Laporan Survey Perencanaan Sistem Kependidikan Islam di MA WAHID HASYIM, Yogyakarta

1,401
-1

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,401
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
29
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan Survey Perencanaan Sistem Kependidikan Islam di MA WAHID HASYIM, Yogyakarta

  1. 1. LAPORAN HASIL SURVEY PERENCANAAN SISTEM DI MA WAHID HASYIMSLEMAN, YOGYAKARTALaporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Sistem KependidikanIslamDosen Pengampu : Drs. H. Jamroh Latief, M.SiDisusun Oleh :Ali Murfi 11470082Dewi Fatonah 11470083Nikuwati 11470072Emha Mutjtaba A 11470073Jurusan Kependidikan IslamFakultas Tarbiyah dan KeguruanUniversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Semester GenapTahun Ajaran 2012/2013
  2. 2. 1KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatdan nikmat-Nya sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya denganjudul “Ketauladanan sebagai Metode Pendidikan Islam”.Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tidak dapat terwujud tanpa bantuan berbagaipihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yangsedalam - dalamnya kepada :1) Bapak. Drs. H. Jamroh Latief, M.Si Selaku Dosen pengampu mata Perencanaan SistemKependidikan Islam, yang telah dengan sabar memberi pengarahan dalam penyusunankarya tulis ini.2) Seluruh teman – teman jurusan Kependidikan Islam kelas A, yang telah bersedia untukbekerja sama dalam penyusunan karya tulis ini.Terlepas dari segala kekurangan, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yangkonstruktif untuk perbaikan pada masa yang akan datang.Yogyakarta, 20 Mei 2013Penyusun
  3. 3. 2BAB IPENDAHULUAN1. LATAR BELAKANGPerencanaan adalah sesuatu yang penting sebelum melakukan sesuatu yang lain.Perencanaan dianggap penting karena akan menjadi penentu dan sekaligus memberiarah terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian suatu kerja akan berantakandan tidak terarah jika tidak ada perencaan yang matang, perencaan yang matang dandisusun dengan baik akan memberi pengaruh terhadap ketercapaian tujuan. Penjelasanini makin menguatkan alasan akan posisi stragetis perencanaan dalam sebuah lembagadalam perencanaan merupakan proses yang dikerjakan oleh seseorang manajer dalamusahanya untuk mengarahkan segala kegiatan untuk meraih tujuan.1Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami perencanaan menentukanberhasil tidaknya suatu program, program yang tidak melalui perencanaan yang baikcenderung gagal. Dalam arti kegiatan sekecil dan sebesar apapun jika tanpa adaperencanaan kemungkinan besar berpeluang untuk gagal.Hal tersebut juga berlaku dalam sebuah lembaga, seperti lembaga pendidikan,lebih khusus lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan yang tidak mempunyaiperencanaan yang baik akan mengalami kegagalan. Hal ini tentunya makin memperjelasposisi perencanaan dalam sebuah lembaga.Untuk memperlancar jalannya sebuah lembaga diperlukan perencanaan, denganperencanaan akan mengarahkan lembaga tersebut menuju tujuan yang tepat dan benarmenurut tujuan lembaga itu sendiri. Artinya perencanaan memberi arah bagiketercapaian tujuan sebuah system, karena pada dasarnya system akan berjalan denganbaik jika ada perencanaan yang matang. Perencanaan dianggap matang dan baik jikamemenuhi persyaratan dan unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri.1Asnawir, Manajemen Pendidikan, (Padang: IAIN IB Press, 2006), hlm 6
  4. 4. 32. RUMUSAN MASALAHBerdasarkan hal-hal yang tertulis dalam latar belakang dan berdasarkan petunjuk untukmemperoleh informasi yang termuat dalam surat pengantar, maka penulis dalam hal iniakan merumuskan permasalahan sebagai berikut.1. Apa Visi, Misi dan Tujuan MA Wahid Hasyim ?2. Apa perencanaan program untuk mencapai Visi, Misi dan Tujuan tersebut?3. Bagaimana model pengelolaan system untk meningkatkan kualitas di MA WahidHasyim ?4. Apa langkah-langkah untuk yang di lakukan MA Wahid Hasyim untukmengembangkan madrasahnya ?5. Apa kendala-kendala yang dihadapi upayanya dalam mengembangkanmadrasahnya ?3. TUJUAN SURVEYTujuan diadakannya observasi ini adalah untuk mengetahui, memahami danmengidentifikasi Visi, Misi, Tujuan, Perencanaan Program, Model Pengelolaan,Langkah-langkah Pengembangan, Hambatan-hambatan yang dihadapi serta segala halyang ada di MA Wahid Hasyim Sleman, Yogyakarta.4. MANFAAT SURVEYTerdapat beberapa manfaat dari laporan ini khusunya bagi penulis sendiri maupunpembaca, yaitu sebagai berikut :a. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengetahui, memahami danmengidentifikasi Visi, Misi, Tujuan, Perencanaan Program, Model Pengelolaan,Langkah-langkah Pengembangan, Hambatan-hambatan yang dihadapi serta segalahal yang ada di MA Wahid Hasyim Sleman, Yogyakarta.b. Memberikan kesempatan kepada penulis untu lebih mengenal calon lembagasekolah/madarah yang akan diterjuni/dikelola maupun untuk mengenal calon pesertadidik.c. Melatih kita dalam membuat suatu karya tulis agar terbisa dan lebih baik.
  5. 5. 4Tidak hanya bagi penulis, laporan ini juga bermanfaat bagi pembaca untuk :a. Lebih mendekatkan kepada pembaca khusunya para orang tua untuk mengetahui,memahami dan mengidentifikasi bagaimana kualitas lembaga sekolah/madrasah yangsesuai dengan keinginan para orang tua yang pada giliranya akan membawa pilihanyang tepat bagi anaknya dalam melanjutkan sekolah.b. Mengetahui masalah yang sudah terjadi maupun yang akan dihadpi oleh sebuahlembaga sekolah/madrasah.c. Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian yang dihadapi oleh sekolah/madrasah.5. METODE PENELITIANDalam melakukan penelitian, penulis menggunakan teknik dokumen dan wawancara.6. WAKTU DAN TEMPATPenulis melakukan beberapa kali kunjungan ke MA Wahid Hasyim di Jl. KH. WahidHasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta 55283 Telp. (0274) 4333191,yakni pada tanggal 06 Mei dan 13 Mei 2013.
  6. 6. 5BAB IIHASIL OBSERVASIA. PROFIL MADRASAH1. Nama Sekolah : MA Wahid Hasyim2. Alamat : Jl. KH. Wahid Hasyim Gaten CondongcaturDepok Sleman Yogyakarta 55283 Telp. (0274)43331913. Nama Yayasan : Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim4. Alamat : Jl. KH. Wahid Hasyim No. 3 Gaten CondongcaturDepok Sleman Yogyakarta 5528 Telp. (0274) 4842845. NSM : 3123404080226. Jenjang Akreditasi : Terakreditasi “A”7. Tahun Didirikan : 02 Februari 19688. Tahun Beroperasi : 02 Februari 19689. Status Tanah : Milik Yayasan9.1. Surat Kepemilikan Tanah : Sertifikat (Tanda Bukti Tanah Wakaf)9.2. Luas Tanah : 1194 m210. Status Bangunan : Milik Yayasan10.1. Surat Ijin Bangunan : -10.2. Luas Bangunan : 297 m2B. VISI, MISI DAN TUJUAN MADRASAHVisi : Terbentuknya madrasah Aliyah Wahid Hasyim sebagai lembagapendidikan agama Islam terunggul dan populis di wilayah DIY,populis, tingginya tingkat spiritualitas, penguasaan IPTEK, berjiwamandiri, dan berdaya saing.Misi :a. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran yang menuju padakualitas pendidikan.b. Menyelenggarakan pendidikan keagamaan baik kajian keilmuwanmaupun amaliyah keseharian.
  7. 7. 6c. Menyelenggarakan pendidikan ketrampilan sebagai bekalkemandirian siswa di masa yang akan datang.Tujuan :a. Menyiapkan siswa didik yang berkemampuan unggul dalam halbahasa dan keilmuan.b. Membekali siswa didik dengan kemampuan yang berbasiskepesantrenan.c. Menjadikan siswa didik berkepribadian unggul dan berakhlakulkarimah.d. Membekali siswa didik dalam kemampuan al-Qur’an.D. KURIKULUM MA WAHID HASYIMAdapun kurikulum yang digunakan oleh MA Wahid Hasyim yaitu:1. Kurikulum Diknas2. Kurikulum Pesantren3. Kurikulum DepagDalam implikasi kurikulum tersebut dilakukan secara fullday dari pagisampai malam mulai pukul 07.00-21.00 WIB. Adapun materi yang diberikan yaituberupa materi umum dan agama, seperti IPA, IPS, B.Inggris, Matematika dan materiumum yang lainnya. Adapun materi agama yang diberikan yaitu seperti kajian kitabkuning, ilmu nahwu, shorof dan lain-lainnya yang berhubungan dengan ilmu agama.Selain materi tersebut diberikan juga materi tambahan seperti Qira’atul Kutub dan lesbahasa baik bahasa Inggris maupun bahasa Arab.
  8. 8. 7E. MODEL PENGELOLAAN SISTEM UNTUK MENINGKATKAN KUALITASMADRASAHModel pengelolaan system dalam MA Wahid Hasyim menggunakan system terbuka,karena di dalam proses kegiatanya memperoleh masukan atau hubungan secara dinamisdengan system yang lain di luar lingkungan sistemnya.Adapun hal-hal/ kegitan-kegiatan terperincinya adalah sebagai berikut :Program yang telah direncanakan dalam proses pencapaian visi misi yang telahdijelaskan dimuka yaitu:1. Study Banding siswa ke Prambanan, Benteng, dan Jurnalistik2. Pengembangan potensi staff pengajar dan siswa3. PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru)PPDB yang telah diprogramkan oleh MA Wahid Hasyim setiap menjelang tahun ajaranbaru sangat membantu dalam pemasukan siswa siswi. Apalagi sejak terakreditasi A,siswa siswi yang menimba ilmu di MA Wahid Hasyim bertambah dan meningkat.Adapun managemen pengelolaan yang diterapkan di MA Wahid Hasyim adalah bersifatindependen. Akan tetapi walaupun independen masih tetap diawasi oleh pihak yayasan.Jika terdapat kendala-kendala, maka para staf akan berkonsultasi dengan pihak yayasanguna untuk menemukan penyelesaian dari masalah tersebut.F. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN MADRASAHLangkah strategis yang ditempuh untuk melakukan pengembangan MA WahidHasyim adalah sebagai berikut :1. Membangun Mindset Secara KolektifMindset yang perlu dibangun maksutnya adalah menanamkan keyakinan dantekad bersama kepada seluruh warga madrasah. Mereka digerakkan untukmemperjuangkan keunggulan institusi, dengan cara mengimplementasikan visi,misi, tradisi, orientasi dan mimpi-mimpinya ke depan selalu disosialisasikan olehpimpinan di semua tingkatan melalui berbagai bentuk publikasi, baik secara lisan,tulisan dan bahkan media lainnya secara terus menerus ke seluruh wargamadrasah atau sekolah.
  9. 9. 8Mindset secara kolektif tersebut menjadi modal sosial (social capital) bagipengembangan kultur akademik di madrasah ke depan. Madrasah membutuhkanlingkungan akademik yang handal dan tekad bersama. Inspirasi dan semangatinilah yang harus dibangun dan dikembangkan untuk meningkatkan mutuakademik dan institusinya.2. Menciptakan Inovasi secara Terus MenerusInovasi merupakan usaha dan kerja nyata untuk mencari dan membuat hal barudemi meraih kemajuan dan keunggulan bagi lembaga pendidikan itu sendiri.Inovasi ini didasarkan pada kebutuhan idealita dan realita agar lembaga madrasahdan sekolah Islam itu terus maju dan berkembang.Inovasi tiada henti harus terus menerus digerakkan untuk memacu kualitas dandaya saing yang tinggi. Inovasi tidak saja diperlukan untuk selalumenyempurnakan kondisi madrasah, tetapi juga penting untuk membangunkeutuhan (holistika) tujuan pendidikan madrasah. Usaha dan kerja nyata ituditempuh secara serentak, menyeluruh dan padu di antara beberapa elemen yangada di madrasah dan sekolah Islam.Bentuk inovasi itu misalnya, perbaikan atau penambahan sarana fisik, akademik,tenaga guru dan karyawan, perekrutan siswa dan seluruh aspek yang ada. Inovasilainnya misalnya menciptakan kultur madrasah berbasis bilingual, mentradisikanhafalan al-qur’an, menggerakkan pusat seni dan olah raga, dan seterusnya. Modalseperti inilah yang harus dituangkan dalam visi dan orientasi madrasah dansekolah Islam unggul itu.3. Memanfaatkan Teknologi InformasiPendidikan madrasah jangan sampai tertinggal di bidang teknologi informasinya.Dengan pemanfaat IT tersebut para siswa dapat belajar lebih intensif, disampingmelalui sistem reguler dan kurikuler. IT dimanfaatkan sebagai sumber belajaryang mudah dan berjangkauan luas, tanpa hambatan waktu dan tempat.
  10. 10. 9Adapun langkah-langkah terperincinya adalah sebagai berikut :1. AHA (Abdul Hadi Award)2. Adanya penerbitan majalah anak-anak3. Study banding ke SMA Angkasa Magelang4. Kerja sama dengan PPL Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga Yogyakartasetiap tahunnya5. Adanya Ekskul6. Mengikuti lomba-lomba Drumband, Tekwondo, Karya Tulis dan PuspornasNasional7. Profesionalisme SDM guruAHA termasuk acara perlombaan di bidang seni dan bahasa khususnya senibernafas Islamserta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang berlangsung pada 28April 2013. AHA juga termasuk salah satu program yang baru dilaksanakan tahunini yang bertujuan untuk mengembangkan madrasah. Selain itu, AHA (AbdulHadi Award) juga bertujuan untuk mengenang dan acara Haulnya KH Abdul HadiAsy-Syafi’I pengasuh sekaligus pendiri Yayasan Pondok Pesantren WahidHasyim. AHA termasuk acara perlombaan di bidang seni dan bahasa khususnyaseni bernafas Islamserta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang berlangsung pada28 April 2013.G. KENDALA-KENDALA DALAM PENGEMBANGANKendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan MA Wahid Hayim adalahsebagai berikut :1. Kurangnya pendanaan yang mendukung proses belajar mengajar2. Penunggakan pembayaran SPP siswa3. Kurangnya sarana prasarana4. Kurangnya lokasi kelas dalam proses belajar mengajar5. Kurangnya kaderisasi staf pengajar yang tetap6. Staf pengajar yang terlalu cepat keluar dari mengajar dan mencari penggantipengajar yang sulitBerkenaan dengan sarana dan prasarana, MA Wahid Hasyim sangat kekurangan lokasiproses belajar mengajar. Kemudian berbicara masalah solusi dari masalah tersebut yaitu
  11. 11. 10dengan ditambahnya gedung MA dan asrama MA Wahid Hasyim yang terletak terpisahdari MA pusat. Akan tetapi walaupun demikian, masih tetap satu yayasan.
  12. 12. 11BAB IIIPEMBAHASANA. TEORI PERENCANAAN1. Teori RadikalTeori ini menekankan pentingnya kebebasan lembaga atau organisasi lokal untukmelakukan perencanaan sndiri, dengan maksud agar dapat cepat mengubahkeadaan lembaga supaya tepat dengan kebutuhan. Pandangan para penganut teoriini adalah tidak ada lembaga pendidikan atau organisasi pendidikan lokal yangpersis sama satu dengan yang lain. Oleh sebaba itu kalau perencanaan tidakdilakukan oleh lembaga atau organisasi lokal itu sendiri, maka iamerupakanperencanaan yang naif. Hanya perencanaan yanga bersifatdesentralisasidengan partisipasi maksimum dari pemerintah pusat/ manajertertinggilah yang dapat dipandang perencanaa yang benar.Dengan partisipasi mkasimum individu-individu lembaga pendidikan/ organisasipendidikan lokal dimaksudkan untuk mempercepat perkembangan personalia agarmampu menangani lembaganya sendiri terutama dalam perencanaan. Partisipasidisini juga mengacu kepada pentingnya kerja sama antarpersonalia. Dengan katalain teori radikal menginginkan agar lembaga pendidikan dapat mandiri menenganilembaganya. Begitu pula pendidikan daerah dapat mandiri menanganipendidikannya.2. Teori AdvocacyTeori ini menekankan hal-hal yang bersifat umum ataujamak. Perbedaan-perbedaanlembaga, perbedaan-perbedaan lingkungan, dan perbedaan-perbedaan daerah tidakbegitu dihiraukan. Dasar perencaan tidak bertitik tolk dari pengamatan secaraempiris, tetapi atas dasar argumentasi yang rasional, logis, dan bernilai (advocacy=mempertahankan dengan argumentasi).Kebaikan teori ini adalah untuk kepentingan umun secara nasional. Karena iameningkatkan kerja sama secara nasional, toleransi, kemanusiaan, perlindunganterhadap minoritas, menekankan hak sama, dan meningkatkan kerja sama umum.Perencanaan yang memakai tepri ini tepat dilaksanakan oleh pemerintah/ badanpusat.
  13. 13. 123. Teori TransactiveTeori ini menekankan harkat individu, menjunjung tinggi kepentingan pribadi.Keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai individu diteliti satu per satusebelum perencanan dimulai. Kontak empat mata dilakukan berkali-kali, komunikasiantar pribadi diadakan. Demikianlah ide-ide dievolusikan secara perlahan-lahankepada orang-orang yang menaruh perhatian terhadap pendidikan terutamadikalangan personalia lembaga pendidikan.Teori ini juga menekankan sifat perencanan yang desentralisasi, suatu desentralisasiyang transactive yaitu berkembang diri individu ke individu secara keseluruhan. Iniberarti penganutnya juga menekankan pengembnagn individu dalam kemampuanmengadakan perencanaan. Perencanaan yang dilakukan oleh personalia lembagapendidikan itu sendiri menunjukan perkembangan lembaga lebih maju, berartiterkandung pula didalamnya ada usaha-usaha mengembangkan organisasipendidikan dari dalam.4. Teori SynopticTeori ini adalah teori yang palaing komprehensif. Sebab itu didalam kepustakaansering disebut system planning, rational system approach, atau rationalcomprehensive planning. Teori ini sudah memakai model berfikir sistem dalamperencanaan. Obyek yang direncanakan dipandang sebagai suatu kesatuan yangbulat, dengan tujuan yang satu yang disebut misi. Obyek atau tujuan ini lalaudiuraikan menjadi bagian-bagian dengan memakai model analisa sistem sehinggasistem menampakan strukturnya. Dengan menstruktur sistem sampai kepadakomponen-komponennya, maka pekerjaan perencanaan menjadi lebih mudah. Sebabia menghadapi tugas-tugas yang sudah spesifik.Proses perencanan synoptic memakai langkah-langkah sebagai berikut :a. Pengenalan problem dan lingkungan.b. Mengestimasi ruang lingkup problem dan lingkungan.c. Mengklasifikasikan kemungkinan penyelesaian.d. Menginvestigasi problem dan lingkungane. Memprediksi alternatiff. Mengevaluasi kemajuan atas penyelesaian yang spesifik.Langkah a-c merupakan bagian pertama yang disebut analisis sistem. Langkah d-emerupakan bagian kedua yang disebut penjelasan masalah. Dan langkah fmerupakan bagian ketiga yang sering disebut implementasi, penilaian, dan review.
  14. 14. 135. Teori IncrementalTeori incremental dalam perencanan berpegang kepada kemampuan lembaga danperforman para personalianya. Teori ini berhati-hati sekali terhadap ruang lingkupobjek yang akan ditanganinya. Obyek yang ditangani selalu diukur ataudibandingkan dengan kemampuan lembaga dan performan personalia, kalau cocokdalam arti dapat dikerjakan dengan perkiraan hasil yang memadai maka barulahdirencanakan.Atas dasar pertimbangan tersebut diatas, maka perencaan tidakdibuat jangka panjangsebab disamping sukar meramal dalam waktu yang panjang juga sukar menentukankemampuan lembaga dan performan personalianya. Jadi perencanan ini menekankanperencanaan dalam jangka pendek saja. Perencanan untuk masa beberapa tahundilakukan dengan menambahkan perencanaan-perencanaan pendek yang sudahlampau. Inilah artinya increment.Perencanan ini juga menekankan sifat desentralisasi. Ia selalu berusaha mengadakankontak hubungan dengan lingkungan atau masyarakat. Artinya si perencana dalammerencanakan obyek tertentu dalam lembaga pendidikan, selalu mempertimbngakanfaktor-faktor lingkungan. Ada kerja sama yamng akrab antara lembaga pendidikandengan lingkunagan dalam merencanakan sesuatu. Hal ini mengingatkan kita kepadaperencanan dengan pendekatan sistem. Memang teori ini juga sudah memakaipendekatan sistem, hanya dipakai dalamwaktu yang terbatas, yaitu jangka pendek.Karena jangka pendek lebih riil dan lebih mudah diwujudkan dari pada jangkapanjang.→ Berdasarkan teori yang telah di paparkan di atas yang kami turunkan dariliterature, kemudian berdasarkan dari hasil survey (wawancara dengan IbuNurchasanah), maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa teori yang digunakanoleh MA Wahid Hasyim adalah “ Teori Transactive”. Maksud dari teoriTransactive itu sendiri yaitu suatu teori yang bersifat desentralisasi yangmengembangkan potensial individu dan institusi SDM pendidik serta melakukanidentifikasi kebutuhan.
  15. 15. 14B. PENDEKATAN PERENCANAAN1. Pendekatan Kebutuhan Sosial (Social Demand Approach)Alternatif pendekatan perencanaan pendidikan dalam pendekatan Kebutuhan Sosialini lebih menekankan pada pemerataan kesempatan atau kuantitatif dibandingkandengan aspek kualitatif. Pendekatan kebutuhan sosial ini adalah pendekatantradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyedsiakan lembaga-lembagadan fasilitas demi memenuhi tekanan-tekanan untuk memasukan sekolah sertamemungkinkan pemberian kesempatankepada pemenuhan keinginan-keinginanmurid dan oarng tuanya secara bebas. Dalam model kebutuhan sosial ini, tugasperencana pendidikan adalah harus menganalisa kebutuhan pada masa yang akandatang dengan menganalisa :a. Pertumbuhan pendudukb. Partisipasi dalam pendidikanc. Arus muridd. Keinginan masyarakat2. Pendekatan Kebutuhan Ketenagakerjaan (Man Power Approach)Alternatif pendekatan perencanaan pendidikan dalam pendekatan KebutuhanKetenagakerjaan mengutamakan kepada keterkaitan lulusan sistem pendidikandengan tuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai sektor pembangunan dengantujuan yang akan dicapai adalah bahwa pendidikan itu diperlukan untuk membantululusan memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik sehingga tingkatkehidupannya dapat diperbaiki.Tekanan dalam pendekatan Kebutuhan Ketenagakerjaan ini adalah relevansiprogram pendidikan didalam berbagai sektor pembangunan dilihatdari pemenuhanketenagaan. Pendekatan Kebutuhan Ketenagakerjaan ini bertujuan mengarahkankegiatan-kegiatan pendidikan kepada usaha untuk memenuhi kebutuhan nasionalakan tenaga kerja, sehingga diharapkan dapat memberikan keyakinan penyediaanfasilitas dan pengarahan arus murid benar-benar didasarkan atas perkiraankebutuhan tenaga kerja.
  16. 16. 153. Pendekatan Efisiensi Biaya (Rate of Return Approach)Alternatif pendekatan perencanaan pendidikan dalam pendekatan Efisiensi Biayaini bersifat ekonomi, karena memiliki pandangan pendidikan memerlukan investasiyang besar dan karena itu keuntungan dari infestasi tersebut harus dapatdiperhitungkan bilamana pendidikan itu memang mempunyai nilai ekonomi.Pendekatan Efisiensi Biaya merupakan penentuan besarnya investasi dalam duniapendidikan sesuai dengan hasil, keuntungan atau evektifitas yang akan diperoleh.Pendekatan Efisiensi Biaya mempunyai implikasi sesuai dengan prinsip ekonomiyaitu program pendidikan yang mempunyi nilai ekonomi tinggi menempati urutanatau prioritas penting, karena pendekatan untung rugi mempunyi keterkaitandengan pendekatan ketenagaan.4. Pendekatan Sistem Terpadu (Integrated System Approach)Pendekatan sistem merupakan suatu kerangka ilmu pengetahuan yang dapatmemadukan berbagai pendekatan yang sifatnya parsial menjadi suatu pendekatanyang bersifat menyeluruh dan terpadu.Didasarkan pada asumsi tersebut, dapat dikemukakan bahwa pendekatan sistemdapat berfungsi sebagai kerangka yang memadukan ketiga pendekatan perencanaansistem pendidikan yang bersifat menyeluruh dan terpadu. Dari hasil kajian teoretikdapat disimpulkan bahwa pendekatan sistem merupakan cara berfikir berdasarkankonsep sistem atau teori umum sistem.Sebagai suatu metode, pendekatan sistem memiliki tiga karakteristik, yaitusistemik, analitik, dan sistematik. Sistemik dalam arti permasalahan dilihat darikonteks keseluruhan; analitik dalam arti setiap permasalahan dianalisis sebab danakibatnya dikaitkan dengan berbagai masalah yang ada, baik di dalam maupun diluar sistem; sistematik dalam arti cara kerjanya beraturan atau runtut. Hal ini dapatdilihat dari proses kegiatannya, yaitu perumusan masalah, penelitian, peilaian,penelaahan, pemeriksaan, dan pelaksanaan.→ Berdasarkan pendekatan yang telah di paparkan di atas yang kami turunkandari literature, kemudian berdasarkan dari hasil survey (wawancara dengan IbuNurchasanah), maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa pendekatan yangdigunakan oleh MA Wahid Hasyim adalah “Man Power Approuch” Maksuddari “MAN Power Approuch” adalah perencanaan pendidikan yang harus
  17. 17. 16membuat perkiraan jumlah dan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan olehsetiap kegiatan pembangunan. Tujuan dari pada MPA yaitu untuk mengarahkankegiatan pendidikan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja.Alasan MA Wahid Hasyim menggunakan pendekatan Man Power Approuchadalah :1. MA Wahid Hasyim lebih mementingkan proses profesionalisme dan SDMPendidik2. Desentralisasi pendidikan3. Desain kurikulum yang diorientasikan pada kebutuhan sector pembangunanC. JENIS PERENCANAANAda beberapa jenis perencanaan menurut waktu, sifat, sector regional, jangkauan,wewenang pembuat, obyeknya dan jenjang. Akan tetapi penulis ingin membahashanya menurut jangkauan karena ada hubungan yang signifikan dengan hasil survey.Adapun cakupan dari perencanaan menurut jangkauan adalah sebagai berikut :1. Perencanaan MakroPerencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-kebijakan yangakan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara mencapai tujuan itu padatingkat nasional. Rencana pembangunan nasional dewasa ini meliputi rencana dalambidang ekonomi dan sosial. Dipandang dari sudut perencanaan makro, tujuan yangharus dicapai negara (khususnya dalam bidang peningkatan SDM) adalahpengembangan sistem pendidikan untuk menghasilkan tenaga pembangunan baiksecara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif pendidikan harusmenghasilkan tenaga yang cukup banyak sesuai dengan kebutuhan pembangunan.Sedangkan secara kualitatif harus dapat menghasilkan tenaga pembangunan yangterampil sesuai dengan bidangnya dan memiliki jiwa pancasila.2. Perencanaan MesoPerencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-kebijakan yangakan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara mencapai tujuan itu padatingkat nasional. Rencana pembangunan nasional dewasa ini meliputi rencana dalambidang ekonomi dan sosial. Dipandang dari sudut perencanaan makro, tujuan yangharus dicapai negara (khususnya dalam bidang peningkatan SDM) adalahpengembangan sistem pendidikan untuk menghasilkan tenaga pembangunan baik
  18. 18. 17secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif pendidikan harusmenghasilkan tenaga yang cukup banyak sesuai dengan kebutuhan pembangunan.Sedangkan secara kualitatif harus dapat menghasilkan tenaga pembangunan yangterampil sesuai dengan bidangnya dan memiliki jiwa pancasila.3. Perencanaan MikroPerencanaan mikro diartikan sebagai perencanaan pada tingkat instituisional danmerupakan penjabaran dari perencanaan tingkat messo khususnya dari lembagamendapatkan perhatian, namun tidak boleh bertentangan dengan apa yang telahditetapkan dalam perencanaan makro ataupun messo.→ Berdasarkan jenis perencanaan yang telah di paparkan di atas yang kamiturunkan dari literature, kemudian berdasarkan dari hasil survey (wawancaradengan Ibu Nurchasanah), maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa jenisperencanaan yang digunakan oleh MA Wahid Hasyim adalah ” PerencanaanMikro” karena perencanaan ini pada tingkat instituisional dan merupakanpenjabaran dari perencanaan tingkat messo khususnya dari lembagamendapatkan perhatian, namun tidak boleh bertentangan dengan apa yang telahditetapkan dalam perencanaan makro ataupun messo.
  19. 19. 18BAB IVKESIMPULANBerdasarkan teori perencanaan, pendekatan perencanaan, dan jenis perencanaan yangtelah dipaparkan (Bab III Pembahasan) yang kami turunkan dari literature, kemudianberdasarkan dari survey (wawancara dengan Ibu Nurchasanah dan Dokumen), maka dapatdiperoleh kesimpulan bahwa MA Wahid Hasyim menggunakan Teori Transactive, yaitusuatu teori yang bersifat desentralisasi yang mengembangkan potensial individu dan institusiSDM pendidik serta melakukan identifikasi kebutuhan. Sedangkan pendekatan yang di pakaiadalah “MAN Power Approuch” yaitu perencanaan pendidikan yang harus membuatperkiraan jumlah dan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan oleh setiap kegiatanpembangunan. Dan jenis perencanaan yang digunakan adalah ” Perencanaan Mikro” karenaperencanaan ini pada tingkat instituisional dan merupakan penjabaran dari perencanaantingkat messo khususnya dari lembaga mendapatkan perhatian, namun tidak bolehbertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam perencanaan makro ataupun messo.
  20. 20. 19DAFTAR RUJUKANAsnawir. 2006. Manajemen Pendidikan, Padang: IAIN IB Press.Latief, Jamroh. 2013. Hand Out Perkuliahan: Perencanaan Sistem Kependidikan Islam. UINSunan Kalijaga Yogyakarta.Sunarya, Endang. 2000. Pengantar Teori Perencanaan Pendidikan Berdasarkan PendekatanSistem. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
  21. 21. 20

×