Your SlideShare is downloading. ×
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
spek teknis perpustakaan daerah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

spek teknis perpustakaan daerah

11,692

Published on

1 Comment
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
11,692
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
326
Comments
1
Likes
4
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS A. PETUNJUK UMUM (1) Sifat pekerjaan Dalam pelaksanaan proyek pembangunan GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan secara keseluruhan, hal-hal yang memerlukan perhatian adalah Konstruksi bangunan, agar para pengguna gedung ini merasa aman dan nyaman. Tercakup dalam pengertian pekerjaan struktur disini, adalah meliputi pembangunan, penyelesaian dan pemeliharaan pekerjaan dan penyediaan tenaga kerja, material, alat-alat pelaksanaan, pekerjaan sementara dan segala sesuatu yang secara permanen atau temporer diperlukan dalam pembangunan, penyelesaian dan pemeliharaan,ditentukan dalam Kontrak. (2)Syarat Umum Pelaksana Pekerjaan “Alat-alat Pelaksanaan”, berarti semua peralatan atau perlengkapan yang dibutuhkan dalam pembangunan, penyelesaian ataupun pemeliharaan pekerjaan atau Pekerjaan Sementara, akan tetapi tidak termasuk material ataupun barang lainnya yang dipergunakan untuk membentuk pekerjaan atau sebagian dari pekerjaan tetap. Dalam Pelaksaan Pekerjaan Proyek Pembangunan GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan ini, Kontraktor wajib memiliki Peralatan dan Pekerja minimum sebagai berikut : a. Peralatan minimal yang digunakan : 1 (Satu) Alat Pengaduk bahan Beton yaitu Molen Alat-alat penunjang pekerjaan bidang beton maupun kayu ( Meteran, Bor, Ketam, Palu, Tang, Obeng, Siku, Linggis, Sendok Semen, Cangkul, Sekop, dll. ) b. Personil minimal yang digunakan : 2 (Dua) Orang berpendiikan STM (3) Pihak-pihak yang terkait dalam Pelaksaan Proyek adalah sebagai berikut : a. “Owner”, berarti Perusahaan / Badan atau perorangan sebagai Pemilik Proyek. ( Pemerintah Kota Balikpapan ) b. “Konsultan”, berarti Perusahaan / Badan atau perorangan yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek untuk melakukan perencanaan pada proyek ini, khususnya dalam hal ini adalah Perencanaan Konstruksi. c. “Engineer”, berarti Perusahaan / Badan yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek untuk melakukan Pengawasan atau menjadi Management Konstruksi untuk pekerjaan pembangunan proyek ini. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 64
  • 2. d. “Kontraktor”, berarti Perusahaan / Badan yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek untuk mengerjakan pembangunan proyek ini. B. ACUAN PENGENDALIAN SELURUH PEKERJAAN (1) Seluruh pelaksanaan pembangunan proyek ini harus mengacu pada standard dan peraturan-peraturan sebagai berikut : a) Peraturan-peraturan standar setempat yang biasa dipakai. b) Peraturan Semen Portland Indonesia, 1972, NI-8. c) Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat. d) Ketentuan-ketentuan Umum untuk pelaksanaan Pemborongan Pekerjaan Umum (AV) No. 9, tanggal 28 Mei 1941 dan Tambahan Lembaran Negara No. 1457. e) Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan Perencana/M.K. f) Standar Normalisasi Jerman (DIN). g) American Society for Testing and Material (ASTM). Dan peraturan-peraturan lain yang berlaku dan dipersyaratkan berdasarkan normalisasi di Indonesia yang belum tercantum di atas, serta mendapat persetujuan Perencana dan Pengawas. (2) Kontraktor harus melaksanakan seluruh pekerjaan menurut dokumen kontrak, instruksi-instruksi tertulis dari Perencana. (3) Pengawas berhak memeriksa pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor pada setiap saat, kelalaian Perencana dalam pengontrolan / pengawasan terhadap kesalahan yang dilakukan Kontraktor. Kntraktor tetap bertanggung jawab untuk memperbaiki sampai dengan disetujui Perencana dengan seluruh biaya ditanggung Kontraktor. (4) Pekerjaan yang tidak memenuhi syarat-syarat peleksanaan (spesifikasi) atau gambar-gambar dan instruksi tertulis dari Perencana atau Pengawas harus diperbaiki dengan semua biaya yang diperlukan untuk ini menjadi tanggung jawab Kontraktor. (5) Semua bahan yang akan dipakai atau digunakan untuk proyek ini harus mendapat persetujuan dari Perencana. (6) Ukuran yang tertera dan terulis pada gambar dan spesifikasi ini adalah ukuran jadi, bukan ukuran bahan baku. (7) Apabila terdapat perbedaan antara gambar dengan spesifikasi ini maka, Kontraktor wajib melaporkannya dengan tertulis kepada Perencana untuk dibuatkan putusannya. Kontraktor tidak diperkenankan mengambil keputusan sendiri. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 65
  • 3. C. SETTING OUT (1) Lokasi proyek ini telah disurvey/diukur oleh pihak Pemilik Proyek dengan hasil sebagaimana tertera dalam gambar Rencana yang diberikan kepada Kontraktor pada saat pemberian surat Perintah Kerja. (2) Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diwajibkan melakukan pengukuran ulang untuk mencocokkan areal proyek dengan apa yang tertera pada gambar rencana. Survey ulang tadi harus mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Posisi patok-patok dilapangan, jarak horisontal dan perbedaan tinggi antara tiap patok. b. Bangunan konstruksi-konstruksi lain, dan benda-benda yang berada dalam daerah proyek, bentuk denah tanah (land configuration), dan hal lain yang perlu. (3) Kontraktor wajib memberi report tertulis tentang hasil survey ulang yang dilakukannya. Bila terjadi perbedaan-perbedaan, maka semua perbedaan tadi wajib dilaporkan kepada Engineer untuk menentukan langkah selanjutnya, sedang peng-koreksian gambar pengukuran harus dilakukan oleh kontraktor dengan diperiksa dan disetujui Engineer. (4) Sebagai patokan dasar dari ketinggian lantai bangunan, maka peil Arsitektur lantai dasar ditentukan ketinggiannya adalah ± 0.00 cm dari tanah dasar. (5) Posisi, ketinggian, dan letak bangunan harus sesuai dengan gambar rencana, dengan tidak ada bagian yang menyimpang dari posisi dan poros-poros bangunan. (6) Kontraktor bertanggung jawab atas ketepatan ukuran tersebut dan selalu harus berkonsultasi dengan Engineer untuk mendapatkan persetujuannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 66
  • 4. D. L I NGK UP P EK E RJ AAN Bangunan-bangunan pada Proyek GEDUNG PERPUSTAKAAN Balikpapan meliputi : 1.GEDUNG MASA UTAMA 2.GEDUNG MASA PENERIMA 1 3.GEDUNG MASA PENERIMA 2 4.RUANG. POMPA, GENSET, GROUND TANK & TANKI AIR Lingkup Pekerjaan secara keseluruhan : I. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI II. PENGUKURAN & PEMASANGAN BOWPLANK III. MEMBUAT SEROBONG KERJA IV. PEMBONGKARAN BANG. YG AKAN DISAMBUNG V. PENYEDIAAN AIR KERJA VI. PENGGALIAN PONDASI / URUGAN VII. PEMADATAN VIII. PEMBUANGAN , MENDATANGKAN MATERIAL & DRAINASE IX. PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON X. PEKERJAAN BEKISTING XI. PEKERJAAN BESI BETON XII. PEKERJAAN TIANG PANCANG XIII. PEKERJAAN RAILING XVI. PEKERJAAN INSTALASI PLUMBING XVII PEKERJAAN DINDING XVIII. PEKERJAAN LANTAI XIX. PEKERJAAN KOSEN & PINTU XX. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 67
  • 5. DAN PENGUNCI XXI. PEKERJAAN ATAP XXII. PEKERJAAN PLAFOND XXIII. PEKERJAAN PENGECATAN XXIV. MEKANIKAL & ELEKTRIKAL XXV. PEKERJAAN SANITARY D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 68
  • 6. E . U RAI AN / PE NJE L ASAN P E K E RJAAN I. MOBILISASI DAN DEMOBILISASI Sebelum pekerjaan Pembangunan Operation Room dilaksanakan, persiapan- persiapan yang perlu dilakukan adalah Penyediaan sarana tranportasi guna penunjang pelaksanaan pekerjaan proyek. II. PENGUKURAN DAN PEMASANGAN BOUWPLANK Setelah lokasi selesai di survey hal yang perlu dilakukan adalah mengadakan pengukuran lapangan dan pemasangan bowplank yang di sesuaikan dengan gambar rencana dari pihak Perencana. Bila ada ketidak sesuaian antara gambar dan lokasi, Kontraktor Tidak berhak merubah sendiri rencana tanpa persetujuan Perencana, dan Kontraktor wajib memberi laporan kepada pihak Perencana untuk dicarikan Penyelesaiannya. III. MEMBUAT SEROBONG KERJA Untuk lebih memudahkan dalam proses pelaksanaan proyek ini hal yang perlu dipikirkan adalah penempatan material maupun kantor sementara untuk Pelaksana. Hak ini perlu agar bongkar muat material untuk pelaksanaan proyek dapat dilakukan dengan mudah dan sebisa mungkin tempat kerja sementara maupun tempat penyimpanan material tidak mengganggu aktifitas kerja kantor yang dibangun, dan yang paling penting mempercepat kerja IV. PEMBONGKARAN BANGUNAN YANG AKAN DISAMBUNG (1) Sebelum pekerjaan bongkaran dilaksanakan pelaksana harus benar-benar memperhatikan gambar rencana renovasi yang telah ada, agar tidak terjadi kesalahan bongkaran ruang yang akan direnovasi. (2) Bila dalam pekerjaan pembongkaran dijumpai pipa-pipa saluran yang sudah tidak dipergunakan lagi, maka pipa-pipa tadi sedapat mungkin dibongkar, dan bila tidak mungkin harus harus disumbat, yang kesemua langkah ini harus sepengetahuan dan seijin Engineer. Sedangkan bila dijumpai instalasi-instalasi yang masih berfungsi seperti pipa air minum, pipa gas, jaringan listrik, jaringan telepon dll, maka kontraktor wajib secepatnya melaporkan hal tersebut kepada Engineer dan pihak berwenang lainnya untuk mendapat petunjuk-petunjuk lebih lanjut dalam menanganinya. (3)Pelaksanaan pekerjaan pembongkaran tersebut haruslah sedemikian rupa sehingga menjamin barang-barang berharga yang berada di ruang yang akan di reovasi tidak rusak. Bila terjadi kerusakan maka biaya reparasi ditanggung oleh pihak kontraktor. V.PENYEDIAAN AIR KERJA Meliputi penyediaan Air untuk kebutuhan pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung Perpustakaan Balikpapan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 69
  • 7. VI.PENGGALIAN PONDASI & URUGAN PENGGALIAN PONDASI Sebelum Pekerjaan galian dilakukan, seluruh areal yang akan dipakai untuk tempat kerja harus dibersihkan dari pohon, tanggul kayu, semak, bekas-bekas bangunan, dan benda-benda yang tidak diperlukan sebelum memulai pekerjaan. Kontraktor harus memeriksa dengan teliti mengenai posisi bangunan untuk mengamankan patok-patok sumbu bangunan sebelum memulai pekerjaan pondasi khususnya penentuan patok-patok untuk galian pondasi. (1) Semua penggalian pondasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (a) Penggalian biasa Penggalian biasa adalah penggalian pada jenis-jenis tanah seperti tanah liat, lanau, pasir, campuran tanah dengan koral atau batu yang agak besar (boulders), tetapi bukan tipe rock atau weathered rock. (b) Penggalian pada Weathered Rock (batuan pelapukan) Penggalian pada weathered rock adalah penggalian pada semua material yang memerlukan penghancuran terlebih dahulu, dengan alat berat atau alat pemecah khusus lainnya, untuk dapat dilakukan penggalian dengan effisien. (c) Penggalian pada Rock Penggalian pada rock adalah penggalian pada material yang tidak dapat digali tanpa melakukan peledakan (blasting) untuk memecah dan menghaluskan batuan tadi (rock foundation atau rock fragment). Khusus untuk proyek ini, semua jenis penggalian adalah termasuk type (a). (2) Penggalian harus dilakukan dengan teliti sesuai gambar dan syarat-syarat yang sudah ditentukan, baik mengenai kedalaman atau pun dimensinya harus sesuai dengan gambar rencana yang disetujui Engineer. Lubang galian harus digali dengan kemiringan yang seperlunya untuk keperluan stabilitas lereng galian, atau ditentukan lain oleh Engineer. (3) Penggalian pada kedalaman dibawah muka air tanah, harus dilakukan dengan bantuan turap-turap kayu atau besi untuk menjaga kemungkinan longsornya dinding galian. Harga satuan untuk penggalian jenis ini harus sudah termasuk semua material, upah, dan semua biaya untuk penurapan, pompa dll. (4) Semua ukuran-ukuran dan dasar galian harus diselesaikan dengan teliti hingga mencapai ukuran-ukuran, ketinggian-ketinggian, dan kemiringan- kemiringan yang direncanakan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 70
  • 8. (5) Permukaan dasar galian pondasi harus bersih dan bebas dari material- material yang dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah dalam mendukung beban yang direncanakan. Kondisi dari dasar galian ini, bila dianggap perlu harus diperiksa oleh Engineer. (6) Semua perubahan volume dalam pekerjaan penggalian pondasi yang diakibatkan modifikasi rencana pondasi, dapat mempengaruhi jumlah nilai pekerjaan untuk pekerjaan-pekerjaan galian, beton, bekisting, dan urugan kembali, tetap didasarkan pada harga satuan pekerjaan yang tercantum dalam Bill of Quantities. (7) Bila kondisi tanah pada kedalaman rencana ternyata tidak baik dari segi daya dukung tanah, Engineer dapat memerintahkan penggalian diteruskan atau memperbaiki kondisi tanah tadi dengan batu pecah atau lapisan koral tebal 15 cm yang dipadatkan dengan baik. (8) Bila Kontraktor melakukan penggalian pondasi melebihi kedalaman rencana atau ukuran lebar yang melebihi ukuran rencana, maka terhadap dasar galian pondasi ataupun dinding galian pondasi harus dilakukan langkah perbaikan dengan lapisan gravel seperti tersebut di atas atau memperbesar dimensinya, dengan beban biaya Kontraktor sendiri. URUGAN (1) Seluruh pengurugan dan pemadatan harus dibawah pengawasan Engineer, yang harus menyetujui seluruh bahan pengisi lebih dahulu sebelum digunakan. Engineer juga akan mempersiapkan macam-macam test yang diperlukan sesuai standart ASTM dibawah pengawasan seorang ahli atau laboratorium Mekanika Tanah yang ditunjuk. Kontraktor tidak diperkenankan melakukan pengurugan tanpa seijin dari Engineer. (2) Kecuali ditentukan lain oleh Engineer, urugan kembali dari galian pondasi baru dapat dimulai paling cepat 48 jam setelah pembongkaran bekisting beton pondasi selesai dilakukan. (3) Material untuk urugan kembali bekas galian pondasi harus bermutu baik untuk bahan urugan, yang didapat dari bekas galian itu sendiri ataupun mendatangkan dari tempat lain yang kesemuanya harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Engineer. Urugan harus dilakukan dengan lapis demi lapis yang dipadatkan dengan baik, dan tebal lapisan maximum 30 cm. Pemadatan harus dilakukan dengan menggunakan peralatan mekanis yang disetujui Engineer, dengan pemadatan minimumnya mencapai nilai 90 % standart proctor. (4) Kontraktor harus memperhatikan secara benar peil rencana urugan sesuai dengan gambar rencana. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 71
  • 9. VII.PEMADATAN (1) Untuk mendapatkan hasil pemadatan sebesar 90 % Standart Proctor maka perlu disediakan alat-alat percobaan : a. Speedy moisture test b. Cone penetrometer Pengambilan sampel pada setiap jarak 10 (sepuluh) meter dengan jumlah minimal 2 (dua) buah. VIII.PEMBUANGAN, MENDATANGKAN MATERIAL, DAN DRAINASE (1) Material yang dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai bahan urugan, harus segera dibuang ke luar sesuai pengarahan Engineer. (2) Kelebihan material bekas galian setelah pengurugan kembali, harus diratakan dengan mengaturnya secara baik sekitar pondasi. Sedangkan kelebihan material yang didatangkan untuk urugan kembali harus dikeluarkan dari daerah tersebut atas biaya Kontraktor sendiri. (3) Kontraktor diwajibkan membuat saluran darurat selama pelaksanaan pekerjaan untuk mengalirkan air dari lokasi proyek dengan tidak mengganggu lingkungannya setempat, sesuai gambar rencana ataupun sebagaimana diinstruksikan oleh Engineer. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 72
  • 10. IX.PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON Pasal 1 STANDARDS Semua ketentuan baik mengenai material maupun metode pemasangan dan juga pelaksanaan pekerjaan beton harus mengikuti semua ketentuan dalam SK-SNI T- 15-1991-03, terkecuali bila dinyatakan atau diinstruksikan lain oleh Engineer. Bila terdapat hal-hal yang tidak tercakup dalam Peraturan tadi, maka ketentuan- ketentuan berikut ini dapat dipakai dengan terlebih dahulu memberitahukan dan memintakan ijin dari Engineer. Adapun ketentuan-ketentuan tadi adalah sebagai berikut : ASTM C 150 Portland Cement ASTM C 33 Concrete Agregates ASTM C 494 Chemical Admixtures for Concrete ASTM A 615 Deformad and Plain Reinforcing Bars for Concrete Reinforcement ASTM A 185 Welded Steel Wire Fabric for Concrete Reinforcement Pasal 2 SEMEN (1) Kecuali ditentukan lain oleh Engineer, semen yang digunakan adalah semen Type I sesuai ASTM C 150, dan segala sesuatunya harus mengikuti ketentuan SK-SNI T-15-1991-03. Semen yang digunakan harus merupakan produk dari satu pabrik yang telah mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. (2) Kontraktor harus menunjukkan sertifikat dari produsen untuk setiap pengiriman semen, yang menunjukkan bahwa produk tadi telah memenuhi sesuatu test standard yang lazim digunakan untuk material itu. (3) Engineer berhak untuk memeriksa semen yang disimpan dalam gudang pada setiap waktu sebelum dipergunakan dan dapat menyatakan untuk menerima atau tidak semen-semen tersebut. (4) Kontraktor harus menyediakan tempat/gudang penyimpanan semen pada tempat-tempat yang baik sehingga semen-semen tersebut senantiasa terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang merusak, terutama sekali lantai tempat penyimpanan tadi harus kuat dan berjarak minimal 30 cm dari permukaan tanah. (5) Semen dalam kantung-kantung semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi dari dua meter. Tiap-tiap penerimaan semen harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat dibedakan dengan penerimaan-penerimaan sebelumnya. Pengeluaran semen harus diatur secara kronologis sesuai dengan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 73
  • 11. penerimaan. Kantung-kantung semen yang kosong harus segera dikeluarkan dari lapangan. (6) Kontraktor harus mengambil pengelola gudang yang cakap, yang mengawasi gudang-gudang semen dan mengadakan catatan-catatan yang cocok dari penerimaan dan pemakaian semen seluruhnya. Tindasan dari catatan-catatan harus disediakan untuk Engineer bila dikehendaki, yaitu jumlah semen yang digunakan selama hari itu ditiap bagian kerja. Pasal 3 AIR UNTUK ADUKAN (1) Air yang digunakan untuk bahan adukan beton, adukan pemasangan dan grouting, bahan pencuci agregat, dan untuk curing beton, harus air tawar yang bersih dari bahan-bahan yang berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak, alkali, sulfat, bahan organis, garam, silt (lanau), Kadar Silt (lanau) yang terkandung dalam air tidak boleh lebih dari 2 % dalam perbandingan beratnya. Kadar sulfat maximum yang diperkenankan adalah 0.5 % atau 5 gr/lt, sedangkan kadar chloor maximum 1,5 % atau 15 gr/lt. (2) Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa, sumber air yang berlumpur. Tempat pengambilan harus dapat menjaga kemungkinan terbawanya material-material yang tidak diinginkan tadi. Sedikitnya harus ada jarak vertikal 0.5 meter dari permukaan atas air kesisi tempat pengambilan tadi. (3) Apabila diadakan perbandingan test beton antara beton yang diaduk dengan aquadest dibandingkan dengan beton yang diaduk menggunakan air dari suatu sumber, dan hasilnya menunjukkan indikasi ketidakpastian dalam mutu beton walaupun telah digunakan semen yang sama telah disetujui; maka air dari sumber tadi tidak dapat dipakai bila hasil perbandingan test tadi menunjukkan harga-harga yang berbeda lebih kecil dari 10 persen. Test tadi dapat dibandingkan dari mutu kekuatan, dan juga dari waktu pengerasannya. Dallam keadaan ditolak ini, Pemborong diwajibkan mencari sumber lain yang lebih baik dan dapat diterima dan disetujui Engineer. Pasal 4 AGREGAT HALUS (PASIR) (1) Di dalam spesifikasi ini dipakai bermacam-macam jenis untuk pekerjaan bangunan yang ditetapkan sebagai berikut : a. Pasir buatan:Pasir yang dihasilkan dari mesin pemecah batu. b. Pasir alam:Pasir yang disediakan oleh kontraktor dari sungai atau pasir alam yang didapat dari persetujuan Engineer. c. Pasir paduan:Paduan pasir buatan dan pasir alam dengan perbandingan campuran sehingga dicapai gradasi (susunan butiran) yang dikehendaki. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 74
  • 12. (2) Semua pasir alam yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembangunan harus disediakan oleh Kontraktor dan dapat diperoleh dari sungai atau tempat lain sumber alam yang disetujui. Jika pasir alam didapat dari sumber-sumber yang tidak dimiliki atau tidak dikuasai Kontraktor, Kontraktor harus mengadakan persetujuan yang perlu dengan pemiliknya dan harus membayar semua sewa atau lain-lain biaya yang bersangkutan dengan hal tersebut. (3) Persetujuan untuk sumber-sumber pasir alam tidak dimaksudkan sebagai persetujuan keseluruhan untuk semua bahan yang diambil dari alam tersebut, dan kontraktor harus bertanggung jawab untuk kualitas satu demi satu dari bahan sejenis yang dipakai dalam pekerjaan. (4) Pasir untuk beton, adukan dan grouting harus merupakan pasir alam, pasir hasil pemecahan batu dapat pula digunakan untuk mencampur agar didapat gradasi pasir yang baik. Pasir yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil, dan harus terdiri dari butiran yang keras, padat, tidak terselaput oleh material lain. (5) Pasir yang ditolak oleh Engineer, harus segera disingkirkan dari lapangan kerja. Dalam membuat adukan baik untuk beton, plesteran ataupun grouting, pasir tidak dapat digunakan sebelum mendapat persetujuan Engineer mengenai mutu dan jumlahnya. (6) Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat, alkali, bahan-bahan organik dan kotoran-kotoran lainnya yang merusak. Berat subtansi yang merusak tidak boleh lebih dari 5 %. (7) Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan butir sesuai dengan persyaratan pada SK-SNI T-15-1991-03. Pasal 5 AGREGAT KASAR (KORAL) (1) Agregat kasar untuk beton dapat berupa koral dari alam, batu pecah, atau campuran dari keduanya. Koral yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil. Sebagaimana juga pada pasir, koral keras, padat, tidak porous, dan tidak terselaput material lain. Dalam penggunaannya koral harus dicuci terlebih dahulu dan diayak agar didapat gradasi sesuai yang dikehendaki, mempunyai modulus kehalusan butir antara 6 sampai 7.5 atau bila diselidiki dengan saringan standart harus sesuai dengan SK-SNI T-15- 1991-03 dan material yang halus yaitu yang lebih kecil dari 5 mm harus disingkirkan. (2) Koral yang sudah tersedia tidak dapat langsung digunakan sebelum mendapat persetujuan dari Engineer baik mengenai mutu ataupun jumlahnya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 75
  • 13. (3) Kontraktor diwajibkan memperhatikan pengaturan komposisi material untuk adukan, baik dengan menimbang ataupun volume, agar dapat dicapai mutu beton yang direncanakan, memberikan kepadatan maximum, baik workability-nya, dan memberikan kondisi watercement ratio yang minimum. Pasal 6 BAHAN PENCAMPUR (ADMIXTURES) (1) Penggunaan bahan admixture harus dengan harus dengan ijin tertulis dari Engineer, dan admixtures ini harus merupakan bagian yang integral dari adukan beton yang dibuat. Pasal 7 BAJA TULANGAN (1) Baja tulangan harus memenuhi ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03 dengan mutu U-39 (tegangan leleh karakteristik = 3900 kg/cm2) untuk diameter lebih besar dari 12 mm; sedangkan untuk diameter yang lebih kecil digunakan mutu U-24 (tegangan leleh karakteristik = 2400 kg/cm2). (2) Semua baja tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : - Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemak/minyak, karat, dan tidak bercacat seperti retak dll. - Untuk mutu U-39 harus digunakan profil baja tulangan deformed (deformed-bar). (3) Kontraktor harus mengadakan pengujian mutu beton baja yang akan dipakai sesuai dengan petunjuk dari Engineer. Batang percobaan diambil dengan disaksikan Engineer sejumlah minimum 3 (tiga) batang untuk tiap-tiap jenis baik mutu maupun pengiriman massal atau bilamana terjadi keraguan terhadap mutu baja yang dikirim ke proyek. Semua biaya-biaya percobaan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Sedangkan panjang setiap benda uji adalah 100 cm. Pasal 8 TRANSPORTASI DAN PENIMBUNAN MATERIAL (1) Pengangkutan semen harus diusahakan sedemikian rupa sehingga terlindung dari lembab dan sinar matahari. Semen harus dikirim ke lapangan dalam jumlah yang harus mendapat ijin dari Engineer terlebih dahulu, dengan memperhatikan kemajuan pekerjaan beton. (2) Segera setelah tiba dilapangan, semen harus disimpan dalam tempat penyimpanan yang kering, terlindung, bebas pengaruh cuaca, mempunyai ventilasi baik. Lantai tempat penimbunan sedikitnya harus berada 50 cm diatas tanah. Semua kelengkapan dari tempat penyimpanan harus mendapat persetujuan Engineer dan memungkinkan dilakukannya pemeriksaan dengan mudah. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 76
  • 14. (3) Semen dengan type dan asal yang berbeda harus disimpan pada tempat yang berbeda pula. Semen dalam kantung-kantung harus ditumpuk dengan tinggi tumpukan tidak lebih dari 13 kantung untuk periode sampai dengan 30 hari, atau tinggi tumpukan maximumnya 7 untuk periode-periode yang lebih panjang. Semen harus secepatnya digunakan segera setelah tiba dilapangan dan pengambilannya dari tempat penyimpanannya harus berurutan hingga dapat dihindari tersimpannya semen secara lama. Semen yang sudah rusak atau terkena lembab harus dengan segera disingkirkan dari lapangan. (4) Agregat yang berbeda harus disimpan secara terpisah dengan mempertimbangkan kemungkinan terkena kotoran. (5) Agregat yang telah tercemar ataupun berubah gradasinya akibat transportasi, harus disingkirkan dan diganti dengan material yang lebih baik atas biaya kontraktor. (6) Baja tulangan harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat dihindarinya baja tulangan mengenai tanah. Bila baja tulangan telah mengalami kemunduran dalam mutu akibat dari karat ataupun hal-hal lain akibat transportasi atau penyimpanan, maka baja tadi tidak dapat digunakan. Batang baja dengan mutu dan ukuran yang berbeda harus disimpan secara terpisah dan diberi label tentang mutunya dari test pabrik. Pasal 9 PERBANDINGAN ADUKAN (1) Kontraktor harus bertanggung jawab atas mutu adukan beton yang di buatnya, dan harus merencanakan perbandingan adukan agar didapatkan hasil sesuai yang diminta dalam spesifikasi. (2) Sedikitnya 8 minggu sebelum dimulainya pekerjaan pengecoran beton, kontraktor mengajukan usulan komposisi adukan yang akan digunakannya pada Engineer. Asal usul dan gradasi dari agregat, komposisi adukan, metode pengadukan yang dipakai, metode pengecoran, harus turut diberitahukan kepada Engineer. Setelah itu kontraktor harus mengadakan trial test (percobaan pendahuluan), dengan membuat suatu percobaan adukan yang hasilnya dapat diketahui sebelum pelaksanaan pekerjaan pengecoran. Test yang diadakan harus dilakukan dengan diawasi Engineer, dan menggunakan peralatan, bahan, metode yang sesuai dengan kondisi yang akan dipakai nantinya dalam pelaksanaan pekerjaan. (3) Adukan percobaan harus dimodifikasi dan diulangi sampai pihak Engineer puas dengan kenyataan bahwa material dan prosedur yang digunakan akan menghasilkan beton dangan kekuatan dan kondisi sesuai dengan spesifikasi yang diminta. Kekuatan dari beton yang disyaratkan harus dibuktikan dengan mengambil kubus test untuk ditest di laboratorium; yang kesemuanya harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15- 1991-03. Tidak satupun komposisi adukan beton yang dapat digunakan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 77
  • 15. dalam pekerjaan sebelum mendapat persetujuan dari Engineer. Untuk selanjutnya komposisi adukan beton yang digunakan harus berdasar pada hasil adukan percobaan yang telah disetujui. (4) Komposisi adukan dapat diubah dalam periode pelaksanaan pekerjaan oleh Engineer dengan berdasar pada hasil test pada agregat dan test beton yang sudah selesai dikerjakan. (5) Penggunaan material dan komposisi adukan yang konsisten, harus diterapkan agar tercapai hal-hal sebagai berikut : i) Kekuatan beton rencana yaitu beton K-225. ii) Beton yang padat, kedap air, dan tahan terhadap pengaruh cuaca dan lingkungan. iii) Pengaruh kembang susut yang kecil. (6) Pada penggunaan adukan beton “ready mix”, Kontraktor harus mendapat ijin lebih dahulu dari Engineer, dengan terlebih dahulu mengajukan calon nama dan alamat supplier untuk beton ready mix tadi. Dalam hal ini Kontraktor tetap bertanggung jawab penuh bahwa adukan yang disupply benar-benar memenuhi syarat-syarat dalam spesifikasi ini serta menjamin homogenitas dan kualitas yang kontinu pada setiap pengiriman. Segala test kubus yang harus dilakukan dilapangan harus tetap dijalankan, dan Engineer akan menolak supply beton ready mix bilamana diragukan kualitasnya. Semua resiko dan biaya sebagai akibat dari hal tersebut di atas, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Pasal 10 TESTING (1) Testing mutu beton harus dilakukan Kontraktor dengan diawasi Engineer. Kontraktor harus menyiapkan segalanya agar semua proses pengawasan dan pengambilan sample dapat diawasi Engineer dengan mudah dan dapat diawasi dengan baik dan mudah didekati selama periode proyek. Pengambilan sample harus sesuai dan mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Benda uji yang dipergunakan harus berupa kubus 15 x 15 x 15 cm3, dimana cetakan untuk benda uji ini harus terbuat dari besi sehingga bisa didapat benda uji yang sempurna. (2) Evaluasi dari kualitas beton akan dilakukan oleh Engineer untuk dapat dinyatakan suatu pekerjaan beton mutunya dapat memenuhi Spesifikasi, dan juga untuk menolak pekerjaan beton yang sudah dilakukan, dan termasuk menentukan perlu atau tidaknya merubah komposisi adukan beton. (3) Pengujian beton yang dilakukan adalah meliputi test kekuatan (crushing test) dan slump test. Kesemua test ini harus mengikuti ketentuan dalam SK- SNI T-15-1991-03. Tentang jumlah dan waktu pelaksanaan pengambilan kubus test, selain mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991- 03, juga harus dilakukan bilamana ditentukan oleh Engineer demi D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 78
  • 16. pertimbangan kondisi pelaksanaan. Semua hasil pemeriksaan kubus (crushing test) harus sesegera mungkin disampaikan kepada Engineer. (4) Slump test harus dilakukan pada setiap akan memulai pekerjaan pengecoran, dan dilakukan sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Toleransi dalam kekentalan adukan harus dalam batas-batas sebagai berikut : 10 mm untuk nilai Slump yang ditentukan kurang dari 80 mm 5 mm untuk nilai Slump yang ditentukan 80 mm atau lebih Nilai Slump yang disebutkan dalam 10.(4) harus dicapai dalam pelaksanaan sesungguhnya di pelaksanaan pengecoran. (5) Bila ternyata hasil test kubus beton menunjukkan tidak tercapainya mutu yang disyaratkan, maka Engineer berhak untuk memerintahkan hal-hal sebagai berikut : a. Mengganti komposisi adukan untuk pekerjaan yang tersisa. b. Memperlama proses penjagaan dalam masa pengerasan beton. c. Non-destructive testing. d. Core drilling. e. Test-test lain yang dianggap relevan dengan masalahnya. Perlu diperhatikan bahwa semua prosedur dan ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03 harus tetap diikuti. (6) Apabila setelah dilakukan langkah-langkah sebagaimana disebutkan diatas, dan ternyata mutu beton memang tetap tidak dapat memenuhi Spesifikasi, maka Engineer berhak memerintahkan pembongkaran beton yang dinyatakan tidak memenuhi syarat tadi sesegera mungkin. (7) Semua biaya pengambilan sample, pemeriksaan, pembongkaran, pekerjaan perbaikan, dan pekerjaan pembuatan kembali konstruksi beton yang dibongkar tadi, sepenuhnya menjadi beban kontraktor. Pasal 11 PENGADUKAN (1) Kontraktor harus menyediakan, memelihara dan menggunakan alat pengaduk mekanis (beton mollen) yang harus selalu berada dalam kondisi baik; sehingga dapat dihasilkan mutu adukan yang homogen. Jumlah tiap bagian dari komposisi adukan beton harus diukur dengan teliti sebelum dimasukkan ke dalam alat pengaduk, dan diukur dapat berdasarkan berat atau volume. (2) Pengadukan beton harus dilakukan dengan alat pengaduk yang mempunyai kapasitas minimum 0.2 m3 dengan waktu tidak kurang dari 1 ½ menit setelah semua bahan adukan beton dimasukkan dengan segera, kecuali air yang dapat dimasukkan sebagian lebih dahulu. Engineer berhak untuk memerintahkan memperpanjang proses pengadukan bila ternyata hasil adukan yang ada gagal menunjukkan beton yang homogen seluruhnya, dan kekentalannya tidak merata. Adukan beton yang dihasilkan dari proses pengadukan tadi harus mempunyai komposisi dan kekentalan yang merata untuk keseluruhannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 79
  • 17. (3) Air untuk pencampur adukan beton dapat diberikan sebelum dan sewaktu pengadukan dengan kemungkinan penambahan sedikit air pada waktu proses pengeluaraan dari adukan yang dapat dilakukan berangsur-angsur. Penambahan air yang berlebihan yang dimaksudkan untuk menjaga kekentalan yang disyaratkan, tidak dapat dibenarkan. Mesin pengaduk yang menunjukkan hasil yang tidak memuaskan, harus segera diperbaiki atau diganti dengan yang baik lainnya. Pada alat pengaduk yang ditempatkan secara sentral, atau pada mixing plants, Kontraktor harus menyediakan sarana agar proses pengadukan dapat diawasi dengan baik dari tempat yang tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan pengadukan. Alat pengaduk tidak boleh digunakan untuk mengaduk adukan dengan volume yang melebihi kapasitasnya, kecuali diinstruksikan Engineer. (4) Alat pengaduk yang digunakan harus menunjukkan dengan jelas data-data dari pabriknya yang menunjukkan : a. Gross volume dari ruang pengaduk. b. Maximum kecepatan pengadukan. c. Minimum dan maximum kecepatan pengadukan dengan disertai data- data tentang ruang pengaduk, sirip pengaduk dll. (5) Alat pengaduk (beton molen) harus benar-benar kosong dan bersih sebelum diisi bahan-bahan untuk mengaduk beton, dan harus segera dicuci bersih setelah selesai mengaduk pada suatu pengecoran. Pada saat memulai adukan yang pertama pada suatu pengecoran dengan beton mollen yang sudah bersih, pengadukan yang pertama harus mengandung koral dengan jumlah perbandingan separuh dari jumlah perbandingan normalnya untuk menjaga adanya material halus dan semen yang tertinggal melekat pada bagian dalam beton mollen. Juga lama pengadukan dengan kondisi pertama ini harus dilakukan dengan sedikitnya satu menit lebih lama dari waktu pengadukan normal. (6) Pengadukan adukan dengan cara manual tidak diperkenankan, terkecuali untuk suatu jumlah yang kecil sekali dan hal inipun diperkenankan setelah mendapat persetujuan dari Engineer. Pengadukan dengan manual (hand mixing) ini harus dilakukan pada suatu platform yang mempunyai tepi-tepi penghalang. Pada proses pengadukan ini, bahan-bahan yang akan diaduk harus diaduk dulu secara kering dengan sedikitnya 3 (tiga) kali pengadukan, untuk kemudian air pencampurnya disemprotkan dengan selang air, dan setelah itu dilakukan pengadukan kembali dengan sedikitnya 3 (tiga) kali pengadukan sampai didapat suatu adukan yang benar-benar merata. Dalam pengadukan kembali ini kekentalannya dapat dinaikkan dengan 10 persen, serta tidak diperkenankan melakukan pengadukan dengan cara ini untuk suatu jumlah yang lebih dari ½ m3 diaduk sekaligus. Pasal 12 TRANSPORTASI (1) Adukan beton dari tempat pengaduk harus secepatnya diangkut ketempat pengecoran dengan cara yang sepraktis mungkin yang metodenya harus D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 80
  • 18. mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. Methode yang dipakai harus menjaga jangan sampai terjadi pemisahan bahan-bahan campuran beton (segregation), kehilangan unsur-unsur betonnya, dan harus dapat menjaga tidak timbulnya hal-hal negatif yang diakibatkan naiknya temperatur ataupun berubahnya kadar air pada adukan. Adukan yang diangkut harus segera dituangkan pada formwork (bekisting) yang sedekat mungkin dengan tujuan akhirnya untuk menjaga pengangkutan lebih lanjut; serta pula penuangan adukan tidak boleh dengan menjatuh bebaskan adukan dengan tinggi jetuh lebih dari satu meter. (2) Alat-alat yang digunakan untuk mengangkut adukan beton harus terbuat dari metal, permukaannya halus dan kedap air. (3) Adukan beton harus sampai ditempat dituangkan dengan kondisi benar- benar merata (homogen). Slump test yang dilakukan untuk sample yang diambil pada saat adukan dituangkan ke bekisting, harus tidak melewati batas-batas toleransi yang ditentukan pada pasal 10.(4) Pasal 13 PENGECORAN (1) Sebelum adukan beton dituangkan pada acuannya, kondisi permukaan dalam dari bekisting atau tempat beton dicorkan harus benar-benar bersih dari segala macam kotoran. Semua bekas-bekas beton yang tercecer pada baja tulangan dan bagian dalam bekisting harus dengan segera dibersihkan. (2) Juga air tergenang pada acuan beton atau pada tempat beton akan dicorkan harus segera dihilangkan. Aliran air yang dapat mengalir ketempat beton dicor, harus dicegah dengan mengadakan drainage yang baik atau dengan metode lain yang disetujui Engineer, untuk mencegah jangan sampai beton yang baru dicor menjadi terkikis pada saat atau setelah proses pengecoran. (3) Pengecoran tidak boleh dimulai sebelum kondisi bekisting, tempat beton dicor, kondisi permukaan beton yang berbatasan dengandaerah yang akan dicor, dan juga keadaan pembesian selesai diperiksa dan disetujui oleh Engineer. Setelah diperiksa dan disetujui Engineer, maka pekerjaan yang dapat dilakukan hanyalah pekerjaan dalam atau terhadap bekisting sampai selesainya pengecoran beton pada daerah yang telah disetujui; terkecuali dengan seijin Engineer. (4) Pada tiap pengecoran, Kontraktor diwajibkan menempatkan seorang tenaga pelaksananya yang berpengalaman baik dalam pekerjaan beton, dan pelaksana ini harus hadir, mengawasi, dan bertanggung jawab atas pekerjaan pengecoran. Sedang semua pekerjaan pengecoran harus dilakukan oleh tenaga-tenaga pekerja yang terlatih, yang jumlahnya harus mencukupi untuk menangani pekerjaan pengecoran yang dilakukan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 81
  • 19. (5) Tidak diperkenankan melakukan pengecoran untuk suatu bagian dari pekerjaan beton yang bersifat permanen tanpa dihadiri Engineer atau wakil dari Engineer (inspector). (6) Kontraktor harus mengatur kecepatan kerja dalam menyalurkan adukan beton agar didapat suatu rangkaian kecepatan baik mengangkut, meratakan, dan memadatkan adukan beton dengan suatu kecepatan yang sama dan menerus. (7) Mengencerkan adukan beton yang sudah diangkut sama sekali tidak diperkenankan. Adukan beton yang sudah terlanjur agak mengeras tapi belum dicorkan, harus segera dibuang. (8) Seluruh pekerjaan pengecoran beton harus diselesaikan segera sebelum adukan betonnya mulai mengeras. Dan segala langkah perlindungan harus segera dilakukan terhadap beton yang baru dicor, dimulai saat-saat beton belum mengeras. (9) Dalam hal terjadi kerusakan alat pada saat pengecoran, atau dalam hal pelaksanaan suatu pengecoran tidak dapat dilaksanakan dengan menerus, Kontraktor harus segera memadatkan adukan yang sudah dicorkan sampai suatu batas tertentu dengan kemiringan yang merata dan stabil saat beton masih dalam keadaan plastis. Bidang pengakhiran ini harus dalam keadaan bersih dan harus dijaga agar berada dalam keadaan lembab sebagaimana juga pada kondisi untuk construction joint, sebelum nantinya dituangkan adukan yang masih baru. Bila terjadi penyetopan pekerjaan pengecoran yang lebih lama dari satu jam, pekerjaan harus ditangguhkan sampai suatu keadaan dimana beton sudah dinyatakan mulai mengeras yang ditentukan oleh pihak Engineer. (10) Beton yang baru selesai dicor, harus dilindungi terhadap rusak atau terganggu akibat sinar matahari ataupun hujan. Juga air yang mungkin mengganggu beton yang sudah dicorkan harus ditanggulangi sampai suatu batas waktu yang disetujui Engineer terhitung mulai pengecorannya. Tidak sekalipun diperkenankan melakukan pengecoran beton dalam kondisi cuaca yang tidak baik untuk proses pengerasan beton tanpa suatu upaya perlindungan terhadap adukan beton, hal ini bisa dalam terjadi baik dalam keadaan cuaca yang panas sekali, atau dalam keadaan hujan. Perlindungan yang dilakukan untuk mencegah hal-hal ini harus mendapat persetujuan Engineer. Pasal 14 PEMADATAN DAN ADUKAN BETON (1) Adukan beton harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan yang maximum sehingga didapat beton yang terhindar dari rongga-rongga yang timbul antara celah-celah koral, gelembung udara, dan adukan tadi harus benar- benar memenuhi ruang yang dicor dan menyelimuti seluruh benda yang seharusnya tertanam dalam beton. Selama proses pengecoran, adukan beton D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 82
  • 20. harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator yang mencukupi keperluan pekerjaan pengecoran yang dilakukan. Kekentalan adukan beton dan lama proses pemadatan harus diatur sedemikian rupa agar dicapai beton yang bebas dari rongga, pemisahan unsur-unsur pembentuk beton. (2) Beton yang sedang mengeras harus selalu dibasahi mulai dari selesai pengecoran dengan sedikitnya selama 2 (dua) hari. Pembasahan harus dilakukan dengan menutup permukaan beton dengan kain atau material lain yang basah agar tetap lembab. Air yang digunakan untuk keperluan ini harus sama mutunya dengan air untuk bahan adukan beton. Pasal 15 PERBAIKAN BETON (1) Segera setelah bekisting dibuka, kondisi beton harus diperiksa Engineer. Bila dianggap oleh Engineer perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan atau pembongkaran, maka langkah tadi harus sepenuhnya dikerjakan atas beban biaya Kontraktor. (2) Langkah-langkah perbaikan beton harus dilakukan oleh tenaga yang benar- benar ahli. Hal-hal yang perlu diperbaiki antara lain yang menyangkut hal- hal yang kurang baik pada permukaan beton terutama untuk kebutuhan finishing. Kecuali dinyatakan lain, maka pelaksanaan pekerjaan perbaikan ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam semenjak pembukaan bekisting. Tonjolan di permukaan beton harus dihilangkan. (3) Kondisi beton yang ternyata rusak akibat adanya rongga yang membahayakan dan permukaan cekung yang berlebihan, dapat mengakibatkan perintah dibongkarnya beton tadi untuk kemudian dilakukan pembersihan dan pengecoran ulang. Batas-batas daerah yang harus dibongkar tadi akan ditentukan oleh pihak Engineer, begitu juga langkah pengecoran dan material yang akan digunakan. Pasal 16 JOINTS (1) Lokasi dan type dari construction joints harus sesuai dengan pada gambar rencana atau sebagaimana ditentukan Engineer. Penambahan construction joint yang dikehendaki Kontraktor demi pertimbangan pelaksanaan, harus mendapat persetujuan Engineer terlebih dahulu. Penentuan letak joint tadi harus memperhatikan pola gaya-gaya yang bekerja ataupun untuk menghindari terjadinya retak. (2) Pengecoran beton harus dilakukan secara menerus tanpa berhenti. Bila terjadi penghentian dalam pengecoran pada suatu lokasi dimana pada pengecoran nantinya, beton baru tidak akan dapat tercampur dengan beton lama, maka batas tadi harus diperlakukan seperti construction joints, dimana permukaan construction joints harus dikasarkan, dibersihkan dengan air hingga bersih. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 83
  • 21. X.BEKISTING (ACUAN BETON) Pasal 1 UMUM (1) Kontraktor harus menyerahkan kepada Engineer semua perhitungan dan gambar rencana bekistingnya untuk mendapat persetujuan bilamana diminta Engineer, Sebelum pekerjaan di lapangan dimulai. Dalam hal bekisting ini, walaupun Engineer telah menyetujui untuk digunakannya suatu rencana bekisting dari kontraktor, segala sesuatunya yang diakibatkan oleh bekisting tadi tetap sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Pasal 2 MATERIAL (1) Material untuk bekisting dapat dibuat dari tripleks 9 mm, kayu, besi, atau material lain yang disetujui oleh Engineer. Semua type material tadi bila digunakan tetap harus memenuhi kebutuhan untuk bentuk, ukuran, kualitas dan kekuatan, sehingga didapat hasil beton yang halus, rata, dan sesuai dimensi yang direncanakan. (2) Bekisting yang digunakan untuk beton exposed, harus benar-benar mempunyai permukaan yang halus.Jika digunakan bekisting multipleks, sambungan antara tepi-tepi bekisting harus dibuat dengan diprofil hingga didapat permukaan dalam bekisting yang benar-benar rata sesuai yang direncanakan. Pasal 3 PELAKSANAAN (1) Bekisting harus benar-benar menjamin agar air yang terkandung dalam adukan beton tidak hilang atau berkurang. Konstruksi bekisting harus cukup kaku, dengan pengaku-pengaku (bracing) dan pengikat (ties) untuk mencegah terjadinya pergeseran ataupun perubahan bentuk yang diakibatkan gaya-gaya yang mungkin bekarja pada bekisting tadi. Hubungan-hubungan antara bagian bekisting harus menggunakan alat-alat yang memadai agar didapat bentuk dan kekakuan yang baik. Pengikatan bagian bekisting harus dilakukan yang baik. Pengikatan bagian bekisting harus dilakukan horisontal dan vertikal. Semua bekisting harus direncanakan agar dalam proses pembukaan tanpa memukul atau merusak beton. Untuk pengikatan dalam beton harus menggunakan batang besi dan murnya. (2) Semua material yang selesai digunakan sebagai bekisting harus dibersihkan dengan teliti sebelum digunakan kembali, dan bekisting yang telah digunakan berulang kali dan kondisinya sudah tidak dapat diterima D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 84
  • 22. Engineer, harus segera disingkirkan untuk tidak dapat dipergunakan lagi atau bilamana mungkin diperbaiki agar kembali sempurna kondisinya. (3) Semua pekerjaan sudut-sudut beton, bilamana tidak dinyatakan lain dalam gambar harus ditakik 25 mm. Pasal 4 PEMBASAHAN & MEMINYAKI BIDANG BEKISTING (1) Bagian dalam dari bekisting besi dan kayu boleh dipoles dengan non- staining mineral oil dengan sepengetahuan Engineer. Pelumasan tadi harus dilakukan dengan hati-hati agar cairan tadi tidak mengenai bidang dasar pondasi dan juga pembesian. (2) Bekisting kayu bilamana tidak dipoles minyak seperti tersebut diatas, harus dibasahi hingga benar-benar basah sebelum pengecoran beton. Pasal 5 PEMBONGKARAN BEKISTING (1) Secara umum, kecuali dinyatakan lain oleh Engineer, semua bekisting harus disingkirkan dari permukaan beton. Untuk memungkinkan tidak terganggunya kemajuan pekerjaan dan dapat dengan segera dilakukan langkah perbaikan, bila perlu bekisting harus secepatnya dibongkar segera setelah beton mempunyai kekerasan dan kekuatan seperlunya. Bekisting untuk bagian atas dari bidang beton yang miring, harus segera dibongkar setelah beton mempunyai kekakuan untuk mencegah berubahnya bentuk permukaan beton. Bilamana diperlukan perbaikan pada bidang atas beton yang miring, maka perbaikan tadi harus sesegera mungkin, dan dilanjutkan dengan langkah-langkah penjagaan pada proses pengerasan beton (curing). (2) Pembukaan bekisting tidak diperkenankan dilakukan sebelum beton mencapai umur sesuai daftar dibawah ini setelah pengecorannya dan sebelum beton mengeras untuk menahan gaya-gaya yang akan ditahannya. Pembongkaran bekisting harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah timbulnya kerusakan pada beton. Bilamana timbul kerusakan pada beton pada saat pembongkaran bekisting, maka langkah perbaikannya harus sesegera mungkin dilakukan. Daftar ketentuan diperkenankannya dibuka suatu bekisting bila dihitung sejak selesai pengecoran - Sisi-sisi balok, dinding & kolom yang tidak dibebani 2 hari - Plat beton (penyangga tidak dibuka) 3 hari - Tiang-tiang penyangga plat bila plat tidak mendapat beban 14 hari - Tiang-tiang penyangga balok yang tidak dibebani 21hari - Tiang-tiang penyangga cantilever28 hari Untuk kondisi-kondisi dimana plat dan balok yang masih ada sistim lantai diatasnya, maka pembukaan bekisting dan penyangganya harus dengan persetujuan Engineer, dimana dalam hal ini segala kemungkinan beban yang akan bekerja serta umur beton yang terbebani harus ditinjau dengan teliti. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 85
  • 23. XI.PEKERJAAN BESI BETON Pasal 1 UMUM (1) Pemasangan besi tulangan beton harus mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Besi beton harus dipasang sebagaimana pada gambar rencana atau seperti yang diinstruksikan Engineer. Terkecuali sebagaimana yang dinyatakan pada gambar atau diinstruksikan Engineer, pengukuran pada pemasangan besi tulangan harus dilakukan terhadap as dari besi tulangan. Besi tulangan yang terpasang harus sesuai ukuran, bentuk, panjang, posisi, dan banyaknya, dan akan diperiksa setelah kondisi terpasang. Pasal 2 PEMBERSIHAN (1) Sebelum besi dipasang, besi beton harus dalam keadaan bersih, bebas dari karat, kotoran lemak, atau material lain yang seharusnya tidak melekat pada besi beton tadi dan dapat mengurangi atau menghilangkan lekatan antara beton dan besi beton. Dan kebersihan ini harus tetap dijaga sampai proses pengecoran beton. Pasal 3 PEMBENGKOKAN (1) Besi beton harus dibentuk dengan teliti hingga tercapai bentuk dan dimensi sesuai gambar rencana atau bending schedules yang disiapkan oleh Kontraktor dan disetujui Engineer. Semua proses pembengkokan harus dilakukan dengan cara lambat, tekanan yang konstan. Kesemua ujung-ujung pembesian harus mempunyai kait sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Pembengkokan dengan cara dipanasi hanya dapat dibenarkan apabila telah mendapat ijin dari Engineer. Pasal 4 PELURUSAN (1) Besi tulangan tidak boleh dibengkokan dengan cara yang dapat menyebabkan kerusakan pada besi beton. Besi tulangan dengan kondisi yang tidak lurus atau dibengkok dengan tidak sesuai gambar tidak diperkenankan dipakai. Pasal 5 PEMASANGAN (1) Besi beton harus dipasang dengan teliti agar sesuai dengan gambar rencana, dan harus diikat dengan kuat dengan menggunakan kawat pengikat dan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 86
  • 24. didudukkan pada support dari beton atau besi ataupun dengan hanger agar posisinya tidak berubah selama proses pemasangan dan pengecoran. Pengikat dan tumpuan dari besi tadi tidak boleh menyentuh bidang bekisting dalam hal beton yang dicor adalah beton exposed. Bila besi tulangan didudukan pada blok beton kecil, blok tadi harus dibuat dari beton yang mutunya sama dengan beton rencana dan bentuknya harus menjamin didapatnya permukaan beton yang baik. Kekakuan pada pemasangan besi beton harus menjamin agar tidak berubah bentuk dan tempat bila pekerja berjalan atau memanjat pembesian tadi. Ujung-ujung dari kawat pengikat harus ditekuk kearah dalam beton dan tidak diperkenankan mengarah keluar. Selama proses pengecoran beton, Kontraktor harus menyediakan tenaga-tenaga pekerja yang khusus mengawasi dan memperbaiki pembesian dari kemungkinan tergeser atau berubah bentuk karena hal-hal yang mungkin timbul; dan hal-hal tadi harus cepat diperbaiki sebelum pengecoran mencapai daerah tersebut. Pemasangan besi beton harus mengingat syarat jarak bersih antar tulangan, atau antar tulangan dan angkur, atau antara benda-benda metal tertanam sebagaimana yang ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Pasal 6 SELIMUT BETON (1) Besi beton harus dipasang dengan minimum selimut beton (concrete cover) sebagaimana gambar rencana atau sebagaimana ditentukan Engineer. Dalam segala hal tebal selimut beton tidak boleh diambil kurang dari 20 mm. Pasal 7 SAMBUNGAN LEWATAN (SPLICING) (1) Sambungan lewatan harus dibuat sesuai gambar rencana instruksi Engineer, atau minimal mengikuti ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. (2) Bilamana dirasa perlu untuk melakukan sambungan lewatan pada posisi lain dari posisi pada gambar rencana, posisi tersebut harus ditentukan oleh Engineer. Sambungan ini tidak diperkenankan diletakkan pada lokasi tegangan yang maximum, dan penyambungan pada besi beton yang letaknya bersebelahan agar dilaksanakan dengan bergeser posisinya (staggered). Bilamana dikehendaki suatu panjang yang tanpa sambungan, panjang dari batang tadi harus dibuat sepanjang yang bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan panjang sambungan lewatan sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI T-15-1991-03 terkecuali ditentukan lain. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 87
  • 25. XII. PEKERJAAN PANCANG (BORE PILE) TIANG BOR BETON COR LANGSUNG DITEMPAT (BORE PILE) Pasal 1 Umum Contoh bahan yang digali harus disimpan untuk semua tiang bor. Pengujian penetrometer untuk bahan dilapangan harus dilakukan selama penggalian dan pada dasar tiang bor sesuai dengan yang diminta oleh Direksi Pekerjaan. Pengambilan contoh bahan ini harus selalu dilakukan pada tiang bor pertama dari tiap kelompok Pasal 2 Pengeboran Tiang Bor Beton Lubang-lubang harus dibor sampai kedalaman seperti yang ditunjukkan dalam gambar atau ditentukan berdasarkan pengujian hasil pengeboran. Semua lubang harus diperiksa, bilamana diameter dasar lubang kurang dari setengah diameter yang ditentukan, pekerjaan tersebut akan ditolak. Sebelum pengecoran beton, semua lubang tersebut harus ditutup sedemikian rupa hingga keutuhan lubang dapat terjamin. Dasar selubung (casing) harus dipertahankan tidak lebih dari 150 cm dan tidak kurang dari 30 cm di bawah permukaan beton selama penarikan dan operasi penempatan, kecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan. Sampai kedalaman 3 m dari permukaan beton yang dicor harus digetarkan dengan alat penggetar. Sebelum pengecoran, semua bahan lepas yang terdapat lubang bor harus dibersihkan. Air bekas pengeboran tidak diperbolehkan masuk kedalam lubang. Sebelum pengecoran, semua air yang terdapat dalam lubang bor harus dipompa keluar. Selubung (casing) harus digetarkan pada saat pencabutan untuk menghindari menempelnya beton pada dinding casing. Pengecoran beton dan pemasangan baja tulangan tidak diijinkan sebelum mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. Pasal 3 Pengecoran Beton Pengecoran beton harus dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi beton. Dimanapun beton digunakan harus dicor kedalam suatu lubang yang kering dan bersih. Beton harus dicor melalui sebuah corong dengan panjang pipa. Pengaliran harus diarahkan sedemikian rupa hingga beton tidak menimpa baja tulangan atau sisi-sisi lubang. Beton harus dicor secepat mungkin setelah pengeboran dimana kondisi tanah kemungkinan besar akan memburuk akibat terekspos. Bilamana elevasi akhir pemotongan berada dibawah elevasi muka air tanah, tekanan harus dipertahankan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 88
  • 26. pada beton yang belum mengeras, sama dengan atau lebih besar dari tekanan air tanah, sampai beton tersebut selesai mengeras. Pasal 4 Pengecoran Beton di Bawah Air Bilamana pengecoran beton didalam air atau pengeboran lumpur, semua bahan lunak dan bahan lepas pada dasar lubang harus dihilangkan dan cara tremie yang telah disetujui harus digunakan. Cara tremie harus mencakup sebuah pipe yang diisi dari sebuah corong diatasnya. Pipa harus diperpanjang sedikit dibawah permukaan beton baru dalam tiang bor sampai diatas elevasi air/Lumpur. Bilamana beton mengalir keluar dari dasar pipa, maka corong harus diisi lagi dengan beton sehingga pipa selalu penuh dengan beton baru. Pipa tremie harus kedap air, dan harus berdiameter paling sedikit 15 cm. Sebuah sumbat harus ditempatkan didepat beton yang dimasukkan pertama kali dalam pipa untuk mencegah pencampuran beton dan air. Pasal 5 Penanganan Kepala Tiang Bor Beton Tiang bor umumnya harus dicor sampai kira-kira satu meter diatas elevasi yang akan dipotong. Semua beton yang lepas, kelebihan dan lemah harus dikupas dari bagian puncak tiang bor dan baja tulangan yang tertinggal harus mempunyai panjang yang cukup sehingga memungkinkan pengikatan yang sempurna kedalam pur atau struktur diatasnya. Pasal 6 Tiang Bor Beton yang Cacat Tiang bor harus dibentuk dengan cara dan urutan sedemikian rupa hingga dapat dipastikan bahwa tidak terdapat kerusakan yang terjadi pada tiang bor yang dibentuk sebelumnya. Tiang bor yang cacat dan diluar toleransi harus diperbaiki atas biaya Kontraktor. 2. L AT E RAL L OA D T E ST Pas a l 1 P er s y ar ata n Umu m • Kontraktor harus mensuplai semua material, buruh dan peralatan lain yang dianggap penting untuk pelaksanaan, rekaman, dan pengukuran dari test pembebanan dan penurunan yang terjadi. • Test pembebanan yang dilaksanakan adalah untuk single pile D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 89
  • 27. Pas a l 2 Sta ndar d L o ad T est Beban percobaan lateral total harus sebesar 200% dari beban desain lateral dan dilakukan sesuai standar ASTM D 3966-81 dengan cyclic loading. Pas a l 3 P er al a tan un tuk P em be ba na n Pe m be ba na n dil a ku ka n de ngan s u atu j ack ya ng m em p unyai k ap as it a s ti da k b oleh le bi h kec il da ri 1 25% d ar i be ba n mak s im u m yan g d it e ra pk an . Se la nj ut n ya Kon tr a kt or ha rus menga j u kan t e rl ebi h da hu l u re nca na pl atf orm da n k on s tr uk s i u nut k l oa d t e s t i n i u nt uk me ndap a t per se tuj ua n Di re ks i / Penga wa s Lap an ga n. Pas a l 4 P er al a tan unt uk P eng u kur an Se tt l e ment • Acuan (referensi) pengukuran settlement yang berupa balok (beams) dan kawat (wires) harus secara terpisah ditahan oleh penopang yang benar- benar tertanam di dalam tanah pada jarak yang tidak boleh lebih kecil dari 3 m diluar sistem yang akan dibebani dengan beban lateral. Acuan pengukuran ini harus mempunyai kekakuan lateral dan aksial yang cukup guna mendapatkan titik acuan yang stabil untuk pengukuran defleksi pile. • Dial gauge stems harus bisa bergerak sekurangnya 75 mm dan sejumlah blok gauge yang memadai harus disediakan untuk untuk bisa bergerak hingga jarak terjauh yang diharapkan. Gauge harus memiliki ketelitian sekurangnya 0.25 mm. Permukaan bantalan yang licin harus tegak lurus terhadap arah gerakan stem gaugeuntuk semua stem gauge. Skala yang harus digunakan untuk pembacaan pergerakan hingga 0.25 mm, sedangkan batang target (target rod) hingga 0.3 mm. • Tanda dengan jelas semua dial gauges, skala, dan titik referensi dengan angka atau tulisan agar memudahkan dan mendapatkan pencatatan yang akurat. Susun semua gauge, skala, atau titik referensi dengan kokoh sehingga tidak bergerak relatif terhadap penahan selama test. • Dua dial gauge harus diletakkan untuk memonitor pergerakan horizontal searah beban. Satu dial gauge tambahan harus diletakkan tegak lurus terhadap dua dial gauge untuk mengukur pergerakan horizontal dalam arah tegak lurus beban. • Satu alat pencatat yang lain dan terpisah menggunakan kabel, cermin dan skala harus disediakan sesuai dengan ASTM D 3968-90. Susun cermin dan skala pada bagian tengah atas pile yang ditest atau pada suatu bracket yang disusun sepanjang garis dari beban yang diberikan pada sisi pile yang ditest D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 90
  • 28. dengan skala sepanjang garis beban yang diberikan. Regangkan kawat atau material lain yang ekivalen, tegaklurus terhadap garis pemberian beban dan melewati permukaan skala. Letakkan kawat tidak lebih dari 25 mm dari muka skala dan penyokong, pasang alat yang cocok untuk menjaga tegangan kawat sepanjang test sedemikian hingga jika kawat ditarik, kawat akan kembali ke posisi semula. Jika skala dan kawat diletakkan pada pile di sisi yang berlawanan terhadap titik pemberian beban, ruang yang cukup bebas harus disediakan antara pile dan kawat untuk mengantisipasi pergerakan lateral pile. • Ke s e l uru ha n a la t -ala t t es t ha ru s di li ndun gi te rh a da p pe ru ba ha n s u hu. Pas a l 5 P ro s edu r P e mbe ba na n Pembebanan lateral ini dilakukan dalam 4 cycles sesuai dengan standar ASTM D 3966-90. Siklus beban Lama Pembacaan Perpindahan (% x WL) Pembebanan Lateral (menit) 0 - - 25 10 0-5-10 50 (siklus 1) 10 0-5-10-15-20 25 10 0-5-10 0 10 0-5-10 50 10 0-5-10 75 20 0-5-10-15-20 100 (siklus 2) 20 0-5-10-15-20 50 10 0-5-10 0 10 0-5-10 50 10 0-5-10 100 10 0-5-10 125 20 0-5-10-15-20 150 (siklus 3) 20 0-5-10-15-20 75 10 0-5-10 0 10 0-5-10 50 10 0-5-10 100 10 0-5-10 150 10 0-5-10 170 20 0-5-10-15-20 180 20 0-5-10-15-20 190 20 0-5-10-15-20 200 (siklus 4) 60 0-10-20-30—40-50-60 150 10 0-5-10 100 10 0-5-10 50 10 0-5-10 0 10 0-5-10 D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 91
  • 29. Pas a l 6 Pr os e dur P embac a an Pembacaan harus dilakukan sesuai prosedur berikut: - Sebelum dan sesudah setiap penambahan beban - Sebelum dan sesudah setiap penurunan beban - Setiap 5 menit - Pada saat beban puncak (200%) pembacaan dilakukan sebagai berikut: i. Setiap 10 menit untuk 2 jam pertama ii. Setiap ½ jam kemudian hingga selama 10 jam iii.Sesudah itu dilakukan setiap 1 jam Pas a l 7 K r it eri a F ai l ure Tes dianggap telah mencapai failure apabila perpindahan maksimum lateral melebihi 12 mm pada beban maksimum sebesar dua kali beban desain. Pas a l 8 K e gag al an Pe kerj aan • Apabila terjadi kegagalan pada tiang pada saat tes dilakukan, penambahan tiang pada lokasi yang berdekatan sebagaimana ditentukan oleh Engineer harus dilakukan dan dites kembali jika dianggap penting oleh Engineer. Dalam kasus ini, kontraktor harus melakukan pemasangan tiang lagi guna memastikan keamanan struktur yang dilakukan dengan menggunakan rejected piles. Semua jenis pekerjaan ini dilakukan dengan tanggungan kontraktor. • Apabila pekerjaan tes tiang gagal untuk mencapai beban kerja (full W.L), maka 2 (dua) buah tes lebih lanjut harus dilakukan oleh Kontraktor dengan tiang yang lain pada lokasi yang sama yang dipilih oleh Engineer, dengan tanggungan Kontraktor. Pas a l 9 P embe rs i ha n Ko nt ra kt o r ha rus m e mi nda hka n dan m e ngel ua r ka n s em ua r er un tu ha n, da n s isa -s is a ba han -ba han la i nn ya ke l ua r l ok as i ke t e mpa t yan g d i tu n j uk oleh M a na ge r Kons t r uks i d en ga n t a np a t a mba ha n bia ya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 92
  • 30. 3. T E S T I ANG DI NAM I K Tes tiang dinamik harus dilakukan menggunakan sebuah Pile Driving Analyzer (PDA) serupa dengan yang dibuat oleh Pile Dynamics Incorporated baik peralatan transduser maupun rekamannya dan dengan diawasi seorang Engineer. Data yang telah dikumpulkan harus dianalisis menggunakan program komputer CAPWAP atau dengan metode yang serupa. Kontraktor harus memberikan usulan sistem pemancangan beserta kriterianya kepada seorang Engineer untuk mendapatkan persetujuan. Usulan sistem dan criteria pemancangan harus dilakukan menggunakan stress wave procedure atau metode serupa. Semua instrumentasi yang dipasang pada tiang bor untuk pengukuran tegangan dan pergerakan tiang, dan semua peralatan untuk penerimaan dan pemrosesan data harus sesuai dengan tujuan pekerjan ini. Peralatan yang dibutuhkan untuk dipasang pada tiang bor harus dipasang secara benar dan mendapat persetujuan seorang Engineer. Palu dan semua peralatan yang digunakan harus mampu memberikan gaya yang cukup untuk melaksanakan tes uji beban ini tanpa mengakibatkan kerusakan pada tiang bor. Tes beban dinamik ini harus dilakukan pada waktu yang tepat dan telah disetujui setelah instalasi tiang telah dilakukan. Waktu antara selesainya instalasi dan pemancangan atau pengujian tiang normalnya harus lebih dari 12 jam. Untuk tiang bor yang dibuat di tempat, harus dijamin bahwa tiang tidak mengalami kerusakan akibat tegangan pada saat pemancangan atau pengujian dilakukan. Integritas dan perkiraan kapasitas daya dukung tiang bor harus dievaluasi dengan prosedur yang telah dikembangkan di Case Western Reserve University, Ohio, USA. Kontraktor harus memasang dua set transduser regangan dan accelerometer di dekat ujung setiap tiang bor yang akan di uji, dan harus menyediakan sistem pengukuran dan perekaman yang diperlukan seperti tape recorder dan oscilloscope. Kontraktor harus menganalisis semua hasil pengukuran dan memberikannya pada Engineer dalam tempo 24 jam setalah pengujian selesai dilakukan, mencakup informasi seperti: a) Perkiraan kapasitas daya dukung statik b) Maksimum energi yang diberikan ke tiang bor c) Maksimum gaya yang diberikan pada kepala tiang bor d) Maksimum percepatan palu dan kecepatan kepala tiang bor e) Integritas tiang bor D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 93
  • 31. Kontraktor harus bekerjasama untuk menjamin bahwa jadual untuk pelaksanaan uji tiang bor ini dapat diikuti/dilaksanakan dengan menyediakan semua akses dan bantuan yang diperlukan sehingga memungkinkan perusahaan pelaksana pengujian melaksanakan pekerjaan ini. Untuk tiang yang telah diuji, Engineer dapat memilih hasil rekaman pengukuran lapangan yang akan dianalisis menggunakan program analisis penjalaran gelombang tegangan CAPWAP atau yang serupa. Hasil analisis harus mencakup tahanan static tiang bor baik friksi maupun ujung, perilaku beban-penurunan dan integritas tiang. Perusahaan yang melaksanakan pengujian harus memberikan sebuah laporan lengkap kepada Engineer dalam jangka waktu 10 hari setelah pengujian selesai. Laporan harus mencakup semua informasi mengenai ttiang bor dan palu, tangal pengujian, jumlah pukulan untuk analisis CAPWAP, beban uji yang dicapai, pergerakan kepala tiang bor saat beban desain ekivalen dan beban pengujian yang diberikan maksimum. Detail spesifik meliputi: a) Tanggal instalasi tiang bor b) Tanggal pengujian c) Identifikasi dan lokasi tiang bor d) Panjang tiang bor di bawah permukaan tanah e) Panjang total tiang bor, termasuk proyeksinya di atas permukaan tanah setiap saat. f) Panjang tiang bor dari posisi instrumentasi ke ujung bawah tiang g) Tipe palu, tinggi jatuh dan detail informasi relevan lainnya h) Jumlah pukulan i) Beban uji yang dicapai j) Pergerakan kepala tiang bor saat beban verifikasi desain ekuivalen k) Pergerakan kepala tiang saat beban verifikasi desain ekuivalen + 50% beban kerja l) Pergerakan kepala tiang saat beban uji maksimum m) permanent residual movement dari kepala tiang setelah setiap pukulan n) temporary compression Kontraktor harus menyediakan semua detail informasi yang ada mengenai kondisi tanah, dimensi tiang, dan metode konstruksi kepada perusahaan spesialis yang melakukan pengujian ini berkaiatan dengan interpretasi dari pengujian yang dilakukan. XIII.PEKERJAAN RAILING (1) Pekerjaan Railing Tangga 1. Lingkup Pekerjaan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 94
  • 32. a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Meliputi pekerjaan railing dilakukan untuk seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan Bahan a. Tangga - Terbuat dari bahan Stainless Steel (SS) H 950 mm & (SS) H 840 mm dengan tebal 1.2 mm ex Hessel atau produk setara & Finishing dipoles, dan disetujui oleh Direksi Pengawas. - Bentuk/ ukuran sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. Stenless Steel harus mempunyai kekuatan tarik minimum 41 kgf/mm2 (402 N/mm2) dan batas ulur minimum 24 kgf/mm2 (235 N/mm2). b. Tebal Tiang plat besi 12 mm finish duco dan disetujui oleh Direksi Pengawas. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Seluruh pekerjaan dibengkel harus merupakan pekerjaan yang berkualitas tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian rupa sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat dilapangan. b. Pemeriksaan pekerjaan dibengkel dapat dilakukan bila dikehendaki sewaktu-waktu oleh Direksi Pengawas dan tidak ada pekerjaan yang dikirim ke lapangan sebelum diperiksa dan disetujui Direksi Pengawas. c. Setiap pekerjaan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan ditolak dan Kontraktor harus mengganti segera tanpa tambahan biaya. d. Sebelum pekerjaan di bengkel dimulai Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua komponen, panjang serta ukuran las, D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 95
  • 33. jumlah, ukuran serta peralatan lain yang diperlukan/ digunakan dalam pekerjaan ini. e. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap semua ukuran yang tercantum pada gambar. f. Pekerjaan pengelasan harus dibawah pengawasan personel yang memiliki persiapan teknis pekerjaan tersebut. g. Untuk bagian konstruksi baja harus dilakukan dengan las listrik serta pengelasannya sudah melalui test & harus memiliki ijasah yang menetapkan kualifikasi, jenis pengelasan yang diperkenankan padanya h. Bagian konstruksi yang setara akan dilas harus dibersihkan dari bekas cat, karat, lemak dan kotoran. i. Pengelasan konstruksi, baik secara keseluruhan maupun merupakan pengelasan-pengelasan bagian-bagiannya hanya boleh dilakukan setelah diperiksa bahwa hubungan-hubungan yang akan di las sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk konstruksi itu. j. Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus menjamin situasi yang paling aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan. k. Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan,baikbekas lapisan pertama, maupun bidang-bidang benda kerja dibersihkan dari kerak (slak) dan kotoran lainnya. l. Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka lapisan yang terdahulu harus dibersihkan dari kerak (slak) dan percikan-percikan logam sebelum memulai dengan lapisan las yang baru. Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang sama sekali. XIV.PEKERJAAN INSTALASI PLUMBING Pasal 1 PENJELASAN & SPESIFIKASI UMUM (1) Pekerjaan instalasi plumbing ini harus dilaksanakan oleh Instalatur Pipa yang telah mempunyai surat pengakuan (P.A.S) golongan III dari PAM setempat dan SIBP klas A dari Pemerintah Daerah. (2) Pada dasarnya untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi plumbing ini, disamping Rencana Kerja dan syarat-syarat ini, berlaku : D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 96
  • 34. - A.V. 1941 - Peraturan/ persyaratan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja Pemerintah Daerah setempat. - Ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja Pemerintah Daerah setempat. - Ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik dimana mesin, peralatan dan material tersebut dibuat. - Peraturan/ persyaratan lainnya yang berlaku sah di Indonesia. (3) Semua gambar-gambar kerja atau shop drawing yang dibuat oleh Kontraktor/ Instalatur Plumbing maka sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan Pengawas/ Contrustion Management. (4) Setelah pekerjaan selesai, Kontraktor/ Instalastur diharuskan menyerahkan gambar instalasi yang telah direvisi dan disahkan oleh PAM setempat, dalam rangkap 5 (lima) dilampiri surat tanda keur dari PAM yang menyatakan bahwa pemasangan instalasi telah memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan. (5) Dalam perhitungan biaya penawaran, harus sudah termasuk : - Biaya perizinan dan pengetesan untuk bahan-bahan dan peralatan- peralatan yang dipasang. - Biaya keur dan biaya tanggungan instalasi. - Semua biaya yang diakibatkannya dan biaya resiko pecah/rusaknya sanitary fixtures. - Biaya penyimpanan/gudang untuk sanitary fixtures. - Biaya penyambungan PAM. (6) Semua instalasi, peralatan-peralatan dan mesin-mesin yang telah terpasang, sebelum diserahkan harus ditest mengenai kemampuan bekerjanya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan. Pasal 2 RUANG LINGKUP PEKERJAAN (1) Pekerjaan Air Bersih - pengadaan dan pemasangan secara sempurna unit-unit peralatan utama yang diperlukan dalam sistem penyediaan air bersih berupa pompa-pompa, panel pompa beserta perlengkapan. - Pengadaan dan pemasangan sistem pemipaan beserta perlengkapan yang meliputi pemipaan reservoir, pemipaan pada instalasi pompa dan pemipaan distribusi pada setiap titik pengeluaran. - Pemasangan pipa distribusi kesetiap peralatan sanitary seperti halnya closed, wastafel, urinal dan lain-lain. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 97
  • 35. (2) Pekerjaan Air Kotor - Pengadaan dan pemasangan beserta perlengkapan yang diperlukan dalam sistem pembuangan air kotor. - Pemasangan pemipaan pada peralatan sanitary seperti halnya closed, wastafel, urinal, floor drain dan lain-lain. (3) Pekerjaan Fire Fighting - Pengadaan dan pemasangan secara sempurna unit peralatan utama yang diperlukan dalam sistem fire fighting berupa satu set pompa fire hydrant, dan panel-panel control pompa beserta perlengkapan, panel control, smoke detector serta head detector dan perlengkapannya. - Pengadaan dan pemasangan sistem pemipaan beserta perlengkapan meliputi pemipaan reservoir, pemipaan pada instalasi pompa dan pemipaan distribusi pada setiap titik pengeluaran. - Pengadaan dan pemasangan unit-unit perlengkapan sistem pemadaman kebakaran berupa fire hydrant pillar, fire hydrant box, siamese connection, peralatan valve-valve kontrol, panel system,sprinkler, smoke detector dan head detector. - Mengadakan testing dan commissioning semua sistem pekerjaan yang terpasang Pasal 3 PENJELASAN PERSYARATAN TEKNIS UMUM (1) Waktu Pelaksanaan Lamanya waktu pelaksanaan pengadaan, pemasangan dan pemeliharaan disesuaikan dengan tahap-tahap pembangunan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. (2) Material - Semua material/ bahan yang digunakan/ dipasang harus dari jenis material berkualitas terbaik, dalam keadaan baru (tidak dalam keadaan rusak atau afkir), sesuai dengan mutu dan standard yang berlaku (SII) atau standard International seperti B.S., J.I.S., A.S.T.M., DIN atau yang setaraf. Instalatur dalam hal ini Kontraktor bertanggung jawab penuh atas mutu dan kwalitas material yang akan dipakai, setelah mendapat persetujuan Pemilik Proyek dan Konsultan Perencana. - Kontraktor harus menjamin seluruh unit peralatan yang didatangkan adalah baru bebas dari defective material, improver material dan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 98
  • 36. menjamin terhadap kualitas atau mutu barang sesuai dengan tujuan spesifikasi. - Setiap material atau peralatan yang tidak memenuhi spesifikasi harus diganti dengan yang sesuai dalam jangka waktu tidak lebih dari 1 (satu) minggu setelah ditandatangani berita acara penerimaan barang. - Seluruh biaya yang timbul akibat penggantian material/ peralatan menjadi tanggung jawab Kontraktor. - Sebelum dilakukan pemasangan-pemasangan, instalasi dipasang/ digunakan untuk diminta persetujuannya kepada Pemilik Proyek dan Konsultan Perencana. (3) Gambar-gambar dan Spesifikasi Gambar-gambar dan spesifikasi perencanaan-perencanaan ini merupakan suatu kesatuan dan tidak dipisah-pisahkan. Apabila ada sesuatu bagian pekerjaan atau peralatan yang diperlukan agar instalasi ini dapat bekerja dengan baik, dan hanya dinyatakan dalam salah satu gambar perencanaan atau spesifikasi perencanaan saja. Kontraktor harus tetap melaksanakannya tanpa ada biaya tambahan. (4) Gambar-gambar Perencanaan Di dalam gambar-gambar perencanaan ini tidak dimaksudkan menunjukkan semua pipa-pipa, fitting-fitting, katup-katup dan fixture secara terperinci. Semua bagian-bagian tersebut di atas walaupun tidak digambarkan atau disebutkan secara spesifik harus disesuaikan dan dipasang oleh Kontraktor, apabila diperlukan, agar instalasi ini lengkap dan dapat bekerja dengan baik sesuai dengan pelaksanaan yang wajar. (5) Gambar-gambar Kerja Gambar-gambar kerja untuk seluruh pekerjaan harus selalu berada di site/ lapangan. Termasuk perubahan-perubahan atau usulan-usulan dan lain sebagainya. Selama pelaksanaan instalasi ini berjalan, Kontraktor harus memberikan tanda-tanda dengan pensil/ tinta merah pada set gambar atas segala perubahannya, penghapusan atau penambahan pada instalasi tersebut. (6) Gambar Pelaksanaan Kontraktor harus membuat gambar instalasi secara mendetail (Shop Drawing) untuk disetujui oleh Direksi, juga harus menyerahkan Gambar Pelaksanaan (As Built Drawing) yang meliputi denah, instalasi yang terpasang, detail pemasangan, detail peralatan dari seluruh instalasi di atas/ digambar dikertas kalkir. Pelaksanaan pemasangan harus memenuhi syarat-syarat yang umum berlaku dan mengikuti Pedoman Plumbing Indonesia tahun 1979. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 99
  • 37. (7) Contoh-contoh Barang Pemborong wajib mengirimkan contoh-contoh bahan yang akan digunakan dalam pelaksanaan, kepada Direksi Lapangan atau brosur-brosur dari alat- alat tersebut dan menunggu persetujuan dari Direksi Lapangan sebelum alat- alat tersebut dipasang. Bila bahan-bahan tersebut diragukan kualitasnya akan dikirimkan ke kantor penyelidikan bahan-bahan atas biaya Pemborong/ Kontraktor. Bila ternyata terdapat bahan-bahan yang telah dinyatakan tidak baik/ tidak bisa dipakai oleh Direksi Lapangan, maka Pemborong harus mengangkut bahan-bahan tersebut ke luar lapangan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari, harus sudah tidak ada di lapangan (site). (8) Tenaga Pelaksanaan Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik oleh orang/ tenaga-tenaga ahli dalam bidangnya (Skilled Labour), agar dapat memberikan hasil kerja yang terbaik dan rapi. Untuk pelaksanaan, khusus Pemborong harus memberikan surat pernyataan yang membuktikan bahwa tukang-tukangnya yang melaksanakan pekerjaan tersebut memang mempunyai pengalaman dan kecakapan. Kontraktor wajib mempunyai PAS INSTALATUR yang dikeluarkan oleh PDAM setempat sesuai dengan Domisili dengan Pemborong/ Kontraktor tersebut. (9) Pengamanan Kontraktor bertanggung jawab atas pencegahan bahan/ peralatan-peralatan untuk instalasi ini dari pencurian atau kerusakan. Bahan-bahan/ peralatan-peralatan yang hilang atau rusak harus diganti oleh Kontraktor tersebut tanpa tambahan biaya. (10) Koordinasi Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, Pemborong diwajibkan mengadakan koordinasi dengan Pemborong lain yang mengerjakan pekerjaan Struktur, Elektrikal, Interior dan sebagainya, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan dalam pemasangan dapat diperkecil/ dihilangkan. Pasal 4 PENGECATAN DAN LABEL (1) semua pipa-pipa yang tidak tertanam didalam tembok/ tanah harus diberi tanda-tanda dengan mengecat pipa-pipa tersebut dengan warna 2 (dua) lapis bahan anti karat dan tanda arah aliran warna akan ditentukan kemudian (kecuali pipa PVC). D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 100
  • 38. (2) Semua pipa-pipa yang akan ditanam didalam tanah harus dilapisi berturut- turut lapisan aspal, lapisan goni dan lapisan aspal/ plinkote minyak. (3) Pipa-pipa air yang tidak tertanam didalam bagian bangunan harus dicat dengan lapisan cat dasar yang tahan karat dan kemudian difinish dengan cat finish. (4) Sebelum dilakukan pengecatan/ pelapisan dengan bahan anti karat, semua bagian pipa harus dibersihkan dari kotoran, lemak dan karat dengan menggunakan alat yang sesuai dengan untuk itu. Pasal 5 PEMASANGAN INSTALASI PIPA AIR BERSIH (1) Pemasangan instalasi air bersih harus dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan lokasi yang telah ditentukan didalam gambar kerja. Pipa yang digunakan untuk keperluan ini adalah pipa GIP.medium class A. Fittings dari Class 10 K dengan tiap-tiap sambungan menggunakan sambungan ulir dan fitting tape atau sambungan flange serta welding untuk hidrant dan sprinkler. Merk pipa: Bakrie, PPI atau setaraf. Merk Fittings : TG, HE atau setaraf. (2) Pada setiap penyambungan pipa-pipa ke fixtures ataupun equipments valve harus digunakan union fitting, kecuali apabila fictures atau equipment yang bersangkutan telah dilengkapi oleh alat-alat penyambung tersebut. (3) Pada setiap pipa penyatu yang disambungkan pada tiap-tiap fixtures atau equipment harus dipasang valves sesuai dengan gambar. Semua valves ukuran dia. < 2,5" digunakan screwed class 10 K, dan ukuran > 2,5" digunakan flanged class 10 K. Merk : Kitazawa, Toyo atau setaraf. (4) Ketentuan penggantung Pipa, Konstruksi & Persyaratan Pemipaan. - Semua alat-alat penggantungan harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga tidak merusakkan pipa-pipa dan cukup kuat sehingga tidak menyebabkan turunnya pipa-pipa yang terpasang. - Semua pipa-pipa harus digantung pada struktur bangunan dan tidak diperkenankan meletakkan pipa-pipa tersebut pada rangka langit- langit. Konstruksi penggantung harus memungkinkan adanya expansi termis dari pipa dan mengurangi transmisi vibrasi sampai batas 1". - 1 1/4"-Mak. 7 feet. - 1,5" -Mak 9 feet. - 2"- Mak. 10 feet. - 3"- Mak. 12 feet. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 101
  • 39. - 4"- Mak. 14 feet. - 6"- Mak. 17 feet. (5) Pemasangan pipa-pipa harus dilakukan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : - Pemasangan pipa dan perlengkapannya serta peralatan lainnya harus sesuai dengan gambar rencana dan penyambungan kedap air dengan sealing tape - Pemasangan pipa-pipa harus dilaksanakan sebelum salut dinding/ plesteran dan langit-langit dilaksanakan. - Pembobokan plesteran/ salut dinding dan pembongkaran langit yang sudah terpasang harus dihindarkan. - Pemasangan sparing harus pipa-pipa yang mungkin akan menembus struktur bangunan harus dilaksanakan bersama-sama pada waktu pelaksanaan struktur yang bersangkutan. - Pemasangan pipa-pipa atau equipment harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak ada suatu sambungan yang saling bersilangan antara pipa-pipa air bersih dengan pipa-pipa pembuangan lainnya. (6) Pemotongan pipa harus dilaksanakan dengan menggunakan gergaji atau pipa cutter. Permukaan pipa bekas potongan harus diratakan sehingga mencapai ukuran penampang aslinya, selanjutnya pipa tersebut harus dibersihkan dari kotoran-kotoran bekas gergaji atau perataan. (7) Penempatan dari valves, clean out, accessories, equipment dan lain-lain peralatan harus sedemikian rupa sehingga : - Terlindung (bila perlu dengan tanda-tanda petunjuk). - Mudah dicapai. - Tidak mengganggu. (8) Perlindungan/ proteksi waktu pelaksanaan : - Semua pipa-pipa yang terbuka karena belum tersambung dengan equipment atau fixtures, harus ditutup dengan cap atau plug. - Sebelum pemasangan dan penyambungan, semua pipa-pipa valves, trape dan fitting harus diperiksa dan dibersihkan dari segala kotoran yang akan menyumbat. - Equipment dan fixtures harus dilindungi dari gangguan pekerjaan dan kerusakan-kerusakan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 102
  • 40. - Semua pekerjaan gantungan pipa-pipa diplat lantai harus seizin pengawas dan kontraktor sipil. - Pemasangan pipa datar harus benar-benar lurus dan pemasangan pipa tegak harus benar-benar vertikal. - Pipa-pipa didalam shaft pipa harus diikat denga “U” klem terhadap kanal yang ditempatkan pada jarak maksimum jauh 1,2 meter dengan konstruksi klem seperti pada gambar. - Apabila terdapat segmen pemipaan yang ternyata menghalangi jalur instalasi lain maka perbaikan-perbaikan atau pembongkaran dilaksanakan atas biaya pemborong sendiri. - Perubahan arah pipa harus dilaksanakan dengan fitting pembantu (elbow, bend), begitu pula dengan percabangan harus menggunakan TEE atau Cross tee sesuai dengan kebutuhan, membengkokkan pipa tidak diperkenankan. - Perubahan design oleh Pemborong atas permintaan Owner, shop drawing yang dibuat harus dengan persetujuan pemilik proyek. - Fitting, peralatan bantu, peralatan ukur dan lainnya yang memiliki tahanan aliran yang berlebihan tidak diperkenankan dipasang kecuali bila disyaratkan pada buku ini. - Sebelum dipasang, selama pemasangan dan sesudah dipasang pipa- pipa dan accessoriesnya, terutama bagian dalamnya harus dijaga agar tetap bersih dan harus diperiksa setiap saat terhadap kerusakan dan kotoran. - Harus disediakan automatic release valve pada tempat-tempat tertinggi untuk mengeluarkan udara secara otomatis dan pada tempat terendah harus dipasangkan katup blow off berikut pemipaannya menuju ke saluran air hujan terdekat. (9) Sambungan Pipa a. Sambungan pipa yang digunakan adalah sambungan ulir, sambungan flange dan sambungan las. b. Sambungan ulir dipergunakan untuk pipa dengan diameter kurang dari 4 inch dimana setiap jarak 2 length (standard pipe length) harus diberi sambungan flange. c. Sambungan flange dipergunakan untuk pipa dengan diameter lebih besar dari 3 inchs, persyaratan flange yang dipakai dan pelubangnya seperti yang tercantum pada pasal selanjutnya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 103
  • 41. d. Sambungan las diperlukan untuk membantu pemasangan pada tempat-tempat yang sulit dicapai sehingga segmen pipa tersebut harus dirakit terlebih dahulu sebelum dipasang pada tempatnya. Segmen pipa yang disambung dengan las harus dihubungkan dengan segmen lainnya menggunakan flange. e. Sambungan las harus dipergunakan untuk membuat “intake port” dan “outlet-port” pada pipa header. f. Pada sambungan ulir, terlebih dahulu harus dilapisi dengan “read- lead cement”, kemudian dibalut dengan menggunakan pintalan serabut kain atau pipa khusus. g. Pada sambungan flanged harus dilengkapi dengan “Ring Type Gasket” untuk lebih menjamin kekuatan sambungan tersebut. h. Sudut sambungan antara dua pipa tidak boleh lebih besar sudut maksimum yang ditentukan oleh pabrik pipa yang bersangkutan (maksimum deflection allowed). (10) Pemasangan Peralatan Ukur/ Sensor Pemasangan peralatan ukur dan peralatan sensor harus mengikuti persyaratan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat peralatan tersebut sehingga hasil pengukuran dapat dipertanggung jawabkan. (11) Fitting a. Double-nipple, socket, elbow, bend dan lainnya. Jenis : Cast-Iron Fitting Kelas : 150 psi Merk : Top Brand atau setaraf. b. Flange Jenis : Forged Steel Flange Kelas : 150 psi c. Flange bolt Jenis : Commercial Bolt Pasal 6 PERSYARATAN PERALATAN BANTU (1) Katup Penutup Jenis : Bronze valve, hand-wheel operated Stem : Non-rising (air bersih) rising stem (air cond.) rising stem (air cond) Kelas : 150 psi Standard: (B.S.), (JIS), (ANSI), (ASTM). D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 104
  • 42. (2) Katup Searah Jenis : Swing “Y” pattern bronze Arah aliran: Horizontal atau vertikal bergantung posisi pipa Kelas : 150 psi Katup searah harus type anti water hummer. (3) Katup Pengatur/ Pembalans. Jenis : Full foot ball bronze valve, lever operated. Kelas : 150 psi (4) Katup Reservoir/ Foot Valve Jenis : Ball foot ball bronze valve, lever operated. Kelas : 150 psi (5) Katup Pelepas Udara Jenis : Cast-iron valve Kelas : 150 psi (6) Strainer Jenis : “Y” pattern bronze Screen : Stainless steel Kelas : 150 psi Merk : Kitazawa, Toyo atau setaraf. (7) Flexible Connection Jenis : Spool type flexible rubber Bentuk: Spherical Kelas : 150 psi Merk : Proco, Tozen, atau setaraf. (8) Pressure gauge Jenis : Bourdon, dial-gage Fluida kerja: Air Dial size: 10 cm Range : 1 - 1 0 atm Merk : Nagano,Yamamoto atau setaraf (9) Flow Meter Jenis : Direct-reading impact-tube Range : 10 - 100 gpm Tekanan kerja: 5 atm Ketelitian: + 5% (10) Thermometer Jenis : Mercury expansion Mounting: Pipa Range : 10 - 40 centrigrade D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 105
  • 43. Kelengkapan: - Thermometer well : - Bronze glass guard (11) Kran Taman & Kran Botol Jenis : Per chroom Ukuran: 0 1/2" Merk : TOTO,KITZ, TAHO, SAN-EI atau setaraf. Khusus untuk kran taman/ Hose Bibb harus dilengkapi dengan coupling penyambungan ke slang. Pasal 7 PENGETESAN/ PENGUJIAN SISTIM PEMIPAAN AIR BERSIH Semua peralatan yang sudah terpasang harus ditest dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : a. Sistim pemipaan harus ditest dengan tekanan hydrostatis sebesar 2 x tekanan kerja atau sekurang-kurangnya 120 psi atau 6 atm absolut selama 6 (enam) jam terus menerus. b. Testing pemipaan harus dilaksanakan sebelum pipa-pipa tersalut dengan plesteran/ salut dinding dan sebelum langit-langit di daerah yang bersangkutan terpasang. c. Testing pemipaan harus dilaksanakan sebelum pipa-pipa tersalut dengan plesteran/ salut dinding dan sebelum langit-langit di daerah yang bersangkutan terpasang. d. Pengujian dinyatakan berhasil apabila selama pengujian tidak terjadi penurunan tekanan. e. Pengujian dilakukan pada pipa utama sebelum pipa tersebut ditanam dalam tanah atau didalam bagian bangunan. f. Bila terjadi penurunan tekanan selama waktu waktu pengujian, kontraktor harus mencari sebabnya dan segera memperbaiki kesalahan/ kerusakan/ ketidak sempurnaan tersebut dan pengujian harus diulang. g. Pekerjaan desinfeksi, dengan memasukkan larutan chlorine ke dalam sistim pemipaan air bersih dengan sistim injeksi dan menjalankan pompa dan setelah 16 jam harus dibilas dengan air bersih sehingga dosis chlorine yang sisa tidak lebih dari 0,2 ppm D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 106
  • 44. Pasal 8. K E T E NT UA N PE NGGA NT UNG P I P A , K ONS TR UK SI & PE R SY A R A T A N PEMIPAAN (1) Semua alat penggantungan harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga tidak merusakkan pipa-pipa, isolasi dan cukup kuat sehingga tidak menyebabkan turunnya pipa-pipa yang terpasang. (2) Semua pipa harus digantung pada struktur bangunan dan tidak diperkenankan meletakkan pipa-pipa tersebut pada rangka langit-langit. Konstruksi dan jarak penggantung sesuai dengan ketentuan pada instalasi pipa air bersih. (3) Untuk pipa-pipa horizontal dipasang miring ke atas mengikuti arah aliran, kemiringan pipa dari 1 : 200 s/d 1 : 300. (4) Pemotongan pipa, perlindungan/ proteksi pada waktu pelaksanaan sesuai dengan ketentuan pabrik dan ketentuan pada instalasi pipa air bersih. (5) Apabila terdapat segmen pemipaan yang ternyata menghalangi jalur instalasi lain maka perbaikan-perbaikan atau pembongkaran dilaksanakan atas biaya pemborong sendiri. (6) Perubahan arah pipa harus dilaksanakan dengan fitting pembantu (elbow, bend), begitu pula dengan percabangan harus menggunakan Tee atau Cross Tee sesuai dengan kebutuhan, membengkokkan pipa tidak diperkenankan. (7) Bila ada perubahan design atas permintaan owner, kontraktor harus membuat shop srawing dengan persetujuan pemilik proyek. Pasal 9 FITTING (1) Double nepple, elbow, bend, tee, reduct, socket dan lainnya, dengan jenis material yang sama. Kelas atau type dari fitting harus equivalent dengan type dari pipa tembaganya. Pasal 10 PEMASANGAN INSTALASI PIPA AIR KOTOR & AIR BEKAS (1) Lingkup Pekerjaan - Pekerjaan pemipaan/saluran air kotor dan air bersih buangan dari sanitary fixtures sampai ke tempat pengolahan air kotor/ air buangan. - Pemasangan semua sanitary fixtures dengan perlengkapannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 107
  • 45. - Pembuatan bak kontrol (inspection chamber) untuk waste dan soil. (2)Persyaratan Pemipaan Air Kotor a. Pemasangan instalasi pipa air kotor dan air bekas harus dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan lokasi yang telah ditentukan didalam gambar kerja. Pipa yang digunakan harus dari jenis poly vinyl chloride (P.V.C) klas/ kualitas terbaik (clase A.W.) tidak rapuh, merk : WAVIN atau setaraf (SII Standard), khusus pipa menyeberangi jalan atau parkir harus dilindungi pipa Galvanized Steel Pipe (GSP). Untuk vent dan semua fittingnya menggunakan pipa PVC dengan bentuk sambungan monolit (solit), sambungan dengan las tidak dibenarkan untuk dipakai. b. Fitting yang digunakan harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut - Semua perubahan ukuran pipa harus menggunakan reducing fitting. - Pembelokkan arah aliran harus menggunakan “Y” fitting kombinasi dari “Y” dan 1/8 “bend”, long sweep 1/4, 1/6, 1/8 dan 1/16. - Untuk pipa-pipa vertikal dipakai cabang “Tee” dengan short weep 1/4 bend, untuk arah aliran horisontal ke vertikal dan untuk belokan pembuangan dari closed. - Fitting yang digunakan harus sesuai dengan standard PVC connection. - Fitting, merknya harus sesuai dengan merk pipa yang dipakai. c. Penggantungan pipa-pipa harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan atau standard dari jenis pipa PVC system. Tidak dibenarkan menembak/ ramset pada plat lantai untuk keperluan penggantung pipa-pipa, kecuali dengan cara mengebor pada tempat- tempat tertentu atas petunjuk pengawas dan kontraktor sipil. d. Pemasangan pipa harus dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : - Arah aliran instalasi pipa air kotor (sewage) & air bekas ditujukan ke pipa sewage treatment melalui basin pompa sewage. - Semua pipa-pipa horizontal dengan kemiringan minimal 1,5 % (1,5 cm per meter) ke arah aliran, kecuali apabila dinyatakan lain sesuai dengan kebutuhannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 108
  • 46. - Pipa-pipa dan fitting harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kebocoran, rembesan atau retakan-retakan pada sambungannya. - Cara proteksi, pemotongan dan pembersihan disesuaikan dengan cara sebelumnya. Penyambungan pipa atau fitting harus mengikuti petunjuk dan instruksi dari pabrik produsen via yang bersangkutan. e. Trape harus dipasang dengan ketentuan sebagai berikut : - Setiap pemasangan fixtures harus dilengkapi dengan pemasangan trap pada pipa yang akan menuju fixture, kecuali apabila fixtures tersebut telah dilengkapi dengan trap tersendiri. - Trap harus dipasang ditempat yang sudah dicapai dan harus menggunakan clean out plug. f. Floor drain harus dipasangkan dengan dilengkapi trap, grate dan brass strainer yang dapat dibuka-buka untuk pembersihan. Merk : Toto atau setaraf. g. Vent harus dipasang dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : - Pipa horizontal harus dipasang miring ke arah aliran drain yang menuju pembuangan tanpa ada trap atau konstruksi yang berbentuk trap. - Pipa vertikal utama dari instalasi air kotor dan air bekas dengan ukuran yang sama, diteruskan ke atap sebagai vent yang dengan pipa-pipa vent vertikal lainnya. - Pipa vent yang berasal dari kelompok fixtures, jika dihubungkan dengan pipa vent utama harus pada ketinggian tidak kurang dari 30 cm diatas atap dan harus dilengkapi dengan flashing fittings. h.Sleeves dikerjakan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : - Untuk semua pipa-pipa yang menembus beton (sloop plat lantai, dinding atau balok) harus dibuat sleeve, sebelum beton-beton yang bersangkutan dicor. - Jika tidak memakai isolasi maka sleeve harus dipasang minimal satu ukuran lebih besar dari pada aslinya. - Sleeve yang dipakai adalah galvanized steel pipe. - Rongga antara pipa instalasi dan sleeve harus ditutup rapat dengan bahan yang elastis. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 109
  • 47. i. Perlindungan/ proteksi sesuai dengan cara sebelumnya. j. Semua pipa dan fitting yang dipakai dalam pekerjaan ini harus dari satu merk dan mengikuti standard yang sama. k. Fittings terbuat dari bahan yang sama dengan jenis bahan pipa dan merupakan cetakan pabrik. l. Semua pipa tegak harus dijangkar kuat pada tiap jarak 2,5 m maksimum. Untuk pipa mendatar harus ditumpu/ digantung kuat pada jarak maksimum 2 m. m. Semua clean out adalah yang dimaksud sampai menembus lantai (floor clean out) atau type clean out lantai. Merk : San-Ei, Toto atau setaraf. n. Untuk fitting/ belokan yang menerima beban vertikal akibat adanya pipa tegak diatas harus diberi penumpu beton/ thrust blok. o. Pipa vent tegak yang keluar dari permukaan tanah harus mempunyai ketinggian 2,5 m dan diujung pipa tersebut dipasang Tee. p. Pengujian dari seluruh sistim pemipaan air kotor/ bekas ini dilakukan setelah pemasangan selesai dan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk CM/ Perencana. q. Pemborong harus menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk keperluan pengujian tersebut dan segala biaya menjadi tanggung jawab Pemborong. r. Pemasangan/ perletakan pipa-pipa ini disesuaikan dengan gambar pelaksanaan dan dimensi dari masing-masing pipa tertera jelas dalam gambar. s. Pada jalur pemipaan setelah keluar dari bangunan harus dipasang inspection chamber dengan konstruksi sesuai dengan persyaratan/ standard. t. Pada bagian bawah dari pipa tegak ke pipa datar harus diberi penumpu/ support dan pipa datar lainnya diberi penggantung. Pasal 11 PERSYARATAN SAMBUNGAN PIPA AIR KOTOR (1) Sambungan pipa PVC harus menggunakan sambungan dengan “solvent cement”. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 110
  • 48. (2) Sambungan harus mampu menahan tekanan air kotor sebesar tinggi kolom air dari pipa terendam sampai ke titik ujung atap pipa vent stack. (3) Sambungan antara pipa dan arah yang berbeda harus menggunakan “Long Radius Elbow” dan/ atau combination WYE. (4) Fitting yang digunakan harus dari jenis “Injection moulded fitting”, fitting dari jenis welded fitting tidak diperkenankan untuk dipakai. Pasal 12 PENGUJIAN SISTEM PEMIPAAN AIR KOTOR & VENT (1) Semua lubang keluar/ pembuangan harus ditutup rapat dengan menggunakan plastik yang khusus untuk itu. (2) Seluruh sistem pemipaan diisi dengan air sampai ke lubang pipa vent yang tertinggi. (3) Bila selama 60 menit penurunan permukaan air tidak lebih dari 10 cm, pengujian dinyatakan berhasil. (4) Bila penurunan permukaan air melebihi batas yang telah ditentukan maka Kontraktor harus segera memperbaiki dan pengujian harus diulang kembali. Pasal 13 PEMASANGAN INSTALASI AIR HUJAN (1) Pemasangan dan pemipaan ini meliputi : - Pemasangan semua instalasi air hujan dari atap sampai ke bak kontrol di lantai dasar. - Pemasangan roof drain dari pipa yang bersangkutan. - Seluruh bak kontrol untuk air hujan tidak termasuk dalam skope ini (masuk pekerjaan sipil/ arsitektur). (2) Pipa yang digunakan harus PVC pipe dari clase AW dengan solvent cement. Merk : Ruchika, Wavin, Pralon atau setaraf. Roof drain ttype cast iron drain. (3) Untuk pipa-pipa horizontal, kemiringan pipa harus sesuai dengan gambar dan keadaan setempat. Pengetesan kebocoran dilakukan sesuai dengan diatas. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 111
  • 49. Pasal 14 GROUND RESERVOIR Reservoir bawah dengan kapasitas 18.2 m 3 , terbuat dari beton bertulang kedap air, dengan perlengkapan pipa pengisi lengkap dengan float kontrol, pipa vent peluap, pipa keluar dari jenis GIP, manhole, float valve dari stainless steel, tangga pengontrol, elektroda water level kontrol. Reservoir harus diuji terhadap kemungkinan kebocoran. Semua peralatan harus dapat berfungsi dengan baik. Pasal 15 PETUNJUK KERJA DAN PETUNJUK PEMELIHARAAN INSTALASI (1) Setelah selesai pemasangan seluruh instalasi dan setelah selesai pelaksanaan pengujian, Kontraktor harus menempatkan tenaga terdidik dan ahli dalam mengoperasikan serta memelihara seluruh sistim perlengkapan instalasi yang dilaksanakan. (2) Kontraktor diharuskan melatih orang-orang yang ditunjuk Pemilik Bangunan sehingga mahir dalam mengoperasikan seluruh peralatan dan sistim instalasi yang dilaksanakan, sampai orang yang ditunjuk Pemilik Bangunan tersebut benar-benar mahir dan sanggup menggantikannya. (3) Kontraktor harus bertanggung jawab penuh untuk mengoperasikan seluruh peralatan dan sistim instalasi yang dilaksanakan, sampai orang yang ditunjuk Pemilik Bangunan tersebut benar-benar mahir dan sanggup menggantikannya. (4) Kontraktor harus menyerahkan 4 (empat) set buku petunjuk kerja sistim instalasi san petunjuk pemeliharaan kepada CM. Brosur-brosur yang dikeluarkan pabrik pembuat peralatan tidak dapat dianggap sebagai petunjuk kerja dan petunjuk pemeliharaan, tetapi dapat dilampirkan hanya sebagai pelengkap. (5) Buku petunjuk sistim kerja instalasi dan petunjuk pemeliharaan harus disusun sedemikian, sehingga mudah dipelajari dan bersampul kertas tebal dengan muka depan tertulis dengan jelas jenis instalasi yang bersangkutan dan tertulis dalam Bahasa Indonesia. Buku tersebut harus memuat : - Uraian secara umum dari sistem dan peralatan instalasi Plumbing secara keseluruhan. - Sistim kerja dari setiap bagian instalasi. - Cara menjalankan/mematikan setiap peralatan serta mengatasi kerusakan-kerusakan kecil yang mungkin timbul. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 112
  • 50. - Tebal peralatan yang memuat macam dan jumlah mesin/ peralatan lokasi, pabrik asal, tipe, tahun pembuatan, nama dan alamat perusahaan yang menjadi agen di Indonesia. - Literatur dari pabrik tentang peralatan yang terpasang. Jangan memasukkan brosur, data dan literatur dari peralatan yang tidak ada sangkut pautnya dengan peralatan yang terpasang. - Petunjuk pemeliharaan dari sistim instalasi dan semua peralatan, yang memuat tugas pemeriksaan secara umum, semua pemeliharaan berkala, tabel pelunasan dan daftar suku cadang. Pasal 16 PENGUJIAN INSTALASI, RUNNING TEST DAN COMMISSIONING (1) Semua pekerjaan yang dilaksanakan harus diuji, sehingga dapat dijamin bahwa pekerjaan tersebut dapat bekerja dengan baik, untuk waktu jangka panjang. (2) Tata cara pengujian dan pelaksanaan pengujian harus dilakukan dibawah pengawasan CM. (3) Semua perlengkapan, tenaga dan biaya untuk mengadakan pengujian menjadi tanggungan Kontraktor. (4) Kontraktor harus menanggung biaya untuk pemeriksaan dan pemberian izin dari instansi yang berwenang, bila diperlukan. (5) Sebelum melakukan test, Kontraktor harus menyerahkan prosedur running test kepada Direksi/ CM berikut start up manual yang dikeluarkan dari pabrik pembuat mesin tersebut. (6) Harus dilakukan oleh tenaga ahli dari penjual mesin/peralatan tersebut yang mana telah mendapat pendidikan khusus untuk itu dari pabrik pembuat mesin tersebut. (7) Harus disaksikan oleh Pemberi Tugas, CM/ Team Pengawas dan badan lain yang berwenang. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 113
  • 51. XV.PEKERJAAN DINDING (1) Pekerjaan Dinding Batu Bata 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini sehingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan pasangan batu bata ini meliputi pekerjaan dinding bangunan dan seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Direksi Pengawas. 2. Persyaratan bahan a. Batu bata yang dipasang adalah dari mutu terbaik, produk lokal dan disetujui Direksi Pengawas. Syarat-syarat batu bata harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam NI-10. b. Batu bata yang digunakan ukuran 10 x 10 x 20 cm dengan mutu terbaik, siku dan sama ukuran, sama warna serta disetujui Direksi Pengawas. c. Semen portland yang digunakan harus dari satu merk produk, mutu I dan memenuhi syarat-syarat dalam NI-8. d. Pasir aduk harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2. e. Air untuk adukan pasangan, harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak, asam, base serta memenuhi PUBI-1982 pasal 9. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Bahan-bahan yang digunakan, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya kepada Direksi Pengawas minimal 3 (tiga) contoh dari hasil produk yang berlainan untuk mendapatkan persetujuannya. b. Seluruh dinding dari pasangan batu menggunakan adukan 1pc : 4 pasir pasang, kecuali pasangan batu bata semen raam. c. Untuk dinding semen raam/rapat air, adukan yang digunakan 1 pc : 2 pasir pasang, yakni pada dinding dari atas permukaan sloof/balok sampai 50 cm diatas permukaan lantai setempat. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 114
  • 52. (2) Pekerjaan Plesteran Dinding 1. Lingkup Pekerjaan a. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh plesteran dinding batu bata bagian dalam dan bagian luar bangunan serta seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan Bahan a. Semen portland yang digunakan harus dari satu produk, mutu I dan yang disetujui Direksi Pengawas serta memenuhi syarat- syarat yang ditentukan dalam NI-8. b. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 dan PUBI-1982. c. Air harus memenuhi NI-3 pasal 10. d. Campuran (agregate) untuk plester harus dipilih yang benar- benar bersih dan bebas dari segala macam kotoran, harus bersih dan melalui ayakan 1,6 - 2,0 mm. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Seluruh plesteran dinding batu bata dengan aduk campuran 1 Pc : 4 pasir, kecuali pada dinding batu bata semen raam/rapat air. b. Pada dinding batu bata semen raam/rapat air diplester dengan aduk campuran 1 PC : 2 pasir c. Pasir pasang yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan seperti yang disyaratkan. d. Material lain yang tidak terdapat dalam persyaratan diatas tetapi dibutuhkan untuk penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus bermutu baik dari jenisnya dan disetujui Direksi Pengawas. e. Semen Portland yang dikirim ke site harus dalam keadaan tertutup atau dalam kantong yang masih disegel dan berlabel pabriknya, bertuliskan type dan tingkatannya, dalam keadaan utuh dan tidak ada cacat. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 115
  • 53. f. Bahan harus disimpan ditempat yang kering, berventilasi baik, terlindung bersih. Tempat penyimpanan bahan harus cukup menampung kebutuhan bahan, dilindungi sesuai dengan jenisnya seperti yang disyaratkan dari pabrik. g. Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukkan kepada Direksi Pengawas untuk mendapatkan persetujuan, lengkap dengan ketentuan/persyaratan dari pabrik yang bersangkutan. Material yang tidak disetujui diganti dengan material lain yang mutunya sesuai dengan persyaratan tanpa biaya tambahan. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diharuskan memeriksa site yang telah disiapkan apakah sudah memenuhi persyaratan untuk dimulainya pekerjaan. h. Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor diharuskan memeriksa site yang telah disiapkan apakah sudah memenuhi persyaratan untuk di mulainya pekerjaan. i. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan lainnya, Kontraktor harus segera melaporkan kepada Direksi Pengawas. Kontraktor tidak diperkenankan melakukan pekerjaan ditempat tersebut sebelum kelainan/perbedaan diselesaikan. j. Tebal plesteran 1,5 cm dengan hasil ketebalan dinding finish 15 cm atau sesuai yang ditunjukkan dalam detail gambar. Ketebalan plesteran yang melebihi 2 cm harus diberi kawat ayam untuk membantu dan memperkuat daya lekat plesteran, pada bagian pekerjaan yang diijinkan Direksi Pengawas. k. Pertemuan plesteran dengan jenis pekerjaan lain (kosen dan lain sebagainya), dibuat naat (tali air) lebar minimal 7 mm dalam 5 mm, kecuali bila ditentukan lain. l. Plesteran halus (acian) digunakan campuran PC dan air sampai mendapatkan campuran yang homogen, acian dikerjakan sesudah plesteran berumur 8 hari (kering betul). m. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar tidak terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan bahan penutup yang bisa mencegah penyerapan air secara cepat. n. Kontraktor wajib memperbaiki/mengulang/mengganti bila ada kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan (dan masa garansi), atas biaya Kontraktor selama kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemilik/Pemakai. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 116
  • 54. XVI.PEKERJAAN LANTAI A.Pekerjaan Pasangan Keramik Lantai Bangunan 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini hingga tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan lantai keramik ini dilakukan pada finishing lantai bangunan yang disebutkan/ditunjukkan dalam detail gambar. 2. Persyaratan bahan a. Bahan yang digunakan adalah jenis keramik KIA atau merek setara lainnya. b. Warna akan ditentukan kemudian, untuk masing-masing warna harus seragam, warna yang tidak seragam akan ditolak. c. Tebal bahan minimal 7 mm, finishing berglazuur, kekuatan lentur 250 kg/cm2 dan tingkat I (satu). d. Bahanpengisi siar dari grout semen berwarna/ibagrout/Titlegrout. e. Bahan perekat dari adukan spesi 1 PC : 2 pasir ditambah bahan perekat/ Ibafix. f. Ukuran dan lokasi pemasangan finishing lantai. - Ukuran 30 x 30 cm digunakan sebagai finishing keseluruhan lantai sesuai yang disebutkan/ditunjukkan dalam detail gambar. - Ukuran 20 x 20 cm digunakan sebagai finishing keseluruhan keramik lantai WC dan Ukuran 20 x 30 cm digunakan sebagai dinding keramik WC sesuai yang disebutkan/ditujukkan dalam detail . g. Pengendalian pekerjaan keramik ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan ASTM, NI-19, PUBI 1982 pasal 31 dan SII 0023-81. h. Semen Portland harus memenuhi NI-8, pasir harus memenuhi PUBI 1982 pasal 11 dan air harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PUBI 1982 pasal 9. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 117
  • 55. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Bahan-bahan yang dipergunakan sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya (minimum 3 contoh bahan dari 3 jenis produk yang berlainan) kepada Direksi Pengawas. b. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor diwajibkan membuat shop drawing dari pola keramik yang disetujui Direksi Pengawas. c. Keramik yang terpasang harus dalam keadaan baik, tidak retak, tidak cacat dan tidak bernoda. d. Adukan pengikat dengan campuran 1 PC : 4 pasir dan ditambah bahan perekat seperti yang disyaratkan. e. Bidang pemasangan harus merupakan bidang yang benar-benar rata. f. Jarak antara unit-unit pemasangan keramik yang terpasang (lebar siar-siar), harus sama lebar maksimum 3 mm dan kedalaman maksimum 2 mm, atau sesuai detail gambar serta petunjuk Direksi Pengawas, yang membentuk garis-garis sejajar dan lurus yang sama lebar dan sama dalamnya, untuk siar-siar yang berpotongan tegak lurus sesamanya. g. Siar-siar diisi dengan bahan pengisi sesuai ketentuan persyaratan warna bahan pengisi sesuai dengan warna keramik yang dipasangnya. h. Pemotongan unit-unit keramik harus menggunakan alat pemotong keramik khusus sesuai persyaratan dari pabrik yang bersangkutan. i. Keramik yang sudah terpasang harus dibersihkan dari segala macam noda pada permukaan keramik, hingga betul-betul bersih. j. Diperhatikan adanya pola tali air yang dijumpai pada permukaan pasangan dinding atau hal-hal lain seperti yang ditunjukkan dalam gambar. k. Sebelum keramik dipasang, terlebih dahulu unit-unit keramik direndam dalam air sampai jenuh. l. Pinggulan pasangan keramik harus dilakukan dengan alat gurinda, sehingga diperoleh hasil pengerjaan yang teratur, siku dan memperoleh bentuk tepian yang sempurna. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 118
  • 56. m. Keramik yang terpasang harus dihindarkan dari pengaruh pekerjaan lain selama 3 x 24 jam dan dilindungi dari kemungkinan cacat pada permukaan lantai. B.Pekerjaan Lapisan Paving Block Area Parkir 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan lapisan paving block ini dipasang sebagai lapisan finishing pada seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan Bahan a. Bahan paving block dari produk yang bermutu baik dan disetujui Direksi Pengawas. b. Bahan harus memenuhi ketentuan dari Asutralian Standard For Metric Concrete Building Block, As 1500-1974, dengan berat jenis 2200 kg/m3. c. Type dan lokasi pemasangan : - Type interblock 16,8 warna, dengan subbase dari bahan lapisan sirtu padat tebal 35 cm dan lapisan pasir urug atas lapisan sirtu tebal 5 cm, dipasang sebagai lapisan finishing untuk tempat parkir dan jalan serta seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar. - Type Interblock 16,6 warna, dengan subbase dari bahan lapisan pasir urug padat tebal 5 cm, dipasang sebagai lapisan finishing untuk Trotoir serta seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar. d. Sirtu yang digunakan dari dalam sungai dengan ukuran gradasi klas B (100% lolos ayakan 1,5 inchi), bahan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PUBI 1982 pasal 13, ASTM No. 13/D3/C235 dan peraturan Bina Marga No. 01/ST/BM/1972. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 119
  • 57. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Seluruh permukaan tanah dasar (sub grade) dan lapisan subbase dari hamparan sirtu, harus dipadatkan dengan Smooth Wheel Rollers kapasitas 8 ton, hingga tercapai hasil struktur lapisan homogen dan kepadatan yang maksimal. Penggilasan dilakukan dari bagian tepi yang maksimal. Penggilasan dilakukan dari bagian tepi kerah tengah dengan pengulangan minimal 6 kali. b. Lapisan paving block dipasang diatas lapisan pasir urug yang telah dipadatkan serta telah disiram dengan air yang bersih. c. Jarak pemasangan block yang satu terhadap yang lain dibuat maksimum 8 mm, selanjutnya nat atau se-sela tersebut diisi dengan pasir beton yang diayak dengan mata ayakan maksimum 2 mm. d. Setelah paving block terpasang dengan teratur, seluruh permukaannya diratakan dengan menggunakan mesin penggilas kapasitas 1 ton atau sesuai yang disyaratkan dalam pekerjaan ini. e. Tidak diperkenankan memasang bahan paving block yang patah, retak atau yang ada cacat-cacat lain. f. Hails pemasangan harus cermat, teratur, tidak bergelombang pada permukaan lapisan paving block serta tidak terjadi genangan air. g. Pasangan lapisan paving block menurut jenisnya, disesuaikan dengan detail-detail gambar untuk itu, dalam arti jenis ukuran dan jenis warnanya. h. Bahan dari mutu terbaik, tanpa cacat/ retak/ rengat pada permukaannya. Hasil pemasangan harus rata dengan kelandaian/ kemiringan sesuai yang disyaratkan/ ditentukan dalam detail gambar. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 120
  • 58. XVII.PEKERJAAN KAYU KOSEN, PINTU & JENDELA (1) Pekerjaan Kosen Kayu 1. Lingkup Pekerjaan a. Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya untuk pelaksanaan pekerjaan, sehingga dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Persyaratan Bahan - Bahan kosen dari kayu Bangkirai yang telah dikeringkan, mutu kelas A, kelas kuat I-II dan kelas awet III dan kayu Ulin untuk kosen KM/WC - Ukuran finish kosen sesuai detail gambar. - Mutu dan kualitas kayu yang dipakai sesuai persyaratan dalam NI-5 (PKKI tahun 1961), PUBI 82 pasal 37 dan memenuhi persyaratan SII 0458-81. - Kayu yang dipakai harus cukup tua, lurus, kering dengan permukaan rata, bebas dari cacat seperti retak- retak, mata kayu fan cacat lainnya. - Kelembaban yang disyaratkan maksimum 17%, untuk seluruh bahan kayu kosen yang digunakan. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk mempelajari bentuk, pola, layout/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai gambar. b. Sebelum pemasangan, penimbunan kayu ditempat pekerjaan harus ditempatkan pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban. c. Harus diperhatikan semua sambungan dalam pemasangan klos- klos, baut, angkur-angkur dan penguat lain yang diperlukan D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 121
  • 59. hingga terjamin kekuatannya untuk bidang-bidang tampak tidak boleh ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan. d. Semua kayu tampak harus diserut halus, rata, lurus dan siku- siku satu sama lain sisi-sisinya dan dilapangan sudah dalam keadaan siap untuk penyetelan/pemasangan, kecuali bila ditentukan lain. e. Semua ukuran harus sesuai gambar dan merupakan ukuran jadi. Pemotongan dan pembuatan profil kayu dilakukan dengan mesin diluar tempat pekerjaan/pemasangan. f. Kosen yang terpasang harus sesuai petunjuk gambar dan diperhatikan ukuran, bentuk profil, type kosen dan arah pembukaan pintu/jendela. g. Pembuatan dan penyetelan/pemasangan kosen-kosen harus lurus dan siku, sehingga mekanisme pembukaan pintu/jendela bekerja dengan sempurna. h. Kosen tidak diperkenankan dipoles dengan cat, vernis, meni atau finishing lainnya sebelum diperiksa dan diteliti oleh Direksi Pengawas. i. Semua kosen yang melekat pada dinding beton/bata diberi penguat angkur diameter 10 mm. Pada setiap sisi kosen pintu yang tegak dipasang 3 angkur dan untuk sisi kosen jendela 2 angkur. j. Setelah terpasang perlu diberi pelindung terhadap benturan dan pengotoran dari akibat pelaksanaan pekerjaan lain. k. Pemasangan tiang kosen yang langsung diatas lantai (kosen pintu) dibuat neud tinggi 10 cm. Bahan dari beton adukan 1 PC : 2 pasir beton : 3 koral. (3) Pekerjaan Daun Jendela Kaca 1. Lingkup Pekerjaan a. Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pelaksanaan, hingga dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan daun pintu kaca meliputi pembuatan daun jendela kaca/frame dari kayu bangkiray untuk seluruh detail yang dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 122
  • 60. 2. Persyaratan Bahan Bahan Panel Untuk panel digunakan bahan kaca yang memenuhi persyaratan dalam PUBI 82 pasal 63 dan SII 0819-78. Digunakan kaca rayband tebal 5 mm. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi dilapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk mempelajari bentuk, pola, layout/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai gambar. b. Sebelum pelaksanaan dimulai, penimbunan bahan-bahan jendela ditempat pekerjaan harus ditempatkan pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkenan cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban. c. Harus diperhatikan semua sambungan siku untuk rangka jendela dan penguat lain agar tetap terjamin kekuatannya dengan memperhatikan/ menjaga kerapihan, tidak boleh ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan. d. Jika diperlukan, harus menggunakan sekrup galvanized atas persetujuan Direksi Pengawas, tanpa meninggalkan bekas/cacat pada permukaan rangka yang tampak. e. Untuk daun jendela kaca setelah dipasang harus rata, tidak bergelombang, tidak melintir dan semua peralatan dapat berfungsi dengan baik. (4) Pekerjaan Daun Pintu Double Teakwood Bagian Dalam Lapis aluminium Seng 1. Lingkup Pekerjaan a. Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pelaksanaan, hingga dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan pembuatan daun pintu double teakwood bagian dalam lapis aluminium seng dipasangkan pada pintu-pintu dan seluruh detail seperti yang dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 123
  • 61. 2. Persyaratan Bahan a. Bahan rangka dari kayu Bengkirai yang telah dikeringkan, mutu I, kelas kuat II dan kelas awet I-II, ukuran sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. b. Pengisi pintu dari bahan block board tebal 18 mm lapis double Teakwood 4 mm. Pelapisan dilakukan pada kedua belah sisi/muka block board. c. Pada bagian-bagian daun pintu seperti yang telah ditentukan dalam detail gambar, dipasang list dari kayu Ramin yang telah dikeringkan, lebar 5 cm, pemasangan sesuai detail gambar. d. Kayu yang dipakai harus cukup tua, lurus kering dengan permukaan rata, bebas dari cacat seperti retak-retak, mata kayu dan cacat lainnya. Kelembaban bahan kayu yang digunakan, disyaratkan maksimum 12%. Mutu dan kualitas kayu yang dipakai sesuai persyaratan dalam NI-5 (PKKI tahun 1961),PUBI 82 pasal37 dan memenuhi persyaratan dlm SII 0458-81. e. Bahan block board dari jenis yang bermutu baik, buatan dalam negeri merk Asahi, teak Teakwood dari merk Asahi atau yang setara dan Teakwood merk Singa Laut, bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi persyaratan dalam PUBI tahun 1982 pasal 38 dan memenuhi SII 0404-81. f. Setiap sambungan rangka daun pintu dan setiap penempelan permukaan bahan pelapis untuk panel daun pintu, digunakan lem kayu yang bermutu baik, merk Aica Aibon atau merk lain yang setara. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk mempelajari bentuk, pola, layout/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai gambar. b. Sebelum pelaksanaan dimulai, penimbunan bahan-bahan pintu ditempat pekerjaan harus ditempatkan pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 124
  • 62. c. Harus diperhatikan semua sambungan siku untuk rangka kayu agar tetap terjamin kekuatannya dengan memperhatikan kerapihan, tidak boleh ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan. d. Semua permukaan rangka kayu harus diserut halus, rata, lurus dan siku-siku satu sama lain sisi-sisinya ukuran rangka kayu merupakan ukuran jadi. e. Penyambungan rangka daun pintu dibuat sistim lubang dan pen dengan paku/pasak kayu atau bambu serta digunakan lem kayu yang bermutu baik produk dalam negeri dari merk seperti yang telah disyaratkan dan disetujui Direksi Pengawas. Pekerjaan daun pintu dilakukan dibengkel penyambungan rangka dan penempelan dari seluruh bahan panel, dilakukan dengan sistim pres di pabrik). f. Tebal lapisan aluminium seng daun pintu, bentuk dan susunan pelapisannya, sesuai yang ditunjukkan dalam detail gambar. g. Jika diperlukan, harus menggunakan sekrup galvanized atas persetujuan Direksi Pengawas, tanpa meninggalkan bekas/cacat pada permukaan kayu yang tampak. h. Daun pintu setelah dipasang harus rata, tidak bergelombang, tidak melintir dan semua peralatan dapat berfungsi dengan baik dan sempurna. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 125
  • 63. XVIII.PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI (1) Lingkup Pekerjaan 1. Yang termasuk pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan- bahan, perlengkapan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan hingga dapat tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. 2. Meliputi pengadaan, pemasangan, pengawasan dan perawatan dari seluruh alat-alat yang dipasang pada daun pintu dan pada daun jendela serta seluruh detail yang disebutkan/ditentukan dalam gambar. (2) Persyaratan Bahan 1. Semua hardware dalam pekerjaan ini, dari produk yang bermutu baik, seragam dalam pemilihan warnanya serta dari bahan-bahan yang telah disetujui Direksi Pengawas. 2. Mekanisme kerja dari semua peralatan harus sesuai dengan ketentuan gambar. 3. Perlengkapan Daun Pintu a. Engsel (butt ghinges) dengan pemasangan 3 buah untuk pintu enkel dan 2 x 3 buah untuk pintu double, pada daun jendela minimum dipasang 2 buah setiap daunnya, menggunakan engsel merk Schlage, Falcon atau Curbin type/serie 414, atau merk lain yang setara dan yang disetujui Direksi Pengawas. Material dari bahan stainless steel dengan paku sekrup kembang bahan sama dengan bahan engsel, finish satin stainless steel atau satin chromium. b. Pada daun pintu yang telah disyaratkan/ditentukan dalam gambar, dipasang Door Closer merk Schlage, Falcon, Curbin type/serie LCN 1000 (steel grey) c. Peralatan dari seluruh daun pintu yang telah disyaratkan/ditentukan dalam gambar, dipasang peralatan- peralatan dari merk Schlage, Falcon, Curbin atau merk lain, antara lain : - Flush Bolt type/serie FB 007 dari Satin Stainless Steel - Door Guard type/serie DG 005 dari Polish Chromium - Door Stop type/serie 431 dari alumunium - Door viewer type/serie DV 004 dari Brass - Rack Bolt type/serie WB 006 dari Brass D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 126
  • 64. d. Lock set, Handle dan Back Plate - Pada seluruh daun pintu panel kayu, daun pintu double teak Teakwood dan daun pintu glasal, digunakan kunci pintu merk Schlage type/serie A dan B dengan material finish satin stainless steel atau satin chromium. - Knob handle untuk kunci-kunci pintu type/serie A dan D adalah Orbit. e. Kunci tanam, harus terpasang kuat pada rangka daun pintu. f. Setelah kunci terpasang, noda-noda bekas cat atau bahan finish lainnya yang menempel pada kunci harus dibersihkan dan dihilangkan sama sekali. g. Untuk seluruh pintu yang dapat membentur dinding bila dibuka, diberi door stop dari merk dan type seperti yang telah disyaratkan, dipasang dengan baik pada lantai dengan menggunakan sekrup dan nylon plug. (3) Syarat-syarat Pelaksanaan 1. Semua peralatan yang akan digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu diserahkan contoh-contohnya kepada Direksi Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Pengajuan/penyerahan harus disertai brosur/spesifikasi dari pabrik yang bersangkutan. 2. Apabila dianggap perlu, Direksi Pengawas dapat meminta untuk mengadakan test-test laboratorium yang dilakukan terhadap contoh- contoh bahan yang diajukan sebagai dasar persetujuan. Seluruh biaya test laboratorium menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya. 3. Engsel atas dipasang tidak lebih dari 20 cm (as) dari sisi atas pintu kebawah. Engsel bawah dipasang tidak lebih dari 32 cm (as) dari permukaan lantai keatas. Engsel tengah dipasang ditengah-tengah antara kedua engsel tersebut. 4. Penarik ‘lock’ dan ‘latch’ harus diajukan oleh Kontraktor kepada Direksi Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 127
  • 65. XIX.PEKERJAAN ATAP A.PEKERJAAN RANGKA ATAP (1) Pekerjaan Rangka Atap Baja Ringan 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Meliputi pekerjaan railing dilakukan untuk seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan Bahan a. - Terbuat dari bahan baja Ringan mutu terbaik, produk dalam negeri, dan yang disetujui Direksi Pengawas. - Bentuk/ ukuran sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. Kolom Baja 200.100.5,5.8 mutu BJ 37 Kuda-kuda + jurai Baja 150.75.5.7 mutu BJ 37 Plat stefner + assesories, mutu ST 42 Gording canal kait C 125.50.20.3,2 Baja ∟ 40.40.4 dudukan gording mutu BJ 37 Trekstang besi Ø 16 + jarum keras Sograd besi Ø 12 lengkap mur-baut c. Pengelasan konstruksi harus dilakukan sesuai gambar konstruksi dan harus mengikuti prosedur/ persyaratan- persyaratan dalam AWS dan AISC Spesification. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Seluruh pekerjaan dibengkel harus merupakan pekerjaan yang berkualitas tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian rupa sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat dilapangan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 128
  • 66. b. Pemeriksaan pekerjaan dibengkel dapat dilakukan bila dikehendaki sewaktu-waktu oleh Direksi Pengawas dan tidak ada pekerjaan yang dikirim ke lapangan sebelum diperiksa dan disetujui Direksi Pengawas. c. Setiap pekerjaan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan ditolak dan Kontraktor harus mengganti segera tanpa tambahan biaya. d. Sebelum pekerjaan di bengkel dimulai Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua komponen, panjang serta ukuran las, jumlah, ukuran serta peralatan lain yang diperlukan/ digunakan dalam pekerjaan ini. e. Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap semua ukuran yang tercantum pada gambar. f. Pekerjaan pengelasan harus dibawah pengawasan personel yang memiliki persiapan teknis pekerjaan tersebut. g. Untuk bagian konstruksi baja harus dilakukan dengan las listrik serta pengelasannya sudah melalui test & harus memiliki ijasah yang menetapkan kualifikasi, jenis pengelasan yang diperkenankan padanya h. Bagian konstruksi yang setara akan dilas harus dibersihkan dari bekas cat, karat, lemak dan kotoran. i. Pengelasan konstruksi, baik secara keseluruhan maupun merupakan pengelasan-pengelasan bagian-bagiannya hanya boleh dilakukan setelah diperiksa bahwa hubungan-hubungan yang akan di las sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk konstruksi itu. j. Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus menjamin situasi yang paling aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan. k. Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan,baikbekas lapisan pertama, maupun bidang-bidang benda kerja dibersihkan dari kerak (slak) dan kotoran lainnya. l. Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka lapisan yang terdahulu harus dibersihkan dari kerak (slak) dan percikan-percikan logam sebelum memulai dengan lapisan las yang baru. Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus dibuang sama sekali. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 129
  • 67. B.PEKERJAAN PENUTUP ATAP I.PEKERJAAN ATAP DAK 1.Lingkup Pekerjaan Meliputi pengadaan dan pemasangan semua bahan penutup atap seperti yang tertera pada Bill of Quantity dan gambar rencana. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. 2.Persyaratan Bahan Semua persyaratan pelaksanaan dan mutu beton untuk atap dak sepeti tercantum balam bab pekerjaan beton. II.PEKERJAAN PENUTUP ATAP GENTENG BETON 1. Lingkup Pekerjaan a. Meliputi pengadaan dan pemasangan semua bahan penutup atap seperti yang tertera pada Bill of Quantity dan gambar rencana. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Mengadakan koordinasi dengan disiplin lain, yang berkaitan dengan pekerjaan pemasangan atap, seperti pekerjaan baja, pekerjaan kayu dan pekerjaan lainnya. 2. Persyaratan Bahan Sebelum didatangkan penutup atap di datangkan ke lokasi pekerjaan, contoh-contoh semua bahan atap, bubungan dan lain sebagainya yang akan digunakan harus diajukan terlebih dahulu untuk dimintakan persetujuan konsultan perencana dan konsultan pengawas. a. Bahan : Genteng Metal b. Bahan tidak mudah pecah,tidak mudah berlumut atau berjamur, tahan terhadap perubahan cuaca, dan dapat mereduksi udara panas dan suara hujan. c. Spesifikasi bahan : Ukuran seperti yang tertera pada Bill of Quantity dan gambar rencana, dan sesuai persetujuan konsultan pengawas. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 130
  • 68. d. Warna sesuai persetujuan perencana dan konsultan pengawas. 3. Persyaratan Pelaksanaan a. Bahan-bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi Pengawas. b. Material lain yang tidak terdapat pada daftar diatas, tetapi diperlukan untuk penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus baru, kualitas terbaik dari jenisnya dan harus disetujuan dari Direksi Pengawas. c. Semua ukuran didalam gambar adalah ukuran jadi (finish). XX.PEKERJAAN PLAFOND (1). Pekerjaan langit-langit gypsum 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan langit-langit gypsum ini dilakukan pada ruang serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjukk Direksi Pengawas. 2. Persyaratan Bahan a. Bahan : gypsum tebal 9 mm, produk bermutu baik, dan disetujui oleh Direksi Pengawas. b. Pola pemasangan :Sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar. c. Rangka plafond metal furing. Pola pemasangan rangka pembagi maksimal dibuat 60 x 60 cm serta kelos ukuran 3 x 4 cm yang dipasang pada setiap sambungan rangka pembagi. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 131
  • 69. 4. Persyaratan Pelaksanaan a. Bahan-bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi Pengawas. b. Material lain yang tidak terdapat pada daftar diatas, tetapi diperlukan untuk penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus baru, kualitas terbaik dari jenisnya dan harus disetujuan dari Direksi Pengawas. c. Semua ukuran didalam gambar adalah ukuran jadi (finish). d. Pada pekerjaan langit-langit ini perlu diperhatikan adanya pekerjaan lain yang dalam pelaksanaannya sangat erat hubungannya dengan pekerjaan langit-langit ini. Sebelum dilaksanakan pemasangan langit-langit, pekerjaan lain yang terletak diatas langit-langit harus sudah terpasang dengan sempurna. e. Harus diperhatikan terhadap disiplin lain diantaranya pekerjaan elektrikal dan perlengkapan instalasi yang diperlukan. Bila pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas tidak tercantum gambar rencana langit-langit harus diteliti terlebih dahulu pada gambar-gambar instalasi yang lain (EL, PL, AC dan lain-lain). Untuk detail pemasangan harus konsultasi dengan Direksi Pengawas. f. Pola pemasangan langit-langit gypsum tebal 9 mm untuk lantai 2 sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. g. Bidang pemasangan langit-langit tripleks harus rata/waterpas, jarak pemasangan satu sama lain (naad) dibuat 0,5 cm atau sesuai dengan detail gambar. Naad harus lurus dan sama lebar, pada pertemuan harus saling berpotongan tegak lurus satu sama lian. Hasil pemasangan harus betul-betul bersih. h. Pada bagian tepi langit-langit dipasang list bentuk profil ukuran sesuai yang ditujukkan dalam detail gambar, dari bahan kayu kamper yang difinish cat sesuai yang disyaratkan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 132
  • 70. XXI.PEKERJAAN PENGECATAN (1) Pekerjaan Pengecatan Dinding 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Meliputi pengecatan dinding/beton bagian luar dan dalam serta seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan Bahan a. Bahan cat buatan dalam negeri produk Danapaint, ICI atau merk lain yang setara dan disetujui Direksi Pengawas. b. Jenis cat finishing/akhir - Jenis Vinyl Acrylic emulsion digunakan sebagai cat finishing dinding/beton bagian dalam (interior). - Jenis Weathershield digunakan sebagai cat finishing dinding/beton bagian luar (exterior). - Pengecatan untuk dinding/beton bagian dalam/luar minimal dilakukan 2 lapis. c. Warna akan ditentukan kemudian. d. Cat dasar - Digunakan jenis alkali Pimer (untuk dinding/beton bagian dalam) - Digunakan jenis Sealer (untuk dinding/beton bagian luar) - Lapisan cat dasar dilakukan minimal 1 lapis sampai rata dan sama tebalnya. e. Kapasitas/daya sebar maksimal 12 m2/liter untuk pengecatan 1 lapis. f. Pengencer air bersih maksimum 20%. g. Pengeringan minimum setelah 2 jam lapis berikutnya dapat dilakukan. h. Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan dalam PUBI 1982 pasal 54, NI-4, BS no. 3900- 1970. AS K-41 dan sesuai ketentuan teknis dari pabrik yang bersangkutan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 133
  • 71. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Bahan-bahan yang dipergunakan sebelum digunakan terlebih dahulu harus diserahkan contohnya untuk mendapat persetujuan dari Direksi Pengawas. b. Kontraktor harus menyerahkan 2 copy ketentuan dan persyaratan teknis operatip dari pabrik dan contoh percobaan warna cat kepada Direksi Pengawas. c. Sebelum pengecatan dimulai, permukaan bidang pengecatan harus rata, kering dan bersih dari segala kotoran, minyak dan debu. d. Bidang pengecatan siap dicat setelah seluruh permukaan telah diratakan/dihaluskan dengan amplas. Plesteran harus betul- betul kering, tidak ada retak-retak dan telah disetujui Direksi Pengawas. e. Sebelum pengecatan dilakukan, Kontraktor diwajibkan membuat contoh-contoh warna, untuk disetujui Direksi Pengawas. f. Pengecatan disyaratkan dengan menggunakan roller. Untuk permukaan dimana pemakaian roller tidak memungkinkan, dipakai kuas yang baik. g. Cat dasar dilakukan setelah seluruh permukaan pengecatan memenuhi persyaratan dan telah selesainya pekerjaan- pekerjaan yang ada didalamnya. h. Setiap kali lapisan cat dilaksanakan harus dihindarkan terjadinya sentuhan benda-benda dan pengaruh pekerjaan- pekerjaan sekelilingnya selama 2 jam. (2) Pekerjaan Pengecatan Kayu 1. Lingkup Pekerjaan a. Yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Meliputi pengecatan permukaan kosen kayu, daun pintu dan daerah service serta permukaan kayu yang tampak sesuai yang ditentukan/ ditunjukkan dalam detail gambar. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 134
  • 72. 2. Persyaratan Bahan a. Digunakan bahan finishing melamine semi gloss buatan dalam negeri dari mutu terbaik produk I C I atau dari produk lain yang setara dan disetujui Direksi Pengawas. b. Seluruh permukaan sebelum dilapis cat awal dan cat akhir, harus dilicinkan dengan mesin amplas listrik sampai halus dan licin. c. Sebagai cat awal digunakan cat jenis Pinotex clear yang dilapiskan sehingga tebal dan merata pada seluruh permukaan pengecatan dengan kuas atau dengan cara lain yang disetujui Direksi Pengawas. d. Bahan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-4 serta sesuai ketentuan-ketentuan dari pabrik yang bersangkutan. e. Warna cat akhir akan ditentukan kemudian. 3. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Bahan sebelum digunakan, terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya kepada Direksi Pengawas, minimal 2 (dua) jenis hasil produk yang berlainan, untuk mendapat persetujuan Direksi Pengawas. b. Contoh-contoh yang diserahkan harus disertai brosur dari pabrik yang bersangkutan. c. Kontraktor harus membuat contoh jadi dari pekerjaan pengecatan dalam beberapa macam warna, untuk diserahkan kepada Direksi Pengawas. d. Penukaran/penggantian bahan harus dari mutu sesuai contoh yang disetujui serta harus dengan persetujuan pihak Direksi Pengawas, penukaran dan penggantian bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya tanpa adanya tambahan biaya. e. Bidang permukaan pengecatan harus diratakan/dihaluskan dengan bahan/ alat mesin amplas elektrik yang bermutu baik, sampai merupakan bidang permukaan pengecatan yang halus dan licin, segala persiapan pengecatan telah memenuhi persyaratan dengan baik dan telah disetujui Direksi Pengawas. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 135
  • 73. f. Bidang permukaan pengecatan dibersihkan dari debu, serbuk gergaji, benar-benar bebas dari minyak, dan sebagainya serta kering betul. g. Harus dihindarkan adanya celah-celah/pori-pori serat kayu pada permukaan pengecatan. h. Aduk dengan sempurna sebelum pemakaian bahan dilakukan. i. Pengecatan dilakukan minimal 2 (dua) lapis atau hingga dicapai hasil pengecatan yang tebal, rata dan sama warnanya. Lapis pengulangan dilaksanakan setelah 2 hari dari pengecatan awal. j. Pengecatan harus dilakukan sejauh mungkin dari pengaruh pekerjaan lain serta jauh dari tumbuh-tumbuhan. XXI.MEKANIKAL ELEKTRIKAL Pasal 1 INSTALASI LISTRIK 1.1. Persyaratan Umum (1) Pekerjaan instalasi listrik ini harus dilaksanakan oleh Instalatur Listrik yang telah mempunyai Surat Pengakuan (PAS) golongan C dari PLN setempat dan SIPP kelas A dari pemerintah setempat. (2) Gambar spesifikasi dan risalah aanwijzing merupakan suatu kesatuan yang saling mengikat dan melengkapi. Kontraktor harus menjalin hubungan yang baik dengan kontraktor lain dalam pekerjaan ini, sehingga secara bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan jadwal dan spesifikasi yang ditentukan. (3) Pada dasarnya untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik ini, disamping Rencana Kerja dan Syarat-Syarat ini, berlaku : - A.V. 1941 -Puil 1987 -AVE/VDE. - Peraturan/persyaratan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja Pemerintah Daerah setempat. - Ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja Pemerintah Daerah setempat. - Ketentuan yang dikeluarkan oleh pabrik dimana mesin, peralatan dan material tersebut dibuat. - Peraturan/persyaratan lainnya yang berlaku sah di Indonesia D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 136
  • 74. (4) Semua gambar-gambar kerja atau shop drawing yang dibuat oleh Kontraktor/ Instalatur listrik maka sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan Pengawas/ Direksi Lapangan. (5) Kontraktor harus membuat catatan-catatan yang cermat dari penyesuaian- penyesuaian pelaksanaan pekerjaan di lapangan, catatan-catatan tersebut harus dituangkan dalam satu set lengkap gambar (kalkir) As Built Drawing dan harus diserahkan kepada direksi segera setelah pekerjaan selesai. (6) Dalam perhitungan biaya penawaran, harus sudah termasuk : - Biaya perizinan dan pengetesan untuk bahan-bahan dan peralatan- peralatan yang dipasang. - Biaya keur dan biaya tanggungan instalsi - Biaya administrasi pengurusan penyambungan. (7) Semua instalasi peralatan dan mesin yang telah dipasang sebelum diserahkan harus dites mengenai kemampuan bekerjanya , sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan. (8) Pemborong harus menyerahkan contoh bahan-bahan yang dipasang kepada direksi. Semua biaya yang berkenaan dengan penyerahan dan pengembalian contoh-contoh ini adalah menjadi tanggungan pemborong. (9) Bahan yang digunakan adalah sesuai dengan yang dimaksud dalam spesifikasi teknis ini dan harus dalam keadaan baru. Pekerjaan harus dilakukan oleh tenaga ahli. (10) Pengawas Kontraktor wajib bertanggung jawab atas semua pekerjaannya. Kontraktor wajib menempatkan pengawas untuk mengawasi pekerjaannya sendiri. Penanggung jawab pelaksana pekerjaan harus selalu berada di tempat pekerjaan dan dapat mengambil keputusan demi kelancaran pekerjaan. (11) Commisioning & Testing a. Pemborong pekerjaan instalasi harus dilakukan testing dan pengukuran yang dianggap perlu untuk memeriksa, mengetahui apakah seluruh instalasi yang dilaksanakan dapat berfungsi dengan baik dan telah memenuhi persyaratan yang berlaku. b. Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang diperlukan dalam kegiatan testing tersebut merupakan tanggung jawab pemborong. Hal ini termasuk pula peralatan khusus yang diperlukan untuk testing. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 137
  • 75. 1.2. Persyaratan Teknik Khusus Sistem Elektrikal. 1.2.1. Umum Pekerjaan sistem elektrikal meliputi semua bahan, peralatan, tenaga kerja, pemasangan, pengujian, perbaikan selama masa pemeliharaan dan trainning bagi calon operator. a. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan sistem distribusi daya listrik - Pengadaan, pemasangan, dan penyambungan panel tegangan menengah - Pengadaan, pemasangan dan penyambungan kabel daya tegangan menengah lengkap dengan cable fitting lainnya. - Pengadaan dan pemasangan trafo distribusi - Pengadaan, pemasangan unit-unit panel tegangan rendah - Pengadaan, pemasangan dan penyambungan kabel daya tegangan rendah dengan berbagai ukuran dan type. - Pekerjaan pentanahan (earthing) dari panel, armatur lampu, kotak kontak dan pompa. b. Pekerjaan Sistem Penerangan dan Stop Kontak 1. Sistem Penerangan dan Stop Kontak - Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis armatur dan lampunya. - Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis stop kontak biasa atau khusus - Pengadaan dan pemasangan berbagai jenis saklar, switches - Pengadaan, pemasangan dan penyambungan pipa instalasi pelindung kabel serta berbagai accecoris lainnya seperti box untuk saklar, stop kontak, junction box, flexible conduit, bends/elbows, socket, dll. - Pengadaan, pemasangan dan penyambungan kabel instalasi penerangan dan stop kontak. - Pengadaan dan pemasangan pipa conduit, flexible harus dipasang untuk melindungi kabel antara kotak sambung dan armature lampu. 2. Pekerjaan Sistem Penerangan Luar (Outdoor Lighting) - Pengadaan dan pemasangan tiang lampu, armature, lampu, kabel instalasi dan pipa pelindung kabel dan accecorisnya. 3. Instalasi dan pemasangan kabel a.Umum Semua kabel yang digunakan untuk instalasi listrik harus memenuhi persyaratan PUIL/LMK. Semua kabel/kawat harus baru,jelas ditandai ukurannya, jenis kabelnya, nomor dan jenis pintalan. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 138
  • 76. Konduktor yang dipakai dari type : - Untuk instalasi penerangan adalah NYM/NYA denganconduit PVC. - Untuk kabel distribusi adalah NYY Semua kabel harus berada dalam conduit UPVC High Impact yang disesuaikan ukurannya, semua kabel pada rak kabel harus diklem. b. Splice/ Pencabangan Tidak diperkenankan adanya splice baik dalam feeder maupun cabang, kecuali pada outlet yang bisa dicapai.Sambungan kabel circuit cabang harus di buat secara mekanis dan harus teguh secara electric. Semua sambungan kabel baik dalam junction box, panel atau tempat lain harus mempergunakan connector yang terbuat dari tembaga yang diisolasi porselen, bakelite atau PVC. c.Bahan isolasi Semua bahan isolasi untuk splice, connection dan lain-lain seperti karet, PVC, asbes, gelas, tape sintetis, resin splice case, composition dan lain-lain harus dari type yang disetujui. d. Penyambungan kabel - Semua penyambungan kabel dilakukan dalam kotak-kotak penyambung yang khusus untuk itu. - Kabel-kabel disambung sesuai warna atau nama masing-masing dan dites tahanan isolasi sebelum dan sesudah penyambungan. - Penyambungan tembaga dilapisi timah putih dan kuat. - Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasi untuk pipa PVC yang khusus untuk listrik. - Bila kabel dipasang tegak lurus di permukaan yang terbuka, harus dilindungi GIP conduit. e. Saluran Penghantar dalam Bangunan - Instalasi penerangan tanpa ceiling gantung, saluran penghantar (conduit) ditanam dalam beton. - Instalasi penerangan dengan ceiling gantung, saluran penghantar (conduit) dipasang di atas cable tray dan diletakan di atas ceiling. - Instalasi saluran penghantar di luar bangunan digunakan saluran beton, kecuali untuk penerangan taman digunakan pipa galvanized. - Setiap kabel dalam bangunan digunakan pipa conduit minimum 5/8” diameternya. - Ujung pipa kabel yang masuk dalam panel dan junction box harus dilengkapi dengan socket/ lock nut. f. Pemasangan kabel dalam Tanah - Kabel tegangan rendah harus ditanam minimal sedalam 80 cm. - Kabel yang langsung ditanam dalam tanah harus dilindungi bata merah, diberi pasir , ditanam minimal 80 cm. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 139
  • 77. - Untuk yang lewat jalan raya ditanam sedalam 100 cm dan dilapisi pipa Galvanized. - Kabel yang menyebrang jalur selokan, dilindungi pipa galvanized atau pipa beton. - Galian untuk tempat kabel harus bersih dari bahan-bahan yang dapat merusak isolasi kabel, seperti batu, abu, kotoran bahan kimia, dll. - Penyambungan kabel dalam tanah tidak diperkenankan secara langsung, harus menggunakan peralatan khusus unrtuk penyambungan kabel dalam tanah. 3. Konstruksi Panel dan Instalasinya. a. Kabinet. Semua kabinet harus di buat dari plat baja dengan tebal minimum 2 mm. Setiap kabinet harus dilengkapi dengan kunci-kunci. b. Finishing Semua kabinet dicat dengan warna yang ditentukan direksi.Semua kabinet dari pintu untuk panel board listrik, di buat tahan karat atau diberi lapisan anti karat. c. Pasangan panel Pasangan panel sedemikain rupa sehingga setiap peralatan dalam panel dengan mudah dijangkau tegantung macam atau type panel. d. Panel-panel Sub Distribusi Utama Panel-panel sub distribusi harus seperti ditunjuk pada gambar, kecuali ditunjuk lain. e. Papan nama Setiap pemutus daya harus dilengkapi dengan papan nama dan dapat dilihat dengan mudah. f. Bus-bar/ Rel Bus bar minimal harus dari bahan tembaga yang lapisan luarnya dilapis dengan lapisan perak, dengan ukuran sesuai dengan kemampuan arus 150 % dari arus beban terpasang yang ukurannya disesuaiakan dengan ukuran PUIL. g. Terminal dan Mur Baut Semua terminal cabang harus diberi lapisan tembaga dan disekrup dengan menggunakan mur baut ring dari bahan tembaga atau mur baut yang divernikel dengan ring tembaga. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 140
  • 78. h. Cadangan/ Penyambungan di kemudian hari Bila dalam gambar ada cadangan, maka ruangantersebut dilengkapi dengan bus, klem-klem pemasangan, pendukung dsb, untuk peralatan yang dipasang dikemudian hari dapat berupa equipment bus bar, panel kayu, switch, circuit breaker, dll. i. Alat-alat ukur Setiap panel dilengkapi dengan alat ukur seperti pada gambar. j. Transformator Arus Traformator fully hermetic, oil immersed indoor type, victor group Dyn 5 dalam ruangan berventiasi. k. Sikring Sikring adalah dari type kapasitas interupsi tinggi. Sikring harus dipasang pada pendukung yang sama pada peralatan yang dapat dicabut. Sikring cadangan disediakan sebanyak sikring yang ada disimpan dalam almari khusus dan diberi pengenal. l. Kabel-kabel pengontrol Dipasang di pabrik/ bengkel secara lengkap dan dibundel dan dilindungi terhadap kerusakan mekanis. Ukuran minimal adalah 1,5 mm2 dari type 600 volt PVC. m. Merk Pabrik Semua peralatan pengaman harus diusahakan buatan satu pabrik. Panel adalah assembling lokal. n. Peralatan Pengaman Pemutus Daya Peralatan pengaman adalah pemutus daya dengan moulded case. o. Pilot Lamp Semua tutup muka panel harus dilengkapi dengan : 1. Pilot lampu untuk menyatakan adanya tegangan R.S.T 2. Pilot lampu untuk push button on/off, untuk menyatakan sistem telah on / off. 3. Pilot lampu untuk remote control pada panel. Penyediaan dari pilot lampu yang disebutkan di atas merupakan keharusan, biarpun pada gambar tidak tertera. Warna-warna untuk pilot lamp : 1. Untuk phase R: warna merah 2. Untuk phase S: warna kuning 3. Untuk phase T: warna biru D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 141
  • 79. 4. Untuk menyatakan sistem telah dijalankan dengan push button atau dengan saklar, ataupun dengan Time Switch menyatakan sistem on dengan warna merah. 5.Untuk menyatakan sistem telah off dengan warna hijau. XXIII.PEKERJAAN SANITAIR (1) Pekerjaan Sanitair 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. b. Pekerjaan sanitair ini dipasang pada ruang toilet/ kamar mandi/ WC serta seluruh detail sesuai yang dinyatakan/ ditunjukkan dalam gambar. 2. Persyaratan bahan a. Pemasangan Closet Closet duduk pada Toilet digunakan produk TOTO, type C 721 PV 1, atau dari merk lain yang setara dan disetujui Direksi Pengawas,warna ditentukan kemudian. b. Wastafel yang digunakan produk TOTO dan KIA type L 237V3, warna standard atau dari merk lain yang setara dan disetujui Direksi Pengawas. c. Kran dinding dari merk TOTO dan KIA type T 23 BS13V52 atau dari type lain yang disesuaikan dengan kegunaan seperti yang disyaratkan dalam gambar detail. Pemasangan kran dinding lengkap pemasangan “stop kran dan siphon” bahan dari merk yang sama. e. Urinoir digunakan merk TOTO & KIA type U-57M atau KIA, warna standard atau dapat digunakan dari merk lain yang setara dan disetujui Direksi Pengawas. f. Floor drain dari ex Japan merk San-Ei type H51 (Floor strainer) atau dapat digunakan merk lain yang setara, ukuran 4" x 2" warna verchroom lengkap pemasangan spoonnya. g. Semua material harus memenuhi ukuran, standard dan mudah didapatkan di pasaran, kecuali bila ditentukan lain. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 142
  • 80. h. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya, sesuai dengan yang telah disediakan oleh pabrik. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disyaratkan dalam uraian dan syarat-syarat dalam buku ini. 4. Syarat-syarat Pelaksanaan a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada Direksi Pengawas beserta persyaratan pabrik untuk mendapatkan persetujuan. Bahan yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya tambahan. b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran/ penggantian bahan pengganti harus disetujui Direksi Pengawas berdasarkan contoh yang diajukan Kontraktor. c. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar-gambar yang dan kondisi dilapangan, termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan, cara pemasangan dan detail-detail sesuai gambar. d. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar dengan gambar, gambar dengan spesifikasi dan sebagainya, maka Kontraktor harus segera melaporkannya kepada Direksi Pengawas. e. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan disuatu tempat bila ada kelainan/ perbedaan ditempat itu sebelum kelainan tersebut diselesaikan. f. Selama wajib memperbaiki/ mengulangi/ mengganti bila ada kerusakan yang terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas biaya Kontraktor, selama kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas. g. Pelaksanaan pemasangan harus menghasilkan pekerjaan yang sempurna, rapi dan lancar dipergunakannya. D I N A S P E K E R J A A N UM U M - - - P E M E R I N T A H K O T A 143

×