Seni rupa moden kontemporer indonesia

104,870 views

Published on

3 Comments
10 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
104,870
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
766
Comments
3
Likes
10
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Seni rupa moden kontemporer indonesia

  1. 1. SENI RUPA MODERN KONTEMPORER INDONESIA
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur, Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat danHidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini secara tepat waktu. Semoga Bukuini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan memberikan wawasan terutama dalam menunjangproses belajar mengajar. Penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisanbuku yang berjudul, “Seni Rupa Modern Kontemporer Indonesia” ini. Penulis menyadari dalam menulis buku ini, masih terdapat banyak sekali kekurangan-kekurangan. Atas seizin pembaca maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yangmembangun agar dapat memperbaiki karya sehingga menjadi lebih baik di masa-masa yangakan datang. Akhir kata penyusun mengucapkan semoga buku ini dapat diterima dan bermanfaat bagiseluruh pembaca. Salatiga, Juli 2012 Penulis
  3. 3. DAFTAR ISIKata PengantarDaftar IsiBab I PendahuluanA. Membandingkan Karya Seni Rupa Modern Kontemporer dan TradisionalB. Pengertian Seni Rupa Modern KontemporerBab II Sejarah dan Perkembangan Seni Rupa Modern Kontemporer IndonesiaA. Sejarah Perkembangan seni Rupa Modern Kontemporer IndonesiaB. Perkembangan Seni Rupa Modern Kontemporer IndonesiaC. Tokoh- tokoh dan KaryanyaBab III Aliran Seni Rupa Modern Kontemporer IndonesiaA. ImpresionismeB. EkspresionismeC. RomantisismeD. LuminismeE. AbstrakismeF. KubismeG. RealismeH. NaturalismeI. SimbolismeJ. MonumentalismeK. FauvismeL. KubismeM. FuturismeN. AbsolutismeO. EsensialismeP. ElementarismeQ. SurealismeR. DadaismeS. Neo RealismeT. Neo KlasisismeU. Post-ModernismeBab IV Apresiasi Karya Seni Rupa Modern/Kontemporer IndonesiaA. Keunikan Gagasan Seni Rupa Modern Kontemporer IndonesiaB. Gagasan Seni Rupa Modern Kontemporer IndonesiaBab V PenutupA. KesimpulanB. SaranDaftar Isi
  4. 4. BAB I PENDAHULUANA. Membandingkan Karya Seni Rupa Modern Kontemporer dan Tradisional Karya seni rupa terus berkembang dan mengalami perubahan seiring waktu. Meskipun pada puncak kreativitas seni rupa kontemporer ada kecenderungan kembali mengkombinasikan karya seni rupa kepada nilai-nilai kuno, itu juga merupakan sebuah perubahan seni rupa menuju ke arah yang lebih maju. Karya suatu seni rupa terlahir dari suatu lingkungan masyarakat tertentu dengan berbagai peran dan tujuan. Sebagaimana karya-karya seni yang lainnya, seni rupa pada awalnya terlahir dari suatu sistem kepercayaan masyarakat lama yang menganut paganisme, animisme, dan dinamisme. Mereka menciptakan karya-karya seni rupa, terutama patung, sebagai alat komunikasi antara manusia dengan roh leluhur mereka. Meskipun belum ditemukan bentuk tulisan pada masa prasejarah, para ahli berkesimpulan bahwa peradaban manusia telah ada pada masa tersebut. Hal ini dapat dibuktikan melalui peninggalan-peninggalan karya seni rupa yang ditemukan dan diyakini berasal dari sejarah peradaban kuno. Bangsa-bangsa di Nusantara pada zaman prasejarah dikenal sebagai penganut animisme, yaitu penganut kepercayaan terhadap roh-roh leluhur dan nenek moyang serta benda-benda yang dianggap keramat. Pada awalnya, bentuk-bentuk persemayaman roh nenek moyang tersebut diwujudkan dalam bentuk-bentuk sederhana seperti bentuk Lingga dan Menhir, yaitu tugu batu yang menjulang tinggi berbentuk lingga (tonggak batu berbentuk silinder dengan ujung tumpul). Di beberapa tempat ditemukan guratan garis-garis pada menhir yang menyerupai mata, hidung, mulut, tangan, lengan, dan kaki secara sederhana sekali. Menhir, menurut dugaan para ahli, adalah tempat bersemayamnya roh-roh nenek moyang masyarakat zaman purba. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Nusantara kuno membuat barang-barang dari gerabah yang diberi perhiasan sederhana seperti bentuk menhir, bulatan-bulatan, dan sejenisnya. Di beberapa tempat, seni rupa dan karya masyarakat yang belum modern, masih
  5. 5. terjaga budaya seni rupa yang sepenuhnya lain dengan karya seni yang dapat kita temui padamasyarakat kita yang tentu saja lebih modern. Kehidupan nusantara memang tidak sama. Perbedaan tempat dan lokasi dan situasimenghasilkan orang dengan budaya yang berbeda. Tak jarang kita mengalami kejutan-kejutan budaya pada waktu kita berkunjung ke suatu tempat yang lain dari yang biasa kitatempati. Seni rupa dalam hal ini, mengalami kejutan yang sama. Di beberapa tempat ritualkeagamaan masih dipegang teguh, termasuk seni rupa dan medianya, namun di tempat lainyang lebih maju, seni rupa sudah mengalami perubahan dan pengikisan.Seni Rupa Tradisional Istilah tradisional berasal dari kata “tradisi” yang menunjuk kepada suatu lembaga,artefak, kebiasaan atau perilaku yang didasarkan pada tata aturan atau norma tertentu baiksecara tertulis maupun tidak tertulis yang diwariskan secara turun temurun dari suatugenerasi ke generasi berikutnya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka secara singkat dapatdikatakan bahwa karya seni rupa tradisional adalah karya seni rupa yang bentuk dan carapembuatannya nyaris tidak berubah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Seni rupa tradisional adalah segala hal yang berkaitan dengan nilai-nilai suatu komunitasmasyarakat tertentu yang dijaga secara turun temurun kemurnian dan keutuhannya.Berdasarkan pengertian ini, karya seni rupa tradisional dapat diartikan sebagai karya-karyaseni rupa yang merupakan hasil budaya suatu masyarakat tertentu yang telah lama hidup dandijaga dengan baik secara turun-temurun.yang termasuk karya seni rupa jenis ini di antaranyaadalah batik tulis jenis keraton, ukuran Toraja, patung suku Asmat, dan sebagainya.
  6. 6. Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com Gambar Patung Suku Asmat Bukan hanya itu, nilai dan landasan filosofis yang berada dibalik bentuk karya seni rupatradisional tersebutpun umumnya relatif tidak berubah dari masa ke masa. Bentuk-bentukseni rupa tradisional ini dibuat dan diciptakan kembali mengikuti suatu aturan (pakem) yangketat berdasarkan sistem keyakinan atau otoritas tertentu yang hidup dan terpelihara dimasyarakatnya. Dalam konteks perkembangan seni rupa di Barat (Eropa), istilah seni rupatradisional ini menunjukkan pada otoritas penguasa agama (gereja), raja dan para bangsawan.Para seniman tradisional menciptakan karya berdasarkan keinginan atau aturan yang telahditetapkan sesuai ”selera” institusi-institusi tersebut dan berlangsung dalam rentang waktuyang panjang, sepanjang kekuasaan institusi-institusi tersebut. Berdasarkan pengertian seni tradisional yang telah disebutkan di atas, kita menjumpaiberbagai karya seni rupa di Indonesia khususnya karya-karya seni kriya dapat dikategorikansebagai karya seni rupa tradisional. Banyak sekali benda-benda kriya yang tersebardikepulauan Nusantara, yang bentuk, bahan dan cara pembuatannya hingga saat ini tidakmengalami perubahan yang berarti sejak pertama kali diciptakannya. Karya-karya seni tradisiini umumnya hidup di lingkungan masyarakat yang masih kuat memegang norma atau adatistiadat yang diwariskan para leluhurnya. Perubahan umumnya terjadi pada fungsi daribenda-benda kriya tersebut yang semula berfungsi sebagai benda pakai atau benda-benda
  7. 7. pusaka kini menjadi benda hias atau cindera mata. Perubahan sistem sosial dan budayamasyarakat serta kemajuan teknologi berperan besar mempengaruhi perubahan fungsibenda-benda tersebut. Pada perkembangan selanjutnya dalam konteks seni rupa dunia, istilah seni rupatradisional kerap ditujukan kepada karya seni rupa non-Barat. Sifatnya yang mentradisi dantidak berubah ini menjadi pembeda utama dengan karya seni rupa modern yang senantiasamenuntut inovasi dan kebaruan. Ciri lain dari karya-karya seni rupa tradisional ini adalah latarbelakang penciptaan atau pembuatannya yang senantiasa terikat oleh fungsi atau kontekstertentu. Pada karya-karya komunal seperti itu, peran ekspresi individu senimannya nyaristidak tampak. Hak penciptaan karya seni rupa bukan milik perorangan tetapi milik masyarakatpendukungnya. Dengan demikian hampir tidak ada karya seni rupa tradisional yangmenggunakan inisial pembuatnya seperti yang umumnya terdapat pada karya-karya seniModern. Karya seni rupa tradisional tersebar luas dari ujung Barat hingga ujung Timur kepulauanNusantara (Indonesia). Sejak masuknya kolonialisme Barat (penjajahan bangsa Eropa) kekepulauan Nusantara dan berkembangnya paham seni rupa Modern di Eropa, maka karya-karya seni rupa Nusantara di luar kategori karya yang menggunakan konsep Modern tersebutdikategorikan sebagai karya seni rupa tradisional. Pengkategorian ini dalam pandangan yangsempit seringkali digunakan untuk menunjukkan karya seni rupa yang bermutu tinggi(modern) dengan karya yang bermutu rendah (tradisional). Pengaruh penjajahan bangsa Barat yang cukup lama di kepulauan Nusantaramenyebabkan pandangan semacam ini terus berkembang yang memandang karya-karya senikriya (seni rupa tradisional) lebih rendah dari karya seni lukis atau patung modern. Haltersebut tidak terlepas dari pandangan sebagian masyarakat yang memandang modernidentik dengan kemajuan dan perkembangan sedangkan tradisional identik dengan stagnasi,kuno atau ketinggalan jaman. Sikap dan cara mengapresiasi yang keliru ini seringkalimenyebabkan karya-karya seni rupa tradisional yang sesungguhnya bernilai tinggi terabaikandan terlupakan. Padahal karya-karya seni rupa tradisional Nusantara ini memiliki peluangyang sangat besar untuk dikembangkan dan menjadi gagasan dalam berkarya seni rupa.
  8. 8. Apresiasi yang tepat diharapkan dapat menghasilkan inovasi karya-karya seni rupa yang memiliki ciri khas Indonesia.B. Pengertian Seni Rupa Modern Kontemporer Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. Karya seni rupa modern kontemporer terlahir dari masyarakat modern yang berusaha meelpaskan diri dari ikatan-ikatan baku dan mapan yang terdapat pada masyarakat tradisional. Karya seni rupa modern adalah produk budaya kontemporer yang dinamis dan selalu mencari sesuatu sebagai gagasan dan atau media yang diungkapkan. Kelahiran aliran seni rupa kontemporer selalu merupakan reaksi penolakan atas kemapanan atau keberadaan aliran yang berpengaruh pada periode sebelumnya. a. Seni Rupa Modern Seni rupa Modern yaitu istilah umum yang digunakan untuk kecenderungan karya seni yang diproduksi sejak akhir abad ke-19 hingga sekitar tahun 1970-an. Seni rupa modern menunjuk kepada suatu pendekatan baru dalam seni dimana tidak lagi mementingkan representasi subjek secara realistik—penemuan fotografi menyebabkan fungsi penggambaran di dalam seni menjadi absolut, para seniman modern bereksperimen mengeksplorasi cara baru dalam melihat sesuatu, dengan ide segar tentang alam, material dan fungsi ini, seringkali bergerak melaju ke arah abstraksi. Modernisme adalah aliran atau mazhab estetika pembaruan yang mengiringi perkembangan desain dan seni rupa pada umumnya menjelang abad ke-20. Pada perkembangan akhir modernisme, cenderung mengagungkan fungsi menjadi nafas utama paham ini, terbukti hanya menampilkan bentuk kaku, kering dan mengakui seniman sebagai “Manusia Jenius”. Setiap karya seni modern selalu disertakan nama senimannya tersebut. Karya seni modern cenderung mengedepankan kesederhanaan dan bersifat universal. Seorang seniman modern akan melihat dunia yang sedang dihadapinya sebagai objek lukisan seolah-olah
  9. 9. seperti baru saja objek itu diciptakan. Satu syarat yang masih dituntut oleh seni modern danbahkan menjadi ciri khasnya ialah “kreativitas”. 1) Ciri-ciri dan Unsur Modernisme (Desain dan Seni Rupa) a. Ciri-ciri seni modern (Desain dan Seni Rupa) Minimalis. Rasionalitas/Rationality. Dominant bentuk-bentuk geometris. Tidak ada unsur ornament. Universal. Fungsionalitas diprioritaskan. Orisinalitas/kemurnian/purity. Penguatan dalam konsep. Kreativitas . Memutus hubungan dengan sejarah. b. Unsur-unsur Modernisme Eksperimen. Pembaruan (Inovation). Kebaruan (Novelty). Orisinalitas. 2) Fungsi dan Tujuan Seni Modern a) Memberi warna baru terhadap kebutuhan manusia baik secara fisik maupun psikis. Fisik : Munculnya bentuk-bentuk desain arsitektur yang baru dan desain-desain lainnya seperti alat-alat transportasi, fashion dll. Psikis: Mengurangi kejenuhan penikmat karya seni, karena muncul berbagai aliran baru seperti pada seni lukis dan cabang seni lainnya.
  10. 10. b) Meningkatkan popularitas para seniman, karena seni modern selalu menyertakan nama senimannya pada setiap karya yang diciptakan. c) Memberikan kemudahan masyarakat, karena banyak penemuan-penemuan baru dari hasil eksperimen para seniman modern. Karya seni modern ditandai dengan munculnya kreativitas untuk menciptakan sesuatuyang baru dan belum ada. Unsur kebaruan menjadi sangat penting dan harus ada dalampenyebutan karya seni modern. Karya seni modern mengutamakan aspek kreativitas dalamberkarya seni.Contoh karya seni rupa modern antara lain seni patung, seni lukis, seni kria, danseni grafis. Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com
  11. 11. Pengertian “modern” dalam terminologi seni rupa tidak bisa dilepaskan dari prinsipmodernisme atau paham yang mendasari perkembangan seni rupa modern dunia sampaipertengahan abad ke-20. Seni rupa modern dunia memiliki nilai-nilai yang bersifat universal.Dari penafsiran seorang pelukis Jerman yang pindah ke Amerika Serikat sesudah PerangDunia ke II, Hans Hofmann menyatakan hanya seniman dan gerakan di Eropa dan Amerikayang mampu melahirkan seni rupa modern, konsepsi poros Paris-New-York sebagai pusatperkembangan seni rupa modern. Seni modern lahir dari dorongan untuk menjaga standar nilai estetik yang kinisedang terancam oleh metode permasalahan seni. Modernisme meyakini gagasan progreskarena selalu mementingkan norma kebaruan, keaslian dan kreativitas. Prinsip tersebutmelahirkan apa yang kita sebut dengan “Tradition of the new” atau tradisi “Avant-garde”,pola lahirnya gaya seni baru pada awalnya ditolak, namun akhirnya diterima masyarakatsebagai inovasi terbaru. Seni modern dengan melahirkan Conceptual Art/ Seni Konseptual merupakan gerakandalam menempatkan ide, gagasan atau konsep sebagai masalah yang utama dalam seni.Sedangkan bentuk, material dan objek seninya hanyalah merupakan akibat/efek samping darikonsep seniman. Walapun kita sering menggunakan istilah seni rupa modern prinsip modernisme takpernah sungguh-sungguh berakar. Polemik kebudayan di tahun 30-an sangat mempengaruhipemikiran perkembangan seni rupa Indonesia. Hal ini dipertegas oleh Jim Supangkat 1992sebagai berikut: 1) Persentuhan seni rupa Indonesia dengan seni rupa modern sebenarnya hanya terbatas pada corak, gaya, dan prinsip estetik tertentu. Nasionalisme sebagai sikap dasar persepsi untuk menyusun sejarah perkembangan sejarah seni rupa Indonesia adalah kenyataan yang tak bisa disangkal dan nasionalisme sangat mewarnai pemikiran kesenian dihampir semua negara berkembang. Batas kenegaraan itulah yang mengacu pada nasionalisme yang akhirnya diakui dalam seni rupa kontemporer yang percaya pada pluralisme sejak zaman PERSAGI tidak pernah ragu menggariskan
  12. 12. perkembangan seni rupa Indonesia khas Indonesia (Jim Supangkat dalam Dharsono, 2004: 224). 2) Kendati seni rupa modern percaya pada eksplorasi dan kebebasan secara implisit akhirnya hanyalah mempertahankan prinsip-prinsip seni rupa Barat (tradisi Barat). Prinsip-prinsip modernisasi juga menetapkan tahap perkembangan yang didasarkan pada perkembangan seni rupa modern Eropa Barat dan Amerika (lihat sejarah). Di Indonesia prinsip-prinsip seperti itu tidak seluruhnya teradaptasi, akan tetapi muncul secara terpotong-potong kadang dalam bentuk yang lebih ekstrim. Catatan perkembangan pelukis Belanda yang diabaikan adalah catatan yang justrusecara mendasar memperlihatkan tanda-tanda perkembangan seni rupa modern. Kendatitidak terlalu nyata pergeseran yang terjadi pada tahun 1940-an ini menandakan senimanmulai mempersoalkan bahasa rupa dan cenderung meninggalkan representasi (menampilkanrealitas sebagai fenomena rupa). Pada tahun 50-an kecenderungan mempersoalkan bahasarupa itu menegaskan pada karya pelukis Ries Mulder yang waktu itu tinggal di Bandung.Ketika Ries Mulder merintis pendidikan seni rupa di Bandung (ITB), perkembangan seni rupadi alur ini memasuki era penjelajahan masalah bentuk rupa yang secara sadar meninggalkanrepresentasi. Ries Mulder memperkenalkan konsep-konsep seni lukis kubisme yang kemudiansangat berpengaruh di kalangan pelukis pribumi yang belajar padanya. Di tempat lain, ruangseni rupa di Jogjakarta pada saat itu dipenuhi dengan karya-karya realistis. Dari kenyataaninilah maka lahir kubu Bandung yang disebut sebagai laboratorium Barat. Hal ini dipertegasoleh A.D. Pirous bahwa: “…perguruan tinggi dibentuk dengan gaya, konsep dan teori kesenian Barat modern diajarkan pada mahasiswa, proses itu berjalan sedemikian sehingga pada tahun 50 dan 60-an , karya-karya mahasiswa seni rupa Bandung pernah dicap sebagai hasil laboratorium Barat (A.D. Pirous, 2003:56)” Akibat dari perkembangan ini, kemudian terjadi ketidaksetujuan antara kubu Bandung-Jogja yang memperlihatkan pertentangan dua tradisi besar seni rupa modern, yaitu kontradiksi tradisi realis dan modernis. Karya seni modern yaitu karya seni rupa yang ditandai dengan munculnya kreativitasuntuk menciptakan sesuatu yang baru dan belum ada. Unsur kebaruan menjadi sangat
  13. 13. penting dan harus ada dalam penyebutan karya seni modern. Karya seni modernmengutamakan aspek kreativitas dalam berkarya seni. Contoh karya seni rupa modern antaralain seni patung, seni lukis, seni kria, dan seni grafis. Corak karya seni rupa modern antara lain realis, naturalis, dekoratif, ekspresif, danabstrak. Jenis karya seni rupa modern Nusantara berupa karya seni lukis, patung, seni grafis,seni kria. Karya seni rupa modern yang bercorak realis adalah karya seni rupa modern yangmenampilkan bentuk yang menyerupai bentuk alam. Contohnya karya-karya seni lukis,patung, dan topeng yang meniru bentuk manusia, binatang, atau tumbuh- tumbuhan yangdibentuk mirip dengan bentuk aslinya. Bentuk realis dalam penciptaannya mengacu padabentuk alam dan berusaha meniru objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehinggabentuk yang dihasilkan sama persis bentuk yang ada dialam. Karya seni rupa modern yang bercorak dekoratif sama dengan corak dekoratif pada senirupa tradisi, yakni berusaha menyederhanakan bentuk dengan cara distilasi atau diubahsesuai dengan cara-cara tersendiri oleh penciptanya. Seni rupa modern bercorak abstrak adalah karya seni rupa modern yang bentuknya tidakmeniru dan mengacu bentuk yang ada di alam. Bentuk yang ditampilkan adalah bentuk-bentuk imajinasi yakni bentuk hasil kreasi seniman sendiri. Bentuknya bermacam- macam adayang berupa karya seni patung, lukis, kria. Penciptaan karya seni rupa modern sedikit berbeda dengan penciptaan karya seni tradisi.Dalam proses penciptaan karya seni modern lebih bebas dalam menuagkan iide atau gagasandan tidak terikat oleh aturan- aturan. Oleh karena itu, karya seni rupa modern banyakberfungsi sebagai media ekspresi. Di samping itu, karya seni rupa modern berfungsi sebagaimedia kritik sosial dan sebagai benda estetis. Istilah Modernisme sendiri menunjukkan ideologi yang mempengaruhi gerakan budaya,politik dan seni yang menyertai perubahan masyarakat di Barat pada akhir abad 19 dan awalabad 20. Secara meluas, modernisme dideskripsikan sebagai satu seri pergerakan budayaprogresif dalam seni rupa, arsitektur dan musik, literatur dan seni pakai yang muncul dalamdekade sebelum tahun 1914.
  14. 14. Tercakup di dalam perubahan dan kehadirannya, modernisme menjadi arah karyaseniman, pemikir, penulis dan perancang yang memberikan label baru tradisi akademi dansejarah seni pada akhir abad 19 serta mengkonfrontasi aspek ekonomi, sosial dan politik baruyang dimunculkan dunia modern. Memahami seni rupa modern dapat juga dengan melakukan analisis terhadap istilahpembentuknya yaitu ”seni” dan ”modern”. Istilah seni umumnya merujuk pada segalakegiatan dan hasil karya manusia yang mengutarakan pengalaman batinnya yang karenadisajikan secara unik dan menarik memungkinkan timbulnya pengalaman atau kegiatan batinpula pada diri orang lain yang melihat dan menghayatinya. Hasil karya ini lahir bukan karenadidorong oleh hasrat memenuhi kebutuhan hidup manusia yang paling pokok, melainkanoleh kebutuhan spiritualnya, untuk melengkapi dan menyempurnakan derajatkemanusiaannya. Dengan batasan seperti ini kita dapat mencoba untuk menunjukkan benda apa saja yanglayak untuk disebut seni dapat masuk ke dalamnya. Adapun istilah “modern” dalam hal initidak selalu harus dihubungkan dengan waktu. Sarah Newmeyer misalnya, walaupun terasaagak absurd, menulis dalam bukunya bahwa seni modern itu boleh jadi berupa gambar bisonyang digoreskan 20.000 tahun yang lalu dan boleh jadi juga karya Picasso yang baru sajadiselesaikan pagi ini.‟ Berdasarkan pendapat ini jelaslah bahwa ia menggunakan istilahmodern tidak dalam hubungannya dengan kronologi melainkan dimaksudkan untukmenunjukkan sesuatu kelompok karya yang memifiki sifat-sifat tertentu. Maka sifat-sifattertentu itulah yang dapat dipandang sebagal ciri khas seni modem sehingga dengan mudahakan dapat dikenali mana yang bisa digolongkan dalam seni modern dan mana yang tidak. Dengan ungkapan itu sesungguhnya artian modern tersebut diperluas tetapi sekaligusjuga dipersempit. Diperluas, karena istilah itu menyangkut juga seni prasejarah dandipersempit karena sebaliknya, belum tentu apa yang dilukiskan sekarang dapat masuk didalamnya. Apabila kita ingin membenarkan kata-kata Newmeyer tersebut, dapatlahdikatakan bahwa setidaknya pada saat diciptakan, seni prasejarah ini memang memifiki sifat-sifat modern. Kalaupun secara kronologis kita akan membatasi daerah seni modern ini danmenyempitkan pada karya-karya yang diciptakan pada apa yang biasa kita sebut sebagai
  15. 15. jaman modern, kita akan juga mengalami kesukaran, yaitu di mana menarik garis batasnya;kapan dan di manakah mulainya seni rupa modern itu. “Modern art begins nowhere becauseit begins everywhere. It is fed by a thousand roots, from cave paintings 30,000 years old to thespectacular novelties in the last week’s exhibitions,” kata Canaday yang kurang lebihmenunjang ungkapan Newmeyer di atas. Semua pencapaian dari masa ke masa di banyak tempat di dunia ini memberikanandilnya pada pembentukan seni modern, sehingga susahlah untuk menentukan kapan dandi mana periode seni rupa modern itu sebenarnya mulai. Maka untuk itu, sekali lagi, kitaharus mempunyai pegangan, kualitas apakah yang paling berharga dalam seni moderntersebut dan dengan itu mencoba untuk mencari kapan kualitas tadi mulai ada atauberkembang biak dengan baik (Soedarso, 2000). Kalau kita mengacu periodisasi sejarah umum di Eropa—dimana sebagian besar kejadiandalam panggung sejarah seni rupa modern ini berlangsung—maka babakan sejarah modernEropa dianggap mulai sejak zaman Renesans pada abad ke-15 sedangkan sejarah seni rupamodern di Eropa baru pada abad ke-19, dengan munculnya tokoh pelukis J.L. David diPerancis yang dianggap memiliki sesuatu yang dapat disejajarkan dengan kualitas moderntadi. Bahkan ada pula yang menganggap seni modern Eropa dimulai pada massa yang lebihakhir lagi. Seperti telah diuraikan di atas, seni modern pada dasarnya tidak terbatas oleh hal-halyang kasatmata seperti objek-objek lukisan tertentu ataupun corak dan gaya tertentu,melainkan ditentukan oleh sikap batin senimannya. Seni modern pun, berkat perkembangankomunikasi modern yang menyertai kemajuan teknologi, tidak kenal lagi akan batas-batasdaerah dengan kekhasan tradisinya masing-masing. Seni modern menjadi universal sifatnya. Walaupun di sana-sini ada pula terdapat cap-cap daerah atau ada kalanya seni tradisi secara sadar atau tidak dimunculkan oleh seseorangpelukis modern ke dalam hasil karyanya, namun kenyataannya kita akan kesulitan untukdapat menebak dari mana asal sesuatu lukisan yang dihadapkan kepada kita. “Today theboundaries are vague Horizons are infinite; the artist is tempted to explore in a hundreddirections at once.” Tulis Canaday pula.
  16. 16. Mengenai yang terakhir ini, yaitu bahwa para seniman modern terangsang untukmenjelajah ke segala arah, kebenarannya tidak hanya sebatas arah di peta bumi saja, bahwamisalnya banyak seniman Eropa meninggalkan negerinya untuk mencari objek lukisan yanglain, tetapi juga karena daerah perhatian mereka itu meluas ke mana-mana. Bukan hanyapemandangan yang indah dan wanita cantik saja yang ingin dilukisnya, tetapi juga toilet bekasyang sudah tidak terpakai lagi atau kulit pokok kayu yang memiliki jenis permukaan atautexture yang unik, atau bahkan jaringan sel-sel yang hanya dapat diamati melalui mikroskopyang dulu sama sekali tidak terjamah oleh perhatian seniman, kini menjadi lahan yang suburbagi objek lukisan para seniman modern. Dengan ini jelaslah bahwa bagi mereka itu senimodern tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, bahkan di sana-sini juga tidak terikat olehtatabahasa maupun kaidah-kaidah seni yang sudah mapan. Mereka sanggup menerimasegala macam bentuk seni hampir dengan tiada bersyarat. Batasan-batasan yang dulu adaseperti ikatan tradisi (spirit of the race) atau ikatan zaman (spirit of the age), demikian jugaketentuan-ketentuan tentang isi ataupun tema telah disisihkan semuanya. Satu syarat yang masih dituntut oleh seni modern yang bahkan merupakan ciri khasnya,ialah “kreativitas”. Dan sebuah perkataan ini tercantumlah beberapa sifat yang merupakangejala-gejalanya. Oleh karena itu untuk menghindarkan istilah „modern‟ yang bermukabanyak itu ada pula yang menamai seni modern tersebut dengan istilah “seni kreatif”.Seorang seniman modern akan melihat dunia atau bagian daripadanya yang sedang dihadapisebagai objek dari lukisannya seolah-olah seperti baru saja objek itu diciptakan. Artinya,seakan-akan baru sekali itu saja ia menghayatinya dan baru kali itu pula mencoba untukmelukisnya, walaupun kenyataannya sudah berkali-kali Ia melukiskan objek tersebut, danentah telah berapa kali ia melihatnya.
  17. 17. Sumber gambar: http://widia.webuda.com Kita tidak tahu sudah berapa kali pelukis kita yang terkenal, Affandi, melukis potret diriya.Namun setiap kali kita menatapnya, sekian kali pula kita menemukan sesuatu yang baru padakarya-karya itu, karena sang pelukis setiap kali selalu menghayati kembali dan mendapatkanpengalaman baru dalam objeknya, walaupun objek itu adalah dirinya sendiri. Seorang pelukis lain harus melupakan kuda atau gambar kuda yang telah seribu kalidilihatnya apabila ia akan melukis seekor kuda. Ia harus melihat kuda itu dengan matakepalanya sendiri— atau mata hatinya—dan memperoleh impresi pertama dari pengalamantersebut. Sebagaimana kita ketahui, hasil pengamatan itu amat dipengaruhi oleh pengalaman,pengetahuan serta kesan si pengamat atas objek pengalaman yang sudah dimilikisebelumnya yang tentunya berbeda dari tiap pengamat yang lain, dan kiranya jugadipengaruhi oleh suasana hati Si pengamat itu sendiri ketika Ia sedang mengamatinya. Yangteràkhir inilah yang menuntut pengamatan itu harus selalu dilakukan setiap saat seseorangakan berkarya. Dalam hubungannya dengan keadaan tersebut, kira-kira 100 tahun yang laluGustave Courbet, Si pelopor realisme dari Perancis itu, pernah berharap agar museum-museum ditutup saja sekurang-kurangnya 20 tahun lamanya agar para seniman muda tidak
  18. 18. sempat berdialog dengan karya-karya yang ada di dalamnya yang semuanya merupakan hasilpengamatan orang lain. Ia berkeinginan agar apa yang pernah diciptakan orang tidakmempengaruhi pengamatan pelukis berikutnya. Mungkinkah itu dan perlukah itu, adalahsoal-soal lain yang harus dijawab lewat ilmu pendidikan seni rupa. Sikap batin yang demikian itulah yang membedakan seniman modern dan golongantradisional ataupun akademik—yang sekarang juqa sudah menjadi tradisional. Sikap batinyang tidak stereotype (prasangka), yang selalu ingin akan yang baru dan yang lain dari padayang lain. Kreativitas: sangat penting dalam seni modern, dan dalam kretivitas iniberkembanglah sifat-sifat originalitas, kepribadian, kesegaran, dan sebagainya. Denganbayaran apapun (yang kadangkala sangat tinggi, dengan mengorbankan nilai-nilai yangsesungguhnya masih baik dan masih diperlukan oleh seni yang manapun juga), para senimanmodern amat menghargai dan mengejar-ngejar nilai-nilai tersebut yang singkat kata dapatdisebut sebagai nilai kebaruan atau novelty. Apabila seorang anak menunjukkan coreng moreng dan mengatakan bahwa itu adalahgambar anjing atau kucing, maka kiranya itulah konsepnya atas hewan-hewan tersebut yangbelum sempat “diperbaiki” oleh hubungan anak itu dengan tradisi dan masyarakatdisekitarnya. Karya-karya itu adalah ekspresi anak tersebut yang masih murni. Seorang-seniman dewasa tidak mungkin berada dalam keadaan semurni itu karena iatidak dapat melepaskan diri dari ikatan sosial yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu seorangseniman modern dengan sadar berusaha untuk membebaskan dirinya dari ikatan tersebutdalam hubungannya dengan tanggapannya terhadap objek. Berhasil atau tidaknya usaha initidak selalu identik dengan keberhasilan karya seninya. Maka usaha dan sikap batin itulahyang harus menjadi ukuran, bukan semata-mata hasil usahanya. Sekalipun tidak sedikit yang mendiskreditkan seni lukis yang realistik dan lingkungan senimodern, namun bertolak dari pendapat di atas tentunya ada juga lukisan yang bergayarealistik itu yang dapat digolongkan dalam seni modern, yaitu apabila sikap batin si senimandalam melukisnya dapat dikembalikan kepada watak seni modern di atas; yaitu apabila siseniman tidak bertindak stereotype dan selalu mengadakan pengamatan dahulu sebelum
  19. 19. melahirkan karya realistiknya. Perlu ditekankan bahwa bagaimanapun juga lukisan atau hasilseni yang lain itu selalu merupakan interpretasi si seniman dalam menanggapi objeknya. Baik hasil seni itu merupakan suatu taferil yang secara perspektif dapatdipertanggungjawabkan ataukah bercorak dekoratif ala Mesir kuna, keduanya adalahinterpretasi juga. Pada suatu saat seorang seniman menggunakan imajinasi atau visinya untukmenangkap objek lukisannya sehingga terjadilah “perspektif susun timbun” seperti yang adadi Mesir kuna itu, tetapi pada saat lain ia menggunakan ketajaman matanya yang kemudianternyata menjadi pendorong diketemukannya perspektif di zaman Renaisance. Namun keduanya jelas tidak berhasil dalam memberikan kepada kita “realitas” objeknyasecara total; yang satu mengikuti ide atau pengertiannya tentang objek itu dan dengandemikian terjadilah karya yang ideoplastik yang secara visual tampak tidak wajar, dan yanglain menganak-emaskan matanya membentuk suatu lukisan yang lebih “enak” dipandangmata (visioplastik) walaupun masih belum terhindar dari “kesalahan”. Dapat disaksikanmisalnya, meja yang bujur sangkar menjadi tidak sama lagi panjang sisi-sisinya, sudut-sudutnya tidak 90° tetapi ada yang tumpul dan ada yang runcing, dan kakinya yang empatseringkali hanya kelihatan tiga. Dalam sebuah gambar pemandangan sering terlihat tiang-tiang listrik yang samatingginya tergambar tidak sama tinggi; makin jauh jaraknya dan ukurannya menjadi makinpendek. Akibat luasnya daerah seni modern itu maka variasi yang terdapat di dalamnya puntak terhingga pula jumlahnya, sehingga tidak mungkin untuk memasukkannya ke dalam suatudefinisi yang formal. Pada saat semua objek yang kasatmata ini mulai mengering dan makin susahmenawarkan hal-hal baru yang menarik, kreatif, dan lain dan pada yang lain, makaperkembangan ilmu jiwa dalam ala Freud (Sigmund Freud) menampilkan lahan baru yangtidak kering-keringnya, yaitu dunia imajinasi manusia. Dunia baru ini tidak ada batasnya,kecuali batas kemampuan manusia untuk menyadarinya atau batas kreativitas seniman untukmenemukan inovasinya. Sementara itu, penemuan teknik fotografi dalam satu hal telah mengurangi daerahgerak seni lukis, karena fotografi yang dengan cepat dan tepat mampu merekam objek itu
  20. 20. menggantikan sebagian fungsi seni lukis yaitu fungsi dokumentatif dan fungsi menyajikanpresentasi realistik bagi objek-objeknya. Sejak berkembangnya fotografi tersebut seni lukistidak lagi dibebani dengan fungsi sosial berupa penggambaran secara visual ataupunpembuatan gambar-gambar ilustratif untuk bermacam tujuan. Namun perlu juga diingatbahwa di lain pihak fotografi telah sempat pula memperluas daerah jelajah seni lukis. Banyak teknik-teknik melukis di zaman teknologi tinggi ini yang menggunakanpertolongan fotografi. Ilustrasi – ilustrasi tertentu sekarang ini memang masih ada yangdikerjakan dengan tangan, tetapi itupun sudah diadaptasi dengan seni modern, artinya,kekreatifan diperlukan juga di dalamnya, sedangkan yang betul-betul memerlukan ketepatanpresentasi objek lebih baik disajikan saja dengan menggunakan kamera. Maka oleh karena itutimbullah kemudian perbedaan antara “representasi” dengan “interpretasi”, antara citra danlambang, yang merupakan fondasi yang kuat untuk menelaah perkembangan seni modern. Dari masa lampau kita mengenal adanya patronage (patron) dalam seni, yaituperlindungan terhadap seni yang diberikan oleh tokoh-tokoh penguasa atau gereja demikelangsungan perkembangannya. Pasang surutnya kemampuan pelindung atau penunjangseni ini dalam melakukan fungsinya besar sekali pengaruhnya dalam perkembangan senimodern. Misalnya, apabila pada masa kejayaannya patron-patron seni tersebut adalahdiktator-diktator seni yang bisa memaksakan arah perkembangan seni karena merekalahyang membiayainya, maka kini sebaliknyalah yang terjadi; mereka itu yang harus tunduk padakemauan para seniman. Pada zaman modern ini seniman tidak lagi menunggu uluran tangan mereka yangmemiliki uang untuk menciptakan karyanya. Mereka mampu membiayai sendiri ciptaan-ciptaannya. Hal ini dimungkinkan pula antara lain oleh makna populernya seni-seni kecilsemacam lukisan ukuran esel (easel-painting) atau patung dada ukuran sebenarnya (life size),yang biayanya relatif murah dan dapat diusahakan sendiri oleh para seniman penciptanya,sehingga karenanya mereka dapat melepaskan diri dari ketergantungannya pada seorangpelindung. Sebagaimana diketahui di masa lampau, pada saat keemasan agama atau di waktukejayaan kekaisaran yang absolut, yang berkembang sangat menonjol adalah jenis keseniankolosal, lukisan dinding yang besar-besar, arsitektur istana dan gereja, maupun patung-
  21. 21. patung besar yang disejajarkan dengan kebesaran para pendukungnya yang tidak mungkin diusahakan sendiri oleh senimannya. Dengan demikian si sponsor ini menjadi penentu kemanaseniman atau karya seni akan di arahkan. Pecahnya Revolusi Perancis pada tahun 1789 merupakan titik akhir dan kekuasaanfeodalisme di Perancis yang pengaruhnya terasa juga pada bagian-bagian dunia lainnya.Demikian pula revolusi ini ternyata tidak hanya merupakan perubahan tata politik dan tatasosial saja, tetapi juga menyangkut kehidupan seni, karena dengan ini berarti berakhir pulalahpengaruh raja atas kehidupan dan perkembangan seni. Jauh sebelum itu antara gereja danseniman telah pula terjadi keretakan hubungan yang di satu fihak disebabkan olehkemunduran fungsi dan daya tarik gereja di masyarakat sejak zaman Renaisance dan di lainfihak karena dunia seni telah menemukan tuannya yang baru, yaltu raja dan para bangsawanyang merupakan penguasa-penguasa dan pemilik harta sejak kemerosotan fungsi gereja.tersebut. Oleh karena itu, kini para seniman modern menjadi tokoh-tokoh yang bebas, melayang-layang tanpa tambatan. Mereka tidak punya lagi fungsi yang terang dalam tatà sosial yangbaru itu. Maka lambat laun terbentuklah kelompok baru dalam masyarakat, ialah kelompokseniman. Sedikit demi sedikit mereka mulai mencipta semata-mata memperturutkanpanggilan hati masing-masing, melukis bukan karena ada yang meminta atau memberi tugas,melainkan semata-mata karena ingin melukis saja. Maka dengan demikian mulailah riwayatseni lukis modern dalam sejarah yang ditandai dengan individualisasi dan isolasi diri ini.b. Seni Rupa Kontemporer Karya seni rupa kontemporer adalah karya seni rupa masa kini. Karya seni rupa kontemporer lebih dipengaruhi oleh waktu dimana karya seni tersebut diciptakan. Umumnya tema yang diangkat dalam karya seni kontemporer adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi dan kondisi saat karya tersebut. Istilah kontemporer sendiri berasal dari kata contemporary yang berarti apa-apa atau mereka yang hidup pada masa yang bersamaan (D. Maryanto, 2000). Walaupun demikian istilah “seni rupa kontemporer” ternyata tidak dapat begitu saja dapat diterjemahkan sebagai seni dengan sifat kekinian seperti dijelaskan di atas. Istilah seni
  22. 22. rupa kontemporer di Barat pada kenyatannya masih menimbulkan perdebatan,terutama karena tidak ada ciri dominan yang dapat dirujuk untuk menunjuk kepadasuatu praktek atau bentuk seni yang baku. Di Barat, wacana kontemporer dimulai dengan menunjukkan pada berakhirnya eramodernisme dalam seni rupa (modern art). Berakhirnya era ini memunculkanterminologi baru yang kemudian dipakai dalam praktek seni rupa di Barat yaitukecenderungan seni rupa beraliran posmodern (post-modernisme). Istilah posmodernsendiri ternyata menyimpan persoalan—karena terlalu rumit pengertian yangdibawanya—sehingga lebih banyak digunakan istilah seni rupa kontemporer(contemporary art). Walaupun demikian, istilah ini masih mendatangkan masalah karenatidak mengarah pada pengertian seni rupa tertentu. Kerumitan ini ditambah denganpengertian contemporary yang secara leksikal sama dengan pengertian modern yangberarti juga ”masa kini” (A. Irianto, 2000). Seni rupa kontemporer dapat dikatakan sebagai sebuah wacana dalam praktek senirupa di Barat yaitu praktek seni rupa yang menunjuk kepada kecenderungan posmodern.Kecenderungan ini menyiratkan wacana dalam praktek seni rupa yang “anti modern”.Hal ini disebabkan karena salah satu paradigma kemunculan posmodern adalahparadigma yang menolak modernisme. Sifat-sifat modern yang ditolak diantaranya adalah semangat universalisme,kolektivitas, membelakangi tradisi, mengedepankan teknologi, individualitas (I. M. Pirous,2000) serta penolakan (pelecehan) non-Barat. Sifat-sifat modern ini padaperkembangannya seolah-olah mengesampingkan berbagai produksi kesenian non-Baratyang dianggap lebih rendah dari seni modern karena bersifat tradisional. Sifat inilah yangditentang oleh penganut seni rupa posmodern karena sifat-sifat modern tadi tidakmengakui karya seni rupa tradisonal yang dihasilkan oleh budaya komunal sebagai karyaseni rupa yang sejajar dengan karya seni rupa modern.
  23. 23. Sumber gambar: http://art-burger.com Andy Warhol Portrait in pop art Ciri kontemporer dalam wacana seni rupa kemudian dikukuhkan dengan semangatpluralisme (keberagaman), berorientasi bebas serta menghilangkan batasan-batasankaku yang dianggap baku (konvensional) dalam seni rupa selama ini. Dalam seni rupa kontemporer batasan medium dan pengkotak-kotakan seni seperti“seni lukis”, “seni patung” dan “seni grafis” nyaris diabaikan. Orientasi bebas danmedium yang tidak terbatas memunculkan karya-karya dengan media-mediainkonvensional serta lebih berani menggunakan konteks sosial, ekonomi serta politik(Sumartono, 2000).. Walaupun ada pemaknaan khusus dalam wacana seni rupa kontemporer seperti telahdisebutkan di atas, tetapi arti leksikal yang menunjukkan konteks kekinian tidak dapatdiabaikan begitu saja. Berdasarkan konteks kekinian, seni rupa kontemporer dapat
  24. 24. dipandang sebagai karya seni yang ide dan pembahasannya dibentuk serta dipengaruhisekaligus merefleksi kondisi yang mewarnai keadaan zaman ini tempat “budaya global”menyeruak, yang menebarkan banyak pengaruh yang menjadi penyebab berbagaiperubahan dan perkembangan. Dengan demikian konsep seni rupa kontemporer yang dimaksud dalam tulisan inidapat dipakai untuk menunjukkan wacana seni anti-modern yang mengagung-agungkanuniversalitas, menggunakan medium inkonvensional, berorientasi bebas, tidak terikatpada konvensi-konvensi yang baku, meniadakan pengkotak-kotakan serta lebih beranimenyentuh persoalan sosial, ekonomi serta politik. Persoalan sosial, ekonomi dan politikini diwarnai dengan keadaan zaman di mana budaya global banyak memberikanpengaruh terhadap perubahan dan perkembangan yang bersifat kultural. Corak karya seni kontemporer ada bermacam-macam antara lain bercorak realis,abstrak, dekoratif, dan ekspresif. Contoh karya seni kontemporer antara lain seni lukis,seni patung, dan seni instalasi. Karya instalasi lebih bervariasi, baik menyakut temanyamedia yang dipakai maupun teknik penciptaan. Karya seni rupa instalasi umumnya lebihmengedepankan pemikiran-pemikiran atau konsep penciptaan karya daripada bentukvisualnya. Karya seni rupa kontemporer diciptakan sebagai media ekspresi bagi penciptanyauntuk menuangkan gagasan, hal-hal yang dicita-citakan, pikiran, perasaan, ataupandangan hidup dari penciptanya. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkanbahwa fungsi karya seni rupa baik tradisi, modern, maupun kontemporer yaitu sebagaimedia ekspresi, sebagai hiasan (dekorasi) untuk mengungkapkan kenyataan (realitas)untuk mengabdikan sesuatu, untuk mengungkapkan nilai-nilai keagamaan (religi),untukmengungkapkan fantasi (daya imajinasi), untuk menciptakan keharmonisan untuk kritiksosial. Disamping itu karya seni berfungsi sosial atau untuk kepentingan sosial. Misalnyadapat dipakai sebagai penerangan, informasi, dan pendidikan yang menyangkutkepentingan umum dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampakmodernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah
  25. 25. sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi seni kontemporeradalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuaizaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikansituasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat padaRennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern. Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu).Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara tematikmerefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Atau pendapat yang mengatakan bahwa“seni rupa kontemporer adalah seni yang melawan tradisi modernisme Barat”. Inisebagai pengembangan dari wacana pascamodern (postmodern art) danpascakolonialisme yang berusaha membangkitkan wacana pemunculan indigenous art(seni pribumi). Atau khasanah seni lokal yang menjadi tempat tinggal (negara) paraseniman. Dalam pengertian lain, menurut kamus umum bahasa Indonesia susunan J.S Badududan Muhammad Zaid, terdapat tiga leksikal tentang kata kontemporer, yaitu pertama“semasa atau sezaman”, kedua “bersamaan waktu”, dan yang ketiga adalah “masa kiniatau dewasa ini”. Untuk menjelaskan lebih jauh, Badudu memberikan satu contohkalimat, yakni “seni kontemporer tidak dapat bertahan lama” (Badudu Zain : 1994 : 714).Dengan contoh ini Badudu ingin menegaskan bahwa seni kontemporer adalah seni yangbertahan sezaman saja. Dengan denikian, kata masa kini juga berarti sezaman, masa saatsekarang. Sementara itu, Oxford dictionaty (1994:253) memberikan pengertian yangkurang lebih sama, yakni living or occurring at the same time, dating from the sametimes. Dari makna leksikal diatas nampak bahwa masalah waktu kesezamanan atau kekinianmerupakan batasan tegas dalam konsep itu. Dengan demikian, seni rupa kontemporerbisa diartikan sebagai seni rupa atau aktifitas kesenian pada saat ini. Pengertian ini jelasmasih sangat umum, bahkan bisa dikatakan ambigu. Bersifat umum sebab tidak merujukpada satu genre, paham, ideologi dan lain-lain sehingga bisa dikatakan bahwa seni rupamasa kini adalah seni rupa yang berciri tertentu.
  26. 26. Sementara itu, batasan waktu masa kini sebagai pengertian kontemporer jugabersifat ambigu. Ia akan sangat tergantung pada zaman seseorang itu menggunakannya.Dengan demikian dekali lagi bisa ditegaskan bahwa kontemporer yang dilekatkan padafrase seni rupa bukan merupakan istilah yang merujuk pada sebuah aliran atau gayaberkesenian, melainkan hanya sebuah aktifitas berkesenian yang dianggap terkini padasetiap zaman bersangkutan. Dibarat sendiri, yang nota bene sebagai pihak pertamayangmemunculkan istilah contemporary art, pengertian yang sama juga terjadi. Arthur Dantomengatakan bahwa belum terbentuk definisi seni kontemporer dalam konteks “gayakontemporer”. Sejauh ini, penyebutan istilah seni rupa kontemporer tidak problematik. Persoalan-persoalan baru muncul ketika istilah tersebut dikaitkan dengan wacana yangberkembang dalam dunia kesenian secara umum dan seni rupa itu sendiri secara khusus.Dalam ranah ini istilah seni rupa kontemporer sering dihubungkan dengan sebuah gejalasenirupa yang membedakan dirinya dari seni rupa sebelumnya, yakni seni rupa modern..seni rupa kontemporer di kategorikan sebagai karya yang dihasilkan oleh paradigmapostmodern. Sehingga beberapa pihak acap menyulih istilah kontemporer denganpostmodernisme. Danto(1995:10) mengatakan istilah seni rupa kontemporer bisa digantikan dengan seni rupa postmodern, dan menurutnya, istilah yang terakhir ini bisadianggap yang lebih mendasar. jadi, kontemporer sendiri adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampakmodernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalahsesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi seni kontemporeradalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuaizaman sekarang.
  27. 27. Sumber gambar: http://arijose.tumblr.com Menurut pendapat lain justru berbanding terbalik Paham postmodern ataukontemporer menyuarakan penentangannya terhadap kemapanan paham modern yangtelah membawa manusia kehilangan jati dirinya, sehingga mengakibatkan masyarakatyang seragam, serba kaku, mengabaikan keanekaragaman budaya bangsa-bangsa didunia, sedangkan postmodern memberi ruang gerak yang lebih luas terhadaptumbuhnya kebudayaan bangsa-bangsa yang begitu bervariasi. Berbagai kebingungan dengan istilah pasti akan di temukan disini. Seni rupacenderung bisa di definisikan dengan terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksudpostmodern itu sendiri. Tapi istilah ini akan sulit dipahami tanpa memperbandingkandengan paradigma yang mendahuluinya, yakni modern. Dengan menjelaskan hubungan-hubungan ini orang sering menumpangtindihkan beberapa istilah, yakni modern,modernitas, modernisme, postmodern, dan postmodernisme.untuk itu sebelunmyaistilah-istilah ini perlu didefinisikan dengan jelas. Yasraf amir piliang (2006:75)menjelaskan istilah-istilah tersebut dengan menunjukkan perbedaan-perbedaannya.
  28. 28. 1. Modern-posmodern Istilah ini mengacu pada watu, era, zaman, dan semangat zaman. Postmodern bisa dikatakan sebagai waktu, era, zaman, dan semangat setelah modern.2. Modernitas-posmodernitas Istilah ini mengacu pada kondisi, keadaan, situasi umum, realitas, dan dunia kehidupan. Modernitas adalah sebuah kondisi, keadaan, situasiumum, realitas, dan dunia kehidupan yang memiliki ciri kemajuan, intregrasi, keterpusatan, kontinuitas, dan kebaharuan. Sedangkan posmodernitas adalah kondisi, keadaan, situasi umum, realitas, dan dunia kehidupan yang memiliki ciri nostalgia, pastiche, disintregrasi, fragmentasi, heterogenitas, dan decentering.3. Modernisme-posmodernisme Istilah ini mengacu pada gerakan, gaya, ideologi, kecenderungan, metode, cara hidup dan keyakinan. Modernisme adalah gerakan, gaya, ideologi, kecenderungan, metode, cara hidup, dan keyakinan yang mengacu pada universalisme, internasionalisme, imperalisme, etnosetrisme, dan rasisme. Postmodernisme adalah gerakan, gaya, ideologi, kecenderungan, metode, cara hidup, dan keyakinan yang mengacu pada pluralisme, dekonstruksionisme, multikulturalisme, pokolonialisme, dan fenimisme. Tampak dari istilah diatas modern berbanding lurus dengan modernitas dan modernisme. Istilah ini kemudian dapat dipahami berbanding terbalik dengan pestmodern, postmodernitas dan postmodernisme. Mengacu pada istilah diatas, seni rupa yang memiliki kecenderung pada postmodern adalah seni rupa yang bisa dibedakan dengan deni rupa pada paradigma modern. Pada penjelasan diatas pula dapat dipahami bahwa seni rupa kontemporer adalah seni yang meminjam masa lalu untuk konteks baru, jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam hal ini ornamen mampu masuk dalam senirupa komtemporer, mengingat ornamen tidak terlepas dari seni rupa tradisi maupun
  29. 29. modern. Hanya saja dalam seni rupa kontemporer ornamen mengalami perubahansesuai dengan keadaan pada saat itu pula. Dengan mengacu pada era atau zaman, seni rupa kontemporer juga mengangkatsejarah lama kembali, dalam seni rupa kriya khususnya, seni ornamen menjadi cirikhas dalam karya seninya, selain sebagai seni hias, seperti yang dijelaskan diatas tadi,ornamen juga memegang peran dalam nilai simbolik sebuah karya seni, maka dari ituornamen dan dekorasi dianggap penting dala seni rupa komtemporer. Secara lebih rinci, barret (1994:109-112) melalui sabana (2002:18) memberikanrincian kembali tentang ciri seni rupa kontemporer. Selain yang dijelaskan diatas, senirupa kontemporer juga banyak menimba dari budaya populer, pendapat ini jelas akanmenjadikan peran ornamen yang menjadi ikon maupun simbol dari daerah tertentuakan mendapatkan peran semula. Selain itu ciri yang lain adalajh eklektik, orientasitema dan medium bebas, kepedulian terhadap kejadian sosial dan juga politik, sertasikap kritis dan skeptic seniman terhadap kesenian dan jamannya seta isu kelas sosial,ras, gender, usia, bangsa, alam agama, lingkungan dan sebagainya.Secara awam seni kontemporer bisa diartikan sebagai berikut:1) Tiadanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, ocia, anarki, omong kosong, hingga aksi politik.2) Punya gairah dan nafsu “ ocial tic” yang berkaitan dengan matra ocial dan politik sebagai tesis.3) Seni yang cenderung diminati media massa untuk dijadikan komoditas pewacanaan, sebagai aktualitas berita yang fashionable. Antara modern dan kontemporer secara umum tidak dapat dipilah berdasarkanwaktu, hal ini mengakibatkan tidak jelasnya pemisah antara kedua istilah tersebut.Instilah modern dan kontemporer dalam konteks seni rupa dijelaskan oleh Kramerdalam Dharsono sebagai berikut:1) Pengertian “kontemporer” dibandingkan dengan istilah modern hanya sekedar sebagai sekat munculnya perkembangan seni rupa sekitar tahun 70-an dengan
  30. 30. menempatkan seniman-seniman Amerika seperti David Smith dan Jackson Pollock sebagai tanda peralihan (Dharsono, 2004: 223).2) Pengertian kontemporer dalam bidang arsitektur memiliki pengertian lain, hal ini diungkapkan oleh Kultermann seorang pemikir asal Jerman, “berdasarkan teori Udo pengertian kontemporer dekat dengan paham post-modern… menjelang 1970. Paham baru ini menentang kerasionalan paham modern yang dingin dan berpihak pada simbolisme instink” (Dharsono, 2004: 223). Dalam istilah seni pengertian ini ditafsirkan lebih lajut oleh Douglas Davis kontemporer sebagai kembalinya upaya mencari dan mengangkat nilai-nilai budaya dan kemasyarakatan atau dalam istilah seni kembali ke konteks.3) Seperti telah kita ketahui, seni kontemporer dalam bahasa Indonesia padanannya adalah “seni masa kini” atau juga “seni mutakhir”. Dalam khazanah seni modern yang telah berusia ratusan tahun, kehadiran seni kontemporer cukup rumit dan menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan.4) Paradigma Seni Rupa Kontemporer Pada seni klasik, dapat ditemukan komposisi bentuk dan isi cerita/legenda seperti lukisan "Monalisa", dimana tendapat spiritual abad itu tentang "perempuan" yang tidak akan ditemukan pada zaman sesudahnya. Karena adanya evolusi/difusi kebudayaan, maka terjadi perubahan yang disebabkan lingkungan dan waktu. Seni klasik jadi seni peralihan -- impressionisme. Pelukis Renoir dan Manet kala itu berprinsip bahwa "manusia berjarak objektif dengan barang fisik dan manusia berperasaan lebih unggul dari benda". Pada era impresionisme terdapat jarak sebagai batas yang tak terjembatani antara subjek dengan objek, antara manusia dengan alam. Kreativitas seniman terus bergulir. Bermula ditinggalkannya paradigma klasikRenaisance ke paradigma baru impressionisme (permulaan abad ke-20), laluekspresionisme, abstrak, dadaisme, kubisme, abstrak ekspressionisme, abstrakformalisme, pop-art, neo-dada, optic-art, minimalisme, hingga surealisme. Semuagaya (isme) yang berasal dari Barat itu menyebar dan menguasai dunia serta
  31. 31. mengkokohkan sebagai seni modern dunia atau modernisme yang sering disebut"seni tinggi" (advance guard). Seni rupa modern Barat mengklaim dunia sebagai ruang lingkupnya yangberakar pada internasionalisasi ide-ide Barat yang disebut westernisasi yangkemudian membangkitkan reaksi negara-negara non-Barat. Munculnyaperkembangan arus utama (mainstream) di pusat-pusat seni rupa modern yangmenyudutkan seni rupa di luar Eropa-Amerika dan ditolaknya standar nilai sertaperkembangan periferi di luar arus utama, dimana seluruh museum dan galeri senirupa modern di Amerika menolak karya-karya modern Indonesia dan Thailand.Sebagai reaksi kejadian ini maka muncullah pameran-pameran internasional (KIAS)dari negara-negara nonblok (GNB). Modernisme pada intinya merupakan suatu keyakinan akan kemandirian nilaiestetika yang harus ditingkatkan secara terus-menerus. Keyakinan tersebutmelahirkan norma-norma kebaruan, keaslian dan kreativitas. Seniman dituntutuntuk menciptakan keharuan dan keaslian, sehingga terjadi penolakan-penolakansejak tahun 1960-an serta makin memuncak pada masa berikutnya. Pada pertengahan abad ke-20, modernisme dianggap sebagai suatu beban olehkaum muda dan mulai ditentang, yang setelah modernisme disebut post-modernismatau post-mo, maka muncullah paradigma baru yakni seni kontemporer. Senikontemporer memberi terobosan baru yang sangat bebas dalam pengekspresianemosi seniman dan terasa tanpa beban. Seni kontemporer dapat dipandang secara apresiatif sebagai kegairahanintelektual, setidak-tidaknya menjadi modal bagi tumbuhnya daya respons dalammenyongsong era baru yaitu post-modern, yang dianggap positif mengimbangihumanisme dan intelektual daripada kecenderungan dehumanisasi dan kedangkalanbudaya modern yang dimotori ekonomi kapitalis yang transnasional serta inovasiteknologi yang makin canggih. Di Barat pada 1970-an, muncul suatu reaksi terhadap idealisme high art(advance guard) dan muncul era post-modern yang menampilkan multivariousness.
  32. 32. Pendekatan pluralistik yang menekankan unity -- kebersamaan dalam keragaman,merupakan kesamaan reaksi di arus utama terhadap standar-standar senirupainternasional sebagai arus baru perkembangan dan pemikiran seni rupakontemporer yang lepas dari universalisme dan kaburnya batasan seni rupa moderndari seni rupa kontemporer. Pada seni kontemporer, seniman bebas menengok kemasa lalu, masa kini dan masa mendatang. Dapat pula memakai kekayaan budayatak terbatas banyaknya. Juga tiada lagi "kebenaran tunggal" dan muncul pluralisme. Inilah paradigma baru seni kontemporer yang mengandung makna netral daripengertian seni masa kini. Walaupun situasinya modern disemangati Garde Depandengan merebaknya happening art, performance art dan seni instalasi. Juga ataskehadiran isu-isu multikultural, gender, sosial, bangkitnya seni pinggiran dan lainnya. Post-modernism atau pasca-modernisme yang bermula dari gerakan seni masakini telah bergeser menjadi gerakan budaya. Pergeseran ini dimungkinkan bukanhanya disebabkan basis material kebudayaan (difusi kebudayaan) seperti darimanufaktur ke reproduksi, tapi juga karena para filsuf mengumumkan "kematianzaman modern" untuk menegakkan satu kesepakatan dalam kebersamaan sebagaidasar pembenaran yang plural sebagai paradigma baru serta wacana senikontemporer. Untuk memperoleh kejelasan tentang seni kontemporer, perlu dibahas mulaidari seni modern, kemudian bagaimana seni modern akan keluar dari kepercayaanyang menyatakan bahwa seni yang merupakan ekspresi dunia objektif (fisik)tersebut kemudian masuk ke dalam seni kontemporer atau post-mo. Kehidupan manusia punya dua pijakan dasar yang kuat -- dunia (world) dan sikapdasar (basic attitude). Pada sikap dasar terdapat tiga jenis interest yaitupengobjektifan, ungkapan, dan penyesuaian norma. Dunia manusia pun terdiri daritiga; nyata, sosial dan pribadi. Seni dalam modern hanya ditemukan dalam dunia objektif dan dunia subjektif.Namun nilai keindahan dalam seni rupa modern sebagai ekspresi hanya akanditemukan dalam bidang yang amat khusus. Kesenian modern bukanlah produk
  33. 33. sosial, sikap atas rasionalitas ekspresif, sedangkan dunianya dalam dunia nyata/objektif. Sumber gambar: http://faariscar.blogspot.com Card players by Paul Cezanne Diawali oleh pelukis Cezanne, dimana jarak antara manusia dan alam dibatasidengan cara si subjek menguasai objek dengan mengekspresikannya. Dunia objektifdan subjektif yang terpisah dicoba disatukan walaupun dengan cara menguasaiobjek. Karena itu dalam seni modern, unsur yang sifatnya pribadi adalah sesuatuyang kurang baik dan tidak alamiah, sehingga Cezanne bukan melukiskanperasaannya tetapi melukis objek di luar dirinya. Objek ditangkap bentuk-bentukmurninya atau menggambar motif dari satu struktur. Cezanne dengan ini bukanmengekpresikan perasaannya, tetapi menganalisa sesuatu untuk diambil bentukdasarnya, lalu dikeluarkan lagi ke atas kanvasnya. Seni modern adalah upaya menangkap gejala alam secara nyata dan diekspresikan adalah pewujud serta pengantara dari konsep yang nyata. Ini berarti,bukan perasaan yang mau disampaikan, tapi konsep nyata mengenai sesuatu yangalamiah, tanpa sudut pandang lain, tanpa efek cahaya, tapi struktur atau motif yangmenetap yang hendak ditangkap dan diungkapkan. Dalam seni modern, unsur
  34. 34. perasaan mulai ditinggalkan dan yang tersisa adalah analisa. Puncak seni modernadalah penyimpangan dari bentuk atau mencari bentuk yang murni seperti lukisanPablo Picasso, Mondrian, dll. Dari sini muncul ilmu baru seni rupa yang disebut"distorsi" atau perubahan bentuk. Di Indonesia, pada tahun 1938, pikiran S. Soedjojono (masa Persagi), padaintinya menyatakan seni adalah otonomi, dengan semboyannya "seni harus berjiwanampak". Gaya ekspresionisme waktu itu sangat diyakini memiliki nilai abadi.Universalitas nilai keindahan, individualisme, keaslian, menekuni "satu gaya"menjadi ciri utama seni rupa modern yang membawa pembaruan dengan istilahhumanisme universal. Modernisme di Indonesia kemudian dikembangkan oleh SeniRupa ITB dengan gaya kubistis, lalu berkembang ke arah abstrak formalisme yangpada zaman Lekra ditentang dimana seni harus dapat dimanfaatkan sebagai saranasosial dan politik yang disebut "Seni Realisme Sosial". Prinsipnya, seni tidak otonom,melainkan seni untuk manusia. Istilah seni kontemporer dalam arti seni masa kini sepanjang yang telah sayaselusuri, sudah muncul sejak tahun 50-an. Pada waktu itu, karya seni masa kinihanya menyangkut nama-nama Picasso, Matisse, Braque dan lain-lain yang tidakbisa disebut satu persatu apakah tidak mengherankan jika pada tahun 1996 kitaharapkan kepada bentuk seni yang sama sekali berbeda dengan tokoh-tokoh yangberbeda pula, namanya masih tetap sama yaitu seni kontemporer apa sebenarnyayang mempertautkan seni kontemporer tahun 50-an yang diwakili Picasso dankawan-kawannya dengan seni kontemporer di tahun 1996 yang diwakili seni Pop,Happening art dan seni instalasi, dan sebagainya. Dengan memakai istilah senikontemporer karena setiap ungkapan seni 10, 20, 50, seratus tahun yang lalu atauyang akan datang, pada zamannya yang bersangkutan tetap merupakan senikontemporer. Seperti juga waktu yang akan datang dan pergi, juga ungkapan seni dari waktuke waktu yang akan dan pergi masing-masing mempunyai bentuk, sifat dankecenderungan masing-masing yang saling berbeda satu sama lain. Periode
  35. 35. berikutnya adalah pendobrakan yang lengkap terhadap asas-asas seni rupa tradisi Barat. Bahkan, akhirnya pendobrakan ini semakin beraneka ragam. Dipengaruhi oleh semangat individualisme dengan jumlah pelukis yang semakin banyak maka seni kontemporer ini semakin dipadati oleh seni individual di mana setiap seniman berusaha untuk saling berbeda satu sama lain (Popo Iskandar, 2000:30). Ditinjau dari sudut ini seni kontemporer bukanlah konsep tetap. Seni kontemporer adalah dimensi waktu yang terus bergulir mengikuti perkembangan masyarakat dengan zamannya. Kiranya hanya satu indikasi yang bisa dijadikan titik terang istilah seni kontemporer, yakni lahir dan berkembang dalam khazanah dan ruang lingkup seni modern. ”Berlangsungnya perayaan ‘Boom seni lukis’ di akhir tahun 80-an dan awal akhir 90-an…seniman bergerak cepat menembus, melintas batas-batas tradisional negara yang membatasi identitasnya. Kelangsungan seni rupa kontemporer…tidak lagi mengusung semangat hebat, pemberontakan dan penyangkalan seperti pendahulunya di tahun 70-an (seni modern) tetapi melangsungkan negosiasi dengan berbagai senimanan baru, perubahan- perubahan yang serba cepat, peluang dan tentunya juga gemerlapnya pasar (Rizki A Zaelani, 1999:92). Untuk melengkapi batasan antara modern dan kontemporer dalam seni rupa, penulis(Senin, 17 Januari 2005) berhasil menghubungi Setiawan Sabana (pendidik, perupa,dekan FSRD ITB). Ia mengungkapkan, sesuai dengan hasil penelitiannya mengenai “SeniRupa Kontemporer Asia Tenggara” yang dilakukannya selama 4 tahun, bahwa yangmembedakan antara seni rupa modern dan kontemporer sebagai berikut:a) Seni rupa modern i) Memutuskan rantai dengan tradisi masa lalu, pada masa ini tradisi tidak menjadi perhatian yang signifikan dan itu dianggap sebagai seseuatu yang tidak perlu diotak-atik lagi tapi cukup dalam musium saja, ii) Adanya high art dan low art ( kesenian dianggap adiluhung),
  36. 36. iii) Tema-tema sosial cenderung ditolak, dan iv) Kurang memperhatikan budaya lokal. b) Seni rupa kontemporer i) Tradisi dicoba untuk diangkat kembali misalnya tema lebih bebas dan media lebih bebas, ii) Tema-tema sosial dan politik menjadi hal yang lumrah dalam tema berkarya seni, iii) Membaurnya karya seni adiluhung/high art dan low art, iv) Masa seni rupa modern kesenian itu abadi maka masa kontemporer kesenian dianggap kesementaraan, v) Dulu ada istilah menara gading sekarang kesenian merakyat, jadi tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu/harus bertahan, dan vi) Budaya lokal mulai bahkan menjadi perhatian. Selanjutnya ia menyimpulkannya bahwa fenomena seni rupa kontemporer Indonesia merupakan suatu refleksi, pencerminan evaluasi kembali, sikap evaluatif dan pencarian akan potensi-potensi kultural yang baru di negeri ini dan merupakan bentuk kesadaran baru dalam era global. BAB II SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SENI RUPA MODERN KONTEMPORER INDONESIAA. Sejarah Perkembangan seni Rupa Modern Kontemporer Indonesia 1. Seni Rupa Modern Pengertian “modern” dalam terminologi seni rupa tidak bisa dilepaskan dari prinsip modernisme atau paham yang mendasari perkembangan seni rupa modern dunia sampai pertengahan abad ke-20. Seni rupa modern dunia memiliki nilai-nilai yang bersifat universal. Dari penafsiran seorang pelukis Jerman yang pindah ke Amerika Serikat sesudah Perang Dunia ke II, Hans Hofmann menyatakan hanya seniman dan gerakan di Eropa dan Amerika yang mampu melahirkan seni rupa modern, konsepsi poros Paris-New-York sebagai pusat perkembangan seni rupa modern.
  37. 37. Seni modern lahir dari dorongan untuk menjaga standar nilai estetik yang kini sedang terancam oleh metode permasalahan seni. Modernisme meyakini gagasan progres karena selalu mementingkan norma kebaruan, keaslian dan kreativitas. Prinsip tersebut melahirkan apa yang kita sebut dengan “Tradition of the new” atau tradisi “Avant-garde”, pola lahirnya gaya seni baru pada awalnya ditolak, namun akhirnya diterima masyarakat sebagai inovasi terbaru. Seni modern dengan melahirkan Conceptual Art/ Seni Konseptual merupakan gerakan dalam menempatkan ide, gagasan atau konsep sebagai masalah yang utama dalam seni. Sedangkan bentuk, material dan objek seninya hanyalah merupakan akibat/efek samping dari konsep seniman. 2. Seni Rupa kontemporer Dalam seni rupa Indonesia, istilah kontemporer muncul awal 70-an, ketika Gregorius Sidharta menggunakan istilah kontemporer untuk menamai pameran seni patung pada waktu itu. Suwarno Wisetrotomo, seorang pengamat seni rupa, berpendapat bahwa seni rupa kontemporer pada konsep dasar adalah upaya pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah baku atau mungkin dianggap usang. Pendapat lain dari Yustiono, staf pengajar FSRD ITB, melihat bahwa seni rupa kontemporer di Indonesia tidak lepas dari pecahnya isu postmodernisme (akhir 1993 dan awal 1994), dimana sepanjang tahun 1993 menyulut perdebatan dan perbincangan luas baik di seminar-seminar maupun di media massa pada waktu itu. Sedangkan kaitan seni kontemporer dan (seni) postmodern, menurut pandangan Yasraf Amior Pilliang, pemerhati seni, pengertian seni kontemporer adalah seni yang dibuat masa kini, jadi berkaitan dengan waktu, dengan catatan khusus bahwa seni postmodern adalah seni yang mengumpulkan idiom-idiom baru. Lebih jelasnya dikatakan bahwa tidak semua seni masa kini (kontemporer) itu bisa dikategorikan sebagai seni postmodern, seni postmodern sendiri di satu sisi memberi pengertian, memungut masa lalu tetapi di sisi lain juga melompat kedepan (bersifat futuris).B. Perkembangan Seni Rupa Modern Kontemporer Indonesia
  38. 38. Seni Rupa Modern adalah suatu karya seni rupa yang merupakan hasil kreativitas untukmenciptakan karya yang baru atau dengan kata lain karya seni rupa pembaruan. Kreativitasdalam seni rupa di dalamnya terdapat estetika, karakter, inovasi, dan originalitas. “Merapi” karya Raden Saleh Peirode Perintis (1826-1880), perkembangannya diawali oleh pelukis Raden Saleh.Berkat pengalamannya belajar menggambar dan melukis di luar negeri seperti di Belanda,Jerman, Perancis, beliau dapat merintis kemunculan seni rupa Modern di Indonesia. Coraklukisannya beraliran Romantis dan Naturalis. Aliran Romantisnya menampilkan karya-karyayang berceritera dahsyat, penuh kegetiran seperti tentang perkelahian dengan binatangbuas. Gaya Naturalisnya sangat jelas nampak dalam melukis potret. Peiode Indonesia Jelita, masa ini merupakan kelanjutan dari masa perintisan setelahpakum beberapa saat karena meninggalnya Raden Saleh. Kemudian munculah senimanAbdullah Surio Subroto dan diikuti oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah danTrijoto Abdullah. Pelukis-pelukis Indonesia yang lain seperti Pirngadi, Henk Ngantung,Suyono, Suharyo, Wakidi, dll. Masa ini disebut dengan masa Indonesia Jelita karenapelukisnya melukiskan tentang kemolekan/keindahan obyek alam. Pelukis hanyamengandalkan teknik dan bahan saja. Karya Abdullah SR. (Pemandangan di sekitar Gn.
  39. 39. Merapi, Pemandangan di Jawa Tengah, Dataran Tinggi di Bandung), karya Pirngadi(Pelabuhan Ratu), karyaBasuki Abdullah (Telanjang, Pemandangan, Gadis sederhana, PantaiFlores, Gadis Bali, dll.) Sumber gambar: http://topmdi.net Pemandangan di Jawa Tengah Abdullah Soerio Soebroto Peiode Pendudukan Jepang, kegiatan melukis pada masa ini dilakukan dalam kelompokKeimin Bunka Shidoso. Tujuannya adalah untuk propaganda pembentukan kekaisaran AsiaTimur Raya. Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan diawasi oleh senimanIndonesia, Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung, dll. Untukkelompok asli Indonesia berdiri kelompok PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat), tokoh-tokoh yangmendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai yaitu Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH.Dewantara dan KH. Mas Mansyur. Khusus yang menangani bidang seni lukis adalah S.Sudjojono dan Affandi. Pelukis yang ikut bergabung dalam Putra diantaranya HendraGunawan, Sudarso, Barli, Wahdi, dll. Pada masa ini para seniman memiliki kesempatan untukberpameran, seperti pameran karya dari Basuki Abdullah, Affandi, Nyoman Ngedon, HendraGunawan, Henk Ngantung, Otto Jaya, dll.
  40. 40. Jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang bukan hanya suatu kemenangan militersaja, tetapi bangsa Indonesia lebih melihat peristiwa ini sebagai kemenangan kepercayaanakan harga diri bangsa Asia terhadap bangsa Barat. Ini dipaparkan oleh A.D. Pirous bahwa: Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu dirasakan sebagai “saudara tua” yangmelepaskan kekuasaan penjajahan Belanda yang diterima dengan semangat persaudaraanyang erat. Jepang yang juga unggul dalam kebudayaan, diharapkan dapat membantumengembangkan kebudayaan Indonesia, harapan ini jadi lebih diyakini, ketika pemerintahJepang menampakan perhatiannya yang besar terhadap persoalan-persoalan kebudayaan(AD. Pirous 2003:3). Pada masa pendudukan Jepang seni rupa Indonesia mendapatkan perhatian yaitudengan disediakannya alat-alat dan tempat untuk melukis sehingga terselenggara pameranlukisan pertama pada bulan September 1942. Tapi sayangnya karya-karya yang dibuat hanyasebagai propaganda pemerintahan Jepang yaitu dengan bertemakan kehebatanpemerintahan Jepang. Puncak campur tangan pemerintahan Jepang dapat dicatat pada bulan April tahun 1943atau setahun setelah masa pendudukan. Jepang membentuk suatu badan kebudayaan yangdiberi nama “Keimin Bunka Sidosho” dengan kontrol di bawah seniman Jepang yaitu SaseoOno, di dalamnya tetap terdapat propaganda pemerintahan Jepang. Akan tetapi oleh paraseniman lokal “Keimin Bunka Sidosho” dimanfaatkannya sebagai kesempatan untuk berlatihsecara teratur dengan literatur dan peralatan yang ada, mereka mengadakanceramah/diskusi tentang seni rupa dengan sedikitnya memberikan pandangan-pandanganbaru tentang perkembangan kesenian (seni rupa) Indonesia. Di pihak lain Indonesiamendirikan “Poetra” yang dalam bagian seni rupanya dipimpin oleh S. Sujoyono dan Affandi. Selain mengabdi pada bidang seni, seniman-seniman lokal berjuang melawanpemerintahan Jepang lewat lukisan dan poster, dengan jiwa nasionalisme pada saat itusebagai contoh lukisan Affandi menyindir pekerja romusha dengan badan kurus dan pakaiancompang-camping, demikian juga poster dengan model pelukis Dullah, teks oleh KhairilAnwar “Boeng Ajo Boeng” direproduksi dan disebar lewat gerbong-gerbong kereta api.
  41. 41. Periode Pasca Kemerdekaan, Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awaladalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaanBarat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupamodern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) diIndonesia. Jim Supangkat menandai ini dengan pernyataannya: “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity anddevelopment of traditional arts, which have a different frame of reference” (JimSupangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23). setelah Indonesia merdeka bermunculanlah kelompok-kelompok seniman lukisIndonesia, diantaranya: (1) Sanggar Masyarakat (1946) dipimpin Affandi, kemudian digantinama menjadi SIM (Seniman Indonesia Muda) yang dipimpin oleh S. Sudjojono; (2) PelukisRakyat (1947), Affandi dan Hendra Gunawan keluar dari SIM dan mendirikan Pelukis Rakyatdipimpin oleh Affandi; (3) Perkumpulan Prabangkara (1948); (4) ASRI (Akademi Seni Rupa(1948), tokoh-tokoh pendirinya RJ. Katamsi, S.Sudjojono,Hendra Gunawan, Jayengasmoro,Kusnadi dan Sindusisworo; (5) Tahun 1950 di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi GuruGambar yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarya, Mochtar Apin, Ahmad Sadali, Sujoko, EdiKarta Subarna; (6) Tahun 1955, berdiri Yin Hua oleh Lee Man Fong ( perkumoulan pelukisIndonesia keturunan Tionghoa); (7) Tahun 1958, berdiri Yayasan seni dan desain Indonesiaoleh Gaos Harjasumantri dkk; (8) Tahun 1959, berdiri Organisasi Seniman Indonesia olehNashar dkk. Periode Akademi (1950), Pengembangan seni rupa melalui pendidikan formal. LembagaPendidikan yang bernama ASRI yang berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950Lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dancalon guru gambar. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka jurusan Seni Rupa ITB, kemudiandibuka jurusan seni rupa disemua IKIP diseluruh Indonesia. Periode Seni Rupa Baru, pada sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru dalam senilukis. Kelompok ini menampilkan corak baru dalam seni lukis Indonesia yang membebaskandiri dari batasan-batasan seni rupa yang telah ada. Konsep kelompok ini adalah: (1) Tidak
  42. 42. membedakan disiplin seni; (2) Menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkanpenciptaan seni; (3) Mendambakan kreatifitas baru; (4) Membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah mapan; (5) Bersifat eksperimental. Seniman muda yang mempelopori kelompok ini adalah Jim Supangkat, S. Prinka, Dee EriSupria, dll. Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda diIndonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantismemembuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Sumber gambar: http://opencontours.files.wordpress.com Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisamempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudianmelanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesiayang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukisIndonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehinggaperkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuatbanyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah"kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagaitema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yangmenjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti
  43. 43. cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi. Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologikomunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya senimereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidaklagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesiasejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing olehberbagai benturan konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudahdiporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau senikontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan“Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakanbisnis alternatif investasi. Seni rupa di Indonesia dari awal abad ke-20 sampai sekarang dan menyebabkan seluruhgaris perkembangannya—pada era modern maupun contemporary—berbeda denganperkembangan seni rupa di Eropa dan Amerika Serikat yang bertumpu pada art in Westernsense. Penelitian tentang karya seni bukan merupakan suatu hal yang mudah melainkan suatupekerjaan yang sangat pelik, dan membutuhkan kecerdasan dari sudut mana kitamemandang. Hal ini sangat memberikan pengaruh pada hasil penelitian yang penuh denganketegangan antara sudut pandang ilmiah dan seni. Seni rupa secara sederhana, didefinisikan sebagai seni yang dapat dilihat atau tampakkasat mata. Dalam bahasa Inggris seni rupa disebut visual art, karena memang seni rupahanya dapat dirasakan lewat penglihatan. Ini ditegaskan oleh Humar Sahman dalam bukunya“Mengenali Dunia Seni Rupa” sebagai berikut:
  44. 44. “…peranan mata sangat menentukan apakah dalam proses mencipta sejak dari pengamatan sampai pada visualisasi, gagasan ataupun dalam proses apresiasi produk visualisasi itu. Orang yang buta warna walaupun sepintas-lintas matanya nampak beres- beres saja, tidak akan mampu menjadi perupa atau apresiator karya seni rupa yang kompeten (Humar Sahman, 1993: 200).” Banyak pendapat mengenai seni rupa selain visual art di antaranya spatial art yangdalam kamus bahasa Inggris berarti mengenai ruang/tempat. Hal ini dijelaskan lebih lanjutoleh Humar Sahman sebagai berikut: “… disebut spasial art jika yang diaksentuasi adalah ruang (space) seperti bangunan (arsitektur = seni mencipta ruang). Atau apabila karya yang diciptakan menempati ruang, baik dalam arti faktual maupun virtual (Humar Sahman, 1993:200).” Dalam artian terbatas seni rupa dapat diartikan “plastic” jika dalam konteks hanyamemanfaatkan teknik membentuk bahan-bahan plastis (lunak) (Herbert Read, 2000: 1).Contoh dari pengertian ini adalah patung, keramik termasuk juga instalasi. Pendapat Jim Supangkat dalam SanentoY., (2001: ix) mengenai seni rupa dalampengantar buku ‘Dua Seni Rupa” dapat dijadikan sebagai landasan dalam penelitian ini.Menurutnya seni rupa bila diterjemahan secara harfiah ke dalam bahasa Inggris makaterdapat dua istilah yang berbeda yaitu visual art dan fine art. Visual art mengacu pada pengertian seni yang menekankan “rupa”. Istilah inimempunyai lingkup jauh lebih luas dari fine art. Seni rupa ini dapat dikatakan setuakebudayaan umat manusia karena memang ada di semua kebudayaan di segala zaman sejakzaman primitif. Sedangkan fine art mempunyai lingkup yang sangat sempit dan tradisinyaterikat pada kebudayaan Barat. Membongkar persoalan seni rupa sedikit banyak mempersoalkan identifikasi melaluimodifikasi pemikiran-pemikiran dengan menangkap gejala seni rupa. Munculnya seni rupakontemporer mungkin dapat melahirkan persoalan rumit, sebab tidak semua seni yang dibuatpada masa sekarang adalah kontemporer. Hal ini akhirnya menyebabkan kecenderunganyang tidak bisa sepenuhnya dicerna dengan konsep, misalnya seni instalasi atau praktek-praktek seni rupa lainnya yang dianggap ekstrim. Setiap karya seni hendaknya memberikan manfaat pada masyarakat atau kehidupanumat, karya seni seperti inilah disebut karya seni yang berkualitas artinya masyarakat bisamenikmati dengan kepolosan apresiasi serta pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian
  45. 45. akan timbul keseimbangan antara seniman karya seni dengan apresiator. Di lain pihak karya seni tidak harus selalu dapat dimengerti oleh masyarakat, akhirnya melahirkan gejala kurangnya apresiasi, kampungan, ketinggalan zaman dan sebagainya. Persoalan di atas merupakan permasalahan yang menyelesaikannya menuntut kreativitas. Setiap seniman dalam proses penciptaan karya seni hendaknya memakai pemikiran yang sangat matang. Berkaitan dengan proses penciptaan dalam hal ini Dharsono (2004: 28) membaginya dalam tiga komponen proses penciptaan karya seni yaitu tema, bentuk dan isi. Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah- pisahkan.C. Tokoh- tokoh dan Karyanya 1. Seni rupa Modern a. Affandi Sumber ga mbar: http://www.artp aintings ss.com Lukisan Affandi yang menampilkan sosok pengemis ini merupakan manifestasi pencapaian gaya pribadinya yang kuat. Lewat ekpresionisme, ia luluh dengan objek-objeknya bersama dengan empati yang tumbuh lewat proses pengamatan dan pendalaman. Setelah empati itu menjadi energi yang masak, maka terjadilah proses penuangan dalam lukisan seperti luapan gunung menuntaskan gejolak lavanya. Dalam setiap ekspresi, selain garis-garis lukisanya memunculkan energi yang meluap juga merekam penghayatan keharuan dunia bathinnya. Dalam lukisan ini terlihat sesosok tubuh renta pengemis yang duduk menunggu pemberian
  46. 46. santunan dari orang yang lewat. Penggambaran tubuh renta lewat sulur-sulur garis yang mengalir, menekankan ekspresi penderitaan pengemis itu. Warna coklat hitam yang membangun sosok tubuh, serta aksentuasi warna-warna kuning kehijauan sebagai latar belakang, semakin mempertajam suasana muram yang terbangun dalam ekspresi keseluruhan. Namun dibalik kemuraman itu, vitalitas hidup yang kuat tetap dapat dibaca lewat goresan-goresan yang menggambarkan gerak sebagian figur lain. Dalam konfigurasi objek-objek ini, komposisi yang dinamis. Dinamika itu juga diperkaya dengan goresan spontan dan efek-efek tekstural yang kasar dari plototan tube cat yang menghasilkan kekuatan ekspresi. Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat bawah. Affandi adalah penghayat yang mudah terharu, sekaligus petualang hidup yang penuh vitalitas.Objek-objek rongsok dan jelata selalu menggugah empatinya. Oleh karenanya, ia sering disebut sebagai seorang humanis dalam karya seninya. Dalam berbagai pernyataan dan lukisannya, ia sering menggungkapkan bahwa matahari, tangan dan kaki merupakan simbol kehidupannya. Matahari merupakan manifestasi dari semangat hidup. Tangan menunjukkan sikap yang keras dalam berkarya dan merealisir segala idenya. Kaki merupakan ungkapan simbolik dari motivasi untuk terus melangkah maju dalam menjalani kehidupan. Simbol-simbol itu memang merupakan kristalisasi pengalaman dan sikap hidup Affandi, maupun proses perjalanan keseniannya yang keras dan panjang. Lewat sosok pengemis dalam lukisan ini, kristalisasi pengalaman hidup yang keras dan empati terhadap penderitaan itu dapat terbaca.b. Raden Saleh
  47. 47. Sumber gambar: http://www.artpaintingsss.com Lukisan Raden Saleh yang berjudul “Badai” ini merupakan ungkapan khaskarya yang beraliran Romatisme. Dalam aliran ini seniman sebenarnya inginmengungkapkan gejolak jiwanya yang terombang-ambing antara keinginanmenghayati dan menyatakan dunia (imajinasi) ideal dan dunia nyata yang rumit danterpecah-pecah. Dari petualangan penghayatan itu, seniman cenderungmengungkapkan hal-hal yang dramatis, emosional, misterius, dan imajiner. Namundemikian para seniman romantisme sering kali berkarya berdasarkan padakenyataan aktual. Dalam lukisan “Badai” ini, dapat dilihat bagaimana Raden Salehmengungkapkan perjuangan yang dramatis dua buah kapal dalam hempasan badaidahsyat di tengah lautan. Suasana tampak lebih menekan oleh kegelapan awantebal dan terkaman ombak-ombak tinggi yang menghancurkan salah satu kapal.Dari sudut atas secercah sinar matahari yang memantul ke gulungan ombak, lebihmemberikan tekanan suasana yang dramatis. Walaupun Raden Saleh berada dalam bingkai romantisisme, tetapi tema-tema lukisannya kaya variasi, dramatis dan mempunyai élan vital yang tinggi. Karya-karya Raden Saleh tidak hanya sebatas pemandangan alam, tetapi juga kehidupanmanusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi. Sebagai contoh adalah lukisan
  48. 48. “Een Boschbrand” (Kebakaran Hutan), dan “Een Overstrooming op Java” (Banjir di Jawa), “Een Jagt op Java” (Berburu di Jawa) atau pada “Gevangenneming van Diponegoro” (Penangkapan Diponegoro). Walaupun Raden Saleh belum sadar berjuang menciptakan seni lukis Indonesia, tetapi dorongan hidup yang diungkapkan tema-temanya sangat inspiratif bagi seluruh lapisan masyarakat, lebih- lebih kaum terpelajar pribumi yang sedang bangkit nasionalismenya. Noto Soeroto dalam tulisannya “Bi het100” Geboortejaar van Raden Saleh (Peringatan ke 100 tahun kelahiran Raden Saleh), tahu 1913, mengungkapkan bahwa dalam masa kebangkitan nasional, orang Jawa didorong untuk mengerahkan kemampuannya sendiri. Akan tetapi, titik terang dalam bidang kebudayaan (kesenian) tak banyak dijumpai. Untuk itu, keberhasilan Raden Saleh diharapkan dapat membangkitkan perhatian orang Jawa pada kesenian nasional.c. Kartono Yudhokusumo Sumber gambar: http://www.artpaintingsss.com Kartono merupakan pelopor untuk genre lukisan dekoratif di Indonesia. Perkembangan itu dimulai dari lukisan-lukisan realismenya yang menggunakan warna-warna bebas. Dalam karya “Melukis di Taman”, 1952 ini, terlihat bagaimana corak dekoratif itu benar-benar menjadi jiwa. Semua objek dalam pemandangan itu digambarkan dengan rincian detail, baik yang ada di depan maupun di latar belakang yang jauh. Berbagai warna cerah pada objek juga lebih mencerminkan
  49. 49. intuisi pelukis dari pada kenyataan yang ada di alam. Hal lain sebagai ciri genre lukisan ini adalah penggunaan perspektif udara (aerial perspective) yang memungkinkan cakrawala terlihat ke atas dan bidang gambar menjadi lebih luas, sehingga objek-objek lebih banyak dapat dilukiskan. Dalam lukisan ini terungkap romantisme pelukis dengan membayangkan dunia utuh dan ideal. Wanita-wanita berkebaya yang bercengkrama dan berkasihan, menjadi bagian penting diantara pohon-pohon dan binatang dalam taman yang penuh warna. Hal menarik lagi yaitu, pada sudut depan terlihat seorang laki-laki melukis model wanita dengan pakaian lebih modern di antara kerumunan wanita lain dalam pakaian kebaya. Selain hal itu menunjukkan setting sosial yang berkaitan dengan gaya hidup, juga bisa menjelaskan romantisisme pada pelukisnya. Dalam bawah sadarnya seorang romantis selalu menghadirkan dunia ideal dari kontradiksi atau berbagai kenyataan yang terpecah-pecah. Besar kemungkinan tokoh sentral dalam karya-karyanya adalah manifestasi dunia ide yang dimunculkan. Namun demikian dalam kebanyakan genre corak dekoratif, ada kesadaran bahwa alam adalah kosmos dan manusia hanya merupakan titik bagian dari padanya. Oleh karena itu, dalam lukisan ini ego sang pelukis yang begitu ideal pun hanya diletakkan dalam bagian kecil, dari sudut lukisan yang sarat dengan objek dan kaya warna.2. Seni Rupa Kontemporer a. A.D Pirous A.D. Pirous dikenal dengan karya-karyanya yang bernafaskan islami. Pengungkapannya dalam lukisan lewat konstruksi struktur bidang-bidang dengan latar belakang warna yang memancarkan berbagai karakter imajinatif. Dengan prinsip penyusunan itu, pelukis ini sangat kuat sensibilitasnya terhadap komposisi dan pemahaman yang dalam berbagai karakter warna. Nafas spiritual suatu ketika muncul dalam imaji warna yang terang, saat yang lain bisa dalam warna redup yang syahdu, sesuatu juga bisa muncul dalam kekayaan warna yang menggetarkan. Sentuhan ragam hias etnis Aceh, yang memuat ornament-ornamen atau motif
  50. 50. Buraq, juga memberikan nafas sosiokultural yang islami dalam lukisannya. Sebagaipuncak kunci nafas spiritual itu, adalah aksentuasi kaligrafi Arab yang melafaskanayat-ayat Suci Al Qur’an. Sumber gambar: http://www.artpaintingsss.com Dalam lukisan “Beratapkan Langit dan Bumi Amparan” (QS. Al Baqarah: 22a),1990 ini, Pirous juga menghadirkan spiritualitas yang menyentuh. Latar belakangbiru ultramarine membawa imaji tentang kedalaman kosmos yang tak terhingga. Diatas, menyembul bagian dari potongan-potongan bidang oker yang mencitrakansuatu massa langit. Di bawah, dua bidang putih dengan kaligrafi Al Qur’an tegakmenjadi pondasi yang kokoh untuk citra bumi. Di antara imaji antara langit danbumi itu suatu garis putih yang serupa cahaya membelah vertikal melewatikedalaman kosmos. Dengan berbagai karakter yang dapat dibaca lewat fenomenatekstual tersebut, maka garis yang serupa cahaya itu, dapat ditafsirkan sebagaicahaya keilahian yang menghubungkan langit dan bumi. Dalam lukisan-lukisan yanglain, pelukis ini sering membangun suasana alam untuk memberikan latar belakangyang kuat yang berhubungan dengan ayat-ayat Al Qur’an dalam lukisannya. Lewatpenyusunan bidang-bidang, ruang, dan warna-warna tertentu, suasana dalamlukisan dapat memantulkan senja yang temaram, pagi yang jernih, ataupun malamyang syahdu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pirous juga berhasil
  51. 51. mengembangkan seni lukis abstrak yang simbolis. Semua eksploitasi ide, medium, dan teknis tersebut akhirnya tidak hanya sekedar menempatkan Pirous sebagai pelukis kaligrafi yang handal, tetapi lebih jauh lagi mempertegas pencapaiannya sebagai pelukis spiritual islamib. S. Sudjojono Sumber gambar: http://www.artpaintingsss.com Jika pada lukisan “Di depan Kelamboe Terbuka” ekspresi Sudjojono terlihat sunyi tetapi mencekam, maka dalam karya “Tjap Go Meh”, 1940 ini, ia mengungkapkan emosinya dengan meluap-luap. Dalam lukisan karnaval perayaan keagamaan Cina tersebut, selain dihadirkan suasana hiruk pikuk muncul nuansa ironi. Ironi itu bisa sebatas pada karnaval yang meluapkan berbagai emosi secara absurd, namun lebih jauh lagi bisa mengandung komentar ketimpangan sosial. Hal itu mengingat setting sosial tahun pembuatan karya, adalah pada masa depresi ekonomi, tekanan pemerintah kolonial yang makin keras pada para nasionalis, dan euphoria menjelang kedatangan Jepang. Pada latar depan, terlihat seorang wanita dalam tarian dan gandengan seorang bertopeng, diapit oleh seorang ambtenar yang berdasi dan seorang pemusik bertopeng buaya. Di sisi lain ada seorang kerdil yang berdiri tegak
  52. 52. temangu-mangu, sedangkan di latar belakang berombak masa yang berarak dan menari dalam kegembiraan. Walaupun lukisan ini berukuran kecil, namun Sudjojono benar-benar telah mewujudkan kredo jiwo ketoknya dalam melukis. Dalam “Tjap Go Meh” ini terlihat spontanitas yang meluap tinggi. Deformasi orang-orang dalam arakan dan warna-warnanya yang kuat, mendukung seluruh ekspresi yang absurd itu. Sudjojono dalam masa Persagi dan masa Jepang berusaha merealisir seni lukis Indonesia baru, seperti yang sangat kuat disuarakan lewat tulisan-tulisan dan karyanya. Jiwa semangat itu adalah menolak estetika seni lukis Mooi Indie yang hanya mengungkapkan keindahan dan eksotisme saja. Dengan semangat nasionalisme, Sudjojono ingin membawa seni lukis Indonesia pada kesadaran tentang realitas sosial yang dihadapi bangsa dalam penjajahan. Di samping itu, dia ingin membawa nafas baru pengungkapan seni lukis yang jujur dan empati yang dalam dari realitas kehidupan lewat ekpresionisme. Kedua masalah yang diperjuangkan tersebut, menempatkan Sudjojono sebagai pemberontak estetika “Mooi Indie” yang telah mapan dalam kultur kolonial feodal. Lukisan Sudjojono “Di Depan Kelamboe Terbuka” dan “Tjap Go Meh” ini, merupakan implementasi dari perjuangan estetika yang mengandung moral etik kontekstualime dan nasionalisme. Dengan kapasitas kesadaran dan karya-karya yang diperjuangkan, banyak pengamat yang menempatkan Sudjojono sebagai Bapak Seni Lukis Indonesiac. Fadjar Sidik
  53. 53. Sumber gambar: http://www.artpaintingsss.com Dalam lukisan “Dinamika Keruangan”, 1969 ini, Fadjar Sidik menampilkanritme-ritme bentuk dari dua gugusan elemen visual dengan dominan warna hitamdan warna kuning oker. Di sela-sela susunan bentuk terdapat bulatan-bulatanmerah yang memberikan aksentuasi seluruh ritme itu, sehingga timbul klimaks yangmenetaskan kelegaan. Jika dalam lukisan ini terdapat bentuk bulan dan sabit, hal itusama sekali bukan representasi religius yang berkaitan dengan nilai simbolik bulanpenuh dan bulan sabit. Demikian juga dengan gugusan bentuk-bentuk segi empatdan geliat sulur garis hitam, bukan abstraksi bentuk ular dan sarangnya yangmempunyai nilai magis simbolik. Pelukis ini lebih menekankan bagaimana dalamkanvasnya hadir ekspresi visual yang membuat dinamika, ketegangan, ritme,keseimbangan, atau karakter-karakter lain. Ungkapan dalam lukisan ini merupakansalah satu dari manifestasi pencapaian abstrak murni yang telah melewati prosespanjang dalam kreativitasnya. Pencapaian Fadjar Sidik sampai pada bentuk estetik ini menunjukkansikapnya sebagai seorang modernis. Hal itu justru dilatabelakangi olehkekecewaannya sebagai seorang romantis yang kehilangan dunia idealnya, yaituobjek Bali yang telah berubah menjadi artifisial. Sebagai seorang yang mempunyaibahan dasar modernis lewat lingkungan kultural keluarga dan pendidikan, Fadjartetap lebih dahulu melewati proses mengabstraksi bentuk-bentuk alam yangdisukainya. Keputusan utntuk menciptakan bentuk-bentuk sendiri (ia seringmenyebutnya sebagai desain ekspresif), tanpa merepresentasikan bentuk-bentukapapun di alam, merupakan sikap yang purna dari pencarian dan pemberontakanestetiknya. Pemberontakan itu bisa lebih dilihat dengan makna sosial, karena Fadjarpada waktu itu berjuang sebagai seorang modernis dalam lingkungan seni lukisYogyakarta yang masih kuat mengembangkan paradigma estetik kerakyatan. Sikapsosial yang terkristal dalam konsep estetis itu, menempatkan Fadjar Sidik sebagaiagen perubahan dalam seni lukis modern Indonesia.
  54. 54. BAB III ALIRAN SENI RUPA MODERN KONTEMPORER INDONESIA Aliran atau ideologi dalam seni rupa ada banyak sekali. Penggolongan aliran dalam senirupa seringkali tidak dapat dibatasi oleh waktu tertentu apakah itu tradisional atau modern.Karena seringkali kita temui, beberapa aliran klasik atau modern masih dipakai dan dianut olehseniman dan perupa kontemporer. Aliran seni rupa modern kontemporer Indonesia sendiri sampai saat ini terusberkembang dan mencari bentuk. Beberapa perupa dengan karyanya lahir mewakili aliran seniyang mereka tekuni. Aliran senir upa secara umum masih banyak mengadaptasi bentuk dan jenisaliran yang datang dari luar. Di bawah ini akan kami jabarkan beberapa aliran dalam seni rupa yang ada dengan parapenganutnya maupun pencetusnya. Sebagai tambahan adalah perupa Indonesia yang menganutaliran ini. hanya dengan pelacakan sederhana, mungkin beberapa aliran seni rupa yang ada itu,tidak seluruhnya ada penganutnya di Indonesia. Pun begitu, beberapa nusantara yang sudahteridentifikasi alirannya akan kami cantumkan berikut ini.A. Impresionisme Impresionisme adalah sebuah aliran yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencayaan yang kuat, dengan penekanan pada tampilan warna dan bukan bentuk. Namun kalangan akademisi ada yang justru menampilkan kesan garis yang kuat dalam impresionisme ini. Aliran Impresionisme muncul dari abad 19 yang dimulai dari Paris pada tahun 1860-an. Nama ini awalnya dikutip dari lukisan Claude Monet, "Impression, Sunrise" ("Impression, soleil levant"). Kritikus Louis Leroy menggunakan kata ini sebagai sindiran dalam artikelnya di Le Charivari.

×