Teknik budidaya jagung secara monokultur

1,733 views
1,623 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,733
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
51
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Teknik budidaya jagung secara monokultur

  1. 1. LAPORAN PRAKTIKUM DASAR AGROTEKNOLOGI ACARA I “TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG SECARA MONOKULTUR” Oleh : Abdul Mufti Putra 13011037 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2014
  2. 2. I. JUDUL ACARA “TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG SECARA MONOKULTUR” II. TUJUAN PRAKTIKUM Secara umum, tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Agar mahasiswa dapat mempelajari teknik budidaya jagung secara monokultur serta pemeliharaannya. 2. Agar mahasiswa mengamati laju pertumbuhan tanaman jagung dengan mengamati tinggi tanaman, jumlah daun, dan intensitas cahaya yang masuk III. LANDASAN TEORI Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. Menurut (Tjitrosoepomo,1989) jagung mempunyai klasifikasi sebagai berikut : Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta ( Tumbuhan Berpembuluh ) Divisio : Magnoliophyta Classis : Liliopsida Ordo : Poales Familia : Poaceae Genus : Zea Species : Zea Mays L Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah
  3. 3. cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman (Tjitrosoepomo,1989). Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin (Tjitrosoepomo,1989). Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun (Tjitrosoepomo,1989). Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (Tjitrosoepomo,1989). Istilah teknik budidaya tanaman diturunkan dari pengertian kata-kata teknik, budidaya, dan tanaman. Teknik memiliki arti pengetahuan atau kepandaian membuat sesuatu, sedangkan budidaya bermakna usaha yang memberikan hasil. Kata tanaman merujuk pada pengertian tumbuh-tumbuhan yang diusahakan manusia, yang biasanya telah melampaui proses domestikasi (AAK, 1983) Teknik budidaya tanaman adalah proses menghasilkan bahan pangan serta produk-produk agroindustri dengan memanfaatkan sumberdaya tumbuhan. Cakupan obyek budidaya tanaman meliputi tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan (Harjadi, 1979).
  4. 4. Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke-20 di dunia serta menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan utamanya adalah keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman seperti hama dan penyakit (Jumin, 2005). IV. METODE PELAKSANAAN a. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada bulan November – Desember 2013 di Kebun Percobaan Gunung Bulu Universitas Mercu Buana Yogyakarta. b. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain : 1. Lahan 2. Benih tanaman jagung 3. Air 4. Pupuk kandang 5. Cangkul 6. Garu 7. Patok 8. Tali raffia 9. Meteran 10. Luxmeter 11. Gembor 12. Alat tulis 13. Penggaris
  5. 5. c. Cara Kerja 1. Membuat petak pertanaman dengan ukuran 3 x 3 m 2. Membuat bedengan dengan lebar 40 cm dan kedalaman 20 cm disekitar petak pertanaman 3. Mengolah tanah hingga siap tanam 4. Memberikan pupuk kandang sebanyak 9kg 5. Membuat lubang tanam dengan jarak 75 x 25 cm. 6. Menanam benih jagung kedalam lubang tanam, masing-masing 2 benih. 7. Memelihara pertanaman dengan baik, dengan melakukan penyiraman sesuai keperluan dan mencabuti rumput yang tunbuh disekitar tanaman. 8. Memilih 2 tanaman sebagai sampel pengamatan setelah satu minggu tanam 9. Melakukan penyulaman apabila ada benih yang tidak tumbuh satu minggu setelah tanam. 10. Mengamati intensitas sinar yang masuk, tinggi tanaman, dan jumlah daun tanaman sampel secara periodik sekali seminggu sampai umur tanaman 4 minggu. 11. Mencatat hasil pengamatan V. HASIL PENGAMATAN Tanaman Sampel 1 No. Pengamatan 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 1 Tinggi tanaman 42 62 90 145 2 Jumlah daun 7 9 11 13 3 Rata-rata intensitas cahaya 625,2 605,3 537,6 212,3 Tanaman Sampel 2 No. Pengamatan 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 1 Tinggi tanaman 24 44 68 114 2 Jumlah daun 6 8 9 11 3 Rata-rata intensitas cahaya 598,7 534 524,3 177,6 VI. ANALISIS HASIL - Tiap minggu tanaman jagung rata-rata tumbuh setinggi 32,16 cm - Tiap minggu jumlah daun rata-rata bertambah sebanyak 2 daun - Tiap minggu intensitas cahaya semakin berkurang
  6. 6. VII. PEMBAHASAN Penyediaan benih adalah hal atau factor yang awal dan penting pada aktivitas bertanam jagung. Sebagai langkah awal dalam bertanam jagung, pemilihan bibit unggul biasanya dilaksanakan agar kita dapat mendapatkan hasil produksi yang tinggi pula. Dalam budidaya tanaman jagung, benih benih diambil hanya dari tanaman dan tongkol yang baik dan sehat saja. Benih harus cukup sehat dan kering, bertenaga tumbuh lebih dari 90%, murni dan bebas dari kotoran (Subandi, 1990). Waktu tanam yang terbaik yaitu saat musim hujan. Pengerjaan tanah hendaknya dilakukan jauh sebelumnya, sehingga tanah dalam keadaan siap tanam. Pada waktu pengolahan, keadaan tanah hendaknya tidak terlampau basah tetapi harus cukup lembab sehingga mudah dikerjakan, dan tidak lengket, sampai tanah menjadi cukup gembur. Benih ditanam 2-3 biji per lubang, dalamnya penanaman adalah 3 cm, jika benih ditanam terlalu dalam maka kecambah akan sulit atau lama untuk naik kepermukaan tanah, sehingga kemungkinan benih akan membusuk. Jarak tanam dalam budidaya jagung ini yaitu 75 x 25 cm. Jarak tanam ini sangat efektif untuk tanaman jagung, dengan jarak tanam seperti ini maka tanaman tidak bersaing dalam mendapat mendapatkan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman itu sendiri. Selain itu, penerimaan intensitas cahaya juga bisa optimal. Penerapan pola tanam monokultur pada budidaya tanaman jagung memberikan banyak keuntungan, diantaranya penggunaan lahan yang efisien, rendahnya persaingan dalam mendapatkan unsur hara dibandingkan menggunakan pola tanam tumpang sari, dan memudahkan dalam pemanenan. Namun, pola tanam ini juga ada kelemahannya yaitu banyaknya organisme pengganggu tanaman, baik hama maupun penyakit. Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari dan sesuai dengan keperluan, sebaiknya dilakukan pada pagi hari, karena pagi hari merupakan saat yang tepat dimana dedaunan pada tanaman melakukan fotosintesis secara optimal untuk menunjang tumbuh kembangnya tanaman. Cara yang paling mudah untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman jagung adalah dengan membuat saluran air pada sekeliling lahan atau dari turunnya air hujan. Sebab, bila kita harus menyiram lahan yang begitu luas, akan cukup merepotkan. Air bagi tanaman jagung dibutuhkan untuk fase perkecambahan sampai fase pembentukan tongkol.
  7. 7. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyiraman tanaman jagung yaitu jangan menyiram tanaman jagung jika hari sudah hujan, karena jika terlalu banyak air tanaman jagung bisa membusuk dan akhirnya mati serta penyiraman hanya dilakukan jika lahan kering saja. Penjarangan dilakukan pada umur 2-3 minggu setelah tanam, di mana ditinggalkan tanaman yang tegap dan sehat saja sehingga mencapai populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanam yang digunakan. Apabila kedua benih tidak tumbuh maka dilakukan penyulaman, dengan mengganti benih yang baru pada lubang tanam yang sama. Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen secara kwantitatif maupun kwalitatif. Pada praktikum kali ini hanya dilakukan pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang pada saat pengolah tanah. Seharusnya pemupukan dilakukan lagi dengan memberikan pupuk nitrogen. Pemberian pupuk Nitrogen merupakan, kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi. Pemberian pupuk phosphat dan kalium bersama-sama dengan nitrogen memberikan hasil yang lebih baik. Untuk memperoleh hasil yang tinggi, pertanaman harus bersih dari segala macam tumbuhan/rumput pengganggu, oleh karena itu dilakukan penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabuti rumput, baik menggunakan tangan (hand weeding) maupun menggunakan alat. Hama dan penyakit tidak luput dari budidaya jagung atau tanaman apapun. Hama dan penyakit pada praktikum budidaya jagung ini antara lain semut, belalang, ulat daun, jangkrik, walang sangit, penyakit bercak daun dan penyakit karak daun. Pengendalian hewan penggangu hanya dilakukan dengan mengusirnya dari pertanaman, tidak menggunakan pestisida karena ketidaksediaan bahan. Untuk pengendalian penyakit dilakukan dengan mencabut tanaman yang terkena penyakit agar tidak menular ke tanaman lainnya dan menanamkan benih yang baru. Praktikum ini juga mengamati laju pertumbuhan tanaman jagung dengan mengamati tinggi tanaman, jumlah daun, dan intensitas cahaya yang masuk sebagai indikator baik atau tidaknya pertumbuhan tanaman itu sendiri. Tiap minggu tanaman jagung pada pertanaman ini rata-rata tumbuh setinggi 32,16 cm, jumlah daun rata-rata bertambah sebanyak 2 daun, dan intensitas cahaya semakin minggu semakin berkurang. Berkurangnya intensitas cahaya ini dikarenakan pada
  8. 8. saat pengukuran intensitas cahaya dibawah kanopi dan permukaan tanah cahaya tertutup oleh daun diatasnya atau keadaan cuaca yang tidak mendukung pada saat pengukuran intensitas cahaya. Intensitas cahaya matahari menunjukkan pengaruh primer pada fotosintesis, dan pengaruh sekundernya pada morfogenetik. Pengaruh terhadap morofogenetik hanya terjadi pada intensitas rendah. Pengaruh tanaman dalam kaitannya dengan intensitas cahaya salah satunya adalah penempatan daun dalam posisi di mana akan diterima intersepsi cahaya maksimum. Daun yang menerima intensitas maksimal adalah daun yang berada pada tajuk utama yang terkena sinar matahari (Fitter dan Hay, 1991). VIII. KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Pemilihan benih menjadi faktor awal dan penting dalam budidaya tanaman jagung. 2. Pengolahan tanah dilakukan secara optimal untul menyediakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung. 3. Pemeliharaan tanaman jagung merupakan hal penting, karena menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, hasil produksi, dan aktivitas kita dalam bercocok tanam. 4. Jarak tanam berpengaruh dalam penerimaan intensitas cahaya serta hasil produksi tanaman jagung. 5. Intensitas cahaya berpengaruh dalam laju proses fotosintesis dan perkembangan daun yang akan menentukan hasil produksi tanaman.
  9. 9. DAFTAR PUSTAKA AAK. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta: Kanisius Campbell, NA. 2002. Biologi jilid II. Jakata : Erlangga. Fitter A.H. dan Hay R.K.M. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Harjadi, 1979. Pengantar Agronomi. PT Gramedia. Jakarta. Jumin, H. B. 2005. Dasar-Dasar Agronomi. Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Kartasapoetra, G. 1985. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Bina Aksara. Jakarta. Mangoendidjodjo, W. 2003. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta. Sadjad, S. 1993. Kuantifikasi Metabolisme Benih. Gramedia, Jakarta. Subandi, I. M. 1990. Penelitian dan Teknologi Peningkatan Produksi Jagung di Indonesia. Balitbangtan. Departemen Pertanian. Jakarta Tjitrosoepomo, G. 1989. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada Press University Wurttemberg, HB. 1994. Biology I. Berlin : Cornelson Dpuck

×