Skripsi titin
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • mau nanya ni gan. cara menghitung hal. 75 mengenai keaktifan belajar belajar gimana ya gan?
    rumusnya dari mana?
    blas please...!
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
3,743
On Slideshare
3,743
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
167
Comments
1
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang sangat cepat mengakibatkan suatu perubahan di segala bidang kehidupan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, lembaga pendidikan dituntut untuk berperan aktif dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan secara optimal guna mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan daya saing lulusan guna menghadapi ketatnya persaingan dan tantangan dunia kerja. Oleh karena itu, inovasi di bidang pendidikan sangat diperlukan agar kualitas pendidikan terus meningkat sehingga memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Usaha mencapai keberhasilan pembangunan dalam bidang pendidikan bukan hanya merupakan tanggung jawab dari pemerintah semata, melainkan juga seluruh masyarakat termasuk di dalamnya adalah guru. Guru dituntut menjadi seorang pendidik yang aktif, kreatif, inovatif dan profesional. Hal itu dapat ditunjukkan melalui metode pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar di kelas Dalam pelaksanaan metode pembelajaran di kelas, selama proses pembelajaran siswa seharusnya aktif dan ikut terlibat secara langsung, agar siswa memperoleh pengalaman dari proses pembelajaran. Namun 1
  • 2. penerapan yang terjadi di lapangan sangat berbeda dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah. Pelaksanaan KTSP yang sudah diterapkan, belum sesuai dengan tujuan yang dikembangkan. Berdasarkan survei peneliti di lapangan, khususnya di SMA Negeri 2 Pacitan, metode pembelajaran ekspositori masih tampak mendominasi kegiatan belajar. Dalam proses belajar mengajar, komunikasi hanya berpusat pada guru, dan siswa hanya sesekali dapat bertanya. Guru kurang dapat mengetahui sampai dimana siswa telah memahami materi, dan hanya sedikit pengajar yang dapat menjadi pembicara baik sehingga pada siswa dapat terbentuk konsep lain yang tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh guru. Efek dari metode ekspositori adalah siswa menjadi pasif, cenderung mengahafal dan menimbulkan rasa jenuh pada siswa sehingga tidak termotivasi lagi untuk belajar. Efek tersebut sangat menghambat keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas. Keaktifan siswa dapat ditingkatkan melalui tanya jawab antara guru dengan murid. Pertanyaan – pertanyaan yang diajukan guru harus dijawab murid atau mungkin murid berbalik bertanya jika ada sesuatu yang tidak jelas. Aktivitas siswa menjadi semakin besar dengan kegiatan tanya jawab seperti ini. Kegiatan tanya jawab dapat dimasukkan kedalam suatu metode baru yang tujuanya adalah untuk mengembangkan metode ekspositori yang selama ini dilakukan. Metode pembelajaran yang dikembangkan harus disesuaikan dengan pengajaran yang telah diberikan oleh guru dan 2
  • 3. bisa meningkatkan keaktifan siswa. Siswa dengan keaktifan tinggi, sedang, maupun rendah juga menjadi faktor terhadap hasil belajar siswa. Keaktifan siwa yang tinggi diharapkan mampu meningkatkan rendahnya hasil belajar. Hasil belajar yang rendah dapat ditingkatkan secara maksimal pada setiap mata pelajaran, tidak terkecuali pada mata pelajaran Matematika. Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mencoba menerapakan metode pembelajaran tanya jawab. Metode Tanya jawab adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dimana guru bertanya dan murid menjawab bahan materi yang diperolehnya. Adapun tujuan metode tanya jawab yakni untuk mengetahui seberapa jauh kefahaman siswa terhadap materi, memberi kesempatan siswa bertanya apa yang belum difahami, memotivasi siswa dan melatih anak berfikir berbicara secara sistematis berdasarkan pemikiran yang orisinil. Pada kesempatan ini, peneliti mencoba menerapkan metode tanya jawab untuk mengajar mata pelajaran Matematika kepada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pacitan. Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa guru matematika, diperoleh informasi bahwa materi pada pokok bahasan Bentuk Pangkat dan Bentuk Akar merupakan materi yang masih sulit dipahami oleh siswa, serta banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan bentuk pangkat dan bentuk akar, selain itu batas KKM ( Ketuntasan Kelulusan Minimal ) yang harus dicapai oleh setiap siswa sekarang lebih tinggi dari tahun yang kemarin. Oleh karena itu perlu 3
  • 4. diteliti tentang keefektivan Metode Pembelajaran Tanya Jawab pada Pokok Bahasan Bentuk Pangkat dan Bentuk Akar Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari Keaktifan Siswa pada Siswa Kelas X SMA Negeri II Pacitan Tahun Ajaran 2012/2013. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan penjabaran latar belakang permasalahan di atas dan menyadari pentingnya pelajaran matematika telah banyak usaha yang dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran matematika, maka diperoloeh beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut 1. Penerapan metode pembelajaran ekspositori yang masih mendominasi kegiatan belajar mengajar. 2. Guru kurang dapat mengetahui sampai dimana siswa telah memahami materi. 3. Hanya sedikit pengajar yang dapat menjadi pembicara baik sehingga pada siswa dapat terbentuk konsep lain yang tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh guru. 4. Siswa cenderung pasif dan merasa jenuh sehingga tidak termotivasi lagi untuk belajar. 5. Keaktifan belajar siswa terhadap mata pelajaran Matematika yang kurang maksimal. 6. Pokok bahasan Bentuk Pangkat dan Akar masih sulit dipahami oleh siswa. 4 merupakan materi yang
  • 5. 7. C. Nilai hasil belajar Matematika yang dicapai siswa belum maksimal. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah maka dilakukan pembatasan masalah agar penelitian dapat terarah dan mendalam, yaitu difokuskan pada hal-hal sebagai berikut. 1. Metode pembelajaran dalam penelitian ini dibatasi pada metode pembelajaran Tanya Jawab. Metode Tanya Jawab merupakan suatu cara mengelola pembelajaran dengan mengahasilkan pertanyaanpertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut. Pertanyaaan yang diajukan bervariasi serta disajikan dengan cara yang menarik. 2. Standart kompetensi yang diberikan yaitu materi pada pokok bahasan Bentuk pangkat dan Bentuk Akar. Pemilihan materi disesuaikan dengan materi SMA semester ganjil saat berlangsungnya penelitian. 3. Hasil belajar matematika dibatasi pada hasil tes setelah pembelajaran melalui proses belajar mengajar di kelas eksperimen x.5 dan kelas kontrol x.6 pada subpokok bahasan Bentuk Pangkat Dan Bentuk Akar. 4. Keaktifan siswa yang dimaksud didapat dari pengisian angket keaktifan belajar siswa yang diberikan kepada masing – masing siswa pada awal penelitian dan kegiatan siswa selama penelitian berlangsung. 5. Penelitian ini hanya dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pacitan pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. 5
  • 6. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan diatas, maka penulis memaparkan masalah sebagai berikut : 1. Apakah hasil belajar Matematika dengan menggunakan metode tanya jawab lebih baik daripada menggunakan metode ekspositori? 2. Apakah hasil belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan siswa tinggi lebih baik daripada siswa yang keaktifan sedang dan rendah, serta hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada siswa dengan keaktifan rendah? 3. Apakah terdapat interaksi antara metode mengajar dengan keaktifan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa? E. Tujuan Penelitian Dengan adanya rumusan masalah yang sudah disebutkan diatas, maka diharapkan adanya tujuan penelitian disetiap rumusan masalah, adapun tujuanya yaitu: 1. Untuk mengetahui apakah hasil belajar Matematika dengan menggunakan metode tanya jawab lebih baik daripada menggunakan metode ekspositori. 2. Untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan siswa tinggi lebih baik daripada siswa yang 6
  • 7. keaktifan sedang dan rendah, serta hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada siswa dengan keaktifan rendah. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara metode mengajar dengan keaktifan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa. F. Manfaat penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan pada tingkat teoritis kepada pembaca dan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini juga dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme guru untuk mengarahkan dan membimbing siswa dalam belajar matematika 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui metode pembelajaran tanya jawab. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat untuk guru, siswa dan sekolah. Bagi siswa, penelitian ini berguna untuk membantu meningkatkan hasil belajar. Bagi guru, penelitian ini merupakan masukan dalam memperluas pengetahuan dan wawasan mengenai cara pembelajaran yang baik dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa. Bagi sekolah hasil penelitian ini memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika. 7
  • 8. BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori Dalam penelitian teori merupakan dasar dalam memahami masalah yang diteliti. Karena tidak semua teori dapat digunakan, maka perlu diperlukan pengkajian teori-teori kepustakaan yang relevan dengan masalah yang diteliti. Maka dengan cara seperti itu, penelitiannya akan memiliki dasar teori yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. 1. Hasil Belajar Matematika a. Belajar Dalam proses pembelajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang penting. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, berdasarkan pada proses belajar yang dialami siswa di sekolah maupun di lingkungan rumah. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu dekat dengan apa yang disebut belajar. Seseorang yang telah belajar akan mengalami perubahan tingkah laku baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun dalam sikap. Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan yaitu dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari bodoh menjadi pintar. Perubahan tingkah laku dalam aspek ketrampilan yaitu tidak bisa menjadi bisa, dari tidak trampil menjadi 8
  • 9. trampil. Sedangkan perubahan tingkah laku dalam sikap yaitu dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan. 1) Pengertian Tentang Belajar Berikut ini beberapa pengertian belajar menurut beberapa ahli: a) Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 1) mengemukakan bahwa belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraanjenis dan jenjang pendidikan. b) Menurut Gagne dan Berlineer (dalam Chatarina Tri Aini dkk, 2004: 2) belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. c) Slameto (2003: 2) menjelskan bahwa belajar ialah suatu proses untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 2) Unsur-unsur Belajar Gagne (dalam Catharina Tri Anni dkk, 2004: 3) menyebutkan unsur-unsur dalam belajar adalah sebagai berikut: a) Pembelajar, dapat berupa peserta didik, pemelajar, warga belajar, dan peserta pelatihan. Pembelajar memiliki organ penginderaan yang digunakan untuk menangkap rangsangan; otak yang digunakan untuk mentransformasikan hasil 9
  • 10. penginderaannya ke dalam memori yang kompeks; dan syarat atau otot yang digunakan untuk menampilkan kinerja yang menunjukkan apa yang telah dipelajari. b) Rangasangan (stimulus). Peristiwa yang merangsang penginderaan pembelajar disebut situasi stimulus. Dalam kehidupan seseorang terdapat banyak stimulus yang berada di lingkungannya. Suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dan orang adalah stimulus yang selalu berada di lingkungan seseorang. Agar pebelajar mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati. c) Memori. Memori pembelajar berisi pelbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari aktifitas belajar sebelumnya. d) Respon. Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon. Pembelajar yang sedang mengamati stimulus, maka memori yang ada di dalam dirinya kemudian memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Respon dalam pembelajaran diamati pada akhir proses belajar yang disebut perubahan perilaku atau perubahan kinerja (performance). Keempat unsur belajar tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Aktivitas belajar akan terjadi pada diri 10
  • 11. pembelajar apabila terdapat interaksi antara situasi stimulus dengan isi memori sehingga perilakunya berubah dari waktu sebelum dan setelah adanya situasi stimulus tersebut. Perubahan perilaku pada diri pembelajar itu menunjukkan bahwa pembelajar telah melakukan aktivitas belajar. 3) Ciri-ciri Belajar Hamalik (dalam Drs. Asep Jihad dan Dr. Abdul Haris, 2008: 3) memberikan ciri-ciri belajar, yaitu: a) Proses belajar harus mengalami, berbuat, mereaksi dan melampaui. b) Melalui bermacam-macam pengalaman dan mata pelajaran yang berpusat pada suatu tujuan tertentu. c) Bermakna bagi kehidupan tertentu. d) Bersumber dari kebutuhan dan tujuan yang mendorong motivasi secara keseimbangan. e) Dipengaruhi pembawaan dan lingkungan. f) Dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual. g) Berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang diinginkan sesuai dengan kematangan anda sebagai peserta didik. h) Proses belajar terbaik adalah apabila anda mengetahui status dan kemajuannya. i) Kesatuan fungsional dari berbagai prosedur. 11
  • 12. j) Hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain tetapi dapat didiskusikan secara terpisah. k) Di bawah bimbingan yang merangsang dan bimbingan tanpa tekanan dan paksaan. l) Hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi abilitas dan keterampilan. m) Dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan pertimbangan yang baik. n) Lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan berbeda-beda. o) Bersifat kompleks dan dapat berubah-ubah jadi tidak sederhana dan statis. 4) Ranah Belajar Benyamin S. Bloom (dalam Catharina Tri Anni dkk, 2004: 6) mengusulkan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Namun Bloom hanya merinci kategori jenis perilaku pada ranah kognitif, sedangkan kategori jenis perilaku ranah afektif dan ranah psikomotorik dirinci oleh para pengikutnya. 12
  • 13. a) Ranah Kognitif (cognitive domain) Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori berikut : (1) Pengetahuan (knwledge) (2) Pemahaman (comprehension) (3) Penerapan (application) (4) Analisis (analysis) (5) Sintesis (synthesis) (6) Penilaian (evaluation) b) Ranah Afektif (affective domain) Taksonomi dikembangkan oleh tujuan pembelajaran Krathwohl dan afektif kawan-kawan, merupakan hasil belajar yang paling sukar diukur. Kategori tujuan pembelajaran afektif adalahsebagai berikut : (1) Penerimaan (receiving) (2) Penanggapan (responding) (3) Penilaian (valuing) (4) Pengorganisasian (organization) (5) Pembentukan Pola Hidup (organization by a value complex) 13
  • 14. c) Ranah Psikomotorik (psychomotoric domain) Kategori jenis perilaku untuk ranah psikomotorik menurut Elizabeth Simpsons (Gay, 1986) adalah sebagai berikut: (1) Persepsi (perception) (2) Kesiapan (tes) (3) Gerakan Terbimbing (guided response) (4) Gerakan Terbiasa (mechanism) (5) Gerakan Kompeks (complex overt response) (6) Penyesuaian (adaptation) (7) Kreativitas (originality) b. Matematika Hingga saat ini belum ada kesepakatan yang bulat di antara para ahli matematika tentang apa yang disebut matematika itu untuk mendiskripsikan definisi dari matematika, para matematikawan belum pernah mencapai satu titik puncak kesepakatan yang paten. Banyaknya definisi dan beragamnya deskripsi berbeda yang dikemukakan para ahli mungkin disebabkan oleh sudut pandang, kemampuan, pemahaman, pengalamannya masing-masing. Menurut Sujono Matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu Matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang 14
  • 15. logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan (dalam Abdul Halim Fathani,2009:19). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 723) disebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang bilanganbilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Bourne juga memahami Matematika sebagai konstruktivisme sosial dengan penekanannya pada knowing how, yaitu pelajar dipandang sebagai makhluk yang aktif dalam mengonstruksi ilmu pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya (dalam Abdul Halim Fathani, 2009:19). Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang berkenaan alat hitung yang digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Adapun fungsi dan tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut: 1) Fungsi matematika berdasarkan kurikulum adalah sebagai wahana untuk: a) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol. b) Mengembangkan ketajaman dalam penalaran yang dapat untuk menyeleasaikan permasalahan dalam kehidupan seharihari 15
  • 16. 2) Tujuan siswa mempelajari matematika yaitu agar memiliki kemampuan dalam: a) Menggunakan algoritma (prosedur pekerjaan). b) Melakukan manipulasi secara matematika. c) Mengorganisasi data. d) Memanfaatkan simbol, tabel, diagram, dan grafik. e) Mengenal dan menemukan pola. f) Menarik sebuah kesimpulan. g) Membuat kalimat atau model matemtika. h) Membuat interpretasi bangun dalam bidang dan ruang. i) Memeahami pengukuran dan satuan-satuannya. j) Menggunakan alat hitung dan alat bantu matematika. (Asep Jihad, 2008: 153) c. Hasil Belajar Berdasarkan pengertian belajar tersebut di atas, hasil belajar merupakan suatu hasil usaha yang dicapai seseorang dalam penguasaan pengetahuan, sikap serta ketrampilan berkat pengalaman dan latihan yang dinyatakan dalam perubahan tingkah laku. Abdurrahman (1999) mengatakan bawa “ hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar” (dalam Jihad dan Haris, 2008: 14). Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilakau yang relatif menetap. 16
  • 17. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapakan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau intruksional . Menurut Hemalik “hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas”. Sedangkan Juhah (2004) mengatakan “hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukan” (dalam Jihad dan Haris, 2008:15). Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki siswa yang dinyatakan dalam bentuk angka yang diperoleh siswa dari serangkaian tes yang dilaksanakan setelah siswa mengikuti proses pembelajaran. d. Hasil Belajar Matematika Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 723) disebutkan bahwa, “Matematika adalah ilmu tentang bilanganbilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”. Purwoto(2003:12-13) mengemukakan bahwa, “Matematika adalah pengetahuan tentang pola keteraturan pengetahuan tentang 17
  • 18. struktur yang terorganisasi mulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan ke unsur-unsur yang didefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil”. Sedangkan R. Soejadi (2000: 11) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi dari matematika, yaitu sebagai berikut: 1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik. 2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi. 3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan. 4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk. 5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik. 6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak tentang bilangan, kalkulasi, penalaran, logik, fakta-fakta kuantitatif, masalah ruang dan bentuk, aturan-aturan yang ketat, dan pola keteraturan serta tentang struktur yang terorganisir. Berdasarkan pengertian hasil belajar dan matematika yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses 18
  • 19. belajar matematika yang menghasilkan perubahan pada diri seseorang berupa penguasaan, ketrampilan, dan kecakapan baru yang dinyatakan dengan symbol, angka, atau, huruf. 2. Metode Pembelajaran Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satupun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikilogi dan pendidikan (Djamarah & Zain, 2006: 46). Dalam kegiatan belajar mengajar guru, tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pembelajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Oleh karena itu, disinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. Pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaannya. Surakhmad (dalam Djamarah dkk. 2006: 46) menggunakan lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar sebagai berikut: a. Tujuan dan berbagai-bagai jenisnya; 19
  • 20. b. Anak didik yang berbagai-bagai tingkat kematangannya; c. Situasi yang berbagai-bagai keadaannya; d. Fasilitas yang berbagai-bagai kualitas dan kuantitasnya; e. Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang diajar. a. Metode Ekspositori 1) Pengertian Metode Ekspositori Wina Sanjaya (2008:179) menyatakan bahwa: “Metode ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach)”. Dikatakan demikian, sebab guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui metode ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Selanjutnya mengatakan Dimyati metode dan ekspositori Mudjiono adalah (1999:172) memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah 1) menyusun program pembelajaran, 2) memberi informasi yang benar, 3) pemberi fasilitas yang baik, 4) pembimbing siswa dalam perolehan 20
  • 21. informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan informasi. Sedangkan peranan siswa adalah 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai media dan sumber yang benar, 3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori yaitu metode mengajar dengan cara menyampaikan ide atau gagasan dengan lisan atau tulisan. Cara memberikan suatu informasi kepada peserta didik sebelumnya telah diolah tuntas oleh guru. Dalam proses belajar mengajar komunikasi hanya berpusat pada guru. Siswa hanya sesekali dapat bertanya. 2) Langkah-langkah Pembelajaran Metode Ekspositori Pada Pelaksanaannya metode ekspositori memiliki prosedur-prosedur pelaksanaan, secara garis besar digambarkan oleh Wina Sanjaya (2008) sebagai berikut : a) Persiapan (Preparation) Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam metode ekspositori, keberhasilan pelaksanaan pembelajaran sangat bergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan yaitu : (1) Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif. 21
  • 22. (2) Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar. (3) Merangsang dan mengubah rasa ingin tahu siswa (4) Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka. b) Penyajian (Presentation) Tahap penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini diantaranya : Penggunaan bahasa, intonasi suara, Menjaga kontak mata dengan siswa, serta menggunakan kemampuan guru untuk menjaga agar suasana kelas tetap hidup dan menyenangkan. c) Korelasi (Correlation) Tahap korelasi adalah langkah yang dilakukan untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimiliki siswa maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa. d) Menyimpulkan (Generalization) 22
  • 23. Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan. Sebab melalui langkah menyimpulkan, siswa dapat mengambil inti sari dari proses penyajian. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan. Sehingga siswa tidak merasa ragu lagi akan penjelasan guru. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan cara mengulang kembali inti-inti materi yang menjadi pokok persoalan, memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang diajarkan, dan membuat maping atau pemetaan keterkaitan antar pokok-pokok materi. e) Mengaplikasikan (Aplication) Tahap aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekspositori. Sebab melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya, dengan membuat tugas yang relevan, serta dengan memberikan tes materi yang telah diajarkan untuk dikerjakan oleh siswa. 23
  • 24. 3) Prinsip-prinsip Metode Ekspositori Menurut Wina Sanjaya (2008:181) dalam penggunaan metode ekspositori terdapat prinsip-prinsip pembelajaran yang harus diperhatikan oleh setiap guru antara lain : a) Berorientasi pada Tujuan Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam metode ini, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran, justru tujuan itulah yang harus menjadi pertimbangan utama dalam penggunaan metode ini. b) Prinsip Komunikasi Proses pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses komunikasi, yang menunjuk pada proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan). Pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah materi pelajaran yang telah diorganisir dan disusun dengan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Dalam proses komunikasi guru berfungsi sebagai sumber pesan dan siswa berfungsi sebagai penerima pesan. c) Prinsip Kesiapan Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hubelajar.Inti dari hukum ini adalah guru harus terlebih dahulu memosisikan siswa dalam keadaan 24
  • 25. siap baik secara fisik maupun psikis untuk menerima pelajaran. Jangan memulai pelajaran, manakala siswa belum siap untuk menerimanya. d) Prinsip Berkelanjutan Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya. 4) Kekurangan dan Kelebihan Metode Ekspositori Menurut Purwoto (2003: 67) dinyatakan Metode ekspositori memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan, yaitu: Kelebihan : a) Dapat menampung kelas besar. b) Bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru. c) Guru dapat menentukan hal-hal yang dianggap penting. d) Guru dapat memberikan penjelasan-penjelasan secara individual maupun klasikal. Selain mempunyai beberapa kelebihan, metode ekspositori juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu antara lain: a) Metode ini tidak menekankan penonjolan aktivitas fisik seperti aktivitas mental siswa, sehingga siswa yang terlalu banyak mengikuti pembelajaran (kegiatan belajar mengajar) 25
  • 26. dengan metode ekspositori cenderung tidak aktif dan tidak kreatif. b) Kegiatan terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). c) Pengetahuan yang didapat dengan metode ekspositori cepat hilang, karena seringkali siswa kurang terlibat daam pembelajaran. d) Kepadatan konsep dan aturan-aturan yang diberikan dapat berakibat siswa tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan. b. Metode Tanya Jawab 1) Pengertian Metode Tanya Jawab Adapun pengertian metode tanya jawab yang dikemukakan oleh para ahli yaitu : a) Menurut Roestiyah N.K , metode tanya jawab adalah suatu teknik untuk memberikan motivasi pada siswa agar bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan pelajaran, atau guru mengajukan pertanyaan siswa yang menjawab. b) Menurut Team Didaktik Metodik, metode tanya jawab adalah suatu cara dimana guru pada umumnya berusaha menanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta tertentu 26
  • 27. yang sudah diajarkan, atau apakah proses pemikiran yang dipakai oleh siswa. c) Menurut Soetomo (1993:150), metode tanya jawab adalah suatu metode dimana guru menggunakan atau memberi pertanyaan kepada murid dan murid menjawab, atau sebaliknya murid bertanya pada guru dan guru menjawab pertanyaan murid itu. d) Menurut Syaiful Bahri Djammarah (2000:107), metode tanya jawab merupakan cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, metode tanya jawab adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dimana guru bertanya dan murid menjawab bahan materi yang diperolehnya. Dengan menggunakan metode ini siswa menjadi lebih aktif dari pada belajar mengajar dengan metode ekspositori. Sebab, pertanyaan–pertanyaan yang diajukan guru harus dijawab siswa. Atau mungkin siswa balik bertanya jika ada sesuatu yang tidak jelas baginya. 2) Langkah-langkah Pembelajaran Metode Tanya Jawab Langkah-langkah pengajaran dengan metode tanya jawab adalah : 27
  • 28. a) Guru mengawali menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan materi yang dibahas. b) Siswa yang ditunjuk menjawab pertanyaan itu. c) Bila jawaban yang diberikan oleh siswa kurang tepat atau salah, guru memberikan pertanyaan baru yang sifatnya menggiring pikiran siswa agar ia sadar bahwa jawaban yang diberikannya kurang tepat. Bila tetap tidak bisa menjawab dengan benar maka pertanyaan tersebut dilemparkan kepada siswa yang lain. d) Bila siswa masih kesulitan mencari jawaban, maka guru membantu mencari jawaban dengan menunjukkan alat peraga yang relevan. e) Bantuan kepada proses berpikir dapat pula berupa contohcontoh kongkrit yang terdapat di masyarakat atau lingkungan. f) Bila dengan bantuan tersebut siswa belum juga menjawab dengan tepat, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk bertanya jawab antar siswa. g) Tanya jawab tersebut seringkali dilanjutkan dengan tanya jawab segi tiga, yaitu guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. h) Bila segala model tanya jawab tersebut menemui jalan buntu, dalam arti tidak ada satupun siswa yang menjawab 28
  • 29. pertanyaan dengan tepat, maka gurulah yang turun tangan menjawab pertanyaan itu yang biasanya dilengkapi dengan penjelasan yang cukup mendalam agar siswa benar-benar memahaminya. 3) Prinsip dan Teknik Metode Tanya Jawab Metode Tanya Jawab merupakan salah satu metode mengajar yang mempunyai peranan meningkatkan kadar berfikir siswa. Menurut Donald C. Orlich (1990: 195) semua pertanyaan diklasifikasikan kepada tiga kategori yaitu: a) convergent terfokus pada tujuan yang terbatas atau lebih terarah kepada jaewaban tertentu b) divergent terarah pada respon siswa yang bervariasi terhadap pertanyaan guru tiap siswa dapat merespon berbeda dari yang lain c) evaluative merupakan pertanyaan divergent yang ditambah evaluasi berdasarkan kriteria yaitu ketika siswa menjawab pertanyaan dengan argumentasi atau alasan berdasarkan kriteria. Prinsip- prinsip dalam metode tanya jawab antara lain : a) prinsip keserasian b) prinsip integrasi c) prinsip kebebasan 29
  • 30. d) prinsip individual Prinsip-prinsip ini adalah dasar atau landasan yang dipergunakan dalam metode tanya jawab. Dalam setiap metode yang ada dalam pembelajaran pasti diperlukan tehnik agar pembelajaran bisa berjalan secara baik, berikut ini berbagai tehnik yang digunakan guru dalam mengajukan pertanyaan: a) The Mixe Strategy yakni mengkombinasikan berbagai tipe dan jenis pertanyaan. b) The Speaks Strategy yakni menggunakan pertanyaan yang saling bertalian satu sama lain. c) The Pleteaus Strategy yakni mengajukan pertanyaan yang sama jenisnya terhadap sejumlah siswa sebelum beralih kepada jenis pertanyaan yang lain. d) The Inductive Strategy yakni dengan berbagai pertanyaan siswa didorong untuk menarik generalisasi dari hal-hal khusus ke hal-hal yang umum atau berbagai fakta menuju hukum-hukum. e) The Deductive Strategy yakni Generalisasi yang dijadikan sebagai titik tolak, siswa diharapkan dapat menyatakan pendapatnya tentang berbagai kasus atau data yang ditanyakan. 30
  • 31. 4) Kekuranagan dan Kelebihan Metode Tanya Jawab Sebagai salah satu metode interaksi edukatif, metode tanya jawab mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode lainnya. Di samping terdapat kelemahan-kelemahannya. Menurut Imansyah Ali Pandie kelebihan metode tanya jawab terletak pada: a) Suasana kelas lebih hidup karena murid-murid berpikir aktif. b) Sangat positif untuk melatih anak untuk berani mengemukakan pendapat secara lisan dan teratur. c) Murid yang biasanya malas memperhatikan menjadi lebih hati-hati dan sungguh-sungguh mengikuti pelajaran. d) Walaupun pelajaran berjalan agak lambat tetapi guru dapat melakukan kontrol terhadap pemahaman murid. Sedangkan kelemahan terdapat apabila: a) Terjadi perbedaan pendapat/jawaban maka akan terjadi perdebatan sengit sehingga mamakan waktu banyak untuk menyelesaikan, terkadang murid mengalahkan pendapat guru. b) Kemungkinan timbul penyimpangan dari pokok persoalan. c) Memakan waktu yang lama untuk merangkum bahan pelajaran. 31
  • 32. 3. Keaktifan Belajar Siswa a. Pengertian Keaktifan Siswa Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting untuk keberhasilan proses pembelajaran. Berikut ini dapat dikemukakan beberapa pengertian keaktifan belajar siswa : 1) Sardiman (2001:98) mengatakan “ aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berpikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan”. 2) Rohani (2004:6-7) menyatakan: Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik adalah siswa giat-aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain, atau bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyakbanyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Saat siswa aktif jasmaninya dengan sendirinya ia juga aktif jiwanya, begitu sebaliknya. 3) Hermawan (2007:83) berpendapat “keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam kegiatan pembelajaran. 4) Rochman Natawijaya (dalam Depdiknas, 2005:31) belajar aktif adalah “suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional 32
  • 33. guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan anatara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”. Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa keaktifan belajar siswa adalah keadaan siswa dalam proses pembelajaran yang ditandai dengan adanya keterlibatan siwa secara fisik, mental, intelektual dan emosional baik melalui kegiatan mengalami , menganalisis, berbuat maupun pembentukan sikap dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. b. Indikator Keaktifan Siswa Keaktifan siswa dapat dilihat melalui beberapa indikator yang muncul dalam proses pembelajaran. Indikator tersebut pada dasarnya adalh ciri-ciri yang tampak dan dapat diamati serta diukur oleh siapapun yang tugasnya berkenaan dengan pedidikan dan pengajaran yakni guru dan tenaga kependidikan lainya. Indikator tersebut berupa tingkah laku siswa yang muncul pada umumnya yaitu: 1) adanya keaktifan belajar siswa secara individual untuk penerapan konsep dan prinsip, 2) adanya keaktifan belajar siswa dalam bentuk kelompok untuk memecahkan masalah, 3) adanya pertisipasi setiap siswa dalam melaksanakan tugas belajarnya melalui berbagai cara, 4) adanya keberanian siswa dalam mengajukan pendapat, 5) adanya keaktifan siswa dalam menganalisis, mensintesis, penilaian, dan kesimpulan, 6) adanya hubungan sosial antar siswa dalam 33
  • 34. melaksanakan kegiatan belajar mengajar, 7) setiap siswa dapat mengamati dan memberikan tanggapan terhadap pendapat siswa lainnya, 8) adanya kesempatan bagi setiap siswa untuk menggunakan berbagai sumber belajar yang tersedia, dan 9) adanya upaya siswa untuk bertanya dan meminta pendapat dari guru. Indikator keaktifan siswa berdasakan aktivitasanya dalam proses pembelajaran menurut Paul D. Deirich (dalam Hamalik ,2007) adalah sebagai berikut: 1) Aktivitas visual (visual activities) antara lain: membaca, mengamati, demonstrasi dan mengamati eksperimen. 2) Aktivitas lisan (oral activities) anatara lain : mengemukakan fakta/prinsip, menghubungkan mengajukan pertanyaan, suatu menjawab kejadian, pertanyaan diskusi, dan mengemukakan pendapat. 3) Aktivitas audio (listening activities) antara lain: menyimak penyajian materi/informasi dan mendengarkan percakapan/diskusi kelompok . 4) Aktivitas menulis (writting activities) antara lain: mengerjakan soal tes/problem solving. Mencatat hasil percobaan/pengukuran dan mencatat hasil diskusi. 5) Aktivitas menggambar antara lain: membuat grafik atau sketsa. 6) Aktivitas motorik (motor activities) antara lain: memilih alat, merangkai alat, dan melakukan pengukuran. 34
  • 35. 7) Aktivitas mental antara lain: merenungkan, memecahkan masalah, menganalisis, dan membuat keputusan. 8) Aktivitas emosional antara lain: keberanian dan ketenangan siswa dalam merespon pertanyaan atau mengajukan pertanyaan serta mengemukakan pendapat. B. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang telah dilakukan dengan melibatkan faktor-faktor di atas sebagai obyek penelitian antara lain: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Aina Mulyana (2007) yang berjudul “Efekitivitas Upaya penerapan Metode Tanya Jawab dengan Variasi Media Pembelajaran Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran PKN“ Hasil dari penelitian ini adalah:(1) Selama berlangsung PTK, upaya penerapan metode Tanya Jawab dangan variasi media pembelajaran telah dikelola dengan baik. (2) Kegiatan pembelajaran dengan metode Tanya Jawab dengan variasi media yang dikelola dengan baik ternyata cukup efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa, (3) Media pembelajaran membuat karangan dan menggambar yang divariasikan dengan Metode Tanya Jawab ternyata cukup efektif untuk menyampaikan materi Pancasila sebagai Dasar Negara dan sebagai Ideologi Negara, dan (4) Hipotesis tindakan yang menyatakan “apabila upaya penerapan metode Tanya Jawab 35 dangan variasi media
  • 36. pembelajaran dapat berjalan efekltif, maka hasil belajar siswa akan meningkat” dapat diterima. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada metodenya yaitu metode tanya jawab dan pada variabel terikat (hasil belajar), sedangkan perbedaannya pada tinjauanya (variasi media pembelajaran), subyek penelitian, mata pelajaran (PKN), pokok bahasannya, dan metode penelitian (PTK). 2. Penelitian yang dilakukan oleh Nidaul Choiriyah (2011) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Apersepsi Tanya Jawab Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Aritmatika Sosial Pada Peserta Didik Kelas VII MTs NU Nurul Huda Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011”. Hasil dari penelitian ini adalah : Dari proses penghitungan analisis korelasi didapat nilai korelasi sebesar 0,587. Melalui uji t diperoleh t hitung = 4,531> t tabel(0,05)(39) =2,023 dan t hitung = 4,531 > t tabel(0,01)(39) = 2,708 . Karena t hitung lebih besar dari t tabel berarti korelasi antara variabel X dengan Y adalah signifikan. Hal tersebut juga ditunjukkan dari analisis regresi diperoleh nilai Freg = 20,548. Melalui uji F diketahui bahwa Freg = 20,548 > Ft (0.05) = 4,09 dan Freg = 20,548 > Ft (0.01) = 7,33. Dengan demikian Freg > Ft (0.05 dan 0.01). Hal ini berarti pemberian Apersepsi Tanya Jawab berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika materi pokok Aritmatika Sosial pada peserta didik kelas VII MTs NU Nurul Huda Semarang tahun pelajaran 2010/2011. 36
  • 37. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada metode pembelajaran yang digunakan yaitu tanya jawab, variabel terikatnya (hasil belajar) dan mata pelajaran (Matematika), sedangkan perbedaannya pada metode penelitian (metode survei dan teknik analisis regresi satu predictor), dan subyek penelitian. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Vivit (2009) yang berjudul“Peningkatan Kemampuan Siswa Melalui Metode Tanya Jawab pada Materi Pengurangan di Kelas III SDN 4 Sumber Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon” Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Pembelajaran matematika sebelum menggunakan metode Tanya jawab dilaksanakan masih bersifat monoton, dalam arti tidak ada variasi dalam penyampaian materi pelajaran yang berakibat menurunnya minat dan perhatian siswa pada pembelajaran tersebut. Menurunnya minat tersebut mengakibatkan menurunnya aktifitas belajar siswa yang berpengaruh pada hasil belajar yang diperoleh siswa (2) Proses pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Tanya jawab mendapat kesan yang baik dari siswa, hal ini terlihat dari adanya siswa yang termotivasi, aktif berdiskusi, dan senang mengikuti proses pembelajaran. Saat kegiatan pembelajaran siswa antusias untuk mengikuti pembelajaran. Menggunakan metode Tanya jawab juga telah mengarahkan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar yang lebih baik. Terlihat dari respon dalam observasi dan wawancara baik wawancara guru ataupun siswa menjawab 37
  • 38. senang pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Tanya jawab dan siswa tidak lagi merasa takut atau tegang dalam proses pembelajaran. Hasil belajar siswapun meningkat dengan 70% siswa diyatakan lulus. (3) Pembelajaran matematika setelah menggunakan metode Tanya jawab, dapat meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa dalam operasi pengurangan. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada metode pembelajaran yang digunakan yaitu tanya jawab dan mata pelajaran ( Matematika), sedangkan perbedaannya pada variabel terikat (kemampuan siswa), subyek penelitian, dan metode penelitian (PTK). 4. Penelitian yang dilakukan oleh Anny Farihatun Nisa’ (2009) yang berjudul“Penggunaan Metode Drill dan Tanya Jawab untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Perkalian pada siswa Kelas III MI Al-Khoiriyah Tirtomoyo Pakis Malang”. Hasil dari penelitian ini adalah : penerapan metode drill dan tanya jawab pada pembelajaran Matematika perkalian dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan penggabungan metode drill dan tanya jawab tersebut menghasilkan kreatifitas, yaitu dengan adanya tepuk perkalian, yang menjadikan proses pembelajaran dan hafalan siswa lebih menyenangkan. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada metode pembelajaran yang digunakan yaitu tanya jawab, mata pelajaran (Matematika) dan variabel terikat (hasil belajar), sedangkan perbedaannya pada subyek penelitian, dan metode penelitian (PTK). 38
  • 39. C. Kerangka Pikir Bertolak dari tinjauan teori di atas dapat dibuat suatu kerangka pemikiran sebagai berikut ; Hasil belajar matematika adalah hasil belajar yang di capai siswa dalam proses belajar matematika sehingga terdapat proses perubahan dalam pemikiran serta tingkah laku. Hasil belajar matematika di pengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah metode pembelajaran dan keaktifan siswa. Belajar merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan tingkah laku. Indikator keberhasilan siswa dalam belajar dapat dilihat dari hasil belajarnya. Banyak siswa yang menganggap matematika itu sulit. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi mungkin disebabkan karena banyak siswa kurang aktif mengikuti proses belajar padahal pada kompetensi dasar menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma memerlukan banyak diskusi, latihan dan tanya jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan materi tersebut. Penggunaan metode ekspositori menyebabkan siswa kurang paham, oleh karena itu diperlukan metode yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Metode mengajar merupakan faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang optimal. Metode mengajar sangat bervariasi. Guru dapat memilih dan menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran agar tujuan pengajaran dapat tercapai. Oleh karena itu untuk mengajarkan materi pada kompetensi dasar menggunakan 39
  • 40. aturan pangkat, akar dan logaritma kepada siswa diperlukan suatu metode yang dapat meningkatkan kemampuan individual siswa. Sehingga apabila ada kesulitan dalam memecahkan soal, siswa dapat bertanya kepada teman lain atau guru melalui Metode Tanya Jawab. Metode Tanya Jawab merupakan suatu metode mengajar yang dapat meningkatkan penguasaan akademis siswa. Tujuan Metode Tanya Jawab ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa. Untuk merangsang siswa berfikir. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang belum dipahami. Sehingga metode Tanya Jawab dapat memperoleh hasil belajar matematika pada kompetensi dasar menggunakan aturan pangkat, akar dan logaritma yang lebih baik daripada penggunaan metode Ekspositori. Hasil belajar siswa belum tentu sama. Perbedaan ini salah satunya dipengaruhi oleh keaktifan belajar siswa. Keaktifan belajar siswa adalah keadaan siswa dalam proses pembelajaran yang ditandai dengan adanya keterlibatan siwa secara fisik, mental, intelektual dan emosional baik melalui kegiatan mengalami , menganalisis, berbuat maupun pembentukan sikap dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Keaktifan belajar siswa di kelompokkan menjadi tiga tipe yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki ketiga tipe keaktifan, keaktifan tinggi merupakan siswa yang selalu aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan biasanya siswa yang pandai. Akan tetapi, kebanyakan siswa 40
  • 41. bertipe keaktifan sedang. Sesuai dengan cirinya siswa yang keaktifannya sedang sering aktif dalam proses belajar mengajar dan biasanya hasil belajarnya cukup baik. Sedangkan siswa dengan keaktifan rendah biasanya hasil belajarnya lebih rendah dari siswa bertipe keaktifan tinggi dan sedang. Hal ini dikarenakan siswa tipe keaktifan rendah jarang atau hampir tidak pernah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kedua faktor di atas yakni metode Tanya Jawab dan keaktifan siswa dapat mempengaruhi hasil belajar matematika. Siswa yang bertipe keaktifan tinggi dan sedang dengan ciri-ciri selalu aktif didalam kelas dan selalu aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar akan lebih mudah memahami materi pada kompetensi dasar Bentuk pangkat dan Akar yang disampaikan dengan metode Tanya Jawab sehingga dapat menimbulkan hasil belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang bertipe keaktifan rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena siswa yang bertipe keaktifan rendah, jarang atau bahkan tidak pernah aktif dalam kelas dan dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Jadi metode pembelajaran tidak akan mempengaruhi hasil belajar matematika untuk siswa yang bertipe keaktifan rendah. Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode Tanya Jawab dan keaktifan belajar siswa berperan dalam menentukan hasil belajar matematika siswa pada kompetensi dasar menggunakan bentuk pangkat, akar dan logaritma. Dari pemikiran-pemikiran di atas dapat digambarkan kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagai berikut: 41
  • 42. Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Metode Pembelajaran Keaktifan siswa Hasil Belajar 1. Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara dari permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Ari Kunto, 2002:62). Berdasarkan kerangka berfikir di atas, dalam penelitian ini peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Hasil belajar Matematika dengan menggunakan Metode Tanya Jawab lebih baik daripada menggunakan Metode Ekspositori. 2. Hasil belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan siswa tinggi lebih baik daripada siswa yang keaktifan sedang dan rendah, serta hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada siswa dengan keaktifan rendah. 3. Terdapat interaksi antara metode mengajar dengan keaktifan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa 42
  • 43. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu (quasi experimental research). Budiyono (2003:82-83) menyatakan bahwa tujuan penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/ atau memanipulasikan semua variable yang relevan. Dalam penelitian ini dilakukan manipulasi variabel bebas yaitu pelaksanaan metode pembelajaran Tanya Jawab dan variabel kontrolnya metode Ekspositori. Variabel bebas lain yang mempengaruhi variable terikat adalah keaktifan belajar siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 2x3. Faktor pertama adalah metode pembelajaran Tanya Jawab dan metode Ekspositori. Faktor kedua adalah keaktifan siswa tinggi, keaktifan siswa sedang, dan keaktifan siswa rendah. Dari rancangan penelitian dapat di desain data penelitian seperti pada table 3.1. berikut: 43
  • 44. Tabel 3.1. Desain Data Penelitian Faktor B Keaktifan Keaktifan Keaktifan tinggi (b1) sedang (b2) rendah (b3) Tanya Jawab (a1) a1 b1 a1 b2 a1 b3 Ekspositori (a2) a2 b1 a2 b2 a2 b3 Faktor A B. Tempat, Subyek dan Waktu Penelitian 1. Tempat dan Subyek Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pacitan Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur dengan subyek penelitian siswa kelas X semester 1 tahun pelajaran 2012/ 2013. 2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2012 sampai dengan bulan Agustus 2012. Secara lebih rinci, pembagian waktu penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.2. berikut ini: Tabel 3.2. Jadwal Kegiatan Penelitian No. Kegiatan Penelitian Waktu Pelaksanaan 1 Penyusunan Proposal Maret 2 Penyusunan Instrumen Maret 3 Pengajuan Ijin 4 Uji Coba Instrumen Juni 5 Eksperimen Juli 6 Pengumpulan Data Juli April - Mei 44
  • 45. 7 C. Analisis Data Agustus Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi Menurut Sugiyono (2008:80), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 2 Pacitan tahun ajaran 2012/2013. 2. Sampel Menurut Sugiyono (2008:81), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 5 dan siswa kelas X 6 SMA Negeri 2 Pacitan. 3. Teknik Pengambilan Sampel Untuk menentukan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Stratified Cluster Random Sampling. Langkah-langkah pengambilan sampel ini dengan cara memilih secara acak dua kelas dengan di undi dari kelas X SMA N 2 Pacitan. Undian tersebut dilaksanakan dalam satu tahap dengan dua kali pemilihan. Nomor undian yang terpilih pertama ditetapkan sebagai kelas eksperimen dengan metode pembelajaran Tanya Jawab dan nomor 45
  • 46. undian yang terpilih kedua ditetapkan sebagai kelas kontrol dengan metode pembelajaran Ekspositori. Ternyata yang terpilih sebagai kelas eksperimen dengan metode pembelajaran Tanya Jawab adalah kelas X 5 dan sebagai kelas kontrol dengan metode pembelajaran Ekspositori adalah kelas X 6. D. Teknik Pengumpulan Data 1. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat tiga buah variabel penelitian, yang terdiri dari dua variabel bebas dan satu variabel terikat. a. Variabel Bebas 1) Metode Pembelajaran a) Definisi operasional dari Metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan materi dengan menggunakan bentuk tertentu, seperti ceramah, diskusi, penugasan, dan cara-cara lainnya. Dalam penelitian ini terdapat dua metode pembelajaran yaitu metode pembelajaran Tanya Jawab pada kelas eksperimen dan metode Ekspositori pada kelas kontrol. b) Skala pengukuran: skala nominal c) Kategori: ada 2 kategori yaitu melalui metode pembelajaran Tanya Jawab dan metode Ekspositori d) Simbol: Ai dengan i = 1, 2. 46
  • 47. 2) Keaktifan Belajar Siswa a) Definisi operasional Keaktifan belajar siswa adalah keadaan siswa dalam proses pembelajaran yang ditandai dengan adanya keterlibatan siwa secara fisik, mental, intelektual dan emosional baik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat maupun pembentukan sikap dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. b) Skala pengukuran: Skala interval yang diubah ke skala ordinal yang terdiri dari tiga kategori, yaitu kelompok tinggi dengan X ≥ X + s, kelompok sedang dengan X - s < X < X + s, sedangkan kelompok rendah dengan X ≤ X - s. Dengan : X : skor angket keaktifan belajar siswa X : rataan dari skor angket s : standar deviasi gabungan dari skor angket c) Simbol: Bj dengan j = 1, 2, 3. b. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. 1) Definisi operasional: 47
  • 48. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa sebagai akibat dari aktivitas selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. 2) Skala pengukuran: interval. 3) Indikator: Nilai tes hasil belajar matematika pada materi bentuk pangkat dan akar di akhir pembelajaran. 4) Simbol: ABij dengan i = 1, 2 dan j = 1, 2, 3. 2. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, metode angket dan metode tes. a. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan melihatnya dalam dokumen-dokumen yang telah ada (Budiyono, 2003:54). dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui daftar nama, nomor absen siswa dan mengumpulkan data tentang nilai pre tes pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Pacitan yang selanjutnya digunakan untuk uji normalitas, uji homogenitas dan uji keseimbangan. b. Metode Angket Metode Angket adalah cara pengumpulan data melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada subyek penelitian, responden, atau sumber data dan jawabannya diberikan pula secara tertulis Dalam penelitian ini metode angket digunakan untuk 48
  • 49. mengumpulkan data mengenai keaktifan belajar siswa. Angket ini terdidri dari 30 butir soal dengan 4 alternatif jawaban. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang dibuat oleh peneliti sendiri. Jawaban-jawaban angket menunjukkan keaktifan belajar siswa. Prosedur pemberian skor berdasarkan keaktifan belajar siswa, yaitu: 1) Untuk instrumen positif a) Jawaban a, skor 4 menunjukkan keaktifan belajar siswa sangat sesuai pada tipe keaktifan tertentu b) Jawaban b, skor 3 menunjukkan keaktifan belajar siswa sesuai pada tipe keaktifan tertentu. c) Jawaban c, skor 2 menunjukkan keaktifan belajar siswa kurang sesuai pada tipe keaktifan tertentu. d) Jawaban d, skor 1 menunjukkan keaktifan belajar siswa tidak sesuai pada tipe keaktifan tertentu. 2) Untuk instrumen negatif a) Jawaban a, skor 1 menunjukkan keaktifan belajar siswa tidak sesuai pada tipe keaktifan tertentu. b) Jawaban b, skor 2 menunjukkan keaktifan belajar siswa kurang sesuai pada tipe keaktifan tertentu. c) Jawaban c, skor 3 menunjukkan keaktifan belajar siswa sesuai pada tipe keaktifan tertentu. 49
  • 50. d) Jawaban d, skor 4 menunjukkan keaktifan belajar siswa sangat sesuai pada tipe keaktifan tertentu. Setelah selesai penyusunan item soal, angket diuji cobakan pada siswa/siswi SMA Negeri 2 Pacitan untuk mengetahui apakah angket yang dibuat memenuhi syarat-syarat instrumen yang baik, yaitu validitas isi, konsistensi internal, dan reliabilitas. c. Metode Tes Metode tes adalah cara pengumpulan data yang menghadapkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan atau suruhansuruhan kepada subyek penelitian (Budiyono, 2003:54). Dalam penelitian ini, metode tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai hasil belajar siswa. Bentuk tes yang digunakan adalah tes pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban, setiap jawaban benar mendapat skor 1 sedangkan setiap jawaban salah mendapat skor 0. 3. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan angket. Insrumen tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar matematika siswa dan instrumen angket digunakan untuk memperoleh data keaktifan belajar siswa. 4. Uji Coba Instrumen Menurut Budiyono (2003:55), setelah instrumen penelitian selesai disusun, peneliti wajib menguji-cobakannya terlebih dahulu sebelum dikenakan kepada sampel penelitian. Tujuan uji coba adalah 50
  • 51. untuk melihat apakah instrumen yang telah disusun benar-benar valid dan benar-benar reliabel atau tidak. Kecuali itu, uji coba dipakai juga untuk melihat hal-hal lain, misalnya untuk melihat derajad kesukaran dan indek daya pembeda (pada tes hasil belajar bentuk pilihan ganda). Setelah uji coba selesai kemudian dilakukan analisis terhadap instrumen dan butir instrumen baik tes maupun angket sebagai berikut: a. Tes Uji coba tes hasil belajar ini menggunakan instrumen tes sebanyak 25 soal bentuk pilihan ganda dengan durasi waktu pengujian 90 menit. Setelah dilakukan analisis hasil uji coba tes hasil belajar diambil 20 soal untuk diberikan kepada sampel penelitian. 1) Analisis Instrumen Tes a) Validitas Isi Budiyono (2003: 59) menyatakan bahwa, “Untuk menilai apakah instrumen mempunyai validitas isi yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah melalui experts judgment (penilaian yang dilakukan oleh para pakar)”. Dalam hal ini para penilai (yang sering disebut subjectmatter experts), menilai apakah kisi-kisi yang dibuat oleh pengembang tes telah menunjukkan bahwa klasifikasi kisikisi telah mewakili isi (substansi) yang akan diukur. Langkah berikutnya, para penilai menilai apakah masing- 51
  • 52. masing butir tes yang telah disusun cocok atau relevan dengan klasifikasi kisi-kisi yang ditentukan. Cara ini sering disebut relevance ratings (penilaian berdasarkan relevansi). Dalam penelitian ini bisa dikatakan mempunyai validitas isi, jika validator setuju dengan semua kriteriakriteria dalam validasi. b) Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah ketepatan atau ketelitian suatu alat ukur. Menurut Budiyono (2003:65), suatu instrumen disebut reliabel apabila hasil pengukuran dengan instrumen tersebut adalah sama jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang sama pada waktu yang berlainan atau pada orang-orang yang berlainan (tetapi mempunyai kondisi yang sama) pada waktu yang berlainan. Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Kuder-Richardson (KR.20) sebagai berikut: r11 n n 1 st2 pi qi 2 t s (Budiyono, 2003:69) Keterangan : r11 =indeks reliabilitas instrumen 52
  • 53. n =banyaknya butir instrumen pi =proporsi banyaknya subyek yang menjawab benar pada butir ke-i =1- pi, i = 1,2,…,n qi st 2 = variansi total Dalam penelitian ini instrument dikatakan reliable jika indeks reliabilitas yang diperoleh telah melebihi 0,70 (r11 ≥ 0,70). 2) Analisis Butir Instrumen Tes a) Derajad Kesukaran Butir soal yang baik jika mempunyai tingkat kesukaran memadai, yaitu tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Untuk menentukan tingkat kesukaran tiaptiap butir soal digunakan rumus: P B Js dengan : P : indeks kesukaran B : banyak peserta tes yang menjawab Benar Js : jumlah seluruh peserta tes (Suharsimi Arikunto, 2009:208) Dalam penelitian ini butir soal dianggap baik jika nilai indeks P adalah 0,30 ≤ P ≤ 0,70. 53
  • 54. b) Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan butir soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang (berkemampuan rendah). Untuk mengetahui daya beda suatu butir soal digunakan rumus korelasi momen produk Karl Pearson yaitu : dengan: rxy : indeks daya beda untuk butir soal ke-i. XY : Jumlah perkalian X dan Y X : Skor untuk butir ke-i Y : Skor total (dari subyek) N : Cacah subyek (Budiyono, 2003: 65) Dalam penelitian ini butir tes yang digunakan adalah soal yang mempunyai daya beda rxy ≥ 0,3. b. Angket 1) Uji Validitas Isi Untuk menilai apakah suatu instrumen angket mempunyai validitas isi yang tinggi, yang biasanya dilakukan 54
  • 55. adalah melalui experts judgment (penilaian yang dilakukan oleh para pakar). (Budiyono, 2003:59). Dalam penelitian ini instrumen angket dikatakan valid jika kisi-kisi yang dibuat telah menunjukkan bahwa klasifikasi kisi-kisi telah mewakili isi (substansi) yang akan diukur, selanjutnya masing-masing butir tes yang telah disusun cocok atau relevan dengan klasifikasi kisi-kisi yang ditentukan. 2) Konsistensi Internal Butir-butir dalam sebuah instrumen haruslah mengukur hal yang sama dan menunjukkan kecenderungan yang sama pula. Konsistensi Internal masing-masing butir dilihat dari korelasi antara skor butir-butir tersebut dengan skor totalnya. Untuk menghitung konsistensi internal butir ke-i dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson: Keterangan: rxy = indeks konsitensi internal untuk butir ke-i N cacah subjek X skor untuk butir ke-i Y skor total (dari subyek) 55
  • 56. (Budiyono, 2003:65) Dalam penelitian ini instrumen angket mempunyai konsistensi internal yang baik jika rxy ≥ 0,3. Jika indeks konsistensi internal untuk butir ke-i kurang dari 0,3 maka butir tersebut harus dibuang/tidak dipakai. 3) Uji Reliabilitas Uji reliabilitas butir untuk angket dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach, sebagai berikut: dengan: r11 = indek reliabilitas instrumen. n = banyaknya butir instrumen. si2 = variansi butir ke-i, i = 1,2,...,n. st2 = variansi skor-skor yang diperoleh subyek uji coba. Budiyono, 2003:70) Dalam penelitian ini instrumen angket dikatakan reliabel jika memenuhi kriteria r11 > 0,7. E. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini teknik statistik dengan uji analisis variansi dua jalan 2 x 3 dengan sel tak sama. Sebelum dilakukan analisis variansi, dilakukan uji persyaratan analisis variansi, yaitu uji homogenitas variansi dan uji normalitas populasi. Untuk 56
  • 57. lebih jelasnya, dalam uraian berikut akan ditampilkan uji statistik yang relevan dengan penelitian. 1. Uji Keseimbangan Rataan Untuk mengetahui apakah kedua sampel penelitian mempunyai kemampuan awal yang sama atau dalam keadaan seimbang sebelum eksperimen dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji keseimbangan rataan dengan menggunakan data nilai UN SMP pada siswa kelas X SMA N 2 Pacitan tahun ajaran 2011/2012 mata pelajaran matematika yang diperoleh dengan metode dokumentasi. Sebelum dilakukan uji keseimbangan rerata maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas sebagai uji prasyarat. Prosedur uji keseimbangan rataan adalah sebagai berikut. a. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mangetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi berdistribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Lilliefors dengan prosedur seperti uji normalitas pada uji prasyarat analisis variansi. b. Uji Homogenitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian mempunyai variansi yang sama atau tidak. Untuk menguji homogenitas ini digunakan metode Bartlett dengan prosedur seperti uji homogenitas pada uji prasyarat analisis variansi. 57
  • 58. Jika terpenuhi normalitas data dan homogenitas (variansi sama) selanjutnya dilakukan uji-t dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Hipotesis Ho : µ1 = µ2 (kedua populasi memiliki kemampuan awal sama). Ho : µ1 ≠ µ2 (kedua populasi memiliki kemampuan awal sama berbeda) 2) Taraf signifikan: α = 0,05 3) Statistik Uji : X1 t sp s2 p 1 n1 X2 1 n2 2 n1 1 s12 n2 1 s 2 n1 n2 2 dengan: t ~ t (n1+n2-2) X 1 = rataan dari kelompok eksperimen X 2 = rataan dari kelompok kontrol s12 = variansi kelompok eksperimen 2 s 2 = variansi kelompok kontrol n1 = banyaknya siswa kelompok eksperimen n 2 = banyaknya siswa kelompok control µ1 = rataan populasi kelompok eksperimen µ 2 = rataan populasi kelompok control Sp = variasi gabungan 58
  • 59. 4) Daerah kritik DK ={ t l t < - t atau t > t 2 ;v } 2 ;v dengan v = n1+n2-2 5) Keputusan uji H 0 ditolak jika t obs H 0 tidak ditolak jika DK t obs DK (Budiyono, 2009:151) Kesimpulan 1) Kedua populasi memiliki kemampuan awal sama jika Ho diterima. 2) Kedua populasi memiliki kemampuan awal berbeda jika Ho ditolak. 2. Uji Persyarat Analisis Variansi Uji persyarat analisis variansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas populasi dan uji homogenitas variansi. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mangetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi berdistribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode Lilliefors dengan prosedur sebagai berikut : 1) Hipotesis Ho : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal 59
  • 60. H1 : sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 2) Statistik Uji Statistik ujinya adalah : F(zi) – S(zi) L = Maks dengan Z N(0,1) F(zi) = P(Z ≤ zi) ; Z ~ N(0,1) S(zi) = proporsi cacah Z ≤ zi terhadap seluruh cacah zi Zi s Xi X s = standar deviasi sampel X = mean sampel Xi = skor item 3) Taraf Signifikansi α = 0,05 4) Daerah Kritik (DK) DK = { L │ L > Lα; n } 5) Keputusan Uji Ho ditolak jika L terletak di daerah kritik 6) Kesimpulan a) Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika Ho diterima b) Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika Ho ditolak (Budiyono, 2009:170-17) 60
  • 61. b. Uji Homogenitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian mempunyai variansi yang sama atau tidak. Untuk menguji homogenitas ini digunakan metode Bartlett dengan statistik uji Chi kuadrat dengan prosedur sebagai berikut: 1) Hipotesis Ho : σ12 = σ22 = …= σk2 (variansi populasi homogen) k = 2 untuk metode pembelajaran k = 3 untuk kategori keaktifan beljar siswa H1 : tidak semua variansi sama (variansi populasi tidak homogen) 2) Statistik uji yang digunakan 2 (f log RKG- = fj log sj2) dengan : χ2 ~ χ2 (k-1) SS j X RKG = c 1 2 j Xj 2 nj 1 S2 j nj ; 1 3k 1 1 fj 1 fj dengan : k : banyaknya populasi k = 2 untuk metode pembelajaran 61
  • 62. k = 3 untuk kategori keaktifan belajar siswa f : derajat kebebasan RKG = N – K N : cacah semua pengukuran : derajat kebebasan untuk sj : nj – 1 j : 1,2,…,k nj : cacah pengukuran pada sampel ke-j 3) Taraf signifikansi α = 0,05 4) Daerah Kritik (DK) DK = 2 2 2 (k-1) 5) Keputusan Uji H0 ditolak jika 2 DK atau diterima jika 2 DK 6) Kesimpulan Variansi-variansi populasi homogen jika Ho diterima. Variansi-variansi populasi tidak homogen jika Ho ditolak (Budiyono, 2009: 175-177) 3. Uji Hipotesis Untuk pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi dengan dua jalan dengan sel tak sama. Analisis variansi dua jalan bertujuan untuk menguji perbedaan efek (pengaruh) 2 variabel bebas, yaitu strategi pembelajaran (faktor A) dan keaktifan belajar siswa (faktor B) serta interaksi antara strategi pembelajaran dengan keaktifan belajar 62
  • 63. siswa (faktor AB) terhadap variabel terikatnya, dengan model data sebagai berikut. a. Model Data Xijk = + i + j +( )ij + ijk dengan : Xijk = data amatan ke-k pada baris ke-i kolom ke-j. = rerata dari seluruh data amatan j = efek faktor B ke kategori j i = efek faktor A ke kategori i ( )ij = kombinasi efek baris ke-i dan kolom ke-j pada variabel terikat. ijk i = deviasi pengamatan terhadap rataan populasinya ( ij) = 1, 2, dengan :1 = metode pembelajaran Tanya Jawab 2 = metode Ekspositori j = 1, 2, 3,dengan: 1 = keaktifan siswa tinggi 2 = keaktifan siswa sedang 3 = keaktifan siswa rendah k = 1, 2, …, nij ; nij = cacah data amatan pada sel ij (Budiyono, 2009: 207-208) b. Prosedur 1) Hipotesis H0A : i = 0, untuk setiap i = 1, 2 (tidak ada perbedaan efek antar baris terhadap variabel terikat) 63
  • 64. H1A : paling sedikit ada satu i yang tidak nol (ada perbedaan efek antar baris terhadap variabel terikat) H0B : j = 0, untuk setiap j = 1, 2, 3, (tidak ada perbedaan efek antar kolom terhadap variabel terikat) H1B : untuk paling sedikit ada satu j yang tidak nol (ada perbedaan efek antar kolom terhadap variabel terikat) H0AB : ( )ij = 0 untuk semua uji (tidak ada interaksi antara baris dan kolom terhadap variabel terikat) H1AB : untuk paling sedikit ada satu ( )ij yang tidak nol. Ada interaksi antara baris dan kolom terhadap variabel terikat) 2) Taraf signifikansi = 5% 3) Komputasi a) Ada lima komponen yang berturut-turut dikembangkan dengan (1), (2), (3), (4), (5) yang dirumuskan sebagai berikut : (1) G2 pq S Sij (2) (3) i Ai2 (5) q 2 A B ij ij B2 j (4) p Selanjutnya didefinisikan notasi-notasi sebagai berikut : j ij nij = ukuran sel ij (sel pada baris ke-i kolom ke-j) = banyaknya data amatan pada sel ij = frekuensi sel ij n h = rataan harmonik frekuensi seluruh sel 64
  • 65. pq 1 ij nij = nij = banyaknya seluruh data amatan N = i, j S Sij X X ijk 2 ijk 2 nijk k = jumlah kuadrat deviasi data amatan pada sel ij p = banyaknya baris q = banyaknya kolom ABij = rataan pada sel ij Ai = AB ij = jumlah rataan pada baris ke-i j AB ij = jumlah rataan pada kolom ke-j Bj = i G = AB ij = jumlah rataan pada semua sel. ij b) Jumlah Kuadrat JKA = n h {(3) – (1)} JKB = n h {(4) – (1)} JKAB = n h {(1) + (5) – (3) – (4)} JKG = (2) JKT = JKA+ JKB + JKAB + JKG dengan : JKA : jumlah kuadrat baris 65
  • 66. JKB : jumlah kuadrat kolom JKAB : jumlah kuadrat interaksi antara baris dan kolom JKG : jumlah kuadrat galat JKT : jumlah kuadrat total c) Derajat kebebasan dkA = p–1 dkB = q–1 dkAB = (p – 1) (q – 1) dkG = N – pq dkT = N–1 d) Rerata kuadrat Berdasarkan jumlah kuadrat dan derajat kebebasan masingmasing diperoleh rataan kuadrat berikut ini : RKA = JKA dkA RKAB = RKB = RKG = JKAB dkAB JKB dkB JKG dkG 4) Statistik Uji RKA RKG RKB Untuk H0B adalah Fb = RKG RKAB Untuk H0AB adalah Fab = RKG Untuk H0A adalah Fa = (Budiyono, 2009 : 231) 5) Daerah Kritik a) Daerah kritik untuk Fa adalah DK = {F|F > F 66 ; p – 1 , N – pq}
  • 67. b) Daerah kritik untuk Fb adalah DK = {F|F > F ; q – 1 , N – pq} c) Daerah kritik untuk Fab adalah DK = {F|F > F ; (p – 1) (q – 1) , N – pq} 6) Keputusan Uji H0 ditolak apabila F hitung terletak di daerah kritik (Budiyono, 2009 : 229 – 231) 7) Rangkuman Analisis Tabel 3.3 Rangkuman Analisis Dua Jalan Sumber JK Dk RK Fobs F Baris (A) JKA p-1 RKA Fa F* < atau > Kolom (B) JKB q-1 RKB Fb F* < atau > JKAB (p-1) (q-1) RKAB Fab F* < atau > Galat (G) JKG N-pq RKG - - - Total JKT N-1 - - - - Interaksi (AB) P Keterangan : F* = nilai F yang diperoleh dari tabel , P = probabilitas data amatan (Budiyono, 2009: 239) 4. Uji Komparasi Ganda Uji komparasi ganda (Uji lanjut pasca Anava) adalah tindak lanjut dari anava jika hasil analisis variansi menunjukkan hipotesis nol ditolak. Uji komparasi ganda pasca anava yang digunakan dalam 67
  • 68. penelitian ini adalah uji Scheffe’. Tujuan dari uji Scheffe’ ini adalah untuk melakukan pelacakan terhadap perbedaan rerata antar baris, perbedaan rerata antar kolom, perbedaan rerata antar sel pada kolom yang sama, dan perbedaan rerata antar sel pada baris yang sama. Langkah-langkah yang ditempuh pada metode Scheffe’ ialah: a. Mengidentifikasi semua pasangan komparasi rerata. b. Merumuskan hipotesis yang bersesuaian dengan komparasi tersebut. c. Menentukan taraf signifikansi α = 0,05 d. Mencari nilai statistik uji F dengan menggunakan rumus yang bersesuaian dengan komparasi tersebut. e. Menentukan daerah kritik yang bersesuaian dengan komparasi tersebut f. Menentukan keputusan uji untuk masing-masing komparasi ganda. g. Menentukan kesimpulan 1) Komparasi Rataan Antar Baris Komparasi rataan antar baris tidak perlu dilakukan, sebab hanya ada 2 kategori faktor baris (metode pembelajaran Tanya Jawab dan Ekspositori), kalau pun dilakukan komparasi ganda antar baris akan diperoleh keputusan uji yang sama dengan pengujian hipotesis di depan. 68
  • 69. 2) Komparasi Rataan Antar Kolom Uji Sceffe’ untuk komparasi rataan antar kolom adalah: Fi (X X j )2 i j 1 ni RKG 1 nj Keterangan : F.i-.j = nilai Fobs pada perbandingan kolom ke-i dan kolom ke-j X i = rataan pada kolom ke-i X j = rataan padar kolom ke-j RKG = rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan analisis variansi n.i = ukuran sampel kolom ke-i n.j = ukuran sampel kolom ke-j Sedangkan daerah kritik untuk uji ini adalah : DK = { F|F > (q-1) F ; q-1, N-pq} 3) Komparasi Rataan Antar Sel Pada Baris Yang Sama Uji Scheffe untuk komparasi rataan antar sel pada baris yang sama adalah: Fij ( X ij ik RKG X ik ) 2 1 nij 1 nik Sedangkan daerah kritik untuk uji ini adalah: Dk = { F|F > (pq-1) F ; pq-1 , N-pq} 69
  • 70. (Budiyono, 2009: 215-217) 4) Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama Uji Scheffe untuk komparasi rataan antar sel pada kolom yang sama adalah : Fij ( X ij kj RKG X kj ) 2 1 nij 1 nkj dengan : Fij-kj =nilai Fobs pada perbandingan rataan pada sel ij dan rataan pada sel kj X ij =rataan pada sel ke-ij X =rataan pada sel ke-jk jk RKG =rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan analisis variansi nij =ukuran sel ke-ij nkj =ukuran sel ke-kj DK = {F|F > (pq-1) F ; pq -1 , N-pq} 70
  • 71. BAB IV HASIL PENELITIAN A. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Angket Keaktifan Siswa 1. Uji validitas isi Untuk mengetahui apakah instrumen angket yang digunakan valid maka peneliti mengkonsultasikan kepada ahli sebagai validator (expert judgement). Validator dipilih dengan pertimbangan yang bersangkutan mempunyai jabatan dan profesi dengan keahlian di bidang konseling. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali terhadap ketepatan kisi-kisi angket dan tata bahasanya maka diperoleh hasil bahwa butir angket adalah valid. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6. 2. Uji reliabilitas Uji coba angket diberikan kepada 54 responden, sejumlah 30 butir soal. Hasil pengolahan data menunjukkan koefisien reliabilitasnya adalah 0,7859 > 0,70 (lihat lampiran 8). Dengan demikian angket reliabel dan layak digunakan sebagai instrumen penelitian. 3. Uji konsistensi internal Hasil uji coba instrumen angket menunjukkan bahwa dari 30 butir angket, terdapat 4 butir soal yang harus dibuang karena tidak memenuhi indeks konsistensi internal minimal 0,3 yaitu butir nomor 2, 5, 6, dan 29 (lihat lampiran 8). Berdasarkan hasil tersebut maka terdapat 26 butir soal yang dapat digunakan sebagai butir angket keaktifan siswa. Tetapi 71
  • 72. dengan mempertimbangkan kemudahan dalam penskoran maka peneliti menggunakan 25 butir soal. B. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes Hasil Belajar 1. Uji validitas isi Untuk mengetahui apakah instrumen tes hasil belajar matematika yang digunakan valid maka peneliti mengkonsultasikan kepada ahli sebagai validator (expert judgement). Validator dipilih dengan pertimbangan yang bersangkutan mempunyai jabatan dan profesi dengan keahlian pada mata pelajaran matematika. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa butir soal/ tes hasil belajar matematika adalah valid sehingga dapat digunakan sebagai instrumen penelitian. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5. 2. Uji reliabilitas Uji coba tes hasil belajar matematika diberikan kepada 54 responden, sejumlah 25 butir soal. Hasilnya menunjukkan koefisien reliabilitasnya adalah 0,839 > 0,70 (lihat lampiran 9). Dengan demikian butir soal/tes dianggap reliabel dan layak digunakan sebagai instrumen tes penelitian. 3. Tingkat kesukaran Hasil uji coba instrumen tes hasil belajar menunjukkan bahwa dari 25 butir soal, terdapat 5 butir yang harus dibuang karena tidak memenuhi indeks kesukaran 0,30 ≤ P ≤ 0,7, yaitu butir nomor 1,3,5, 14,dan15 72
  • 73. kategori mudah (lihat lampiran 10). Berdasarkan hasil tersebut maka terdapat 20 butir soal yang dapat digunakan sebagai butir soal yang baik untuk uji prestasi/ hasil belajar. 4. Daya beda Hasil uji coba instrumen tes matematika menunjukkan perhitungan daya beda yang hasilnya tidak berbeda dengan hasil perhitungan tingkat kesukaran soal/tes. Terdapat 5 butir soal yang tidak memenuhi syarat, yaitu rxy≤ 0,3, yaitu butir nomor 1, 3, 5, 14, dan 15. Dengan demikian terdapat 20 butir soal untuk uji hasil belajar matematika. C. Kemampuan Awal Data yang digunakan sebagai kemampuan awal untuk uji keseimbangan adalah nilai Ujian Nasional SMP mata pelajaran Matematika, pada kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2011/2012 dengan uji-t. Prasyarat uji-t adalah dipenuhinya normalitas dan homogenitas data. 1. Uji normalitas data kemampuan awal Hasil uji normalitas dari kemampuan awal dengan menggunakan uji Lilliefors diperoleh harga statistik uji untuk tingkat signifikan 5% pada masing-masing sampel dapat dilihat pada tabel 4.1. Dari tabel 4.1 terlihat bahwa harga statistik uji untuk masingmasing sampel kurang dari harga daerah kritik, sehingga H0 diterima. Ini berarti masing-masing sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 15. 73
  • 74. Tabel 4.1. Hasil Uji Normalitas Data Awal Kelompok L max L Tabel H0 Kesimpulan Eksperimen 0,173 Diterima Berdistribusi normal Kontrol 2. 0,120 0,122 0,173 Diterima Berdistribusi normal Uji homogenitas data kemampuan awal Hasil uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui variansi dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil perhitungan menggunakan pendekatan Bartlett menunjukkan harga statistik dengan DK={ 2 │ 2 > 2 0,05; k – 1= 3,841}, sehingga 2 obs 2 obs = 0, DK atau H0 diterima. Ini berarti masing-masing sampel berasal dari populasi dengan variansi sama. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 15. 3. Uji keseimbangan data kemampuan awal Hasil deskripsi statistiknya disajikan pada tabel sebagai berikut : Tabel 4.2. Deskripsi Statistik Kemampuan Awal Ukuran Pemusatan Ukuran Dispersi Kelompok Simpangan Rerata Median Modus Baku Maks Min Eksperimen 72,148 72 61 9,355 89 58 Kontrol 71,259 71 75 9,379 88 58 74
  • 75. Hasil uji keseimbangan menunjukkan bahwa H0 diterima karena tobs = 0,3487 DK , dengan DK = { t| t < - 1,960 atau t > 1, 960 } (lihat Lampiran 15). Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai kemampuan awal yang sama atau seimbang. D. Deskripsi Data 1. Skor Keaktifan Siswa Data tentang keaktifan siswa diperoleh dari hasil angket yang diberikan kepada responden/siswa anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Dari hasil perhitungan kedua kelompok diperoleh X = 67,4259 dan s = 11,9939. Penentuan untuk kategori tinggi: X ≥ X + s, kategori sedang: X - s < X < X + s ,dan kategori rendah: X ≤ X - s. Sehingga untuk skor yang lebih dari atau sama dengan 79,3438 dikategorikan tinggi, untuk skor yang lebih dari 55,508 atau kurang dari 79,3438 dikategorikan sedang, dan untuk skor yang kurang dari atau sama dengan 55,508 dikategorikan rendah. Berdasarkan data yang telah terkumpul terdapat kelompok keaktifan tinggi (8 siswa), kelompok keaktifan sedang (36 siswa), dan kelompok keaktifan rendah (10 siswa). Selanjutnya deskrispi statistik data tersebut dapat dilihat pada lampiran 18. 75
  • 76. 2. Skor tes hasil belajar matematika Data hasil belajar matematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai tes pada materi fungsi yang diberikan kepada 2 kelompok siswa setelah diberi perlakuan dengan metode pembelajaran yang berbeda. Pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan metode pembelajaran Tanya Jawab dan kelompok kontrol dengan metode pembelajaran Ekspositori. Deskripsi data nilai hasil belajar berdasarkan kelompok eksperimen dan kelompok aktivitas seperti pada Tabel 4.3. Tabel 4.3. Deskripsi Statistik Hasil Tes Belajar Matematika Ukuran Pemusatan Kelompok Ukuran Dispersi Simpangan Baku Maks Min Rerata Median Modus 75 75 80 12,089 100 55 Kontrol 73,077 75 75 13,320 95 45 Keaktifan tinggi 88,875 89 84 6,446 100 80 Keaktifan sedang 71,417 70 7,583 90 59 Keaktifan rendah 55,7 52 6,001 65 346 Eksperimen 71 55 (lihat Lampiran 18) E. Analisis Variansi 1. Uji Prasyarat a. Uji normalitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian dari populasi berdistribusi normal atau sebaliknya. Statistik uji yang digunakan adalah Metode Lilliefors dengan tingkat signifikansi = 5%. Uji normalitas dilakukan terhadap 5 kelompok, yaitu kelompok 76
  • 77. eksperimen, kelompok kontrol, kelompok keaktifan tinggi, sedang, dan rendah. Rangkuman hasil uji normalitas disajikan pada Tabel 4.3 sebagai berikut : Tabel 4.4. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Tes Matematika Kelompok L max L Tabel H0 Kesimpulan Eksperimen 0,117 0,173 Diterima Berdistribusi normal Kontrol 0,098 0,173 Diterima Berdistribusi normal Keaktifan Tinggi 0,181 0,285 Diterima Berdistribusi normal Keaktifan Sedang 0,096 0,886 Diterima Berdistribusi normal Keaktifan Rendah 0,246 0,258 Diterima Berdistribusi normal (lihat Lampiran 20) Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa semua kelompok berasal dari populasi berdistribusi normal. b. Uji homogenitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian mempunyai variasi yang homogen atau tidak. Untuk menguji homogenitas ini digunakan metode Bartlett dengan statistik uji Chi Kuadrat. Uji homogenitas dilakukan terhadap kelompok metode pembelajaran (eksperimen dan kontrol), serta kelompok keaktifan siswa (tinggi, sedang, rendah) dengan rangkuman data pada tabel 4.5. sebagai berikut : 77
  • 78. Tabel 4.5 Rangkuman Hasil Uji Homogenitas ² obs Kelompok Eksperimen dan DK H0 Kesimpulan 0,2397 3,841 Diterima Variansi homogen 0,923 kontrol 5,991 Diterima Variansi homogen keaktifan : tinggi,sedang, rendah (lihat Lampiran 21) Berdasarkan hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa kelompok metode pembelajaran (eksperimen dan kontrol), serta kelompok keaktifan siswa (kategori tinggi, sedang, dan rendah) mempunyai variansi populasi yang sama. 2. Uji hipotesis penelitian Uji hipotesis dilakukan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan fomulasi anava 2x3 setelah diketahui bahwa sampel random data berasal dari populasi berdistribusi normal dan mempunyai variansi populasi yang sama. Rangkuman hasil uji hipotesis disajikan pada Tabel 4.6 sebagai berikut : Tabel 4.6 Rangkuman Analisis Variansi Sumber Metode Pembelajaran (A) Keaktifan Siswa (B) JK dk RK Fobs F P 643,6 1 643,6 17,25 4,08 > 0.05 6532,25 2 3266,125 87,6 3,23 0.05 Interaksi (AB) 10,3182 2 5,16 0,14 3,23 > 0.05 Galat 1789,95 48 37,3 Total 8976,12 53 (lihat Lampiran 22) 78
  • 79. Berdasarkan data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Terdapat perbedaan pengaruh pembelajaran Tanya Jawab dengan antara penerapan Ekspositori terhadap hasil belajar matematika, terlihat dari efek faktor A: Fobs 17,25 b. metode F atau 4,08 sehingga H0A ditolak. Terdapat perbedaan pengaruh keaktifan siswa terhadap hasil belajar Matematika Hal tersebut berdasarkan efek faktor B : Fobs > F atau 87,6 > 3,23 sehingga H0B ditolak. c. Tidak ada interaksi antara penerapan metode pembelajaran dengan keaktifan siswa terhadap hasil belajar matematika, yaitu berdasarkan kombinasi efek faktor A dan B terhadap variabel terikat atau 0,14 < 3,15 sehingga H0AB diterima. F. Uji Lanjut Pasca Anava Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan anava tersebut maka dapat diuraikan langkah-langkah uji lanjut pasca anava sebagai berikut : 1. Uji komparasi ganda antar baris Dari hasil perhitungan analisis variansi dua jalan sel tak sama (Lampiran 22) diperoleh keputusan bahwa H0A ditolak. Dan karena tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dengan keaktifan siswa (lampiran 22) maka perbandingan antara Metode Tanya Jawab dengan metode Ekspositori untuk setiap tipe keaktifan mengikuti perbandingan marginalnya. Dapat dilihat pada data berikut ini: 79
  • 80. Tabel 4.8 Strategi Keaktifan Siswa Rataan Pembelajaran Tinggi Sedang Rendah Marginal Tanya Jawab Ekspositori Rataan Marginal 93,75 75,00 60,00 84,00 67,83 51,40 88,88 71,42 76,25 67,74 55,7 (lihat lampiran 23) Dengan memperhatikan rerata masing-masing sel dan rerata marginalnya dapat disimpulkan bahwa metode Tanya Jawab lebih baik dibandingkan metode Ekspositori baik secara umum maupun untuk setiap kategori keaktifan siswa. 2. Uji komparasi ganda antar kolom Dari hasil perhitungan analisis variansi dua jalan sel tak sama (Lampiran 21) diperoleh keputusan bahwa H0B ditolak, maka perlu dilakukan uji lanjut pasca anava. Dari hasil perhitungan diperoleh hasil komparasi ganda antar kolom seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.9 Rangkuman Hasil Komparasi Ganda antar Kolom H0 Fobs 2.F0,05;2,58 Keputusan uji .1 = .2 53,4 6,46 H0 ditolak .2 = .3 51,8 6,46 H0 ditolak .1 = .3 131,1 6,46 H0 ditolak (lihat Lampiran 23) 80
  • 81. Dari Tabel 4.8 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa: a. H0 ditolak, karena F.1-.2 < 2 FTabel = 53,4>6,46. Hal ini berarti siswa dengan keaktifan tinggi mempunyai hasil belajar yang lebih baik dari siswa yang bertipe keaktifan sedang. b. H0 ditolak, karena F.2-.3 > 2 FTabel = 51,8 > 6,46. Hal ini berarti bahwa siswa dengan keaktifan sedang mempunyai hasil belajar lebih baik daripada siswa yang bertipe keaktifan rendah. c. H0 ditolak, karena F.1-.3 > 2 FTabel = 131,1 > 6,46. Hal ini berarti siswa dengan keaktifan tinggi mempunyai hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang bertipe keaktifan rendah. 3. Uji komparasi ganda antar sel Dari hasil perhitungan analisis variansi dua jalan sel tak sama (Lampiran 22) diperoleh keputusan bahwa H0AB diterima, hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan keaktifan siswa terhadap hasil belajar matematika pada materi Bentuk pangkat dan akar sehingga tidak perlu dilakukan dilakukan uji komparasi ganda antar sel pada baris yang sama atau kolom yang sama. G. Pembahasan 1. Hipotesis Pertama Hipotesis pertama adalah “Hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Tanya Jawab lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan metode Ekspositori”. 81
  • 82. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, untuk efek A (metode pembelajaran) diperoleh Fobs > F atau 17,25 > 4,08 sehingga H0A ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa kedua metode pembelajaran memberikan pengaruh/ efek yang berbeda terhadap hasil belajar matematika materi Bentuk pangkat dan akar. Dari rataan marginal menunjukkan bahwa rataan hasil belajar pada metode pembelajaran Tanya Jawab lebih baik daripada rataan hasil belajar menggunakan metode Ekspositori atau 76,25 > 67,74. Hasil tersebut sesuai dengan hipotesis penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dengan metode pembelajaran Tanya Jawab lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan metode pembelajaran Ekspositori pada materi Bentuk pangkat dan akar. 2. Hipotesis Kedua Hipotesis kedua adalah “hasil belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan siswa tinggi lebih baik daripada siswa yang keaktifan sedang dan rendah, serta hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada siswa dengan keaktifan rendah”. Berdasarakan hasil analisis variansi untuk efek B (keaktifan siswa) diperoleh Fobs > F atau 87,6 > 3,23 sehingga H0B ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa ketiga kategori keaktifan siswa memberikan pengaruh/ efek yang berbeda terhadap hasil belajar matematika. 82
  • 83. Dari hasil komparasi ganda antar kolom dapat dilihat bahwa untuk .1 vs .2 diperoleh 53,4 > 6,46, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa dengan keaktifan tinggi lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang, serta dari rataan marginal antara keaktifan tinggi dan sedang menunjukkan 88,88 > 71,42. Untuk .2 vs .3 diperoleh 51,8 > 6,46, serta dari rataan marginal antara keaktifan sedang dan rendah menunjukkan 71,42 > 55,7, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan keaktifan rendah. Untuk .1 vs .3 diperoleh 131,1> 6,46, serta dari rataan marginal antara keaktifan tinggi dan rendah menunjukkan 88,88 > 55,7, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa dengan keaktifan tinggi lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan keaktifan rendah. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai keaktifan belajar sedang dan rendah, serta hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada siswa dengan keaktifan rendah. 3. Hipotesis Ketiga Hipotesis ketiga adalah “Terdapat interaksi antara metode mengajar dengan keaktifan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa”. 83
  • 84. Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, untuk efek AB (interaksi) diperoleh Fobs > F atau 0,14 < 3,23 sehingga H0A diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat interaksi metode pembelajaran dan keaktifan siswa terhadap hasil belajar Matematika. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Karena berdasar hasil penelitian pada metode Tanya Jawab, untuk setiap siswa dengan keaktifan tingi, sedang maupun rendah selalu mempunyai hasil belajar yang tinggi daripada penggunaan metode Ekspositori. Hal itu dikarenakan metode Tanya Jawab mampu meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa. H. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan pada penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Data hasil belajar matematika yang dipakai untuk membandingkan antara penerapan metode pembelajaran Tanya Jawab dan Ekspositori terbatas pada materi bentuk pangkat dan akar. Untuk penyempurnaan lebih lanjut dapat diujicobakan pada materi lain. 2. Pada uji keseimbangan, data yang diambil hanya dari nilai pre test pada mata pelajaran matematika dengan pertimbangan soal yang diberikan seragam. Untuk penyempurnaan dapat dibuat instrumen tersendiri sebelum eksperimen dengan materi yang berbeda. 84
  • 85. 3. Tes hasil belajar hanya dilakukan pada akhir pembelajaran secara tertulis. Untuk penyempurnaan sebaiknya penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. 4. Peneliti tidak memastikan kejujuran siswa dalam mengisi angket dan mengerjakan soal tes hasil belajar. 85
  • 86. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan kajian teori dan didukung adanya analisis hasil penelitian serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka ditentukan kesimpulan penelitian sebagai berikut : 1. Hasil belajar siswa dengan metode pembelajaran Tanya Jawab lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan metode pembelajaran Ekspositori. 2. Hasil belajar matematika siswa dengan keaktifan tinggi tinggi lebih baik daripada siswa dengan keaktifan sedang dan rendah, serta hasil belajar siswa dengan keaktifan sedang lebih baik daripada siswa dengan keaktifan rendah. 3. Tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan keaktifan siswa terhadap hasil belajar Matematika. B. Implikasi Berdasarkan hasil penelitian maka ditentukan implikasi secara teoritis dan praktis dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika, sebagai berikut : 1. Implikasi Teoritis a. Dengan diterimanya hipotesis bahwa hasil belajar dengan metode pembelajaran Tanya Jawab lebih baik daripada metode 86
  • 87. Ekspositori, maka dapat digunakan sebagai acuan guru untuk memberikan alternatif metode pembelajaran Tanya Jawab pada materi Bentuk Pangkat dan Akar khususnya dan materi lain pada umumnya. b. Keaktifan siswa terbukti berpengaruh terhadap hasil belajar matematika. Berdasarkan hal ini guru perlu memberikan dorongan kepada siswa agar memiliki keaktifan yang baik sehingga peserta didik dapat meningkatkan hasil belajarnya. c. Untuk kesempurnaan hasil penelitian, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan mengambil populasi yang lebih luas dengan materi yang berbeda. 2. Implikasi Praktis a. Terkait dengan metode pembelajaran, guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam membangun pengetahuannya secara aktif, efektif, dan menyenangkan, melalui komunikasi matematik dengan metode pembelajaran Tanya Jawab pada materi lainnya. b. Agar proses pembelajaran berlangsung efektif, guru perlu mengembangkan dan membiasakan metode pembelajaran yang bervariatif, inovatif, dan dengan perencanaan yang baik disesuaikan dengan materi ajar. 87
  • 88. C. Saran Berdasarkan hasil kesimpulan dan implikasi yang telah diuraikan, maka untuk meningkatkan hasil belajar matematika disarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Kepada pengajar : a. Guru sebaiknya menerapkan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi matematis, melalui proses pembelajaran yang aktif, interaktif, dan menyenangkan. Dalam hal ini guru berperan sebagai fasilitator. b. Guru sebaiknya melakukan persiapan yang baik untuk menerapkan metode pembelajaran yang tentunya disesuaikan dengan pertimbangan materi, waktu, kondisi siswa, dan situasi sekolah agar tujuan pembelajaran tercapai. c. Metode Tanya Jawab merupakan salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar matematika, oleh karena itu disarankan kepada guru untuk mau mencoba metode pembelajaran tersebut pada materi mata pelajaran matematika.. 2. Kepada pihak sekolah : a. Agar proses pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Tanya Jawab dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan hasil belajar yang maksimal, sebaiknya pihak sekolah menyediakan fasilitas, alat, media, dan sarana belajar 88
  • 89. yang mendukung suasana kelas yang kondusif, dan tidak mengganggu kelas lain. b. Sebaiknya kepala sekolah senantiasa mendorong kepada guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang interaktif, kreatif, misalkan metode Tanya Jawab untuk meningkatakan hasil belajar siswa pada mata pelajaran lain selain matematika. c. Sebaiknya kepala sekolah aktif melakukan monitoring terhadap efektifitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, serta mengefektifkan komunikasi antar guru mata pelajaran melalui kegiatan intern sekolah dan kegiatan MGMP untuk proaktif menerima, mencoba, dan mengevaluasi hasil informasi perkembangan teknologi pembelajaran. 89
  • 90. DAFTAR PUSTAKA Anny Farihatun Nisa’ (2009).Penggunaan Metode Drill dan Tanya Jawab untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Perkalian pada siswa Kelas III MI Al-Khoiriyah Tirtomoyo Pakis Malang. Skripsi Program Strata 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diunuh dari http://lib.uin- malang.ac.id/thesis/fullchapter/07140049-anny-farihatun-nisa.ps pada tanggal 9 juli 2012. Arikunto,suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press Budiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Surakarta : UNS Press Chatarina Tri Anni, dkk. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: UPT MKK Universitas Negeri Semarang. Choiriyah,Nidaul (2011). Pengaruh Pemberian Apersepsi Tanya Jawab Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Pokok Aritmatika Sosial Pada Peserta Didik Kelas VII MTs NU Nurul Huda Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi Program Strata 1 Jurusan Tadris Matematika IAIN Walisongo.diunduhdari http://library.walisongo.ac.id/digilib/gdl.php?mod=browse&op=read&id=j tptiain-gdl-nidaulchoi-5402&q=Hasil pada tanggal 9 juli 2012. Dep Dik Nas. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Dimyati dan Mudjiono, 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta 90
  • 91. Fathani,Halim,Abdul.(2009). Matematika Hakikat&Logika Edisi Pertama. Yogyakarta:Ar-Ruzz Media. Jihad,Asep & Haris Abdul, 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo Masbied (2011). “Kelebihan dan Kekurangan Metode Tanya Jawab. diunduh dari http://www.masbied.com/2011/09/20/kelebihan-kekurangan-metodetanya-jawab/ pada tanggal 8 Juli 2012.. Mulyana,Aina (2007). Efektivitas Upaya Penerapan Metode Tanya Jawab dengan Variasi Media Pembelajaran Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran PKN. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/26992585/Proposal-Skripsi-Metode-TanyaJawab-Untuk-Meningkatkan-Motivasi-Belajar-Siswa-Pada-MP-QuranHad-Its pada tanggal 9 juli 2012. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bandung: Rineka Cipta. STKIP Pacitan,2010.Pedoman Penyusunan Skripsi STKIP PGRI Pacitan. Pacitan:LPPM STKIP PGRI Pacitan. Sudjana,Nana. 2009. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.. Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelititan. Bandung: Alfabeta. Suprijono,Agus. 2009. Cooperative Learning, Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 91
  • 92. Sunarto (2009). Pengertian Metode Ekspositori. Diunduh dari http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metodeekspositori/ pada tanggal 8 juli 2012 Tim Penyusun HKMJ(2012).Kharisma Matematika.Surakarta: Cv Haka MJ. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa . 2005 . Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Vivit (2009).Peningkatan Kemampuan Siswa Melalui Metode Tanya Jawab pada Materi Pengurangan di Kelas III SDN 4 Sumber Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon.Skripsi Program strata 1 STAIN.Diunduh dari http://vivitstain-islamic.blogspot.com/2009/11/ proposal-ptk.html pada tanggal 9 juli 2012. Yulianto,Adi,Joko (2011). Metode Tanya Jawab. diunduh dari http://pandidikan.blogspot.com/2011/06/metode-tanya-jawab.html pada tanggal 8 juli 2012. 92
  • 93. 93