BAB I                                PENDAHULUANA. Latar Belakang    Dalam Sistem Kesehatan Nasional disebutkan bahwa dera...
setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawahumur 5 tahun (± 40 juta kejadian). Sedangka...
tertarik untuk melakukan penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikansebagai salah satu bahan pertimbangan da...
c. Bagi instansi terkait penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran   penggunaan oralit sebagai penanganan awal d...
BAB II                            TINJAUAN PUSTAKAA. Perilaku Kesehatan      Perilaku manusia merupakan hasil dari segala ...
penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya), maupun   aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan de...
kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga perilaku di atas ini diukur dari:8       a.pengetahuan peserta didik terha...
tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responder sudah lebih baik lagi   d) Trial, dimana subjek mulai mencoba melak...
sehingga ibu tersebut berniat akan memberikan oralit kepada anaknya untuk      mencegah anaknya dehidrasi. Seperti halnya ...
1. Persepsi (Perception)      Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan      diambil2. Resp...
b)   Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan     beberapa jam pada suhu kamar makanan akan tercemar...
besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dananak bila frekuensinya lebih dari 3 kali...
1. Kesehatan     lingkungan    yang    masih   belum    memadai,     keadaan   gizi,       kependudukan, pendidikan, keada...
b) Menggunakan botol susu, penggunakan botol ini memudahkan pencernaan oleh     kuman , karena botol susah dibersihkan.c) ...
2.       Gangguan sekresi         Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi         pe...
-   Villi-villi mengalami atrofi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan    dengan baik.-   Cairan makanan yang ti...
-   CAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi dan       menghambat cairan usus di bagian apikal...
HCl, tripsin, pankreatin, lipase dsb) yang menyebabkan makanan tidak dapat           dicerna dan diabsorpsi dengan sempurn...
-   Pemberian petunjuk yang efektif bagi ibu dan anak serta keluarganya tentang        upaya rehidrasi oral di rumah, tand...
 Kondisi tidak membaik dalam 48 jamf. PencegahanTujuh intervensi pencegahan diare yang efektif yaitu:101.      Pemberian ...
Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang hilangbersama tinja. Dengan mengganti cairan tubuh ter...
pada neonates terutama BBLR belum sanggup meninggikan konsentrasi urin          untuk menahan air jika diperlukan (pada ke...
(sodium pump). Dengan masuknya Na+ secara aktif ke dalam peredaran darah,       tekanan osmotic meningkat dan memperbanyak...
Takaran umum oralit, 1 bungkus oralit 200 cc dimasukkan ke dalam 1 gelasbelimbing air diaduk sampai larut. Oralit diberika...
Untuk menghindari terbukanya luka-luka usus atau perdarahan, hendaknyapenderita diare beristirahat total. Perlu juga melak...
lingkungan yaitu banyaknya daerah pemukiman penduduk dan kurangnyapengetahuan ibu dalam menjaga kesehatan anak. Berdasarka...
terakhir (1971-1990), tatalaksana diare telah mengalami perubahan yangradikal Sebagai tatalaksana awal penyakit diare rehi...
tentang pemakaian oralit/pengganti oralit sebagai penanganan awal diare pada bulanagustus 2010 yang bersifat cross section...
E. Definisi Operasional   1. Perilaku adalah respons atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang      berasal dari...
Sikap ibu adalah sikap terhadap pemberian oralit bila anak diare:a. Bila anak diare diberikan oralit’b. Oralit hanya berfu...
c. Mendpatkan oralit darimana     d. Bila tidak ada oralit apakah diberikan air the, air gula garam, air kelapa,         a...
5. Diambil kesimpulan dari hasil tabulasi tersebut sebagai gambaran        pengetahuan, sikap dan tindakan ibu bayi dan ba...
5.   Pengumpulan Data6.   Pengolahan Data7.   Analisis Data8.   Penyusunan Laporan                          33
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

J anstar ketikan.docx 111111

3,597

Published on

Published in: Business
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,597
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "J anstar ketikan.docx 111111"

  1. 1. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Dalam Sistem Kesehatan Nasional disebutkan bahwa derajat kesehatandipengaruhi 4 faktor, yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktorketurunan. Menurut Blum yang paling besar pengaruhnya terhadap kesehatan adalahlingkungan, kemudian perilaku dan pelayanan kesehatan, dan yang terkecil faktorketurunan.1,2 Lingkungan yang diharapkan dalam Visi Indonesia Sehat 2010 adalahlingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan yangbebas polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan,pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan, sertaterwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong dalam memeliharanilai – nilai budaya bangsa.3 Sanitasi yang tidak baik, kekurangan air, kualitas air yang tidak memenuhi bakumutu, pembuangan sampah yang tidak sesuai syarat kesehatan dan infestasi lalatmasih merupakan hal yang biasa dijumpai. Semua ini menimbulkan dampak negatifterhadap kesehatan, berperan langsung dalam tingginya angka kesakitan yangdisebabkan sanitasi yang buruk seperti diare. Angka kesakitan penyakit diare diIndonesia sekitar 200-400 kejadian diantara 1000 penduduk setiap tahunnya. Dengandemikian di Indonesia diperkirakan ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian 1
  2. 2. setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawahumur 5 tahun (± 40 juta kejadian). Sedangkan angka kejadian diare di propinsiKalimantan Selatan yaitu 19,5 per 1000 penduduk tahun 2006.1,4,5 Di wilayah kerja puskesmas Landasan Ulin angka kejadian diare masih cukuptinggi, dari bulan januari sampai juni ditemukan rata-rata 58 kasus tiap bulannya dantermasuk dalam 10 (sepuluh) besar penyakit terbanyak. Bahaya utama diare ialahdehidrasi, yang tidak jarang dapat mengakibatkan kematian terutama pada bayi danbalita. Hal ini sebenarnya mudah dicegah dan diobati. 6 Menurut WHO cara yang efektif untuk mengatasi diare adalah denganmenggunakan oralit. Pemberian oralit berguna untuk mencegah dehidrasi padapenderita diare akut yang belum mengalami dehidrasi, pemberian oralit juga bergunauntuk mengobati dehidrasi.7 Banyak masyarakat tidak sadar untuk menggunakan oralit, hal ini dapatdisebabkan karena oralit tidak langsung dirasakan manfaatnya untuk menghentikandiare dan malah dapat menyebabkan muntah. Sehingga keadaan ini dapatmempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat dalam penggunaaan oralit sebagaipenanganan awal diare.7 Banyak faktor yang menyebabkan ketidaktahuan penggunaan oralit dimasyarakat sebagai penanganan dehidrasi diare, sehingga perlu dilakukan penelitianmengenai tingkat perilaku ibu bayi dan balita terhadap penggunaan oralit sebagaipenanganan awal diare. Di wilayah kerja Puskesmas Landasan Ulin penggunaanoralit di masyarakat masih belum diketahui secara pasti, sehingga penulis merasa 2
  3. 3. tertarik untuk melakukan penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikansebagai salah satu bahan pertimbangan dan perbandingan dalam upaya peningkatanpenanggulangan masalah diare pada bayi dan balita dalam keluarga.B. Rumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:Bagaimana tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan ibu bayi balita yang berkunjungdi poli anak puskesmas landasan ulin tentang pemakaian oralit/pengganti oralitsebagai penanganan awal diare pada bulan agustus 2010.C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dantindakan ibu bayi balita yang berkunjung di poli anak puskesmas landasan ulintentang pemakaian oralit/pengganti oralit sebagai penanganan awal diare pada bulanagustus 2010.D. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan didapatkan manfaaat sebagai berikut: a. Bagi responden diharapkan mampu menambah pengetahuan dan dapat menggunakan oralit/pengganti oralit sebagai penanganan awal terhadap diare. b. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat menjadi sarana untuk penerapan ilmu yang telah didapatkan. 3
  4. 4. c. Bagi instansi terkait penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran penggunaan oralit sebagai penanganan awal diare di masyarakat sehingga dapat menjadi masukan bagi pelaksana program kesehatan selanjutnya khususnya penangana diare. 4
  5. 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. Perilaku Kesehatan Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman sertainteraksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentukpengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakanrespon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luarmaupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan:berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuaidengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentukpengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yangmenyangkut pengetahuan, dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yangberhubungan dengan kesehatan. 8 Respons atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi,dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice).Sedangkan stimulus atau rangsangan terdiri dari tiga unsur pokok, yakni: sakitdan penyakit, sistem pelayanan kesehatan dan lingkungan. Dengan demikiansecara lebih terinci perilaku kesehatan itu mencakup: 11. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsi 5
  6. 6. penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya), maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit, yakni: a. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behavior) b. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior),2. Perilaku terhadap makanan (nutrition behaviour), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan.3. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan, adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Perilaku ini antara lain mencakup : a.Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk di dalamnya komponen, manfaat, dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan. b.Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut segi- segi hygiene pemeliharaan teknik dan penggunaannya. c.Perilaku sehubungan dengan limbah, balk limbah padat maupun limbah cair. Termasuk di dalamnya sistem pembuangan sampah dan air limbah yang sehat. Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan, dan untuk 6
  7. 7. kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga perilaku di atas ini diukur dari:8 a.pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge) b.sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan ( attitude) c.praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan mated pendidikan yang diberikan (practice)a. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Karena itu dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Notoatmodjo mengungkapkan pendapat Rogers bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:1 a) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) b) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai terbentuk c) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus 7
  8. 8. tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responder sudah lebih baik lagi d) Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus e) Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan. kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Namur demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut di atas. Apabila penerimaan perilaku melalui proses seperti ini, dimana disadari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting), dan sebaliknya.1b. Sikap (Attitude) Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Dalam penentuan sikap ini, pengetahuan, berfikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya, seorang ibu telah mendengar penyakit diare (penyebabnya, akibatnya, pencegahannya, dan sebagainya). Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berfikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena diare. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja 8
  9. 9. sehingga ibu tersebut berniat akan memberikan oralit kepada anaknya untuk mencegah anaknya dehidrasi. Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni:8 1) Menerima (Receiving) Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek 2) Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Lepas jawaban dan pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut 3) Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu masalah. 4) Bertanggung jawab (Responsible) Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaiamana pendapat atau pernyataan responder terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.(Sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju)c. Praktek atau Tindakan (Practice)Tingkat-tingkat praktek : 8 9
  10. 10. 1. Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil2. Respon Terpimpin (Guided Respons) Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh.3. Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis,atau suatu ide sudah merupakan suatu kebiasaan, maka is sudah mencapaipraktek tingkat tiga.4. Adaptasi (Adaptation) Merupakan praktek yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut. Beberapa perilaku dapat menyebabkan meningkatkan resiko terjadinyadiare, perilaku tersebut antara, lain :9a) Tidak memberikan ASI ( Air Susi Ibu ) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan pada bayi yang tidak diberi ASI resiko untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar.a) Menggunakan botol susu, penggunakan botol ini memudahkan pencernaan oleh kuman , karena botol susah dibersihkan. 10
  11. 11. b) Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar makanan akan tercemar clan kuman akan berkembang biak.b) Menggunakan air minum yang tercemar. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan di rumah. Pencemaran dirumah dapat tedadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.c) Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.d) Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Sering beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya padahal sesungguhnyaB. Diarea. Definisi Diare atau penyakit diare berasal dari kata diarroia (bahasa Yunani) yangberarti mengalir terus, merupakan suatu pengeluaran tinja encer lebih dari 3 kalisehari, dengan/atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja. 10,11 Menurut WHO, diare adalah berak cair lebih dari 3 kali dalam 24 jam.Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dancair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang airbesar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi buang air 11
  12. 12. besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dananak bila frekuensinya lebih dari 3 kali.12b. Etiologi Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar,tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkanoleh infeksi dan keracunan. Untuk mengenal penyebab diare dapat dilihat dari skemaberikut :10 Gambar 1. Skema etiologi penyakit diare 10c. Epidemiologi Sampai saat ini penyakit diare masih merupakan masalah masyarakat diIndonesia. Di kota Banjarbaru, penyakit diare pun masih merupakan masalahkesehatan yang utama. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya penyakitdiare di Banjarbaru, diantaranya:5 12
  13. 13. 1. Kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keadaan penyakit diare ini. 2. Secara geografis wilayah Banjarbaru berada dalam daerah tropis dengan kelembaban udara tinggi sehingga cukup baik untuk berkembang biaknya penyakit menular utamanya yang berbasis lingkungan. Pada musim kemarau air sungai tercemar air laut sehingga berbagai jenis penyakit saluran pencernaan semakin meningkat seperi diare, thypoid dan disentri. 3. Tidak sedikit warga yang masih menggunakan air sungai sebagai salah satu bahan baku air bersih dan sebagai air minum utama yang dari segi kualitas tentu sangat riskan untuk kesehatan. 4. Banyaknya pedagang kaki lima yang sering tidak kita ketahui bagaimana hygiene sanitasinya. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik danmeningkatkan resiko terjadinya diare, perilaku tersebut antara lain:9a) Tidak memberikan ASI ( Air Susi Ibu ) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan pada bayi yang tidak diberi ASI resiko untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. 13
  14. 14. b) Menggunakan botol susu, penggunakan botol ini memudahkan pencernaan oleh kuman , karena botol susah dibersihkan.c) Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar makanan akan tercemar dan kuman akan berkembang biak.d) Menggunakan air minum yang tercemar. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan di rumah. Perncemaran dirumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.e) Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.f) Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Sering beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar sementara itu tinja binatang dapat menyebabkan infeksi pada manusia.d. Patogenesis Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:121. Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbullah diare. 14
  15. 15. 2. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.3. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.Diare akut Patogenesis diare akut oleh infeksi, terutama oleh virus dan bakteri, dapat digambarkan sebagai berikut : 9,13 Patogenesis Diare Yang Disebabkan Oleh Virus - Penyakit diare pada anak biasanya sering disebabkan oleh rotavirus. Virus ini menyebabkan 40-60% dari kasus diare pada bayi dan anak. - Virus masuk kedalam tubuh bersama makanan dan minuman - Virus sampai kedalam sel epitel usus halus dan menyebabkan infeksi serta jonjot-jonjot (villi) usus halus. - Sel-sel epitel usus halus yang rusak diganti oleh enterosit yang baru yang berbentuk kuboid atau sel epitel gepeng yang belum matang. Sehingga fungsinya masih belum baik. 15
  16. 16. - Villi-villi mengalami atrofi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik.- Cairan makanan yang tidak terserap dan tercerna akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus.- Terjadi hiperperistaltik usus sehingga cairan beserta makanan yang tidak terserap terdorong keluar usus melalui anus, sehingga terjadi diare.Patogenesis Penyakit Diare Yang Disebabkan Oleh Bakteri- Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui perantaraan makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut.- Di dalam lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung, tetapi apabila jumlah bakteri cukup banyak ada bakteri yang dapat lolos sampai ke dalam duodenum.- Didalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya mencapai 100.000.000 koloni atau lebih per mililiter cairan usus halus.- Dengan memproduksi enzim mucinase bakkteri berhasil mencairkan lapisan lendir dengan menutupi permukaan sel epitel usus, sehingga bakteri dapat masuk kedalam membran (dinding) sel epitel- Didalam membran bakteri mengeluarkan toksin (racun) yang disebut sub unit A dan sub unit B- Sub unit B akan melekat di dalam membran dan sub unit A akan bersentuhan dengan membran sel, serta mengeluarkan CAMP (Cyclic Adenosine Monophosphate) 16
  17. 17. - CAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi dan menghambat cairan usus di bagian apikal villi, tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel usus. - Sebagai akibat adanya ransangan sekresi cairan yang berlebihan tersebut, volume cairan di dalam lumen usus akan bertambah banyak. Cairan ini akan menyebabkan dinding usus akan mengakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk mengalirkan cairan kebawah atau ke usus besar.Diare kronik Patogenesis diare kronik lebih rumit karena terdapat beberapa faktor yang satu sama lain saling mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut antara lain:4 - Infeksi bakteri, misalnya ETEC (Entero Toxigenic E. Coli) yang sudah resisten terhadap obat. Juga diare kronik dapat terjadi kalau ada pertumbuhan bakteri berlipat ganda (over growth) dari bakteri non patogen, seperti : Pseudomonas, Klebsiella dsb. - Infeksi parasit : terutama E. Histolytica, Giardia lamblia, Trichuris trichiura, Candida, dsb - KKP (Kekurangan Kalori Protein) Pada penderita KKP terdapat atrofi semua organ termasuk atrofi mukosa usus halus, mukosa lambung, hepar dan pankreas. Akibatnya terjadi defisiensi enzim yang dikeluarkan oleh organ-organ tersebut (laktase, maltase, sukrase, 17
  18. 18. HCl, tripsin, pankreatin, lipase dsb) yang menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan sempurna. Makanan yang tidak diabsorpsi tersebut akan menyebabkan tekanan osmotik koloid di dalam lumen usus meningkat yang menyebabkan terjadinya diare osmotik. Selain itu juga akan menyebabkan over growth bakteri yang akan menambah beratnya malabsorpsi dan infeksi. - Gangguan imunologik Usus merupakan organ utama dari daya pertahanana tubuh. Defisiensi dari Secretory Immunoglobulin A (SIgA) dan Cell Mediated Immunity (CMI) akan menyebabkan tubuh tidak mampu mengatasi infeksi dan infestasi parasit dalam usus. Akibatnya bakteri, virus, parasit dan jamur akan masuk ke dalam usus dan berkembang biak dengan leluasa sehingga terjadi over growth dengan akibat lebih lanjut berupa diare kronik dan malabsorpsi makanan.e. Penatalaksanaan WHO menetapkan 4 unsur utama dalam penanggulangan diare akut yaitu:5,14 - Pemberian cairan, berupa upaya rehidrasi oral (URO) untuk mencegah maupun mengobati dehidrasi. - Melanjutkan pemberian makanan seperti biasa, terutama ASI, selama diare dan dalam masa penyembuhan. - Tidak menggunakan antidiare, sementara antibiotik maupun antimikroba hanya untuk kasus tersangka kolera, disentri, atau terbukti giardiasis atau amubiasis. 18
  19. 19. - Pemberian petunjuk yang efektif bagi ibu dan anak serta keluarganya tentang upaya rehidrasi oral di rumah, tanda-tanda untuk merujuk dan cara mencegah diare di masa yang akan datang.Tatalaksana penderita diare di sarana kesehatan adalah :a. Rehidrasi oral dengan oralit.b. Memberikan cairan intravena dengan Ringer Laktat untuk penderita diare dengan dehidrasi berat dan tidak bisa minum.c. Penggunaan obat secara rasional.d. Nasihat tentang meneruskan pemberian makanan, minuman, rujukan dan pencegahan.Tatalaksana penderita diare di rumah adalah :a. Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga seperti : kuah sayur, air tajin, dan larutan gula garam. Bila ada berikan oralit.b. Meneruskan pemberian makanan lunak yang tidak merangsang selama diare serta makanan ekstra sesudah diare.c. Membawa penderita diare ke sarana kesehatan, bila :  Buang air besar makin sering dalam jumlah banyak  Muntah terus menerus  Rasa haus yang nyata  Tidak dapat minum/ makan  Demam yang tinggi  Ada darah dalam tinja 19
  20. 20.  Kondisi tidak membaik dalam 48 jamf. PencegahanTujuh intervensi pencegahan diare yang efektif yaitu:101. Pemberian ASI.2. Memperbaiki makanan sapihan.3. Menggunakan air bersih yang cukup banyak4. Mencuci tangan.5. Menggunakan jamban keluarga.6. Cara membuang tinja yang baik dan benar.7. Pemberian imunisasi campak.C. Oralit1. Definisi Oralit Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasidehidrasi. Oralit sudah dilengkapi denan elektrolit, sehingga dapat menggantielektrolit yang ikut hilang bersama cairan. Kandungan oralit yang utama adaahcampuran antara NaCl dengan gula (glukosa atau sukrosa). Fungsi oralit yang utamaadalah menjaga keseimbangan jumlah cairan dan mineral dalam tubuh. Oralitmerupakan satu-satunya obat yang dianjurkan untuk mengatasi diare yangmenyebabkan banyak kehilangan cairan tubuh.4 20
  21. 21. Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang hilangbersama tinja. Dengan mengganti cairan tubuh tersebut, terjadinya dehidrasi dapatterhindarkan.152. Rehidrasi Oral Menggunakan Oralit Sudah lama para ahli mendambakan adanya cairan oral yang dapat dipakaidalam menghadapi diare akut. Saat ini tersedia cairan yang disebut oralit yang dapatdipakai untuk “mengobati” penderita diare dengan dehidrasi ringan dan sedang, danmencegah terjadinya dehidrasi berat. Juga oralit ini bila diberikan bersama-samadengan cairan intravena ternyata dapat menurunkan mortalitas diare dengan dehidrasiberat. Selain khasiat tadi, rehidrasi oral yang diberikan sedini mungkin sewaktudiare, mempunyai keuntungan lain, yaitu: penyediaan dan pemberian mudah, cepatdapat diberikan, harganya murah, tidak perlu steril, dapat diberikan oleh tenagaparamedic maupun ibu rumah tangga, dan dengan pemberian oralit per oralkebutuhan cairan intravena dapat dikurangi sampai 50%. 163. Pemberian Oralit pada Prematuritas dan Neonatus Secara teoritis memang pemberian oralit pada prematuritas dan neonates harusberhati-hati, karena :16 1. Sampai umur 2-3 minggu, daya konsentrasi ginjal kurang baik jika dibandingkan dengan fungsi ginjal pada anak besar. 2. Relative diperlukan lebih banyak air untuk mengeluarkan jumlah elektrolit yang sama jika dibandingkan dengan faal ginjal pada anak besar. Juga ginjal 21
  22. 22. pada neonates terutama BBLR belum sanggup meninggikan konsentrasi urin untuk menahan air jika diperlukan (pada keadaan dehidrasi) 3. Keseimbangan asam basa sukar dipertahankan karena produksi amoniak oleh ginjal belum cukup 4. Bila ada kesukaran pernafasan, mudah terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan akibat mudah terjadi dehidrasi dan asidosis. Walaupun pemberian oralit relatif aman, pemberian oralit pada prematuritas dan neonates tetap harus hati-hati. Untuk prematuritas dan neonates, oralit diberikan selang-seling dengan ASI.164. Patofisiologi Rehidrasi Oral Dasar terapi rehidrasi oral adalah pada keadaan diare ternyata fungsi absorpsiusus halus masih baik. Penyerapan air dan elektrolit pada usus halus terjadi melalui 2cara:16 1. Transport aktif : Penyerapan Na+ dan glukosa secara aktif dilaksanakan oleh enterosit yang terdapat pada mukosa usus halus. Enterosit menyerap 1 molekul glukosa dan Na+, bersama-sama dengan absorpsi glukosa dan Na+ ini secara aktif juga terabsopsi air. Glukosa masuk kedalam ruang interseluler dan subseluler, kemudian masuk ke dalam peredaran darah.Na+ masuk ke dalam sirkulasi berdasarkan proses enzimatik Na-K-ATPase yang terdapat pada basal dan lateral enterosit. Proses ini dikenal dengan istilah pompa Na 22
  23. 23. (sodium pump). Dengan masuknya Na+ secara aktif ke dalam peredaran darah, tekanan osmotic meningkat dan memperbanyak terjadinya penyerapan air. 2. Transport pasif : terjadi karena adanya perbedaan tekanan osmotic. Setelah Na+ masuk ke dalam sirkulasi melalui mekanisme pompa Na, tekanan osmotic plasma meningkat dan akan menarik air, glukosa dan elektrolit secara pasif.5. Oralit : Terapi Utama Dehidrasi Pada Diare Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengancara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi.Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengancairan yang memadai melalui oral atau parenteral.17 Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin,air susu ibu, air the encer, sup wortel, air perasan buah dan larutan gula garam (LGG).Kekurangan pada LGG ini adalah tidak memiliki sumber ion kalium dan bufferseperti pada oralit. Pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahantimbulnya dehidrasi. Sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknyadiberi minum oralit.176. Cara Pembuatan dan Pemberian Oralit 23
  24. 24. Takaran umum oralit, 1 bungkus oralit 200 cc dimasukkan ke dalam 1 gelasbelimbing air diaduk sampai larut. Oralit diberikan ke penderita sedikit demi sedikitdengan sendok, jangan sekaligus banyak. Jika penderita muntah, berikan 1 sendokoralit, tunggu 5-10 menit, lanjutkan lagi sedikit demi sedikit. Usahakan jumlah yangdiberikan 10-15 cc/kgBB/jam. Jumlah ini sesuai dengan kecepatan pengosonganlambung.15 Cara yang benar dalam pemberian larutan oralit, yaitu dengan diteguk sedikitdemi sedikit, 2-3 teguk lalu berhenti tiga menit. Dengan demikian kita memberikankesempatan oralit diserap oleh usus untuk menggantikan garam dan cairan yanghilang dalam feses. Prosedur ini harus diulang terus menerus sampai satu gelashabis.15 Bila diare hebat masih berlanjut, minum oralit harus diteuskan sampaibeberapa bungkus (3-5) sehari. Dengan cara minum yang benar, oralit biasanya akanmenghentikan diare dengan cepat dan efisien.157. Efek Samping Efek samping hanya dapat terjadi pada takaran yang terlalu tinggi atau pekatyang mengakibatkan rasa kantuk, lidah bengkak, denyut jantung cepat, kulitmemerah.4 24
  25. 25. Untuk menghindari terbukanya luka-luka usus atau perdarahan, hendaknyapenderita diare beristirahat total. Perlu juga melakukan diet makanan yangmerangsang (asam, pedas) serta makanan yang tidak mudah dicerna (berserat tinggi)dan berlemak.48. Perilaku Ibu Bayi dan Balita Terhadap Oralit Peranan ibu dalam pemberian oralit untuk mencegah dehidrasi dan kematiankarena diare sangat mutlak dan menentukan. Untuk meningkatkan pengetahuan, sikapdan perilaku masyarakat mengenai pemakaian oralit pada diare, dokter puskesmasmemegang peranan yang paling penting.17 BAB III LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPA. Landasan Teori Penyakit diare di Kalimantan Selatan masuk dalam golongan penyakitterbesar yang angka kejadiannya cukup tinggi. Keadaan ini didukung oleh faktor 25
  26. 26. lingkungan yaitu banyaknya daerah pemukiman penduduk dan kurangnyapengetahuan ibu dalam menjaga kesehatan anak. Berdasarkan data DinasKesehatan Kalimantan Selatan, insidance rate diare tahun 2006 yaitu19,5.per 1000 penduduk. Penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas LandasanUlin bulan Januari sampai Juni 2010 masih cukup tinggi, rata-rata 58 kasus tiapbulan dan termasuk dalam 10 (sepuluh) besar penyakit terbanyak.6 Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman sertainteraksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentukpengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakanrespon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luarmaupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan:berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuaidengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentukpengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yangmenyangkut pengetahuan, dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yangberhubungan dengan kesehatan. 8 Morbiditas dan mortalitas penyakit diare walaupun sudah banyak turun,tetapi merupakan penyebab terbanyak kematian. Lima juta anak di duniameningkat tiap tahun, 125.000 di antaranya pada anak balita di Indonesia. Diantara yang sembuh tidak sedikit yang menjadi diare persisten dan gizi kurang.Penyebab utama kematian adalah tatalaksana yang, salah. Selama dua dasawarsa 26
  27. 27. terakhir (1971-1990), tatalaksana diare telah mengalami perubahan yangradikal Sebagai tatalaksana awal penyakit diare rehidrasi oral lebihdiutamakan. tindakan tersebut ditujukan untuk mencegahh dehidrasi ataukekurangan cairan, yang dapat berakibat fatal. Di Indonesia rehidrasi oralmenggunakan minimum yang mengandung elektrolit dan gula yang dikenalsebagai oralit atau bubuk garam diare. 13 BAB IV METODE PENELITIANA. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif terhadap tingkat pengetahuan, sikapdan tindakan ibu bayi balita yang berkunjung di poli anak puskesmas landasan ulin 27
  28. 28. tentang pemakaian oralit/pengganti oralit sebagai penanganan awal diare pada bulanagustus 2010 yang bersifat cross sectional.B. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah ibu bayi dan balita yang berkunjung di poli anakpuskesmas landasan ulin pada bulan Agustus 2010. Sampel penelitian ini adalah ibubayi dan balita yang datang ke Puskesmas Landasan Ulin periode 16 Agustus-21Agustus 2010.C. Instrumen Penelitian Alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner.D. Variabel Penelitian Varibel yang diamati pada penelitian ini meliputi:- Tingkat pengetahuan ibu bayi dan balita tentang penggunaan oralit/pengganti oralit- Tingkat sikap ibu bayi dan balita tentang penggunaan oralit/pengganti oralit- Tingkat tindakan ibu bayi dan balita tentang penggunaan oralit/pengganti oralit Selain itu disertakan profil responden yang meliputi:- Umur- Pendidikan- Pekerjaan 28
  29. 29. E. Definisi Operasional 1. Perilaku adalah respons atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari dalam dirinya. Respons ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan : berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan Tindakan). 2. Ibu bayi dan balita adalah wanita yang memiliki bayi dan balita. 3. Oralit adalah cairan rehidrasi oral dengan formula lengkap yang mengandung Kalium Klorida 0,3 g, Natrium Clorida 0,7 g, Natrium Sitrat 0,58 g, Glukosa anhidrat 4,0 g. 4. Pengganti oralit adalah cairan rehidrasi oral tidak lengkap, misalnya larutan gula garam, air tajin, air kelapa dan lain-lain. 5. Pengetahuan ibu adalah pengetahuan tentang penggunaan : a. Oralit sebagai penanganan awal pada anak diare b. Kegunaan oralit c. Oralit dapat diperoleh dimana saja selain di puskesmas d. Cairan apa yang dapat menggantikan oralit e. Cara pengolahan oralit yang benar f. Cara pemberian oralit Berikut adalah skoring untuk pengetahun: No. Pengetahuan Skoring 1. Baik 9-12 2. Cukup baik 5-8 3. Kurang baik 0-4 29
  30. 30. Sikap ibu adalah sikap terhadap pemberian oralit bila anak diare:a. Bila anak diare diberikan oralit’b. Oralit hanya berfungsi sebagai pengganti cairanc. Selain di puskesmas, tempat lain seperti posyandu, took obat, balai pengobatann sedia oralit.d. Air gula garam, air the, air kelapa, air sop dapat digunakan sebagai pengganti oralit.e. 1 b ungkus oralit hanya boleh dilarutkan dalam satu gelas air matang (± 200cc).f. Tiap BAB anak harus diberikan oralit sebanyak anak mau. Berikut adalah skoring untuk sikap: No. Sikap Skoring 1. Baik 4-6 2. Kurang 0-3 baik Tindakan ibu adalah tindakan terhadap pemberian orait bila anak diare:a. Ibu memberikan oralit bila anak diareb. Apakah pada awal diare memberikan obat selain oralit 30
  31. 31. c. Mendpatkan oralit darimana d. Bila tidak ada oralit apakah diberikan air the, air gula garam, air kelapa, air sop. e. Pengolahan oralit apakah benar f. Tiap BAB anak diberi oralit sebanyak anak mau Berikut adalah skoring untuk tindakan: No. Tindakan Skoring 1. Baik 3-5 2. Kurang 0-2 baikF. Teknik Pengumpulan Data 1. Dibuat kuesioner yang berisi identitas, tingkat pengetahuan dan tingkat sikap dan tingkat tindakan mengenai penggunaan oralit pada bayi dan balita diare. 2. Validitas kuesioner diuji. 3. Kuesioner yang telah valid ditanyakan kepada responden. 4. Hasil kuesioner ditabulasikan berdasarkan umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pengetahuan, tingkat sikap, dan tingkat tindakan. 31
  32. 32. 5. Diambil kesimpulan dari hasil tabulasi tersebut sebagai gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan ibu bayi dan balita terhadap pengguanaan oralit sebagai penanganan awal diare.G. Cara Analisis Data Data yang telah dikumpulkan dikelompokkan berdasarkan pendidikan, umurdan pengetahuan ibu bayi – balita mengenai oralit. Setelah itu data ditabulasi dandianalisis secara deskriptif.H. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Landasan Ulin. Penelitian inidimulai pada tanggal 16 Agustus 2010 – 21 Agustus 2010. KEGIATAN MINGGU KE 1 2 3 41. Penyusunan Proposal2. Penyusunan Kuisioner3. Persiapan Lapangan4. Uji Coba Kuisioner 32
  33. 33. 5. Pengumpulan Data6. Pengolahan Data7. Analisis Data8. Penyusunan Laporan 33

×