• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Reformasi pendidikan dan greening kurikulum
 

Reformasi pendidikan dan greening kurikulum

on

  • 3,824 views

 

Statistics

Views

Total Views
3,824
Views on SlideShare
3,824
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
58
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Reformasi pendidikan dan greening kurikulum Reformasi pendidikan dan greening kurikulum Document Transcript

    • Reformasi Pendidikan dan Greening Kurikulum<br />OPINI <br />Muhammad Iqbal<br />|  18 Februari 2010  |  04:30<br />441<br />7<br />Belum ada chart.<br />Belum ada chart.<br />Nihil.<br />Pendidikan adalah pencetak generasi penerus bangsa sehingga negara yang tidak menjalankan sistem pendidikan dengan baik, akan menghasilkan negara yang tidak baik pula. Maju atau mundurnya suatu negara bisa dilihat dari kualitas pendidikan yang dijalankan oleh negara tersebut. Negara maju menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan yang sama dengan kebutuhan lainnya seperti sandang, pangan dan papan dan juga menjadikan pendidikan sebagai senjata untuk membombardirkan semua masalah-masalah yang dihadapi dalam era milenium dan membuat negara tersebut lebih matang dalam menyambut pengaruh globalisasi yang sedang merangkul dan menjajah dunia.<br />Katakanlah negara seperti Amerika. Amerika sudah lama mendisain sebuah program yang dicanangkan oleh President George W. Bush yaitu yang bernama “The No Child Left Behind Act” (NCLB) yaitu tahun 2001. Idenya gampang saja, semua masyarakat Amerika harus mendapatkan kualitas pendidikan yang layak, baik itu si kaya, si miskin, bandel, Afro-Amerika, gelandangan, tanpa terkecuali semua berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang layak dan memadai.<br />Dan lagi kalau kita menilik ke bagian Eropa ada negara Finlandia yang patut bangga dengan kualitas pendidikan mereka, karena mereka mempunyai kualitas pendidikan nomor satu di dunia, berdasarkan hasil survey International yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang melakukan test yang dikenal dengan nama PISA (Program for International Student Assessment) mengukur kemampuan siswa dibidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya lagi, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Sebaliknya sangat mengejutkan, dengan test yang sama, Indonesia hanya memperoleh peringkat ke 50 dari 57 negara, yang menilai seberapa baik kesiapan siswa berumur 15 tahun dalam menghadapi kehidupan kedepan.<br />Lagi-lagi menurut majalah Asia Week yang melakukan penelitian terhadap Universitas terbaik di Asia, dalam majalah ini disebutkan bahwa tidak satu pun perguruan tinggi di Indonesia masuk dalam 20 terbaik. UI berada di peringkat 61 untuk kategori universitas multidisplin, UGM diperingkat 68, UNDIP diperingkat 77, UNAIR diperingkat 75, sedangkan ITB diperingkat 21 untuk universitas sains dan teknologi<br />Bukti-bukti diatas masih belum cukup untuk mengenang kecacatan pendidikan Indonesia, belum lagi tercorengnya sistem yang buruk, masalah penyaluran dana bantuan yang banyak penyelewangan, tinggi nya biaya pendidikan, merebaknya anak putus sekolah, kurikulum yang gonta-ganti, masalah perdebatan penyelenggaraan UN, pelecehan oleh kaum guru terhadap siswa.<br />Melihat banyaknya kepincangan pendidikan Indonesia sekarang ini, sepertinya masih banyak hal yang harus kita benahi lebih sunguh-sunguh mengenai ini. Saya kira, ini tidak hanya masalah salah satu pihak saja, bukan hanya pemerintah, bukan guru saja, dan bukan juga masyarakat maupun siswa saja. Tetapi ini masalah kita semua, mari kita lihat secara keseluruhan, semua mempunyai peran penting dalam memperbaiki pendidikan Indonesia kedepan untuk lebih baik. Hanya saja kita butuh suatu “Synchronizing Action” antara pihak-pihak yang bersangkutan sehingga tujuan dan harapan bisa tercapai dengan bagus kedepan. Hanya orang-orang malas lah yang tidak mau berkembang dan berubah, dan semua orang setuju Indonesia bukan negara yang malas, yang hanya duduk, diam tidak memikirkan masalah ini, resolusi ada di depan kita semua, tinggal kita taking action bersama-sama.<br />Berbicara ketimpangan pendidikan Indonesia bisa saja dilihat dari kualitas sistem pendidikan yang dijalankan, bisa ditilik dari kualitas guru yang mengajar, atau pun kualitas kurikulum yang sedang di jalankan sekarang. Sekarang ini, penulis lebih tertarik membicarakan kurikulum pendidikan yang sering mendapatkan kritikan pedas dari masyarakat maupun ahli pendidikan. Karena penulis pikir, kurikulum adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan pendidikan karena menyangkut bahan ajar yang diajarkan guru ke siswa, sehingga apa yang terjadi kedepan, setelah siswa menamatkan sekolah bisa mempergunakan ilmunya untuk jenjang yang lebih tinggi atau juga bisa dipergunakan saat terjun ke masyarakat.<br />Sekarang ini, Indonesia adalah negara yang kecanduan gonta-ganti kurikulum. Pembentukan kurikulum Indonesia sudah mulai berkembang semenjak merdekanya Indonesia yaitu tahun 1947 yang dikenal dengan Rencana Pelajaran 1947 yang lebih menekankan pendidikan watak , kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.<br />Kemudian 5 tahun selanjutnya, Indonesia berani merubah kurikulum yang di sebut dengan Rencana Pelajaran Terurai 1952, dimana kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran, silabus mata pelajarannya sangat jelas sekali. Satu guru mengajar satu mata pelajaran. Selanjutnya, kira-kira pada tahun 1968, tepatnya 16 tahun kemudian lahir lagi Kurikulum 1968 yang menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran; kelompok pembinaan Pancasila, Pengetahun dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9.<br />Selanjutnya 7 tahun kemudian Indonesia menelurkan Kurikulum 1975 yang menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Zaman ini dikenal istilah “Satuan Pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.<br />Beriring waktu berjalan, kurikulum pendidikan Indonesia juga terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan itu harus dan penting lantaran pendidikan mengikuti perkembangan zaman otomatis yang bahan ajaran kesiswa juga harus mengikuti keadaan yang ada, namun sering kali ada perdebatan dan pertanyaan dari berbagai kalangan karena perubahan kurikulum ini sangat mengandung resiko disebabkan dampaknya sangat besar meluas ke masyarakat.<br />Setelah Kurikulum 1975 muncul kemudian Kurikulum 1984 yang menekankan kepada process skill approach. Kurikulum ini sering disebut ” Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, menggelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Metode ini disebut Cara Belajar Siswa AKtif ( CBSA) atau Student Active Learning ( SAL).<br />Dan 10 tahun ke depan terbitlah Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999. Kurikulum 1994 menekankan lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu menyatukan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Dan kehadiran Suplemen Kurikulum 1999, lebih pada menambal sejumlah materi.<br />Kemudian ada lagi Kurikulum 2004. Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran dijabarkan berdasarkan kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sedihnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.<br />Pada tahun 2006 munculah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Pelajaran (KTSP). Kemunculan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih terhambat disana-sini. Dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada.<br />Amerika sekarang lagi gencar-gencarnya menjalankan “Greening Kurikulum”, kurikulum yang alam, penghijauan dan berpikir natural. Banyak sekolah di Amerika sudah menjalankan kurikulum ini, sebagai contoh sekolah private yang berjenjang SMP di bagian California bernama Head-Royce School sudah hampir 3 tahun menggunakan Greening kurikulum. “Permasalahan yang banyak kita hadapai sekarang adalah kita tidak belajar hidup yang berkelanjutan (Sustainable living) dan mengapa tidak mengajar itu untuk anak-anak kita”, begitu kata kepala sekolahnya. Berangkat dari ide itu sekarang mereka sudah menjalankan proyek kurikulum ini hampir 3 tahun dengan memikirkan bagaimana mengurangi emisi gas buang dari polusi-polusi kendaraan bermotor, melakukan recycle bottle, menanam buah-buahan dan sayur-sayuran, dan kemudian siswa dianjurkan memperbanyak makan buah-buah organik untuk lebih sehat dan segar dalam menerima pelajaran.<br />Bukan kah kurikulum yang di gunakan Amerika sekarang yang bernama Greening Kurrikulum, adalah konsep kurikulum KTSP dan Kurikulum 1947, yang materi pelajarannya dihubungkan dengan lingkungan, kondisi dan kejadian sehari-hari. Dengan usaha yang keras, kita semua sekarang sedang melawan global warming yang semakin ganas. Mengapa kita tidak kembali ke alam untuk mengurangi efek global warming yang semakin hari semakin memburuk. Kembali ke alam dengan hidup lebih bersih, lebih sehat dan terjaga.<br />Kita juga yakin, pengaruh global warming tidak akan berkurang kalau kita sendiri tidak mengambil langkah pasti untuk hidup sehat, dengan lingkungan yang bersih. Bagaimana caranya? Ya awalnya mungkin dengan mengajak anak-anak bercocok tanam, membersihkan lingkungan, makan sayur dan buah-buahan, melakukan daur ulang botol-botol, dan bersepeda. Kesadaran harus dipupuk semenjak dini sehingga besarnya nanti terbiasa dengan hidup sehat.<br />Bagi saya apapun kurikulum yang diajarkan kepada siswa bukan suatu masalah besar, tetapi saya lebih menekankan bagaimana siswa itu bisa aware dengan lingkungan, bisa sadar dengan kondisi lingkungannya, sosialnya juga. Pertanyaanya sekarang, jikalau siswa hidup dilingkungan yang ber arus globalisasi apakah anak-anak harus di ajarkan teknologi untuk mengantispasi pengarus globalisasi? Jikalau anak sedang hidup dalam ancaman climate change, rusaknya lingkungan, apakah anak harus diajarkan untuk kembali memahami lingkungan? Dan jikalau anak dibesarkan dalam lingkungan perang dan kesenjangan hidup antar umat beragama, apakah mereka perlu diajarkan pemahaman theology yang mendalam. Mungkin, ada sebagain dari Anda akan menjawab itu memang sebuah keharusan karena kalau anak diajarkan dengan apa yang tidak didepan mereka itu sama saja mengajarkan kesia-sia kepada mereka.<br />Hidup anak kita selalu dikelilingi oleh kejadian-kejadian yang berada di sekelilingi mereka, mari ajarkan mereka untuk bisa melihat keadaan sekitar, apa yang bisa mereka perbuat untuk lingkungan hidup maupun lingkungan social mereka. Mari Ajak mereka menyelesaikan masalah dan mencari solusi bersama-sama.<br />Sebarkan Tu<br />Arti Kurikulum<br />Pengertian kurikulum dalam arti yang luas menyangkut seluruh aspek dalam sebuah proses belajar-mengajar yang terjadi dalam upaya pendidikan yang diterapkan dalam sebuah lembaga (keluarga, sekolah, gereja, masyarakat dlsb) untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan kurikulum dalam pengertian yang  sempit adalah bagian dari keseluruhan aspek dalam sebuah proses belajar-mengajar yang diharapkan tertuang secara tertulis dan dipergunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh sebuiah lembaga.<br />“… suatu program pendidikan yang termasuk kurikulum dan kegiatan kokurikulum yang merangkumi semua pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, unsure kebudayaan dan kepercayaan untuk membantu perkembangan seseorang murid dengan sepenuhnya dari segi jasmani, rohani, mental dan emosi serta untuk menanam dan mempertingkatkan nilai moral yang diingini dan untuk menyampaikan pengetahuan”<br />Akta Pendidikan 1996<br />[Peraturan-peraturan (Kurikulum Kebangsaan) Pendidikan 1997]<br />Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.<br />Depertemen pendidikan nasional<br />(UNDANG–UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL)<br />Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi.<br />(Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No.232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa)<br />Curriculum as, ‘All the learning which is planned andguided by the school, whether it is carried on ingroups or individually, inside or outside the school. Ways of approaching curriculum theory and practice:<br />Curriculum as a body of knowledge to be transmitted.<br />Curriculum as an attempt to achieve certain ends in students – product.<br />Curriculum as process.<br />(quoted in Kelly 1983: 10; see also, Kelly 1999)<br />Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.<br />(Beane dkk 1986)<br />‘Kurikulum’ dalam bahasa Latin mempunyai kata akar ‘curere’. Kata ini bermaksud ‘laluan’ atau ‘jejak’. Secara yang lebih luas pula maksudnya ialah ‘jurusan’ seperti dalam rangkai kata jurusan peperangan’. Perkataan’kurikulum’ dalam bahasa Inggris mengandungi pengertian ‘jelmaan’ atau ‘metamorfosis’. Paduan makna kedua-dua bahasa ini menghasilkan makna bahawa perkataan kurikuluin’ ialah ‘laluan dan satu peringkat ke satu peningkat’. Perluasan makna ini memberikan pengertian ‘kurikulum’ dalam perbendaharaan kata pendidikan bahasa Inggeris sebagai jurusan pengajian yang diikuti di sekolah.<br />(Kliebard, 1982)<br />Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out7 comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.Perencanaan tersebut disusun secara terstrukturuntuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.<br />(Grayson 197)<br />Kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.<br />(Harsono 2005)<br />Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran<br />(Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan)<br />Kurikulum adalah serangkaian mata ajar dan pengalaman belajar yang mempunyai tujuan tertentu, yang diajarkan dengan cara tertentu dan kemudian dilakukan evaluasi<br />(Badan Standardisasi Nasional SNI 19-7057-2004 tentang<br />Kurikulum pelatihan hiperkes dan keselamatankerja bagi dokter perusahaan)<br />Kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.<br />(John Dewey 1902;5 dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’)<br />Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.<br />(Frank Bobbit 1918, dalam buku ‘The Curriculum’)<br />Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah<br />(Hilda Taba ;1962 dalam bukunya “Curriculum Development Theory and Practice)<br />Menurut Hasan Kurikulum bersifat fleksibilitas mengandung dua posisi. Pada posisi pertama berhubungan dengan fleksibilitas sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat. Dengan demikian, pada posisi teoritik yang harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai rencana. Pengertian kedua yaitu sebagai kaidah pengembang kurikulum. Terdapatnya posisi pengembang ini karena adanya perubahan pada pemikiran kependidikan atau pelatihan.<br /> <br />Perkembangan Kurikulum<br />Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, serta yang terbaru adalah kurikulum 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Berikut perkembangan kurikulum pendidikan jasmani.<br /> <br />1.Rencana Pelajaran 1947<br />Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.  Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran.<br /> <br />2. Rencana Pelajaran Terurai 1952<br />Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.<br />3. Kurikulum 1968<br />Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.<br />4. Kurikulum 1975<br />Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif.  Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu.<br />Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.<br />5. Kurikulum 1984<br />Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).<br />Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.<br />6. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999<br />Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses.<br />Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.<br />7. Kurikulum 2004<br />Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.<br />Meski baru diujicobakan, di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum. (sumber: depdiknas.go.id)<br />8. KTSP 2006<br />Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.<br />Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.<br />Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:<br />Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.<br />Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.<br />Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.<br />Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.<br />Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.<br />Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Jasmani<br />Dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan membuat kebijakan-kebijakan baru guna meningkatkan pelaksanaan pendidikan jasmani. Kurikulum baru (1994) yang mencakup pendidikan jasmani bagi sekolah dasar dan menengah telah dibuat dan diputuskan. Demikian pula kurikulum baru bagi program Diploma II, dimana guru-guru sekolah dasar yang didalamnya terdapat mata kuliah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan telah dipersiapkan sebagai penyempurnaan kurikulum lama. Upaya pembaharuan kurikulum tersebut, seharusnya diikuti dengan upaya peningkatan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum dan pengadaan fasilitas pendukungnya.<br />Sayang, hingga dewasa ini usaha-usaha yang dilakukan guru pendidikan jasmani dan menyediakan fasilitas yang mendukung program-program pendidikan jasmani belum dilakukan secara optimum. Apabila kondisi seperti ini terjadi terus, maka dapat diperkirakan bahwa inovasi-inovasi kurikulum yang dilakukan tidak dapat direalisasikan dengan efektif. Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan tidak akan berarti, makalah para guru atau dosen yang melaksanakan kurikulum dalam kondisi yang kurang menguntungkan, baik dalam kemampuan mengajar maupun fasilitas yang mendukungnya. Mereka akhirnya melaksanakan tugas mengajar pendidikan jasmani cenderung secara rutin dan tradisional. Akibatnya, sering berbagai upaya inovasi yang telah dilancarkan, mengalami berbagai upaya inovasi yang telah dilancarkan, mengalami berbagai kendala dan hambatan. Untuk itu, jika implementasi kurikulum pendidikan jasmani harus bisa dicapai dan berhasil, maka harus ada keinginan yang besar untuk meningkatkan kemampuan guru dan menambah fasilitas yang sesuai.<br />Keefektifan pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani di sekolah pada beberapa tahun terakhir telah menjadi isu nasional yang menarik. Isu tersebut sering dibicarakan secara serius dalam forum diskusi atau seminar tingkat nasional oleh berbagai kalangan termasuk para pakar dan praktisi pendidikan jasmani. Berbagai saran dan rekomendasi sering diajukan dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pendidikan jasmani di sekolah-sekolah termasuk perbaikan kurikulum, peningkatan kemampuan guru, penyediaan lapangan dan fasilitasnya.<br />Sesungguhnya upaya untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pendidikan jasmani telah mendapat perhatian sebagaimana tertuang dalam amanat GBHN 1983 sebagai berikut:<br />Pendidikan jasmani dan olahraga perlu ditingkatkan dan di masyarakat sebagai cara pembinaan kesehatan jasmani dan rohani bagi setiap anggota masyarakat. Selanjutnya perlu ditingkatkan kemampuan prasarana dan sarana pendidikan jasmani dan olahraga, termasuk pendidik, pelatih dan penggeraknya, dan digalakkan gerakan untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat (Sumber, Yayasan Pelita, 1983:104).<br />Pada tahun 1983 itu juga Presiden Suharto mengamanatkan agar pendidikan jasmani di sekolah mulai Taman Kanak-Kanak sampai dengan Perguruan Tinggi perlu lebih digiatkan dan dikembangkan.<br />Kebijaksanaan telah jelas dan arah pengembangan pendidikan jasmani sesungguhnya telah jelas. Kini yang menjadi permasalahan pokok adalah seberapa jauh tingkat keberhasilan strategi dan pelaksanaan pembangunan pendidikan jasmani dan olahraga di masyarakat khususnya dalam pendidikan jasmani di setiap tingkat sekolah. Pertanyaan lebih lanjut, hal-hal apakah yang perlu diperhatikan untuk mendukung terciptanya pengajaran pendidikan jasmani yang efektif?<br />Pengajaran pendidikan jasmani yang efektif dalam kenyataan lebih dari sekedar mengembangkan keterampilan olahraga. Pengajaran tersebut pada hakikatnya merupakan proses sistematis yang diarahkan pada pengembangan  pribadi anak seutuhnya.<br />Sejarah pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia menunjukkan, bahwa aspek politik dari olahraga pada umumnya masih dominan. Bahkan dewasa ini, prestasi olahraga tetap dipandang sebagai “alat” untuk menunjukkan dan sekaligus mengingat  martabat bangsa, terutama di forum internasional. Akibatnya, perhatian yang begitu besar terhadap pencapaian prestasi masuk ke dalam kurikulum pendidikan jasmani. Isi kurikulum pendidikan jasmani misalnya, meskipun ada pilihan, mengarah ke penguasaan cabang olahraga.<br />Berkenaan hal di atas, tampaknya telah terjadi miskonsepsi pembinaan olahraga usia dini di Indonesia. Miskonsepsi itu bukan saja berkaitan dengan tujuan tetapi juga pelaksanaannya. Pembinaan olahraga usia dini dipahami sebagai fase pembinaan untuk mengenal dan menguasai suatu cabang olahraga dengan penekanan pada penguasaan keterampilan khusus, sebagai spesialisasi dalam rangka pencapaian prestasi.<br />Sebagai akibat terlalu mendewakan prestasi, pembinaan olah raga di kalangan anak usia muda disalah gunakan, dan bahkan dalam praktiknya sering bertentangan dengan norma-norma pendidikan. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan wajar, sering memperoleh perlakuan diluar batas kemampuannya. Sering anak dipaksa harus berlatih dengan beban yang berlebihan. Sering anak dipaksa harus berlatih dengan beban yang berlebihan. Kasus penggunaan obat terlarang pada anak usia dini dan pencurian umur dalam arena kejuaraan kelompok umur dalam arena kejuaraan kelompok umur merupakan pengalaman yang negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.<br />Idealnya, sesuai dengan pandangan hidup (filsafat) dan konsep pendidikan jasmani yang kita anut, pembinaan olahraga usia dini itu diarahkan pada pengenalan dan penguasaan keterampilan dasar suatu cabang olahraga yang dilengkapi dengan pengembangan keterampilan serta kemampuan fisik yang bersifat umum. Sementara itu, dalam konteks pendidikan jasmani, seperti pada kelas-kelas awal, penekanannya pada pengembangan keterampilan gerak secara menyeluruh.<br />Ditandai sebagai:Kurikulum, Kurikulum pendidikan jasmani, kurikulum penjas, Pendidikan jasmani, Penjas, Perkembangan kurikulum pendidikan jasmani <br />7 komentar<br />« Otot-otot Lengan<br />Ir. Soekarno »<br />