ANCAMAN BUDAYA POP KOREA TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI INDONESIA

  • 3,959 views
Uploaded on

Penelitian ini pada dasarnya membahas bagaimana budaya pop Korea dapat berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia dan pengaruhnya terhadap eksistensi …

Penelitian ini pada dasarnya membahas bagaimana budaya pop Korea dapat berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia dan pengaruhnya terhadap eksistensi kebudayaan lokal Indonesia menghadapi serbuan budaya pop Korea yang datang. Penelitian ini bertujuan mengetahui penetrasi budaya pop Korea yang begitu cepat masuk ke Indonesia dan dapat menjadi ancaman bagi budaya lokal Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi secara langsung, dan data sekunder. Observasi dan wawancara dilakukan kepada beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia untuk mendukung argumen dari penulis. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penulis mendapati bahwa eksistensi kebudayaan lokal bangsa Indonesia masih tidak tergantikan oleh budaya pop Korea di kalangan mahasiswa karena mereka berasal dan menjadi bagian dari Indonesia. Dari penelitian ini, kita dapat menyadari bahwa masyarakat Indonesia harus selalu menghargai dan peduli terhadap kebudayaannya sendiri sehingga Indonesia diharapkan dapat mengikuti jejak keberhasilan budaya pop Korea suatu hari nanti.

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • saran dan kesimpulannya kurang ngena jadi terkesan kaku dan data2nya kurang lengkap. padahal bisa diperluaas lagi pembahasannya karena banyak materi yang bisa diangkat sebagai sajian yang baru dan refrensi
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
3,959
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
1
Likes
7

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. UNIVERSITAS INDONESIA ANCAMAN BUDAYA POP KOREA TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI INDONESIA ARTIKEL JURNAL ALVIN AGUSTINO SAPUTRA 1006664804 PROGRAM SARJANA REGULER PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI PEMINATAN INDUSTRI KREATIF PENYIARAN DEPOK JANUARI 2014
  • 2. ANCAMAN BUDAYA POP KOREA TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI INDONESIA Alvin Agustino Saputra 1. Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia, Depok, 16436, Indonesia e-mail: alvinagustinosaputra@gmail.com Abstrak Penelitian ini pada dasarnya membahas bagaimana budaya pop Korea dapat berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia dan pengaruhnya terhadap eksistensi kebudayaan lokal Indonesia menghadapi serbuan budaya pop Korea yang datang. Penelitian ini bertujuan mengetahui penetrasi budaya pop Korea yang begitu cepat masuk ke Indonesia dan dapat menjadi ancaman bagi budaya lokal Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi secara langsung, dan data sekunder. Observasi dan wawancara dilakukan kepada beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia untuk mendukung argumen dari penulis. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penulis mendapati bahwa eksistensi kebudayaan lokal bangsa Indonesia masih tidak tergantikan oleh budaya pop Korea di kalangan mahasiswa karena mereka berasal dan menjadi bagian dari Indonesia. Dari penelitian ini, kita dapat menyadari bahwa masyarakat Indonesia harus selalu menghargai dan peduli terhadap kebudayaannya sendiri sehingga Indonesia diharapkan dapat mengikuti jejak keberhasilan budaya pop Korea suatu hari nanti. Kata Kunci: budaya lokal; budaya pop Korea; eksistensi; glokalisasi; imperialisme budaya Threat of Korean Pop Culture to Existence of Indonesian Local Culture Abstract This paper looks at Korean pop culture that grows and spreads rapidly to other countries around the world, including Indonesia and its impact to the existence of Indonesian local culture in facing the invasion of Korean pop culture. This study also aims to know and understand high penetration of Korean pop culture that entries to Indonesia because Indonesian local culture can be threatened. This study is a research by using qualitative approach and collecting data with in-depth interview, direct observation, and secondary data from literatures, books, or website on internet. Observation and interview are conducted to several students from Communication Science Department of University Indonesia for supporting writer’s arguments. Through analysis, this study elicits the existence of Indonesian local culture is still not replaced with Korean pop culture among the students because they realize that they are part of it. From this study, we can realize that Indonesian people must appreciate and care about their own culture in order to follow the success of Korean pop culture someday. Keywords: Local culture; Korean pop culture; existence; glocalization; culture imperialism ii
  • 3. 1. Pendahuluan Perkembangan zaman di era globalisasi sekarang sangat pesat sehingga membuat kita sering takjub dengan adanya segala jenis perubahan baru yang terjadi di dalam bidang kehidupan manusia. Salah satunya yang mengalami perubahan adalah dalam bidang kebudayaan. Kebudayaan dapat dikatakan sebagai hasil karya pemikiran manusia yang dilakukan dengan sadar dalam kehidupan masyarakat. Pada hakikatnya, kebudayan memang bersifat dinamis atau akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman yang ada. Perubahan pada kebudayaan tidak dapat dihindari atau akan selalu terjadi dan berlangsung dengan sangat cepat. Kedinamisan kebudayaan ini dapat disebabkan banyak faktor yang mendukungnya. Salah satu faktornya adalah adanya kontak dengan kebudayaan lain. Hal ini tentunya juga berlaku pada kebudayaan bangsa Indonesia. Kebudayaan lain di sini adalah kebudayaan asing yang dapat masuk ke Indonesia sewaktu-waktu dan membuat perubahan yang signifikan mulai dari pola berpikir, pola perilaku, sampai ke pola kehidupan masyarakat Indonesia. Negara Indonesia dikenal sebagai bangsa yang terkenal dengan negara multikultural atau menjunjung tinggi keanekaragaman yang ada dan keunikan yang dimilikinya. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa atau etnis, bahasa, ras, kepercayaan, dan hal lain sebagainya. Indonesia juga menunjung tinggi kebudayaannya yang bersumber dari beragam tradisi dan adat istiadat yang tersebar di tiap-tiap daerah mulai dari Sabang sampai Merauke. Budaya lokal Indonesia tersebut juga merepresentasikan nilai-nilai sosial, seni, dan historis yang sangat mencirikan kekhasan negara Indonesia. Sebagai contoh dari budaya lokal Indonesia adalah tarian-tarian daerah, lagu-lagu daerah, pakaian-pakaian adat, cerita rakyat, alat-alat musik daerah, dan lain sebagainya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tetapi, hal ini sangat disayangkan karena kondisi yang terjadi saat ini adalah budaya lokal itu mulai ditinggalkan dan bahkan sebagian masyarakat Indonesia tidak mau mengakui kebudayaannya sebagai bagian dari mereka. Karakter masyarakat Indonesia yang lebih menyukai budaya asing yang masuk mengakibatkan hilangnya budaya lokal Indonesia secara perlahan-lahan. Pada awalnya, dominasi budaya asing yang masuk di Indonesia dibawa oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang mempunyai penetrasi yang sangat kuat sehingga dapat menghasilkan dampak yang besar terhadap kebudayaan di Indonesia. Ternyata, sekarang negara-negara di Asia, khususnya Asia Timur pun juga sudah mulai mendominasi dan menggeser posisi Amerika Serikat dan negara-negara Barat dari peringkat pertama di dunia 1
  • 4. dalam penyebaran kebudayaannya ke negara-negara lain. Korea Selatan merupakan salah satu negara di Asia yang mempunyai dominasi dan pengaruh yang kuat terhadap negara lainnya, terutama dengan adanya penyebaran budaya pop Korea. Penyebaran budaya pop ini dapat dilihat persebarannya melalui tayangan program di televisi, koran, majalah, internet, dan media komunikasi lainnya yang mulai dapat mempengaruhi gaya hidup, pola berpikir, pola tingkah laku, bahkan pola kehidupan masyarakat di Indonesia. Apabila orang-orang yang lahir pada tahun 1970-an atau 1980-an ditanya mengenai serial drama, film atau musik dari negara Asia mana yang terpopuler di Indonesia pada era generasinya, sebagian besar dari mereka mungkin akan menjawab Jepang, Cina, atau Hongkong tanpa menyebut Korea di dalamnya. Hal ini dapat diilustrasikan berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Kawakimi dan Fisher (1994) mengenai industri musik Asia yang menempatkan Jepang, Cina, dan Indonesia sebagai negara-negara yang musiknya mengagumkan. Tidak hanya musik, tetapi film-film Asia yang beredar pada akhir 1980-an sampai pertengahan 1990-an didominasi oleh Jepang dan Hongkong yang memang menjadi kiblat perfilman Asia. Sedangkan, Korea tidak pernah disebut atau diperhitungkan, bahkan film Korea tidak menjadi tuan rumah di bioskop sendiri pada tahun 1994 karena 80 persen industri film bioskop Korea diisi oleh film-film Hollywood (Ryoo, 2008). Penyebaran dan pengaruh budaya pop Korea melalui produk-produk budaya populer, seperti film, drama, musik, aksesoris, dan hal lain sebagainya ini juga terjadi tidak terkecuali di Indonesia. Budaya pop Korea dapat dikatakan telah merajai negeri Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan terhadap reaksi masyarakat Indonesia terhadap budaya pop Korea tersebut. Sebagian besar reaksi masyarakat Indonesia yang terlihat adalah sangat antusias dan bahkan fanatik terhadap budaya pop Korea yang masuk ke Indonesia. Budaya pop yang dibawa oleh Korea ini dapat menjangkau segala usia tidak hanya anak-anak dan remaja tetapi juga sampai dengan orang dewasa sekalipun. Tetapi, yang paling berpengaruh biasanya adalah generasi muda di suatu negara yang cenderung masih dalam tahap pencarian jati diri atau belum mencapai kedewasaan yang benar-benar matang. Generasi muda sekarang akan dengan mudah menyebut judul film, musik, atau drama Korea, terlepas dari apakah ia pernah mengkonsumsi semua hal tersebut. Fakta bahwa hampir sebagian besar generasi muda di Indonesia dapat mengenali keberadaan produk budaya pop Korea menunjukkan suatu realitas yang jelas, yaitu budaya Korea telah berkembang begitu pesatnya, hingga sukses menjangkau popularitas di mancanegara. Dengan masuknya budaya pop Korea ke Indonesia dapat menimbulkan masalah dengan kebudayaan lokal yang ada di Indonesia. Para generasi muda yang mudah 2
  • 5. terpengaruh akan mulai meninggalkan kebudayaan bangsa mereka dan lebih memilih budaya pop Korea yang masuk ke Indonesia. Generasi muda, khususnya mahasiswa yang seharusnya berupaya untuk menjaga dan mempertahankan kebudayaannya atau bahkan dapat mengikuti jejak budaya pop Korea dengan menonjolkan kelebihan dan keunikan kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Jangan sampai di saat budaya kita tergantikan bangsa lain, barulah kita menyadari betapa bagusnya nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita itu sendiri. Karakter masyarakat bangsa Indonesia, terutama para generasi mudanya yang suka mengimitasi atau meniru budaya dari negara lainnya dapat membuat matinya kreativitas yang dimiliki oleh generasi muda tersebut dan dapat menyebabkan hilangnya identitas atau jati diri bangsa Indonesia. Hal ini seakan-akan membuat negara Indonesia tidak mempunyai karakter kebudayaannya sendiri yang khas dan dapat ditonjolkan. Masuknya budaya pop Korea ini dapat dikatakan mengancam eksistensi budaya lokal Indonesia dan menggesernya dari hati masyarakat Indonesia di negerinya sendiri. Penulis sangat tertarik dengan fenomena budaya pop Korea yang terjadi sekarang di Indonesia dan ingin mengetahui serta memahami lebih lanjut alasan-alasan yang mendukung hal ini bisa terjadi. Selain itu, penulis juga ingin mengetahui pengaruhnya terhadap budaya lokal Indonesia itu sendiri dalam menanggapi budaya pop Korea yang terus berkembang dengan pesat. Hal ini akan dibuktikan melalui pengamatan penulis di lingkungan kampus FISIP, khususnya di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sebagai lingkungan tempat belajar penulis. Hal tersebut menjadikan penulis tertarik untuk meneliti kesadaran budaya lokal Indonesia di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Universitas Indonesia Tahun 2010 berkaitan dengan menyebarnya budaya pop Korea di Indonesia serta respon dan sikap dari kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Universitas Indonesia Tahun 2010 terhadap budaya pop Korea yang masuk. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui penetrasi dan pengaruh budaya pop Korea dapat menyebar luas dengan sangat pesat ke negara-negara lainnya pada masa sekarang, khususnya di negara Indonesia, berusaha mendalami eksistensi kebudayaan bangsa Indonesia di tengah-tengah maraknya budaya pop Korea yang sedang mengalami perkembangan dan kemajuan pesat pada masa sekarang, dan mengetahui reaksi atau respon generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Universitas Indonesia Tahun 2010 dalam menanggapi masuknya budaya pop Korea ke Indonesia yang seakan-akan dapat mengancam eksistensi kebudayaan lokal negara Indonesia. 3
  • 6. 2. Tinjauan Literatur 2.1 Budaya Populer (Budaya Pop) Secara umum, budaya populer atau yang biasa disebut budaya pop merupakan budaya yang ringan, menyenangkan, trendi, banyak disukai orang dan cepat berganti. Budaya pop juga dapat didefinisikan sebagai budaya massa yang diproduksi secara massal untuk konsumsi massa. Populer yang kita bicarakan disini tidak terlepas dari perilaku konsumsi dan determinasi media massa terhadap publik yang bertindak sebagai konsumen (Strinati, 2003). Dalam pandangan John Fiske (1989), sebuah komoditas budaya haruslah dapat melahirkan ketertarikan pada banyak orang agar menjadi budaya pop karena budaya pop bukan sekedar barang konsumsi, melainkan sebuah budaya. Hollyday, dkk (2004) mengemukakan empat karakteristik budaya populer, antara lain diproduksi oleh industri budaya, cenderung berlawanan dengan folk culture (warisan budaya tradisional yang sifatnya berorientasi ritual dan nonkomersial), keberadaannya diterima di mana-mana, dan memenuhi fungsi sosial. Budaya populer ini berperan besar dalam mempengaruhi pemikiran seseorang dalam memahami orang atau kelompok lain karena budaya pop merupakan budaya yang dapat diterima oleh semua kalangan. Setiawan (2013) menyatakan bahwa Wikipedia memberikan ciri-ciri budaya populer, yaitu: a. Tren, sebuah budaya yang menjadi tren dan diikuti atau disukai banyak orang berpotensi menjadi budaya populer. b. Keseragaman bentuk, sebuah ciptaan manusia yang menjadi tren akhirnya diikuti oleh banyak penjiplak. Karya tersebut dapat menjadi pionir bagi karya-karya lain yang berciri sama. c. Adaptabilitas, sebuah budaya populer mudah dinikmati dan diadopsi oleh khalayak. d. Durabilitas, sebuah budaya populer akan dilihat berdasarkan durabilitas menghadapi waktu yang dapat mempertahankan dirinya bila pesaing yang kemudian muncul tidak dapat menyaingi keunikan dirinya. e. Profitabilitas, budaya populer dari sisi ekonomi berpotensi menghasilkan keuntungan yang besar bagi industri yang mendukungnya. 2.2 Glokalisasi Istilah ini muncul pertama kali pada akhir 1980-an dalam penelitian para ekonom Jepang di Harvard Business Review. Sosiolog bernama Roland Robertson yang 4
  • 7. memperkenalkan kata ini mengatakan bahwa glokalisasi mendeskripsikan hasil penyesuaian budaya lokal terhadap tekanan global. Budaya lokal merupakan entitas yang dijunjung masyarakat di suatu tempat sesuai dengan konteks dan nilai yang berlaku di tempat tersebut. Glokalisasi muncul ketika budaya lokal yang dipegang suatu masyarakat bertemu dengan budaya global dalam bentuk informasi, gaya hidup, produk, dan bahasa yang dibawa oleh arus globalisasi. Thomas Friedman mendefinisikan glokalisasi sebagai kemampuan suatu budaya lokal ketika bertemu dengan budaya kuat (global) lainnya dengan menyerap pengaruh-pengaruh yang diterimanya secara alami dari budaya global, memperkaya budaya lokal, dan menyaring budaya global yang masuk. Glokalisasi dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena proses melokalkan produk-produk budaya global sesuai dengan kondisi internal atau di dalam suatu negaranya yang kemudian diadaptasikan dengan kebudayaan lokal yang ada. Dalam glokalisasi mengenai budaya, ada beberapa kategori yang merepresentasikan glokalisasi dalam fenomena sosial, identitas budaya, dan makna, antara lain relativitas, akomodasi, hibridisasi, dan transformasi. 2.3 Imperialisme Budaya Imperialisme budaya dapat dikatakan sebagai suatu corak hubungan di mana sebuah masyarakat mendominasi masyarakat lainnya dengan membangun hubungan yang seolaholah alamiah terjadi atau penjajahan dengan kesepakatan (domination by consent) dalam hal penyebaran dan penetrasi kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lainnya dalam suatu negara. Teori Imperialisme Budaya pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli sosiologi sekaligus kritikus media asal Amerika bernama Herb Schiller pada tahun 1973. Teori ini menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini. Hal ini membuat media massa negara Barat mendominasi dan mempunyai efek yang sangat kuat untuk mempengaruhi Dunia Ketiga. Media massa di negeri Barat terasa sangat mengesankan bagi media massa Dunia Ketiga sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul melalui media massa tersebut. Dalam perspektif teori ini, ketika terjadi proses peniruan media dari negara berkembang terhadap negara maju, maka akan terjadi penghancuran budaya asli di negara berkembang tersebut (Nurudin, 2009, h.175). Imperialisme budaya menempatkan media, seperti televisi, radio, koran, periklanan, dan lainnya di atas segalanya. Media secara analistis terpisah dari segala aspek budaya, namun dapat terlihat dengan jelas bahwa media dan budaya memiliki koneksi yang sangat dekat dengan berbagai aspek lainnya yang mengkaji tentang kehidupan manusia. Menurut Mc 5
  • 8. Quail, imperialisme media adalah cara khusus untuk mempersoalkan tentang imperialisme budaya. Ada dua isu utama yang muncul tentang imperialisme budaya. Isu pertama berasal dari luar imperialisme media berhubungan dengan bentuk dominasi yang ada. Para kritikus imperialisme media seringkali mengkhawatirkan struktur dan aspek-aspek institusional dari media global. Mereka memberi kritik berdasarkan bentuk-bentuk dominasi politik dan ekonomi. Asumsi yang timbul adalah bahwa pengaruh media dari luar terbukti akan menimbulkan efek pada budaya. Wacana tentang imperialisme media akan melengkapi kita dalam konteks dominasi budaya. Isu lainnya adalah imperialisme budaya sebagai pusat dari media. Media massa sangat jelas berkembang secara cepat dan konstan dalam melaporkan dan menyuguhkan baik kehidupan pribadi maupun kehidupan publik di Barat. Media dipandang sebagai pusat orientasi budaya bagi kapitalisme modern negara Barat. Maka, imperialisme budaya dapat dilihat sebagai pusat dari media dengan dua cara, yaitu baik dengan mendominasi satu media budaya lebih dari yang lainnya dan melalui penyebaran budaya media massa secara global. Jika media dijadikan pokok bahasan dalam membahas imperialisme budaya, maka ide-ide tentang pelanggaran terhadap budaya-budaya lokal yang dilakukan pendatang merupakan cara yang dianggap dapat mengartikulasikan proses yang terlibat di dalamnya. Dengan munculnya imperialisme budaya menjadi wacana bangsa, sudah seharusnya kewaspadaan terhadap imperialisme budaya ini semakin meningkat. Adanya keteganganketegangan karena terjadi benturan antara budaya global yang dianggap modern dengan budaya lokal yang mewakili semangat nasionalisme, kedaerahan, dan juga tradisional. 3. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan menjelaskan fenomena sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Penelitian ini bersifat eksplanatif yang bertujuan menjelaskan bagaimana sebuah fenomena sosial itu dapat terjadi dan ingin mengetahui secara mendalam sebab atau alasan dari fenomena sosial yang terjadi. Dalam penelitian ini, fenomena sosial yang terjadi adalah budaya populer Korea yang masuk ke Indonesia dan dianggap mulai mengancam kebudayaan Indonesia itu sendiri. Penelitian ini berusaha mencari alasan budaya pop Korea dapat menyebar secara luas dan berpengaruh sangat kuat, khususnya di Indonesia serta pengaruhnya terhadap eksistensi budaya lokal di Indonesia. 6
  • 9. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Para peneliti konstruktivis mempelajari beragam realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari konstruksi tersebut bagi kehidupan mereka adalah setiap individu mempunyai pengalaman yang unik (Patton, 2002, h. 96-97). Dengan paradigma konstruktivis ini diharapkan memperoleh pengembangan pemahaman dan pemaknaan yang dapat membantu proses interpretasi dari suatu peristiwa. Penelitian ini juga bersifat cross-sectional atau hanya dilakukan dalam kurun waktu tertentu saja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus sebagai suatu metode yang menggunakan berbagai sumber data atau sebanyak mungkin data untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan aspek-aspek peristiwa secara komprehensif dan secara detail dapat menangkap makna dibalik peristiwa dan pada saat yang sama informan berada dalam kondisi alami (Heiner, 2006, h.65). Metode pemilihan informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara purposive atau sengaja. Penelitian ini ingin mencari tahu lebih dalam mengenai identitas dan pemaknaan informan yang menyukai budaya pop Korea dengan mempertimbangkan dampak terhadap budaya lokal Indonesia. Informan yang dipilih adalah mereka yang memang diasumsikan dapat memberi informasi sehubungan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini. Para informan yang dijadikan unit analisis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 di Universitas Indonesia. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam atau in depth interview dan observasi atau pengamatan langsung. Wawancara mendalam yang dilakukan dengan beberapa informan yang relevan terkait permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan teknik wawancara dengan membuat panduan pertanyaan wawancara (interview guide) untuk menggali pertanyaan agar mendapatkan informasi yang diharapkan dan pemahaman yang lebih mendalam dari informan yang diteliti. Sedangkan, data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur yang didapat dari buku, jurnal, internet, dan sumbersumber lainnya. 4. Temuan Lapangan Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang penulis lakukan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 Universitas Indonesia mengenal budaya pop Korea. Hal ini dapat tercermin dari gaya hidup, 7
  • 10. penampilan fisik, kesukaan, topik pembicaraan, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan budaya pop Korea. Pengamatan dilakukan terhadap mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 Universitas Indonesia yang terbagi dalam 5 program studi, sedangkan wawancara hanya dilakukan kepada 5 orang mahasiswa yang benar-benar merepresentasikan subyek penelitian dalam penelitian ini. Dari kelima informan yang diwawancarai tiga orang diantaranya adalah mahasiswa perempuan dan sisanya adalah laki-laki. Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh informan merupakan orang-orang yang menyukai budaya pop Korea. Informan 1 adalah seorang perempuan, berusia 20 tahun, program studi Hubungan Masyarakat, dan berdomisili di Jakarta. Informan 2 adalah seorang laki-laki, berusia 21 tahun, program studi Komunikasi Media, dan berdomisili di Depok. Informan 3 adalah seorang perempuan, berusia 20 tahun, program studi Periklanan, dan berdomisili di Jakarta. Informan 4 adalah seorang laki-laki, berusia 22 tahun, program studi Indsutri Kreatif Penyiaran, dan berdomisili di Bandung. Informan 5 adalah seorang perempuan, berusia 22 tahun, program studi Jurnalistik, dan berdomisili di Depok. Kelima informan ini mempunyai benda-benda yang berhubungan dengan budaya pop Korea, seperti film-film Korea, pin atau poster boy band atau girl band dari Korea, serta berbagai peralatan tulis-menulis bergambar artis atau aktor Korea. Kelima informan ini juga sering mengikuti konser-konser musik dari Korea yang diselenggarakan di beberapa tempat baik di Jakarta maupun daerah lainnya. Pengenalan para informan terhadap budaya pop Korea diawali melalui pentingnya peran media. Kelima informan mengetahui dan mengenal budaya pop Korea dari media cetak, televisi, media internet, dan lain sebagainya. Informan 1 mengatakan bahwa pada awalnya ia menyukai budaya pop Korea dari menonton video-video artis/aktor Korea yang ada di Youtube. Alasannya musik yang disajikan enak didengar dan dapat menjadi inspirasi dengan mengikuti gerakan tari dari boyband/girlband Korea tersebut karena informan mengikuti klub tari di kampus. Informan 2 mengatakan bahwa ia suka dengan film-film Korea atau drama seri Korea di televisi karena ceritanya sangat romantis, menarik, dan menyentuh hati para penontonnya. Informan 3 mengatakan bahwa ia menyukai budaya pop Korea karena kagum dengan penampilan fisik dan style artis dari boy band atau girl band Korea yang cantik dan ganteng dari video-video yang dilihatnya. Informan 4 mengatakan bahwa awalnya ia menyukai budaya pop Korea karena tertarik untuk mempelajari budaya dan bahasa Korea yang unik lebih dalam lagi. Informan 5 mengatakan bahwa ia suka budaya pop Korea dari penampilan para pemain film-film Korea yang terlihat keren dan menarik untuk dilihat dibandingkan dengan para pemain sinetron-sinetron di Indonesia. 8
  • 11. Fenomena masuknya budaya pop Korea ke Indonesia ini sudah ada sekitar tahun 2002 dan masih akan terus berkembang pesat sampai sekarang. Hal yang menarik adalah penyebaran budaya pop Korea yang diwujudkan dalam berbagai produk budaya, seperti musik, film, lagu, seni, bahasa, dan lain sebagainya yang begitu cepat, khususnya di Indonesia karena dipengaruhi banyak faktor baik internal (pemerintah dan negaranya sendiri) maupun eksternal (teknologi, globalisasi, media sosial, dan lain-lain). Informan 1 yang dapat dikatakan sebagai fans budaya pop Korea mengatakan bahwa budaya pop Korea bisa menyebar begitu cepat karena dipengaruhi oleh penggunaan media di mana semua video atau apapun tentang Korea dapat dicari karena tersedia sangat banyak melalui internet. Informan 2 mengatakan bahwa budaya pop Korea tumbuh subur akibat produk budaya pop Korea yang berkualitas baik dan terdiferensiasi dengan cukup beragam. Informan 3 mengatakan bahwa budaya pop Korea berkembang karena adanya komunitas pencinta Korea di mana para anggotanya saling berbagi informasi melalui media sosial yang tersebar di seluruh dunia. Informan 4 mengatakan bahwa budaya pop Korea menyebar cepat karena suka mengadakan event-event tertentu, seperti konser musik di beberapa negara. Informan 5 mengatakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah Korea terhadap budaya pop Korea bukan sebagai barang hiburan semata, tetapi juga sebagai barang komoditi yang bisa ditawarkan ke negara lainnya sehingga budaya pop Korea bisa berkembang dengan baik. Meskipun kelima informan ini sangat menyukai budaya pop Korea, mereka masih menyukai dan menghargai kebudayaan lokal Indonesia sebagai kebudayaan nasional yang patut dihargai dan dibanggakan. Keberadaan budaya lokal di Indonesia akan tetap ada karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang lahir di Indonesia dan tidak akan melupakan hal tersebut. Informan 1 menyatakan bahwa ia tetap senang karena hidup di Indonesia, jadi walaupun suka dengan budaya pop Korea, jangan sampai melupakan kebudayaan kita sendiri. Informan 2 menyatakan dengan optimis bahwa bagaimanapun kebudayaan lokal Indonesia lebih baik daripada Korea dan kita harus membuat negara Indonesia lebih maju dengan cara mencontoh dukungan pemerintah Korea terhadap budayanya sehingga dapat memotivasi masyarakat Indonesia agar bisa mengikuti keberhasilan negara Korea. Informan 3 menyatakan bahwa kita sebagai orang Indonesia tidak boleh menimbulkan rasa apatis terhadap budaya Indonesia sendiri akibat fanatisme terhadap budaya pop Korea. Informan 4 merasa biasa saja dengan film dan boy band Korea serta masih menyukai film-film dan lagulagu Indonesia karena Indonesia adalah negara asalnya sendiri yang tidak mungkin dilupakan olehnya. Informan 5 mengatakan bahwa ia hanya ingin sekedar mengetahui budaya pop Korea sebagai tambahan pengetahuan dan tidak perlu meniru atau mengimitasi budaya pop 9
  • 12. Korea secara berlebihan yang mungkin beberapa hal tidak sesuai dengan kebudayaan lokal bangsa kita. Berdasarkan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa pengaruh budaya pop Korea tidak sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lainnya. Beberapa mahasiswa maupun mahasiswi memang sangat menyukai bahkan sampai fanatik dengan budaya pop Korea tersebut. Meskipun demikian, pengaruh yang ditimbulkan tidak terlalu membahayakan kebudayaan lokal Indonesia karena sebagian besar dari mereka masih mengetahui, memahami, mengerti, mentaati, dan menghargai kebudayaan lokal bangsa Indonesia sehingga masih tetap terjaga eksistensinya. 5. Pembahasan 5.1 Penyebaran Budaya Pop Korea Proses penyebaran budaya Korea di dunia dikenal dengan istilah Hallyu atau Korean Wave. Hallyu atau Korean Wave (Gelombang Korea) adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea ini secara global di berbagai negara di dunia. Pada umumnya, Hallyu mendorong masyarakat penerima untuk mempelajari bahasa Korea dan kebudayaan Korea. Budaya pop Korea dapat dikatakan sebagai budaya massa yang dapat diterima oleh semua kalangan dan berkembang melampaui batas negara. Budaya pop Korea ini bukanlah suatu budaya asli Korea yang bersifat tradisional, melainkan budaya yang diciptakan sesuai dengan arah perkembangan selera pasar (market-driven). Fenomena penyebaran budaya pop Korea juga diikuti dengan banyaknya perhatian terhadap produk Korea Selatan, seperti misalnya masakan, barang elektronik, musik dan film oleh negaranegara lainnya. Maraknya produk-produk budaya pop Korea di luar negeri sebenarnya berawal dari tahun 1994 ketika KimYoung-sam, Presiden Korea Selatan yang sedang menjabat pada waktu itu mendeklarasikan globalisasi sebagai visi nasional dan sasaran strategi pembangunan. Rencana ini kemudian dimanifestasikan oleh Menteri Budaya Korea pada waktu itu, Shin Nak-yun menetapkan abad 21 sebagai century of culture atau pusat budaya. Berbagai upaya dan pembenahan dilakukan untuk mewujudkan globalisasi budaya Korea, mulai dari preservasi dan modernisasi warisan budaya tradisional Korea agar lebih dapat diterima publik mancanegara, melatih tenaga profesional dalam bidang seni dan budaya, memperluas fasilitas kultural di wilayah lokal, membangun pusat budaya yang luar negeri, 10
  • 13. sampai membangun jaringan komputer dan internet di seluruh pelosok negeri untuk menunjang persebaran informasi budaya (Shim, 2006). Upaya integratif pemerintah Korea tersebut mulai mendatangkan hasil nyata dalam lima tahun, yaitu budaya Korea mulai terekspansi ke mancanegara. Pada tahun 1999, dalam konteks krisis ekonomi yang melanda drama Korea menjadi marak diimpor negara-negara Asia Tenggara karena merupakan satu-satunya pilihan yang paling ekonomis jika dibandingkan drama Jepang yang lebih mahal 4 kali lipat dan Hongkong yang bisa lebih mahal 10 kali lipat (Shim, 2006). Seiring berjalannya waktu, budaya Korea tidak hanya marak dikonsumsi di Asia Tenggara, tetapi juga beranjak ke Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Amerika Latin yang terbukti dengan adanya fans club di sana. Dalam 10-15 tahun terakhir, budaya pop Korea berkembang begitu pesatnya hingga meluas dan diterima publik dunia, sampai menghasilkan sebuah fenomena demam budaya Korea di tingkat global. Kemajuan budaya pop Korea juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi negara tersebut. Keberhasilan menyebarnya budaya pop Korea bisa dikatakan sejalan dengan adanya kemajuan industri hiburan di Korea Selatan dan kestabilan perekonomian negara tersebut. Perekonomian Korea Selatan mengalami pertumbuhan sebesar 6, 1 persen pada tahun 2011 sejak delapan tahun terakhir. Menurut data statistik yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Korea atau BOK dan Indikator Pembangunan Dunia yang disusun Bank Dunia menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Korea Selatan berada di angka 1,12 triliun dolar pada tahun 2012. Hal ini juga berarti bahwa bangsa ini telah benar-benar keluar dari krisis keuangan dunia melalui pertumbuhan ekonomi yang kokoh. Selama sepuluh tahun terakhir, demam budaya pop Korea melanda Indonesia. Fenomena ini dilatarbelakangi Piala Dunia Korea-Jepang 2002 yang berakhir dengan masuknya Korea sebagai kekuatan empat besar dunia. Kesuksesan Korea di Piala Dunia 2002 semakin menaikkan prestise atau harga diri negara Korea di mata dunia. Menurut Kim Song Hwan, seorang pengelola sindikat siaran televisi Korea Selatan, produk budaya pop Korea berhasil menjangkau penggemar di semua kalangan, terutama di Indonesia disebabkan teknik pemasaran Asian Values-Hollywood Style. Hal ini mempunyai makna bahwa mereka mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern. Istilah ini mengacu pada cerita-cerita yang dikemas dengan nuansa kehidupan Asia, namun pemasarannya memakai cara internasional dengan mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style. Di Indonesia sendiri, budaya pop Korea diawali dengan serial drama. Berbagai stasiun televisi Indonesia mulai menayangkan drama –drama produksi Korea Selatan setelah salah 11
  • 14. satu stasiun televisi Indonesia sukses menayangkan drama Endless Love atau yang berjudul resmi Autumn in My Heart di Korea pada tahun 2002. Romantisme dan kisah tragis menyedihkan senantiasa mewarnai drama ini sehingga menarik emosi penonton untuk hanyut meresapi alur cerita dan Endless Love sukses memikat perhatian para pecinta drama Indonesia yang sebagian besar adalah para perempuan. Selain orisinalitas cerita, drama ini juga diperankan oleh aktor dan aktris yang rupawan dengan kemampuan akting yang baik sehingga sukses menjadi titik balik bagi meluasnya budaya pop Korea di Indonesia. Kesuksesan drama Endless Love yang memiliki genre drama melankolis ini, diikuti dengan kesuksesan drama-drama melankolis Korea lainnya, antara lain Winter Sonata dan Memories in Bali. Setelah drama melankolis, muncul drama komedi romantis yang juga sangat digandrungi oleh pemirsa Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Full House, My Sassy Girl dan Princess Hours. Selain drama melankolis dan komedi romantis, genre drama Korea dengan latar belakang sejarah juga mencetak rating tinggi di Indonesia. Drama yang termasuk dalam genre ini, antara lain Dae Jang Geum dan Queen Seon Deok. Selain drama Korea, ada juga musik dari Korea yang dikenal dengan nama K-Pop yang membawa genre musik dance pop, yaitu musik pop barat dikombinasikan dengan kemampuan menari dan wajah yang menawan. Grup musik Korea yang disukai anak-anak muda Indonesia, antara lain Super Junior, SNSD, Shinee, 2 PM, Big Bang, dan grup lainnya. Pada awal bulan Desember lalu ada dua grup band Korea, yaitu 2 PM dan Big Bang yang mengadakan konser tur di Mata Elang Internasional Stadium (MEIS), Jakarta. Fenomena KPop ini pun semakin menarik dan dapat dijadikan sumber keuntungan bagi para pemilik televisi dan para penguasa pasar musik dalam negeri. Mereka pun membuat ajang-ajang kompetisi dan pencarian bakat berbasis K-Pop. Parahnya, hal itu mendorong lahirnya sebuah fenomena fanatisme di mana para pesohor dari negeri ginseng tersebut atau para boybandgirlband produk lokal yang mengadopsi penuh gaya “made in Korea” itu menjadi kiblat dalam berperilaku bagi remaja dan generasi muda di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa budaya Korea telah begitu melekat di hati para penggemar Indonesia. Hal yang menarik di Indonesia berkaitan dengan media dan budaya pop Korea ini adalah banyaknya situs-situs berbasis blog di Indonesia yang menjadi sumber informasi berita tentang budaya populer Korea. Tercatat ada sekitar puluhan situs dan blog di Indonesia yang rutin memuat informasi dan berita mengenai dunia hiburan Korea. Di antara situs-situs tersebut, yang paling aktif memperbarui berita dan memiliki pengunjung paling banyak adalah situs Asian Fans Club atau AFC. AFC adalah blog Indonesia yang berisi tentang berita dunia hiburan Korea yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 2009 oleh seorang remaja 12
  • 15. perempuan bernama Santi Ela Sari. Berdasarkan data statistik dari situs Pagerank Alexa, Asian Fans Club adalah situs Korean Intertainment terbesar di Indonesia. Sedangkan dari segi karakteristik demografis, pengunjung Asian Fans Club hampir seluruhnya berasal dari Indonesia, sebagian besar merupakan wanita berusia di bawah 25 tahun dengan akses internet rumah maupun sekolah. Jika dilihat dari statistik jumlah pengunjung, sampai 3 Juni 2011, Asian Fans Club telah dikunjungi sebanyak 42.811.744 pengunjung. Hal ini berarti Asian Fans Club dikunjungi oleh rata-rata 58.646 orang setiap hari. Jumlah posting dari Juni 2009 sampai Juni 2011 mencapai 16.974 post dengan grafik jumlah post yang terus meningkat setiap bulan. Pada bulan Juni 2009 tercatat berita di post sejumlah 49 berita dalam satu bulan. Setahun kemudian, yaitu di bulan Juni 2010 jumlah post mengalami meningkat pesat menjadi 629 dalam satu bulan dan terus meningkat sampai 1.542 post dalam bulan Mei 2011. Data di atas menunjukkan bahwa budaya pop Korea di Indonesia berkembang sangat baik yang dimulai pada tahun 2009 dan berkembang pesat pada tahun 2012, bahkan kemungkinan akan meningkat di tahun 2013 sekarang. Budaya pop Korea telah menyebar dengan sangat cepat hampir ke seluruh negara di dunia. Hal inilah yang disadari oleh pemerintah Korea bahwa dengan menyebarnya budaya pop Korea akan membuka jalan bagi kemajuan ekonomi Korea. Pemerintah Korea sangat menyadari potensi ini sehingga rela mengucurkan dana untuk membiayai produksi hiburan mulai dari film, sinetron, hingga musik. Penyebaran pengaruh budaya pop Korea bukan hanya meningkatkan peluang untuk melaksanakan pertukaran budaya, meningkatkan interaksi budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk melegalkan ideologi Korea agar mudah diterima di dunia internasional. Berbagai produk budaya pop Korea mulai dari drama, film, lagu, fashion, hingga produk-produk industri tidak hanya menyebar di kawasan Asia tetapi sudah merambah ke Amerika dan Eropa. Berkembangnya produk-produk budaya pop Korea ke negara-negara Amerika, Eropa, dan tentunya Asia, memberikan dampak luar biasa bagi industri media, hiburan, dan mode di negara-negara tersebut, termasuk di Indonesia. Pada dasarnya, penyebaran budaya pop Korea tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran besar media. Media yang banyak berperan dalam persebaran nilai-nilai budaya pop Korea pada awalnya adalah televisi dengan menayangkan drama-drama Korea. Kesuksesan pada televisi menimbulkan efek domino ke musik dan film Korea juga. Hal ini diperkuat lagi dengan salah satu aspek yang membuat budaya pop Korea menyebar sangat cepat dengan adanya pengunaan teknologi budaya yang dapat digunakan oleh orang-orang di seluruh dunia. Teknologi budaya ini dapat mempermudah budaya pop Korea untuk memperoleh konsumen terhadap produk-produk budaya pop Korea yang lebih besar lagi. Jenis media yang 13
  • 16. mengantarkan produk-produk budaya pop Korea ke tangan khalayak Indonesia itu pun semakin beragam, antara lain VCD, DVD, dan tentu saja internet. Di era digital, semua orang dapat terkoneksi dan saling berbagi melewati segala batasan ruang dan waktu melalui internet dengan menggunakan ponsel pintar (smartphone), jaringan media-media sosial (YouTube, Twitter, Facebook, Kakao Talk, dan lain-lain), website, fan page, dan lain sebagainya. Kuatnya kekuatan internet dalam penyebaran budaya pop Korea ini terlihat dari ramainya arus informasi mengenai budaya Korea di internet. Di internet, ada beberapa kelompok yang sukarela menerjemahkan acara-acara TV Korea ke dalam bahasa Inggris dan mengunggah video tersebut agar dapat diunduh oleh para penggemar acara TV Korea di seluruh dunia. Hal tersebut menunjukkan bukti bagaimana kuatnya peran internet dalam penyebaran budaya Korea. Peran internet menjadi sangat penting dalam mendapatkan perhatian orang banyak di dunia karena sekarang merupakan era digital di mana hampir sebagian besar orang menggunakan internet dalam kehidupannya, khususnya generasi muda. Menurut hasil penelitian, generasi muda paling banyak menggunakan internet untuk memperoleh informasi dari berbagai situs yang ada di dalam internet. Generasi muda ini dapat memperoleh seluruh produk budaya pop Korea yang disebarkan melalui internet dengan menggunakan teknologi budaya. Dengan begitu, budaya pop Korea dapat secara langsung menyebar tanpa adanya paksaan dan menarik perhatian, khususnya generasi muda di suatu negara. Budaya pop Korea ini dapat juga dikatakan menyerang generasi muda di Indonesia. Menurut penulis, hal ini memang dapat dibenarkan mengingat generasi muda juga dapat dikatakan sebagai ujung tombak yang penting dalam mengembangkan dan memajukan suatu negara. Para generasi muda termasuk di dalamnya mahasiswa, baik disadari atau tidak telah memegang tanggung jawab yang seharusnya dijalankan dalam menjaga kelestarian dan keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh negaranya. Para generasi muda ini harus bersifat selektif terhadap budaya pop Korea yang masuk. Tidak semua nilai yang dibawa oleh budaya pop Korea dapat diterima atau sesuai dengan nilai-nilai dalam budaya negaranya. Penyebaran budaya pop Korea ini sangat berkaitan dengan adanya glokalisasi budaya yang dikondisikan dengan keadaan budaya Korea itu sendiri. Dengan adanya glokalisasi, muncul produk-produk budaya global yang dilokalisasikan sesuai dengan keadaan negara yang mengadopsinya. Negara Korea, terutama Korea Selatan melakukan glokalisasi dengan mengadopsi format budaya pop Barat yang disesuaikan dengan budaya Korea itu sendiri. Pertemuan budaya pop Barat, terutama dari Amerika Serikat dengan budaya Korea akan membantu Korea untuk tidak terlalu terkait pada kebudayaan leluhurnya. Perkembangan 14
  • 17. industri kebudayaan di Korea tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke pasar, karena membutuhkan biaya besar dan proteksi sehingga harus diserahkan kepada pemerintah atau negara yang dapat mengatur dan mengawasinya. Setelah melakukan hal ini, Korea mulai menyebarkan budaya pop Korea ke negara-negara lainnya di seluruh dunia. Budaya pop Korea yang masuk ke Indonesia dapat dikatakan menjadi salah satu soft power yang dilakukan Korea Selatan untuk menyebarkan budayanya ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Konsep soft power pertama kali diperkenalkan oleh Joseph S. Nye. Ia berpendapat bahwa soft power adalah kemampuan suatu negara untuk mencapai tujuannya dengan lebih menggunakan daya tarik daripada paksaan dan pembayaran. Salah satu bentuk daya tarik itu adalah daya tarik dari budaya negara tersebut (Nye, 2004, h. 10). Negara Korea, terutama Korea Selatan dapat dikatakan mempunyai sumber-sumber soft power yang lebih potensial dibanding negara-negara lain di Asia. Salah satu contoh soft power itu adalah melalui produkproduk budaya pop Korea tersebut (drama, film, lagu, fashion, konser musik, kosmetik, dan produk-produk industri lainnya). Tidak hanya glokalisasi, budaya pop Korea yang menyebar dan berkembang juga terkait dengan adanya teori imperialisme budaya. Walaupun teori imperialisme budaya berasal dari konteks negara-negara Barat, tetapi teori ini dapat diterapkan dalam konteks penyebaran budaya pop Korea dari Korea Selatan ke seluruh negara lainnya. Budaya pop Korea ini juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk imperialisme budaya yang dibawa dari Korea ke negara-negara lainnya di dunia. Sistem dominasi yang dilakukan Korea dengan budaya pop Korea terhadap negara-negara lainnya dapat dilakukan melalui segala aspek kehidupan, seperti gaya hidup masyarakatnya, media komersial, turisme, olahraga, dan lain sebagainya. Salah satu isu utama dalam imperialisme budaya adalah imperialisme budaya menjadi pusat dari media. Imperialisme budaya dapat dilihat sebagai pusat dari media dengan dua cara, yaitu baik dengan mendominasi satu media budaya lebih dari yang lainnya maupun melalui penyebaran budaya media massa secara global. Budaya pop Korea dapat dikatakan mendominasi budaya lainnya, termasuk menggeser budaya Amerika pada waktu sekarang karena terbukti dengan budaya pop Korea yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang dan dapat terlihat di berbagai negara di seluruh dunia. Dukungan media massa baik cetak maupun elektronik sangat jelas berkembang secara cepat dan intensif dalam melaporkan dan menyuguhkan segala macam informasi yang terjadi di Korea Selatan, terutama hal-hal yang menyangkut perkembangan budaya pop Korea yang terbaru dan dianggap penting untuk disebarkan ke negara lainnya secara global. 15
  • 18. Budaya pop Korea ini telah mendominasi negara-negara lainnya dengan cara-cara yang halus bahkan tidak terasa oleh negara yang terdominasi dibanding dengan penetrasi budaya di masa kolonial yang sangat keras. Masyarakat dalam suatu negara yang terdominasi tidak akan merasakan secara langsung budaya pop Korea yang sedang menyebar dan menanamkan pengaruh yang kuat di negara yang terdominasi. Dengan begitu, budaya pop Korea dapat dinikmati oleh masyarakat dalam suatu negara yang terdominasi tanpa menyadari ancaman yang sedang dihadapinya. Ancaman itu adalah adanya keteganganketegangan karena terjadi benturan antara budaya global (budaya pop Korea) yang dianggap modern dengan budaya lokal (budaya asli Indonesia) yang mewakili semangat nasionalisme, kedaerahan, dan juga tradisional. Pada akhirnya adalah budaya pop Korea tersebut dapat menggeser kebudayaan asli negara yang terdominasi sebagai identitas negara tersebut dan digantikan dengan budaya asing yang masuk. Dengan demikian, akan ada penjajahan atau dominasi budaya yang terjadi di negara yang terdominasi. Kewaspadaan terhadap ancaman budaya pop Korea yang masuk ke Indonesia harus ada pada setiap masyarakat di Indonesia sehingga tidak hanya menyambut budaya pop Korea tanpa filterisasi dan meninggalkan budaya lokal Indonesianya sendiri, tetapi seharusnya ada upaya untuk menyelaraskannya dengan budaya lokal yang ada di Indonesia. 5.2 Eksistensi Budaya Lokal Indonesia Menghadapi Serbuan Budaya Pop Korea Perkembangan budaya pop Korea di Indonesia dapat dikatakan sebagai perwujudan globalisasi dalam dimensi komunikasi dan budaya sehingga memang sulit untuk menghindari atau menyingkir dari gempuran budaya pop Korea di era globalisasi yang mengaburkan batasan antara ruang dan waktu. Budaya ini bersifat ringan dan mudah diterima oleh masyarakat banyak, apalagi setelah menggunakan media massa yang berkembang di tengah masyarakat. Pada dasarnya, kebudayaan Indonesia berbeda dengan kebudayaan Korea. Kedua budaya tersebut memiliki warisan kultural dan tradisi yang berbeda, serta kerangka rujukan yang berbeda. Kesamaan antara keduanya adalah di tataran nilai universal sebagai sebuah bangsa Asia yang sama-sama sebagai kelompok budaya kolektivistik. Namun, lebih jauh lagi kebudayaan Korea menjadi begitu diterima di Indonesia karena kebudayaan Korea disebarluaskan dalam kemasan budaya pop. Kebudayaan Korea yang pada dasarnya terdiri dari nilai-nilai tradisional yang cukup kompleks dan berorientasi ritual agar lebih diterima oleh publik dunia sehingga dikemas menjadi sebuah budaya yang diketahui dan diikuti 16
  • 19. banyak orang dengan pembentukannya berdasarkan kemauan masyarakat untuk diminati oleh masyarakat itu sendiri yang sifatnya temporer (Holliday, dkk, 2004). Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku bangsa di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia. Kebudayaan lokal tersebut, antara lain adat istiadat, tarian daerah, lagu ciptaan orang Indonesia, mode, musik daerah, film-film Indonesia, dan lain sebagainya. Dibanding dengan budaya pop Korea, untuk kebudayaan lokal Indonesia sendiri tidak dijadikan budaya pop sehingga lama-kelamaan kebudayaan Indonesia akan semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya. Kebudayaan Indonesia terus menjunjung nilai-nilai tradisional yang sangat kental dan masih mengacu pada ritualisme yang kuat sehingga membuat masyarakat yang pada dasarnya dinamis cenderung ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda. Hal ini membuat masyarakat Indonesia, khususnya para generasi muda yang cenderung dinamis banyak yang tidak terlalu menyukai kebudayaan Indonesia yang cenderung konservatif atau memegang teguh tradisi lama. Di tambah lagi, karakter bangsa Indonesia yang suka mengimitasi dan terlalu fanatik dengan halhal baru yang sedang masuk dan menjadi tren di negaranya sehingga mental masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda tidak kuat dan terus-menerus ikut budaya luar atau asing yang masuk tanpa memilahnya terlebih dahulu. Mental yang seperti ini akan terus membuat kebudayaan Indonesia tidak dapat berkembang tidak seperti yang dialami oleh kebudayaan Korea sebagai budaya pop. Penelitian ini bukanlah bentuk pandangan pragmatis dan sinis dari penulis terhadap mereka yang sedang menyukai bahkan fanatik dengan budaya pop Korea. Penulis pun menyadari bahwa mencela dan antipati terhadap kehadiran mereka yang menyukai budaya pop Korea, justru membuat mereka semakin populer. Walaupun, jujur harus diakui bahwa akan menjadi ironi yang menggelikan melihat fenomena ini karena kelatahan dan hobi suka meniru telah menjadi pembenaran yang nyata dalam masyarakat Indonesia. Persentase terbesar penerima budaya pop Korea di Indonesia adalah generasi muda. Sangat mengkhawatirkan jika penerimaan budaya pop Korea tidak disertai dengan apresiasi terhadap kebudayaan nasional. Hal ini dapat memungkinkan eksistensi kebudayaan nasional bergeser nilainya menjadi budaya marginal (pinggiran) bahkan budaya yang terbuang karena tidak disukai lagi. Padahal, sangat jelas bahwa generasi muda merupakan tonggak pembangunan nasional. Jika generasi muda zaman sekarang sudah tidak mengenal kebudayaannya sendiri, maka kebudayaan nasional dapat mengalami kepunahan dan berganti dengan kebudayaan baru yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kepribadian atau karakter bangsa Indonesia. 17
  • 20. Globalisasi budaya pop Korea atau yang juga dikenal dengan Korean Wave (Hallyu) ini ternyata juga berhasil mempengaruhi sebagian besar kehidupan mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 Universitas Indonesia. Budaya pop Korea memiliki pengaruh pada perilaku sosial mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 Universitas Indonesia yang terbatas pada dimensi konkret, seperti penampilan dan kepemilikan bendabenda yang berkaitan dengan budaya pop Korea. Meskipun demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa yang fanatik terhadap budaya pop Korea ternyata masih mempunyai apresiasi terhadap kebudayaan asli bangsa Indonesia. Pengaruh budaya pop Korea ini tidak sampai melunturkan apresiasi terhadap kebudayaan asli Indonesia. Terbukti bahwa para informan masih menyukai produk-produk budaya lokal Indonesia, seperti adat istiadat, fashion, lagu-lagu, drama, maupun film Indonesia sebagai kebudayaan asli yang harus terus dilestarikan. 6. Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa budaya pop Korea dapat berkembang dengan sangat baik dan menyebar dengan sangat cepat ke negara-negara lainnya, termasuk Indonesia disebabkan beberapa hal, antara lain media memainkan peran yang sangat penting karena medialah yang membawa nilai-nilai budaya Korea ke dunia, adanya dukungan yang besar dari pemerintah Korea sendiri dalam memajukan kebudayaannya agar dikenal oleh dunia internasional, produk-produk budaya pop Korea yang dikemas dengan sangat menarik sehingga banyak orang yang menyukainya, cara pemasaran budaya pop Korea ke negaranegara lainnya yang tidak memaksakan tetapi menggunakan soft power, dan tumbuhnya komunitas-komunitas atau klub-klub pecinta budaya pop Korea di negara-negara lainnya. Sebenarnya, budaya Korea dan budaya Indonesia tidaklah terlalu berbeda. Kedua budaya ini sama-sama masih terikat dengan cara-cara tradisi yang lama dan ritual-ritual adat keagamaan di negara masing-masing. Budaya Korea berhasil melakukan adaptasi dengan budaya pop dari Barat sebagai bentuk glokalisasi, sedangkan budaya Indonesia tidak terlalu terlihat karena karakter masyarakat bangsa Indonesia yang lebih sering melakukan imitasi terhadap budaya-budaya luar atau asing yang masuk daripada menonjolkan kebudayaannya sendiri. Hasil meniru atau mengimitasi budaya orang lain membuat kreativitas anak bangsa menjadi mati dan tidak berkembang. Ditambah lagi dengan pemerintah Indonesia yang terkesan tidak terlalu peduli dengan hal ini sehingga membuat eksistensi kebudayaan bangsa Indonesia lama-kelamaan kehilangan jati dirinya, atau bahkan hilang sama sekali. 18
  • 21. Di lingkungan kampus, mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 suka dengan budaya pop Korea, seperti film-film Korea, musik dan lagu Korea, boyband atau girlband Korea, serta bintang top Korea. Sebagian besar mereka mempunyai berbagai alasan, antara lain keindahan gaya atau style para pemain film dan boyband atau girlband, keindahan penampilan dan fisik bintangnya, atau alur cerita film-film Korea yang dramatis dan unik. Namun, pengaruh tersebut masih dalam dimensi konkret seperti gaya atau penampilan dan kepemilikan benda-benda yang berhubungan dengan hiburan Korea. Budaya pop Korea tersebut pun tidak mempengaruhi atau menggeser eksistensi kebudayaan asli Indonesia di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 di Universitas Indonesia. Budaya pop Korea yang berkembang di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 di Universitas Indonesia hanya merupakan euforia atau hanya menjadi bentuk aktualisasi diri mereka. Oleh karena itu, budaya pop Korea yang berkembang di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2010 di Universitas Indonesia tidak sampai mengganggu rasa kebanggaan dan kecintaan mereka terhadap budaya lokal Indonesia itu sendiri. 7. Saran Penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya lebih memperbanyak jumlah sampel sebagai responden yang diamati agar menemukan lebih banyak variasi jawaban dari sejumlah orang di kalangan mahasiswa. Sebagai contoh, mengumpulkan data dari mahasiswa di setiap departemen dalam satu fakultas karena karakteristik mahasiswa yang berbeda di tiap departemen. Dengan demikian, diharapkan dapat dilakukan elaborasi lebih baik lagi terhadap keberlakuan teori dan konsep yang telah digunakan dalam penelitian ini. Dilihat dari subyek penelitiannya, studi ini dapat memberikan ruang dan kesempatan kepada peneliti lainnya dalam mengeksplorasi rasa fanatisme yang tinggi terhadap budaya pop Korea dan juga seberapa besar rasa nasionalisme seseorang terhadap budayanya sendiri dibandingkan dengan budaya lainnya. Penulis juga berharap akan muncul studi-studi tentang budaya lokal Indonesia yang menjadi budaya pop dan dapat menyebar secara global seperti yang terjadi dengan budaya pop Korea agar budaya lokal Indonesia dapat diperkenalkan, diketahui, dan diakui di mata dunia. Daftar Referensi Alfian, Muhammad Rio. (2013). The Impact of Globalization Process of Hip-Hop Music in Semarang as a Reflection of American Pop Culture (A Case Study of Semarang Hip19
  • 22. Hop Community). Lantern (Journal on English Language, Culture, and Literature), 2 (2), 4-5. Dator, Jim and Yongseok Seo. (2004). Korea as the Wave of a Future: The Emerging Dream Society of Icons and Aesthetic Experience. Journal of Futures Studies, 9 (1), 31-44. Heiner, R. (2006). Social Problem: an introduction to critical constructionism. New York: Oxford University Press. Hidayati, Nuri. (2010). Pengaruh Tayangan Drama Korea di Televisi terhadap Minat Mahasiswa Mempelajari Budaya dan Bahasa Korea. Skripsi, Jurusan Komunikasi dan Multimedia Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Husamah. (2012). Demam Latah Korea dan Tantangan Pendidikan Karakter. Diakses pada 16 Desember 2012 dari http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/10/demam-latahkorea-dan-tantangan-pendidikan-karakter.html. KBS World. (2012). PDB Korea Selatan di urutan 15 selama 5 tahun. Diakses pada 2 Desember 2013 dari http://world.kbs.co.kr/indonesian/news/news_Ec_detail.htm?No=30090 McQuail, Denis. (2000). Mass Communication Theories (4th ed.). London: Sage Publication. Nastiti, Aulia D. (2010). “Korean Wave” di Indonesia: Antara Budaya Pop, Internet, dan Fanatisme pada Remaja. Skripsi, FISIP Universitas Indonesia, Depok. Nugroho, Suray Agung. (2002). “Korean Movies as Reflected in Korean Movies Magazines (2000-2001)”. M.A.Thesis, Graduate School of International Area Studies, Hankuk University of Foreign Studies, South Korea. Nurudin. (2009). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka. Nye, Joseph S. (2004). Soft Power The Means to Success in World Politic. New York: Public Affairs. Pamungkas, Paulus Tommy. (2011). Memahami Konsep Glokalisasi Budaya Populer di Indonesia (Studi Kasus Glokalisasi Budaya Musik Rap dalam Budaya Lokal Jawa pada Jogja Hip-hop Foundation). Diakses pada 26 September 2013 dari http://www.scribd.com/doc/57883788. Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods (3rd ed.). California: Sage Publications, Inc. Rahayu, Nuryani T. (2009). Tayangan Hiburan TV dan Penerimaan Budaya Pop. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, 3 (1), 24-36. 20
  • 23. Rastati, Ranny. (2012). Media dan Identitas: Cultural Imperialism Jepang Melalui Cosplay (Studi terhadap Cosplayer yang Melakukan Crossdress). Jurnal Komunikasi Indonesia, 1(2), 93-104. Sari, Dian P. (2006). Respon Negara Berkembang terhadap Penetrasi Media Negara Maju. Jurnal Penulisan Ilmu Komunikasi, 5 (2), 41-61. Setiawan, Rudi. (2013). Kekuatan New Media YouTube Dalam Membentuk Budaya Populer Di Indonesia (Studi Tentang Menjadi Artis Dadakan Dalam Mengunggah Video Musik Di YouTube ). e-Journal Ilmu Komunikasi, 1(2), 355-374. Shim, Doobo. (2006). Hibridity and The Rise of Korean Popular Culture in Asia. Media, Culture, and Society, 28 (1), 25-44. Smith, Anthony D. (2003). Nasionalisme, Teori Ideologi, Sejarah. Jakarta: Penerbit Erlangga. Soekanto, Soerjono. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture. Bandung: Penerbit Jejak. Ting-Toomey, Stella. (1999). Communicating Across Culture. New York: The Guilford Press. Wikipedia. (2013). Hallyu. Diakses pada 15 Oktober 2013 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hallyu. 21