Andrea Hirata - Edensor

4,866 views
4,604 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
4,866
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
25
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Andrea Hirata - Edensor

  1. 1. aeBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com MR. Collections
  2. 2. EDENSORAndrea HirataCetakan Pertama, Mei 2007Cetakan Kedua, Juli 2007Cetakan Ketiga, Agustus 2007Cetakan Keempat, September 2007Cetakan Kelima, Oktober 2007Penyunting: Imam RisdiyantoPerancang sampul: Andreas KusumahadiPemeriksa aksara: Yayan R.H.Penata aksara: lyan Wb.llustrasi isi: Pirie Tramontane (sigitramontane@yahoo.com) llustrasi "Lifting" oleh Budi Gugi, Studio Lonely Painter, Ubud, BaliDiterbitkan oleh Penerbit BentangAnggota IKAPI(PT Bentang Pustaka)Jin. Pandega Padma 19, Yogyakarta 55284Telp. (0274) 517373 - Faks. (0274) 541441E-mail: bentangpustaka@yahoo.com Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Hirata, Andrea Edensor/Andrea Hirata; penyunting, Imam Risdiyanto. - Yogyakarta: Bentang, 2007. xii + 290 him; 20,5 cm ISBN 978-979-1227-02-5 I. Judul. II. Imam Risdiyanto. 813Didistribusikan oleh:Mizan Media UtamaJin. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146Ujungberung, Bandung 40294Telp. (022) 7815500 - Faks. (022) 7802288E-mail: mizanmu@bdg.centrin.net.id
  3. 3. Untuk Ibuku N.A. Masturah Seman Said Harun ***Untuk KMR, Rindu, Cinta dan Sayang hanya untukmu.... *** "Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah, jika engkau tidak mengetahui siapa yang disembah akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia." (Syekh Siti Jenar) a
  4. 4. Isi Buku Mozaik 1—10Laki-Laki Zenit dan Nadir 1 Persyarekatan Bangsa-Bangsa 13Juru Pendamai 17 Pengembara Samia 21Partner in Crime 25 Rahasia Gravitasi 29Segitiga Tak Mungkin 33 Wawancara 37Saputangan 45 Curly 51 Mozaik 11—20John Wayne 57 Paranoia 67Nyonya Besar 75
  5. 5. Paradoks Pertama 81Aku dan Anggun C. Sasmi 85 Mengapa Kau Masih Tak Mau Mencintaiku? 89The Pathetic Four 95 Katya 105Paradoks Kedua 111 Gracias, Serior 117 Mozaik 21—30Helium 123 Adam Smith vs Rhoma Irama 129Surat dari Ayahku 137 Paradoks Ketiga 145Artikulatif 151 Cinta Adalah Channel TV 157Pertaruhan Nama Bangsa 165 Street Performance 173Kutukan Capo Lam Nyet Pho 177 Mevraouw Schoenmaker 189 Mozaik 31—40Ke Utara, Terus ke Utara 193 Pohon-Pohon Plum 197Ujung Dunia 201 Enigma 205Arloji 211 Janda-Janda Kecoa 217Transendental 229 Enam Belas Tahun Tuhan Menunggu 237 Andrea Hirata viii
  6. 6. Cinta, di Mana-Mana Cinta 245 Galliano 255 Mozaik 41—44Tanah yang Telah Dijanjikan Mimpi-Mimpi 259 Indonesia Raya 269Turnbull 273 Lorong Waktu 279Tentang Tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata: Out of the Blue 285 ix EDENSOR
  7. 7. Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistemketeraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerimakehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. Diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya
  8. 8. Laki-Laki Zenit dan NadirJ ika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalam-an yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah caha-y;i yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relati-vitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pel-ajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi eks-perimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat samadan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan ger-bong—ini pendapat Einstein—maka pengalaman yang samadapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan sece-pat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pa-da seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain. Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi takkunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pen-dek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacamitu bak mutiara dan mutiara dalam hidupku adalah lelakiyang mengutuki hidupnya sendiri, namanya Weh.
  9. 9. Kini lihatlah perbuatan Weh. Taikong Hamim, peng-gawa masjid, sampai mengacung-acungkan tombak mim-bar pada khalayak yang silang sengketa. "Tahu apa kalian soal hukum agama! "Jangan mandikan mayatnya di masjid! Biar dia ha-ngus di neraka berdaki-daki!"Langit, kemudi, dan layar, itulah samar ingatku tentang Weh.Tapi di sekolah lama Molten Bass Technisce School di TanjongPandan, aku pernah melihat fotonya. Tak bohong orang bi-lang bahwa dia bukan sembarang, karena Belanda hanya me-nerima pribumi yang paling cerdas di sekolah calon petinggiteknik kapal keruk timah itu. Foto kuno itu sudah buram.Weh seorang pemuda yang gagah. la bergaya, berdiri con-dong menumpukan tubuh kekarnya di atas pemukul kasti.Namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya.Seringainya hambar, jauh, dan kesakitan. Weh mengawasi le-kat siapa pun yang mendekati fotonya. Aku menatapnya, la-ma, lalu bisikan garau mendesis dari foto itu, "Engkau, laki-lakizenit dan nadir...." Bulu tengkukku meruap, seseorang seakanberdiri di belakangku, aku berbalik, sepi. Mengapa Weh kesakitan? Semula ia baik-baik saja, bahkan tempatnya terhormatdi kelas. Sampai penyakit nista merampok hidupnya. Ia ke-na burut. Burut terkutuk yang meniup skrotum dan kelaki-lakiannya, bengkak seperti balon sampai jalannya pengkor. Andrea Hirata 2
  10. 10. Jampi dan ramuan tak mempan. la atau sanak leluhurnyapernah melangkahi Quran, kualat, tuduh orang kampungtanpa perasaan. Hidup Weh disita malu. Semangat pemu-da penuh harapan itu tumbang. la keluar dari TechnisceSchool, mengasingkan diri, meninggalkan tunangannya.Weh menjadi nelayan, tinggal di perahu.Aku masih kecil dan Weh sudah tua ketika kami bertemu.Weh adalah sahabat masa kecil ayah ibuku. Puluhan tahunia telah hidup di perahu. Perkenalan kami terjadi gara-garaaku disuruh ayahku mengantar beras dan knur untuknya.Semula aku ragu mendekati perahunya. Laki-laki itu keluardari lubang palka, tubuhnya aneh. Ia tampak miris berte-mu manusia. "Lemparkan!" hardiknya melihat benda-benda di ta-nganku. Aku terkejut. Enak saja, tidak adil. Ayahku membawakebaikan untuknya dan ia sama sekali tak punya basa-basi.Dia bisa menakuti siapa saja, bukan aku. Weh meradang,aku bergeming. "Keras kepala! Mirip sekali ibumu!" Ia menibar pokok terunjam, merapatkan perahunyake pangkalan. Aku melompat dan berdiri tertegun di burit-an. Sampai aku pulang kami tak berkata-kata. Esoknya, tak tahu apa yang menggerakkanku, akukembali ke pangkalan. Weh juga pasti tak tahu mengapa ia 3 EDENSOR
  11. 11. kembali menibar pokok terunjam. la hilir mudik di depan-ku lalu menghunus sebilah terampang dari punggungnyasambil menunjuk gerinda di dekatku. Tanpa bicara, akumeraih terampang itu, memutar gerinda, dan mengasahlekak-lekuknya. Aku masih tak tahu mengapa setiap hari aku mengun-jungi Weh. Yang kutahu, ketika melihat matanya yang be-ning dan kesakitan, hatiku ngilu, ketika melihat jalannyatimpang karena burut mengisap air dalam tubuhnya, me-ngumpul di selangkang, kubuang pandanganku karena ha-tiku perih, dan ketika melihatnya tidur, memasrahkan tu-buhnya yang dikhianati nasib pada senyap sungai payau,aku gelisah sepanjang malam. Akhir bulan aku memecah-kan tabungan pramukaku lalu bersepeda puluhan kilome-ter ke Manggar demi satu tujuan: membeli radio saku un-tuk Weh. "Irama Semenanjung Pak Cik, programa RPM Malay-sia. Banyak pantun dan lagu cinta, pasti Pak Cik senang."Weh menerima radio itu, meletakkannya di atas rak, dantak menyentuhnya selama seminggu. Dua minggu berikutnya aku harus ke Tanjong Pandanmengikuti ujian sekolah. Tak tahu mengapa, setiap hari diTanjong Pandan, aku merindukan Weh. Kembali dari Tan-jong Pandan aku bergegas ke pangkalan. Dekat perahuWeh kudengar sayup lagu sendu. Aku menyelinap pelan-pelan. Weh tidur meringkuk sambil memeluk radio pem-berianku. Tak pernah kulihat wajahnya sedamai itu. Prog- Andrea Hirata 4
  12. 12. rama RPM Malaysia mengalunkan "Kasih Tak Sampai",kemerosok, timbul tenggelam. Aku menggenggam kuat-kuat bungkusan beras di tanganku, hatiku mengembang.Berminggu-minggu berikutnya aku bersusah payah mem-bujuk ayahku agar diizinkan berlayar bersama Weh. "Tak ada orang yang bernyali ke Mentawai hanya de-ngan menaikkan layar. Kautahu, Bujangku? Weh menyelamiteripang, empat puluh meter di dasar Lingga yang pekat, de-ngan tabung udara dadanya saja. Hanya dia yang masih be-rani ke Pulau Lanun. la tak peduli lagi dengan nyawanya." Ayah memilih kata dengan teliti. la tak ingin aku terin-spirasi keberanian Weh yang gelap. Namun, semakin kerasAyah melarangku, semakin kuat inginku. Ketika Ayah me-nyerah, semalam suntuk tak dapat kupejamkan mataku. Akhir pekan, pagi buta, kami bertolak ke tenggara.Weh mengambil jalur pintas penuh bahaya. Perahu ia layar-kan melintasi lor-lor ganas Karimata. Di selat sempit itu,Laut Jawa dari utara dan Laut Cina Selatan beradu, terje-bak dalam pusaran yang dahsyat. Aku melihat buih ber-limpah-limpah. Perahu bergoyang halus tapi cepat serupadenting senar sitar, setiap benda gemeletar, paku-pakuyang mengikat papan berderak bak gemelutuk gigi, seolahakan bingkas meledak. Perahu meluncur pelan dan waswasdalam intaian maut, laksana melintas titian serambut ter-belah tujuh di atas neraka yang berkobar-kobar. 5 EDENSOR
  13. 13. Terlepas dari daya isap pusaran air, Weh tersenyummelihatku yang pucat karena telah memuntahkan seluruhisi lambungku. Perahu terlontar memasuki perairan Kali-mantan di wilayah Tanjung Sambar. Tengah malam, Wehmenyalakan obor, merapal sebaris mantra, aku merindingmelihat gerakan-gerakan halus di bawah air. Ribuan kerisidan cumi-cumi menyerbu perahu. Sampai habis tenagakumeraupnya. Mereka tersihir cahaya obor dan aku terte-nung kehebatan Weh. Hari pertama bulan September, Weh mengajakku ber-buru ikan hiu gergaji. Kami menghadang kawanan besar,memotong jalur migrasi kafilahnya dari terumbu-terumbuBelonna yang dingin di Tasmania menuju Kuala Trengganoyang hangat. Semakin dekat, raksasa-raksasa kelabu itu ter-nyata jauh lebih besar dari yang selalu kubayangkan. Merekaadalah gajah di laut. Air bah bersimbah setiap kali merekamengempaskan dadanya yang dilekati teritip. Aku gemetarmengokang tuas harpun dan membidik seekor hiu yanglebih panjang dari perahu kami. Kuinjak pegas tuas, tempu-ling yang ditambat seutas tali melesat dari larasnya, meni-kam punggung hiu dan penguasa laut itu menggelinjangberguling-guling seperti buaya mematahkan leher lembu.Simpul tempuling dalam genggamku tersentak, aku terlem-par ke udara, melayang, lalu tertujam ke laut laksana peluru.Weh terjun menyelamatkanku. la meraih tali tempuling,aku menahannya. Aku tak rela melepaskan hiu besar itu. Iniadalah perburuanku yang pertama, pertaruhan harga diri- Andrea Hirata 6
  14. 14. ku. Aku terombang-ambing diseret hiu yang kalap. Wehmencabut sundang di pinggangnya, dengan satu gerakantangkas, meski tertahan tekanan air. la menampas tali tem-puling. Aku terlonjak ke permukaan, kehabisan napas. "Keras kepala! "Keras kepala, seperti ibumu! "Kau bisa tewas tak berguna!" Weh menatapku tajam. Aku tahu ia membacaku. Ku-angkat wajahku, tak kusembunyikan siapa diriku. Perburuan itu, pembuktian martabat itu, berakhir de-ngan kesimpulan bahwa aku pantas diajak Weh mengelanasamudra. Ada gunanya tak kulepaskan hiu gergaji itu. Ka-mi beranjak pulang. Di tengah perjalanan kembali, Weh menghampiriku. "Ikal, malam ini, engkaulah nakhoda," tantangnya. Aku terpana. Laut, hanya laut dan riak gelombang, de-lapan penjuru angin, sejauh pandang. Bagaimana aku akanmembawa perahu kecil ini pulang? "Kalau salah arah, kita akan terdampar di Teluk Ha-uraki, Selandia Baru, mati kering seperti ikan asin." Aku mereka-reka arah, tanpa kompas, tak dapat kubuatkeputusan apa pun. Weh bersungut-sungut, menikmati saatberkuasa karena ilmunya. Ia diam sampai aku menyerah. Sejurus kemudian, ia menunjuk ke arah yang jauh,nun di sana, empat kerlip bintang trapesium perlahanmenjelma di horizon. "Rasi belantik.... 7 EDENSOR
  15. 15. "Itulah timur...." Aku kagum. Perlahan kuputar gagang kemudi. Seka-rang barat daya jelas bagiku. Ke sanalah tujuanku. Sepan-jang malam aku menatap belantik. Rasi itu bergerak pelanseakan meniti langit karena bumi berputar. Columbus te-lah lama tahu pengetahuan ini, maka ia berani bertaruhbumi ini bulat. Tengah malam, trapesium belantik terpan-cang tepat di atas kepalaku, kubelokkan perahu ke timurlaut. Weh berkisah. "Tahukah engkau, Ikal...? "Langit adalah kitab yang terbentang...." Perahu menyusur gugusan pulau. "Sejak masa Azoikum, ketika kehidupan belum mun-cul, langit telah mencatat semua kejadian di muka bumi...." Dedaunan trembesi yang merunduk memagari tepiandelta, pukat yang centang-perenang, tonggak-tonggak tam-bak yang diabaikan, laut sepi pasang malam, dan kecipukanak-anak buaya muara, tepekur menyimaknya. "Semburat awan-awan tipis itu ...." Weh menuding langit utara. Berjuta serpih putih ter-apung-apung seperti telah dihalau tenaga dahsyat, pung-gung gemawan berkilau membias cahaya rembulan. "Adalah ekor puting beliung yang sepanjang hari inimenyapu Selat Gaspar...." Dramatis. "Awan-awan sisik di tenggara sana mengabarkan se-bentar lagi telur-telur ikan belanak akan menetas ...." Andrea Hirata 8
  16. 16. Aku terpesona. "Angin ini, semilir angin ini! Ikal! Dapatkah kaurasa-kan?" Weh bersidekap, kedinginan. "Ini bukan Angin Selatan! Ini Angin Timur! "Artinya, kemarau akan panjang tahun ini." Weh bangkit. "Tampakkah olehmu lingkaran itu?" Weh menunjuk berjuta bintang, tak kasat olehku ling-karan itu karena tersembunyi di antara gemerlap miliaranbenda langit. la menarik sebatang kayu bakar dan melukislangit. Bara kayu bakar melingkarmerah. Aku mengikuti lukisan-nya. Perlahan, seperti menyi-mak gambar tiga dimensi,sebentuk lingkaran mere-kah. la membagi lingkaranmenjadi dua belas iris. Aja-ib! Di setiap puncak jejarinyatampak bintang yang lebih ge-merlap dari sekitarnya. Dipatrinyasimbol-simbol aneh dalam setiap iris lingkarannya, ber-ulang-ulang, sehingga dapat kugambar dalam kepalaku. Pada setiap simbol Weh bersabda, "Keseimbangan,perawan, Leo sang singa, matahari pertama musim panas,bintang kastor, musim menyemai benih ...." Mendebarkan! Langit adalah kitab yang terbentang, kataWeh. Laki-laki uzur ini memiliki indra keenam untuk 9 EDENSOR
  17. 17. membagi lapisan langit menjadi halaman-halaman ilmu.Aku mengerti, itulah konstelasi zodiak! Pada iris kesepuluh ia berpaling padaku. "Anak Muda, dirimu, lelaki Oktober. Sambaran apiMars dan arus dingin Pluto akan menjebakmu ...." Napasku tercekat. "Engkau, laki-laki zenit dan nadir...." Aku terkesiap. Malam itu, ingin kujadikan ma- lam puisi-puisi Lucretius tentang jagat angkasa, ga- laksi andromeda, dan ne- bula-nebula triangulum. Tak kan kukejar Weh dengan pertanyaan-pertanyaan praktisuntuk menerjemahkan kalimatnya yang bersayap-sayap.Malam itu terlalu agung untuk memohon petunjuk pedo-man hidup yang oportunistik kepada seorang pembacalangit yang adiluhung. Angin meniup layar, perahu menusuk kabut. Dini ha-ri, tampak sayup setangkup wujud diselimuti halimun ha-nyut. Apakah pulau itu tujuanku? Tiga ekor elang gugok melesat diam-diam. Aku tahu,predator itu ingin menyerbu kawanan pipit yang baru ba-ngun di sabana Genting Apit. Darah akan bersimbah dibilah-bilah ilalang. Aku yakin, daratan itulah tujuanku, Andrea Hirata 10
  18. 18. Belitong. Aku berdiri di hidung haluan seperti AdmiralHook. Aku telah menjadi seorang navigator alam. Weh-lahguru yang mengajariku mengeja bintang. Sulit kugambar-kan perasaanku. Aku pulang dari tengah samudra denganmembaca langit. Weh telah membuatku, untuk pertamakalinya, merasa menjadi seorang laki-laki.Berat sekali ketika harus kembali kutinggalkan Weh duaminggu untuk ujian sekolah ke Tanjong Pandan. Mengha-dapi kertas ujian, pikiranku tak dapat kualihkan dari ren-cana kami berlayar ke Mentawai untuk melihat penduduk-nya melukis tubuh dengan tinta daun. Pulangnya, kamiakan memburu gurita. Turun dari bus reyot, tak sempat aku pulang ke ru-mah, aku langsung ke pangkalan. Namun, kulihat perahuWeh limbung, layaknya bahtera tak bertuan. Penambatnyaterseret lunglai. Lampu badai masih menyala. Layarnya ber-gulung. Di ujungnya terjuntai sepasang kaki yang pucat.Hatiku dingin. Aku melompat ke sungai, berenang menu-ju perahu. Tubuh Weh terbungkus lilitan layar, berayun-ayun. Laki-laki pembaca langit itu telah mati, mati meraganmenggantung dirinya sendiri di tiang layar. Penyakit yangtak tertanggungkan telah merobohkan benteng terakhir se-mangatnya, benteng terakhir itu adalah aku. Tubuhku menggigil waktu membuka jalinan tali ramiyang menjerat lehernya. Kupeluk tubuh Weh, wajahnya 11 EDENSOR
  19. 19. yang tua, keras, dan biru terkulai di lenganku. Di sakunyamasih mendesis lagu-lagu cinta orang Melayu dari progra-ma radio RPM Malaysia. Aku berteriak-teriak, tapi suarakusurut diisap sunyi semenanjung, serak ditingkah riak om-bak, lindap ditelan angin, terhalau ke Laut Cina Selatan. Usungan digotong. Pemikulnya menggerutu. Sepertihidup mereka yang terbuang, kuburan para pembunuh diriitu pun dipisahkan, dikucilkan nun di sana, dekat rawa-rawanifah, tempat gulma bergumpal-gumpal disarangi biawak.Aku diam terpancang seperti nisan-nisan kayu sekunyit yangdidesaki ilalang. Orang Melayu bekerja keras sepanjanghidup, membanting tulang-belulang, berkeringat darah, ber-lumur cobaan berat, siapa yang menyerah tak dapat tempatdi hati mereka. Hanya aku sendiri yang tersedan. Lututkulemas melihat Weh dicampakkan ke dalam lubang, diuruksekenanya, ditancapi gagang pacul yang tadi patah waktumenggali liang lahatnya, lalu ditinggalkan begitu saja. Pesan terakhir Weh, zenit dan nadir, seperti akar ilalangyang menusuk-nusuk kakiku, menikam hatiku. Nanti, ha-rus kujelajah separuh dunia, berkelana di atas tanah-tanahasing yang dijanjikan mimpi-mimpi, akan kutemui perem-puan yang membuat hatiku kelu karena cinta, karena rin-du yang menyiksa, untuk memahami kalimah misteriusitu. Di kuburan usang, di antara nisan para pendusta aga-ma itu, aku sadar aku telah belajar mencintai hidupku dariorang yang membenci hidupnya, dan Weh adalah orangpertama yang mengajariku mengenali diriku sendiri. Andrea Hirata 12
  20. 20. Persyarekatan Bangsa-BangsaE instein kedua dalam hidupku—yang mengenalkanku pada diriku sendiri—adalah tokoh legendaris ini: MakBirah, dukun beranak kampung kami. "Waktu kau lahir, Ikal.... "Nyalo." Nyalo, tak lain ucapan terakhir yang dipakai orang Me-layu jika kehabisan kata untuk melukiskan dahsyatnyaangin, gemuruh hujan, dan gempita petir. "Tengah malam pula...." Mengapa alam bergelora menyambutku? Tak jelas,yang pasti hanya saat itu ibuku senewen ingin anak perem-puan. Ibu sudah bosan setiap hari dikerubuti laki-laki:ayahku dan empat orang abangku yang cenderung menga-cau. Tertekan batinnya mengurusi makhluk yang secaraalamiah punya ego lebih besar dari tubuhnya sendiri. Ibu,yang berteori bahwa seni pengelolaan rumah tangga terle-tak pada anak perempuan, mengaku lambat laun terkorosi
  21. 21. jiwanya, sebab bujang-bujang di rumah kami hanya bisa di-redam dengan menerapkan manajemen mandor kawat. Dulu, setelah mendapat anak lelaki pada persalinanpertama, Ibu tersenyum pahit mendengar Mak Birah mene-riakkan Bujang! pada persalinan kedua. la bersalin lagi, MakBirah memekik: Nomor tiga! Bujang lagi! Persis teriakan panitiapenghitungan suara. Namun Ibu, yang besar dalam penin-dasan Jepang sehingga menjadi pribadi yang liat, tak sudi tak-luk meski Mak Birah, lagi-lagi, berseru bujang pada persalinankeempat. la pantang menyerah sebelum Mak Birah berteriakdayang! "Persalinan kelima ...," cerita Mak Birah. "Bahkan ibumu sudah menyiapkan nama anak pe-rempuan." Nama itu, Nur Tantiana Wassalam. Nur adalah cahaya.Tantiana dari bahasa Melayu pedalaman, tanti, artinya di-tunggu-tunggu. Wassalam, ya wassalam. Secara halus, namaitu berarti cahaya terakhir yang telah lama ditunggu-tunggu.Hari persalinan tiba. Mak Birah selalu menceritakan inisetiap aku mengantar tembakau untuknya. "Ibumu, perempuan yang keras pendiriannya.... "Kau tahu, Ikal? Tanggal 23 Oktober waktu itu, pukulsetengah dua belas malam, hujan lebat. Sudah satu jam ibu-mu sakit perut, tapi tak sedikit pun ia mau mengejan." Perempuan tua temperamental itu meninggikan su-aranya. "Kupaksa berkali-kali ia mengejan, dilawannya semua Andrea Hirata 14
  22. 22. perintahku! Ibumu tersengal-sengal, matanya melotot me-lihat jam weker. "Jam weker! Masya Allah! Jam weker! Aneh, bukan?!" Tembakau yang tadi kuberikan tak dilinting Mak Bi-rah tapi diremasnya menjadi bola kecil dan dibelesakkan-nya ke dalam geraham. Artinya, ia sedang serius. "Tak ada yang paham apa mau ibumu!" Cerita makin seru. "Hampir pukul dua belas malam, ketubannya pecah!Ibumu megap-megap tapi masih berkeras tak mau meng-ejan! Matanya tak berkedip mengawasi jam weker! Bibi-bibimu tak dapat membujuknya agar mengejan, keadaansudah gawat, kami cemas bukan buatan! "Kuhardik ibumu: Nyi! Mengapa kaupandangi terusjam weker itu?! Kau mau melahirkan tidak?! "Ibumu tak peduli! Sama sekali tak peduli! Dianggap-nya angin saja gertakku! "Itulah kalau kau mau tahu watak ibumu! Keras seper-ti kawat! Aku marah besar!" Aku tegang menyimak. "Kumarahi lagi ibumu: Apa maumu Nyi?! Keluarkanbayimu! Sekarang! "Ibumu pucat, kehabisan napas, tapi masih membatu! "Air ketuban bersimbah-simbah, aku panik, habis su-dah kesabaranku! "Apa kau mau mati, Nyi!? "Ibumu tersentak, ia menatapku, tajam sekali." 15 EDENSOR
  23. 23. Dan inilah bagian yang paling kusukai dari seluruhcerita ini. "Sambil terengah ibumu membentakku: Kautengokbaik-baik jam weker itu, Rah! Tunggu sampai jarum pan-jangnya lewat angka dua belas! Aku ingin anak ini lahirtanggal 24 Oktober! Tidakkah kaudengar maklumat diradio?! Dua puluh empat Oktober adalah hari berdirinyaPersyarekatan Bangsa-Bangsa, PBB! Hari yang penting! Akumau anak ini jadi juru pendamai seperti PBB!" Pukul dua belas malam lewat sedikit, bayi itu lahir,sungsang, kakinya lebih dulu. Baru setengah tubuhnya dialam bebas, lewat paha sedikit, bahkan sebelum matanyamelihat dunia, demi mengecek propertinya, Mak Birahbersorak. "Nomor lima! Bujang!" Andrea Hirata 16
  24. 24. Juru PendamaiB ayi nomor lima itu berkening luas. Ayahku mena- mainya Aqil Barraq Badruddin. "Aqil, bahasa Arab, artinya akal. Barraq adalah berki-lauan, bahasa tinggi orang Yaman," papar Ibu. Peran serta Badruddin atau purnama agama tak lainadalah karena nama lelaki Melayu selalu berakhiran Din.Dalam terjemahan yang paling bebas, makna namaku itukurang lebih Anak soleh berjidat mengilap yang tidak akanmelakukan hal-hal yang tidak masuk akal dalam hidupnya. Di belahan dunia lain orang boleh mengatakan apa-lah arti sebuah nama. Namun bagi orang Melayu pedalam-an seperti kami, nama amat penting, nama berurusan de-ngan agama dan dianggap sumber aura. Din itu buktinya,asalnya Dienul Islam: agama Islam. Jika tabiat anak tak be-res, pasti namanya yang pertama diselidik. Kebijakan pur-ba itu dianut taat oleh ayahku.
  25. 25. Ternyata, harapan menggelora yang diletakkan di atasderetan kata agung namaku itu, hancur berserakan. Akubelum sekolah waktu bersekongkol dengan adikku—si nomor enam yang juga bujang dan membuat ibuku kapokbersalin—menyembunyikan naskah khatib sehingga iagelagapan di atas mimbar. Aku dan adikku, bak Qabil danHabil. Kejadian itu menjadi memorandum premier kejahat-anku seumpama catatan debut Qabil dalam sejarah krimi-nalitas umat. Kalau terompah Wak Haji pindah ke langit-langit danbeduk bertalu-talu bukan jam salat, pasti aku yang dicarikarena memang aku pelakunya. Sering aku menyamar me-makai mukena sepupuku, menyelinap dalam saf putri,membuat onar. Bulan puasa, aku melubangi buku-bukubambu dengan linggis, kuisi air dan karbit, lalu kuarahkanke jendela masjid saat seisi kampung tarawih. Gas karbityang mampat dalam lubang bambu yang sempit berden-tum laksana meriam saat sumbunya kusulut. Jemaah kocar-kacir. "Keriting berandaaaaaalll!!" teriak Taikong Hamim,penggawa yang kondang garangnya. Aku ditangkap. Malamnya aku didamprat ibuku. "Lihatlah dirimu itu!" bentak Ibu. "Inikah sang jurupendamai itu!? Bikin malu!" Wajahnya kaku karena bersusah payah menahan diri.Aku tahu, sebenarnya Ibu ingin menghamburkan omelanyang lebih tajam, tapi pasti ia merasa setiap kata yang ia Andrea Hirata 18
  26. 26. semprotkan memantul lagi kepadanya. la sadar aku menu-runi watak kepala batunya, karena setiap inci diriku berasaldari setiap inci dirinya. "Terserah Yah Ni...." Ayah yang pendiam hanya menatapku putus asa. Da-lam keadaan ini, biasanya Ayah menaikkanku ke tempatduduk belakang sepeda Forever-nya, mengikat kakiku ketuas di bawah sadel dengan saputangannya agar tak terlibasjari-jari ban, lalu memboncengkanku ke bendungan PNTimah. Sepanjang jalan Ayah menasihatiku tentang keda-maian hidup seperti dicontohkan burung-burung prenjakberdasi, capung-capung, dan kaum kecebong. Pulangnyaaku dibelikan tebu yang ditusuk tangkai-tangkai lidi. 19 EDENSOR
  27. 27. Pengembara SamiaK ejadian meriam bambu itu adalah bukti bahwa nama Aqil Barraq Badruddin terlalu berat untukku. Ayahmemutuskan untuk menggantinya. Demi menemukan na-ma baru, Ayah rajin berunding dengan juru tulis kantordesa, perawat puskesmas, polisi pamong praja, pelayan res-toran, penjaga pintu air, atau siapa saja yang berseragam.Bagi Ayah, orang-orang berseragam lebih pintar dari orangkebanyakan. Siang ini ia berbincang dengan pria yang ge-rak-geriknya seperti beruk karena ia seorang pemanjat ke-lapa. Di kampung kami ada persatuan pemanjat kelapa danmereka berseragam. Pulang ke rumah, Ayah bersukacita. "Telah kutemukan nama baru untuk si Ikal itu, Bu!" "Kabar gembira!" jawab Ibu. "Dengan nama ini, kau pasti jadi santri teladan, Ikal." Waktu itu aku dan adikku tengah dihukum mencucipiring karena tanpa alasan jelas mengibarkan bendera me-rah putih setengah tiang.
  28. 28. "Tak tanggung-tanggung, Bu, kata Mahader pemanjatkelapa, nama ini dapat membuat orang menjadi bijak." Aku ngomel dalam hati, bagaimana kalau aku tak sudidengan nama baru itu? Ayah: Arti nama ini adalah pria lemah lembut nan ber-jiwa besar! Aku: Hmm... bagus sekali ya, tak seorang pun minta pen-dapatku, padahal akulah yang akan memikul nama itu seumurhidup! Adikku, yang gembrot dan lugunya minta ampun itu,tak peduli. la meniup-niup gelembung sabun. Bruuuphhh...brupphh. "Apakah gerangan nama yang hebat itu, Yah Ni?" Ayahku bangkit, berkumandang. "Waaa ... dudh!! Wadudh! Itulah namanya! KataMahader, nama itu gelar untuk menghormati orang yangpaling tinggi akhlaknya di kalangan pengembara Samia!" Ibu: Subhanallah! Mahasuci Allah! Hebat nian namaitu! Aku: Wadudh? Pastilah pengembara berkafiyeh yang sukaminum susu kambing itu! Adikku: Bruuuphhh... brupphh.Sayang seribu sayang, pengembara Samia yang bijak bestariitu menjelma menjadi garong. Tak lama setelah nama agungitu dilekatkan kepadaku, aku memimpin komplotan santri Andrea Hirata 22
  29. 29. untuk menjarah tambul, penganan yang disumbangkanumat ke masjid jika Ramadan. "Ketua Wadudh," begitu san-tri-santri itu memanggilku. Nakalku makin menjadi. Akublingsatan mencari diriku sendiri, tersesat dalam ide-ideyang sinting. Dengan sogokan sebungkus kuaci, kuhasutadikku si nomor enam itu untuk menyanyikan lagu "Indo-nesia Raya" dengan pengeras suara masjid. Suaranya yangcadel melolong-lolong seantero kampung. Aku dan Ayah kena sidang. "Wadudh sudah tak bisa diatur!! Tak boleh lagi dia kemasjid ini!" Haji Satar emosi. Para penggawa yang mengelilingi kami mengangguk-angguk. "Oh, gawat...." Wajah Ayah biru menahan malu. la menatapku. Ta-tapan yang tak pernah kukenal sebelumnya. Naluriku ber-bisik, Ayah akan mengambil tindakan ekstrem untukmengganjarku. Aku mengerut ketakutan. "Onar! Hanya onar saja dibuatnya!!" Wak Tarjik histe-ris. Kopiahnya pernah kulumuri minyak rem. Ayah makin tajam menatapku. Aku tak pernah dika-sari ayahku, bahkan ia tak pernah menaikkan suaranya ke-padaku, tak pernah, walau hanya sekali. Namun, kejadian"Indonesia Raya" itu memang sudah kelewat batas. Majelismenuntut Ayah bertindak tegas. Dalam mata Ayah, jelaskubaca ia tak tega kepadaku. Posisinya serbasalah. Ia bakIbrahim yang diperintah Tuhan menyembelih anaknya. 23 EDENSOR
  30. 30. Aku miris membayangkan dibuang Ayah ke pesantren Pu-lau Penyengat, menyeberangi Selat Melaka, tak pulang ber-tahun-tahun. Aku terlalu kecil untuk sanksi sekeras itu. "Beri hukuman berat sekalian agar Wadudh jera!"hardik Taikong Hamim. Berat sekali cobaan Ayah. "Bagaimana keputusanmu, Pak Cik?! Apa tindakan-mu agar tabiat buruk Wadudh tak terulang lagi?!" Taikongtak sabar, nadanya mengancam. Suasana hening. "Bagaimana, Pak Cik?" Ayah berulang kali menarik napas panjang. "Baiklah, Taikong...." Suara Ayah terbata-bata karena ia akan menyesali ke-putusan kejamnya padaku. Tapi ia tak punya pilihan lain.Aku terkulai di lengannya. Majelis waswas menunggu ke-putusan keras Ayah.... "Akan kuganti lagi namanya...." Andrea Hirata 24
  31. 31. Partner in CrimeR atusan ribu kalong menyerbu pesisir. Perutnya buncit karena puas menjarah putik kemang di pulau-pulaukecil tak bertuan. Kepaknya sombong tak peduli. Hewanberparas mengerikan serupa tikus terkutuk itu mendekorlangit dengan bercak-bercak hitam, hanyut di angkasa dila-tari deburan troposfer. Belitong menjelang malam, adalahsemburan warna dari seniman impresi yang melukis spon-tan, tak dibuat-buat, dan memikat. Azan magrib mengalirke dalam rumah-rumah panggung orang Melayu, umat ber-duyun-duyun menuju masjid, menuju kemenangan. Masjid, seperti oase bagi semua anak Melayu udik. Disana, bukan sekadar tempat salat dan mengaji, tapi tempatbermain dan membuat janji-janji. Masjid nan indah, tas-bihnya berupa-rupa, kaligrafinya memesona, dan pilar-pi-lar tingginya memantul-mantulkan suara. Di atas lantai pu-alam terbentang sajadah panjang dari Turki, semerbak ha-rum setanggi, kitab-kitab tua sejarah nabi, dan lebih dari
  32. 32. semuanya, para jemaah putri! Belum lagi satu kegembiraanyang aneh, kegembiraan yang secara ajaib menjelma kalauRamadan tiba. Mungkin jika Ramadan, orang Islam men-dadak menjadi dermawan, berebutan mengantar tambul kemasjid. Semuanya semakin indah karena keluarga kami me-mungut Arai, sepupu jauhku, yang mendadak menjadi se-batang kara dalam usia delapan tahun. Maka, aku me-manggilnya Lone Ranger. la memanggilku Tonto dan kamisegera menjadi partner in crime.Ayah kembali pusing memikirkan namaku. Wajahnya re-dup. Diusap-usapnya kopiah resaman-nya. la kehabisan caramengatasiku dan kehabisan nama untukku. "Baiklah Bujang, sekarang pilihlah sendiri nama un-tukmu...." Saat itu aku tengah membolak-balik halaman majalahAktuil. Di salah satu pojoknya aku membaca berita usangtentang polisi Italia yang dibuat repot seorang wanita sin-ting karena memanjat tiang telepon dan mengancam me-nerjunkan diri jika Elvis Presley tak membalas suratnya.Nama wanita itu Andrea Galliano. "Ayahanda, bagaimana kalau Andrea?" Telinga Ibu berdiri. "Aih! Nama macam apa itu? Itu bukan nama orangIslam!" Andrea Hirata 26
  33. 33. Ayah berpendirian lain. Mungkin karena ia sudah ma-ti akal. "Kalau begitu maumu Bujang, apa tadi? Andrea... ah,bagus juga kedengarannya, tak ada salahnya dicoba ...." Ibu tak terima. "Yah. Ni, tak ada nama orang Melayu seperti itu. Itunama orang Barat. Mereka tak peduli soal nama dan itunama anak perempuan." Ayah menangkis. "Bukankah selalu kauidamkan anak perempuan, Bu?" Ibu berbalik meninggalkan kami, marah, tapi aneh, iatersenyum. Mulai malam itu aku punya nama baru. Di per-aduan kukenang kembali nama-namaku. Aku menarik ke-simpulan, ternyata tabiat orang tak berhubungan dengangelar yang disematkan kepadanya, bukan pula bagaimanaia menginginkan orang hormat kepadanya, tapi lebih padaberapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri.Kebenaran sederhana ini membuat hatiku ngilu. 27 EDENSOR
  34. 34. Rahasia GravitasiK etika pertama kali melihatnya, melihat paras kuku- nya, lebih tepatnya, aku merasa seperti dipeluk arusSungai Lenggang, berenang bersama lumba-lumba, dijem-put jutaan kunang-kunang, lalu diterbangkan menuju bin-tang, la tersenyum, aku tak dapat bernapas. "Namaku A Ling ...," katanya menyalamiku, meng-genggam hatiku. Ingin kusampaikan satu nama terbaik da-ri deretan nama agung pemberian ayahku, tapi tak satupun kuingat. Di depan gadis kecil Hokian itu, aku lupa se-mua namaku. Perasaan indah memancar sampai ke ujung-ujung simpul pembuluh darahku. Minggu depan kami akan bertemu. Berkali-kali akuberkaca. Rupanya aku telah berkumis! Maka tak ada alasantakut untuk minta izin kepada bapaknya. Kami akan naikkomidi putar! Sabtu sore, dengan enam helai kumis terhu-nus, kudatangi toko kelontong Sinar Harapan milik bapak-
  35. 35. nya, A Miauw. Laki-laki gendut itu sedang menjentikkanbiji-biji sempoa. Melihatku, jentikannya makin keras. "Ba ... Ba... Baba...." "Apa Ba, Ba? Mau apa!?" Sebenarnya dia tahu aku ingin mengajak putrinya. "Ba, hmm ... hmm ... mmm ...." "Apa! Mau apa!?" "Begini Ba... hmm ...." "Apa begini, begini?!" Tiba-tiba A Ling muncul dari balik tirai. la menariktanganku, kami kabur. "A Ling! "Oi hii na boui?!.1 "Chon lisak!!2 "A Ling! "A Liiiiing...!! "Njoo Xian Liiiiiiing...!!!" Teriakan bapaknya layap dan kami melayang-layangdalam komidi. Indah sekali, melebihi ledakan aurora diatas belantara Amazonia. Kuberi tahu Kawan, rahasia ro-mansa komidi putar adalah fisika sederhana: hukum gravi-tasi! Waktu komidi mencapai posisi empat puluh lima de-rajat dari porosnya, daya tarik bumi membuat mempelaidalam kurungan ayam tadi seperti akan terjungkal. A Ling1 Mau ke mana?2 Ke sini! Andrea Hirata 30
  36. 36. histeris, takut campur manja, memeluk erat lenganku. Pe-rasaanku melambung, melesat-lesat seperti mercon ban-ting. Gadis Hokian itu menatapku mohon perlindungandan aku jatuh cinta, sungguh jatuh cinta, untuk pertamakalinya.Rupanya, tak ada yang lebih aneh selain orang dimabukcinta. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi serbabaik. Kini,dalam penglihatanku, setiap benda menjadi indah, semua-nya memiliki dimensi geometris yang berseni. Sekolah Mu-hammadiyahku yang doyong seperti gudang kopra itu ter-nyata bangunan kubus simetris yang efisien, bergaya etniktropikal dengan spesifikasi multifungsi: sebagai kelas dankadang-kadang sebagai kandang ternak. Bukankah opti-mal? Kalong-kalong yang rakus bukan lagi tikus yang terke-na kutukan tapi hewan langka fami-lia Palaeochiropteryx tupaiodon yangharus dilindungi, kalau perludengan undang-undang. Peng-ganggu hewan rupawan itu taklebih dari manusia tak tahudiri. Taikong Hamim! HajiMarhaban Hamim bin Muk-tamar Aminnudin nama leng-kapnya, sama sekali bukan gu-ru ngaji yang kejam, bukan, sa-
  37. 37. ma sekali bukan, tapi ia tak lain manusia terpilih penegaksyiar Islam, ulama penting penyelamat anak-anak Melayudari rayuan iblis. Aku mengaji dengan khusyuk. KacamataTaikong sampai merosot, bibirnya tumpah. Ia bergegas me-nemui ayah ibuku. "Tak pernah kulihat Ikal seperti ini, Pak Cik, teduhnian tabiatnya sekarang. Kalian apakan dia?" Ayah kaget, sumringah. Ibu ternganga. "Mahasuci Allah! Bu, percayakah kau sekarang?" Ibu masih menganga. "Apa kataku soal nama Italia itu!" Andrea Hirata 32
  38. 38. Segitiga Tak Mungkin eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. CollectionsA rai, Weh, dan Mak Birah, bagiku seperti bangunan segitiga tak mungkin, impossible triangle Oscar Reuters-vard dengan dimensi yang susah diterjemahkan, dengan su-dut-sudut yang mengandung anomali. Mak Birah, seorangprotagonis, amat menghargai kehidupan dan menganggap-nya sebagai perayaan kebesaran Allah. Sebaliknya Weh, sangantagonis, mengutuki hidupnya sendiri. Baginya, kelahiranadalah keputusan aklamasi tanpa negosiasi dan selamatlah manusia yang tak pernah lahir. Sedangkan Arai, ketika orang yang senasib dengannya tersuruk-suruk, ia malah memperlihatkan jiwa besar, lebih dari siapa pun. Hari ini, di kelas, Lone Ra- nger itu menggenggam tangan- ku kuat-kuat. Ia terpesona pa- da benda yang dibawa guru sas- tra SMA kami, Pak Balia.
  39. 39. "La originalidad consiste en volver al origen, Antoni Ga-udi, maestro mozaik, Barcelona 1877." Dengan gaya teatrikal, Pak Balia memikat murid-mu-ridnya sambil mengelus benda itu—seekor iguana dari ta-nah liat replika karya Gaudi. "Orisinalitas berarti kembali pada bentuk orisinal." Kulit iguana itu ditempeli ratusan mozaik berwarna-warni dari pecahan kecil porselen: piring, kendi, tempayan,dan ubin. Unik, ganjil, artistik. "Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamahAfrika, temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok du-nia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikankarya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol." Kalimat itu adalah letupan pertama angan-angan yangmenggelisahkan kami sepanjang waktu. Pungguk merin-dukan bulan! Tapi kepribadian Arai membuatku selaluberada di puncak Everest semangatku. "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu," katanya. Esoknya Arai menumpang truk keTanjong Pandan. la terbanting-banting di dalam bak, ber-diri di celah tong-tong timah, hanya untuk membeli posterJim Morrison. "Penyanyi kesayanganku, Kal!" Arai bangga mema-merkan poster itu. Tak tampak lelah di matanya. "Mengapa Jim Morrison, Rai?" "Karena aku akan berjumpa dengannya, walau hanyapusaranya, di Prancis!" Andrea Hirata 34
  40. 40. Arai yakin pada Jim Morrison, yakin pada Prancis,dan yakin pada pujaan hatinya Zakiah Nurmala, perem-puan yang selama tiga tahun di SMA ditaksirnya, dan sela-ma tiga tahun itu pula ia ditolak. Tak pernah kujumpaiorang segigih Arai.Suatu ketika, pada bulan puasa, kami harus pulang karenaayahku sakit. Tak ada kendaraan yang dapat ditumpangi.Kami berjalan kaki, tiga puluh kilometer dari kota tempatSMA kami berada. Matahari membara, tepat di atas kepala. Panas menje-rang tanpa ampun, aspal meleleh. Perutku kosong, kerong-kongan kering. Aku melangkah seperti rangka kayu yangreyot. Pandangan berkunang-kunang. Kami kehausan danmenderita dehidrasi, bahkan sudah tak lagi berkeringat.Aku tak sanggup, waktu melewati danau aku ingin memba-talkan puasaku. "Jangan," sergah Arai tersengal-sengal. la membopongku. Kami melangkah terseret-seret.Aku tak mampu bertahan. Kembali melewati danau, akumendesak ingin minum. "Jangan," sergah Arai. "Jangan, Tonto, jangan menyerah." Arai menaikkan tubuhku ke atas punggungnya. la me-mikulku. Langkahnya limbung, terseok-seok berkilo-kilometer. la istirahat sebentar, lalu memikulku lagi. Napasnya 35 EDENSOR
  41. 41. meregang satu per satu, hidungnya mendengus-dengus se-perti hewan disembelih. Tumitnya mengucurkan darah ka-rena terjepit jalinan kasar sepatu karet ban mobil. la me-langkah terus, terhuyung-huyung. Tak sedikit pun ia maumenyerah. Sampai di rumah, aku terkapar tak berdaya. Arai ter-senyum. Aku menatap matanya dalam-dalam. Tiba-tibaPrancis rasanya dekat saja. Andrea Hirata 36
  42. 42. WawancaraT amat SMA, aku dan Arai merantau ke Jawa. Di Bogor kami melamar kerja. Sebuah usaha distributor me-manggil untuk wawancara. Wawancara: indah dan kota se-kali kedengarannya. Kami mempersiapkan diri denganmembaca buku Tiga Serampai Rahasia Sukses Wawancara.Pada bab tujuh "Membuat Pewawancara Terkesan", penga-rang buku itu berulang kali mengingatkan "jangan sekali-kali mengulang pertanyaan pewawancara, karena pertama,Anda dianggap tidak memerhatikan, kedua, Anda tidak so-pan, dan ketiga, ada yang tak beres dengan telinga Anda." Dengan pakaian terbaik, kami berangkat. Aku gugup.Seumur-umur baru kali ini aku diwawancara, ah, diwawan-cara, sungguh modern! Ternyata calon majikan kami, seorang wanita mungilberkulit putih, sangat informal. la menemui kami di kantor-nya, sebuah garasi. la baru bangun tidur, berkaus oblong dancelana pendek. Kardus besar bertumpuk-tumpuk beran-
  43. 43. takan. Di luar garasi, seorang pria menggeber gas Harley Da-vidson. Gadis itu membaca surat panggilan. la berusaha kerasmengingat sesuatu. Agaknya ia lupa pernah membuat pang-gilan. la mengamati kami dan berteriak, "Da... da... na...." Broomm ... bum! Bum ... brooomm .... "Ja ... na ..." Broooom.... "Na... da??" Suaranya timbul tenggelam di antara raungan Harley.Kuingat pesan buku Tiga Serampai: pantang mengulangpertanyaan pewawancara! Aku pun menebak-nebak. "Dari Belitong, Bu...." Broomm ... bum! Brooomm .... "Ya, dari Belitong!!" Gadis itu menggeleng. Tendangan gas Harley meme-kakkan, ia menjerit. "Phaaa ... kha ...." Bromm!! Bum! Brom!! "Phaa " Brom! Brooomm.... "Kha!!!!???" "Naik kapal, Bu, ya, naik kapal!! Brom! Kapal ternak!!" "Phaa...??" Brom! Brom! "Kapal ternak, Bu, K A P A L...!" Bbroooomm.... "Phaa!?" "KAPAAAAAAALLL!" Andrea Hirata 38
  44. 44. Gadis itu jengkel. la membanting surat panggilan, me-narik tanganku, lalu merogoh sakunya, mengeluarkanuang lima ribu. "Ini ongkos angkot3. Pulang sana!"Meski gagal dengan gadis kecil itu tapi tak mengapa. Palingtidak kami telah diundang, walau ia lupa pernah mengun-dang, dan diundang untuk wawancara, ah, kata itu, selalumenimbulkan perasaan senang dalam hatiku. Berbekal ijazah SMA, kami melamar lagi. Sebuah per-usahaan penyedia keperluan dapur memanggil. Sesuai we-jangan buku Tiga Serampai, kami melatih pernapasan agartak gampang gugup. Kantor perusahaan itu adalah sebuah ruko. Kami me-mencet bel, rolling door bergulung naik. Di dalamnya, seorangperempuan gemuk berbalik. Agaknya tadi ia mau ke kamarkecil karena di depannya ada pintu bertulisan TOILET. Iamengamati kami yang berdiri di ambang pintu ruko. "Kalian diterima," katanya. Ya, begitu saja. Tanpa basa-basi apa pun, bahkan tanpamempersilakan masuk dan tanpa wawancara! Perempuan itu masuk ke dalam toilet, srak! Srok!Srak! Srok! lalu keluar dan sambil mengeringkan tangan-nya yang basah dengan tisu, ia bersabda, "Potong rambut Angkutan kota—Peny. 39 EDENSOR
  45. 45. gondrongmu itu, mandi yang bersih, besok pagi pukulenam datang lagi ke sini." Cepat dan praktis. Tak ada kejadian seperti yang se-ring kulihat di TV, misalnya: Congratulations! Selamat berga-bung! Silakan menandatangani kontrak, Anda akan menjadiaset penting perusahaan kami! Atau, Orang dengan kualifikasiseperti Andalah yang kami cari selama ini! Esoknya perempuan itu menyuruh kami naik ke bakmobil pick up, berkeliling, lalu menurunkan kami di sebu-ah perumahan. la menyerahkan dua tas besar dan membe-ri sedikit instruksi. Jadilah kami salesman alat-alat dapur,dari pintu ke pintu. Hanya beberapa minggu bekerja, kami dipecat. Penju-alan kami memalukan, demikian istilah perempuan itu. Nasibku membaik karena diterima bekerja di kantorpos. Sedang Arai merantau ke Kalimantan, bekerja dan ku-liah di sana. Sambil bekerja di kantor pos Bogor, aku me-lanjutkan kuliah. Lewat surat kukabarkan kepada ayahkubahwa aku telah menjadi seorang amtenaar dalam kolompangkat tata usaha, dan punya seragam. Benar pendapatAyah dulu, mereka yang berseragam tampak lebih pintar.Pangkatku: Pengatur Muda Pos. Bukan sembarang, Kawan.Dengan pangkat itu aku berwenang mencairkan wesel sam-pai seratus lima puluh ribu rupiah. Di atas angka itu, atas-anku, Amtenaar Odji Dahrodji, yang turun tangan. Aku berjasa bagi mahasiswa miskin yang tak punyabukti sah bahwa ia warga Republik, sehingga sulit meng- Andrea Hirata 40
  46. 46. uangkan wesel. Biasanya mahasiswa IPB dari daerah minusitu cengar-cengir menghadapku, dan wajahnya berbungawaktu punggung weselnya kuhantam dengan cap saktimandraguna ini: Saat menghujamkan cap itu aku dilanda perasaanmenjadi orang penting, dirasuki sindrom kekuasaan. OK,Power is sweet. Sekarang aku paham mengapa orang gila ku-asa. Aku mengerti mengapa banyak pejabat hilir mudik keparanormal agar tetap berjaya, dan maklum melihat peja-bat pensiun segera kena borok usus atau mati separuh ba-dan. Aku dan Arai berhasil menyelesaikan kuliah tepatwaktu. Kami mengikuti tes beasiswa untuk sekolah stratadua ke Eropa. 41 EDENSOR
  47. 47. Sejak kecil aku harus bekerja keras demi pendidikan,mengorbankan segalanya. Harapan yang diembuskan bea-siswa itu membuatku terpukau. Aku sadar bahwa apa yangkualami selama ini bukanlah aku sebagai diriku. Beasiswaitu menawarkan semacam turning point: titik belok bagi hi-dupku, sebuah kesempatan yang mungkin didapat orangyang selalu mencari dirinya sendiri. Aku telah tertempa un-tuk mengejar pendidikan, apa pun taruhannya. Aku memutuskan keluar dari pekerjaan di kantor posyang telah menggiringku ke kutub moderat. Semakin lamasemakin berkurang tantangannya. Pekerjaan itu tidakmemberiku kelimpahan, tapi memberi keamanan finansi-al dan kehidupan yang itu-itu saja, demikian gampang dira-malkan kesudahannya. Aku terjamin secara sederhana, ter-lindung oleh sistem, stabil secara psikologis, mapan secarasosial, dan semua itu membuatku bosan. Aku merasa se-perti tupai yang sibuk menggendong pinangnya, kura-kurayang mengerut ke dalam tamengnya, atau siput yang sem-bunyi di balik cangkangnya. Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, mener-jang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan me-mecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup be-rupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirinlika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Akumendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkin-an yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekuluranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, Andrea Hirata 42
  48. 48. mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arahyang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh,menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Akuingin berkelana, menemukan arahku dengan membacabintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dangurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbungdihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Akuingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan pe-naklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup! 43 EDENSOR
  49. 49. SaputanganA ku dan Arai menerima surat pengumuman tes beasiswa itu di Belitong. Dr. Michaella Woodwardyang memberi komentar pada pengumuman itu membuatkami berbesar hati. Intinya, ia menganggap hasil riset kamiberpotensi melahirkan teori baru dalam disiplin ilmu kamimasing-masing. Karena itu Dr. Woodward meluluskan tesbeasiswa kami. Aku gembira, berbulan-bulan kutekuni bu-ku tebal yang runyam berjudul Financial Econometrics, sebe-lum menyusun proposal risetku, ternyata ada gunanya. Na-mun, aku tahu persis, kesuksesan proposalku bukan hanyakarena aku dapat mengaplikasikan teori ketidakpastian—termasuk gerak Brown atau segala sebaran Gauss—untukmemetakan interkoneksi telekomunikasi, namun karenaMotivation Letter-ku yang hebat luar biasa. Beginilah kutulismotivasiku: Akan saya sumbangkan seluruh ilmu dan pengalaman riset yang saya dapatkan di Sorbonne demi kemajuan nusa dan
  50. 50. bangsa, demi tanah. tumpah darah saya! Tak berlebihan saya sampaikan bahwa secara diam-diam, sebenarnya saya telah lama bercita-cita ingin mencurahkan seluruh kemam- puan yang saya miliki, tak digaji pun tak apa-apa, demi mengangkat harkat dan martabat umat manusia yang ma- sih terbelakang di negeri saya, negeri yang benar-benar saya cintai dengan sepenuh jiwa .... Aku yakin, kata-kata yang kusadur dari sebuah bukuberjudul Garis-Garis Besar Hainan Negara itu telah membu-at Dr. Woodward terharu hatinya dan tak menemukan ala-san untuk tidak memberiku beasiswa. Maka, bagi kawanyang sedang menulis buku Tiga Serampai Tata Cara Memper-oleh Beasiswa Luar Negeri, kusarankan jangan lupa mema-sukkan siasatku itu.Arai berusaha menghubungi Zakiah Nurmala—cinta berte-puk sebelah tangannya itu—untuk pamitan. Zakiah pastimenerima surat Arai, tapi tak sudi membalas. Seperti dulusejak SMA, perempuan itu tetap indifferent, tak acuh. Baru kutahu ada orang yang ditampik hampir sepu-luh tahun tapi tetap kukuh berjuang. Arai tak pernah terta-rik pada perempuan lain. Zakiah adalah resolusi dan selu-ruh definisinya tentang cinta. la telah menulis puluhan pu-isi untuk belahan hatinya itu, telah menyanyikan lagu dibawah jendela kamarnya, berhujan-hujan mengejarnya, Andrea Hirata 46
  51. 51. dan bersepeda puluhan kilometer hanya untuk menemui-nya lima menit. Zakiah tetap tak acuh. Mungkin Arai telahdiserang sakit gila nomor dua puluh enam: takbisa membe-dakan diterima dan ditolak. Sementara aku merindukan A Ling. Malam hari, akukeluyuran, menjumpai para sahabat lama: dermaga dantoko kelontong Sinar Harapan. Aku melamun di depan to-ko yang telah diabaikan itu. Pintu pagar berdecit-decit diti-up angin. Kuingat A Ling berdiri di balik pagar itu, terse-nyum padaku. A Miauw telah meninggal. Keluarganya ter-pecah belah. Sejak meninggalkanku ke Jakarta waktu akuSMP dulu, tak ada yang tahu kabar A Ling. la pergi, akumerasa seakan semua makhluk di Belitong dinaikkan NabiNuh ke bahteranya, aku tak diajak, hanya aku sendiri takdiajak.Mengetahui aku dan Arai akan pergi jauh, doa Ayah lebihpanjang dari biasanya. la bersimpuh terpekur. Jika kamicium tangannya, ia menggenggam tangan kami kuat-kuat.Kami tahu, sebagian hatinya ingin kami tak pergi. Kukata-kan pada Ayah, kami akan terbang enam belas jam dan tran-sit di Frankfurt. Ayah bersedekap, tercenung. Tak sedikitpun kenyataan itu dipahaminya. Aerodinamika gelap bagi-nya, ia bahkan tak paham arti kata transit. Aku semakindekat dengan ayahku. Setiap hari aku mengakurkan jamweker kenangan pensiun PN Timah untuk Ayah—setelah 47 EDENSOR
  52. 52. beliau bekerja di perusahaan itu hampir empat puluh ta-hun. Jam serupa juga dihadiahkan PN Timah untuk kakek-ku dan ayah kakekku. Ayah baru pensiun. Mengherankan ia dapat bertahandi tambang selama puluhan tahun. Ayah adalah seorangfamily man. Sejak muda ia mengencangkan ikat pinggang,bekerja membanting tulang. Seluruh hidupnya tercurahhanya untuk istri dan anak-anaknya. Setiap tindak lakunyahanya untuk memberikan yang terbaik pada keluarga. Minggu pagi, kami bertolak ke Bandara SoekarnoHatta naik Fokker 28 dari bandara perintis Buluh Turn-bang di Tanjong Pandan. Pagi yang amat pilu. Kami berpa-mitan, Ayah menyerahkan bungkusan untuk kami. "Buka jika telah sampai di sana," katanya. Ayah me-ngatakan ia bangga aku mampu mencapai apa yang takpernah dicapainya. Aku bangga ayahku mengatakan itu,karena itu berarti ia melihat dirinya dalam diriku. Ayah melepas kami seperti tak kan melihat kami lagi.Bagi beliau, Eropa tak terbayangkan jauhnya. Ayahku yangpendiam, tak pernah sekolah, puluhan tahun menjadi kulitambang. Paru-parunya disesaki gas-gas beracun, napasnyaberat, tubuhnya keras seperti kayu. Ia menatap kami se-akan kami hartanya yang paling berharga, seakan Eropaakan merampas kami darinya. Air matanya mengalir pelan.Aku memeluk ayahku, ayah yang kucintai melebihi apapun, tangannya yang kaku merengkuhku. Betapa aku me-nyayangi ayahku. Andrea Hirata 48
  53. 53. Pesawat kecil itu terangkat, dari jendela kulihat Ayahmelambai-lambai dengan saputangan, saputangan yangdulu sering dipakainya untuk mengikat kakiku pada tuassepeda Forever-nya, supaya kakiku tak terjerat jari-jari ban.Setiap sore aku dibonceng Ayah naik sepeda ke bendung-an. Dadaku sesak. Aku tahu aku akan merindukan laki-lakipendiam itu. Kulihat lambaiannya sampai jauh, sampai taktampak lagi. Aku tersedu sedan. 49 EDENSOR
  54. 54. CurlyD i Bandara Soekarno Hatta aku mempelajari lampiran surat pengumuman beasiswa Uni Eropaitu. Berlapis-lapis. Semuanya ada di sana: jalur detail per-jalanan, penjemput, bahkan telah disiapkan alamat e-mailintranet, lengkap dengan user name dan password untukakses data warehouse universitas. Kami akan ke Belanda dulu dan akan dijemput se-orang pegawai dari kantor perwakilan Uni Eropa di Am-sterdam lalu ke kantor pusat Uni Eropa di Belgia. Kulihatnama penjemput kami: Ms. F. Somers. Dari cara menulisnamanya, aku mendapat kesan pastilah Somers ini seorangibu-ibu gemuk, atau lajang lapuk, pegawai yang tak pen-ting, pengurus hal remeh temeh dibagian administrasi.Ms. itu ditegaskan betul dalam deretan namanya. Suatuisyarat yang nyata, seperti bubungan tebal asap unggun In-dian Cherokee, bahwa dirinya available, masih sendiri.
  55. 55. Hijau, hijau seluas mata memandang. Biru, biru tak pu-tus-putus, semakin tinggi semakin biru, samar, dan melesat,kutinggalkan Indonesia. Tiga puluh tiga ribu kaki di atas per-mukaan laut, enam belas jam paling tidak, diam, sepi, ter-apung-apung. Dini hari, lewat jendela kulihat tiga aliran su-ngai berkejaran. Kubuka buku saku Coffins World Atlas. Su-ngai-sungai itu—Rhein, Maas, dan Schelde—bermuara di Be-landa. Permukaannya ganjil. Tak pernah kulihat tanah ber-warna putih. Desember, musim salju. Tiba di bandara Schip-pol Arai membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, persisseperti dilakukannya dulu di atas bak truk kopra ketika ia ma-sih kecil saat aku dan ayahku menjemputnya: Dunia, sambutlahaku! Ini aku, Arai, datang untukmu! Demikian maknanya.Masih dalam lingkar pemanas Bandara Schippol, kami takmenyadari kalau suhu dingin di luar seganas gigitan hewanbuas. Kami celingukan mencari wanita gemuk petugas ad-ministrasi itu. Pasti ia berdiri di sana, di antara para pen-jemput, sambil memegang benda semacam bat pingpongdengan tulisan dari tinta emas: Mr. Andrea Hirata andMr. Arai Ichsanul Mahidin, welcome to Holland. Na-mun, tak ada tanda semacam itu. Yang ada hanya gadis mu-da berandal yang berteriak-teriak tak keruan ini. "Oiiik! Oiiik! Oiiiiikkkk!" Ia berlari-lari menuju kami, kami terkejut, menolehkiri-kanan, siapakah dia! Ia pasti salah mengenali orang. Andrea Hirata 52
  56. 56. "Oiiik! Oiiik! Oiiiikk!!" Tapi memang kami yang dipanggilnya. Aneh. Kamiberhenti, ia megap-megap. "Waithhhh..." dengusnya. Ia membungkuk, keringat-nya bersimbah, dadanya kembang kempis. Lalu ia tegak la-gi, bertelakan pinggang sambil mengatur napas. Kami ma-sih mematung. Bingung. Siapakah gadis berandal ini! Ia sa-ngat jangkung, 180 senti mungkin. Atletis, padat berisi. Tu-buhnya dibangun kerangka Kaukasia yang sempurna. Iamengenakan shapely tank top. Perutnya kelihatan dan pastidia sering sit up. Rambutnya berantakan, pirang menyala-nyala. Belakangan kami tahu, oik adalah cara orang Belan-da menyebut hai. Aku harus menengadah untuk melihat wajahnya danaku terkesiap. Ia gadis muda yang luar biasa cantik, gorgeous.Aku seakan menatap cover majalah Vogue. Apa yang diinginkan wanita bule yang jelita ini! Ia mengatur napas dan kami terbius pesonanya. Ia sa-ngat mirip Daria Werbowy, Anda tahu kan? Supermodelhaute couture yang sering melenggok di Fashion TV berbu-sana Dolce and Gabbana itu. Kenal, kan? Kenal? Sudahlah,tak usah dipusingkan. Aku sendiri tak kenal. "EU scholarship awardees, yeeah ...?" tanyanya akrab.Tak menunggu jawaban ia nyerocos lagi. "Saya Famke ...." Ia menyalami Arai. Bola matanya bi-ru langit, bukan, lebih indah, biru buah ganitri muda. "Famke Somers." 53 EDENSOR
  57. 57. Ya, Tuhan, inilah Ms. F. Somers yang kusangka ibu-ibu gendut petugas administrasi itu. Sekarang, terus terangaku gugup karena ia cantik tak kepalang tanggung. "Saya mengenali kalian dari foto saja...." Ia tersenyumsenang. "Saya Arai," orang udik itu memperkenalkan diri. "What! Ray!" "Oh, no ...A... rai." "Great ...." Kalau sempat Arai mengiyakan Ray itu, aku sudah si-ap mengenalkan diri sebagai curly4. "And you ... bagaimana sebaiknya aku memanggilmu,Kawan?" Native Eropa pertama yang kami temui di tanah airnyasendiri, keramahannya mencengangkan. Ia meraih koperkami. Koper berat kulit buaya itu ringan saja di tangannya. "Ikut aku, dan pakai jaketmu." Kami membuntutinya menuruni tangga dan mema-suki platform kereta underground. Terlepas dari sistem pema-nas Bandara Schippol, kami langsung menggigil digigit su-hu dingin delapan derajat celcius. Famke tergelak melihatkami gemelutuk. Ia sendiri hanya bercelana jeans ketat bo-long-bolong dan tank top itu. "Jangan cemas, Kawan, kita segera naik kereta, nantidi dalam panas lagi," katanya.4 Ikal-Peny. Andrea Hirata 54
  58. 58. Aku takjub melihat gadis Belanda ini. Tak sedikit punia kedinginan. Tak heran Kumpeni bisa menjajah kita sam-pai karatan. Dari central station Amsterdam kami naik ke-reta menuju Brussel. Dalam sekejap, kami akrab denganFamke. Ia tak berhenti bicara dan kami tak berkedip mena-tap kecantikannya. Seperti kami, ia juga penerima beasiswaUni Eropa, ia mahasiswi Amsterdam School of the Arts. Iamendalami street performances atau pertunjukan seni ja-lanan. Perspektifnya tentang seni jalanan amat memikat. "Jalanan adalah karya seni instalasi yang sempurna. Ialurus, berhiaskan lampu dan bunga, menikung, menanjak,dan kadang-kadang buntu. Ia mengarahkan, meloloskan,menjebak, dan menyesatkan." Aku terpana. "Jalan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempatmenggelandang. Jalan tempat lari dari kenyataan, tempatmencari nafkah. Orang hilir mudik di jalan, mereka berge-rak indah, melamun, riang, dan berduyun-duyun, siapamereka? Ke manakah mereka?" Belum pernah kudengar pandangan seperti itu, pan-dangan yang mengandung kecerdasan seni tingkat tinggi. "Jalanan seperti panggung dengan kemungkinan kon-figurasi dekorasi yang amat luas. Semua kemungkinan senidapat ditampilkan di jalanan. Seniman jalanan mengha-dapi tantangan seni terbesar." 55 EDENSOR
  59. 59. John WayneK ereta meluncur melintasi Utrecht dan Dordrecht, terus melaju keluar Belanda lewat Breda, langsungke kota kecil di pinggir Belgia, yaitu Brugge. Di sanalah a k o -modasi kami. Dari penduduk Belgia yang separuh berba-hasa Belanda separuh Prancis, Brugge lebih Belanda. Kamitiba di muka pagar besi sebuah rumah bertingkat yang ber-desain kaku dan berwarna hitam. "Oke, sampai di sini, Kawan. Temui...." Famke mem-buka sepucuk kertas. "Simon Van Der Wall. la landlord5tempat ini. All set. Aku yakin kita akan berjumpa lagi." Kami bersalaman. "Senang sekali telah kenalan dengan kalian, take care." Berat sekali berpisah dengan Famke. la telah menjadisahabat yang sangat baik. Sayang sekali ia harus mengejarkereta terakhir kembali ke Amsterdam karena ada keperluanmendesak.5 Induk semang/pemilik kost—Peny.
  60. 60. Aku dan Arai memasuki halaman dan tertegun didepan pintu yang membingungkan. Diketuk berkali-kali,tak direspons; diputar-putar gagangnya, terkunci; dido-rong-dorong, macet. Dari kaca jendela, tampak beberapaorang ngobrol di dalam. Mereka melongok lalu kembalingobrol karena tak kenal mereka merasa tak perlu mem-buka pintu. Kami mafhum, ini negeri mind your own bu-siness! Uruslah urusanmu sendiri. Tak ada bel. Yang ada, di samping pintu, hanya deret-an kotak kecil, nomor-nomor lantai gedung, tombol-tom-bol, speaker, dan label nama. Aku memencet tombol berla-bel Van Der Wall. Ding dong, bel melengking. Drreeeeeetttt ... disambut kumandang seseorang dispeaker. "Oik! Hhrrgghh hoegnog nog geehhnn nog nog gogggghrhrhrh ..." "Brghrrh... grrrrh ... oik! Oik!" Secuil pun tak kupahami, disambung lagi. "Grrhhh nog ikhh grrhhstgen grrrrrh ... oik!" Pasti bahasa Belanda, karena seluruhnya dibunyikandari kerongkongan, berat seperti beruang menderam-de-ram. Dreett itu meraung lagi, lalu sepi. Kupencet lagi, dingdong... lembut bergema-gema. Dreeeetttt!! "Grrhhh nog!! Ikhh grrhhstgen grrrrrr!!!" Pasti dia jengkel. Diam. Sepi lagi, kupencet lagi. Andrea Hirata 58
  61. 61. "Ghhirrr...!!" Senyap. Kupencet lagi. "Oiikkk!! Ghhhhrrrrrrrr!!" "Mis ... Mister ... Mister Van Der Wall...?" Aku men-dekatkan mulut ke speaker. "Ghhhhrrrrrrrh!!" "Mister... Mister...." "Ghhhrrrrr!!Ghhhhrrrrrr!!" "Mister, English please ..." Diam sebentar, dreeeeeeetttttttt... plus jeritan histeris. "PUSH THE DOOR RIGHT AFTER THE BELL!" Dreeeettttttttttttt.... Kami cepat-cepat mendorong pintu, terbuka. Rupa-nya suara dreet yang tadi berulang kali melolong adalahalarm kunci pembuka pintu. Kami tertawa. Sederhana sajatampaknya perkara pintu ini, tapi inilah persentuhan per-tama kami dengan individualisme. Sikap Van Der Wall,orang-orang yang ngobrol dan tak peduli meskipun tahukami terjebak di muka pintu, teknologi pintu itu, gedungapartemen ini, sesungguhnya desain sosiologi orang Barat. Di lantai tiga kami melihat pintu ditempeli pelat: Si-mon Van Der Wall, MVgT, Building Manager. Kami menge-tuk dengan sopan dan masuk ke dalam ruangan. Simontinggi besar dan berewokan, santai tapi angker, duduk me-nekuri meja seperti burung pemakan bangkai menungguimangsa. Seluruh wajahnya disita oleh hidung bongkoknya.Gayanya mengembuskan cerutu secara mencolok, sekali- 59 EDENSOR
  62. 62. gus menggelikan, jelas mencitrakan dirinya John Wayne.Bukan baru sekali aku berjumpa dengan tipe seperti ini,yaitu mereka yang masa remajanya tercekoki film machokonyol John Wayne, lalu sepanjang hidupnya mati-matianingin seperti John Wayne. John Wayne wannabe istilahnya.Semenit bicara dengan Van Der Wall, aku langsung menye-sal mengapa Famke buru-buru pergi. "Saya sudah berulang kali mengonfirmasi kedatangankalian pada Jakarta, tak ada jawaban. "Memang ada kamar kosong, tapi sistem di sini tidakbekerja seperti ini. "Impossible," tukasnya tanpa perasaan. Kami tak diberi kesempatan berdalih. "Ini hari Minggu, kebetulan saja saya ada di kantor.Jika tidak, bahkan kalian tak bisa melewati pagar itu!" Sikap Van Der Wall delapan derajat celcius, lebih di-ngin satu strip dari suhu di luar. Kulihat Arai ingin marahdan aku ingin mengatakan bahwa kami tak tahu harus kemana jika tak boleh tinggal di apartemen itu. Tapi kamitahu sikap itu hanya akan membuat Van Der Wall memun-tahkan kata-kata yang lebih menyakitkan, misalnya: Itu bu-kan urusanku! Silakan menggelandang di luar, itu urusankalian! Nasib kalian sial karena ketololan kalian sendiri!Atau, begitulah cara kalian orang Indonesia bekerja! Takada sistem! Tak bisa antisipasi! Tak efisien sama sekali! "Tunggu sampai besok, hubungi Dr. Woodward. Ka-lau administrasi beres, baru kalian bisa tinggal di sini." Andrea Hirata 60
  63. 63. Dari jendela, kulihat lajur-lajur putih sepanjang jalan,berkilat tepi-tepinya karena bentangan es. Butir-butir kecilseperti terigu melayang-layang dari langit. Perutku naik me-nyundul-nyundul ulu hatiku. Betapa kerasnya dunia sete-lah ini. Kami keluar ruangan, sempat kulirik Van Der Wall. lamengawasi kami. Tubuhnya ia tumpukan pada tangan ka-nan yang menekan ambang pintu, sedikit nungging, seakansepucuk pistol dan selempang peluru melilit pinggangnya.Tangan kirinya mengayun-ayunkan cerutu. Seringainya se-perti ia baru saja menghalau cecunguk pelintas batas dariMeksiko, John Wayne palsu! Tengik bukan main.Kami meninggalkan gedung yang tak bersahabat itu, terse-ok memanggul ransel dan menyeret koper butut yang be-rat, tak keruan tujuan, yang ada dalam pikiran hanya bagai-mana menyelamatkan diri dari sengatan dingin. Dalam ru-mah-rumah persegi berjendela kaca, orang berkerumun diruang tamu, mengelilingi pohon natal, temaram, bersendagurau, tak mau jauh dari jangkauan pemanas. Di sini takbisa sembarang mengetuk pintu rumah orang. Pengalamandengan Van Der Wall sedikit banyak mengajari kami, dankami belum melapor pada pihak berwenang. Mengetukpintu dalam keadaan seperti itu sangat mungkin berurus-an dengan hukum. Motel tak tampak. Brugge sama sekalibukan tujuan wisata. 61 EDENSOR
  64. 64. Semua bangunan tertutup, tak seorang pun keluar ru-mah dan tak ada kendaraan melintas. Kami tak tahu bahwasemua orang bersiap untuk situasi gawat yang akan terjadimalam nanti. Suhu akan drop secara ekstrem. Kami malahmengobral diri, berkeliaran di alam terbuka, mengumpan-kan diri pada taring iblis musim salju. Arai membeli lilin disebuah kios kecil yang kemudian langsung tutup. Kami bergerak terus agar tak membeku. Pohon-po-hon menjadi putih. Jalan raya menyempit dilamun bong-kahan es. Atap-atap digelayuti timbunan salju. Dari buku Collins World Atlas aku melihat Brugge te-pat berada di sisi North Sea (Laut Utara), laut terdingin yangdisarankan untuk dihindari selama winter (musim salju),karena dinginnya berbahaya. Laut Utara adalah mainstreamlaut es Artik di Kutub Utara. Jika winter tiba, bahkan bu-rung-burung red knox di Brugge melarikan diri ke pantai-pantai Italia. Di ujung Jalan Oudlaan kami menemukan bangku ta-man. Kami duduk di bawah naungan kanopi. Hujan saljumakin lebat. Sunyi, mencekam. Desis angin berubah men-jadi seribu mata lembing, menghujam tubuh kami yanglapar dan kedinginan. Seumur hidup dijerang suhu dalamkisaran tiga puluh empat derajat celcius, bahkan baru seha-ri yang lalu di Belitong kami bermandi panas tiga puluhsembilan derajat, kini kami menghadapi suhu yang bisa ja-tuh sampai minus. Malam merambat. Iblis es dari Kutub Utara gentayang-an. Mula-mula menggigit daun telinga, berdenging, lalu men- Andrea Hirata 62
  65. 65. cakar-cakar pipi, dan menyerap ke dalam tubuh, menusuk-nusuk tulang, membekukan sumsum. Kami terperangkapsuhu dingin yang terus merosot sampai sulit bernapas. Pukul dua pagi, Arai mengeluarkan termometer, ka-mi terbelalak, suhu telah terjun ke titik minus sembilan de-rajat celcius. Kami cemas karena sama sekali tak berpenga-laman dengan suhu seekstrem ini. Tak seekor hewan puntampak, semuanya berlindung di dalam liang, menyelamat-kan diri dari gempuran salju yang buas. Semakin malam makin tak tertahankan. Embusanuap es dari Laut Utara menyapu Semenanjung Zeebruggaedi perbatasan Belanda, melesat bebas bersiut-siut, yangmenghalanginya hanya dua tubuh kurus anak Melayu yangseumur hidupnya tak pernah berjumpa dengan salju. Ge-lap mengerucut dililit dingin, suara alam lenyap terisapangin, bahkan angin sendiri membeku. Kami duduk berpelukan, lengket, mengerut, danmenggigil hebat. Gigi gemelutuk seperti perkusi tulang, je-mari kisut dan perih. Tubuh gemetar tak terkendali seakandiguncang-guncang. Dingin menyengatku sekejam sengat-an lebah yang paling berbisa, lalu kurasakan keganjilan da-lam diriku. Pandanganku berputar dan aku tak merasakankepalaku. Aku tak berkepala! Kemudian leherku tercekik.Aku meronta-ronta. Inikah serangan maut pulmonary ade-ma? Arai menundukkan kepalaku, darah tumpah darirongga hidungku, merah menyala di atas salju yang putih.Aku menghirup sedikit oksigen lalu kembali tercekik. Araimembuka syalnya, melilitkannya di leherku. 63 EDENSOR
  66. 66. "Bertahanlah, Tonto!" jeritnya panik. la membuka koper, mengeluarkan semua pakaian, di-balutkannya berlapis-lapis di tubuhku. Jemariku biru le-bam, aku tersengal-sengal. Tiba-tiba Arai mengangkat tu-buhku lalu pontang-panting, terhuyung-huyung melintasitimbunan salju setinggi lutut, menuju pokok pohon ro-wan. Aku ditidurkannya di tanah, di bawah rimbun deda-unan rowan. Mengapa Arai menidurkanku di tanah? Akumakin menderita karena tanah telah menjadi balok es.Aneh sekali kelakuan Arai. Apakah ia kalut dan menjadigila karena tahu aku akan tewas? Tindakan Arai makin gan-jil. Ia menimbuniku dengan daun-daun rowan. "Apa yang kaulakukan, Ranger?" Ia tak menjawab. Wajahnya cemas, mulutnya komatkamit, matanya sembap. Ia terus menimbuniku dengan da-un. Aku tak dapat mencegahnya karena seluruh sendi tu-buhku lumpuh. Arai menghiba-hiba, "Bertahanlah, Tonto! Janganpergi! Jangan takluk!" Namun tubuhku makin lemah, lorong putih berkelebat-kelebat dalam pandanganku. Beginikah rasanya ajal? Kesadar-anku timbul tenggelam. Aku berusaha menguatkan diri, akutak mau mati! Tak mau mati konyol seperti ini di hari pertama petu-alanganku! Aku masih ingin mengelana Eropa sampai ke Afrika,aku mau kuliah di Sorbonne, aku belum menemukan A Ling! Arai memelukku kuat-kuat, air matanya meleleh. "Ba-ngun! Bangun!" ratapnya putus asa. Andrea Hirata 64
  67. 67. Aku tahu, sesuatu yang fatal akan menimpaku. Suhumungkin telah jatuh sampai minus belasan derajat. Aku takkan tertolong. Detik demi detik merayap, lorong putih yangberkelebat itu padam, gelap, senyap. Kemudian pelan, pelansekali, terjadi keajaiban. Hawa hangat yang halus berdesir dipunggungku. Daun-daun busuk yang ditimbunkan Arai kesekujur tubuhku seakan menguapiku. Arai melihat per-ubahan itu, ia kembali menimbuniku dengan daun rowan.Kesadaranku berangsur pulih, detak jantungku kembali nor-mal, sedikit demi sedikit kukumpul-kumpulkan lagi nyawa-ku. Aku takjub menatap Arai, ia memekik girang. "Humus! Humus, Kawan. Humus Pyrus aucuparia me-nyimpan panas! Begitulah cara tentara Prusia bertahan dimusim salju! Apa kau tak pernah membaca buku sejarah?" Aria kembali bersemangat menimbuniku dengan da-un-daun rowan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Untuk ke-sekian kalinya, sejak kecil dulu, aku kagum akan beragamilmu-ilmu antik sang simpai keramat ini. Arai menyalakan lilin dan membuka bungkus plastikikan teri sangon ibuku. Kami memanggang ikan mungil itudengan cahaya lilin. Inilah gala dinner kami di Eropa. Bauikan teri membangunkan keluarga tupai, kelinci, dan ra-kun mapache. Suasana semarak karena makhluk-makhlukitu jinak. Mereka mencicit-cicit gembira, pipinya gembil,sibuk memamah biak ikan teri, rakus tapi lucu. Anak-anak-nya bermunculan dari liang hibernasi, malas, manja, dangendut-gendut. Beberapa ekor berdiri, seolah berkata, "Se-lamat datang di Eropa, Pangeran Salju." 65 EDENSOR
  68. 68. ParanoiaP agi sekali kami berjumpa orang-orang yang menge- nakan kaus bertuliskan kampanye beraroma diskrimi-nasi Belgy for the Belgium. Mereka tergopoh-gopoh, barang-kali ingin berangkat unjuk rasa. The Belgium, begitulah pen-duduk asli Belgia menyebut diri mereka. Mereka sibuk ber-demo untuk mengusir imigran yang mereka anggap telahmerampok lapangan kerja. Salah satu dari mereka menun-juki kami arah menuju Stasiun Brugge. Hebat sekali kantor Uni Eropa, meraja di jantung ko-ta Brussel, kukuh berwibawa melambangkan supremasibangsa-bangsa Eropa. Arsitektur dasarnya seperti kuburanjuragan kaya Tionghoa, seperti tubuh yang ingin memeluk.Maksud desain itu bukan hanya soal estetika, namun le-ngan-lengan yang merengkuh taman berlantai granit ituadalah rancangan untuk berlindung dari guncangan bom.Selain sebagai lambang digdaya, gedung Uni Eropa jugametafor paranoia, penyakit kronis orang Barat.
  69. 69. Di gedung itu berseliweran tentara dengan seragamberupa-rupa, tampak tentara bayaran yang gagah: legiunasing Prancis. Delegasi berbagai bangsa disambut para inter-preter yang terpelajar. Bahasa-bahasa asing hiruk-pikuk. De-legasi Afrika hadir dengan atribut-atribut tradisinya: parawanita mengenakan amuria, amdu, dan bubu berwarna-war-ni dengan ikat kepala tinggi-tinggi. Pria-prianya berselem-pang panjang, berjubah yoruba, babariga, dan bertopi asaoke. Mereka sangat bergairah, barangkali ingin membica-rakan program peternakan burung unta dengan para pe-tinggi Uni Eropa. Setelah itu bergelombang kelompokorang dengan tanda pengenal Dominican Republic. Me-reka juga gembira, menyapa setiap orang, tentu bersema-ngat akan mendiskusikan soal komputerisasi di kawasanKaribia. Wajah mereka optimis menatap masa depan. Ter-akhir, di pintu masuk untuk orang-orang yang kurang pen-ting, di pojok sana, aku melihat segelintir manusia yang ra-sanya kukenal. Aku sering melihat mereka bertengkar soalminyak tanah di televisi tanah air. Mereka kelihatan sema-kin tidak penting dengan sosoknya yang kecil di antara rak-sasa hitam dan putih. Agak berbeda dengan delegasi lain,mereka kurang percaya diri, sedikit malu-malu, tertunduk-tunduk memasuki kantor Uni Eropa. Ini pasti soal utangpiutang. Pengamanan di kantor Uni Eropa amat ketat. Jika takmenyebut nama Dr. Woodward jangan harap bisa melin-tasi sekuriti yang tak terhitung lapisnya. Kamera CCTV ter- Andrea Hirata 68
  70. 70. pasang di mana-mana. Terakhir, lekuk-lekuk tubuh kamidigeledah, ini untuk ketiga kalinya, oleh seseorang yang te-lah lupa bagaimana cara tersenyum. Lalu, seorang perem-puan bertubuh penuh, bukan gendut, cantik dan pirang,menyambut kami. Ia tak mengucapkan apa pun selain goodmorning. Aku menduga ia seorang Skandinavia. Erika Ingeborg, nama perempuan itu, sekretaris Dr.Woodward. Benar sangkaku, ia seorang Skandinavia, Fin-landia tepatnya. Ia tak begitu ramah, tapi jelas ia peduli, danseperti Skandinavian umumnya: ia tampak cerdas dan efisi-en. Erika membawa kami ke kantor Dr. Michaella Wood-ward, pengambil keputusan terakhir beasiswa Uni Eropa. Aku selalu menduga Michaella orang yang tempera-mental. Dulu dibantingnya telepon waktu mewawancaraikutentang akibat ekonomi penyakit sapi gila. Jawabanku me-mang tak keruan. Sekarang, sepintas melihatnya, aku lang-sung tahu kalau wanita Irlandia itu lebih keras dari duga-anku. Umurnya mungkin empat puluh lima tahun. Kerutandi pangkal hidungnya mengesankan ia sering mengambil ke-putusan dilematis yang berakibat pada hajat hidup orang ba-nyak. Namun secara umum, ia sama sekali tak dapat dikata-kan tidak menarik. Waktu remaja ia pasti seperti Claire For-lani, lalu dewasa mirip Carrie-Anne Moss, sekarang—sete-ngah baya—ia tampak tak kurang dari Juliette Binoche, nantijika tua ia akan mirip almarhumah Jessica Tandy. Michaella adalah seorang doktor ekonomi yang sangatcemerlang, dan seorang keynesian karena ia penganut ajar- 69 EDENSOR
  71. 71. an ekonom kondang John Maynard Keynes. Otomatis, iajuga seorang monetarist, yakni orang yang percaya bahwasektor moneter (keuangan) adalah katalisator pembangun-an ekonomi. Di sebuah jurnal ternama, Dr. Woodward pernah me-nulis artikel berjudul Why Monetary Reform Works? Bagi paraekonom, judul itu provokatif, karena makna generiknyaadalah mengapa reformasi moneter berhasil membangun eko-nomi, sedangkan reformasi sektor riil tidak? Artinya, Dr. Wood-ward terang-terangan mengibarkan bendera perang padapenganut ajaran klasik ekonom Adam Smith yang justrupercaya bahwa sektor riil sebagai katalisator pembangunanekonomi. Dr. Woodward adalah generasi kesekian yangmelestarikan pertikaian kronis mazhab klasik dan mazhabmoneter yang telah berlangsung ratusan tahun. Dalam ber-bagai forum, aku telah melihat sepak terjang keynesian.Kesimpulanku: jika tak siap dengan argumentasi cerdasdan data yang komplet, jangan berurusan dengan mereka.Keynesian adalah pendebat yang kompulsif, tak mau kalah.Aku gugup menemui Dr. Woodward. Lagi pula, ternyata kami datang pada waktu yang ke-liru karena Dr. Woodward sedang diprotes Famke Somerslewat telepon. Rupanya semalam Famke menelepon Si-mon Van Der Wall untuk menanyakan keadaan kami. Me-ngetahui perlakuan Simon, Famke menyemprot JohnWayne kodian habis-habisan. Dr. Woodward juga marahdan celakanya, baru saja ia menutup telepon, masuklah Andrea Hirata 70
  72. 72. empat orang pria. Tanpa basa-basi, mereka langsung men-debat Dr. Woodward. Seorang pria selalu melontar katabernada tinggi: aberrant! Seffondrer! lnfere! Aku paham kata-kata Prancis itu, artinya: tak masuk akall Bangkrut! Implikasi!Pria kedua membantah dalam bahasa Spanyol: cuanto cues-ta? lmporta, esta incluido!?. Pria ketiga sering menyebut rabo-ta. Setahuku, itu kata Rusia untuk kerja. Pria keempat ber-bahasa Inggris. Mereka beradu pendapat, dan luar biasa,Dr. Woodward meladeni setiap orang dengan bahasa ibumereka. Kurang dari sepuluh menit di ruangan itu aku te-lah mendengar Dr. Woodward bicara paling tidak dalamempat bahasa! Termasuk bahasa Rusia. Wajar saja Irlandiatak pernah dapat dijajah siapa pun. Si Prancis paling agre-sif. Jelas ia juga seorang keynesian. Ia dan si Inggris memihakDr. Woodward. Mereka menyerang orang Spanyol dan Ru-sia itu—mungkin kedua orang ini penganut paham klasikAdam Smith. Debat memanas, akhirnya melalui sebuah te-riakan marah, Dr. Woodward menyuruh mereka keluar. "Nanti kita sambung lagi!" cetusnya tak puas. "Akumau mengurusi orang-orang Indonesia ini dulu!" Tubuh Dr. Woodward tampak kaku. Aku ngeri mem-bayangkan ia berbalik dan melolong. "Apakah kalian juga pengikut Pak Tua Adam Smith itu?! "Kalau iya keluar dari ruangan ini! "Saya tidak menerima tamu selain monetarist! "Keluar!" Tapi itu tak terjadi. Ia berbalik dan mendesah. 71 EDENSOR
  73. 73. "Sungguh keterlaluan Simon Van Der Wall itu. Unbe-lievable! Terrible! Horrible!" Dr. Woodward berusaha ramah. la ingin menetralisirsuasana. "Ok then, lets start over!! "Maafkan aku atas kejadian semalam, Anak Muda. Sa-ya dengar suhu drop sampai minus enam belas, bagaimanakalian bisa bertahan? Outrageous!! Tapi jangan khawatir,Erika akan membawa kalian kembali ke Brugge dan mem-bereskan semua persoalan dengan Simon, ok?" Erika menanggapi tanpa ekspresi. "Istirahatlah, besok kembali lagi. Seminggu ini kitaakan membuat term of reference riset kalian. Sabtu depankalian bisa ke Sorbonne." Mendengar kata Sorbonne, kerak-kerak es yang leng-ket di dinding hatiku berderak pecah dan meleleh.Bersama Erika kami kembali ke Brugge. Di jalan, Erika takbanyak bicara. la konsentrasi menyetir dengan sikap tubuhpenuh tanggung jawab pada keselamatan penumpang. Ka-mi sampai di apartemen Brugge. Di pintu apartemen, kamitak perlu memencet-mencet bel konyol itu. Di kantor Van Der Wall, Erika menolak dipersilakanduduk. Aku dan Arai berdiri di belakangnya. "Aku tak punya banyak waktu!" tegas Erika. "Simon, dengar ini baik-baik. Sediakan akomodasilengkap untuk orang-orang ini." Andrea Hirata 72
  74. 74. Kami bersorak dalam hati. "Bantu semua keperluan mereka dan registrasikanmereka segera ke Alien Police!" Pria Belanda itu mengerut di balik meja. Rasakan oleh-mu, John Wayne jadi-jadian! "Hari ini juga! Dan semua yang kaukerjakan haruskaulaporkan padaku paling lambat pukul tiga." Mana lagak tengikmu sekarang? Mana segala teorimu ten-tang sistem-sistem? "Kalau terjadi lagi peristiwa seperti semalam, kauakan berurusan denganku!" Van Der Wall beringsut-ingsut di kursinya. "Paham?!" Kawan, itulah contoh efisiensi Skandinavia. Tak he-ran bangsa Viking berulang kali menindas bangsa-bangsalain di Eropa. Sementara kami menciut di belakang Erika.Tak heran bangsa kita tertindas selama tiga ratus lima pu-luh tahun. 73 EDENSOR

×