapkan dari kebijakan perkotaan diperhitungkanuntuk mempengaruhi wilayah-wilayah perkotaan, atau sub-sub wilayah perkotaan,yang sekala ruangnya lebih kecil dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan regional.Perbedaan sekala ruang tersebut juga meliputi jenis dan kriteria kebijakan, dengandemikian pada waktu mengevaluasinya juga berbeda. Untuk kasus kebijakan perkotaan,maka isu dominan yang akan menentukan adalah sesuai tidaknya suatu kebijakan yangdiimplementasikan itu dengan sifat-sifat lingkungan lokal pada tingkat sub-wilayah kota(Suburban). Catatan: yang dimaksud dengan lingkungan di sini dihubungkan denganpembangunan lingkungan fisik dan sosial lokal, serta implementasi kebijakan umum,termasuk pengadaan dan perubahan-perubahan kerangka kerja kelembangaan untukpasar real-estat lokal yang dioperasikan. Semua kebijakan perkotaan yang seperti itumemiliki dampak kesejahteraan yang dapat diwujudkan dari perubahan-perubahanberbagai dampak kesejahteraan yang dapat meningkat pada berbagai kelompokpendapatan. Oleh karena itu, kebijakan perkotaan memiliki efek yang dapatmendistribusikan kesejahteraan. Sarjana-sarjana ekonomi perkotaan dan wilayah dapatmengevaluasi sejauh mana manfaat kebijakan-kebijakan tersebut dapat diambilberdasarkan sebuah penaksiran efek distribusinya. Kebijakan regional, pada sisi lain, secara simultan keduanya difokuskan padaharapan pertumbuhan investasi regional dari dalam dan juga pada daya tarik investasimigran baru dari luar wilayah. Sejauh ini pendekatan yang terakhir yang banyakmenjadi perhatian, kebijakan-kebijakan tersebut cenderung dioperasikan melebihi batas-batas wilayah yang lebih luas, melebihi sekala ruang kebijakan perkotaan. Fokuskebijakan-kebijakan regional cederung kepada ingin memperoleh manfaat daripembangunan infrastruktur lokal dan wilayah, serta dalam beberapa kasus jugacenderung mensubsidi input-input real-estate lokal. Sebagaimana halnya dengankebijakan perkotaan, kebijakan regional juga akan memiliki dampak kesejateraansosial, ukuran dan distribusi spasialnya akan tergantung pada ketertarikan perusahaan-perusahaan migran terhadap prakarsa kebijakan regional tersebut. Kebanyakankebijakan regional dapat juga mendorong efisiensi, di dalam situasi dimana inflasisangat peka terhadap penawaran lokal agregat di setiap wilayah. Kelayakan ekonomibagi kebijakan tertentu, bagaimanapun, haruslah yang utama. Ketidakbebasan pasar 172
  • 183. dirasakan sebagai ketidakkonsistenan, yang dapat mencegah efisiensi, menghalangikoreksi harga yang berdasarkan mekanisme pasar, membatasi mobilitas faktor-faktorproduksi antar wilayah. 173
  • 184. BAB XI KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH DI INDONESIA11.1. Pendahuluan Masalah keuangan daerah merupakan bagian yang penting dalam masalahPembangunan Daerah. Di masa Orde Baru (Masa Repelita) masalah otonomi dankeuangan daerah diatur dengan UU Otonomi Daerah, yaitu UU No. 5 tahun 1974. UUini mempunyai masa berlakunya yang relatif cukup lama, yaitu sekitar 26 tahun. Setelahmemasuki periode Reformasi, dimana semangat desentralisisi dan dekonsentrasimewarnai kehidupan politik di Indonesia, UU tersebut diganti dengan UU No. 22 tahun1999 tentang otonomi daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang keuangan daerah, yangdiberlakukan sejak tahun 2001. Kedua UU yang mengatur otonomi dan keuangandaerah ini tidak bertahan lama, karena tahun 2004 kedua UU ini diganti lagi dengan UUNo. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentangKeuangan Daerah. UU no. 5 tahun 1974 membedakan pengeluaran atas PengeluaranRutin dan Pengeluaran Pembangunan, sedangakan pada UU NO. 32 tahun 2004 tidakdibedakan. Dari sisi penerimaan juga ada perbedaan diantara kedua UU tersebut, yaitupada nama sebagian pos penerimaan. Jumlah pos penerimaan daerah juga menjadi lebihbanyak, demikian pula dalam kewenangan pemungutan, dan dalam nilai penerimaan. Dari sudut teori ekonomi memang tidak berbeda antara belanja rutin denganbelanja pembangunan, karena sama-sama pengeluaran tersebut akan menimbulkanpenerimaan dan multiplier ekonomi di daerah. Walaupun dipisah, jika belanja tersebuttidak menimbulkan belanja dan penerimaan di daerah tidak akan menimbulkan kegiatandan multiplier ekonomi di daerah. Dari sudut perencanaan pembangunan daerah belanja pemerintah di daerahpenting, terutama yang menyangkut pengembangan infrastruktur dan pelayanan didaerah. Infrastruktur dan pelayanan daerah merupakan langkah awal untuk menarikinvestasi sektor swasta ke suatu daerah. Inilah yang dimaksud dengan belanjapembangunan di dalam UU otonomi daerah pada masa orde baru (UU no.5 tahun 1974).Di dalam UU Otonomi yang berlaku sekarang ini belanja APBD diarahkan sesuaidengan kebijakan nasional, yaitu kepada peningkatan mutu pelayanan dan kesejahteraanmasyarakat. Jika ingin mengetahui berapa % yang mengalir ke pembangunaninfrastruktur dan meningkatkan pelayanan setiap tahun perlu dipilah dan dihitungterlebih dahulu. Tentu saja, mengalirnya investasi sektor swasta ke suatu daerah tidakhanya ditentukan oleh kondisi infrastruktur dan pelayanan yang baik, juga olehsejumlah faktor lain yang ikut menentukannya, misalnya sumberdaya alam, sumberdayamanusia, akses pasar, keterkaitan industri, dan lain sebagainya. Sebagai gambarannya, pada paragraf kedua akan dijelaskan tentang systemkeuangan daerah yang berlaku saat ini, hanya pokok-pokoknya sebagaimana yangtercantum dalam UU no. 32/2004, sedangkan detilnya ada dalam UU no. 33 tahun 2004.11.2. Keuangan Daerah Perencanaan daerah akan mengikuti kebijakan perencanaan pusat. Demikianpula halnya keuangan daerah, akan mengikuti kebijakan keuangan pemerintah pusat.Kebijakan tersebut diwujudkan dalam bentuk alat-alat (instruments) kebijakan, yang 174
  • 185. berbentuk UU, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dan sebagainya. UU tentangkeuangan daerah (UU no. 33 tahun 2004) mengikuti UU tentang Otonomi Daerah (UUno. 32 tahun 2004) yang berlaku sekarang ini. Undang-undang tersebut masihmemisahkan antara administrasi pendanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan yangmenjadi kewenangan daerah dari administrasi pendanaan yang menjadi urusanpemerintah pusat di daerah. Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan dalam pengelolaan keuangan didaerah. Dalam melaksanakan kekuasaannya itu, kepala daerah melimpahkan sebagianatau seluruh kekuasaannya yang berupa perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan,pelaporan dan pertanggungjawaban, serta pengawasan keuangan daerah kepada pejabatperangkat daerah. Pelimpahan sebagian atau seluruh kewenangan tersebut didasarkanpada prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan, menguji, dan yangmenerima/mengeluarkan uang.11.2.1 Pendapatan Daerah Sumber-sumber pendapatan daerah terdiri atas: 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi: hasil pajak daerah; hasil retribusi daerah hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan lain-lain PAD yang sah. 2. dana perimbangan; dan 3. lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan UU, yang pelaksanaannya diaturdengan Peraturan Daerah (Perda). Pemda dilarang melakukan pungutan di luar yangtelah diatur UU. 2. Dana perimbangan terdiri atas: 2.1 dana bagi hasil; 2.2 dana alokasi umum (DAU), dan 2.3 dana alokasi khusus (DAK) Dana bagi hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana bagi hasilyang bersumber dari pajak terdiri dari: PBB sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan, pertambangan serta kehutanan. Bea perolehan atas hak tanah dan bangunan (BPHTB) sektor pedesaan,pertambangan, serta kehutanan. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21, pasal 25, dan pasal 29 wajib pajak orangpribadi dalam negeri. Dana bagi hasil yang bersumber dari SDA berasal dari: Penerimaan kehutanan yang berasal dari hak pengusahaan hutan (IHPH), provisiSDA hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah (daerah) yangbersangkutan; Penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan tetap (Landrent)dan penerimaan iuran eksploitasi (Royalty) yang dihasilkan dari wilayah atau daerahyang bersangkutan; Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang dihasilkan daripenerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan hasil perikanan; Penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yangbersangkutan; 175
  • 186. Penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah yangbersangkutan; Penerimaan pertambangan panas bumi yang berasal dari penerimaan setoranbagian Pemerintah, iuran tetap dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah daerahyang bersangkutan Daerah penghasil SDA yang menerima Dana Bagi Hasil dari SDA ditetapkanoleh Mendagri. Dasar perhitungan bagian daerah penghasil ditetapkan menteri teknisterkait setelah memperoleh pertimbangan Mendagri. Pelaksanaan dana bagi hasil inidiatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.11.2.2 DAU dan DAK DAU dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam negerinetto yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkankriteria tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang selarasdengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang formula dan penghitungannyaditetapkan sesuai dengan UU. DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaanpelaksanaan desentralisasi untuk: (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukanPemerintah atas dasar prioritas nasional; (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkandaerah tertentu. Penyusunan kegiatan khusus yang ditentukan oleh Pemerintahdikoordinasikan oleh Gubernur. Penyusunan kegiatan khusus yang diusulkan daerahtertentu dilakukan setelah dikoordinasikan oleh daerah yang bersangkutan. Ketentuanlebih lanjut DAK diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pedoman penggunaan, supervisi, monitoring, dan evaluasi atas dana bagi hasilpajak, dana bagi hasil sumberdaya alam, DAU, dan DAK diatur peraturan Mendagri.Pengaturan lebih lanjut mengenai pembagian dana perimbangan ditetapkan dalam UUtentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.11.2.3 Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan, yangmeliputi hibah, dana darurat, dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah.Hibah merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/atau jasa yang berasal dariPemerintah, masyarakat, dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri. Pendapatandana darurat merupakan bantuan Pemerintah dari APBN kepada pemerintah daerahuntuk mendanai keperluan mendesak yang diakibatkan peristiwa tertentu yang tidakdapat ditanggulangi APBD. Keadaan yang dapat digolongkan sebagai peristiwa tertentu ditetapkan denganperaturan Presiden. Besarnya alokasi dana darurat ditetapkan oleh Menteri Keuangandengan memperhatikan pertimbangan Mendagri dan Menteri Teknis terkait. Tata carapengelolaan dan pertanggungjawaban penggunaan dana darurat diatur dalam PeraturanPemerintah. Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat kepada daerah yang dinyatakanmengalami krisis keuangan daerah, yang tidak mampu diatasi sendiri, sehinggamengancam keberadaannya sebagai daerah otonom. Tata cara pengajuan permohonan,evaluasi oleh Pemerintah, dan pengalokasian dana darurat diatur dalam PeraturanPemerintah. 176
  • 187. 11.3 Belanja Daerah Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitaskehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah, yaitu: melindungimasyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan keamanan nasional, serta keutuhan NKRI; 1. meningkatkan kehidupan demokrasi; 2. mengembangkan kualitas kehidupan masyarakat; 3. mewujudkan keadilan dan pemerataan; 4. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan; 5. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan; 6. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak; 7. mengembangkan sistem jaminan sosial; 8. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah; 9. mengembangkan sumberdaya produktif di daerah; 10. melestarikan lingkungan hidup; 11. mengelola administrasi kependudukan; 12. melestarikan nilai sosial budaya; 13. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan dalambentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanankesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistemjaminan sosial. Belannja daerah mempertimbangkan analisis standar belanja, standarharga, tolak ukur kinerja dan standard pelayanan minimal yang ditetapkan sesuaidengan peraturan perundang-undangan.11.3.1 Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diatur dalam Perda yangberpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Belanja Pimpinan dan Anggota DPRD diaturdalam Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintah daerahdapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah, pemerintah daerah lain,lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan masyarakat. Pemerintahdaerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi daerah untuk membiayaiinvestasi yang menghasilkan penerimaan daerah. Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusanpinjaman hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah setelahmemperoleh pertimbangan Mendagri. Perjanjian penerusan pinjaman dilakukan, antaraMenku dan Kepala Daerah.11.3.2 Pinjaman Daerah Ketentuan mengenai pinjaman daerah dan obligasi daerah diatur denganPeraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah sekurang-kurangnya mengatur tentang: 1. persyaratan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman. 2. penganggaran kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo dalam APBD. 177
  • 188. Pengenaan sanksi dalam hal pemerintah daerah tidak memenuhi kewajibanmembayar pinjaman kepada Pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga perbankan,serta lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. Tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiapsemester dalam tahun anggaran berjalan. Persyaratan penerbitan obligasi daerah, pembayaran bunga dan pokok obligasi. Pengelolaan obligasi daerah yang mencakup pengendalian risiko, penjualan danpembelian obligasi, pelunasan dan penganggaran dalam APBD. Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhantertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun anggaran. Peraturantentang dana cadangan daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. PeraturanPemerintah sekurang-kurangnya mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan,serta pengelolaan dan pertanggungjawabannya. Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal pada suatu badan usahamilik Pemerintah dan/atau milik swasta. Penyertaan modal tersebut dapat ditambah,dikurangi, dijual kepada pihak lain, dan/atau dapat dialihkan kepada badan usaha milikdaerah. Penyertaan modal tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.11.4 Surplus dan Defisit APBD Dalam hal APBD diperkirakan surplus, penggunaannya ditetapkan dalam Perdatentang APBD. Surplus tersebut dapat digunakan untuk: 1. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo; 2. penyertaan modal (investasi daerah) 3. transfer ke rekening dana cadangan. Dalam hal APBD diperkirakan defisit, dapat didanai dari sumber pembiayaandaerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD. Pembiayaan daerah tersebutbersumber dari: 1. sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu; 2. transfer dari dana cadangan; 3. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan 4. pinjaman daerah. Mendagri melakukan pengendalian defisit anggaran setiap daerah. Pemerintahdaerah wajib melaporkan posisi surplus/defisit APBD kepada Mendagri dan Menkusetiap semester dalam tahun anggaran berjalan. Dalam hal pemerintah daerah tidakmemenuhi kewajiban ―wajib melaporkan‖ Pemerintah dapat melakukan penundaan ataspenyaluran dana perimbangan.11.5 Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi Pemda dalam meningkatkan perekonomian daerah dapat memberikaninsentif/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam Perdadengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. 178
  • 189. 11.6 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemda dapat memiliki BUMD yang pembentukan, penggabungan, pelepasanpemilikan, dan/atau pembubarannya ditetapkan dengan Perda yang berpedoman padaperaturan perundang-undangan.11.7 Pengelolaan Barang Daerah Barang milik daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidakdapat dijual, diserahkan haknya kepada pihak lain, dijadikan tanggungan, ataudigadaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Barang milik daerah dapatdihapus dari daftar inventaris untuk dijual, dihibahkan, dan/atau dimusnahkan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan pengadaan barangdilaksanakan sesuai dengan kemampuan keuangan dan kebutuhan daerah berdasarkanprinsip efisiensi, efektivitas, dan transfaransi dengan mengutamakan produk dalamnegeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan penghapusandilakukan berdasarkan kebutuhan daerah, mutu barang, usia pakai, dan nilai ekonomisyang dilakukan secara transfaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.11.8 APBD Dasar Pengelolaan Keuangan Daerah APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah selama satu tahunanggaran, dihitung mulai 1 Januari s/d 31 Desember. Kepala daerah dalam menyusun rencana APBD menetapkan prioritas dan plafonanggaran sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkatdaerah. Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran, kepala satuan kerja perangkat daerahmenyusun rencana kerja dan satuan kerja perangkat daerah dengan pendekatanberdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. Rencana kerja dan anggaran satuan kerjaperangkat daerah disampaikan kepada penjabat pengelola keuangan daerah sebagaibahan penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun berikutnya. Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang APBD disertai penjelasandan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD untuk memperoleh persetujuanbersama. Rancangan Perda dibahas Pemda bersama DPRD berdasarkan kebijakanumum APBD serta prioritas dalam plafon anggaran. Pengambilan keputusan DPRDuntuk menyusun rancangan Perda dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelumtahun anggaran dilaksanakan. Atas dasar persetujuan DPRD, kepala daerah menyiapkanrancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dan rancangan dokumenpelaksanaan anggran satuan kerja perangkat daerah. Tata cara penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerahserta tata cara penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkatdaerah diatur dalam Perda yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan.11.8.1 Perubahan APBD Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD; Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unitorganisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja; dan sebagainya. 179
  • 190. Keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnyaharus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan. Pemerintah daerah mengajukan rancangan Perda tentang perubahan APBD,disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. Pengambilankeputusan mengenai rancangan Perda tentang perubahan APBD dilakukan oleh DPRDpaling lambat tiga bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir.11.8.2 Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawabanpelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa olehBadan Pemeriksa Keuangan paling lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir.Laporan keuangan tersebut sekurang-kurangnya meliputi laporan realisasi APBD,neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, yang dilampiri denganlaporan keuangan badan usaha milik daerah. Laporan keuangan tersebut disusun dandisajikan sesuai dengan akuntansi pemerintahan yang ditetapkan dengan PeraturanPemerintah.11.8.3 Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala DaerahTentang APBD, Perubahan APBD dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujuai bersama danrancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan olehGubernur paling lambat tiga hari disampaikan kepada Mendagri untuk dievaluasi. Hasilevaluasi disampaikan oleh Mendagri kepada Gubernur paling lambat 15 hari terhitungsejak diterimanya rancangan dimaksud. Apabila Mendagri menyatakan hasil evaluasirancangan Perda tentang APBD dan rancangan Peraturan Gubernur tentang penjabaranAPBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undanganyang lebih tinggi, Gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda danPeraturan Gubernur. Apabila Mendagri menyatakan hasil evaluasi rancangan Perdatentang APBD dan Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengankepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Gubernurbersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama tujuh hari terhitung sejakditerimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gubernurdan DPRD, dan Gubernur tetap menetapkan rancangan Perda tentang APBD danrancanagan Peraturan Gubernur, Mendagri membatalkan Perda dan Peraturan Gubernurdimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Rancangan Perda tentang Kabupaten/Kota mengenai APBD yang telah disetujuibersama dan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sebelumditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama tiga hari disampaikan kepada Gubernuruntuk dievaluasi. Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur kepada Bupati/Walikotapaling lama 15 hari terhitung sejak diterimanya rancangan Perda tentang kabupaten/kotadan rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD tersebut. ApabilaGubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD dan rancanganPeraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sudah sesujai dengan kepentinganumum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Bupati/Walikotamenetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Peraturan Bupati/Walikota.Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan Perda tentang APBD danrancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengankepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, 180
  • 191. Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama tujuh harisejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti olehBupati/Walikota dan DPRD, dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan Perdatentang APBD dan rancangan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadiPerda dan Peraturan Bupati/Walikota, Gubernur membatalkan Perda dan PeraturanBupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahunsebelumnya. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan Perda kabupaten/kotatentang APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang peraturan APBDkepada Mendagri. Apabila DPRD sampai dengan batas waktu tertentu tidak mengambil keputusanbersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan kepala daerah tentangAPBD, kepala daerah melakukan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBDtahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusundalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. Rancangan kepala daerahtersebut dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Mendagri bagiprovinsi dan Gubernur bagi kabupaten/kota. Untuk memperoleh pengesahan tersebut,rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD beserta lampirannya disampaikanpaling lambat 15 hari terhitung sejak DPRD tidak mengambil keputusan bersamadengan kepala daerah terhadap rancangan Perda tentang APBD. Apabila dalam bataswaktu 30 hari Mendagri dan Gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepaladaerah, kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksudmenjadi peraturan kepala daerah. Proses penetapan rancangan Perda tentang Perubahan APBD dan rancanganperaturan kepala daerah tentang penjabaran Perubahan APBD menjadi Perda danperaturan kepala daerah berlaku ketentuan tertentu. Proses penetapan rancangan Perdayang berkaitan dengan pajak daerah, retribusi daerah, dan tata ruang daerah menjadiPerda, berlaku pasal yang berkenaan, dengan ketentuan untuk pajak daerah dan retribusidaerah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Menkeu, dan untuk tata ruang denganmenteri yang membidangi tata ruang. Peraturan kepala daerah tentang PenjabaranAPBD dan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD dijadikandasar penetapan dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah. Dalamrangka evaluasi pengelolaan keuangan daerah dikembangkan sistem informasi keuangandaerah yang menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi pemerintah daerah.11.9 Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah dianggarkan dalamAPBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara UmumDaerah. Untuk setiap pengeluaran atas beban APBD, diterbitkan surat keputusanobligasi oleh kepala daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai suratkeputusan otorisasi. Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja daerahjika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalamAPBD, Kepala daerah, wakil kepala daerah, pimpinan DPRD, dan pejabat daerahlainnya, dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja daerah untuktujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. Uang milik pemerintah daerah yang sementara waktu belum digunakan dapatdidepositokan dan/atau diinvestasikan dalam investasi jangka pendek sepanjang tidakmengganggu likuiditas keuangan daerah. Bunga deposito, bunga atas penempatan uang 181
  • 192. di bank, jasa giro, dan/atau bunga atas investasi jangka pendek merupakan pendapatandaerah. Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan peraturan tentang: 1. penghapusan tagihan daerah, sebagian atau seluruhnya; dan 2. penyelesaian masalah Perdata. Penyusunan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pengawasan danpertanggungjawaban keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan perda yangberpedoman pada Peraturan Pemerintah.11.10. Tidak Seluruh Pembiayaan Infrastruktur dan Pelayanan Harus DibiayaiPemerintah Daerah Sebenarnya tidak semua biaya pengembangan infrastruktur dan pelayanan harusdibiayai oleh pemerintah/pemerintah daerah sendiri. Jika harus oleh pemerintah daerahsendiri tentu akan besar sekali pajak yang harus dibebankan kepada masyarakat, atauDAU, DAK dan lain-lain sumber penerimaan yang bersumber dari Pemerintah Pusat. Sebagian dari biaya infrastruktur dan pelayanan dapat dibebankan kepadakonsumen sendiri dengan cara memasukkan biaya tersebut ke dalam komoditi yangdibeli oleh masyarakat melalui sistem hipotik. Sebagai contoh, jika orang membelirumah maka infrastruktur dan pelayanan yang diperlukan oleh calon penghuniperumahan sudah termasuk kedalam harga rumah. Kebijakan dalam pengembanganlahan dan pembangunan kompleks-kompleks perumahan harus diatur dan diberlakukansecara pasti. Para developer real estat harus pula menaatinya. Banyak infrastruktur danpelayanan yang dapat dibebankan pembiayaannya kepada konsumen tanpa banyakkesulitan. Persyaratannya Peraturan (Law Inforcement) harus diberlakukan secara tegas(tanpa ulur tarik). Pemerintah daerah dapat memilah-milah infrastruktur dan pelayananyang memang harus dipikul, disubsidi, dan dibebankan seluruhnya kepada masyarakat. Penghimpunan dana masyarakat lokal juga dimungkinkan melalui lembaga-lembaga keuangan lokal, baik bank maupun nonbank. Tentu saja persyaratan pertamayang harus dipenuhi oleh Pemerintah Pusat adalah stabilitas nilai rupiah, sehinggamasyarakat tertarik memanfaatkan sistem keuangan sebagai salah satu pilihan untukmendapat pendapatan. Ibu-ibu rumahtangga, atau masyarakat akan bersedia membeliobligasi, saham-saham, dan menyimpan dananya di dalan sistem keuangan lokal.Tampaknya sistem tersebut lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengandalkanpinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri kadang-kadang bila nilai tukar rupiahmerosot terhadap US $ dan mata uang penting lainnya, secara tidak langsung nilaibunga riilnya justru berlipat ganda. Jadi, adalah penting sekali Pemerintah pusat mampumenjamin nilai Rp stabil, membangun sistem moneter yang dipercaya masyarakat.Dengan demikian nilai mata uang (Rp) sebagai cermin dari hasil produksi (keringat)rakyat didak digunakan sebagai alat kebijakan yang dapat mempengaruhi nilainya.Rupiah yang beredar diusahakan tetap proporsional dengan nilai produksi barang danjasa yang dihasilkan masyarakat. Pengeluaran pemerintah yang tidak didukungperencanaan sistem fiskal, dapat membuat masalah lebih komleks, karena Rp tidakterpercaya, dan sistem moneter menjadi tidak produktif. Tingkat bunga yang berlaku didaerah ditentukan oleh otoritas moneter pemerintah pusat. Tingkat bunga tersebutadalah tingkat bunga rata-rata nasional, yang kadang-kadang untuk sebagian daerahtidak mendukung perluasan kesempatan kerjanya. Namun nilai rupiah yang stabil akanmendapatkan kepercayaan yang luas dari masyarakat akan memungkinkan perencanaanpembangunan daerah jauh lebih sederhana. 182
  • 193. 10.11 Sumber Pembiayaan Sektor Swasta Bersamaan dengan perencanaan pembangunan wilayah sudah harus dipikirkankemungkinan dari mana sumber-sumber pembiayaan pembanguan (investasi) itudiperoleh. Pembiayaan pembangunan yang bersumber dari pemerintah biasanya relatifkecil (sekitar 20%), yang ditujukan untuk membangun infrastruktur dan pelayananpublik. Pada awal-awalnya mungkin relatif besar untuk membangun infrastruktur danpelayanan yang mungkin harus bersekala besar, untuk memancing partisipasi sektorswasta dan peranserta masyarakat. Pembiayaan pembangunan yang bersumber darisektor swasta merupakan komponen yang relatif besar dari total pembiayaanpembangunan yang diperlukan, kurang lebih 80%. Mengalirnya investasi sektor swastake suatu daerah/wilayah, disamping harus didukung oleh perencanaan pembangunandaerah yang jelas, yang merupakan bagian dari perencanaan pembangunan nasional,yang disesuaikan dengan visi/misi (Pola Dasar) pembangunan daerah dan potensidaerah, juga berbagai faktor lain yang mendukung, baik yang terkait dengan kondisilingkungan pembangunan nasional maupun yang terkait dengan kondisi lingkunganpembangunan di daerah itu sendiri. Di masa Repelita, dikenal adanya PMA dan PMDN.Investasi PMA ada yang langsung (Direct Investment) ada yang tidak langsung (IndirectInvestment). Berbagai faktor (kondisi) perlu dipenuhi untuk mendukung pelaksanaanpembangunan pada tingkat wilayah/daerah. Dengan asumsi: untuk tingkat nasionalsemua telah terpenuhi. Faktor-faktor tersebut adalah: Adanya alat-alat (Instruments) kebijakan pada tingkat daerah, yang merupakandasar penyelenggaraan berbagai lembaga pembangunan di daerah (seperti: BadanPerencanaan Pembangunan Daerah, Badan Penanaman Modal Daerah, LembagaBantuan Hukum dan secara khusus membantu investor di daerah dalam hal LegalAspect, Legal Aspect itu sendiri, dan sebagainya). Adanya kemudahan/kejelasan dalam mendapatkan lahan lokasi. Aktivitasinvestasi memerlukan ruang/lahan lokasi. Prosedur untuk mendapatkan lahan (peralihanhak atas lahan) yang tidak sederhana, atau kurang ada kepastian hukum akanmenghambat masuknya investasi. Infrastruktur (seperti jaringan jalan, pelabuhan, lapangan udara, saranatelekomunikasi, dsb.) diperlukan dalam rangka kelancaran mobilitas input-output bagiperusahaan. Dalam perkembangannya sekarang ini pemerintah daerah mempersiapkanzona-zona industri yang sesuai dengan tata ruang wilayah/jaringan transportasi (laut,darat dan udara). Bahkan ada yang sudah siap dengan kompleks-kompleks industridengan berbagai jenis industrinya. Para investor tinggal membelinya dalam bentukperusahaan yang siap beroperasi. Ini semua dilakukan oleh investor. Tenaga kerja (baik tenaga kerja terdidik, maupun yang siap dididik) perludisiapkan. Aktivitas ekonomi memerlukan dukungan tenaga kerja. Aktivitas ekonomimemiliki banyak jenis dan spesifikasi. Oleh karena itu tenaga kerja yang dibutuhkanpun ada yang dengan kriteria umum dan khusus, ada yang dapat dipenuhi oleh lulusanpendidikan yang ada, ada yang memang perlu dididik/dilatih kembali secara khusussebagai pendidikan tambahan. Masalah lingkungan. Limbah industri dapat mencemarkan, dapat mengganggulingkungan hidup, dapat menimbulkan sengketa/protes-protes dari masyarakat. Olehkarena itu perusahan-perusahan industri disamping wajib melakukan analisis dampaklingkungan (Amdal) sebelum mendapat izin, sebaiknya dihimpun dalam satu kompleks 183
  • 194. industri agar mudah diawasi, dan lebih efisien dalam mengelola limbah untukmemenuhi perlindungan lingkungan yang aman dari kemungkinan pencemaran. Lokasiindustri hendaknya tidak muncul secara sporadis, seperti yang telah terjadi di Daerah-daerah di Indonesia selama ini, termasuk di Jawa Barat. Munculnya lokasi industri yangsporadis disampaing karena tidak adanaya satu konsep zona/lokasi industri yang bakudan diberlakukan secara tegas (konsisten) juga karena sistem pengalihan atas lahan yangmasih memungkinkan hal itu bisa terjadi (investor mencari lahan murah melalui calo). Perlu diketahui pula bahwa masalah lingkungan tidak hanya terbatas padatercemarnya lingkungan fisik dengan masuknya suatu industri ke suatu wilayah/daerah,juga lingkungan sosial, ekonomi, budaya dan bahkan politik. Kebijakan harus mampumengantisipasinya, sehingga tidak menimbulkan masalah-masalah yang merugikanmasyarakat lingkungannya dan komplek. Contoh: pencemaran air sumur, kekeringan airsumur, pencemaran air sungai, naiknya harga-harga bahan kebutuhan pokok sehari-haridi pasar lokal, perubahan yang drastis terhadap struktur sosial kemasyarakatan di daerah(menjadi tidak seimbang), dan sebagainya. Oleh karena itu hadirnya perusahaan tertentu di suatu wilayah/lokasi memilikitanggung jawab lingkungan, yang diatur dengan UU (instrumen kebijakan). Denganpengaturan dampak lingkunan yang baik, bahkan dengan kebijakan perusahaan itusendiri yang menyatu dengan kepentingan masyarakat, masyarakat akan merasamemilikinya dan menjaga keberadaan perusahaan tersebut di lingkungannya. Contoh:PT. Tambang Batu Bara Bukit Asam yang mendirikan Sekolah Teknik untuk anak-anakkaryawannya dan anak-anak masyarakat di sekitar lokasi perusahaan (pada zamankolonial Belanda), Perusahaan Penangkap Ikan Asing di India mempekerjakan pemuda-pemuda di sekitar lokasi perusahaan dalam aktivitas perusahaannya. Banyak lagi contohusaha-usaha perusahaan dalam menyatukan diri dengan lingkungan sekitar, agarmasyarakat merasa ikut memiliki, sererti: memiliki unit musik/kesenian, unit sepak boladan lain-lain jenis olah raga, unit pemutaran film, dsb. yang dapat memberi hiburankepada masyarakat (dengan mengutamakan kepentingan lingkungan usaha). Berbedasekali dengan apa yang berlaku di tanah air kita akhir-akhir ini, yang jauh lebih burukdari apa yang sudah ada di zaman kolonial sendiri. Hampir tidak pernah kita mendengarmasyarakat merasa memiliki perusahaan-perusahaan yang hadir di lingkungannyaselama ini. Semangat perusahaan-perusahaan banyak yang sudah salah, terposisikansebagai berada di ruang fakum, tidak perlu tahu dengan lingkungannya (fisik, sosial,politik, ekonomi, dan budaya), sehingga menimbulkan masalah. Mungkin di suatuperiode waktu, dimana kekuasaan otoriter bisa melindunginya, tidak terlihat masalahdengan jelas, tetapi akan datang momen-momen yang sangat berbahaya bagi merekajika kehadiran mereka dianggap sebagai unsure asing yang mengganggu lingkungan. Investasi sektor swasta (pembiayaan pembanguan oleh sektor swasta) biasanyamasuk ke suatu negara sebagai hasil bersaing dalam daya tariknya dengan negara-negara lain. Begitu pula masuknya ke suatu wilayah/daerah. Daya tarik tersebutmungkin: faktor pajak yang relatif ringan, faktor prosedur pajak yang mudah, faktorinfrastruktur yang baik, faktor kemudahan-kemudahan yang disediakan pemerintahpusat/lokal, faktor sumber daya alam yang berlimpah, faktor tenaga kerja yangberlimpah/murah, pasar yang luas, dan sebagainya. Seorang investor di dalam membuatkeputusan investasi di suatu wilayah/daerah pasti memperhitungkan kemungkinankeuntungan dan risiko usaha yang akan dihadapi. Faktor keamanan dan kepastianhukum merupakan faktor penting untuk analisis ini. Faktor stabilitas pemerintah 184
  • 195. (pemerintahan yang kuat) bagi mereka penting untuk menjamin hukum berjalansebagaimana mestinya. 185
  • 196. DAFTAR PUSTAKAAmstrong, Harvey & Jim Taylor (1993), Regional Economics & Policy, 2nd Ed., Harvester Wheatsheaf, New York Anis Chaudhury and Colin Kirkbatrick (1994), Development Policy andPlanning An Introduction to Models and Techniques, Routledgr Blakely Edward J (1989), Planning Local Economic Development Theory andPractice, Sage PublicationBendavid, Avron-Lal (1991), Regional and Local Economic Analysis for Practitioners, 4th Ed., Praeger, New York.Bintoro Tjokroamidjoja (1983), Perencanaan Pembangunan, Gunung Agung, BandungC.S.T. Kansil (1985), Kitab Undang Undang Pemerintahan Daerah (KUPD), Bina Aksara, Jakarta.Edel Matthew and Jerome Rotherberg, Ed. (1972), Reading in Urban Economics, The Macmillan Company, New York.Friedmann, John and Michael Douglas (1976), Pengembangan Agropolitan Menuju Siasat Baru Perencanaan Regional di Asia, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.Friedmann, John and William Alonso (1975), Regional Policy: Reading and Application, MIT Press, Canbridge.Fu Chen Lo and Kemal Sholih (1976), Kutup-kutup Pertumbuhan dan Kebijakan Ekonomi, Universitas IndonesiaFujita, Masahisa (1989), Urban Economics Theory: Land Use and City Size, Cambridge University Press, New York.Fujita, Masahisa, cs. (2000), The Spatial Economy: Cities, Regions, and International Trade, MIT Press, USA.Glasson, John, terjemahan Aris Yakub (1990), Pengenalan Perencanaan Wilayah, Konsep Teori, dan Amalan, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala LumpurHansen, Niles M, Ed. (1972), Growth Centers In Regional Economic Development, The Free Press, New York.Henderson, J. Vernon (1994), Community Choice of Revenue Instruments, Regional Science and Urban Economics 24 (1994) 159 – 183, North Holland 186
  • 197. Henderson, Vernon (2002) How Urban Concentration Affects to Economic Growth, World Bank Working Paper.Holland, Stuart (1976), Capital Versus Regions,The Macmillan Press, New York.Hoover, Edgar M (1975), An Introduction to Regional Economics, 2ndEd., Alfred A. Knof, New York.Isard, Walter (1971), Methods of Regional Analysis, An Introduction to Regional Science, MIT Press, London.Iwan Jaya Azis (1994), Ilmu Ekonomi Regional dan Beberapa Aplikasinya di Indonesia, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.Iwan Jaya Aziz (1997), Impacts of Economic Reform on Rural-Urban Welfare: A General Equilibrium Framework, Jurnal Urban and Regional Development Studies No. 9.Kivell, Philip (1993), Land and The City: Pattern and Processes of Urban Change, Routlege, New York.Latif Adam (1994), Aplikasi Model Shift-Shere Analisis, jurnal Ekonomi dan Pembangunan, Vol II No. 1Puslitbang Ekonomi dan Pembangunan LIPI, JakartaLewis, Blane D (1998), The Impact of Public Infrastructure on Municipal Economic Development: Empirical Result From Kenya, Regional Urban Development Stadies Vol 10 N0.2.McCann, Philip (2001), Urban and Regional Economics, Oxford University Press, New YorkMudrajad Kuncoro (2002) Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia, Uniut Penerbitdan Percetakan AMP YPKN, Yogyakarta.Nafzinger, E Wayne (1997), The Economics of Developing Countries, 3th Ed., Prentice Hall, New Jersey.Portnov, Boris A and Evyatar Erel (1998), Clustering of The Urban Field as A Precondition for Sustainable Population Growth in Peripheral Areas: The Case of Israel, Regional Urban Development Studies Vol 10 No.2.Prapto Yuwono (1999), Penentuan Sektor Unggulan Daerah Menghadapi Implementasi UU 22/1999 dan UU 25/1999 (studi Kasus Kotamadia Dati II Salatiga), Kritis Vol No. 2 1999.Premert, Matthias and Uwe Wals (1994), Divergent Regional Development, Factor Mobility, and Nontrade Goods, Regional Science and Urban Economics 24 (1994) 707 – 722.Richardson, H.W (1969), Regional Economics, Praeger Publisher, New York. 187
  • 198. Samuelson, Paul A and William D Nordhaus (2001), Economics, 17th Ed., McGraw- Hill, New York.Sukanto Reksohadiprodjo dan A R Karseno (1994), Ekonomi Perkotaan, Edisi 3, Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.Temple, Marion (1994), Regional Economics, St. Martins Press Inc., New York.Todaro, Michael P (1994), Economic Development, 5th Ed, Longman Publishing, New York.Undang Undang No. 5 Tahaun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Di Daerah dan Undang Undang No. 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa, PT Pradnya Pramita, Jakarta 1989.Undang Undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, CV. Pustaka Mandiri, JakartaUndang Undang Republik Indonesia nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, CV. Pustaka Mandiri, JakartaUndang Undang Otonomi Daerah Tahun 2004, UU No.32 Thun 2004 Tedntang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 TentangPerimbangan Keuangan Antara Pemerintah Tusat dan Pemerintah Daerah, Cv Tamita Utama, Jakarta, 2004. 188
  • 199. RIWAYAT HIDUP PENULIS Penulis dilahirkan di Samalanga, Nanggroe Aceh Darussalam, tanggal 8 Agustus 1943 dari pasangan Teungku Peutua Ghalib – Hj. Cut Aman Fasisyah. Menammatkan Sekolah Dasar (SR) tiga tahun di Simpang Mamplam, Samalanga, Sekolah Dasar (SR) enam tahun pada SD Negeri 1 Samalanga, lulus tahun 1957. Melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) bagian B (Pasti Alam) pada SMP Negeri 1 Bireuen lulus tahun 1960, dan melanjutkan ke Selolah Menengah Atas (SMA) bagian B pada SMA Negeri Sigli lulus TAHUN 1963. Penulis pernah memasuki Fakultas Kedokteran UKI Immanuel (UKI Maranatha)di Bandung tahun 1963 dan tahun 1964 pindah ke Fakultas Kedokteran UniversitasPadjadjaran di Bandung, namun tidak berhasil menyelesaikannya. Tahun 1969 penulispindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran jurusan Ilmu Ekonomi dan StudiPembangunan (Umum) yang untuk tingkat persiapan sampai sarjana muda berstatussebagai mahasiswa Program Ekstensi dan selesai tahun 1979. Tahun 1983 penulismelanjutkan program S2 (Magister) pada Fakultas Pascasarjana Institut TeknologiBandung Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, pada waktu program ini masihberstatus kerjasama dengan Collage Univercity of London lulus tahun 1986. Tahun1998 melanjutkan pendidikan ke Program Doktor (S3) pada Program PascasarjanaUniversitas Padjadjran lulus tahun 2005. Penulis sudah mulai bekerja di bidang pendidikan sejak tahun 1964. Semulabekerja sebagai guru honorer pada sekolah-sekolah menengah Yayasan LPPM diBandung tahun 1964 – 1979. Tahun 1979 diterima sebagai Asisten Dosen di FakultasEkonomi Universitas Padjadjaran dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun1980 pada unit kerja Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Penulis pernahmendapat tugas dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) untuk ikutmembina Fakultas Ekonomi Universitas Islam Bandung dari tahun 1981 – 1996bersama Drs. Mansur Muliakusumah, MA, dan Drs Soelaeman Bhaehaki dan diujungtugas di sana pernah menjadi dekan untuk periode 1992 -1996. Disamping itu penulisjuga sebagai dosen non-organik Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat(SESKOAD) di Bandung 1986 -2001. Pengalaman berorganisasi, sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) 1957 -1963, anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1964 - 1978, anggota Ikatan SarjanaEkonomi Indonesia (ISEI) 1979 – sekarang, Anggota Ikatan Cendekiawan MuslimSeluruh Indonesia (ICMI) 1992 – sekarang (ikut dalam perisntisan berdirinya ICMIJawa Barat), Anggota Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) 1986 – sekarang,anggota Korp Alumni HMI (KAHMI) 1979 – sekarang, dan Anggaota IndonesianRegional Science Association (IRSA) tahun 2003 - sekarang. Pengalaman memimpinorganisasi sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bandung 1972, Ketua Umum BadkoHMI Jawa Barat 1974 – 1976, Wakil Ketua DPD KNPI Jawa Barat 1975 – 1978 (salahseorang deklarator berdirinya KNPI Jawa Barat). Ketua/anggota Presidium KAHMIJawa Barat 1998 – 2002, Ketua Dewan Penasehat KAHMI Jawa Barat 2002 – sekarang,anggota Dewan Penasehat Majlis Nasional KAHMI 2004 – sekarang. Bandung, 20 Oktober 2005 Penulis 189
  • 200. 190

×