LAPORAN PRAKTIKUM
MEKANISASI PERTANIAN

Oleh :
Abdul Mufti Putra
13011037

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS AGROINDUST...
LAPORAN PRAKTIKUM
MEKANISASI PERTANIAN

Oleh :
Abdul Mufti Putra
13011037

Laporan telah diterima sebagai persyaratan yang...
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya s...
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR ...........................................................................................
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Traktor Besar dan Bagian-bagiannya ........................................... 19
Gambar 2. Hand ...
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Lebar Kerja...........................................................................................
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan zaman dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan
teknologi memiliki dampak ya...
pertanian sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai mutu produk pertanian
lokal ( Reksohadiprojo, 1986 ).
Mekanisasi pert...
Diharapkan perubahan suatu sistem akan menghasilkan sesuatu yang
menguntungkan dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetap...
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Identifikasi Alat dan Mesin Pertanian
Alat dan mesin pertanian adalah berbagai alat dan mesin yan...
Traktor roda empat mempunyai kisaran daya motor penggerak
yang besar. Traktor yang biasa digunakan di taman/kebun
mempunya...
B. Bajak
Bajak adalah alat yang digunakan dalam pertanian awal untuk
budidaya di tanah untuk persiapan penanaman bibit ata...
memiliki beberapa kelebihan, antara lain : pembalikan tanah lebih
seragam pada tiap petak tanah yang diolah, lebih praktis...
kandungan unsur hara pada tanah dengan jalan lebih menghancurkan
sisa-sisa tanaman dan mencampurnya dengan tanah. Macam-ma...
penghancuran tanah, langkah penggaruan dapat dibedakan atas ;
penggaruan satu aksi (single action) dan penggaruan dua aksi...
c. Garu bergigi per (spring tooth harrow)
Garu bergigi per ini secara keseluruhan konstruksinya
hampir menyerupai garu ber...
merupakan alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka
pemberantasan dan pengendalian hama dan penyakit tu...
B. Kapasitas Kerja Lapang
Dalam pengolahan tanah, kecepatan penggarapan suatu lapang dengan
sebuah mesin merupakan salah s...
kecepatan maksimum dapat ditanganinya bahan secara efektif dengan
mesin tersebut.

c. Waktu Hilang
Waktu hilang merupakan ...
membajak ini paling sering dilakukan di lahan basah (sawah) dibandingkan
dengan lahan kering (ladang, pekarangan).
Membaja...
III. METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum mekanisasi pertanian ini dilaksanakan di UPT Kebun
Kaliuran...
singkal, bajak piringan, garu piringan, dan knapsack sprayer) pada
kertas yang telah disediakan.
3. Menggambar alat-alat t...
4. Operator traktor mulai melakukan pembajakan sampai selesai dititik
tengah lahan.
5. Penghitung waktu total mengaktifkan...
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Dari

praktikum

mekanisasi

pertanian

yang

telah

dilaksanakan,

didapatkan hasil se...
Jarak Antar Roda (mm)

:

- Depan

: 1200 mm

- Belakang

: 750 mm

Renggang dengan Tanah (mm)

: 230-300 mm

Ukuran Roda ...
6. Dudukan Rem
7. Gigi
8. Sambungan Depan
9. Mesin Traktor
10. Kursi Operator
11. Filter

2. Pengamatan Spesifikasi Hand T...
Ukuran Roda (mm)

:

Kapasitas Tangki (l)

: 5 Liter

Bahan Bakar

: Solar

Pelumas

:
- Mesin

: Oli

- Transmisi

: Oli
...
12. Tuas Persneling
13. Pengatur Gas
14. Kopling
15. Puly Mesin
16. Spenroll

3. Pengamatan Spesifikasi Bajak Singkal (Mol...
Gambar 3. Bajak Singkal dan Bagian-bagiannya

Keterangan :
1. Pembongkar tanah (Bajak)
2. Pembalik tanah (Singkal)
3. Peng...
Renggang Samping (mm)

:-

Berat (kg)

:-

Perlengkapan Bajak
Singkal Bajak (Coulter)

: Tidak

Jointer

: Tidak

Roda Alu...
Negara Pembuat/Tahun

: Indonesia

Jumlah Rangkaian (gang)

: 2 rangkaian

Jumlah Piringan/Rangkaian

:8

Jenis Piringan

...
4. Lubang sambung
5. Lubang gandeng
6. Piringan berlubang
7. Kerangka

6. Pengamatan Spesifikasi Knapsack Hand Sprayer
Nam...
Keterangan :
1. Pompa
2. Lubang memasukkan larutan
3. Tali pegangan di punggung
4. Manometer
5. Tangki
6. Kran penghubung ...
L1 =

–

x 100 %

L1 = 42,3 %

b. Waktu hilang karena slip
-

Diameter roda belakang traktor (D) = 76 cm = 0,76 m

-

Juml...
d. Waktu hilang karena macet
-

Waktu total (T) = 10 menit 18 detik = 618 detik

-

Waktu macet (T2) = 51 detik

-

Persen...
Dalam kaitannya dibidang pertanian, traktor merupakan sumber daya
dalam bidang pertanian. Traktor yang diidentifikasi pada...
Untuk alat pemeliharaan tanaman yang diidentifikasi yaitu knapsack
hand sprayer. Prinsip kerja alat ini adalah memecah cai...
sebesar 38%, untuk membelok sebesar 2,4%, karena macet/kerusakan sebesar
8,25% sehingga efisiensi kerja yang diperoleh seb...
berhenti , berarti penyetelan kopling tidak baik atau piringannya sudah aus.
Setelah traktor berhenti, segera netralkan gi...
V. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai
berikut :
1. Setiap alat dan mesin pertan...
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian Sumatera Selatan. 1993. Panduan Usaha Tani PIR
Perkebunan TEH. Dinas Perkebunan. Suma...
LAMPIRAN
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN FULL

15,842

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
15,842
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
385
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN FULL

  1. 1. LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN Oleh : Abdul Mufti Putra 13011037 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MERCUBUANA YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2013
  2. 2. LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN Oleh : Abdul Mufti Putra 13011037 Laporan telah diterima sebagai persyaratan yang diperlukan dalam menempuh praktikum Mekanisasi Pertanian Yogyakarta, 30 Desember 2013 Mengetahui/Menyetujui Dosen Pengampu Ir. Bambang Sriwijaya, M.P.
  3. 3. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Mekanisasi Pertanian ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk melengkapi nilai pada mata kuliah Mekanisasi Pertanian pada Fakultas Agroindustri Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Laporan ini dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Ir. Bambang Sriwijaya,MP., selaku dosen pengampu mata kuliah Mekanisasi Pertanian. 2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan dan do’a 3. Semua teman-teman dan sahabat-sahabat dari program studi agroteknologi angkatan 2013. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang membangun penulis butuhkan demi kesempurnaan laporan yang akan datang. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Yogyakarta, 30 Desember 2013 Penulis
  4. 4. DAFTAR ISI halaman KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... v DAFTAR TABEL ............................................................................................... vi I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang...................................................................................... 1 B. Maksud dan Tujuan ............................................................................. 3 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 4 A. Identifikasi Alat dan Mesin Pertanian ................................................ 4 B. Kapasitas Kerja Lapang....................................................................... 12 C. Membajak .............................................................................................. 13 III. METODE PRAKTIKUM ......................................................................... 15 A. Tempat dan Waktu Praktikum ........................................................... 15 B. Alat dan Bahan Praktikum .................................................................. 15 C. Cara Kerja ............................................................................................. 15 a. Mengidentifikasi Alat dan Mesin .................................................... 15 b. Membajak dengan Hand Traktor .................................................... 16 c. Menghitung Kapasitas Kerja Lapang dan Efisiensi Kerja ........... 16 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 18 A. Hasil ....................................................................................................... 18 B. Pembahasan ........................................................................................... 29 V. KESIMPULAN .......................................................................................... 34 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
  5. 5. DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Traktor Besar dan Bagian-bagiannya ........................................... 19 Gambar 2. Hand Traktor dan Bagian-bagiannya ............................................. 21 Gambar 3. Bajak Singkal dan Bagian-bagiannya............................................ 23 Gambar 4. Bajak Piringan dan Bagian-bagiannya.......................................... 24 Gambar 5. Garu Piringan dan Bagian-bagiannya ........................................... 25 Gambar 6. Knapsack Hand Sprayer dan Bagian-bagiannya ........................... 26
  6. 6. DAFTAR TABEL Tabel 1. Lebar Kerja........................................................................................... 27 Tabel 2. Jarak Lurus .......................................................................................... 28
  7. 7. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan zaman dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak yang luar biasa terhadap kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk berfikir akan selalu mengembangkan sesuatu hal agar menjadikan kehidupannya menjadi lebih baik. Oleh karena itu, proses perubahan akan terus berjalan. Pertanian merupakan sektor yang sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia sejak masa prasejarah hingga saat ini. Begitu juga dengan Indonesia, pertanian tidak bisa dilepaskan karena Indonesia sampai saat ini masih merupakan negara agraris. Meskipun saat ini Indonesia sedang bergerak menuju negara perindustrian, sektor pertanian masih memegang perekonomian Indonesia. Akan tetapi keadaan pertanian Indonesia saat ini bisa dikatakan kurang baik (Departemen Pertanian Sumsel, 1993). Pada awalnya, penerapan pertanian konvensional mampu meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia dan pangan secara nyata tetapi semakin lama efisiensi produksi semakin menurun karena pengaruh umpan balik berbagai dampak yang merugikan. Sifat produk pertanian yang mudah rusak dan kondisi lingkungan Indonesia dengan temperatur dan kelembaban yang tidak teratur akibat pemanasan global akan mempercepat proses kerusakan komoditas pertanian. Perlakuan yang buruk terhadap komoditas ketika didistribusikan juga memperburuk kualitas komoditas pertanian. Akibat hasil pertanian Indonesia yang buruk, produk impor lebih banyak beredar di masyarakat dibandingkan produk lokal. Hal ini menunjukkan masyarakat lebih mempercayai kualitas produk pertanian impor daripada produk pertanian dalam negeri. Hal ini mengakibatkan kerugian besar bagi petani, karena hasil pertaniannya tidak dikonsumsi oleh masyarakat sehingga berakibat pada siklus pertanian selanjutnya. Karena jika tidak ada yang mengonsumsi hasil pertanian petani maka tidak ada umpan balik untuk siklus pertanian berikutnya karena kurangnya modal. Jadi, peningkatan teknologi
  8. 8. pertanian sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai mutu produk pertanian lokal ( Reksohadiprojo, 1986 ). Mekanisasi pertanian diartikan sebagai pengenalan dan penggunaan dari setiap bantuan yang bersifat mekanis untuk melangsungkan operasi pertanian. Bantuan yang bersifat mekanis tersebut termasuk semua jenis alat atau perlengkapan yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, dan sumber energi lainnya. Secara umum mekanisasi pertanian dapat juga diartikan sebagi penerapan ilmu teknik untuk mengembangkan, mengorganisasi, dan mengendalikan operasi di dalam produksi pertanian. (Daywin,dkk, 1976). Ruang lingkup mekanisasi pertanian juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan modernisasi pertanian. Ada pula yang mengartikan bahwa pada saat ini teknologi mekanisasi yang digunakan dalam proses produksi sampai pasca panen (penanganan dan pengolahan hasil) bukan lagi hanya teknologi yang didasarkan pada energi mekanis. Jenis teknologi tersebut digunakan baik untuk proses produksi, pemanenan, dan penanganan atau pengolahan hasil pertanian. ( Yunus, 2004 ). Mekanisasi pertanian bertujuan untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja, meningkatkan produktifitas lahan, dan menurunkan ongkos produksi. Penggunaan alat dan mesin pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban kerja petani. Pengembangan teknologi pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat kita umumnya dan petani khususnya. (Hardjosentono,dkk, 2000). Sesuai dengan definisi dari mekanisasi pertanian (agriculture mechanization), maka penggunaan alat mekanisasi pertanian adalah untuk meningkatkan daya kerja manusia dalam proses produksi pertanian dan dalam setiap tahapan dari proses produksi tersebut selalu memerlukan alat mesin pertanian (Sukirno, 1999). Setiap perubahan usaha tani melalui mekanisasi didasari tujuan tertentu yang membuat perubahan tersebut bisa dimengerti, logis, dan dapat diterima.
  9. 9. Diharapkan perubahan suatu sistem akan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum, tujuan mekanisasi pertanian adalah : a) mengurangi kejerihan kerja dan meningkatkan efisiensi tenaga manusia b) mengurangi kerusakan produksi pertanian c) menurunkan ongkos produksi d) menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas produksi e) meningkatkan taraf hidup petani f) memungkinkan pertumbuhan ekonomi subsisten (tipe pertanian kebutuhan keluarga) menjadi tipe pertanian komersil (comercial farming). Tujuan tersebut di atas dapat dicapai apabila penggunaan dan pemilihan alat mesin pertanian tepat dan benar, tetapi apabila pemilihan dan penggunaannya tidak tepat hal sebaliknya yang akan terjadi (Rizaldi, 2006). B. Maksud dan Tujuan Secara umum, tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1) Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi berbagai macam alat dan mesin pertanian. 2) Agar mahasiswa mampu mengoperasikan alat maupun mesin pertanian dengan terampil, aman dan benar di lapangan. 3) Agar mahasiswa mampu mengukur kapasitas kerja lapang 4) Agar mahasiswa mengetahui kemampuan kerja dari suatu mesin pertanian
  10. 10. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Identifikasi Alat dan Mesin Pertanian Alat dan mesin pertanian adalah berbagai alat dan mesin yang digunakan dalam usaha pertanian. Alat dan mesin (alsin) pertanian dikelompokkan menjadi dua : alsin budidaya tanaman dan alsin pengolahan hasil pertanian. Alsin budidaya pertanian adalah alsin yang digunakan untuk produksi tanaman dan ternak. Contoh alsin untuk produksi tanaman adalah alsin pengolah tanah, mesin tanam, sprayer, mesin pemanen, dan sebagainya. Contoh alsin budidaya ternak adalah alsin penyiapan pakan, aerator, pemerah susu, dan sebagainya. Alsin pengolahan hasil pertanian adalah alsin yang digunakan untuk menangani atau mengolah hasil tanaman atau hasil ternak. Contoh alsin penanganan dan pengolahan hasil tanaman dan ternak adalah Rice Milling Unit, pengering, thresher, mesin sortasi, mesin pengolah biji sawit, dan sebagainya. (Djoyowasito, 2002). 1. Alat dan Mesin Pengelola Tanah Secara umum, tujuan mengelola tanah adalah menghilangkan tanaman pengganggu, memperbaiki struktur tanah, meratakan tanah, dan menurunkan erosi. Alat yang digunakan untuk mengelola tanah diantaranya ; traktor, bajak, dan garu. A. Traktor Traktor merupakan sumber tenaga yang penting dalam pertanian modern. Traktor pertanian dapat digolongkan menjadi dua golongan besar yaitu traktor roda empat (traktor besar) dan traktor roda 2 (Hand Traktor). a. Traktor Roda 4 (Traktor Besar) Traktor roda empat adalah mesin berdaya gerak sendiri berupa motor diesel beroda empat (ban karet atau ditambah roda sangkar yang terbuat dari baja) mempunyai tiga titik gandeng yang berfungsi untuk menarik, menggerakan mengangkat, mendorong alat dan mesin pertanian dan juga sebagai sumber daya gerak.
  11. 11. Traktor roda empat mempunyai kisaran daya motor penggerak yang besar. Traktor yang biasa digunakan di taman/kebun mempunyai daya sekitar 11 kW (15 hp). Traktor ini di pasaran biasa disebut traktor mini atau traktor kebun. Traktor raksasa yang biasa digunakan di perkebunan yang luas mempunyai daya sampai 150 kW (200 hp). Namun begitu, biasanya traktor roda empat yang biasa digunakan mempunyai daya antara 30 – 60 kW (40 - 80 hp). Traktor roda empat merupakan mesin yang berfungsi untuk penghela atau pcnarik peralatan. Traktor roda empat dioperasikan oleh operator yang duduk di atas tempat duduk sambil mengemudikannya. Peralatan pengolah tanah dipasangkan atau disambungkan dengan traktor melalui perangkat yang disebut three hitch point atau penyambungan titik tiga, yang terdiri sepasang garpu kiri dan kanan, sedangkan satu tuas lainnya berada di bagian atas sistem penyambungan titik tiga, disebut top link (tuas penyambung bagian atas). Perawatan traktor roda empat perlu dilakukan secara rutin dan perawatnya perlu mengenali bagian bagian traktor dan fungsinya masing-masing. b. Traktor Roda 2 (Hand Traktor) Traktor roda 2 merupakan alat pengolah tanah utama saat ini. Hal ini mengingat ternak kerja sudah sangat berkurang. Traktor roda 2 ini digunakan untuk mengolah tanah pada tahap pertama sehingga siap untuk ditanami. Traktor roda dua dilihat dari penghubungan dengan perlengkapannya terdiri dari dua tipe yaitu tipe hitch dan tipe rotary. Pada tipe rotary apabila unit rotarynya dilepas maka dapat dipasangi hitch untuk menarik peralatan. Peralatan yang dapat dipasang pada hitch adalah bajak singkal, bajak parabola, garu, gelebek, dan ridger (Sukirno, 1999).
  12. 12. B. Bajak Bajak adalah alat yang digunakan dalam pertanian awal untuk budidaya di tanah untuk persiapan penanaman bibit atau tanaman. Ia telah menjadi instrumen dasar bagi sebagian besar dari rekaman sejarah, dan merupakan salah satu kemajuan besar di sektor pertanian. Beberapa macam bajak yang sering digunakan diantaranya bajak singkal, bajak piringan, dan bajak chisel. a. Bajak Singkal (Molboard Plow) Bajak singkal termasuk bajak yang paling tua. Di Indonesia bajak singkal inilah yang paling sering digunakan oleh petani untuk melakukan pengolahan tanah, dengan tenaga ternak hela sapi atau kerbau sebagai sumber daya penariknya. Secara umum bajak singkal dibedakan atas 2 jenis, yaitu bajak singkal satu arah (one-way moldboard plow) dan bajak singkal dua arah (two-way moldboard plow). Bajak singkal satu arah adalah jenis bajak singkal dimana pada waktu pengolahan tanah akan melempar dan membalik tanah hanya pada satu arah saja. Sedangkan bajak singkal 2 arah pada waktu mengolah tanah arah pelemparan atau pembalikan tanah dapat diatur 2 arah, yaitu ke kanan dan ke kiri. Bagian-bagian utama dari bajak singkal yang aktif mengolah tanah adalah pisau bajak (share), singkal (moldboard) dan penstabil bajak (landside). Untuk meyempurnakan hasil kerjanya, selain bagian-bagian utama di atas, bajak singkal juga dilengkapi dengan perlengkapan tambahan, yaitu roda alur penstabil (furrow wheel), roda dukung (land wheel), kolter, jointer dan kerangka (Pratomo, dkk. 1983). Furrow wheel berfungsi untuk menjaga kestabilan pembajakan. Land wheel berfungsi untuk mengatur kedalaman sehingga kedalamannya konstan. Kolter berfungsi untuk memotong seresah dan memotong tanah ke arah vertikal sehingga pembalikan tanah menjadi lebih Penggunaan bajak singkal ini
  13. 13. memiliki beberapa kelebihan, antara lain : pembalikan tanah lebih seragam pada tiap petak tanah yang diolah, lebih praktis untuk pengolahan tanah sistem kontur, tidak menimbulkan alur mati (dead furrow) atau alur punggung (back furrow) sehingga pembajakan lebih rata. Bajak singkal dapat dipergunakan untuk mengait dan mencacah gulma, serta pembajakan di bawah vegetasi hijau yang tinggi. Bajak ini bekerja dengan ditarik oleh penggandeng misalnya traktor (Winarno, 1994). b. Bajak Piringan (Disk Plow) Bajak piringan fungsinya sama dengan bajak singkal, yaitu untuk pengolahan tanah pertama tetapi singkalnya diganti dengan piringan. Piringan bulat seperti parabola dan berfungsi untuk memotong dan membalik tanah. c. Bajak Pahat (Chisel Plow) Alat ini berbentuk tajak yang disusun pada suatu rangka. Digunakan untuk memecah tanah yang keras sampai kedalaman sekitar 18 inci. Diperlengkapi dengan 2 buah roda yang berguna untuk transportasi dan mengatur kedalaman pemecah tanah. Jarak antara tajak dapat beragam dari 1 sampai 2 inci. Alat ini, tidak membalik tanah seperti bajak yang lain, tapi hanya memecah tanah dan sering digunakan sebelum pembajakan tanah dimulai C. Garu (Harrow) Alat dan mesin pertanian yang digunakan untuk melakukan pengolahan tanah kedua adalah alat pengolahan tanah jenis garu (harrow). Penggunaan garu sebagai pengolah tanah kedua, selain bertujuan untuk lebih meghancurkan dan meratakan permukaan tanah hingga lebih baik untuk pertumbuhan benih maupun tanaman, juga bertujuan untuk mengawetkan lengas tanah dan meningkatkan
  14. 14. kandungan unsur hara pada tanah dengan jalan lebih menghancurkan sisa-sisa tanaman dan mencampurnya dengan tanah. Macam-macam garu yang digunakan untuk pengolahan tanah kedua adalah garu piringan (disk harrow); garu bergigi paku (spikes tooth harrow); garu bergigi per (springs tooth harrow); dan garu-garu untuk pekerjaan khusus (special harrow) (Pratomo, dkk. 1983). a. Garu piringan (disk harrow) Pada prinsipnya peralatan pengolahan tanah ini hampir menyerupai bajak piringan, khususnya bajak piringan vertikal. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran, kecekungan dan jumlah piringannya. Garu piringan mempunyai ukuran dan kecekungan piringan yang lebih kecil dibandingkan dengan bajak, hal ini disebabkan pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan tidak diperlukan pembalikan tanah yang efektif seperti pengolahan tanah pertama. Selanjutnya karena draft penggaruan lebih kecil dari draft pembajakan, maka dengan besar daya penarikan yang sama, lebar kerja garu akan lebih besar dibandingkan dengan lebar kerja bajak, dengan demikian jumlah piringan garu piringan dengan sendirinya akan lebih banyak dibandingkan dengan bajak piringan. Seperti bajak piringan, bagian-bagian utama dari garu piringan terdiri atas: piringan, poros piringan, penggarak piringan, kerangka. Kadang kala dilengkapi pula dengan roda dukung, apabila sistem penggandengan dengan daya penariknya menggunakan sistem hela (trailing). Garu piringan biasanya tidak dilengkapi dengan roda alur penstabil. Beberapa piringan dari garu piringan dirangkai menjadi satu rangkaian dengan menggunakan satu poros, rangkaianrangkaian ini biasa disebut sebagai rangkaian piringan (diskgang). Konstruksi garu piringan umumnya terdiri atas dua rangkaian piringan atau empat rangkaian piringan. Ditinjau dari proses
  15. 15. penghancuran tanah, langkah penggaruan dapat dibedakan atas ; penggaruan satu aksi (single action) dan penggaruan dua aksi (double action). Didasarkan atas uraian di atas, garu piringan dibedakan atas garu piringan dua rangkaian satu aksi (single action two gang disk harrow); garu piringan dua rangkaian dua aksi (double action two gang disk harrow); garu piringan empat rangkaian dua aksi atau biasanya disebut tandem (tandem disk harrow). b. Garu bergigi paku (spikes tooth harrow) Garu bergigi paku atau biasa disebut sebagai garu sisir, adalah jenis garu yang sudah umum digunakan petani di Indonesia. Garu sisir yang ditarik hewan, umumnya giginya terbuat dari kayu dan biasa digunakan untuk pengolahan tanah sawah dalam keadaan basah, sebagai pekerjaan lanjutan setelah tanah diolah dengan bajak singkal. Garu bergigi paku yang ditarik dengan tenaga traktor gigi-giginya terbuat dari bahan logam, dipasang pada batang penempatan (tooth bar) dengan di klem atau di las. Konstruksi garu bergigi paku yang ditarik dengan tenaga traktor biasanya terdiri dari satu batang penempatan. Pemasangan gigi pada batang penempatan disusun berselang-seling antara batang penempatan yang satu dengan lainnya. Bentuk gigi paku sangat bervariasi ada yang lurus runcing dan ada yang pipih, ada pula yang berbentuk blimbingan (diamond shape). Garu bergigi paku terutama digunakan untuk meratakan dan menghaluskan tanah sesudah pembajakan, lebih cocok digunakan untuk tanah yang mudah hancur. Alat ini cukup efektif untuk memberantas tanaman pengganggu khususnya yang masih kecil-kecil, atau baru tumbuh.
  16. 16. c. Garu bergigi per (spring tooth harrow) Garu bergigi per ini secara keseluruhan konstruksinya hampir menyerupai garu bergigi paku, hanya gigi-giginya terbuat dari per atau pegas. Juga digunakan untuk meratakan dan menghaluskan tanah sesudah pembajakan. Alat ini juga lebih sesuai digunakan untuk tanah yang mudah dihancurkan. Cocok untuk memberantas gulma yang mempunyai perakaran yang cukup kuat dan dalam. Hal ini dikarenakan garu bergigi per mempunyai penetrasi kedalaman yang lebih besar dibandingkan dengan garu bergigi paku. Dari sifatnya yang lentur dan bentuknya yang lengkung akan dapat mengangkat atau mencabut akar-akar tanaman sehingga terlempar keluar ke permukaan tanah. d. Garu-garu khusus (special harrow) Jenis garu-garu khusus, biasanya digunakan untuk mengerjakan pengolahan tanah dengan tujuan yang lebih khusus. Sebagai misal, pengolahan tanah dengan tujuan khusus untuk memusnahkan tanaman pengganggu, menghancurkan seresah, atau untuk menggemburkan tanah secara intensif, atau mungkin bertujuan untuk membuat bedengan (seed bed) yang lebih layak. Penggunaan garu-garu khusus biasanya dilakukan setelah pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua. Macammacam garu khusus antara lain adalah : pencacah gulma atau seresah (weeder mulcher); garu potong putar (rotary cross harrow); penggemburan tanah (soil surgeon). 2. Alat dan Mesin Pemeliharaan Tanaman Setelah tanaman ditanam, maka tanaman tersebut butuh pemeliharaan. Salah satu alat pemeliharaan tanaman adalah alat penyemprot (sprayer). Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau suspensi menjadi butiran cairan (droplets) atau spray. Sprayer
  17. 17. merupakan alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama dan penyakit tumbuhan. Sprayer juga didefinisikan sebagai alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan (Tarmana, 1976). Alat penyemprot memiliki banyak jenis, jika kita lihat dari sumber tenaganya, alat ini dibagi atas : a. Alat penyemprot tenaga tangan - Atomizer (Hand Sprayer) - Alat penyemprot jenis udara bertekanan (Compressed Air Sprayer) - Alat penyemprot jenis gendong (Knapsack Sprayer) b. Alat penyemprot bertenaga motor (Power Sprayer) - Alat penyemprot hidrolik (Hidrolic Sprayer) - Alat penyemprot blower (Blower Sprayer), biasanya digunakan pada areal perkebunan yang luas, dengan mesin ini hembusan udara bertekanan tinggi menyemprotkan bahan kimia dari mesin ke pohon , dimana cairan kimia dirubah menjadi partikel halus oleh aliran udara yang kuat. Fungsi utama sprayer adalah untuk memecahkan cairan yang disemprotkan menjadi tetesan kecil (droplet) dan mendistribusikan secara merata pada objek yang dilindungi. Kegunaan khusus sprayer sebagai berikut: - Menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama. - Menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit. - Menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma. - Menyemprotkan pupuk cairan. - Menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu.
  18. 18. B. Kapasitas Kerja Lapang Dalam pengolahan tanah, kecepatan penggarapan suatu lapang dengan sebuah mesin merupakan salah satu dasar pertimbangan menghitung biaya pengerjaan dan efisiensi dalam pengolahan lahan. Dalam hal ini ada beberapa istilah yang digunakan yaitu : a. Kapasitas lapang teoritis Kapasitas lapang teoritis sebuah alat ialah kecepatan penggarapan lahan yang akan diperoleh seandainya mesin tersebut melakukan kerjanya memanfaatkan 100 % waktunya, pada kecepatan maju teoritisnya dan selalu memenuhi 100 % lebar kerja teoritisnya. Waktu per hektar teoritis ialah waktu yang dibutuhkan pada kapasitas lapang teoritis tersebut. Waktu kerja efektif ialah waktu sepanjang mana mesin secara aktual melakukan fungsi/kerjanya. Waktu kerja efektif per hektar akan lebih besar dibanding waktu kerja teoritik per hektar jika lebar kerja terpakai lebih kecil dari lebar kerja teoritisnya. b. Kapasitas lapang efektif Kapasitas lapang efektif ialah rerata kecepatan penggarapan yang aktual menggunakan suatu mesin, didasarkan pada waktu lapang total sebagaimana didefinisikan pada Bagian 2. Kapasitas lapang efektif biasanya dinyatakan dalam hektar per jam. Kapasitas lapang efektif suatu alat merupakan fungsi dari lebar kerja teoritis mesin, prosentase lebar teoritis yang secara aktual terpakai, kecepatan jalan dan besarnya kehilangan waktu lapang selama pengerjaan. Dengan alat-alat semacam garu, penyiang lapang,pemotong rumput dan pemanen padu, secara praktis tidak mungkin untuk memanfaatkan lebar teoritisnya tanpa adanya tumpang tindih Kecepatan maju terbesar yang diijinkan berkaitan dengan faktorfaktor semacam sifat pengerjaan, kondisi lapang, dan besarnya daya tersedia. Untuk alat pemanen, faktor pembatasnya boleh jadi ialah
  19. 19. kecepatan maksimum dapat ditanganinya bahan secara efektif dengan mesin tersebut. c. Waktu Hilang Waktu hilang merupakan variabel yang paling sulit dinilai dalam hubungannya dengan kapasitas lapang.Waktu lapang bisa hilang akibat penyetelan / pembetulan atau pelumasan alat, kerusakan, penggumpalan, belok di ujung, dsb. Dalam kaitannya dengan kapasitas lapang efektif dan efisiensi lapang, waktu hilang tidak mencakup waktu pemasangan atau perawatan harian alat, ataupun waktu hilang akibat kerusakan yang berat. Waktu hilang hanya mencakup waktu untuk perbaikan kecil di lapang dan waktu untuk pelumasan yang dibutuhkan di luar perawatan harian, di samping hal-hal lain seperti diuraikan di depan. Waktu lapang total dianggap sama dengan jumlah waktu kerja efektif ditambah waktu hilang. Waktu yang dipakai untuk perjalanan dari dan ke lapang biasanya tercakup dalam menggambarkan biaya overall dari suatu pengerjaan, namun tak diperhitungkan ketika menentukan kapasitas lapang efektif atau efisiensi lapang. d. Efisiensi lapang Efisiensi lapang ialah perbandingan antara kapasitas lapang efektif dengan kapasitas lapang teoritis, dinyatakan dalam persen. Efisiensi lapang melibatkan pengaruh waktu hilang di lapang dan ketakmampuan untuk memanfaatkan lebar teoritis mesin. C. Membajak Membajak tanah adalah sebuah proses kegiatan dalam pengolahan tanah yang dilakukan di masa tanam. Kegiatan ini merupakan proses yang tidak bisa ditinggalkan dalam rangka menyuburkan kembali tanah yang sebelumnya sudah dipakai. Sebagaimana kita ketahui, unsur hara dalam tanah itu sangat terbatas, sehingga perlu upaya penggemburan setelah masa panen. Kegiatan
  20. 20. membajak ini paling sering dilakukan di lahan basah (sawah) dibandingkan dengan lahan kering (ladang, pekarangan). Membajak tanah berarti melakukan pembalikan tanah dengan alat seperti cangkul, garu, waluku dan traktor. Pembalikan tanah biasanya sampai kedalaman 30-50 cm, tergantung jenis tanah yang dimiliki oleh petani. Setelah dilakukan pembalikan maka tanah harus diratakan sampai halus agar bisa jadi media tanam yang baik. Proses membajak tanah akan kelihatan berhasil jika pertumbuhan tanaman kelihatan baik. Media tanam harus dipastikan mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Fase membajak tanah merupakan tahap yang paling banyak menghabiskan tenaga para petani, beaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. hampir 40% beaya produksi dihabiskan pada fase pengolahan tanah ini. Pada tanaman padi, para petani sering kali harus segera menjual hasil panennya atau bahkan terjerat utang dikarenakan petani membutuhkan uang tunai untuk membayar pekerja dalam pengolahan tanah. Melakukan kegiatan membajak sawah sebenarnya memiliki makna yang cukup dalam, dimana petani harus mengerti bahwa untuk menghasilkan produksi yang baik, diperlukan media tanam yang bagus. Benih yang unggul akan menjadi percuma jika lingkungannya tidak mendukung. Pola pertanian sawah di Indonesia, khususnya jawa, dimana pada sawah yang beririgasi hampir tiap tahun panen 3 kali cukup menguras bahan-bahan organik yang terkandung dalam tanah. hal ini berdampak pada semakin menurunnya kesuburan tanah dengan ditandai tekstur tanah yang semakin keras dan tandus. Bahkan di musim kemarau akan terlihat sekali tanah tersebut mengalami retak-retak yang cukup besar. Kondisi ini diperparah dengan pemakaian pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan.
  21. 21. III. METODE PRAKTIKUM A. Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum mekanisasi pertanian ini dilaksanakan di UPT Kebun Kaliurang Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada tanggal 25 Oktober 2013, 01 November 2013, dan 08 November 2013. B. Alat dan Bahan Praktikum a. Alat - Traktor Roda 4 (Traktor Besar) - Traktor Roda 2 (Hand Traktor) - Bajak Singkal - Bajak Piringan - Garu Piringan - Knapsack Sprayer - Roll Meter - Stopwatch - Patok-Patok - Alat Tulis b. Bahan - Kertas - Lahan Percobaan C. Cara Kerja: a. Mengidentifikasi Alat dan Mesin 1. Dosen memberikan penjelasan nama-nama alat dan bagian-bagiannya kepada mahasiswa. 2. Mencatat informasi yang ada pada alat dan mesin pertanian yang ada di gudang UPT Kebun UMBY (traktor roda 4, traktor roda 2, bajak
  22. 22. singkal, bajak piringan, garu piringan, dan knapsack sprayer) pada kertas yang telah disediakan. 3. Menggambar alat-alat tersebut beserta bagian-bagiannya pada kertas yang telah disediakan. b. Membajak dengan Hand Traktor 1. Memeriksa kondisi Hand Traktor sebelum digunakan untuk membajak. Jika traktor dalam keadaan baik, bawa ke lahan percobaan. 2. Memasang bajak singkal pada kaitan di Hand Traktor 3. Menghidupkan diesel Hand Traktor dengan cara diengkol 4. Memegang stang kemudi dengan sedikit menekannya sampai batas pinggang agar diperoleh keseimbangan, pasangkanlah tuas perseneling pada kecepatan yang diinginkan, dengan satu tangan masih memegang stang kemudi tangan yang lainnya memasangkan kopling utama sehingga traktor bergerak 5. Mengikuti gerak traktor dengan melangkah, membelokkan arah dapat dilakukan dengan menekan kopling pada stang kemudi. Bila belok kekanan maka tekanlah tuas kopling yang kanan dan begitu juga sebaliknya 6. Membajak lahan dimulai dari tepi sampai berhenti ditengah-tengah lahan. c. Menghitung Kapasitas Kerja Lapang dan Efisiensi Kerja 1. Membagi anggota kelompok untuk bertugas sebagai penghitung waktu total, penghitung waktu belok, penghitung waktu macet, pengukur lebar kerja, penghitung jarak 5 kali putaran roda, dan pencatat data pengujian. 2. Mengukur panjang dan lebar lahan yang akan dibajak 3. Menghidupkan traktor dan menempatkannya pada salah satu sisi pojok bidang olah sebagai tempat awal mulainya traktor bekerja
  23. 23. 4. Operator traktor mulai melakukan pembajakan sampai selesai dititik tengah lahan. 5. Penghitung waktu total mengaktifkan stopwacth saat traktor membajak dan menghentikannya sampai traktor selesai membajak. 6. Penghitung waktu belok mencatat waktu saat traktor berada dibelokan dan bajak tidak menyentuh tanah. 7. Penghitung waktu macet mencatat waktu saat traktor berhenti karena mengalami masalah saat sedang membajak. 8. Pengukur lebar kerja mengukur jarak lebar kerja dari traktor sebanyak 3 kali. 9. Penghitung jarak menghitung jarak 5 putaran roda traktor sebanyak 5 kali. 10. Semua data yang diperoleh dicatat oleh pencatat data dan direkap 11. Melakukan perhitungan dan analisis terhadap data yang diperoleh
  24. 24. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Dari praktikum mekanisasi pertanian yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut : 1. Pengamatan Spesifikasi Traktor Besar Nama : Traktor Besar Merk : Juff Bilt Model/Tipe :- Negara Pembuat/Tahun : Amerika/- Motor Penggerak Nama : Mesin Diesel Merk :- Model/Tipe : D8/8 HP/RPM :- Jumlah Silinder :1 Volume Silinder (cc) :- Perbandingan Kompresi :-:- Urutan Penyalaan :- Sistem Pendinginan : Radiator Sistem Pelumasan : Oli Sistem Transmisi : Roda Gigi - Kopling :- - PTO :- - Persneling :- Ukuran Traktor Panjang/Lebar/Tinggi (cm) : 300 cm/116 cm/140 cm Berat (kg) :- Jarak Poros Roda (mm) : 1160 mm
  25. 25. Jarak Antar Roda (mm) : - Depan : 1200 mm - Belakang : 750 mm Renggang dengan Tanah (mm) : 230-300 mm Ukuran Roda (mm) : - Depan : 450 mm - Belakang : 950 mm Kapasitas Tangki (l) : 5 Liter Bahan Bakar : Solar Pelumas : - Mesin : Oli - Transmisi : Oli - Saringan Udara : Oli Gambar 1. Traktor Besar dan Bagian-bagiannya Keterangan : 1. Roda Besar (Utama) 2. Roda Depan 3. Stir Traktor 4. Bajak 5. Tangki Bahan Bakar
  26. 26. 6. Dudukan Rem 7. Gigi 8. Sambungan Depan 9. Mesin Traktor 10. Kursi Operator 11. Filter 2. Pengamatan Spesifikasi Hand Traktor Nama : Hand Traktor Merk : Quick Model/Tipe : G-3000/Stering Clution Negara Pembuat/Tahun : Indonesia/- Motor Penggerak Nama : Diesel Merk : Kubota Model/Tipe : RD 85 DI/Direct Injection HP/RPM : 8,5-10,5/1000 Volume Silinder (cc) :- Perbandingan Kompresi :-:- Sistem Pendinginan :- Sistem Pelumasan : Oli Sistem Transmisi : Gear Chain - Kopling : Ada - Persneling : Ada Ukuran Traktor Panjang/Lebar/Tinggi (cm) : 275 cm/113 cm/95 cm Berat (kg) :- Jarak Antar Roda (mm) : Renggang dengan Tanah (mm) : 230-300 mm
  27. 27. Ukuran Roda (mm) : Kapasitas Tangki (l) : 5 Liter Bahan Bakar : Solar Pelumas : - Mesin : Oli - Transmisi : Oli - Saringan Udara : Kering Gambar 2. Hand Traktor dan Bagian-bagiannya Keterangan : 1. Pegangan (Handling) 2. Roda 3. Knalpot 4. Motor Penggerak Roda (Puly) 5. Standard 6. Tangki Bahan Bakar 7. Tutup Tangki 8. Tutup Pendingin 9. Pen Belt 10. Tuas Standar 11. Pengait Bajak
  28. 28. 12. Tuas Persneling 13. Pengatur Gas 14. Kopling 15. Puly Mesin 16. Spenroll 3. Pengamatan Spesifikasi Bajak Singkal (Molboard Plow) Nama : Bajak Singkal (Molboard Plow) Merk : Quick Model/Tipe : Hand Traktor 6900 Negara Pembuat/Tahun : Indonesia Cara Penggandengan : Menempel pada traktor (Mounted) Ukuran Panjang/Lebar/Tinggi (cm) : 66 cm/40 cm/65 cm Renggang Bawah (mm) :- Renggang Samping (mm) :- Berat (kg) :- Perlengkapan Bajak Singkal Bajak (Coulter) : Ada Jointer : Tidak Roda Alur (Furrow Wheel) : Tidak Roda Dukung (Land Wheel) : Tidak
  29. 29. Gambar 3. Bajak Singkal dan Bagian-bagiannya Keterangan : 1. Pembongkar tanah (Bajak) 2. Pembalik tanah (Singkal) 3. Pengunci 4. Pengatur kedalaman 5. Pengait dengan traktor 6. Landside 7. Kerangka 4. Pengamatan Spesifikasi Bajak Piringan (Disk Plow) Nama : Bajak Piringan (Disk Plow) Merk : Quick Model/Tipe :- Negara Pembuat/Tahun : Indonesia Cara Penggandengan : Menempel pada traktor (Mounted) Ukuran Panjang/Lebar/Tinggi (cm) : 110 cm/40 cm/57 cm Renggang Bawah (mm) :-
  30. 30. Renggang Samping (mm) :- Berat (kg) :- Perlengkapan Bajak Singkal Bajak (Coulter) : Tidak Jointer : Tidak Roda Alur (Furrow Wheel) : Ada Roda Dukung (Land Wheel) : Tidak Gambar 4. Bajak Piringan dan Bagian-bagiannya Keterangan : 1. Roda Alur 2. Roda Piringan 3. Pengait dengan traktor 4. Kerangka 5. Pengamatan Spesifikasi Garu Piringan (Disk Harrow) Nama : Garu Piringan (Disk Harrow) Merk : Quick Model/Tipe :-
  31. 31. Negara Pembuat/Tahun : Indonesia Jumlah Rangkaian (gang) : 2 rangkaian Jumlah Piringan/Rangkaian :8 Jenis Piringan : Piringan Berlubang Diameter Piringan (cm) : 40 cm Lebar Kerja Garu :- Cara Penggandengan : Menempel pada traktor (Mounted) Ukuran Panjang/Lebar/Tinggi (cm) : 120 cm/55 cm/55 cm Berat :- Perlengkapan Garu Roda Alur (Furrow Wheel) : Ada Roda Dukung (Land Wheel) : Ada Gambar 5. Garu Piringan dan Bagian-bagiannya Keterangan : 1. Garu piringan 2. Setelan utama 3. Setelan garu piringan
  32. 32. 4. Lubang sambung 5. Lubang gandeng 6. Piringan berlubang 7. Kerangka 6. Pengamatan Spesifikasi Knapsack Hand Sprayer Nama : Knapsack Hand Sprayer Merk : SWAN Model/Tipe/Nomor Seri : -/SWA 14/152877 Negara Pembuat/Tahun : Indonesia Jenis Nosel/Pengabut : Double Nosel Volume Tangki Obat (l) 3 Tekanan Kerja (kg/cm ) : 14 Liter : 10 kg/cm3 Ukuran Panjang/Lebar/Tinggi (cm) : - /64 cm/62 cm Berat : 10 kg Gambar 6. Knapsack Hand Sprayer dan Bagian-bagiannya
  33. 33. Keterangan : 1. Pompa 2. Lubang memasukkan larutan 3. Tali pegangan di punggung 4. Manometer 5. Tangki 6. Kran penghubung selang dengan tangki 7. Penyangga tubuh 8. Nosel 9. Pipa Nosel 10. Corong 11. Kran penghubung selang dengan pipa nosel 12. Selang 13. Penghubung selang ke kran tangki 14. Pegangan (Grip) 7. Perhitungan Kapasitas Kerja Lapang a. Waktu hilang karena lebar kerja (overlapping) - Lebar bajak/lebar kerja teoritis (W1) = 52 cm = 0,52 m - Lebar kerja efektif di lapangan (W2) = 0,3 m Tabel 1. Lebar Kerja Ulangan Jarak lebar kerja (m) 1 0,6 2 0,7 3 0,9 Jumlah Rata-rata - Lebar kerja (m) 0,6 0,1 0,2 0,9 0,3 Persen waktu hilang karena overlapping (L1) L1 = x 100 %
  34. 34. L1 = – x 100 % L1 = 42,3 % b. Waktu hilang karena slip - Diameter roda belakang traktor (D) = 76 cm = 0,76 m - Jumlah putaran roda belakang (N) = 5 - Jarak lurus (L) = 7,4 m Tabel 2. Jarak Lurus Ulangan 1 2 3 4 5 Jumlah Rata-rata - Jarak Lurus (m) 7,3 6,2 8,7 7,35 7,53 37,08 7,4 Persen waktu hilang karena slip (L2) L2 = x 100 % L1 = x 100 % L1 = 38 % c. Waktu hilang untuk membelok - Waktu total (T) = 10 menit 18 detik = 618 detik - Waktu belok (T1) = 15 detik - Persen waktu hilang karena membelok (L3) L3 = L1 = x 100 % x 100 % L1 = 2,4 %
  35. 35. d. Waktu hilang karena macet - Waktu total (T) = 10 menit 18 detik = 618 detik - Waktu macet (T2) = 51 detik - Persen waktu hilang karena macet (L4) L4 = L1 = x 100 % x 100 % L1 = 8,25 % e. Efisiensi kerja - L1 = 42,3 % = 0,423 - L2 = 38 % - L3 = 2,4 % = 0,024 - L4 = 8,25 % = 0,0825 = 0,38 Efisiensi kerja = (1 – L1) (1 – L2) (1 – L3 – L4) x 100% Efisiensi kerja = (1 – 0,423) (1 – 0,38) (1 – 0,024 – 0,0825) x 100% Efisiensi kerja = (0,577) (0,62) (0,8935) x 100% Efisiensi kerja = 31,96 % B. Pembahasan Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan informasi bahwa setiap alat dan mesin pertanian mempunyai bagian dan kegunaannya masingmasing di dalam kaitannya untuk dapat menjalankan usaha pemeliharaan, perbaikan dan penggunaannya di lapangan. Dalam praktikum mengidentifikasi alat dan mesin pertanian, mahasiswa mengidentifikasi traktor roda empat, hand traktor, bajak singkal, bajak piringan, garu piringan, dan knapsack hand sprayer. Agar penggunaan alat dan mesin tersebut nantinya dapat digunakan secara efektif dan efisien, maka diperlukan pengetahuan mengenai watak laku teknis dari alat dan mesin, mulai dari bagian beserta fungsi hingga operasionalnya.
  36. 36. Dalam kaitannya dibidang pertanian, traktor merupakan sumber daya dalam bidang pertanian. Traktor yang diidentifikasi pada praktikum ini yaitu traktor roda empat dan hand traktor. Pada dasarnya masing-masing traktor mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Namun pada dasarnya traktor mempunyai komponen sama yang tidak dimiliki oleh kendaraan jenis lain. Antara lain pengunci differensial (differential lock), final drive, tempat pengambilan daya (Power Take Off), sistem pengangkatan hidrolis, batang penarik (draw bar), double throtle, dan double pedal. Untuk traktor roda empat, cocok digunakan di lahan yang sangat luas, sedangkan hand traktor digunakan dilahan yang tidak terlalu luas. Alat pengolah tanah, baik primer maupun sekunder yang diidentifikasi yaitu, bajak singkal, bajak piringan dan garu piringan. Bajak singkal menggunakan tipe penggandengan maunted dan jenis daya penarikan berupa hand traktor. Bajak singkal ditujukan untuk pemecahan banyak tipe tanah dan cocok sekali untuk pembalikan tanah serta penutupan sisa-sisa tanaman. Untuk bagian-bagian bajak singkal, biasanya bajak ini dilengkapi jointer yang berfungsi untuk menutup serasah lebih sempurna dalam pembajakan. Pada bajak piringan, piringan pada bajak merupakan komponen pemotong, pengangkat dan pembalik tanah pada bajak piringan. Beberapa keunggulan bajak piringan terhadap singkal antara lain dapat bekerja ditanah lengket dan liat, di tanah kering dan keras di mana singkal tidak bisa masuk kedalam tanah, di tanah kasar dan di dalamnya banyak batu-batu dan akar, menghasilkan pembajakan yang lebih dalam dari bajak singkal. Garu piringan mempunyai ukuran dan kecekungan piringan yang relative lebih kecil dibandingkan dengan bajak piringan, hal ini disebabkan pada pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan tidak diperlukan pembalikan tanah yang efektif seperti pengolahan tanah pertama. Pada garu piringan ini menggunakan 5 piringan dalam setiap rangkaian dengan menggunakan satu poros. Jenis piringan adalah piringan standard yaitu tepinya rata. Sudut piringan pada garu yaitu 90° hingga 130°, sudut ini mempengaruhi lebar potongan tanah dan kecenderungan menggelinding.
  37. 37. Untuk alat pemeliharaan tanaman yang diidentifikasi yaitu knapsack hand sprayer. Prinsip kerja alat ini adalah memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus ini maka pemakaian pestisida akan efektif dan merata ke seluruh permukaan daun atau tajuk tanaman. Untuk memperoleh butiran halus, biasanya dilakukan dengan menggunakan proses pembentukan partikel dengan menggunakan tekanan (hydolic atomization), yakni cairan di dalam tangki dipompa sehingga mempunyai tekanan yang tinggi, dan akhirnya mengalir melalui selang karet menuju ke alat pengabut (nozel). Cairan dengan tekanan tinggi dan mengalir melalui celah yang sempit dari alat pengabut, sehingga cairan akan pecah menjadi partikel-partikel yang sangat halus. Pada praktikum pengukuran kapasitas kerja lapang, digunakan traktor tangan merk Quick tipe G-3000. Praktikum ini memiliki tujuan untuk (performance) alat mesin pengolah tanah secara mekanis ditinjau dari aspek teknik kerekayasaan, teknik operasional dan aspek ekonominya. Pada praktikum ini traktor tidak dikendalikan oleh praktikan, melainkan oleh operator yang sudah ahli. Mahasiswa hanya bertugas mengumpulkan data pengukuran lebar kerja, waktu total, waktu macet, waktu belok, jarak lurus per 5 putaran roda, dan luas lahan. Pengolahan tanah dengan traktor mini pada praktikum ini menggunakan pola tepi. Pola operasi lapang ini cocok untuk mengerjakan tanah yang bentuk lahannya empat persegi panjang pada praktikum. Pola ini umumnya digunakan untuk pengerjaan tanah menggunakan bajak singkal karena mempunyai satu arah pembalikan tanah, umumnya kearah kanan. Pembajakan dimulai dari arah tepi sebelah kanan, bajak diangkat pada ujung lintasan dan kembali diturunkan, selama bajak diangkat itu merupakan pengumpulan data waktu tidak efektif. Arah gerakan traktor berlawanan arah jarum jam. Pada saat pembajakan, adakalanya roda mengalami slip. Setelah semua data terkumpul dilakukan perhitungan. Setelah dilakukan perhitungan didapatkan informasi bahwa persen waktu yang hilang karena lebar kerja (overlapping) sebesar 42,3%, karena slip
  38. 38. sebesar 38%, untuk membelok sebesar 2,4%, karena macet/kerusakan sebesar 8,25% sehingga efisiensi kerja yang diperoleh sebesar 31,96%. Semakin besar nilai efisiensi kerja maka penggunaan traktor semakin baik pula, begitupun sebaliknya. Kecilnya efisiensi kerja pada praktikum kali ini sebagian besar disebabkan oleh overlapping, yaitu adanya tumpang tindih pembajakan atau dengan kata lain hasil bajakan sebagian terbajak lagi serta disebabkan oleh banyaknya waktu slip. Dengan bertambah komplek dan bertambah mahalnya mesin, makin pentinglah untuk mendapatkan keluaran maksimum dari mesin tersebut. Meminimumkan waktu hilang di lapang merupakan salah satu cara guna memperbaiki kapasitas lapang. Pengkajian waktu sering menunjukkan daerah perbaikan potensial dalam pengelolaan mesin. Jumlah waktu belok yang berlebihan dapat menunjukkan kebutuhan untuk memperbaiki kondisi atau lebar head-land aatu mengganti pola belok. Waktu berhenti yang berlebihan dapat berarti dibutuhkannya sistem perawatan preventif yang lebih baik Pada praktikum latihan membajak, traktor yang di gunakan untuk membajak yaitu hand traktor atau traktor tangan merk Quick tipe G-3000. Awal mula yaitu menghidupkan motor pengerak. traktor yang menggunakan motor diesel dihidupkan dengan engkol. Mula – mula engkol dipasang pada poros engkol (crank Shaft). Setelah gas dibesarkan sedikit. Engkol diputar beberapa kali sampai putarannya cukup untuk menghidupakan motor. Sewaktu pemutaran, jangan lupa menarik alat penghilang kompresi (dekompresi level). Traktor roda dua baru dapat maju setelah motor dihidupkan. Setelah itu periksalah apakah gigi / porsneling sudahj netral dan kopling, jika tidak mungkin saja dapat menimbulkan kecelakaan. Disamping itu pada traktor terdapat alat yang dapat mengatur kecepatan rendah atau tinggi. Alat ini digunakan untuk menambah atau mengurangi kecepatan lajunya traktor dan juga untuk putaran garu/ cangkul putar. Traktor dapat dihentikan cukup dengan menarik tongkat kopling kebelakang, yaitu ke posisi “OFF”. Kalau dalam posisi “OFF” traktor belum
  39. 39. berhenti , berarti penyetelan kopling tidak baik atau piringannya sudah aus. Setelah traktor berhenti, segera netralkan gigi kembali dan turunkan gas. Membelokkan traktor sewaktu bekerja dilakukan dengan menggunakan steering clutch/ kopling pembelok kiri dan kanan. Sewaktu membelok jangan lupa menurunkan gas dan mengangkat sedikit bagian belakang traktor agar pembelokannya lebih mudah dilaksanakan. Hal ini perlu dilakukan terutama kalau bekerja ditanah yang lembek dan basah. Jika tidak ada kemungkinan traktor terbenam. Tekanlah kopling pembelok kiri bila hendak membelok kekiri dan tekanlah kopling kekanan kalau hendak membelok kekanan. Traktor harus dapat jalan lurus ke muka selama operasi. Kalau traktor jaln berbelok – belok. Maka akan menyulitkan pekerjaan selanjutnya dan memungkinkan traktor terbenam terutama jika tanahnya basah atau lembek. Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat traktor dapat berjalan lurus kedepan yaitu : 1. Operator harus memandang lurus kedepan. 2. Peganglah pegangan traktor dengan tangan lentur dan tidak kaku. 3. Jika traktor membelok ke kiri atau kekanan, tekanlah segera kopling pembelok kanan atau kiri.
  40. 40. V. KESIMPULAN Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Setiap alat dan mesin pertanian memiliki bagian dan fungsinya masingmasing. 2. Traktor merupakan sumber daya dalam bidang pertanian 3. Persen waktu yang hilang karena lebar kerja (overlapping) sebesar 42,3% 4. Persen waktu yang hilang karena slip sebesar 38% 5. Persen waktu yang hilang untuk membelok sebesar 2,4% 6. Persen waktu yang hilang karena macet/kerusakan sebesar 8,25% 7. Efisiensi kerja sebesar 31,96% 8. Penggunaan alat dan mesin akan berjalan baik apabila memenuhi syarat teknis dan operasionalnya. 9. Dalam membajak perlu mengetahui prinsip kerja dari hand traktor itu sendiri dan harus mempunyai keahlian dalam menjalankan alat tersebut.
  41. 41. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pertanian Sumatera Selatan. 1993. Panduan Usaha Tani PIR Perkebunan TEH. Dinas Perkebunan. Sumatera Selatan. Hardjoanidjojo S, 1976.Pengantar Keteknikan Pertanian, IPB, Bogor. Hardjosentono. 1996. Mesin-mesin Pertanian. Cetakan Kedua. Bumi Aksara.Jakarta. Haryadi. 1982. Mekanisme Pertanian. Genap Jaya Baru. Jakarta. Haryono, M. 1996. Mesin-mesin Pertanian. Bumi Aksara : Jakarta. Herodian S. 2003. Jasa Produksi Dan Pelayanan Alat Mesin Pertanian (JP2AMP). IPB. Irwanto, Kohar A. 1980. Alat dan Mesin Budidaya Pertanian. FakultasMekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian. ITB. Bandung. Pramudya B. 1996. Strategi Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian untuk Usahatani Tanaman Pangan. IPB. Pratomo, M., dkk. 1983. Alat dan Mesin Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Soedarno. 1996. Alat Pengolahan Pertanian. Redijaya : Semarang. Sukirno,1999.Hand Traktor. Gramedia : Surabaya Surman, R.L, 1989, Mengerjakan Tanah dan Alat-Alat Pertanian, Bumi Aksara : Jakarta Tarmana D. 1976. Alat dan Mesin Pertanian untuk Proteksi Tanaman Pangan. Redijaya : Surabaya. Wijanto, M.S,1996. Memilih Merawat, Menggunakan, dan Traktor Tangan, Penebar Swadaya, Jakarta Winarno. 1994. Alat dan Mesin Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
  42. 42. LAMPIRAN

×