Buku 2 (Riki)

928 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
928
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
17
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Buku 2 (Riki)

  1. 1. DAFTAR BUKU Judul Buku : Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Pengarang : Prof. Dr. Dakir Penerbit : Rineka Cipta Tahun : 2004 Halaman : 174 halaman
  2. 2. BAB 1 Hakikat Kurikulum <ul><li>Kurikulum adalah sebuah komponen penting dari sistem pendidikan. Kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepla sekolah. </li></ul><ul><li>Kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikan sesuai dengan pentunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh pemerintah pusat. </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Kurikulum yang tercantum dalam UUSPN dijadikan dasar bertindak dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pedoman mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar. </li></ul><ul><li>Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan supervisi kurikulum terhadap para guru pemegang mata pelajaran. Sedang fungsi kurikulum bagi guru adalah sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Fungsi kurikulum bagi masyarakat mendorong sekolah agar dapat menghasilkan berbagai tenaga yang dibutuhkan oleh masyarakat. </li></ul>
  4. 4. Refleksi <ul><li>pada dasarnya kurikulum berisikan tujuan, metode, media evaluasi bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar. Kurikulum disusun yang berisikan beberapa mata pelajaran pokok dengan harapan agar peserta didik mempunyai standar kecakapan yang sama. </li></ul>
  5. 5. BAB 2 ORGANISASI KURIKULUM <ul><li>Dalam kurikulum terdapat tiga bentuk dalam pengorganisasian, yaitu : </li></ul><ul><ul><li>Separate subject curriculum, dalam hal ini bidang studi yang akan diajarkan disusun secara terpisah dengan batasan bahan atau materi pelajaran serta waktu yang telah ditentukan terlebih dahulu. </li></ul></ul><ul><ul><li>Correlated curriculum, berbeda dengan organisasi sebelumnya, organisasi ini menjelaskan bahwa berbagai bidang studi yang sejenis dikelompok yang kemudian dibahas pada suatu topik yang relavan. Misalnya, sejarah, ilmu bumi, sosiologi menjadi IPS. </li></ul></ul>
  6. 6. <ul><ul><li>Integrated curriculum, dijelaskan bahwa suatu topik atau permasalahan yang muncul dibahas dengan berbagai pokok bahsan baik dari bidang studi yang sejenis maupun dari bidang studi lain yang relavan. Topik pembahasan ditentukan secara demokratis antara peserta didik dan guru. </li></ul></ul>
  7. 7. Refleksi <ul><li>pengorganisasian kurikulum memberikan kemudahan dalam mensajikan materi di depan kelas dan bagaimana memilih bahan ajar beserta cara penyajiannya kemudian melakukan evaluasi. </li></ul>
  8. 8. BAB 3 ASAS-ASAS PENGEMBANGAN KURIKULUM <ul><li>Ada tiga asas dalam pengembangan kurikulum, yaitu : </li></ul><ul><ul><li>Asas psikologi, yaitu adanya hakikat anak yang meliputi perkembangan fisik, mental, emosional, kepribadiannya dan cara belajar. </li></ul></ul><ul><ul><li>Asas sosiologi, yaitu dalam mengembnagkan kurikulum guru harus mampu bagaimana harapan dan kebutuhan masyarakat dimana mencakup orang tua, kebudayaan masyarakat, pemerintah, agama, ekonomi yang kemudian dikembnagkan dalam mata pelajaran. </li></ul></ul>
  9. 9. <ul><ul><li>Asas teknologi, yaitu adanya hakikat pengetahuan, dimana melalui teknologi inilah kurikulum semakin berkembnag. Dalam proses pembelajaran pun meningkat, pengembangan teknologi tidak dapat lepas dari hasil penelitian di masyarakat. </li></ul></ul>
  10. 10. Refleksi <ul><li>Antara asas psikologi, asas sosiologi, dan asas teknologi dapat membantu satuan pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, dapat pula meningkatkan kreativitas para peserta didik dalam mengembangkan keterampilan yang dimiliki peserta didik maupun guru. </li></ul>
  11. 11. BAB 4 PENGEMBANGAN KURIKULUM <ul><li>Kurikulum tingkat nasional dikembangkan dengan memperhatikan konteks pendidikan, yakni kebangkitan Islam, otonomi daerah, millenium goals, demokratisasi, pembangunan berkelanjutan, perkembangan IPTEK, dan ekonomi berbasis spritual, moral, dan intelektual. </li></ul>
  12. 12. <ul><li>Pengembangan kurikulum secara vertikal berkaitan dengan kontinuitas antara berbagai jenjang pendidikan (pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi). Sedangkan secara horizontal berkaitan dengan keselarasan antarberbagai jenis pendidikan dalam berbagai jenjang. Jenis-jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademika, dan pendidikan profesional. </li></ul>
  13. 13. Refleksi <ul><li>Pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang bersifat positif yang datang dari luar ataupun dari dalam diri sendiri. Pengembangan kurikulum dapat membantu peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik, sehingga pengembangan kurikulum bersifat antisifatis, adaptif, dan aplikatif. </li></ul>
  14. 14. BAB 5 KURIKULUM MUATAN LOKAL <ul><li>Dimasukannya muatan lokal dalam kurikulum pada dasarnya dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam adat istiadat, kesenia, tata cara, tata krama pergaulan, bahsa, dan pola kehidupan yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia. </li></ul><ul><li>Kurikulum muatan lokal terdiri dari beberapa mata pelajaran yang berfungsi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menumbuhkembangkan pengetahuan dan kompetensinya sesuai dengan keadaan dan kebutuhanlingkungan. </li></ul>
  15. 15. <ul><li>Kurikulum muatan lokal adalah seperangkat rencana dan penagturan mengenai isi dan bahan pelajaran yang ditetapkan oleh daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing serta cara yang digunakan sebagi pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar ( Depdikbud, 1999 : 5 ) </li></ul><ul><li>Tujuan pembelajaran muatan lokal : </li></ul><ul><ul><li>Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerah yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat. </li></ul></ul><ul><ul><li>Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai dan aturan yang berlaku di daerahnya. </li></ul></ul>
  16. 16. Refleksi <ul><li>Kurikulum muatan lokal dipengaruhi oleh masyarakat. Dengan muatan lokal diharapkan peserta didik dapat mandiri dalam kehidupan, terampil, memiliki kpribadian, kreatif, inofatif. </li></ul>
  17. 17. BAB 6 LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN <ul><li>( fondation of education planning, Unesco, 76) proses perencanaan : </li></ul><ul><ul><li>Tahap perencanaan : </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diagnosis sistem yaitu mencari dan menentukan sistem apa yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Formulasi tujuan yaitu menentukan tujuan dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan visi, misi sekolah. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Perkiraan sumber yaitu menentukan bahan atau sumber bahan ajar yang akan dipakai. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Perkiraan target harus disesuaikan dengan tujuan. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>constrains </li></ul></ul></ul>
  18. 18. <ul><li>Formulasi rencana. Setelah melakukan tahap perencanaan, kemudian menyusun rencana-rencana yang akan dibuat. </li></ul><ul><li>Elaborasi rencana. Menggabungkan setiap perencanaan kurikulum. </li></ul><ul><li>Evaluasi. Setelah semua perencanaan kurikulum dilakukan dalam proses pembelajaran dan tahap terakhir yaitu melakukan evaluasi perencanaan yang kemudian dilakukan perbaikan apabila ada kegagalan dalam menyusunannya. </li></ul>
  19. 19. Refleksi <ul><li>Dalam merumuskan perencanaan kurikulum harus disesuaikan dengan prosedur dan ketetapan di masing-masing satuan pendidikan dan sekolah agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. </li></ul>
  20. 20. BAB 7 MERENCANAKAN JUMLAH PESERTA DIDIK UNTUK TAHUN MENDATANG DAN ANALISIS COHORT <ul><li>Kurikulum disusun bukan hanya untuk tahun sekarang namun untuk tahun berikutnya pula. Sekolah maupun satuan pendidikan harus merencanakan jumlah peserta didik karena dipastikan jumlah peserta didik pada suatu sekolah meningkat. Oleh karena itu sekolah harus benar-benar menetukan jumlah peserta didiknya agar tujuan pembelajaran sama dengan tujuan pendidikan. </li></ul><ul><li>Analisis Cohort dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : </li></ul><ul><ul><li>Ulangan rata- rata. Sebelum melaksanakan ujian sekolah biasanya dilakukan ulangan harian yang kemudian akan diakumulatifkan dengan nilai ujian akhir. Sehingga guru dapat mengetahui persentasi kompetensi muridnya. </li></ul></ul>
  21. 21. <ul><ul><li>Sekolah tidak melaksanakan sitem kredit seperti diperguruan tinggi karena sistem pelaksanaan kurikulumnya pun berbeda. Begitu pula tingkat kematangan daya pikirnya berbeda. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tidak memperhatikan siswa pindahan karena dapat mempengaruhi proses pembelajaran di sekolah. Ketika ada siswa pindahan maka dia harus bisa mengikuti proses pembelajaran dan aturan yang berlaku di sekolah tersebut. </li></ul></ul>
  22. 22. Refleksi <ul><li>Sekolah maupun satuan pendidikan harus merencanakan jumlah peserta didik agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan. </li></ul>
  23. 23. BAB 8 EDUCATION WORKSHEET <ul><li>Education worksheet yaitu suatu perencanaan untuk menentukan jumlah guru dan sarana yang diperlukan atas dasar kurikulum yang berlaku. Dengan menggunakan education worksheet bisa menetukan berapa tenaga kerja yang dibutuhkan yang memiliki kompetensi yang unggul. Sekolah akan melakukan seleksi terhadap guru dan akan membuat tim work. </li></ul><ul><li>Dalam menentukan sarana sangat penting karena sarana akan menunjang dan membantu guru dalam proses pembelajaran. Sarana yang baik dan terencana maka dalam proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik, dan akan menghasilkan guru maupun peserta didik yang berkompetensi. </li></ul>
  24. 24. Refleksi <ul><li>Sebelum melakukan dan melaksanakan suatu kegiatan pembelajaran, sekolah akan melakukan education worksheet. Dengan menggunkan sistem tersebut sekolah dapat menentukan jumlah guru yang dibutuhkan sehingga tidak ada guru yang tidak bekerja “memakan gaji buta”, selain itu guru pun harus benar-benar memiliki kompetensi yang unggul. Begitu juga dalam penentuan sarana yang akan menunjang dalam proses pembelajaran. Namun harus diingat dalam menentukan guru dan sarana harus sesuai dengan kebutuhan dan kurikulum yang berlaku. </li></ul>
  25. 25. BAB 9 PERT DAN CPM DALAM PERENCANAAN KURIKULUM <ul><li>PERT adalah singkatan dari Program Evaluation Review Technique, yang artinya alat pimpinan untuk menentukan dan mengkoordinasi hal-hal yang harus dikerkajan dalam suatu proyek agar dapat selesai pada waktunya. </li></ul><ul><li>CPM singkatan dari Critical Parth Method, yang artinya merupakan garis yang menghubungkan beberapa event/kejadian. CPM akan membantu dalam menentukan PERT sehingga memudahkan dalam penyusunan kurikulum. Garis CPM artinya bahwa pada garis tersebut harus betul-betul selesai pada waktunya. Menejer tidak perlu mengawasi sendiri secara serius pada event yang S-nya tidak ketemu nol, cukup diserahkan kepada para pembantunya tetapi harus ditangani sendiri. </li></ul>
  26. 26. <ul><li>Menggunakan PERT sangat dibuthkan pada kegiatan pisik, dan bermanfaat dalam menentukan garis CPM harus benar-benar mendapatkan perhatian dan tenaga yang penuh karena apabila satu diantara event yang dilalui garis CPM ternyata tidak selesai pada waktunya akibatnya semua pekerjaan gagal total. </li></ul>
  27. 27. Refleksi <ul><li>Seperti halnya dalam proses pembelajaran, guru akan menentukan garis dimana garis tersebut akan menghubungkan mata pelajaran yang akan disampaikan, sehingga guru akan lebih mudah dalam menyampaikannya. Dengan menentukan silabus, memilih event-event yang akan dimengerti oleh peserta didik, yang kemudian menganalisnya. </li></ul>

×