KONSEP DASAR DALAM PROMOSI KESEHATAN                                               Pendahuluan                      Promos...
I.          Konsep Dasar Promosi Kesehatan1. KONSEP PERUBAHAN         Perubahan bisa terjadi setiap saat dan merupakan pro...
untuk berubah, apabila tidak ada kesadaran untuk berubah maka tidak       mungkin terjadi suatu perubahan.     2. Tahap In...
d). memilih perubahan          e). merencanakan perubahan          f). melaksanakan perubahan          g). mengevaluasi pe...
4. Model dalam perubahan         Dalam perubahan kita mengenal beberapa model diantaranya model penelitian  pengembangan, ...
Model PERT terdiri dari enam fase yaitu initiation, need assessment, goal settings,               planning/programming,   ...
Sedangkan PRODCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan criteria kebijakan sertaimplementasi dan evaluasi.   5. LANGKAH-...
sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk          diterima oleh lingkungan.       5. Tahap Adopti...
3. Implementasi Perubahan           Pada proses ini terjadi proses pencairan, perubahan dan pembekuan yang           dihar...
5.   Tipe sosialisasi, merupakan suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan       menggunakan kerja sama dengan kelompok...
d.    Toleransi terhadap perubahan rendah               Toleransi terhadap perubahan tergantung dari individu, kelompok at...
e. Merencanakan perubahan    Mengimplementasikan perubahan    Mengevaluasi perubahanf. Menstabilkan perubahan yang sudah...
II.    Motivasia.   Defenisi motivasi         Motivasi dari bahasa latin movere artinya menimbulkan pergerakan. Motivasi a...
motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk     tujuan organisasi yang dikondisikan oleh ...
5) Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan  kemampuan, skill, dan potensi. Kebutuhan un...
b. Teori Kebutuhan McClelland            David McClelland dalam Thoha (2002) mengemukakan ada tiga macam      kebutuhan ma...
mendasar dari Maslow), kebutuhan keterkaitan (Relatedness, kebutuhan   hubungan antar pribadi), dan kebutuhan pertumbuhan ...
yang diterima. Individu akan termotivasi kalau mereka mengalami kepuasan     yang mereka terima dari upaya dalam promosi d...
pencapaian perolehan tingkat pertama dengan pencapaian perolehan       tingkat kedua.Deskripsi dari prinsip di atas melipu...
Teori ini juga menyatakan cara memilih dan bertindak dari berbagai             alternatif tingkah laku, berdasarkan harapa...
untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan      tertentu.            Makin jelas tujuan ...
v.    Prinsip Memberi Perhatian           Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai           baw...
Adanya rasa ikut memiliki akan menimbulkan motivasi untuk ikut merasa  tanggung jawab.j. Pengembangan atau Development  Pe...
III.   Kemitraana. Defenisi        Definisi Kemitraan (partnership) pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong   ...
   (WHO) Policy-makers (pengambil kebijakan)         Health managers         Healthprofessionals         Academic inst...
m. Ada 7 saling yang perlu diperhatikan, yaitu :   Ada 7 saling yang perlu diperhatikan, yaitu :            saling memaham...
Tujuan khusus :1.   Meningkatkan saling pengertian;2.   Meningkatkan saling percaya;3.   Meningkatkan saling memerlukan;4....
IV.     Kolaborasia. KONSEP KOLABORASI DALAM PROMOSI KESEHATAN   Menurut heritage kolaborasi adalah bekerja bersam khusus...
a. Kurangnya komitmen dari perilaku kolaborasi sehingga tidak solid dalam     pelaksanaannya, perbedaan pandangan.  b. Kur...
Kerjasama adalah menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk memeriksabeberapa alternative, pendapat, dan perubahan ...
f.   Keinginan untuk bernegoisasi     Kerjasama mencerminkan proses koordinasi pekerjaan agar tujuan buat target yangtelah...
Kesimpulan    Pemberdayaan masyarakat merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan yangbertujuan untuk memandirikan mas...
dapat disimpulkan bahwa klienbelum termotivasi untuk mengubah perilakunya. Atau dalamtranstfeoritical model disebut masih ...
TUGAS KELOMPOK HG III                      Mata Kuliah               PROMOSI KESEHATAN( Konsep Perubahan, Kolaborasi, Kemi...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Konsep dasar dalam promosi kesehatan 1

19,468 views

Published on

2 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
19,468
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
422
Comments
2
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Konsep dasar dalam promosi kesehatan 1

  1. 1. KONSEP DASAR DALAM PROMOSI KESEHATAN Pendahuluan Promosi Kesehatan adalah suatu kegiatan penyampaian ilmu dan informasi kesehatan kepada individu kelompok, keluarga dan komunitas dengan tujuan dari tidak mampu menjadi mampu merubah kebiasaan yang sesuai dengan prinsip kesehatan dalam berbagai aspek kehidupannya secara mandiri dan menerapkan sepanjang hidupnya. Proses untuk meningkatkan kemampuan orang dalam meningkatkan dan mengendalikan kesehatan, maka seseorang/ kelompok harus mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah lingkungannya ( piagam Ottawa,1986) Misi dalam promosi kesehatan : 1. Advokat (advocate) Ditujukan kepada para pengambil keputusan atau pembuat kebijakan 2. Menjembatani (mediate) Menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkait dengan kesehatan 3. Memampukan (enable) Agar masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan secara mandiri Sasaran dalam promosi kesehatan :  Langsung : Individu , keluarga, Masyarakat  Tidak langsung : Pembuat kebijakan; pemerintah pusat dan daerahI. Tujuan a. Tujuan Umum : Memahami konsep dasar dalam promkes b. Tujuan Khusus: Mengaplikasikan kedalam perilaku sehari-hari terkait dengan perubahan perilaku, motivasi,menjalin kemitraan dan kolaborasi
  2. 2. I. Konsep Dasar Promosi Kesehatan1. KONSEP PERUBAHAN Perubahan bisa terjadi setiap saat dan merupakan proses yang dinamik serta tidak dapat dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan yang semula. Tanpa berubah tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan. (Atkinson,1987 dan Brooten,1978 dalam Nurhidiyah, 2003 : 1), menyatakan defenisi perubahan yaitu: merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi. Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa, tentang kekuatannya, maka pemahaman tentang tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna. Perubahan merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap atau status menjadi status yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.2. Teori-teori perubahan Menurut Rogers, untuk melakukan perubahan perlu beberapa langkah yang harus dilakukan supaya perubahan dapat tercapai , antara lain : a. (Atkinson, 1987 dan brooten,1978 dalam murhidiyah 2003 : 1. unfreezing: suatu proses penyadaran tentang perlunya, atau adanya kebutuhan untuk berubah 2. Changing: langkah tindakan, baik memperkuat driving force maupun memperlemah resistances 3. Refreezing: membawa kembali kelompok kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium) b. Teori Rogers (1992) : Menurut Rogers, untuk melakukan perubahan perlu beberapa langkah yang harus dilakukan supaya perubahan dapat tercapai , antara lain : 1. Tahap Awareness Tahap ini merupakan tahapan dasar atau tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan di perlukan adanya kesadaran
  3. 3. untuk berubah, apabila tidak ada kesadaran untuk berubah maka tidak mungkin terjadi suatu perubahan. 2. Tahap Interest Dalam tahap ini dijelaskan bahwa dalam melakukan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari yang dikenalkan. Minat tersebut yang akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah. 3. Tahap Evaluasi Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan di temukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan. 4. Tahap Trial Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan. 5. Tahap Adoption Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.c. Teori Spradley Menurut Spradley bahwa perubahan terencana harus secara konstan dipantau untuk mengembangkan hubungan yang bermanfaat antara agen berubah dan sistem berubah. Berikut langkah dasar menurut Spradley : a). mengenali gejala b). mendiagnosis masalah c). menganalisa jalan keluar
  4. 4. d). memilih perubahan e). merencanakan perubahan f). melaksanakan perubahan g). mengevaluasi perubahan h). menstabilkan perubahan3. Tahap-tahap manajemen perubahan Tahap-tahap manajemen perubahan dibagi dalam 4 tahap yaitu : 1. Identifikasi Perubahan Pada tahap ini diharapkan seseorang dapat mengenal perubahan apa yang akan dilakukan /terjadi. Dalam tahap ini seseorang atau kelompok dapat mengenal kebutuhan perubahan dan mengidentifikasi tipe perubahan. 2. Perencanaan Perubahan. Pada tahap ini perubahan harus dianalisis mengenai diagnostik situasional tehnik, pemilihan strategi umum, dan pemilihan. Dalam proses ini perlu dipertimbangkan adanya factor pendukung sehingga perubahan dapat terjadi dengan baik. 3. Implementasi Perubahan Pada proses ini terjadi proses pencairan, perubahan dan pembekuan yang diharapkan. Apabila suatu perubahan sedang terjadi kemungkinan timbul masalah maka perlu dilakukan monitoring perubahan. 4. Evaluasi dan Umpan Balik. Untuk melakukan evaluasi diperlukan data, oleh karena itu dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dan evaluasi data tersebut. Hasil evaluasi ini dapat di umpan balik kepada tahap 1 sehingga memberi dampak pada perubahan yang diinginkan berikutnya. Suatu perubahan melibatkan perasaan, aksi, perilaku, sikap, nilai-nilai dari orang yang terlibat dan tipe gaya manajemen yang dibutuhkan. Jika perubahan melibatkan sebagian besar terhadap perilaku dan sikap mereka, maka akan lebih sulit untuk merubahnya dan membutuhkan waktu lebih yang lama
  5. 5. 4. Model dalam perubahan Dalam perubahan kita mengenal beberapa model diantaranya model penelitian pengembangan, model interaksi social dan model penyelesaian masalah. Ketiga model tersebut dapat digunakan sebagai dasar model mengenal perubahan. a) Research and Development Model ( model penelitian dan pengembangan) Model perubahan ini didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan dalam perubahan, menyiapkan perubahan dan melakukan desiminasi kepada masyarakat tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam perubahan. b) Social Interaction Model ( model interaksi social) Model perubahan dengan interaksi social ini dilakukan berdasarkan atas saling kerja sama dalam sistem social dengan memfokuskan pada persepsi dan respons dari perubahan yang akan dilakukan. Model ini menggunakan langkah sebagaimana dalam teori perubahan Roger diantaranya, menyadari akan perubahan, adanya minat dalam perubahan, melakukan uji coba sesuatu hal yang akan dilakukan perubahan serta menerima perubahan. c) Problem Solving Model ( model penyelesaian masalah) akan dilakukan Model ini menekankan pada penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi masalah, mendiagnosis masalah, menemukan cara penyelesaian masalah yang akan digunakan, melakukan uji coba dan melakukan evaluasi dari hasill uji coba untuk digunakan dalam perubahan. Dalam promosi kesehatan selain pendidikan kesehatan. Juga diperlukan intervensi pada factor lingkungan ( politik, ekonomi, dan organisasi) yang didesain untuk memfasilitasi perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. Hal tersebut berdampak terhadap operasionalisasi perencanaan pendidikan kesehatan dan perencanaan promosi kesehatan. Model perencanaan promosi kesehatan yang sering digunakan : 1. Model PERT Model ini dikembangkan sejak tahun 1960 ( Ross dan Mico) dan dalam beberapa versi modifikasi, model ini masih digunakan dalam aplikasi kegiatan atau program.
  6. 6. Model PERT terdiri dari enam fase yaitu initiation, need assessment, goal settings, planning/programming, 2. Model PROCEDE-PROCEED Model yang dikembangkan oleh Green dan krekter ( 1991) pada tahun 1980, merupakan model yang paling cocok diterapkan dalam perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan, yang dekenal dengan model PROCEDE ( predisposing, renforcing, and enablingcauses in educational diagnosis and evaluation). PRECEDE merupakan kerangka untuk membantu perencanaan mengenal masalah, mulai dari kebutuhan pendidikan sampai pengembangan program. Pada tahun 1991, model ini disempurnakan menjadi model PRECEDE-PROCEED. PROCEED merupakan singkatan dari policy, regulatory and organizational contructs in educational and environtmental development. Dalam aplikasinya, PRECEDE-PROCEED dilakukan bersama-sama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Precede digunakan dalam fase diagnosis masalah, penetapan prioritas dan tujuan program, sedangkan PROCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan criteria kebijakan, pelasanaan, dan evaluasi. Menurut Schmit dkk. (1990), model ini paling banyak diterima dan telah berhasil diterapkan dalam perencanaan, serta model ini dianggap lebih berorientasi praktis.PRECEDEFase 5 fase 4 fase 3 fase 2 fase 1Diagnosis dan diagnose pend. Diagnose diagnosis diagnosisKebijakan & organisasi perilaku & epidemiologi sosialAdministrasi lingkungan FactorPromosi predisposisikesehatan Pendidikan Perilaku dan kesehatan kebiasaan Factor Kualitas penguat kesehatan hidup Kebijakan lingkungan regulasi Factor organisasi kemungkinan
  7. 7. Sedangkan PRODCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan criteria kebijakan sertaimplementasi dan evaluasi. 5. LANGKAH-LANGKAH DALAM KONSEP PERUBAHAN Dalam melakukan perubahan banyak langkah-langkah atau tahapan untuk melakukan perubahan. Beberapa teori tentang langkah-langkah perubahan adalah sebagai berikut : a. Teori Rogers (1992) Menurut Rogers, untuk melakukan perubahan perlu beberapa langkah yang harus dilakukan supaya perubahan dapat tercapai , antara lain : 1. Tahap Awareness Tahap ini merupakan tahapan dasar atau tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan di perlukan adanya kesadaran untuk berubah, apabila tidak ada kesadaran untuk berubah maka tidak mungkin terjadi suatu perubahan. 2. Tahap Interest Dalam tahap ini dijelaskan bahwa dalam melakukan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari yang dikenalkan. Minat tersebut yang akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah. 3. Tahap Evaluasi Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan di temukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan. 4. Tahap Trial Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya
  8. 8. sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan. 5. Tahap Adoption Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan. b. Teori Spradley Menurut Spradley bahwa perubahan terencana harus secara konstan dipantau untuk mengembangkan hubungan yang bermanfaat antara agen berubah dan sistem berubah. Berikut langkah dasar menurut Spradley : a). mengenali gejala b). mendiagnosis masalah c). menganalisa jalan keluar d). memilih perubahan e). merencanakan perubahan f). melaksanakan perubahan g). mengevaluasi perubahan h). menstabilkan perubahan6. Tahap-tahap manajemen perubahan Tahap-tahap manajemen perubahan dibagi dalam 4 tahap yaitu : 1. Identifikasi Perubahan Pada tahap ini diharapkan seseorang dapat mengenal perubahan apa yang akan dilakukan /terjadi. Dalam tahap ini seseorang atau kelompok dapat mengenal kebutuhan perubahan dan mengidentifikasi tipe perubahan. 2. Perencanaan Perubahan. Pada tahap ini perubahan harus dianalisis mengenai diagnostik situasional tehnik, pemilihan strategi umum, dan pemilihan. Dalam proses ini perlu dipertimbangkan adanya factor pendukung sehingga perubahan dapat terjadi dengan baik.
  9. 9. 3. Implementasi Perubahan Pada proses ini terjadi proses pencairan, perubahan dan pembekuan yang diharapkan. Apabila suatu perubahan sedang terjadi kemungkinan timbul masalah maka perlu dilakukan monitoring perubahan. 4. Evaluasi dan Umpan Balik. Untuk melakukan evaluasi diperlukan data, oleh karena itu dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dan evaluasi data tersebut. Hasil evaluasi ini dapat di umpan balik kepada tahap 1 sehingga memberi dampak pada perubahan yang diinginkan berikutnya. Suatu perubahan melibatkan perasaan, aksi, perilaku, sikap, nilai-nilai dari orangyang terlibat dan tipe gaya manajemen yang dibutuhkan. Jika perubahan melibatkansebagian besar terhadap perilaku dan sikap mereka, maka akan lebih sulit untukmerubahnya dan membutuhkan waktu lebih yang lama.6. Type perubahan Perubahan merupakan sesuatu yang mungkin sulit diterima bagi seseorang, kelompok atau masyarakat yang belum memahami makna dari perubahan. Apabila dipandang dari tipe perubahan, menurut Bennis tahun 1965, perubahan itu sendiri memiliki tujuh tipe diantaranya tipe indoktrinasi, tipe paksaan, tipe teknokratik, tipe interaksional, tipe sosialisasi, tipe emulative dan tipe alamiah. 1. Tipe endoktrinasi, suatu perubahan yang dilakukan oleh sekelompok atau masyarakat yang menginginkan pencapaian tujuan yang diharapakan dengan member doktrin atau menggunakan kekuatan sepihak untuk dapat berubah. 2. Tipe paksaan atau kekerasan, merupakan tipe perubahan dengan melakukan pemaksaan atau kekerasan pada anggota atau seseorang dengan harapan tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana 3. Tipe teknokratik, merupakan tipe perubahan dengan melibatkan kekuatan lain dalam mencapai tujuan yang diharapakan terdapat satu pihak merumuskan tujuan dan pihak lain untuk membantu mencapai tujuannya. 4. Tipe interaksional, merupakan perubahan dengan menggunakan kekuatan kelompok yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang diharapakan dari perubahan
  10. 10. 5. Tipe sosialisasi, merupakan suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan kerja sama dengan kelompok lain tetapi masih menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai 6. Tipe emultif, merupakan suatu perubahan dengan menggunakan kekuatan unilateral dengan tidak merumuskan tujuan terlebih dahulu secara sungguh- sungguh, perubahan ini dapat dilakukan pada sistem di organisasi yang bawahannya berusaha menyamai pimpinan atau atasannya 7. Tipe alamiah, perubahan yang terjadi akibatsesuatu yang tidask disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara tidak sungguh-sungguh, seperti kecelakaan, maka seseorang ingin mengadakan perubahan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara dan lain sebagainya7. Hambatan dalam perubahan Perubahan tidak selalu mudah untuk dilaksanakan akan tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik hambatan dari luar maupun dari dalam.hambatan dlam perubahan adalah sebagai berikut : a. Ancaman kepentingan pribadi Hal ini merupakan hambatan dalam perubahan karena adanya kekhawatiran adanya perubahan segala kepentingan dan tujuan diri. Contohnya, dalam pelaksanaan standarisasi perawat professional yang di akui sebagai profesi perawat adalah minimal pendidikan DIII keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang tidak ingin melanjutkan pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya sehingga hal tersebut dapat menjadi hambatan dalam perubahan. b. Persepsi yang kurang tepat Persepsi yang kurang tepat atau informasi informasi yang belum jelas ini dapat menjadi kendala dalam proses perubahan. Berbagai informasi yang akan dilakukan dalam sistem perubahan jika tidak dikomunikasikan dengan jelas atau informasinya kurang lengkap, maka tempat yang akan dijadikan perubahan akan sulit menerima sehingga timbul kekhawatiran dari perubahn tersebut. c. Reaksi psikologis Ini merupakan factor yang menjadi hambatan dalam perubahan karena setiap orang memiliki reaksi psikologis yang berbeda dalam merespon perbedaan sistem adaptasi sehingga bisa menjadi hambatan dalam perubahan. Contohnya, apabila akan dilakukan perubahan dalm sistem praktek keperawatan mandiri, jika perawat belum menerima secara psikologis akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai dampak dari perubahan.
  11. 11. d. Toleransi terhadap perubahan rendah Toleransi terhadap perubahan tergantung dari individu, kelompok atau masyarakat. Apabila individu, kelompok atau masyarakat tersebut memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan maka akan memudahkan proses perubahan tetapi apabila toleransi terhadap perubahan rendah maka perubahan akan sulit dilaksanakan. e. Kebiasaan Pada dasarnya seseorang akan lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya dibandingkan dengan sesuatu yang baru dikenal, karena keyakinan yang dimiliki sangat kuat. Factor kebiasan ini yang menjadi hambatan dalam perubahan. f. Ketergantungan Seseorang tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu, suatu perubahan akan menjadi masalah bagi seseorang yang selalu menggantungkan diri sehingga perubahan akan sulit dilakukan. g. Perasaaan tidak aman Perasaan tidak aman juga merupakan penghambat dalam perubahan karena adanya ketakutan terhadap dampak dari perubahan yang juga akan menambah ketida amanan pada diri kelompok atau masyarakat. h. Norma Norma merupakan segala aturan yang didukung oleh anggota masyarakat dan tidak mudah untuk merubahnya. Apabila akan mengadakan proses perubahan namun bertentangan dengan norma maka perubahan tersebut akan mengalami hambatan.Kendala dan hambatan dalam melakukan perubahan menurut wilson :  Sistem dan proses perubahan  Sumber daya manusia  Sistem dan lingkungan organisasi 8. Perencanaan dalam perubahan Proses perencanaannya: a. Kita harus mengenal atau mengkaji adanya kebutuhan perubahan b. Mendiagnosa kebutuhan c. Menganalisa alternative pemecahan d. Menyeleksi perubahan
  12. 12. e. Merencanakan perubahan  Mengimplementasikan perubahan  Mengevaluasi perubahanf. Menstabilkan perubahan yang sudah di buat
  13. 13. II. Motivasia. Defenisi motivasi Motivasi dari bahasa latin movere artinya menimbulkan pergerakan. Motivasi adalah kekuatan psikologis yang menggerakkan seseorang kearah beberapa tindakan (Haggard, 1989). Suatu kesediaan peserta didik menerima pembelajaran dengan kesiapan sebagai bukti diri motivasi (Redman, 1993). Motivasi merupakan hasil factor external dan internal dan bukan hasil manipulasi external saja ( Kort, 1987). Pendidikan kesehatan dilandasi oleh motivasi dengan mengubah 3 faktor penentu prilaku yaitu sikap, pengaruh social, dan kemampuan lewat komunikasi ( Kok, dkk, 1990). Perawat kerap berfokus pada tingkat motivasi sebagai indicator keterlibatan potensial dalam program pendidikan kesehatan. Ada hubungan signifikan antara motivasi dengan tindakan kepatuhan pada program kesehatan (Becker, dkk, 1974). Motivasi merupakan pergerakan untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan. Pendekatan oreventif memerlukan bujikan atau motivasi dari seseorang atas dasar bahwa pencegahan lebih baik dari pengobatan atau tindakan terkait dengan berkembangnya penyakit yang tidak diinginkan atau berakibat fatal. Peran perawat memfasilitasi pendekatan peserta dididk kearah tujuan yang diinginkan dan mencegah penundaan yang terlallu cepat. Waktu tidak menjadi bagian yang penting dalam motivasi. Teori motivasi maslow diintegrasi secara utuh pada individu dan hirarki tujuan, dia mengatakan tidak semua perilaku dimotivasi dan teori perilaku tidak sama dengan teori motivasi. Dengan prinsip hirarki kebutuhan dasar fisiologis, keamanan, cinta/kepemilikan, harga diri dan aktualisasi diri, ada keterlibatan antar kebutuhan yang berdasar tingkat kebutuhan. Ada individu sangat termotivasi sangat termotivasi yang lainnya memiliki motivasi yang lemah. Jika kebutuhan satu dipuaskan kebutuhan lainnya muncul. Motif sebagai pendorong tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dengan faktor lain yang disebut motivasi (Walgito, 2002). Motivasi adalah sekelompok pendorong yang berasal baik dari dalam individu maupun dari luar diri individu yang dapat menimbulkan perilaku bekerja dan juga dapat menentukan bentuk, tujuan, intensitas, dan lamanya perilaku bekerja (Pider, 2001). Menurut Robbins (2001),
  14. 14. motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. Tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu.b. Teori motivasi a. Teori Kebutuhan Abraham Maslow Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang alami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri apabila kebutuhan pegawai tersebut menunjukkan perilaku tidak puas. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya. Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Kita tidak mungkin memahami perilaku pegawai tanpa mengerti kebutuhannya. Hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow adalah sebagai berikut: 1) Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, bernafas, dan seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut juga kebutuhan yang paling dasar 2) Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup. 3) Kebutuhan untuk merasa memiliki, yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai. 4) Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan akan dihormati, dan dihargai oleh orang lain.
  15. 15. 5) Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide memberi penilaian dan kritik terhadap sesuatu (Mangkunegara, 2002). Hirarki kebutuhan Maslow dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 Hirarki Kebutuhan dari Maslow Aktualisasi diri Penghargaan Sosial Keamanan Fisiologis Sumber : (Robbins, 2003) Gambar tersebut menunjukkan individu bergerak naik mengikuti anak- anak tangga hirarki. Dari titik pandang motivasi, teori itu mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhan yang pernah dipenuhi secara lengkap, suatu kebutuhan yang dipuaskan secara cukup banyak (substansial) tidak lagi memotivasi. Jadi jika anda ingin memotivasi seseorang, menurut Maslow, anda perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah orang itu dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan diatas tingkat itu (Robbins, 2003).
  16. 16. b. Teori Kebutuhan McClelland David McClelland dalam Thoha (2002) mengemukakan ada tiga macam kebutuhan manusia, yaitu sebagai berikut: 1) Need for Achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. 2) Need for Affiliation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, dan tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. 3) Need for Power, yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain.Teori kebutuhan McClelland dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.2 Memasangkan Peraih Prestasi dan Pekerjaan Tanggungjawab pribadi Peraih prestasi lebih Umpan balik menyukai pekerjaan yang menawarkan Resiko sedang Sumber : (Robbins, 2003) Seperti ditunjukkan dalam gambar 2.2, individu dengan kebutuhan tinggi untukberprestasi lebih menyukai situasi pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi, umpanbalik, dan suatu risiko dengan derajat menengah. Bila karakteristik ini berlaku, peraihprestasi tinggi akan sangat termotivasi (Robbins, 2003). c. Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) Teori ERG adalah teori motivasi yang menyatakan bahwa orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tentang ekxistensi (Existence, kebutuhan
  17. 17. mendasar dari Maslow), kebutuhan keterkaitan (Relatedness, kebutuhan hubungan antar pribadi), dan kebutuhan pertumbuhan (Growth, kebutuhan akan kreativitas pribadi, atau pengaruh produktif). Teori ERG menyatakan bahwa kalau kebutuhan yang lebih tinggi mengalami kekecewaan, kebutuhan yang rendah akan kembali walaupun sudah terpuaskan (Nursalam, 2002).d. Teori Motivasi Dua Faktor Dikembangkan oleh Herzberg dalam Nursalam (2002) yang meyakini bahwa karyawan dapat dimotivasi oleh pekerjaannya sendiri dan didalamnya terdapat kepentingan yang disesuaikan dengan tujuan organisasi. Dari penelitiannya Herzberg menyimpulkan bahwa ketidakpuasan kerja dan kepuasan kerja dalam bekerja muncul dari dua set yang berbeda. Menurut teori ini yang dimaksud dua faktor adalah faktor motivasional dan faktor hygiene. Faktor motivasional adalah hal-hal pendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dari dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor higiene atau faktor pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang bersumber dari luar diri seseorang, misalnya dari organisasi, tetapi turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan karyawannya. Menurut Herzberg yang tergolong sebagai faktor intrinsik atau faktor motivasional adalah: pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kecepatan bertumbuh, kemajuan dalam karir, pengakuan orang lain. Sedangkan faktor ekstrinsik atau faktor higiene adalah: status pekerjaan, hubungan-hubungan antar pribadi, keamanan kerja atau keselamatan kerja, kondisi kerja, sistem pengawasan, sistem imbalan jasa (Swanburg, 2000).e. Teori Keadilan Teori keadilan didasarkan pada asumsi bahwa faktor utama dalam motivasi pekerjaan adalah evaluasi individu atau keadilan dari penghargaan
  18. 18. yang diterima. Individu akan termotivasi kalau mereka mengalami kepuasan yang mereka terima dari upaya dalam promosi dan dengan usaha yang mereka gunakan (Nursalam, 2002). Teori ini menjelaskan bahwa motivasi merupakan fungsi dari keadilan yang didasarkan hasil (out put) dan wages (pendapatan). Keadilan yang sederhana adalah menerima pendapatan sesuai dengan usahanya. Jika bekerja keras, pendapatannya tinggi. Sebaliknya jika bekerja malas,pendapatannya rendah (Arep, 2004).f. Teori Harapan Setiap individu memiliki harapan usaha kinerja. Harapan tersebut menunjukkan persepsi individu mengenai sulitnya mencapai perilaku tertentu dan mengenai kemungkinan tercapainya perilaku tersebut. Menurut Gibson dalam Siswanto (2007), prinsip utama dari teori harapan meliputi hal-hal berikut: 1) P= F (M X A). Kinerja (P) adalah fungsi (F) perkalian antara motivasi (M), yakni kekuatan dan Ability (A) atau kemampuan. 2) M= F (V1 X E). Motivasi (M) adalah fungsi (F) perkalian antara Valensi tingkat satu (V1) dan Expectancy (E) atau harapan bahwa perilaku tertentu akan diikuti oleh suatu hasil tingkat pertama. Apabila harapan tersebut rendah maka motivasinya kecil. Demikian pula apabila valensi dari suatu perolehan tersebut nol, nilai mutlak atau variasi dari besarnya harapan untuk menyelesaikannya tidak akan memiliki pengaruh sama sekali. 3) V1= (V1 X I). Valensi yang berhubungan dengan berbagai macam hasil tingkat satu (V1) merupakan fungsi (F) perkalian antara jumlah valensi yang melihat pada semua hasil tingkat kedua (V2) dan Instrumentalitas (I) atau pertautan antara pencapaian perolehan tingkat pertama dengan
  19. 19. pencapaian perolehan tingkat pertama dengan pencapaian perolehan tingkat kedua.Deskripsi dari prinsip di atas meliputi hal-hal berikut:a. Kemampuan (ability) menunjukkan potnsi individu untuk melaksanakn tugas atau pekerjaan. Kemampuan tersebut berhubungan dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki individu untuk melaksanakan pekerjaan.b. Kekuatan (force) dimaksudkan sebagai motivasi. Maksud utama teori harapan adalah menilai besar dan arah semua kekuatan yang mempengaruhi individu.c. Valensi (valance) berhubungan dengan preferensi hasil sebagaimana yang dilihat individu. Suatu hasil memiliki valensi positif apabila dipilih, dan memiliki valensi negatif apabila tidak dipilih, serta memiliki valensi nol apabila individu acuh tak acuh memperolehnya.d. Pertautan (instrumentality) adalah persepsi individu bahwa hasil tingkat pertama akan dihubungkan dengan tingkat kedua.e. Harapan (expectancy) berhubungan dengan pendapat mengenai kemungkinan subjektif bahwa perilaku tertentu akan diikuti oleh hasil tertentu.f. Hasil tingkat pertama dan tingkat kedua. Hasil tingkat pertama yang timbul dari perilaku adalah hasil yang berhubungan dengan pelaksanaan perkerjaan. Termasuk hasil tingkat pertama adalah produktivitas, kamangkiran, kualitas atas produktivitas, dan pergantian. Hasiltingkat kedua adalah ganjaran yang mungkin ditimbulkan oleh hasil tingkat pertama. Termasuk hasil tingkat kedua adalah kenaikan gaji, promosi, penerimaan atau penolakan oleh kelompok, dan sebagainya.
  20. 20. Teori ini juga menyatakan cara memilih dan bertindak dari berbagai alternatif tingkah laku, berdasarkan harapannya apakah ada keuntungan yang diperoleh dari tiap tingkah laku (Nursalam, 2002). g. Teori Penguatan Ahli psikologi B.F Skinner dan teman-temannya dalam Nursalam (2002) menunjukkan bagaimana konsekwensi tingkah laku di masa lampau yang mempengaruhi tindakan pada masa depan dalam proses belajar klinis. Proses ini dapat dinyatakan sebagai berikut: rangsangan adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu terhadapnya, yang disebut respon. Respon adalah tindakan atau perilaku yang muncul akibat rangsangan. Tindakan perilaku yang dilakukan seseorang pasti akan menimbulkan konsekwensi yang nantinya membuat seseorang untuk merencanakan masa depan. Teori Penguatan dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.3 Teori Penguatan Rangsangan Respon Konsekwensi Respon masa depanSumber : (Nursalam, 2002). Menurut teori penguatan, seseorang termotivasi kalau dia memberikan respon pada rangsangan dalam pola tingkah laku konsisten sepanjang waktu. c. Tujuan Motivasi Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya
  21. 21. untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, makin jelas pula bagaimana tindakan motivasi itu dilakukan. Setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi.d. Prinsip Motivasi Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja pegawai: i. Prinsip Partisipasi Dalam upaya memotivasi klien, perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh petugas. ii. Prinsip Komunikasi Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, klien akan lebih mudah dimotivasi. iii. Prinsip Mengakui Andil Klien Petugas kesehatan mengakui bahwa klien mempunyai andil didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, klien akan lebih mudah dimotivasi . iv. Prinsip Pendelegasian Wewenang Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai atau bawahan untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan tehadap pekerjaan yang dilakukannya akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimipin.
  22. 22. v. Prinsip Memberi Perhatian Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan, akan memotivasi pegawai klien apa yang diharapkan oleh pemimpin (Mangkunegara, 2002).e. Unsur penggerak Motivasi Motivasi akan ditentukan oleh motivatornya. Motivator yang dimaksud adalah penggerak motivasi sehingga menimbulkan pengaruh perilaku individu yang bersangkutan. Suharno Sahir (2006) mengemukakan unsur-unsur penggerak motivasi sebagai berikut: a. Prestasi atau Achievement Seseorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai suatu kebutuhan atau needs dapat mendorongya mencapai sasaran. g. Penghargaan atau Recognation Penghargaan atau Recognation atas suatu prestasi yang telah dicapai oleh seseorang merupakan motivator yang kuat. Pengakuan atas suatu prestasi akan memberikan kepuasan batin yang lebih tinggi daripada penghargaan dalam bentuk materi atau hadiah. Penghargaan dalam bentuk piagam penghargaan atau medali dapat menjadikan motivator yang lebh kuat dibandingkan dengan hadiah berupa barang atau uang. h. Tantangan atau Challenge Adanya tantangan yang dihadapi, merupakan motivator kuat bagi manusia untuk mengatasinya. i. Tanggung jawab atau Responsibility
  23. 23. Adanya rasa ikut memiliki akan menimbulkan motivasi untuk ikut merasa tanggung jawab.j. Pengembangan atau Development Pengembangan kemampuan seseorang baik dari pengalaman kerja atau kesempatan untuk maju dapat merupakan motivator kuat bagi tenaga kerja untuk bekerja.k. Rasa ikut terlibat atau Involvement Rasa ikut terlibat dalam suatu proses pengambilan keputusan dapat dimasukkandalam manajemen perusahaan, hal ini merupakan motivator yang cukup kuat untuktenaga kerja.
  24. 24. III. Kemitraana. Defenisi Definisi Kemitraan (partnership) pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Kemitraan adalah hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat).b. Unsur-unsur kemitraan adalah : Unsur-unsur kemitraan adalah : Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.c. Dasar Kemitraan adalah : Dasar Kemitraan adalah : Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan, Saling mempercayai dan saling menghormati Tujuan yang jelas dan terukur Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang laind. Prinsip-prinsip Kemitraan adalah: Prinsip-prinsip Kemitraan adalah: Persamaan atau equality, Keterbukaan atau transparancy dan Saling menguntungkan atau mutual benefit.e. Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri 3 tahap yaitu: : Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri 3 tahap yaitu:  tahap pertama adalah kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri,  tahap kedua kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah,  tahap ketiga adalah membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor. lintas bidang dan lintas organisasi yang mencakup : Unsur pemerintah, Unsur swasta atau dunia usaha, Unsur LSM dan organisasi masa Unsur organisasi profesi.f. Lima prinsip kemitraan yaitu(WHO) : Lima prinsip kemitraan yaitu
  25. 25.  (WHO) Policy-makers (pengambil kebijakan)  Health managers  Healthprofessionals  Academic institutions  Communities institutionsg. Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. : Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.h. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan : Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan “Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi semua pihak”. Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan masalah lain, seperti masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan, dll.i. Tujuan Kemitraan : Tujuan Kemitraan Tujuan umum : Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya. Tujuan khusus : Meningkatkan saling pengertian; Meningkatkan saling percaya; Meningkatkan saling memerlukan; Meningkatkan rasa kedekatan; Membuka peluang untuk saling membantu; Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan; Meningkatkan rasa saling menghargai;j. Hasil yang diharapkan : Hasil yang diharapkan : Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan.k. Pelaku Kemitraan : Pelaku Kemitraan : Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain-lain, khususnya swasta.l. Ada 3 prinsip dalam membangun kemitraan, yaitu : Ada 3 prinsip dalam membangun kemitraan, yaitu : kesetaraan, dalam arti tidak ada atas bawah (hubungan vertikal), tetapi sama tingkatnya (horizontal); keterbukaan dan saling menguntungkan.
  26. 26. m. Ada 7 saling yang perlu diperhatikan, yaitu : Ada 7 saling yang perlu diperhatikan, yaitu : saling memahami kedudukan, tugas dan fungsi (kaitan dengan struktur); saling memahami kemampuan masing-masing (kapasitas unit/organisasi); saling menghubungi secara proaktif (linkage); saling mendekati, bukan hanya secara fisik tetapi juga pikiran dan perasaan (empati, proximity); saling terbuka, dalam arti kesediaan untuk dibantu dan membantu (opennes); saling mendorong/mendukung kegiatan (synergy); dan saling menghargai kenyataan masing-masing (reward).n. Ada 6 langkah Kemitraan harmonis : Ada 6 langkah Kemitraan harmonis ; o penjajagan/persiapan, o penyamaan persepsi, o pengaturan peran, o komunikasi intensif, o melakukan kegiatan, dan o melakukan pemantauan & penilaian.o. Keanggotaan dalam Kemitraan : Keanggotaan dalam Kemitraan Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif. Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif. Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program kesehatan). Dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada.p. Indikator Keberhasilan : Indikator Keberhasilan Indikator input : Jumlah mitra yang menjadi anggota. Indikator proses :Kontribusi mitra dalam jaringan kemitraan, jumlah pertemuan yang diselenggarakan, jumlah dan jenis kegiatan bersama yang dilakukan, keberlangsungan kemitraan yang dijalankan. Indikator output : Jumlah produk yang dihasilkan, percepatan upaya yang dilakukan, efektivitas dan efisiensi upaya yang diselenggarakan.q. Tujuan Tujuan umum : Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya.
  27. 27. Tujuan khusus :1. Meningkatkan saling pengertian;2. Meningkatkan saling percaya;3. Meningkatkan saling memerlukan;4. Meningkatkan rasa kedekatan;5. Membuka peluang untuk saling membantu;6. Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan;7. Meningkatkan rasa saling menghargai;Hasil yang diharapkan :Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan.
  28. 28. IV. Kolaborasia. KONSEP KOLABORASI DALAM PROMOSI KESEHATAN  Menurut heritage kolaborasi adalah bekerja bersam khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran.  Menurut gray, kolaborasi sebagai proses berfikir dimana pihak yang terlibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap apa yang dilakukan.  Menurut American Medical Association (AMA) 1994, kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbagai nila-nilai dan saling mengakui serta menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat (www.nursingword.org/readroom).  Kolaborasi adalah suatu proses praktisi keperawatan atau praktek klinik bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek professional keperawatan, dengan pengawasan dan supervise sebagai pemberi petunjuk pengembangan kerjasama atau mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu Negara dimana pelayanan diberikan. Perawat dan dokter merencanakan dan mempraktekkan bersama sebagai kolega. Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan kompak dalam mencapai tujuan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggungjawab, komunikasi, otonomi, dan koordinasi seperti skema dibawah ini.b. Manfaat dalam melakukan kolaborasi Seorang praktisi kesehatan akan melakukan kolaborasi dalam melakukan promosi kesehatan. Dengan melakukan kolaborasi akan diperoleh kemudahan seperti sumber yang lebih akurat dan dapat lebih menarik klien. Misalnya dengan melakukan promosi kesehatan tentang bahaya mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan kolesterol dengan mengundang Ahli gizi atau Dokter. Selain itu, pelaksana promkes dimudahkan dalam sarana dan prasarana serta akses untuk melakukan kolaborasi. Contohnya, pemerintah membuat iklan layanan masyarakat mengenai bahaya kanker leher rahim yang ditayangkan dimedia elektronik dan cetak. Sehingga promosi kesehatan yang dilakukan akan lebih berhasil dan efektif.c. Hambatan dalam melakukan kolaborasi Kolaborasi bukan merupakan hal yang mudah, sehingga dalam pelaksanaannya akan mengalami hambatan-hambatan. Hambatan yang kemungkinan ada pada suatu kolaborasi antara lain :
  29. 29. a. Kurangnya komitmen dari perilaku kolaborasi sehingga tidak solid dalam pelaksanaannya, perbedaan pandangan. b. Kurangnya keahlian yang sesuai c. Kurangnya tukar menukar pikiran maupun pendapat dan tujuan yang telah didapat d. Keluarnya partner ditengah proses promosi kesehatan yang sedang dilakukan. Kolaborasi dilakukan dengan dasar suka sama suka, dan pada dasarnya memang kolaborasi ini membutuhkan sumbangsih dan peran dari semua pihak agar usaha promosi kesehatan dapat tercapai sesuai tujuan yang diharapkan, semakin banyak pihak yang masuk dan berkolaborasi akan menambah nformasi dan memudahkan usaha promosi kesehatan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggungjawab, komunikasi, otonomi, dan koordinasi seperti skema dibawah ini. Comunications Autonomi Responsibilitycommonpurpose Effectif Cooperation Collaboration Coordination Assertivenes Mutuality
  30. 30. Kerjasama adalah menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk memeriksabeberapa alternative, pendapat, dan perubahan kepercayaan.Asertifitas, penting ketika individu dalam tim mendukung pendapat mereka dengankeyakinan. Tindakan asertife menjamin bahwa pendapatnya benar-benar di dengar danconsensus untuk dicapai. Tanggungjawab mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil consensus danharus terlibat dalam pelaksanaannya.Komunikasi, bahwa setiap anggota bertanggungjawab untuk membagi informasi pentingmengenai perawatan pasien dan issue yang relevan untuk membuat keputusan klinis.Autonomi, mencakup kemandirian anggota tim dalam batas kompetensinya.Koordinasi, efesiensi organisasi yang dibutuhkan dalam perawatan pasien, mengurangiduplikasi dan menjamin orang yang berkualifikasi dalam menyelesaikan permasalahan. Kepercayaan adalah konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa rasa percayakerjasama tidak aka nada, asertif menjadi ancaman, cenderung menghindar daritanggungjawab, terganggunya komunikasi, autonomi akan ditekan dan koordinasi tidak akanterjadi.Elemen kunci kolaborasi dalam kerjasama tim multi disipliner dapat digunakan untukmencapai tujuan kolaborasi tim:1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian unik professional.2. Produktifitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya.3. Meningkatnya profesionalisme kepuasan kerja dan loyalitas4. Meningkatnya kohesifitas antar professional5. Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai serta memahami orang lainTerwujudnya suatu kolaborasi tergantung dari beberapa criteria yaitu :a. Adanya rasa saling percaya dan menghormatib. Saling memahami dan menerima keilmuan masing-masingc. Memiliki citra diri yang positifd. Memiliki kematangan professional yang setarae. Mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan
  31. 31. f. Keinginan untuk bernegoisasi Kerjasama mencerminkan proses koordinasi pekerjaan agar tujuan buat target yangtelah ditentukan dapat dicapai. Selain itu, mengguanakan catatan klien terintegrasi dapatmerupakan suatu alat untuk berkomunikasi antar profesi secara formal tentang asuhanklien.Kolaborasi dapat berjalan baik jika :1. Semua profesi mempunyai visi dan misi yang sama2. Masing-masing profesi mengetahui batas-batas dari pekerjaannya3. Anggota profesi dapat bertukar informasi dengan baik4. Masing-masing profesi mengakui keahlian dari profesi lain yang tergabung dalam timModel praktek kolaborasi1. Interaksi Perawat – Dokter, dalam persetujuan praktek2. Kolaborasi perawat – dokter, dalam memberikan pelayanan3. Tim interdisiplin atau komite
  32. 32. Kesimpulan Pemberdayaan masyarakat merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan yangbertujuan untuk memandirikan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkanstatus kesehatannya menjadi lebih baik dengan menggunakan prinsip pemberdayaandimana petugas kesehatan berperan untuk memfasilitasi masyarakat dalam meningkatkanpengetahuan, kemauan dan kemampuannya untuk memlihara dan meningkatkan statuskesehatannnya. John P Elder (et. Al. 1994) untuk berperilaku sehat dibutuhkan tiga hal yaitu:pengetahuan yang tepat, motivasi, dan ketrampilan untuk berperilaku sehat. Jika seseorangtidak berketarampilan untuk memunculkan perilaku sehat maka disebut sebagai skilldeficits. Namun jika seseorang memiliki pengetahuan tetapi tidak memiliki motivasi makadisebutsebagai performance deficits. Untuk menimbulkan motivasi maka teknik yangpopular dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan modifikasi perilaku dari alirankaum behavioristik. Pemberian penguat (reinforcement) untuk meningkatkan perilaku, ataupemberian sanksi untuk menurunkan frekuensi perilaku. Masalah lain yang menyebabkan seseorang sulit termotivasi untuk berperilaku sehatadalah karena perubahan perilaku dari yang tidak sehat menjadi sehat tidak menimbulkandampak langsung secara cepat, bahkan mungkin tidak berdampak apa-apa terhadappenyakitnya, namun hanya mencegah agar tidak menjadi lebih buruk lagi. Lebih jauh lagi,faktor lingkungandapat memper untuk berperilaku hidup sehat sulit motivasi seseorang jikalingkungan keluarga tidak mendukung perilaku tersebut.Wawancara untuk meningkatkan motivasi (motivational interview)Tujuan utama dari interview motivasional ini adalah untuk mendorong individumengekplorasi dan menemukan alas an yang sebelumnya belum pernah dipikirkan untukmengubah perilakunya. Dua pertanyaan kunci dalam interview ini adalaha. Apa yang menurut anda baik dari perilaku yang anda lakukan sekarang?b. Apa yang tidak baik dari perilaku ini?Jika jawaban klien ternyata ia merasa banyak hal negative daripada positif dari perilaku ini,maka konselormasuk kearah informasi dan teknik untuk mengubah perilaku. Namun, jikadari wawancara ini ternyata klien merasa lebih banyak positif daripada negatifnya, maka
  33. 33. dapat disimpulkan bahwa klienbelum termotivasi untuk mengubah perilakunya. Atau dalamtranstfeoritical model disebut masih dalam fase prokontemplasi. Masalah kesehatan adalah tanggung jawab bersama setiapindividu,masyarakat,pemerintah dan swasta.Pemerintah dalam hal ini DepartemenKesehatan memang merupakan sektor yang paling depan dalam bertanggungjawab(leading sector) ,namun dalam mengimplementasikan kebijakan dan program,intervensi harus bersama-sama dengan sektor lain ,baik pemerintah maupunswasta.Dengan kata lain sektor kesehatan seyogyanya merupakan pemrakarsa dalammenjalin kerjasama atau kemitraan (partnership) dengan sektor-sektor terkait.(Notoadjmojo,2003) Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong ataukerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. MenurutNotoatmodjo (2003), Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugasatau tujuan tertentu. Sedangkan menurut Depkes (2006) dalam promosi kesehatan Onlinemengemukana bahwa Kemitraan adalah hubungan (kerjsama) antara dua pihak ataulebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikanmanfaat). Seorang praktisi kesehatan akan melakukan kolaborasi dalam melakukanpromosi kesehatan. Dengan melakukan kolaborasi akan diperoleh kemudahan sepertisumber yang lebih akurat dan dapat lebih menarik klien. Misalnya dengan melakukanpromosi kesehatan tentang bahaya mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungankolesterol dengan mengundang Ahli gizi atau Dokter.Selain itu, pelaksana promkes dimudahkan dalam sarana dan prasarana serta aksesuntuk melakukan kolaborasi. Contohnya, pemerintah membuat iklan layananmasyarakat mengenai bahaya kanker leher rahim yang ditayangkan dimediaelektronik dan cetak. Sehingga promosi kesehatan yang dilakukan akan lebih berhasildan efektif.
  34. 34. TUGAS KELOMPOK HG III Mata Kuliah PROMOSI KESEHATAN( Konsep Perubahan, Kolaborasi, Kemitraan dan Motivasi ) DI SUSUN OLEH :  ASEP HIDAYAT  DEWI NURLELA  ENDANG MURWANINGSIH  HARFAH MASADY  IDHAM MUCHLIS  MARIYATUL KIPTIYAH PROGRAM EKSTENSI 2011 FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA

×