Shalat di Injury Time || Menyia-nyiakan dan Mengakhirkan Waktu ShalatSebuah realita yang mungkin saja kita menjadi salah s...
Si Sarip kaget, terus langsung kabur ke Mushalla. Ambil wudhu secepat kilat, langsung shalat. Sakingtakut keburu Ashar, di...
Semua orang pastinya (sangat) kesal dan geli mendengar suara hape itu. Si Edo juga panik, sehinggaentah sadar atau tidak, ...
Nah, ceritanya mereka pun mulai shalat, dimulai dengan iqamat atau adzan kecil dulu oleh salah seorangmakmum. Sarip yang m...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Shalat di injury time menyia-nyiakan dan mengakhirkan waktu shalat

510

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
510
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Shalat di injury time menyia-nyiakan dan mengakhirkan waktu shalat"

  1. 1. Shalat di Injury Time || Menyia-nyiakan dan Mengakhirkan Waktu ShalatSebuah realita yang mungkin saja kita menjadi salah satu pemeran didalamnya (termasuk saya).Tulisannya agak panjang, dan boleh jadi anda akan merasa bosan sebelum tuntas membacanya.Selebihnya, silahkan dibaca, semoga bermanfaat (itupun jika dirasa ada gunanya). (∞ senyum ∞)ǀǀ Shalat di INJURY TIME ǀǀKalau mendengar terminology di atas, pastilah otak kita langsung mengacu ke pertandingan sepakbola.Soalnya istilah injury time sangat sering dipakai dalam olahraga itu. Tak perlu heranlah kalau istilah inijadi sangat populer. Hampir setiap hari ada pertandingan bola di TV, baik yang langsung, recorded, atauhanya highlight berupa analisa pakar bola terhadap sebuah Liga tertentu.Sehingga istilah injury time sangat sering disebut dan dijejalkan pada kita secara terus menerus,terutama orang-orang yang gila bola.Injury time dalam sepakbola mempunyai makna detik-detik akhir dari pertandingan. Entah kenapasangat sering kejadian, sebuah goal tercetak justru di detik-detik akhir tersebut. Dan yang menyakitkan,goal tersebut terjadi di menit 92, menit 93 bahkan di menit 96. Padahal pertandingan sepakbolaresminya kan cuma 90 menit.Kelebihan waktu itu diberikan oleh wasit karena adanya pelanggaran atau kejadian-kejadian yangmemaksa pertandingan berhenti sejenak.Di kantor saya (penulis), istilah injury time juga sangat terkenal. Tapi istilah ini tak ada hubungannya(sama sekali) dengan sepakbola. Istilah injury time di kantor justru berhubungan erat dengan jadwalshalat. Memang istilah ini di adopsi dari istilah sepakbola juga. Karena istilah injury time di kantor sayaditujukan buat teman-teman yang selalu mendirikan shalat di saat-saat waktu shalat hampir berakhir,hehehehe.....Misalnya, ada beberapa teman yang selalu shalat Dzhuhur pas sudah dekat banget sama waktu Ashar.Jadi misalnya shalat Ashar jam 03.30, maka mereka shalat Dzhuhur jam 03.25. Pokoknya sengaja sampaimepet banget.Kalau ditanya kenapa shalat sampai mepet-mepet gitu waktunya, jawabannya macam-macam,bervariasi, dan beraneka ragam.Ada yang bilang ‘sibuklah’, ada yang nyahut ‘keasyikan kerja, tau-tau sudah dekat Ashar’.Ada juga yang jawabnya asal bunyi, “Biar efisien! Jadi shalat Dzhuhur sama Ashar bisa kita lakukanhanya dengan satu kali wudhu.” (Hahahahaaa.... sinting!)Tapi yang paling spektakuler adalah yang jawabannya kayak gini, “Kalau di sepakbola ada injury time,masa’ waktu shalat tidak boleh?!” (Hancur...!!!)Kebiasaan menunda shalat itu seringkali melahirkan kejadian-kejadian kocak. Misalnya ada seorangteman, namanya Sarip. Dia yang paling seneng beraksi di saat-saat injury time.Suatu sore di hari Jum’at, dia lagi brainstorming sama teamnya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat.Tiba-tiba salah satu teamnya ngomong, “Rip, kamu tidak shalat Dzhuhur? Sudah jam 03.20 loh?!”Sambil menunjukkan jam tangannya.
  2. 2. Si Sarip kaget, terus langsung kabur ke Mushalla. Ambil wudhu secepat kilat, langsung shalat. Sakingtakut keburu Ashar, dia shalatnya cepet banget. Tidak tau ada surat-surat yang dikorbankan atau tidak,yang jelas dia bisa menyelesaikan shalatnya hanya dalam waktu kurang dari 1 menit.Wah, hebat banget! Bisa masuk museum rekor Muri tuh!!? (ckckckck.........)Selesai shalat, dengan kepala masih basah oleh air wudhu dan sambil mengenakan kembali jamtangannya dia balik lagi ke teamnya. Dengan senyum-senyum puas karena masih sempat Dzhuhur diatanya ke yang lain, “Kalian semua tidak shalat? Sudah injury time loh?!”Mendadak semua orang pecah ketawanya. Ada yang ngakak sambil pegang perut saking gelinya, adayang ketawa sambil mengeluarkan suara jeritan, pokoknya heboh bangetlah.Si Sarip bingung dong? Apanya yang lucu?Bukannya sudah biasa, semua orang shalat di saat injury time?Setelah suasana agak tenang, salah seorang staff, namanya Agus ngomong, “Rip, ngapain shalat Dzuhur,sekarang kan hari Jum’at? Kan tadi kamu sudah shalat Jum’at bareng saya?”Huahahaaa....!!Ternyata saking kebiasaan shalat di injury time, Sarip lupa kalau dia sudah shalat Jum’at. Padahal kankita tidak perlu lagi shalat Dzhuhur kalau sudah shalat Jum’at. Beginilah jadinya kalau orang suka shalatdi injury time.Di kantor ada beberapa orang yang sering tidak shalat. Biasanya teman-temannya suka menerormereka, khususnya pas shalat Jum’at. Ada-ada saja cara meneror mereka. Yang paling sering kena terrordi kantor adalah Edo.“Edo, kamu kan habis menang tender, masa sih tidak mau sujud syukur sekali saja, sekalian shalatJum’at?” kata salah seorang ‘teroris’.“Saya ada janji sama teman jam 1, takutnya tidak sempat. Lain kali deh saya usahakan,” sahut Edoberusaha berkelit.“Jadi kamu lebih memilih temen daripada ALLAH? Itu sudah sirik namanya. Kamu sudahmenempatkan temen lebih penting daripada Tuhan. Astaghfirulah!!” kata si Peneror.Lalu dia bergaya kayak orang lagi berdoa, “Ya ALLAH, hindarkanlah Edo dari siksa api neraka. Aamiin!”kata si Peneror sambil mengusap kedua tangannya ke wajah.Kalau sudah begitu biasanya Edo langsung tidak enak. Akhirnya dia mau juga ikutan shalat Jum’at. Tapi,namanya juga langka ke Mesjid, ada-ada saja kejadian-kejadian lucu yang belum pernah terpikirkan olehyang biasa shalat.Misalnya ketika banyak orang mengajak bersalaman (biasanya sehabis shalat, orang suka mengajak kitasalaman kan?), Si Edo langsung keheranan. Dikiranya orang yang mengajak salaman itu mau ajakkenalan.Makanya, sebagaimana layaknya orang kenalan, Edo menyambut tangan orang yang mengajak salamansambil menyebut namanya, “Edo!” Salaman lagi sama yang lain, dia bilang lagi, “Edo”! Salaman lagi,ngomong lagi, “Saya Edo!”Pas pulang dari Mesjid, diperjalanan menuju kantor, dia bilang begini, “Wah, saya nyesel banget tidakbawa kartu nama. Tadi di Masjid banyak banget yang mengajak kenalan.”Huahahahaaa.....!!Ada lagi peristiwa yang juga kocak. Saat shalat Jum’at rakaat pertama, tiba-tiba hape si Edo bunyi. Suarahapenya nyaring sekali dan berasal dari NSP, lagunya lagu dangdut berjudul ‘Kucing Garong’.
  3. 3. Semua orang pastinya (sangat) kesal dan geli mendengar suara hape itu. Si Edo juga panik, sehinggaentah sadar atau tidak, dia mengambil hapenya dari kantong celana. Dengan suara berbisik diamenjawab panggilan telpon, “Ntar saya telpon lagi ya, saya lagi shalat.” Klik! HP langsung di-off-kan,dan dia melanjutkan shalatnya tanpa memulai lagi dari awal.Heheheee.....!!Pernah juga Si Edo shalat Jum’at bareng sama saya. Pas lagi khutbah, dia berbisik, “Bud, saya mautanya. Kamu kan biasanya orangnya blak-blakan, cerewet, dan heboh. Kenapa sih kalau didalamMesjid kok kamu sok wibawa?”Saya nyahut bisik-bisik juga, “Sok wibawa? Kok kamu bisa punya pikiran gitu?”“Buktinya dari tadi kamu tidak ngomong sepatah kata pun. Kamu tidak cerita atau bikin joke, sayaperhatikan kamu diaaaam saja dari tadi.”Hampir saya ketawa ngakak. Setelah mengerahkan energi untuk menahan tawa, saya nyahut lagi ke dia,“Emang aturannya begitu, kalau Khatib lagi khutbah kita tidak boleh ngomong.”Edo langsung sadar, “Oh, gitu ya?! Wah, maap deh, saya tidak tau. Kalau gitu kita sms-an aja yuk?Gimana? Kan tanpa suara?”Hahahaaa..... parah!!Tidak semua orang kayak Edo. Ada beberapa orang yang sama sekali tidak terpengaruh sama ajakanatau teror temannya. Setiap kali ada yang mengajak shalat Jum’at, ada yang bilangnya begini, “ShalatJum’at? Tidak ah! Sudah pernah.” Atau, “Saya sudah khatam.”Ada lagi yang ngomong, “Dari kecil saya sudah shalat Jum’at, sampai sekarang tak ada inovasinya,gerakannya itu-itu aja dari dulu.”Hahahaaa....!!Pokoknya, macam-macam jawabannya.Bahkan seorang anak magang nyahutnya lebih gila lagi. Setiap kali di ajak shalat, sahutannya bener-bener unexpected.Dia bilang begini, “Shalat? Shalat itu mah no. 2!”Teman-temannya kaget dong sama jawabannya. Kok bisa-bisanya dia punya pemahaman seperti itu.Tapi mereka nanya juga, “Kok shalat no. 2? Yang no. 1 apa?”Si Magang nyahut lagi, “Yang no. 1, mengucapkan 2 kalimat syahadat. No. 2, shalat 5 waktu. No. 3,berpuasa di bulan Ramadhan. No. 4, berzakat. No. 5, pergi Haji jika mampu.”Heheheee..... dia malah bacain Rukun Islam loh?!Ada-ada saja!Asep, seorang copywriter sering berkomentar terhadap orang yang susah di ajak shalat. Komentarnyamenarik, “Saya kagum sama si Uli. Imannya kuat banget! Di ajak shalat sama temannya, nolak. Dihimbau shalat sama atasannya, ogah. Di paksa shalat sama istrinya, malah ngamuk. Dia susahdipengaruhi, kuat banget imannya.” (ckckckck.... kacau!)Kembali ke masalah injury time. Pernah ada peristiwa yang sangat menghebohkan dan sulit dilupakanoleh siapa saja yang mengalaminya.Jadi ceritanya begini. Seperti biasa, jam 05.58, Sarip mau shalat Ashar. Shalat Ashar loh ya, bukan shalatMaghrib. Baru saja wudhu, tiba-tiba ada 6 orang yang datang ke Mushalla. Dan sesuai perkiraan, merekamau shalat Ashar semua. Penyakit injury time memang sudah susah disembuhkan kalau sudah stadium8.
  4. 4. Nah, ceritanya mereka pun mulai shalat, dimulai dengan iqamat atau adzan kecil dulu oleh salah seorangmakmum. Sarip yang menjadi imamnya. Mungkin karena shalat berjama’ah, Sarip tidak enak kalau harusngebut shalatnya. Dia shalat dengan kecepatan normal.Suasana shalat terlihat cukup khusyuk. Belum selesai mereka menyelesaikan shalat Asharnya, tiba-tibasuara adzan Magrib bergema menggetarkan selaput gendang telinga semua orang. Semua yang shalatterlihat gelisah. Kayaknya mereka bingung apakah shalat Asharnya harus diteruskan atau tidak. Akantetapi sang Imam, Sarip, terus saja melanjutkan shalat.Kebingungan makin menjadi ketika Sarip tiba-tiba duduk di raka’at ke-3 dan melakukan tahiyat akhir.Shalat Ashar kan 4 raka’at, seharusnya tahiyat akhir harus dilakukan di raka’at ke-4. Tapi namanya jugamakmum, mereka ikuti saja apa yang dilakukan si Imam.Setelah mengucapkan 2 kali salam kiri dan kanan, semua makmum langsung protes!“Rip, baru 3 raka’at nih. Shalat Ashar kan 4 raka’at?”Yang lainnya juga bilang, “Iya Rip, kamu salah hitung. Baru 3 raka’at.”Yang lain lagi punya ide, “Yuk, kita tambahkan 1 raka’at lagi, biar pas jadi 4.”Dan apa jawaban Sarip?!Dengan tenang dan dengan mimik seakan seorang pakar agama, dia menjawab, “Sebetulnya tadinyaemang kita mau shalat Ashar, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba waktu Maghrib sudah masuk, kan?!”“Terus, gimana maksud kamu?” tanya yang lain.“Nah, begitu terdengar adzan Maghrib, saya memutuskan untuk mengganti shalat kita ini, dari Asharjadi Magrib. Makanya pas raka’at ke-3 tadi, saya langsung tahiyat akhir. Shalat Maghrib kan cuma 3raka’at?”Hahahaaa.......Hancur banget ya, anak-anak kantor saya?! (termasuk saya juga sih, hehehee.....)Karena itulah secara berkala, Presdir kantor kami suka memanggil Ustadz ke kantor. Dalam acarasiraman rohani itu semua kelakuan dan pertanyaan yang ada langsung jadi topik bahasan.Semua ditanyakan pada ustadz tersebut. Dari sms-an di Mesjid, hape berdering pas lagi shalat, dan tentusaja penyakit yang paling akut didalam diri kita (walau mungkin tidak semua): “Shalat di Injury Time”.~bersambung.....

×