• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Teori thorndike
 

Teori thorndike

on

  • 16,503 views

 

Statistics

Views

Total Views
16,503
Views on SlideShare
16,500
Embed Views
3

Actions

Likes
0
Downloads
381
Comments
3

2 Embeds 3

http://pinterest.com 2
https://si0.twimg.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via SlideShare as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

13 of 3 previous next Post a comment

  • Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Teori thorndike Teori thorndike Document Transcript

    • BAB I<br />PENDAHULUAN<br />Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu guru dan murid. Dari segi guru proses belajar tersebut dapat diamati secara tidak langsung. Jadi proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, namun dapat dipahami oleh guru. Dari segi murid belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli tentang hal tersebut.<br />Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan perkembangannya psikologi dalam pendidikan, maka berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar, justru dapat dikatakan bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar. Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat. Didalam masa perkembangan psikologi pendidikan dijaman mutakkhir ini muncullah secara beruntun beberapa aliran psikologi pendidikan, masing-masing yaitu :<br />Psikologi Behavioristik<br />Psikologi Kognitif, dan<br />Psikologi Humanistic.<br />Dari ketiga aliran psikologi tersebut, behavioristik adalah merupakan salah satu aliran yang dimiliki oleh Edward Lee Thorndike sehingga dalam makalah ini penulis akan mengangkat tentang :<br />Biografi Edward Lee Thorndike<br />Bagaimana teori-teori Edward L.T. ?, dan<br />Apa saja hukum-hukum yang digunakan Edward L.T. ?<br />Bagaimana aplikasi dari teori Edward L.T dalam pembelajaran<br />BAB II<br />PEMBAHASAN<br />A. BIOGRAFI Edward Lee Thorndike<br />Edward Lee Thorndike (lahir 31 Agustus 1874 Williamsburg, Massachusetts, Amerika Serikat – meninggal 9 Agustus 1949 Montrose, New York, Amerika Serikat) adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers College, Columbia University. Karyanya pada perilaku binatang dan belajar proses menuju teori connectionism dan membantu meletakkan dasar ilmiah modern psikologi pendidikan.. Dia juga bekerja di industri pemecahan masalah, seperti karyawan ujian dan pengujian. Dia adalah seorang anggota dewan dari Psychological Corporation, dan menjabat sebagai presiden American Psychological Association pada tahun 1912.<br />Masa kanak-kanak dan Pendidikan<br />Anak seorang pendeta Metodis di Lowell, Massachusetts. Pada 29 Agustus 1900, ia menikah Elizabeth Moulton dan mereka punya lima anak. Thorndike lulus dari Sekolah The Roxbury Latin (1891), di West Roxbury, Massachusetts, Wesleyan University (BS 1895), Harvard University (MA 1897), dan Columbia University (PhD. 1898). Setelah lulus, Diangkat instruktur di psikologi genetika di Teachers College, Columbia, pada tahun 1899, ia melayani di sana sampai 1940 (sebagai profesor dari 1904 dan sebagai direktur dari pembagian psikologi dari Institute of Educational Research dari 1922). Ia menjadi instruktur psikologi di Teachers College di Columbia University, di mana ia tinggal sampai sisa kariernya, mempelajari manusia belajar, pendidikan, dan mental pengujian.. Thorndike pada tahun 1937 menjadi Presiden kedua Psychometric Society, mengikuti jejak Leon Louis Thurstone yang telah mendirikan masyarakat dan jurnal Psychometrika tahun sebelumnya.<br />Karya-karyanya<br />Kontribusinya besar untuk pendidikan psikologi sebagian besar dalam metode yang dirancang untuk menguji dan mengukur kecerdasan anak-anak dan kemampuan mereka untuk belajar. He conducted studies in animal psychology and the psychology of learning, and compiled dictionaries for children (1935) and for young adults (1941). Dia melakukan penelitian pada hewan psikologi dan psikologi belajar, dan disusun kamus untuk anak-anak (1935) dan bagi orang dewasa muda (1941). The great number of his writings includes Educational Psychology (1903), Mental and Social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), A Teacher’s Word Book (1921), Your City (1939), and Human Nature and the Social Order (1940). Banyaknya tulisan-tulisannya meliputi Educational Psychology (1903), Mental dan Sosial Pengukuran (1904), Animal Intelligence (1911), A Teacher’s Word Book (1921), Your City (1939), dan Human Nature dan Orde Sosial (1940 ).<br />B. TEORI THORNDIKE<br />Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk bereaksi atau berbuat. Respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.<br />Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan, dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.<br />Ciri-ciri belajar dengan trial and error :<br />Ada motif pendorong aktivitas<br />ada berbagai respon terhadap situasi<br />ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah<br />ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu<br />Atas dasar percobaan di atas, Thorndike menemukan hukum-hukum belajar :<br />1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)<br />Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan perkataan lain, apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya.<br />2. Hukum latihan<br />Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang  telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi atara stimulus dan respon—dilatih (digunakan), maka  ikatan tersebut akan semakin kuat. Jadi, hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori).<br />3. Hukum akibat ( Efek )<br />Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Rumusan tingkat hukum akibat adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Jadi hokum akibat menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.<br />Hal ini berarti  (idealnya),  jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika, setelah ia kerjakan, ternyata jawabannya benar, maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya.<br />Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:<br />Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response).<br />Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.<br />
      • Hukum Sikap (Set/Attitude).
      Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.<br />
      • Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element).
      Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).<br />
      • Hukum Respon by Analogy.
      Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik, maka transfer akan makin mudah.<br />
      • Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting).
      Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara tertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama<br />Thorndike mengemukakan revisi hukum belajar antara lain:<br />Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan, saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.<br />Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.<br />Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.<br />Akibat suatu perbuatan dapat menular (spread of effect) baik pada bidang lain maupun pada individu lain.<br />C. APLIKASI TEORI<br />Aplikasi Dasar <br />Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.<br />Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.<br />Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.<br />Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.<br />Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:<br />Mementingkan pengaruh lingkungan<br />Mementingkan bagian-bagian<br />Mementingkan perananreaksi<br />Mengutamakan mekanisme terbentuknya belajar melalui prosedur stimulus respon<br />Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbenutuk sebelumnya<br />Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan<br />Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.<br />Lingkup Teori<br />Connectionism itu dimaksudkan untuk menjadi teori umum pembelajaran untuk hewan dan manusia. Thorndike sangat tertarik dalam penerapan teori pendidikan termasuk matematika (Thorndike, 1922), ejaan dan membaca (Thorndike, 1921), pengukuran kecerdasan (Thorndike et al., 1927) dan orang dewasa belajar (Thorndike di al., 1928).<br />Contoh :<br />Contoh klasik dari teori SR Thorndike itu adalah kucing belajar untuk melarikan diri dari sebuah “kotak teka-teki” dengan menekan tuas di dalam kotak. Setelah banyak trial and error perilaku, kucing belajar untuk mengasosiasikan menekan tuas (S) dengan membuka pintu (R). SR ini sambungan dibuat karena hasil dalam keadaan memuaskan (melarikan diri dari kotak). Hukum latihan menentukan bahwa sambungan ini didirikan karena pasangan SR terjadi berkali-kali (hukum efek) dan dihadiahi (hukum efek) serta membentuk satu urutan (hukum kesiapan).<br />Prinsip <br />Belajar memerlukan latihan dan penghargaan baik (hukum efek / latihan)<br />Serangkaian SR sambungan dapat dirantai bersama-sama jika mereka merupakan rangkaian aksi yang sama (hukum kesiapan).<br />Transfer pembelajaran terjadi karena situasi ditemui sebelumnya<br />Intelijen adalah fungsi dari jumlah koneksi dipelajari<br />BAB III<br />KESIMPULAN<br />Teori belajar yang dekemukakan Edward Lee Thorndike disebut dengan teori Connectionism atau dapat juga di sebut Trial and Error Learning.<br />Thorndike menemukan hukum-hukum belajar :<br />1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)<br />2. Hukum latihan<br />3. Hukum akibat ( Efek )<br />Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:<br />Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response).<br />Hukum Sikap (Set/Attitude).<br />Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element).<br />Hukum Respon by Analogy.<br />Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting).<br />Dari ketiga hukum-hukum yang ditemukan oleh Thorndike, yaitu : hukum kesiapan, hukum latihan, dan hukum akibat akhirnya Thorndike melakukan revisi terhadap hukum-hukum tersebut.<br />Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.<br />DAFTAR PUSTAKA<br />Boeree,George, 2005, Sejarah Psikologi, Jakatra: Prima Shopie<br />http://translate.gogleusercontent.com/translate_c<br />http://tip.psychology.org/thorn.html (Merriam & Caffarella, 1991)<br />http://www.unikajaya.co.cc/2009/11/teori-psikologi-belajar-dan-aplikasinya.html<br />Soemanto, Wasty,  1998, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta<br />Wirawan, Sartito, 2006, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh Tokoh Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang. <br />