Hakekat Ilmu : Mencari Alternatif Kebenaran Baru

  • 2,531 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,531
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
45
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Hakekat Ilmu : “Mencari Alternatif Kebenaran Baru” Mengkaji Pemikiran Jujun Suparjan Suriasumantri1 Oleh : Ali Murfi2A. Pendahuluan Membincangkan pemikiran Jujun S. Suriasumantri tidaklah mudah, karena terlalu luas spectrum pemikiranya, merambah mulai dari social, budaya, pendidikan, sampai filsafat. Pemikiranya dapat dilihat dari pelbagai aspek, tapi basis analisinya dalam melihat realitas tetap sama, yaitu filsafat. Sebagai seorang yang telah lama berkecimpung dalam dunia kademik dan berinteraksi dengan pelbagai teks- teks yang membebaskan, tidak mengherankan jika dia telah memiliki paradigm atau pandangan dasar yang khas. Cara pendang yang khas tersebut merupakan stand point, tempat berpijak, atau paradigma. Basis analisisnya dalam melihat realitas dengan filsafat inilah, yang hendak penulis lihat sebagai bahan konstruksi pemikiran Jujun Suparjan Suriasumntri tentang hakikat ilmu untuk mencari kebenaran baru.B. Mencari Alternatif Kebenaran Baru Pengetahuan Pengetahuan diartikan secara luas, mencakup segala hal yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu. Pengetahuan adalah terminology generic yang mencakup segenap pengetahuan yang kita miliki. Manusia mendapatkan pengetahuan tersebut berdasarkan kemampuanya selaku makhluk berpikir, merasa, dan mengindera. Di samping itu manusia bisa juga mendapatkan pengetahuanya lewat intusi dan wahyu dari Tuhan yang disampaikan lewat utusan-Nya. Secara garis besar kita dapat menggolongkan pengetahuan menjadi tiga kategori utama yakni : (1) Pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk (etika) 1 Jujun Suparjan Suriasumantri. Lahir di Tasikmalaya, tanggal 9 April 1940. Setelah melalui pendidikan di SD V, SMP III dan SMA II, yang semuanya berada di Bandung melanjutkan ke institute Pertanian (IPB) di Bogor, dan lulus tahun 1969 sebagai insinyur pertanian. Pada tahun 1970, sebagai dosen IPB, mewakili Konsorsium Ilmu-Ilmu Pertanian dalam Latihan Educational System Analysis selama 8 bulan, yang diselenggarakan Unesco di Jakarta. Selesai dari latihan tersebut, pada tahun 1971 melanjutkan studi ke Harvard University sebagai Unesco fellow, dan lulus tahun 1975, dengan disertasi yang berjudul The Utilities of PPBS and Organization Development Planning: An Indonesian Case. 2 Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Kependidikan Islam 2011, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 1
  • 2. (2) Pengetahuan tentang yang indah dan yang jelek (estetika) (3) Pengetahuan tentang yang benar dan yang salah (logika).Apakah Ilmu ? Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan baru yang mempunyai cirri-ciri tertentuyang membedakan ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan lainya. Cirri-ciri keilmuandidasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap tiga matra kefalsafahan, yakniApa yang ingin kita ketahui ? Bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan ? Danapakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita ?Pengetahuan mempunyai cabang berbagai cabang pengetahuan dan ilmu merupakansalah satu dari cabang pengetahuan tersebut. Karakteristik keilmuan itulah yangmencirikan hakikat keilmuan dan sekaligus membedakan dari berbagai cabangpengetahuan lainya atau dengan perkataan lain, karakteristik keilmuan menjadikan ilmumerupakan suatu oengetahuan yang bersifat ilmiah. Dengan demikian, maka sinonimdari ilmu adalah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge).Apakah kebenaran ? Ilmu, dalam upaya untuk menemukan kebenaran, mendasarkan dirinya kepadabeberapa criteria kebenaran. Kriteria tersebut seringkali disebut sebagai teori, adalahkriteria koherensi, korespondensi dan pragmatisme.Koherensi merupakan terori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentangkonsistensi argumentasi. Sekiranya terdapat konsistensi dalam alur berpikir, makakesimpulan yang ditariknya adalah benar. Sebaliknya, jika terdapat argumentasi yangbersifat tidak konsisten, maka kesimpulan yang ditariknya adalah salah. Secarakeseluruhan argumentasi yang bersifat konsisten tersebut juga harus bersifat koherenuntuk dapat disebut benar. artinya, jalur - jalur pemikiran yang masing-masing bersifatkonsisten seluruhnya, maka juga harus terpada secara utuh (koheren), baik ditinjau darilingkup argumentasi, maupun dikaitkan dengan pengetahun-pengetahuan sebelumnyayang dianggap benar. landasan koherensi inilah yang dipakai sebagai dasar kegiatankeilmuan untuk menyusun pengetahuan yang bersifat sistematis dan konsisten.Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteriatentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan obyekyang dikenai pernyataan tersebut. Artinya, bila kita menyatakan bahwa “gula itu rasanymanis”, maka pernyataan itu adalah benar sekiranya dalam kenyataanya gula itu rasanyamemang manis. Sebaliknya, jika kenytaanya tidak sesuai dengan materi pernyataanyang dikandungnya, maka pernyataan itu adalah salah. Umpamanya saja, pernyataan 2
  • 3. yamg menyebutkan bahwa “gula itu rasanya asin”. Dapat disimpulkan bahwa sifat salahatau benar dalam teori korespondensi disimpulkan dalam proses pengujian (verifikasi)untuk menentukan sesuai atau tidaknya suatu pernyataan dengan kenyataan yangsebenarnya.Pragmatisme merupkan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada criteria tentangberfungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Jadi,bila suatu teori keilmuan secara fungsional mampu menjelaskan, meramalkan danmengontrol suatu gejala alam tertentu, maka secara pragmatis teori iu adalah benar.sekiranya, dalam kurun waktu yang berlainan, muncul teori lain yang (lebih) fungsional,maka kebenaran kita alihkan kepada teori tersebut. Dalam dunia keilmuan, nilaikegunaan pengetahuan didasarkan kepada preferensi kepada teori yang bersifat lebihmeyakinkan dan lebih bersifat umum (universal) dibandingkan dengan teori-teorisebelumnya. Bukankah ilmu sekadar alat yang berfungsi untuk menjelaskan,meramalkan, dan mengontrol gejala alam ?Mencari Alternatif Paradigma Kebenaran Baru Tidak puas dengan paradigma kebenaran keilmuan konvensional, terutamaparadigma kebenaran keilmuan yang bersifat pragmatis, akhir-akhir terdapatkecenderungan untuk mncari alternative paradigma kebenaran baru. Alternatif iniberorientasikan pada kebenaran yang bersifat mutlak dan deterministic dibandingkandengan paradigma keilmuan dewasa ini yang bersifat pragmatis dan probabilistic.Sumber paradigma kebenaran baru ini ialah Agama.Dalam khazanah kemerdekaan berpikir, tentu saja upaya semacam ini patut dihargai,apalagi terdapat alas an-alasan kuat bagi orientasi pemikiran keilmuan yang baru itu.Ilmu dan penerapanya yang bernama teknologi, ternyata tidak dapat memecahkansemua permasalahan manusia, dan bahkan memberikan dampak yang bersifat negativeseperti dehumanisasi kebudayaan dan degradasi moral.3 Menghadapi kenyataan ini, adakalangan yang berpendapat bahwa kesemrawutan tersebut bersumber dari materikebenaran keilmuan itu sendiri. Atau secara filosofis, bila kita mempergunakan criteriahakikat pengetahuan terkait denagn asas ontolohi dan epistemoloho keilmuan.Bila kita mencoba menempuh jalan ini, terutama bila kita mengaitkanya dengankebenaran yang bersumber pada ajaran agama, maka terdapat beberapa hal yang patutdiperhatikan. Pertama, apakah pernyataan yang terkandung dalam ajaran agama 3 Lihat Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu,( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1984), hal. 229-236 3
  • 4. tersebut bersifat factual atau sombolik. Factual disini diartikan bahwa pernyataan yang terkandung didalamnya dapat ditafsirkan secara harfiah. Gejala-gejala fisik untuk dinyatakan secara harfiah, tetapi tubuh teori keilmuan tidak sekadar menganalisis gejala namun lebih dalam dari itu, yakni mengkaji konsepsi yang merupakan reduksi dan abstraksi dari gejala tersebut. Kedua, apakah pernyataan yang terkait denagan keilmuan itu memang bersifat mengandung hakikat kebenaran itu sendiri (kognitif), ataukah sekadar ilustrasi yang bersifat mengajak manusia untuk memepelajari alam dan kehidupan (afektif).4 Permasalahan tentang factual-simbolik dan kognitif-afektif inilah yang harus kita perhatiakan secara sungguh-sungguh sebelum kita melangkah lebih jauh. Saya sendiri berpendapat bahwa agama dapat berfungsi sebagai kendali moral bagi hal tersebut. Dalam hal ini, saya juga berpendapat bahwa terdapat nilai-nilai universal dalam berbagai agama yang dapat dijadikan rujukan bagi kendali moral kegunaan ilmu tersebut. Agama mengajarkan kebaikan kepada manusia, dan ilmu didasarkan kepada ajaran agama, seyogyanya diamalkan untuk kebaikan manusia. Impetus (energy gerak) intelektual Muslim untuk mengkaji ilmu dikaitkan dengan ajaran agamanya, ditinjau dari segi aksiologis ini, diharapkan bukan saja akan membawa berkah bagi umat Islam itu sendiri, tetapi akan membawa berkah bagi umat manusia dengan mengajak intelektual dari agama-agama lain untuk menemukan rujukan moral yang universal.C. Kesimpulan Dilihat dari perspektif makro, posisi Jujun Suria Sumantri dapat dikategorikan sebagai kritikus diskursus filsafat. Kritik utamanya adalah ketidakpuasan dengan paradigma kebenaran keilmuan konvensional, terutama paradigma kebenaran keilmuan yang bersifat pragmatis, dia menawarkan pencarian alternatif paradigma kebenaran baru. Alternatif ini berorientasikan pada kebenaran yang bersifat mutlak dan deterministic dibandingkan dengan paradigma keilmuan dewasa ini yang bersifat pragmatis dan probabilistic. Sumber paradigma kebenaran baru ini ialah Agama. Dalam khazanah kemerdekaan berpikir, tentu saja upaya semacam ini patut dihargai, apalagi terdapat alas an-alasan kuat bagi orientasi pemikiran keilmuan yang baru itu. Ilmu dan penerapanya yang bernama teknologi, ternyata tidak dapat memecahkan semua permasalahan manusia, dan bahkan memberikan dampak yang 4 Lihat Jujun S, Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik, (Jakarta: Gramedia, 1986), hal. 194-205 4
  • 5. bersifat negative seperti dehumanisasi kebudayaan dan degradasi moral. 5 Menghadapi kenyataan ini, ada kalangan yang berpendapat bahwa kesemrawutan tersebut bersumber dari materi kebenaran keilmuan itu sendiri, atau secara filosofis, bila kita mempergunakan criteria hakikat pengetahuan terkait denagn asas ontologi dan epistemologi keilmuan.D. Daftar Pustaka Suriasumantri, S. Jujun. 1997. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia . 1984. Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan . 1986. Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial dan Politik. Jakarta: Gramedia Saefuddin, M. Ahmad. 1991. Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Bandung: Penerbit Mizan 5 Lihat Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu,( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1984), hal. 229-236 5