Perjalanan Yang Belum Selesai (8)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Perjalanan Yang Belum Selesai (8)

on

  • 2,425 views

Perjalanan yang belum selesai (8)....

Perjalanan yang belum selesai (8).
Sambil tugas ‘’menyelam minum air’’ dua kali ‘’nengok’’ adik di San Diego. Godaan dua hostes di Madrid, Minum dua gelas kecil coca-cola bayar US$ 5.000. Kalau ‘’pengen’’ kaya, selain “injak’’ para koruptor, juga terima ‘’amplop’’. Ada juga sogokan ke wartawan berupa ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’.
Oleh: Muhammad Jusuf *
Saya beruntung, baru beberapa bulan di Majalah PROSPEK sudah mendapat tugas meliput perjalanan perdana perusahaan penerbangan milik Huspuss Group, Sempati Air penerbangan perdana Jakarta – Singapura. Undangan ini sebenarnya ditujukan kepada para pemimpin Redaksi Media massa, itulah sebabnya, di dalam kunjungan itu Djafar Assegaf, ketika itu Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi turut serta.
Saya bilang beruntung, karena, inilah satu-satunya ada penugasan seorang wartawan ke luar negeri di majalah baru milik Soetrisno Bachir, mengingat saya setelah itu, tidak ada lagi, karena Majalah ini keburu tutup. Salah satu kabar, mengapa Majalah ini tutup, adalah Bapak Soetrisno Bachir di dalam menanamkan modalnya di industry media ini adalah atas investasi dan dari ‘’kantong pribadi’’ dan tidak ada hubungannya dengan ‘’Ika Muda Group’’ dimana dia dan saudara-saudaranya duduk sebagai anggota Dewan Komisaris dan Direksi. Padahal investasi di Media adalah investasi ‘’jangka panjang’’ , belum tentu sudah dapat iklan dalam waktu singkat.
Dengan dana yang terbatas Soetrisno Bachir mencoba untuk ekspansi di Media, setelah mendirikan Majalah PROSPEK. Yang sebagian besar awak Redaksi dan Non-Redaksi ‘’dibajak’’ dari Majalah Tempo dan eks Majalah Editor yang juga asalnya juga mantan awak Majalah Tempo itu. Soetrisno Bachir yang diwaliki Muchlis Gumilang, sebagai Direktur Utama pengelola Majalah ‘’membajak’’ mereka dengan ‘’gaji besar’’ dan para redakturnya pun memperoleh ‘’mobil dinas sedan’’. Jadi, tentu saja ini adalah salah satu daya tarik mengapa saya, dan Saudara Dadut Priambodo ‘’hengkang’’ dari LKBN Antara ke Majalah Prospek. Padahal, konon, katanya Saudara Dadut Priambodo ini sudah dipersiapkan Saudara Parni Hadi, Kepala Biro Koordinator Reporter LKBN Antara ketika itu untuk menjadi Kepala Biro LKBN Antara, kalau ngak di Melbourne, Australia atau di New York, Amerika Serikat.
Tapi, itu memang sudah suratan takdir dan jalan rezekinya Dadut. Berkat ‘’pesangon’’ dari PROSPEK, Dadut bisa sekolah S2 jurusan Business Administration, sehingga memperoleh gelar MBA, selain S1 bidang hukum yang dia peroleh sebelumnya dari Universitas Indonesia. Setelah satu tahun di PROSPEK, Dadut Priambodo memang malang melintang bekerja di Kantor Pengacara terkenal seperti Kantor Pengacara Gani Djemat di Jalan Diponegoro, sebelum akhirnya dia memutuskan membuka praktek ‘’kepengacaraan sendiri’’, sampai kini.
Pindah ke Media Indonesia
Kebetulan, ketika Majalah PROSPEK tengah genting-gentingnya, bahkan ada kabar mau tutup segera, karena dana yang ada sudah ‘’habis’’, maka saya melihat iklan di Harian Media Indonesia membuka lowongan untuk posisi ‘’Redaktur Internasional’’ untuk menggantikan Praginanto, mantan wartawan senior Tempo yang pernah mewawancarai secara eksklusif Pemimpin Palestina Yaser Arafat sekitar tahun 1980’an, ketika di Indonesia belum banyak media cetak dan elektronik. Praginanto ini juga sebenarnya adalah orang yang mempersiapkan akan kelahiran Majalah Prospek. Namun, belum sempat terbit, dia digantikan oleh Bachtiar Abdullah, mantan Reporter Tempo.
Katanya sih, konon, dia ‘’dikudeta’’ oleh Bachtiar Abdullah cs. Padahal Praginanto ini adalah bekas sahabat karib salah satu ‘’pendukung Bachtiar Abdullah, Bachrul Alam, mantan wartawan RCTI yang kini jadi salah satu wartawan senior di LKBN Antara, ketika sama-sama kuliah di Universitas Indonesia. Praginanto kemudian, setelah sempat ‘’nemplok’’ di Media Indonesia, lalu ke med

Statistics

Views

Total Views
2,425
Views on SlideShare
2,425
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
27
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Perjalanan Yang Belum Selesai (8) Document Transcript

  • 1. Perjalanan yang belum selesai (8). Sambil tugas ‘’menyelam minum air’’ dua kali ‘’nengok’’ adik di San Diego. Godaan dua hostes di Madrid, Minum dua gelas kecil coca-cola bayar US$ 5.000. Kalau ‘’pengen’’ kaya, selain “injak’’ para koruptor, juga terima ‘’amplop’’. Ada juga sogokan ke wartawan berupa ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’. Oleh: Muhammad Jusuf * Saya beruntung, baru beberapa bulan di Majalah PROSPEK sudah mendapat tugas meliput perjalanan perdana perusahaan penerbangan milik Huspuss Group, Sempati Air penerbangan perdana Jakarta – Singapura. Undangan ini sebenarnya ditujukan kepada para pemimpin Redaksi Media massa, itulah sebabnya, di dalam kunjungan itu Djafar Assegaf, ketika itu Pemimpin Redaksi Majalah Warta Ekonomi turut serta. Saya bilang beruntung, karena, inilah satu-satunya ada penugasan seorang wartawan ke luar negeri di majalah baru milik Soetrisno Bachir, mengingat saya setelah itu, tidak ada lagi, karena Majalah ini keburu tutup. Salah satu kabar, mengapa Majalah ini tutup, adalah Bapak Soetrisno Bachir di dalam menanamkan modalnya di industry media ini adalah atas investasi dan dari ‘’kantong pribadi’’ dan tidak ada hubungannya dengan ‘’Ika Muda Group’’ dimana dia dan saudara-saudaranya duduk sebagai anggota Dewan Komisaris dan Direksi. Padahal investasi di Media adalah investasi ‘’jangka panjang’’ , belum tentu sudah dapat iklan dalam waktu singkat. Dengan dana yang terbatas Soetrisno Bachir mencoba untuk ekspansi di Media, setelah mendirikan Majalah PROSPEK. Yang sebagian besar awak Redaksi dan Non-Redaksi ‘’dibajak’’ dari Majalah Tempo dan eks Majalah Editor yang juga asalnya juga mantan awak Majalah Tempo itu. Soetrisno Bachir yang diwaliki Muchlis Gumilang, sebagai Direktur Utama pengelola Majalah ‘’membajak’’ mereka dengan ‘’gaji besar’’ dan para redakturnya pun memperoleh ‘’mobil dinas sedan’’. Jadi, tentu saja ini adalah salah satu daya tarik mengapa saya, dan Saudara Dadut Priambodo ‘’hengkang’’ dari LKBN Antara ke Majalah Prospek. Padahal, konon, katanya Saudara Dadut Priambodo ini sudah dipersiapkan Saudara Parni Hadi, Kepala Biro Koordinator Reporter LKBN Antara ketika itu untuk menjadi Kepala Biro LKBN Antara, kalau ngak di Melbourne, Australia atau di New York, Amerika Serikat. Tapi, itu memang sudah suratan takdir dan jalan rezekinya Dadut. Berkat ‘’pesangon’’ dari PROSPEK, Dadut bisa sekolah S2 jurusan Business Administration, sehingga memperoleh gelar MBA, selain S1 bidang hukum yang dia peroleh sebelumnya dari Universitas Indonesia. Setelah satu tahun di PROSPEK, Dadut Priambodo memang malang melintang bekerja di Kantor Pengacara terkenal seperti Kantor Pengacara Gani Djemat di Jalan Diponegoro, sebelum akhirnya dia memutuskan membuka praktek ‘’kepengacaraan sendiri’’, sampai kini. Pindah ke Media Indonesia
  • 2. Kebetulan, ketika Majalah PROSPEK tengah genting-gentingnya, bahkan ada kabar mau tutup segera, karena dana yang ada sudah ‘’habis’’, maka saya melihat iklan di Harian Media Indonesia membuka lowongan untuk posisi ‘’Redaktur Internasional’’ untuk menggantikan Praginanto, mantan wartawan senior Tempo yang pernah mewawancarai secara eksklusif Pemimpin Palestina Yaser Arafat sekitar tahun 1980’an, ketika di Indonesia belum banyak media cetak dan elektronik. Praginanto ini juga sebenarnya adalah orang yang mempersiapkan akan kelahiran Majalah Prospek. Namun, belum sempat terbit, dia digantikan oleh Bachtiar Abdullah, mantan Reporter Tempo. Katanya sih, konon, dia ‘’dikudeta’’ oleh Bachtiar Abdullah cs. Padahal Praginanto ini adalah bekas sahabat karib salah satu ‘’pendukung Bachtiar Abdullah, Bachrul Alam, mantan wartawan RCTI yang kini jadi salah satu wartawan senior di LKBN Antara, ketika sama-sama kuliah di Universitas Indonesia. Praginanto kemudian, setelah sempat ‘’nemplok’’ di Media Indonesia, lalu ke media Jepang, Harian Nikkei edisi bahasa Inggris. Bachtiar Abdullah pernah bilang, Praginanto terlalu lama mempersiapkan majalah PROSPEK, lebih enam bulan dan belum terbit-terbit. ‘’Saya ngak sabar dengan kondisi ini, sehingga saya dan teman-teman menghadap Soetrisno Bachir,’’ kata Bachtiar Abdullah , mantan Reporter Majalah Tempo yang pernah sama saya mangkal di Departemen Pertambangan dan Energi (ESDM) suatu ketika. Ketika saya mulai bertugas di Media Indonesia, asisten saya sebagai Asisten Redaktur International adalah Herdi SRS, yang kemudian Herdy digantikan oleh Taufiqulhadi. Saya sendiri diberikan ‘’kursi’’, bekas yang digunakan Praginanto, bersebelahan dengan Saudari Debra Yatim, yang ketika itu menjadi Redaktur Aksen, yang mengisi halaman seputar kisah ‘’perempuan’’. Redaktur Eksekutifnya ketika itu Herul Fathony. Saya sendiri sebelum masuk Media Indonesia diseleksi dan diwawancara Sekretaris Redaksi ketika itu Sides Sudyarto, yang sebelumnya wartawan KOMPAS bersama Herul Fathony. Setelah dua tahun, saya dipindahkan menjadi Koordinator Reportase, di bawah Andy Noya, yang ketika itu menjabat sebagai Asisten Redaktur Executif, dibawah Herul, sebelum saya kembali ditugaskan menjadi Asisten Redaktur Ekonomi, bersama Marcianus Donny yang jadi Redakturnya. Pada posisi Asisten Redaktur Ekonomi ini, Redaktur Exekutifnya dipegang Saudara Bambang Harymurti, yang setelah Tempo dibreidel, dia bersama beberapa mantan awak Tempo, sempat ‘’ditampung’’ Surya Paloh di Media Indonesia, seperti Happy Sulistiady, Moebanu Mura, dan termasuk Fotografer Rini PWI. Namun, ketika Tempo terbit lagi, sebagian dari mantan awak Tempo ini kembali menerbitkan Majalah berita terkemuka di Indonesia, dengan Bambang Harymurti menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo perdana, ketika terbit kembali. Pernah suatu ketika sebagian besar para redaktur harian Media Indonesia menandatangani petisi memprotes kebijakan Surya Paloh. Hanya satu orang yang ketika itu tidak melaksanakan ‘’tanda tangan’’ yaitu saudara Eddy Ellison. Hasilnya, karena hasil petisi itu tidak digubris, maka sebagian besar para Redaktur ‘’mundur’’ seperti Debra Yatim, Herul Fathony, Bramono, dan para redaktur dan beberapa reporter yang jumlahnya hampir dua puluh orang. Banyak dari mereka pindah ke media lain, walau ada beberapa diantara mereka beberapa tahun kemudian kembali, seperti Herul Fathony. Sedangkan Debra Yatim sendiri sampai kini terus giat menjadi aktivis di LSM yang ‘’memperjuangkan’’ kaum Perempuan. Eddy Ellison sendiri yang tidak menandatangani petisi, diangkat Surya Paloh menjadi Redaktur Eksekutif.
  • 3. Redaktur Eksekutif di Media Indonesia sih de facto seperti layaknya seorang Peimpin Redaksi, hal ini mengingat Pemimpin Redaksi yang ada, Drs Youslisah adalah Pemimpin Redaksi non-aktif. Memang, harian Media Indonesia ini sebelum ‘’dibeli’’ Surya Paloh adalah Media yang didirikan oleh almarhum Drs.Youslisah. Kebetulah Youslisah dan Surya Paloh sama-sama ‘’orang Aceh’’. Beruntung nengok Adik. Selama bekerja menjadi Wartawan di Media Indonesia saya cukup beruntung. Karena selama bekerja di sinilah saya bisa dua kali ‘’nengok’’ adik saya Sri Mulyani, yang kebetulan mendapat suami asal Amerika Serikat dan tinggal di San Diego, California, Amerika Serikat. Pertama , ketika Pertamina mengundang saya , bersama sekitar 60 puluh wartawan yang ‘’ngepos’’ di Pertamina ditugaskan meliput pengapalan gas alam cair dari Indonesia ke Osaka, Jepang. Kita kelompok wartawan meliput di bidang Pertambangan dan Energi, ketika itu Menterinya adalah Prof.Dr.Ginandjar Kartasasmita, dan Direktur Utamanya Faisal Abda’oe dibagi dalam tiga kelompok, jadi ada sekitar 20 orang wartaran media cetak dan elektronik dalam satu kelompok. Satu kelompok ditugaskan ke Korea Selatan. Satu kelompok lainnya ke Taiwan, dan satu kelompok lainnya ke Jepang. Saya sengaja milih ke Osaka, karena di dalam rute perjalanan setelah dari Osaka berangkat ke Tokyo. Nah, kebetulan, saya kata Agen Biro Perjalanan ‘’langganan’’ Pertamina hanya nambah US$ 100 saja kalau menambah rute antara Jakarta – Osaka – Tokyo – Los Angeles – Taipei – Kuala Lumpur – Jakarta. Itu terjadi pada tahun 1992. Gas alam cair atau disebut LNG (Liquefied Natural Gas) berasal dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur dan Kilang Lhok Seumawe, Banda Aceh. Adik saya, tentu saja dia bersama suaminya menjemput saya di Bandara Los Angleles, karena perjalanan darat San Diego – Los Angeles paling lama dua jam. Kesempatan lain menengok adik saya di San Diego, pada tahun 1995, ketika saya meliput seminar energy dan kelistrikan di Madrid Spanyol. Ini sih berkat ‘’kedekatan’’ wartawan RRI Achmad Parembahan. Karena dia dekat dengan Kepala Biro Humas PLN Pak Tombek, ‘’sama-sama asal Manado’’, maka aku diusulkan Achmad Parembahan ke Tombek agar aku diundang juga pada seminar energy dunia di Madrid itu. Ketika itu, saya bilang ke Agen Biro Perjalanan Perusahaan Listrik Negara, agar rute perjalanan saya berubah rute saja, yang semula Jakarta – Amsterdam – Madrid – Amsterdam – Singapura – Jakarta, dirubah dari Jakarta – Amsterdam – Madrid – New York – Los Angeles – Jakarta. Nah, dari Los Angeles inilah saya dijemput lagi oleh adik saya. Maklum, kalau ngak ‘’nyambi’’ meliput ini mana ada ‘’uang’’, apalagi gaji para wartawan kebanyakan kecil dan hanya cukup untuk biaya hidup bersama keluarga sebulan. Ngak ada sisa untuk ‘’plesiran’’ atau ‘’ditabung’’. Kesempatan untuk nengok adik saya, memang hanya Ayah dan Ibu saya, itupun kerap karena Adik saya mengirim tiket dan biaya lain. Tentu saja, sebelumnya saya minta visa di Kedubes AS dengan alasan mau meliput pidato Presiden Soeharto di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Memang, ketika itu, saya ketemu Reporter Media Indonesia yang sehari-hari mangkal di ‘’Istana’’, saudari Retno Indarti Darmoyo, yang kini bersuamikan wartawan senior dan mantan Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia, Yulius Kerong. Ketika itu Retno ikut rombongan ‘’kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto’’. Bahkan, selama saya mampir di New York,
  • 4. saya sempat ‘’numpang’’ nginep di rumah Pak Bakran Asnawi, ketika itu Kepala Biro LKBN Antara di New York. Satu hari setelah ‘’nginep’’ di rumah Bapak Bakran, besoknya saya bergabung ‘’nginep’’ di hotel ‘’para wartawan istana’’ . Diantaranya Pemimpin Redaksi Harian Terbit yang kini juga Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia saudara Tarman Azzam. Tarman Azzam sendiri saya sudah kenal ketika dia masih menjadi wartawan Bisnis Indonesia. Di hotel ini saya numpang di ‘’kamar’’ jatahnya ‘’Fardah’’ wartawati senior LKBN Antara. Fardah tidur di kamar, saya di kursi ruang tamu. ‘’Maklum, saya dan dia bukan muhrim. Sehingga saya kalau malam ‘’menahan kencing’’ sampai pagi, karena toiletnya di dalam kamar. Maklum, namanya juga numpang, tau diri, ngak mau ganggu yang lagi tidur di dalam. Lagi pula untuk ‘’mencegah’’ yang ngak-ngak. Katanya, kalau ada satu pria dan satu wanita bukan muhrim ‘’setan’’ bisa masuk ke pikiran dan bisa datang ‘’nafsu’’ syaitan ‘’ selingkuh’’. Dikerjain Hostes Rombongan konferensi energy ke Madrid antara lain mantan Direktur Utama PLN ketika itu Ermansyah Yamin, ada juga pengusaha dari Medco Group Hadi Basalamah, dan beberapa orang staf ahli di Departemen Pertambangan dan Energi. Ada kejadian menarik ketika saya dan Achmad Parembahan seusai meliput konferensi, hotel tempat kami menginap di lantai dasar ada night clubnya. Karena penasaran, saudara Achmad Parembahan, yang ketika itu sudah ‘’Haji’’ mengajak saya singgah, yang walaupun katanya hanya minum coca cola saja. Saya ketika itu peringatkan Saudara Achmad Parembahan. ‘’Kita jangan masuk, nanti kita dikerjain. Saya sudah mengetahui hal serupa ketika pernah jalan-jalan ke San Francisco dan di Wina, Austria dan beberapa Negara Eropa lainnya,’’ kataku kepada Achmad. ‘’Ah, ngak apa-apa, kita Cuma minum coca cola saja kok, paling bayarnya ngak seberapa,’’ kata Achmad, sambil membujuk saya, agar ikut. Lalu, kami berdua masuk, dan memilih meja. Tiba-tiba saja, sudah ada dua orang perempuan. Satu perempuan etnis keturunan asal Arab, Maroko menemani Achmad Parembahan, dan satu yang lain lagi asli Madrid, Spanyol, menemani duduk di sebelah saya. Setelah kami minum soft drink, coca-cola itu, segera saja saya bilang ke Achmad untuk pamit ke kamar, karena saya sudah ngantuk. Namun, alangkah kagetnya kita ketika disodorin ‘’billing’’ sekitar US$ 5000 hanya minum dua gelas coca-cola. ‘’Loh, saya kan hanya minum coca cola dua gelas kecil, kok semahal itu,’’ kataku ke kasir. ‘’Tidak, bapa, Bapa sudah masuk sini, dan pesan dua perempuan, ini artinya bapa sudah ‘’all in’’ (kedua perempuan itu bisa dimanfaatkan) , artinya ‘’bisa’’ pakai perempuan ini di kamar. Kalau, kalian berdua tidak ‘’memakainya’’ itu urusan lain. Tetap Bapa harus bayar,’’ kata Kasir itu, sambil didampingi dua orang bodyguard berbadan atletis dan besar seperti pegulat sumo terus ‘’memelototi’’ kea rah saya dan Achmad, wartawan Senior Radio Republik Indonesia itu. Akhirnya, daripada ‘’pulang’’ ngak bawa nyawa, aku dan Achmad akhirnya patungan, masing-masing US$ 2.500. Padahal, uang ini adalah tabunganku untuk nengok adik dan untuk oleh-oleh yang akan aku beli dan aku bawa ke San Diego. Usai bayar U$ 5000 patungan berdua Achmad, lalu aku segera kembali ke kamar hotel, sambil aku ‘’ngumpat’’ Achmad terus menerus, karena sudah aku ingatkan dia, tapi dia
  • 5. tetap bandel. Inilah musibah yang aku ngak bisa lupakan sampai sekarang. Mungkin, ini adalah ‘’cobaan’’ dari Allah SWT. Aku diuji, apakah bisa luluh imannya terhadap godaan dua perempuan tadi , yang ketika duduk berempat, selalu ‘’menggoda dengan bujuk rayuan’’. Aku lihat sih, Achmad Parembahan, yang walau sudah haji ‘’hampir saja’’ kalah sama ‘’godaan Syaitan. ‘’Biarlah hilang uang, asal jangan hilang ke perjakaan,’’ kilah ku dalam hati. Allah SWT rupanya masih melindungku dari ‘’godaan dunia’’. Al-Qur’an bilang, hidup ini adalah cobaan dan sandiwara. Kalau kita mengikuti saja hawa nafsu kita atas sandiwara di dunia. ‘’Kita berarti gagal’’. ‘’Alhamdulillah, selama 25 tahun menjadi wartawan. Apa sih yang ngak bisa kalau kita ‘’sebagai wartawan’’ pengen cepat kaya. Selain kita bisa ‘’injak’’ kaki para koruptor, sogokan selain berupa ‘’amplop’’ biasanya juga ‘’disodori’’ ‘’perempuan’’ atau ‘’cewe’’. Auzubilahiminzalik’’.Alhamdullilah, Allah SWT masih tetap ‘’melindungiku’’. • Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Journalistik) STIE Hidayatulah