Perjalanan Yang Belum Selesai (10)

2,991 views

Published on

Perjalanan yang belum selesai (10).

http://www.allvoices.com/contributed-news/4852712-perjalanan-yang-belum-selesai-10

Bersama Yenny Wahid diterima menjadi Koresponden Radio Singapore
Internasional di Jakarta. Merangkap pekerjaan Reporter Radio Singapore
Internasional dan Hager Internasional. Melepas keduanya, karena
serakah, ingin peroleh income Rp 200 juta per bulan dari PT Asuransi
Jiwa Tugu Mandiri. Mencoba ‘’mendamaikan konflik Islam vs Kristen di
Ambon’’. Baru sebulan bertugas di Ambon, konflik pecah, mengungsi ke
Jakarta, satu bulan kemudian kembali ke Ambon membangun tiga radio
komunitas di dua perbatasan ‘’Kristen-Islam’’. Malam itu, Ambon,
bagai kota lautan api.

Oleh; Muhammad Jusuf *


Belum sempat ‘’nganggur” aku dipanggil Ibu Kun, mantan Redaktur Senior
tabloid “Zaman”, dimana tahun 1983’an aku pernah menjadi korektornya.
Rupanya, Ibu Kun ketika itu menjadi Production Manager proyek
Manajemen ‘’Coastal Resources Management” University of Rhode Island’’
dari Amerika Serikat yang memperoleh dana USAid melaksanakan proyeknya
di berbagai kota di Indonesia.
Ketika aku tiba di Ratu Plaza lantai 18, Country Manager Mr Dr. Ian
asal Australia mewancarai aku. Dia ditemani Ibu Kun. Sesampainya aku
di rumah, pukul 03.00 sore, Ibu Kun menelpon ku, kalau aku diterima
menggantikannya menjadi Production Manager, sedangkan Ibu Kun sendiri
dipromosikan menjadi Out Reach Manager.
Ketika itu, Majalah D&R belum resmi tutup, namun tengah
‘’membagi-bagikan pesangon kepada para wartawan. Ketika aku sampai di
kantor D&R di Jalan Iskandarsyah, Bambang Bujono, Pemimpin Redaksi
Majalah D&R ketika itu bilang, ‘’Ibu Kun, beberapa hari lalu telpon,
dia ingin konfirmasi mengenai kamu Suf,’’ kata Bambang, kepadaku. Aku
sendiri hanya ‘’mesem-mesem saja, malu, mengingat, baru tanggal 1
Januari 2000 Majalah D&R resmi tutup. Sedangkan aku sendiri masih satu
minggu lagi berkantor di Majalah itu, dan sudah pula ada yang menerima
aku di tempat baru.
Aku oleh Mr Ian ditempatkan di kampus Dramaga Bogor, kebetulan proyek
yang juga ada perwakilan di Manado, Balikpapan dan Lampung ini
memiliki kantor perwakilan di Dramaga, IPB sebagai ruang produksi,
diantaranya untuk memproduksi dan mendesign buku-buku laporan dan buku
hasil penelitian mengenai manajemen lingkungan di laut pesisir.
Kebetulan konsultan utama proyek ini adalah Dr.Rokhmin Dahuri, ketika
itu dia belum menjadi Menteri Kelautan, Departemen Kelautan sendiri
ketika itu belum dibentuk.
Namun, baru tiga bulan bekerja di Proyek ini, aku menghadapi kesulitan
untuk mengatur waktu kuliah S2-ku di Universitas Indonesia. Apalagi,
aku sudah pada tahap akhir semester. Jadi, saying kalau aku tidak
menuntaskan kuliah ku, sehingga aku membuat surat pengunduran diri
kepada Mr Ian dan Ibu Kun, kalau aku tidak bisa mengatur waktu antara
tugasku sebagai mahasiswa S2 Universitas Indonesia dengan tugasku
sebagai Manager Produksi proyek University of Rhode Island di
Indonesia.
Untuk membiayai sekolah S2 ku, aku mengikuti tes untuk jadi
koresponden Radio Singapore Internasional, yang kebetulan memasang
iklan di Kompas, kalau Radio milik pemerintah Singapura ini memerlukan
Radio Broadcaster untuk ditempatkan di Singapora, dan koresponden
untuk ditempatkan di Jakarta.
Ketika itu, banyak juga peserta yang mengikuti tes, baik untuk
Broadcaster di Singapura maupun koresponden di Jakarta. Aku melihat
ada banyak ‘’bule’’ yang ikut tes ketika itu diselenggarakan di Hotel
Wisata yang bersebelahan dengan Hotel Indonesia. Terlihat juga Yenny
Wahid, putrid mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid juga ikut
tes.
Yang mewawancarai saya ketika itu adalah senior Radio Singapor,
seperti Ibu Zaenab Rahim, dan Bapak Noetil. Hasilnya, untuk
koresponden, ada dua orang yang lulus, aku sendiri dan Yenny Wahid.
Namun, Yenny Wahid kemudian mengundurkan diri, karena Ayahnya terpilih
menjadi Presiden Republik Indonesia. Sedangkan mereka yang diterima
menjadi Broadcaster di S

Published in: Education, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,991
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
40
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perjalanan Yang Belum Selesai (10)

  1. 1. Perjalanan yang belum selesai (10). http://www.allvoices.com/contributed-news/4852712-perjalanan-yang-belum-selesai-10 Bersama Yenny Wahid diterima menjadi Koresponden Radio Singapore Internasional di Jakarta. Merangkap pekerjaan Reporter Radio Singapore Internasional dan Hager Internasional. Melepas keduanya, karena serakah, ingin peroleh income Rp 200 juta per bulan dari PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Mencoba ‘’mendamaikan konflik Islam vs Kristen di Ambon’’. Baru sebulan bertugas di Ambon, konflik pecah, mengungsi ke Jakarta, satu bulan kemudian kembali ke Ambon membangun tiga radio komunitas di dua perbatasan ‘’Kristen-Islam’’. Malam itu, Ambon, bagai kota lautan api. Oleh; Muhammad Jusuf * Belum sempat ‘’nganggur” aku dipanggil Ibu Kun, mantan Redaktur Senior tabloid “Zaman”, dimana tahun 1983’an aku pernah menjadi korektornya. Rupanya, Ibu Kun ketika itu menjadi Production Manager proyek Manajemen ‘’Coastal Resources Management” University of Rhode Island’’ dari Amerika Serikat yang memperoleh dana USAid melaksanakan proyeknya di berbagai kota di Indonesia. Ketika aku tiba di Ratu Plaza lantai 18, Country Manager Mr Dr. Ian asal Australia mewancarai aku. Dia ditemani Ibu Kun. Sesampainya aku di rumah, pukul 03.00 sore, Ibu Kun menelpon ku, kalau aku diterima menggantikannya menjadi Production Manager, sedangkan Ibu Kun sendiri dipromosikan menjadi Out Reach Manager. Ketika itu, Majalah D&R belum resmi tutup, namun tengah ‘’membagi-bagikan pesangon kepada para wartawan. Ketika aku sampai di kantor D&R di Jalan Iskandarsyah, Bambang Bujono, Pemimpin Redaksi Majalah D&R ketika itu bilang, ‘’Ibu Kun, beberapa hari lalu telpon, dia ingin konfirmasi mengenai kamu Suf,’’ kata Bambang, kepadaku. Aku sendiri hanya ‘’mesem-mesem saja, malu, mengingat, baru tanggal 1 Januari 2000 Majalah D&R resmi tutup. Sedangkan aku sendiri masih satu minggu lagi berkantor di Majalah itu, dan sudah pula ada yang menerima aku di tempat baru. Aku oleh Mr Ian ditempatkan di kampus Dramaga Bogor, kebetulan proyek yang juga ada perwakilan di Manado, Balikpapan dan Lampung ini memiliki kantor perwakilan di Dramaga, IPB sebagai ruang produksi, diantaranya untuk memproduksi dan mendesign buku-buku laporan dan buku hasil penelitian mengenai manajemen lingkungan di laut pesisir. Kebetulan konsultan utama proyek ini adalah Dr.Rokhmin Dahuri, ketika itu dia belum menjadi Menteri Kelautan, Departemen Kelautan sendiri ketika itu belum dibentuk.
  2. 2. Namun, baru tiga bulan bekerja di Proyek ini, aku menghadapi kesulitan untuk mengatur waktu kuliah S2-ku di Universitas Indonesia. Apalagi, aku sudah pada tahap akhir semester. Jadi, saying kalau aku tidak menuntaskan kuliah ku, sehingga aku membuat surat pengunduran diri kepada Mr Ian dan Ibu Kun, kalau aku tidak bisa mengatur waktu antara tugasku sebagai mahasiswa S2 Universitas Indonesia dengan tugasku sebagai Manager Produksi proyek University of Rhode Island di Indonesia. Untuk membiayai sekolah S2 ku, aku mengikuti tes untuk jadi koresponden Radio Singapore Internasional, yang kebetulan memasang iklan di Kompas, kalau Radio milik pemerintah Singapura ini memerlukan Radio Broadcaster untuk ditempatkan di Singapora, dan koresponden untuk ditempatkan di Jakarta. Ketika itu, banyak juga peserta yang mengikuti tes, baik untuk Broadcaster di Singapura maupun koresponden di Jakarta. Aku melihat ada banyak ‘’bule’’ yang ikut tes ketika itu diselenggarakan di Hotel Wisata yang bersebelahan dengan Hotel Indonesia. Terlihat juga Yenny Wahid, putrid mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid juga ikut tes. Yang mewawancarai saya ketika itu adalah senior Radio Singapor, seperti Ibu Zaenab Rahim, dan Bapak Noetil. Hasilnya, untuk koresponden, ada dua orang yang lulus, aku sendiri dan Yenny Wahid. Namun, Yenny Wahid kemudian mengundurkan diri, karena Ayahnya terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Sedangkan mereka yang diterima menjadi Broadcaster di Singapura diantaranya saudara Monang, Harry Soehartanto dan Rane Hafied. Selain di Radio Singapore, ketika itu aku juga merangkap menjadi koresponden Hager International dari Jerman. Dari kedua media ini, pendapatanku lumayan. Rata-rata sekitar Rp 10 juta per bulan. Cukup besar. Bahkan, tiga bulan pertama aku bekerja untuk Hager Internasional, penghasilan ku lumayan, bisa jauh lebih besar, sehingga tidak heran bila dalam beberapa bulan kemudian, aku mampu membeli mobil ‘’Kijang bekas” seharga Rp 39 juta, Kijang Rover tahun 1996. Karena kedua media ini membayar ku per satu tulisan kalau di muat, karena Radio Singapura membatalkan mengangkat Koresponden resmi, sehingga aku diperhitungkan sebagai Koresponden Freelance atau Part Time. Tapi, lumayan, Radio Singapure membayarku antara US$ 50 sampai US$ 200 dolar Singapura per satu berita, tergantung panjang pendek dan aktualitas berita. Namun, sifat serakahku sebagai manusia kembali muncul, seperti yang sudah-sudah, aku selalu pindah ke perusahaan lain yang menggajiku naik berlipat. Seperti kepindahanku dari LKBN Antara ke Majalah Prospek,
  3. 3. karena gaji ku naik 10 kali lipat. Nah, kini tawarannya bukan dari perusahaan Media, tetapi dari perusahaan Asuransi, PT Asuransi Tugu Mandiri, yang sebagian sahamnya milik Pertamina dan Bob Hasan. Di perusahaan ini ada lowongan Branch Manager untuk di tempatkan di Balikpapan, kota kelahiranku. Ketika aku lulus tes, aku ditawari gaji pokok Rp 3 juta per bulan. Mobil dinas dan insentif lain, selain proyeksi bonus dan insentif, yang katanya mencapai Rp 200 juta. Pertama, penempatan ke Balikpapan, kota kelahiran ku merupakan daya tarik utama. Kedua, proyeksi memperoleh bonus Rp 200 juta per bulan daya tarik lain. ‘’Bukankah ini peluang bergaji besar, seperti Gaji Direktur Utama Pertamina,’’ dalam hatiku berkata. Sehingga, tanpa pikir panjang lagi, aku menerima saja tawaran menjadi Branch Manager ini. Setelah mengikuti Training selama satu minggu di Puncak, yang diikuti calon Branch Manager PT Asuransi Tugu Mandiri yang akan ditempatkan di seluruh cabang, aku pun mulai pindah ke Balikpapan. Isteri dan kedua anak ku sendiri tidak ikut. Kata Isteriku, mereka takut ikut, karena belum jelas, apakah betul income sebesar itu bisa diperoleh. Tentu saja, dengan berat hati aku lepaskan pekerjaanku yang sudah enak di Radio Singapore Internasional dan Hager International Bulletin. Untuk Hager International aku digantikan teman kuliah sama-sama mengambil Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia , Hananto Satyo. Sampai kini Hananto Satyo tetap menekuni menjadi koresponden Hager Internasional. Benar, saja, setelah tiga bulan, ternyata, aku tidak pernah memperoleh gaji melebihi gaji pokok. Padahal, ketika ke Balikpapan, saya sudah membawa setengah barang-barang rumahku, termasuk kompor gas dan peralatan lain, artinya, aku sudah siap untuk pindah sampai pension di Balikpapan. Namun, ternyata, apa yang dijanjikan PT Asuransi Tugu Mandiri bahwa aku bisa memperoleh ‘’bonus’’ rp 200 juta per bulan, kalau aku mencapai target income seperti yang perusahaan proyeksi dan targetkan. Sedangkan aku selama enam bulan terakhir, tidak pernah mencapai target. Padahal ketika ‘’hijrah’’ pulang kampung, aku membawa serta adik kandung ‘’Rachmat Edy’’ agar dia bisa membantu ku mengembangkan bisnis baru, bidang asuransi ini. Padahal, Rachmat Edy yang harus mengorbankan pekerjaannya sebagai wartawan Merdeka dan Tabloid Paron sertan mantan Korektor Majalah Prospek ini sesampainya di Balikpapan juga tidak bisa memperoleh apa yang bisa dijanjikan perusahaan. Boleh jadi, inilah yang banyak diungkapkan banyak pakar. Kalau kita ingin sukses, kita harus bekerja secara focus di satu bidang. Jangan loncat-loncat ke bidang lain. Banyak orang sukses, karena dia menekuni
  4. 4. satu bidang. Contohnya, BJ.Habibie, sebagian besar hidupnya difokuskan pada pengembangan industry pesawat terbang. Bill Gates pada pengembangan perangkat lunak computer, Herman Kertajaya bidang Marketing, Surya Paloh dan Dahlan Islan di bidang bisnis Media, walaupun Surya Paloh awalnya berbisnis Katering, tetapi belakangan lebih focus ke bisnis Media, walau bisnis awal tetap menjadi penopang utama bisnis Media. Kembali ke Jakarta, aku sempat ngangur. Lebih enam bulan, itulah sebabnya, mobil King Rover ku sempat aku jual, untuk menopang hidup dan membiayai kedua anak perempuanku sekolah. Sempat mencoba bersama teman mantan reporter di D&R Aendra Medita dan Budi Nugroho bergerak di Bidang Public Relations dan konsultan Event Organizing, tetapi dalam beberapa bulan, ngak dapat klien, sehikngga kami sempat bergabung dengan group Cakrisma pimpinan Eggy Masadiah yang pernah memproduksi film ‘’Lari Dari Blora’’ itu. Namun, enam bulan bergabung dengan Bapak Egy Masadiah yang belakangan salah satu calon anggota DPR dari Partai Golkar itu, saya ditawari Yayasan Bina Swadaya menjadi Communications Specialist yang bertugas memberdayakan ekonomi masyarakat kota Ambon, dan melaksanakan proyek komunikasi perdamaian pasca konflik, khususnya terhadap para pemuda Kristen dan Islam di kota Ambon. Ketika itu, salah satu alasan aku memilih dan menerima tawaran Yayasan Bina Swadaya, karena di Cakrisma aku belum digaji, hanya komisi. Padahal, belakangan Budi Nugroho dan Aendra Medita yang tetap bertahan di Cakrisma mendapat gaji pokok. Aku sendiri tidak bisa hidup ‘’tanpa gaji’’, karena biaya sekolah kedua anakku, terutama anak pertamaku yang sudah kuliah cukup besar. Sebenarnya, ketika aku tes di Yayasan Bina Swadaya, salah satu sainganku adalah bekas temanku yang pernah sama-sama menjadi Reporter di Harian Media Indonesia, saudara Gerad Bibamg. Hanya saja, Gerad Bibang ketika itu baru saja selesai bekerja sekitar 10 tahun di Radio Jerman (DW) dan Radio Helversum, Belanda. Aku pernah bertanya kepada Totok, yang menjadi HRD Yayasan Bina Swadaya, kenapa kok aku yang dipilih bertugas ke Ambon, bukan Gerald Bibamg. ‘’Aku melihatnya, Anda, lebih obyektif dan tidak memihak. Padahal, yang kita hadapi adalah konflik berlatar agama, yaitu konflik antara Umat Islam dan Kristen di Ambon,’’ kata Totok kemudian. Konflik Pecah. Sekitar awal Februari 2004, aku mulai ditempatkan di Ambon, bersama team leader IDBM Adiyoga, ditemani konsultan senior dari Yayasan Bina Swadaya Saudara Ruru Basanta. Ruru ini hanya menemani sekitar satu bulan, untuk persiapan jalannya proyek bantuan pemerintah Selandia
  5. 5. Baru (NZAid) ini. Namu, baru sekitar 1 bulan berada di Ambon, bersamaan dengan HUT Republik Maluku Selatan, tanggal 25 April 1984, terjadi kerusuhan di tengah kota Ambon, tepatnya di sekitar perbatasan antara Batu Gajah, dikenal sebagai daerah ‘’Kristen’’ dengan kawasan Islam, di sekitar Waihaong, tempat Masjid Raya Ambon berada. Ketika itu kabarnya, sudah ada kerumunan dan konsentrasi massa yang cukup besar di sekitar kawasan perbatasan Waihaong dan Batu Gadjah itu. Aku ketika itu tengah mendapat giliran memasak dari Bapak Adiyoga. Bersama saudara Ruru Basanta, kami ketika itu tengah berada di dapur. Kebetulan rumah merangkap kantor kami yang dikontrak Yayasan Bina Swadaya terletak di atas bukit, masih masuk kawasan ‘’Kristen’’ yang baru saja habis terbakar. Namun, seusai dibangun penghuninya, kami kontrak. Penghuninya sendiri memilih ‘’hijrah ke Jakarta’’, katanya ikut anaknya yang bekerja di Jakarta. Jadi, di atas bukit, rumah kontrakan kami, kami bisa memantau dengan jelas, apa yang bisa terjadi di perbatasan antara kawasan Batu Merah, yang berpendudk Muslim dengan kawasan Amantelu, kawasan kami, yang umumnya berpenduduk Kristen. Hal ini mengingat, selama lima tahun pertikaian antara Kristen dan Islam di Ambon, terjadi polarisasi tempat tinggal di Ambon. Yang tadinya mereka berbaur , antara penduduk Islam dengan Kristen, kini akibat konflik, banyak pendudk beragama Kristen yang tinggal di kawasan Islam di jual ke penduduk Islam, begitu pula sebaliknya. Bahkan banyak diantara mereka meninggalkan begitu saja tempat tinggal mereka, karena keburu konflik pecah. Nah, ketika kami, aku dan Ruru mendengar banyak orang berlarian di depan rumah kontrakan kami, yang arahnya dari atas bukit, aku berdua berlari ke ruang tamu, dan betul kami tengah menyaksikan ada ratusan pemuda dari arah bukit yang banyak membawa berbagai senjata taham dan senjata rakitan tengah berlarian menuju perbatasan Amantelu dan Batu Merah. Lalu, kami berdua bergegas menuju pintu dapur, Ruru sendiri mencoba segera mematikan kompor minyak tanah yang masih menyala, tengah menggoreng ikan, sempat hangus sebagian. Betapa terperanjatnya kami, ketika dari jendela Nampak ratusan, bahkan mungkin ribuan massa dari kedua belah pihak sudah memenuhi konsentrasi mereka di perbatasan itu. Bahkan, kabarnya, sudah ada korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Aku pun, bersama Ruru dan Ida Bagus Adiyoga segera ‘’mengungsi’’ ke pos milik kesatuan ‘’Kostrad’’ yagn ada di atas bukit, sekitar 100 meter dari kantor dan rumah kontrakan kami. Kami, bersama beberapa penduduk di sekitar itu mencoba ‘’mengungsi’’ sementara. Rupanya, hari itu berjalan demikian cepat. Jakarta sempat menerjunkan
  6. 6. bala bantuan kesatuan Brimob dari kesatuan di Kalapa Dua Jakarta. Dengan beberapa kali penerbangan dengan ‘’Hercules’’ mereka tiba di Bandara Ambon. Namun, ternyata ada kabar, sekitar 3 orang dari kesatuan Brimob ketika baru turun dari truk pengangkut mereka di sekitar perbatasan Batu Gajah tewas. Katanya, mereka tewas terkena ‘’sniper’’ yang diduga dibidik oleh kelompok ‘’pro RMS”, atau malah ada kabar dibiding oleh ‘’Provokator’’ yang tidak ingin Ambon dan kawasan Maluku lainnya tertib dan aman. Bahkan, Thamrin Tomagola di dalam tulisannya di Jakarta Post ketika itu menilai, peluru yang menewaskan anggota Brimob itu adalah berasal dari jelis senjata laras panjang yang hanya dimiliki ‘’Kopassus’’ atau senjata hasil rampasan atau yang dimiliki para pemberontak yang berasal dari selundupan dari luar. Kekacauan rupanya semakin parah, ke esok harinya, bahkan banyak tempat-tempat seperti Hotel Aman di kawasan Mardika dan Batu Merah di granat, sehingga terbakar, banyak gedung perwakilan lembaga kemanisiaan PBB dan lembaga swadaya asing lainnya juga digranat dan hangus terbakar. Hingga , setelah Adiyoga berkonsultasi ke Jakarta, kami, bertiga memutuskan untuk segera mengungsi sementara ke Jakarta. Sedangkan kantor dititipkan ke Manager Kantor, Saudara Buce, yang memang penduduk yang tinggal dekat Kantor. Kami sendiri sebenarnya sudah menyewa mobil untuk mengungsi ke Jakarta. Namun, untuk menuju ke Bandara, kami ngak bisa, karena satu-satunya jalan raya menuju Bandara, yaitu melalui kawasan Batu Merah diblokade kelompok Muslim. Kebetulan, teman kecilku, sama-sama bekas satu asrama, dan kedua orang tua sama-sama satu kesatuan di Kobekdam di Cililitan, saudara Chaerul Fasha, Kolonel Infantri, ketika itu bertugas menjadik Kepala Puskopad Kodam Pattimura di Ambon. ‘’Bapak Kolonel Chaerul, aku, Yusuf nih, mau ngungsi, tapi ngak bisa pakai mobil, ngak bisa lewat Batu Merah, bagaimana saran Anda,’’ teriak ku ke Chaerul, melalui ponselku. ‘’Yusuf, Anda kan Moslem, teriak saja Allahu Akbar, sambil lewat di sana,’’ saran Chaerul. ‘’Wah, ngak bisa. Perawakan ku kan kayak Cina, pasti belum sempat sampai diperbatasan, aku sudah dipanah,’’ jawab ku, sambil teriak ke Bapak Chaerul. Ketika aku melakukan kontak komunikasi, sempat terdengar bunyi ‘’bom’’ . Rupanya ada ledakan granat di hotel Aman. Aku karena kaget, sempat larin dan terperosok di depan rumah. Mengingat, rumah kontrakan di tas bukit, dan di bawahnya banyak batu dan berbagai benda tajam, seperti beling, ketika aku terperosok ke jurang di depan rumah, lutut dan beberapa daerah di kaki dan paha tergores benda taham. Banyak goresan luka kecil.
  7. 7. Akhirnya, aku, Adiyoga dan Ruru Basanta memutuskan mengungsi kea rah Air Solobar, kawasan Pantai yang berlawanan dengan arah ke Batu Merah. Setelah menggunakan mobil Kijang, kita sebenarnya mencoba jalan melingkar lewat gunung menghindari kawasan Batu Merah. Namun, juga sulit dan ngak bisa tembus menggunakan kendaraan. Akhirnya, kami memutuskan melalui Air Solobar, dan sampai di sana kami mencharter ‘’Speed Boat’’ menuju Bandara. Selain Ruru , Adiyoga dan Saya, ada sekelompok Ibu-ibu dan anaknya ikut ‘’mengungsi’’ kea rah bandara. Namun, celaka, baru satu jam di perjalanan, mesin speed boat kami mati. Rupanya, pengemudi lagi mencari penyebab matinya mesin. Lebih dari dua jam kamk terapung-apung di laut teluk Ambon. Saya lihat, kapal bukannya semakin dekat pelabuhan, tetapi semakin mengaruh ke laut lepas , Laut Banda. Aku lihat Saudara Ruru Basanta agak ‘’pucat’’. Ada kabar dia ngak bisa berenang. Aku sendiri, walau bisa berenang, ngak jamin juga bisa selamat, kalau kapal terapung di luat. ‘’Bisa mati kelaparan’’. ‘’Beruntung’’ pengemudi menemukan penyebab macetnya mesin. Banyak kotoran melilit kipas mesin kapal. Akhirnya, setelah sempat dibersihkan, kapal bisa melaju kembali ke kawasan dekat Bandara. Kami pun, setelah mendarat, bergegas menuju Bandara. Namun sesampainya di Bandara, kami katanya baru saja lima menit lalu ditinggal pesawat ‘’Lion Air’’ menuju Jakarta via Makasar. Kami terpaksa ‘’mengungsi’’ sementara di sekitar bandara. Karena takut ‘’nginep’’ di hotel di sekitar kawasan Bandara, yang katanya di kuasai ‘’Kristen’’, aku dan Ruru yang Muslim terpaksa memilih ‘’nginep’’ di Wisma milik Angkatan Udara di sekitar Bandara. Sekiar pukul 20.00 malam aku menyaksikan kota Ambon dari kejauhan, dari sekitar Bandara Ambon, bagai kota lautan api. Di mana-mana asap membumbung. Besok paginya, Kompas memberitakan, banyak hotel, dan gedung di kota Ambon yang dibakar dan digranat, serta beberapa orang tewas akibat pertikaian pada tanggal 14 April hingga 15 April 2004 itu, termasuk beberapa anggota Brimob yang baru tiba di kota Ambon itu. Setelah satu bulan ‘’beristirahat’’ di Jakarta, aku ditugaskan kembali ke Ambon. Ruru sendiri tidak lagi ikut. Ida Bagus Adiyoga sendiri baru akan menyusul satu bulan kemudian. Selama di Ambon, kami melakukan berbagai proyek pemberdayaan ekonomi dan membangun system komunikasi untuk menjaga agar konflik kedua belah kelompok ini tidak terjadi lagi. Kami sempat membangun tiga Radio FM komunitas, satu di perbatasan antara Waihong yang Muslim dengan Batu Gadjah yang Kristen, kemudian di Perbatasan Air Solobar yang Kristen dan Islam, serta di Kawasan Laha, dekat Bandara. Ketiga Radio ini dikelola dua kelompok
  8. 8. pemuda yang berbeda dalam wadah koperasi. Semua peralatan radio dan pengurusan surat-surat serta pelatihan atas biaya NZAid. Di dalam konflik Kristen-Islam di Maluku yang mengorbankan nyawa lebih 10 ribu orang selama 5 tahun ini, saya menyimpulkan bahwa sebab utamanya adalah adanya ‘’provokator’’ dari pihak luar. Hal ini mengingat antara Muslim dan Kristen adalah ‘’bersaudara’’, berdasarkan hubungan ‘’Pela Gandong’’. Ada diantara mereka, walau berbeda Agama, tetapi bersaudara, ada kakak ada adik. Bahkan, walau satu kampung beragama Kristen dan satu lagi mayoritas Bergama Islam, mereka masih memiliki hubungan kerabat, sehingga mereka berabad-abad sebelumnya bisa hidup rukun dan damai. Bayangkan saja, selama konflik, militer dan polisi pun takut satu kantor. Perwakilan Antara dan TVRI pun tebelah dua. Satu kantor untuk Kristen, dan di tempat lain untuk Islam. Tidak heran, ada wartawan TVRI harus menyerahkan film rekaman ‘’hanya’’ sampai di perbatasan. Konon, polisi yang Kristen berkantor di Polda, dan yang Islam di Polres. Begitu juga kesatuan lain. Memang keberhasilan sang ‘’provokator’’ itu ditunjang latar belakang kecemburuan social yang sudah ada di Maluku. Di kota Ambon misalnya, banyak penduduk pendatang, yang utamanya suku Bugis dan Jawa yang sukses berbisnis di kota Ambon. Bahkan, tukang becak, tukang bakso dan sector lain banyak di dominasi pendatang. Penduduk Asli yang sebelumnya hanya berminat ‘’menjadi pegawai negeri’’, karena lapangan pekerjaan pegawai negeri ini terbatas, akhirnya banyak menjadi pengangguran. Kini, mereka sudah sadar. Mereka tidak lagi mau di ‘’provokasi’’ dari luar yang menghancurkan sendi kehidupan mereka. Banyak orang asli Maluku, kota Ambon khususnya, bersedia bekerja di sector mana saja, termasuk jadi tukang becak. Bila ada orang Kristen dan Islam bersenggolan di pasar atau di tempat mana saja, mereka buru-buru minta maaf, karena sadar, mereka tidak ingin ‘’diprovokasi ‘’ lagi. Tetapi, saying, justru konflik antar kampung sesama agama, masih terjadi di Maluku, seperti halnya terjadi di Papua. Memang, konflik ini dilator belakangi latar belakang kondisi pendidikan dan ekonomi mereka yang masih rendah, sehingga walau mereka mampu ‘’mengatasi’’ serbuan ‘’provokator’’ sehingga bisa terjadi benturan ‘’antar agama’’, malah kerawanan lain masih terjadi, konflik antar kampung dan antar suku, seperti terjadi di kawasan lain di Indonesia Timur yang mayoritas pendudukanya masih hidup di bawah garis kemiskinan, miskin pendidikan dan bahkan banyak diantara mereka buta hurup. Inilah tugas kita semua untuk mengatasinya. Di dalam sejarah, sejak Indonesia merdeka, baru kali inilah konflik
  9. 9. yang berlatar belakang Agama begitu banyak ‘’menelan korban jiwa’’. Semoga tidak akan terulang lagi. • Wartawan Freelance dan Dosen Komunikasi (Jurnalistik) STIE Hidayatullah

×