• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Doc
 

Doc

on

  • 5,586 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,586
Views on SlideShare
5,586
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
104
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Doc Doc Document Transcript

    • TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 5 SEMARANG SKRIPSIUntuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada Universitas Negeri Semarang Oleh Giri Harto Wiratomo NIM 3401403057 FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN 2007
    • PERSETUJUAN PEMBIMBINGSkripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujianskripsi pada: Hari : Kamis Tanggal : 19 Juli 2007 Pembimbing I Pembimbing II Drs. Makmuri Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 130675638 NIP. 131813668 Mengetahui, Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Drs. Slamet Sumarto, M.Pd NIP. 131570070 iii
    • PENGESAHAN KELULUSANSkripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi FakultasIlmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Sabtu Tanggal : 4 Agustus 2007 Penguji Skripsi Drs. Suprayogi, M.Pd NIP. 131474095 Anggota I Anggota II Drs. Makmuri Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 130675638 NIP. 131813668 Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998 iv
    • PERNYATAANSaya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar – benar hasilkarya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atauseluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi inidikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang, 19 Juli 2007 Peneliti Giri Harto Wiratomo NIM. 3401403057 v
    • MOTTO DAN PERSEMBAHANMOTTO “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Al Baqarah:45) Hidup hanya sekali jadikanlah lebih berarti bagi diri dengan hiasan prestasi (Peneliti) PERSEMBAHAN Ayah dan Ibu, Kakakku Lilian Maharani, S.Pd dan Anton Sundargo, S.Pd Adikku Kopral Taruna Pramudyo Wardani di Akademi Militer Magelang vi
    • PRAKATA Segala rasa syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT Raab semestaalam atas limpahan rahmat, hidayah serta karunia sehingga peneliti dapatmenyelesaikan penyusunan skripsi dengan lancar dan tepat pada waktunya denganjudul ”Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di SekolahMenengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang”. Penyusunan skripsi ini dilakukan adalah sebagai salah satu syarat dalammenyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Pancasiladan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas IlmuSosial Universitas Negeri Semarang. Peneliti menyadari bahwa dengan tanpaadanya bantuan dari berbagai pihak penulisan skripsi ini tidak dapat terwujud.Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Prof. DR. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Slamet Sumarto, M.Pd, Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan peneliti untuk berkarya dan menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. vii
    • 4. Drs. Makmuri, Pembimbing Skripsi I yang dengan keikhlasan dan ketelitian memberikan bimbingan baik berupa motivasi dan masukan bagi penyusunan skripsi ini. 5. Drs. AT. Sugeng Priyanto, M.Si, Pembimbing Skripsi II yang dengan kesabaran membimbing dan mengarahkan peneliti baik saran dan petunjuk dari awal hingga akhir guna penyusunan skripsi ini. 6. Drs. H. M. Saidi, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang telah bersedia memberikan kemudahan dan perizinan dalam penyusunan skripsi ini. 7. Ayah dan Ibu yang selalu memelukku dalam ruang sandaran hati dan kasih sayang yang tiada hentinya dengan segala dorongan motivasinya. 8. Teman – teman seperjuangan ”Almamater Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Angkatan 2003”. 9. Semua pihak – pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu atas bantuan yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk penyelesaian skripsi ini. ”Tak ada gading yang tak retak” serta sebagai insan biasa, penelitimenyadari atas kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Kritik dan saran yangsifatnya membangun selalu peneliti harapkan demi perbaikan di masa depan.Semoga peyusunan skripsi dapat memberikan manfaat khususnya bagi diripeneliti dan pembaca pada umumnya. Amin Semarang, 19 Juli 2007 Peneliti viii
    • SARIGiri Harto Wiratomo. 2007. Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana PendidikanMoral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. JurusanHukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.125h.Kata Kunci: Tata Tertib, Sarana, Pendidikan Moral Kondisi akhir – akhir ini menunjukkan telah terjadi degradasi moral padakualitas personal bangsa Indonesia terutama generasi muda. Banyak faktor yangmempengaruhi gejala – gejala degradasi moral tersebut. Permasalahan yang dikajidalam penelitian ini adalah: (1) Apakah benar tertib sekolah berisi muatan saranapendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?,(2) Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral diSekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?, (3) Bagaimana kendala– kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai saranapendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?.Dasar penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Ada 2 (dua) variabel yangdikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) Tingkah laku siswa dalam implementasi tatatertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) Negeri 5 Semarang, (2) Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai saranapendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang, dan(3) Kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolahsebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap tata tertibsekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)Negeri 5 Semarang tergolong tinggi. Pelanggaran tata tertib sekolah tersebutmeliputi tidak masuk tanpa keterangan (alpa), meninggalkan pelajaran tanpa izin,baju tidak dimasukkan, mencorat – coret seragam sekolah, berkelahi, tidak segeramenempuh atau menyelesaikan remidi. Bentuk – bentuk pelanggaran tata tertibsekolah bersifat ringan, sedang, dan berat. Faktor – faktor penyebab siswamelanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5Semarang adalah faktor internal dan eksternal. Berdasarkan penelitian pendidikanmoral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapatdiberikan dalam bentuk informal melalui bentuk – bentuk lain seperti adanya tatatertib sekolah. Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatihsiswa terhadap kesadaran moral. Implementasi tata tertib sekolah sebagai saranapendidikan moral adalah pada isi tata tertib sekolah (content), berperan sebagaialat pencegah (preventif) dan sanksi yang mendidik. Perbedaannya hanya terletakpada bentuk dan cara menggunakannya. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagaisarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5Semarang menggunakan sistem credit poin. Kendala – kendala utama yangdihadapi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalahkurangnya konsistensi Guru dalam penegakan tata tertib sekolah. Upaya – upaya ix
    • sekolah dalam penegakan tata tertib sekolah adalah secara preventif, kuratif ataurehabilitatif dan represif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi sekolah, orang tuadan masyarakat. Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensifmengadakan penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upayamenekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah. Guru hendaknyaterus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah terutamamembina kedisiplinan siswa. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untukmematuhi tata tertib sekolah. Orang tua hendaknya ikut serta melakukanpembinaan moral anaknya agar patuh dan taat terhadap tata tertib sekolah. x
    • DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL ...................................................................................... iPERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................. iiPENGESAHAN KELULUSAN .................................................................... iiiPERNYATAAN ............................................................................................. ivMOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................. vPRAKATA ..................................................................................................... viSARI ............................................................................................................... viiiDAFTAR ISI .................................................................................................. xDAFTAR TABEL .......................................................................................... xiiiDAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xivDAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvBAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ...................................... 7 C. Perumusan Masalah ................................................................. 8 D. Tujuan Penelitian ..................................................................... 9 E. Kegunaan Penelitian ................................................................ 10 F. Sistematika Penulisan Skripsi .................................................. 11BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 13 A. Tata Tertib Sekolah .................................................................. 13 B. Pendidikan Moral ..................................................................... 18 xi
    • C. Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral ............ 35 D. Sarana Pendidikan Moral ......................................................... 40 E. Kerangka Berpikir.................................................................... 44BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 46 A. Dasar Penelitian ....................................................................... 46 B. Fokus Penelitian ....................................................................... 47 C. Sumber Data Penelitian ........................................................... 48 D. Alat dan Teknik Pengumpulan Data ........................................ 50 E. Objektivitas dan Keabsahan Data ............................................ 54 F. Metode Analisis Data .............................................................. 57 G. Prosedur Penelitian .................................................................. 60BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 61 A. Hasil Penelitian ........................................................................ 61 1. Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 61 2. Keadaan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 64 3. Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 65 4. Tingkat Kedisiplinan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ................................................ 67 xii
    • 5. Isi Tata Tertib Sekolah Kaitannya Dengan Pelaksanaan Pendidikan Moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 70 B. Pembahasan .............................................................................. 73 1. Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ............................................................. 73 2. Kendala – Kendala Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.................................. 98BAB V PENUTUP ...................................................................................... 105 A. Simpulan .................................................................................. 105 B. Saran ......................................................................................... 106DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................LAMPIRAN ................................................................................................... xiii
    • DAFTAR TABEL1. Tabel 1 Jumlah Siswa SMK Negeri 5 Semarang ..................................... 652. Tabel 2 Data Guru Normatif/Adaptif SMK Negeri 5 Semarang ............ 663. Tabel 3 Data Guru Produktif SMK Negeri 5 Semarang .......................... 674. Tabel 4 Jenis Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SMK Negeri 5 Semarang .................................................................................................. 695. Tabel 5 Perbandingan Penerapan Sistem Credit Poin ............................. 86 xiv
    • DAFTAR GAMBAR1. Gambar 1 Bagan components of good character .................................... 342. Gambar 2 Hubungan Moral, Etika dan Hukum ....................................... 373. Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir ........................................................ 444. Gambar 4 Bagan Metode Analisis Data ................................................... 595. Gambar 5 Pola Pembinaan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah ................. 816. Gambar 6 Faktor – Faktor Mempengaruhi Moral Siswa ......................... 93 xv
    • DAFTAR LAMPIRAN1. Instrumen Wawancara2. Hasil Wawancara3. Daftar Nama Responden4. Foto – Foto Wawancara5. Surat Penelitian6. Tata Tertib Siswa7. Jadwal Piket Pembinaan Ketertiban Guru dan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang8. Analisis Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Komponen Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang9. Struktur Organisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang10. Pola Umum Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang11. Daftar Nama Guru dan Karyawan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang xvi
    • BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Merebaknya isu – isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan obat – obat terlarang (narkoba), tawuran pelajar, pornografi dan lain – lain, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana, karena tindakan – tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan – tindakan yang bersifat kriminal. Remaja merupakan usia atau tahap seorang siswa mencari jati diri yang dilakukan melalui peniruan diri atau imitasi. Pergaulan remaja yang tanpa arah dan pengawasan terhadap tingkah laku mereka akan mempunyai kecenderungan mengarah pada pergaulan remaja yang negatif. Banyak anggapan dari siswa selama ini bahwa tata tertib sekolah hanya membatasi kebebasan mereka sehingga berakibat pelanggaran terhadap peraturan itu sendiri. Tanpa disadari bahwa kebebasan yang kurang bertanggung jawab akan merugikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Pendidikan moral kepada anak diawali saat mereka berada pada lingkungan keluarga terutama orang tua melalui proses sosialisasi norma dan aturan moral dalam keluarga sendiri serta lingkungan dekat pergaulan sosial anak. Kemudian saat anak masuk ke sekolah mulai diperkenalkan dan diajarkan sesuatu yang baru yang tidak diajarkan dalam keluarga. Sekolah, 1
    • 2sebagai tempat sosialisasi kedua setelah keluarga serta tempat anak ditatapkankepada kebiasaan dan cara hidup bersama yang lebih luas lingkupnya serta adakemungkinan berbeda dengan kebiasaan dan cara hidup dalam keluarganya,sehingga berperan besar dalam menumbuhkan kesadaran moral diri anak.Penanaman kebiasaan bersikap dan berbuat baik atau sebaliknya bersikap danberbuat buruk, pada tahap awal pertumbuhannya, anak dapat sangatdipengaruhi oleh lingkungan sekolah tempat ia belajar. Subjek didik tidak begitu saja lahir sebagai pribadi bermoral atauberakhlak mulia. Lingkungan sekolah merupakan lembaga pendidikan yangdapat menunjang terjadinya rekonstruksi sosial ke arah masyarakat yang lebihbaik, dan mengemban misi membentuk watak yang baik dari anak bangsa.Pembukaan UUD 1945 alinea keempat tentang tujuan negara Indonesiamenyatakan dengan jelas “ Kemudian daripada itu untuk membentuk suatuPemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesiadan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraanumum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertibandunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial ”. Pada aspek tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam pasal 3Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem PendidikanNasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yangdemokratis serta bertanggung jawab. Mencerdaskan kehidupan bangsa
    • 3merupakan lingkup filosofis serta yuridis arti pendidikan yang melandasipendidikan di Indonesia. Pandangan Ki Hajar Dewantara (Munib, 2004:32)menyatakan bahwa: ”pendidikan umumnya berarti daya upaya untukmemajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran(intelek), dan tubuh anak”. Berkaitan dengan Pendidikan, Tilaar dalam Mulyasa (2002)mengemukakan bahwa Pendidikan Nasional dewasa ini sedikitnya ada tujuhmasalah pokok Sistem Pendidikan Nasional: 1. Menurunnya akhlak peserta didik; 2. Pemerataan kesempatan belajar; 3. Masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan; 4. Terjadinya degradasi moral peserta didik; 5. Status kelembagaan; 6. Manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional; 7. Sumber daya yang belum profesional. Pendidikan harus dipahami sebagai bagian dari proses pembudayaansubjek didik sehingga bukan hanya pengalihan dan penguasaan ilmupengetahuan serta pelatihan serta penguasaan keterampilan – keterampilanteknis tertentu, namun juga perlu dipahami sebagai penumbuhan danpengembangan subjek didik menjadi pribadi manusia yang berbudaya danberadab. Tujuan menjadi pribadi manusia yang berbudaya dan beradab adalahmewujudkan personal yang tidak hanya cerdas dalam segi kognitif akan tetapimampu mengembangkan dan menanamkan kemampuan tertinggi dalammengaktualisasikan budaya yang dimiliki suatu bangsa agar tidak kehilanganjati diri sebagai suatu bangsa akibat tergerus oleh perubahan zaman.
    • 4 Pada saat remaja inilah masa anak berhadapan dengan carabertindak dan cara bernalar berbeda dengan apa yang selama ini sudahmenjadi kebiasaannya, anak mulai ditantang untuk memilih dan mengambilkeputusan sendiri, entah ia akan meneruskan kebiasaan yang selama ini telahditanamkan dalam keluarganya atau mengambil jarak terhadapnya dan lebihmenyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di sekolah. Kondisi saat iniadalah ketika anak berada pada masa memulai pilihan dirinya akanpendewasaan diri dari masa anak – anak ke masa dewasa. Meski tugas dan tanggung jawab utama untuk melakukanpendidikan moral terhadap anak terletak di pundak orang tua dalamlingkungan keluarga tempat anak itu lahir dan dibesarkan, namun itu tidakberarti sekolah tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukanpendidikan moral khususnya pada tahap pendidikan dasar dan menengah,tempat remaja masih dalam proses pembiasaan diri mengenal dan mematuhiaturan hidup bersama yang berlaku dalam masyarakatnya, berlatih displin,berbuat baik dan mengalami proses pembentukan identitas diri moral mereka,pendidikan moral perlu secara khusus mendapat perhatian para Guru danpendidik di sekolah. Di sekolah banyak sekali ditemui komponen yang bisa menjadisarana dari pendidikan moral. Salah satu komponen sekolah yang menjadisarana pendidikan moral tersebut adalah tata tertib sekolah. Tata tertib sekolahsebagai bentuk peraturan dalam tingkatan hierarki terendah tata perundang –undangan memuat adanya aspek pendidikan moral dan rule of law. Peraturan
    • 5yang dibuat tidak hanya legal formal akan tetapi menuntut adanya penerapanmoral di dalamnya. Hubungan tersebut erat kaitannya dengan hakikat dan isidari pembuatan peraturan. Internalisasi nilai – nilai moral kepada subjek didikdiperlukan upaya yang optimal dalam rangka menegakkan tata tertib sehinggapelaksanaan tidak hanya bersifat rule of law saja akan tetapi didasari olehesensi adanya pendidikan moral. Dari hasil pengamatan awal lapangan di Sekolah MenengahKejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang oleh peneliti, diketahui kasus ataupelanggaran terhadap tata tertib sekolah masih sering dilakukan siswa. PadaSekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang khususnya, diketahuipula pada periode tahun pelajaran 2003/2004 terjadi sebanyak 162 kasus ataupelanggaran kemudian tahun pelajaran 2004/2005 meningkat sebanyak 430kasus atau pelanggaran dan pada tahun pelajaran 2005/2006 sebanyak 209kasus atau pelanggaran yang meliputi antara lain tidak masuk tanpaketerangan (alpa), meninggalkan pelajaran tanpa izin, baju tidak dimasukkan,mencorat – coret seragam sekolah, berkelahi, tidak segera menempuh ataumenyelesaikan remidi dan lain – lain. Hal ini menunjukkan bahwa tingkatkasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswamasih cukup tinggi. Pelanggaran terhadap tata tertib sekolah menunjukkan siswa kurangpatuh terhadap peraturan sekolah. Berbagai upaya yang telah dilaksanakan disekolah sering kurang dihargai dan diperhatikan oleh siswa. Sekolahmemegang peran yang sangat penting dalam menanamkan dan menumbuhkan
    • 6aspek pendidikan moral. Kasus atau pelanggaran tata tertib sekolah tersebutterkait dengan karakteristik siswa seperti perbedaan – perbedaan yang dimilikisetiap individu yang dipengaruhi oleh sikap, minat, keinsyafan, pengetahuandan faktor lain yang mempengaruhinya. Kepatuhan terhadap tata tertibsekolah adalah sebuah kesiapan yang harus ditanamkan kepada siswa disekolah agar mempunyai sikap dan perbuatan sesuai dengan norma – normayang berlaku di masyarakat. Seseorang akan patuh atau sadar dalam mematuhiperaturan atau hukum berkaitan pula dengan faktor peraturan atau hukum itusendiri. Berkaitan dengan hal tersebut diatas peneliti memilih SekolahMenengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang sebagai objek yang akanditeliti karena: (1) Kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah yangmasih tinggi terutama sebagai penerapan konsep pendidikan moral, (2) Aspekpendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan kurang diperhatikan karenadalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan digabung dengan Sejarahsehingga kurang optimal, (3) Sekolah Menengah Kejuruan mempersiapkansiswa untuk siap bekerja di masyarakat sehingga diperlukan nilai – nilai moraldalam bekerja dan letak sekolah yang strategis mudah dijangkau peneliti sertadapat memudahkan peneliti untuk memperoleh data – data dalam melakukanpenelitian. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti ingin mengetahuitentang pelaksanaan dan kendala – kendala yang dihadapi Guru serta sekolahdalam menerapkan peraturan sebagai implementasi atau penerapan
    • 7 konseptualisasi pendidikan moral di sekolah maka peneliti mengambil judul penelitian: “ TATA TERTIB SEKOLAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 5 SEMARANG ”.B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Identifikasi Masalah Pada lingkup tahap siswa merupakan masa yang penuh gejolak. Siswa adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah. Perubahan sosial yang begitu cepat, kemudahan akses teknologi yang sedemikian maju, perbenturan antara nilai lokal dan nilai global menyebabkan kondisi dan situasi yang sangat rawan terhadap pembentukan serta perkembangan moral siswa yang baik. Pendidikan adalah upaya untuk mendewasakan manusia yang memiliki identitas sebagai manusia sebenarnya. Penyimpangan tingkah laku siswa mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Menemukan pendekatan dan strategi itulah diperlukan suatu penelitian yang memadai sehingga dapat memberikan bahan pertimbangan yang diperlukan seperti masih adanya hal – hal yang berkaitan dengan tata tertib sekolah yang belum tertangani dengan baik, harus ada paparan tentang sistem pengelolaan tata tertib sekolah yang dijadikan rujukan guna penanganan masalah – masalah ketertiban.
    • 8 Ketertiban sekolah sering dijadikan indikasi keberhasilan pembinaan mental dan tingkah laku siswa, latar belakang sosial keluarga dan lingkungan banyak memberikan pengaruh terhadap ketaatan melaksanakan tata tertib sekolah. Ketaatan dalam melaksanakan tata tertib sekolah juga akan menumbuhkan dampak nuansa yang mendukung pembelajaran yang lebih optimal pada diri siswa dan pihak sekolah. 2. Pembatasan Masalah Berkaitan dengan luasnya permasalahan serta agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menanggapi isi atau uraian dalam lingkup pembahasan ini, maka berikut ini akan dijelaskan beberapa fokus utama dan indikator yang disajikan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut: 1. Hal – hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai media dalam maksud atau tujuan mencapai pendidikan moral. 2. Tata tertib sekolah dalam penelitian ini dibatasi pada tata tertib yang berlaku bagi siswa. 3. Tata tertib sekolah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sejumlah aturan yang ditetapkan sekolah yang harus dipatuhi oleh siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.C. Perumusan Masalah Kenyataan di sekolah masih ditemui banyak kasus atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Kenyataan tersebut menimbulkan berbagai
    • 9 persoalan dan permasalahan mengenai pelaksanaan pendidikan moral. Sesuai dengan pembatasan masalah diatas maka penelitian ini mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah benar tata tertib sekolah berisi muatan sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? 2. Bagaimana pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? 3. Bagaimana kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas maka penelitian ini mempunyai tujuan yaitu: 1. Untuk mengetahui implementasi konsep tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 2. Untuk mengetahui pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 3. Untuk mengetahui kendala – kendala yang dihadapi sekolah terutama terhadap tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.
    • 10E. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis Penelitian ini dapat dipergunakan untuk menambah khasanah pengembangan pustaka ilmu pengetahuan secara umum dan secara khusus pada kajian lingkup pendidikan moral serta dapat digunakan sebagai referensi bagi yang akan melakukan penelitian sejenis. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian – kajian dan teori – teori yang berkaitan dengan persoalan tersebut. 2. Kegunaan Praktis b Bagi Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga dalam upaya meningkatkan pendidikan moral terutama di sekolah. c Bagi Siswa, sebagai motivasi untuk meningkatkan sikap dan tingkah lakunya dalam mematuhi tata tertib yang dibuat oleh sekolah. d Bagi Orang tua, sebagai bahan pertimbangan untuk lebih meningkatkan kualitas dalam mendidik dan memupuk pendidikan moral khususnya di lingkungan keluarga. e Bagi Sekolah, diharapkan dapat memberikan masukan yang digunakan untuk melaksanakan tata tertib sebagai sarana pendidikan moral di sekolah dan menerapkan kebijakan – kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan pendidikan moral khususnya kepada siswa.
    • 11F. Sistematika Penelitian Skripsi Sistematika skripsi adalah pokok persoalan yang akan disajikan dalam bab – bab yang terangkum dalam suatu skripsi. Adapun sistematika skripsi yang akan dibahas sebagai berikut: 1. Bagian Pendahuluan skripsi, terdiri atas: (a) Halaman Judul, (b) Abstrak, (c) Halaman Persetujuan, (d) Halaman Pengesahan, (e) Halaman Motto dan Persembahan, (f) Prakata, (g) Daftar Isi, (h) Daftar Gambar / Foto, (i) Daftar Lampiran. 2. Bagian Inti skripsi terdiri atas Bab I Pendahuluan berisi Latar Belakang Masalah, Identifikasi dan Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian dan Sistematika Penelitian Skripsi. Bab II Landasan Teori berisi bab yang menguraikan tentang Pengertian Tata Tertib Sekolah, Tujuan Tata Tertib Sekolah, Isi Tata Tertib Sekolah, Tipe – Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah, Nilai dan Moral, Batasan Moral, Pengertian Pendidikan Moral, Tujuan Pendidikan Moral, Prinsip – Prinsip Pendidikan Moral, Tahap – Tahap Perkembangan Moral Manusia, Hubungan Antara Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral, Sarana Pendidikan Moral. Bab III Metode Penelitian merupakan bab yang berisi Dasar Penelitian, Fokus Penelitian, Sumber Data Penelitian, Alat dan Teknik Pengumpulan Data, Objektivitas dan Keabsahan Data, Metode Analisis Data dan Prosedur Penelitian.
    • 12 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan menguraikan tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian. Bab V Penutup berisi Simpulan dan Saran.3. Bagian Akhir skripsi berisi Daftar Pustaka, Lampiran – lampiran.
    • BAB II LANDASAN TEORIA. Tata Tertib Sekolah 1. Pengertian Tata Tertib Sekolah (Mulyono, 2000:14) tata tertib adalah kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat anggota masyarakat. (Dekdikbud, 1989:37) tata tertib sekolah adalah aturan atau peraturan yang baik dan merupakan hasil pelaksanaan yang konsisten (tatap azas) dari peraturan yang ada. Aturan – aturan ketertiban dalam keteraturan terhadap tata tertib sekolah, meliputi kewajiban, keharusan dan larangan – larangan. Tata tertib sekolah merupakan patokan atau standar untuk hal – hal tertentu. Sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 158/C/Kep/T.81 Tanggal 24 September 1981 (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:145) ketertiban berarti kondisi dinamis yang menimbulkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam tata hidup bersama makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Ketertiban sekolah tersebut dituangkan dalam sebuah tata tertib sekolah. (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:146) mengartikan tata tertib sekolah: sebagai kesediaan mematuhi ketentuan berupa peraturan – peraturan tentang kehidupan sekolah sehari – 13
    • 14 hari. Tata tertib sekolah disusun secara operasional guna mengatur tingkah laku dan sikap hidup siswa, Guru dan karyawan administrasi. Secara umum tata tertib sekolah dapat diartikan sebagai ikatan atau aturan yang harus dipatuhi setiap warga sekolah tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Pelaksanaan tata tertib sekolah akan dapat berjalan dengan baik jika Guru, aparat sekolah dan siswa telah saling mendukung terhadap tata tertib sekolah itu sendiri, kurangnya dukungan dari siswa akan mengakibatkan kurang berartinya tata tertib sekolah yang diterapkan di sekolah. Peraturan sekolah yang berupa tata tertib sekolah merupakan kumpulan aturan – aturan yang dibuat secara tertulis dan mengikat di lingkungan sekolah. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tata tertib sekolah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain sebagai aturan yang berlaku di sekolah agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.2. Tujuan Tata Tertib Sekolah Secara umum dibuatnya tata tertib sekolah mempunyai tujuan utama agar semua warga sekolah mengetahui apa tugas, hak dan kewajiban serta melaksanakan dengan baik sehingga kegiatan sekolah dapat berjalan dengan lancar. Prinsip tata tertib sekolah adalah diharuskan, dianjurkan dan ada yang tidak boleh dilakukan dalam pergaulan di lingkungan sekolah.
    • 15 Tata tertib sekolah harus ada sanksi atau hukuman bagi yang melanggarnya. Menjatuhkan hukuman sebagai jalan keluar terakhir, harus dipertimbangkan perkembangan siswa. Sehingga perkembangan jiwa siswa tidak dan jangan sampai dirugikan. Tata tertib sekolah dibuat dengan tujuan sebagai berikut: a Agar siswa mengetahui tugas, hak dan kewajibannya. b Agar siswa mengetahui hal – hal yang diperbolehkan dan kreatifitas meningkat serta terhindar dari masalah – masalah yang dapat menyulitkan dirinya. c Agar siswa mengetahui dan melaksanakan dengan baik dan sungguh – sungguh seluruh kegiatan yang telah diprogramkan oleh sekolah baik intrakurikuler maupun ektrakurikuler.3. Isi Tata Tertib Sekolah Tata tertib sekolah sebagaimana tercantum di dalam Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14/4/1974 Tanggal 1 Mei 1974 (Nawawi, 1986:161) mencakup aspek – aspek sebagai berikut: a. Tugas dan kewajiban. 1). Dalam kegiatan intra kurikuler. 2). Dalam kegiatam ekstra kurikuler. b. Larangan – larangan bagi para siswa. c. Sanksi – sanksi bagi siswa. Tata tertib sekolah termasuk dalam administrasi ko – kurikulum yaitu merupakan kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di sekolah untuk menunjang dan meningkatkan daya dan hasil guna kegiatan
    • 16 kurikulum. (Arikunto, 1990:123) berpendapat batasan antara peraturan dan tata tertib sekolah sebagai berikut: a Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misalnya peraturan tentang kondisi yang harus dipenuhi oleh siswa di dalam kelas pada waktu pelajaran sedang berlangsung. b Tata tertib sekolah menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya khusus yang harus dipenuhi oleh siswa. Tata tertib sekolah menunjuk pada patokan atau standar untuk aktifitas khusus, seperti penggunaan pakaian seragam, penggunaan laboratorium, mengikuti upacara bendera, mengerjakan tugas rumah, pembayaran SPP dan sebagainya. Tata tertib sekolah bukan hanya sekedar kelengkapan dari sekolah, tetapi merupakan kebutuhan yang harus mendapat perhatian dari semua pihak yang terkait, terutama dari pelajar atau siswa itu sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sekolah pada umumnya menyusun pedoman tata tertib sekolah bagi semua pihak yang terkait baik Guru, tenaga administrasi maupun siswa. Isi tata tertib sekolah secara garis besar adalah berupa tugas dan kewajiban siswa yang harus dilaksanakan, larangan dan sanksi. Pada hakikatnya tata tertib sekolah baik yang berlaku umum maupun khusus meliputi tiga unsur (Arikunto, 1990:123 – 124) yaitu: a Perbuatan atau tingkah laku yang diharuskan dan yang dilarang; b Akibat atau sanksi yang menjadi tanggung jawab pelaku atau pelanggar peraturan; c Cara atau prosedur untuk menyampaikan peraturan kepada subjek yang dikenai tata tertib sekolah tersebut.4. Tipe – Tipe Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib Sekolah
    • 17 Graham (Sanjaya, 2006:272 – 273) melihat empat faktor yangmerupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu: a. Normativist. Biasanya kepatuhan pada norma – norma hukum. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam tiga bentuk, yaitu, (1) Kepatuhan terhadap nilai atau norma itu sendiri; (2) Kepatuhan pada proses tanpa memedulikan normanya sendiri; (3) Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu. b. Integralist, yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan – pertimbangan yang rasional. c. Fenomenalist, yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekadar basa basi. d. Hedonist, yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri. Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiapindividu tentu saja yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifatnormativist, sebab kepatuhan semacam ini adalah kepatuhan didasarikesadaran akan nilai, tanpa memedulikan apakah tingkah laku itumenguntungkan untuk dirinya atau tidak. Selanjutnya dalam sumber yang sama dijelaskan, dari empatfaktor ini terdapat lima tipe kepatuhan: a. Otoritarian. Suatu kepatuhan tanpa reserve atau kepatuhan yang ikut – ikutan.
    • 18 b. Conformist. Kepatuhan tipe ini mempunyai tiga bentuk, yaitu: (1) conformist directed, yaitu penyesuaian diri terhadap masyarakat atau orang lain; (2) conformist hedonist, yakni kepatuhan yang berorientasi pada “untung – rugi”, dan (3) conformist integral, adalah kepatuhan yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat. c. Compulsive deviant. Kepatuhan yang tidak konsisten. d. Hedonik psikopatik, yaitu kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain. e. Supramoralist. Kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai – nilai moral.B. Pendidikan Moral 1. Nilai dan Moral Nilai merupakan ukuran atau pedoman perbuatan manusia. Karena itu maka nilai diungkapkan dalam bentuk norma dan norma ini mengatur tingkah laku manusia. Pengertian nilai adalah (Daroeso, 1986:20): Nilai adalah suatu penghargaan atau kualitas terhadap sesuatu atau hal, yang dapat dasar penentu tingkah laku seseorang, karena sesuatu atau hal itu menyenangkan (pleasant), memuaskan (satifying), menarik (interest), berguna (usefull), menguntungkan (profitable), atau merupakan suatu sistem keyakinan (belief) Di antara beberapa macam nilai, ada nilai etik. Nilai etik atau nilai yang bersifat susila, memberi kualitas perbuatan manusia yang bersifat susila, sifatnya universal tidak tergantung waktu, ruang dan keadaan. Nilai
    • 19 etik tersebut diwujudkan dalam norma moral. Norma moral merupakan landasan perbuatan manusia, yang sifatnya tergantung pada tempat, waktu dan keadaan. Sehingga norma moral itu dapat berubah – ubah sesuai dengan waktu, tempat dan keadaannya. Pelaksanaan norma moral yang merupakan perwujudan dari nilai etik itu, tergantung pada manusianya. Penilaian moral dari perbuatan manusia ini meliputi semua penghidupan, dalam hal ini hubungan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat maupun terhadap alam. Perbuatan manusia dinilai secara moral bilamana perbuatan itu didasarkan pada kesadaran moral. Adanya nilai – nilai yang merupakn rangsangan (stimulus) diterima oleh pancaindera, menimbulkan suatu proses dalam diri individu yang dapat berupa suatu kebutuhan, motif, perasaan, perhatian dan pengambilan keputusan. Perbuatan susila adalah merupakan wujud dari norma moral dan norma moral merupakan ungkapan dari nilai etis (Daroeso, 1986:28). Karena itulah nilai etis menjadi pedoman tingkah laku dan perbuatan manusia dalam kehidupan sehari – hari. Nilai etis bersifat normatif dan tingkah laku perbuatan manusia mengarah kepadanya.2. Batasan Moral Moral berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan: ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan (Salam, 2000:80). Driyakara mengatakan bahwa “moral atau kesusilaan” adalah nilai yang sebenarnya bagi manusia. Dengan kata lain moral atau kesusilaan adalah
    • 20kesempurnaan sebagai manusia atau kesusilaan adalah tuntutan kodratmanusia (Daroeso, 1986:22). Huky (Daroeso, 1986:22) mengatakan: kita dapat memahamimoral dengan tiga cara: a. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan diri pada kesadaraan, bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungannya. b. Moral sebagai perangkat ide – ide tentang tingkah laku hidup, dengan warna dasar tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia di dalam lingkungan tertentu. c. Moral adalah ajaran tentang tingkah laku hidup yang baik berdasarkan pandangan hidup atau agama tertentu. Pengertian lain tentang moral berasal dari P. J. Bouman yangmengatakan bahwa ”moral adalah suatu perbuatan atau tingkah lakumanusia yang timbul karena adanya interaksi antara individu – individu didalam pergaulan”. Dari beberapa pengertian moral, dapat dilihat bahwamoral memegang peran penting dalam kehidupan manusia yangberhubungan dengan baik buruk terhadap tingkah laku manusia. Tingkahlaku ini mendasarkan diri pada norma – norma yang berlaku dalammasyarakat. Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebutbertingkah laku sesuai dengan norma – norma yang terdapat dalammasyarakat. Seorang individu yang tingkah lakunya mentaati kaidah – kaidahyang berlaku dalam masyarakatnya disebut baik secara moral, dan jikasebaliknya, ia disebut jelek secara moral (immoral). Dengan demikianmoral selalu berhubungan dengan nilai – nilai. Ciri khas yang menandai
    • 21 nilai moral yaitu tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja, secara mau dan tahu; dan tindakan itu secara langsung berkenaan dengan nilai pribadi (person) manusia dan masyarakat Indonesia (Salam, 2000:74). Dengan demikian, moral adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan benar. Objek moral adalah tingkah laku manusia, perbuatan manusia, tindakan manusia, baik secara individual maupun secara kelompok (Daroeso, 1986:26). Dalam melaksanakan perbuatan tersebut manusia didorong oleh tiga unsur, yaitu: a. Kehendak yaitu pendorong pada jiwa manusia yang memberi alasan pada manusia untuk melakukan perbuatan. b. Perwujudan dari kehendak yang berbentuk cara melakukan perbuatan dalam segala situasi dan kondisi. c. Perbuatan tersebut dilakukan dengan sadar dan kesadaran inilah yang memberikan corak dan warna perbuatan tersebut.3. Pengertian Pendidikan Moral Pendidikan moral adalah upaya dari orang dewasa dalam membentuk tingkah laku yang baik, yaitu tingkah laku yang sesuai dengan harapan masyarakat yang dilakukan secara sadar. (Daryono, 1998:13) mengemukakan bahwa: ”Pendidikan moral adalah merupakan suatu usaha sadar untuk menanamkan nilai – nilai moral pada anak didik sehingga anak bisa bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilai moral tersebut”. Dewey (Daroeso, 1986:32) menyatakan pendidikan moral seperti pendidikan intelektual mempunyai basis pada berfikir aktif mengenai masalah – masalah moral dan keputusan – keputusan
    • 22selanjutnya ia mengatakan tujuan pendidikan adalah pertumbuhan atauperkembangan moral dan intelektual. Sementara itu (Sudarminta, 004:108) menyatakan bahwapendidikan moral pada umumnya, baik di dalam keluarga maupun disekolah, sebagai bagian pendidikan nilai, adalah upaya untuk membantusubjek didik mengenal, menyadari pentingnya, dan menghayati nilai –nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan tingkahlakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama – samadalam suatu masyarakat. (Daroeso, 1986:45), berpendapat tentangpendidikan moral bahwa: “pendidikan moral adalah pendidikan yangmenyangkut aspek dari pada watak seseorang yang sama pendidikannya,watak itu tidak baru dimulai pada saat ia masuk sekolah”. Pendidikan moral dapat dirumuskan sebagai: suatu proses yangdisengaja di mana para warga muda dari masyarakat dibantu supayaberkembang dari orientasi yang berpusat pada diri sendiri mengenai hak –hak dan kewajiban mereka, ke arah pandangan yang lebih luas, yaitubahwa dirinya berada dalam masyarakat dan ke arah pandangan yang lebihmendalam mengenai diri sendiri (Salam, 2000:76). Kehidupan manusia memang mempunyai otonomi, tetapimanusia tidak bebas sepenuhnya. Kehidupan manusia terkait olehketentuan – ketentuan yang ada dalam masyarakat. Ketentuan – ketentuanitu menurut Daroeso (1986:23) sebagai berikut: 1. ketentuan agama yang berdasarkan wahyu.
    • 23 2. ketentuan kodrat yang terutama dalam diri manusia, termasuk didalamya ketentuan moral universal yaitu moral yang seharusnya. 3. ketentuan adat istiadat buatan manusia termasuk didalamnya ketentuan moral yang sedang berlaku pada suatu waktu. 4. ketentuan hukum buatan manusia, baik berbentuk adat istiadat atau hukum negara. Diungkapkan oleh Magnis (Daroeso, 1986:27) bahwa:berkesadaran moral tidak lain adalah merasa wajib untuk melakukantindakan yang bermoral. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukantindakan yang bermoral itu ada dan terjadi di dalam hati sanubari manusia,siapapun, dimanapun dan kapanpun juga. Kohlberg seorang pakar Perkembangan Moral secara Kognitif(Cognitive Moral Development) memandang pendidikan moral adalahpendidikan mengenai prinsip – prinsip umum tentang moralitas denganmenggunakan metode pertimbangan moral atau cara – cara memberipertimbangan moral. Prinsip – prinsip moralitas adalah prinsip mengenaipilihan. Kohlberg melihat pendidikan moral adalah kegiatan untukmembantu peserta didik menuju kearah yang sesuai dengan kesiapanmereka, dan tidak memaksakan pola – pola eksternal terhadapnya. Dalampendidikan moral senantiasa melibatkan stimulasi perkembangan melaluitahap – tahap, dan tidak sekedar mengajarkan kebenaran – kebenaran yangsudah baku. Secara umum pendidikan moral berkenaan dengan aturan –aturan (moral rules), sikap – sikap (behavior), dan tingkah laku (action). Pandangan Wilson tentang esensi dari pendidikan moral adalahmenanamkan pilihan – pilihan yang benar dan klarifikasi akan perasaandan disposisi tersebut. Pendidikan moral umumnya lebih menunjuk kepada
    • 24 pengembangan konsepsi keadilan yang begitu dipengaruhi oleh pemikiran – pemikiran Kant (Haricahyono, 1995:210) moralitas mencakup makna yang begitu luas, antara lain: a Tingkah laku membantu orang lain; b Tingkah laku yang sesuai dengan norma – norma sosial; c Internaliasasi norma – norma sosial; d Timbulnya empati atau rasa salah, atau bahkan keduanya; e Penalaran tentang keadilan, dan f Memperhatikan kepentingan orang lain.4. Tujuan Pendidikan Moral Sasaran dari moral adalah keselarasan dari perbuatan manusia dengan aturan – aturan yang mengenai perbuatan – perbuatan manusia itu (Salam, 2000:9). Tujuan secara khusus pendidikan moral: untuk berkembangnya siswa dalam penalaran moral (moral reasioning) dan melaksanakan nilai – nilai moral (Salam, 2000:77). Pandangan Salam (2000: 80) tentang tujuan pendidikan moral adalah: membimbing para generasi muda untuk memahami dan menghayati Pancasila secara keseluruhan dan setiap sila. Tujuan akhirnya adalah agar dapat menumbuhkan manusia – manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama – bersama bertanggungjawab atas pembangunan Ditambahkan bahwa tujuan pendidikan moral adalah: (1) Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) Meningkatkan kecerdasan dan keterampilan dan mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan. Tujuan utama pendidikan moral adalah untuk meningkatkan kapasitas berpikir secara moral dan mengambil keputusan moral.
    • 25mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan moral ditekankan pada metodepertimbangan moral dan untuk membantu anak – anak untuk mengenalapa yang menjadi dasar untuk menerima suatu nilai. Selain itu tujuanpendidikan moral adalah untuk mengusahakan perkembangan yangoptimal bagi setiap individu. Lickona (Koyan, 2000:85) mengemukakantentang dua tujuan utama pendidikan moral, yaitu kebijakan dan kebaikan. Selain itu sebagai intrakulikuler dalam mata pelajaranPendidikan Kewarganegaraan (PKn) tujuan pendidikan moral (Daryono,1998:31) yaitu: meneruskan dan mengembangkan jiwa semangat dan nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 kepada generasi muda, dengan menekankan ranah sikap dan nilai – nilai yang mendorong semangat, merangsang ilham, dan menyeimbangkan kepribadian peserta didik Tujuan Pendidikan moral perlu diefektifkan, karena adanyakecenderungan remaja bertingkah laku menyimpang. Membangunmanusia seutuhnya adalah masalah dan tugas pendidikan di lingkungankeluarga, sekolah, lingkungan manusia seutuhnya adalah tugas untukmembantu manusia dalam perkembangannya menjadi manusia insankamil/manusia yang sempurna, manusia yang sehat jasmani dan rohani,manusia yang seimbang dalam perkembangannya sebagai insan sosialyang adil (Daroeso, 1986:43). Adapun pendidikan moral memiliki tujuandan sasaran sebagai berikut: 1. Perkembangan anak seutuhnya; 2. Membina warga negara yang bertanggung jawab; 3. Mengembangkan rasa hormat menghormati martabat individu dan kesucian hak asasi manusia;
    • 26 4. Menanamkan patriotisme dan integrasi nasional; 5. Mengembangkan cara hidup dan berpikir demokratis; 6. Mengembangkan toleransi, mengerti perbedaan; 7. Mengembangkan persaudaraan; 8. Mendorong tumbuhnya iman; 9. Menanamkan prinsip moral.5. Prinsip – Prinsip Pendidikan Moral Pendidikan moral memang menanamkan prinsip moral yang lazim disebut sosialisasi moral. Mengenai prinsip – prinsip moral, Durkheim menjelaskan sebagai berikut : (1) Pada dasarnya tidak ada seperangkat prinsip – prinsip moral dalam artian serangkaian pernyataan apriori dapat dianggap universal dan menentukan kehidupan moral semua makhluk manusia. (2) Pernyataan tentang prinsip – prinsip moral tidak berakar dalam naluri individualistik, akan tetapi lebih berakar dalam masyarakat beserta sifat – sifat sosial manusianya, yang sekaligus merupakan prinsip utama yang dibenarkan dalam eksistensi manusia. (3) Moralitas adalah suatu sistem aturan tingkah laku tertentu merefleksikan realitas moral dari masyarakat tertentu dimana aturan – aturan tersebut disertai dengan otoritas dan sanksi berdasarkan kepentingan masyarakat yang bersangkutan (Haricahyono, 1995:96 – 102). Dengan demikian, dalam pendidikan moral, prinsip – prinsip moral itu adalah subjek dan sekaligus konteks yang esensial bagi pendidikan moral. Keller dan Reuss (Haricahyono, 1995:207) menegaskan adanya empat prinsip yang mendasari moral, yang tidak harus berkaitan satu sama lain antara lain;
    • 27 a Prinsip justifikasi, yang mengimplikasikan adanya kepentingan untuk menjustifikasi perbagai tindakan yang menarik perhatian kita; b Prinsip kejujuran, yang menjamin keseimbangan secara adil dalam mendistribusikan perbagai usaha dan pengorbanan; c Prinsip konsekuensi, yang mengandung implikasi bahwa setiap orang harus mengatasi konsekuensi dari tindakan atau pun kelalaiannya; d Prinsip universalitas, yang berimplikasi adanya konsistensi dalam pertimbangan dan kehendak untuk mengambil peranan dari pribadi – pribadi yang menarik. Dalam pendidikan moral, mengajarkan proses penalaran moralsemata – mata, akan tetapi harus diarahkan kepada pensosialisasianindividu secara moral agar bisa bertindak dengan cara – cara tertentusesuai dengan norma – norma yang berlaku dalam masyarakat. Durkheim (Haricahyono, 1995:337) memandang pendidikanmoral berkaitan dengan sosialisasi moral, sementara penalaran dianggapmempunyai peranan yang cukup signifikan dalam proses penting tersebut.Prinsip moral menginginkan agar manusia atau personal individubertanggungjawab terhadap antara lain: a. Pengembangan personal yang diinginkan; b. Pengembangan atribut – atribut sosial (nilai – nilai yang dijunjung tinggi); c. Memperoleh prinsip moral sebagai bahan membuat pertimbangan dan putusan moral; d. Menemukan hakikat hidup.
    • 28 Supaya menjadi bermoral, maka harus menghargai disiplin, menempatkan diri dalam kelompok masyarakat, dan mengetahui alasan tertentu akan tingkah lakunya secara otonom. Dengan demikian akan tampak, bahwa pribadi yang terdidik secara moral akan bertindak sesuai dengan iklim dan budaya masyarakat.6. Tahap –Tahap Perkembangan Moral Manusia Tahap – tahap perkembangan moral manusia ditinjau melalui pendekatan kognitif Piaget dalam Haricahyono (1995) adalah terkait dengan aspek mental dan kognitif. Tentang tahap perkembangan moral sendiri, Piaget mengemukakan adanya dua tahap yang harus dilewati setiap individu. Yang pertama disebut tahap Heteronomous atau Realisme Moral. Dalam tahap ini anak cenderung menerima begitu saja aturan – aturan yang diberikan oleh orang – orang yang dianggap kompeten untuk itu; Tahap yang kedua disebut Autonomous Morality atau Independensi Moral. Dalam tahap ini anak sudah mempunyai pemikiran akan perlunya memodifikasi aturan – aturan untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Tahap perkembangan moral Bull (Daroeso, 1986:29 – 30) menyimpulkan empat tahapan perkembangan moral yaitu: a Anomi (without law), adalah anak belum memiliki perasaan moral dan belum ada perasaan untuk menaati peraturan – peraturan yang ada.
    • 29 b Heternomi (law imposed by others), adalah tahap moralitas terbentuk karena pengaruh luar (external morality). Pada heternomi peraturan dipaksakan oleh orang lain, dengan pengawasan, kekuatan atau paksaan, karena itulah peraturan tersebut di atas. c Sosionomi (law driving from society), adalah suatu kenyataan adanya kerjasama antar individu, menjadi individu sadar bahwa dirinya merupakan anggota kelompok. d Autonomi (law driving from self), adalah tahapan perkembangan pertimbangan moral yang paling tinggi. Pembentukan moral dari individu bersumber pada diri individu sendiri, termasuk di dalamnya pengawasan tingkah laku moral individu tersebut. Tahap perkembangan lainnya dikemukakan oleh Kohlbergterdiri dari tiga tingkatan perkembangan moral yang masing – masingtingkat memuat pula dua tahap perkembangan yaitu: a. Tingkat prakonvesional Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvensional ini terdiri dari dua tahap. 1). Orientasi hukuman dan kepatuhan
    • 30 Pada tahap ini tingkah laku anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi. Artinya, anak hanya berpikir bahwa tingkah laku yang benar itu adalah tingkah laku yang tidak mengakibatkan hukuman. Dengan demikian, setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negatif. 2). Orientasi instrumental – relatif Pada tahap ini tingkah laku anak didasarkan kepada rasa ”adil” berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati. Dikatakan adil manakala orang membalas tingkah laku kita yang anggap baik. Dengan demikian tingkah laku itu didasarkan kepada saling menolong dan saling memberi.b. Tingkat konvensional Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu – masyarakat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa tingkah laku itu harus sesuai dengan norma – norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian, pemecahan masalah itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Pada tingkat konvensional itu mempunyai dua tahap sebagai lanjutan dari tahap yang ada pada tingkat prakonvensional, yaitu tahap keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata hati.
    • 31 1). Keselarasan interpersonal Pada tahap ini ditandai dengan setiap tingkah laku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain. Kesadaran individu mulai tumbuh bahwa ada orang lain di luar dirinya untuk bertingkah laku sesuai dengan harapannya. Artinya, anak sadar bahwa ada hubungan antara dirinya dengan orang lain. Dan, hubungan itu tidak boleh dirusak. 2). Sistem sosial dan kata hati Pada tahap ini tingkah laku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya, akan tetapi didasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat. Ini berarti telah terjadi pergeseran dari kesadaran individu kepada kesadaran sosial. Artinya, anak sudah menerima adanya sistem sosial yang mengatur tingkah laku individu.c. Tingkat postkonvensional Pada tingkat ini tingkah laku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai – nilai yang dimilikinya secara individu. Seperti pada tingkat sebelumnya, pada tingkat ini juga terdiri dua tahap: 1). Kontrak sosial
    • 32 Pada tahap ini tingkah laku individu didasarkan pada kebenaran – kebenaran yang diakui oleh masyarakat. kesadaran individu untuk bertingkah laku tumbuh karena kesadaran untuk menerapkan prinsip – prinsip sosial. Dengan demikian, kewajiban moral dipandang sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, bukan sekadar pemenuhan sistem nilai. 2). Prinsip etis yang universal aturan – aturan Pada tahap terakhir, tingkah laku manusia didasarkan pada prinsip – prinsip universal. Segala macam tindakan bukan hanya didasarkan sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, akan tetapi didasarkan pada suatu kewajiban sebagai manusia. Setiap individu wajib menolong orang lain, apakah orang itu sebagai orang yang kita benci atau tidak, orang yang kita suka atau tidak. Pertolongan yang diberikan bukan didasarkan pada alasan subjektif, akan tetapi didasarkan pada kesadaran yang bersifat universal.7. Muatan Pendidikan Moral Pendidikan moral pada tiap – tiap negara berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam negara yang menjadikan agama sebagai hukum dasarnya maka pendidikan moral bersumber pada agama yang berlaku di negara itu. Bagi masyarakat Indonesia mengenai dasar pendidikan moral
    • 33sudah jelas, berdasarkan religi, adat istiadat dan kebudayaan Indonesiayaitu Pancasila. Moral sesuatu masyarakat adalah merupakan identitasbagi masyarakat itu (Daroeso, 1986:55). Pandangan Durkheim (Haricahyono, 1995:327) terhadap muatanmoralitas pada dasarnya berkaitan dengan isi, tindakan, aturan – aturan,atau tingkah laku – tingkah laku tertentu. ”Morality is not a system ofabstract truth which can be derived from some fundamental notion,posited as self – efident”, demikian Durkheim. Lebih lanjut dikemukakan,”...it belongs to the realm of life, not to speculation. It is a set of rules ofconduct, of practical imperatives which have grown up historically underthe influence of specific social necessities” (Durkheim, 1961:34). Mengacu pada pandangan di atas Durkheim melihat adanya satufenomena dalam kehidupan manusia yang menduduki rangking teratas.Fenomena dimaksud adalah serangkaian aturan yang dapat dibatasi secarajelas dan spesifik. Dalam konteks ini pribadi yang bermoral tidak lantasdikaitkan dengan kesediaan yang bersangkutan untuk selalu memenuhiprosedur – prosedur tertentu, akan tetapi pribadi – pribadi semacam ini,paling tidak, mampu bertindak sesuai dengan aturan – aturan atau norma –norma yang berlaku. Di dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat norma - normayang mengatur tingkah laku anggotanya. Dalam hubungan ini, F. VonMagnis membedakan tiga macam norma kelakuan umum, yaitu : (1)peraturan sopan santun atau kebiasaan, (2) norma – norma hukum, dan
    • 34norma – norma moral. Muatan pendidikan moral dapat dilihat padagambar 1 sebagai berikut: MORAL FEELING MORAL KNOWING 1. Conscience 1. Moral awareness 2. Self – esteem 2. Knowing moral 3. Empathy values 4. Loving the good 3. Perspective – taking 5. Self – control 4. Moral reasioning 6. Humility 5. Decision making 6. Self knowledge MORAL ACTION 1. Competence 2. Will 3. Habit Gambar 1. Bagan components of good character Sumber: Lickona (Koyan, 2000:86)
    • 35C. Hubungan Tata Tertib Sekolah dan Pendidikan Moral Hubungan antara kenyataan hukum atau tata tertib sekolah dan moralitas atau pendidikan moral yang efektif sangat intensif, pada hakikatnya karena hukum itu hanya penglogisan dari nilai – nilai moral. Gerakannya dikekang oleh generalisasi dan penentuan kebutuhannya, hukum itu berubah – ubah secara lebih langsung sebagai suatu fungsi dari perubahan – perubahan moralitas (Johnson, 2006:286). Moral berkaitan dengan disiplin dan kemajuan kualitas perasaan, emosi dan kecenderungan manusia; sedangkan aturan pelaksanaanya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konversi lainnya (Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, 1989:211). Moralitas adalah keseluruhan norma – norma, nilai – nilai dan sikap moral seseorang atau sebuah masyarakat. Nilai – nilai moral itu berada dalam suatu wadah yang disebut moralitas, karena di dalamnya terdapat unsur – unsur keyakinan dan sikap batin dan bukan hanya sekedar penyesuaian diri dengan aturan dari luar diri manusia. Moralitas dapat bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Moralitas yang bersifat intrinsik berasal dari diri manusia itu sendiri, sehingga perbuatan manusia itu baik atau buruk terlepas atau tidak dipengaruhi oleh peraturan hukum yang ada (Tedjosaputro, 2003:6). Moralitas intrinsik ini esensinya terdapat dalam perbuatan diri manusia itu sendiri. Moralitas yang bersifat ekstrinsik penilaiannya didasarkan pada peraturan hukum yang berlaku, baik yang bersifat perintah maupun larangan.
    • 36Moralitas yang bersifat ekstrinsik ini merupakan realitas bahwa manusiaterikat pada nilai – nilai atau norma – norma yang diberlakukan dalamkehidupan bersama (Tedjosaputro, 2003:7). Sudarto (Tedjosaputro, 2003:31) mengatakan bahwa ada hubunganerat antara nilai, norma, sanksi dan peraturan – peraturan. Beliau mengatakansebagai berikut: Nilai adalah ukuran yang disadari atau tidak disadari oleh suatu masyarakat atau golongan untuk menetapkan apa yang benar, yang baik dan sebagainya. Norma adalah anggapan bagaimana seseorang harus berbuat. Agar normanya dipatuhi, maka masyarakat atau golongan itu mengadakan sanksi dan penguat. Ilmu hukum (pidana) normatif pada hakikatnya bukan semata –mata ilmu tentang norma, justru ilmu tentang nilai. Aspek norma merupakanaspek luar atau aspek lahiriah yang tampak dan terwujud dalam perumusanperundang – undangan atau tata tertib, sedangkan aspek nilai merupakanaspek dalam atau aspek batiniah/kejiwaan yang ada di balik atau di belakangnorma. Keduanya bersifat saling menunjang secara terpadu. Nilai selalumenjiwai secara konsisten berbagai norma yang berlaku di dalam masyarakat,baik norma agama, moral (etika), kesopanan maupun hukum. Hubungan tatatertib sekolah dan pendidikan moral lebih jelas pada gambar 2 sebagai berikut:
    • 37 MORAL ETIKA HUKUM Gambar 2. Hubungan Moral, Etika dan Hukum Sumber: Marpaung (1996:3) Piaget (Salam, 2000: 67) bahwa pikiran manusia menjadi semakinhormat pada peraturan. Manusia mempunyai daya tahu (budi) dan dayamemilih karena adanya dua macam daya inilah timbul penilaian etis ataumoral terhadap tingkah laku manusia. Dalam masyarakat yang hendak teraturdan tertib, diadakanlah aturan – aturan yang semuanya justru untuk
    • 38melindungi kemanusiaan, aturan untuk ketertiban hidup manusia dalammasyarakat. Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkahlaku sesuai dengan norma – norma yang terdapat dalam masyarakat. Dengandemikian moral atau kesusilaan adalah keseluruhan norma yang mengaturtingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan baik danbenar. Perlu diingat baik dan benar menurut seseorang, tidak pasti baik danbenar bagi orang lain. Karena itulah diperlukan adanya prinsip – prinsipkesusilaan/moral yang dapat berlaku umum, yang telah diakui kebaikan dankebenarannya oleh semua orang. Moral dipakai untuk memberikan penilaianatau predikat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan sendirinya menurut indentitas, ukuran manusia yang baikadalah yang mampu memenuhi ketentuan – ketentuan kodrat yang tertanamdalam dirinya sendiri. Ukuran ini tentunya tidak bertentangan dengan normayang berlaku dalam masyarakat. Sedangkan syarat untuk menjadi manusiayang bermoral, adalah memenuhi salah satu ketentuan kodrat yaitu adanyakehendak yang baik. Kehendak yang baik ini mensyaratkan adanya bertingkahlaku dan tujuan yang baik pula. Jadi predikat moral mensyaratkan adanyakebaikan yang berkesinambungan, mulai munculnya kehendak yang baiksampai dengan tingkah laku dalam mencapai tujuan yang juga baik. Meskipun pada dasarnya manusia itu selalu cenderung berbuat baik,tetapi kesadaran tidak datang dengan sendirinya. Kesusilaan harus diajarkandengan contoh yang baik, sehingga dengan demikian dapatlah terbentuk
    • 39manusia susila lahir dan batin. Pokok pembicaraan tata tertib sekolah danpendidikan moral ini adalah perbuatan manusia dengan tujuan yang hampirsama. Kalau tujuan tata tertib sekolah mengatur adalah mengatur tata – tertibmasyarakat dan tingkah laku warga masyarakat dalam bermasyarakat danbernegara sesuai dengan aturan – aturan hukum yang berlaku. Sedangkanpendidikan moral mempunyai tujuan mengatur tingkah laku manusia sebagaimanusia. Lingkungan pendidikan moral lebih luas daripada lingkungan tatatertib sekolah. Tata tertib sekolah berisikan perintah – perintah dan larangan –larangan agar tingkah laku manusia tidak melanggar aturan – aturan tertulismaupun tidak tertulis. Sedangkan pendidikan moral memerintahkan manusiauntuk berbuat apa yang berguna dan melarang segala yang tidak baik. Normamoral memberikan memberi kewajiban moral pada manusia agar kepentinganhukum dan kepentingan umum jangan dilanggar. Karakter atau watak warga negara yang bermoral salah satunya bisadilakukan melalui jalur pendidikan di sekolah. Pendidikan moral bukansesuatu entitas abstraksi ide semata namun nyata dalam kehidupan sehari –hari yang harus diajarkan pada manusia. Pendidikan moral merupakan suatuwadah bagi sekolah untuk mendidik, mengajar dan melatih siswa agarmempunyai sikap dan berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan nilai – nilaimoral dan norma – norma yang ada di masyarakat. Tata tertib sekolahmengatur dan memberi petunjuk pedoman aturan atau hukum tingkah lakusiswa terhadap moral yang baik. Tata tertib sekolah sebagai aturan hukum di
    • 40 dalamnya terkandung makna implementasi pendidikan moral untuk siswa dalam bertingkah laku.D. Sarana Pendidikan Moral Pandangan Daryanto (2001:51) tentang sarana pendidikan moral adalah seperti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Sarana pendidikan moral dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai alat pendidikan. Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi – kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan atau situasi mana, dicita – citakan dengan tegas, untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan ialah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Suwarno (Daryanto, 2001:141) membedakan alat pendidikan dari bermacam – macam segi salah satunya adalah alat pendidikan preventif dan korektif. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik, misalnya contoh: pembiasaan perintah, pujian, ganjaran. Kedua adalah alat pendidikan korektif, jika maksudnya memperbaiki karena anak telah melanggar ketertiban atau berbuat sesuatu yang buruk, misalnya: celaan, ancaman, hukuman. Alat pendidikan yang preventif ialah alat – alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh – pengaruh buruk dari luar ke dalam diri siswa. Kewajiban pendidik adalah mendidik
    • 41 siswa menjadi anak yang baik dan mencegah/membentengi siswa dari masuknya pengaruh – pengaruh yang buruk ke dalam dirinya. Jenis alat – alat pendidikan preventif yang abstrak seperti tata tertib, anjuran, larangan, perintah, disiplin dan semisalnya. Hal – hal yang diperbaiki (korektif) adalah perbuatan – perbuatan jelek yang sudah menjadi kebiasaan diperbuat siswa, seperti suka berkelahi, suka bertengkar, suka mengambil barang milik orang lain, suka menghina, suka mengejek, suka mengganggu dan sebagainya.E. Kerangka Berpikir Perkembangan dan perubahan masyarakat yang berlangsung cepat dan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi; khususnya kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi, di satu sisi dapat berdampak positif namun di sisi lain menimbulkan pengaruh yang berdampak negatif, terutama nilai – nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai – nilai luhur budaya bangsa. Gejala – gejala pengaruh negatif itu, kini telah tampak di kalangan generasi muda, terutama di kota – kota besar di Indonesia. Gejala – gejala negatif tersebut merupakan tantangan bagi sekolah untuk lebih memperhatikan siswanya dan lebih menggiatkan pelaksanaan pendidikan moral di lingkungan sekolah secara khusus. Selain melalui komponen kurikulum komponen formal seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama juga lewat jalur
    • 42hidden curriculum. Namun harus dipahami salah satu usaha untukmelaksanakan pendidikan moral secara intensif dan komprehensif di sekolahadalah melalui hidden curriculum antara lain seperti penegakkan aturan moralmelalui tata tertib sekolah. Menurut konsep pendidikan dewasa ini, bahwapendidikan berlangsung sepanjang hayat dan pendidikan untuk semua(education for all). Pelaksanaan pendidikan moral harus dimulai dari dalam lingkungankeluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama danutama di dalam kehidupan manusia. Sekolah memiliki peranan penting dalampembentukan kepribadian, mentransmisi dan mentransformasi nilai – nilaimoral; serta seleksi dan pra aloksi tenaga kerja. Baik dan buruknya moralsiswa tergantung pada berhasil atau tidaknya pendidikan moral di sekolah danpenegakan tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah memberikan bentuk nyatadari pendidikan moral yang harus diberikan pada siswa yang berisikan nilai –nilai moral. Moral siswa yang baik dapat diketahui dari indikator berupa taatdan patuh pada tata tertib sekolah yang dapat dilihat melalui pengamatanberupa aturan moral, sikap dan tingkah laku atau tingkah laku yangmencerminkan nilai – nilai moral yang sesuai dengan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan tata tertib sekolah tersebut tentunya bergantung padakemampuan sekolah dalam implementasi pendidikan moral yang banyakditemui kendala – kendala sehingga dirasa belum optimal guna menekantingkat pelanggaran tata tertib sekolah. Belum optimalnya pelaksanaan tatatertib sekolah tersebut dapat dilihat melalui profil pribadi siswa sehari – hari
    • 43baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat sudah menunjukan tingkah lakuyang mencerminkan pribadi – pribadi yang bermoral atau sebaliknya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendidik siswa agar memilikiketerampilan atau keahlian (skill) tertentu. Pemberian muatan moral terhadaptingkah laku siswa kadang hanya sebatas bersifat temporal tidak bersifatkontiunitas. Kontrol dari pihak sekolah yang lemah mengakibatkan siswacenderung mengabaikan aturan moral atau tata tertib sekolah. Siswa SekolahMenengah Kejuruan (SMK) mempunyai kecenderungan yang besar untukberbuat penyimpangan. Indikasi ini diakibatkan oleh karakteristik siswa yangberbeda dan stimuli siswa untuk langsung mendapatkan pekerjaan (readywork) sehingga menimbulkan dampak tidak terlalu memedulikan aspekmoralitas diri sendiri. Interaksi antar siswa dengan Guru dan lingkungan ikutmempengaruhi dan membentuk tingkah laku siswa. Apabila tingkah laku siswa tanpa kontrol dan penanganan secaratidak serius maka akan dapat menimbulkan tingkah laku yang menyimpangbahkan cenderung menuju tindakan kriminalitas. Tentu saja sebagai lanjutantingkah laku siswa yang menyimpang akan dapat merugikan tidak hanya baikdiri sendiri akan tetapi keluarga serta lingkungan masyarakat. Mengingatkompleksnya kehidupan manusia, maka dalam pelaksanaan pendidikan moral,perlu diciptakan dan ditemukan metode yang tepat sehingga bisa menjangkauseluruh aspek kehidupan manusia. Untuk mempermudah dalam memahamipenelitian ini maka disajikan gambar 3 sebagai berikut:
    • 44 Sistem Pendidikan Nasional Tujuan Pendidikan Nasional Moral Siswa SMK NEGERI 5 SEMARANG Kurikulum Guru Siswa Fasilitas Pendidikan Tata Tertib Moral SekolahAturan Sikap Tingkah Laku Baik Buruk Keterangan: : Proses distribusi : Proses kontrol Gambar 3 Bagan Kerangka Berpikir
    • 45Keterangan: Pendidikan diartikan tidak hanya sebagai formal transfer of knowledge namun bagaimana membentuk pribadi – pribadi manusia yang memiliki nilai moralitas yang tinggi. Oleh karena itu Sistem Pendidikan Nasional yang tercantum pada tujuan pendidikan nasional menghendaki agar siswa tumbuh dan berkembang dari sisi akhlak, moralitas yang baik. Moral siswa yang baik atau buruk tercermin dari tingkah laku siswa baik di rumah, sekolah dan masyarakat. Tentunya sekolah terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai tanggung jawab terhadap pembentukan moral siswa tersebut. Pada komponen sekolah yang berperan dalam mewujudkan cita – cita tersebut salah satunya melalui komponen pendidikan moral dan tata tertib sekolah. Guru mengontrol tingkah laku siswa melalui tata tertib sekolah. Tingkah laku siswa yang baik atau buruk akan mencerminkan dan menentukan pandangan masyarakat terhadap kadar moralitas siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.
    • BAB III METODE PENELITIANA. Dasar Penelitian Suatu penelitian untuk mendapatkan hasil yang optimal harus menggunakan metode penelitian yang tepat. Ditinjau dari permasalahan penelitian ini yaitu tentang pelaksanaan dan kendala – kendala tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang maka penelitian ini bersifat non eksperimen yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Karl dan Milles (Moleong, 2002:3), penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan kepada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang tersebut. Di samping itu penelitian deskriptif yaitu merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan objek sesuai dengan apa adanya. Dengan metode deskriptif, peneliti memungkinkan untuk melakukan hubungan antara variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif yaitu mengamati, mencatat, dan mendokumentasi 46
    • 47 pelaksanaan dan kendala – kendala tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. Peneliti berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan berusaha memahaminya. Dimana dalam penelitian tersebut memiliki ciri – ciri sebagai berikut: 1. Sumber data langsung berupa tata situasi alami dan peneliti adalah instrumen kunci. 2. Bersifat deskriptif dimana data yang dikumpulkan umumnya berbentuk kata – kata, gambar – gambar dan bukan angka – angka, kalaupun ada angka – angka sifatnya hanya sebagai penunjang. 3. Lebih menekankan pada makna proses ketimbang hasil. 4. Analisis data bersifat induktif. 5. Makna merupakan perhatian utama dalam pendekatan penelitian (Sudarwan, 2002:6).B. Fokus Penelitian Di dalam penelitian kualitatif deskriptif menghendaki ditetapkannya batas atas dasar fokus penelitian. Dalam pemikiran fokus terliput di dalamnya perumusan latar belakang, studi permasalahan, fokus juga berarti penentuan keluasan (scope) permasalahan dan batas penelitian. Penentuan fokus memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Menentukan keterikatan studi, ketentuan lokasi studi. 2. Menentukan kriteria inklusi dan eksklusi bagi informasi baru. Fokus membantu bagi penelitian kualitatif deskriptif membuat keputusan untuk membuang atau menyimpan informasi yang diperolehnya (Rachman, 1999:121). Fokus penelitian merupakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Fokus dalam penelitian ini adalah tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan
    • 48 (SMK) Negeri 5 Semarang. Sebagai indikator dari fokus tersebut di atas adalah: 1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. 3. Kendala – kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.C. Sumber Data Penelitian Data adalah bentuk jamak dari datum. Data merupakan keterangan – keterangan tentang suatu hal, dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap. Atau suatu fakta yang digambarkan lewat angka, simbol, kode dan lain – lain. Data perlu dikelompok – kelompokkan terlebih dahulu sebelum dipakai dalam proses analisis. Pengelompokkan data disesuaikan dengan karakteristik yang menyertainya (Hasan, 2002:82). Sumber data penelitian adalah subjek di mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002:107). Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut: 1. Data Primer
    • 49 Data primer adalah data yang dikumpulkan atau diperoleh langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan. Sumber data primer yaitu kata – kata atau tindakan orang yang diamati atau diwawancarai (Arikunto, 2002:122). Data primer ini disebut juga data asli atau data baru. Sumber data primer diperoleh peneliti melalui wawancara dengan responden. Responden orang yang diminta keterangan tentang suatu fakta atau pendapat, keterangan dapat disampaikan dalam bentuk tulisan, yaitu ketika mengisi angket, atau lisan ketika menjawab wawancara (Arikunto, 2002:122). Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Guru bidang Bimbingan Konseling (BK) dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang atau yang terkait dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral. Data yang diperoleh peneliti melalui responden, termasuk dalam kategori data sekunder. Sebagaimana data yang diperoleh melalui informan di atas sehingga data sifatnya juga masih asli dan baru.2. Data sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber – sumber yang telah ada. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan atau dari
    • 50 laporan – laporan penelitian terdahulu. Data sekunder disebut juga data tersedia (Hasan, 2002:82). Dokumen adalah setiap bahan yang tertulis maupun film (Moleong, 2002:113). Dokumen dalam penelitian ini berupa tata tertib siswa, buku – buku, dan literatur lain yang ada hubungan dengan masalah yang akan diteliti. Tujuannya adalah data didapatkan berupa data tambahan yang merupakan data sekunder.D. Alat dan Teknik Pengumpulan Data 1. Alat Pegumpulan Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara (interviu) dan dokumentasi. a. Observasi Dalam penelitian ini, observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistemik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga peneliti berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian foto (Rachman, 1999:77). Berkaitan dengan jenis observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan metode
    • 51 observasi secara langsung dan tidak langsung yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.b. Wawancara (Interviu) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu wawancara yang mengajak pertanyaan – pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2002:135). Wawancara merupakan data informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan lisan, untuk dijawab secara lisan pula (Rachman, 1999, 83). Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa pedoman atau instrumen wawancara yaitu berbentuk pertanyaan yang diajukan kepada subjek penelitian. Sedangkan wawancara yang diterapkan adalah wawancara berstruktur. Wawancara berstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check – list (Arikunto, 2002:20). Selain itu wawancara dilakukan melalui wawancara tak berstruktur yaitu wawancara dilakukan secara informal, dimana pertanyaan tentang pandangan sikap, keyakinan subjek atau tentang keterangan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yang diajukan secara bebas kepada subjek penelitian.
    • 52 Di samping itu wawancara ini dapat dikembangkan apabila diperlukan untuk melengkapi data – data yang masih kurang. Kelebihan tersebut wawancara tak berstruktur antara lain: 1). Memungkinkan peneliti untuk mendapatkan keterangan dengan lebih cepat. 2). Ada keyakinan bahwa penafsiran responden terhadap pertanyaan yang diajukan adalah tepat. 3). Sifatnya lebih luas. 4). Pembatasan – pembatasan dapat dilakukan secara langsung, apabila jawaban yang diberikan melewati batas ruang lingkup masalah yang diteliti. 5). Kebenaran jawaban dapat diperiksa secara langsung. (Soekanto, 1984:25) Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa wawancara adalah untuk mendapatkan gambaran yang sejelas – jelasnya dan informasi yang selengkap – lengkapnya. Melalui wawancara ini diharapkan peneliti mendapatkan gambaran mengenai pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. c. Dokumentasi Dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, surat, lengger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:206).2. Teknik Pengumpulan Data Guna mendapatkan informasi yang diharapkan penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan melalui:
    • 53a. Teknik Observasi Berkaitan dengan teknik observasi (Kartono, 1996:57) mengemukakan, observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala – gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Ditambahkan bahwa observasi ialah pengujian secara internasional atau bertujuan suatu hal, khususnya untuk maksud mengumpulkan data. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi yang menerapkan observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai intrumen pengamatan.b. Teknik Komunikasi Teknik komunikasi adalah cara mengumpulkan data melalui kontak atau hubungan pribadi antara pengumpul data dengan sumber data (Rachman, 1999:82). Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan teknik komunikasi langsung yaitu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan wawancara atau interviu sebagai alatnya.c. Teknik Dokumentasi Berkaitan teknik dokumentasi (Hasan, 2002:88) mengemukakan bahwa teknik dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian, namun melalui dokumen, dimana dokumen yang
    • 54 digunakan dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus dalam pekerjaan sosial dan dokumen lainnya. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi sebagai metode ketiga disamping observasi dan wawancara, karena teknik dokumentasi dapat memberikan cara yang terbaik untuk memberikan data – data masa lalu yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Di samping itu untuk subjek penelitian tertentu yang sukar atau tidak mungkin dijangkau, maka studi dokumentasi dapat memberikan jalan untuk melakukan penelitian (Hasan, 2002:88). d. Teknik Studi Pustaka Teknik studi pustaka diperlukan dalam penelitian ini sebagai acuan terhadap permasalahan yang di lapangan dengan buku – buku literatur tentang tata tertib sekolah dan lingkup yang terkait dengan pendidikan moral.E. Objektivitas dan Keabsahan Data 1. Objektivitas Data Objektivitas terhadap keabsahan data merupakan salah satu bagian yang penting di dalam penelitian kualitatif deskriptif, untuk mengetahui derajat kepercayaan dari hasil penelitian yang dilakukan. Apabila peneliti melaksanakan objektivitas terhadap keabsahaan data
    • 55 secara cermat dengan teknik yang tepat dapat diperoleh hasil penelitian yang benar – benar dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai segi.2. Keabsahan Data Keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan kebenaran temuan hasil penelitian dengan kenyataan di lapangan. Lincoln dan Guba (Moleong, 2002:175) untuk memeriksa data pada penelitian kualitatif deskriptif antara lain digunakan taraf kepercayaan data (Credibility). Teknik yang digunakan untuk melacak Credibility dalam penelitian ini yaitu Teknik Triangulasi (Triangulation). Teknik Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002:178). Teknik Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan metode artinya bahwa teknik pemeriksaan dengan membandingkan atau mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda (Moleong, 2002:178). Teknik Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi yang memanfaatkan penggunaan sumber dan metode yaitu pemeriksaan keabsahaan data dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan dokumentasi serta dengan pengecekan penemuan hasil penelitian. Dari beberapa teknik triangulasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut Denzin (Moleong, 2002:178):
    • 56 a. Triangulasi dengan memanfaatkan sumber berarti membandingkan dan mengecek bahwa derajat kepercayaan sesuatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dicapai dengan jalan: 1). Membandingkan data hasil wawancara. 2). Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. 3). Membandingkan apa yang dikatakan orang – orang tentang situasi penelitian dengan yang dikatakan sepanjang waktu. 4). Membandingkan keadaan pada perspektif seseorang dengan berbagai pendapat orang lain. 5). Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. b. Triangulasi dengan metode terdapat dua strategi yaitu: 1). Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data. 2). Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dan metode yang sama. Dengan menggunakan kedua teknik triangulasi di atas akandapat diperoleh hasil penelitian yang benar – benar sahih, karena keduateknik triangulasi di atas sangat sesuai dengan penelitian yang bersifatkualitatif deskriptif.
    • 57F. Metode Analisis Data 1. Tinjauan Metode Analisis Data Patton (Hasan, 2002:97) mengemukakan analisis data adalah proses mengatur urutan data mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Sedangkan Bogdan dan Taylor (Hasan, 2002:97) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumusakan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Moleong (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud analisis data adalah proses mengorganisasikan dan menGurutkan data ke dalam pola, kategori satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dirumusakan hipotesis kerja seperti yang dirumuskan data. 2. Bentuk dan Cara Melakukan Analisis Data Pada prinsipnya analisis data ada dua cara yaitu analisis statistik dan analisis non statistik, hal ini tergantung pada datanya. Adapun analisis data non statistik, yang disebut juga sebagai analisis kualitatif deskriptif yaitu analisis yang tidak menggunakan model matematik, model statistik dan ekonometrik atau model – model tertentu lainnya. Analisis data dilakukan terbatas pada teknik pengolahan datanya, seperti pada pengecekan data dan tabulasi, dalam hal ini sekedar membaca tabel – tabel, grafik – grafik atau angka – angka yang tersedia kemudian melakukan uraian dan penafsiran (Hasan, 2002:98).
    • 58 Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptifnon statistik, dimana komponen reduksi data, dan sajian data dilakukanbersamaan dengan proses pengumpulan data setelah data terkumpul maka,tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan)berinteraksi. Ini untuk menjawab permasalahan pertama dari penelitian.Langkah – langkah analisis kualitatif deskriptif adalah sebagai berikut: a. Pengumpulan data Pengumpulan data ialah mencari, mencatat dan mengumpulkan semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan yang diturunkan peneliti serta melakukan pencatatan di lapangan. b. Reduksi data Data yang telah terkumpul dipilih dan dikelompokkan berdasarkan data yang mirip atau sama. Kemudian data ini diorganisasikan untuk mendapatkan kesimpulan data sebagai bahan penyajian data. Penyusunan data dilakukan dengan pertimbangan penyusunan data sebagai berikut: 1). Hanya memasukan data yang penting dan benar – benar dibutuhkan. 2). Hanya memasukan data yang benar – benar objektif. 3). Hanya memasukan data yang autentik. 4). Membedakan antara data informasi dengan pesan pribadi responden (Rachman, 1999:103). c. Penyajian data
    • 59 Setelah diorganisasikan, selanjutnya data disajikan dalam uraian – uraian naratif disertai dengan bagan atau tabel untuk memperjelas penyajian data.d. Penarikan kesimpulan atau verifikasi Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk lebih jelasnya proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi, serta interaksi dari ketiga komponen dapat dilihat pada gambar 4 sebagai berikut: Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Gambar 4. Bagan Metode Analisis Data Sumber: Miles dan Huberman (1994:20)
    • 60G. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi tiga tahapan yaitu: 1. Tahap pembuatan rancangan Tahap ini merupakan langkah awal dan pertama peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan sebelum memasuki tahap selanjutnya terjun dalam kegiatan penelitian. Pada tahap ini peneliti melaksanakan beberapa alur yaitu memilih masalah, studi pendahuluan, merumuskan masalah, memilih pendekatan, menemukan variabel dan sumber data serta menentukan dan menyusun instrumen. 2. Tahap pelaksanaan penelitian Peneliti melaksanakan penelitian, dengan melaksanakan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan pencatatan. Kemudian melaksanakan analisis data dengan semua data yang telah diperoleh di lapangan dianalisis dan dicek atau diperiksa kebenarannya menggunakan teknik triangulasi. 3. Tahap penyusunan laporan Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis dalam bentuk laporan penelitian agar hasilnya diketahui orang lain, serta prosedurnya pun diketahui orang lain pula sehingga dapat mengecek kebenaran pekerjaan penelitian tersebut. (Arikunto, 2002:20)
    • BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan tingkat lanjut menengah yang memiliki karakteristik berbeda dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) karena bertugas mempersiapkan siswa untuk mengutamakan berkembangnya kompetensi vocational skill (kecakapan/kemampuan kejuruan) yaitu kecakapan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam pembelajarannya ditekankan pada bagaimana persiapan siswa menguasai keterampilan atau keahlian praktis yang diterapkan dalam lingkungan pekerjaan. Hal ini berbeda dengan kecakapan yang diprioritaskan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu lebih menekankan pada academic skill (kemampuan akademik). Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berdiri atas dukungan Guru – Guru teknik dan direstui oleh Kepala Diktek Propinsi Jawa Tengah, Bapak Dimiyati Prasojo yang pada waktu itu menjabat Kepala STM 2 Semarang, mempelopori dan merintis jalan terwujudnya cita – cita tersebut yaitu terbentuknya sekolah teknologi lagi guna melengkapi STM yang telah sebelumnya. Berdasarkan Surat 61
    • 62Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.85/DIRPT/BI/65 Tanggal 5 Agustus 1965 diresmikan oleh KepalaInspeksi Daerah Pendidikan Teknologi Propinsi Jawa Tengah pada tanggal17 Agustus 1965 Sekolah Tinggi Menegah 5 Semarang dengan jurusanBangunan Gedung, Mesin, Listrik yang berada di STM 2 Jalan Sompok43A Semarang. Pada awal berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)Negeri 5 Semarang berstatus sekolah negeri yang belum mempunyaigedung sendiri. Untuk melaksanakan proses belajar mengajar terpaksadiselenggarakan siang hari dan menumpang pada sekolah negeri lain yangsecara berurutan bertempat di STM 2 Semarang beralamat di JalanSompok 43A Kelurahan Peterongan Kecamatan Semarang Timur.Terhitung sejak tanggal 18 Agustus 1965 sampai dengan 30 Juli 1977yang pada waktu itu karena kekurangan ruang sebagian kelas yangmenempati STM 1 – 3 Semarang di Jalan Cinde Raya Semarang (sekarangditempati SMP 8 Semarang). Kemudian berurutan kembali yaitu berada di STM 1 – 3Semarang yang beralamat Jalan Dr. Cipto 93 Semarang KelurahanKarangkojo Kecamatan Semarang Utara terhitung sejak tanggal 1 Juli1977 sampai dengan 30 Juni 1979. Berdasarkan Surat Keputusan KanwilDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Tanggal22 November 1977 No. 107/Kep/1977 tentang penunjukan tempatbangunan dan Surat Keputusan Kepala Bidang Pendidikan Menengah
    • 63Kejuruan Propinsi Jawa Tengah Tanggal 1 Juni 1979 No.542/I03.5/R.a/1979 terhitung sejak tanggal 1 Juni 1979 STM 5 Semarangsecara resmi menempati gedung sendiri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarangmerupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Semarangmempunyai Nomor Identitas Sekolah (NIS) 400050, Nomor StatistikSekolah (NSS) 321036308805 beralamat di Jl. Dr. Cipto No. 121Semarang 50124 Kelurahan Karangturi Kecamatan Semarang Timurdengan nomor telepon (024) 8416335 – 8447476, E – Mailsmk05_smg@yahoo.com berstatus sebagai sekolah negeri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarangmenempati luas tanah sekolah 10.612 m2 yang berdampingan denganSMK (SMEA) 1 yang dulunya adalah juga lokasi STM 5 Semarang.Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang bernamaDrs. H. M.Saidi dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) 130935750 NomorSK Pengangkatan 821.2/23/2002 Tanggal 28 Agustus 2002 No. RekeningSekolah Bank BRI Cabang Semarang Pandanaran 0325 – 01 – 031142 –50 – 4. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarangmempunyai visi menjadi pusat pendidikan dan latihan kejuruan yangberstandar nasional. Misi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5Semarang yang pertama adalah mendidik dan melatih siswa dalamprogram keahlian teknik gambar bangunan, teknik pemanfaatan tenaga
    • 64 listrik, teknik komputer jaringan, teknik transmisi telkom, teknik pemesinan dan teknik mekanik otomotif. Kedua adalah mendidik dan melatih siswa untuk dipersiapkan menjadi tenaga kerja profesional siap memasuki lapangan kerja di dunia usaha dan industri global, nasional dan regional, melanjutkan studi, berwirausaha maupun memasuki dinas dan militer.2. Keadaan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Sumber siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang berasal dari SMP/MTs Negeri/Swasta Se Kota Semarang dan SMP/MTs Negeri Swasta di sekitar perbatasan Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan. Data keadaan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dari hasil observasi dan wawancara memiliki jumlah siswa yang dominan laki – laki sebanyak 886 orang sedangkan siswa wanita berjumlah 30 orang terbagi dalam beberapa jurusan. Data jumlah keseluruhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang terbagi menjadi beberapa jurusan pada tabel 1 yaitu:
    • 65 Tabel 1 Jumlah Siswa SMK Negeri 5 Semarang Jumlah No. Program Keahlian Total I II III 1. Teknik Gambar Bangunan 72 60 34 166 2. Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik 67 52 61 180 3. Teknik Mesin Perkakas 71 55 52 178 4. Teknik Mekanik Otomotif 70 59 66 195 5. Teknik Transmisi Telkom 35 30 26 91 6. Teknik Komputer Jaringan 37 34 35 106 JUMLAH 352 290 274 916 Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang3. Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Keadaan Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang terdiri dari dua yaitu Guru Normatif/Adaptif dan Guru produktif. Idealnya berdasarkan aturan seorang Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah sejumlah 110 orang. Dari hasil observasi didapatkan bahwa Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai jam mengajar 50 jam sehari sedang menurut aturan yaitu 20 jam sehari. Guru Normatif/Adaptif yaitu mengajar pada mata pelajaran non kejuruan/umum sedangkan Guru Produktif yaitu mengajar pada mata
    • 66 pelajaran kejuruan/khusus program keahlian pada tabel 2 dan tabel 3 sebagai berikut:Tabel 2 Data Guru Normatif/Adaptif SMK Negeri 5 Semarang No Guru Bidang Studi Status Jumlah Tetap TT 1. Pendidikan Agama Islam 3 - 3 2. Pendidikan Agama Kristen - 1 1 3. Pendidikan Agama Katolik - 1 1 4. Bahasa Indonesia 4 - 4 5. PPKN 3 - 3 6. Sejarah 2 - 2 7. Pendidikan Jasmani & 2 1 3 Kesehatan 8. Matematika 4 3 7 9. Bahasa Inggris 3 2 5 10. Fisika 1 1 2 11. Kimia 4 1 5 12. Komputer / KKPI - 1 1 13. Kewirausahaan 2 - 2 14. Bimbingan Konseling 5 - 5JUMLAH 31 11 42 Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang
    • 67 Tabel 3 Data Guru Produktif SMK Negeri 5 Semarang Status No. Guru Program Keahlian Jumlah Tetap TT 1. Teknik Gambar Bangunan 8 - 8 2. Teknik Pemanfaatan Listrik 8 - 8 3. Teknik Mesin Perkakas 4 - 4 4. Teknik Mekanik Otomotif 3 1 4 5. Teknik Transmisi Telkom - 2 2 6. Teknik Komputer Jaringan 2 2 4 JUMLAH 25 4 31 Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang4. Tingkat Kedisiplinan Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Pelanggaran tata tertib sekolah paling banyak dilakukan oleh siwa berjenis kelamin laki – laki. Pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang beragam terdiri dari tidak masuk tanpa keterangan (alpa), meninggalkan pelajaran tanpa izin, baju tidak dimasukkan dan mencorat – coret seragam sekolah, berkelahi, tidak segera menempuh atau menyelesaikan remidi (lihat gambar 7). Dari pelanggaran tata tertib sekolah tersebut tidak masuk tanpa keterangan (alpa) dan keterlambatan datang ke sekolah (lihat gambar 8) menempati urutan teratas pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.
    • 68Observasi secara langsung mendapatkan bahwa kasus atau pelanggaranyang paling tampak adalah ketertiban mengenai baju yang tidakdimasukkan dan tidak memakai atau membawa atribut sekolah sepertibagde sekolah dan sabuk (lihat gambar 9). Alasan siswa mengenai bajuyang tidak dimasukkan adalah karena gaya/trend anak remaja masa kini.Guru sering memberikan teguran dan nasehat agar baju dimasukkan tapisiswa kadang tidak memperhatikan dan menyepelekan ajuran Gurutersebut. Siswa kadang hanya memasukkan baju saat bertemu Guru daningin masuk ruang Guru, setelah itu siswa mengeluarkan bajunya kembali.Karakteristik siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5Semarang pada umumnya memiliki rasa tanggung jawab kurang karenamotivasi belajar yang kurang. Data kedisiplinan tata tertib sekolah dapat dilihat salah satunyamelalui jenis – jenis pelanggaran siswa yang berupa hasil obeservasi danwawancara, diperoleh data sebagaimana pada tabel 4 sebagai berikut:
    • 69Tabel 4 Jenis Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SMK Negeri 5Semarang No Jenis Pelanggaran Tahun Pelajaran 2003 - 2004 2004 - 2005 2005 - 2006 1. Alpa 63 145 80 2. Bolos 16 85 49 3. Merokok 9 12 4 4. Berkelahi 10 38 5 5. Berjudi 25 19 14 6. Remidiasi 16 36 7 7. Keluarga 4 6 3 8. Ekonomi 9 12 15 9. Kesulitan Belajar 12 58 35 10. Pribadi 8 27 16 JUMLAH 172 438 228Sumber: data SMK Negeri 5 Semarang Dari observasi dan wawancara jenis – jenis pelanggaran tata tertibsekolah dapat diperinci sebagai berikut: 1. Alpa atau tidak masuk tanpa ijin adalah perbuatan pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan orang tua disebabkan oleh aspek luar akibat pergaulan dengan teman sepermainan. 2. Bolos dilakukan siswa dengan sendiri maupun berkelompok tanpa tujuan, dan mudah menimbulkan perbuatan yang iseng negatif. Bolos dari mengikuti pelajaran dilakukan saat jam pelajaran berlangsung
    • 70 disebabkan siswa merasa kurang bisa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Guru. 3. Merokok dilakukan siswa di saat jam istirahat biasanya bertempat di kamar mandi sekolah dengan adanya faktor pengaruh dari teman. 4. Berkelahi di dalamnya termasuk tawuran disebabkan oleh masalah individu dan salah paham antar siswa. 5. Berjudi dilakukan siswa dengan alasan iseng tidak ada kerjaan di sekolah untuk mengisi waktu dan adanya pengaruh dari teman. 6. Remidiasi adalah bagi siswa yang mempunyai nilai mata pelajaran tidak sesuai standar disarankan mengkuti remidiasi pelajaran. Namun siswa sering tidak mengkuti remidiasi dengan berbagai alasan seperti malas untuk mengikutinya bahkan ada yang sampai satu tahun pelajaran tapi belum mengkuti remidiasi. 7. Keluarga, disebabkan hubungan keluarga tidak harmonis yang mengganggu siswa di sekolah. 8. Ekonomi, biasanya yang sering adalah siswa belum membayar SPP sampai beberapa kali hingga menunggak pembayaran. 9. Kesulitan belajar, siswa mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran sehingga sering mengganggu situasi pembelajaran di kelas. 10. Pribadi adalah terkait dengan personal individu siswa yaitu interaksi dengan siswa lain.5. Isi Tata Tertib Sekolah Kaitannya Dengan Pelaksanaan Pendidikan Moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang
    • 71 Pendidikan moral di sekolah diberikan melalui 2 (dua) programyaitu program intrakulikuler dan program ekstrakulikuler. Pendidikanmoral melalui program intrakulikuler terdapat pada mata pelajaranPendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah, Agama, Kesenian danOlahraga sedangkan pada mata pelajaran yang lain diterapkan dandisesuaikan dengan kajian pembahasan oleh masing – masing Guru. Program yang bersifat ekstrakulikuler dilakukan melaluikegiatan selain program intrakulikuler antara lain sebagai suatu lembagapendidikan formal, sekolah berperan dalam penumbuhan keutuhan pribadisiswa melalui situasi budaya di lingkungan sekolah dan penanaman nilai –nilai luhur, etika dan budaya bagi siswa. Program ekstrakulikulerdilaksanakan melalui kegiatan organisasi di sekolah seperti OrganisasiIntra Sekolah (OSIS), Pramuka, Pencinta Alam dan olahraga. Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai – nilai hidup, makamoral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuaidengan nilai – nilai hidup yang dimaksud. Nilai moral yang diharapkanoleh sekolah sekurang- kurangnya seperti yang dirumuskan dalam SKL(Standar Kompetensi Lulusan) baik yang terdapat dalam pendidikanagama, PKNS, kesenian dan olahraga. Misalkan mengembangkan nilaireligiositas, nilai sosialitas, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran,nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggung jawab dan nilaipenghargaan terhadap lingkungan alam. Salah satu nilai religiositas padatata tertib sekolah adalah waktu pelajaran pertama akan dimulai dan
    • 72pelajaran terakhir akan selesai, semua siswa melakukan acara berdoa yangdipimpin ketua kelas. Nilai sosialitas antara lain setiap siswa wajibmengikuti pelajaran dengan baik, sopan dan patuh kepada Guru. Nilaitanggung jawab adalah piket kelas bertanggungjawab atas alat-alat olahraga yang digunakan. Nilai penghargaan terhadap lingkungan alam setiapsiswa wajib menjaga kebersihan lingkungan sekolah, setiap siswa wajibmenjaga keindahan lingkungan sekolah, setiap siswa wajib menjagakeutuhan barang-barang milik sekolah. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moraldikarenakan juga dalam penyusunannya memperhatikan norma –norma/kaidah – kaidah baik berupa norma agama, norma sosial maupunnorma hukum. Peran dari Kepala Sekolah adalah menyusun tata tertibsekolah, menyusun mekanisme kerja petugas tata tertib sekolah danmelakukan kontrol terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah. Menyusunpetugas tata tertib sekolah, menyusun mekanisme kerja petugas tata tertibsekolah, melakukan pengontrolan terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah.Pegawasan terhadap tata tertib sekolah diserahkan pada Bidang Kesiswaanbaik mengenai personil, penanganan sanksi dan pendataan pelanggaran –pelanggaran. Tugas BP/BK yaitu mendata file khusus yang berisi siswayang ditangani, konsultasi, memanggil orang tua, seminggu sekalimengecek ketertiban siswa, BK/BP membuat surat skors. Macam –macam tata tertib sekolah untuk unit-unit kegiatan di sekolah itu, seperti
    • 73 perpustakaan sekolah, laboratorium, fasilitas olah raga, kantin sekolah, dan sebagainya.B. Pembahasan 1. Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah Sebagai Saraan Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu siswa di dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan sekaligus kepribadiannya secara utuh. Sesuatu prinsip moral barulah menjadi suatu kekuatan yang mengikat (imperatif) jika mampu menumbuhkan kesediaan seseorang untuk menerimanya sebagai pemandu tingkah lakunya. Situasi moral adalah situasi di mana siswa akan memilih dan menentukan tingkah lakunya berdasar serangkaian alternatif tingkah laku. Dalam memilih dan menentukan tingkah laku yang akan diambil, seseorang akan dibimbing oleh serangkaian prinsip – prinsip atau aturan – aturan moral, yang pada hakikatnya preskripsi universal (sekedar menganjurkan atau mensugesti tingkah laku – tingkah laku yang dimaksudkan) dari tingkah laku berjustifikasi, dalam suatu proses yang bercirikan oleh pendayagunaan penalaran. Sekolah dapat membantu perkembangan moral yang tidak hanya eksplisit dalam kurikulum, tetapi juga terletak secara implisit pada situasi di sekolah tersebut. Tata tertib sekolah di samping sebagai aturan hukum yang diterapkan di sekolah, dari hasil penelitian dapat digunakan sebagai salah
    • 74satu sarana pendidikan moral. Tata tertib sekolah mengatur tingkah lakusiswa di sekolah, otomatis tata tertib sekolah adalah sebagai suatu norma.Norma selalu terkait dengan aspek moral jadi merupakan salah satu moralyang harus dimiliki oleh siswa semisal norma agama, norma kesusilaandan norma kesopanan. Diungkapkan H.M Saidi, Kepala SekolahMenengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang bahwa ”tata tertib sekolahdisusun berdasarkan kaidah – kaidah hukum formal dan norma – normasosial maupun norma agama” (wawancara: 29 Mei 2007). Sebenarnyahakikat pendidikan moral adalah bagaimana mengajarkan pada siswatentang moral sendiri. Pemberian moral tersebut substansinya padapenekanan nilai – nilai kehidupan yang dihargai oleh masyarakat yangmelembaga melalui norma – norma, baik norma agama, norma hukummaupun norma sosial. Nilai – nilai kehidupan adalah norma – norma yang berlakudalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun. Dalammoral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu diperlukan, dansuatu perbuatan yang dinilai tidak baik perlu dihindari. Tata tertib sekolahmenjadi efektif karena setiap pelanggaran tata tertib sekolah mengandungsanksi. Tata tertib sekolah memiliki sifat memaksa yang di dalamnyamemuat tugas dan kewajiban, larangan – larangan serta sanksi. (Djamarah,2005:199) tujuan pemberian hukuman dalam perspektif pedagogis, sanksiberupa hukuman dilaksanakan dengan tujuan untuk melicinkan jalantercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran. Lebih lanjut dalam rangka
    • 75pembinaan siswa, baik pendekatan hukum maupun pendekatansosioantropologis kurang baik digunakan, yang tepat digunakan adalahpendekatan pedagogis. Tata tertib sekolah yang baik adalah yang mampu dilaksanakan,kriterianya membatasi atau mengikat semua siswa secara keseluruhan,tidak hanya sekedar takut pada aturan tapi membuat siswa sadar, tidakhanya larangan tapi menyadarkan anak terhadap peraturan. Mampumenyadari pentingnya tata tertib sekolah sendiri, siswa mampu melakukantata tertib sekolah sesuai dengan kesadaran pribadi masing – masing, siswamenjadi butuh atau kebutuhan/kebiasaan dalam diri siswa. Diungkapkan Purwodarminto (Sunarto, 1994:141) moral adalahajaran tenggang baik buruk, perbuatan kelakuan, akhlak, kewajiban dansebagainya. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakanantara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian moralmerupakan kendali dalam bertingkah laku. Sumber acuan moral antara laindapat berasal dari agama, adat – istiadat, hukum positif dan kodratmanusia. Pendidikan moral juga mengajarkan antara lain disiplin, otonomidiri dan interaksi dengan lingkungan. Pada prinsipnya pendidikan moral merupakan tanggung jawabsetiap elemen sekolah. Karena kondisi sekolah yang kondusif akanmendukung terciptanya moral siswa yang baik. Zakiyah (Daroeso,1986:128) mengatakan sekolah hendaknya diusahakan menjadi lapanganyang baik bagi penumbuhan dan pengembangan mental dan moral anak
    • 76didik, di samping tempat pemberian pengetahuan, pendidikanketerampilan dan pengembangan bakat dan kecerdasan. Hendaknya segalasesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran (baik Guru,pegawai, buku, peraturan dan alat – alat) dapat membawa siswa kepadapembinaan mental yang sehat, moral yang tinggi dan pengembanganbakat, sehingga siswa dapat lega dan tenang dalam pertumbuhan danjiwanya tidak goncang. Kegoncangan jiwa dapat meyebabkan mudahterpengaruh oleh tingkah laku yang kurang baik. Tata tertib sekolah adalah ketentuan yang mengikat yangbertujuan untuk menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang baik.Tata tertib sekolah menjadi efektif karena setiap pelanggarannyamengandung sanksi yang bersifat memaksa. Pendidikan moral adalahupaya untuk memberi motivasi, memberi keteladanan, memberi nilai –nilai tentang kaidah – kaidah/norma – norma baik norma agama, normahukum formal, norma sosial yang semuanya ditujukan untuk membangunmoral siswa. Tata tertib sekolah disusun berdasarkan kaidah – kaidahhukum formal dan norma – norma sosial maupun agama, seperti dilarangminum minuman keras, berjudi. Impelementasi pendidikan moraltercermin pada pelaksanaan tata tertib sekolah. Nilai – nilai pendidikan moral terdapat pada tingkat ketertibansiswa dalam lingkungan sekolah. Isi pendidikan moral pada tata tertibsekolah terdapat pada setiap poin yang diatur dalam tata tertib sekolahseperti. Di lingkungan sekolah mengalami bertemunya berbagai macam
    • 77tingkah laku siswa. Masyarakat menginginkan adanya nilai – nilai yangstabil dihargai atau dengan kata lain nilai – nilai yang diharapkan dansesuai dengan masyarakat. Mengharapkan kestabilan beberapa tingkahlaku dan kebiasaan yang telah ada di masyarakat seperti berpakaian rapi,berbicara dengan sopan dan hormat pada Guru. Sehingga diperlukanadanya pedoman dalam bertingkah laku terhadap nilai – nilai masyarkatmengenai apa yang dilarang atau diperbolehkan. Berbicara tentang nilai – nilai yang bisa ditanamkan melaluipendidikan moral, APEID – NIER Regional Project, melalui salah satupublikasinya, Moral Education in Asia (Haricahyono, 1995:403 – 404),menegaskan adanya 4 (empat) macam nilai, yaitu: a. Nilai – nilai sosial, meliputi kerjasama, kebersihan lingkungan, kebajikan, persaudaraan, keadilan sosial, menghormati orang lain, tanggung jawab sosial, persaudaraan yang mondial, menghormati martabat manusia, menghormati hak asasi manusia, dan lain – lain; b. Nilai – nilai personal, meliputi rendah hati, dapat dipercaya, disiplin, toleran, tertib, kebersihan, suka perdamaian (tenang), dan lain – lain; c. Nilai – nilai kenegaraan – mondial, meliputi kesadaran nasional, patriotisme, ketaatan kepada pemerintah, suka damai, persaudaraan, kemanusiaan, kesadaran ketergantungan antar bangsa, dan lain – lain;
    • 78 d. Nilai – nilai prosesual, meliputi pendekatan ilmiah terhadap kenyataan, mencari kebenaran, penangguhan pengadilan, dan lain – lain. Obyek pendidikan moral yang menekankan pada Pancasila padahakikatnya adalah nilai – nilai yang dijabarkan oleh Pancasila. Nilai – nilaitersebut mencakup nilai – nilai yang dikualifikasikan ke dalam 4 (empat)kelompok nilai di atas, yaitu nilai – nilai sosial, personal, kenegaraan –mondial, dan prosesual. Nilai – nilai itulah sebenarnya yang inginditumbuhkembangkan dalam diri pribadi masing – masing siswa.Pendidikan Moral Pancasila pada hakikatnya adalah pendidikan yangsecara sadar ingin mengarahkan sikap dan tingkah laku siswa kearah hal –hal yang baik dan positif. Selain itu nilai – nilai kehidupan juga bisa dikembangkandengan nilai – nilai Pancasila seperti nilai – nilai keagamaan, nilai – nilaikemanusiaan dan nilai perikeadilan, nilai – nilai estetik, nilai – nilai etikdan nilai – nilai intelektual, dalam bentuk – bentuk sesuai denganperkembangan remaja. Pelanggaran tata tertib sekolah, merupakanpelanggaran norma hukum dan sekaligus norma moral. Tetapi normamoral dapat menjadi norma hukum, sehingga barangsiapa yangmelanggarnya dapat dikenakan sanksi hukum. Norma tersebut, setelahmengalami suatu proses pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu darilembaga kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses pelembagaan(institutionalization) yang dimaksud ialah sampai norma itu oleh
    • 79masyarakat dikenal, diakui, dihargai dan kemudian ditaati dalamkehidupan sehari – hari. Sidharta (2006:77) menyatakan sebagai suatu kompleks darinilai – nilai (sistem nilai) atau kumpulan moral, moralitas pada diriseseorang atau suatu masyarakat digunakan dalam 2 (dua) hal, yakni: a. Sebagai standar normatif evaluatif (normative standards of evaluation), dan; b. Aturan normatif perilaku (normative rules of conduct). Proses pelembagaan sebenarnya tidak berhenti sedemikian saja,akan tetapi dapat berlangsung lebih jauh lagi hingga suatu normakemasyarakatan tidak hanya menjadi institutionalized dalam masyarakat,tetapi menjadi internalized. Maksudnya adalah suatu taraf perkembangandi mana para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin bertingkah lakusejalan dengan tingkah laku yang memang sebenarnya memenuhikebutuhan masyarakat. Dalam kaitan ini, nilai – nilai moral adalah nilai yang beradadalam lubuk hati serta menyatu dengan raga, yang di dalamnya menjadisuara hati atau mata hati atau hati nurani ”the conscience of man”.Menyebut suara batin itu sebagai suatu panggilan luhur hendakmeningkatkan kesadaran manusia setinggi – tingginya. Suara batin initidak berkembang secara otomatis, tetapi harus dikembangkan melaluipendidikan sepanjang hayat terutama terhadap sosialiasi moral dilingkungan sekolah.
    • 80 Nilai – nilai terlebih dahulu harus dikenal kemudian dihayati dandidorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai –nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai– nilai yang dimaksud. Norma moral adalah norma untuk mengukur betul– salahnya tindakan manusia sebagai manusia. Kesadaran moral adalahkesadaran manusia tentang diri sendiri, di dalam mana kita melihat dirikita sendiri dalam berhadapan dengan baik – buruk. Dalam hal ini manusiadapat membedakan antara yang halal dan yang haram, yang boleh dantidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam kehidupanbersama memunculkan tata nilai atau aturan – aturan yang dianut ataudiberlakukan serta harus dipatuhi oleh para anggota kelompoknya. Tatanilai tersebut tidak lepas dari penilaian baik dan buruk, benar dan salah,adil dan jahat, tertib dan tidak tertib dan sebagainya. Pelaksanaan tatatertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarangdapat dilihat pada gambar 5 yaitu:
    • 81 Unsur Luar Kepala Sekolah Waka Siswa Kesiswaan STP2K BK/BP Penyusunan Penerapan Evaluasi Credit PoinTahu PerasaanMoral Moral Tugas dan Kewajian Tindakan Larangan - Tata Tertib Moral Larangan Sekolah Sanksi Gambar 5. Pola Pembinaan Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah
    • 82 Pendidikan moral yang dilakukan di Sekolah MenengahKejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang antara lain disampaikan Warsito,Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah Sekolah MenengahKejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang ”.....melalui peringatan hari – haribesar keagamaan, sholat jum’at yang rutin dilakukan, peringatan hari –hari besar nasional, bakti sosial, donor darah dan zakat fitrah.....”(wawancara: 25 Mei 2007). Ditambahkan Warsito dalam pembelajaran dikelas dilakukan dengan memberikan contoh – contoh riil nilai – nilaimoral yang ada di masyarakat ”.....misalkan pada pembelajaran cinta tanahair siswa diberikan contoh untuk menjaga kebersihan di sekolah.....”(wawancara: 25 Mei 2007). Tata tertib sekolah merupakan salah satu diantara pendidikanmoral yang bersifat pencegahan atau preventif diungkapkan oleh SitiBulqis, Guru koordinator Bimbingan Konseling Sekolah MenengahKejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang”.....tata tertib sekolah bisa dijadikansarana pendidikan moral sebagai alat pencegahan atau preventif.....”(wawancara: 26 Mei 2007). Sebagai sarana pendidikan moral adalah suatutindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengajadiadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Alat pendidikan yangpreventif ialah alat – alat pendidikan yang bersifat pencegahan yaitu untukmencegah masuknya pengaruh – pengaruh buruk dari luar ke dalam dirisiswa. Alat pendidikan preventif diartikan sebagai jika maksudnyamencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik.
    • 83 Tindakan pendidikan yang merupakan alat pendidikan, dapatditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu (Djamarah, 2005:210 –211): a. Pengaruh tindakan terhadap tingkah laku siswa. 1). Yang bersifat positif mendorong siswa untuk melakukan serta meneruskan tingkah laku tertentu; 2). Yang bersifat negatif mendorong siswa untuk menjauhi serta menghentikan tingkah laku tertentu. b. Akibat tindakan terhadap perasaan siswa: menyenangkan siswa; tidak menyenangkan atau menyebabkan siswa menderita. c. Bersifat melindungi siswa yaitu mencegah atau mengarahkan dan memperbaiki. Salah satu materi dari tata tertib sekolah adalah mengenai normakesopanan seperti cara berpakaian, cara masuk saat datang terlambatmasuk ke kelas dan saat berkomunikasi antara Guru dan siswa. Segi normaagama dan norma hukum dalam tata tertib sekolah seperti siswa dilarangminum minuman beralkohol, judi dan berkelahi. Sudarminta (2004:114 – 117) mengklasifikasi langkah – langkahpendidikan moral di sekolah yang mau menumbuhkembangkan kecerdasanmoral atau sikap dan tingkah laku yang baik dalam diri siswamemperhatikan antara lain: a. Pendidikan moral dilakukan dengan menciptakan suasana dan iklim di sekolah secara keseluruhan yang kondusif bagi sosialisasi
    • 84 terhadap nilai – nilai moral yang mau dikenalkan dan ditumbuhkan kesadaran akan pentingnya serta penghayatannya dalam tingkah laku siswa. b. Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai – nilai moral yang diajarkan akan dapat secara instinktif mengimbas dan efektif berpengaruh pada siswa. c. Semua pendidik di sekolah, terutama Guru, perlu jeli melihat peluang yang ada, baik secara kulikuler maupun non ekstrakulikuler, untuk menyadarkan pentingnya sikap dan tingkah laku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral bagisiswa didasarkan pada indikator tata tertib sekolah yang baik harus mampuuntuk dipahami dan dilaksanakan oleh siswa. Kriteria tata tertib sekolahyang baik adalah dapat membatasi atau mengikat semua siswa secarakeseluruhan, siswa tidak hanya sekedar takut pada tata tertib sekolahnamun dapat membuat siswa sadar akan pentingnya bertingkah laku yangbaik dan tata tertib sekolah yang baik tidak hanya memuat larangan sajaakan tetapi menyadarkan siswa terhadap tata tertib sekolah. Sistem Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral DiSekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang merupakan hasildari penggalian antara unsur – unsur kebutuhan siswa dan sekolah. Tata
    • 85tertib sekolah sangat perlu diadakan sebagai aturan yang harus diikuti olehmereka dengan penuh kesadaran, bukan karena tekanan atau paksaan. Tatatertib sekolah tidak dapat ditentukan oleh kepala sekolah sendiri, ataubahkan oleh dinas pendidikan semata-mata. Tata tertib sekolah padahakikatnya dibuat dari, oleh, dan untuk warga sekolah. Kalaupun konseptata tertib sekolah itu telah dibuat oleh kepala sekolah atau dinaspendidikan, maka konsep itu harus mendapatkan persetujuan dari semuapemangku kepentingan di sekolah. Komite Sekolah akan lebih baik jikadimintai pendapatnya tentang tata tertib sekolah tersebut. Guru dan siswaharus dimintai pendapatnya tentang tata tertib tersebut. Orangtua punharus memperoleh penjelasan secara terbuka tentang tata tertib sekolah itu. Pemberian sanksi pelanggaran tata tertib sekolah berdasarkanpoin angka (credit poin) maksudnya setiap pelanggaran tata tertib sekolahakan diberikan poin atau bobot angka yang menunjukan kesalahan yangdiperbuat. Poin atau bobot angka ini nantinya akan ditotal menjadi laporanpada tiap akhir tahun pelajaran. Bagi siswa yang telah masuk ataumelebihi bobot angka tersebut akan dikenai sanksi sesuai dengan yangtelah diatur dalam tata tertib sekolah. Sanksi akan diberikan sesuai denganderajat kesalahan yang telah ditentukan dalam tata tertib sekolah.Penerapan tata tertib sekolah dengan menggunakan sistem credit poindapat dilihat dalam 2 (dua) tipe yaitu dari sisi positif dan sisi negatif padatabel 5 yaitu:
    • 86Tabel 5 Perbandingan Penerapan Sistem Credit Poin No. Perbandingan Positif Negatif1. Kriteria Bersifat menciptakan Bersifat top down suasana ketertiban dan kedisiplinan2. Aturan Dibuat dengan Adanya sifat yang kesepakatan antara membatasi dan memaksa sekolah dan siswa3. Sanksi Lebih tegas dan Kurang memberikan spesifik impelementasi pendidikan moral cenderung ke sanksi yang bersifat fisik4. Personil Guru akan dapat penggunaan poin yang mudah mengontrol kurang konsisten dan setiap pelanggaran tegas oleh Guru dalam siswa dengan penggunaan pendataan, sanksi akan standarisasi poin berdampak siswa akan mengacuhkan pemberian poin tersebut
    • 87 Penyusunan tata tertib sekolah dilakukan oleh Wakil KepalaSekolah Bidang Kesiswaan dengan staf dipimpin oleh Kepala Sekolahdengan menerima masukan – masukan dari berbagai elemen sekolahseperti Guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah (PKNS), GuruAgama dan Guru Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling. Tata tertib sekolah yang baik adalah memberikan jaminanmenimbulkan suasana yang kondusif sehingga mendukungpenyelenggaraan pendidikan. Mujis (2001:42) mengemukakan bahwa: School effectiveness research has long pointed to the importance of school-wide behavior policies in creating the academically oriented, high-achieving school. It can often be fruitful to involve students in the making of rules in order to encourage a sense of ownership and shared responsibility and shared responsibility over them and to involved (especially older) students in policing rules and procedures as well Seperti diketahui, bahwa tata tertib sekolah dapat menciptakandisiplin dan orientasi akademis warga sekolah pada khususnya, danmeningkatkan capaian sekolah pada umumnya (Mujis, 2001:42).Penggunaan tata tertib sekolah diharapkan dapat mengembangkan polasikap dan tingkah laku yang lebih disiplin dan produktif dari siswa.Dengan tata tertib sekolah tersebut, siswa memiliki pedoman dan acuandalam melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam melaksanakankebijakan, program, dan kegiatan sekolah. Tata tertib sekolah sangatpenting sebagai aturan yang harus dipatuhi oleh peserta didik. Tata tertibsekolah apa saja yang harus dibuat itu sudah barang tentu amat ditentukanoleh kepentingan sekolah.
    • 88 Penegakan tata tertib sekolah dengan menggunakan langkah –langkah berupa pemasangan di ruang – ruang belajar atau tempat yangstrategis sehingga siswa dapat melihat dan membaca, sosialisasi tata tertibsekolah melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan pada saatupacara, pekan tata tertib sekolah, pengontrolan siswa setiap hari,sidak/pemeriksaan mendadak ke kelas – kelas, bekerjasama dengankepolisian jika terjadi pelanggaran berat. Siswa yang menaati tata tertibsekolah dapat dikatakan mempunyai moral yang baik karena mempunyaikesadaran diri akan arti penting tingkah laku yang diperlihatkan padapelaksanaan di sekolah. Bentuk – Bentuk Pelanggaran Tata Tertib Sekolah SebagaiSarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri5 Semarang adalah bersifat ringan, sedang dan berat. Kategori ringan yaituBentuk penegakan tata tertib sekolah untuk kasus atau pelanggarantersebut adalah ditegur atau dinasehati dengan pembinaan secarainsidental. Bentuk pelanggaran yang bersifat sedang adalah terbuktimembuat/menggunakan surat keterangan ijin tidak dari orang tua/wali,sengaja melanggar aturan kebersihan corat – coret tembok dan bangku,terbukti membawa rokok dan merokok, ancaman terhadapGuru/Karyawan. Bentuk pelanggaran yang bersifat berat antara lain bermain judidi sekolah, melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah, berkelahidengan teman sekolah, mengambil barang milik sekolah atau orang lain
    • 89tanpa seijin pemilik, mencemarkan nama baik Guru, Karyawan maupunsekolah, terlibat perkara yang ditangani oleh Kepolisian, berkelahi dengansiswa sekolah lain sehingga melibatkan nama sekolah dan penganiayaanterhadap Guru dan Karyawan. Pemberian sanksi bisa berupa hadiah dan juga bisa berupahukuman terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Sanksidilaksanakan sekolah dalam rangka komformitas dan kontrol. Sanksiadalah tanggungan berupa tindakan, hukuman dan sebagainya memaksaorang, untuk menepati janji atau menaati apa – apa yang telah ditentukan.Sanksi digunakan untuk menghukum perbuatan/tingkah laku dianggaptidak sesuai dengan norma. Stern (Djamarah, 2005:204) mengatakanbahwa pemberian hukuman memperhatikan tingkat perkembangan siswayang menerima hukuman melalui hukuman normatif yaitu hukuman yangmemperbaiki moral siswa. Dengan hukuman ini Guru berusahamempengaruhi kata hati siswa, menginsyafkan siswa terhadapperbuatannya yang salah, dan memperkuat kemauannya untuk selaluberbuat baik dan menghindari kejahatan. Sanksi – sanksi terhadap pelanggaran tata tertib sekolah menurutsistem credit poin menggunakan bobot sanksi dengan aturan setiappelanggaran akan dijumlahkan untuk satu tahun pelajaran, bobot tahunsebelumnya akan diteruskan dengan perhitungan 25 % nya, siswa yangmelanggar akan dibina dengan tahapan sebagai berikut tahap 1 (satu)jumlah bobot 20 siswa diberi peringatan lisan; tahap 2 (kedua) jumlah
    • 90bobot 50 panggilan dan pemberitahuan kepada orang tua/wali; tahap 3(tiga) jumlah bobot 75 panggilan orang tua/wali dengan surat pernyataan;tahap (empat) jumlah bobot 120 siswa dikembalikan pada orang tua/wali.Setiap pelanggaran dengan bobot lebih besar dari 10 (sepuluh) ataumelakukan pelanggaran yang sama dengan yang pernah dilakukan disamping mendapat tambahan nilai juga harus mengerjakan tugas cintalingkungan. Sanksi yang diberikan kepada siswa yang melanggar tata tertibsekolah selain sanksi yang tertulis ada sanksi yang tidak tertulis, namunpenggunaanya dengan memperhatikan sifat mendidik bagi siswa antaralain tugas membersihkan kelas, kamar mandi dan taman kelas. Sanksiakademis yaitu teguran lisan, pembinaan, dikeluarkan dari kelas,memanggil orang tua dengan Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan danKonseling. Faktor – Faktor Penyebab Pelanggaran Tata Tertib SekolahSebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)Negeri 5 Semarang adalah karena dua faktor utama yaitu faktor bawaan(internal) siswa dan faktor lingkungan (eksternal) siswa. Yang termasukdalam lingkungan internal adalah faktor yang berhubungan dengan potensibawaan siswa itu sendiri, seperti faktor intelegensi, bakat maupundorongan instrinsiknya atau motif. Sedangkan yang termasuk dalamlingkungan eksternal adalah lingkungan instrumental, paling tidak terdapatfaktor pendidik, materi pendidikan, alat dan metode pendidikan, serta
    • 91sistem komunikasi antara pendidik dan siswa. Lingkungan sosial budaya,paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal, kondisi statussosial ekonomi keluarga, lingkungan teman sebaya (peer group), keutuhankeluarga, keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkunganmasyarakat secara umum. Faktor yang bersifat internal pada diri siswa yaitu terjadi karenasiswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan tahap fase adolesenyang mempunyai kecenderungan siswa tidak terikat pada aturan danmencoba – coba untuk melakukan pelanggaran terhadap tata tertibsekolah. Soeparwoto (2006:62 – 63) masa remaja adalah masa umur antara13/14 sampai 18 tahun dengan ciri – ciri: a. Periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan tingkah laku. b. Periode perubahan sikap dan perilaku yang sejajar dengan perubahan fisik. c. Mencari identitas, pada tahun – tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih penting, kemudian mereka mendambakan identitas diri. Kesadaran yang tumbuh di kalangan siswa tidak lepas daribagaimana proses pendidikan siswa, pemahaman terhadap tata tertibsekolah, sikap membimbing dari Guru dan kondisi dukungan keluarga.Masalah moral yang terjadi pada proses remaja ditandai oleh adanyaketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana yangsalah. Hal ini disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam konsep benar dansalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari (Mugiarso, 2006:98).Terbentuknya kesadaran siswa disebabkan oleh beberapa faktor yang
    • 92mempengaruhi yaitu Guru, peraturan itu sendiri, keluarga dan lingkugansekitar. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) termasuk tahapperkembangan Autonomous Morality atau Independensi Morality dalamtingkat perkembangan Postkonvensional. Pendidikan moral yang diberikanmelalui tata tertib sekolah adalah berupa kontrak sosial dibuat antarakesepakatan sekolah dan siswa dengan mempertimbangkan masukan –masukan dari berbagai pihak. Tujuannya kebijakan tersebut agar dapatditerapkan dan diterima secara umum oleh masyarakat dan siswa.Tentunya sikap dan berperilaku yang baik itu merupakan prinsip etis yanguniversal terhadap aturan – aturan. Tingkat kesadaran siswa untuk mematuhi tata tertib sekolahyaitu ada 3 (tiga) kategori yaitu baik, cukup dan kurang. Hal tersebutdipengaruhi oleh faktor proses pendidikan, keluarga, kedewasaan siswa,kewibawaaan Guru, kondisi sosial ekonomi keluarga dan faktor tata tertibsekolah. Dengan tata tertib sekolah diharapkan siswa mampu menyadariarti penting tata tertib sekolah, mampu melaksanakan tata tertib sekolahsesuai dengan kesadaran pribadi masing – masing siswa, menjadi suatukebutuhan atau kebiasaan dalam diri siswa. Faktor yang kedua adalah faktor eksternal artinya bahwa tingkahlaku siswa yang tidak sesuai dengan tata tertib sekolah terjadi karena unsurlingkungan di luar diri siswa terbagi lagi menjadi 3 kategori yaitu yangpertama kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yaitu secara umum siswa
    • 93Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyaikondisi sosial hubungan dalam keluarga yang kurang nyaman. Sepertiyang disampaikan oleh Romadhon siswa kelas 12 (dua belas) melakukanpelanggaran karena “di rumah orang tua kurang memperhatikan sehinggake sekolah ingin hiburan” (wawancara: 25 Mei 2007). Dari faktor – faktoryang mempengaruhi siswa dalam bertingkah laku sesuai dengan moralpada gambar 6 sebagai berikut: Kesadaran DiriLingkungan Moral Siswa KeluargaPergaulan Tata Tertib Sekolah Gambar 6. Faktor – Faktor Mempengaruhi Moral Siswa
    • 94 Selain itu, dari segi ekonomi termasuk ke dalam kategorimenengah ke bawah. Diungkapkan Siti Bulqis bahwa faktor ekonomitermasuk keluarga menengah ke bawah, kemudian latar belakangpendidikan orang tua, rumah yang hanya berukuran 2 X 3 dan 3 X 3, 75 %siswa SMK N 5 Semarang termasuk golongan ekonomi menengah kebawah. Anak sering bermain di luar, tidak kerasaan di rumah dan banyakyang rumahnya jauh bahkan ada yang dari luar kota prosentasenya 90%(wawancara: 26 Mei 2007). Kondisi ekonomi keluarga dapat diketahuimelalui home visit oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) didapatkanbahwa siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolahkecenderungan mempunyai kondisi ekonomi yang lemah. Mugiarso(2006:88) mengungkapkan bahwa Kunjungan Rumah (Home Visit)mempunyai fungsi untuk pemahaman dan pengentasan masalah siswayang meliputi pengambilan data/keterangan yaitu: a. Kondisi rumah tangga dan orang tua. b. Fasilitas belajar yang ada di rumah. c. Hubungan antara anggota. d. Sikap dan kebiasaan siswa di rumah. e. Berbagai pendapat orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak dan pengentasan masalah siswa. f. Komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan siswa dan pengentasan masalah siswa.
    • 95 Kondisi ekonomi keluarga turut mempengaruhi pergaulan siswa,siswa cenderung tidak merasa nyaman di rumah. Hal ini disebabkan olehkondisi rumah yang tidak nyaman untuk ditempati, sehingga siswacenderung mencari hiburan di luar rumah. Pergaulan dengan lingkunganluar mempunyai dampak pada sikap dan tingkah laku sehari – hari. Faktoryang lain adalah keadaan keluarga mengenai hubungan antar keluarga,ketidakcocokan dengan keinginan siswa dengan program keahlian yangdipilih. Solusi dari pihak sekolah adalah dengan memberikan beasiswamelalui BAZIS sekolah yang dikumpulkan setiap hari Jum’at. Guru dalampenanganan pelanggaran tata tertib sekolah terhadap siswa berbeda antarasiswa kelas 10 (sepuluh), 11 (sebelas) dan 12 (duabelas). Mengingat perbedaan perkembangan siswa yang memiliki kelasyang lebih tinggi diungkapkan oleh Moehadjir (Daroeso, 1986:75)“semakin rendah tingkat/kelas semakin besar aspek moralnya dan semakintinggi tingkat/kelas semakin besar aspek yuridis konstitusionalnya.....olehkarena itu aspek moral pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bersifatpemeliharaan dan pemupukan”. Pemeliharaan dan pemupukan aspekmoral tersebut pada kelas 12 (duabelas) seperti yang dikatakan olehWarsito “berbeda penanganan terhadap tiap kelas, misalkan pada kelas 12memberikan pujian…..lah nang ngono luweh ganteng, luweh bagus nekklambine dilebokna daripada ditakno…..(nah begitu kelihatan lebih bagus,kelihatan lebih baik kalau bajunya dimasukan daripada dikeluarkan)”(wawancara: tanggal 25 Mei 2007).
    • 96 Suatu faktor yang cukup berpengaruh terhadap tingkah lakusiswa di sekolah adalah hubungan orang tua dan anak di rumah. Siswayang berasal dari keluarga yang konsisten dan mempunyai kebiasaan yangteratur memperlihatkan tingkah laku baik di sekolah. Sebaliknya siswayang berasal dari keluarga yang sulit menanamkan kebiasan teratur dirumah memperlihatkan tingkah laku yang jelek di sekolah. Siswa yangkurang mempunyai bimbingan yang serasi, jarang bertemu dengan orangtua karena sibuk bekerja, menunjukan tingkah laku yang kurang baik.Orang tua yang mengajarkan norma – norma dan di sekolah Guru – Gurujuga mengajarkan norma – norma pula maka apabila norma yang diterimasiswa di sekolah adalah merupakan kelanjutan dari atau sama dengan yangdiperoleh siswa di lingkungan keluarga berdampak pola hubungankeluarga dan sekolah akan selaras dan serasi (contunity). Jika sebaliknyaantara di sekolah dan di rumah bertentangan atau tidak sejalan maka akanmenimbulkan konflik pada diri siswa (discontunity). Konflik tersebut akanberakibat siswa mempunyai kecenderungan untuk melakukanpenyimpangan atau pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Goffman (Bahar, 1989:65) mengemukakan 4 (empat) macamtindakan siswa yang sering dilakukan terhadap sekolah: pertamasituasional withdrawal yaitu siswa tidak menerima sanksi berupahukuman yang diberikan sekolah pada siswa, dan siswa menentang danbahkan mengabaikannya seperti tidak mengkuti remidiasi, tujuannyaadalah agar membatalkan sanksi yang diberikan sekolah kepadanya; kedua
    • 97intransigence yaitu merupakan perlawanan (menentang) secara terang –terangan terhadap otorotitas sekolah atau kelas tertentu, siswa menolakuntuk menerima dan mematuhi tata tertib sekolah dan melawan denganberaksi, suatu bahaya dalam hal ini adalah bahwa siswa merasa bebas darihukuman sekalipun mereka berbuat salah; ketiga colonization yaitumerupakan respon yang dilakukan siswa yang merasa bahwa tidak adayang dapat mereka kerjakan di sekolah, siswa mengganggap bahwasekolah tidak banyak membantu dalam pemenuhan keinginan dan harapanmereka, sekolah hanya sebagai tempat bermain, tempat untuk dapatbergaul dengan teman seperti lebih baik pergi ke sekolah daripada main –main di jalanan; keempat conversion yaitu siswa menerima menerimasegala tata tertib sekolah seperti sekolah dengan siswanya lebih banyaklaki – laki daripada wanitanya tata tertib sekolah sering dilanggar. Faktor sekolah turut serta memberikan penyebab siswamelakukan pelanggaran tata tertib sekolah yaitu ketetapan dari KepalaSekolah yang menginstruksikan kepada Guru agar penanganan terhadapkasus atau pelanggaran tata tertib sekolah diserahkan pada Wakil KepalaSekolah Bidang Kesiswaan yang membentuk STP2K (Satuan TugasPembinaan dan Penegakan Kedisiplinan) yang dibantu oleh BimbinganKonseling (BK). Semestinya semua komponen di sekolah tuturbertanggung jawab terhadap pemberian moral yang baik terutama Gurumata pelajaran. Guru baik secara formal maupun informal memberitahu
    • 98 tentang tata tertib sekolah dan sanksi – sanksi yang akan didapatkan siswa bila melanggar tata tertib sekolah. Faktor yang lain adalah adanya stigma dari siswa, bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang memiliki citra sebagai salah satu sekolah yang sering tawuran. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mempunyai sejarah negatif berupa image akan tawuran sehingga berdampak sampai sekarang persepsi itu masih melekat. Namun mulai tahun 2007 ke bawah atau sejak 3 (tiga) tahun terakhir tawuran tersebut sudah tidak ada lagi. Tawuran tersebut cenderung untuk berkurang karena disebabkan beberapa hal antara lain sudah berkurangnya aktivitas praktikum yang dilakukan di luar sekolah, adanya sanksi yang tegas dari sekolah bagi yang melakukan tawuran dikeluarkan dari sekolah, kerjasama dengan pihak Kepolisian dalam penanganan kasus atau pelanggaran tersebut.2. Kendala – Kendala Penegakan Tata Tertib Sekolah Sebagai Sarana Pendidikan Moral Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang Unsur kendala – kendala yang dihadapi dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang yaitu Guru dalam penegakan tata tertib sekolah kurang bisa seirama dalam penegakan tata tertib sekolah. Tergantung dari individu Guru masing – masing ada Guru yang konsisten dan ada Guru yang kadang – kadang konsisten dan adapula yang tidak
    • 99peduli sama sekali terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Kurangkonsisten dari Guru menyebabkan siswa tidak menghargai teguran dariGuru. Tidak semua Guru melakukan penegakan tata tertibsekolah/lemahnya monitoring karena yang bertugas hanya BP/BK danWakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. Kendala – kendala yang lain adalah adanya beberapa siswa yangmemang sudah mempunyai potensi untuk melanggar tata tertib sekolah,faktor kegiatan praktik masih ada yang di luar yaitu bengkel Balai LatihanPendidikan Teknik) sehingga kurang kontrol namun sejak tahun 2002sekolah sudah membuat bengkel sendiri mudah dalam pengawasan siswasehingga sekolah bisa mengawasi. Kendala – kendala yang dihadapi oleh Sekolah MenengahKejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dalam pelaksanaan tata tertib sekolahsebagai sarana pendidikan moral terdiri dari dua unsur kendala yaitubersifat internal dan eksternal. Kendala yang bersifat internal adalahkurang konsistennya petugas maupun Guru di dalam melaksanakankontrol terhadap tingkah laku siswa yang melakukan pelanggaran. Kendalayang bersifat eksternal adalah diakibatkan oleh faktor luar dari sekolahseperti siswa yang dipukul terlebih dahulu oleh siswa sekolah lain. Pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa darihasil pengamatan mengalami penurunan dari kuantitas terutama tawuranantara sekolah. Penyebabnya adalah tindakan dari sekolah yang tegasuntuk mengeluarkan siswa yang bermasalah dari sekolah. Salah satu sebab
    • 100frekuensi penurunan pelanggaran tata tertib sekolah disebabkan terjadipergantian bidang kesiswaan dengan penajaman pembentukan satuan tugasSTP2K yang melakukan penanganan terhadap pelanggaran tata tertibsekolah dan tegas dalam pelaksanaan tata tertib sekolah. Penghargaan atau reward dari Guru terhadap siswa yangmoralnya baik adalah dengan penilaian terhadap nilai rapor yang berbedaantara siswa yang sering melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dengansiswa yang taat pada tata tertib sekolah. Penilaian tersebut lazim sebagaipenilaian afektif siswa yang tidak hanya didasarkan pada ranah kognitifsaja namun Guru dalam memberikan evaluasi juga memperhatikan tingkahlaku siswa. Penghargaan yang lain adalah pemberian beasiswa terhadapsiswa yang kurang mampu akan diprioritaskan pada siswa yang memilikitingkah laku atau moral yang baik dengan indikasi bahwa tidak pernahmelakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Siti Bulqis dari wawancaramengatakan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5Semarang yang mendapatkan beasiswa dari GAKI di kelas 10 sebanyak148 orang, 75 % siswa merupakan dari keluraga tidak mampu(wawancara: 26 Mei 2007). Antara siswa kelas 10, 11 dan 12 dari hasil observasi danwawancara didapatkan perbedaan karakteristik siswa. Siswa kelas 10cenderung untuk taat dan patuh pada tata tertib sekolah karena masih adarasa takut dan masih mengenal lingkungan sekolahnya. Siswa kelas 11sudah mengalami perubahan karena sudah mengenal lingkungan sekolah
    • 101dan tidak memikirkan ujian akhir nasional sehingga unsur coba – cobasemakin besar. Berbeda dengan kelas 12 yang semakin dewasa untukmengurangi pelanggaran tata tertib sekolah. Disebabkan Guru sudahmemberikan pemahaman kepada siswa bahwa mereka nantinya akanmenghadapi ujian akhir nasional. Kendala – kendala tersebut secara umum akan mencakup darifasilitas yang dimiliki sekolah, personil yang menangani kebutuhan siswadan implementasi tujuan pendidikan moral melalui tata tertib sekolah yangkadang kurang tepat disampaikan oleh Guru. Akibat yang ditimbulkanadalah rasa ketidakpercayaan yang dialami oleh siswa dalam melalui tahap– tahap perkembangan moral. Upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertibsekolah ada 3 (tiga) tahap yaitu tindakan preventif, tindakan kuratif dantindakan represif (Soeparwoto, 2006:213). Tahap tindakan preventif yaituberupa upaya pencegahan sebelum pelanggaran tata tertib sekolah terjadidibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu: a. Usaha pencegahan timbulnya pelanggaran tata tertib sekolah secara umum dengan langkah – langkah 1). Berusaha mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas siswa. 2). Mengetahui kesulitan – kesulitan yang secara umum dialami oleh siswa. 3). Usaha pembinaan siswa, yang meliputi:
    • 102 a). Menguatkan sikap mental siswa supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. b). Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampila, namun juga pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etika. c). Menyediakan sarana – sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar. d). Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar. b. Usaha pencegahan timbulnya pelanggaran tata tertib sekolah secara khusus yang dilaksanakan oleh Guru, Guru Pembimbing, atau psikolog sekolah bersama para pendidik lainnya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang dalamtindakan preventif antara lain melalui kegiatan keagamaan, nasehat setiapupacara, penyuluhan psikologi dan hukum yang bekerjasama denganpsikolog dan Polres Semarang Timur. Uapaya sekolah dalam menyadarkansiswa yang melanggar tata tertib sekolah dengan memberikan pembinaanakan tata tertib sekolah kepada siswa. Siswa mempunyai kewajibanmembaca dan mematuhi tata tertib sekolah. Tahap kuratif atau rehabilitasi yaitu dilakukan setelah tindakanpencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkahlaku siswa yang melanggar dengan cara membina siswa yang selalumelanggar tata tertib sekolah, baik dari Guru yang bersangkutan dengan
    • 103bekerjasama Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling atauwali kelas intensif mengawasi tingkah laku siswa yang dianggapmelakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Upaya ini ditindaklanjutidengan pemantauan khusus kepada keseluruhan siswa maupun siswa yangberpotensi untuk melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dari unsur –unsur sekolah tersebut. Selain itu perorangan dari Guru bagi yangmembolos dikumpulkan diberi pemahaman kesalahan, akibat yangditimbulkan bila melanggar tata tertib sekolah kemudian diadministrasiatau didata diteruskan membuat surat pernyataan tidak mengulangiperbuatan dan tugas secara fisik yang bersifat mendidik. Tahap tindakan represif berupa pengambilan tindakan bagipelanggaran yang telah berulang kali atau termasuk kategori pelanggaranberat terhadap tata tertib sekolah. Soeparwoto (2006:215) dalam usahamenindak pelanggaran tata tertib sekolah, tindakan represif dilaksanakanapabila tingkah laku siswa sudah melewati batas toleransi dari normasosial atau kadar angka poin yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Disekolah yang yang berwenang memberikan hukuman represif ini adalahKepala Sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan datamengenai pelanggaran maupun akibatnya. Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) Negeri 5 Semarang pada tahun pelajaran 2003/2004 ada 2 siswayang terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena tersangkut kriminal dantawuran antar sekolah. Langkah – langkah pihak sekolah antara lain
    • 104memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kemudian memanggilorang tua ke sekolah.
    • BAB V PENUTUPA. Simpulan Pendidikan moral pada intinya adalah mengajarkan dan melatih siswa terhadap kesadaran moral. Pendidikan moral selain diajarkan melalui bentuk formal dalam mata pelajaran juga dapat diberikan melalui bentuk – bentuk lain seperti adanya tata tertib sekolah. Pendidikan moral yang diajarkan dan dilatihkan tersebut disesuaikan dengan nilai – nilai identitas masyarakat atau nilai – nilai moral seperti nilai religiositas, nilai sosialitas, nilai gender, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggung jawab dan nilai penghargaan terhadap lingkungan alam. Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan simpulan yaitu: 1. Nilai – nilai moral tersebut harus dilembagakan melalui norma – norma/kaidah – kaidah dalam lingkungan sekolah yang disesuaikan dengan masyarakat. Tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral yang mempunyai fungsi pencegahan atau preventif bagi tingkah laku siswa agar tidak melanggar atau menyimpang dari moral masyarakat. Sanksi bagi siswa yang melanggar adalah bersifat mendidik siswa terutama untuk menanamkan pendidikan moral. 2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang menggunakan sistem credit poin yaitu setiap pelanggaran tata tertib sekolah 105
    • 106 mendapatkan poin tertentu. Penggunaan credit poin dengan mempertimbangkan segi tahap – tahap perkembangan siswa dan sanksi yang mendidik. Faktor – faktor penyebab siswa melanggar tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal dari diri siswa adalah potensi bawaan siswa itu sendiri, seperti faktor intelegensi, bakat maupun dorongan instrinsiknya atau motif. Faktor eksternal adalah lingkungan sosial budaya, paling tidak ada akan terdapat lingkungan tempat tinggal, kondisi status sosial ekonomi keluarga, lingkungan teman sebaya (peer group), keutuhan keluarga, keharmonisan keluarga dan interaksinya dengan lingkungan masyarakat secara umum. 3. Kendala – kendala utama yang dihadapi sekolah adalah kurang konsistennya Guru dalam menegakan tata tertib sekolah meliputi dari tidak secara komperehensif hanya dilakukan oleh Guru yang masih peduli terhadap moral siswa dan adanya pengaruh dari pergaulan siswa yang kurang baik. Kurangnya pengawasan dari Guru menyebabkan siswa banyak yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah adalah bersifat preventif, kuratif dan represif.B. Saran Saran yang merupakan masukan yang dapat disampaikan berkaitan penelitian ini adalah:
    • 1071. Kepala Sekolah hendaknya terus berkomitmen dan lebih intensif mengadakan penegakan kedisiplinan siswa serta fasilitas pendukung dalam upaya menekan tingkat pelanggaran siswa terhadap tata tertib sekolah.2. Guru hendaknya terus melakukan kontrol terhadap pelanggaran tata tertib sekolah dan meningkatkan kebersamaan guna membina kedisiplinan siswa.3. Siswa hendaknya dengan penuh kesadaran diri untuk mematuhi tata tertib sekolah.4. Orang tua hendaknya ikut serta melakukan pembinaan moral anaknya agar patuh dan taat terhadap tata tertib sekolah.
    • DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: PT Rineka CiptaArikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka CiptaBahar, Aswandi. 1989. Dasar – Dasar Kependidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan KebudayaanDaroeso, Bambang. 1986. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka IlmuDaryanto H.M. 2001. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka CiptaDaryono, dkk. 1998. Pengantar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Rineka CiptaDjamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka CiptaHaricahyono, Cheppy. 1995. Dimensi – Dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang PressHasan, Iqbal. 2002. Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalian IndonesiaJohnson, Alvin S. 2006. Sosiologi Hukum. Jakarta: PT Rineka CiptaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Jakarta: CV. Mandar MajuKoyan, I Wayan. 2000. Pendidikan Moral Pendekatan Lintas Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan NasionalMagnis, Frans – Suseno. 2001. Etika Politik (Prinsip – Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern). Jakarta: PT Gramedia Pustaka UtamaMarpaung, Leden. 1996. Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah Prevensinya. Jakarta: Sinar GrafikaMoleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya 108
    • 109Mugiarso, Heru dkk. 2006. Bimbingan dan Konseling. Semarang: UNNES PressMuijs, Daniel dan Reynolds, David. 2001. Effective Teaching, Evidence and Practice. London: Paul Chapman PublishingMulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja RosdakaryaMulyono. 1998. Kesadaran Berbangsa. Bandung: AngkasaMunib, Achmad dkk. 2004. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK UnnesNawawi, Hadari dkk. 1986. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Ghalia IndonesiaRachman, Maman. 1999. Strategi dan Langkah –Langkah Penelitian. Semarang: IKIP PressSalam, Burhanudin. 2000. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: PT Rineka CiptaSanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: KencanaSidharta. 2006. Moralitas Profesi Hukum. Bandung: PT Refika AditamaSoeparwoto, dkk. 2006. Psikologi Perkembangan. Semarang: UNNES PressSunarto dan Agung Hartono. 1994. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan KebudayaanSutopo, H.B. 2002. Metode Penelitian Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Surakarta: UNS PressTedjosaputro, Liliana. 2003. Etika Profesi dan Profesi Hukum. Semarang: CV Aneka IlmuTim Depdikbud. 1989. Disiplin Murid SMTA di Lingkungan Formal Pada Beberapa Propinsi di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan KebudayaanTim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang. 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: IKIP Malang PressWidiastono, Tonny D. 2004. Pendidikan Manusia Indonesia (Kumpulan Artikel). Jakarta: Buku Kompas
    • 110 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI KEPALA SEKOLAH Nama : Usia : Alamat :1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Bagaimana ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? c. Bagaimana kesopanan siswa terhadap guru saat di kelas maupun di luar kelas? d. Bagaimana interaksi antar sesama siswa dalam lingkungan sekolah serta terhadap masyarakat sekitar? e. Bagaimana respon orang tua terhadap pelanggaran tata tertib sekolah? f. Bagaimana kesopanan siswa dengan lingkungan masyarakat sekitar sekolah? g. Apa saja pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa?2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? c. Siapakah yang bertugas menyusun tata tertib sekolah? d. Apakah peran kepala sekolah dalam penegakan tata tertib sekolah?
    • 111e. Bagaimanakah tata tertib sekolah yang baik tersebut?f. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang sudah mengandung nilai – nilai moral?g. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral?h. Menurut anda, bagaimana moral siswa yang diharapkan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?i. Bagaimana sistem tata tertib sekolah yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?j. Bagaimana penyusunan tata tertib sekolah yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?k. Bagaimana bentuk – bentuk penegakan tata tertib sekolah?l. Bagaimana upaya – upaya sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?m. Apa saja kendala – kendala dalam penegakan tata tertib sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?
    • 112 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Nama : Usia : Alamat :1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Bagaimana ketertiban siswa di lingkungan sekolah? c. Apakah siswa sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru? d. Apakah siswa sering tawuran atau berkelahi di lingkungan sekolah? e. Bagaimana melakukan kontrol terhadap ketertiban yang sesuai dengan moral? f. Apa saja nilai – nilai moral yang diajarkan pada siswa? g. Bagaimana cara yang anda lakukan untuk memberikan nilai – nilai moral tersebut? h. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan moral siswa?apa indikatornya? i. Apa saja yang termasuk dalam pelanggaran terhadap tata tertib sekolah? j. Apa saja kategori siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? k. Bagaimana penegakan tata tertib sekolah pada saat kegiatan belajar mengajar?2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang.
    • 113a. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah?b. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral?c. Apakah tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?apa saja indikasinya?d. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mengandung pendidikan moral?e. Bagaimana peran guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam penegakan tata tertib sekolah?f. Apakah siswa memahami tata tertib sekolah yang dibuat oleh sekolah?g. Bagaimana pembelajaran pendidikan moral di kelas?h. Apa sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah?i. Apa faktor – faktor pendukung tata tertib sekolah dalam implementasi pendidikan moral?j. Hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam penyusunan tata tertib sekolah?k. Apa saja kendala – kendala dalam penegakan tata tertib sekolah?l. Bagaimana upaya mengatasi siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah?
    • 114 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI GURU BIMBINGAN KONSELING Nama : Usia : Alamat :1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Bagaimana tingkat kedisiplinan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? b. Bagaimana ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? c. Bagaimana kesopanan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? d. Apa saja pelanggaran tata tertib sekolah yang sering dilakukan oleh siswa? e. Bagaimana persepsi masyarakat sekitar terhadap ketertiban siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang? f. Apakah ada perbedaan karakteristik siswa pada setiap kelas atau jurusan dan angkatan?apa saja perbedaan tersebut?2. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Apakah yang anda ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah yang anda ketahui tentang pendidikan moral? c. Apakah tata tertib sekolah dapat menjadi sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?apa saja indikasinya?
    • 115d. Apakah tata tertib sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang mengandung pendidikan moral?e. Bagaimana sistem tata tertib yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?f. Apakah tata tertib sekolah dapat meningkatkan pendidikan moral?apa saja indikatornya?g. Bagaimana prosedur pemberian sanksi bagi siswa yang melanggar tata tertib sekolah?h. Apakah penegakan tata tertib sekolah sering dilakukan?apa saja bentuknya?i. Apa saja peran guru bimbingan konseling dalam penegakan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral?j. Apakah sanksi yang diberikan terhadap siswa yang melanggar tata tertib sekolah?k. Apakah pemberian sanksi membuat siswa menjadi jera untuk tidak mengulangi pelanggaran tata tertib sekolah yang sama?l. Apakah kelebihan penggunaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral?m. Bagaimana mengatasi siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah?n. Apa saja motif – motif siswa melakukan pelanggaran tata tertib sekolah?o. Apa saja faktor – faktor yang menyebabkan siswa melanggar tata tertib sekolah?p. Bagaimana upaya – upaya bimbingan sekolah dalam mengatasi pelanggaran tata tertib sekolah?q. Bagaimana peran orang tua dalam masalah pelanggaran tata tertib sekolah?
    • 116 PEDOMAN INSTRUMEN WAWANCARA BAGI SISWA Nama : Usia : Kelas/Jurusan : Alamat :1. Tingkah laku siswa dalam implementasi tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang a. Mengapa kamu melakukan pelanggaran tata tertib sekolah? b. Apakah kamu pernah diajak teman kamu untuk berbuat immoral? c. Apa saja pelanggaran yang kamu lakukan tersebut?berapa kali? d. Kamu melakukannya karena diri sendiri atau diajak teman? e. Apakah kamu tidak malu dengan guru tentang pelanggaraan tata tertib sekolah yang kamu lakukan? f. Apakah kamu dengan tata tertib sekolah menjadi jera untuk tidak mengulangi pelanggaran tata tertib sekolah? g. Apakah kamu merasa berat jika harus taat terhadap tata tertib sekolah? h. Apakah kamu tidak merasa malu jika orang tua kamu dipanggil ke sekolah dan guru mengatakan bahwa kamu sering melanggar tata tertib sekolah? i. Bagaimana perasaan kamu jika melihat temanmu memakai baju seragam rapi, datang ke sekolah tepat waktu dan taat pada tata tertib sekolah? j. Menurut kamu, bagaimana kedisiplinan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang?
    • 1172. Pelaksanaan tata tertib sekolah sebagai sarana pendidikan moral di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Semarang. a. Apakah yang kamu ketahui tentang tata tertib sekolah? b. Apakah yang kamu ketahui tentang pendidikan moral? c. Apakah kamu tahu tujuan dibuatnya tata tertib sekolah? d. Apakah kamu di sekolah termasuk siswa yang mematuhi tata tertib sekolah? e. Apakah kamu dijelaskan tentang tata tertib sekolah oleh guru? f. Apakah kamu tahu kesalahan yang telah diperbuat dirimu? g. Apakah kamu dijelaskan oleh guru tentang kesalahan yang diperbuat dalam pelanggaran tata tertib sekolah? h. Apa sanksi yang diberikan guru terhadap pelanggaran tata tertib sekolah? i. Apakah penegakan tata tertib sekolah sering dilakukan oleh pihak sekolah? j. Apakah kamu pernah ditegur dan dinasehati oleh guru karena melanggar tata tertib sekolah? k. Apakah orang tua kamu sering memberi nasihat jika kamu melanggar tata tertib sekolah dari guru kamu? l. Apakah jika kamu membolos dan berkelahi tidak dimarahi oleh orang tua kamu? m. Bagaimana perasaan orang tua kamu terhadap pelanggaran tata tertib sekolah tersebut?
    • 118 DAFTAR NAMA RESPONDENNo. Nama Jabatan Usia Alamat1. Drs. H. M. Saidi Kepala Sekolah 53 Tahun Jl. Kendeng No. 3322. Drs. Darmawan Wakil Kepala Sekolah 52 Tahun Dr. Cipto SB Bidang Kurikulum3. Drs. Heru Wakil Kepala Sekolah 44 Tahun Karangjati Usadajati Bidang Kesiswaan Ungaran4. Drs. Warsito Guru Pendidikan 46 Tahun Dr. Cipto Kewarganegaraan dan Sejarah5. Dra. Siti Bulqis Koordinator BP/BK 48 Tahun Kaligarang6. Dwi Puji B., Guru Pendidikan 26 Tahun Dr. Cipto 121 S.Pd Jasmani dan Rekreasi7. Wardi Penjaga Sekolah 57 Tahun Medoho8. Ngadiyono Penjaga Sekolah 60 Tahun Medoho9. M. Romadhon Siswa kelas 12 19 Tahun Kaligawe Kampung Pondok RT 3 RW 910. M. Asrul Siswa kelas 11 17 Tahun Jl. Medoho RT 3 RW 411. Fangga Siswa kelas 10 16 Tahun Banyumanik
    • 119 PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 5 SEMARANG Jalan Dr.Cipto 121 (024) 8416335 – 8447476 Semarang 50124 TATA TERTIB SISWA SMK NEGERI 5 SEMARANG Bahwa sesungguhnya siswa adalah warga negara yang terdidik.Oleh karena itu sudah seharusnya merupakan warga negara yang baik,loyal, tertib dan pantas dicontoh. Bahwa kehidupan siswa adalah masa yang paling baik dalampembentukan fisik, mental dan karakter, untuk menjadi manusiapembangunan yang ber Pancasila. Bahwa sesungguhnya tata tertib siswa bukan sekedar kelengkapansekolah, tetapi merupakan bagian dari kehidupan siswa dan merupakankebutuhan dari siswa itu sendiri. Untuk menciptakan kedisiplinan siswa dan menekan angkapelanggaran terhadap tata tertib siswa, SMK Negeri 5 Semarangmemberlakukan sangsi pelanggaran tata tertib siswa ini dalam bentukbobot pelanggaran. Bagi siswa yang melanggar tata tertib akan dikenaibobot angka tertentu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Apabilabobot sangsi telah melampui jumlah tertentu maka pengambilan tindakansesuai dengan ketetapan terhadap pelanggaran tata tertib ini. Maka sehubungan dengan hal tersebut di atas disusunlah pedomantata tertib siswa SMK Negeri 5 Semarang sebagai berikut :I. KEGIATAN INTRA SEKOLAH A. WAKTU PELAJARAN BERLANGSUNG A.1. Setiap siswa wajib datang 10 menit di sekolah sebelum pelajaran dimulai pada jam 07.00 WIB, kecuali jam pelajaran yang ditentukan lain. A.2. Setiap siswa memasuki ruangan dengan teratur dan tertib.
    • 120 A.3. Pada waktu pelajaran pertama akan dimulai dan pelajaran terakhir akan selesai, semua siswa melakukan acara berdoa yang dipimpin ketua kelas. A.4. Sebelum tiap pelajaran dimulai, semua siswa harus sudah siap mengikuti pelajaran selanjutnya. A.5. Setiap siswa wajib mengikuti pelajaran dengan baik, sopan dan patuh kepada guru. A.6. Siswa yang datang terlambat, wajib lapor guru piket. B. WAKTU TIDAK ADA PELAJARAN B.1. Pada jam istirahat, siswa dianjurkan berada diluar kelas dan tidak diperbolehkan keluar dari halaman sekolah. B.2. Pada jam bebas, siswa tidak boleh meninggalkan halaman sekolah. Dianjurkan untuk memanfaatkan perpustakaan. B.3. Apabila guru yang bersangkutan berhalangan hadir maka ketua kelas melaporkan kepada guru piket dan ketua kelas bertanggungjawab pada ketenangan serta ketertiban kelas.II. KEGIATAN ESKTRA KURIKULER A. Kegiatan Ekstra Kurikuler A.1. Setiap siswa wajib menjadi anggota OSIS A.2. Setiap siswa dianjurkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah. B. Upacara Bendera B.1. Setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera di sekolah B.2. Pada saat upacara bendera setiap siswa wajib memakai seragam OSIS lengkap kecuali ditentukan lain. B.3. Setiap siswa wajib menjaga agar pelaksanaan upacara bendera berlangsung tertib, khidmat dan lancar.
    • 121 C. Bimbingan dan Konseling C.1. Setiap siswa yang mempunyai maslaah-masalah pada dirinya dianjurkan untuk berkonsultasi dengan guru pembimbing (bimbingan dan konseling ) C.2. Setiap siswa wajib memberikan keterangan-keterangan yang dipelrukan dengan sebenar-benarnya. C.3. Setiap permasalahan yang dialami oleh siswa akan dipegang teguh kerahasiaannya. D. Ketertiban dan Kebersihan D.1. Setiap siswa wajib menjaga kebersihan lingkungan sekolah D.2. Setiap siswa wajib menjaga keindahan lingkungan sekolah D.3. Setiap siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang milik sekolahIII. TATA TERTIB KHUSUS A. OLAH RAGA A.1. Setiap siswa harus berpakaian seragam olah raga yang telah ditentukan dan bersepatu. Apabila tidak memakai seragam maka tidak boleh mengikuti pelajaran tersebut pada saat itu. A.2. Piket kelas bertanggungjawab atas alat-alat olah raga yang digunakan. A.3. Dilarang menggunakan alat-alat olah raga tanpa izin guru olah raga A.4. Setiap siswa wajib menghormati dan menjunjung tinggi jiwa olah raga A.5. Setiap siswa wajib mentaati peraturan permainan dan petunjuk guru
    • 122B. LAIN-LAIN B.1. Setiap siswa wajib menjaga nama baik sekolah, baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. B.2. Setiap siswa tidak diperkenankan membawa atau merokok di lingkungan sekolah, serta makan/minum di dalam kelas. B.3. Setiap siswa tidak boleh membawa barang-barang terlarang disekolah antara lain : Senjata tajam, ganja, narkotik dan sejenisnya, minuman keras, buku/majalah dan alat-alat yang asusila, serta uang dalam jumlah banyak.C. MENINGGALKAN SEKOLAH / TIDAK MASUK SEKOLAH C.1. Setiap siswa pulang sekolah setelah jam pelajaran usai. C.2. Bila akan meninggalkan sekolah waktu pelajaran belum selesai, wajib minta izin kepada guru pengajar dan guru piket. Yang diizinkan adalah : a. Siswa yang sakit b. Ada suatu keperluan yang tak dapat ditinggalkan yang dibuktikan dengan surat keterangan orang tua/wali c. Untuk keperluan resmi / dispensasi C.3. Siswa yang sakit pada saat mengikuti pelajaran, diberi izin untuk berobat ke UKS, ke puskesmas atau istirahat di rumah. C.4. Siswa yang berhalangan hadir harus minta izin dengan surat keterangan / surat pemberitahuan.D. KEAMANAN DI SEKOLAH D.1. Setiap siswa wajib memiliki alat-alat pelajaran dengan lengkap D.2. Siswa yang membawa kendaraan atau sepeda motor wajib mematikan mesin saat memasuki pintu gerbang/pintu parkir di tempat yang telah disediakan serta dikunci. Apabila terjadi kerusakan/kehilangan sepda motor, helm, maka resiko ditanggung siswa sendiri. D.3. Setiap siswa wajib menjaga keselamatan hak milik sendiri.
    • 123E. PAKAIAN DAN CARA BERDANDAN E.1. Setiap siswa wajib berpakaian seragam sesuai ketentuan sekolah lengkap dengan badge dan atribut yang terdiri dari : Bagde OSIS, Badge Lokasi Sekolah. E.2. Pada saat praktek mengenakan pakaian praktek yang telah ditentukan. E.3. Wajib bersepatu hitam tidak boleh memakai sepatu sandal dan sejenisnya. Wajib memakai kaos kaki yang panjang minimal di atas mata kaki dan memakai ikat pinggang. E.4. Setiap siswa putrid tidak diperbolehkan memakai perhiasan dan berdandan yang berlebihan. Untuk siswa putra tidak diperbolehkan memakai gelang, kalung, anting dan perhiasan. E.5. Setiap siswa wajib mengatur rambut, kuku dan pakaian dengan rapi dan bersih, baju dimasukkan, siswa putra tidak boleh berambut panjang, sekurang-kurangnya 1,5 cm di atas kerah baju. E.6. Pada saat pelajaran Olah Raga siswa wajib mengenakan pakaian olah raga dengan baik, menjunjung tinggi sportivitas dan menaati peraturan yang berlaku.F. TERTIB ADMINISTRASI F.1. Setiap siswa wajib membayar Uang BP3 dan Iuran lain yang ditentukan sekolah selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya. F.2. Buku rapor harus ditandatangani orang tua/wali masing dan segera dikembalikan kepada wali kelas. F.3. Setiap siswa tidak diperbolehkan melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu ketenangan dan ketertiban sekolah. F.4.Setiap siswa yang tidak naik tingkat dua kali berturut-turut dikeluarkan dari sekolah. F.5. Setiap siswa tidak diperbolehkan menikah selama menjadi siswa.
    • 124G. P E N U T U P A. Segala sesuatu yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan ditentukan kemudian B. Setiap siswa diwajibkan memiliki, memahami, mengingat, menghayati serta melaksanakan Pedoman Tata Tertib ini. Ditetapkan di : SEMARANG Tanggal : 18 Juli 2005 Kepala Sekolah, Drs. H.M. Saidi NIP.130935750
    • 125 Pola Umum Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 5 Semarang BKBimbingan Bimbingan Bimbingan Bimbingan Pribadi Sosial Belajar KarierLayanan Layanan Layanan LayananOrientasi Penempatan/ Konseling/ Konseling Penyaluran Individual Keluarga Layanan Layanan Layanan Bimbingan Informasi Pembelajaran Kelompok Instrumentasi Konferensi Alih Tugas BP/BK kasus Kasus Himpunan Data Kunjungan Rumah