Your SlideShare is downloading. ×
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
makalah estetika
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

makalah estetika

44,726

Published on

Published in: Education
1 Comment
8 Likes
Statistics
Notes
  • izin comot ya kaka.. hihi makasih
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total Views
44,726
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
1,029
Comments
1
Likes
8
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Istilah Estetika baru muncul pada tahun 1750 oleh seorang filsuf minor yang bernama Alexander G. Baumgarten (1714-1762). Istilah itu dipungut dari bahasa Yunani kuno, aisthetika, yang berarti kemampuan melihat lewat penginderaan. Baumgarten menamakan seni itu sebagai pengetahuan sensoris, yang dibedakan dengan logika yang dinamakannya pengetahuan intelektual. Tujuan estetika adalah keindahan, sedangkan tujuan logika adalah kebenaran (Sumardjo, 2000 : 25). Estetika digunakan oleh Alexander Baumgarten dalam arti cabang filsafat sistematis yang menempatkan keindahan dan seni sebagai objek telaahnya. Sejak itu istilah estetika dipakai dalam bahasan filsafat mengenai benda-benda seni. Estetika yang berasal dari bahasa Yunani "aisthetika" berarti hal-hal yang dapat diserap oleh panca indra. Oleh karena itu, estetika sering diartikan sebagai persepsi indra (sense of perception). Alexander Baumgarten (1714- 1762), seorang filsuf jerman adalah yang pertama memperkenalkan kata aisthetika, sebagai penerus pendapat Cottfried Leibniz (1646-1716). Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni. Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah 4
  • 2. keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda. Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan. Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Filsuf Plato menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.1.2 Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, diperoleh beberapa rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian dari estetika ? 2. Bagaimana sejarah estetika ? 3. Ada berapa macam teori estetika ? 4. Apa fungsi dari estetika ?1.3 Tujuan dan Manfaat Makalah1.3.1 Tujuan dari makalah ini adalah : a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar – Dasar Filsafat. b. Untuk membahas materi kuliah “Estetika”. c. Untuk menambah pengetahuan tentang estetika. 5
  • 3. 1.3.2 Manfaat dari makalah ini adalah : a. Mengetahui pengertian estetika. b. Memperkaya pemikiran tentang estetika. c. Memahami fungsi – fungsi estetika yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari - hari. 6
  • 4. BAB II PEMBAHASAN2.1 Pengertian Estetika Estetika atau yang sering didengar sebuah keindahan mempunyai banyak makna dan arti, setiap orang mempunyai pengertian yang berbeda antara satu dan yang lainnya mengenai arti dan makna estetika. Sebab, setiap orang mempunyai penilaian dan kriteria keindahan yang berbeda-beda. Berikut pengertian estetika dan lingkupnya dapat dicermati di bawah ini : 1. Estetika adalah segala sesuatu dan kajian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seni (Kattsoff, Element of Philosophy, 1953). 2. Estetika merupakan suatu telaah yang berkaitan dengan penciptaan, apresiasi, dan kritik terhadap karya seni dalam konteks keterkaitan seni dengan kegiatan manusia dan peranan seni dalam perubahan dunia (Van Mater Ames, Colliers Encyclopedia, Vol. 1). 3. Estetika merupakan kajian filsafat keindahan dan juga keburukan (Jerome Stolnitz, Encylopedia of Philoshopy, Vol. 1). 4. Estetika adalah suati ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut keindahan (A. A. Djelantik, Estetika Suatu Pengantar, 1999). 5. Estetika adalah segala hal yang berhubungan dengan sifat dasar nilai-nilai nonmoral suatu karya seni (William Haverson, dalam Estetika Terapan, 1989). 6. Estetika merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan proses penciptaan kaya estetis (Jhon Hosper, dalam Estetika Terapan, 1989). 7. Estetika adalah fisafat yang membahas esensi dari totalitas kehidupan estetik dan artisrtik yang sejalan dengnan zaman (Agus Sachari, Estetika Terapan, 1989). 7
  • 5. 8. Estetika mempersoalkan hakikat keindahan alam dan karya seni, sedangkan filsfat seni mempersoalkan hanya karya seni atau benda seni, atau artifak yang disebut seni (Jakob Sumarjo, Filsafat Seni, 2000).2.2 Sejarah Estetika Pengertian estetika dari suatu masa ke masa yang lain selalu mengalami perubahan. Beberapa pemikir estetika yang terkenal antara lain adalah Aristoteles dan Immanuel Kant. Aristoteles dalam Poetics menyatakan bahwa sesuatu dinyatakan indah karena mengikuti aturan-aturan (order), dan memiliki magnitude atau memiliki daya tarik. Immanuel Kant dalam The Critique of Judgement (1790) yang dikutip oleh Porphyrios (1991) menyatakan bahwa suatu ide estetik adalah representasi dari imajinasi yang digabungkan dengan konsep-konsep tertentu. Kant menyatakan adanya dua jenis keindahan yaitu keindahan natural dan keindahan dependen. Keindahan natural adalah keindahan alam, yang indah dalam dirinya sendiri, sementara keindahan dependen merupakan keindahan dari objek-objek ciptaan manusia yang dinilai berdasarkan konsep atau kegunaan tertentu. Kedua pendapat tersebut di atas menunjukkan perhatian yang besar pada objek, di mana keindahan didapatkan karena suatu objek memiliki karakter tertentu sehingga layak untuk dinyatakan sebagai indah. Perhatian yang besar terhadap objek dalam pemikiran tentang estetika tersebut memberikan pengaruh pada arsitektur. Pengaruh tersebut mengakibatkan munculnya aturan-aturan sebagai patokan untuk menyatakan keindahan suatu bangunan. Alberti yang hidup pada masa Renaissance, dalam Ten Books on Architecture menyatakan bahwa keindahan suatu bangunan ditentukan oleh beberapa faktor (Porphyrios, 1991) seperti jumlah komponen (number) misalnya jumlah kolom, pelubangan dan sebagainya yang dinyatakan harus meniru alam, congruity, yaitu bagaimana menempatkan suatu komponen untuk membentuk keindahan secara keseluruhan, finishing dan collocation. Pada intinya Alberti menyatakan sesuatu disebut indah karena 8
  • 6. meniru alam, dalam hal ini bukan hanya alam secara fisik, tetapi juga hukum-hukum alam. Hal ini dapat dilihat pada kolom-kolom Yunani yang berbentukmengecil ke atas, yang dianggap sesuai dengan hukum alam. Alberti bukanlahsatu-satunya orang yang mencetuskan standar dalam estetika arsitektur.Andrea Palladio dan Brunelleschi juga banyak memberikan kontribusi bagistandar estetika dalam arsitektur masa Renaissance. Kebanyakan aturan-aturanyang berlaku pada masa tersebut menyebutkan aturan proporsi dalam angka-angka. Golden section merupakan salah satu aturan proporsi dalam angkayang banyak digunakan dan dianggap sebagai representasi dari alam padasekitar abad ke-18. Aturan-aturan yang populer pada masa setelah Renaissance dijiwaioleh semangat akan perkembangan sains. Perez-Gomez dalam Architectureand The Crisis of Modern Science (1990) menyatakan bahwa terdapat duatransformasi yang menjadi penyebab hal tersebut di atas, yaitu revolusiGalileo yang menggantikan kosmologi Renaissance dengan sains yang bersifatuniversal, serta transformasi kedua yang berlangsung pada tahun 1800 yangsemakin memantapkan sains sebagai satu-satunya cara melakukan interpretasiterhadap realitas. Karena itu estetika yang digunakan dalam arsitektur menjadiestetika yang bersifat matematis. Proporsi yang matematis dan geometrimendominasi konsep estetika pada masa tersebut. Penggunaan geometri dan angka dalam arsitektur terus berlangsunghingga awal abad ke-20 saat berkembangnya Arsitektur Modern. Pada masaArsitektur Modern, proporsi golden section diadaptasi oleh Le Corbusierdalam teori Modulornya. Perbedaannya dengan penggunaan geometri danangka pada masa sebelumnya adalah bahwa dalam Arsitektur Modern,pengaruh geometri dan angka berakibat pada tujuan penataan ruang yangsemata-mata untuk alasan efisiensi dan ekonomi. Perez-Gomez (1990)menyatakan bahwa paradigma efisiensi dan ekonomi dalam ArsitekturModern merupakan akibat dari pendekatan rasional absolut sehingga arsitekturdireduksi hanya sebagai teori yang rasional dengan menolakketerhubungannya dengan filosofi dan kosmologi. 9
  • 7. Selain mendasarkan diri pada perhitungan rasional, Arsitektur modernmerupakan suatu bentuk arsitektur yang mengidekan suatu universalitas danobjektivitas. Hal ini merupakan konsekuensi dari konsep yang hanyadidasarkan pada objek semata. Berdasarkan pada objek dan meniadakankemungkinan subjektif dengan meniadakan faktor pengamat berarti mencarisesuatu yang objektif dan universal, dapat dilihat hubungan erat antaraArsitektur Modern dengan arsitektur masa Renaissance yang tumbuh dalammasa euforia terhadap sains dan pemikiran rasional, yakni bersifat objektif danuniversal. Perkembangan filsafat fenomenologi pada masa awal abad keduapuluh yang mengkritisi pendekatan matematis dari modernisme kemudianmembawa suatu pendekatan baru dalam estetika. Dalam fenomenologi,perhatian lebih diarahkan kepada keberadaan subjek yang mempersepsi objekdari pada kepada objek itu sendiri. Dengan kata lain hal ini dapat dikatakansebagai membuka kemungkinan adanya subjektivitas. Hal ini menimbulkankesadaran akan adanya konteks ruang dan waktu, bahwa pengamat dari tempatyang berbeda akan memiliki standar penilaian yang berbeda, dan begitu puladengan pengamat dari konteks waktu yang berbeda. Pemikiran inilah yangkemudian akan berkembang menjadi postmodernisme. Terbukanyakemungkinan untuk bersifat subjektif memberi jalan bagi keberagaman dalamestetika, dan memberikan banyak pengaruh pada arsitektur. Wajah arsitektur yang semakin beragam dan semakin kompleks, tidakseperti wajah Arsitektur Modern yang selalu polos. Ide akan kompleksitasdalam arsitektur pertama kali dicetuskan oleh Robert Venturi dari Amerikadalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture (1962) yangkemudian mengawali post modernisme dalam arsitektur. Dalam buku tersebutterlihat adanya pergeseran estetika yang sangat besar. Venturi mendukungpenggunaan kompleksitas dan kontradiksi dalam arsitektur dan mencanangkanslogan less is bore yang merupakan penyerangannya terhadap slogan less ismore dari Arsitektur Modern. Dengan terbukanya subjektivitas, maka timbulkecenderungan untuk memberikan identitas pada arsitektur, baik berupa 10
  • 8. identitas pemilik ataupun identitas si arsitek. Akibat dari kecenderungan ini, terjadilah fenomena berlomba-lomba untuk membuat monumen-monumen yang dipergunakan untuk menunjukkan jati diri. Pada titik ini terjadi tumpang- tindih antara estetika dengan simbolisme, karena estetika dipergunakan sebagai sarana untuk menunjukkan identitas. Ide ini bukanlah ide baru, karena arsitektur pada masa sebelum masa Arsitektur Modern juga telah banyak menggunakannya, akan tetapi yang terjadi pada postmodernisme adalah pluralisme yang berlebihan karena setiap individu berusaha untuk memiliki jati diri sendiri (Piliang, 1998). Adanya kesadaran akan kontekstualitas membuka pikiran akan tidak adanya universalitas dan objektivitas. Hal ini menuju pada pengakuan akan adanya (pengetahuan) konsep estetika arsitektur lain di luar arsitektur barat. Akibatnya terjadi perkembangan ilmu estetika arsitektur yang merambah ke arsitektur selain Barat yang sebelumnya dianggap sebagai oriental, termasuk juga arsitektur di Indonesia.2.2.1 Sejarah Estetika di Indonesia Yuswadi Saliya (1999) menyatakan adanya empat ciri arsitektur tradisional di Indonesia, yaitu pertama, semuanya sarat dengan makna simbolik, kedua, rumah menjadi simpul generasi masa lalu dengan generasi masa datang, ketiga pemenuhan kebutuhan spiritual lebih diutamakan dari pada kebutuhan badani, keempat, dikenalnya konsep teritorialitas dan kemudian mengejawantah menjadi batas. Ciri pertama dan kedua menunjukkan adanya kosmologi dan orientasi non badaniah, dan karena spiritual-lah yang diutamakan, maka kebutuhan badaniah cenderung akan dikorbankan demi kepentingan spiritual. Dalam hal ini manusia merupakan pihak yang harus melakukan penyesuaian diri terhadap bentukan arsitektur (Soemardjan, 1983). Orientasi terhadap kosmologi ini masih banyak dijumpai di Indonesia hingga masa kini, terutama pada arsitektur tradisional. Hal ini bukan berarti bahwa semua arsitektur di Indonesia berorientasi pada kosmologi. Indonesia tidak terlepas dari pengaruh 11
  • 9. globalisasi. Pemikiran akan universalitas dan objektivitas Arsitektur Modern juga melanda arsitektur Indonesia. Seperti juga di Barat, fenomena arsitektur yang polos, tanpa ornamen dan tanpa konteks juga terjadi di Indonesia. Seperti juga arus modernisme, arus Postmodernisme juga melanda Indonesia. Sebagai akibatnya, terjadi kesadaran akan konteks dan perlunya identitas. Hadirnya Arsitektur Modern dan Postmodern secara bersamaan dengan (masih) hadirnya arsitektur tradisional menunjukkan adanya dualisme dalam arsitektur Indonesia. Arsitektur Modern dan Postmodern menunjukkan arsitektur yang berorientas pada kebutuhan badaniah manusia, sementara arsitektur tradisional Indonesia berorientasi kepada kosmologi dan spiritual.2.2.2 Estetika dalam Arsitektur Dalam arsitektur, estetika adalah sebuah bahasa visual, yang tidak sama dengan beberapa bahasa estetika yang tidak visual, seperti bahasa itu sendiri. Estetika dalam arsitektur memiliki banyak sangkut paut dengan segala yang visual seperti permukaan, volume, massa, elemen garis,dan sebagainya, termasuk berbagai order harmoni, seperti komposisi. Teori Estetika Subyektif Menurut Herbert Read teori subyektif menyatakan bahwa sesungguhnya yang menyatakan ciri-ciri yang menimbulkan keindahan adalah tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan persaaan dalam diri seseorang dalam mengamati sesuatu benda. Keindahan memang subyektif, dalam diri setiap orang, pendapat tentang nilai estetika sebuah bangunan dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain subyektifitas diri sendiri. Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh yang berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam keadaan normal; misalnya mata bisa melihat, hidung bisa mencium, pikiran dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek menggairahkan limbic dalam otak sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak dengan sebuah obyek arsitektural. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak mengatakan sesuatu itu indah. 12
  • 10. 2.3 Teori Estetika Teori Estetika pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3, yaitu : 1. Teori Estetik Formil Banyak berhubungan dengan seni klasik dan pemikiran-pemikiran klasik. Teori ini menyatakan bahwa keindahan luar bangunan menyangkut persoalan bentuk dan warna. Teori beranggapan bahwa keindahan merupakan hasil formil dari ketinggian, lebar, ukuran (dimensi) dan warna. Rasa indah merupakan emosi langsung yang diakibatkan oleh bentuk tanpa memandang konsep-konsep lain. Teori ini menuntut konsep ideal yang absolut yang dituju oleh bentuk-bentuk indah, mengarah pada mistik. 2. Teori Estetik Ekspresionis Teori menyebutkan bahwa keindahan tidak selalu terjelma dari bentuknya tetapi dari maksud dan tujuan atau ekspresinya. Teori ini beranggapan bahwa keindahan karya seni terutama tergantung pada apa yang diekspresikannya. Dalam arsitektur keindahan dihasilkan oleh ekspresi yang paling sempurna antara kekuatan gaya tarik dan kekuatan bahan (material). Kini anggapan dasar utama keindahan arsitektur adalah ekspresi fungsi atau kegunaan suatu bangunan. 3. Teori Estetik Psikologis Menurut Teori ini keindahan mempunyai 3 aspek : a. Keindahan dalam arsitektur merupakan irama yang sederhana dan mudah. Dalam arsitektur pengamat merasa dirinya mengerjakan apa yang dilakukan bangunan dengan cara sederhana, mudah dan luwes. b. Keindahan merupakan akibat dari emosi yang hanya dapat diperlihatkan dengan prosedur Psikoanalistik. Karya seni mendapat kekuatan keindahannya dari reaksi yang berbeda secara keseluruhan. c. Keindahan merupakan akibat rasa kepuasan si pengamat sendiri terhadap obyek yang dilihatnya. Ketiga teori ini merupakan manifestasi untuk menerangkan keindahan dari macam-macam sudut pandang secara mistik, emosional atau ilmiah 13
  • 11. intelektual. Teori yang kemudian muncul, seperti dikutip Maryono (1982- 81) antara lain adalah teori keindahan Obyektif dan Subyektif. Teori Obyektif berpendapat bahwa keindahan adalah sifat (kualitas) yang melekat pada obyek. Teori Subyektif mengemukakan bahwa keindahan hanyalah tanggapan perasaan pengamat dan tergantung pada persepsi pengamat. Teori keindahan secara umum menurut dasar pemikiran Timur, seperti diuraikan Sachari (1988 : 29-33), antara lain didasarkan pada hubungan alam dengan semesta (Taoisme), manusia dengan masyarakat (Konfusianisme), hubungan manusia dengan yang mutlak (Budhisme). Keseimbangan alam merupakan ukuran keindahan menurut pemikiran Timur.2.4 Fungsi Estetika Di zaman modern, perkembangan seni semakin tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia. Pada seni yang berdaya guna dalam kehidupan mereka, bahkan seni menduduki fungsi-fungsi tertentu dalam kehidupan manusia. Nilai dapat di bedakan atas dua macam yaitu nilai ekstrinsik dan nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik ialah nilai yang di kejar manusia demi sesuatu tujuan yang ada di luar kegiatananya, sedangakan nilai instrinsik yaitu nilai yang di kejar manusia dari nilai itu sendiri karena keberhargaan, keunggualan atau kebaikan yang terdapat pada seni itu sendiri. 1. Fungsi Kerohanian (Spiritual) Seni di pandang memiliki fungsi kerohanian (spiritual) karena banyak dimanfaatkan sebagai media bagi manusia untuk mendekatkan diri denagn sang pencipta. Fungsi ini tampaknya yang tertua dan pokok dari seni yang bercorak spiritual. Misalnya seperti membaca Al-Quran, kaligrafi, nyanyian rohani, arsitektur Masjid dll. Karl Barth berpendapat bahwa sumber keindahan adalah Tuhan. Agama sering dijadikan juga sebagai salah satu sumber inspirasi seni yang berfungsi untuk kepentingan keagamaan. Pengalaman-pengalaman religi tersebut tergambarkan dalam 14
  • 12. bentuk nilai estetika. Banyak media yang mereka pergunakan. Ada yang memakai suara, gerak, visual dsb. Contoh: Kaligrafi arab, makam, relief candi, gereja dsb.2. Fungsi Kesenangan Seni di pandang memiliki fungsi kesenangan hanya untuk kesenangan yaitu hiburan (peluapan emosi yang menyenangakan). Seorang seniaman akan akan terhibur ketika berkarya dan akan lebih merasa terhibur jika karyanya dinyatakan berhasil. Demikian seseorang akan merasa terhibur jika mendengarkan musik, film yang bagus, lukisan yang menyentuh perasaan. Dan semuanya kembali kepada sejaauh mana apresiasi seseorang terhadap karya seni.3. Funsi Pendidikan Seni di pandang memiliki fungsi pendidikan karena dapat meningkat potensialitas manusia seperti keterampilan, kreatifitas, emosionalitas dan sensibilitas (kepekaan). Beberapa seni lukis misalnya dapat meningkatkan keterampilan tangan ketajaman penglihatan, daya khayal sehingga menjadi lebih kreatif. Peningkatan karya seni dapat mengasah perasaan sesseorang sehingga menjadi lebih sensitif, sensibilitasnya meningkat, serta penyerapan panca inderanya lebih lengkap, upaya pendidikan yang sudah umum di lakukan agar menyenangkan dalam seni contohnya seperti drama yang di aplikasikan dalam pelajaran sejarah, menyanyi dan bermain musik. Sedangakan pendidikan nonformal dapat dilakukan oleh pemerintah melalui film, lagu, atau wayang. Pendidikan dalam arti luas dimengerti sebagai suatu kondisi tertentu yang memungkinkan terjadinya transformasi dan kegiatan sehingga mengakibatkan seseorang mengalami suatu kondisi tertentu yang lebih maju. Dalam sebuah pertunjukan seni orang sering mendapatkan pendidikan secara tidak langsung karena di dalam setiap karya seni pasti ada pesan/makna yang sampaikan. Disadari atau tidak rangsangan- rangsangan yang ditimbulkan oleh seni merupakan alat pendidikan bagi 15
  • 13. seseorang. Seni bermanfaat untuk membimbing dan mendidik mental dan tingkah laku seseorang supaya berubah kepada kondisi yang lebih baik- maju dari sebelumnya. Disinilah seni harus disadari menumbukan pengalaman estetika dan etika.4. Fungsi Komunikatif Seni di pandang memiliki fungsi komunikatif karena dapat menghubungkan pikiran seseorang dengan orang lain. Orang usia lanjut dan orang muda dapat bertemu melalui seni. Pria dan wanita dapat berhubungan pada landasan yang sama berupa karya seni bahkan orang- orang (seniman) yang hidup berabad-abad yang lampau dan di tempat yang ribuan kilometerr jauhnya dapat berkomunikasi dengan orang-orang sekarang melalui karya seni yang di tinggalkan. 16
  • 14. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Setelah memperhatikan isi dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Estetika adalah ilmu yang membahas tentang keindahan, estetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty), yang berasal dari kata aisthetika atau aesthesis (Yunani) yang artinya hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera. 2. Estetika membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indah atau tidak indah. Dan keindahan meliputi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual. Keindahan secara murni, menyangkut pengalaman esotis seseorang dalam kaitannya dengan sesuatu yang dihayatinya. Sedangkan keindahan secara sempit menyangkut benda-benda yang dihayatinya melalui indera. 4. Teori estetika dibagi menjadi 3 yaitu: teori estetik formil, teori estetik ekspresionis, teori estetik psikologis. 3. Funsi seni terhadap kehidupan ada 4 yaitu: fungsi kerohanian (spiritual), kesenagan, pendidikan dan komunikatif.A. Saran Dari pengertian estetika di atas dapat dipahami bahwa keindahan tidak hanya terbatas pada seni dan alam tapi juga pada moral dan intelektual. Pemahaman tentang estetika secara benar dapat memberikan arahan untuk bersosialisasi dengan penuh ekspresi, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. 17
  • 15. DAFTAR PUSTAKAhttp://id.wikipedia.org/wiki/Estetika (diakses pada 07/10/2012)http://www.scribd.com/doc/92913874/teori-ESTETIKA (diakses pada 07/10/2012)http://ulax.wordpress.com/2009/04/30/sejarah-estetika/ (diakses pada 7/10/2012)http://dpi476diana.wordpress.com/landasan-teori/a-teori-estetika/ (diakses pada07/10/2012)http://senismasantupetrus.blogspot.com/2010/05/fungsi-seni.html (diakses pada07/10/2012)http://www.docstoc.com/docs/13177111/estetika-dan-keindahan (diakses pada07/10/2012)http://id.shvoong.com/humanities/arts/2280722-pengertian-estetika/ (diakses pada07/10/2012)http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2140529-defenisi-estetika/(diakses pada 07/10/2012) 18

×