• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Strategic Leadership and Organizational Learning (Review)
 

Strategic Leadership and Organizational Learning (Review)

on

  • 391 views

 

Statistics

Views

Total Views
391
Views on SlideShare
391
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
3
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Strategic Leadership and Organizational Learning (Review) Strategic Leadership and Organizational Learning (Review) Document Transcript

    • Topic : Strategic Leadership and Organizational Learning (A Critical Review) Author(s) : Dusya Vera (University of Houston) and Mary Crossan (University of Western Ontario) Reviewer : Andi Tenripada (Msc in Management Program UGM) Benyamin Molan dalam bukunya yang berjudul Glosarium Prentice Hall (2002:87) memberikan gambaran mengenai Organizational Learning sebagai bentuk organisasi yang telah mengembangkan kapasitas yang berkesinambungan untuk menyesuaikan diri dan berubah. Seperti halnya individu, organisasi juga mengalami proses belajar. Kalau Total Quality Management (TQM) populer pada tahun 1980-an dan direkayasa ulang untuk awal 1990-an, Organizational Learning populer pada pertengahan 1990-an. Organizational Learning dipandang sebagai proses yang strategis dan fundamental khususnya jika dikaitkan dengan keunggulan kompetitif perusahaan di masa depan. Dalam kajian manajemen ini sangat terkait dengan pembahasan kepemimpinan, meskipun ada banyak pendekatan dan perspektif yang digunakan dalam memandang kajian ini, tetapi pertanyaan mendasar “ What is the impact leadership style on organizational learning?” merupakan pertanyaan yang populer digunakan. Dalam pengembangannya, Vera dan Crossan (2004) menyayangkan keterbatasan literatur para peneliti yang ingin mengaji peran para CEO dan Top Manajemen dalam mengimplementasikan Organizational Learning ini jika dibandingkan dengan minat yang terus tumbuh dalam membahas topik manajemen secara umum, padahal ahli kepemimpinan strategik (Hambrick & Mason dalam Vera dan Crossan, 2004) menegaskan bahwa top manajemen keberadaannya sangat penting dalam organisasi karena salah satu kekuasaan (kekuasaan pengambilan keputusan) diletakkan di tangan mereka dan hal tersebut akan menentukan outcome-nya. Meskipun dalam literatur lain juga disebutkan asumsi implisit tentang peran strategic leader yang kelak memandu usaha menuju proses organizational learning, akan tetapi peneliti belum dapat menggambarkan perilaku dan mekanisme yang spesifik yang akan ditunjukkan oleh leader tersebut. Meskipun, telah banyak anggaran yang dikucurkan guna mendanai pelatihan, pendataan, dan bahkan menghadirkan “new learning departments” di perusahaannya namun para CEO dan top executive kekurangan pedoman dalam menyikapi bagaimana mereka seharusnya memfasilitasi pembelajaran tersebut. Teoritical Model yang berusaha dibangun dalam artikel ini mengajukan beberapa preposisi dan diharapkan mampu menggambarkan bagaimana perilaku dan praktik para pemimpin strategik seharusnya dalam proses organizational learning. Bangunan Dasar Teori Kepemimpinan dan Organizational Learning Menyadari bahwa tulisan ini berangkat dari pembahasan terkait kepemimpinan dan Organizational Learning maka beberapa pandangan terkait hal tersebut perlu kita pahami. Menurut Hambrick dan Pettigrew (dalam Vera dan Crossan, 2004:222), Ilmu manajemen membedakan konsep leadership dan strategic leadership. Leadership Teory mengacu pada leaders di semua level organisasi sedangkan strategic leadership teory mengacu pada study tentang orang-orang yang berada di level-level puncak / atas organisasi. Hal lain yang membedakan keduanya adalah leadership research fokus pada bagian-bagian partikular hubungan antara 1
    • leaders dan followers yang pada kenyataannya dapat dilihat melalui banyak perspektif misalnya pendekatan trait dan style leaders, pendekatan sosiologis, contingency approaches, leader-member exchange teory dll. Sebaliknya, strategic leadership reseach fokus pada executive work, tidak hanya aktivitas relasional tetapi juga aktivitas strategis dan aktivitas simbolik. Tulisan ini tidak ingin berfokus pada pembahasan tentang bagaimana karakteristik hubungan antara pemimpin-pengikut meskipun Vera dan Crossan (2004) mengadopsi paradigma strategic leadership tetapi lebih jauh mereka ingin menelisik bagaimana pemegang koalisi dominan dalam perusahaan (top manajemen) memengaruhi proses organizational learning secara strategis. Yang menarik adalah, Vera dan Crossan (2004) membahas secara teoritik pendekatan trasformational leadership pada organizational learning dan menantang kita membenturkannya dengan teori yang dianggap konvensional yakni transactional leadership dengan sebaik mungkin. Kesimpulan dari pendekatan kedua teori tersebut menghasilkan berbagai bentuk pengklasifikasian diantaranya: 1. Transformational Leadership a. Models of charismatic, inspirational and visionary ledearship b. Mengikuti pengembangan teori dari House & Shamir (1993) ; Westley & Mintzberg (1989) c. New Leadership berdasarkan Bass model d. Transformational Leadership membantu para individu-individu melalui kharisma dan energi pribadi, memberi inspirasi pertimbangan dan rangsangan intelektual. Mereka disebut juga sebagai pemimpin kharismatik 2. Transactional Leadership a. Relations - Oriented versus Task – Oriented leadership b. Mengikuti pengembangan House and Mitchell’s (1774) path goal teory c. Traditional Leadership berdasarkan Bass Model d. Transactional Leadership memotivasi individu melalui contingent – reward exchanges dan active management-by-exception (Avolio, Bass, & Jung dalam Vera dan Rossan : 224) e. Pemimpin transaksional menyusun tujuan dan memperjelas peran dan tuntutan tugas sebagaimana yang diekspektasikannya, mereka memberi reward atas usaha dan komitmen guna menjaga timbal balik yang membangun antar mereka dan memastikan pengikutnya tetap konsisten menjalankan tugasnya masing-masing. Poin penting yang ditangkap dari alur teori yang dibahas disini adalah kita memahami melalui konsep bahwa leader terbaik adalah orang yang mampu menggabungkan kedua model baik model kepemimpinan transformasional maupun kepemimpinan transaksional dalam mangatur organisasinya karena transformational leadership merefleksikan sebuah sistem yang terbuka (innovator and broker) serta human relations (facilitator and mentor) sedangkan transactional leadership merefleksikan kemampuan berperan dalam internal process (coordinator and monitor) dan rational goal (producer and director. 2
    • Conceptual Framework Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, pada model yang ditujukkan oleh Vera dan Crossan (2004) ini akan dikembangkan secara lebih eksplisit hubungan antara leadership dan organizational learning. Kerangka konseptual yang diajukan sebagai berikut: Preposisi The fundamental premise in this model  1. Organizational learning membutuhkan pemimpin stratejik yang sering tampil berperan menjalankan Need for a combined leadership style model kepemimpinan transformatif maupun transaksional meski dalam kondisi berbeda. 2a. Kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif dalam feed-forward yang menjadi tantangan pembelajaran institusional 2b. Kepemimpinan transaksional memiliki dampak positif dalam feed-forward yang menguatkan  pembelajaran institusional. Strategic leadership and Learning Flows 3a. Kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif dalam feedback yang menjadi tantangan pembelajaran institusional 3b. Kepemimpinan transaksional memiliki dampak positif dalam feedback yang menguatkan pembelajaran institusional. 4a. Kepemimpinan transformatif memiliki dampak positif dalam pembelajaran level individu, grup atau  organisasi yang menantang pembelajararan institusional. Strategic Leadership and Learning Stock 4b. Kepemimpinan transaksional memiliki dampak positif dalam pembelajaran level individu, grup atau organisasi yang menguatkan pembelajaran institusional. 5a. Ketika mensejajarkan wadah pembelajaran organisasi, kepemimpinan trasnformasional akan mengembangkan a) budaya terbuka, b) struktur organik, c) system dan prosedur yang fleksibel, d)  Strategic Leadership and organizational prospector strategy Repositories of Learning 5b. Ketika mensejajarkan wadah pembelajaran organisasi, kepemimpinan transaksional akan mengembangkan a) budaya tertutup, b) struktur mekanistik, c) system dan prosedur yang kaku, d) defender strategy a. Environment 6a. Dalam lingkungan yang bergolak dan tidak pasti, kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif pada pembelajaran feed-forward dan feedback 6b. Dalam lingkungan yang stabil dan pasti, kepemimpinan trensaksional memiliki dampak positif pada pembelajaran feedback b. Prior firm performance 7a. Ketika kinerja perusahaan buruk, kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif pada pembelajaran feed-forward dan feedback.  Contigency 7b. Ketika kinerja perusahaan baik, kepemimpinan transaksional memiliki dampak positif pada pembelajaran feedback c. Stage of organizational live 8a. Untuk perusahaan pada tahap awal, kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif pada pembelajaran feed-forward. 8b. Untuk perusahaan pada tahap pertumbuhan dan kedewasaan, kepemimpinan transaksional memiliki dampak positif pada pembelajaran feed-forward dan feedback. 8c. Untuk perusahaan pada tahap penurunan, kepemimpinan transformasional memiliki dampak positif pada pembelajaran feed-forward dan feedback. Saya sepakat dengan pendapat penulis yang mendorong perlunya kedua model ini baik kepemimpinan transactional / tranformational dapat diamati pada keseluruhan aspek perilaku yang diinginkan atau dibutuhkan dalam mengelola organizational learning karena dianggap dapat membangun kombinasi personal humility plus proffesional will. Misalnya dalam konteks Indonesia dapat dilihat pada model duet kepemimpinan JokowiAhok, meskipun masih dapat dikembangkan dalam berbagai instrument-instrumen tambahan. Kedua gaya 3
    • kepemimpinan efektif memfasilitasi organizational learning meskipun dalam situasi berbeda. Untuk penelitian empiris selanjutnya perlu mengukur peran variabel moderator dari hubungan antara gaya kepemimpinan dan proses pembelajaran (baik individu maupun organisasi). Karena sekali lagi kepemimpinan sangat terkait erat dengan budaya organisasi, pengelolaan konflik maupun perilaku individu. Diharapkan kedua model ini dapat bertransformasi dengan baik pada diri seorang pemimpin bukan sekedar pencitraan atau tuntutan kondisi yang mengharuskan untuk menjadi figur. Begitu pun sebaliknya, ruang membuka peluang para pekerja untuk dapat lebih terbuka mengeksplorasi dirinya dengan lebih baik. Materi kepemimpinan sangat membuka ruang lebar untuk didiskusikan dalam berbagai baik dalam dunia bisnis maupun sosial, politik, hingga budaya. Referensi Kreitner, R and Kinichki, A (2011), “Organizational Behavior, 9th Edition”. Mc.Graw-Hill. Molan, Benyamin. 2002. Glosarium Prentice Hall untuk Manajemen dan Pemasaran, PT.Prenhallindo. Jakarta Vera, D. and Crossan, M. 2004. Strategic Leadership And Organizational Learning, The Academy of Management Review, Vol. 29, No. 2,pp 222-240 4