Pendalaman MateriBimbingan dan Konseling    Bimbingan Klasikal dan Konseling                     Oleh : Dr. MM Sri Hastuti...
Pendalaman MateriBimbingan dan Konseling                Bimbingan KlasikalPendidikan dan Latihan Profesi Guru Bimbingan da...
Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling     No.1            No.2             No.3         No.4                     K...
Gambar 1             Pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling             (periode pertama dan kedua)Bi...
Gambar 3             Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan             (periode keempat dan kelima)  B...
Jenis Bimbingan  Berdasarkan banyaknya binimbing (orang yang dibimbing):   Bimbingan individual/perseorangan   Bimbingan...
Jenis Bimbingan   Bimbingan pribadi dan bimbingan sosial sering dirangkaikan   atau disatukan menjadi bimbingan pribadi-so...
Tujuan Bimbingan Klasikal    Tujuan bimbingan klasikal adalah untuk membantu    binimbing (orang yang dibimbing) agar sema...
Pendekatan Bimbingan Klasikal Pendekatan guru BK dalam melaksanakan bimbingan klasikal adalah bersifat preventif-developme...
Orientasi (Sudut Pandang) Guru BK                     Individual                     Orientasi                  (sudut pan...
Kebutuhan, Masalah dan Tugas Perkembangan   Dalam tugas perkembangan dan masalah tercakup   (implisit) kebutuhan. Masalah ...
Pendalaman MateriBimbingan dan Konseling                          KonselingPendidikan dan Latihan Profesi Guru Bimbingan d...
Proses Konseling                    Komunikasi antar pribadi :           • Face to face relationship (tatap muka)         ...
Fase Konseling  1. Pembukaan     Pada fase ini konselor membangun hubungan antar     pribadi yang memungkinkan pembicaraan...
Fase Konseling     Sistematika ini berkaitan dengan teori dan pendekatan     konseling       yang       lebih      berorie...
Tehnik Non Verbal (Attending Behavior)    1) Cara duduk yang menyatakan sikap rileks dan mau        memperhatikan.    2) A...
Tehnik Non Verbal (Attending Behavior)   6) Kontak mata yang mendukung ungkapan verbal.   7) Nada suara dan kecepatan berb...
Tehnik Verbal – Non Direktif     1) Ajakan untuk mulai     2) Penerimaan/menunjukkan pengertian     3) Perumusan kembali p...
Tehnik Verbal – Direktif     1) Pertanyaan Mengenai Hal Tertentu         2) Pemberian Umpan Balik            3) Pemberian ...
Skema Pengolahan KasusRational Emotive Behavior Therapy  1. Pembukaan  2. Penjelasan Masalah  3. Analisis Masalah     Kons...
Skema Pengolahan KasusRational Emotive Behavior Therapy  4. Penyelesaian Masalah     Konselor dan konseli mencari jalan ke...
Skema Pengolahan KasusRational Emotive Behavior Therapy      Effect (E)         Konseli mulai menampakkan cara berpikir ...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor  1. Pembukaan  2. Penjelasan Masalah  3. Analisis Masalah     Konselor menggali la...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor      6) harapan-harapan (analisis diri);      7) nilai-nilai yang dikejar (analisi...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor       16) ciri-ciri khas dari program studi yang didambakan       serta kualifikas...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor      Belum mempunyai ide/gambaran tentang alternatif-       alternatif program st...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor  4. Penyelesaian Masalah     Dengan mengingat ciri khas dari suatu ‘choice     cas...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor     Berdasarkan hasil tinjuan/pertimbangan dalam a dapat      dijawab pertanyaan ...
Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor         [Keberhasilan dalam tahap ini menuntut supaya         konselor memiliki pe...
Terima Kasih
Proses konseling menunjuk pada rangkaianperubahan yang terjadi pada konseli yangberinteraksi dengan seorang konselorselama...
Teori konseling adalah suatu konseptualisasiatau kerangka acuan berpikir tentangbagaimana proses konseling berlangsung(asp...
Pendekatan konseling merupakan penerapanteori konseling, yang meliputiprosedur, metode dan teknik konseling(aspek penerapa...
 Teknik Verbal Konseling adalah tanggapan  verbal yang diberikan oleh konselor terhadap  ungkapan konseli. Tanggapan verb...
 Teknik Non Verbal Konseling berarti konselor  mendengarkan dengan penuh perhatian; dengan  menggunakan seluruh tubuhnya;...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Pendalaman Materi PLPG Bimbingan Konseling ( BK )

12,216

Published on

Materi PLPG BK Rayon 38 tahun 2011 disusun oleh DR. M.M. Sri Hastuti, M.Si. (Dosen Prodi BK Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Published in: Education
1 Comment
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
12,216
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
17
Actions
Shares
0
Downloads
313
Comments
1
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pendalaman Materi PLPG Bimbingan Konseling ( BK )

  1. 1. Pendalaman MateriBimbingan dan Konseling Bimbingan Klasikal dan Konseling Oleh : Dr. MM Sri Hastuti, M.Si. Universitas Sanata DharmaPendidikan dan Latihan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling (PLPG BK)
  2. 2. Pendalaman MateriBimbingan dan Konseling Bimbingan KlasikalPendidikan dan Latihan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling (PLPG BK)
  3. 3. Perkembangan Konsepsi Bimbingan dan Konseling No.1 No.2 No.3 No.4 Konseling Bimbingan Bimbingan Bimbingan Konseling Konseling
  4. 4. Gambar 1 Pelayanan bimbingan yang belum mencakup pelayanan konseling (periode pertama dan kedua)Bimbingan Gambar 2 Pelayanan bimbingan yang sudah meliputi pelayanan konselingsebagai salah satu bentuk pelayanan bimbingan (periode ketiga) Konseling Bimbingan
  5. 5. Gambar 3 Pelayanan bimbingan dan konseling yang saling berhimpitan (periode keempat dan kelima) Bimbingan Gambar 4 Konseling Pelayanan konseling yang meliputi seluruh pelayanan yang dahulu disebut “bimbingan dan konseling” (perkembangan yang terakhir). Konseling
  6. 6. Jenis Bimbingan Berdasarkan banyaknya binimbing (orang yang dibimbing):  Bimbingan individual/perseorangan  Bimbingan kelompok  Bimbingan klasikal Berdasarkan maksud/tujuan:  Bimbingan preventif  Bimbingan developmental/perseveratif  Bimbingan remidial/kuratif/korektif/pengentasan Berdasarkan masalah/topik/isi:  Bimbingan sosial  Bimbingan belajar/studi/akademik  Bimbingan karier
  7. 7. Jenis Bimbingan Bimbingan pribadi dan bimbingan sosial sering dirangkaikan atau disatukan menjadi bimbingan pribadi-sosial, karena masalah sosial (hubungan dengan orang lain) tidak bisa dipisahkan dari masalah pribadi. Masalah pribadi belum tentu sosial, tetapi masalah sosial tentu merupakan masalah pribadi.
  8. 8. Tujuan Bimbingan Klasikal Tujuan bimbingan klasikal adalah untuk membantu binimbing (orang yang dibimbing) agar semakin berkembang seutuhnya (dalam berbagai aspek perkembangan dirinya, seperti pribadi, sosial, belajar, karier) dan seoptimal mungkin (sesuai dengan potensinya masing-masing) sebagai pribadi (dapat menentukan sendiri dan berpendirian sendiri).
  9. 9. Pendekatan Bimbingan Klasikal Pendekatan guru BK dalam melaksanakan bimbingan klasikal adalah bersifat preventif-developmental.Untuk bisa melaksanakan bimbingan klasikal dengan baik, guru BK perlu menguasai berbagai kemampuan seperti kemampuan untuk :  Mengungkap kebutuhan, masalah atau tugas perkembangan siswa  Menentukan topik-topik yang relevan untuk siswa  Menyusun satuan pelayanan bimbingan klasikal  Mengelola kelas  Menerapkan “experiential learning”  Mengevaluasi hasil dan proses pembimbingan
  10. 10. Orientasi (Sudut Pandang) Guru BK Individual Orientasi (sudut pandang) Guru BK Perkembangan Masalah/kebutuhan
  11. 11. Kebutuhan, Masalah dan Tugas Perkembangan Dalam tugas perkembangan dan masalah tercakup (implisit) kebutuhan. Masalah timbul karena kebutuhan tidak/belum/kurang terpenuhi atau tugas perkembangan tidak /belum diselesaikan dengan baik. Contoh:  Tugas Perkembangan: Mengembangkan konsep-diri yang positif.  Kebutuhan: Konsep-diri yang positif.  Masalah: Tidak/Belum/Kurang memiliki konsep-diri yang positif.
  12. 12. Pendalaman MateriBimbingan dan Konseling KonselingPendidikan dan Latihan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling (PLPG BK)
  13. 13. Proses Konseling Komunikasi antar pribadi : • Face to face relationship (tatap muka) • Cyber CounselingKonselor Konseli/Klien • Teori Konseling • Pendekatan Konseling • Teknik Verbal Konseling • Teknik Non Verbal Konseling
  14. 14. Fase Konseling 1. Pembukaan Pada fase ini konselor membangun hubungan antar pribadi yang memungkinkan pembicaraan terbuka dan terarah dalam wawancara konseling (rapport). 2. Penjelasan Masalah Konseli mengemukakan hal-hal yang membebani dirinya, mungkin berupa perasaan atau pikiran. 3. Penggalian Latar Belakang Masalah Oleh karena pada fase penjelasan masalah konseli belum menyajikan gambaran lengkap mengenai kedudukan masalahnya, maka diperlukan penjelasan lebih mendalam dan mendetail. Untuk mendapatkan data konseli secara mendalam dan mendetail, maka dalam menggali data konselor perlu menggunakan sistematika tertentu.
  15. 15. Fase Konseling Sistematika ini berkaitan dengan teori dan pendekatan konseling yang lebih berorientasi pada kognitif, afektif, atau behavioristik. 4. Penyelesaian Masalah Berdasarkan diagnosis, konselor dan konseli membahas bagaimana persoalan dapat diatasi. Konselor menerapkan sistematika penyelesaian masalah yang khas bagi masing-masing pendekatan konseling. 5. Penutup Pada prinsipnya di setiap akhir pertemuan konseling, konselor melakukan fase penutup. Ada 2 macam bentuk fase penutup: * proses konseling telah selesai * proses konseling belum selesai
  16. 16. Tehnik Non Verbal (Attending Behavior) 1) Cara duduk yang menyatakan sikap rileks dan mau memperhatikan. 2) Anggukan kepala yang menyatakan penerimaan dan menunjukkan pengertian. 3) Gerakan lengan dan tangan yang memperkuat apa yang diungkapkan secara verbal. 4) Ekspresi wajah yang mendukung apa yang diungkapkan secara verbal. 5) Senyuman yang menyatakan sikap menerima.
  17. 17. Tehnik Non Verbal (Attending Behavior) 6) Kontak mata yang mendukung ungkapan verbal. 7) Nada suara dan kecepatan berbicara yang menyesuaikan dengan ungkapan konseli tentang perasaan konseli, seperti misalnya nada suara yang lembut yang diucapkan dengan nada yang rendah dan secara lambat untuk menanggapi perasaan negatif konseli. 8) Sentuhan yang menunjang ungkapan verbal. Namun perlu diingat, mengingat faktor budaya, kontak fisik antara konselor dan konseli dapat pula dimaknai sesuatu yang negative oleh konseli.
  18. 18. Tehnik Verbal – Non Direktif 1) Ajakan untuk mulai 2) Penerimaan/menunjukkan pengertian 3) Perumusan kembali pikiran-gagasan/refleksi pikiran 4) Perumusan kembali perasaan/refleksi perasaan 5) Penjelasan pikiran-gagasan/klarifikasi pikiran 6) Penjelasan perasaan /klarifikasi perasaan 7) Permintaan untuk melanjutkan 8) Pengulangan satu dua kata 9) Ringkasan/rangkuman
  19. 19. Tehnik Verbal – Direktif 1) Pertanyaan Mengenai Hal Tertentu 2) Pemberian Umpan Balik 3) Pemberian Informasi 4) Penyajian alternatif 5) Penyelidikan 6) Pemberian Struktur 7) Interpretasi 8) Konfrontasi 9) Diagnosis 10) Dukungan/Bombongan 11) Usul/saran 12) Penolakan
  20. 20. Skema Pengolahan KasusRational Emotive Behavior Therapy 1. Pembukaan 2. Penjelasan Masalah 3. Analisis Masalah Konselor menggali latar belakang masalah konseli dengan sistematika sebagai berikut: Activating Event (A): Apa yang terjadi baru-baru ini (3-4 minggu terakhir) yang membuat konseli mengalami perasaan-perasaan tertentu atau melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Belief (B) : Apa isi tanggapan kognitif(r-kognitif) yang tidak rasional terhadap A. Concequence (C): Apa akibat dari tanggapan yang tidak rasional itu baik terhadap perasaan (r-afektif yang tidak wajar) maupun perilaku nyata yang salah suai (R).
  21. 21. Skema Pengolahan KasusRational Emotive Behavior Therapy 4. Penyelesaian Masalah Konselor dan konseli mencari jalan keluar permasalahan konseli dengan cara: Dispute (D): Konselor menjelaskan bagaimana konseli bisa memiliki pikiran yang tidak rasional, sehingga B yang tidak rasional perlu diubah Konselor menantang konseli mengenai pikirannya yang tidak rasional dengan mengajukan pertanyaan yang mengharuskan konseli untuk berefleksi Konselor memberikan contoh-contoh agar konseli berpikir lebih rasional
  22. 22. Skema Pengolahan KasusRational Emotive Behavior Therapy Effect (E) Konseli mulai menampakkan cara berpikir yang lebih rasional (r-kognitif yang rasional) Konseli mengalami perasaan yang lebih wajar (r- afektif yang wajar).Konseli mulai merencanakan perilaku-perilaku yang realistis (R-konstruktif) 5. Penutup
  23. 23. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor 1. Pembukaan 2. Penjelasan Masalah 3. Analisis Masalah Konselor menggali latar belakang masalah konseli dengan sistematika sebagai berikut: Data tentang konseli sendiri, seperti 1) kemampuan intelektual/taraf intelegensi (kalau tersedia data testing); 2) kemampuan belajar (taraf prestasi dalam bidang studi yang pokok); 3) bakat khusus (prestasi yang mencolok tinggi di bidang studi tertentu); 4) arah minat (hasil testing kalau ada;analisis diri); 5) cita-cita (analisis diri);
  24. 24. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor 6) harapan-harapan (analisis diri); 7) nilai-nilai yang dikejar (analisis diri); ketrampilan motorik yang menyolok(prestasi belajar dalam bidang tertentu); 8) perasaan yang utama (analisis diri); dan 9) lain-lain yang relevan.  Data tentang keluarga dekat seperti 10) harapan dan kelurga; 11) kewajiban terhadap keluarga; 12) kemampuan ekonomi keluarga; 13) posisi konseli dalam keluarga; dan 14) dan lain lain yang relevan Data tentang lingkungan hidup, seperti 15) prospek masa depan dari pekerjan yang didambakan serta kualifikasi yang dituntut;
  25. 25. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor 16) ciri-ciri khas dari program studi yang didambakan serta kualifikasi yang dituntut; 17) keadaan konkret masyarakat yang mempersempit atau memperluas ruang gerak konseli; dan 18) dan sebagainya yang relevan. Dalam menangani butir c, harus dibedakan antara konseli yang : Sudah mempunyai gambaran/ide/harapan/ rencana tentang bidang pekerjaan kelak dan /atau tentang progam studi yang patut dipertimbangkan (sudah ada beberapa alternatif program studi) => kesan pertama tentang kesesuaian antara data pada butir a (terutama), b, dan c.
  26. 26. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor  Belum mempunyai ide/gambaran tentang alternatif- alternatif program studi yang dapat dipertimbangkan, dalam kaitan dengan bidang pekerjaan yang dibayangkan => harus dicari bersama sejumlah alternatif yang kelihatannya sesuai dengan data pada butir a (terutama) b dan sebagian c, untuk pertimbangan nanti (=inventarisasi alternatif). [keberhasilan dalam butir c ini menuntut supaya konselor memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan PTN serta PTS, serta pengetahuan secukupnya tentang dunia pekerjaan]
  27. 27. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor 4. Penyelesaian Masalah Dengan mengingat ciri khas dari suatu ‘choice case’, yaitu pilihan yang paling dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal, konselor mengajak berdiskusi tentang hal-hal sebagai berikut : Pro dan kontra (untung-rugi; kelebihan-kelemahan) dari masing-masing alternatif bila data dalam 3 a,b,c ditinjau lebih dalam dan dikaitkan satu sama lain. Tinjauan pro dan kontra ini dapat terjadi secara eksplisit, dapat pula secara implisit; tetapi untuk kebanyakan konseli sebaiknya dieksplisitkan, sehingga apa yang kelihatannya cocok pada 3 c menjadi lebih jelas.
  28. 28. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor Berdasarkan hasil tinjuan/pertimbangan dalam a dapat dijawab pertanyaan untuk masing-masing alternatif: “Bisakah/mungkinkah?” (Ya-Tidak) dan “Inginkah?” (Ya-Tidak). Tentu saja alternatif yang paling masuk akal adalah yang dijawab dengn jawaban ‘Ya” untuk kedua pertanyaan tadi. Mengingat kemungkinan terdapat lebih dari satu alternatif yang dapat dijawab dengan “Ya” (Bisa dan ingin), maka ditentukan prioritas urutan pilihan 1, pilihan 2, pilihan 3, yaitu program studi beserta tempatnya. Urutan prioritas yang demikian menjadi titik tolak bagi usaha konseli untuk diterima di PT ini atau PT itu.
  29. 29. Skema Pengolahan Kasus Trait and Factor [Keberhasilan dalam tahap ini menuntut supaya konselor memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan PTN serta PTS, serta pengetahuan secukupnya tentang dunia pekerjaan] 5. Penutup
  30. 30. Terima Kasih
  31. 31. Proses konseling menunjuk pada rangkaianperubahan yang terjadi pada konseli yangberinteraksi dengan seorang konselorselama jangka waktu tertentu.<kembali>
  32. 32. Teori konseling adalah suatu konseptualisasiatau kerangka acuan berpikir tentangbagaimana proses konseling berlangsung(aspek refleksi teoretis).<kembali>
  33. 33. Pendekatan konseling merupakan penerapanteori konseling, yang meliputiprosedur, metode dan teknik konseling(aspek penerapan praktis)<kembali>
  34. 34.  Teknik Verbal Konseling adalah tanggapan verbal yang diberikan oleh konselor terhadap ungkapan konseli. Tanggapan verbal konselor ini dapat berupa suatu pernyataan dan pertanyaan Contoh: refleksi (pikiran, perasan), klarifikasi (pikiran, perasaan), pertanyaan mengenai hal tertentu, diagnosis, interpretasi, dll. <kembali>
  35. 35.  Teknik Non Verbal Konseling berarti konselor mendengarkan dengan penuh perhatian; dengan menggunakan seluruh tubuhnya; semua ungkapan konseli tentang masalahnya baik yang diungkapkan secara verbal maupun non verbal. Contoh: Cara duduk yang menyatakan sikap rileks. Senyuman yang menyatakan sikap menerima. <kembali>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×