Pendahuluan studi kelayakan

6,439 views
6,227 views

Published on

Published in: Business
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,439
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
176
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pendahuluan studi kelayakan

  1. 1. FEASIBILITY STUDY PENDAHULUAN
  2. 2. PENGERTIAN INVESTASI <ul><li>Investasi pada dasarnya merupakan usaha menanamkan faktor-faktor produksi langka dalam proyek tertentu. </li></ul><ul><li>Investasi merupakan suatu keputusan mengeluarkan atau mengalokasikan dana pada saat sekarang di sektor riil maupun sektor financial assets ( financial market ) dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan atau penghasilan atau laba yang lebih besar dimasa yang akan datang. </li></ul><ul><li>Investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber – sumber dana yang dipakai untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang dan dengan barang modal itu akan dihasilkan aliran produk baru di masa yang akan datang. </li></ul><ul><li>Investasi adalah kegiatan yang memanfaatkan pengeluaran kas pada saat sekarang untuk mengadakan barang modal guna menghasilkan penerimaan yang lebih besar di masa yang akan datang untuk waktu dua tahun atau lebih. </li></ul>
  3. 3. BENTUK – BENTUK INVESTASI <ul><li>1. Berdasarkan Sektornya </li></ul><ul><ul><li>Investasi Pada Sektor riil ( Riil Assets ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Pada Sektor Keuangan ( Financial Assets atau Financial Market ) </li></ul></ul><ul><li>2. Berdasarkan Skalanya </li></ul><ul><ul><li>Investasi Skala Kecil </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Skala Menengah </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Skala Besar </li></ul></ul><ul><li>3. Berdasarkan Bidang Usaha </li></ul><ul><ul><li>Investasi Bidang Jasa </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Bidang Perdagangan </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Bidang Manufaktur </li></ul></ul><ul><li>4. Berdasarkan Pelaksana </li></ul><ul><ul><li>Investasi Yang Dilaksanakan Pemerintah </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Yang Dilaksanakan Swasta </li></ul></ul>
  4. 4. BENTUK – BENTUK INVESTASI <ul><li>5. Berdasarkan Tingkatan </li></ul><ul><ul><li>Investasi Tingkat Lokal / Regional </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Tingkat Nasional </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Tingkat Internasional </li></ul></ul><ul><li>6. Berdasarkan Jangka Waktunya </li></ul><ul><ul><li>Investasi Jangka Panjang ( Capital Expenditure ) </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Jangka Pendek ( Operating or Revenue Expenditure ) </li></ul></ul><ul><li>7. Berdasarkan Tujuannya </li></ul><ul><ul><li>Investasi Baru atau Benar – Benar Baru </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Perluasan atau Ekspansi </li></ul></ul><ul><li>8. Berdasarkan Pelakunya </li></ul><ul><ul><li>Investasi Oleh Swasta </li></ul></ul><ul><ul><li>Investasi Oleh Pemerintah </li></ul></ul>
  5. 5. ARTI PENTINGNYA INVESTASI <ul><li>Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangka waktu yang panjang . </li></ul><ul><li>Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan di waktu yang akan datang , </li></ul><ul><li>Pengeluaran dana untuk keperluan tersebut biasanya meliputi jumlah yang besar </li></ul><ul><li>Kesalahan dalam pengambilan keputusan mengenai pengeluaran modal tersebut akan mempunyai akibat panjang dan berat . </li></ul>
  6. 6. KARAKTERISTIK KHUSUS INVESTASI <ul><ul><li>Intestasi proyek menyerap dan mengikat dan yang secara absolute atau dalam presentase cukup besar jumlahnya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Manfaat yang akan diperoleh perusahaan (misalnya keuntungan) baru dan dapat dinikmati beberapa masa (bulan atau tahun) setelah investasi dilakukan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dibandingkan dengan investasi harta lancar tingkat resiko yang dihadapi investor dalam investasi proyek lebih besar. </li></ul></ul><ul><ul><li>Keputusan investasi proyek yang keliru, tidak dapat direvisi begitu saja, seperti halnya dalam kasus harta lancar. </li></ul></ul>
  7. 7. PERTIMBANGAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI <ul><li>Jenis dan jumlah manfaat yang dapat diperoleh dari investasi proyek pada masa yang akan datang. </li></ul><ul><li>Adanya kemungkinan menyewa barang modal </li></ul><ul><li>Jumlah dana yang diperlukan untuk investasi proyek, dibandingkan dengan kondisi keuangan perusahaan </li></ul><ul><li>Kemungkinan mendapat bantuan keuangan dari dalam (misalnya penerbitan saham baru atua pinjaman pemegang saham) </li></ul><ul><li>Berbagai macam konsekwensi yang dihadapi perusahaan sebagai akibat dari keputusan mereka melakukan investasi atau memilih peralatan produksi tertentu. </li></ul>
  8. 8. TUJUAN KEPUTUSAN INVESTASI <ul><li>Memaksimumkan nilai pasar modal sendiri (saham). </li></ul><ul><li>Memperoleh berbagai macam manfaat yang cukup layak di kelak kemudian hari. Manfaat tadi dapat berupa imbalan keuangan misalnya laba, manfaat non keuangan atau kombinasi dari kedua-duanya. </li></ul>
  9. 9. PROBLEM – PROBLEM DALAM RENCANA INVESTASI <ul><li>Tidak semua investasi yang dibangun, baik pihak swasta maupun pemerintah dapat mencapai hasil seperti yang direncanakan </li></ul><ul><li>Tidak sedikit jumlahnya investasi yang dapat beroperasi dengan baik sejak permulaan. </li></ul><ul><li>Tidak sedikit pula investasi yang baru dalam masa pembangunan saja telah lebih dahulu tamat riwayatnya. </li></ul><ul><li>Investasi yang gagal tidak dapat begitu saja dihapuskan tanpa menderita kerugian besar bagi pemiliknya. Menjual gedung, mesin peralatan tidak mudah, sedangkan mengoperasikan investasi untuk kegiatan lain dari yang semula direncanakan belum tentu menguntungkan. </li></ul><ul><li>Sebuah investasi dapat saja gagal selama masa pembangunannya dan hal yang sama dapat pula menimpa investasi setelah masa operasi dimulai. </li></ul>
  10. 10. BEBERAPA HAL YANG DAPAT MENJADI PENYEBAB GAGALNYA INVESTASI SELAMA TAHAP PEMBANGUNAN <ul><ul><li>Dari awal pemilik investasi atau pelaksana pembangunan tidak memahami dengan jelas syarat teknis apa yang harus mereka penuhi. Akibatnya apabila dalam tahap pembangunan muncul masalah teknis yang berada diluar jangkauan mereka, maka pelaksanaan pembangunan investasi akan menjadi terkatung – katung. Untuk proyek besar kemungkinan seperti ini lebih mudah terjadi: karena mendapatkan tenaga teknis ahli seringkali tidak mudah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pimpinan pelaksana ternyata kurang ahli, tidak jujur atau tidak bertanggung jawab. </li></ul></ul><ul><ul><li>Rencana pembangunan tidak cukup matang, desain teknis kurang sempurna. </li></ul></ul><ul><ul><li>Salah dalam penentuan bahan, peralatan dan tenaga kerja inti. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kebutuhan biaya pembangunan ternyata lebih tinggi dari yang dianggarkan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Timbul perubahan ekonomi keuangan, sosial atau politik Negara yang tidak menguntungkan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Timbul bencana alam didaerah lokasi investasi. </li></ul></ul>
  11. 11. BEBERAPA HAL YANG MENJADI PENYEBAB GAGALNYA INVESTASI PADA MASA OPERASI <ul><li>Pemasaran proyek yang dihasilkan tidak dapat berjalan dengan lancar. </li></ul><ul><li>Kesulitan dalam pengadaan bahan baku dan bahan pembantu. </li></ul><ul><li>Harga bahan Bantu dan pembantu jauh lebih tinggi dari pada yang diperhitungkan semuala. </li></ul><ul><li>Kesulitan dalam pengadaan dana modal kerja. </li></ul><ul><li>Kondisi atau kapasitas produksi, factor produksi yang dipergunakan jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari semestinya, dengan akibat proyek tidak beroperasi secara ekonomis. </li></ul><ul><li>Proyek tidak mampu menarik tenaga pimpinan dan ahli yang diperlukan. </li></ul><ul><li>Hubungan kerja antara pimpinan proyek dan karyawan tidak berjalan serasi sehungga produktivitas kerja menjadi rendah. </li></ul><ul><li>Proyek tidak menghasilkan keuntungan yang layak. </li></ul>
  12. 12. TAHAP-TAHAP EVALUASI RENCANA INVESTASI <ul><li>Tahap Evaluasi Pendahuluan </li></ul><ul><li>Tahap Evaluasi Studi kelayakan Bisnis </li></ul>
  13. 13. TAHAP EVALUASI PENDAHULUAN <ul><li>Dalam evaluasi pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan gambaran bahwa gagasan untuk mendirikan investasi cukup berbobot untuk diteliti lebih lanjut dan mendalam. </li></ul><ul><li>Dengan evaluasi pendahuluan para investor ingin memperoleh kepastian atas empat macam kemungkinan yang terjadi yaitu : </li></ul><ul><ul><li>a. Apakah ditinjau dari berbagai segi ada manfaatnya diadakan penelitian lebih lanjut terhadap gagasan investasi yang muncul </li></ul></ul><ul><ul><li>b. Apakah suatu gagasan investasi yang muncul hanyalah khayalan belaka dan perlu dilupakan secepatnya. </li></ul></ul><ul><ul><li>c. Apakah investasi yang direncanakan memang benar-benar sehat ditinjau dari berbagai macam segi sehingga tanpa penelitian lebih lanjutpun keputusan investasi sudah dapat diambil. </li></ul></ul><ul><ul><li>d. Apakah terdapat hal-hal tertentu dari investasi yang masih meragukan sehingga diperlukan studi pendukung untuk menjernihkan keragu-raguan tersebut. </li></ul></ul>
  14. 14. TAHAP EVALUASI STUDI KELAYAKAN BISNIS <ul><li>Evaluasi studi kelayakan bisnis akan memakan waktu yang cukup lama, serta tenaga ahli dan biaya yang cukup besar, sehingga sebaiknya evaluasi ini dilakukan apabila dari hasil evaluasi pendahuluan diperoleh rekomendasi untuk melakukan evaluasi lanjutannya. </li></ul><ul><li>Secara umum studi kelayakan bisnis akan mencakup analisa terhadap aspek-aspek seperti : </li></ul><ul><ul><li>- Aspek Pasar dan pemasaran. </li></ul></ul><ul><ul><li>- Aspek Teknis dan Teknologis. </li></ul></ul><ul><ul><li>- Aspek Manajemen </li></ul></ul><ul><ul><li>- Aspek Keuangan </li></ul></ul><ul><ul><li>- Aspek Sosial </li></ul></ul><ul><ul><li>- Aspek Hukum </li></ul></ul>
  15. 15. STUDI PENDUKUNG <ul><li>Untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam pada investasi besar disamping dua tahap evaluasi tersebut diatas, terkadang dibutuhkan juga studi pendukung. </li></ul><ul><li>Studi pendukung biasanya hanya mencakup satu atau dua macam aspek khusus rencana investasi, dan dilakukan karena pemilik investasi ingin mendapatkan jawaban atas hal-hal khusus yang masih meragukan. </li></ul><ul><li>Jenis studi pendukung yang sering dilakukan dalam kaitannya dengan evaluasi pendukung investasi adalah : </li></ul><ul><ul><li>Riset pasar untuk mendapatkan gambaran perkiraan jumlah permintaan produk yang akan dihasilkan </li></ul></ul><ul><ul><li>Penelitian terhadap pengadaan bahan baku utama, termasuk kecendrungan perkembangan harga bahan tersebut dikemudian hari. </li></ul></ul><ul><ul><li>Penelitian laboratoris dan produksi percobaan untuk menentukan bahan baku yang paling cocok </li></ul></ul><ul><ul><li>Penelitian tentang lokasi proyek paling tepat </li></ul></ul><ul><ul><li>Studi skala ekonomi proyek untuk menentukan ukuran proyek yang paling ekonomis di tinjau dari segi teknologis, potensi permintaan hasil produksi, biaya pokok dan harga jual atau dari jumlah dana investasi yang dibutuhkan </li></ul></ul><ul><ul><li>Penelitian terhadap pilihan mesin dan peralatan yang diperlukan. </li></ul></ul>
  16. 16. TEAM PELAKSANA EVALUASI <ul><li>Kegiatan evaluasi atas perencanaan investasi dapat dilakukan baik oleh seorang tenaga ahli maupun oleh sebuah tim gabungan </li></ul><ul><li>Besar kecilnya investasi dan tersedianya dana akan menjadi dasar dalam membentuk team pelaksana evaluasi investasi. </li></ul><ul><li>Idealnya team pelaksana evaluasi investasi akan terdiri dari sekelompok ekonom yang menguasai aspek pasar dan pemasaran, manajemen, keuangan dan sosial dan sekelompok orang yang menguasai aspek tehnis dan tehnologis serta sekelompok orang hukum yang menguasai aspek – aspek hukum. </li></ul><ul><li>Salah seorang dari anggota team harus mampu bertindak sebagai Pemimpin team, yang disamping memiliki keahlian fungsional juga mampu menyusun rencana kegiatan team. Ketua team juga harus dapat bertindak sebagai partner investor, yang setiap saat diperlukan dapat menemui investor untuk melaporkan perkembangan kegiatan evaluasi investasi. </li></ul>

×