Competitive review sriwijaya air

4,724 views

Published on

1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
  • hai. terima kasih insight yang diberikan oleh ppt mengenai Sriwjaya Air Anda. kebetulan saya sedang melakukan sebuah survei kecil-kecil mengenai customer Sriwijaya Air. sehingga ppt ini saya rasakan sekali manfaatnya. terima kasih sekali lagi Bung.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
4,724
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
37
Actions
Shares
0
Downloads
118
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Competitive review sriwijaya air

  1. 1. Competitive Review SRIWIJAYA AIR DwiAddinWibowo 0906613260
  2. 2. Background N am a S r i w i jay a Ai r d i d uni a penerbangan tanah air boleh jadi tidak terlalu mentereng jika dibandingkan penerbangan lain seperti Garuda Indonesia, Lion Air atau Airasia. Menurut data yang dikutip dari harian SWA versi online, Garuda masih menjadi brand yang berada di top of mind konsumen dengan porsi 24% disusul oleh pemain yang relatif baru Lion Air dengan porsi 23%. Namun kedua brand ini dikenal karena alasan yang berbeda. Garuda sebagai maskapai dengan pelayanan penuh, LionAir sebagai maskapai berbiaya rendah. Menurut data tahun 2009 Sriwijaya Air secara nasional masih berada di urutan keempat dengan share penumpang 12,5 persen. Sebagian besar penggunaan maskapai Sriwijaya masih didominasi oleh penerbangan- penerbangan di wilayah Indonesia barat. Berdasarkan pengamatan, sepertinya positioning Sriwijaya Air justru berada di antara kedua segmen yang dipegang Garuda dan Lion Air, yaitu menyediakan penerbangan yang mengandalkan layanan, namun dengan kisaran harga tiket yang relatif murah. Hal ini terlihat dari usahanya setahun belakangan ini yang memberikan layanan yang lebih dari low-cost- carrier lain (seperti menyediakan snack ) tapi tetap tidak menaikkan harga promosi.
  3. 3. Product Strength &Weakness Dibanding kompetitor lain, terutama Lion Air, ada beberapa keunggulan produk Sriwijaya Air, yaitu seat pitch lebih lebar dengan cushion yang nyaman, in-flight snack yang mengenyangkan dan disajikan dalam snack box yang berkesan mewah, ada promosi inflight shopping oleh para pramugari di udara, inflight magazine bulanan dengan content yang menarik, cabin yang selalu bersih, dan crew yang terlihat lebih professional. Harga tiket pada rute-rute tertentu juga masih sangat relatif terjangkau. Tapi memang, jika dilihat dari persepsi pengguna pesawat terhadap keamanan penerbangan, Sriwijaya masih kalah bersaing dengan Lion Air yang hampir semua rutenya dilayani pesawat Boeing seri terbaru. Hal ini dikarenakan di masyarakat Indonesia, baru atau tidaknya pesawat berpengaruh terhadap persepsi keamanan pesawat yang lalu sangat berpengaruh terhadap persepsi keselamatan penumpang. Jika dirunut, awal mula munculnya persepsi 'pesawat baru lebih selamat' terjadi pada rentetan kecelakaan pesawat tahun 2004-2006 yang kebetulan terjadi pada pesawat-pesawat yang dianggap sudah berumur, yang kemudian membuat berbagai perusahaan penerbangan mengganti pesawat mereka. Hal ini memunculkan anggapan bahwa kecelakaan disebabkan oleh umur pesawat. Padahal pada saat bersamaan beberapa penerbangan masih menggunakan jenis pesawat yang sama, tetapi tidak mengalami gangguan. Namun sebenarnya baru atau tidaknya sebuah pesawat tidak dapat dijadikan patokan keselamatan, karena keamanan seharusnya dipengaruhi oleh maintenance pesawat yang baik, kehandalan pilot menerbangkan pesawat dan mengambil keputusan, dan kemampuan crew untuk mengendalikan keadaan saat terjadinya keadaan darurat. Sepertinya Sriwijaya memenuhi semua persyaratan keamanan ini. Penumpang juga tidak mempunyai pengetahuan untuk mengetahui kapan sebenarnya pesawat yang ditumpanginya diproduksi, sehingga tentang baru atau tidaknya sebuah pesawat merupakan persepsi yang sangat relatif.
  4. 4. Product Strength &Weakness Jika dibandingkan dengan produk pelayanan yang ditawarkan Garuda, mungkin Sriwijaya masih berada jauh di bawah. Beberapa hal yang membedakan antara lain Garuda menyediakan layanan kelas bisnis pada hampir semua penerbangannya, menyediakan set makanan yang lebih lengkap, fasilitas hiburan on-demand dan lain-lain. Disisi lain harga dasar yang ditawarkan juga menjadi relatif lebih mahal daripada Sriwijaya untuk rute yang sama. Berikut adalah pernyataan salah seorang pelanggan " Dulu, saya tidak pernah tertarik untuk terbang menggunakan Sriwijaya karena maskapainya seperti kurang terlihat meyakinkan. Namun suatu waktu berhubung Lion dan penerbangan lain sudah penuh, mau tidak mau saya naik Sriwijaya. Ternyata penerbangannya cukup memuaskan. Tempat duduknya lebih nyaman, kabinnya bersih dan terawat, pramugarinya ramah dan lebih profesional, makanannya cukup mengenyangkan, ada bahan bacaan selama di pesawat, tidak ada biaya tambahan disana-sini, dan selama ini pendaratan selalu mulus. Harga tiketnya juga murah"
  5. 5. Product Opportunity &Threats Menurut berbagai pernyataan yang dimuat di media online, Sriwijaya diarahkan untuk menjadi salah satu maskapai yang business friendly bagi business traveller. Hal ini akan dicapai dengan menambah jangkauan terbangnya ke berbagai tujuan bisnis dengan membuka rute-rute internasional dan menyediakan kelas bisnis pada beberapa penerbangan domestik. Selain itu, Sriwijaya juga telah mengadakan kerjasama dengan berbagai instansi-instansi di berbagai daerah untuk mendukung program pemerintah daerah yang disisi lain juga akan membantu pertumbuhan pasar Sriwijaya dari perjalanan dinas aparat pemerintah. Untuk meningkatkan kredibilitas produknya dari segi keamanan, Sriwijaya berencana akan menambah beberapa armada pesawat baru. Sriwijaya telah menandatangani LOI (Letter of Intent) untuk membeli 10 Boeing 737-800NG untuk menggantikan armada Boeing yang lama dan 10 pesawat jet Embraer yang berkapasitas kecil untuk melayani bandara kecil. Pemesanan pesawat jet Embraer ini secara spesifik dilakukan untuk menyaingi pesawat ATR72 baling-baling yang digunakan Wings Air, anak perusahaan Lion Air, yang melayani rute-rute pendek sebagai penghubung dengan bandara utama disekitarnya. Dari segi kemudahan booking, Sriwijaya juga telah memperbaharui fasilitas pemesanan dan pembayaran tiket online dengan bekerjasama dengan berbagai bank nasional. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang baru, tapi merupakan langkah yang tepat untuk men-tap pasar pengguna penerbangan yang lebih menginginkan kebebasan untuk melakukan pemesanan dan pembayaran tiket penerbangannya sendiri. Fasilitas ini juga yang beberapa tahun terakhir mendongkrak penjualan Lion Air di pasar penerbangan berbiaya rendah di Indonesia, yang berkerjasama dengan hampir semua bank- bank besar.
  6. 6. Product Opportunity &Threats Dapat disimpulkan, jika Sriwijaya mampu mempertahankan kualitas pelayanan dalam pesawat seperti saat ini, maka ketika berbagai armada baru mulai beroperasi, diperkirakan keunggulan produk Sriwijaya secara keseluruhan akan berada di atas pesaing lainnya. Hal ini juga akan membuat harga yang ditawarkan menjadi sangat kompetitif. Oleh karenanya potensi Sriwijaya untuk memimpin pasar penerbangan berbiaya rendah di masa mendatang sangat besar. Khusus bagi kalangan pebisnis, Sriwijaya akan menjadi pilihan yang efisien bagi perusahaan karena akan menghemat cost perjalanan secara signifikan.
  7. 7. THE BRAND Brand Strengths andWeaknesses Sejauh ini, menurut pengamatan, branding yang dilakukan oleh Sriwijaya masih dalam bentuk brand experience, dalam arti, asosiasi Sriwijaya Air sebagai maskapai yang mengutamakan pelayanan hanya akan diketahui jika pelanggan mengalami pelayanannya sendiri, baik itu berhubungan dengan ticketing, call center, ground service atau in-flight service. Kesan pelayanan yang prima ini tidak terlalu terlihat secara visual dari logo atau livery pesawat. Elemen-elemen visual, seperti warna dan bentuk yang digunakan lebih mensiratkan filosofi bisnis dan operasional perusahaan (penjabaran lebih lengkap tentang arti logo dan warna Sriwijaya dapat dilihat di http://www.sriwijayaair.co.id/id/sejarah ) ketimbang untuk membentuk persepsi konsumen. Walaupun begitu, penggunaan warna biru tua dan merah dan emas secara konsisten pada servicing points baik di darat maupun udara (seragam ground staff dan air crew, kotak snack dan lain lain), secara tidak langsung memperkuat asosiasi warna-warna tersebut terhadap brand Sriwijaya Air. Hanya saja, branding tersebut tidak mengundang persepsi pelayanan tertentu bagi calon konsumen yang belum pernah menggunakan layanannya. Nama Sriwijaya sendiri mengandung asosiasi yang beragam. Saat ini nama Sriwijaya juga digunakan pada berbagai instansi dan perusahaan seperti Pupuk Sriwijaya, Sriwijaya Football Club dan beberapa produk yang umumnya berasal dari sumatera bagian selatan. Sriwijaya Air didirikan oleh konsorsium pengusaha asal Bangka Belitung (hasil pemekaran provinsi Sumatera Selatan). Namun, asosiasi kedaerahan pada Sriwijaya Air tidak terlalu terasa karena induk perusahaannya berada di Jakarta dan wilayah layanannya tersebar di berbagai daerah serta tidak menggunakan atribut-atribut yang berbau kedaerahan dalam pelayanannya.
  8. 8. THE BRAND Brand Development Opportunity Kata ‘Sriwijaya’ identik dengan kerajaan besar di sumatera yang kekuasaannya mencakup sebagian wilayah Asia Tenggara. Sriwijaya sendiri sudah dianggap menjadi bagian dari sejarah Bangsa Indonesia dan bangsa lain yang pernah dikuasainya, dan bukan milik suku tertentu sehingga nama Sriwijaya mempunyai potensi untuk dibawa ke dunia internasional. Tagline 'your flying partner' sudah sejalan dengan pengembangan bisnis Sriwijaya Air ke depan yang memberikan kesan bahwa Sriwijaya Air merupakan rekan penerbangan yang dapat dipercaya seperti halnya rekan bisnis. Tagline ini sangat berpotensi untuk dieksplorasi dan diasosiasikan dengan berbagai kegiatan bisnis, sehingga akan memperkuat asosiasi Sriwijaya Air sebagai penerbangan yang berorientasi pada kalangan pelaku bisnis. Kesan kerajaan pada nama Sriwijaya berpotensi untuk dikembangkan sebagai brand pelayanan Sriwijaya Air ke depan. Kata ‘Sriwijaya’ mempunyai makna dilosofi yang dalam yaitu, Sri yang berarti bersinar dan Wijaya yang berarti kemenangan, dalam bahasa sansekerta kata Sri mempunyai gender feminin dan Wijaya berhubungan dengan kejayaan seorang raja, sehingga jika kedua kata ini digabung akan membentuk kesan kekuatan dan kelembutan yang sangat sesuai diterapkan pada pelayanan penerbangan yang menuntut kesigapan dalam bertindak dan keramahan dalam melayani.
  9. 9. THE BRAND Brand DevelopmentThreats Kemungkinan ancaman pengembangan brand Sriwijaya ke depan justru terletak pada segmentasi yang coba disasar , yaitu business traveller. Disatu sisi business traveller akan tertarik pada kesan pelayanan lebih, disisi lain pelayanan lebih justru membentuk persepsi mahal di mata konsumen lain, dan juga pengembangan brand ke arah pelayanan akan menimbulkan ekspektasi pelayanan tertentu dari kesan yang ditampilkan. Sehingga jika pelayanan nyatanya tidak sebagus kesan yang ditampilkan, akan terjadi kekecewaan dan berdampak negatif pada brand. Sementara tipikal konsumen yang sadar harga mungkin tidak akan tertarik untuk mencoba. Kemungkinan ancaman lain adalah tampilan tulisan Sriwijaya Air yang menggunakan huruf serif bercetak miring dengan garis bawah merah biru seperti yang digunakan saat ini. Logo seperti ini memberikan kesan 'ketinggalan zaman' karena beberapa penerbangan di Indonesia sudah mengubah typeface logo mereka dengan huruf sans serif yang simpel dan lebih berkesan modern. Sehingga mungkin akan sulit untuk tetap mempertahankan jenis tulisan seperti ini dan bersaing dengan brand penerbangan lokal lainnya apalagi jika yang disasar adalah pelaku bisnis.
  10. 10. therefore… RECOMMENDATION Untuk menunjang ekspansi penerbangan bertarif murah pada sektor business traveller di masa mendatang, Sriwijaya Air perlu mengubah tampilan brandnya menjadi lebih moderen dan simpel agar mencerminkan keunggulan layanannya kepada segmen tersebut tanpa menimbulkan ekspektasi pelayanan yang berlebihan dan tidak membentuk persepsi mahal, dan juga menerapkan filosofi ‘Sri-Wijaya’ sebagai signature pelayanannya secara keseluruhan.

×