Your SlideShare is downloading. ×
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Qawaid fiqhiyyah sebagai
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Qawaid fiqhiyyah sebagai

10,834

Published on

Andi AMin …

Andi AMin
samawa

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
10,834
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
251
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. QAWAID FIQHIYYAH SEBAGAI LANDASAN PERILAKU EKONOMI UMMAT ISLAM: SUATU KAJIAN TEORETIK AbstrakQawa’id fiqhiyyah sebagai landasan umum dalam perilaku sosial memberikanpanduan bagi masyarakat untuk melakukan interaksi dengan sesamanya. Tulisan inimelaporkan hasil penelitian terhadap qawa’id dan implikasinya dalam pemikiran danperilaku ekonomi dalam masyarakat.Dalam hal ini, pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukanuntuk melakukan suatu “ijtihad” atau pembaharuan pemikiran. Para ulama danfuqaha terdahulu, sejak akhir abad ke-2 Hijriyyah telah merintis batu peletakanqawa’id melalui karya-karya agung mereka, yang sampai kini masih terlihatmanfaatnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan modern, termasuk ekonomi.Para ulama/fuqaha dari keempat madzhab fiqh tersebut menyusun qawa’id dalamjumlah yang begitu banyak, sebagiannya sama atau serupa, sehingga susah untukdiketahui jumlahnya secara pasti.Fokus penelitian ini pada 99 (sembilan puluh sembilan) qawa’id yang disusun paraulama pada Dinasti Turki Usmani, yaitu al-majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah padasekitar awal abad ke-13 Hijriyah atau tepatnya sekitar tahun 1286 H. Darikeseluruhannya, terdapat lebih dari 70 (tujuh puluh) qawa’id yang dapat dijadikanrujukan untuk diturunkan ke dalam pemikiran dan perilaku ekonomi modern.Keywords: qawa’id (qai’dah) fiqhiyyah, qa’idah asasiyyah¸asybah wan-Nadzair. 1
  • 2. BAB 1 PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGSebagai landasan aktifitas ummat Islam sehari-hari dalam usaha memahamimaksud-maksud ajaran Islam (maqasidusy Syaricah) secara lebih menyeluruh,keberadaan Qawa’id fiqhiyyah menjadi sesuatu yang amat penting, termasuk dalamkehidupan berekonomi. Baik di mata para ahli usul (usuliyyun) maupun fuqaha,pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukan untuk melakukansuatu “ijtihad” atau pembaharuan pemikiran dalam masalah muamalat atau lebihkhas lagi ekonomi. Manfaat keberadaan qawa’id fiqhiyyah adalah untuk menyediakanpanduan yang lebih praktis yang diturunkan dari nash asalnya yaitu al-qur’an danal-Hadits kepada masyarakat. Maqasidusy Syaricah diturunkan kepada manusiauntuk memberi kemudahan dalam pencapaian kebutuhan ekonomi, yang dapatdikategorikan menjadi tiga yaitu: 1) Menjaga dan memelihara kepentingan primer atau Dharuriyyat (basic necessities) yang biasa didefinisikan oleh para ulama dengan 5 (lima) elemen cakupan yaitu: agama, kehidupan (jiwa) akal, keturunan dan kekayaan 2) Memenuhi kebutuhan sekunder atau Hajjiyyat yaitu kebutuhan- kebutuhan seperti kendaraan dan sebagainya sebagai fasilitas hidup manusia; serta 3) Mencapai kebutuhan tersier atau Tahsiniyyat (kemewahan) untuk melengkapi kebutuhan manusia dalam hal memperindah kehidupan dengan sedikit kemewahan secara tidak berlebihan,Dengan qawa’id fiqhiyyah ini para ulama dan fuqaha dapat menyiapkan garispanduan hidup bagi ummat Islam dalam lingkup yang berbeda dari waktu ke waktudan tempat ke tempat. Sebagaimana diketahui Islam memberi kesempatan kepadaummatnya melalui mereka yang memiliki otoritas yaitu para ulama untuk melakukanijtihad dengan berbagai caara yang dituntunkan oleh Rasulullah, melalui ijma’, qiyas,istihsan, istishab, istislah (masalihul-mursalah) dan sebagainya untuk mencarikebenaran yang tak ditemukan dalam al-Qur’an maupun Hadts Rasulullah SAW.Demikian pula, dalam kehidupan ekonomi, atau yang dalam khazanah karya para 2
  • 3. fuqaha terdahulu biasa disebut muamalat, pemakaian qawa’id fiqhiyyah menjadisesuatu yang amat penting.Ratusan atau bahkan mungkin ribuan qawa’id telah dirumuskan oleh para fuqahadari kalangan empat madzhab. Ash-Shiddieqie (1981) memandang qa’idah sebagaisebuah perangkat yang cukup penting sebagai panduan untuk menurunkan kaidahyang memerlukan pembuktian. Para fuqaha terdahulu menyusun qawa’id dalamsuatu panduan yang disebut al-Asybah wan-Nazhaair. Istilah ini dipakai pertama kalioleh Khalifah Umar bin Khaththab ketika menunjuk Abu Musa al-‘Asycari menjadiQadhi di Bashra, dengan menyatakan “Fahami tentang penampakan dan kemiripansuatu masalah (al-Asybah wan-Nazhaair), kemudian tetapkan qiyas untuk masalahyang serupa.” Para fuqaha sepakat bahwa proses pemahaman dan penurunanqawa’id ini sama dengan proses yang dilakukan oleh para usuliyyun dalammenurunkan panduan hukum berupa Qawa’id al-Usuliyyah berdasarkan metodeqiyas.Terdapat sejumlah qawa’id fiqhiyyah yang dirumuskan oleh para ulama/fuqaha,sebagai bagian dari fatwa mereka, yang menyinggung persoalan perilaku ekonomiumat Islam. Sebagi contoh: ‘al-aadah muhakkamah atau kebiasaan dapat menjadidasar hukum. Dalam suatu masyarakat, dimana transaksi jual beli dalam skala kecilbiasa dilaukan tanpa harus menyebutkan ‘aqadnya, maka apabila antara penjual danpembeli sudah saling memahami akan terjadinya transaksi tersebut, sebagaimanakebiasaan pada masyarakat yang bersangkutan, maka proses transaksi yangmemberi kemudahan tersebut dianggap sah.1.2. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk a) Mengetahui besarnya kontribusi para fuqaha terdahulu dalam meyusun qawa’id fiqhiyyah; b) Mengetahui kontribusi dan mengukur relevansi qawa’id fiqhiyyah dalam pemikiran dan perilaku ekonomi ummat; dan1.3. METODOLOGI1.3.1. Sumber PustakaPenelitian ini berbentuk studi literatur yang berkaitan dengan topik utama yaituqawa’id fiqhiyyah. Sumber-sumber pustaka didapatkan dari sumber-sumber berikut: a) Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY); 3
  • 4. b) Koleksi buku-buku pribadi penulis tentang ekonomi Islam; c) Perpustakaan International Islamic University Malaysia (IIUM); dan d) Sumber-sumber lain yang dirasa perlu.1.3.2. Metode AnalisaLiteratur yang relevan diteliti secara langsung, baik dari karya-karya para fuqahaterdahulu dalam bentuk manuskrip, maupun karya-karya para ulama, cendekiawanatau fuqaha terkemudian dalam bentuk komentar atau hasil penelitian terhadapmanuskrip tersebut. Qawa’id tersebut selain diklasifikasikan berdasar: 1) Madzhab dalam pemikiran fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’ie dan Hanbali); dan 2) Qawa’id sebagai landasan pemikiran, gerak dan perilaku ekonomi.Kendala penelitian menghendaki peneliti untuk membatasi analisa hanyaberdasarkan 99 (sembilan puluh sembilan) qawa’id yang terdapat dalam Al-majallahal-Ahkaam al-cAdliyyah karya para ulama Dinasti Turki Usmani, yang dianggap cukuprepresentative. 4
  • 5. BAB 2 STUDI TENTANG QAWA’ID FIQHIYYAH2.1. PENGERTIAN DAN BATASANDalam Dictionary of Modern Written Arabic, karya Milton Cowan (ed) kata qa’idah (‫)قاعدة‬ atau jama’nya qawa’id (‫ )قواعد‬secara literal berarti: asas, landasan, dasar, basisatau fondasi suatu bangunan atau ajaran agama dan sebagainya. Dalam pengertianyang lebih khas, qa’idah dapat juga bermakna ajaran, garis panduan, formula, polaatau metode. Qa’idah memiliki makna yang sama dengan ‘asas’ atau ‘prinsip’ yangmendasari suatu bangunan, agama atau yang semisalnya (al-Nadwi, 1991).Dari sisi pengertian menurut ilmu fiqh, Nadwi (1991) dan juga al-Jurjani (Djazuli,2006) mendifinisikan qai’dah sebagai aturan umum atau universal (kuliyyah) yangdapat diterapkan untuk semua yang bersifat khusus atau bagian-bagiannya(juz’iyyah). Sedang dalam pandangan para fuqaha yang lain qa’idah adalah aturanumum yang mencakup sebagian besar (aghlabiyyah) dari bagian-bagiannya (Nadwi).Mukhtar dkk (1995b) menyimpulkan qa’idah sebagai aturan umum yang diturunkandari hukum-hukum furu’ yang sejenis dan jumlahnya cukup banyak.Berdasarkan penelitian terhadap kitab-kitab dan riwayat hidup para penyusunnya,aturan fiqih dalam bentuk qa’idah ini dapat tersusun melalui suatu proses yangpanjang dan tidak terbentuk sekaligus sebagai sebuah bangunan pengetahuan (bodyof knowledge) tentang qa’idah sekaligus, melainkan secara bertahap (Jazuli, 2006).Menurut Jazuli, sebelum al-Karkhi dari madzhab Hanafi, sebelumnya telah adapengumpulan qa’idah, namun tampaknya tidak tersusun menjadi karya sistematis,oleh seorang ulama madzhab Hanafi lainnya, yaitu Abu Thahir ad-Dibasi hidupdiakhir abad ke 3 Hijriyah sampai dengan awal abad ke empat. Sebanyak 17 qa’idahtelah disusun oleh ad-Dibasi, yang kemudian juga disampaikan kepada seorangulama madzhab as-Syafii yaitu Abu Sa’id al-Harawi. Dari sumber ad-Dibasi, al-Karkhimengembangkannya lebih lanjut menjadi 36 qa’idah (an-Nadwi, 1997) atau 37 qa’idah(Jazuli). Proses pembentukan qa’idah dilukiskan oleh Jazuli sebagai berikut: 5
  • 6. Al-Qur’an Qa’idah Al-Hadits Ushul Fiqh Fiqh Fiqhiyyah Verifikasi Qa’idah Fiqhiyyah Qa’idah Fiqhiyyah Fiqh Qanun Gambar 1: Proses penyusunan Qawa’id FiqhiyyahQawa’id disusun berdasarkan materi-materi fiqh, untuk selanjutnya diverifikasiuntuk mendapatkan hasil qawa;id yang lebih sempurna, untuk kemudian tersusunkembali fiqh sebagai kelengkapan dari khazanah fiqh yang telah ada, kemudianketentuan-ketentuan hukumnya menjadi hasil akhir dari proses tersebut.2.2. POSISI QAWA’ID FIQHIYYAH DALAM SYARI’AH ISLAMProses penerapan aturan syar’i dalam qa’idah menurut Mahmassani (1980) samadengan penerapan metodologi qiyas dalam memilih aturan yang tepat dalam usulfiqh. Apabila aturan rinci sebagaimana dijumpai pada al-Asybah wan-Nazhair munculdari kasus yang serupa, maka qa’idah dengan sendirinya dapat diterapkan. Nadwi(1991) dan Mahmassani berpendapat bahwa tulisan tentang qawa’id fiqhiyyahtersusun sejak mulai abad ke delapan Hijriyah, melalui karya Ibnul Wakil as-Syafi’i(716 H), Tajuddin as-Subki (771 H), Ibnul Mulaqqin (804 H), dan yang lebihmonumental lagi karya Jalaluddin as-Suyuti (911 H). Satu karya yang juga tak kalahpentingnya adalah berasal dari madzhab Hanafi yaitu karya Ibnu Nujaim (970 H).Dalam ketiga kitab al-Asybah wan-Nazhair karya Tajuddin as-Subki, Jalaluddin as-Suyuti maupun Ibnu Nujaim (970 H), pembedaan antara qa’idah umum atau asasdengan qa’idah khusus atau rinci (detail) dijelaskan secara memadai. As-Subki danas-Suyuti merumuskan Lima qa’idah asasiyyah yang dikenal dengan al-Asasiyyatul-Khamsah, yang kemudian disusun dalam al-Majallah yang dikeluaran pada jamanpemerintahan Turki Usmani, yaitu: 1) Artikel-2 Al-umuur bimaqaasidihaa (‫بمقاصصصدها‬ ‫)المور‬ atau setiap perkara itu ditetukan berdasarkan niatnya; 6
  • 7. 2) Artikel -4 Al-yaqiin laa yuzaalu bisy-syakk (‫بالشصصك‬ ‫)اليقيصصن ل يزال‬ yaitu sesuatu yang pasti tidak dapat dihapus oleh keraguan. Dalam hal lain disebutkan Al-yaqiin laa yazuulu bisy-syakk (‫بالشصك‬ ‫)اليقيصن ل يزول‬ atau sesuatu yang pasti tidak dapat berubah disebabkan oleh keraguan; 3) Artikel -17 Al-musyaqqah tajlibut taysiir (‫التيسصير‬ ‫ص‬ ‫)المشقصصة تجلب‬ atau kesulitan itu mendatangkan kemudahan; 4) Artikel -21 Adh-dhararu yuzaalu (‫يزال‬ ‫)الضرر‬ atau kemadharatan hendaknya dihapuskan; dan 5) Artikel -36 Al-‘aadah muhakkamah (‫محكمصصة‬ ‫)العادة‬ atau adat kebiasaan dapat menjadi sumber hukum.Sementara itu Ibnu Nujaim menambah satu lagi qa’idah asas sehingga menjadi enam,yaitu laa tsawaaba illaa bin-niyyah ‫ل ثواب ال بالنية‬atau tidak ada pahala bagi perbuatan yang tidak disertai dengan niat, yang kemudianmenjadi qa’idah asas yang berlaku di kalangan madzhab Hanafi. Sementara itu dikalangan madzhab Maliki, qa’idah ini menjadi cabang dari qa’idah al-umuurbimaqaasidihaa.Dalam penerapannya, Jazuli mengklasifikasikan qawa’id dalam enam bidang, yaituibadah mahdhah (khusus), ahwal as-Syahshiyyah (hal-ikhwal pribadi dan keluarga),mu’amalah (transaksi ekonomi), jinayah (kriminalitas), siyasah (politik), dan fiqhqadha (hukum acara dan peradilan). Namun demikian penerapan qa’idah untukbidang mu’amalah tidak banyak menyinggung masalah penerapan untukperekonomian modern secara umum. Disini keberadaan qawa’id fiqhiyyah menjadilebih jelas maknanya.2.3. QAWA’ID FIQHIYYAH DALAM MASALAH EKONOMIBeberapa qa’idah fiqhiyyah memberi ruang kepada pemikiran ataupun praktek-praktek ekonomi, sebagaimana yang juga diklasifikasikan oleh Jazuli (2006). Dalamkaryanya, al-Fiqh al-Islam fi Tsaubihi at-Tajdid, terbitan tahun 1963, MuhammadMustafa az-Zarqa, sebagaimana dikutip oleh Jazuli (2006), menyebutkan setidaknya25 qawa’id yang terkait dengan transaksi muamalah. Seiring perkembangan jaman,keperluan adanya kaidah yang lebih banyak, nampaknya tidak dapat dihindarkan.Sedangkan Jazuli sendiri menyebutkan 20 qawa’id yang memberi ruang kepadatransaksi ekonomi dan muamalah. 7
  • 8. Diantara qawa’id yang paling mendasar dalam masalah ini adalah al-aslu fi al-mu’amalah al-ibaahah illaa an-yadull daliil ‘alaa tahriimihaa. ‫الصل فى المعاملة الباحة إل أن يدل دليل على تحريمها‬Segala bentuk muamalah pada dasarnya adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil yangmengharamkannya. Ini menjadi alasan bagi setiap bentuk transaksi perdagangan danekonomi menjadi halal kecuali jelas ada alasan yang melarangnya. Hanya penulistidak menemukan qawa’id ini dalam al-majallah. 8
  • 9. BAB 3 QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN EMPAT MADZHAB FIQHBerdasarkan sumber-sumber yang diteliti, keempat madzhab banyak memberikankontribusi dalam pengembangan qawa’id fiqhiyyah. Masing-masing madzhab memilikisetidaknya seorang termasyhur dalam pengembangan qawa’id fiqhiyyah tersebut.Pemikiran keempat madzhab dalam qawa;id dipaparkan dalam keempat sub-babdibawah ini.3.1. QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB HANAFIBerdasarkan bahan yang terkumpul dalam penelitian, terdapat enam karya darikalangan madzhab Hanafi antara lain a) Usuul al-Karkhi karya cUbaidullah ibn Hasan al-Karkhi (260-340 H) b) Ta’siis al-Nadzr karya al-Qadhi, cUbaidullah ibn cUmar ad-Dabusi (430 H) c) Al-Ashbaah wa al-Nazhaa’ir oleh Zainudddin ibn Ibrahim Ibn Nujaim (970 H) d) Majaamic al-Haqaa’iq yang ditulis oleh Abu Sa cid al-Khadimi. ( 1176 H), e) Al-Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah oleh Komite ‘Ulama Daulah c Usmaniyyah (1286 H), dan f) Al-Faraa’id al-Bahiyyah fi al-Qawaacid al-Fawaa’id al-Fiqhiyyah karya Ibn Hamzah al-Husaini (1305 H).Diantara keenam karya tersebut, Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah merupakan satu-satunya karya yang ditulis oleh sebuah tim yaitu para ‘Ulama yang ditunjuk olehPemerintah Daulah Usmaniyah di Turki. Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah terdiri dari99 qawa’id ditambah dengan sebuah pendahuluan, yang tersusun dalam 1851 ayat.Ushuul Al-Karkhi memuat 36 qawa’id yang menurutnya disebut qawa’id al-Asl atauqawa’id asal, yang kemudian diberikan komentar atau syarah oleh Najmuddin an-Nasafi yang juga dari madzhab Hanafi. Sementara itu, karya Ibnu Nujaim, Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir, merupakan sebuah karya yang masyhur dari kalnganmadzhab Hanafi. Karya ini terdiri dari 6 (enam) qawa’id dasar (qawa’id al-asasiyyah)—5 (lima) diantaranya juga dimuat dalam al-Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah ayat-ayat 2, 4, 17, 21 dan 36—ditambah dengan 19 (sembilan belas) qawa’id cabang ataual-furu’iyyah. Karya Ibnu Nujaim ini juga mendapat tanggapan luas dari berbagai 9
  • 10. kalangan madzhab Hanafi, dengan ditulisnya beberapa ulasan atau komentar parafuqaha terkemudian, empat diantaranya adalah: a) Tanwiir al-Bashaa’ir calal-Asybaah wan-Nazhaa’ir (1005 H) oleh cAbdul- Qadir Sharif uddin al-Ghazzi; b) Ghamzu cUyuun al-Bashaa’ir Syarh al-Asybaah wan-Nazhaa’ir (1098 H) oleh Ahmad ibn Muhammad al-Hamawi; c) cUmdatu dzawil-Basyaa’ir li-Halli Muhtamaati al-Asybaah wan-Nazhaa’ir (1099H.) karya Ibrahim ibn Hussain, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Biri al-Makkati. d) cUmdatu an-Naadzir cala al-Asybaah wan-Nazhaa’ir oleh Abu Su cud al- Husaini.3.2. QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB MALIKIDari mahdzhab Maliki, beberapa ulama juga menyumbangkan tulisan tentang qawa’idfiqhiyyah. Karya dari kalangan madzhab Maliki tidak sebanyak dari madzhab Hanafidan Syafii. Karya-karya tersebut antara lain adalah: a) Anwaar al-Buruuq fi Anwaar al-Furuuq atau lebih dikenal juga sebagai: Al- Furuuq; Kitab al-Anwaar wal-Anwaa’; atau Kitab al-Anwaar wal-Qawaacid as-Sunniyyah oleh al-Imam Syihabudin cAbdul-Abbas Ahmad as-Sonhaji al-Qarafi (260-340 H); b) Al-Qawaacid oleh Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Muqarri (758 H); c) Iidhaah al- Masaalik ilaa Qawaacid al-Imaam Maalik hasil karya Ahmad ibn Yahya ibn Muhammad at-Tilmisani al-Winsyarinsi (914 H); d) Al-Iscaaf bit-Thalab Mukhtasar Sharh al-Manhaj al-Muntakhab c alaa Qawaacid al-Madzhab karya as-Syaikh Abul-Qasim ibn Muhammad at- Tiwani ( 995 H)Karya terakhir, at-Tiwani, al-Is’aaf, diulas dengan sajian ringkas oleh setidaknya cAbul-Hasan Ali ibn Qasim al-Zaqqaq, al-Fasi, at-Tujibi dalam al-Manhaj al-Muntakhab calaa Qawaacid al-Madzhab (912 H), dan dikomentari oleh Ahmad ibn cAlial-Fasi al-MaghribiSementara itu madzhab Syafii paling banyak memberikan kontribusi qawa’idfiqhiyyah dalam khazanah fiqh Islam. Pengaruhnya di Indonesia juga cukup meluas,utamanya karya salah seorang faqih besar seperti Jalaludin as-Suyuti yang menulis 10
  • 11. al-Asybaah wan-Nazhaa’ir dalam beberapa jilid. Jilid 1 berisi tentang qawa’id dasar(asas) sebanyak lima buah sebagaimana yang disebutkan dalam al-Majallah di atas.Qawa’id ini juga cukup popular, bukan saja di indoneisa melainkan juga di wilayahnegeri-negeri Muslim lainnya, termasuk Malaysia dan juga di Timur Tengah. Dikalangan madzhab Syafii, kelima qawa’id ini dianggap sebagai qawa’id yang utama.Kitab 2 al-Asybaah wan-Nazhaa’ir berisi tentang qawa’id umum (‘amm) sebanyak 40qawa’id, sedang 20 qawa’id lagi masuk dalam kategori diperselisihkan kedudukannya,termuat dalam Jilid 3 – 7.3.3. QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB SYAFI’ISecara lengkap, karya-karya tentang qawa’id fiqhiyyah di kalangan madzhab Syafiiberdasarkan urutan sejarahnya antara lain adalah: a) Qawaacid al-Ahkaam fi Masaalih al-‘Anaam oleh cIzzuddin cAbdul cAziz ibn c Abdus Salam ( 577 - 660 H); b) Kitaab Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir karya Sadraddin Abi cAbdullah ibn Murahhil, Ibn Wakil al-Syafi ci (716 H); c) Majmuuc al-Mudzhab fil-Qawaacid al-Madzhab oleh Salahuddin Abi Sa cid al- c Ala’i as-Syafi ci (761 H); d) Al-Asybaah wa al-Nazhaa’ir oleh cAbdul-Wahhab ibn cAli Tajuddin as-Subki (771 H); e) Al-Manthuur fi Tartiib al-Qawaacid al-Fiqhiyyah aw al-Qawaacid fi al-Furuuc oleh Muhammad ibn Bahadur Badruddin az-Zarkashi (794 H); f) Al-Ashbaah wa al-Nazhaa’ir karya Sirajudddin cUmar ibn cAli al-Ansari, yang lebih terkenal dengan pangggilan Ibnul-Mulaqqin (804 H); g) Al-Qawaacid oleh Taqiyyuddin Abu Bakr ibn Muhammad ibn cAbdul- Mu’min, al-Hisni (829 H); h) Al-Ashbaah wa al-Nazhaa’ir oleh Jalaluddin cAbdur Rahman ibn Abi Bakr ibn Muhammad as-Suyuthi (al-Asyuthi) (804 H); dan i) Al-Istighnaa’ fi al-Furuuq wa al-Istithnaa’ karya Badruddin Muhammad ibn Abi Bakr ibn Sulaiman al-BakriDi atas telah disinggung sedikit tentang karya as-Suyuthi, al-Asybaah wan-Nazhaa’ir,yang cukup masyhudr di kalangan madzhab Syafi’i. Selain karya as-Suyuthi, kitabMajmuu’ul Madzhab karya al-‘Alai jug amendapat perhatian para fuqaha madzhabSyafii, seperti ulasan-ulasan yang diberikan dalam kitab Mukhtashar al-Qawaacidal-‘Alai seperti oleh: 11
  • 12. a) Al-‘Allamah as-Syarkhadi (792 H) yang merupakan kombinasi dengan tulisan al-Isnawi untuk topik yang sama; dan b) Al-‘Allamah ibn Khatib ad-Dahsyah yang mengkombinasikan dengan kuliah-kuliah dari al-Isnawi3.4. QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB HANBALIDi kalangan madzhab Maliki, terdapat setidaknya lima kitab karya para fuqaha mulaidari pertengahan abad ke-7, sejak karya Ibnu Taymiyyah hingga abad ke-14Hijriyyah pada periode al-Qari. Mereka antara lain: a) Al-Qawaacid al-Nuuraaniyyah al-Fiqhiyyah oleh Taqiyyuddin Abu al-cAbbas Ahmad ibn cAbd al-Halim ibn Taymiyyah (661 - 728 H); b) Al-Qawaacid al-Fiqhiyyah oleh Sharifuddin Ahmad ibn al-Hasan, ibn Qadhi al-Jabal al-Maqdisi (771 H); c) Taqriir al-Qawaacid wa Tahriir al-Fawaa’id (al-Qawaacid) karya c Abdurrahman Shihab ibn Ahmad ibn Abi Rajab (Ibn Rajab) al-Hanbali (795H); d) Al-Qawaacid al-Kulliyyah wa al-Dhawaabit al-Fiqhiyyah (771 H) karya Jamaluddin Yusuf ibn Hasan ibn Ahmad ibn cAbdul-Hadi (1309-1359 H); dan e) (Qawaacid) Majallah al-Ahkaam al-Shar ciyyah calaa Madzhab al-Imaam Ahmad ibn Hanbal oleh Ahmad ibn cAbdullah al-Qari (1309-1359 H)Secara ringkas, karya tentang qawa’id fiqhiyyah dan para penulis yang memberikankontribusinya dapat dipaparkan dalam Table 1 berikut ini: Table 1 Qawa’id dalam Karya Empat Madzhab Fiqh Periode JumahNama/Sebutan Kitab Penulis (Hijriyah) Qawaid1) HanafiUsuul al-Karkhi al-Karkhi 260-340 36 (asl)Ta’siis an-Nadzr Abi Zaid al- 430 86 DabusiAl-Asybaah wan-Nazhaa’ir Ibn Nujaim 6 Asas 19 Furu’Majaamic al-Haqaa’iq al-Khadimi 1176 154Majallah al-Ahkaam al- Daulah al- 1286 99 12
  • 13. c cAdliyyah UsmaniyyahAl-Faraa’id al-Bahiyyah fil- Ibn Hamzah al- 1305 30Qawaacid al-Fawaa’id al- HusainiFiqhiyyah2) MalikiAl-Furuuq; Kitab al-Anwaar Syihabuddin 260-340 548wal-Anwaa’; or Kitab al- al-Qarafi cAnwaar wal-Qawaa id as-SunniyyahAl-Qawaacid al-Muqarri 758 100Iidhaah al- Masaalik ilaa Ahmad al- 914 118Qawaacid al-Imaam Maalik WinsyarinsiAl-Iscaaf bit-Talab Mukhtasar at-Tiwani 912Syarhul-Manhaj al-Muntakhabcalaa Qawaacid al-Madzhab3) SyafiiQawaacid al-Ahkaam fi c Izzuddin c Abd 577-660 -Masaalih al-‘Anaam as-SalamKitaab Al-Asybaah wan- Ibn Wakil as- 716 -Nazhaa’ir SyafiiMajmuuc al-Mudzhab fi al- Salahuddiin al- 761 20 c cQawaa id al-Madzhab Ala’iAl-Asybaah wan-Nazhaa’ir Tajuddin as- 771 60 SubkiAl-Mantsuur fi Tartiib al- Badruddin az- 794 100Qawaacid al-Fiqhiyyah awil- ZarkashiQawaacid fil-FuruucAl-Asybaah wan-Nazhaa’ir Ibn al- 804 MulaqqinAl-Qawaacid c Abd al- 829 Mu’min, al- HisniAl-Asybaah wan-Nazhaa’ir as-Suyuthi 804 5 asas 40 ‘amm 20 ikhtilafiAl-Istighnaa’ fil-Furuuq wal- Badruddin al- - 600Istitsnaa’ Bakri 13
  • 14. 4) Hanbali al-Qawaacid al-Nuuraaniyyah ibn Taymiyyah 661-728 - al-Fiqhiyyah al-Qawaacid al-Fiqhiyyah Syarifudin al- 771 Maqdisi c Taqriir al-Qawaa id wa Tahriir Ibn Rajab al- 795 160 al-Fawaa’id (al-Qawaacid) Hanbali al-Qawaacid al-Kulliyyah wa al- ibn cAbd al- 1309-13 Dhawaabit al-Fiqhiyyah Hadi 59 (Qawaacid) Majallah al-Ahkaam Ahmad 1309-13 160 al-Shar ciyyah calaa Madzhab c Abdullah al- 59 al-Imaam Ahmad Qari ibn Hanbal BAB 4 APLIKASI QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN EKONOMI4.1. PENDAHULUANAnalisa dalam baba ini lebih terfokus pada pembahasan qawa’id yang terkait denganpersoalan ekonomi. Oleh sebab beberapa kendala, termasuk waktu dan pendanaan,penelitian dibatasi pada qawa’id yang terdapat dalam al-Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah terbitan Daulah Turki Usmani yang disusun sekitar tahun 1286 H. 14
  • 15. Cakupan qawa’id dalam al-Majallah ini dirasa cukup lengkap dan merepresentasikanhampir semua qawa’id yang pernah ditulis oleh para fuqaha/ulama dari keempatmadzhab, sekalipun tidak dapat dipungkiri, bahwa al-Majallah merupakan karyakumpulan qawa’id yang dihasilkan oleh para ulama madzhab Hanafi. Sebagaaikonsekwensinya, banyak qawa’id yang tidak dapat diakomodasi dalam penelitian ini,baik dari kalangan madzhab Hanafi sendiri maupun yang lainnya.4.2. Qawa’id dalam Pemikiran EkonomiDalam aspek transaksi muamalah, terdapat sekitar 25 qawa’id menurut SyehMuhammad Mustafa Zarqa, sebagaimana dikutip oleh Jazuli (2006). Namun apabiladiperluas cakupannya ke dalam ekonomi secara keseluruhan, maka jumlah qawa’idyang dapat diaplikasikan akan menjadi lebih banyak.Dari 99 qawa’id dalam al-Majallah, lebih dari 70 qawa’id dapat diinterpretasikansecara langsung sebagai memiliki implikasi yang bersifat ekonomis, sekalipun tidakdapat lepas dari perspektif yang lain, seperti social, politik, hukum, dan sebagainya.Ini sesuai dengan pngertian atau definisinya, sebagaimana telah didiskusikan di atas(Bab 2), yaitu qa’idah berfungsi sebagai aturan umum atau universal (kuliyyah) yangdapat diterapkan untuk semua yang bersifat khusus atau bagian-bagiannya(juz’iyyah). Atau dengan kata lain, sebagaimana kesimpulan Mukhtar dkk (1995b)qa’idah sebagai aturan umum yang diturunkan dari hukum-hukum furu’ yang sejenisdan jumlahnya cukup banyak.Apabila diperbandingkan dengan tulisan Jazuli (2006), maka hasil penelitian inimemberi gambaran bahwa jumlah qawa’id yang terkait dengan masalah ekonomijauh lebih banyak, dari pada jumlah yang terkait dengan transaksi muamalahsebagaimana ditulis karya Jazuli. Akan tetapi perlu dicatat pula bahwa dari 20qawa’id yang ditulisnya, hanya ada 8 (delapan) qawa’id yang sama, sedangkanselebihnya didapatkan dari karya-karya ulama lainnya. Kedelapan qawa’id tersebutdipaparan dalam Tabel 2 berikut: Table 2 Qawa’id sebagai dalam Pemikiran Ekonomi/Muamalat dalam al-Majallah dan dalam kKarya Jazuli (2006) 15
  • 16. Apabila sesuatu itu batal maka batallah apa ‫إذا بطل الشيء بطل ما فى‬1 yang ada didalammnya ‫ضمنه‬ Tidaklah sempurna ‘aqad tabarru’ ‫ل يتم التبرع إل بقبض‬2 (pemberian) kecuali setelah diserahkan, (sebelum diminta sudah diberi) Hak mendapat hasil itu sebagai ganti ‫الخراج بالضمان‬3 kerugian (yang ditanggung) Pendapatan/upah dengan jaminan itu tidak ‫الجر والضمان ل يجتمعان‬4 datang secara bersamaan5 Risiko itu sejalan dengan keuntungan ‫الغرم بالغنم‬ Hal yang dibolehkan syariat tidak dapat ‫الجواز الشرعي ينافي الضمان‬6 dijadikan beban/tanggungan Perintah menasarufkan (memanfaatkan) ‫المر بالتصرف فى ملك الغير‬7 barang orang lain (tanpa ijin pemiliknya) ‫باطل‬ adalah batal Tidak boleh bagi seorang pun merubah ‫ل يجوز لحد أن يتصرف فى‬8 /mengganti milik orang lain tampa izin ‫ملك الغير بل إذنه‬ pemiliknya.Ini memberitahukan kepada kita betapa jumlah qawa’id yang disusun paraulama/fuqaha terdahulu jumlahnya cukup banyak dan susah ditentukan secarapasti. Pada sisi lain, ia juga memberi gambaran betapa keseriusan mereka benar-benar luar biasa, sehingga generasi terkemudian dapat memanfaatkannya denganlebih mudah. 16
  • 17. BAB 5 PENUTUP5.1. KESIMPULANQawa’id fiqhiyyah merupakan landasan umum dalam pemikiran dan perilaku sosialmemberikan panduan bagi masyarakat untuk melakukan interaksi dengansesamanya. Panduan yang diberikan menyangkuit beberapa aspek kehidupan sepertihukum, ekonomi, sosial, politik dan kenegaraan, budaya, dan sebagainya sampaipada masalah pernikahanPenelitian ini memfokuskan pada qawa’id dalam karya-karya para ulama/fuqaha darikalangan empat madzhab fiqh, dan implikasinya dalam pemikiran dan perilakuekonomi dalam masyarakat.Dalam hal ini, pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukanuntuk melakukan suatu “ijtihad” atau pembaharuan pemikiran. Para ulama danfuqaha terdahulu, sejak akhir abad ke-2 Hijriyyah telah merintis batu peletakanqawa’id melalui karya-karya agung mereka, yang sampai kini masih terlihatmanfaatnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan modern, termasuk ekonomi.Para ulama/fuqaha dari keempat madzhab fiqh tersebut menyusun qawa’id dalamjumlah yang begitu banyak, sebagiannya sama atau serupa, sehingga susah untukdiketahui jumlahnya secara pasti.Fokus penelitian ini pada 99 (sembilan puluh sembilan) qawa’id yang disusun paraulama pada Dinasti Turki Usmani, yaitu al-majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah padasekitar awal abad ke-13 Hijriyah atau tepatnya sekitar tahun 1286 H. Darikeseluruhannya, terdapat lebih dari 70 (tujuh puluh) qawa’id yang dapat dijadikanrujukan untuk diturunkan ke dalam pemikiran dan perilaku ekonomi modern.5.2. SARAN UNTUK PENELITIAN KE DEPANOleh sebab keterbatasan waktu dan financial, penelitian ini tidak dapat meneruskanpada masalah implikasi pemikiran dan perilaku ekonomi secara sektoral. Selain itu,kebanyakan materi qawa’id juga berlaku sangat umum, sehingga hamper dapatdiberlakukan secara keseluruhan bagi semua sector dalam ekonomi. Akan tetapi,apabila dilacak karya-karya diluar al-Majallah, ada kemunginan beberapa qawa’idyang dapat diinterpretasikan secara khas untuk setiap masalah atau sector dalam 17
  • 18. ekonomi. Untuk itulah penelitina secara lebih detail untuk setiap aspek perludilakukan secara terpisah. 18
  • 19. DAFTAR PUSTAKAAlwani, Taha Jabir al-. Source Methodology in Islamic Jurisprudence: Usul al-Fiqh al- Islami, Revised English Ed. By Yusuf Talal DeLorenzo and Anas S. Al-Shaikh-Ali. Herndon, Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1415/1994.Djazuli, H.A. (2006). Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah Praktis. Kencana, Prenada Media GroupKamali, Muhammad Hashim, 1989, Principles of Islamic Jurisprudence, Pelanduk Publication (M) Sdn Bhd., Petaling Jaya, Malaysia.Mahmassani, Sobhi. 1980, Falsafah al-Tashric fi al-Islam, English translation by Farhat J. Ziadeh, Shah Alam, Malaysia, Penerbitan Hizbi, 1987. The original Arabic, Beirut, Dar al-cilm li al-Malayin.Muqorobin, Masyhudi (2003). Legal Maxim Related to Islamic Economics. ISEFID Review 2(1): 131-143.Muchtar, Kamal, dkk (1995). Ushul Fikh (Jilid 1), Yogyakarta: Penerbit Dana Bakti Wakaf.Nadwi, Ali Ahmad al-. 1412H/1991M, Al-qawacid al-fiqhiyyah: Mafhumuha, Nash- atuha, Tatawwuruha, Dirasatu Mu-allafatiha, Adallatuha, Muhimmatuha, Tatbiqatuha, Dar al-Qalam, Damascus.Rahman, Fazlur, 1965, Islamic Methodology in History, Islamic Research Institute, Karachi, Pakistan.Shiddieqy, T.M. Hasbi, ash-, 1981, Pengantar Hukum Islam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta.Syabir, Muhammad Usman (2000). Al-Qawa’id al-Kulliyyah wad-dhawabith al- Fiqhiyyah. Yordania: daarul-Furqaan.Weeramantry, C.G. Islamic Jurisprudence: An International Perspective, Hampshire and London: The Macmillan Press Ltd. 19
  • 20. LAMPIRAN QAWA’ID FIQHIYYAH DALAM AL-MAJALLAH AL-AHKAAM AL-CADLIYYAH Artikel.1…Para peneliti dari ahli fiqh ‫المادة 1- .... إن المحققين من‬ mengembalikan persoalan-persoalan fiqh ‫الفقهاء قد أرجعوا المسائل‬ kepada kaidah-kaidah umum, semuanya itu otentik untuk seluruh permasalahan- ‫الفقهية إلى قواعد كليه، كل منها‬ permasalahan yang ada,…maka dari itu ... .‫ضابط وجامع لمسائل كثيرة‬ disusun 99 kaidah fiqhiyyah…, dan diantara kaidah-kaidah ini, jika dilihat secara (99) ‫فلذا جمع تسع وتسعون‬ mufrad (tersendiri), terdapat pengecualian ‫قاعدة فقهية. ... وأن بعض هذه‬Artikel No. 1 tertentu diantara kesempurnaannya, akan ‫القواعد، وان كانت بحيث إذا‬ tetapi tidak menutupi keumumannya dari sisi keseluruhan, karena itu sebagiannya ‫انفرد، يوجد من مشتمل ته‬ mengikat sebagian yang lain. ‫بعض المستثنيات، لكن ل تختل‬ Keterangan: 1. Sesuatu yang menyeluruh maka ‫كليتها و عمومتها من حيث‬ dikecualikan ‫المجموع، لما إن بعضها‬ 2. Sesuatu yang umum maka dikhususkan ‫.يخصص ويقيد بعضا آخر‬ 3. Sesuatu yang banyak maka ditentukan satu (diikat) Setiap perkara (perbuatan) itu tergantung ‫المور بمقاصدها‬2 pada tujuannya. Patokan dalam akad (Ibrah) diambil dari ‫العبرة فى العقود للمقاصد‬3 maksud/tujuan dan maknanya bukan dari ‫والمعاني ل لللفاظ والمباني‬ ungkapan dan bentuknya Sesuatu yang sudah diyakini tidak dapat ‫اليقين ل يزال بالشك‬4 dihapus oleh keragu-raguan (‫)اليقين ل يزول بالشك‬ Yang menjadi patokan adalah tetapnya ‫الصل بقاء ما كان على ما كان‬5 sesuatu menurut keadaan semula Sesuatu yang lama akan ditinggalkan ‫القديم يترك على قدمه‬6 sebagaimana asalnya7 Kemadharatan tidak akan terjadi sejak awal ‫الضرر ل يكون قديما‬ Bebas dari tanggungan adalah prinsip yang ‫الصل براءة الذمة‬8 mendasar. Asal dari sifat-sifat yang nyata (terlihat) ‫الصل فى الصفات العارضة‬9 adalah ketiadaan ‫العدم‬10 Sesuatu yang tetap pada zamannya akan ‫وما ثبت بزمان محكم ببقائه مالم‬ 20
  • 21. dinilai kekal kecuali terdapat dalil yang ‫يوجد دليل على خلفه‬ membuktikan penolakannya. Asal suatu perubahan pristiwa baru ‫الصل إضافة الحادث إلى‬11 dianggap sebagai peristiwa yang berlangsung ‫أقرب أوقاته‬ dalam waktu terdekat (dari sekarang) Asal dalam perkataan itu adalah hakikat. ‫الصل فى الكلم الحقيقة‬ (Artinya jika ada perkataan yang bisa12 diartikan secara hakiki dan majasi, maka perkataan mesti diartikan secara hakiki) Tidak perlu ambil perhatian terhadap dalil ‫ل عبرة للدللة في مقابلة‬13 apabila ada pernyataan yang jelas ‫التصريخ‬ Tidak ada tempat untuk berijtihad jika ada ‫لمساغ للجتهاد فى مورد‬14 nasth yang menerangkannya (al-Qur’an dan ‫النص‬ al-Hadits) Sesuatu yang tetap atas penolakan terhadap ‫ما ثبت على خلف القياس‬15 qiyas maka tidak (boleh dipakai) untuk ‫فغيره ل يقاس عليه‬ menetapkan qiyas yang lain. Sebuah ijtihad tidak dapat membatalkan ‫الجتهاد ل ينقض بمثله‬16 yang semisalnya (ijtihad yang lain)17 Kesulitan itu akan menarik kemudahan ‫المشقة تجلب التيسير‬ Perkara yang berlaku dalam kesempitan, ‫المر إذا ضاق إتسع‬18 harus diberikan kelonggaran atasnya (‫)إذا ضاق المر إتسع‬ Madharat tidak bisa diselesaikan dengan ‫ل ضرر ول ضرار‬19 kemadharatan juga20 Kemadharatan itu harus dihilangkan. ‫الضرر يزال‬ Keadaan darurat membolehkan sesuatu ‫الضرورات تبيح المحظورات‬21 yang dilarang Sesuatu yang dibolehkan karena darurat itu ‫الضرورات تقدر بقدرها‬22 mesti disesuaikan dengan kadar kedaruratannya. Sesuatu yang dibolehkan karena uzur, maka ‫ما جاز لعذر بطل بزواله‬23 batallah sebab hilangnya uzur tersebut Apa bila hilang penyebab yang melarang ‫إذا زال المانع عاد الممنوع‬24 sesuatu maka yang dilarang itu boleh dilakukan Kemadharatan tidak boleh dihilangkan ‫الضرر ل يزال بمثله‬25 dengan kemadharatan yang semisal Menanggung suatu Kemadharatan khusus ‫يحتمل الضرر الخاص لمنع‬26 untuk menolak Kemadharatan umum. ‫الضرر العام‬ Kemadharatan yang lebih besar/ berat ‫الضرر الشد يزال بالضرر‬27 dihilangkan dengan Kemadharatan yang ‫الخف‬ lebih ringan28 Apabila dua kerusakan bertabrakan maka ‫إذا تعارض مفسدتان روعي‬ 21
  • 22. dilihat/dipilih yang lebih ringan ‫أعظمهما ضررا بارتكاب‬ ‫أخفهما‬29 Memilih yang lebih kecil dari dua keburukan ‫يختار أهون الشرين‬ Menolak suatu kerusakan didahulukan dari ‫درء المفاسد أولى من جلب‬30 pada menarik kemaslahatan. ‫المنافع‬ Kemadharatan itu sedapat mungkin harus ‫الضرر يدفع بقدر المكان‬31 ditangkis Kebutuhan bisa menjadi sesuatu ‫الحاجة تنزل منزلة الضرورة‬32 kepentingan Sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa ‫إن الضطرار ل يبطل حق‬33 ditawar-tawar lagi tidak membatalkan hak ‫الغير‬ bagi yang lain Sesuatu yang diharamkan mengambilnya ‫ما حرم أخذه حرم اعطاؤه‬34 maka diharamkan juga memberikannya Sesuatu yang haram mengerjakannya maka ‫ما حرم فعله حرم طلبه‬35 haram juga meminta mengerjakannya36 Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum ‫العادة محكمة‬ Jika manusia sudah sepakat dengan sesuatu ‫استعمال الناس حجة يجب‬37 (kesepakatan umum) maka wajib dikerjakan ‫العمل بها‬ Larangan adat adalah menjadi larangan ‫الممتنع عادة كالممتنع حقيقة‬38 sebenarnya (secara hakikat) Tidak dipungkri perubahan hukum dengan ‫ل ينكر تغير الحكام بتغير‬39 adanya perubahan zaman ‫الزمان‬ Suatu kenyataan akan ditinggalkan ‫الحقيقة تترك بدللة العادة‬40 berdasarkan adat Hanya akan dianggap sebagai suatu adat ‫إنما تعتبر العادة إذا اضطردت‬41 jika apa bila menjadi suatu mayoritas dalam ‫أو غلبت‬ masyarakat Perhatian lebih diberikan pada kejadian yang ‫العبرة للغالب الشائع ل للنادر‬42 sering (mayoritas), bukannya yang jarang (minoritas) Sesuatu yang dikenal akan menjadi adat ‫المعروف عرفا كالمشروط‬43 seperti yang disyaratkan menjadi syarat ‫شرطا‬ Sesuatu yang dikenal diantara masyarakat ‫المعروف بين التجار‬44 itu seperti menjadi syarat dikalangan mereka ‫كالمشروط بينهم‬ Penetapan secara adat seperti penetapan ‫التعيين بالعرف كالتعيين بالنص‬45 secara nash (teks) Apa bila bercampur suatu larangan dengan ‫إذا تعارض المانع والمقتضى‬46 perintah maka didahulukan larangan ‫يقدم المانع‬ Sesuatu yang terkait dengan sebuah obyek, ‫التابع تابع‬47 maka ia diakui keabsahannya 22
  • 23. Sesuatu yang terkait dengan sebuah obyek ‫التابع ليفرد بالحكم‬48 tidak dihukumi secara terpisah. Seseorang yang memiliki sesuatu maka ia ‫من ملك شيئا ملك ما هو من‬49 juga memiliki segala kepentingan atasnya ‫ضروراته‬ Apabila terputus sesuatu yang dasar maka ‫إذا سقط الصل سقط الفرع‬50 terputus pula suatu cabangnya Sesuatu yang terputus itu tidak akan ‫الساقط ل يعود كما أن المعدوم‬51 kembali seperti sesuatu yang hilang tidak ‫ل يعود‬ kembali Apabila sesuatu itu batal maka batallah apa ‫إذا بطل الشيء بطل ما فى‬52 yang ada didalammnya ‫ضمنه‬ Apa bila batal suatu yang dasar /asal maka ‫إذا بطل الصل يصار الى‬53 ia merubah menjadi perubahan,maka asal ‫البدل‬ itu menjadi berubah Tidak diperbolehkannya sesuatu yang terkait ‫يغتفر التوابع مال يغتفر فى‬ dengan barang tidak berarti dilarangnya54 ‫غيرها‬ yang lain yang terkait dengan barang tersebut Sesuatu yang dilarang dengan cara yang ‫يغتفر فى البقاء ما ل يغتفر فى‬55 baru, mungkin diperbolehkan dengan cara ‫البتداء‬ melanjutkan. Meneruskan sesuatu lebih mudah dari pada ‫البقاء أسهل من البتداء‬56 memulainya Tidaklah sempurna ‘aqad tabarru’ ‫ل يتم التبرع إل بقبض‬57 (pemberian) kecuali diberikan/diserahkan, (sebelum diminta sudah diberi) Tasharruf (tindakan –pemimpin-) terhadap ‫التصرف على الرعية منوط‬58 rakyat harus dihubungkan dengan ‫بالمصلحة‬ kemashlahatan -kepentingan umum-. Kewenangan khusus (pribadi) lebih kuat dari ‫الولية الخاصة أقوى من‬59 pada kewenangan umum (publik) ‫الولية العامة‬ Mengamalkan maksud suatu kalimat, lebih ‫إعمال الكلم أولى من إهماله‬60 utama dari pada mengabaikannya (menyia- nyiakannya) Apabila maksud hakiki tidak dapat ‫إذا تعذرت الحقيقة يصار إلى‬61 ditangkap, maka pengertian majazi ‫المجاز‬ (metaforis) dapat dipakai Apabila perkataan itu lemah dalam ‫إذا تعذر إعمال الكلم يهمل‬62 pelaksanaan maka abaikan saja Hubungan terhadap bagian-bagian yang ‫ذكر بعض مال يتجزأ كذكر كله‬63 takterpisahkan dinilai seperti hubungan terhadap keseluruhan64 Sesuatu yang mutlaq berjalan dengan ‫المطلق يجري على إطلقه ما‬ 23
  • 24. kemutlakannya selama tidak ada nash atau ‫لم يقم دليل التقييد نصا أو دلله‬ dalil yang mengikatnya Sifat yang tampak tidak memiliki nilai ‫الوصف فى الحاضر لغو وفى‬65 kebenaran, maka sifat yang tidak tampak ‫الغائب معتبر‬ dapat dipakai66 Pertanyaan itu diulangi di dalam jawaban ‫السؤال معاد فى الجواب‬ Perkataan tidak dapat dinisbatkan kepada ‫ل ينسب إلى ساكت قول، لكن‬ orang yang diam, tetapi diam adalah sama ‫السكوت فى معرض الحاجة‬ dengan pernyataan, ketika bicara67 diperlukan. (Artinya orang yang diam ketika ‫بيان‬ berbicara itu menjadi keharusan, maka ia dianggap membuat pernyataan (menyetujui/ menolak). Bukti atas sesuatu yang tidak jelas ‫دليل الشيئ فى المور الباطنة‬68 dikembalikan pada kedudukannya ‫يقوم مقامه‬ Tulisan seseorang itu seperti halnya ‫الكتاب كالخطاب‬69 perkataan Isyarat yan dikenal karena kebisuan seperti ‫الشارات المعهودة للخرس‬70 suatu keerangan dengan lisan ‫كالبيان باللسان‬71 kata terjemahan diterima secara mutlaq. ‫يقبل قول المترجم مطلقا‬ Tidak dipegangi sesuatu (hukum) yang ‫ل عبرة للظن البين خطؤه‬72 berdasarkan pada Dhon -persangkaan yang kuat- yang jelas salahnya. Tidak di jadikan hujjah sesuatu yang ‫ل حجة مع الحتمال الناشئ عن‬73 berdasarkan kemungkinan yang berlawanan ‫دليل‬ dengan dalil Tidak bia dijadikan patokan sesuatu yang ‫ل عبرة للتوهم‬74 bimbang/was-was Keputusan dengan bukti yang otentik seperti ‫الثابت بالبرهان كالثابت بالعيان‬75 kepastian melihat dengan mata kepala sendiri Bukti dituntut atas orang yang menggugat/ ‫البينة على المدعي واليمين على‬76 menuduh, sedangkan sumpah atas yang ‫من أنكر‬ menolak/ mengingkarinya Bukti adalah untuk memastikan sesuatu ‫البينة لثبات خلف الظاهر‬ yang berlawanan secara lahiriyah, sedang77 ‫واليمين لبقاء الصل‬ sumpah untuk memastikan sesuatu yang asal Bukti adalah kepastian mutlak (bagi fihak ‫البينة حجة متعدية والقرار‬78 ketiga), sedang ikrar (pengakuan) hanyalah ‫حجة قاصرة‬ bukti relatif bagi yang menyatakannya.79 Seseorang itu terikat oleh pengakuannya ‫المرء مؤاخذ بإقراره‬80 Sesuatu yang diperdebatkan tidak bisa ‫ل حجة مع التناقض ولكن ل‬ 24
  • 25. dijadikan hujjah, tetapi jga tidak dapat ‫يختل معه حكم الحاكم‬ menafikan keputusan hakim Sesungguhnya ditetapkannya cabang itu ‫قد ثبت الفرع مع عدم ثبوت‬81 tidak berarti dengan meniadakan yang asal/ ‫الصل‬ pokok Fihak yang dibebani oleh syarat wajib ‫المعلق بالشرط يجب ثبوته عند‬82 memenuhinya ketika syarat disebutkan. ‫ثبوت الشرط‬ Lazimnya pemenuhan syarat itu sesuai ‫يلزم مراعة الشرط بقدر‬83 kemampuan yang memungkinkan ‫المكان‬ Janji yang diiringi persyaratan adalah lazim ‫المواعيد باكتساء صور التعاليق‬84 ‫تكون لزمة‬ Hak mendapat hasil itu sebagai ganti ‫الخراج بالضمان‬85 kerugian (yang ditanggung) Pendapatan/upah dengan jaminan itu tidak ‫الجر والضمان ل يجتمعان‬86 datang secara bersamaan Risiko itu sejalan dengan keuntungan (yakni ‫الغرم بالغنم - ) يعني إن من‬ orang yang memperoleh manfaat atas87 ‫) ينال نفع شيئ يحتمل ضرره‬ sesuatu, pada saat yang sama ia harus mau berkorban). Kenikmatan itu setaraf dengan pengorbanan ‫النعمة بقدر النقمة والنقمة بقدر‬88 dan pengorbanan setaraf dengan ‫النعمة‬ kenikmatan Perbuatan itu disandarkan pada pelakunya ‫يضاف الفعل الى الفاعل ل‬89 kecuali pada suatu kasus yang belum ‫المر مالم يكن مجبرا‬ terjabarkan Apabila terdapat dua orang terlibat suatu ‫إذا اجتمع المباشر والمتسبب‬ perkara, yang seorang terlibat langsung dan ‫يضاف الحكم الى المباشر‬90 yang lain hanya terlibat sebab-sebab, maka hukum dibebankan pada orang yang terlibat secara langsung saja Hal yang dibolehkan syariat tidak dapat ‫الجواز الشرعي ينافي الضمان‬91 dijadikan beban/tanggungan Orang yang berbuat sesuatu, meskipun ‫المباشر ضامن وان لم يتعمد‬92 tanpa sengaja, tetap harus menanggung beban Tidak dikenai beban orang yang terlibat ‫المتسبب ل يضمن ءال بالتعمد‬93 dalam sebab suatu kejadian kecuali dengan sengaja ia hendak melakukannya Tidak ada beban yang terkait dengan ‫جناية العجماء جبار‬94 kecelakaan disebabkan oleh binatang atas kemauanya sendiri. 25
  • 26. Perintah menasarufkan (memanfaatkan) ‫المر بالتصرف فى ملك الغير‬95 barang orang lain (tanpa ijin pemiliknya) ‫باطل‬ adalah batal Tidak boleh bagi seorang pun merubah ‫ل يجوز لحد أن يتصرف فى‬96 /mengganti milik orang lain tampa izin ‫ملك الغير بل إذنه‬ pemiliknya. Tidak boleh bagi seseorang mengambil milik ‫ل يجوز لحد أن يأخذ مال أحد‬97 orang lain tanpa sebab syar’i ‫بل سبب شرعي‬ Perubahan sebab kepemilikan barang adalah ‫تبدل سبب الملك قائم مقام تبدل‬98 setara dengan perubahan pada barang itu ‫الذات‬ sendiri Barang siapa yang mendahulukan sesuatu ‫من استعجل الشيئ قبل أوانه‬99 sebelum waktunya, maka ia dibebani atas ‫عوقب بحرمانه‬ larangan yang ada didalamnya Barang siapa berusaha menyanggah ‫من سعى فى نقض ما تم من‬100 perbuatannya sendiri, maka usahanya itu ‫جهته، فسعيه مردود عليه‬ tertolak 26

×