PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN TINJAUANSENI RUPA NUSANTARAOleh: Iswahyudi, M.HumI. Pendahuluan         Indone...
Di sisi lain kelemahan- kelemahan dalam hal masyarakat multikultural, adalahmemungkinkan terjadinya diskriminasi dari berb...
dengan itu kebudayaan nasional juga berada di tengah dan berinteraksi dengankebudayaan asing. Apabila kita sebagai regener...
Kebudayaan V pada tahun 2003 di Bukittingi telah disepakati bahwa untukmembangun kebudayaan nasional yang plural terinspir...
Pemeo itu yang kemudian dijadikan tempat berpijak pada tokoh-tokohreformasi untuk menegakkan moral dan azas demokrasi, men...
tampaknya hanya bersifat monolitik sebagaimana pada pembukaan UUD 1945,sehingga belum memberi reward yang maksimal bagi ju...
memparadigma, maka dalam hal pendidikan juga berduyun-duyun mempengaruhiseperti Collins (1974) dengan mempercayakan bahwa ...
tidak bisa dilepaskan biasanya terjadi pemisahan antara pendidikan denganpengajaran atau antara transfer of knowledge terp...
pembahasan yang lebih compitable pendekatan tersebut dapat diaplikasi terhadapsetiap matakuliah dengan khas yang multikult...
Bukanlah suatu kelemahan apabila sejarah senirupa Indonesia itu mulaimenjadi kesadaran sejarah dan mulai dibincangkan khus...
sejarah senirupa Indonesia adalah 1. Masa Prasejarah. 2. Senirupa klasik Indonesia, 3.Senirupa zaman madya, dan 4. Senirup...
1993 hanya terdiri sejumlah kuranglebih 65 buku yang ditulis oleh bangsa kita.Bertolak dari hal terserbut sebagaimana pand...
tulisan ini berani mengatakan bahwa sejarah senirupa Indonesia tidak ada, adalahyang saya maksudkan bukan harus mengikuti ...
jaringan perdagangan yang dari waktu ke waktu sifatnya tidak bergerak. Dalambagian kedua, dibahas sejarah negara-negara, k...
dengan kata lain dari yang semula pada rasio kemudian digantikan ke yang emosi.Sifat klasik ditandai dengan proporsi yang ...
mendasar adalah harus tetap mempunyai daya komunikasi terhadap seseorang yangmelihatnya pada waktu kapanpun.       Bertola...
yang sangat memperkaya aneka hal senirupa kemudian diteruskan zaman madya yangwaktu itu kondisi senirupa menjadi semakin k...
Charles Sanders Peirce dan sekaligus dengan hermeneutik sudah cukup untukmenganalisis karya-karya yang berbobot sehingga k...
historiografi yang Indonesiasentris ternyata masih ada titik kelemahan karena belumtuntasnya atau terbatasnya dalam mengha...
diakui oleh Claire Holt yang sebenarnya adalah seorang arkeolog yang tugasnyamengajar di Cornell University dan sekaligus ...
Bertolak dari hal tersebut meskipun telah diakui oleh Holt, bahwa sebenarnyadalam menulis buku tersebut tidak dikerjakan s...
dalam substansi pembelajaran sejarah senirupa Indonesia ini jika dalam buku-bukuajar terutama setelah periode prasejarah d...
dari luar sejak berakhirnya masa prasejarah dan memasuki masa sejarah telah lamaberinteraksi dengan melalui perdagangan mi...
Amerika.. Hal ini adalah tepat mengapa karena di sebagian Sumatra, Jawa dan Balipenduduknya sebagian besar sudah memasuki ...
(Kolonial Tijdshrift), MNZ (Mededeelingen van Wege het Nederlandsch ZendelingGenootschap), MKNAN (Mededeelingen der Koninl...
Setelah kita mengetahui tentang hal-ihwal pendidikan multikutural yang daridua wacana ini sebenarnya dapat dikembangkan at...
adalah ditentukan oleh faktor guru atau pembelajar. Sebagai contoh dalam hal iniadalah salah satu matakuliah Tinjauan Seni...
terhadap warna, garis, bentuk, dan ruang. Intelegensi kinestik-badani adalah keahlianmenggunakan tubuh untuk mengekspresik...
sehingga pasti sudah diberi kemampuan berpraktek seni, sehingga untuk menjangkauarahan membentuk intelektual ganda maka ta...
anak didik rupa juga mampu mnangkap wajah perasaan seseorang ditransformasikandalam pencipotaan seniru[pa. Kemudian intelk...
penciptaan senirupa etnis jelas bagi anak didik rupa dapat dijadiukamn sumberinspirasi untuk penciptan senirupa dan seni k...
srenIrupa Nusantara tampaknya lkebih gambling dan dipertimbangkan sebagaisumbert modal multikutural ditemukanm/,          ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

pendekatan multikultural dalam pembelajaran

582

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
582
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
26
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

pendekatan multikultural dalam pembelajaran

  1. 1. PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN TINJAUANSENI RUPA NUSANTARAOleh: Iswahyudi, M.HumI. Pendahuluan Indonesia adalah salah satu bangsa terbesar dunia yang memiliki predikatmultikultural, sehingga setiap personalnya harus memiliki kesadaran. Bertolak dengan kesadaran tersebut karena merupakan modal dasarpembangunan bangsa, sehingga mungkin dapat dikaitkan dengan memilikikesadaran-kesadaran yang lain, misalnya apa itu seperti demokrasi, agama, ekonomi,politik, kultural, dan mungkin yang lebih segmen dan tidak kalah penting adalahpendidikan. Dengan ditemukannya dua wacana antara kesadaran multikulkturaldan pendidikan. Menurut salah satu teori yaitu Van der Berghe dalam Demerath(1967:299) adalah tidak lepas dengan model mengembangkan paradigma strukturfungsionalnya Parsonian khususnya mengarah pada terwujudnya integrasi sosial.Kesadaran multikultural di Indonesia pernah dibahas sejak masa pemerintahancolonial, Furnivall (1967:446-449) menguatkan bahwa masyarakat majemuk diHindia Belanda terdiri atas dua ciri yang bersifat unik, secara horizontal ditandai olehkenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan pada perbedaan etnis, agama,dan tradisi. Kemudian secara vertikal struktur masyarakat Hindia Belanda ditandaiadanya perbedaan-perbedaan di antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukuptajam. 1
  2. 2. Di sisi lain kelemahan- kelemahan dalam hal masyarakat multikultural, adalahmemungkinkan terjadinya diskriminasi dari berbagai hal di luar bahasa sepertietnosentrisme, prejudis dan steriotif, ekonomi, diffable, gender, informasi, danformasi. Diskriminasi etnosentrisme adalah kecenderungan membenarkankepentingan kelompoknya, prejudis dan steriotif atau sebuah penilaian yangmenganggap pihak lain negatif dan selalu mencirikan pada pihak di luarkelompoknya mempunyai ciri tertentu dan pasti. Diskriminasi ekonomi sudah jelasada suatu perbedaan pada tingkat pemilikan ekonomi, diffable adalah tidak adanyatoleransi bahwa di dalam kehidupan pasti selalu ada perbedaan kemampuan.Kemudian gender adalah menyangkut perbedaan jenis kelamin, informasi adalahketidakmeratanya aset-aset informasi yang dianggap sebagai sumber inspirasiwawasan, dan formasi adalah terjadi ketidakadilan kesempatan dalam hal role danstatus atau juga masalah-masalah power. Sebagai bangsa Indonesia dengan negara yang multikultural menurutBlum(1991:18) secara empirik restrofektif adalah menguntungkan karena dapatdijadikan modal kultural demi regenerasi multikultural, sehingga dalam menarikpandangan yang profetik mestinya hanya dapat ditempuh satu visi yaitu ideologimultikultural dan sekaligus kebijakan-kebijakan yang multikultural. Mencoba menyiasati dari sisi normatif sebagaimana dalam pasal 32 UUD1945 Ayat (1), telah dirumuskan bahwa yang dimaksud kebudayaan nasional adalahhasil karya asli bangsa Indonesia yang telah mencapai nilai puncak, dan bersamaan 2
  3. 3. dengan itu kebudayaan nasional juga berada di tengah dan berinteraksi dengankebudayaan asing. Apabila kita sebagai regenerasi multikultural dapat jugamensikapi bahwa budaya-budaya etnis yang telah mencapai puncak dapat dijadikansumber inspirasi penciptaan, kemudian budaya dari asing jika bertolak dengankebijakan politik bebas aktif dapat kita sikapi sebagai sumber kreativitas karena bebasuntuk menolak dan bebas juga untuk menerima asing sebagai sesuatu yang tidak bisakita pungkiri. Bertolak dengan dua kata kunci, yaitu antara puncak-puncak budaya daerahdan kebudayaan asing dalam hal ini jika terjadi lunturnya rasa persatuan karenamenganggap salah satu etnis merasa lebih tinggi budayanya dengan etnis yang lainmaka akan terjadi ketimpangan yang membahayakan sifat multikultural. Terkaitdengan cita-cita untuk membangun kebudayaan nasional dengan kebudayaan baruyang sebenarnya berkelindan dengan budaya asing, menurut Kayam (1981:19)dengan mendinamisir kemajemukan budaya kita karena ada kesenjangann terutamauntuk kelompok etnis yang jauh dari pusat kekuasaan, sehingga bisa dikatakan bahwabudaya mereka hanya dianggap sebagai sub kultur dan memungkinkan terjadinyakurang diapresiasi. Hal ini karena faktor kekuasaan pusat cenderung didominasi olehsedikit atau sebagaian power budaya etnis tertentu termasuk ketika harus membentukpolicy kebudayaan nasional yang refleksinya adalah terjadinya ketidakadilan budaya. Sejalan dengan pendapat Kayam tersebut selain terjadi rasa kekhwatirankarena harus mengorbankan budaya etnis yang merasa terpinggirkan, maka menurutSupardi (2007:120) menguatkan bahwa dengan berlangsungnya Konggres 3
  4. 4. Kebudayaan V pada tahun 2003 di Bukittingi telah disepakati bahwa untukmembangun kebudayaan nasional yang plural terinspirasi dan berbasis pada kearifanlokal yang tidak lain harus memperhatikan sepenuhnya pada budaya etnis . Ironisnya kesadaran multikultural yang terjadi di Indonesia disikapi sebagaisuatu pengalaman dengan phobia tindakan-tindakan kekerasan sebagaimanaperjalanan sejarahnya, adalah sejarah perang dari masa sejak Sriwijaya, Majapahit,Demak, Pajang, Mataram, dan merebut mempertahankan kemerdekaan. Karena ituketika negara ini didirikan sejak presiden Sukarno dengan selogan revolusi belumselesai dan kemudian disusul presiden Suharto dengan sering pidatonya membangunmanusia seutuhnya, maka keduanya integrasi dan sekaligus multikultural sudahdipercayakan pada Pancasila. Jadi kesadaran tersebut seolah-olah redefinisi dengankata tersebut, mungkin pemerintah Orde Baru Suharto dapat menekan stabilitasnasionalnya dengan menyemarakkan indigenisasi ilmu-ilmu sosial untuk mendukungtarget pembangunan eonomi, sayangnya meskipun terpenuhi karena secaramaksimal, tetapi karena kurang memperhatikan dengan ilmu-ilmu humaniora yanglebih bersifat value judgment ternyata dalam pertimbangan-pertimbangan tertentujuga terjadi sesuatu yang tidak menggembirakan. Salah satu bukti yang tidak bisadilepaskan terjadi ketika di akhir tahun 1998-an dengan peristiwa krisis ekonomiyang disusul dengan berbagai krisis multidimensional dan harus dibayar mahaldengan peristiwa-peristiwa tindakan kekerasan dan bersamaan runtuhnya pemerintahOrde Baru. 4
  5. 5. Pemeo itu yang kemudian dijadikan tempat berpijak pada tokoh-tokohreformasi untuk menegakkan moral dan azas demokrasi, menjunjung tinggi hak asasimanusia termasuk hak untuk berbudaya berwawasan luas pada pentingnya kesadaranmultikultural Indonesia dan merasa khawatir dengan masih kurang berimbangnyapembangunan terutama di Indonesia bagian timur atau daerah-daerah lain yangteralienasi tidak menikmati hasil pembangunan bahkan mudah menjadi sarangrasialisme dan sparatisme Indonesia. Babakan baru dengan label masa reformasi sebenarnya diakui pula oleh paratokohnya tidak akan menjadi suatu jaman yang berpengaruh sebagai catatan sejarah,mengingat begitu terpuruknya bangsa ini pada berbagai ketidakadilan, tetapi palingtidak dapat memberi pencerahan pada nilai demokrasi yang santun. Dalam cita-citayang sangat bermoral karena dengan terpanggil wacana hak asasi untuk pembenahanetika di mata internasional seperti opsi yang ditawarkan pada masyarakat TimorTimur yang sekarang menjadi TimorLeste yaitu merdeka atau integrasi ternyata tidakmenguntungkan pada bangsa Indonesia, sehingga dengan demikian berbincang halusdengan konsensus pada kebhinekaan dan keikaan benar-benar harus dibangun dengansemaksimal mungkin. Dalam arti yang sangat tematik dan topikal pendekatan multikultural dapatmenyeret pada masalah-masalah pendidikan termasuk di dalamnya seperti halpembelajarannya. Mengapa demikian, sebenarnya secara ideologi pendidikanmerupakan suatu cita-cita luhur yang begitu dikumandangkan demi kepentinganidentitas bangsa yang menjunjung tinggi kemerdekaan dan untuk pencerdasan bangsa 5
  6. 6. tampaknya hanya bersifat monolitik sebagaimana pada pembukaan UUD 1945,sehingga belum memberi reward yang maksimal bagi jumlah penduduk yangdemikian besar ini. Pemaklumatan yang secara institusional antar nasional harusmengakui bahwa gelombang ideologi-ideologi besar seperti liberalisme, yang dalaminti risalahnya adalah memberi kebebasan kepada individu untuk berkesempatanmeraih prestasi karena atas kemampuannya sebagai manusia yang sempurna.Tampaknya ideologi liberalisme ini dalam perkembangan di Barat merupakan resepyang ampuh untuk menuju alih-alih modern terutama kaitannya dengan maraknyafaham utilitarianisme , hedonisme, dan materialisme yang harus dengan syaratmultlak pada digdayanya nilai praksis ilmu pengetahuan dan teknologi yangmendukung terwujudnya sistem kapitalisme. Jadi berkaitan dengan idelologipendidikan misalnya direkrutlah untuk memfokuskan pada output yang dapatmembantu perkembangan industrialisasi atau pertumbuhan ekonomi, seolah-olahpenyelenggaraan pendidikan untuk sumber penanaman human capital. Di Indonesia dalam merespon isu menjadi negara baru dengan modernisasimelalui pendidikan pada masa Orde Baru telah diciptakan sistem pendidikan yangsentralistik. Apabila kita telusuri gambaran itu menunjukkan bahwa prosesmodernisasi bangsa dengan determinan ukurannya pada ekonomi seperti modelRostow (1960) tentang teori tinggal landas dan teori dependensi model Andre GunderFrank (1979), bahwa proses modernisasi dengan pertumbuhan ekonomi dan menujupada alih industrialisasi adalah dengan meniru cara pandang barat yang sebenarnyaitu tidak sesuai dengan kontek Indonesia. Teori-teori itu karena sudah terlalu 6
  7. 7. memparadigma, maka dalam hal pendidikan juga berduyun-duyun mempengaruhiseperti Collins (1974) dengan mempercayakan bahwa pendidikan dapat mendukungdunia kerja atau human capital maka kurikulum-kurikulum yang diterapkan adalahbias industri dan ujung-ujungnya membentuk masyarakat credensialis atauberorientasi pada ijasah untuk mengisi formasi di industri maupun birokrasi. Dalamgambaran yang sangat intens yaitu dengan melalui proses becoming to secaraindividu tampaknya di panggung pendidikan kita adalah didominasi dengan aliranbehaviorisme dan humanisme. Behaviorisme misalnya dengan model Skiner yangmengetengahkan bahwa semua anak didik pasti dapat dibentuk melalui pembelajarantanpa kecuali. Kemudian humanisme misalnya dengan menyadap pendapat AbrahamMaslow (1970) adalah ideologi pendidikan yang mendasarkan diri pada nilai-nilaidasar kebutuhan manusia yang sebetulnya dapat mendukung terwujudnya harapanmanusia, sehingga faktor di luarnya kurang berpengaruh. Tampaknya dengan menempatkan model ideologi pendidikan behaviorismedan humanisme inilah mengilhami munculnya pendidikan liberalisme dan diteruskanneo-liberalisme yang hasilnya membentuk manusia mempunyai kewenangan untukmengekploitir baik alam, manusia, masyarakat, bahkan Tuhan demi kepentinganpribadi. Selain itu model pendidikan tersebut hanya lebih menitikberatkan padapendidikan kognitif intelektual dan keahlian psikomotorik yang bersifat tekniksemata, sehingga cenderung hanya menghasilkan mempertahanakan statusquo kalauperlu berorientasi pada bisnis, sehingga demi survival berlakulah hukum rimba dalampendidikan. Dalam kaitannya dengan sistem pembelajarannya tampaknya bisul yang 7
  8. 8. tidak bisa dilepaskan biasanya terjadi pemisahan antara pendidikan denganpengajaran atau antara transfer of knowledge terpisah dengan transfer of value. Jikademikian memang dapat membahayakan baik di dalam masyarakat maupun negara,sehingga muncullah resistensi seperti model Paulo Freire (1970) dengan pendidikankaum tertindas dan bahkan yang lebih ekstrim lagi dengan Ivan Illich (1971) tentangDe Scholling Society . Remidiasi bukanlah suatu tindakan mendeskreditasikan sesuatu yang telahterjadi dan itu suatu yang lumrah dalam dunia pendidikan. Itulah suatu perjalananpendidikan kita, memang gerakan counter culture dalam dunia pendidikansebagaimana yang dilakuan oleh Paulo Freire dan Ivan Illich boleh dikatakan suatuyang positiv-thingking tetapi hal itu mungkin kurang bijak untuk Indonesia.Meminjam Abraham (1980:199) dalam konsepnya tentang modernisasi hibrida ataubentuk modernisasi akulturatif, adalah usaha berbagai pembenahan demi modernisasitetapi khusus harus dipertimbangkan sesuai dengan kondisi yang strategi tepatkultural di Negara-negara dunia ketiga sehingga, lebih bijak karena tidak merupakantindakan resistensi pada policy pendidikan sebelumnya. Perubahan dari sistem pendidikan yang sentralistik menuju desentralistiksebagimana yang diharapkan dengan pendekatan multikultural, berani menjaminbahwa hasil pendidikan lebih bersifat holistik mengembangkan kesadaran untukbersatu dalam plural menjunjung tinggi nilai keadilan, kemanusiaan, agama, kreatifdan menegakkan hukum. Apabila demikian maka pendekatan multikulturalmerupakan satu-satunya Heils-gescheidenis dalam dunia pendidikan kita. Dalam 8
  9. 9. pembahasan yang lebih compitable pendekatan tersebut dapat diaplikasi terhadapsetiap matakuliah dengan khas yang multikultural. Sebagaimana dalam tulisan iniadalah pendekatan multikultural dalam pembelajaran matakuliah Tinjauan SenirupaNusantara, alasan ditulisnya dalam permasalahan ini karena diduga belumditemukannya buku-buku sejarah senirupa Indonesia, apresiasi senirupa, danberbagai kritik senirupa yang berbasis multikultural. Tujuannya yang terpentingadalah strategi apa yang tepat agar mahasiswa mudah memahami sekaligus untukmemperhatikan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis, pluralis dandemokratis. II. Gagalnya Historiografi Seni Rupa Indonesia: Dari Soedjojonosentrismenjadi Multikulturalsentris Apakah benar ada kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran matakuliahTinjauan Senirupa Nusantara karena tidak adanya Sejarah senirupa Indonesia.Menurut pandangan para pelaku pembelajar yang berpengalaman dan sekaligussebagai eyewitness, jika itu diangket melalui suara batin adalah benar karena memangtidak ada sejarah senirupa Indonesia. Terus buku-buku yang menyebutkan denganpropername itu bagaimana, dan apakah itu bukan menjadi sesuatu pelecehanakademik atau yang sejenis. Statmen ini bukanlah merubah keseluruhan darikonfigurasi sejarah senirupa Indonesia yang sudah ada tetapi hanyalah menyentuhkanpandangan kritik historis yang sering dibahas sampai berthele-thele dalam blantikahistoriografi, filsafat sejarah, dan metodologi historis. 9
  10. 10. Bukanlah suatu kelemahan apabila sejarah senirupa Indonesia itu mulaimenjadi kesadaran sejarah dan mulai dibincangkan khususnya ketika para figur tokohperupa modern dalam arti ukuran akademik, sebut saja misalnya Soedjojono yangpada tahun 1930-an telah dikenal sebagai pelopor dasar senirupa modern Indonesia.Apa mau dikata bahwa dalam pandangannya sebagaimana pada bukunya Senilukis,Kesenian, dan Seniman yang ditulis pada tahun 1946, merupakan titik langkah bahwasenirupa modern di Indonesia telah ada. Atau paling tidak seni rupa Indonesia modernmerupakan bagian senirupa dunia. Pandangan kritis Soedjojono yang demikian initidaklah hanya pada konsepnya “seni jiwa ketok”, tetapi mulai merambah bahwasenirupa Indonesia telah ada, tetapi bagaimana untuk meletakkan senirupa modernIndonesia di dalam gayut sejarahnya. Kemudian tokoh Kusnadi lain lagi, meskipundia sangat dekat dengan Soedjojono atau paling tidak aura ketokohannya berada dibawahnya, tetapi Kusnadi masih dapat menyerap pandangan Soedjojono yang padawaktu itu sangat berpengaruh. Hal ini bisa dibuktikan bahwa Kusnadi merupakanperan yang penting ketika yang pertama menjadi pembantu Claire Holt dalammenulis buku Art in Indonesia. Continuities and Change pada tahun 1967. Dan yangkedua mandegani menulis buku Sejarah Senirupa Indonesia yang diterbitkanDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1977. Dalam buku tersebutmerupakan renungan hati bahwa sejarah senirupa Indonesia dalam tatarandiakroniknya adalah mengikuti sejarah kebudayaan Indonesia dan sejarah secarakonvensional yang telah digeluti oleh sejarawan profesional. Dalam pembabakannya 10
  11. 11. sejarah senirupa Indonesia adalah 1. Masa Prasejarah. 2. Senirupa klasik Indonesia, 3.Senirupa zaman madya, dan 4. Senirupa Baru Indonesia. Bertolak dari pembabakan tersebut, meskipun merupakan eksplanasi yangsifatnya linier tetapi kesadaran untuk memiliki sejarah apabila itu mulai dipikirkanmisalnya oleh Soedjojono berarti dapat dikaitkan dengan posisi untukmemperkenalkan pada dunia luar. Hal itu sesuatu yang logis mengingat Soedjojonopada masa hidupnya terkontaminasi berat sifat nasionalisme sebagaimana denganberapi-api mengkritik senilukis Mooie Indie yang katanya tidak mempunyai misinasionalisme. Soedjojono sebagai perintis senirupa modern Indonesia denganmengambil sejarah masa sebelumnya sejak prasejarah sampai senirupa Islam dapatdibentangkan sebagai restrofektif karena betul secara empirik ada sebaran senirupa diluar jenis senilukis yang telah ditinggalkan, kemudian secara profetik senirupamodern Indonesia tentu akan berjalan sesuai dengan zeitgeist dan menitipkansenirupa modern Indonesia merupakan kelanjutan atau bagian dari senirupa dunia.Mungkin saja apabila dugaan itu benar dalam perjalanan sejarah senirupa Indonesiadipandang secara sepihak oleh perupa murni sebagaimana yang diwakili olehrombongan pelukis mazhab Soedjojono. Jadilah sementara dalam asumsi ini adasesuatu tendensi historiografi senirupa Indonesia adalah Soedjojonosentris. Penulisan sejarah senirupa Indonesia diawali harus dengan serpihanpandangan Soedjojono dan dilakukan oleh Kusnadi, apakah hal itu hanya didasarkankarena sebagai pemula saja. Menurut Sahman (1993:1) di Indonesia dalam perihaljumlah buku tentang senirupa masih sedikit dan langka, karena sampai pada tahun 11
  12. 12. 1993 hanya terdiri sejumlah kuranglebih 65 buku yang ditulis oleh bangsa kita.Bertolak dari hal terserbut sebagaimana pandangan Soedjojono dan diteruskan olehKusnadi dalam hal model merekonstruksi sejarah senirupa Indonesia, apakah generasiberikutnya seperti Sudarmaji dan Soedarso. Sp tidak memberi arti dan peran dalamsebaran penulisan sejarah senirupa Indonesia yang dalam realitanya ternyata relatiflebih produktif daripada Soedjojono dan Kusnadi. Tercatat bahwa Sudarmaji telahmenulis buku dengan judul PERSAGI Sebagai Pelopor Kebangunan SenirupaIndonesia Modern (1968), Senilukis Jakarta Dalam Sorotan (1974), SenirupaIndonesia Dalam Persoalan dan Pendapat (1974), Dari Saleh Sampai Aming (1975),Dasar-Dasar Kritik Senirupa (1979), dan Pelukis dan Pematung Indonesia (1982).Kemudian Soedarso. Sp menulis buku Pengertian Seni, terjemahan Herbert Read(1973), Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Senirupa (1987), SejarahPerkembangan Senirupa Indonesia (1990), Perjalanan Senirupa Indonesia DariZaman Prasejarah Hingga Kini (1991), dan Trilogi Seni: Penciptaan, Eksistensi, danKegunaan Seni (2006). Asumsi ini bukanlah harus dikomparasikan dengan setegasitu, tetapi dengan model periodesasi sejarah senirupa Indonesia yang mendomplengsejarah kebudayaan dan sejarah lain yang konvensional. Tampaknya dari berbagaibuku Sudarmaji dan Soedarso. Sp masih mengikuti alur yang telah dirintis olehSoedjojono. Sebenarnya selain Kusnadi dan Soedarso. Sp dalam generasi berikutnyatentang penulisan sejarah senirupa Indonesia ternyata masih banyak dan sampai detikini sudah semakin meluas baik dari disiplin senirupa, praktisi, bahkan juga ada dariahli di luar disiplin senirupa. Jika demikian pendapat saya sebagaimana pada awal 12
  13. 13. tulisan ini berani mengatakan bahwa sejarah senirupa Indonesia tidak ada, adalahyang saya maksudkan bukan harus mengikuti tradisi historiografi seperti yang lainsebut saja misalnya sejarah sosial dan sejarah politik di Indonesia yang demikiankomprehensif dan meluasnya pandangan, yang dalam pertengahan abad ke-20 telahdimotori oleh sejarawan ulung seperti Sartono Kartodirdjo dengan keren sejarah yangdigarap dengan metodologi multidisipliner atau interdisipliner atau sering dikenaldengan mashab Gadjahmada. Sebelum ngetrennya kajian-kajian sejarah denganmodel seperti teori post-kolonial atau post-strukturalis ada momentum yang pentingdalam historiografi yang paling menakutkan dan sangat menghabiskan energi dalampenggarapannya, yaitu apa yang dikenal dengan konsep total history atau sejarahtotal. Dalam konsep sejarah total ini adalah dirintis oleh sejarawan PerancisFernand Braudel (1902-1985), satu-satunya historiografi yang dikenal denganmashab Annales atau mengeksploitasi masa lampau dengan pendekatan determinasiekonomi. Salah satu buku yang berjudul The Mediterranean and the MediterraneanWorld in the Age of Philip II, jilid 1 dan 2, Glasgow, Collins tahun 1973 atau LautTengah dan Dunia Sekitarnya pada Zaman Philips II. Buku ini terdiri atas tigabagian, masing-masing serasi dengan waktu berlangsungnya sejarah. suatu “tempo”tertentu dalam zaman historis. Dalam bagian pertama, Braudel membahas sejarahruang geografis yang hampir tidak bergerak dan khusus dipusatkan pada sejarah LautTengah abad ke-16. Yang dibahas di sini adalah gunung-gunung, sungai-sungai,pulau-pulau, keadaan geografis, klimatologis, dan ekologis yang terkait dengan 13
  14. 14. jaringan perdagangan yang dari waktu ke waktu sifatnya tidak bergerak. Dalambagian kedua, dibahas sejarah negara-negara, kesatuan-kesatuan ekonomis sertalingkungan-lingkungan kebudayaan. Tempo mereka berjalan cukup lamban, geraknyabersama-sama menuju tujuan bersama yang secara konjungtural terjadi kontak-kontakekonomi di sekitar antar kawasan laut Tengah. Akhirnya, dalam bagian ketigaditemukan sejarah penuh peristiwa yang bergerak bagikan jarum sebuah volt meter,denyutan-denyutan singkat ke kiri ke kanan. Setiap taraf waktu, selalu bergeraksesuai dengan kemelut peristiwa sejarah. seperti peristiwa-peristiwa politik,pertempuran-pertempuran, dan diplomasi militer di kawasan Laut Tengah sekitarabad ke-16. Terkait dengan historiografi senirupa sebenarnya yang dijadikan sebagaipeletak dasar adalah Heinrich Wolfflin (1922) dan diteruskan oleh Arnold Hauser(1957) yang mendasarkan pada perkembangan gaya sebagaimana determinasiperubahan. Menurut Wolfflin studi sejarah kesenian adalah dimulai mengenaisenirupa di Eropa khususnya pada seni lukis, patung , dan arsitektur dengan berawalmemusatkan perhatian pada pembahasan nilai-nilai keindahan yang terkandungdalam karya-karya seni tertentu disertai pengenalan biografi seniman yangmenciptanya. Kemudian Wolfflin mulai meletakkan landasan teori historis padagaya-gaya seni tertentu sedangkan seniman adalah semata-mata sebagai pewujud darigaya sehingga ada suatu kesatuan antara gaya seni dengan jiwa zaman. Tiap zamanmempunyai jiwa tertentu dan menumbuhkan gaya seni tersendiri, sedangkan masing-masing gaya senantiasa berkembang dari sifat yang klasik ke sifat yang barok atau 14
  15. 15. dengan kata lain dari yang semula pada rasio kemudian digantikan ke yang emosi.Sifat klasik ditandai dengan proporsi yang sempurna, garis yang tegas, penonjolanbidang, komposisi memusat dan ketegasan garis-garis batas. Kemudian sifat barokditandai kesan kegelisahan, garis-garis yang mengabur, penggambaran kedalaman,komposisi menyebar dan ketidaktegasan garis-garis batas. Perubahan dari sifat klasikke sifat barok itu mengikuti arus perkembangan yang berjalan dengan sendirinya.Kemudian setelah 40 tahun berikutnya muncullah Hauser yang lebih menyebarkarena tidak hanya pada bidang senirupa saja tetapi sudah dengan seni-seni yang lainmisalnya seni musik, puisi dan teater. Menurut Hauser bahwa sebenarnya mengenaigaya seni dan perkembangannya itu selalu dikaitkan dengan masyarakat yangmenyertainya atau dengan kata lain seni selalu terkait dengan realita sosial. Tinjauanmengenai kelompok kelompok dalam masyarakat serta peranan masing-masingdihubungkan pula dengan peristiwa-peristiwa historis tertentu diberikan dengansangat teliti. Namun uraian mengenai hasil-hasil karya seninya sendiri disertakandalam garis-garis besarnya saja, sebagai contoh dalam komentarnya dengankedalaman pada senirupa menurut Hauser bahwa selain pada penciptanya perihalmengenai bahan juga penting. Untuk mendapatkan bahan dari masa lalu sumber datajuga dihadapkan pada kenyataan adanya perbedaan nilai antara bahan-bahan daribidang-bidang seni yang berada dalam ruang, yaitu senirupa dan arsitektur denganbahan-bahan dari bidang seni yang selalu berlalu dalam waktu. Apabila senirupa danarsitektur itu tetap memiliki hakikatnya sebagai pernyatan seni, maka syarat yang 15
  16. 16. mendasar adalah harus tetap mempunyai daya komunikasi terhadap seseorang yangmelihatnya pada waktu kapanpun. Bertolak dari hal tersebut maka dalam hal perkembangan historiografisenirupa tampaknya dalam hal pandangan Wolfflin lebih bersifat inner logic, yaituArt History dalam arti sempit maksudnya karena tidak perlu dihubungkan denganlingkungan serta pengaruh-pengaruh yang ada sesuai dengan dimensi temporanya,atau senirupa khususnya ditinjau sebagai kebenaran yang berdiri sendiri. Kemudianberkaitan dengan Hauser karena lebih mendekatkan dengan dimensi-dimensi sosialdalam kaitannya dengan proses penciptan,maka dalam refleksi yang luas dapat ditarikmenuju ke hal yang total history art. Hanya saja yang menjadi sesuatu persoalan yang harus ada di dalam kasanahkepustakaan tentang total history art yang ada di Indonesia apakah sudah terisi ataubelum. Jika kita menilik dengan konsepnya Braudel untuk dapat diaplikasikan padasejarah senirupa Indonesia, kemungkinan besar bisa. Sebagaimana dalam lapisanpertama, karena gambaran sejarah bersifat tidak bergerak dan menekankan padaaspek struktur maka dapat dikaitkan dengan formasi senirupa prasejarah di Indonesiayang dalam aspek temporalnya lama sekitar 4000 tahun demikian juga dari sebarankarya seninya juga tidak begitu menunjukkan perkembangan yang komplek danhanya bersifat evolusi. Kemudian pada lapisan kedua temporalnya dengan mengikutiBraudel dalam sifatnya sejarah yang bergerak meskipun dapat terkendali sehinggabersifat konjungtural, hal ini dapat diwakili dengan datangnya pengaruh dari India 16
  17. 17. yang sangat memperkaya aneka hal senirupa kemudian diteruskan zaman madya yangwaktu itu kondisi senirupa menjadi semakin klasik bahkan menjadi sistemparadigmatik nilai bagi konsumennya. Kemudian dalam lapisan ketiga dengan begitucepatnya dan padatnya akumulasi senirupa, sehingga dapat diwakili pada senirupamodern Indonesia dan diteruskan gejala masuknya embrio seni postmodern. Dalamhal ini dapat dibuktikan dengan begitu cepatnya perkembangan gaya senirupa danrenyahnya komentar maupun kritik seni yang berinteraksi dapat sebagai sumberinspirasi historiografi senirupa Indonesia. Terkait dengan itu dalam hal total history art di Indonesia memang ada suatudisertasi yang lulusan UGM dan juga sekaligus digarap oleh sejarawan yang berlatarbelakang senirupa, yaitu dengan mengambil topik sekitar Raden Saleh sampaiPERSAGI. Menilik dari pengarahan yang berdasar pada kurikulum yang ditawarkanpada perkuliahan yang telah ditempuh mestinya konsep sejarah total menjadi sesuatuyang merangsang dan ambisius, karena itu Agus Burhan dalam menyajikanseumpama itu belum dapat mencakup semua bahan dan materi data yang terstrukturdalam arti untuk memenuhi tuntutan konsep sejarah total, kiranya data yang bersifatmanuskrip semasa periode Raden Saleh dan PERSAGI dalam bentuk arsip kolonialatau yang sejaman tersaji dengan membludag, sehingga paling tidak disertasi tersebutdapat memenuhi sampai pada mashab Gadjahmada. Dari sisi lain dalamperkembangan berikutnya tampaknya historiografi senirupa Indonesia lebihcenderung dalam kajian yang lebih bersifat efektif sesuai dengan aspek subjeknyayaitu koridor visual, sehingga pemanfaatan ilmu-ilmu baru seperti semiotik model 17
  18. 18. Charles Sanders Peirce dan sekaligus dengan hermeneutik sudah cukup untukmenganalisis karya-karya yang berbobot sehingga konsep total history art bolehdikatakan agak menipis. Selain diperkuat dengan teori-teori semiotik visual danhermeneutiknya yang jelas dan nggenah tampaknya dengan disusul berbagai teoripost-struktural atau yang sejenis sebagaimana pada kajian cultures study maka dalamperkembangan historiografi senirupa Indonesia menunjukkan sesuatu yang signifikan.Sebut saja misalnya dengan karya M.Dwi Marianto dengan Surealisme Yogyakarta(2001) dengan latar belakang senirupa dan Aris Munandar dengan Istana Dewa PulauDewata Abad XIV – XIX (2005) dengan latarbelakang dari disiplin arkeologiestetika. Terlepas dari soal pemikiran tentang total history art masalah itu penting atautidak penting mestinya menjadi kasanah Art World untuk jajaran akademik sepertidi Indonesia itu biarlah urusan para ahli yang kawogan. Kemudian dengan konsepsebagaimana telah disinggung di depan yaitu terkait dengan gagalnya historiografisenirupa Indonesia secara proporsinya terus bagaimana. Adalah Bambang Purwanto salah satu guru besar sejarah di Fakultas IlmuBudaya Universitas Gajahmada telah menulis buku Gagalnya HistoriografiIndonesiasentris (2005). Dalam buku tersebut tampaknya tanpa tedheng aling-alingtelah melihat bahwa historiografi yang sudah estabhlis dibangun oleh seniorsebelumnya, yaitu historiografi dalam pandangan Indonesiasentris sebenarnya telahdimaklumatkan pada seminar sejarah nasional yang pertama pada tahun 1957 diYogyakarta salut menjadi anutan sejarawan-sejarawan Indonesia. Akan tetapi 18
  19. 19. historiografi yang Indonesiasentris ternyata masih ada titik kelemahan karena belumtuntasnya atau terbatasnya dalam menghadapi sergapan wacana tradisi kritis dalamhistoriografi Menurut Purwanto meskipun dalam baiatnya historiografiiIndonesiasentris adalah menseterilkan sejarah yang Nerlandosentris atauhistoriografi dalam pandangan kolonial yang dalam ekplanasi masa lalu demi untukkepentingan kolonial dan berlaku sejarah Indonesia dianggap sejarah bangsa Belandadi Nederlandsch- Hindie, sehingga yang berperan sebagai pelaku sejarah seolah-olahdidominasi bangsa Belanda. Historiografi Indonesiasentris salut untuk merubahsejarah demi bangsanya dan selain mengganti historiografi kolonialsentris jugasekaligus untuk menelorkan kata-kata suci dalam akademik yaitu pelurusan sejarah.Dalam kenyataannya menurut Purwanto historiografi Indonesiasentris dianggapmempunyai label tetapi tidak bermakna, kecuali sebagai antitesa dari kolonialsentrisyang melekat pada historiografi sebelumnya. Sebagai contoh dalam hal ini adalahtentang pembelajaran sejarah terkait dengan buku-buku sejarah yang harus diperolehpada siswa tanpa berpikir dengan tradisi kritis dan hanya mendayakan kekuatansecara emphatik menuju kepentingan stabilitas nasional sehingga pemahaman sejarahyang diterima oleh setiap anak bangsa ini menjadi sesuatu yang bias. Tokoh –tokohpahlawan seperti Dipanegara, Hasannudin, Pattimura misalnya tidak akan dikenaloleh setiap insan yang berada di Papua. Itu saja belum cukup antara etnis yang satudengan yang lain paling-paling pembelajaran itu cenderung bersifat indoktrinasi. Jika itu ternyata dalam sejarah Indonesia dengan seluk-beluk historiografi dankritik yang tinggi, terus bagaimana tentang sejarah senirupa Indonesia. Sebagaimana 19
  20. 20. diakui oleh Claire Holt yang sebenarnya adalah seorang arkeolog yang tugasnyamengajar di Cornell University dan sekaligus sebagai peneliti untuk ModernIndonesian Project. Menurut buku Art in Indonesia: Continuities and Change dalampengantarnya sebenarnya ingin menulis perkembangan seni di Indonesia dalamkaitannya dengan pergerakan nasional, polemik kebudayaan tahun l930-an, sampaidengan masa revolusi merebut dan mempertahankan kemerdekaan tahun 1950-an.Jadi dengan penulisan masa sebelumnya senirupa prasejarah diteruskan sampaipengaruh Hindu dan Buda, hanya sebagai latar belakang saja sehingga tampak tidakbegitu mendetail. Jadi dengan demikian dus sama dengan pandangan Soedjojono.Dalam pengantarnya diakui bahwa kedangkalan akan terjadi karena mengingatdalam buku tersebut hanya memfokuskan pada senirupa yang berada di Jawa danBali saja sehingga senirupa etnis di luar wilayah itu tidak dituliskan. Menurut dugaansaya Claire Holt dalam pengakuannya hanya sebagai pemerhati dan hobi karenakeinginannya juga ingin belajar seni terutama seni tari di istana Yogyakarta sehinggaada kecenderungan tidak maksimal. Oleh karena itu berkaitan dengan substansi masaprasejarah sepenuhnya diambil intisarinya dari laporan-laporan arkeolog prasejarahseperti; J. Roder, KW Galis, Van Heekeren, Heine Geldern, Van der Hoop, PaulSarasin, dan Van Stein Callenfels. Kemudian pada senirupa klasiknya adalahmengadopsi dari sekelompok arkeolog klasik atau arkeolog estetika terutama yangmemfokuskan pada seni bangun candi dan elemen-elemennya di antaranya adalah; G.Coedes, N.J. Kroem, F.d.k. Bosch, P.h. Pott, J.G, de Casparis, Bernert Kempers,Stutterheim, J.Ph. Voegel, R. Goris, J.L.A. Brandes, dan Pigeaud. 20
  21. 21. Bertolak dari hal tersebut meskipun telah diakui oleh Holt, bahwa sebenarnyadalam menulis buku tersebut tidak dikerjakan secara maksimal hingga tidaksempurna sebagai histioriografi senirupa Indonesia, terlebih lagi jika olehpenerjemahnya R.M Soedarsono dengan diberi polesan kata melacak jejakperkembangan, maka selain buku tersebut adalah sesuatu yang awal ternyata jugamenjadi buku yang penting bahkan menjadi buku pegangan bagi setiap mahasasiswaprogram S1 S2, maupun S3. Kemudian apabila ditarik pada tingkat kelanjutan denganbuku yang ditulis oleh Kusnadi yang dalam sanubarinya adalah melanjutkan ideSoedjojono, ternyata dalam periodesasi sejarah senirupa Indonesia terutama untukperiode senirupa penagaruh Hindu dan Buda, kemudian diteruskan zaman madyadalam substansi yang tersaji adalah memusatkan hanya pada wilayah Jawa dan Bali.Dugaan itu juga terus berlanjut manakala berbagai buku-buku pelajaran sejarahsenirupa Indonesia atau sejarah kesenian Indonesia yang diajarkan untuk tingkatSMA atau yang setara, misalnya Sarifin (1960) Sedjarah Kesenian Indonesia yangditerbitkan oleh Pradnjaparamita, Djakarta dan bukunya M. Soedarmo & Drs.Wiyadi (1982), Sejarah Seni Rupa Indonesia yang diterbitkan oleh DepDikBud,Jakarta tentang periodesasi dan substansi tertutama pada senirupa klasik tidak jauhberbeda dengan buku sejarah senirupa Indonesia yang ditulis oleh Claire Holtmaupun Kusnadi. Bertolak dari hal tersebut memberi dugaan kuat bagaimana tentang substansipembelajaran sejarah senirupa Indonesia yang berada di luar pulau Jawa, terutama didaerah-daerah Indonesia Tengah dan Timur. Sebenarnya yang menjadi masalah 21
  22. 22. dalam substansi pembelajaran sejarah senirupa Indonesia ini jika dalam buku-bukuajar terutama setelah periode prasejarah dan sebelum masuknya senirupa modern ataukhususnya senirupa klasik yang terlalu didominasi senirupa di Jawa atau Jawasentrismemberi rasa ketidakadilan pada anak didik kita sebagian besar yang berasal daridaerah-daerah yang saya sebut tadi. Sebagai contoh ketika saya mengajar materipembelajaran tentang sejarah percandian di Jawa abad VI - XV M pasti sering sayadengar ”pak saya sama sekali tidak mengetahui candi, atau pak ketika di SMAsaya belum pernah dikenalkan oleh guru saya pak tentang wayang, candi danarca”. Meminjam pendapat Silberman (1970:472) jika pembelajaran yang demikiantidak segera dibenahi kurikulumnya dalam buku ajar karena seperti tidakmengIndonesiakan anak didik dari daerah yang merasa tidak mendapat informasiwawasan, maka akan terjadi crisis in the classroom sebagaimana dalam materisejarah senirupa Indonesia. Jika demikian ini tidak jauh berbeda dengan tidakdikenalnya tokoh Dipanegara, Hasannudin, dan Pattimura itu sebagai pahlawan untukanak didik kita yang berada di Papua. Berdasarkan hal tersebut maka untuk menghindari terjadinya pembelajaransejarah senirupa Indonesia yang tidak berbasis multikultural, khususnya di jurusanPendidikan Seni Rupa , FBS, UNY telah lama dirintis dengan substansi yang lebihdemokratis sebagaimana matakuliah Tinjauan Senirupa Nusantara sejak tahun1980-an dengan alasan sebenarnya banyak peninggalan kesenirupaan di luar pulauJawa, Sumatra dan Bali yang telah dibangun sejak berakhirnya masa prasejarah. Leur(1955:vii) mengatakan bahwa perkenalan bangsa Nusantara dengan bangsa-bangsa 22
  23. 23. dari luar sejak berakhirnya masa prasejarah dan memasuki masa sejarah telah lamaberinteraksi dengan melalui perdagangan misalnya dengan bangsa Cina, India,Yunani , Arab, dan Eropa. Sejak periode itu maka dengan mudah kita menerimaagama baru dari budaya besar seperti Hindu, Buda, Islam, dan Nasrani. Apa maudikata bahwa sejak masa tradisi megalitik bangsa kita telah mahir menciptakanbenda-benda senirupa dan kerajinan baik yang sifatnya movable maupun unmovablesebagaimana yang disebut-sebut oleh Bosch tentang 10 macam kepandaian orangJawa tetapi sebenarmya juga mencakup semua etnis Nusantara. Pepatah yangberbunyi in de kleine scheppingen herkent men de hand van de meester, ataukurang lebihnya dalam keahlian menciptakan benda-benda yang kecil dan indah akanterlihat kesempurnaan seseorang. Jadi ketertarikan bangsa-bangsa asing kepada etnisNusantara adalah kepiawaian kita yang ini sebenarnya mengundang para pemerhatiasing untuk mengerti sedalam-dalamnya dan kalau bisa meniru tentang industrisenirupa kita terutama etnis-etnis di luar Jawa yang belum banyak terpengaruhbudaya besar. Pembuktian ini saya balik mengapa pelukis-peliukis asing dalamkontek Mooie Indie seperti Walter Spies, Covarobias dan yang lain bilangsatandatang ke Indonesia hanya karena mengagumi pesona alam kita itu terlalukolonialsentris, tidak yang benar mereka juga kagum dengan kepiawaian bangsa kita. Bertolak dari ketertarikan tersebut mereka datang ke Nusantara selain sebagaiilmuwan etnografi baik amatiran maupun professional juga bertugas sebagaiZending dan Misi agama Nasrani di antaranya dilihat dari asal negaranya sebagianbesar bangsa Belanda kemudian diikuti Jerman, Perancis, Inggris, Denmark, dan 23
  24. 24. Amerika.. Hal ini adalah tepat mengapa karena di sebagian Sumatra, Jawa dan Balipenduduknya sebagian besar sudah memasuki agama di luar Nasrani, sehinggamereka datang ke wilayah Nusantara terutama Kalimantan dan Indonesia bagianTimur yang dianggap terra incognita dan tepat untuk kegiatan zending dan misi.Berbagai laporan etnografi dan catatan-catatan harian atau dag register tersebutmisalnya mengenai; arsitektur, aneka kerajinan, tenun, tekstil, benda-benda upacara,aneka senajata tradisional, batik, berbagai ornamen hias, berbagai tradisi megalithik,topeng, dan alat-alat musik. Berbagai artikel dan laporan tersebut tersebar menyatudengan tema yang lain misalnya adat-istiadat, hukum, situasi politik di wilayahZending dan Misi, geografi, dan berbagai kegiatan sosial etnis Nusantara. Berbagailaporan tersebut ada yang tersimpan sebagai dokumen arsip atau manuskrip tetapi adapula yang sempat dimuat pada berbagai majalah, buletin, kolonial verslag, dan adapula yang berupa buku baik berbahasa Belanda , Inggris, Jerman , dan Perancisdalam rentang periode tahun 1860 – 1960-an. Berbagai majalah, buletin, catatanharian, dan laporan kolonial tersebut adalah; AHV (de Aarde en Haar Volken),Adatrechtbundels, BKI (Bijdragen tot de Taal; Land-en-Volkenkunde), BEFEO(Bulletin de !’Extreeme Orient), BLV (Bijdragen tot de Taal;-Land en Volkenkunde),BRB (Borneo Research Bulletin), BRM (Berichte der Rheinischen Mission –Gesellshaft), EMN (Evangelisches Mission – Megazin ), I A (Indische Archief), IAE(Internationales Archiev fu” Etnographie), IG (Indische Genootschap), JPS (Journalof the Polynesian Society), KITLV (Koninklijk Institut voor de Taal;-Land enVolkenkunde), KMT (Kolonial Missietijdschrift), KS (Koloniale Studien ), KT 24
  25. 25. (Kolonial Tijdshrift), MNZ (Mededeelingen van Wege het Nederlandsch ZendelingGenootschap), MKNAN (Mededeelingen der Koninlijke Nederlandsche Akademi vanWetenschapp), TBB (Tijdscchrift voor het Binnelandsch Bestuur), TBG (Tijdschriftvan het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen), VBG(Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Tal; - Land-en Volkenkunde,TNAG (Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch AardruijkskundigeGenootschap), dan TITLV (Tijdschrift voor Indische Taal;-Land en Volkenkunde). Setelah kita mengetahui seluk beluk tentang sebaran materi sumber yangbegitu luas dan sayang hanya dimakzulkan saja berdasarkan distribusi artikel-artikelyang betul-betul mengungkap, tentang hal-ihwal kesenirupaan Nusantara di luarJawa dan Bali atau juga kalau ada hanya sedikit menyentuh saja, maka dalam hal iniyang penting adalah bagaimana tentang metode menempatkan kajian senirupa yangplural dari ciptaan etnis Nusantara tersebut dalam term of referens kajian spasial,temporal. Adalah Bakker (1984:92-94) ternyata telah memberi mapping dari Sub Iada sejumalh 19 wilayah hukuim adat pokok dan 5 anak wilayah yang ditandaidengan Sub II terpatron dengan budaya Hindu dan Buda. Kemudian pada Sub IIIyang tertera kosong dimungkinkan masih berlaku budaya prasejarah atau belumterimbas oleh budaya dari luar. III. Antara Pendidikan Multikultutaral dengan Multikutural Pendidikan 25
  26. 26. Setelah kita mengetahui tentang hal-ihwal pendidikan multikutural yang daridua wacana ini sebenarnya dapat dikembangkan atau diaplikasikan terhadapberbagaiu aktivitas pendidikan. Pendekatan multikutural untuk kepentingan integrasisosial misalnya yang terjadi di Indonesia dalam pemikiran untuk memecahkan secaratuntas memang diakui belum sempurna. Apabila para penyelenggara negara terlalusibuk untuk mewahidkan teori welfare state-nya yang harus ditempuh melalui intrik-intrik politik bias juga memikirkan multkultural agak kurang terurus. Asumsi inimaka menawarkan pendekatan multikutural juga dibangun berawal melalui kesadaranyang dalam hal ini seolah-olah bangsa kita dianggap tidak siuman sebagai bangsa,tetapi yang saya maksud kesadaran dalam hal ini adalah suatu pertimbangan yangserius demi untuk melangkah dan berpikir agar tidak terjadi sesuatu kekecewaandalam meningkatkan kehidupan bangsa ini. Salah satu sub item pendekatanmultikultural tersebut dalam hal ini adalah membicarakan hubungan antarapendidikan multikultural atau malahan lebih khusus lagi yaitu tentang praktekpembelajarannya, sehingga berdasarakan hubungan dengan asumsi sebelumnyaditemukan antara pendidikan multikultural dengan multikultural pendidikan. Terkait dengan pendidikan multikultural karena semula rhanya berangkat darikesadaran, sehingga dalam hal ini lebih bersifat jangka pendek. Dalam gambaranyang lebih khusus ketika harus diterapkan dalam pembelajaran maka denganpendekatan multikultural, untuk menuju pada pembentukan yang lebih demokratis,bermoral, dan berwawasn plural saling menghargai terhadap hasil karya cipta nenekmoyang bangsa, maka dalam hal keberhasilan pembelajaran yang paling utama 26
  27. 27. adalah ditentukan oleh faktor guru atau pembelajar. Sebagai contoh dalam hal iniadalah salah satu matakuliah Tinjauan Senirupa Nusantara, merupakan salah satumatakuliah alternatif yang dalam tujuannya adalah bagian dari sejarah senirupaIndonedia, atau membahas berbagai karya senirupa etnis Nusantara yang hanyadibatasi pada seniupa primitif, senirupa klasik, dan tradisional, dan tidak sampai padasenirupa Indonesia modern. Dipilihnya pembelajar yang tangguh , mempunyai etos kerja yang tinggi,berwawasan masa depan, dan sanggup mewariskan pengetahuan budaya merupakanharapan terutama dalam pembelajaran matakuliah tersebut. Dengan mensikapiparadigma pendidikan berbasis multikultural sebagaimana harapan pendidikan tidakhanya difokuskan pada satu ketrampilan atau satu keahlian saja, maka pendidikanmultikultural juga harus dapat mengakomodasi kecerdasan yang bersifat ganda.Terkait dengan asumsi ini maka menurut Gardner dalam bukunya Frames of Mind(1983) menggolongkan adanya tujuh intelegensi yang selalu dipunyai oleh manusia ,yaitu intelegensi linguistik, matematis-logis, ruang, kinestik-badani, musikal,interpersonal,n intrapersonal. Intelegensi linguistik adalah kemampuan untukmenggunakan kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis. Kemampuanini berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum.Intelegensi matematis-logis lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logikasecara efektif, termasuk dalam intelegensi ini adalah kepekaan pada pola logika,abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan. Intelegensi ruang adalah kemampuan untukmenangkap dunia ruang visual secara tepat , termasuk dalam hal ini adalah kepekaan 27
  28. 28. terhadap warna, garis, bentuk, dan ruang. Intelegensi kinestik-badani adalah keahlianmenggunakan tubuh untuk mengekspresikn gagasan dan perasaan , dalam hal initermasuk ketrampilan mengkoordinasi tentang fleksibilitas tubuh. Intelegensi musikaladalah kemampuan untuk mengembangkan serta mengekspresikan bentuk-bentukmusik dan suara, dalam hal ini termasuk kepekaan terhadap ritme, melodi, danintonasi. Intelegensi interpersonal adalah kemampuan untuk menangkap danmembuat pembedaan dalam perasaan, intensi, motivasi, dan perasaan akan orang lain.kepekaan akan ekspresi wajah, suara , gesture, juga termasuk dalam intelegensi iniIntelegensi intrapersonal adalah pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untukbertindak secara adaptif berdasar pengenalan diri. Termasuk dalam hal ini adalahkemampuan berefleksi dan keseimbangan diri. Diplihnya pembelajaran multiikultural menurut Soedardjo (2005:3) bahwauntuk mengefektifkan pendidikan seni termasuk dalam metode pembelajaran dalamwilayah pendidikan modern dalam pendidikan seni terbagai antara penularan seniatau Education in Art dan memfungsikan seni atau Education Throught Art. Yangdimaksud pertama adalah antara budaya dalam rangka pelestarianya dan yang keduaselalu pendidikan yang misinya untuyk memanfaatkan seni agar berfungsi sebagaisarana menumbuhkembangkan peserta didik dalam rangka mempersiapkan haridepan tuntutan untuk mengisi konsep-konsep tentang permasalahan seni, terkaitdengan itu Tinjauan Senirupa Nusantara, misalnya masuk dalam wilayah ini. Terkait dengan multiple intellegency pembelajaran Tinjauan SenirupaNusantara objeknya adalah mahasiswa vokasional jurusan pendidikan senirupa, 28
  29. 29. sehingga pasti sudah diberi kemampuan berpraktek seni, sehingga untuk menjangkauarahan membentuk intelektual ganda maka tanpa dibantu dengan kompetensi lainposisi pembelajaran Tinjauan Senirupa Nusantara tidak sepenuhnya dapat memenuhiteori Gardner. Bergayutan dengan intelegensi linguistik paling tidak kompetensi anak didikrupa dapat mengalihkan bentuk-bentuk visual menjadi kata-kata atau tulisan ataumenceritakan hubungan –hubungan antrar elemen-elemen visual . Berkaitan denganintelegensi matematis-logis, jelas sudah karena dalam hal berpraktek anak didik rupadapat memperhitungkan proporsi rupa yang di9 dalamnya mencakup pertimbangannumeric. Intelehensi ruang, anak didik rupa terbiasa dengan mempertimbangkanaspek dime3nsi keruangan menyangkut madalah tata letak untuk formasi estetiknyatermasuk dalam komponen mendisplay karya-karya senirupa. Terkjait denganintelegemnsi kinestik-badani, keahlian ini dapoat diketahui datri anak diudik senirupamampu dalam metrespon gagasan pada aspek fisiogmi tubuh sebagau sesuatu halpenciptaan karya srupa yang trimatra yang sifatnya plastis. Intelegensi musical,tampaknya anak didik senirupa seperti terbiasa mengimajinasi menggabunhgkananatara estertika musical denjgan estetitka rupa, mampu juga mengidentifikasi ataumenangkap audio yang bermakna dan berirama denganvisual yang bermakna.Sebagai contoh pernah saya ajarkan bagaiamanhubungan estetika alunan musiuktardisi0onal Bali., Sunda , dan Jawa, dikaitkan dengan ornament huias trasdisionaldari daerah yang sama Bali, Sunda, dan Jawa ternyata dapat disinkronkandalamproses penciptaannya. Terkait dengan inytelehgesnsi inter personal ternyata 29
  30. 30. anak didik rupa juga mampu mnangkap wajah perasaan seseorang ditransformasikandalam pencipotaan seniru[pa. Kemudian intelkegenbsi imntra personal, tamnpoaknyaanak didik rupa m ampu mengendalikandiri menjaga ba,lance sebagaimana ituadalah pernyataan yang hamper mirip dengan unsiur esteti p-ada aspekkeseimbagngan, keharmonisan, dan keseoiramaan. Apabila kesadaran yang pertama dijadikan berpijak untuk jangka pendek yangdalam hal ini diindikasikan dealam pendidikan multicultural, maka dalam kesadraankyang kjedua adalah dijadikan dasar berpijak untuk jangka panjang. Terkaitdenganjangka pamjang ini factor pembelkajar harus mampu menhembangkansubstabnsi-substansu senirupa etnis yang memang belum terjamah dalam sebaraninformasi, maka dalam hal ini harus berpijak pada subsytansi kesenirupaan etnissebagaimana yang telah kita ketahui kira-kira berada dalam tanel denbngan garis-garis yang kosong dcalam hal ini diwacanakan menjadi mulytikultural pendidikan.Dalam jangka panjang debngan berdasarkan padac sebaran senirupa etnis yangtelahnteridentifikasi tersebut salah satu cara untuk dapat memecahlkan hanyadenhgan mengkaji atau meneliti tentang senirupa etnis, meskipun mungkindengandana yan g besar. SApabila berbagi museum yang telah ada atau mungkin jugaTaman Mini Indonesia Inmdah itu sudah dianggap mewakili sebaran etnisc senirupaMNiusantara, maka biusa juga ikut kita sering membawaanak didik ke sana. Jikamemang masih ada celah-celah kosong yang belum terakomodasi masalahpemnelitian adfalah sesuatu yang habits di perguruabn tiunggi. Ar4ahan jangkapamnjang untuk selanjutnya denganm emahami dab merasa memiliki aneka 30
  31. 31. penciptaan senirupa etnis jelas bagi anak didik rupa dapat dijadiukamn sumberinspirasi untuk penciptan senirupa dan seni kerajinana. Kesimpulan Pembelajaran senirupa telah berjalan dengan panjang seirama denganusiapendidikan tersebut.Konsep pendidfikn senirupa juga mengalami perkembanmgandalam arti8 mengikutyi teorio-teori ilmun pendidikan ntidak lupa pula denganarusteori-teori ilmu pemnhetahuan yang lain.yang maksudnya mendukung dalampencarian kebenaran sekaligus untuk mengujinya dan juga mengefektifkankreatiuvitas dalam penciptaan. Sejauh kepentingan pendidikan tertelan dengan kebijakan-plebiujakan yangmemiliki power, penbdifdikan senirupa tidak berurusan dan luweh tentang ha;ll ituyang penting ada masih ada celah kosong yang nbamanya bebas nberkreasiu masiho.k untuk tgampil mengantarkan ankak bangsa yang kreatif juga. Kerisaun dengan tawaran pendekatan mulitikultural, daklam tingkat pusatysalah satu sisi dari mkoridor pendidikann, apabikla itu merambaghh sampai padaterritorial penidikan senirupa yan m emang bersama-sama dengandisiplin yang lainbeuntuk beerbnenah diri. Bermodal ndengankesadaran tampaknya ditemukan babujkuajar atau informnasi yang lain ternayata tidak berbasis multicultural. DEngankataakhir dari kesadaram ini salah satu sejarah senbirupa Indonesia, juga ikut-ikutangagal dalamhistoriografinya, serhingga alter5natif memasukkan matakuliah Tinjauan 31
  32. 32. srenIrupa Nusantara tampaknya lkebih gambling dan dipertimbangkan sebagaisumbert modal multikutural ditemukanm/, 32

×