Kaidah kaidah hukum islam

  • 6,847 views
Uploaded on

tugas fiqih kaidah hukum islam

tugas fiqih kaidah hukum islam

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
6,847
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
114
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Kaidah kaidah hukum islam Anas zakaria Andina yuni p Arum adiningtyas Puji syukrillah
  • 2. Amr 1. Pengertian Amr Dari segi bahasa amr artinya suruhan. Sedang menurut istilah ialah : “Suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi derajatnya kepada orang yang lebih rendah untuk meminta bawahannya mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak boleh ditolak”. 2. Bentuk-bentuk Amr Kata yang menunjukkan kepada perintah seperti yang dimaksudkan dalam pengertian di atas mempunyai beberapa bentuk, yaitu : a. Fi’iI Amr, seperti : b. Fi’iI Mudhari’,seperti : c. Isim Fi’il Amr, seperti : d. Masdar Pengganti Fi’il, seperti : e. Jumlah khabariyah/kalimat berita, seperti : f. Kata yang mengandung makna perintah, dan sebagai jawab syarat, dan sebagainya. Di bawah ini akan dikemukakan contoh-contohnya.
  • 3. Nahi Nahi Menurut bahasa berarti larangan. Sedang menurut istilah ialah : “Larangan ialah tuntutan meninggalkan sesuatu yang datangnya dari orang yang lebih tinggi tingkatannya kepada orang yang lebih rendah tingkatannya". 1. Bentuk-bentukNahi Ungkapan yang menunjukkan kepada “Nahi” (larangan) itu ada beberapa bentuk : a) Fi’il Mudhari’ yang disertai dengan ia nahiyah , seperti : “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bum”i. b) Lafaz-lafaz yang memberi pengertian haram atau perintah meninggalkan perbuatan, seperti : “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
  • 4.  Nasikh adalah penghapusan lafazh atau hukum suatu nash syara’, sedangkan mansukh adalah nash syara’ yang dihapus lafazh atau hukumya. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 106 : “Apa saja ayat-ayat yang kami nasakh, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya, atau kami datangkan yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Macam-macam naskh dalam Al-Qur’an : 1. Naskh lafaz dan hukum. 2. Naskh lafaz sedang hukumnya tetap. 3. Naskh hukum sedang lafaznya tetap.
  • 5. mujmal lafazh mujmal adalah lafazh yang global, masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada syar’i, karena memang Dia lah yang menjadikannya sebagai lafazh yang mujmal. Mubayyan adalah lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yang menjelaskannya : 1. Mubayyan Muttashil, adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. 2. Mubayyan Munfashil, adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Dengan kata lain, penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal
  • 6. mufassar Mufassar (sudah ditafsirkan) Mufassar adalah lafazh yang menunjukkan kepada makna yang terperinci dan tidak ada kemungkinan ta’wil yang lain baginya. Apabila datang penjelasan (bayan) dari syar’i terhadap lafazh yang mujmal itu dengan bayan yang sempurna lagi tuntas, maka lafazh yang mujmal tadi menjadi mufassar (ditafsirkan), seperti bayan yang datang secara rinci terhadap lafazh shalat, zakat, haji dan lainnya. Macam-macam mufassar : 1. Mufassar oleh zatnya sendiri Yaitu lafazh yang sighat (bentuk) nya sendiri telah menunjukkan dalalah (petunjuk) yang jelas kepada makna yang terinci dan pada lafazh itu terkandung sesuatu yang meniadakan kemungkinan penakwilan terhadap makna yang lainnya. 2. Mufassar oleh lafazh lainnya Yaitu lafazh yang bentuknya global, tidak terurai, lalu mendapat penjelasan dari nash yang lain secara pasti dan terurai, sehingga tidak mengandung kemungkinan ta’wil lagi untuk makna yang lainnya.
  • 7.  Mutlaq adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat tanpa suatu pembatas (qayid). Muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan suatu hakikat dengan suatu pembatas (qayid). Macam-macam mutlaq-muqayyad dan hukumnya masing-masing : 1. Lafazh yang mutlaq tetap pada ke mutlaqannya, selama tidak ada dalil yang meng-qayyid-kannya (membatasinya). Jadi terdapat dalil yang memberi batasan (qayyid) maka dalil itu dapat mengalihkan ke mutlaqannya dan menjelaskan pengertiannya. 2. Sebab dan hukumya sama, maka pengetian lafazh mutlaq dibawa ke kepada makna muqayyad. 3. Sebab dan hukum salah satu atau keduanya berbeda, maka lafazh yang mutlaq tetap diartikan sesuai dengan ke mutlaqannya.
  • 8. Mantuq mafhum Mantuq adalah lafal yang hukumnya memuat apa yang diucapkan (makna tersurat), sedang mafhum adalah lafal yang hukumnya terkandung dalam arti dibalik manthuq (makna tersirat) Pembagian Mantuq Nash, yaitu suatu perkataan yang jelas dan tidak mungkin di ta’wilkan lagi, seperti firman Allah SWT Zahir, yatiu suatu perkataan yang menunjukkan sesuatu makna, bukan yang dimaksud dan menghendakinya kepada penta’wilan.
  • 9. mafhum Pembagian Mafhum Mafhum Muwafaqah, yaitu apabila hukum yang dipahamkan sama dengan hukum yang ditunjukkan oleh bunyi lafadz. Mafhum muwafaqah ini dibagi menjadi dua bagian: Mafhum Mukhalafah, yaitu pengertian yang dipahami berbeda daripada ucapan, baik dalam istinbat (menetapkan) maupun Nafi (meniadakkan). Oleh sebab hal itu yang diucapkan.
  • 10. nasakh Pengertian Secara etimologi Nasakh adalah pembatalan atau penghapusan (Bakry: 2003. Hal, 256). Secara terminologi adalah: a. Menurut ulama’ Ushul Fiqih adalah penjelasan berakhirnya masa berlakunya suatu hukum melalui dalil syar’i yang datang kemudian. b. Pembatalan hukum syara’ ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum syara’ yang sama datang kemudian. (Bakry: 2003. Hal, 256). Macam-macam Nasakh a. Dihapus lafalnya (tulisannya) saja tetapi hukum masih tetap. b. Dihapus hukumnya saja tetapi lafalnya (tulisan) masih tetap. c. Menghapus hukum dan lafalnya, kedua-duanya bersama-sama.
  • 11. Ta’wil Pengertian Ta’wil Dari sudut bahasa ta’wil mengandung arti At- Tafsir (penjelasan, uraian) atau Al-Marja’, Al- Mashir (kembali, tempat kembali) atau Al- Jaza’ (balasan yang kembali kepadanya) (Syafe’i: 2007. hal, 170).
  • 12. aam Adalah lafazh yang maknanya luas meliputi satuan-satuan (juz’iyah) yang relevan dengan cakupan makna itu tanpa batas. Aneka Ragam bentuk ‘Am : 1. Lafazh man (siapa), ma (apa saja), aina dan mata (kapan); yang terdapat dalam suatu kalimat tanya (istifham) : 2. Lafazh ma (apa saja) dan man (siapa) yang mendapat jaminan balasan, seperti : 3. Lafazh kullun (tiap-tiap) dan jami’un (seluruh) 4. Lafazh ayyun (mana saja) yang terdapat pada kalimat yang bersifat syarat. 5. Lafazh yang bersifat nakirah yang terdapat dalam susunan kalimat yang bersifat negatif (nahi) atau dalam susunan larangan (nahi).
  • 13. takhis Khas merupakan kebalikan dari ‘Am, yaitu lafazh yang hanya mengandung satu satuan (juz’iyah) makna. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian kandungan yang dicakup oleh makna lafazh yang umum. 1. Mukhashshish Muttashil (pengkhusus yang bersambung) a. Istitsna (pengecualian), b. Sifat c. Syarat d. Batas2. Mukhashshish Munfashil , yaitu peng khusus yang berada di tempat lain
  • 14.  Muradhif 1. Pengertian Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna Musytarak 1. Pengertian Lafadz Musytarak adalah lafadz yang mempunyai dua makna atau lebih