Your SlideShare is downloading. ×
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Sifat Kologatif Larutan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Sifat Kologatif Larutan

1,506

Published on

Laporan Lengkap

Laporan Lengkap

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,506
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
34
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bila ke dalam air mendidih dimasukkan sejumlah garam dapur, maka air akan segera berhenti mendidih dan beberapa saat kemudian akan mulai mendidih kembali. Dari contoh tersebut, dapat kita ketahui bahwa terdapat perubahan fisis dari suatu zat bila ke dalamnya dilarutkan sejumlah zat lain. Tentu jumlah zat terlarut mempengaruhi sifat fisis larutan. Sifat fisis larutan yang berkaitan dengan jumlah zat terlarut suatu poelarut disebut sifat koligatif larutan. Di alam hampir sudah tidak ditemukan zat air murni. Hampir semua cairan yang ada berbentuk campuran atau larutan. Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat. Adanya interaksi antara zat terlarut dan pelarut dapat berakibat terjadinya perubahan fisis dari komponen-komponen penyusun larutan tersebut. Hal ini juga tentu berpengaruh terhadap sifat koligatif larutan. Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang hanya dipengaruhi oleh jumlah partikel zat pelarut di dalam larutan dan tidak dipengaruhi oleh sifat dari zat terlarut. Jumlah partikel zat terlarut dalam larutan dinyatakan dengan konsentrasi larutan. Konsentrasi menyatakan komposisi secara kuintatif perbandingan zat terlarut dengan pelarut dan larutan. Ada beberapa cara untuk menyatakan secara kuintatif komposisi tersebut, antara lain adalah molaritas, molalitas, dan fraksi mol. Ketiganya akan menjadi dasar untuk mempelajari sifat koligatif larutan. Dan sifat koligatif larutan terdiri dari dua jenis yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif non elektrolit. Sifat koligatif larutan penting untuk dipahami karena sangat berhubungan dengan dunia farmasi dalam proses pembuatan cairan infus, di mana
  • 2. tekanan osmosis berbanding lurus dengan konsentrasi infus karena mempertimbangkan tekanan osmosis. Konsep ini penting untuk penggantian cairan tubuh yang tidak bisa dimasukkan melalui pembuluh darah cairan infus. Cairan infus harus isotonis dengan cairan darah karena jika tidak, maka akan terjadi kerusakan pada sel darah. Oleh karena itu konsentrasinya perlu disesuaikan. (Sudarmo, 2006) B. Maksud dan Tujuan Percobaan 1. Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami sifat-sifat koligatif larutan. 2. Tujuan Percobaan a. Menunjukkan penurunan titik beku dan memperoleh konstanta penurunan titk beku. b. Menunjukkan pengaruh tonisitas pada sel. C. Prinsip Percobaan Penentuan penurunan titik beku dan konstanta titik beku asam stearat dengan menggunakan asam benzoat sebagai zat terlarut yang diamati titik lelehnya ditandai dengan terbentuknya gelembung pada pipa kapilar. Penentuan pengaruh tonisitas pada sel daun bawang, wortel, seledri, dan sel darah dengan menggunakan pelarut aquades. Nacl 0,89%, Nacl 3%, glukosa 1 M dan glukosa 0,5 M yang diamati di bawah mikroskop dan dengan mata telanjang.
  • 3. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Umum Sifat koligatif larutan adalah sifat fisis larutan yang hanya bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut bukan pada jenis zat atau komponen yang ada dalam larutan. (Tim Dosen Kimia, 2000:28 ) Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan masing-masing penyusunnya tidak dapat dibedakan secara fisik. Sebab-sebab kelarutan sering kali dikatakan bahwa kelarutan itu disebabkan oleh gaya-gaya molekular. Dilihat dari kenyataan bahwa dua gas bercampur dalam semua perbandingan dan memiliki kelarutan yang saling tidak terbatas, pencampuran bukan disebabkan oleh aksi timbal-balik, tetapi oleh gerak molekul dan kenyataan bahwa keadaan bercampur sangat mungkin dari keadaan tidak bercampur. Kelarutan timbal balik gas karenanya adalah aspek dari awal statistik hukum kedua. Pada larutan elektrolit mengalami peruraian (disosiasi), misalnya larutan NaCl mengalami ionisasi menjadi ion Na dan Cl. Dalam pembahasan sifatsifat koligatif larutan elektrolit Van Hoff memodifikasi persamaan sifat koligatif larutan non-elektrolit dengan menambahkan suatu ketetapan yang sering disebut dengan faktor Van Hoff (i) di mana adalah perbandingan antara harga sifat-sifat koligatif yang diukur dan harga sifat koligatif yang terhitung. Untuk larutan non-elektrolit, nilai i = 1 sedangkan untuk larutan elektrolit nilai i ≠ 1. i= (Sumardjo, 2006:43)
  • 4. Sifat koligatif larutan adalah sifat yang nilainya bervariasi, sebanding dengan jumlah partikel-pertikel solut yang ada dalam larutan dengan volume tertentu. Terdapat empat sifat fisika yang penting dan berubah secara perbandingan lurus dengan banyaknya partikel zat terlarut yaitu : 1. Penurunan Tekanan Uap Jika suatu solut (yang tidak dapat menguap) dilarutkan dalam solven (yang dapat menguap) tekanan uap larutan akan lebih rendah dibandingkan dengan tekanan uap pelarut murni. Hal ini disebabkan karena pada permukaan larutan terdapat interaksi antara zat terlarut dan pelarut sehingga laju penguapan tersebut berkurang akibatnya tekanan uap larutan menjadi turun. Selisih antara tekanan uap pelarut murni dengan tekanan uap larutan disebut penurunan tekanan uap (ΔP). : Diagram untuk pelarut : Diagram untuk larutan Pada suhu tertentu, tekanan uap pelarut murni Po atmosfer dan tekanan uap larutan P atmosfer. Penurunan tekanan uap dirumuskan sebagai : ΔP = Po – P Tekanan uap larutan ideal berlaku hukum Raoult : P = X1 Po
  • 5. karena X1 = (1- X2), maka : P = (1- X2) Po = Po – X2 Po ΔP = X2 Po atau X2 = Di mana X1 dan X2 masing-masing adalah fraksi mol pelarut dan zat terlarut. Dari persamaan terlihat, harga ΔP berbanding lurus dengan fraksi mol zat terlarut. Makin banyak partikel zat terlarut, berarti makin besar pula penurunan tekanan uapnya. ΔP dapat digunakan untuk menentukan berat molekul zat terlarut yang sukar menguap dengan mengukur tekanan uap larutan dan menghitung fraksi molnya. (Ahmad, 1996:76) 2. Kenaikan Titik Didih Larutan Titik didih suatu larutan dapat lebih tinggi maupun lebih rendah daripada titik didih pelarut, bergantung pada kemudahan zat terlarut itu menguap, dibandingkan dengan pelarutnya. Jika zat terlarut itu tak atsiri (tidak menguap) misalnya gula, larutan air itu mendidih pada suatu temperatur yang lebih tinggi daripada titik didih air. Dalam hal larutan etil alkohol-air, etil alkohol (titik didih 78,3 ) mempunyai kecendrungan yang lebih besar untuk menjadi uap air daripada air. Tekanan uap larutan (jumlah tekanan uap etil alkohol dan tekanan uap air) sama dengan tekanan atmosfer pada temperatur di bawah 100 . Artinya, titik didih larutan terletak di bawah titik didih air murni. Hukum sifat koligatif tidak berlaku untuk larutan dengan zat-zat terlarut atsiri, seperti larutan etil alkohol-air. (Keenan, dkk, 1984:436)
  • 6. A = Titik didih air pada 100 B = Titik pada 100 dan tekanan uap 1 atm. dan tekanan uap kurang dari 1 atm, di mana larutan belum mendidih. C = Titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih besar dari 100 di mana larutan mendidih. Jika titik didih pelarut (Tb ) dan titik didih larutan (Tb), maka kenaikan titik didih dapat dirumuskan ; Tb = Tb - Tb Pada penentuan Tb, satuan konsentrasi yang digunakan adalah molalitas (m) karena tidak dipengaruhi oleh suhu. Satuan molaritas tidak sesuai, karena suhu mempengaruhi volume larutan. Besarnya kenaikan titik didih dirumuskan Raoult, sebagai ; Tb = Kb m atau Tb = Kb x x di mana : W = massa zat terlarut (g) M = berat molekul zat terlarut (g/mol) P = massa zat pelarut (g)
  • 7. Kb = tetapan kenaikan titik didih ( /mol) (Chang, 2003:12) 3. Penurunan Titik Beku Akibat lain dari turunnya tekanan uap larutan adalah turunnya titik beku. Suhu pada saat larutan mulai membeku pada tekanan luar 1 atm disebut titik beku. Titik beku normal air adalah 0 . Jika air murni didinginkan pada 0 , maka air tersebut akan membeku dan tekanan uap permukaannya sebesar 1 atm. Tetapi bila dalam ke dalamnya dilarutkan zat terlarut yang sukar menguap seperti gula, maka pada suhu 0 ternyata larutan belum membeku. Tekanan uap permukaannya harus mencapai 1 atm. Hal ini dapat tercapai bila suhu larutan diturunkan. Setelah tekanan uap mencapai 1 atm, larutan akan membeku. Besarnya titik beku larutan ini lebih rendah dari 0 atau lebih rendah dari titik beku pelarutnya. Turunya titik beku larutan dari titik beku pelarutnya disebut penurunan titik beku ( Tf). Jika titik beku pelarut Tf dan titik beku larutan Tf maka penurunan titik beku dapat dirumuskan : Tf = Tf - Tf A = Titik beku air pada 0 dan tekanan uap 1 atm.
  • 8. B = Titik pada 0 dan tekanan uap kurang dari 1 atm, di mana larutan belum membeku. C = Titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih kecil dari 0 di mana larutan membeku. Besarnya Tf larutan juga dapat bergantung pada jumlah partikel zat terlarut. Menurut Raoult, untuk larutan yang sangat encer berlaku : Tf = Kf m atau Tf = Kf x x di mana ; W = massa zat terlarut (g) M = berat molekul zat terlarut (g/mol) P = massa zat pelarut (g) Kf = tetapan kenaikan titik beku ( /mol) (Ketut, 2004:79-84) 4. Tekanan Osmotik (Osmosis) Osmosis adalah proses berpindahnya molekul-molekul pelarut dari encer ke larutan yang lebih pekat melalui selaput membran/penyekat semipermeable. Peristiwa osmosis kelihatanya berlawanan dengan pengalaman di mana penyebaran partikel (difusi) umumnya terjadi dari larutan yang konsentrasinya tinggi ke rendah. Pada osmosis larutan dipisahkan oleh selaput semipermeable sehingga difusi terjadi dari arah sebaliknya. Difusi ini hanya terjadi pada molekul-molekul pelarut atau zat-zat yang berukuran kecil, sedangkan molekul berukuran besar tertahan oleh membran. Tekanan osmotik tergolong sifat koligatif, karena hanya bergantung pada konsentrasi zat terlarut dan bukan pada jenisnya. Berrdasarkan percobaan Van’t Hoff (1885) mendapatkan bahwa untuk larutan encer
  • 9. rumusan tekanan osmotik mempunyai kesamaan dengan tekanan suatu gas. Pada suhu (T) tetap, tekanan osmotik berbanding lurus dengan konsentrasi. Secara matematis ditulis : (T tetap) Pada konsentrasi (C) tetap, tekanan osmotik berbanding lurus dengan suhu mutlaknya. (C tetap) Gabungan dari dua persamaan di atas, diperoleh : atau (tetap) karena konsentrasi berbanding terbalik dengan volume, maka untuk n mol zat terlarut berlaku : (tetap) di mana K adalah suatu tetapan yang sama besarnya dengan tetapan gas R. Persamaan menjadi : πv=nRT Rumus ini mirip dengan persmaan gas ideal pv = nRT. Persamaan selanjutnya juga dapat ditulis : π= RT untuk n/v = M maka : π=MRT di mana : π = Tekanan osmotik (atm) M = Molaritas larutan (mol/L) R = Tetapan gas (0,0821 L atm mol-1K-1) T = Suhu mutlak (K) (Syukri,2005:86-89)
  • 10. B. Uraian Bahan 1. Aquadest (Dirjen POM, 1979 : 96) Nama Resmi : AQUA DESTILLATA Nama Lain : air Suling Rumus Molekul : H2O Berat Molekul : 18,02 Rumus Bangun : H-O-H Pemerian : cairan jenuh, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa Kelarutan Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat Kegunaan 2. : larut dalam semua zat : sampel tonisitas Glukosa (Dirjen POM, 1979 : 268) Nama resmi Nama Lain : glukosa Rumus Molekul : C6H12O6 Berat Molekul : 198,17 Pemerian : hablur, tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis Kelarutan : mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat Kegunaan 3. : GLUCOSUM : sampel tonisitas NaCl (Dirjen POM,1979 : 403) Nama Resmi : NATRII CHLORIDUM Nama Lain : natrium Klorida
  • 11. Rumus Molekul : NaCl Berat Molekul : 58,44 Rumus Bangun : Na-Cl Pemerian : hablur heksahidrat atau serbuk hablur putih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa asin Kelarutan : larut dalam 2,8 bagian air sukar larut dalam etanol Penyimpanan Kegunaan 4. : dalam wadah tertutup rapat : sampel tonisitas Asam Benzoat (Dirjen POM,1979 : 49) Nama Resmi : ACIDUM BENZOICUM Nama Lain : asam benzoat Rumus Molekul : C7H6O2 Berat Molekul : 132,12 Pemerian : hablur heksahidrat, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau Kelarutan : larut dalam 350 bagian air, larut dalam 3 bagian etanol (95%) P, dalam 8 bagian kloroform P, dan dalam 3 bagian eter P Penyimpanan Kegunaan 5. : dalam wadah tertutup baik : sampel penurunan titik beku Asam Stearat (Dirjen POM, 1979 : 157-158) Nama Resmi : ACIDUM STEARICUM Nama Lain : asam stearat Rumus Molekul : C18H36O2
  • 12. Berat Molekul : 284,36 Pemerian : zat padat keras mengkilap, menunjukkan susunan hablur putih atau kuning pucat mirip lemak lilin Kelarutan : praktis tidak larut dalam air,larut dalam 20 bagian etanol(95%)P ,dalam 2 bagian kloroform P, dan dalam 3 bagian eter P Penyimpanan : dalam wadah tertutup Kegunaan : sampel penurunan titik beku C. Prosedur Kerja (Tim Asisten Fisika Dasar, 2011 : 12-13) 1. Pengaruh Tonisitas Larutan terhadap Sel a. Amati tabung reaksi yang bersih, berikan label a, b, c, d, dan e; b. Masukkan 2 ml larutan berikut ini sesuai dengan label masingmasing : 1) Aquadest 2) NaCL 0,89% 3) NaCL 3% 4) Glukosa 0,1 M 5) Glukosa 0,5 M c. Untuk setiap tabung reaksi tambahkan irisan wortel tipis sekitar 0,5 mm yang segar daun bawang dan seledri; d. Masukkan tabung reaksi di rak tabung dan tunggu sampai anda menyelesaikan semua percobaan yang lain; e. Perhatikan tampilan dengan mata telanjang dan juga di bawah mikroskop; f. Ulangi langkah no.1dan langkah no.2 menggunakan set baru lima tabung reaksi yang bersih; g. Dengan menggunakan pipet tambahkan 5 tetes darah ayam segar secara keseluruhan untuk setiap tabung uji miringkan bagian bawah tabung reaksi untuk menjamin pencampuran yang tepat;
  • 13. h. Amati warna dan penampilan dari larutan setelah 20 menit baik oleh mata telanjang dan juga di bawah mikroskop. 2. Pengukuran Penurunan Titik Beku a. Rakit alat pengukuran titik beku (titik lebur) sederhana beker gelas akan berfungsi sebagai water bath.sebuah plat panas dari pembakar Bunsen akan berfungsi sebagai sumber panas sebuah tabung reaksi akan berfungsi sebagai sumber panas.Sebuah tabung reaksi akan berfungsi sebagai water bath sekunder di mana termometer dicelupkan; b. Campuran asam benzoat-asam stearat disiapkan sebagai berikut (atau sebagai alternatef instruktur dapat mempersiapkan terlebih dahulu) timbang 8 g asam stearat dan masukkan dalam sebuah gelas kimia 25 ml. Timbang 0,6 g asam benzoat. Panaskan asam stearat perlahanlahan di atas hot plat sampai meleleh (50 oC), tambahkan asam benzoat ke dalam gelas aduk secara menyeluruh hingga diperoleh larutan homogen. Dinginkan gelas kimia dalam air dingin untuk mendapatkan sampel yang padat. Gerus sampai menjadi serbuk halus dalam mortal; c. Setiap praktikan menyiapkan 4 tabung leleh kapiler untuk sampel (a) asam stearat (b) 3 tabung asam benzoat 17 %; d. Susun tabung leleh sebagai berikut : 1) Ambil sejumlah kecil sampel dalam tabung leleh kapiler dengan menekankan ujung tabung yang terbuka secara vertikal ke dalam sampel. 2) Balikkan tabung kapiler usap kapiler dengan satu lembaran yang memungkinkan padatan masuk di bagian bawah kapiler anda hanya memerlukan satu sampai 5 mm sampai dalam tabung kapiler. e. Ikat tabung kapiler dengan termometer menggunakan karet gelang kecil dekat dengan ujung atas tabung pastikan untuk menyesuaikan ujung kapiler dengan ujung termometer
  • 14. f. Ukur titik leleh setiap sampel sebagai berikut : 1) Jepit termometer dengan tabung kapiler yang melekat dan rendam dalam thermostat sekunder diisi dengan air. 2) Turunkan thermostat sekunder ke dalam gelas berisi air dan memulai proses pemanasan perhatikan titik leleh setiap sampel dan catat pelelehan terjadi ketika anda mengamati pentusutan pertama dalam sampel atau munculnya gelembung kecil (jangan menunggu sampai seluruh sampel di kapiler menjadi bening). 3) Setelah mengambil titik lebur sampel pertama biarkan thermostat mendingin hingga suhu ruang dengan menambahkan air dingin. Anda harus memulai proses pemanasan untuk mengamati titik leleh sampel kedua hanya setelah air di thermostat primer dan sekunder setelah mencapai suhu kamar.
  • 15. BAB III METODE KERJA A. Alat dan Bahan 1. Alat Alat yang digunakan adalah cawan petri, deg gelas, gelas kimia, kaca preparat, karet gelang, mikroskop, pipa kapiler, penjepit (klem), rak tabung reaksi, statif, silet, tabung reaksi, dan termometer. 2. Bahan Bahan yang digunakan adalah asam benzoat, asam stearat, darah ayam, daun bawang, larutan glukosa 0,1 M dan 0,5 M, larutan NaCl 0,89 % dan 0,3 %, seledri, dan wortel. B. Cara Kerja 1. Pengaruh Tonisitas terhadap Sel a. Disiapkan alat dan bahan; b. Diiris sampel setipis mungkin; c. Disiakan 20 tabung reaksi dimasukkan larutan glukosa 0,1 M dan 0,5 M, larutan NaCl 0,89 % dan 0,3 % ke tabung reaksi masing-masing 2 ml; d. Diamati setiap sampel di mikroskop dan difoto; e. Dimasukkan sampel ke setiap larutan yang berbeda, rendam selama 20 menit; f. Diamati kembali di mikroskop dan kembali difoto; g. Dilakukan perlakuan yang sama terhadap setiap sampel untuk menguji larutan. 2. Penurunan Titik Beku ( ) a. Disiapkan alat dan bahan; b. Dilebur 3 gram asam stearat + asam benzoat 0,6 gram sampai menjadi campuran homogen;
  • 16. c. Ditunggu hingga kering atau berbentuk padatan; d. Digerus padatan yang dihasilkan dengan mortal dan alu; e. Ditotolkan pipa kapiller pada stearat dan 3 pipa kapiler pada campuran asam stearat dan benzoat; f. Diikat termometer ke lengan pipa kapiler menggunakan karet gelang; g. Dimasukkan pipa kapiler ke gelas kimia berisi air; h. Dipanaskan gelas gelembung; i. Dicatat hasilnya. kimia kemudian diamati hingga muncul
  • 17. BAB IV HASIL PENGAMATAN A. Tabel Pengamatan 1. Pengaruh Tonisitas Larutan terhadap Sel Sampel Larutan Pengamatan Sel Batang Ket : Hipotonis Ket: Normal Ket : Hipotonis Ket: Normal 3) Ket : Hipertonis Ket: Normal 2) Setelah direndam Ket: Normal 1) Sebelum direndam Ket : Hipertonis Aquadest NaCl 0,89 % NaCl 3 % Seledri 4) 5) Glukosa 0,1M Glukosa 0,5M Ket: Normal Ket : Hipotonis
  • 18. 1) Aquadest Ket: Normal Ket: Normal Daun Ket : Hipotonis Ket: Normal 3) Ket : Hipertonis Ket: Normal 2) Ket : Hipertonis Ket : Hipertonis Ket: Normal Ket : Hipotonis NaCl 0,89 % NaCl 3 % Bawang 4) 5) Glukosa 0,1M Glukosa 0,5M
  • 19. 1) Aquadest Ket: Normal Ket: Normal Wortel 4) 5) Ket : Hipotonis Ket: Normal 3) Ket : Hipotonis Ket: Normal 2) Ket : Hipertonis Ket : Hipertonis Ket: Normal Ket : Hipotonis NaCl 0,89 % NaCl 3 % Glukosa 0,1M Glukosa 0,5M
  • 20. 1) Aquadest Ket : Normal Ket : Hipertonis 2) NaCl 0,89 % Ket : Normal Ket : Isotonis 3) NaCl 3 % Darah Ket : Normal Ket : Normal 4) 5) Ket : Hipotonis Ket : Hipertonis Ket : Normal Ket : Hipotonis Glukosa 0,1M Glukosa 0,5M
  • 21. 2. Pengukuran Penurunan Titik Beku Sampel Suhu (°C) 1. Asam Stearat 60 2. Asam Stearat + Asam Benzoat 56 B. Perhitungan 1. Pembuatan NaCl 0,3% untuk 100 ml air 2. Pembuatan NaCl 0,89% untuk 100 ml air 3. Pembuatan Glukosa 0,1 M untuk 100 ml air 4. Pembuatan Glukosa 0,5 M untuk 100 ml air 5.
  • 22. BAB V PEMBAHASAN Sifat koligatif larutan merupakan sifat-sifat larutan yang hanya ditentukan oleh jumlah partikel zat terlarut dan tidak tergantung pada jenis zat terlarut. Sifat koligatif larutan ini dibedakan menjadi dua yaitu, sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif nonelektrolit yang dibedakan pada kemampuan suatu larutan untuk mengion. (Tim Dosen Kimia UNHAS, 2008:81) Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme yaitu, difusi sederhana (simple diffusion), difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein trans membran (simple diffusion by chanel fromed), dan difusi difasilitasi (fasiliated diffusion). Osmosis adalah proses pemindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutnya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel. Larutan yang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipertonis. Larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel disebut larutan isotonis. Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih rendah daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis. (Tim Dosen Kimia UNHAS, 2009:70-71) Apabila suatu sampel dicampur dengan suatu larutan dan terjadi perubahan sel, maka akan ada dua hasilnya, hipertonis atau hipotonis. Jika ruang sel pada sampel itu semakin besar, maka larutan itu bersifat. Sedangkan jika ruang sel pada sampel menciut, maka larutan itu bersifat hipertonis. Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas kimia, gelas ukur, kaki tiga, karet gelang, mikroskop, pembakar spiritus, pipa kapiler, termometer, dan tabung reaksi. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades,
  • 23. asam benzoat, asam stearat, darah ayam, daun bawang, glukosa, NaCl, kloral hidrat, seledri, dan wortel. Cara kerja percobaan ini adalah, untuk pengaruh tonisitas mula-mula sampel (wortel, daun bawang, seledri, dan darah ayam) diiris setipis mungkin lalu diamati ruang sel masing-masing sampel pada mikroskop, setelah itu barulah dimasukkan setiap sampel masing-masing ke dalam lima tabung reaksi dengan pelarut (aquades, NaCl 0,89%, Nacl 3%, glukosa 0,1 M, dan glukosa 0,5 M). Kemudian didiamkan selama ± 20 menit, setelah itu diamati kembali ruang sel sampel pada mikroskop. Dari kedua pengamatan melalui mikroskop, dibandingkan keduanya lalu dicatat hasilnya. Untuk percobaan penurunan titik beku, pertama-tama dipanaskan asam stearat 3 gram lalu dicampur dengan 0,6 gram asam benzoat dan diaduk. Setelah itu, didinginkan dalam air dingin agar menjadi padat lalu digerus menjadi serbuk-serbuk halus. Pada serbuk tadi, ditotolkan satu pipa kapiler pada asam stearat dan tiga pipa kapiler untuk asam benzoat, lalu diikatkan pada termometer dengan karet gelang. Diturunkan termometer pada gelas berisi air lalu dipanaskan, diperhatikan titik leburnya dan dicatat hasilnya. Dalam percobaan ini didapatkan hasil antara lain, terjadi perubahan bentuk sel, ada yang mengembang dan ada yang menciut dikarenakan pengaruh dari larutan. Juga didapatkan titik beku pada percobaan kedua, yaitu 60o-56o C. penurunan titik beku didapatkan 0,2304oC/mol. Dalam percobaan ini, terdapat kesalahan atau perbedaan misalnya pada saat pengambilan gambar bentuk sel melalui mikroskop terdapat beberapa perbedaan bentuk mungkin dikarenakan penggunaan mikroskop yang kurang benar. Sifat koligatif Larutan ketat hubungannya dengan dunia farmasi Contohnya pada infus,Tekanan osmosis berbanding lurus dengan konsentrasi infus karena mempertimbangkan tekanan osmosis. Konsep ini penting dalam penggunaan cairan tubuh atau bahan makanan yang tidak bisa dimasukkan melalui pembuluh darah. Cairan infus harus isotonis dengan cairan darah, Jika tidak maka akan terjadi pemisahan pada sel darah.
  • 24. BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan 1. Tonisitas Sel a. Aquadest Hasil dari pencampuran sampel dengan aquadest, semuanya hipertonis. b. NaCl 0,89% Hasil dari pencampuran sampel dengan NaCl 0,89%, semuanya hipotonis keculai darah ayam. c. NaCl 3% Hasil dari pencampuran sampel dengan NaCl 3%, semuanya hipotonis. d. Glukosa 0,1 M Hasil dari pencampuran sampel dengan glukosa 0,1 M, semuanya hipertonis. e. Glukosa 0,5 M Hasil dari pencampuran sampel dengan glukosa 0,5 M, semuanya hipotonis. 2. Penurunan Titik Beku Penurunan titik beku yang didapatkan dalam percobaan yaitu sebesar 4 dan Kf yang didapatkan adalah sebesar 0,2304 l. B. Saran 1. Laboratorium Kebersihan dan kelengkapan alat-alatnya agar diperhatikan. 2. Asisten Terima kasih untuk bimbingan dan dampingannya semoga tidak bosanbosan memberikan penjelasan dan pemahaman kepada praktikan.
  • 25. DAFTAR PUSTAKA Dirjen Pom. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI. 1979 Respati. Ilmu Kimia. Jakarta : Renika Cipta. 2009 Oxtoby. Kimia Universitas. Jakarta : Erlangga. 2001 Petrucci, H. Ralph Suminar. Kimia Dasar 1. Jakarta ; Erlangga. 1985. Quintus, Fernando. Kimia Analitik. Yogyakarta : Andi. 2009 Chang, Raymond. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga. 1994 Tim Dosen Kimia Dasar. Kimia Dasar. Makassar : Universitas Hasanuddin. 2004 Tim Dosen Kimia Dasar. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Makassar : UIN Alauddin. 2011 Sudarmono. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga. 2006
  • 26. SKEMA KERJA 1. Pengaruh Tonisitas Aquadest NaCl 0,89% NaCl 3% Seledri, daun bawang, wortel, dan darah ayam Didiamkan 20 menit Diamati pada mikroskop Catat hasil Glukosa 0,1 M Glukosa 0,5 M Diamati pada mikroskop sebelumnya
  • 27. 2. Penurunan Titik Beku Cera alba 3 gram Dilebur Cera alba 3 gram Digerus Ditotolkan pipa kapiler 1 pipa Cera alba 3 pipa Cera alba + asam benzoat Diikat dengan termometer Dicelupkan ke dalam aquadest Dipanaskan pada spiritus Catat hasil

×