• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Tugas Kurikulum Asep
 

Tugas Kurikulum Asep

on

  • 4,472 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,472
Views on SlideShare
4,465
Embed Views
7

Actions

Likes
0
Downloads
72
Comments
0

1 Embed 7

http://www.slideshare.net 7

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Tugas Kurikulum Asep Tugas Kurikulum Asep Presentation Transcript

    • DAFTAR BUKU Judul buku : Kurikulum dan Pembelajaran Pengarang : Prof. Dr. Nasution M.A Penerbit : Bumi Aksara Tahun : 2006 Halaman : 160 halaman
    • BAB I KONSEP DASAR KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN Falsafah dan tujuan pendidikan (asas filosofis) Kebutuhan masyarakat (asas sosiologis) Hakikat anaka dan belajar (asas psokologis) Hakikat pengetahuan, disiplin ilmu (bahan pelajaran) Tujuan intruksional, hasil belajar yang diharapkan Strategi dan kegiatan belajar mengajar Sumber dan alat belajar Evaluasi proses dan hasil belajar siswa Efektivitas kurikulum dan pengajaran
      • penjelasan bagan :
      • Aspek filosofis mencangkup falsafah bangsa, masyarakat, sekolah, dan guru.
      • Aspek sosiologis mencakup harapan dan kebutuhan masyarakat (orang tua, kebudayaan, pemerintah, agama, ekonomi)
      • Aspek psikologis mencakup hakikat anak antara lain taraf perkembangan fisik, mental, psikologis, emosional, sosial serta cara anak belajar.
      • Bahan pelajaran meliputi pengetahuan atau disiplin ilmu.
      • Proses pengembangan kurikulum :
      • Pedoman kurikulum meliputi :
        • Latar belakang yang berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan.
        • Silabus yang berisi mata pelajaran secara lebih terperinci.
        • Disain evaluasi.
        • 2. Pedoman instruksional untuk tiap mata pelajaran yang dikembangkan berdasarkan silabus.
    • Refleksi
      • pendekatan pengembangan kurikulum dengan menyusun pedoman kurikulum dan pedoman instruksional dapat meningkatkan mutu sekolah, mutu pendidikan, dan meningkatkan efektivitas mengajar.
    • BAB II DETERMINAN KURIKULUM
      • Determinan kurikulum terbagi ke dalam 4 bagian yaitu :
        • Determinan filosofis, yaitu hakikat kenyataan, hakikat pengetahuan, nilai kebaikan, keindahan, dan penalaran.
        • kurikulum atau pelaksanaannya yang didasarkan atas salah satu aliran filsafat akan berbeda bila dipakai aliran filsafah yang lain. Misalnya, kita menganut falsafat idealisme maka kita berusaha mencari kebenaran yang ditentukan oleh otoritas dari “atas” dengan mempelajari buku-buku karya tokoh-tokoh ulung dimasa lalu yang telah menemukan kebenaran “abadi”.
        • Determinan sosiologis, yaitu sekolah didikan oleh dan untuk rakyat.
        • tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak dapat memberi jawaban atas tekanan-tekanan sosio-politik-ekonomi yang dominan pada saat tertentu.
        • Determinan psokoligis, determinan in mempunyai dua dimensi yang saling berkaitan yaitu :
          • Teori belajar (bagaimana sebenarnya siswa belajar)
          • Hakikat belajar secara individual antara lain berkenaan dengan taraf :motivasi, kesiapan, kematangan intelektual, kematangan emosional, latar belakang pengalaman.
          • Ada lima kelompok teori belajar yaitu :
          • Behaviorisme
          • Psikologi daya
          • Perkembangan kognitif
          • Teori lapangan
          • Teori kepribadian
        • Determinan hakikat pengetahuan, yaitu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu selalu berkembang.
        • pengetahuan berubah dan meluas dengan kelajuan yang kian cepat. Diperkirakan bahwa tiap tahun diterbitkan lebih dari 30.000 judul buku baru.
    • BAB III PENDEKATAN DALAM PENGEMBNAGAN KURIKULUM
      • Para ahli kurikulum telah menemukan pendekatan umum dalam pengembangan kurikulum, di antaranya :
        • Pendekatan bidang studi. Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya matematika, sains, sejarah, geografi, dan sebagainya. Yang diutamakan dalam pendekatan ini adalah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu. Pendekatan ini lbeih mudah dibandingkan dengan pendekatan lainnya oleh sebab itu disiplin ilmu telah jelas batasannya dan karena itu lebih mudah mempertanggung jawabkan atas determinan hakikat pengetahuan dengan mengabaikan ketiga determinan lainnya.
      • Pendekatan interdisipliner, beberapa pendekatan interdisipliner dalam pengembangan kurikulum :
        • Pendekatan “Broad-Field”, pendektan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan. Misalnya sekolah mengajarkan IPS dengan membicarakan lingkungan rumah atau orang yang berjasa di rumah.
        • Pendekatan kurikulum inti, kurikulum ini banyak persamaan dengan broad-field, karena sama-sama menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Kurikulum ini berusaha menghilangkan tembok pemisah yang tak wajar antara berbagai disiplin ilmu agar siswa dapat menerapkan secara fungsional pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya.
        • Pendekatan kurikulum inti di perguruan tinggi, “core” digunakan dalam perguruan tinggi yaitu pengetahuan inti yang pokoknya diambil dari sebuah displin ilmu yang dianggap esensial mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar.
        • Pendekatan kurikulum fusi, merupakan menyatukan dua atau lebih disiplin tradisional menjadi bidang studi baru, misalnya biologi + fisika menjadi biofisika.
      • Pendekatan rekonstruksionisme. Pendekatan ini disebut juga rekonstruksi sosial karena memfokuskan kurikulum pada msalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, rasialisme, interdependensi global, kemiskinan, malapetaka akibat kemajuan teknologi, perang dan damai, keadilan sosial, hak asasi manusia.
      • Pendekatan humanistik. Kurikulum ini berpusat pada siswa, dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistik yakin bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal.
      • Pendekatan “accountability”. Pertanggungjawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, tampil sebagai pengaruh yang penting dalam dunia pendidikan.
      • Pendekatan pembangunan nasional. Pendekatan ini mengandung tiga unsur :
        • Pendidikan kewarganegaraan berorientasi pada sistem politik negara.
        • Pendidikan sebagai alat pembangunan nasional.
        • Pendidikan keterampilan praktis bagi kehidupan sehari-hari.
    • Refleksi
      • memilih pendekatan kurikulum akan menentukan mata pelajaran yang akan disajikan yang dianggap dapat mencapai tujuan lembaga pendidikan itu.
    • BAB IV TUJUAN PENGAJARAN
      • Kita telah mengenal berbagai tingkatan tujuan dalam pengembangan kurikulum yakni tujuan institusional yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan. Tujuan institusional, kurikuler dan mata pelajaran biasanya dicantumkan dlam Pedoman Kurikulum.
      • Tujuan kurikuler dan tujuan bidang studi atau mata pelajaran termasuk tujuan umum pendidikan suatu lembaga pendidikan dan menggambarkan hasil belajar siswa yang paling umum sebagai hasil belajar yang diharapkan berkat proses belajar mengajar. Tujuan umum ini memberikan arahan dan tidak dirumuskan dalam bentuk kelakuan yang dapat diukur. Untuk menentukan tujua umum suatu bidang studi dapat dilakukan sebagai berikut :
        • Sebutkan nama bidang studi
        • Tentukan scopenya, yakni bahan uang diliputi bidang studi itu.
        • Rumuskan hasil belajar yang diharapkan.
        • Tentukan topik-topik yang akan dibicarakan.
    • Refleksi
      • Dalam menentukan tujuan pengajaran harus sesuai dengan visi, misi sekolah tersebut. Selain itu tujuan ini harus ditunjang oleh guru atau pendidik yang mampu mengimplementasikan kemampuannya dalam kurikulum sehingga tujuan pengajaran tercapai.
    • BAB V STRATEGI DAN SUMBER BELAJAR
      • Strategi mengajar adalah pendekatan umum dalam mengajar dan tidak begitu terinci dan bervareasi dibanding dengan kegiatan belajar siswa seperti yang tercantum dalam rencana persiapan satuan pelajaran. Agar dapat dipilih strategi mengajar yang serasi harus diperhatikan tujuan yang ingin dicapai. Bila tujuannya mencapai hasil belajar pada tingkat tinggi, maka yang diperlukan ialah strategi yang tinggi yag lebih kompleks.
      • Sumber mengajar sudah harus diusahan pada tingkat pedoman kurikulum. Pada taraf ini hendaknya dikerahkan sedapat mungkin tenaga pengajar untuk bersama-sama menyiapkan segala sumber mengajar yang diperlukan. Untuk mengembangkan sumber mengajar tenaga pengajar dibagi dalam sejumlah kelompok menurut bidang studi atau menyiapkan sumber mengajar tertentu. Sumber itu dapat berupa bahan cetakan, buku pelajaran atau buku refernsi, majalah, transparansi, proyektor, diagram, permainan simulasi, dan sebagainya.
    • Refleksi
      • membaut strategi yang ditunjang dengan sumber mengajar yang telah dirancang oleh pengajar maka tujuan pengajaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.
    • BAB VI MENDISAIN RENCANA EVALUASI KURIKULUM
      • Evaluasi kurikulum merupakan bagian yang paling sulit untuk dilaksanakan karena pada kenyataannya kurikulum dirombak tanpa evaluasi yang sistematis. Ada lima langkah dalam mendisain evaluasi, yaitu :
        • merumuskan tujuan evaluasi, evaluasi dilakukan sepanjang pelaksanaan kurikulum. Proses evaluasi dilakukan pada akhir jangka waktu tertentu, yang dievaluasi adalah metode dan proses dalam pelaksanaan kurikulum.
        • Mendisain proses dan metologi evaluasi. Model mana yang akan digunakan tergantung pada tujuan evaluasi, waktu dan biaya yang tersedia dan tingkat kecermatan dan kespesifikan yang diinginkan.
        • Menspesifikasikan data yang diperlukan untuk menyusun instrumen bagi proses pengumpulan data. Data yang dikumpulkan berupa data “keras” yaitu berupa fakta seperti score test, absensi, pembiayaan, dan data “lunak” yaitu persepsi dan pendapat orang yangd dapat berbeda-beda.
        • mengumpulkan, meyusun, dan mengolah data. Proses pengolahan data harus jelas dalam metodologi penilaian.
        • Menganalisis data dan menyusun laporan mengenai hasil-hasil, kesimpulan, dan rekomendasi. Laporan evaluasi biasanya berupa :
          • Hasil-hasil berdasarkan data yang dikumpulkan
          • Kesimpulan
          • Rekomendasi, apakah data cukup untuk mendukung kelangsungan kurikulum.
    • Refleksi
      • Dengan mendisain evaluasi kurikulum ketika adanya perubahan diharapkan kurikulum bisa terkontrol dengan baik dan jika evaluasi diadakan secara terus menurus mungkin tak perlu kurikulum diganti seluruhnya, namun dapat diperbaiki dan disempurnakan sesuai dengan perkembangan zaman.
    • BAB VII DISAIN RENCANA INSTRUKSIONAL PENGAJARAN
      • Desain instruksional ini dalam situasi kelas yang akan diberi pelajaran harus diusahakan agar terdapat keselarasan antara bahan ajar dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik.
      • Dimensi kognitif, pengatahuan, keterampilan yang berkenaan dengan bahan ajar, tujuan yang akan dicapai.
      • Dimensi afektif, kematangan, tanggung jawab, inisiatif siswa yang berkenaan dengan keadaan, ciri-ciri dan taraf perkembangan siswa.
    • KOMPONEN-KOMPONEN MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF TUJUAN PEMBELAJARAN TINDAK LANJUT PENGELOLAAN KELAS MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF EVALUASI MEDIA DAN SUMBER STRATEGI PEMBELAJARAN
    • Refleksi
      • dalam desain instruksional memiliki deminsi, dimana kedua dimensi itu harus diperhitungkan dalam perencanaan kegiatan mengajar dan belajar. Peran guru pun harus ada siswa dapat tumbuh dan berkembang dalam dua dimensi itu dan oleh sebab itu pengajaran disesuaikan dengan kesiapan siswa berdasarkan kedua skala itu.
    • BAB VIII MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERFIKIR DAN MEMECAHKAN MASALAH
      • Pemecahan masalah memerlukan keterampilan berpikir yang banyak ragamnya termasuk mengamati, melaporkan, mendeskripsi, menganalisis, mengklasifikasi, menafsirkan, mengkritik, meramalkan, menarik kesimpulan dan membuat generalisasi berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan diolah.
      • Masalah dapat dihadapi dengan berbagai macam pendekatan, bergantung pada kondisi di mana kita berada.
        • Pendekatan reaktif, pendekatan ini terdapat dalam situasi dimana seseorang tiba-tiba dihadapkan dengan maslah yang harus sekejap diputuskan.
        • Pendekatan antisipatif, orang yang berantisipasi melihat masalah sewaktu mulai berkembang lalu ia secara sistematis memikirkan alternatif dan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut.
        • Pendekatan reflektif, seseorang mengambil waktu untuk memikirkan suatu masalah secara mendam, menganalisis semua komponen sambil menimbang dengan cermat tiap mengambil keputusan.
      • Cara mengembnagkan keterampilan berpikir :
        • Mengamati
        • Melaporkan
        • Mengklasifikasi
        • Memberi label
        • Menyusun dan mengurutkan
        • Menginterpretasi
        • Membuat inferensi
        • Memecahkan problema
    • Refleksi
      • proses pemecahan masalah harus memiliki keterampilan berpikir. Seorang guru harus mengajarkan bagaimana cara memecahkan masalah dimulai dari mengamati sampai memilih alternatif pemecahan masalah.
    • BAB IX PERENCANAAN INSTRUKSIONAL UNTUK TUJUAN AFEKTIF
      • Pendidikan afektif mencakup pendidikan nilai-nilai dan pendidikan moral. Pendidikan nilai-nilai adalah proses membantu siswa menjajaki nilai-nilai yang mereka miliki secara kritis agar dapat meingkatkan mutu pemikiran. Sedang pendidikan moral berkenaan dengan pertanyaan tentang yang benar dan yang salah dalam hubungan interpersonal, antar masyarakat.
      • Tujuan pendidikan afektif ialah membantu siswa agar ia meningkatkan dalam hirarki afektif, yakni dari tingkat paling bawah (menerima pernyataan tentang nilai-nilai) melalui tingkat merespon terhadap nilai-nilai itu dan akhirnya menginternalisasikan sistem nilai sebagai tingkat tertinggi dalam perkembangan afektif.
    • Refleksi
      • pendidikan afektif, pendidikan nilai, dan pendidikan moral sangat penting bagi perkembangan peserta didik, apa gunanya pintar jika tidak memiliki akhlak.
    • BAB X PENDIDIKAN AFEKTIF, PERSPEKTIF HISTORIS DAN MODEL-MODEL PENDIDIKAN AFEKTIF
      • Bidang pendidikan afektif berangsur berkembnag dari sumber yang beragam yakni falsafat, psikologi, sosiologi, dan teori pendidikan.
      • Kan menekankan proses pemikiran dan analisis rasional dan mencetuskan konsep bahwa “bagaimana kita adanya” (“dan Sein”) dari segi moral tidak sepenting “bagaimana kita seharusnya”(“dan Sollen”)
      • Model-model pendidikan afektif :
        • Model konsiderasi, model ini ialah membantu siswa mengembnagkan rasa “consideration”, “tepo seliro”, yaitu pemahaman dan penghargaan atas apa yang diucapkan atau dirasakan orang lain, betapapun berbedanya dengan pandangan kita sendiri.
        • Model pembentukan rasional, model ini menekankan bagaimana kita dapat berpikir rasional dimana ada sisi moral.
        • Model “value clarification”, yang berarti mengusahan agar nilai itu jelas bagi seseorang.
    • Refleksi
      • Para peserta didik diharapkan dengan adanya tujuan afektif dalam pendidikan adapat lebih mulia dalam menjalankan tugas, membantu para pemimpin untuk mengembangkan motivasi, mumupuk rasa adil, kesamaan hak dan harkat manusia.