Pendidikan moral
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pendidikan moral

on

  • 4,792 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,792
Views on SlideShare
4,791
Embed Views
1

Actions

Likes
1
Downloads
122
Comments
0

1 Embed 1

http://jea1051.1bestarinet.net 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Pendidikan moral Pendidikan moral Document Transcript

  • PERAN PENDIDIKAN DALAM PEMBENTUKAN MORALITAS Oleh: Triyana, M.AgA. Pendahuluan Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional(SISDIKNAS), Bab II Pasal 4, dijelaskan bahwa: ”Pendidikan Nasional bertujuanmencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesiaseutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME danberbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmanidan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawabkemasyarakatan dan bangsa”1. Ini merupakan salah satu dasar dan tujuan daripendidikan nasional yang seharusnya menjadi acuan bangsa Indonesia. Fenomena yang kita saksikan bersama, pendidikan hingga kini masihbelum menunjukkan hasil yang diharapkan sesuai dengan landasan dan tujuandari pendidikan itu. Membentuk manusia yang cerdas yang diimbangi dengan nilaikeimanan, ketaqwaan dan berbudi pekerti luhur, belum dapat terwujud. Gejalakemerosotan nilai-nilai akhlak dan moral dikalangan masyarakat sudah mulailuntur dan meresahkan. Sikap saling tolong-menolong, kejujuran, keadilan dankasih sayang tinggal slogan belaka. Krisis akhlak pada elite politik terlihat dengan adanya penyelewengan,penindasan, saling menjegal atau adu domba, fitnah dan perbuatan maksiatlainnya. Pada lapisan masyarakat, krisis akhlak juga terlihat pada sebagian sikapmereka yang sangat mudah merampas hak orang lain, misalnya menjarah, main 1 Drs. Ary H. Gunawan, Kebijakan-Kebijakan Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1995, hal. 163. 1
  • hakim sendiri, melanggar peraturan tanpa merasa bersalah, mudah terpancingemosi, mudah diombang-ambingkan dan perbuatan lain yang merugikan oranglain atau diri sendiri. Kemerosotan nilai-nilai moral yang tadinya hanya menerpasebagian kecil elite politik dan sebagian masyarakat yang lebih tepatnya padaorang dewasa yang mempunyai kedudukan, jabatan, profesi dan kepentingan, kinitelah menjalar pada masyarakat kalangan pelajar. Banyaknya keluhan orang tua,guru, pendidik dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang keagamaanserta pengaduan masyarakat sosial umumnya, yang berkenaan dengan ulahsebagian pelajar yang sukar dikendalikan, nakal, sering bolos sekolah, tawuran,merokok, mabuk-mabukan dan lebih pilu lagi sudah memasuki dunia pornografi. Pada saat ini sudah menjadi kenyataan timbulnya kemerosotan nilai akhlakgenerasi muda atau kalangan pelajar, yang pada prinsipnya adalah karenamereka tidak mengenal agama, tidak diberikan pengertian agama yang cukup,sehingga sikap dan tindakan serta perbuatannya menjadi liar2. Adanya sikap,tindakan dan perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini bila dibiarkan terus,maka tak ayal lagi kalau generasi mendatang akan diliputi kegelapan danhancurnya tatanan perikehidupan umat manusia.B. Pembahasan1. Sebab Timbulnya Krisis Akhlak Adapun yang menjadi akar masalah penyebab timbulnya krisis akhlakdalam masyarakat cukup banyak, yang terpenting diantaranya adalah: 2 Drs. Moh. Saifulloh Al-Aziz, Milenium Menuju Masyarakat Madani, Terbit terang, Surabaya,2000, hal. 303. 2
  • Pertama, krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadapagama yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control)3.Selanjutnya alat pengontrol perpindahan kepada hukum dan masyarakat. Namunkarena hukum dan masyarakat juga sudah lemah, maka hilanglah seluruh alatkontrol. Akibatnya manusia dapat berbuat sesuka hati dalam melakukanpelanggaran tanpa ada yang menegur. Kedua, krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan olehorang tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif. Bahwa penanggungjawab pelaksanaan pendidikan di negara kita adalah keluarga, masyarakat danpemerintah4. Ketiga institusi pendidikan sudah terbawa oleh arus kehidupan yangmengutamakan materi tanpa diimbangi dengan pembinaan mental spiritual. Ketiga, krisis akhlak terjadi karena derasnya arus budaya hidupmaterialistik, hedonistik dan sekularistik. Derasnya arus budaya yang demikiandidukung oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntunganmaterial dengan memanfaatkan para remaja tanpa memperhatikan dampaknyabagi kerusakan akhlak para generasi penerus bangsa. Keempat, krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yangsungguh-sungguh dari pemerintah. Kekuasaan, dana, tekhnologi, sumber dayamanusia, peluang dan sebagainya yang dimiliki pemerintah belum banyakdigunakan untuk melakukan pembinaan akhlak bangsa. Hal yang demikiansemakin diperparah dengan ulah sebagian elite politik penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara yang 3 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA., Manajemene Pendidikan: Mengatasi Kelemahan PendidikanIslam di Indonesia, Kencana, Bogor, 2003, hal. 221. 4 Drs. H.M. Arifin M.Ed., Kapita Selekta Pendidikan, Umum dan Agama, CV. Toha Putra,Semarang, 1981, hal. 11. 3
  • tidak mendidik, sepeati adanya praktek korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN). Halyang demikian terjadi mengingat bangsa Indonesia masih menerapkan pola hiduppaternalistik.5 Fenomena yang kita saksikan memang benar, bahwa nilai-nilai akhlak danmoral yang berkembang kini telah jauh dari harapan dan sangatmengkhawatirkan. Sebagai kambing hitamnya sering kita menyalahkan duniapendidikan yang bertanggung-jawab atas semua yang terjadi. Rasanya memangada benarnya juga kalau dipikirkan secara mendalam, sebab kemerosotan nilai-nilai itu tak terlepas dari peran dunia pendidikan yang tugas salah satunya adalahmempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mendidik nilai-nilaimoral bangsa6. Belakangan ini, berbagai seminar digelar kalangan pendidik yang bertekadmencari solusi untuk mengatasi krisis akhlak. Pera pemikir pendidikanmenyerukan agar kecerdasan akal diikuti dengan kecerdasan moral, pendidikanagama. Pendidikan moral harus siap menghadapi tantangan global, pendidikanharus memberikan kontribusi yang nyata dalam mewujudkan masyarakat yangsemakin berbudaya (masyarakat madani)7. 5 Paternalistime adalah sistem kepemimpinan yang berdasarkan hubungan antara pemimpin denganyang dipimpin, hubungan antara seorang ayah dengan anaknya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT. Balai Pustaka, Jakarta, 1997, hal. 736. 6 Undang-Undang No. 2/89 Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas merumuskan tujuannya padaBab II, Pasal 4, yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Maksudnya yaitu manusia yangberiman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, disamping juga memiliki pengetahuandan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yanng mantap dan mandiri sertarasa tanggunngjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Lihat, Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, Kebijakan Pendidikan EraOtonomi Daerah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hal. 17. 7 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA., Op. Cit, hal. 219-220. 4
  • 2. Langkah yang ditempuh untuk mengatasi krisis moral Sejalan dengan sebab-sebab timbulnya krisis akhlak tersebut di atas, makacara untuk mengatasinya dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagaiberikut: Pertama, pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menetapkanpelaksanaan pendidikan agama, baik di rumah, sekolah maupun masyarakat. Halyang demikian diyakini, karena inti ajaran agama adalah akhlak yang mulia yangbertumpu pada keimanan kepada Tuhan dan keadilan sosial. Pengajaran agamahendaknya mendapat tempat yang teratur seksama, hingga cukup mendapatperhatian yang semestinya dengan tidak mengurangi kemerdekaan golongan-golongan yang hendak mengikuti kepercayaan yang dianutnya. Madrasah-madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya merupakan salah satu alat dansumber pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan beragama yang telahberurat dalam masyarakat umumnya, maka hendaklah mendapat perhatian danbantuan baik material ataupun dorongan spiritual dari pemerintah8. Kedua, dengan mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran.Hampir semua ahli pendidikan sepakat, bahwa pengajaran hanya berisikanpengalihan pengetahuan (transfer of knowladge), keterampilan dan pengalamanyang ditujukan untuk mencerdaskan akal dan memberikan keterampilan.9Sedangkan pendidikan tertuju kepada upaya membantu kepribadian, sikap danpola hidup yang berdasarkan nilai-nilai yang luhur. Pada setiap pengajaransesungguhnya terdapat pendidikan dan secara logika keduanya telah terjadiintegrasi yang penting. Pendidikan yang merupakan satu cara yang mapan untuk 8 Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-DasarPendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal. 374 9 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Op.Cit., hal. 224 5
  • memperkenalkan pelajar (learners) melalui pembelajaran dan telahmemperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk menerima danmengimplementasikan alternatif-alternatif baru untuk membimbing perkembanganmanusia10. Dengan integrasi antara pendidikan dan pengajaran diharapkanmemberikan kontribusi bagi perubahan nilai-nilai akhlak yang sesuai dengantujuan pendidikan dalam menyongsong hari esok yang lebih cerah. Ketiga, bahwa pendidikan akhlak bukan hanya menjadi tanggung jawabguru agama saja, melainkan tanggung-jawab seluruh guru bidang studi. Gurubidang studi lainnya juga harus ikut serta dalam membina akhlak para siswamelalui nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada seluruh bidang studi. Melekatnya nilai-nilai ajaran agama pada setiap mata pelajaran atau bidangstudi umum lainnya yang bukan pelajaran agama mempunyai nilai yang sangatpenting dalam upaya mengembangkan nilai keagamaan pada anak didik. Melaluimata pelajaran umum selain siswa dapat memperlajari substansi, prinsip-prinsipdan konsep-konsep dari ilmu pengetahuan itu, diharapkan juga ada dimensi nilaiyang terkandung dalam pendidikan itu. Dalam pembelajaran siswa mempunyaikewajiban agar mentaati peraturan tertulis, etika, adab sopan santun dan norma-norma umum lainnya. Selain itu siwa dapat belajar untuk lebih mencintailingkungan, baik di sekolah, keluarga atau masyarakat. Melalui pendidikan bidang studi lainnya, siswa juga dapat lebih memahamibetapa agung dan perkasanya Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakanalam semesta ini dengan segala isinya yang berjalan dengan tertib, sesuaidengan hukum-hukum Allah (sunnatullah) yang juga disebut hukum alam. Siswa 10 Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002,hal. 39. 6
  • akan menyadari bahwa apa yang terjadi di alam semesta ini pada dasarnyaberasal dari Yang Maha Mencipta. Inilah pendidikan mata pelajaran bidang studiumum sebagai contoh yang menjadi wahana untuk pendidikan nilai-nilai agama. Keempat, pendidikan akhlak harus didukung oleh kerjasama yang kompakdan usaha yang sungguh-sungguh dari orang tua (keluarga), sekolah danmasyarakat. Orang tua di rumah harus meningkatkan perhatiannya terhadapanak-anaknya dengan meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan,keteladanan dan pembiasaan yang baik. Orang tua juga harus berupayamenciptakan rumah tangga yang harmonis, tenang dan tenteram, sehingga anakakan merasa tenang jiwanya dan dengan mudah dapat diarahkan kepada hal-halyang positif. Tiga pusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) secara bertahapdan terpadu mengemban suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasimudanya. Ketiga penanggung jawab pendidikan ini dituntut melakukan kerjasamadi antara mereka baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan salingmenopang kegiatan yang sama secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama11.Dengan kata lain, perbuatan mendidik yang dilakukan oleh orang tua terhadapanak juga dilakukan oleh sekolah dengan memperkuat serta dikontrol olehmasyarakat sebagai lingkungan sosial anak. Pendidikan keluarga adalah benteng utama tempat anak-anak dibesarkanmelalui pendidikan dan di sinilah peran utama orang tua sebagai pendidik yangakan mendasari dan mengarahkan anak-anaknya pada pendidikan selanjutya.Dalam Islam, rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat anak-anak 11 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, hal. 37 7
  • dibesarkan melalui pendidikan Islam12. Adapun yang menjadi tujuan pendidikandalam Islam adalah: mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumahtangga; Mewujudkan ketenteraman dan ketenangan psikologis; Mewujudkansunnah Rasulullah saw. Dengan melahirkan anak-anak saleh; Memenuhikebutuhan cinta kasih anak-anak; dan Menjaga fitrah anak agar tidak melakukanpenyimpangan-penyimpangan.13 Tanggung-jawab pendidikan keluarga ada dipundak para orang tua, sehingga anak-anak terhindar dari kerugian, keburukan,mengingat banyaknya sendi kehidupan sosial yang melenceng dari tujuanpendidikan. Pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diperoleh seseorang disekolah secara teratur, sistematis, bertingkat dan mengikuti syarat-syarat yangjelas dan ketat14. Pada dasarnya pendidikan sekolah merupakan bagian daripendidikan dalam keluarga, yang sekaligus juga merupakan kelanjutan daripendidikan keluarga. Sekolah merupakan jembatan bagi anak yangmenghubungkan kehidupan keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak. Pendidikan Masyarakat ditandai dengan adanya mosi Mangunsarkoro yangditujukan kepada Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP),yang mendesak pemerintah agar memberi perhatian lebih banyak padapendidikan masyarakat dan kemudian diterima, maka pada 1 Januari 1946terbentuklah Bagian Pendidikan Masyarakat pada Kementerian Pendidikan,Pengajaran dan Kebudayaan15. Adapun isinya menjelaskan dengan tegas: (1)Memberantas buta huruf, (2) Menyelenggarakan kursus pengetahuan umum, dan 12 Abdurrahman An-Nawawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat,Penerjemah: Shihabudin, Gema InsaniPress, 1995, hal. 139. 13 Ibid., hal 140-145 14 Hasbullah, Op.Cit., hal. 46. 15 Redja Mudyahardjo, Op. Cit, hal. 376-377. 8
  • (3) Mengembangkan perpustakaan rakyat. Dengan adanya pendidikan ini,diharapkan pendidikan diharapkan sebagai proses pembudayaan kodrat alamyang merupakan usaha memelihara dan memajukan serta mempertinggi danmemperluas kemampuan-kemampuan kodrati untuk mempertahankan hidup. Proses pembudayaan pendidikan yang bertujuan membangun kehidupanindividual dan sosial yang bercita-cita untuk membangun manusia yang merdekalahir dan batin. Manusia yang merdeka lahir dan batin maksudnya adalahtertanamnya dalam diri setiap individu tiang-tiang kemerdekaan hidup, yangmemiliki kecakapan panca indera, ketajaman berpikir, kejernihan berperasaan,kemantapan dan kuatnya kemauan serta keluhuran budi pekerti. Kelima, pendidikan akhlak harus menggunakan seluruh kesempatan,berbagai sarana termasuk tekhnologi modern. Kesempatan berekreasi, pameran,kunjungan, berkemah dan kegiatan lainnya harus dilihat sebagai peluang untukmembina akhlak. Demikian juga dengan sarana yang telah canggih pada masakini, seperti: siaran TV, Handphone (HP), surat kabar, majalah, internet dantekhnologi lainnya tidak disalahgunakan, sehingga sarana tersebut dapatmempermudah proses pendidikan demi terwujudnya akhlak yang baik. Diakui bahwa sistem pendidikan yang kita miliki dan dilaksanakan selamaini masih belum mampu mengikuti dan mengendalikan kemajuan tekhnologi,sehingga dunia pendidikaan belum dapat menghasilkan tenaga-tenagapembangunan yang terampil, kreatif dan aktif, yanng sesuai dengan tuntutanmansyarakat luas. Bahaya dan masalah negatif yang ditimbulkan denganperkembangan ilmu dan tekhnologi, sebisa mungkin dijauhi dan dihilangkan atausekurangnya dapat di minimalisir. Bagaimanapun berkembangnya ilmu 9
  • pengetahuan modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh danpenguasaan kemampuan yang terus menerus. Pendapat Harold G. Shane dalam bukunya yang berjudul “Arti PendidikanBagi Masa Depan”, ada beberapa karakteristik dari desain pendidikan yang akanmuncul untuk kehidupan di masa depan16, karakteristik itu adalah: 1. Tekanan perlu diberikan pada mendapatkan kembali, dalam bentuk yang jelas, disiplin sosial yang telah menuntun orang Barat dan barangkali yang telah menuntun sebagian besar umat manusia, sebelum timbulnya krisis nilai sekarang ini. Krisis yang sifatnya relatifisme dan permisif ini mengganggu keterikatan orang pada norma-norma yang ditetapkan kebudayaan yang menuntun setiap individu agar berbuat menurut cara tertentu. Kita harus bergerak maju menuju nilai-nilai dan tipe hidup yang baru yang diperlukan dalam menyongsong masa depan. 2. Melalui pendidikan, serangan akan dilancarkan terhadap kubu materialisme yang kuat, secara spesifik, terhadap kekeliruan yang telah meletakkan kepercayaan besar pada nilai-nilai materialisme. Diharapkan melalui pendidikan dapat mengubah nilai-nilai yang selama ini bersifat “cinta benda” yaitu selera besar untuk memperoleh benda-benda konsumsi yang tak terkendalikan. 3. Bahaya dan masalah penggunaan tekhnologi dalam menyongsong hidup di masa depan. Dengan pendidikan diharapkan dapat meminimalisir bahaya dan masalah tekhnologi, sehingga menjadikan tekhnologi itu sarana 16 Harold G. Shane, Op.Cit, hal. 103-108. 10
  • penting dalam memperbaiki kedudukan manusia dan perlunya dipikirkan lagi agar pemanfaatan tekhnologi dapat diinjeksikan ke dalam kurikulum. 4. Kurikulum harus mulai responsif secara lebih memadai terhadap ancaman kerusakan atau krisis nilai yang menimpa lingkungan sosialnya. Secara paten, pendidikan akan mempunyai peranan penting saat keputusan- keputusan sosial yang penting dicapai berkenaan dengan kebijakan nasional dan dalam keadaan bagaimanapun juga terdapat banyak dasar untuk memulainya di sekolah. 5. Pendidikan perlu terus mendidik pelajar supaya keluaran pendidikan yang baru dapat membuat pelajar menghadapi potensi kekuatan media massa dalam bentuk opini dan sikap publik. Inilah sosok pendidikan yang berkembang kini, dan bagaimana sosokmasyarakat masa depan dengan nilai-nilainya yang dominan. Memang kita semuamengetahui betapa sektor pendidikan selalu terbelakang dalam berbagai sektorpembangunan lainnya, bukan karena sektor itu lebih di lihat sebagai sektorkonsumtif juga karena pendidikan adalah penjaga status quo masyarakat itusendiri17. Pendidikan merupakan sebagian dari kehidupan masyarakat dan jugasebagai dinamisator masyarakat itu sendiri. Dalam aspek inilah peran pendidikanmemang sangat strategis karena menjadi tiang sanggah dari kesinambunganmasyarakat itu sendiri. Proses perubahan tata nilai akan berjalan sesuai dengan dinamikamasyarakat dalam era tertentu. Selain itu nilai-nilai pada generasi yangmendahului sebagian atau keseluruhan masih tetap hidup dalam generasi 17 Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed., Manajemen Pendidikan Nasional: Kajian Pendidikan MasaDepan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, hal. 80. 11
  • berikutnya. Nilai-nilai yang dominan pada setiap generasi ada yang bersifat positifdan ada yang negatif, maka kita perlu mengidentifikasinya dan waspada sehinggakita bisa menyaring mana yang perlu dihidari dan mana yang perlu diambil untukkemajuan di masa mendatang. Salah satu tugas dari Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), yaknimenjaga, melestarikan dan membangun nilai-nilai luhur bangsa18. Dalamperkembangannya, generasi nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia kita lihatadanya nilai-nilai antar generasi. Pendidikan menjadikan nilai-nilai dasar akansemakin kokoh dalam perjalanan kehidupan bangsa, seperti nasionalisme danpatriotisme sebagai nilai-nilai generasi pertama dari perjalanan hidup bangsa.Sudah tentu nilai-nilai luhur itu perlu ditempa, dihaluskan dan diasah terusmenerus sesuai dengan perubahan kehidupanC. Penutup Gejala kemerosotan nilai-nilai akhlak dan moral dikalangan masyarakatsudah mulai luntur dan meresahkan. Sikap saling tolong-menolong, keujujuran,keadilan dan kasih sayang tinggal slogan belaka. Bahkan krisis itu telah melandagenerasi muda sebagai penerus bangsa. Adanya sikap, tindakan dan perbuatanyang tidak bertanggung jawab ini bila dibiarkan terus, maka tak ayal lagi kalaugenerasi mendatang akan diliputi kegelapan dan hancurnya tatananperikehidupan umat manusia. 18 Ibid., hal. 80. 12
  • Sebab timbulnya krisis akhlak antara lain: 1. Krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap agama yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam 2. Krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan oleh orang tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif. Bahwa penanggung jawab pelaksanaan pendidikan di negara kita adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah. 3. Krisis akhlak terjadi karena derasnya arus budaya hidup materialistik, hedonistik dan sekularistik. 4. Krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguh- sungguh dari pemerintah. Kekuasaan, dana, tekhnologi, sumber daya manusia, peluang dan sebagainya yang dimiliki pemerintah belum banyak digunakan untuk melakukan pembinaan akhlak bangsa. Kerisauan kita mengenai akhlak yang mengkhawatirkan bisa sajadiperpanjang dengan mencari siapapun yang disalahkan dan menjadi kambinghitamnya, akan tetapi hal itu tidaklah arif dan bijaksana tanpa memusatkanperhatian untuk mencari solusinya. Menyadari akan pentingnya akhlak, tentu kitatidak bisa melepaskan diri dari dunia pendidikan itu sendiri. Pendidikan berusahamencetak kader-kader yang selain mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuanyang luas atau bersifat teoritis, juga harus bisa mengaktualisasikan dalamkehidupan sehari-hari. Pendidikan akhlak tidak sebatas pengetahuan tetapi lebihberpijak pada perilaku yang dibiasakan. Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menetapkan pelaksanaanpendidikan agama, baik di rumah, sekolah maupun masyarakat. Hal yang 13
  • demikian diyakini, karena inti ajaran agama adalah akhlak yang mulia yangbertumpu pada keimanan kepada Tuhan dan keadilan sosial. Pendidikan akhlakmerupakan konsep nilai-nilai yang terbungkus dalam tataran norma-norma, adat,kebiasaan atau dalam bentuk seni dan berkebudayaan. Inilah arti pentingpendidikan dalam tataran mengatasi krisis akhlak yang berkembang dalamkehidupan sehari-hari. 14
  • DAFTAR PUSTAKADrs. Moh. Saifulloh al-Aziz, Milenium Menuju Masyarakat Madani, Terbit terang, Surabaya, 2000.Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA., Manajemenen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Kencana, Bogor, 2003.Drs. H.M. Arifin M.Ed., Kapita Selekta Pendidikan, Umum dan Agama, CV. Toha Putra, Semarang.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT. Balai Pustaka, Jakarta, 1997.Aminuddin Rasyad, dalam Ahmad Tafsir, Epistimologi untuk Ilmu Pendidikan Islam, Bandung:Fak.Tarbiyah MIN Sunan Gunung Jati,1995Warul Walidin AK, Strategi Peniheniukan Nilai, Upaya Pengembangan Dimensi Afektif, Jurnal Didaktika, Vol 1, No.2, 2 September 2000Hasan Langgulung, Asas-Avas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al- Husna, 1992H. Un a K a rt a wisa st ra d kk, d a lam No e n g Mu h a d jir, Te k nol ogi P e ndi di ka n, Yogyakarta,IAIN Sunan KalijagaH.M. Arifin , Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1994.Nasir Budiman, Pendidikan Moral Qurani, Disertasi, Yo g yakarta : MIN Sunan Kalijaga, 1996Ali Ashraf, Horizon Baru Pendidikan Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus,1996.M. Nasir Budiman, Pendidikan Dalam Perspektif Al Quran, Jakarta: Madam Press,2001Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar- Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, PT. Raja Grafindo 15
  • Persada, Jakarta, 2002.Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997.Abdurrahman An-Nawawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah danMasyarakat, Penerjemah: Shihabudin, Gema Insani Press, 1995.Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed., Manajemen Pendidikan Nasional: Kajian Pendidikan Masa Depan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001. ------------------------------ 16