Larutan dan Kelarutan

24,069 views

Published on

Laporan Lengkap

Published in: Education
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
24,069
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
401
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Larutan dan Kelarutan

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Larutan merupakan campuran homogen antara molekul, atau maupun ion dari dua zat atau lebih. Wujud dari larutan bisa berupa padatan, cair ataupun gas yang terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut atau solute sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak dari pada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solvent. Proses pencampuran zat terlarut dan pelarut berbentuk larutan disebut pelarut. Pada proses pelarutan, tarikan antar partikel komponen murni terpecah dan tergantikan dengan tarikan antara pelarut dan zat terlarut. Bila komponen zat terlarut di tambahkan terus menerus kedalam pelarut, pada suatu titik komponen yang di tambahkan tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat terlarut dalam larutan tersebut adalah maksimal dan larutannya disebut sebagai larutan jenuh. Menurut daya hantar listriknya, larutan dibagi menjadi dua yaitu larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan non elektolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. Berdasarkan uraian di atas, maka percobaan ini penting dan perlu untuk dilakukan untuk mengetahui prinsip larutan dan kelarutan serta pengaruh kelarutan dan kelarutan terhadap perbedaan larutan elektrolit dan non elekterolit, serta jenis-jenis larutan. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kelarutan serta mengetahui pengaruh sifat zat terlarut dan pelarut terhadap kelarutan. Dengan mengetahui suatu kelarutan suatu zat, maka kita dapat menentukan kadar kelarutan obat dalam tubuh dan memperkirakan banyaknya zat pelarut secara sempurna.
  2. 2. B. Maksud dan Tujuan Percobaan 1. Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami tentang larutan dan kelarutan suatu zat. 2. Tujuan Percobaan a. Menunjukan pengaruh suhu terhadap kelarutan. b. Menunjukan perbedaan larutan elektrolit dan non elektrolit. c. Menunjukan pengaruh sifat zat terlarut dan pelarut terhadap kelarutan. C. Prinsip Percobaan a. Larutan Jenuh Penentuan pengaruh suhu terhadap kelarutan yaitu sukrosa dengan cara mencatat suhu air, menambahkan sukrosa 6,7 garm ke dalam air hingga larutannya jenuh,untuk mengetahui massa sukrossa yang ditambahkan, memanaskan larutan agar semua padatan larut, dan mendinginkan larutan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dengan suhu dipertahankan 50 oC. b. Kondiktifitas Listrik Penentuan jenis larutan elektrolit dan non elektrolit oleh pebedaan nyala lampu ketika dihubungkan dengan larutan dan sumber energi. c. Kelarutan Penentuan kelarutan sampel NaCl, Sukrosa, Naftalen pada pelarut aquadest, etanol, dan heksan dengan melihat indikator larut, tidak larut, dan sedikit larut.
  3. 3. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Umum Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentuk larutan yaitu zat terlarut dan pelarut. Komponen dapat berupa gas, cair, atau padat. Pengertian ini dapat dinyatakan bila senyawa dalam jumlah yang lebih besar maka disebut pelarut. Air merupakan pelarut yang tidak asing dalam kehidupan. Sifat-sifat air seperti mudah di peroleh, mudah digunakan dan kemampuan untuk melarutkan berbagai zat adalah sifat-sifat yang dimiliki pelarut lain. Sifat ini menempatkan air sebagai pelarut universal. Proses terjadinya suatu larutan dapat mengikuti proses berikut (Mulyano, 2005:160) : a. Zat terlarut bereaksi secara kimia dengan pelarut dan membentuk zat yang baru. b. Zat terlarut membentuk zat tersolvasi dengan pelarut. c. Terbentuknya larutan berdasarkan disperse. Larutan terdiri atas pelarut dan zat terlarut. Pasangan zat tertentu dapat saling melarutkan dalam semua perbandingan, hal ini biasanya terjadi pada larutan gas-gas dan larutan cair-cair seperti air-etanol. Akan tetapi untuk larutan yang wujudnya berbeda (cair-gas, cair-padat, padat-padat) ada batas keduanya dalam membentuk larutan homogen. Nilai batas jumlah zat terlarut dalam jumlah pelarut tertentu pada suhu dan tekanan tertentu untuk membentuk larutan homogen disebut kelarutan. Dengan demikian, kelarutan adalah nilai batas kemampuan pelarut dalam volume tertentu untuk melarutkan zat terlarut pada suhu 25o C, tekanan 1 atau yang menghasilkan larutan homogen. Jumlah zat terlarut dalam larutan atau dalam pelarut dalam volume/berat tertentu disebut konsentrasi. Berdasarkan nilain konsentrasi itu, larutan dapat di bedakan menjadi larutan encer dan larutan pekat. Larutan encer jika
  4. 4. konsentrasinya zat terlarutnya lebih kecil dari setengah nilai kelarutannya sedangkan larutan dikatakan pekat jika konsentrasi zat terlarutnya sama atau lebih besar dari pada setengah nilai kelarutannya. Dalam keadaan demikian, konsentrasi zat terlarut yang telah larut adalah tetap sehingga disebut larutan jenuh, di mana larutannya di katakan sebagai larutan janun pada suhu dan tekanan tertentu. Larutan tak jenuh adalah larutan yang konsentrasinya masih lebih kecil dari nilai batas kelarutan zat terlarut dalam pelarut tertentu. (Usman, 2005 : 58-59) Sifat-sifat larutan misalnya warna dari larutan zat warna atau manisnya larutan gula, tergantung pada konsentrasi larutan. Ada beberapa cara untuk menyatakan konsentrasi (Anggota IKAPI UGM, 2008:228) : 1. Moi Froksi 2. Molaritas 3. Molalitas 4. Normalitas Berdasarkan sifat daya hantar listriknya, larutan dibagi menjadi dua yaitu larutan elektrolit dan non elektrolit. Sifat elektrolit dan non elektrolit didasarkan pada keberadaan ion, larutan tersebut bersifat elektrolit. Jika dalam larutan tersebut tidak terdapat ion, larutan tersebut bersifat non elektrolit. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik hantaran listrik dapat diuji dengan alat kondiktifitas.
  5. 5. Daya hantar listrik larutan elektrolit bergantung pada jenis dan konsentrasinya berupa larutan, elektrolit dapat menghantarkan arus listrik dengan baik meskipun konsentrasinya kecil, larutan ini dinamakan larutan elektrolit kuat. Sedangkan larutan elektrolit yang mempunyai daya hantar lemah meskipun tinggi di namakan elektrolit lemah. Larutan elektrolit kuat dapat menghantarkan arus listrik dengan baik karena zat terlarut akan terurai sempurna (derajat lonisasi = 1) menjadi ionion sehingga dalam larutan tersebut banyak mengandung ion-ion. Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan daya yang lemah karena derajat ionisasi lebih dari nol teatapi kurang dari satu sehingga larutan tersebut sedikit mengandung (Tim Dosen Kimia Dasar UNHAS, 2007:71). Jenis-jenis kelarutan antara lain : a. Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung jumlah maksimum zat terlarut di dalam pelarut pada suhu tertentu. b. Larutan tak jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut lebih sedikit di bandingkan kemampuannya untu melarutkan. Larutan ini terjadi sebelum titik jenuh tercapai. c. Larutan lewat jenuh adalah larutan yang mengandung lebih banyak zat terlarut di bandingkan yang terdapat dalam larutan jenuh. Dalam cairan atau padatan , molekul-molekul saling terikat akibat adanya tarik menarik antara molekul. Gaya ini juga memainkan peran dalam pembentukan larutan (Chang , 2003 : 4-5). Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan antara lain : a. Pengaruh jenis zat pada kelarutan Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling bercampur dengan baik. Sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda umumnya kurang dapat saling bercampur sempurna (like dissolve like).
  6. 6. b. Pengaruh temperatur pada kelarutan Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi, misalnya jika air di panaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar di dalam air. Sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan zat padat yang kelarutannya lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi. Ada beberapa zat padat kelarutannya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. c. Pengaruh tekanan pada kelarutan Perubahan kecil dalam tekanan memiliki efek yang kecil pada kelarutan dari padatan dalam cairan tetapi memiliki efek yang besar pada kelarutan gas dan cairan berbanding lurus dangan tekanan gas. d. Kelajuan dari zat terlarut Kelajuan di mana zat padat terlarut di pengaruhi oleh (Sukardjo, 1977:142) : 1. Ukuran partikel 2. Temperatur solvent 3. Pengadukan dari larutan 4. Konsentrasi larutan 5. Pengaruh pH 6. Pengaruh Hidrolisis B. Uraian Bahan 1. Aquadest (Dirjen POM, 1979 : 96) Nama resmi : AQUA DESTILATA Nama lain : air suling Rumus molekul : H2o Berat molekul : 18 , 02 Rumus bangun : H-O-H Peerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. Kelarutan : praktis bercampur dengan pelarut
  7. 7. Penyimpanan Kegunaan : sebagai pelarut/sampel NaCl (Dirjen POM, 1979 : 403) Nama : NATRII CHLORIDUM Nama lain : Natrium klorida Rumus molekul : NaCl Berat molekul : 58, 44 Rumus bangun : Na-Cl Pemerian 2. : dalam wadah tertutup baik : hablur Heksahedlar, tidak berwarna, serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin. Kelarutan : larut dalam 2, 8 bagian air, 2,7 bagian air mendidih, kurang lebih 10 bagian gliserol, sukar larut dalam etanol ( 95 % ). Penyimpanan Kegunaan : sebagai zat terlarut (kondutivitas listrik) Sukrosa (Dirjen POM, 1979 : 725) Nama Resmi : SUCROSUM Nama lain : guls Rumus Molrkul : C12H12O11 Berat Molekul : 342, 20 Pemerian : hablur tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis. Kelarutan 3. : dalam wadah tertutup baik : larut dalam 0,5 bagian air dan dalam 370 bagian etanol (95%) Penyimpanan Kegunaan 4. : dalam wadah tertutup baik : sebagai zat tertutup ( kelarutan ) Naftalen ( Dirjen Pom, 1997 : 1179 ) Nama Resmi : NAPHTHALENE Nama Lain : naftalena, kapur barus
  8. 8. Rumus molekul : C10H8 Berat Molekul : 128, 17 Pemerian : lempeng Prismatis Monosiklik atau keeping / serbuk putih Kelarutan Penyimpanan : dalam wadah tertutup Kegunaan : sebagai zat terlarut (kelarutan) Heksan (Dirjen Pom, 1995 : 1159) Nama Resmi : HEKSANA Nama Lain : heksan Rumus Molekul : C6 H14 Berat Molekul : 86, 18 Pemeriaan 5. : larut dalam heksana, tidak larut dalam H2O : cairan jernih, mudah menguap, berbau seperti eter lemah Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol mutlak Penyimpanan Kegunaan 6. : dalam wadah tertutup rapat : sebagai zat pelarut Etanol (Dirjen POM, 1979 : 65) Nama Resmi : AETHANOLUM Nama Lain : alkohol Rumus Molekul : C2 H5OH Berat molekul : 0,8119 Pemerian : tidak berwarna, jernih, mudah menguap, bau kuas, rasa panas, mudah terbakar. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform dan eter
  9. 9. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya dan api Kegunaan : sebagai sampel sifat zat terlarut dan pelarut. C. Prosedur Kerja 1. Larutan jenuh a. Masukkan 10 ml air suling ke dalam beker gelas 50 ml, catat suhu air. b. Sambil di aduk dengan batang pengaduk, tambahkan sukrosa 2 g ke dalam air, terus tambahkan sampai tidak ada lagi sukrosa yang larut. Larutannya harus jenuh. Catat massa sukrosa di tambahkan. c. Panaskan larutan ini diatas plat panas sampai 50oc, pertahankan suhu ini. Dan tambahkan sukrosa sebanyak 2 gr ke dalam larutan, sambil diaduk tambahkan lagi sukrosa sampai tidak ada lagi sukrosa yang larut. Catat massa sukrosa yang ditambahkan. d. Panaskan larutan di atas 50oc sampai semua padatan terlarut. Dengan penjepit gelas, angkat gelas dari plat panas dan letakkan di atas meja. Lanjutkan dengan bagian selanjutnya dan kembali ke bagian ini setelah larutan mendingin hingga suhu kamar. e. Amati apa yang terjadi dalam larutan ketika di dinginkan sampai suhu kamar. Jika ada Kristal terbentuk, masukkan Kristal tunggal ke dalam larutan atau aduk larutan dengan batang pengaduk. 2. Konduktivitas Listrik a. Untuk setiap larutan, lakukan langkah 2,3,4, dan 5. b. Masukkan sekitar 20 ml larutan 101 ke beker gelas 50 ml yang telah di bilas dengan aquadest. c. Masukkan terminal ke dalam beker gelas hingga larutan menutupi terminal d. Sambungkan alat ke stop kontak dinding. Amati efek pada bola lampu. Larutan yang mengandung elektrolit melakukan sirkuit listrik dan lampu akan menyala. Elektrolit kuat akan memberikan cahaya
  10. 10. terang, elektrolit lemah akan memberi cahaya redup dan non elektrolit tidak akan menyala. Catat penyuruh konsentrasi. e. Setelah tes selesai, sepaskan alat dari stopkontak, angkat terminal dari larutan dan bilas dengan air suling. 3. Kelarutan a. Bersihkan dan keringkan 16 tabung reaksi. b. Masukkan sekitar 0,1 gr padatan ke tabung reaksi : 1) No 1 : NaCl 3) No 3 : Nafralen 2) No 2 : Sukrosa 4) No 4 : Iodin c. Tambah 3 ml air suling ke tiap tabung reaksi dan korok campuran. d. Catat pada lembar laporan apakah benar-benar larut, sedikit larut atau tidak sama sekali. e. Dengan set tabung reaksi berlabel baru yang berisi padatan yang tercantum di atas, ulangi kelarutan menggunakan aranol, Cs Hs Oh, aseton, ( Ch3 ) 2 Co, dan eter minyak bumi. Catat datanya. f. Buang larutan dalam wadah sampah yang di sediakan. Jangan di buang di bak cuci.
  11. 11. BAB III METODE KERJA A. Alat dan Bahan 1. Alat Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah batang pengaduk, cawan porselin, gelas arloji, gelas kimia, gelas ukur, kaki tiga, kawat kasa, kertas timbang, klem, pembakar spiritus, pipet tetes, rak tabung, sikat tabung, sendok tabun, statif, tabung reaksi, termometer, dan voltmeter. 2. Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aquadest, asam asetat, asam asetat glasial, etanol, HCl, heksan, NaCl, naftalen, dan sukrosa. B. Cara Kerja 1. Larutan Jenuh a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. b. Ditimbang sukrosa 2 gr sebanyak 8 kali. c. Dimasukkan 10 ml aquadest ke dalam gelas kimia. d. Ditambahkan 2 gr sukrosa ke dalam gelas kimia yang berisi aquadest. e. Diaduk sampai tidak ada lagi sukrosa yang larut. f. Dipanaskan larutan di atas plat panas sampai 50o C, dipertahankan suhu ini. g. Ditambahkan lagi 2 gr sukrosa ke dalam larutan, sambil di aduk, di tambahkan sukrosa hingga tidak ada lagi yang larut. h. Dicatat massa sukrosa yang di tambahkan. i. Dinginkan larutan yang telah di panaskan hingga suhu kamar. j. Diamati perubahan yang terjadi pada larutan ketika di dinginkan sampai suhu kamar.
  12. 12. 2. Konduktivitas Listrik a. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan b. Aquadest, sukrosa, asam asetat, NaCl dan Hcl di masukkan ke dalam gelas kimia sebanyak 20 ml. c. d. 3. Di amati dengan volt meter Di catat datanya Kelarutan a. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. b. Diambil sampel (NaCl, sukrosa, dan naftalen) secukupnya dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda yang sudah berisi pelarut aquadest, etanol, dan heksan sebanyak 3 ml lalu dilarutkan. c. Di amati perubahannya.
  13. 13. BAB IV HASIL PENGAMATAN A. Tabel Pengamatan 1. Larutan Jenuh Sampel Berat Zat Terlarut Keterangan - 2. 6,7 gram - Agak keruh - Sukrosa Bau harum Agak kental Kelarutan NO Sampel Pelarut Aquadest Etanol Heksan 1 NaCl L TL TL 2 Sukrosa L TL TL 3 Naftalen TL SL L Ket : Larut :L Sedikit Larut : SL Tidak Larut : TL
  14. 14. BAB V PEMBAHASAN Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat yang berbeda jenis. Ada dua komponen utama pembentuk larutan yaitu zat terlarut dan pelarut. Pengertian ini dapat dinyatakan bila senyawa dalam jumlah yang lebih besar, maka disebut pelarut dan untuk senyawa yang berada dalam jumlah kecil disebut terlarut. Kelarutan merupakan kemampuan suatu zat terlarut untuk dapat larut dalam sejumlah pelarut pada suhu tertentu. Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip namun umumnya dapat saling bercampur dengan baik. Sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda umumnya kurang dapat saling bercampur sempurna. Hal ini di pengaruhi oleh tingkat kepolaran zat yang berbeda-beda. Larutan dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu larutan jenuh, larutan tidak jenuh dan larutan lewat jenuh. Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah maksimal di dalam pelarut, larutan tak jenuh adalah larutan yang zat pelarutnya lebih banyak dari pada zat terlarutnya sedangkan larutan lewat jenuh adalah larutan di mana zat terlarutnya lebih banyak dari zat pelarutnya. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur yaitu pada kelarutan gas dalam cairan, apabila temperatur naik. Kelarutan gas umumnya turun disebabkan karena kecenderungan gas yang besar untuk berekspansi. Faktor tekanan yaitu pada kelarutan gas yang mengubah kelarutan zat terlarut dalam keseimbangan. Pengaruh tekanan pada kelarutan gas dinyatakan oleh hukum. Henri yang menyatakan bahwa dalam larutan yang sangat encer, pada temperatur konstan, konsentrasi gas terlarut sebanding dengan tekanan parsial gas di atas larutan pada kesetimbangan. Faktor pH yaitu pengaruh jumlah yang lebih kecil dan bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Dan kelarutan juga sangat dipengaruhi oleh gambaran struktur seperti perbandingan gugus pola terhadap gugus non polar dari molekul. Apabila panjang rantal non polar dari alkohol alifatik bertambah, kelarutan senyawa tersebut dalam air akan berkurang. Apabila ada gugus polar
  15. 15. tambahan dalam molekul, seperti pada propilema glikol, gliserin, dan asam tartrat, kelarutan dalam air naik banyak. Percabangan pada rantai mengurangi efek non polar dan menyebabkan kenaikan kelarutan dalam air. Singkatnya, pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lain. Sesuai dangan itu, air bercampur dengan alkohol dalam segala perbandingan dan melarutkan gula dan senyawa polihidriksi yang lain. Dan pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarik menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah karena tetapan elektrik pelarut yang rendah dan senyawa non polar dapat melarutkan zat terlarut non polar dengan tekanan dalam yang sama melalui interaksi dipol induksi. Sehingga dapat di simpulkan tingkat kepolaran suatu zat dari tinggi ke rendah yaitu pirindin, asetak, air, methanol etamol, n-propanol, eranel, butena, aseton, etil asetan, tetra hidrofuran, dietil eter, diklor metan, kloroform, benzena, toluen, dikloroetilen, trikloroetilen, karbotetraklorida, karbodisulfida, sikloheksan, dan tetroleumeter. Istilah like dissolves like secara umum digunakan dalam bidang kimia kelarutan yang besar terjadi bila molekul-molekul solute memiliki kesamaan dalam struktur dan sifat-sifat kelistrikan dengan molekl-molekul solven. Bila ada keasaman dari sifat-sifat kelistrikan, misalnya momen dipol yang tinggi antara solven-solute, maka gaya-gaya tarik yang terjadi antara solut-solven adalah kuat. Bila tidak ada kesamaan maka gaya tarik menarik solut-solven adalah lemah. Istilah like dissolves like juga menyatakan bahwa kelarutan suatu zat pada umumnya dapat diperkirakan dalam cara kualitatif setelah mempertimbangkan hal-hal seperti polaritas, tetapan dielektrik, asosiasi, solvasi, tekanan dalam, reaksi asam basa, dan faktor-faktor laimnya. Singkatnya, Kelarutan bergantung pada pengaruh kimia, listrik, struktur yang menyebabkan interaksi timbal balik antara zat terlarut dan pelarut. Para ahli formasi pun mengetahui istilah like dissolves like menyatakan bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam dan gula serta senyawa sejenis. Sedangkan minyak mineral dan benzena biasanya merupakan pelarut untuk zat yang biasanya hanya sedikit larut dalam air. Like dissolves like juga bertujuan untuk mempelajari tentang keadaan yang terjadi antara suatu pelarut dan zat pelarut.
  16. 16. Menurut Arrhenius, larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke dalam partikel yang bermuatan listrik negatif dan positif yang disebut ion. Jumlah muatan positif akan sama dengan jumlah muatan ion negatif, sehingga muatan ion-ion dalam larutan netral. Ion inilah yang bertugas menghantarkan arus listrik pada elektrolit kuat, seluruh molekulnya terurai menjadi ion yang terionisasi sempurna. Karena banyak ion yang dapat menghantarkan arus listrik, maka daya hantarnya kuat. Contohnya dari larutan elektrolit adalah pada larutan elektrolit kuat yaitu Hcl, H2SO4, HBr, sedangkan elektrolit lemah contohnya CH3COOH dan pada elektrolit lemah ini tidak semua terurai menjadi ion-ion sehingga dalam larutan hanya ada sedikit ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Pada larutan non elektrolit, molekulnya tidak terionisasi sehingga tidak ada ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Contohnya etanol dan gliserin. Larutan elektrolik adalah zat-zat yang dapat menghantarkan arus listrik karena zat terlarutnya adalah zat elektrolit yang dapat terionosasi menjadi ion-ion dan terurai secara sempurna sehingga tergolong elektrolit kuat. Contoh elektrolit kuat yaitu asam kuat meliputi HCl, HCIO3, HCIO4, H2SO4 , HNO3 dan basa kuat meliputi NAOH, KOH, Ca(OH)2, Mg(OH)2. Dan garam-garam yang mempunyai kelarutan tinggi yaitu NaCl, KCl, KI, Al2(SO4)3, sedangkan elektrolit lemah dapat menghantarkan arus listrik dengan daya yang lemahkarena derajat ionisasi lebih dari nol, tetapi kurang dari satu, sehingga hanya mengandung sedikit ion. Contohnya asam lemah yaitu CH3COOH, HCN, H2, CO2, H2S. Basa lemah yaitu NH4OH, Dan garam-garam yang sulit larut yaitu AgCl2, CaCrO4, dan PbI2. Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkn arus listrik karena zat terlarutnya adalah zat non elektrolit yang tidak dapat terionisas menjadi ion-ion. Contohnya, glukosa, lipid, urea, alkohol, dan lain-lain. Pelarut adalah benda cair atau gas yang menghasilkan sebuah larutan. Pelarut yang paling umum digunakan adalah air, karena air merupakan pelarut universal memiliki trayek cair yang panjang dan kemampuannya melarutkan berbagai zat. Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih mudah menguap, meninggalkan substansi pelarut yang didapatkan.
  17. 17. Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut yaitu oleh momen dipolnya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lalu. Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen merupakan faktor yang lebih jauh berpengaruh di bandingkan dengan polaritas yang direfleksikan dalam dipol momen yang tinggi. Dapat di simpulkan bahwa pelarut polar bertindak sebagai pelarut menurut mekanisme berikut : 1. Karena tingginya tatapan dielektrik, pelarut polar mengurangi gaya tarik menarik antar ion dalam kristal yang bermuatan berlawanan. 2. Pelarut polar memecahkan ikatan kovalen dari elektrolit kuat dengan reaksi asam bisa karena pelarut ini amfriprotik. Pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarik menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah karena tetapan dielektrik yang rendah. Pelarut non polar juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut non polar termasuk dalam golongan pelarut aprotik. Oleh karena itu, zat terlarut ionik dan secara oral di dalam saluran cerna harus mengalami proses pelepasan dari sediaannya dan kemudian zat aktif akan melarut untuk selanjutnya diabsorpsi. Proses pelepasan zat aktif dari sediaannya dan proses pelepasan larutan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan fisika zat terlarut serta formulasi sediaannya. Salah satu sifat zat aktif yang penting untuk diperhatikan adalah kelarutan karena pada umumnya zat baru diabsopsi setelah terlarut dalam cairan saluran cerna. Teori tumbukan yaitu dapat di jelaskan bahwa semakin luas permukaan zat padat, maka semakin banyak tempat terjadinya tumbukan antarpartikel zat yang bereaksi. Luas permukaan zat berkaitan dengan bidang sentuh zat tersebut. Contohnya gula pasir berbentuk kristal-kristal kecil sedangkan gula batu berbentuk bongkahan besar. Dalam berat yang sama, gula pasir memiliki luas permukaan lebih besar dari pada gula batu. Coba larutkan setiap jenis gula dalam air bervolume sama. Gula pasir akan cepat larut di bandingkan gula batu, hal itu disebabkan karena luas permukaan bidang serbuk gula batu. Jadi, semakin kecil ukuran suatu zat dalam jumlah massa yang sama luas bidang seutuhnya semakin besar dan semakin besar luas permukaan pereaksi, laju reaksi semakin besar.
  18. 18. Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan sukrosa dalam cairan bertambah dengan naiknya suhu karena pembentukan larutannya bersifat endoterm. Pengaruh tekanan mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kelarutan, kelarutan suatu gas dalam larutan air, berbanding lurus dengan tekanan gas di atas larutan tersebut. Faktor jenis zat yaitu senyawa yang bersifat non polar akan mudah larut pada pelarut non polar. Pengaruh temperatur yaitu misalnya pada kelarutan gas dalam cairan, apabila temperaturnya naik, maka kelarutannya juga naik. Pada kelarutan gas umumnya turun disebabkan karena kecenderungan gas yang besar untuk berekspansi. Pengaruh pH yaitu pengaruh jumlah yang lebih kecil dan bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Kelarutan sangat dipengaruhi oleh gambaran struktur seperti perbandingan gugus polar terhadap gugus non polar dan molekul. Apabila panjang rantai non polar dari alkohol alifatik bertambah, kelarutan senyawa tersebut dalam air berkurang. Apabila ada gugus polar tambahan dalam molekul, seperti pada propilena glikol, ghserm, dan asam tartrat, kelarutan dalam air meningkat banyak. Percabangan pada rental mengurangi efek non polar dan menyebabkan kenaikan kelarutan dalam air. Faktor pengadukan, semakin lama dan cepat larutan tersebut di aduk, maka kelarutannya akan semakin tinggi. Faktor jenis zat, senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar sedangkan yang bersifat non polar akan mudah larut pada pelarut non polar itu sendiri. Faktor efek hidrolisis dalam hal ini membatasi pembahasan pada larutanlarutan yang berkadar asam tinggi, seperti anion sebuah asam lemah yang tidak mengubah pH secara nyata. Garam dari sebuah asam lemah terurai tidak dalam asam kuat melainkan di dalam air. Ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antar molekul yang terjadi antara dua muatan listrik parsiul dengan polaritas yang berlawanan. Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, D atau F yang mempunyai pasangan elektron bebas.
  19. 19. Dalam praktikum larutan dan kelarutan ada 2 percobaan yang dilakukan yaitu percobaan larutan jenuh dan kelarutan zat. Cara kerja pada percobaan larutan jenuh yaitu, pertama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, ditimbang sukrosa 2 gr sebanyak 4 kali, diambil aquadest dan dimasukkan ke dalam gelas kimia sebanyak 10 ml kemudian ditambahkan sukrosa yang telah ditimbang dan diaduk dengan menggunakan batang pengaduk. Jika larutan belum juga jenuh, ditambahkan 2 gr sukrosa hingga mencapai titik jenuhnya. Larutan yang telah dihomogenkan tersebut, di panaskan pada suhu 50o C sebagai batasan karena semakin tinggi suhunya, maka semakin banyak yang bisa larut sehingga suhu ini harus tetap di pertahankan. Setelah larutan mencapai titik jenuh, pemanasan dihentikan dan larutan didinginkan pada suhu kamar dan dicatat data perubahannya. Adapun cara kerja pada percobaan kelarutan, yaitu disiapkan tabung reaksi sebanyak 9 buah dan sampel yang digunakan, yaitu NaCl, sukrosa, dan naftalen secukupnya ke 9 tabung reaksi tersebut masing-masing berisi larutan aquades sebanyak 3 ml untuk 3 tabung pertama, larutan etanol sebanyak 3 ml untuk 3 tabung reaksi kedua dan larutan heksan sebanyak 3 ml untuk 3 tabung reaksi yang terakhir. Masing-masing sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda yang berisi larutan aquadest, etanol dan neksan. Lalu diketuk dengan jarijari tangan. Kemudian di amati perubahannya untuk zat yang larut, sukar larut, dan tidak larut. Pada percobaan konduktivitas listrik, cara kerjanya yaitu disiapkan aquadest, sukrosa, asam asefat, NaCl dan HCl yang dimasukkan ke dalam gelas kimia masing-masing sebanyak 20 ml. Lalu terminal keelektrolitan larutan tersebut, kemudian diamati perubahannya dan dicatat datanya. Apabila lampu menyala dan memiliki banyak gelembung serta nyala lampu yang baik berarti larutan tergolong larutan elektrolit kuat, begitu pula sebaliknya. Dari percobaan kelarutan, diperoleh hasil yaitu NaCl dan sukrosa larut dalam aquadest karena sifat atau struktur dari aquadest dengan NaCl dan sukrosa memiliki banyak kesamaan, begitu pula dengan naftalen yang larut dalam heksan. Adapun naftalen yang sedikit larut dalam etanol, hal ini dikarenakan sifat dan
  20. 20. struktur naftalen memiliki sedikit kesamaan. Begitu pula dengan NaCl dalam heksan dan etanol yang tidak larut, naftalen dalam aquadest juga tidak larut dan sukrosa dalam etanol tidak larut. Hal ini juga dikarenakan oleh sifat dan struktur yang tidak sama atau berbeda. Berdasar hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sesuai dengan literatur yang diperoleh dimana zat terlarut NaCl apabila di campur dengan aquadest akan larut, sukrosa di campur dengan aquadest juga akan larut akan tetapi NaCl yang dicampur dalam pelarut heksan dan etanol hasilnya tidak larut dan ini sesuai dengan literatur begitu pula dengan sukrosa dalam pelarut heksan dan etanol juga tidak larut, naftalen dalam aquadest juga sesuai dengan literatur, yaitu tidak larut tetapi dalam heksan zat terlarut naftalen dapat larut dan tentu hasil ini juga sesuai dengan literatur yang diperoleh. Pada percobaan larutan jenuh, di peroleh hasil yaitu berat zat terlarut untuk aquadest 10 ml ditambah sukrosa adalah 2 gr dan sebelum di panaskan adalah cair. Namun setelah di panaskan pada suhu 50 oC terjadi perubahan warna dari jernih menjadi agak keruh dan larutan menjadi kental. Sehingga dari sisa yang di peroleh sebesar 1,3 gr ternyata besarnya penambahan yang di lakukan adalah 6,7 gr. Hal ini tentu sesuai dengan literatur dimana jika semakin tinggi suhu larutan, maka semakin banyak pula komponen sukrosa yang dapat larut di bandingkan tanpa pengaruh suhu yang tinggi, dimana sukrosa dapat larut dalam 0,5 bagian air. Adapun faktor-faktor kesalahan yang terjadi dalam percobaan ini, yaitu praktikan masih belum memahami secara sempurna perubahan reaksi, kesalahan dalam mempertahankan suhu 50o C sebab suhunya kadang mencapai 60o C yang disebabkan pemanasan secara terus-menerus, kurangnya ketelitian dalam menimbang sampel serta kurangnya ketelitian praktikan dalam mengamati perubahan yang terjadi pada setiap percobaan. Melalui percobaan ini, dapat disimpulkan hubungan larutan dan kelarutan dalam farmasi adalah dalam proses pembuatan obat yang menggunakan cara pelarutan zat-zat atau senyawa kimia, untuk mengetahui kelarutan suatu obat dengan mengetahui dan memahami tingkat kepolarannya. Untuk sediaan yang bersifat polar, larut dengan baik dalam air seperti dalam bentuk tablet, kapsul, dan sirup dalam tubuh manusia. Sedangkan untuk sediaan non polar yang larut dengan
  21. 21. baik dalam lemak, digunakan dengan dioleskan misalnya salep sehingga tingkat kepolaran dari suatu sediaan obat dapat diabsorpsi secara baik dalam tubuh. Serta para ahli farmasi dengan melalui percobaan ini dapat membantunya memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis dan dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian serta memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya antarmolekul obat. Dalam literatur, NaCl larut dalam 2,8 bagian air dan sukar larut dalam etanol. NaCl merupakan larutan polar yaitu larut dalam air. Begitu pula dengan sukrosa yang larut dalam 0,5 bagian air. Pada percobaan ini di peroleh data yang sama yaitu NaCl dan sukrosa larut dalam air dan tidak larut dalam etanol dan heksan. Dan pada naftalen larut dalam heksan dan tidak larut dalam air. Hal ini jelas sesuai dengan data yang di dapatkan pada percobaan ini naftalen tidak larut dalam air dan sedikit larut dalam etanol dan larut dalam heksana.
  22. 22. BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang dilakukan, di peroleh hasil yaitu: 1. Pada percobaan larutan jenuh, suhu sangat berpengaruh pada larutan dan kelarutan. Semakin tinggi suhu maka semakin cepat dan banyak zat terlarut dalam larutan seperti pada percobaan sukosa yang larut dalam air mendidih sebanyak 6,7 gram. 2. Senyawa polar (NaCl dan sukrosa) dapat larut dalam senyawa polar (aquadest) maupun semi polar (etanol) tetapi tidak dapat larut dalam pelarut non polar (heksan). Sebaliknya, senyawa non polar (naftalen) hanya dapat larut dalam senyawa semi polar (etanol) maupun non polar (heksan) tetapi tidak dapat larut dalam pelarut polar (aquadest). B. Saran 1. Untuk Laboratorium Tingkatkan kelengkapan alat dan bahan untuk praktikum. 2. Untuk Asisten Pertahankan metode pembelajarannya dan keramahannya kepada praktikan.
  23. 23. DAFTAR PUSTAKA Anggota IKAPI Dosen UGM. Kimia Dasar. Yogyakarta: University Press. 2010 Chang, Raymond. Kimia Dasar Jilid I. Erlangga: Jakarta. 2005 Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Depkes RI. 1979 Mulyono. Kimia Larutan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. 1996 Tim Dosen Kimia Dasar. Kimia Dasar. Makassar: UNHAS. 2007 Tim Dosen Kimia Dasar. Penuntun Praktikum. Makassar: UIN Alauddin. 2011 Usman, Hanapi. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga. 2005 Sukardjo. Ilmu Kimia. Jakarta: Renika Cipta. 1977
  24. 24. SKEMA KERJA 1. Larutan Jenuh Aquadest 10 ml dimasukkan Gelas Kimia ditambahkan 2 gr Sukrosa Aduk Panaskan 50oc ditambahkan 2 gr sukosa Aduk ditambahkan 2 gr sukosa Hingga jenuh Dinginkan Amati
  25. 25. 2. Kelarutan NaCl Sukrosa Naftalen secukupnya Di masukkan Aquadest Etanol Larutkan Amati Heksan

×