Perjalanan yang belum selesai (9).

Para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mengkudeta’’ Surya Paloh, karena mengira ‘’Sudono S...
pengusaha kaya Sudono Salim. Ini bisa dilihat ketika ‘’Sudono Salim’’ pernah mengirim tim
‘’manajemen’’ mereka untuk memba...
Pindah ke SCTV

Sekitar bulan April 1986, saya dating ke kantor Redaksi Surya Citra Televisi Indonesia di Blok M Jakarta.
...
yang berisi berita-berita criminal dan masalah hukum. Pengambil alihan ini, konon untuk ‘’menampung’’
para wartawan ‘’Temp...
Alhamdullia, Pak Harto keburu ‘’lengser’’. Proses cover Majalah D&R ini pun tidak dilanjutkan lagi. Alias
‘’di SP3-kan”. W...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Perjalanan Yang Belum Selesai (9)

2,158 views
2,020 views

Published on

Perjalanan yang belum selesai (9).
Para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mengkudeta’’ Surya Paloh, karena mengira ‘’Sudono Salim’’ menjadi pemilik ‘’mayoritas’’ saham harian Media Indonesia. Gagal masuk SCTV terkana diabetes. Akhirnya ditampung Bambang Budjono di Majalah ‘’D&R” majalah pengganti ‘’Tempo’’ yang dibreidel. Gagal Masuk Total FinaElf, walau sudah tes ‘’telanjang bulat’’ dilihat Ibu Dokter. Baru dua bulan bermarkas ‘’gedung D&R” di Salemba terbakar.
http://www.allvoices.com/contributed-news/4817559-perjalanan-yang-belum-selesai-9
Oleh: Muhammad Jusuf*

Harian Media Indonesia merupakan Koran atau media Harian pertama dan sampai saat ini menjadi terakhir, sebagai tempat saya berkiprah sebagai wartawan. Setelah mengawali karir di media sebagai Korektor di Majalah Tempo dan Majalah ‘’Zaman”, kemudian pindah ke LKBN Antara mulai menjadi seorang wartawan, kemudian setelah enam tahun di LKBN Antara (1984-1990), kemudian pindah ke Majalah Mingguan Ekonomi PROSPEK milik Soetrisno Bachir, dan baru pindah ke Harian Media Indonesia, ketika kantor awal mereka pada akhir tahun 1990 masih di Gondangdia Lama, Jakarta Pusat. Beberapa tahun kemudian, markas Media Indonesia pindah di Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, yang beberapa tahun kemudian tempat ini juga menjadi markas Metro TV sekaligus lokasi ‘’mesin percetakan’’ Harian Media Indonesia.
Di harian Media Indonesia, pimpinan Redaksi tertinggi awalnya disebut Redaktur Eksekufit. Hal ini disebabkan Drs Youslisyah sebagai Pemimpin Redaksi hanya jabatan ‘’simbol’’ atau non-aktif. Belakangan, baru Pemimpin Redaksi dipimpin oleh orang yang sebelumnya pada posisi Redaktur Eksekutif. Salah satu kebanggaan menjadi wartawan di Media Indonesia adalah, seperti halnya ketika mereka menerbitkan ‘’Harian Prioritas’’ mereka dikenal ‘’berani’’ dalam berbagai pemberitaannya. Hal ini berbeda dengan media sejenis pada masa ini, terutama dimasa rezim ‘’Suharto’’ berkuasa. Walaupun Surya Paloh dekat dengan Presiden Suharto, terutama dengan anak-anak mendiang Presiden kedua Indonesia itu, seperti dengan Bambang Trihatmodjo. Apalagi, isteri Surya Paloh masih kerabat Rosanno Barach, salah satu pemegang saham dan pengendali Bimantara Group, sehingga tidak heran bila dulu ada kesan, atau memang betul bahwa ‘’Harian Media Indonesia’’ sebagian saham milik Bambang Trihatmodjo.
Idialisme Surya Paloh di dalam menjalankan roda ‘’Harian Media Indonesia’’ memang patut diangkat ‘’jempol’’. Apalagi, pada awal, ketika ‘’Media Indonesia’’ mulai ‘’diambil alih’’ manajemen dan saham kepemilikannya dari Drs Youslisyah ke Surya Paloh, Media Indonesia tidak mudah menarik para pembaca baru, maupun menarik banyak iklan, sehingga ada kabar media ini sempat ‘’kehabisan modal’’. Tidak heran bila ada kabar harian ini pernah ‘’disuntik’’ Bimantara group, bahkan disuntik oleh pengusaha kaya Sudono Salim. Ini bisa dilihat ketika ‘’Sudono Salim’’ pernah mengirim tim ‘’manajemen’’ mereka untuk membantu ‘’manajemen Harian Indonesia’’. Kabar mengenai apakah Harian Media Indonesia pernah disuntuk modalnya oleh Bimantara atau pribadi Bambang Trihatmodjo atau pernah disuntik oleh kelompok Sudono Salim memang belum jelas benar. Apalagi, adanya pengalihan atau siapa sebenarnya pemilik Media Indonesia group ini tidak pernah secara diumumkan kepada umum, berupa brosur, seperti layaknya kalau perusahaan mau atau akan ‘’go public’’.
Itulah sebabnya, dulu ada sekelompok para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mendongkel’’ Surya Paloh agar ‘’keluar’’ dari Media Indonesia, setelah mereka melihat lebih dari 10 orang-orangnya ‘’Sudono Salim’’ ada di dalam manajemen harian media Indonesia, sehingga para Redaktur dan Reporter ini mengira mayoritas saham Harian Media Indonesia sudah milik Sudono Salim, sehingga mereka yang ‘’tidak suka’’

Published in: News & Politics, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,158
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perjalanan Yang Belum Selesai (9)

  1. 1. Perjalanan yang belum selesai (9). Para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mengkudeta’’ Surya Paloh, karena mengira ‘’Sudono Salim’’ menjadi pemilik ‘’mayoritas’’ saham harian Media Indonesia. Gagal masuk SCTV terkana diabetes. Akhirnya ditampung Bambang Budjono di Majalah ‘’D&R” majalah pengganti ‘’Tempo’’ yang dibreidel. Gagal Masuk Total FinaElf, walau sudah tes ‘’telanjang bulat’’ dilihat Ibu Dokter. Baru dua bulan bermarkas ‘’gedung D&R” di Salemba terbakar. http://www.allvoices.com/contributed-news/4817559-perjalanan-yang-belum-selesai-9 Oleh: Muhammad Jusuf* Harian Media Indonesia merupakan Koran atau media Harian pertama dan sampai saat ini menjadi terakhir, sebagai tempat saya berkiprah sebagai wartawan. Setelah mengawali karir di media sebagai Korektor di Majalah Tempo dan Majalah ‘’Zaman”, kemudian pindah ke LKBN Antara mulai menjadi seorang wartawan, kemudian setelah enam tahun di LKBN Antara (1984-1990), kemudian pindah ke Majalah Mingguan Ekonomi PROSPEK milik Soetrisno Bachir, dan baru pindah ke Harian Media Indonesia, ketika kantor awal mereka pada akhir tahun 1990 masih di Gondangdia Lama, Jakarta Pusat. Beberapa tahun kemudian, markas Media Indonesia pindah di Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, yang beberapa tahun kemudian tempat ini juga menjadi markas Metro TV sekaligus lokasi ‘’mesin percetakan’’ Harian Media Indonesia. Di harian Media Indonesia, pimpinan Redaksi tertinggi awalnya disebut Redaktur Eksekufit. Hal ini disebabkan Drs Youslisyah sebagai Pemimpin Redaksi hanya jabatan ‘’simbol’’ atau non-aktif. Belakangan, baru Pemimpin Redaksi dipimpin oleh orang yang sebelumnya pada posisi Redaktur Eksekutif. Salah satu kebanggaan menjadi wartawan di Media Indonesia adalah, seperti halnya ketika mereka menerbitkan ‘’Harian Prioritas’’ mereka dikenal ‘’berani’’ dalam berbagai pemberitaannya. Hal ini berbeda dengan media sejenis pada masa ini, terutama dimasa rezim ‘’Suharto’’ berkuasa. Walaupun Surya Paloh dekat dengan Presiden Suharto, terutama dengan anak-anak mendiang Presiden kedua Indonesia itu, seperti dengan Bambang Trihatmodjo. Apalagi, isteri Surya Paloh masih kerabat Rosanno Barach, salah satu pemegang saham dan pengendali Bimantara Group, sehingga tidak heran bila dulu ada kesan, atau memang betul bahwa ‘’Harian Media Indonesia’’ sebagian saham milik Bambang Trihatmodjo. Idialisme Surya Paloh di dalam menjalankan roda ‘’Harian Media Indonesia’’ memang patut diangkat ‘’jempol’’. Apalagi, pada awal, ketika ‘’Media Indonesia’’ mulai ‘’diambil alih’’ manajemen dan saham kepemilikannya dari Drs Youslisyah ke Surya Paloh, Media Indonesia tidak mudah menarik para pembaca baru, maupun menarik banyak iklan, sehingga ada kabar media ini sempat ‘’kehabisan modal’’. Tidak heran bila ada kabar harian ini pernah ‘’disuntik’’ Bimantara group, bahkan disuntik oleh
  2. 2. pengusaha kaya Sudono Salim. Ini bisa dilihat ketika ‘’Sudono Salim’’ pernah mengirim tim ‘’manajemen’’ mereka untuk membantu ‘’manajemen Harian Indonesia’’. Kabar mengenai apakah Harian Media Indonesia pernah disuntuk modalnya oleh Bimantara atau pribadi Bambang Trihatmodjo atau pernah disuntik oleh kelompok Sudono Salim memang belum jelas benar. Apalagi, adanya pengalihan atau siapa sebenarnya pemilik Media Indonesia group ini tidak pernah secara diumumkan kepada umum, berupa brosur, seperti layaknya kalau perusahaan mau atau akan ‘’go public’’. Itulah sebabnya, dulu ada sekelompok para Redaktur dan Reporter ingin ‘’mendongkel’’ Surya Paloh agar ‘’keluar’’ dari Media Indonesia, setelah mereka melihat lebih dari 10 orang-orangnya ‘’Sudono Salim’’ ada di dalam manajemen harian media Indonesia, sehingga para Redaktur dan Reporter ini mengira mayoritas saham Harian Media Indonesia sudah milik Sudono Salim, sehingga mereka yang ‘’tidak suka’’ dengan Surya Paloh mencoba ‘’mengkudeta’’. Bahkan, ada diantara para Redaktur itu secara terbuka ‘’melawan’’ langsung atas segala perintah Surya Paloh. Pernah ada rencana Rapat Kerja para Redaksi di Hotel Horizon Jakarta, dan ada Redaktur Eksekutifnya ketika itu ‘’melawan perintah’’, langsung diturunkan jabatannya dari Redaktur Eksekutif menjadi Reporter. ‘’Mulai hari ini kamu jadi Reporter,’’ kata Surya Paloh, ketika itu. Peristiwa ini terjadi seusai lebih dari 20 Redaktur termasuk reporter menandatangani ‘’petisi’’ penolakan terhadap kepemimpinan Surya Paloh. Akhirnya, bukannya Surya Paloh yang ‘’terjungkal’’, malah hampir semua para Redaktur dan Reporter itu yang malah ‘’keluar’’ atau mengundurkan diri. Satu hal yang harus dipuji dari Surya Paloh, dia tidak ‘’menaruh dendam’’ terhadap para Redaktur dan Reporter yang ingin ‘’mengkudeta’’-nya ketika itu. Malah banyak diantara mereka yang setelah keluar, diterima kembali bekerja di Harian Media Indonesia dan Metro TV, dan sebagian dari mereka terus bekerja sampai pensiun. Surya Paloh selain dikenal tegas, juga bekerja ingin cepat. Kadang kita baru satu langkah ke depan, dia sudah tiga langkah sampai duluan. Tidak heran, walau dia tidak ingin ikut campur langsung terhadap isu keredaksian, namun selalu ingin mencari orang-orang terbaik dari luar agar bisa memimpin harian Media Indonesia. Itulah sebabnya ketika saya baru diangkat menjadi ‘’Koodinator Reportase’’ Surya Paloh perlu memanggil saya ke salah satu ruangan sambil berujar : ‘’Apa sih kelebihan mu Suf,’’ tegas Surya Paloh kepada Saya, yang baru saja beberapa hari diangkat Redaktur Eksekutif Nasruddin Hars menjadi Koordinator Reportase, dari sebelumnya Redaktur Internasional. Saya, ketika itu, diam saja, karena ini hanya dijawab dengan pelaksanaan dalam bekerja. Keinginan Surya Paloh agar Media Indonesia menjadi Harian atau Koran terbaik memang terus dilakukan dari sejak awal, mulai dari dia mengelola harian Prioritas. Lihat saja orang seperti Panda Nababan, Fakri Ali, Amir Daud, Nasruddin Hars, Bambang Harimurti pernah ‘’direkrut’’. Ia pun pada masa saya mencoba merekrut beberapa orang luar seperti Andy Noya dan Usamah Hisyam. Belakangan, setelah saya keluar, dia masih saja mencari dan terus mencari orang-orang terbaik itu, seperti Saur Hutabarat, Djafar Assegaf, Tuti Adhitama, bahkan mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo pun kini juga ditampungnya. Hasilnya, memang sudah terasa, iklan pun sudah banyak masuk. Masa-masa kesulitan keuangan pun sudah dilewati. Walaupun mungkin belum ‘’break even point’’ karena investasi awal yang keluar sudah ‘’terlalu’’ banyak.
  3. 3. Pindah ke SCTV Sekitar bulan April 1986, saya dating ke kantor Redaksi Surya Citra Televisi Indonesia di Blok M Jakarta. Saya menemui Eddy Ellison, mantan Redaktur Eksekutif Harian Media Indonesia yang sudah pindah ke SCTV, karena posisinya di Harian Media Indonesia ‘’sudah diganti’’ Bambang Harimurti. Di SCTV memang Pemimpin Redaksinya adalah Sumita Tobing, rekan Eddy Ellison ketika sama-sama di TVRI. Ketika bertemu Eddy Ellison, saya ungkapkan bahwa saya berminat menjadi Reporter SCTV. Setelah ada lampu merah dari Bapak Eddy Ellison dan Sumita Tobing, saya pun besoknya melayangkan surat pengunduran diri ke HRD Media Indonesia. Namun, setelah saya seminggu masuk ke ‘’SCTV’’, ternyata ada kabar buruk bagi saya dan keluarga. Saya, yang sudah telanjur ‘’keluar’’ dari Media Indonesia dinyatakan tidak lulus tes di SCTV, padahal saya kira, dengan komitmen awal dari Bapak Eddy Ellison, masalah lain, seperti tes kesehatan tidak diperlukan lagi. Apalagi, ketika itu saya merasa ‘’sehat’’, karena tes kesehatan, baik ketika masuk Majalah Tempo dan LKBN Antara saya secara keseluruhan dinyatakan sehat. Rupanya buku laporan dari RS Pertamina yang saya berikan ke poliklinik RCTI di Kebon Jeruk, karena SCTV menggunakan jasa poliklinik RCTI untuk mengetes calon karyawannya ada tercantum kalau saya sudah terkena ‘’diabetes’’. Buku laporan ini saya peroleh, ketika para wartawan yang bertugas ‘’ngepos’’ di Pertamina mendapat ‘’bonus’’ berupa ‘’general chek up’’ gratis di Rumah Sakit Pertamina, mulai dari kesehatan mata, paru-paru, jantung, sampai pemeriksaan darah dan urin untuk mengetahui ada tidaknya penyakit di dalam tubuh. Ternyata, dari general chek up itu memang dokter yang menilai secara keseluruhan saya dinyatakan sehat. Namun, saya tidak memperhatikan catatan kecil, bahwa saya perlu dan direkomendasikan agar perlu memperoleh pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis penyakit dalam, karena kadar gula darah saya di atas normal, sekitar 300’an. Padahal normalnya sekitar 120. ‘’Bagai disambar petir’’ disiang hari, saya langsung mendapat kabar dari Personalia SCTV, langsung di depan mata Ibu Sumita Tobing dan Eddy Ellison, kalau saya tidak diterima di SCTV. Jadi, ini boleh jadi ‘’kecelakaan’’. Sudah bikin surat pengunduran diri dari Media Indonesia, padahal saya belum tentu pasti diterima di SCTV. Itulah sebabnya, setelah ini saya mencoba tes di berbagai perusahaan lain. Hasilnya, ketika saya sudah diterima di perusahaan minyak Total FinaElf untuk jadi Humas untuk ditempatkan di Balikpapan juga gagal. Padahal di Total ini saya sudah lulus tes wawancara dan tes lain, bahkan sudah tanda tangan kontrak kerja penerimaan. Namun, dengan catatan, saya baru dan boleh bekerja setelah dinyatakan ‘’fit’’ di poliklinik milik Pertamina di Jalan Perwira. Akhirnya, setelah dites di rumah sakit Pertamina ini, saya dinyatakan ‘’tidak fit’’, artinya ‘’penyakit diabetes’’ saya menyebabkan saya dinyatakan tidak fit. Padahal, tes di Poliklinik di Pertamina ini tesnya seperti masuk menjadi tentara, kita disuruh ‘’telanjang bulat’’, bahkan dokter perempuan di Poliklinik milik Pertamina itu ‘’memelototi’’ ‘’burung kemaluan saya’’ dari dekat. Malu, juga rasanya. Tapi, demi diterima di Total, aku mau saja ‘’disuruh’’ Ibu Dokter itu, walau akhirnya aku dinyatakan ‘’tidak fit’’. Setelah beberapa bulan ‘’nganggur’’, ada kabar pemilik Majalah Tempo seperti Goenawan Muhamad berencana untuk ‘’membeli’’ Majalah Detektif dan Romantika, yang ketika itu adalah sebuah Majalah
  4. 4. yang berisi berita-berita criminal dan masalah hukum. Pengambil alihan ini, konon untuk ‘’menampung’’ para wartawan ‘’Tempo’’ yang mendapat ‘’black list’’ dari pemerintah sehingga tidak bisa lagi ‘’bekerja’’. Akhirnya, atas inisiatif Bapak Zulkarnaen, Yusril Djalinus dan beberapa senior Majalah Tempo, Majalah D&R akhirnya diambil alih, dengan Bambang Budjono menjadi Pemimpin Redaksinya, dan hampir sebagian besar Redaktur lainnya juga eks wartawan Tempo, seperti Happy Sulistiadi, Rini PWI, Rustam F Mandayun, Diah Purnomowati, Yusril Djalinus, Putu Setia, dan bidang Design Grafis dan jajaran manajemen lainnya. Berkat kebaikan hati bekas Manager HRD Tempo, yang sebelumnya jadi HRD Manager PT Citra Media Nusa Pernama ‘’Harian Media Indonesia” Ibu Nita, dan Bambang Bujono, walaupun setelah dites kesehatan di Rumah Sakit Carolus, saya tidak bisa menghindari lagi kalau ada penyakit ‘’diabetes’’, maka saya mulai Mei 1996 bekerja di Majalah D&R, ketika itu masih di Salemba, Jakarta Pusat. Namung, malang, baru dua bulan bermarkas di Salemba, gedung ini turut terbakar, banyak barang saya, dan juga teman, bahkan sepeda motor Fotografer Rully Kusuma ikut terbakar , akibat kerusuhan yang diawali demo di depan kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Deponegoro yang merambat ke segala arah di Ibukota, termasuk Kantor ‘’Baru’’ D&R. Padahal, kata Direktur D&R, investasi untuk Majalah D&R, termasuk perangkat computer baru sudah miliaran. Padahal belum sempat diasuransi. Kami pun kemudian pindah ke Jalan Cikini II, sebelum pindah lagi ke ‘’Gedung Baru Tempo” di jalan Proklamasi. Setelah dibeli Jakarta Post, kantor kami pindah lagi ke Jalan Iskandarsyah Raya, Blok M, Jakarta Selatan, sampai tutup. Sejak awal terbit, Majalah D&R manajemen baru tidak mencantumkan nama-nama wartawan eks Tempo di dalam mashed, karena masih di ‘’black list’’. Yang ada adalah orang-orang, atau karyawan dan pimpinan Jawa Pos Group. Tidak heran di Masheed nama Pemimpin Redaksinya adalah Margiono, pimpinan di Jawa Pos, sebagai symbol di ‘’Masheed’’ di Majalah D&R. Memang, yang kerap memberikan ‘’wejangan’’ di “D&R’’ adalah ‘’Dahlan Iskan’’ bukan ‘’Gonawan Muhamad’’. Tidak heran, Margiono, yang kini menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) inilah yang ‘’dipanggil’’ kepolisian menjadi ‘’terdakwa’’ ketika ‘’Majalah D&R” diadukan Menteri Penerangan ketika itu Hartono, karena memuat ‘’cover’’ Kepala Suharto, sedangkan badannya bergambar ‘’raja’’ persis Raja di kartu ‘’Remi’’. Menurut Jenderal (Punr) Hartono, ketika itu Menteri Penerangan, Majalah D&R telah ‘’melecehkan” dan ‘’Menghina” kepala Negara. Padahal, Margiono yang di Masheed tercantum sehari- hari sebagai Pemimpin Redaksi, namun “jarang datang’’ karena sebenarnya ‘’non-aktif’’. Sebenarnya, Bambang Bujono lah Pemimpin Redaksi yang nyata. Selain Margiono, juga para Redaktur lain yang ada di dalam Masheed juga dipanggil, termasuk saya. Kita sempat belasan jam di ‘’interogasi’’ di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Seandainya saja ‘’Pak Harto’’ masih terus berkuasa, mungkin saja Bapak Margiono, saya dan teman-teman lain akan merasakan ‘’bui’’, kalau terbukti menjadi ‘’terpidana’’.
  5. 5. Alhamdullia, Pak Harto keburu ‘’lengser’’. Proses cover Majalah D&R ini pun tidak dilanjutkan lagi. Alias ‘’di SP3-kan”. Walau surat ‘’SP3-nya’’ belum pernah kami lihat. Setelah satu tahun di kelola sendiri, dan Majalah Tempo terbit lagi, sebagian besar ex wartawan Tempo kembali mengelola Majalah Tempo ‘’baru’’, hanya beberapa orang saja yang tersisa, dan Bambang Bujono tetap menjadi Pemimpin Redaksi D&R, maka ada pemikiran untuk ‘’menjual’’ majalah ini ke Jakarta Post. Namun, setelah berjalan dua tahun, oplah D&R terus merosot, mungkin mulai ‘’tergerus’’ oplah Majalah Tempo, yang ‘’mirip’’ sama dengan isu dan isi D&R, akhirnya setelah tiga tahun berjalan, Majalah D&R walaupun secara resmi belum ditutup, namun karyawannya mulai Januari tahun 2000 mulai ‘’mendapat pesangon’’ dan dirumahkan. • Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) STIE Hidayatullah

×