Tiga keranjang (Tripitaka Sejarah) By Profesor Abu Su'ud

  • 1,870 views
Uploaded on

 

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
1,870
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
39
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. TIGA KERANJANG (TRIPITAKA) SEJARAH Oleh Prof. DR. Abu Su`ud 1
  • 2. KATA PENGANTAR Assalamu`alaikum Wr. Wb. Buku yang anda hadapi sekarang adalah sebuah bacaan (reading) dalam bidang pendidikan sejarah, ilmu sejarah maupun peristiwa-peristiwa sejarah, dan dimaksudkan sebagai penunjang bagi mereka yang tengah memperdalam kajian sejarah, atau siapapun yang tertarik pada kajian sejarah. Banyak perisrtiwa sejarah yang sering membingungkan, terutama bagi mereka yang berkepentingan secara politik, pengajar sejarah, maupun pemerhati sejarah. Dengan begitu buku ini bukan dimaksudkan sebagai buku teks bagi mereka yang melakukan kajian sejarah. Sebagai sebuah buku bacaan atau reading buku ini merupakan kumpulan tulisan yang terserak, yang dalam media masa, bahan ceramah dalam forum pertemuan ilmiah, maupun karya ilmiah dalam studi lanjut. Penyumbang tulisan ini dengan demikian dari berbagai pihak sesuai dengan minat dan keahlian. Meskipun demikian sebagian besar memang merupakan karya penulis yang merangkap sebagai penyunting (editor). Terima kasih disampaikan kepada Patrick Gardner yang menulis buku Nature of Historical Explanation. Buku tersebut telah dilaporkan oleh penulis buku yang anda pegang ini sebagai bagian dari tugas perkuliahan SEJARAH 500 yang diampu oleh Prof. DR. Sartono Kartodirdjo dalam Progra Doktor IKIP Bandung pada tahun 1981. Laporan buku ini diolah kembali dalam buku ini. Terima kasih juga disampaikan kepada Bernard Lewis , direktur Lembaga Riset Annenberg untuk kajian-kajian tentang masalah Yahudi dan Timur Dekat. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Tidak lupa terima kasih disampaikan kepada para penulis di sekitar peranan Pangeran Diponegoro, seperti Prof. DR. Djoko Surjo dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universiras Gajah Mada, Prof. DR. AM. Djuliati Surojo dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Sagimun MD, penulis buku tentang Pangeran Diponegoro, naupun Amen Budiman pengamat dan pecinta sejarah dari kota Semarang, yang enggan disebut sejarawan. Terima kasih juga sudah sepatutnya disampaikan kepada media masa yang telah menerbitkan tulisan-tulisan saya sebagai karya lepas, yang dimuat sesuai dengan konteks tertentu. 2
  • 3. Akhirnya kritik dan saran untuk penyempurnaan buku ini diharapkan dapat disampaikan kepada penulis. Selanjutnya last but not lease terima kasih saya sampaikan kepada Prof. DR. H. Sudijono Sastroatmodjo, MSi selaku rektor Universitas Negeri Semarang yang atas kebijakannya telah memberi ijin untuk menerbitkan buku ini berkenaan dengan Ulang Tahun saya ke 70 dalam memasuki purna tugas sebagai Guru Besar pendidikan sejarah pasa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada awal Agustus 2008. Dan lebih dari segalanya saya panjatkkan syukur pada Allah SWT yang senantiasa memberikanb berbagai kemudahan dalam hidup yang saya jalani ini. Semoga Allah SWR selalu memberkati semua langkah yang sayalakukan. Amien. Wassalamu`alaikum Wr. Wb. marang, 27 Juli 2008 Penulis 3
  • 4. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PENDAHULUAN KERANJANG PERTAMA : MEMAHAMI SEJARAH A.KONSEPTUAL 1. PENJELASAN SEJARAH (Prof. Dr. Patrick Gardiner) 2. TANTANGAN SEJARAH (Prof. Dr. Bernhard Lewis) 3. KONTROVERSI DALAM SEJARAH INDONESIA (Prof. Dr. Abu Su`ud) 4. LIMAPULUH TAHUN INDONESIA MERDEKA : TAHUN EMAS? (Prof. Dr. Abu Su`ud) 5. SEJARAH DAN PATRIOTISME (Prof. Dr. Abu Su`ud) 6. SEJARAH DAN PELESTARIAN BUDAYA *Prof. Dr. Abu Su`ud) 7. REVITALISASI BANGUNAN MONUMENTAL (Prof. Dr. Abu Su`ud) 8. MENGUAK KEBENARAN SEJARAH BANGSA INDONESIA (Prof. Dr. Abu Su`ud) 9. ETNO NASIONALISME (Ptof. Dr. Abu Su`ud) 10. UPAYA MENGESAMPINGKAN PERBEDAAN (Prof. Dr. Abu Su`ud) 11. MEMAKNAKAN HARI PAHLAWAN (Prof. Dr. Abu Su`ud) 12. HAKIKAT MAKNA PERISTIWA 10 NOPEMBER (Prof. Dr. Abu Su`ud) KERANJANG KEDUA : HISTORIOGRAFI A. KONSEPTUAL 4
  • 5. 1. PENULISAN HADIS SEBAGAI HASIL KAJIAN SEJARAH (Drs. Abu Su`ud) 2. LEGENDARISASI TOKOH SEJARAH (Dr. Abu Su`ud) 3. KOMENTAR PERS 4. MITOS 3,5 ABAD TERJAJAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) B .MONOGRAFI TENTANG PERANG DIPONEGORO 1. DI SANA-SINI ADA MAKAM DIPONEGORO (Dr. Abu Su`ud) 2. PERANG DIPONEGORO (Ditinjau dari Segi Militer) (Drs. Abu Su`ud) 3. KEPEMIMPINAN PENGERAN DIPONEGORO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH (DR. Djoko Surjo) 4. KONFLIK-KONFLIK YANG MENDAHULUI DAN MEMATANGKAN PERANG DIPONEGORO (Sagimun MD) 5. MEWARISI SEMANGAT PANGERAN DIPONEGORO (Dr. Abu Su`ud) 6. PENGERAN DAN PETANI : SEBUAH ALIANSI KRATON-DESA DALAM PERANG DIPONEGORO (Dr. AM Djuliati Surojo) 7. SOSOK PANGERAN DIPONEGORO DALAM NASKAH-NASKAH JAWA (Amen Budiman) KERANJANG KETIGA PENGAJARAN SEJARAH 1. SEJARAH DAN PENDIDIKAN (Dr. Abu Su`ud) 2. BILA ISU KONTROVERSIAL MASUK KELAS SEJARAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) 3. KOMENTAR-KOMENTAR 4. MENCARI ALTERNATIF DALAM PENGAJARAN SEJARAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) 5
  • 6. 5. POTRET KOTA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) 6. GURU SEJARAH DAN PERUIBAHAN SEJARAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) 7. JASMERAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) 8. FORMAT METODOLOGI PENDIDIKAN SEJARAH DALAN TRANSFORMASI NILAI DAN PENGETAHUAN (Prof. Dr. Abu Su`ud) 9. KURIKULUM BARU TANPA PSPB (Prof. Dr. Abu Su`ud) 10. GURU SEJARAH DAN PERUBAHAN SOSIAL (Prof. Dr. Abu Su`ud) 11. GURU SEJARAH YANG KEBINGUNGAN (Prof. Dr. Abu Su`ud) 12. SEJARAH LEBUR DALAM PPKN : QUO VADIS? )Prof. Dr. Abu Su`ud) 13. POTENSI SEJARAH LOKAL DALM FRAME PENGAJARAN DI SEKOLAH (Prof. Dr. Abu Su`ud) @@@ PENDAHULUAN Dengan berbekal pemahaman sejarah rasanya berbagai peristiwa sosial menjadi menarik untuk dikaji dan kemudian disampaikan lewat media massa ataupun forumforum ilmiah. Bekal lain yang ada berupa potensi untuk menuliskan berbagai hasil pengamatan sosial, karena terbiasa menjadi penulis artikel pada media massa, sangat memperlancar komunikasi kepada masyarakat. Bekal ketiga yang kebetulan ada adalah posisi sebagai dosen pendidikan sejarah pada Program Studi Pendidikan Sejarah pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universiras Negeri Semarang (Unnes). Naluri sebagai guru telah mendorong untuk selalu mengkomunikasikan hasil kajian itu kepada orang lain. Buku ini berisi bacaan tentang masalah-masalah sejarah yang sudah disampaikan lewat media massa maupun forum ilmiah. Buku ini tidak dimaksudkan sebagai ekspose mengenai konsep-konsep ilmiah tentang masalah sejarah, melainkan kumpulan tulisan di sekitar bagaimana memahami sejarah, tentang historiografi, maupun tentang pengajaran sejarah, maupun berbagai analisis tentang peristiwa sejarah. Oleh karena itu kumpulan 6
  • 7. tulisan ini menjadi semacam bunga rampai tulisan-tulisan tentang sejarah yang telah dimuat di beberapa media cetak selama beberapa tahun, yang ditulis berkaitan dengan situasi maupun peristiwa tertentu dalam masyarakat. Buku ini mencakup tiga bagian yang membicarakan segala sesuatu di seklitar sejarah. Jadi layaknya setiap bagian itu sebagai keranjang atau pitaka, maka buku inipun menjadi semacam Tripitaka Sejarah atau tiga keranjang berbagai tulisan tentang sejarah. Keranjang pertama berisi pembahasan tentang filsafat sejarah dalam rangka memberikan penjelasan sejarah, atas peristiwa-peristiwa sejarah maupun bagaimana memahami peristiwa-peristiwa sejarah. Tulisan-tulisan itu merupakan penyajian kembali karya tulis sebagai tugas laporan buku dalam studi lanjut dalam Pendidikan Doktor IKIP Bandung tahun 1980 an maupun perkulihan dalam Jurusan Sejarah IKIP Semarang tahun 1990 an. Masing-masing berjudul Penjelasan Sejarah, dan disusul kemudian tulisan berjudul Tantangan Sejarah dan seterusnya. Keranjang kedua berisi penyajian tulisan sekitar Historiografi. Dalam bagian ini ditampilkan berbagai tulisan. Pertama misalnya dikemukakan tulisan tentang gejala legitimasi pada banyak peristiwa suksesi kepemimpinan bangsa, sejak masa kuno sampai masa modern. Karena tulisan itu merupakan penyajian ulang Pidato Ilmiah dalam upacara Dies IKIP ke 24, pernah mengundang komentar dari sejumlah media massa cetak. Komentar-komentar itu ditampilkan mengiringi tulisan utama. Kemudian disusul dengan tulisan-tulisan tentang berbagai isu berkaitan dengan historiografi, termasuk Prosedur Penulisan Hadits Sebagai Proses Penulisan Sejarah. Juga dikemukakan tulisan-tulisan tentang Mitos 350 Tahun Terjajah maupun tentang HUT kemerdekaan RI yang disebut Ulang Tahun Emas? oleh sebagian warga bangsa. Bagian kedua dari Keranjang kedua ini berisi penulisan khusus mengenai tokoh Pangeran Diponegoro berkaitan dengan peristiwa yang fenomenal, yairu Perang Diponegoro. Keranjang ketiga diberi nama Pengajaran Sejarah. Dalam bagian ini dikemukakan beberapa tulisan tentang Alternatif-alternatif dalam pengajaran sejarah. Antara lain dikemukakan penyajian ulang pidato pengukuhan sebagai guru besar pendidikan sejarah, yang berjudul Bila Isu Kontroversial Masuk Kelas Sejarah. Disusul kemudian dengan berbagai tulisan untuk seminar-seminar pendidikan sejarah di sekitar metode dan pendekatan dalam pengajaran sejarah. Terutama sikap yang harus 7
  • 8. dihadapi oleh para guru sejarah ketika menghadapi pergantian Kurikulum Sejarah sehubungan dengan pergantian rezim yang berkuasa. Diharapkan kumpulan tulisan ini merupakan bacaan (reading) yang dapat memberi manfaat bagi mahasiswa sejarah maupun siapapun yang berminat pada tinjauan sejarah. KERANGJANG PERTAMA MEMAHAMI SEJARAH A. KONSEPTUAL 1. PENJELASAN SEJARAH A. PENDAHULUAN Mendengar istilah filsafat sejarah menimbulkan berbagai gambaran atau asosiasi tentang hal-hal yang misterius yang bagaikan muncul dari kedalaman laut abad ke 19 yang diwarnai oleh filsafat Hegel dsb. Selanjutaya perkataan scjarah telah pula membuat paling tidak dua asoeiasi. Terbayang di mata kita suatu gambaran atau rangkaian kejadian di masa lampau manakala mendengar perkataan bahwa sejarah itu berulang. Sebaliknya manakala mendengar bahwa seseorang sedang belajar sejarah, maka yang timbul ialah gambaran berupa pembahasan-pembahasan dan tulisan-tulisan tentang masa lampau. Berbeda dengan sejarah yang hanya mengungkapkan rangkaian peristiwa, termasuk kejadian-kejadian di masa lampau, naka filsafat sejarah mampu mengungkapkan penjelasan berbagai hubungan di antara kejadian-kejadian tsb, dan memberikan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinanyang bakal terjadi di masa mendatang. Berbeda pula dengan sejarah yang membahas masalah dalam sejarah itu sendiri, maka filsafat sejarah membahas sejarah itu sendiri, seperti tentang apakah sejarah itu pengetahuan (knowledge) atau bukan? Bagaimanakah mengetahui fakta sejarah? Berbedakah dengan yang disebut dengan sejarah yang obyektif? Juga apakah ada hukum 8
  • 9. dalam sejarah ? Atau juga apakah hakekat teori-teori sejarah seperti adanya pendekatan Marxis dsb,? Pertanyaan-pertanyaan tsb. tidak segera memperoleh jawaban secara tegas dan memuaskan. Pertanyaan besar yang dikemukakan dalam buku inl misalnya, yaitu “Apakah gerangan hakekat penjelasan sejarah itu?” Jawabannya sulit diperoleh sebab gambaran yang dikemukakan dan ditemukan dapat membahayakan para sejarawan. Mereka menjadikan jawaban tsb. sebagai semacam peraturan yang mengarahkan semua uraian sejarah yang dikemukan. Buku inl mencoba mencari jalan untuk monemnukan jawab atas pertanyaan dasar tadi dengan cara memberikan peta besar berupa peta sketsa permasalahan.Sebagai konsekuensi maka secara bertahap buku ini memberikan uraian tentang persoalan penjelasan dalam ilmu pengetahuan (alam) dan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah pokok bahasan dalam sejarah adalah hubungan kausal dalam sejarah dsb. Laporan buku inl nencoba mcmberikan gambaran tentang filsafat sejarah, yaitu masalah hubungan kausal dalam sejarah dan masalah penjelasan sejarah (historical explanatory) B. MASALAH SEBAB AKIBAT DALAM SEJARAH (Causal Connexion in History) Bagaiaana Penjelasan Sejarawan ? Bagaimanakah prosedur yang digunakan para sejarawan dalam menghadapi fakta untuk menjelaskan kejadian sejarah? Pada hakekatnya tak berbeda di antara para sejarawan, hanya berbeda dalam jalan yang ditempuh, yang dianggap aneh. Berbagai kesulitan yang dihadapi kita dapat terlihat dalam buku ini, dalam berbagai ilustrasi, dalam menghadapi atau melihat hubungan sebab akibat dalam sejarah. Dalam banyak hal para sejarawan jarang sekali menggunakan kata-kata penghubung seperti : sebab, karena oleh sebab, dikarenakan oleh dsb. Sebaliknya mereka sering menggunakan istilah seperti :  Dalam keadaan seperti itu, maka tak mengherankan kalau ...  Sesungguhnya dalam hal ini dia .......... 9
  • 10.  Tak dapat dielakkan lagi bahwa .......... Juga sering digunakan beberapa kata benda seperti :  pengaruh, dorongan motif, dorongan hati (impuls), perkembangan, konsekuensi,akibat dsb, Kata-kata kerja seperti tersebut di bawah ini juga seringkali digunakan, seperti : menuju ke ... menghasilkan dalam ... membuat ..., mengakibatkan ... ataupun merangsang untuk ... Ini semua memang, nembuat kita menjadi tambah bingung bila dibanding kalau digunakan kata penghubung sebab dan sebangsa- nya. Seringkali para sejarawan membuat uraian yang tidak blak- blakan, tidak terus terang, melainkan berselimut ataupun menggunakan selubung kalimat tartentu, sehingga hanya nemberikan uraian dengan tersirat saja. Akibatnya hanya terasa mereka mendongeng (narrating), padahal maksudnya ingin menjelaskan (explaining).Misalnya mereka menulis sbb.: “The growing benavalance of the age was moved to cope with the appaling infant mortality”. (Travelyn: English Social History). Padahal yang dimaksud ialah lebih dari itu, yaitu: “ … people decided to deal with the appaling infant mortality”. Terasa bahwa dalam sejarah masalah penjelasan merupakan sesuatu yang mengejutkan,Uraian sejarah kebanyakan hanya bersifat kronik saja. Mereka gemar sekali menggunakan ungkapan-ungkapan seperti : inevitability, impossibility, necessaity ataupun metafora-metafora, seperti lead to, force, compel, make dab, seolah-olah ada sesuatu pengertian ‘takdir’ yang mempengaruhi jalan sejarah. Ada kesan bahwa sejarah tidak lain adalah ‘dongeng’ tentang manusia tak berdaya dalan kungkungan sang takdir yang jahat dan irasional. Masalahnya sekarang ialah : tidakkah perlu dilakukan perubahan makna, bahwa sejarah tidak lain adalah ceritera tentang manusia yang berikhtiar dan berupaya? Dengan demikian maka uraian sejarah tidak lagi terlalu kering tanpa bumbu.Ada ungkapan terkenal dari Taine yang berbunyi : “Apresia collection des 10
  • 11. fails, la recherche des causes”, yang berarti ‘Setelah pengumpulan fakta, tinggal mencari penyebabnya’. Berbeda dongan Croce yang tidak menyetujui ungkapan tsb, sepertii tersebut dalam bukunya The Theory and History of Historiography, Gardiner dapat menerima ungkapan Taine tsb. Ini berarti dia menyetujui anggapan bahwa sejarah adalah suatu rangkaian sebab akibat, meskipun pada dasamya orang sulit sekali menemukan faktor yang dianggap sebagai penyebab yang paling utama. Ungkapan semacam itu bisa disebut sebagai prosedur sejarah. Dengan kata lain, sejarah adalah terdiri dari fakta. Dan rangkaian fakta tsb. dapatlah diketahui rangkaian sebab akibat yang dapat memberikan kejelasan bagi rangkaian fakta tsb. Croce tetap berpendapat bahva sejarah tidak dapat dijelaskan dengan rangkaian sebab akibat, melainkan hanya dapat dijelaskan oleh kejadian itu sendiri. Sementara itu pengertian fakta sendiri masih amat membingungkan (ambigu) dan bersifat subyektif serta relatif. Misalnya ambilah contoh tentang ‘penyerangan Napoleon ke Rusia’. Yaklnkah kita bahwa hal itu adaiah fakta sejarah? Bila kita terlibat atau berkepentingan dengan ‘fakta’ tsb, maka interpretasi kita tentang fakta tsb. dapat lain. Jadi dengan kata lain, fakta yang kita nyatakan sebagai fakta tak lain adalah fakta yang telah diberikan interpretasi. Menurut filsafat sejarah setiap kalimat atau pernyataan menunjuk ke arah fakta, seperti :  Fakta matematik, seperti 2+2=4.  Fakta hipotetis, seperti bahva planet mengelilingi matahari dengan mengikuti jalur elips, seperti disebutkan dalam hukum Kepler.  Fakta masa lampau, seperti : bahwa Caesar menyeberaag ke Rubicon. Dalam hal ini tugas sejarawan ialah mengumpulkan fakta (collecting facts) dan selanjutnya mencari penyebab (looking for causes). Dan tugas itu tidak dapat dengan mudah dilaksanakan,antara lain karena karena tidak semua fakta dapat dipercaya (reliable). Untuk itu harus dilakukan pengujian terhadap kebenaran dengan otoritas ataupun persaksian. Yang dinaksud dengan otoritas dalam hal ini menyangkut dokumen, pengetahuan yang ada dan pengalaman yang ada. Sementara itu seauatu kejadian tidak 11
  • 12. mungkin berdiri sendiri yang terlepas dari ikatan yang disebut sebagai ‘social contact.’ Jadi ungkapan Taine dapat diterima kebenarannyadan tidak menyesatkan. Sementara itu ada kritik terhadap teori Taine, yaitu : 1. Taine nengacaukan antara fakta dengan bukti. Kalimat ‘Sesuatu telah terjadi’, tidaklah sama dengan kalimat ‘Terbukti bahwa sesuatu telah terjadi’. 2. Fakta pada dasarnya hanyalah teka-teki. Menurut Croce, fikiranlah yang membentuk fakta. Jadi ada tidaknya fakta tergantung pada fikiran seseorang. 3. Sebab menghubungkan antara dua atau lebih fakta. Apa yang dapat ditarik dari pembahaaan di atas ialah suatu kesimpulan bahwa temyata menemukan fakta dan nenemukan sebab, keduanya merupakan ‘prosedural inter connexion’ dalam sejarah. Dengan ini dapatlah diterima anggapan bahwa mencari sebab dapat membcrikan penjelasan bagi sesuatu kejadian sejarah. Masalah dalan Hubungan historis (historical connexion) Menemukan hubungan sebab akibat tidak cuma merupakan hal penting dalam penjelaean sejarah, melainkan juga penting bagi penemuan dan menegakkan fakta. Untuk itu harus diperhatikan hal-hal sbb. : 1. Masalah apa yang diperbuat oleh sejarawan ketika berbicara tentang dua kejadian yang berbubungan satu dengan yang lain. 2. Masalah kondisi yang bagaimana dapat dikatakan bahwa dua fakta itu sah untuk disebut berhubungan. Dengan sendirinya tugas semacam itu tidak mudah diselesaikan, misalnya dalam hal menentukan hubungan antara ‘Calvinisme’ dengan ‘kapitalisme’,antara ‘liberalisme’ dengan ‘kebangkitan nasional’, antara ‘kebangkitan agama Kristen’ dengan ‘Sistem perbudakan di Romawi’, antara ‘Perang Dunia I1’ dengan ‘persaingan bebas’. Di sini para sejarawan sulit menemukan sebab yang utama. Sehingga timbullah pertanyaan berupa : ‘Betulkah ada hubungan antara setiap pasangan di atas?’ Jawabannya akan sangat tergantung pada isme apa yang mendasari penafsiran terhadap fakta tsb., idealisme-kah atau materialisme-kah? 12
  • 13. Masalah penjelasan dalam sejarah tidak dapat dipersamakan dengan penjelasan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari, seperti antara ‘kaca pecah’ dengan ‘lemparan batu’, atau antara ‘bola bilyar menggelinding’ dengan ‘sodokan tongkat’. Dalam sejarah, maka segala fakta harus ditafsirkan dan dijelasakan dalam kaitan dengan ikatan ruang, waktu serta kondisi. Selain itu harus ditekankan bahwa kita tidak dapat nenemukan ‘hukun’ dalam sejarah, yang dapat dipergunakan untuk ‘neranalkan’ sesuatu kejadian yang bakal terjadi. Sejarah adalah masalah dimana, mengapa, bagainana dan bukan tentang hubungan atau ramalan, dan bukan pula suatu masalah generalisasi. Ini jelas merupakan ciri yang berbeda dengan yang berlaku dalam ilmu pengetahuan alam, yang mengenal hukum sebab akibat. Masalah generalisasi sebagai akibat pengambilan kesimpulan dari pengalaman empirik. Dalam sejarah hubungan antara sebab akibat tidak begitu jelas. Hubungan sebab akibat sangat bersifat khusus. Sementara itu orang sering melakukan analogi sedang kejadian itu sendiri sulit didefinisikan.Hal ini juga disebabkan karena dalam sejarah tidak dikenal adanya pengulangan kejadian maupun percobaan. Sesuatu kejadian sejarah hanya terjadi satu kali saja. Oleh karenanya hanya kesimpulan khusus saja dapat ditarik dari sesuatu kejadian. Sebab dan Konteks dalam Sejarah Seperti sudah dikatakan di muka artinya sulit sekali menemukan bahwa sesuatu kejadian itu ditimbulkan atau disebabkan oleh kejadian terdahulu. Biasanya hal itu melibatkan berbagai kondisi lain yang memberi pengaruh. Sebagai contoh dapat dikemukakan sbb.:  Sesuatu pemberontakan disebabkan oleh sekelompok perusuh ataukah oleh Moskow ?  Pemberontakan yang digerakkan oleh serikat buruh itu dilancarkan untuk apa, untuk tujuan perdamaian ataukah untuk kepentingan kelas ? Dalam sejarah biasanya yang dianggap sebagai sebab utama sesuatu kejadian atau perubahan ialah : ideologi, semangat nasionalisme,kemauan manusia, ekonomi dab. 13
  • 14. Fakta sejarah berupa penembakan yang terjadi di jalan raya Sarajevo dianggap sebagai penyebab pecahnya PD I. Benarkah itu? Apakah ini berarti bahwa :  Tanpa kejadian itu PD I tidak akan terjadi ?  Atau bahwa PD I tak akan terjadi pada ‘saat’ itu dan dalam ‘bentuk’ seperti itu?  Ataukah bahwa tanpa kejadian itu tak akan ada peristiwa presis seperti itu pada waktu itu? Lalu manakah di antara kemungkinan tafsir yang diakui oleh Sejarawan? Ternyata bahwa dalam menentukan mana-nana yang dianggap sebagai penyebab sesuatu kejadian atau perubahan, sangat tergantung dari titik pandangan seseorang sejarawan. Selain itu juga tergantung pula pada proses sejarah itu sendiri. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa ada suatu “dinamika ajaib” yang menggerakkan atau menjadi sebab utama yang misterius. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa penafsiran sejarah sangat tergantung pada tempat berpijak sejarawan itu sendiri, tergantung pula pada level dan jarak serta tergantung pula pada tujuan dan kepentingan. Tentang masalah sebab utama ada berbagai pandangan. Misalnya Hegel beranggapan bahwa faktor ekonomi serta faktor tokoh besar sejarah merupakan sebab utama itu. s Sedangkan J.B. Bury beranggapan bahwa yang menjadi sebab utana adalah ’chance’ dalam artian persaingan antara berbagai penyebab. C. ASPEK LAIN DARI PENJELASAN SEJARAH Pendahuluan Dengan berbagai contoh di muka sudah dapat kita pahami betapa penjelasan dalam sejarah tidak mengikuti logika penjelaaan yang unum. Sejarah sebagai gut generalia mengikuti logika yang khas (unik). Uraiannya akan mengikuti prosedur sbb.: Masalah sebab akibat dalam mencari penjelasan mental (mental causation). 14
  • 15. Sejarah tidak terbatas dalam mencari penjelaaan melewati fakta-fakta yang bersifat fisik atau kejadian alamiah yang dapat diamati seperti gempa bumi, perang, musim/cuaca, proklamasi kemerdekaan dsb. Sejarah juga banyak dijelaskan dengan penjelasan yang bersifat mental. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal berbagai pola hubungan sebab akibat seperti :  Sesuatu melakukan tindakan sesuatu untuk mencapai sesuatu.  Untuk mencapai sesuatu seseorang telah melakukan sesuatu.  Seseorang melakukan sesuatu karena khawatir kalau-kalau tidak akan dikerjakan oleh orang lain. Dalam kenyataan sesungguhnya dalam sejarah penjelaaan-penjelasan sering dicari pada maksud, keinginan, fikiran, rencana, kebijaksanaan dsb. dari yang berkepentingan. Di sini mulai perbedaan itu dalam llmu pengetahuan alam, maka tidak dapat dikatakan bahwa sesuatu terjadi karena dikehendaki atau dimotivasi oleh sesuatu keinginan. Klta tahu bahwa gempa, banjir, bencana alam lain dsb. tidak dapat dikatakan datang karena dikehendaki atau tidak dikehendaki. Hanya kejadian-kejadian di sekitar manusia saja yang mempunyai latar betakang. Dan latar belakang itu bersifat mental, seperti fikiran-fikiran yang nembangkitkan seauatu perbuatan. Dalam keadaan seperti itu maka tugas sejarawan ialah dalam menggambarkan betapa isi berbagai bentuk sebab atau penyebab dalam sejarah. Juga mereka bertugas menentukan betapa sesungguhnya sejarawan mengetahui penyebab yang menggerakkan sesuatu perbuatan sejarah. Jawaban sejarawan Collingwood dapat dimukakan dalaa dua ccra mengenai halhal tsb., yaitu : 1) Penyebab sesuatu kejadian ialah suatu hakekat yang ada di ballk sesuatu kejadlan dan disambut sabagai mental causation. Ini merupakan motif atau maksud yang menggerakkan sesuatu perbuatan. 2) Sulit sekali untuk mengetahui motif yang sesungguhnya yang menggerakkan suatu perbuatan. Ini hanya dapat dijelaakan dengan sekedar analogi dengan pengalaman manusia yang lain. Ini memerlukan suatu proses yang disebut pengambilan kesimpulan, yaitu suatu akibat dari proses ‘rethinking them within his own mind’ atau ‘by recreating the 15
  • 16. experience of the agent’. Dalam kenyataan banyak sejarawan yang lebih menggunakan imajinasi atau intuisi dalam memberikan penjelasan atau penilaian atas sesuatu kejadian, tanpa melakukan pengambilan kesimpulan (inferensi) setelah melakukan perbandingan. Dengan kata lain dapatlah dikemukakan sbb,: 1) Banyak ponjelaaan yang diberikan dengan mendasarkan pada pengetahuan tentang maksud ( motif, iatar belakang dsb,dari sesuatu kejadian. 2) Sejarah sebagai ilmu yang terlibat dengan kejadian dengan kejadian-kejadian manusia di masa lampau mendasarkan proeedur penjelasannya pada zaman lalu. 3) Penyebabnya amat khas, karena sebab-sebabnya tidak dapat diamati (unobservable) merupakan bagian dari sebab-sebab fisik, dan pengambilan kesimpulannya tidak dibandingkan dengan pengalaman masa lampau, melainkan dengan apa-apa yang hidup dalam ftklran. Jadi masalahnya memasuki bidang yang tidak kunjung dapat dipecahkan antara materlalisme dan idealisme, dalam mencari sebab-sebab atau latar belakang sesuatu kejadian, Motif, Fikiran dan Understanding Ada tiga hal yang harus ditegaskan dalam memberikan jawaban atas berbagai masalah, yaitu : 1) Yang menyangkut analisis tipe-tipe penjelasan. 1. Menyangkut hakekat pengetahuan kita tentang hal-hal yang terjadi dalan fikiran manusia (orang lain). 2. ang menyangkut permasalahan tentang ‘reliving’ atau ‘recreating’ yang terjadi pada diri manusia. 1. Panjelasaa atas dasar sikap mental. Pada diri manusia terdapat suatu mekanisme yang disebut ‘the making of the nind’. Perbuatan-perbuatan manusia pada dasarnya merupakaa pencerminan dari suatu sikap yang timbul oleh karena berbagai hal, seperti : 16
  • 17.  ‘Occupied by certain thoughts’.  ‘Guided by certain considerations’.  ‘Governed by cartnin desires’.  ‘Driven by certain impulses’.  ‘Doing what their reason tells them’.  ‘Obeying their instincts’.  ‘Searching their consciences’.  ‘Fighting their temptations’ Dan dalam hal beberapa negarawan nelakukan berbagai kebijaksanaan sebagai akibat dari khayalnya, mungkinkah ‘is he really the victim of delusio; ns of grandeur’? Dalam sejarah tindakan Napoleon dianggap dimotivasi oleh ‘the will of power’. Dapatkah hal itu diamati? Lalu bagaimana proses pengaruh itu terjadi? Kapankah pengaruh itu dimulai dan kapan pula diakhiri? Apakah ketika Napoleon tidur terjadi pula pengaruh itu? Juga apakah pengaruh itu datang ketika Napoleon sedang beristirahat kecapaian dan dsb. ? Motivasi dan dorongan itu tentunya tidak dapat diamati seperti kalau kita berbicara tcntang ‘power’ yang mendorong lokomotif. Untuk itu kita baru dapat memperoleh informasinya setelah melakukan angket atau wawancara, melalui buku harian, surat pribadi maupun surat dinas, laporan memoir dsb. Dalam kenyataan kita dapat membedakan antara ‘suatu perbuatan itu direncanakan, dimaksudkan atau diprogramkan’ dsb, atau ‘suatu perbuatan itu dimaksudkan untuk maksud tertentu’ ataupun dengan ‘suatu perbuatan itu dimotivasi oleh’ dan juga ‘suatu pcrbuatan itu beralasan’ (were reasoned) dan ‘dianggap’ (were concidered) atau ternyata ‘ada perbedaan dalam derajat’. 3. Apa yang dimaksud dengan ucapan bahwa kita nengetahui apa-apa yang sedaag menjadi atau sudah terjadi, menurut fikiran oramg lain? 17
  • 18. Flkirnn adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh yang punya fikiran. Ini neliputi motif, fikiran atau emosi. Orang lain hanya bisa menduga atau nengandaikan saja apaapa yang dalam fikiran orang lain. Jadi apa-apa yang diketahui oleh sejarah adalah hanya hipotesis atau perkiraan. Meskipun demikian perkiraan itu dinilai sangat meyakinkan (absolutely certain). Hi[ptesis atau perkitaan tadi tidak usah dipertentangkan dengan ‘'knowledge’.Sejarawan dianggap dapat nenghayati tokoh-tokoh sejarah, sehingga dianggap dapat menerka fikiran yang ada pada tokoh aejarah. Seaungguhnya pengetahuan tentang apa-apa yang difikirkan, dirasakan orang lain itu mustahil ada, sebab fikiran atau perasaan orang lain Itu tidak dapat ditaati. Meski dengan telepatipun hal itu tak dapat dilakukan. Sebaliknya terkaan atau hipotesis dapat diperoleh dengan ‘ungkapan’ yang timbul sebagai informasi dari yang mengalami itu sendiri (yaitu pelaku sejarah), yaitu lewat berbagai dokumen yang bersangkutan dengan para pelaku sejarah. D. Apa makna ungkapan-ungkapan seperti di bawah ini?  ‘reliving the experience of other people’.  ‘rethinking the thoughts of historical characters’ Sebagai alasan untuk membela kemampuan sejarawan melakukan berbagai peranan itu ialah karena adanya kebenaran tentang ‘living them selfes into’ atau ‘historical inside’ pada mereka. Demikian juga karena adanya yang dikenal sebagai :  ‘intuitive understanding’ pada diri mereka. Mereka dianggap mempunyai kemampuan semacam  ‘sinar tenbus psikologis’ untuk menembus batas waktu dan ‘fikiran’ manusia untuk menangkap:  ‘menial causes’ yang berada di balik setiap kejadian sejarah. Tentu saja ini semua perlu diadakan pengkajian lebih dahulu, sbb.: a. Caranya bukan membayangkan dirinya seolah-olah pelaku sejarah itu sendiri, melainkan membayangkan diri menghadapi persoalan yang sama itu (the same experience dan bukan the similar experience).Lalu sejarawan itu membayangkan 18
  • 19. apa-apa kira-kira sikap atau tindakan yang akan diambil dengan menggunakan latar belakang pengalanan sendiri. Jawaban yang diperoleh ialah sebagai hipotesis yang dapat salah. Contoh-contoh yang diperbuat oleh Max Weber dalam menguraikan masyarakat Eropah dalam bukunya ’The Theory of Social and Economic Organization’. Kalau jawaban yang diperoleh membingungkan, maka digunakanlah cara kedua, yaitu menempatkan diri dalam posisi si pelaku sejarah. b. Sejarawan sering mengatakan bahwa mereka dapat memahami (understanding) terhadap sesuatu tindakan (understanding an action). Ini berbeda dengan ‘understanding an event’ (mengerti sesuatu kejadian). Orang dapat memahami (appreciate) sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, manakala orang tersebut memiliki pengalaman yang sejenis. Kita dapat contoh dari seorang sopir yang dapat memahami sesuatu tindakan YAng diperbuat oleh sopir lain. Kadangkala understanding diartikan dalam kaitan dengan kenampuan untuk memahami perbuatan seseorang yang luar biasa dengan situasi yang tidak asing. Ini disebut scbagai ‘imaginative understanding’. Ini sekali lagi tidak bcrart bahwa seseorang telah menjadi orang lain atau pelaku sejarah tsb. Dalam hal itu maka interpretasi mereka dapat meyakinkan atau bahkan ‘jauh panggang dari api’. Keyakinan adanya sejenis pengetahuan semacam itu terlihat pada ungkapan-ungkapan semacam ‘having the same thought’ (memiliki fikiran yang sama), ‘reachmg the same conclusion’ (sampai pada kesimpulan yang sama), ataupun ‘acting with the same motives’ (bertindak dengan motif yang sama). Mengkaji Kembali Permasalahan Masalah yang segera timbul setelah pembahasan di muka ialah ; Bagaimana pengaruh pandangan-pandaagan tsb, di atas terhadap permasalahan yang kita hadapi? Masalah itu dapat diperinci menjadi dua bagian, yaitu : 1. Analisis mana yang benar dari penjelasan-ponjelaaan tsb. 2. Pembenaran macam mana yang dikehendaki oleh sejarawan dengan penjelasanpenjelasan tsb.? 19
  • 20. Para alili filsafat sejarah menyatakan banwa meski motif maupun maksud merupakan “penyebab” sesuatu tindakan atau perbuatan, semuanya masih tetap unik. Semuanya hanya dapat diketahui oleh pelaku sejarah itu sendiri, sedangkan orang lain hanya dapat memahaminya dengan membayangkan bahwa pengalaman tsb. terjadi atau menimpa kita. Meskipun demikian harus dipandang bahwa hubungan itu tidaklah bersifat sebab akibat. Di sana terjadi sesuatu hubungan yang tidak langsung. Ada tiga pengamatan yang perlu dilakukan dalam membicarakan motif yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu tindakan, yaitu : A Tentang apa yang dimaksudkan dengan maksud atau tujuan yang dianggap sebagai latar belakang sesuatu tindakan. c. Dalam melakukan sesuatu kegiatan (tindakan), harus diingat bagaimana menformulasikan masalah sebelum bertindak, atau dengan jalan mengingat-ingat jenis alasan yang dipergunakan. Di lain kesempatan harus dilakukan tindakan dengan menyingkirkan alasan-alasan yang dibuat-buat atau dengan mengesampingkan kemungkinan reaksi orang lain atau juga mengesampingkan pengetahuan tentang karakter atau kepribadian sendiri. d. .Dalam melakukan sesuatu, maka kita mempertimbangkan kriteria berupa apaapa yang mungkin dikatakan orang lain, Ketika kita memperkirakan motif orang lain jangan digunakan pengalaman diri sendiri, sebab setiap orang akan berfikir lebih dahulu secara rasional, karena tidak mengalami sendiri persoalan yang dialami orang lain. Hal lain yang perlu disanggah ialah karena kebanyakan tokoh sejarah telah tiada, maka sulit sekali mengikuti atau mengetahui tokoh tsb. Di sini hipotesis tentang motif menjadi makin terasa menjadi penghalang. Dalam keadaan itu maka sangat diperlukan pembacaan atas pengakuan, memoir naupun buku harian dari tokoh sejarah yang bersangkutan.Akan tetapi pengakuan semacam itu dianggap tidak pula relevan, karena biasanya pengakuan itu ditulis dengan secara berlebih-lebihan dan sering bersifat membohongi diri sendiri. Untuk itu maka diperlukan proses pengujian dengan membandingkan dengan tindakan-tindakan lain dalam suasana yang bersamaan, yang juga kita ketahui. 20
  • 21. Mamang diakui bahwa cara ini sulit dilakukan, bukan karena adanya pengalaman empirik, melainkan menurut pertimbangan logika. Satu-satunya yang dapat diperbuat ialah nengumpulkan perwatakan atau karakteristik sang pelaku sejarah. Sementara itu terjadi pula perbenturan dalam memberikan penjelasan sejarah. Di satu fihak kita berusaha memberikan penjelasan dengan nencari tahu dan menemukan maksud dan tujuan’ yang telah dirancang, yang melatar belakangi sesuatu kejadian. Di lain fihak kita mendasarkan pada kejadian fisik atau menemukan situasi yang menjadi lantaran. Kebingungan terjadi manakala membayangkan bahwa perbedaan jenis penjelasan itu akan mengakibatkan perbedaan alasan atau sebab. Akan tetapi tidak berarti kita bakal mengalami kesulitan dalam memberikan penjelasan dengan hukum sebab akibat tentang mengapa seseorang nempunyai kemauan, maksud, rencana dsb. Yang jelas ialah bahwa mempunyai keinginan tidak sama dengan mempunyai bisul, misalnya, atau gangguan syaraf, meskipun semuanya merupakan alasan untuk sesuatu perbuatan. Denikian pula sebuah tawaran hadiah dapat pula menjadi sebab terjadinya suatu perbuatan. Dalam sejarah dikenal perbedaan dalam pendekatan antara kaum materialis dan kaum idealis. Di satu fihak mereka beranggapan bahwa pendekatan kaum materialis mempunyai status ilmiah. Di lam fihak mereka, kaum idealis beranggapan tentang perlunya mempertahankan kebebasan dari jiwa manuaia. Menurut Karl Marx, fikiran serta gagasan pada diri manusia hanya merupakan “omong kosoag yang lahir dari landaaan materiil”. Sebaliknya Collingwood beranggapan bahwa yang disebut “omong kosong” itu merupakan kekuatan dan hidup yang dapat mengendalikan dunia dan mengubahnya. Dia menyebutkan suatu aktivitas manusia yang pada dasamya merupakan alasan, fikiran, maksud dan rencana, Dunia serta manusia, katanya, merupakan atau terdiri dari materi dan fikiran. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Dalam filsafat sejarah sesuatu penafsiran atas kejadian, sangat tergantung pada interes sang peninjau. Selanjutnya tindakan manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan fikiran manusia itu. Mungkin benar bahwa fikiran, maksud, idea dsb. dari manusia adalah hasil dari aktivitas tubuh yang bersifat materi, namun tidak berarti bahva penjelasan atas dasar fikiran ataupun idea manusia menjadi mubazir. Sekali lagi ternyata 21
  • 22. bahwa sesuatu kejadian tidak bisa hanya dapat dicarikan penjelasannya dari satu sebab yang bersifat mutlak. Jadi jelas sudah bahwa tidaklah benar bahwa seluruh perilaku manusia hanya dapat diterangkan dengan hukum sebab akibat yang amat bersifat deterministis. E. KOMENTAR Para politisi sering berusaha mengambil manfaat dari sejarah dalam usaha mereka menentukan berbagai kebijakan politik mereka, karena mereka beranggapan bahva dengan mempelajari sejarah orang dapat meramalkan sesuatu kejadian yang bakal datang. Ini merupakan contoh dari pengakuan terhadap kebenaran anggapan bahwa sejarah dapat berulang, meski dalam situasi dan kondisi yang berlainan. Sebenarnya perbincangan tentang benar tidaknya anggapan semacam itu masih tetap berjalan di kalangan ahli filsatat sejarah. Gardiner merupakan salah seorang di antara yang tidak cenderung membenarkan kebenaran gagaaan itu, karena dia menolak penggunaan hukum sebab akibat dalam menjelaskan kejadian-kejadian sejarah. Hukum sebab akibat itu hanya dapat barlaku dalam masalah ilmu pengetahuan alam, di mana kejadian atau sesuatu gejala dapat diulang kembali, termasuk dalam percobaan, karena kejadian-kejadian itu tidak tergantung pada faktor ruang, waktu maupun situasi. Berbeda halnya dengan kejadiankejadian yang menyangkut manuaia dan yang terjadi di masa lampau. Akan tetapi sementara itu seluruh kejadian sejarah bagainanapun harus dapat dijelaskan. Dalam kaitan dengan ini para sejarawan mengambil peranan untuk dapat memberikan penjelasan seluruh kejadian sejarah itu. Dalam buku The Nature of Historical Explanation ini Gardiner telah menjelaskan bagaimana perbedaan yang terjadi di kalangan ahli filsafat sejarah, tentang usaha memberikan penjelasan terhadap peristiwa- periatiwa sejarah. Gardiner sendiri beranggapan bahwa usaha menjelaskan saling hubungan dalam peristiwa-peristiwa sejarah masih sulit. Hal itu sangat tergantung pada kepentingan serta pandangan hidup yang dianut sejarawan. Henry Pirenne beranggapan bahwa perbedaan penjelasan dapat timbul di kalangan sejarawan, tergantung pada tingkat imajinasi, kreativitas dan konsepnya tentang 22
  • 23. manusia. Meskipun demikian dia tidak dapat melepaskan manusia sebagai sejarawan dari faktor sosial, budaya, lingkunsan nasionalnya dsb. Jadi tidak hanya tergantung pada kepribadian setiap sejarawan itu sendiri. Nyatalah sudah bahwa tugas sejarawan ialah menyampaikan fakta masa lampau serta memberikan penjelasan hubungan antar fakta, sehingga membuat segalanya menjadi jelas. Semuanya menjadi semacam sintesis dan hipotesis yang dllakukan oleh sejarawan itu sendiri. Dengan penjelasan yang diberikan oleh sejarawan itu masyarakat dapat menerimanya sebagai sebuah realitas. Dengan demikian beban yang diberikan oleh bapak sejarah, Herodotus, dapat dilaksanakan oleh para sejarawan. Seperti kita ketahui Herodotus beranggapan,bahwa tugas wan ialah menyampaikan apa-apa yang diperbuat oleh orang-orang di masa lampau, agar tidak dilupakan oleh manusia pada generasi sekarang dan yang akan datang. Oleh Herodotus ditegaskan bahwa “Historia Vitae Magistra” yang berarti “Sejarah merupakan guru kehidupan”. Demlkian pentingnya masalah penjelasan dalam sejarah bagi Gardiner, sehingga dia nengemukakannya dengan cara berhati-hati. @@@ Catatan : Tulisan di atas merupakan karya tulis berbentuk Laporan Buku berjudul The Nature of Historical Explanation yang ditulis oleh Patrick Gardiner, yang disusun sebagai salah satu tugas dalam rangka perkuliahan Dimensi Sejarah (SEJARAH 500) yang diampu Prof. DR. Sartono Kartodirjo, ketika menempuh studi pada Sekolah Pasca Sarjana (SPS) IKIP Bandung pada tahun 1981. @@@ 23
  • 24. 2. TANTANGAN SEJARAH PENDAHULUAN Orang kebanyakan di manapun di dunia, termasuk di Amerika, biasa mengatakan agar kita menyampaikan apa adanya. Ungkapan tadi secara tidak sadar seperti menyampaikan pendapat sejarawan terkenal dari Jerman, Leopold von Ranke. Untuk menulis sejarah haruslah apa adanya. Menurut kalimat aslinya "wie es eigentlich gewesen", atau “how it really was”. Namun dalam kenyataannya ungkapan itu sulit dilaksanakan. 24
  • 25. Ternyata tidaklah sama antara pertanyaan “Apa yang terjadi (hapened?”, “Apa yang kita ingat (recall)?”, “Apa yang dapat kita temukan kembali (recover)?”, “Apa yang dapat kita susun (relate)?”. Sama sulitnya juga bagi kita bagaiamana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seringkali kita sangat tergoda untuk menyampaikan berbagai peristiwa sebagaimana kita harapkan terjadi, ketimbang apa yang sesungguhnya terjadi. Bernard Lewis menawarkan tiga tipe batasan tentang sejarah, lengkap dengan ilustrasinya dengan peristiwa yang terjadi dalam sejarah di Timur Tengah. Ketiga tipe sejarah itu yaitu “sejarah sebagaimana diingat (history-remembered)”, “sejarah sebagaimana ditemukan kembali (recovered)”, dan “sejarah sebagaimana ditemukan yang belum dikenal sebelumnya (invented)”. Lebih lanjut Lewis menegaskan, bahwa yang dimaksud dengan : remembered “sebagai salah satu tipe sejarah adalah kenangan kolektif yang diwarisi tentang sesuatu komunitas di masa lampau, yang disampaikan lewat karya sastra, ritus, maupun nyanyian yang telah digunakan oleh para pemimpin karena dipandang penting untuk diingat” (the inherited collective memory of a community passed on through literature, ritual, and song that leaders choose to remember as significant). Kemudian yang dimasuk dengan recovered “adalah pengetahuan berkenaan dengan peristiwa, manusia, dan pikiran yang telah terlupakan, kemudian diperoleh kembali, dan berhasil di susun kembali oleh para sarjana” (the knowledge of events, persons, and ideas once forgotten and then retrieved and reconstxcructed by scholars). Sedangkan yang dimaksud dengan invented “adalah sejarah yang lengkap dengan motif-motif yang tersembunyi. Tipe ini merupakan hasil penafsiran atas sejarah yang ‘remembered’ maupun ‘recovered’, dan dirakit, kalau tidak – dan ini sering terjadi – disusun agar sesuai dengan corak politis yang khusus, ideologis, ataupun tujuan nasional. (history with an ulterior motive. Interpreted from remembered and recovered history— and fabricated when not—it is often tailored to fit specific political, ideological, or nationalistic goals. @@@ 25
  • 26. Tentang penulis buku tersebut dapat dikemukakan, bahwa Bernard Lewis adalah direktur Lembaga Riset Annenberg untuk kajian-kajian tentang masalah Yahudi dan Timur Dekat. Beliau juga merupakan Guru Besar Kajian Timur Dekat pada Cleveland E. Dodge, di samping sebagai Guru Besar Emiritus pada Princeton University. Beliau banyak menulis buku-buku sejarah Islam maupun masalah Timur Tengah. BAB 1 : MASADA DAN CYRUS Pendahuluan Peringatan peristiwa-peristiwa sejarah dengan menyelenggarakan festival merupakan kebiasaan orang Timur Tengah kuno yang masih dilaksanakan sampai sekarang. Perayaan semacam itu diselenggarakan juga sebagai upacara kenegaraan di masa modern, sementara di masa-masa sebelumnya diselenggarakan dengan cara perayaan keagamaan yang didahului dengan ritus puasa. Dalam masa-masa yang lebih kemudian perayaan-perayaan itu ditambah dengan bentuk baru, yaitu perayaan hari kemerdekaan negara baru di kawasan Timur Tengah maupun perayaan hari ulang tahun atau peringatan kemenangan revolusi maupun pembebasan berupa rentetan kudeta yang terjadi. Hari-hari itu kemudian dikenal sebagai “hari besar nasional”. Salah satu hari nasional yang diperingati oleh bangsa Turki, misalnya, adalah peristiwa kemenangan Turki atas Konstantinopel yang diperingati terjadi 500 tahun silam. Peringatan ulang tahun ke 500 dirayakan pada tahun 1953. Di Kairo pemerintah Mesir pada tahun 1969 menyelenggarakan upacara peringatan yang ke 1000 tahun berdirinya kota Kairo oleh Khalifah al-Mu'izz dari dinasti Fatimiyah. Pada tahun 1971 bangsa Turki juga memperingati peristiwa penaklukan kaum Muslimin- Turki atas Anatolia yang semula dikuasai kaum Nasrani-Yunani, yang ditandai oleh kemenangan pasukan Turki di Manzikert 900 tahun silam. Di samping peringatan semacam itu masih ada jenis peringatan atas kalahiran, keberhasilan, atau kematian tokoh, baik lokal, maupun nasional. Tokoh itu dipahlawankan oleh manusia, sehingga tempat kelahirannya diperingati oleh mereka. 26
  • 27. Peringatan yang ke 1000 tahun hari kelahiran kawasan-kawasan Muslim seperti Avicenna juga dirayakan di Arab, Persia, maupun Turki. Karena tokoh itu dianggap sebagai pahlawan bersama, yang dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan. Di kawasan Timur Tengah peringatan peristiwa-peristiwa historis itu kebanyakan mulai jarang dirayakan. Kita melihat adanya dua kecenderungan dalam bentuk peringatannya. Pada beberapa negeri memang masih diperringati secara besarbesaran sbagai peristiwa utama. Salah satunya adalah peringatan atas perjuangan matimatian kaum Yahudi menjelang kejatuhan Masada dalam pemberontakan kaum Yahudi melawan penguasa Romawi pada tahun 66 Masehi. Peristiwa yang lain berkenaan peringatan yang diselenggarakan Shah Iran untuk merayakan dibangunnya kekaesaran Persia 2500 tahun silam oleh Cyrus Agung. Keduanya memiliki kesamaan dalam motif penyelenggaraannya. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa diselenggarakan penuh bernuansa politik, dalam artian perayaan itu untuk membangun citra kemegahan secara politik maupun kejayaan militer. Ini menjadi berbeda dengan motivasi yang bersifat keagamaan seperti di masa-masa sebelumnya. Keduanya juga bersandar pada dukungan resmi negara. Peringatan atas kejayaan Cyrus dimaksudkan untuk kepentingan Shah sendiri dalam membangun citra bahwa Shah Iran, Muhammad Riza Pahlevi adalah penerus kejayaan Cyrus. Hal yang sama juga dilakukan oleh Saddam Hussein yang menempatkan dirinya sebagai penerus kejayaan Kaesar Hammurabi di masa Babylonia. Sedangkan peringatan Masada oleh pemerintah Israel dimaksud untuk membangun citra kepahlawanan bangsa Israel dalam perjuangan melawan dominasi bangsa asing, yaitu Romawi. Tergugah oleh kisah sedih berupa kekalahan mereka oleh Romawi, mereka ingin bangkit menemukan harga diri bangsa dalam kejayaan militer. Reruntuhan Masada yang telah mengubur tulang belulang prajurit Yahudi di masa lampau, telah membangun paratrop Israel modern yang bersemboyan sangat imajinatif : “Masada tak akan dikalahkan lagi”. Keduanya telah menjadi momentum strategis untuk diperingati sebagai hari perayaan nasional. Peristiwa yang diperingati oleh kedua bangsa itu memang bertolak belakang, yang satu sebuah kekalahan dan kehancuran, dan yang lain sebuah kemenangan berupa 27
  • 28. membangun kerajaan, namun telah menimbulkan sebuah semangat yang sama, yaitu pengabdian dan kepahlawanan. Kedua peristiwa sejarah tersebut, Masada maupun Cyrus, nyaris sudah dilupakan oleh kedua bangsa itu, Israel maupun Iran, namun peristiwa-peristiwa itu telah ditemukan kembali (recovered) dari sumber lain dari luar tata nilai budaya mereka. Pengalaman Istrael Tradisi sistem Rabbi mereka maupun dalam tradisi agama Yahudi lainnya tidak mengenal kata Masada. Dalam literatur kerabbian maupun bahasa Ibrani bahkan tidak menemukan kata itu. Satu-satunya sumber informasi tentang kasus Masada hanyalah sebuah kronik susunan Josephus, seorang Yahudi yang telah murtad. Kronik itu ditulis dalam bahasa Yunani tentang warisan budaya tradisional Yahudi. Dari sebuah adaptasi kronik Josephus yang dilakukan oleh seorang Yahudi Italia samar-samar diketahui cerita tentang Masada. Adaptasi itu memang banyak dikutip dan dibaca masyarakat Yahudi sejak abad 10 Masehi. Kajian sudah dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu kajian arkhaeologis dan kajian literer terhadap literatur keagamaan. Antara lain kajian terhadap Kitab Taoret, yang dimulai dari cerita tentang perpindahan yang dilakukan nenek moyang bangsa Israel, yaitu Nabi Ibrahim, dari Negeri Ur di Khaldea ke Mesir. Selanjutnya juga dilakukan kajian mengikuti ‘exodus’ atau perpindahan besar-besaran dari Mesir ke Tanah yang dijanjikan, yaitu Kanaan di Palestina. Di Bukit Tursina untuk menerima ‘Perintah Yang Sepuluh’. Dalam kajian arkhaeologis ditemukan petunjuk penaklukan Kekaesaran Romawi atas tanah orang Israel. Demikian juga mereka yang mati-matian mempertahankan Masada juga telah dilupakan oleh bangsanya, namun dikenang oleh seorang Yahudi yang telah murtad, dan menuliskannya dengan bahasa asing dan untuk orang asing. Namun kedua peristiwa itu, Masada dan Cyrus, kemudian ditafsirkan, dan diberikan peranan baru dalam sejarah modern dari bangsa yang terhormat. 28
  • 29. Seperti sudah dikenukakan di depan pemerintah Israel modern telah memanfaatkan peristiwa Masada itu dengan maksud untuk membangun citra kepahlawanan bangsa Israel dalam perjuangan melawan dominasi bangsa asing, yaitu Romawi. Pengalaman Persia Apa yang terjadi dengan bangsa Persia tidak jauh berbeda dengan yang terjadi dengan bangsa Israel. Mereka juga nyaris tidak mengenal tokoh bernama Cyrus yang dikenal sebagai pendiri kekaesaran Persia itu, bahkan nama itupun asing bagi bangsa Persia. Cyrus memang sudah tiada sejak dua setengah milenium silam, dan sudah dilupakan oleh bangsa Persia, namun tetap dikenang dengan penuh hormat oleh bangsa lain. Sumber informasi tentang Cyrus berasal dari literatur asing berbahasa Yunani, sementara bangsa Persia memang bukan bangsa yang membaca literatur berbahasa Yunani maupun Injil. Di samping itu ternyata ada kesamaan dalam cara maupun jalannya mereka menemukan kembali sejarah masa lampau yang nyaris tidak diketahui di antara dua bangsa itu, bahkan elemen-elemen dari peristiwa itupun mitip. Yang jelas mereka menggunakan kajian arkhaeologis maupun kajian kepustakaan. Mereka melakukan penggalian atas berbagai situs yang diperkirakan berkaitan dengan pembantaian di Masada. Di Persia para peneliti melakukan penggalian atas peninggalan yang berkaitan dengan kegiatan Cyrus sebagai pendiri Persia. Para ahli sejarah dan linguistik yang berebeda juga melakukan kajian atas literatur yang berkaitan dengan peristiwa terkait, terutama yang ditulis oleh para pemimpin agama. Dari kajian-kajian itu berhasil ditemukan (discovered) dan sejarah masa lampau, setelah melakukan pendekatan kajian disusun (recovered) sejarah kritis yang dikembangkan oleh ilmuan modern Eropa. Kajian semacam itu tidak pernah dilakukan oleh para ilmuan lama sampai abad renaisanse. Temuan (invention) sejarah itu bukan merupakan temuan sesungguhnya, sebab yang ditemukan (invented) hanyalah peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Nama Cyrus sebenarnya sudah sangat dikenal di Eropa Abad Pertengahan, dan bahkan nama itu dikenal dalam kisah-kisah kuno di Eslandia. Dalam masyarakat Islam 29
  • 30. nama itu tidak pernah dimunculkan dalam masyarakat Persia, Bahkan nyaris semua peristiwa yang berkaitan dengan masa-masa sebelum Islam telah disingkirkan dan secara harfiah dikuburkan dalam sejarah mereka. Di Iran atau Persia situasi seperti yang terjadi di Mesir, dengan berbagai temuan arkhaeologis yang spektrakuler, meskipun agak terlambat diketahui oleh bangsa Iran sendiri. Berbeda halnya yang terjadi di banyak negeri berbahasa Arab, karena identitas mereka telah tenggelam dalam bangsa Arab Islam. Sebaliknya dari sekian banyak bangsa-bangsa yang dibebaskan oleh Arab Islam, merekalah yang bisa tetap bertahan dengan kondisi mereka. Bangsa Persia telah memeluk Islam, dan menggunakan huruf Arab, meski tetap berbicara dengan bahasa Persia. Mereka tetap mempertahankan bahasa asli mereka serta mempertahankan corak budaya asli secara terpisah. Kesadaran itu masih sebatas corak budaya dan belum sampai menjadi gerakan politik. Sekitar satu atau dua abad kemudian setelah pembebasan oleh Arab Islam, bangsa Persia mulai berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi penulisan sejarah nasional mereka, namun tidak banyak yang diperoleh. Kejayaan bangsa Sasanid di masa lampau hanya menjadi kenangan, namun hampir semua tokoh cikal bakalnya nyaris terlupakan. Bangsa Persia nampaknya mulai jatuh kembali pada sebuah mitologi yang kemudian berhasil membangun landasan bagai terbentuknya kisah kepahlawanan agung tentang Firdawsi, Sang Shahnama. Mereka juga berhasil menyusun penulisan sejarah Persia Muslim sebagai sejarah Iran kuno hingga masa kini. Agak bertentangan dengan kecenderungan itu adalah, bahwa kenangan bersama itu hanya meninggalkan dua nama tokoh besar dari kegelapan masa lampau, sementara nama-nama seperti Cyrus, Xerxes, sama sekali terlupakan Nama Darius memang diingat dalam sejarah mereka, namun posisinya masih membingungkan, karena dirancukan dengan nama tiga kerajaan. Tokoh yang paling diakrabi oleh rakyat Iran justru Alexander, yang dianggap pahlawan dalam legenda bangsa Persia. Tokoh itu lebih dikenal dengan nama Iskandar. Sebagai seorang penakluk asing dari Makedonia tokoh itu justru diakui sebagai tokoh seorang pangeran pribumi Persia yang datang untuk merebut kembali tahta yang telah direnggut orang. Kebangkitangairah untuk mendambakan kehadiran masa lampau dalam alur sejarah nasional Persia terlihat dalam karya-karya sejarawan modern, para novelis 30
  • 31. maupun para penyair yang berorientasi pada kepentingan sesuatu dinasti yang tengah berkuasa. Langkah-langkah tersebut memiliki beberapa maksud. Pertama, untuk mengokohkan semangat perlunya kesinambungan Persia dan identitas nasional bagi sebuah tanah air. Kedua, untuk menghubungkan hal di atas dengan institusi kerajaan sebagai sebuah daya pengikat maupun pusat kesetiaan. Selanjutnya, dimaksudkan juga untuk memperkuat kesadaran nasional, dan dalam waktu bersamaan, melemahnya pengaruh keagamaan seseorang. Dan tidak bisa dilupakan sebagai upaya untuk membuat bangsa Persia lebih dahulu merasa sebagai orang Persia, baru kemudian sebagai umat Muslim. Pengalaman Mesir Keberhasilan dunia menemukan kembali sejarah masa lampau Persia tampaknya merupakan hasil upaya yang tidak kenal lelah bangsa Eropa. Belakangan memang para ilmuan Rusia maupun Amerika terlibat juga dalam upaya itu. Sedangkan dalam masyarakat Muslim di Timur Tengah baru setapak demi setapak dimulai, termasuk yang dialami oleh Mesir. Proses penggalian dan pencarian akar sejarah Mesir itu diawali dengan penggalian dan temuan Batu Rosetta. Setelah itu kajian juga dilakukan atas buku-buku sejarah masa lampau. Di sana diketemukan sebuah ketegangan antara dua buah kepribadian dalam masyarakat Mesir, antara yang Arab-Muslim dan yang Mesir asli. Di antara mereka terdapat sejumlah perbedaan, baik aspek identitas diri, aspek sejarah masa lampaunya. Ketegangan itu dalam penceritaan tentang kisah kenangan, maupun aspek seperti didramatisasikan oleh versi Quran ‘exodus’ Bani Israil. Dalam versi Quran Firaun digambarkan sebagai tokoh antagonis, sementara Bani Israil di bawah bimbingan Nabi Musa digambarkan sebagai pahlawan, bahkan lebih dari itu digambarkan sebagai ‘bangsa terpilih’ serta mendapat bimbingan Tuhan. Ketegangan itu berujung pada berkobarnya peperangan antara para pewaris Firaun dengan pewaris Bani Israil. Dalam masa modern seorang penulis perempuan bangsa Mesir, menggunakan nama samaran Bint al- Shati’, yang berarti ‘Anak Perempuan Bengawan Nil’, telah menulis sebuah artikel yang amat atraktif dan provokatif beberapa hari menjelang 31
  • 32. Perang Enam Hari, antara Mesir dengan Israel. Tulisan itu seolah-olah menyalahkanversi Quran, dengan mengatakan bahwa Firaun (yang dimaksud adalah pasukan Mesir) adalah benar, dan Bani Israil (yang dimaksud pasukan adalah pasukan Israel) salah. Pengalaman Negeri-Negeri Arab Di negeri-negeri berbahasa Arab di Timur Tengah tanggapan atas temuan sejarah masa lampau mereka agak lamban, bahkan agak tidak bersemangat, karena dianggap kurang memiliki makna politik yang meyakinkan. Berbeda dengan yang lain adalah penguasa Irak yang agak memberi sedikit perhatian pada Assyria maupun Babylonia, meskipun tidak sampai mengidentikkan diri mereka dengan masa lampau yang penuh kejayaan itu. Ketika karya Bernard Lewis ini diterbitkan pada tahun 1987 Saddam Hussein belum berkuasa di Irak. Seperti halnya Shah Iran Muhammad Reza Shah Pahlevi yang berkuasa di Iran dan mengklain dirinya sebagai penerus Kaesar Cyrus, Saddampun pernah menyatakan dirinya sebagai penerus Kaesar Hammurabi dari Babylonia. Waktu Presiden Saddam digulingkan oleh Presiden Bush dengan serangan militer bersama sekutunya pada tahun 2003 masyarakat dunia menyaksikan patung-patung Saddam yang digambarkan sebagai Hammurabi ditumbangkan dengan traktor sebagai lambang penggulingan atas Saddam Hussein. Di Lebanon lain lagi yang terjadi, yaitu kaum Maronit di sana merasa mereka sebagai penerus bangsa Phoenisia. Dengan sendirinya mereka dianggap oleh kaum Muslimin sebagai kekuatan yang anti-Arab ataupun anti pan-Arab. Situasi yang sama terjadi pula di Syria. Di sana Partai Rakyat Syria yang tidak mendukung gagasan ‘nasionalisme Arab’, karena mereka mengaku sebagai keturunan bangsa Aram Purba dan menghendaki pembangunan kembali peradaban Aram di Syria. Sayang sekali partai tersebut kemudian dinyatakan sebagai partai terlarang. Sepanjang masa berkobarnya semangat pan-Arabisme telah ditemukan cara untuk mengatasi gejolak itu. Caranyta dengan melarang semua kecenderungan untuk kembali pada semangat kejayaan masa lampau, kecuali yang berorientasi pada Arab. Nampaknya ada beberapa jenis akibat yang terjadi pada beberapa daerah yang berbeda dengan 32
  • 33. kebijakan itu. Pertama, makin menguatnya penonjolan identitas ‘kearaban’, dan sekaligus menolak semangat “firaunisme’ seperti yang berkembang di Mesir. Kedua, semangat Arabisme yang telah berkembang sedemikian cepat, telah memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan. Dunia Arab bahkan mengklaim bahwa semua kemajuan yang dicapai merupakan hasil kerja keturunan Semitis di masa lampau. Ketiga, munculnya tuntutan bahwa bangsa Kanaan merupakan bagian dari bangsa Arab di Timur Tengah. Mereka menuntut Palestina sebagai milik bangsa Arab, sebelum Israel membangun permukiman di sana. Bukti sejarah menunjukkan bahwa ekspansi bangsa Arab sampai ke Afrika Utara bukan merupakan sebuah rangkaian penaklukan, melainkan sebuah proses pembebasan atas tanah-tanah yang telah dikuasai bangsa-bangsa Persia, Byzantium dan kaum penjajah lainnya. Ketika semangat pan-Arabisme mulai menurun, mulai merebaklah gejala perlawanan terhadap semangat itu. Di Mesir misalnya, mulai menggeliat gerakan revivalisme Mesir yang berbeda dengan identitas Arab. Bahkan di negeri-negeri yang dikenal sebagai kawasan Bulan Sabit Sejahtera maupun di Afrika Utara pun, mereka cenderung mendambakan kembalinya kejayaan masa kekuasaan Phoenisia, Armenia, maupun Karthago di masa lampau. Meskipun demikian semangat itu hanya merupakan gerakan budaya dan tidak mempunyai kekuatan sebagai gerakan politik. Hal itu disebabkan karena pan-Arabisme tetap merupakan satu-satunya ideologi yang mapan dam efektif di kalangan rakyat. Satu-satunya gerakan penolakan terbuka semangat pan-Arabisme hanyalah dari kelompok kaum penyair yang terhadap menamakan dirinya sebagai ‘al-Rafidun’ atau kaum pembangkang. Syair-syair mereka menunjukkan kerinduan mereka akan datangnya kembali kejayaan masa-masa sebelum ‘Penaklukan Arab’, yang hendak dijadikan sebagai identitas bangsa. Gerakan itu mirip dengan gerakan kaum “Kanaanisme” yang muncul dalam periode Israel modern. Mereka merindukan kejayaan bangsa Israel yang dikenal sebagai ‘kaum jahiliah Yahudi yang sekuler’, sebelum kebangkitan “Yahudi yang bersejarah”. Pengalaman Turki 33
  • 34. Di Turki corak kerinduan pada masa lalu lebih unik lagi, karena bukan hanya dua melainkan ada tiga macam kecenderungan. Pertama, kerinduan akan kembalinya kejayaan masa Kekaesaran Turki di bawah Bani Usmani di abad pertengahan. Kerinduan ini paling merata di kalangan rakyat Turki, yang terungkap dalam buku-buku sekolah, syair-syair, maupun dalam kesadaran umum rakyat. Dari sejarah yang berhasil disusun tentang negeri-negeri Muslim abad 19 dan 20 dapat dilacak adanya dua arah yang berbeda, selain satu yang pertama di muka. Yaitu, yang menunjukkan sejarah Turki lokal sebelum kedatangan bangsa Turki dari Asia Tengah. Sejarah yang tersusun menunjukkan arah ke-kejayaan bangsa-bangsa dan peradaban kuno, seperti bangsa Anatolia, dan menjurus ke masa Hitttte. Tentu saja mereka tidak memasukkan bangsa Yunani maupun Armenia, yang tercatat bekerjasama dengan kaum Yahudi. Yang ketiga, sejarah Turki yang mengarah pada uraian mengenai bangsa-bangsa Turki sebelum menetap di negeri Turki sekarang, artinya ketika mereka masih menetap di tanah leluhur mereka di Asia Tengah. Kembali kita menjumpai dua arah yang berbeda dalam arah uraian sejarah. Di satu sisi sejarah mengarah ke semangat patriotisme bangsa Turki yang senantiasa menunjukkan kesetiaan pada tanah yang mereka tinggali. Sebagaimana kita ketahui bangsa Turki telah mengembangkan diri di negeri-negeri baru dalam perjalanan hidup mereka, yang disebut sebagai ‘tanah air kedua’. Pada sisi lain sejarah mengarah pada semangat pan-Turkisme sebagai doktrin kebangsaan mereka atas dasar kesamaan identitas orang-orang dari berbagai negeri yang berbahasa Turki. Di kalangan bangsa Arab semangat pencarian identitas diri mereka lebih menyukai yang berbau pan-Arabisme ketimbang yang berbau patriotisme lokal. Namun lama-kelamaan semangat yang lebih mementingkan lokalisme makin menonjol. Contoh yang paling menonjol adalah yang terjadi di Turki. Kemal Ataturklah yang mengobarkan semangat patriotisme lokal dan menolak membangkitkan semangat pan-Turkisme. Semangatnya itu dituangkan dalam program ‘Partai Rakyat Republik’ yang dipimpinnya pada tahun 1935. Dengan tegas semangatnya itu dinyatakan dalam penonjolan identitas politik dalam penulisan sejarah Turki. Dalam program partai dinyatakan, bahwa “tanah tumpah darah merupakan negeri yang suci dalam wadah batas-batas politik, tempat bangsa Turki hidup dalam pasang surutnya sejarah masa lalu, serta kejayaan masa lampau yang masih hidup di kedalaman tanah air.” 34
  • 35. BAB 2 : MEDIA DAN PESAN Ungkapan paling awal dari kenangan kolektif tentang masa lampau sesuatu komunitas biasanya berbentuk tak tertulis. Di sejumlah tempat di Afrika misalnya, nyanyian yang disenandungkan oleh suku-sukiu bangsa pada kesempatan pertemuan tahunan hasil ternak mengandung sejarah suku bangsa yang mencakup sejumlah generasi, dan kadangkala meliputi masa tiga abad lamanya. Biasanya secara kronologis kisah-kisah tentang peristiwa yang terjadi tidak begitu jelas, namun seringkali berbagai persaksian yang diceritakan oleh para musafir asing, seperti dari bangsa Arab maupun Portugis, bisa lebih menjelaskannya yang mendekati akurasi kejadian yang sesungguhnya. Epos tentang Homerus dari Yunani kuno, legenda dari penduduk Iceland, mitologi pertempuran di kalangan bangsa Arab sebelum masa Islam dsb. mengandung maksud yang sama. Syair-syair kepahlawanan di kalangan bangsa primitif itu mengisahkan perjuangan di antara para pahlawan dalam menegakkan kebenaran, yang mengokohkan nilai moral cerita. Tentu saja hal itu tidak hanya berlaku pada kejadian historis yang betul-betul terjadi, melainkan juga pada mitologi agama, maupun cerita yang murni fiktif. Biasanya kisah-kisah itu berkenaan dengan konflik atau pertempuran antara tokohtokoh pahlawan yang melawan kekuatan dari luar. Tokoh musuh dari luar itu bisa mewakili dunia manusia biasa, dewa maupun makhluk setengah dewa. Yang menarik adalah bahwa dalam kisah-kisah kepahlawananitu nilai utama yang ditonjolkan adalah hakekat perjuangan serta kualitas yang yang terkandung di dalamnya, dan bukan hasil akhir perjuangan itu sendiri. Barangkali pahlawan dalam kisah itu justru mengalami kekalahan. Peristiwa kepahlawananitu barangkali justru berakhir dengan kekalahan atau kematia n tokoh pujaan mereka. Hal yang penting dari kisah itu justru harga diri dan keberanian dari sesuatu suku bangsa. Barangkali pemujaan orang Yahudi atas Masada termasuk peristiwa baru, karena mereka tidak mengalami langsung. Berbeda halnya dengan bangsa Serbia yang langsung mengalami peristiwa pertempuran Kosovo pada tahun 1389, yang dirasakan benar sebagai peristiwa heroik bagi bangsa Serbia. 35
  • 36. Nyata sekali diceritakan dalam sejarah betapa Kosovo mengalami kekalahan oleh serbuan pasukan Turki, yang telah berakibat pada penguasaan Turki atas bangsa Serbia. Bagi para penyair Serbia akhir peristiwa itu tidak menjadi masalah, namun yang lebih penting adalah kepahlawanan para pejuang Serbia serta raja mereka. Kisah mengenai pertempuran Kosovo itu telah berhasil mengobarkansemangat perlawanan bangsa itu terhadap setiap penyerbuan atas negeri mereka selama berabad lamanya. @@@ Kebanyakan masyarakat primitif memiliki kisah-kisah kepahlawanan yang telah menjadi sebuah kenangan kolektif bagi sesuatu kelompok masyarakat, dan telah berhasil mengarahkan terjadinya kesetiaan-kesetiaan bagi anggota dalam sesuatu kelompok tertentu, hingga mampu mendorong terjadinya sesuatu peperangan antar kelompok dan berbagai macam konflik lain. Ternyata jenis kisah-kisah yang berfungsi seperti itu, baik yang bersifat kesejarahan maupun tidak, sama sekali bukan hanya terbatas dimiliki oleh masyarakat primitif. Tampaknya ada perbedaan yang penting yang membedakan antara kisah-kisah yang lahir secara spontan dalam masyarakat, yang disebut ‘epos primer’, maupun ‘epos sekunder’, yang sengaja disusun atas dasar peristiwa-peristiwa yang yang sungguh terjadi dan yang dirayakan setiap saat. Kisah jenis yang kedua yang disebut ’epos sekunder’ itu merupakan jenis yang tersurat, tertulis, dan lebih tersusun sebagai hasil peradaban yang lebih maju. Kita bisa mengambil contoh dalam masyarakat yang lebih kuno, misalnya dalam syair-syair dalam peradaban Yunani dan Romawi, yang mengandung perbedaan yang nyata. Syair-syair tentang pahlawan Homerus terlihat lebih spontan dan primer sementara epos tentang Aeneid dari Virgil dalam masyarakat Romawi terasa lebih menggambarkan kesadaran diri serta bersifat rekaan ulang. Kisah-kisah itu merupakan karya masyarakat kerajaan, dan bukan masyarakat pahlawan. Kisah-kisah itu bukan merupakan tradisi yang hidup, melainkan sebuah temuan berujud sastra. Katya sastra itu lebih merupakan rekaan yang disesuaikan dengan fantasi masa lampau. Lebih dari itu semua karya-kartya sastra itu menjadi media yang berisi pesan untuk mempromosikan kebijakan penguasa baru, yaitu Kaesar Agustus dari Romawi. 36
  • 37. Perbedaan seperti tersebut di atas bisa kita samakan dengan yang terjadi antara kisahkisah yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama dengan peristiwa dalam masa terkini. Kisah-kisah tentang Exodus yang dialami Bani Israil di bawah kepemimpinan Nabi Musa dalam Perjanjian Lama masih selalu diperingati orang Yahudi di masa modern sekarang. Dalam masyarakat Nasrani juga diperingati setiap tahun peristiwa-peristiwa utama yang berkaitan dengan sejarah perkembangan agama. Lambang palang salib misalnya, merupakan salah satu lambang yang senantiasa diyakini sebagai pengakuan akan kebenaran peristiwa ‘penyaliban’ atas Yesus Kristus. Demikian juga peringatan Hari Natal, yang merupakan hari kelahiran Nabi Isa, diyakini terjadi dalam bulan Desember tanggal 25, meskipun sebenarnya di kalangan ahli sejarah masih diragukan kebenarannya. Demikian juga yang terjadi dengan peringatan Paskah yang dilakukan berkaitan dengan Hari Wafat dan Kenaikan Yesus Kristus atau Nabi Isa. Peristiwa yang terakhir ini dianggap tidak diragukan kebenarannya dan keasliannya, dan bukan rekayasa. Di samping itu penganut agama Nasrani masih juga memperingati hari-hari besar yang berkaitan dengan hari wafatnya para orang suci (santo) atau para martir (syuhada) yang meninggal sebagai tumbal. Sebagaimana dalam agama Yahudi dalam agama Nasranipun kebaktian atau liturgi merupakan wujud peringatan kepahlawanan yang terjadi di masa lampau. Islam sebagai agama lebih memiliki sejarah yang terbuka, termasuk proses kelahirannya di banding agama-agama serumpunnya, yaitu Yahudi maupun Nasrani. Misalnya, kita tidak tahu secara jelas siapa pendiri agama Yahudi, demikian juga dengan agama Nasrani. Yang jelas adalah bahwa pendiri agama Nasrani telah wafat di tiang salib, dan pengikutnya mengalami nasib buruk selama awal perkembangan, yaitu menjadi golongan minoritas dalam dominasi Romawi selama berabad-abad. Tidak demikian halnya dengan agama Islam. Pendirinya, yaitu Nabi Muhammad, selama hidupnya bergelut dengan penyebaran agama Islam. Lebih dari itu nabi pendiri itupun telah menghabiskan umurnya untuk mempraktekkan ajaran agamanya dalam raranan masyarakat, baik sebagai kepala negara, panglima tentara maupun sebagai hakim agung. Sejarah tentang perkembangan agama Islam menyatu dengan sejarah hidup Nabi Muhammad. Oleh karenanya barangkali peringatan-peringatan keagamaan yang utama tidak berkaitan dengan peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan nabi, melainkan 37
  • 38. berkaitan dengan hal lain, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Ad-ha. Hari Raya Idul Fitri dirayakan seusai melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan. Sedangkan Hari Raya Idul Ad-ha merupakan upacara ritual yang dilaksanakan untuk mengenang peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim, istrinya dan anaknya, Nabi Ismail. Peringatan itu juga dilakukan oleh mereka yang melaksanakan ziarah ke dua tempat paling suci, yaitu Mekah dan Medinah. Peringatan yang lebih kecil dilakukan untuk mengenang kematian para orang suci atau wali. Dalam masyarakat Yahudi kebiasaan menuliskan kalender sejarah dikenal dengan nama ‘taqwim’, yang memasang rangkaian ulang tahun peristiwa penting di masa lampau. Adapun maksud peringatan-peringatan itu dipasang adalah untuk membantu penyelenggaraan peringatan sekaligus untuk membantu melakukan prediksi masa depan. Sampai masa modern sebagian besar peringatan-peringatan itu diselenggarakan dengan cara keagamaan. Termasuk yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang sekuler, di sana para pendeta memegang peranan besar dalam penyelenggaraannya, misalnya yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Amerika maupun Hari Penjebolan Penjara Bastille di Perancis. Gerakan yang berbau romantisme, yang penuh gambaran kejayaan di masa lampau, seperti tertera dalam novel-novel sejarah, telah melakukan sejumlah upaya yang berhasil mempengaruhi bentuk citra masa lampau yang terkenal. Selama abad ke 19 dan awal abad ke 20 para penulis novel sejarah bangsa Yahudi, Arab, Persia, maupun Turki telah berhasil membangun citra diri pada masyarakat sebagai pembaca yang terdidik secara sekuler, yang berguna bagi pencapaian konsekuensi politik. BAB 3 : SEBAGAIMANA YANG SEHARUSNYA TELAH TERJADI Orang kebanyakan di manapun di dunia, termasuk di Amerika, biasa mengatakan agar kita menyampaikan apa adanya. Ungkapan tadi secara tidak sadar seperti menyampaikan pendapat sejarawan terkenal dari Jerman, Leopold von Ranke. Untuk menulis sejarah haruslah apa adanya. Sesuai dengan kalimat aslinya dikatakan "wie es 38
  • 39. eigentlich gewesen", atau “how it really was”. Namun dalam kenyataannya ungkapan itu sulit dilaksanakan. Ternyata tidaklah sama antara pertanyaan “Apa yang terjadi (hapened?”, “Apa yang kita ingat (recall)?”, “Apa yang dapat kita temukan kembali (recover)?”, “Apa yang dapat kita susun (relate)?”.Sama sulitnya juga bagi kita bagaiamana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seringkali kita sangat tergoda untuk menyampaikan berbagai peristiwa sebagaimana kita harapkan terjadi, ketimbang apa yang sesungguhnya terjadi. Bernard Lewis menawarkan tiga tipe batasan tentang sejarah, lengkap dengan ilustrasinya dengan peristiwa yang terjadi dalam sejarah di Timur Tengah. Ketiga tipe sejarah itu yaitu “sejarah sebagaimana diingat (history-remembered)”, “sejarah sebagaimana ditemukan kembali (recovered)”, dan “sejarah sebagaimana ditemukan yang belum dikenal sebelumnya (invented)”. Dalam kesempatan ini Bernard Lewis melengkapi pandangannya tentang pengungkapan fakta sejarah dengan ilustrasi yang tepat, yaitu sejarah yang terjadi di Timur Tengah, khususnya dunia Islam. Contoh yang paling jelas adalah tentang penyusunan kembali sejarah hilangnya kejayaan Spanyol Islam. Dengan jatuhnya Granada pada tahun 1492, benteng terakhir kekuatan kaum Muslim di Semenanjung Iberia, berakhir sudah dominasi Muslim di sana. Kekuasaan Muslim di sana telah berlangsung selama lebih dari delapan ratus tahun. Pada tahun yang sama menyusul pengumuman dari para raja Katolik untuk mendirikan kerajaan-kerajaan Kristen di bekas kekuasaan ‘bangsa Moor dan Yahudi’ di seluruh tanah raja-raja Kristen di Spanyol. Kaum Muslim Spanyol banyak yang melarikan diri ke Afrika Utara, dan sebagian kecil saja dari mereka ke Timur Tengah. Dan untuk beberapa lama kenangan dan nostalgia pada tanah Andalusia yang telah hilang, masih bertahan. Pada awal abad ke 17 seorang sejarawan bangsa Maroko bernama al-Maqqari berhasil menyusun sebuah karya ensiklopedia yang cukup lengkap tentang riwayat perjalanan sejarah Spanyol Islam dari awal hingga akhir kajayaannya. Pada bagian terakhir sejarah kerajaan Muslim tersebut, tanah yang hilang tersebut yang telah lama memerintah dengan peniuh kejayaan, telah dilupakan oleh dunia Islam. Barangkali sedikit kenangan masa lampau yang penuh kejayaan itu masih tersisa di kalangan katurunan kaum pelarian yang tinggal di Afrika Utara. Selebihnya semua masa 39
  • 40. lampau yang jaya dari Spanyol Islam telah hilang dari kenangan. Dan penyusunan kembali sejarah periode ini seluruhnya merupakan hasil kerja sejarawan Eropa, termasuk bangsa Spanyol sendiri serta dari kebangsaan lain. Karya Al-Maqqari tentang kejayaan Andalusia diterbitkan untuk pertama kalinya di London pada 1840, yang merupakan hasil terjemahan ke bahasa Inggris yang tidak begitu baik oleh ilmuan Spanyol bernama Pascual de Gayangos. Sejarah Spanyol Islam sangat memikat perhatian orang Eropa di awal abad 19, karena menyimpan banyak sekali kekhasan Spanyol yang menjadi salah satu komponen karya sastra yang penuh romantika. Dalam salah sebuah karya Washington Irving misalnya, ditulis tentang masa tenggelamnya kejayaan Alhambra dan tenggelamnya kejayaan Spanyol Muslim. Kemudian kita juga bisa membaca karya sejarawan Perancis bernama Louis Viardot, buku berjudul ‘Essai sur I'histoire des arabes et des maures d'Espagne’, atau ‘Esei tentnag sejarah bangsa Arab dan Moor di Spanyol’, yang terbit di Paris pada 1833. Karya kaum Muslim tentang masa Spanyol Muslim yang pertama diterbitkan di Istanbul, pada 1863- 1864. Buku itu merupakan terjemahan dalam bahasa Turki dari buku berjudul ‘Bangsa Maghribi terakhir’ yang diterbitkan di Aljazair. Perhatian bangsabangsa Arab untuk menulis tentang masa lampau Spanyol Muslim tampaknya terangsang oleh dua hal. Pertama dan terutama, adalah kehadiran utusan Muslim dalam sebuah kongres kaum orientalis internasional. Di sana mereka berkenalan dengan kaum orientalis Eropa yang banyak memaparkan sejarah masa-masa Spanyol Muslim. Yang kedua adalah keputusan Sultan Abdulhamid II dari Kesultanan Turki Bani Usmani pada 1886 untuk mengirim utusan ke Spanyol para ahli untuk mencari naskah-naskah berbahasa Arab di sana. Maka segera beruntun datang para utusan dari Turki, Mesir, dan berbagai negeri Muslim lainnya, bahkan dari India. Di sana mereka menekuni daerah-daerah penggalian purba di masa Spanyol Muslim. Dan segera karya-karya tentang Spanyol diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Arab, Turki maupun bahasa penduduk Muslim lainnhya, termasuk karya-karya sastra tentang romantika masa lampau di Spanyol Muslim, seperti mislanya tentang legenda Cordoba di masa keemasan. Kenangan akan Andalusia membangkitkan emosi yang mendalam yang dibutuhkan oleh kaum intelektual Muslim. Sebagai salah satu pengaruh dari proses pendidikan yang mereka peroleh dari Eropa, mereka makin menyadari betapa kelemahan 40
  • 41. maupun kemunduran yang mereka alami. Selanjutnya mereka telah mendapatkan dukungan dan kenyamanan dari kenangan akan kehadiran sebuah negeri Muslim di Eropa yang besar, kaya beradab, dan kuat, Mereka meyakini bahwa negeri itu telah menjadi pembimbing dan pemimpin bagi peradaban Eropa. Pada saat-saat ketika dunia Islam mengalami kemunduran dan kekalahan mereka justru mendapatkan peluang untuk menyamakan kondisi mereka dengan senjakala yang semarak dari Alhambra. Kejayaan Andalusia telah menjadi mengungkapkan nostalgia. tema yang digemari para pesyair maupun novelis dalam Keberhasilan,yang sesungguhnya maupun yang hanya diangan-angankan, tentang peradaban Arab-Spanyol yang besar digunakan sebagai dalih dalam penulisan romantika sejarah peradaban Islam ketika menyaksikan kemunduran Islam serta timbulnya perasaan kurang percaya diri yang disebabkan oleh pengaruh tekanan Barat. Kenyataan bahwa sejarah maupun peradaban bangsa Spanyol Islam itu diketahui oleh mereka karena jerih payah Barat tak ayal dirasakan bagaikan menelan pil pahit. Itu sebabnya kenyataan sejarah itu pada umumnya tersembunyi dan sejumlah “sejarawan” Muslim bersikap agak berlebihan, dengan mengatakan bahwa semua kejayaan masa lalu dalam sejarah Islam maupun sumbangan Spanyol Muslim bagi peradaban Eropa telah sengaja disembunyikan karena rasa kedengkian dan penuh prasangka dari sejarawan Eropa. Bagi para sejarawan Muslim dari bangsa Arab Spanyol, Spanyol Islam merupakan sumber mata air kesenian dan ilmu pengetahuan yang menjadi sumber perkembangan peradaban Eropa yang asli dan terbaik. Keyakinan seperti itu mempunyai dua manfaat. Di satu sisi, membangkitkan kebanggaan yang telah hancur yang dialami masyarakat Muslim yang telah ditaklukkan. Pada sisi lainnya, lebih meyakinkan akan kebenaran anggapan bahwa peradaban Islam yang berkembang di Spanyol Islam telah diterima masyarakat Eropa sebagai sumber asli. Peradaban itu telah menganjarkan semangat toleransi. Salah satu makna toleransi itu adalah hilangnya saling permusuhan di antara komunitas yang berbeda. Itulah yang dikemukakan sebagai toleransi yang diajarkan Islam. Pengertian lain dari toleransi adalah tidak adanya diskiminasi, serta kesamaan hak dan kewajiban di antara sesama warga masyarakat, tanpa memandang 41
  • 42. perbedaan suku bangsa, asal usul, keprcayaan. Bagi ahli hukum Islam toleransi dalam Islam dimaknakan sebagai kesamaan setiap warga masyarakat di muka hukum. BAB 4 : PENUTUP Marilah kita kembali pada tema semula, yaitu Cyrus dan Masada. Perayaan ulang tahun Cyrus di Persepolis menurut para pengamat luar negeri dianggap sebagai perbuatan yang boros, dan lebih dari itu tidak bermanfaat. Menurut Benhard Smith barangkali memang memakan biaya besar, namun bukan tidak bermanfaat. Sebaliknya, merupakan contoh klasik dari penggunaan sejarah secara baik. Parade yang menawan dan upacara-upacara yang diselenggarakan di makam Raja Cyrus maupun di reruntuhan kota kuno Persepolis telah mendramatisasikan peristiwa itu sebagai sebuah upacara yang belum pernah berlangsung sebelumnya di masa Persia. Dan apa-apa yang menjadi harapan utama penguasa di masa itu telah betul-betul menjadi kenyataan, yaitu proses transformasi bangsa Persia, dari sebuah masyarakat religius menjadi sebuah bangsa sekuler, lengkap dengan ciri utama, bukan lagi kesetiaan pada Islam melainkan pada pada Iran. Proses itu belum lengkap, melainkan terus berjalan, dan kadangkala diperlukan bantuan. Tema utama perayaan-perayaan tersebut adalah kesinambungan selama masa ribuan tahun dari tanah maupun rakyat Iran, melalui kebudayaan maupun agama , serta peranan lembaga kerajaan yang menunjangnya. Hal yang sama kita saksikan pula dengan upacara Masada yang berlangsung di Israel modern. Tak dapat disangkal bahwa upacara itu memang dirancang untuk membangun kembali hubungan antara aspek politik dari ciri bangsa Yahudi dengan kekuatan militer Israel. Namun sayang sekali pilihan itu membawa malapetaka. Cyrus, sesuai dengan hasil kejian sejarah, merupakan awal perkembangan sejarah, sementara Masada merupakan akhir sebuah episode. Ketika kenangan kolektif bangsa Yahudi telah melupakan peristiwa Masada dan sebaliknya menjadikan peristiwa larinya Rabbi Yohanan ben Zakkai dari Jerusalem untuk memohon izin dari penakluk Romawi untuk mendirikan sebuah seminari bagi calon sebagai simbol, tak ayal merupakan satu pertanda sebuah firasat. 42
  • 43. Masada tidak lain adalah sebuah titik akhir sejarah bangsa Yahudi. Di balik itu semua terhampar sebuah kehampaan. Sesuatu yang dilupakan. Nampaknya langkah yang dilakukan Ben Zakkai merupakan langkah kebijakan yang memedihkan.Langkah itu sebenarnya menggambaran suatu kenyataan, bertahan hidup, maupun masa depan, sambil menelan kebanggaan diri. Langkah itu juga menggambarkan upaya mendambakan anugerah dari penguasa negeri, yaitu penguasa Romawi. Di samping itu juga merupakan upaya untuk melestarikan warisan serta identitas Yahudi. Semua itu dilakukan dengan melalui keyakinan hidup maupun hukum. Sekarang Masada telah ditemukan kembali, dalam artian yang sesungguhnya. Temuan sejarah Masada itu bukan sekadar laporan dalam jurnal arkhaeologi, melainkan betul-betul tumbuh dalam kesadaran Yahudi di kalangan bangsa Israel di manapun. Meskipun demikian masih diperlukan kewaspadaanuntuk menanganinya di balik tingkatan-tingkatan penyusunan sejarah yang diangkat dari kumpulan ilusi. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengabdian maupun keberanian sama-sama dibutuhkan, namun demikian mereka sebaiknya tidak kembali mengarah pada “bunuh diri” dalam ujung sejarah. @ Catatan : Tulisan di atas merupakan saduran bebas untuk pemaparan dalam pertemuan dosen Jurusan Sejarah IKIP Semarang pada tahun 2000, dari buku berjudul History : Remembered, Recovered, Invented, karya Bernhard Lewis. Buku aslinya diterbitkan oleh Simon and Schuster, Inc. New York, London, Toronto, Sidney, Tokyo 1987 43
  • 44. B. KASUAL 1. KENDALA KRITIK SEJARAH (Tanggapan atas Kuntowijoyo) Yang paling menarik dari tulisan Kuntowijoyo berjudul MasalahKritik Sejarah (Republika 3/] 1) adalah kalimat-kalimat penutupnya. Lengkapnya kalitnat itu berbunyi "Masalah tersebut sebaiknya tidak dipandang sebagai masalah hukum, tapi masalah sejarah. Kapan lagi bangsa kita akan mendengarkan wacana ilmiah dari lembaga pengetahuan dan bukan lagi wacana kekuasaan dari pemerintan, wacana keuntungan dari bisnis, wacana persaingan dari parpol, dan wacana pemasaran dari media massa." Pandangan semacam ini mewakili pandangan yang lugu dan konsisten sebagai sejarawan yang memiliki integritas pada bidang ilmunya. Seorang etikus dan pengikut teosofi tentu saja memiliki pandangan dan fatwa yang berbeda. Misalnya agar semua pihak mau tenggang rasa dan memanfaatkan pihak lain, atas dasar prinsip menang tanpa ngasorake". Bukan "becik ketitik, ala ketara" atau yang balk itu jelas terlihat, yang jelek itu pun jelas.” Bukankah Tuhan Maha Tahu dan Maha Adil? Demikian juga politikus mau pun kaum kerabat Bung Karno tetap akan memandang bahwa pandangannya yang paling benar, yaitu agar dilakukan pendekatan hukum seperti lewat pengadilan, agar diperoleh kebenaran. Bahkan bukanKebenaran barangkali yang dicapai, melainkan kepuasan. Dominasi Kepentingan Kenyataan menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini yang paling berkuasa bukan kaum etikus, moralis, mau pun ilmuwan bahkan juga bukan kaurn politisi maupun militer, melainkan kepentingan. Dalarn masyarakat ideal menurut konsep Yunani Klasik, India Kuno manpun Eropa Abad Pertengahan, memang secara formal kaum filsuf, 44
  • 45. brahmana atau pun pendeta yang berkuasa karena merekalah yang memiliki kebijaksanaan. Namun bukan kebijaksanaan (wisdom) yang berkuasa, melainkan kepentingan. Tegasnya kepentingan untuk menguasai manusia lain agar mau mengikuti kemauan the rulling class. atau pun the pressure group, yang selamanya saling berhadapan. Itulah hakekat perjuangan kaum berkepentingan. Harap jangan selalu memandang bahwa warga kepentingan yang dikembangkan mesti bersifat negatif, meski pun hampir selalu pihak yang berbeda kepentingan memandang negatif warga kepentingan lain tersebut dengan berbagai dalih. Banyak bukti menunjukkan betapa warga kota yang sedang memilih Hari Jadi bagi sesuatu kota, misalnya mengalami benturan kepentingan, Para ilmuwan sejarah akan selalu berangkat dari prosedur ilmu sejarah dalam mendapatkan kebenaran. Di antara mereka bukan tidak mungkin terjadi beda pandangan atas dasar data mau pun tafsir sejarah yang dipakai. Dalam hal ini para sejarawan meneoba bertindak obyektif ketika menghadapi data dari para responden atau pun sumber sejarah yang cenderung subjektif. Akibatnya diskusi itu menjadi amat berkepanjangan. Dan tidak jarang menemui keadaan “jalan tak ada ujung”. Kepentingan mereka jelas bisa difahami, yaitu kebenaran obyektif sejarah (history as a fact). Hampir selalu muncul sikap kaum ekskutif birokratyang ingin segera mendapat hasil, tanpa prosedur ilmiah yang dianggap bertele-tele. Kepentingannya jelas berbeda. Maka tidak mengherankan manakala kemudian keluar semacam dekrit untuk menentukan Hari Jadi versi resmi. Prosedur yang lain adalah prosedur politik, yaltu lewat sidangsidang DPR, yang kalau perlu harus dicapai suara bulat. Akan tetapi jangan dipandang bahwa DPR mengesampingkan acuan data historis. Oleh kerenanya prosedurnya dapat dianggap ilmiah juga. Yang menarik adalah perlunya diambil prosedur musyawarah, yang tidak dikenal dalam dunia ilmu. Bagalmanapun itulah keputusan politik. Dalam hal ini memang tidak pernah dilakukan prosedur pengadilan, yang nampalmya juga dapat dilalui. Tidak pennah terjadi, misalnya, ahli waris keturunan tertentu yang merupakan pelaku sejarah dalam proses awal pembangunan kota tersebut merasa dilecehkan karena tidak terlibat sebagai cikal bakal kota. Kemudian setiap HUT Hari Jadi kota warga kota pun memeriahkannya dengan 45
  • 46. berbagai acara, tennasuk ceramah tentang Hari Jadi Kota tercinta. Namun satu hal sudah jelas, bahwa ceramah-ceramah tidak boleh mempersoalkan kebenaran Had Jadi lagi, karena pintu ijtihad telah tertutup rapat. Apa yang kita saksikan kemudian adalah sebuah pernyataan sejarah yang kemudian disebarluaskan, disosialisasikan, bahkan diajarkan dari generasi ke generasi. Inilah kenyataan sejarah sebagai history as written, menurut versi pemerintah. Dan itulah juga kebenaran sejarah menurut sesuatu versi. Dalam hal kasus Bung Karno dalam kaitannya dengan kelahiran Orde Baru awal, halnya semacam kasus penentuan Hari Jadi kota yang kira saksikan. Berbagai fihak mengklaim paling berhak menentukan kebenaran, dan berbagai fihak mengaku bahwa klaim tersebut tidak benar. Namun selalu history as written lah yang paling dominan, karena didukung oleh kekuasaan politik dan kepentingan politik. Kritik dan saran sejarawan Kuntowijoyo agar masyarakat memperhatikan juga suara para ilmuan sejarah tentu saja sangat bermanfaat, namun nampakmya hanya mendapat pembenaran dari masyarakat ilmuan saja. Demikian juga kalau orang berbicara tentang kebenaran sejarah masa-masa yang lebih lampau. Selalu saja ada history as a fact, dan selalu saja ada history as written. Dan selalu saja para sejarawan cuma mampu mengemukakan kritik-kritik dan saran. Dan selalu aaja yang dominan adalah hasil prosedur politik mau pun pengadilan. Sejarawan Peneliti dan Sejarawan Pendidik Istilah sejarawan pendidik dimaksudkan bagi guru atau dosen sejarah profesional. Tugas intelektual mereka bukan mencari, menemukan dan menuliskan kebenaran sejarah seeperti yang dilakukan oleh sejarawan peneliti, melainkan menyajikan dan menyampaikan kebenaran sejarah kepada generasi muda lewat proses pendidikan. Namun harus diakui bahwa kebenaran sejarah yang disajikan mereka adalah history as written, sesuai dengan kmikulum yang berlaku. Masalah segera muncul di hadapan para guru sejarah manakala muncul kontroversi tentang kebenaran sejarah, misalnya tentang keterlibatan Bung Karno dalam pemberontakan G3OS/PKI mau pun "keterlibatan CIA dalam gerakan untuk mendongkel Bung Karno atau kebangkitan Angkatan `66, yang 46
  • 47. kemudian diiukuti kelahiran Irde Baru. Dalam peran mereka sebagai juru bicara pemerintah, maka tugas guru sejarah tidak lain menampaikan kebenaran sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah versi Orde Baru.Kadangkala mereka mendapat tugas sampiran dalam proses pendidikan politik, yaitu mengobarkan semangat cinta tanah, semangat rela berkotban. Sebagai konsekuensinya perubahan apapun yang terjadi dalam kurikulum sejatah para sejarawan tidak mungkin berbuat lain kecuali mengikuti pendekatan yang ditawarkan dalam kurikulum. Pengalaman dengan konsep "kompefisi manipolis" mau pun datang dan perginya PSPB sebagai pendekatan pendidikan sejarah telah merupakan pengalaman tak terlupakan bagi para sejarawan pendidik. Yang lebih dipentingkan adalah memberikan peluang makin banyak kepada warga masyarakat untuk mengemukakan data sebanyak mungkin untuk mendapat informasi sejarah seakurat mungkin. Dengan begitu maka masyarakat akan mendapat informasi sebanyak mungkin tentang sesuatu episode dalam sejarah. Kedewasaan berpikir masyarakat dalam menanggapi banjirnya informasi jangan ditunggu, melainkan dikondisi. Yang penting dijaga adalah bahwa kekebasan tidak menjurus pada suasana fitnah. Timbulnya kebimbangan di kalangan warga masyarakat jangan dikhawatirkan bakal mengarah pada khaos dalam informasi, melainkan akan membawa warga masyaarakat yang "well-miormed". Kasus “detik-detik menjelang proklamasi 17 Agustus 1945” telali menghasilkan banyak sekali informasi yang datang dari berbagai pihak. Sejak dari Bung Karno dan Bung Hatta yang dianggap sebagai “kolaborator penjajah dan boneka Jepang”, sampai pada para tokoh pemuda, seeperti Sukarni, Chaerul Saleh maupun Adam Malik, yang dituduh telah menculik Bung Karno dan Bung Hattake Rengasdengklok, telah memberikan informasi, yang bukan saja tidak sama, bahkan bertentangan hententangan. Nyatanya warga masyarakat tidak khaos dalam menanggapi hal tersebut. Akhirmya Jadi simponi yang harus digelar mengenai kehenaran sejarah adalah, pelaku sejarah menuliskan pengalaman mereka, betapapun subjektifnya, namun disertai bukti 47
  • 48. memadai, sebagaimana pekanya alat perekam canggih. Lalu sejarawan peneliti melakukan kritik sejarah. ekstern maupun intern, lalu menafsirkannya dan kemudian menuliskannya, sebagaimana “kebijaksanaan dalam penulisan hadits”. Dan sejarawan pendidik dengan penuh “kebijaksanaan seorang Batara Guru” akan selalu menyampaikan kebenaran sejarah kepada generasi muda. Dalam pada itu tidak dapat dipungkiri akan perlunya buku babon sejarah untuk kepentingan pendidikan, dan kelengkapan informasi yang bervariasi sehagai sumber sejarah. Dalain hal im prosedur politik maupun pengadilan hukan sesuata yang harus dihindari, meskipun bukan merupakan kata akhir. Amerika Serkatpun mengenal "informasi baku" siapa pembunuh Presiden John F. Kennedy, namun beredar pula berbagai versi lain dalam masyarakat. Dalam kasus Bung Karno maupun CIA. yang jauh lebih penting bukan untuk “mengadili tentang keterlibatannya”. Keterlibatan adalah kesimpulan, sedangkan yang diperlukan adalah deskripsi kejadian sejarah yang akurat. Napoleon Bonapsrte tidak dipungkiri pernah terlibat dalarn menyengsarakan rakyat Perancis, dan oleh karenanya jenazahnya dikuburkan di Pulau Elba di luar wilayah Perancis. Namun kemudian rakyat berkesimpulan lagi, sehingga makamnya dipindahkan di Perancis sebagai pahlawan. HARIAN REPUBLIKA, 15 NOPEMBER 1994) 8@@@ 48
  • 49. 49
  • 50. 2. KONTROVERSI DALAM SEJARAH INDONESIA Waktu persaksian Soekaedjo Wilarjito di sekitar proses terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar) mulai tersiar dalam media massa tanggal 26 Agustus barubaru ini, terpikir oleh saya bahwa nasibnya akan seperti isu tentang Supriyadi. Pernah dinyatakan oleh seorang saksi mata bahwa pahlawan Peta Supriyadi masih hidup, jauh hari setelah dinyatakan bahwa pahlawan itu telah tewas dalam suatu pertempuran. Kemudian terjadi pelemik, dan kemudian musnah berita tentang kesaksian itu. Pahlawan Supriyadi tetap diyakini sudah wafat, meski tidak dapat dijelaskan di mana makam beliau. Sekarang seorang saksi mata yang telah berumur 71 tahun menyatakan sesuatu yang berbeda dengan yang tertulis dalam sejarah fomal (history as writen), yang selama ini diyakini kebenarannya. Paling tidak ada dua isu yang diungkapkan dalam persaksian itu. Pertama, bahwa Super Semar itu diterbitkan oleh suatu tekanan dari luar, bahkan dengan todongan pistol oleh Jendral Panggabean. Jadi bukan ditandatangani atas dasar kerelaan Presiden Sukarno, sebagaimana tertera dalam sejarah formal. Kedua, bahwa perwira tinggi yang menjemput Super Semar itu bukan hanya tiga, sebagaimana tertulis dalam sejarah formal, yaitu Jendral Basuki Rakhmat, Jendral M. Yusuf, dan Jendral Amir Mahmud. Ternyata diberitakan oleh seorang saksi sejarah dan pelaku sejarah, bahwa Jendral Panggabean hadir mengambil peranan dalam penjemputan Super Semar di Istana Bogor. Persaksian kontroversial yang diberikan oleh Soekardjo amat memancing komentar, karena memang benar-benar mengejutkan. Pertama, karena saksi mata itu disebutkan sebagai orang yang secara fisik paling dekat dengan peristiwa itu. Yaitu seorang anggota sekuriti Istana Bogor. Bahkan konon saksi itu menyebutkan menyaksikan psristiuwa itu dari jarak amat dekat, sekitar tiga meter, dalam usia 39 tahun. Usia yang masih segar bugar. Kedua, karena yang bersangkutan termasuk bekas tapol G30S/PKI, yang tentu saja menimbulkan kecurigaan atas keobyektifan pernyataannya. Kata Nurcholis Majid, pastilah dilatarbelakangi motif tertentu. Entah apa. 50
  • 51. Tak urung kesaksian itu mengundang kemungkinan polemik lebih besar, karena kesaksian itu dapat diuji kebenarannya oleh paling tidak dua orang saksi mata yang juga masih hidup. Yaitu Pak Panggabean maupun Pak M. Yusuf. Ini alasan ketiga mengapa kesaksian itu amat menarik. polemicus interuptus Komentar yang muncul berbeda-beda. Pak Panggabean, yang paling merasa ditugikan, dengan sigap membantah pernyataan Soekardjo itu. Anggota DPR RI Ny. Aisah Amini menghimbau agar peristiwa masa lampau jangan diusik-usik lagi. Sejarawan Onghokham sebaliknya memandang dengan skeptis kesaksian itu. Dia melihat peluang untuk dilakukannya penelitian lebih serius, guna menemukan kebenaran. Letjen (Pur TNI) Bambang Triantoro, yang entah dalam kapasitas sebagai apa, menyangsikan kebenaran isu itu. Sebagai anggota keluarga mantan Presiden Suharto, Pak Probosutejo dengan tegas menyatakan bahwa Maraden Panggabean tidak pergi ke Bogor pada tanggal 11 Maret, meski masih dipertanyakan apakah pada saat itu Pak Probo sudah berada di Jakarta untuk bergabung dengan keluarga besar Suharto. Sementara itu ketua LBH Yogyakarta yang menjadi penasihat hukum saksi sejarah menyatakan, bahwa siapapun berhak melakukan gugatan terhadap kliennya, Soekardjo Wilarjito, bila merasa dirugikan oleh pernyataan kliennya itu. Dengan cara itu bahkan kebenaran historis dapat ditemukan. Yang paling mengejutkan adalah komentar Presiden Habibie, yang buru-buru melarang untuk meneruskan polemik itu. Tentu saja pernyataan itu mengherankan, karena dinyatakan oleh seorang ilmuan, yang tentunya amat mengandalkan data terbaru bagi upaya menemukan sesuatu kebenaran. Tapi sayangnya beliau adalah orang dekat mantan presiden Suharto, yang tak ayal akan mendapatkan dampak buruk kalau kesaksian Wilarjito ternyata benar. Apakah ini semua termasuk wujud dari sikap mental ‘mendhem jero, mikul dhuwur’? Bagaimanapun kecurigaan bakal terjadi keputusan politik berupa larangan memperpanjang polemik tentang suatu fakta sejarah di sekitar Super Semar sudah 51
  • 52. menjadi kenyataan. Sejarah betul-betul berulang, seperti yang terjadi dengan polemik tentang kamatian pahlawan Peta Supriyadi yang kontroversial itu. Keputusan Ilmiah Kasus Letda (Purn. TNI) Soekardjo Wilarjito yang menyatakan kesaksian peristiwa terbitnya Super Semar setelah selama 32 tahun tidak diganggu gugat, bukan satu-satunya isu kontroversial dalam sejarah Indonesia. Seperti dikemukakan di depan pernah muncul isu tentang kematian pahlawan Peta Supriyadi yang misterius. Kita mengenal juga isu Hari Lahir Pancasila, tanggal 1 Juni 1945 atukah 18 Agustus 1945.Pernah juga dikedepankan isu Peristiwa Rengasdengklok, yaitu terjadi atas kehendak Dwi Tunggal Sukarno-Hatta sendiri ataukah sebagai penculikan oleh kelompok muda yang dipimpin Sukarni, Chairul Saleh dan Adam Malik. Masih pula menjadi masalah tentang siapah tokoh yang memimpin penyerangan atau penyerbuah ke Yogyakarta. Benarkah pelakunya adalah Suharto yang kemudian menjadi presiden RI? Ataukah tokoh lain sebagaimana dituliskan dalam buku sejarah sebelum era Suharto? Belum lagi kalau dimasukkan juga isu-isu di sekitar sejarah lokal. Tentang Hari Jadi sesuatu kota, misalnya. Hampir semua isu kontroversial itu diselesaikan dengan keputusan politik. Mungkin tidak berupa suatu SK yang secara formal menghentikan polemik, melainkan berupa suatu terbitan resmi yang hanya menyebutkan satu versi. Tentang Hari Lahir Pancasila, Kematian Supriyadi, Peristiwa Rengasdebngklok, misalnya, polemik seolah-olah berhenti setelah ada penulisan versi pemerintah. Harijadi sesuatu kota bahkan diputuskan dengan suatu SK Pemda setempat, setelah ada keputusan DPRD. Dan setelah itu diharapkan warga masyarakat maupun ilmuan tidak boleh mempersoalkan keputusan politik itu. Pendapat Nurcholis Majid bahwa penulisan sejarah Indonesia campur aduk, dengan mengambil contoh banyaknya versi dalam terbitan buku sejarah, kurang tepat. Terbitnya berbagai versi dalam penulisan sejarah Indonesia bila dipandang dari sudut keseragaman penulisan memang tidak menguntungkan. Dan bisa membingungkan anak- 52
  • 53. anak sekolah. Namun bagi para ilmuan Sejarah yang menempatkan penulisan sejarah dalam kerangka pencarian kebenaran ilmiah, munculnya berbagai versi dalam penulisan sejarah amat menguntungkan perkembangan ilmu sejarah. Tentu saja harus selalu dijaga obyektivitas prosedur ilmiah yang dilakukan. Inilah keputusan ilmiah, yang tentu saja menjadi selalu terbuka untuk diuji. Dengan cara ini versi-versi penulisan sejarah menjadi sesuatu yang mutlak dibutuhkan. Dan hasilnya memperkaya kebenaran sejarah sebagai ‘history as writen’. Lalu bagaimana kebenaran sejarah yang sesungguhnya terjadi sebagai suatu ‘history as a fact’?Kebenaran sejarah masih bisa ditemukan dengan proses pengadilan, yang akan menghasilkan keputusan hukum. Misalkan isu terbitnya Super Semar mendorong Maraden Panggabean menuntut Wilarjito ke sedang pengadilan, karena merasa nama baiknya tercemar, maka bakal ditemukan kebenaran lewat keputusan hakim. Tentu saja semua keputusan itu tidak mutlak bakal menghentikan polemik atau rasa penasaran di kalangan warga masyarakat. Terutama kalangan ilmuan. Sementara itu masihkah lembaga peradilan kita terbebas dari pengarug dominasi atau tekanan penguasa? Buat Apa Sejarah ? Timbulnya berbagai cara untuk mendapatkan kebenaran peristiwa sejarah banyak tergantung dari persepsi mereka tentang fungsi sejarah. Bagi fihak penguasa yang menghendaki agar tidak terjadi polemik berkepanjangan tentang sesuatu fakta sejarah, didasari oleh anggapan bahwa sejarah merupakan sarana pendidikan politik. Dan karena tujuan politik tidak lain untuk mencari pembenaran atas sesuatu kebijakan, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa sejarah harus ditulis dengan menekankan pada fakta yang mendukung proses pendidikan politik itu. Manakala muncul isu kontroversial yang akan mengusik kebenaran sejarah yang sudah mapan, tentu saja harus diwaspadai. Karena bisa mengganggu target pendidikan politik dari sesuatu rezim. Sementara itu sejarah bisa dianggap sebagai suatu proses menemukan kebanggaan diri, dengan merenungi kejayaan masa lampau. Untuk itu diperlukan pencarian fakta sejarah secara selektif pula. Tentu saja yang diutamakan fakta-fakta yang amat 53
  • 54. membanggakan. Otomatis fakta yang mengecilkan kebanggaan nasional tidak bakalan dipilih. ang paling obyektif dalam upaya mencari kebenaran sejarah adalah yang dilakukan oleh para ilmuan sejarah. Mereka berangkat dari anggapan bahwa fungsi sejarah tidak berbeda dengan fungsi bidang ilmu lain. Yaitu mencari kebenaran obyektif. Biasanya para pakar sejarah berada dalam posisi lemah bila dihadapkan pada kekuatan rezim yang berkepentingan. Oleh karena penelitian-penelitian harus dilakukan dengan dukungan legalitas maupun dukungan dana. Itu sebabnya pilihan yang kemudian diambil para ilmuan sejarah sering tidak populer, lebih-lebih kalau rezim itu tidak mentolerir keterbukaan. Atau menjadi pendiam seribu basa, dan tenggelam dalam massa yang membisu. Atau kemudian melacurkan diri dan tenggelam pula dalam gelora kenikmatan sewaktu. Yang paling baik barangkali selalu menekuni penelitian, mempublikasikan karya secara diam-diam. tu sebabnya salah satu cara terbaik yang bisa diambil oleh Letda (Purn. TNI) Soekardjo Wilarjito dalam kasus Super Semar adalah menerbitkan temuan atau pengalaman historisnya sebagai sebuah ‘history as writen’. Dengan demikian muncullah sejumlah versi sejarah. Syarat yang harus dipunyai adalah kejujuran, obyektivitas, keberanian dan tidak boleh dilupakan keahlian metodologis maupun penuturan, yang harus dimiliki oleh Soekardjo sebagai saksi sejarah. Dua syarat terakhir ini, keahlian metodologis maupun kemampuan penuturan sejarah, tentu saja bisa dilakukan oleh para pendamping profesional. Mereka akan dapat bekerjasama dengan baik dengan sumber sejarah. Syarat lainnya, yaitu eksternal yang amat penting adalah kondisi keterbukaan dari pemerintah. Di era reformasi ini, ketika keterbukaan atau transparansi menjadi kata kunci, nampaknya peluang Soekardjo amat besar untuk membantu kita menemukan kebenaran historis. @@@ 54
  • 55. 3. LIMA PULUH TAHUN INDONESIA MERDEKA =TAHUN EMAS? 55
  • 56. Berkunjung selama sepekan di Jakarta pada pertengahan Juli yang lalu, bagi orang daerah rasanya seperti benar-benar menyaksikan persiapan sebuah perhelatan besar. Tidak salah, sebab setiap malam, tarutama di kawasan kota, lampu-lampu hias berpendarpendar memancarkan ungkapan Dirgahayu 50 Tahun Indonesia Merdeka dari gedunggedung bertingkat. Juga di gang-gang, di kampung-kampung DKI. Juga di pepohonan dan jembatan-jembatan penyeberangan. Tidak hanya itu, larnpu-lampu ita juga meneriakkan ucapan Dirgahayu HUT Jakarta, karena tanggal itu baru saja berlalu, yaitu 21 Juni. Suasana pesta lampu hias itu memang tidak menghiraukan hiruk pikuk berbagai kendaraan dan teriakan kernet bus kota. Hiruk-pikuk lalu lintas pun seperti tidak mengiraukan genitnya kerlingan gedung-gedung pencakar langit dengan lampu-lampu bias itu. Arus lalu-lintas itu bergerak sendiri, mengikuti denyut nadi kota Jakarta, seperti biasa, ada HUT ataupun tidak. Barulah nanti barangkali, ketika pesta-pesta kembang api 50 tahun betia-betul merobek gelap malam Jakarta, di malam 17 Agustus 1995, biruk pikuk lalu lintas sejenak berhenti, karena terhipnotis oleh pesta kembang api tersebut. Lain Umur Manusia, Lain Umur Sejarah Dalam kebidupan umat manusia, peringatan perkawinan emas seringkali diselenggarakan oleh pasangan-pasangan yang amat berbahagia, karena bidup perkawinan mereka telah memasuki tahiun ke 50. Paling tidak pasangan itu tentulah berumur 65 hingg 70 talnun, kalau dalam usia 13 tahun masangan itu telah memasuki hidup berkeluarga.Bagi orang Indonesia, umar 65 tahun sudah merapakan prestasi. Demikian juga umur perkawinan ke 5O tentu saja merupakan prestasi langka, karena kecuali kesehatan mereka tentunya baik, hidup perkawinan itupun dianggap sukses. Pantaslah kalau peringatan itu disebut kawin emas, atau kawin kencana. Dan barangkali sepuluh tahun kemudian mereka boleh menye butnya sebagai kawin berlian, atau nama apa pun yang lebih bernilai ketimbang emas. Sementara itu umur sejarah sesuatu bangsa ataupun umatmanusia, jangka waktu 50 tahun tentu saja barulah suatu permulaan. Bagi bangsa Indonesia, misalnya, dalam jangka waktu itubarulah mengalami dua orangkepala negara, Presiden Soekarno dan Presiden Suharto. Dan dalam ukuran PJP atau 56
  • 57. PembangunanJangka Panjang, kitabaru saja akan memasuki PJP II. Oleh karenanya umur kemerdekaan Indonesia yang ke-5O tahun tidak seyogyanya dipandang sebagai suatu prestasi maha besar, sehingga pantas dijuluki Peringatan Emas atau bahkan IndonesiaEmas, betapapun besar kebangggaan kita sebagal bangsa dan betapapun besar syukur kita sebagai hamba yang telah mendapat karunia Tuhan atas nikmat kemerdekean maupun hasil Pembangunan, rasanya belumlah pantas menyebut peringatan n ke-5O tahun kemerdekaan sebagai Tahun Emas. Tidak bisa kita bayangkan seaandainya kila tetap memandang 50 tahun sebagai Tahun Emas, lalu akan kita sebut taliun apa kelak manakala sebagai bangsa kita akan memperingati HUT Ke100 atau satu abad kemerdekaan? Dalam ukuran umur manusia perorangan, paling lama bisa hidup sampai umur satu abad atau lebih sedikit, sehingga kita pun belum tentu akan memperingati HUT perkawinan itu dalam keadaan pasangan tetap utah. Oleh karenanya, manusia tidak akan membayangkan dapat memperingati hari perkawinan itu pada umur satu abad. Berbeda halnya kalau kita berbicara tentang suatu kota, atau bahkan suata negara maupun bangsa. Warga Jakarta sekarang sudah menyaksikan umur kota kebanggaannya mendekati lima abad. Entah kapan sebaiknya warga kota ini pantas menyelenggarakan perrayaan HUT Jakarta sebagai Jakarta Emas. Sungguh sulitdibayangkan mengapa kita berkesimpulan bahwa kita sebagai bangsa maupun sebagai warga negara RI terah memasuki Tahun Peringatan Emas bagi HUTkemerderkan kita. Tulisan ini dimaksudkan sebagai renungan agar kita dapat berpikir dan bertindak secara proporsional dan tidak emosional. Angka lima puluh tidak identik dengan angka keemasan, sehingga ulang tahun ke – 50 tidak selalu berarti ulang tahun emas, Zaman Keemasan Dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah kita sering membaca sebutan Zaman Keemasan untuk suatu periode sejarah sesuatu bangsa. Namun yang memberikan julukan tentulah bukan orang-orang yang masih hidup dalam periode itu sendiri. Julukan itu menunjakkan kekaguman penulis sejarah di masa-masa berikutnya. Tentu saja bukan 57
  • 58. pula berarti bahwa Tahun Emas yang dimaksud dalam peringatan ke-50 tahun ini adalah juga Zaman Keemasan. Sebab penamaan Zaman Emas berarti bahwa masa-masa setelah itu bangsa tersebut memasuki masa-masa desintegrasi atau breakdown. Padahal kita baru saja memasuki maa PJP II I, sehingga tidak seorangpun akan mengharap bangsa kita segera memasuki periode desintegrasi / breakdown itu. Perlu pula diingat bahwa penamaan Zaman Keemasan biasa dikatakan dengan deskripsi tentang sesuatu dinasti, yang tidak kita kenal dalam konsep kehidupan demokrasi. Lain Periodisasi, Lain Pula Pentahapan Pembangunan Dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah, para siswa diberitahu para guru sejarah bahwa tanggal 20 Mei 1908 merupakan awal kebangkitan nasional bagi bangsa Indonesia. Alasannya sudab jelas, yaitu bahwa pada saat itu sejumlah tokoh bangsa mulai melakukan kegiatan yang dapat dinilai menggelorakan semangat nasionalisme. Siapapun ingat pada tokoh-tokoh seperti dr. Sutomo, dr. Wahidin Sudirohusodo, serta dr. Cipto Mangunkusumo, yang merupakan penggerak jiwa nasionalisme dalam menentang kolonialisme yang dilakukan dengan cara-cara politik, untuk menuju tercapainya cita-cita kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia. Tidak ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh itu, maupun para penulis telah menamakan gerakan mereka sebagai perintisan gerakan kebangkitan nasional. Para pelaku sejarah itu hanya melakultan kewajiban sejarah tanpa pretensi sebagai pelaku yang menggelorakan semangat kebangsaan itu. Para penulis sejarah di masa berikutnya sajalah yang kemudian melakukan pernilaian atas peristiwa-peristiwa di masa lampau. Mereka kemudian menyususnnya dalam sebuah rangkaian perjalanan hidup. Itulah yang disebut sebagai periodesasi. Tidak lain yang dilakukan itu merupakan sebuah upaya dalam memaharni peristiwa-penstiwa se-jarah. Sulitlah difaharni adanya anggapan resmi bahwa sekarang kita sedang memasuki Masa Kebangkitan Nasional II ketika ungkapan atau sebutan itu dikeluarkan oleh kita sendiri yang sedang hidup di masa itu. Biarkan para penulis di masa depan yang melakukan proses periodisasi terhadap sejarah di masa sekarang, dengan melakukan pengkajian terhadap berbagai fenomena 58
  • 59. dalam sejarah itu sendiri. Kita juga telah melakukan periodisasi dalam sejarah sistem politik dengan memperhatikan berbagai fenomena yang ber- kembang, dengan sebutan Masa Liberal, Masa Orde Lama, danMasa Orde Baru. Hal itu dilakukan karena sejarah adalah sebuah kontinum. Sementara itu dalam proses pembangunan kita juga mangenal pentahapan demi pentahapan, yang mencoba memberikanpemilahan yang bersifat progresif terhadap proses pembangunan atau sesuatu program. Beda antara proses periodisasi dengan pentahapan terletak pada posisi yang melakukan pemi lahan. Ketika kita berada dalam pasca kejadian, makaproses pemilahan itu disebut periodisasi sejarah. Dan ketika kita berada dalam prakejadian yang direkayasa, yaitu proses pembanguan bertahap dan berencana, maka proses pemilahan itu disebut pentahapan. Kerancuan akan terjadi dalam pemahaman atas makna setiap kali kita menjumbuhkan kedua proses yang berbeda tarsebut. Ketika kita menggunakan ungkapan Masa Kebangkitan Nasional untuk masa sejak 20 Mei 1908, yang kita maksudkan tentulah hasil sebuah periodisasi sejarah. Sebaliknya ketuka kita sekarang menggunakan istilah Masa Kebangkitan Nasional ke II Pada dasarnya yang kita lakukan adalah proses pentahapan. Sama halnya bila kita menggunakan istilah PJP I dan PJP II, sebab proses pembangunan tidak lain adalah sebuah kontinum. Tidaklah mudah bagi seseorang untuk memberikan penilaian atas peristiwa sejarah tanpa melepaskan diri dan penilaian atas posisinya dalam sejarah. Pandangan yang berpusat pada diri inilah yang lazimnya menempatkandiri atau generasinya dalam kontinum sejarah secaralebih fungsional.Tidak dapat di pungkiri betapa sulitnya menyisilikan subyektifitas dalam proses periodisasi yang dilakukan, sehingga pemilahan menjadi sangat penuh dengan pretensi. Ini terjadi kalau proses pemilahan dilakukan dalam proses kejadian, alih-alih dalam prakejadian maupun posenkejadian. Dirgahayn RI dalam HUT Kemerdekoan Ke-50. (Harian KOMPAS, 10-8-1995) 59
  • 60. @@@ 4. SEJARAH DAN PATRIOTISME (Sebuah renungan menjelang Hari Pahlawan Nasional) Pendahuluan Banyak sudah dilontarkan sinyalemen bahwa generasi muda sekarang telah mencapai titik terendah dalam semangat petriotisme sejak masa Orde Baru ini. Itulah sebabnya banyak kali ditawarkan cara untuk segera saja diwariskan nilal-nilai serta semangat empat puluh lima. Yang dimaksud patriotisme yang selama ini telah membakar tentu saja nilai-nilai nasionalime dan sukma generasi empat lima, yang mengalami revolusi ftsik dalam memperjuangkan dan mempartahankan Proklamasi kemerdekaan empat lima dari rongrongan kaum imperialis aerta antek-enteknya. Tentu saja tak seorangpun bakal menolak gagasan itu. Hanya masalahnya bagaimana proses pewarisan itu akan dllaksanakan. Sebetulnya kita tidak usah repot-repot mencari jawabnya dengan berbagai seminar ataupun rapat kerja, karena masyarakat telah memiliki mekanisme bagi pranata pewarisan nilai itu. Proses itu telah berjalan melalui proses sosialisasi di segala bidang kegiatan masyarakat, baik lewat komunikasi antar pribadi maupun komunikasi yang massal sifatnya, baik lewat jalur resmi maupun jalur tidak resmi. Sebagai proses 60
  • 61. sosialisasi, maka proses pewarisan nilai-nilai empat lima telah berjalan melewati pranata keluarga, kesusasteraan, pergaulan dalam masyarakat, kurikulum sekolah, media-media massa seperti radio, TV maupun media cetak. Dan semuanya berjalan secara simultan. Masalah berikutnya yang kita hadapi ialah skeptisisme yang timbul di kalangan generasi muda itu sendiri, bukan terhadap nilai-nilai dan semangat itu sendiri, melainkan lebih-lebih terhadap generasi yang secara logis adalah penyandang semangat dan nilainilai itu sendiri. Mungkin hal itu timbul sebagai akibat dari daya kritis generasi muda itu sendiri, akan tetapi tidak mustahil juga timbul dari penilaian terhadap generasi empat lima sendiri sebagai akibat persepsi terhadap nilai-nilai empat lima sendiri yang dinilai luhur itu. Milai-nilai dan semangat empat lima itu sendir telah mereka peroleh lewat sekolah, media massa jenis manapun lainnya terasa amat jauh berbeda dengan yang mereka amati dalam masyarakat nyata. Tokoh- tokoh yang dianggap mencerminkan nilai-nilai luhur itu makin hari makin dirnakan oleh umur dan oleh maut. Itulah sebabnya seorang siswi SLTP telah menulis di rubrik sebuah Harian di Jawa Tengah boberapa waktu yang lalu berisi keluhan, bahwa kalau tokoh-tokoh idaman mereka telah satu persatu meninggalkan dunia fana inii, maka yang tersisa adalah mereka yang tidak begitu membanggakan generasi muda. Tak ayal lagi suara yang demikian itu telah penentukan sikap yang amat subyektip dan amat pukul rata. Meskipun demikian hal itu adalah suatu ungkapan yang amat perlu direnungkan. Sejarah Sebagai Sarana Pada bagian paling awal buku Understanding History, Louis Gottshalk menceritakan kepada kita betapa pada saat-saat krisis nasional para sejarawan menerima tekanan-tekanan untuk menuliskan sejarah secara lebih sentimentil. Untuk itu tidak jarang mereka harus meninggalkan kebenaran sejarah. Di sini sejarah betul-betul dimanfaatkan untuk tujuan pembinaan generasi bangsa agar timbul dengan baik rasa kebanggaan nasiona1. Itulah sebabnya, katanya, Napoleon Bonaparte dari Perancis menyepelekan moralitas dalam pembinaan bangsa lewat sokolah. Demikian pula Hitler telah dengan bangga mengatakan bahwa pengaruh Nazisme di Amerika dianggap amat 61
  • 62. baik, sedangkan pengaruh Yaliudi di Jerman merupakan suatu kejahatan. Dalam menjalankan misinya sejarah telah dimanipulasikan untuk tujuan-tujuan propaganda. Dan suka atau tidak suka sejarah telah dipergunakan untuk membentuk mitos-mitos nasional disekitar tokoh sejarah. Penulis sejarah tradisional di Indonesia telah terbiasa menggunakan cara semacam itu, yaitu membentuk mitos-mitos yang dipergunakan sebagai prosedur legitimasi para pendiri dinasti. Maka kebanggaan akan keabsahan sang tokoh serta kebanggan nasionalpun terbentuk. Ken Arok digambarkan oleh Pararaton sebagai tokoh manusia setengah dewa dan yang telah membuat sejarah, atas bimbingan seorang pendeta. Senapati menurut Babad Tanah Jawi telahMembentuk dinasti baru di Mataran dengan bersekongkol dengan Nyai Loro Kidul, 1ambang kekuatan spiritual. Silsilahpun kemydian disusun mengiktui jalur fikktif yang menimbulkan kebanggaan. Demikian bangganya kita, sehingga orang masih tetap bangga menjadi keturunan Sunan Tegal Arum misalnya, yang meninggal sebagai penghianat. Dan makamnya tetap dipuja orang. Segala fakta sejarah yang dituliskan oleh para sejarawan telah begitu menjadi realita dalam fantasi kita, sehingga sedikit saja ada suatu koreksi terhadap “kebenaran” sejarah itu, akan mengakibatkan rangkaian reaksi yang gegap gempita. Dalam keadaan semacam itu jangan diharapkan rnasyarakat bisa menerima suatu penafsiran yang menyimpang dan ”citra sejarah” betapapun kecilnya. Oleh Muharnad Yamin telah ditemukan suatu “realita sejarah”, bahwa bangsa Indonesia sejak dulu telah bersaatu padu dan tidak mengenal arti “jajah-menjajah” di antara kerajaan yang ada. Jawa tidak pernah menjajah Sumatra, dan Sumatrapun tidak pernah menjajah Jawa. Kenyataan bahwa dalam suau kurun waktu dinasti Sanjaya dan Syaelendra berkuasa di daerah Mataram lama, tak bisa tidak harus dipandang sebagai suatu contoh klasik dari adanya gejala “pemerintahan bersama”. Demikian pula ekspedisi Pamalayu tidak lain adalah suatu “ekspedisi persahabatan”. Akibatnyanya, maka masyarakat tidak akan pernah menggubris tulisan Warsito dalam bukunya “Rekonstruksi Sejarah Indonesia”, berbeda dengan para ppenulis lain mengatakan bahwa para penguasa Hindu di Jawa bukanlah penduduk asli, melainkan dari India. Para sejarawanpun tetap berkeyakinan bahwa sejak dari perancangan sampai pada pembangunan candi-candi di Indonesia tidak lain adalah tenaga dari Indonesia yang telah 62
  • 63. mendapat pelatihan di India, meskipun kenyataan menunjukkan bahwa profil maupun postur patung-patung para tokoh dalam relief candi-candi itu menunjukkan “warna asing”. Bahkan sekarangpun kita masih tetap mendengar atau membaca bahwa proyekproyek besar, seperti bendungan dan sebagainya di tanah air didirikan oleh tenaga-tenaga Indonesia sendiri. Atau paling-paling, dengan sayup-sayup ditambahkan, dengan bekerja sama dengan para ahli bangsa asing.. Selanjutnya janganlah kita mengharap bahwa analisis Marxistis yang dilakukan oleh Tan Malaka terhadap Perang Diponegoro bisa diterima oleh para sejarawan Indonesia, karena diaanggap merendahkan derajat dan integritas tokoh pahlawan Diponegoro. Sebagaimana kita ketahui menurut analisis Tan Malaka perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda bukan dijiwai semangat patriotisme, melainkan semata-mata dilatarbelakangi oleh alasan ekonomi, karena Diponegoro merasa dirugikan tanah miliknya yang digusur untuk proyek jalan umum, Proyek jalan itu sendiri sebagai prasarana bagi proyek transportasi Belanda nntuk menunjang kelancaran perekonomian penjajah. Sementara itu kita tahu bahwa dalam menentukan sesuatu kejadian sebagai penyebab kejadian lain tidaklah mudah. Sesuatu peristiwa dalam kenyataan bisa saja disebabkan karena sejumlah latar belakang yang berbeda. Tidak ayal lagi bawa segala gejala konformisme dalam penulisan sejarah Indonesia selama ini mempunyai tujuan baik, yaitu membuat citra bangsa yang baik atau mcmbentuk dan membangkitkan nasiona1isme dan patriotisme bangsa. Hanya masalahnya adalah sampai hatikah kita menempuh cara-cara yang tidak benar dalam mencapai tujuan mulia? Penulisan Sejarah Kritis. Tidaklah benar seluruhnya anggapan bahwa seluruh fakta sejarah yang kita kenal selama ini sebagai suatu “history as written” itu benar belaka. Kita harus memandang segalanya itu sebagai rangkaian sintesa dan hipotesa dari kebenaran sejarah. Sejauh belum ada kebenaran baru yang lebih mantap dan “masuk akal”, maka kebenaran lama masih tetap dianggap sebagai kebenaran sejarah. Disini terbuka peling untuk terjadinya perbantahan di antara penulis sejarah kritis dengan penulis sejarawan patriotik 63
  • 64. tadi. Para penulis sejarah kritis beranggapan bahwa penanaman semangat patriotisme yang dilakukam dengan cara-cara penanaman mitos-mitos nasional itu tidak bersifat kekal, karena tidak mendasarkan pada kebenaran yang sesungguhnya. Di Amerika Serikat usaha pendewaan terhadap tokoh pahlawan George Washington dilakukan dengan menggambarkan ketika George Washington menyeberangi sungai Delaware yang penuh es itu dengan berjalan tegak, sambil memegang erat bendera Amerika “Stars and Stripes”. Gambaran semacam itu diabadikan oleh pelukis Emmanuel Lautze. Kesangsian para sejarawan kritis bukan terhadap lukisan George Washington yang berjalan tegak di atas sungai penuh dengan es itu, melainkan pada anakronisme peristiwa memegang bendera. Dalam kenyataan “Stras and Stripes” disahkan oleh Kongres AS sebagai bendera Amerika Serikat barulah pada tanggal 4 Juli 1777, jadi beberapa waktu setelah kejadian penyeberangan sungai Delaware itu terjadi. Menurut Gottschalk, penggambaran patriotik yang melampaui kebenaran sejarah hanya pantas disajikan oleh pelukis dan bukan oleh sejarawan. Menurut para penulis sejarah kritis penanaman patriotisme kepada generasi muda harus dilakukan tanpa mengorbankan kebenaran sejarah. Dan untuk itu tidak pada tempatnya untuk menolak sesuatu sintesa ataupun hipotesa lain yang didukung oleh bukti-bukti sejarah yang kuat. Di negeri-negeri berkembang kecenderungan untuk berfihak pada pandangan sejarawan kritis masih menghadapi berbagai hambatan psikologis. Di Amerika Serikat sendiri telah lama beredar pandangan-pandangan dalam artikel-artikel ilmiah yang menganjurkan para penulis sejarah menghormati bau kramat yang mengelilingi tokoh-tokoh besar di Amerika. Namun sejak PD II gejala-gejala seperti itu sudah terkikis habis, seementara ketakutan pada bahaya komunisine mulai surut. Sementara itu di negeri-negeri berkembang gejala itu masih sulit dihilangkan. Lebihlebih karena citra tentang para pemimpin atau pahlawan bangsa adalah tokoh yang tanpa cela. Sikap semacam itu tentu saja menghalangi upaya mencari kebenaran data otentik dari yang dikenal dengan “surat-surat” Sukamiskin, karena menyangkut seorang tokoh pahlawanbangsa yang sangat dihormati. Seperti telah kita ketahui bahwa Rosihan Anwar telah menulis artikel-artikel ysng mengungkap “kerja sama Sukarno dengan penjajah”. Tidaklah mengherankan kalau artikel-artikel Rosihan Anwar itu mendapat tanggapan 64
  • 65. yang patriotik, yang luas di seantero tanah air. Nasihat Louis Gottschalk. Hirodotus sendiri yang mengatakan bahwa sejarah adalah Sang Guru Kehidupan dan sejarah berguna agar apa-apa yang telah dilakukan oleh orang-orang di masa lampau tak akan terlupakan di masa kini. Dengan cara lain lewat sejarawan Prapanca, pujangga Ratnansya mengatakan bahwa sejarah adalah “ kramaning tuha-tuha” atau perbuatan dan perjalanan hidup orang-orang terdahulu. Sedangkan Henry Pirenne, seorang sejarawan Belgia, menyatakan bahwa tugas sejarawan dengan demikia ialah menyampaikan fakta di masa lampau serrta memberinya penjelasan mengenai hubungan antara berbagai poristivia yang betul-betul terjadi. Dan dengan uraian kali ini, yaitu peranan sejarah untuk membangkitkan Patriotisme, marila ita ikuti nasihat Louis Gottshalk sbb. “Suatu patriotisme yang mendasarkan pada dongeng-dongeng tidak akan kekal. Seorang patriot sejarah tidak akan mengabdi tanah airnya dengan baik jika menyembunyikan kaki dan pada pujaan bangsanya yang terbuat dari tanai liat di bawah berlapis-lapis sepuhan. Adalah lebih bijaksana untuk membiarkan anak-anak melihat tanah liatnya, supaya mereka lebih dapat menghargai beberapa keping porselin putih dan emas murni yang mungkin terkandung di dalam patung pujaan itu” (Nugroho Notosutanto,l975). Dengan demikian diharapkan proses sosialisasi ber jalan semanusiawi mungkin dalam mentransmisikan nilai-nilai ideal kepada generasi muda. (SUARA MERDEKA, 16 AGUSTUS 1995) @@@ 65
  • 66. 5. SEJARAH DAN PELESTARIAN BUDAYA Romantisme sejarah kadangkala menimbulkan sikap yang serba menolak apa saja yang berbau penjajah. Pengalaman bangsa selama masa - masa penjajahan Belanda yang panjang dan pahit, telah berhasil membentuk kebencian terhadap simbol - simbol kebudayaan yang mengingatkan pada masa lalu yang gelap tersebut. Pada tahun tiga puluhan, misalnya, para ulama NU telah mengambil sikap antipcnjajahan yang tegas dengan jatan mcngcluarkan fatwa melarang (mengharamkan) penggunaan pantalon serta dasi karena dianggap sebagai pakaian orang kafir. Pelarangan itu dapat dianalogkan dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhamad terhadap pemakaian emas bagi lelaki Muslim, justru ketika umat sedang mengerahkan dana dan tenaga untuk mendukung perang sabil melawan musuh. Tidak etis rasanya kalau sementara itu kaum lelaki bebas memakai sebagian dari emas untuk perhiasan. Sikap semacam itu mudah difahami, karena perasaan anti penjajahan yang berlebihan. Kaidah yang mendasari sikap semacam itu adalah ungkapan "Man tasyabbaha bi qaumin, fahua minhum”.Artinya, barang siapa meniru-niru scsuatu kelompok bangsa, dianggap telah tergolong bagian dari kelompok tersebut. Nampaknya ungkapan tersebut efektif sekali dalam mengobarkan semangat anti penjajah. Sehingga pada masa - masa penjajahan banyak muslimin yang tidak menghendaki penampilan yang berbau Belanda, seperti cara berpakaian, cara makan, sistem pendidikan maupun gaya hidup. 66
  • 67. Hancurkan Bangunan Kcbctulan bebcrapa minggu yang lalu, bersama para anggota Badan Pengkajian Kebudayaan (BPK) Bappeda Proinsi Jawa Tengah, dalam safari acara sarasehan kebudayaan, saya beberapa kali memasuki bangunan kuno peninggalan masa penjajahan Belanda yang menjadi kantor Pembantu Guhernur Wilayah Eks Karesidenan Pekalongan. Secara arsitektur bangunan - bangunan itu indah sekali, karena memancarkan hasil seni bangun gaya Eropa klasik. Apalagi bangunan itu nampaknya ditangani dengan sungguh sungguh, sehingga berhasil bertahan menembus bilangan abad, dan masih memancarkan keanggunan budaya mapan. Namun di sisi lain, bangunan itu melambangkan sebuah sikap angkara murka dan keangkuhan birokrasi penjajahan Belanda. Untuk wilayah bekas karesidenan, gedung bekas Tuan Residen di masa lampau itu, tidak lain merupakan lambang penjajahan. Bahkan merupakan salah satu pusat komando pelaksanaan penjajahan. Lalu secara kilas balik terbayang kesengsaraan rakyat terjajah. Rakyat kurus - kurus telanjang dada yang harus melaksanakan kerja rodi atau tanam paksa untuk kepentingan kaum tuan tanah Belanda. Sementara hidup kaum pribumi mengais - ngais sisa – sisa makanan para tuan tanah Belanda, yang telah berhasil menumpuk kekayaan dari hasil keringat rakyat tertindas, untuk membangun bangunan antik megah serta memperkokoh struktur penjajah. Semua itu dikomando oleh Tuan Residen, sang birokrat penjajahann yang suka melintir kumis, yang tinggal di balik gedung - gedung bercat putih, kokoh sekokoh struktur penjajahan itu sendiri. Kemudian sejarah mencatat, bahwa kekuasaan penjajahan itu telah berhasil ditumbangkan, berkat semangat anti penjajahan yang konsisten. Dan perlahan - lahan struktur kekuasaan penjajah itu berhasil diganti dengan struktur kekuasaan nasional yang anti penjajah. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pula bangunan lambang keangkaramurkaan penjajahan Belanda yang telah memeras sampai tuntas kekayaan dan tenaga Rakyat Indonesia itu tidak ikut ditumbangkan? Mengapa pula kita harus berpayahpayah melestarikan banguna-bangunan kuno sisa masa lampau yang gelap itu. Demi apa? Demi siapa? Itulah sebersit perasaan antipati terhadap sisa - sisa budaya asing yang tidak bersababat. Perasaan semacam itu diungkapkan dalam pertemuan pertemuan dengan para pembina kebudayaan serta para kepala daerah tingkat kabupaten maupun kota madya. 67
  • 68. Nyaris ungkapan yang berakar dari romantisme sejarah ini membakar sentimen kebangsaan para hadirin. Atau justru membakar sentimen anti pikiran nyleneh dari panulis, yang dapat dianggap melawan arus, justru ketika misi safari itu sendiri dimaksudkan untuk membina kesadaran budaya, yang muaranya berupa kesadaran untuk melestarikan kebudayaan nasional? Namun apakah bangunan - bangunan itu merupakan produk dan sekaligus kekayaan budaya nasional? Melestarikan Tonggak Sejarah Ketika Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin bangsa dan negarawan pendiri Negara Kesejahteraan (Welfare State) Madinah akhirnya merindukan kembali peranan kota Mekah sebagai lambang politis, intelektual dan agama, beliau memutuskan untuk membebaskan kota Mekah. Dalam peristiwa Futuh al Makkah (The Fall of Macca) sama sekali Nabi tidak merobohkan barang satu batupun bangunan - bangunan politik maupun budaya di Mekah. Abu Sofyan sebagai Walikota Mekah tetap pada kedudukannya. Bahkan rakyat yang tidak bersedia memeluk Islam sebagai ideologi baru, tetap selamat dari "gangguan" proses Islamisasi, asal mereka tetap berlindung di balik tembok gedung balai kota. a`bah sebagai lambang intelektual kota Mekah tidak pula dittimbangkan, meskipun struktur pemerintahan anti Islam telah ditumbangkan.Siapa dapat mengatakan bahwa tindakan itu tidak ada gayutannya dengan melestarikan karya budaya dari cikal bakal pemukiman, yaitu Nabi Ibrahim? Kalau arca-arca pemujaan yang tersimpan di dalam bangunan Ka`bah kemudian dimusnahkan, wajar-wajar saja, karena arca-arca itu merupakan media pemujaan terhadap tuhan dari keyakinan yang dianggap sesat, dan sebagai lambang jiwa kejahilan Orde Lama yang anti tauhid. Tindakan itu bukan sebagai penolakan pada lambang anti penjajahan. Kemudian segera dikeluarkan dekrit dari Nabi agar pasukan Islam tidak mengganggu lingkungan, fisik maupun sosial, dari kota Mekah. Waktu pemerintahan Islam berdiri di Demak tidak pula dilakukan program pemusnahan atas pennggalan budaya masa silam. Bahkan rncsjid Dcmak dibangun oleh para Wali dengan mempertahankan ciri masa silam, yang mendasarkan konsep Meru atau Gunung dalam konsep agama Hindu. Bahkan mesjid Kuduspun dibangun dengan 68
  • 69. menggunakan gaya Hindu yang Orde Lama. Kita bisa rnelihat kebijakan budaya yang penuh toleransi itu pada hentuk menaranya yang hinduistik. Ketika India terbelah menjadi dua, India yang sekuler dan Pakistan yang Islam, banyak bangunan sisa kejayaan Islam yang oleh sementara ahli sejarah dinilai bersifat imperialistis, tidak diganggu gugat oleh bangsa dan pemerintah India. Bahkan bangunan bangunan itu dipasarkan kepada dunia pariwisata sebagai salah sebuah landmark, setelah dilakukan pemugaran, karena merupakan sebagian dari kebanggaan India, Sebagai bangunan yang merupakan ciri India. Itulah Taj Mahal merupakan lambang “penjajahan atau imperialisme Islam” atas masyarakat Hindu di India. Bahkan merupakan salah satu pusat komando pelaksanaan penjajahan. Demikian juga yang terjadi di Indonesia, yang berkaitan dengan bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Semua bangunan itu sepanjang waktu kita pelihara setelah dengan biaya besar berhasil direkonstruksikan. Demi apa? Demi siapa? Bukan demi keangkaramurkaan masa lampau tentunya. Juga bukan untuk mengenang dan mengabadikan karya penindasan atas rakyat. Pada hakikatnya kita sedang merekonstruksi pengalaman sejarah bangsa secara utuh, agar dapat digunakan sebagai pelajaran bagi generasi demi generasi. Pada hakikatnya kita sedang membangun tonggak - tonggak perjalanan sejarah. Namun tidak beraiti kita harus melestarikan seluruh peninggalan budaya masa silam tentunya. Justru disinilah kita dituntut untuk menjadi bijaksana dalam memilih. Ganti Fungsi Eropa maupun Inggris Raya tidak sedikit kastil kuno yang telah disulap fungsinya menjadi hotel atau museum, tanpa harus menumbangkan keaslian bangunan. Juga di Uni Soviet dulu bekas-bekas Istana Tsar dengan arsitektur bawang, yang mereka tumbangkan, tetap digunakan sebagai Istana Kremlin. Fungsinya saja yang berubah, dan istana kaum bangsawan menjadi istana kaum proletar di masa rezim komunis. Demikian pula candi-candi di Indonesia, yang semula merupakan bangunan pekuburan dan pemujaan pada dewa telah dialih fungsikan menjadi objek turisme, tanpa ada gejolak beda pendapat. Jadi kalau ada niatan untuk mengalih fungsikan sebuah 69
  • 70. istana atau bangunan khas yang merupakan landmark kota menjadi hotel, bukan pula merupakan hal aneh, asal pengelola fungsi baru itu tetap mempertahankan kekhasan arsitekturnya. Ini merupakan salah satu wujud proses transformasi budaya yang sedang berjalan. Mengapa kita harus berbicara tentang keaslian arsitektur tidak lain karena dalam proses transformasi budaya itu kita membutuhkan gambaran utuh mengenai proses peralihan budaya itu sendiri. Yaitu gambaran mengenai perjalanan sejarah yang utuh. Namun kembali kita dituntut untuk melakukan proses seleksi, karena tidak semua yang kuno itu harus dilestarikan. Yang kita lestarikan bukan hanya karya fisiknya, melainkan juga nilainya. Yaitu nilai historisnya, nilai keunikannya, nilai semangat yang melatarbelakanginya, maupun nilai ekonomisnya. Tibalah dengan demikian kita pada titik rawan, karena berbagai kepentingan sekaligus sedang bertemu. Dalam peristiwa seperti itu yang diperlukan adalah dialog budaya. ( @@@ 6. REVITALISASI BANGUNAN MONUMENTAL (Antara Romentisme Dan Realisme( Akhirnya muncul juga neaksi pro dan kontra tentang nasib yang bakal menimpa bangunan kuno yang dilindungi di Semarang, yaitu dijualnya Gedung Lawangsewu. Kabar yang merebak adalah niat perusahaan perhoteIan asing, Westin Intemational, membeli bangunan antik itu dan menjadikannya hotel berbintang lima. 70
  • 71. Konon pemilik gedung atitik itu, Perumka Wilu Jateng, masih belum memberikan konfimasi. Namun demikian Eko Budihardjo, arsitek yang sangat prihatin terhadap setlap usaha pembongkaran benda-benda antik, kali ini setuju atas alih fungsi gedung tua tersebut (SuaraMerdeka 17/3). Alasannya masuk akal, karena pihak investor tak akan melakukan pemhongkaran maupun perombakan utama, melainkan hanya melakukan pengembangan, guna kepentingan promosi hotel itu sendiri. Tidak memerlukan waktu terlalu lama, ketika mendadak muncul tulisan Imam Prakoso, yang menunjukkan beda pendapat dengan pandangan Eko. Alasannya juga sangat masuk akal, yaitu khawatir hilangnya petiIasan-petilasan yang mempunyai niIai patriotik amat tinggi. Sepetti kita ketahui Gedung Lawangsewu mempunyai peran amat panting dalam peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Sungguh sangat menyentuh hati ungkapan dan keprihatinan Imam Prakoso; dalam tutisannya yang berjudul “Lawang Sewu dan Pertempuran Lima Hari” (Suara Merdeka 21/3). Di sana tertulis antara lain “Setiap saat para pejuang pahIawan itu akan merintih menangis meIihat tempat yang penuh kenangan sejarah itu telah berganti digunakan untuk kemaaksiatan. Tak jarang juga perjudian, prostitusi, dan sinndikat narkotik seperti layaknya hotel-hotel besar di luar negeri”. Lalu harian ini segera memunculkan sikap resminya, dengan tajuk rencananya tertanggal 22 Maret yang berjudul "Lawangsewu dijadikan Hotel, Mengapa Tidak?” Intinya amat menyetujui gagasan penjualan gedung itu kepada Westin 1nternational , karena dianggap sudah profesional dalam mengolah gedung-gedung tua untuk hotel. Di tangan mereka, diharapkan bentuk asli Lawangsewu dapat dipertahankan, meskipun tetap dilakukan pengembangannya untuk tujuan pemasanan hotel. Revitalisasi Kota Tua ru-baru ini di Semarang diselenggarakan pertemuan ilmiah membicarakan kiat memanfaatkan bagian kota Semarang di Mberok, yang dikenal sebagai "kota tua". Sudah lama Sutomo WE, sejak menduduki jabatan kepala Bidang Jarahnitra Kanwil Depdikbud Jawa Tengah, melemparkan gagasan untuk memanfantkan bagian kota itu, 71
  • 72. dengan jalan melarang lalu lintas umum melewati jaianan di sekitar Gereja Blenduk selama satu atau dua hari dalatn setiap pekan. Dl samping dengan begitti kita dapat mengurangi dampak berupa polusi udara dari asap knalpot dan mengurangi getaran oleh lalu lintas berat dengan mobil. Pada saat-saat itu dapat diselenggarakan semacam pasar tiban. Dl toko-toko besar maupum pedagang kaki lima tradisional. Tampaknya gagasan itu mendapat tanggapan epadan dari Pemda dan para ahli. Dengan cara itu kita sekaligus dapat melakukan langkah pelestarian bangunan antik yang khas. Bukan dengan pemugaran dan menghidupkan kembali fungsi asli bangunan tersebut, melainkan memodifikasi fungsi suatu gedung kuno. Cara seperti ini dikenal dengan "revitalisasi", yaitu menghidupkan kembali jiwa bangunan dengan melakukan alih fungsi yang lebih produktlf. Dengan cara ini dapat dlperoleh man faat ganda yaitu di samping gagasan untuk reservasi tercapai, dapat diperolen dana, yang diterima Dari penghasilan fungsi barunya. Misalnya, kalau bangunan kuno itti dijadikan hotel atau pusat rekreasi. Dalam kesempatan sebagni penceramah dari Panitia Dasa Warsa Kebudayaan untuk daerah Jawa Tengah selama beberapa tahun terakhir ini, Eko Rahardjo, Sutomo WE, yang sekarang menjadi tenaga akademik Akademi Kepariwisataan Indonesia (Akpari) dan saya, melakukan penyuluhan ke berbagai daerah, tentang perlunya melakukan upaya reservasi maupun revitalisasi peninggalan kuno. Misalnya benteng pendhem dijadikan museum maupun pusat kegiatan kesenian, masjid kuno di Tamansari Yogyakarta dijadikan tempat tujuan wisata. Bahkan di luar negeri, isalnya di Sydney Australia, bekas penjara dialihfungsikan menjadi pusat pertokoan The Rocks. Di Yogyakrta, benteng Vredenburg telah disulap menjadi pusat pertokoan dan kegiatan kebudayaan. Jangan pula dilupakan, fungsi Borobudur, yang merupakan candi agama Budha, setelah dlpugar secara besar-besaran pun dialihkan fyngsinya menjadi objek pariwlsata. Sudah sejak lama sebagian Keraton Surakarta maupun Ngayogyakarta dilungsikan sebagai objek wisata. Romantisme dan Reaiisme Setiap benda purbakala niemiliki keistimewaan yang menjadi alasan kuat mengapa 72
  • 73. perlu dilestarikan. Mengutip pendapat Snyder danCatanese (1979), Eko Budiharjo menyebutkan enam tolok ukur untuk melakukan pengawetan benda-benda kuno tersebut.Yaitu, karena alasan kelangkaannya, alasan kesejarahannya, alasan keindahannya, alasan superlafivitas n (ternasuk yang paling .;..), dan alasan besar pengaruhnya. Di samping itu, dikutip tolok ukur yang disampaikan Semple, Kerr (1985). yaitukarena nilai sosialnya, karena nilai komersialnya, maupun, karena nilai ilmiahnya. Sementara itu dapat pula, dikemukakan ada dua alasan amat berbeda, bahkan bertentangan, dalam mengambil keputusan untuk melakukan palestarian, yaitu romantisme dan realisme. Romantlsme di sini adalah alasan-alasan berupa kenangan Indah, maupunpun beroik, seperti dikemukakan dosa kalau harus membiarkan gedung yang menjadi saksi patriotisme para pemuda Semarang dalam melawan keangkamurkaan pasukan Jepang itu mysnah oleh alasan bisnis semata. Mereka yang tldak merasakan jeritan tangis hati Imam Prakoso akan memandangnya emosional dan Cengeng. Lebih-Iebih kalau kita tidak dapat memelihara gedung tersebut sebagaaimana layaknya memelihara keramik zaman Dinasti Ming di rumah-rumah kita. Apakah kita akan membiarkan terhanyut oleh kenangan romantis dengan membiarkan diri tidak mampu merawat benda kenangan itu pelan-peIan, lapuk dimakan usia dan cuaca.Atau sebaliknya kita lebih balk melibat kenyataan hidup secara realistis, yaitu membiarkan kita melepaskan kenangan romantis masa perjuangan yang penuh keheroikan itu. Lalu kita biarkan gedung itu dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis, asal secara fisik bangunan tetap bisa kita saksikan, karena tak akan dibiarkan dijamah perubahan yang tidak semena-mena. Percayalah arwah para pahlawean tidak akan bersifat egoistis dan meminta dikenang secara berlebiban, karena kenangan masih tetap kita kobarkan dengan mengadakan upacara peringatan peristiwa heroik itu. Artinya, roh pahlawan itu tidak akan menangisi pergeseran fungsi Lawangsewu. Begitulah barangkali paham realisme yang tidak membiarkan diri terhanyut mimpi emosional dalam kenyataan hidup. Bagaimanapun tidak mudah keterangan semacam itu diterima orang-orang seperti Imam Prakoso, karena kekayaan rohani berupa rasa hormat pada pahlawain tidak dapat diperjualbelikan. Lebih-lebih bila investor yang akan membeli adalah modal asing. Rasanya emosi kenasionalan kita meluap. 73
  • 74. Apa Salahnya? Ya, apa salahnya Gedung Lawangsewu dialihfungsikan nmenjadi hotel mewah. Sudah tentu salahi, dan bahkan berdosa besar, kalau kita mengacu pada pandangan Eugene Ruskin, tokoh yang mengatakan membongkar bangunan kuno, apalagi yang bernilai sejarah, bukanlah dosa kecil. Karena itu harus betul-betul ada jaminan dari investor, untuk selalu terikat dengan janji yang menghargai berbagai aspek emosi dan romantika Lawangsewu. Di samping itu masih dipandang perlu dibuat sebuah prasasti dt halaman gedung itu, yang berisi catatan pokok faktual sekitar peranan Lawangsewu di masa lampau, terutama berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari. Dengan cara ini para penganjung hotel akan inendapat inforinasi lengkap tentang peran Lawangsewu yang mereka inapi. Akan lebih baik seandainya dikeluarkan buku kecil (booklet) yang berisi cerita tentang gedung itu secara lebih terurai. Menjelang peringatan Perempuran Lima Hari dipentaskan konser musik perjuangan ataupun opera kecil tentang kisah patriotik dan heroik dengan teina pertemparan itu di hotel tersebut, yang sebaiknya juga dinamakan Hotel Lawangsewu. Sebagai dokumentasi sebelum dilakukan tindakan apa pun terhadap Lawangsewu, perlu dilakukan pengabadian secara fisik dengan jalan merekam gedung itu dari berbagai penjuru dan sudut pengambilan. Tentu saja termasuk tugu segi empat yang paling berkaitan langsung dengan Perteinpuran Lima Hari, sejak sebelum dipindankan ke tempat tugu tersebut berdiri sekarang, yaitu di hataman Lawangsewu. Dengan begitu masyatakat ingat Gedung Lawangsewu pun pernah diniodifikasi, agar dapat tetap selarnat. (18) (Suara Merdeka, 8-4-1995) 74
  • 75. 7. MENGUAK KEBENARAN SEJARAH BANGSA INDONE Tulisan kali ini lebih merupakan uraian dengan kalimat-kalimat pendek mengenai sesuai pokok bahasan. Kemudian disusul dengan suatu pertanyaan, yang dimaksudkan untuk mendapatkan penjelasan atas sejumlah fenomena yang dikemukakan dalam pernyataan sebelumnya. Setiap pokok bagasan ditulis di bawah nomor urut. Dan nomor berikutnya digunakan untuk mengemukakan uraian berikutnya. 1. Di gereja-gereja di Amerika Serikat dan Eropa terlihat patung Yesus Kristus dengan rambut dan jenggot berwarna pirang, kulit tubuhnya yang telanjang cerah dan dengan profil wajah dan tampang ras Kaukasus. Orang tidak pernah mempersoalkannya, meskipun sebagai keturunan Bani Samyah (Semmit) tentu saja beliau tidak memiliki ciri fisik seperti digambarkan dalam patung. Demikian pula orang tidak mempersoalkan patung Yesus Kristus di gereja-gereja di benua Afrika. Padahal di sana Yesus ditampilkan dengan fisik orang Negro, berkulit hitam, rambut hitam keriting kecil dan berhidung lebar. Mana kebenaran sejarah? Di sebuah pelabuhan laut di Jepang berdiri sebuah patung seorang pahlawan bngsa Jepang. Orangnya gagah, tinggi besar, dan naik kuda. Padahal kenyataannya tampang pahlawan itu jauh berbeda, yaitu berbadan kecil. Mana kebenaran sejarah? 75
  • 76. Demikian pula di sebuah taman kota di Houston City tegak berdiri patung seorang pahlawan kemerdekaan Negara Texas. Tubuhnya digambarkan kecil, naik kuda besar, presis seperti gambaran sesungguhnya. Itulah Sam Houston. Itukah kebenaran sejarah? 2. Bung Karno sebagai Sang Proklamator pernah diuraikan sebagai keturunan campuran antara orang kulit putih dengan seorang pribumi. Bahkan disebutkan pula bahwa silsilah beliau sampai pada garis keturunan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Itulah yang dibicarakan dari mulut ke mulut. Namun dalam buku-buku sejarah beliau disebutkan sebagai putra seorang guru dari suku Jawa yang menikah dengan seorang perempuan Bali. Yang mana kebenaran sejarah itu? Menjelang saat-saat proklamasi kemerdekaan beliau dan Bung Hatta pergi ke Rengasdengklok. Sebagian orang menyatakan bahwa kepergian itu dilakukan karena diculik oleh kaum muda seperti Chaerul Saleh, Sukarni dan Adam Malik. Mereka memaksa kedua beliau agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun dalam buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat, sebagaimana diceritakan Cindy Adams, dinyatakan bahwa kepergian itu tidak karena adanya sesuatu paksaan dari manapun. Yang mana kebenaran sejarah itu? Mana dari cerita itu yang benar? Dan ketika beliau wafat pada tahun 1971 dituliskan dalam buku sebagai akibat sakit. Bagaimanapun adalah wafat secara wajar. Kemudian baru-baru ini seorang saksi sejarah, Nyonya Dewi Sukarno, yang juga salah seorang istri beliau menyatakan bahwa beliau wafat secara tidak wajar. Konon dikatakan ada tangan-tangan yang sengaja mempercepat kematian beliau. 76
  • 77. Mana pula yang dinamakan kebenaran sejarah? 3. Tanggal 30 September 1965 bagi bangsa Indonesia merupakan tanggal bersejarah, karena di tengah malam itu terjadi penculikan dan pembunuhan sadis terhadap sejumlah jendral TNI AD. Peristiwa itu kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Pemberontakan G30S/PKI. Itulah faktanya. Masalahnya kemudian muncul, yaitu : a. Apa hakekat pemberontakan itu? 1) Kudeta PKI terhadap pemerintahan Sukarno? 2) Pertentangan intern AD? 3) Kudeta terselubung oleh TNI AD? b. Siapa di balik kegiatan pemberontakan itu ? 1) Bung Karno ada di belakang G30S/PKI? 2) Jendral Suharto mengetahui rencana G30S/PKI? 3) Jendral Suharto memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi? 4) Jendral Suharto merupakan penyusun skenario untuk kepentingan pribadi? 4. Selama lebih dari tiga puluh tahun diajarkan oleh guru sejarah hal-hal sebagai berikut : a. Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dirancang dan dipimpin oleh Letkol Suharto b. Supersemar ditanda tangani Presiden Sukarno secara sukarela, untuk mengatasi situasi keamanan nasional, terutama di Ibu Kota. Baru-baru ini muncul tuduhan dari sejumlah saksi sejarah maupun pelaku sejarah, bahwa : a. Perancang SO 1 Maret 1949 adalah Sri Sultan HB IX. b. Supersemar ditandatangani oleh Presiden di bawah todongan pistol oleh Jendral M. Panggabean. 5. Tidak mudah untuk menemukan kebenaran sejarah nasional Indonesia yang hakiki, karena berbagai alasan sbb.: 77
  • 78. a. Faktor subyektifitas pelaku ataupun penulis sejarah, yang terjadi karena : 1) faktor kepentingan pribadi, kelompok maupun politik 2) faktor kelemahan daya ingat atau tingkat persepsi pelaku sejarah yang berbeda b. Faktor kepentingan politik suatu orde atau suatu “rulling class”, untuk meningkatkan kredibilitas kepemimpinan mereka. c. Faktor persepsi tentang peranan sejarah, yang meliputi : 1) romantisme sejarah, yang menempatkan sejarah untuk meningkatkan kebanggaan diri. 2) sejarah sebagai sarana pendidikan politik 3) historisisme baru (New Historisism), yang menempatkan sejarah sebagai ilmu. 6. Yang dapat dilakukan dalam menegakkan kebenaran sejarah antara lain : a. Tim penulis sejarah nasional melakukan kajian ulang terhadap berbagai data yang kontroversial b. Guru harus diberi petunjuk untuk menggunakan buku sejarah terbitan masa Orde Baru secara lebih selektif. c. Para ilmuan sejarah melakukan melakukan kajian sejarah secara lebih mandiri, tanpa suatu prasangka. @@@ 78
  • 79. Makalah untuk Diskusi Panel tentang Indonesia Menguak Kebenaran Sejarah Bangsa , oleh Forum Masyarakat Katolik Indonesia, Presidium Wilayah Jawa Tengah, di Unika Sugyopranoto Semarang, 25 Oktober 1998. 8. ETNO-NASIONALIOSME Pengertian Etno-Nasionalisme merupakan pengertian tentang jenis nasionalisme yang mendasarkan pada ikatan etnis tertentu. Ernest Renan mengatakan bahwa nasionalisme adalah semangat untuk membentuk negara nasional atas dasar kesamaan kehendak untuk bersatu, Mneurut bahasa aslinya Renan mengatakan bahwa nasionalisme adalah “la desire d`etre ensemble”. Artinya “keinginan untuk bersatu”. Konsep tersebut memang bisa berarti bahwa yang memiliki kemauan untuk bersatu adalah mereka yang memiliki 79
  • 80. kesamaan asal-usul atau keturunan atau satu ras. Kalau hal itu terjadi sebetulnya tidak ada masalah, kecuali kalau kesamaan asal-usul atau keturunan itu dijadikan satu-satunya azas, dan kemudian menolak mereka yang berbeda asal-usul, atau keturunan, atau etins, atau agama. Pengertian nasionalisme seperti itulah yang disebut etno-nasionalisme. Hal seperti itulah yang dikhawatirkan dan ditolak oleh Bung Karno, karena akan menimbulkan negara kebangsaan Aceh, negara kebangsaan Minangkabau, Negara kebangsaan Sunda, Jawa, Minahasa, Ambon, Papua dan seterusnya. Yang dibutuhkan adalah agar ‘kesatuan Indonesia’ menjadi dasar pembentukan negara kebangsaan Indonesia, yang meliputi berbagai kesatuan etnis, agama, ikatan adat dsb. yang hidup di Indonesia. Kesatuan Indonesia itu terjadi karena mereka memiliki kesamaan nasib, kesamaan cita-cita, kesamaan tujuan dsb. Sejarah membuktikan bahwa gagasan atau konsep nasionalisme menurut Bung Karno tersebut telah menjadi kenyataan, karena telah terbentuk negara kebangsaan Indonesia (Proklamasi Kemerdekaan 17-8-1945), yang didasarkan pada konsep ‘Bhineka Tunggal Ika’. Perjalanan sejarah telah menunjukkan keberhasilan bangsa Indooensia dalam mengatasi berbagai usaha kaum separatis untuk memecah belah kesatuan bangsa itu, seperti berdirinya RMS/BVO (1949), PRRI/ PERMESTA (1960 an) dsb. Jauh sebelum masa itu berbagai tekad untuk bersatu telah dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, misalnya sejak upaya yang dilakukan (1) Gajah Mada di masa kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapanya, (2) oleh gerakan semangat kebangsaan sejak Budi Utomo pada 1908, dan (3) mencapai puncaknya dengan rumusan Sumpah Pemuda pada 1928. Sementara itu Sartono Kartodirjo beranggapan bahwa nasionalisme bisa timbul karena dua latar belakang, seperti yang terjadi di Eropa. Yaitu (1) perlawanan terhadap dan pembebasan dari dominasi kekuatan sosial politik di dalam negeri, seperti oleh kaum bangsawan maupun kaum ningrat atas kaum proletar atau kaum rakyat jelata. Dan (2) dominasi kekuatan sosial politik asing, yang lebih sering disebut sebagai kaum penjajah atau penakluk asing. 1. Lahirnya Negara-Negara Kebangsaan. 80
  • 81. Dasa warsa pertama setelah PD II usai merupakan masa paling subur bagi lahirnya negara-negara kebangsaan baru, yang berhasil melepaskan diri dari kungkungan penjajahan maupun yang karena perjanjian berhasil dilepaskan sebagai negara kebangsaan. Kebanyakan dari negara kebangsaan baru maupun lama di dunia merupakan negara kebangsaan multi etnis, termasuk India, Indonesia, Yugoslavia maupun Uni Sovyet. Mereka kokoh dan stabil, meski berbagai gejolak sparatisme yang mengarah pada kondisi disintegrasi bangsa tidak kunjung berhenti. Meskipun demikian ketika sistem kekuasaan despotis yang mendominasi negara-negara tersebut mulai merosot ancaman terjadi disintergrasi tidak terelakkan, sehingga makin membahayakan keutuhan bangsa. 2. Lahirnya Semangat Etno-Nasionalisme Konsep Gorbachev tentang Glasnot dan Peristroika nampaknya menjadi bumerang bagi kelangsungan kekuasaan Gorbachev. Implikasi dari kampanye Gormachev itu bergulir dua perubahan besar di dunia. Pertama. komunisme berhasil ditumbangkan dari percaturan politik Rusia dan banyak negara komunis lainnya. Kedua, negara-negara bagian dalam kesatuan Uni Sovyet telah melepasklan diri, dan mendirikan negara kebangsaan sendiri yang merdeka dan berdaulat penuh. Sebuah proses disintegrasi bangsa tengah berlangsung di negara-negara komunis yang dipimpin secara despotis. Menyusul kemudian Yogoslavia dan beberapa negara Balkan lainnya, mengalami juga disintegrasi bangsa. Yugoslavia telah pecah menjadi tiga negara nasional yang bersifat etno- nasionalis, yaitu Serbia, Bosnia, dan Croasia. 3. Etno-Nasionalisme dan Disintegrasi : Kasus Indonesia. Tumbangnya pemerintahan otoritarianis yang despotis yang telah berlangsung sangat lama, di bawah presiden Suharto (1966 – 1998), telah pula mengancam terjadinya gejala semangat etno-nasionalisme yang mengarah pada terjadinya disintegrasi bangsa. Masyarakat dihadapkan pada sebuah simpang jalan. Di satu sisi bertekad untuk menggulirkan terus agenda reformasi sebagai perlawanan terhadap rezim Orde Baru, 81
  • 82. yaitu menegakkan (1) demokratisasi, (2) keterbukaan, (3) HAM, (4) desentralisasi kekuasaan, dan (5) supremasi hukum. Pada sisi lain menghadapi gejala disintegrasi bangsa, dan sparatisme yang mendasarkan pada semangat etno-nasionalisme. Di Aceh bangkit kekuatan etno-nasionalis GAM (Gerakan Aceh Merdeka), di Papua bangkit gerakan etno-nasionalis OPM (Organisasi Papua Merdeka). Masing-masing menggunakan dalih, bahwa kebijakan pembangunan selama rezim Orde Baru tidak menguntungkan daerah. 4. Otonomi Sebagai Alternatif. Otonomi daerah sebagai alternatif untuk mengatasi masalah telah dituangkan ke dalam UU tentang Otonomi Daerah telah diletakkan dasarnya oleh pemerintahan Habibie. Dalam pelaksanaannya ternyata semangat otonomi telah berkembang ke arah yang salah, karena segera muncul kecenderungan neo- tribalisme , yang ditandai dengan mencuatnya semangat menonjolkan etno-identity. Neo-Tribalisme merupakan kecenderungan persaingan di antara warga bangsa dalam bentuk kesamaan organisasi sosial politik, termasuk kesamaan paham keagamaan, Yang diidentikkan dengan kelompok etnis atau tribe (suku bangsa). Sedangkan etno-identity merupakan simbulsimbul yang merupakan ciri kelompok etnis, seperti bendera, tata nilai, maupun kebanggaan masa lalu. 5. Paradigma Nasionalisme Baru Indonesia telah kehilangan identitas nasional yang berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa. Secara formal Pancasila masih tetap dan diharapkan tetap menjadi identitas bangsa Indonesia, namun sepanjang sejarah telah tercemar oleh penampilan rezim Orde Lama maupun rezim Orde Baru, yang senantiasa mengidentikkan dengan Pancasila, sementara penampilan mereka jauh dari semangat Pancasila tersebut. Yang diperlukan sekarang adalah : (1) merehabilitasi Pancasila supaya mendapat kepercayaan kembali sebagai identitas bangsa dan alat pemersatu bangsa dengan pengertian dan perbuatan. (2) Meluruskan 82
  • 83. kembali berbagai kontroversi sejarah nasional. (3) Melakukan rekonsiliasi terus menerus di antara seluruh komponen bangsa. (4) Menghilangkan segala bentuk kesenjangan di antara semua komponen bangsa, termasuk bidang-bidang sosial, ekonomi politik Ooo 83
  • 84. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------Makalah ditulis dan disajikan oleh Prof. DR. Abu Su`ud, GB Pendidikan Sejarah pada FIS Unnes, untuk Seminar Nasioinal VIII Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKA AHIMSI). 13-14 Oktober 2001 di Unnes Semarang. 8. UPAYA MENGESAMPINGKAN PERBEDAAN “Kesetiaanku pada partai berhenti, ketika kesetianku pada negara dimulai Ho Chi Minh). Saya membaca ungkapan tersebut sebagai pernyataan Paman Ho, seorang pahlawan bangsa Vietnam, ynng berhasil mendirikan negara nasional Vietnam. Perjoangannya menentang kekuatan penjajah tidak berjalan mulus, sebab sepeninggalnyanegara Vietnam terbelah dua, menjadi Vietnam Utara yang menganut komunisme, dan Vietnam Selatan yang pro Amerika Serikat. Namun dengan kegigihan yang tak mudah dicari tolok bandingannya rakyat Vietnarn berhasil menyatukan kembali Vietnam yang terbelah itu, sesuai dengan cita-cita Ho Chi Minh. Orang berpendapat bahwa keberyhasilan itu merupakan buah Perang Vietnam yang telah mempermalukan Amerika Serikat, yang telah dengan tidak terhormat meninggalkan bumi Vietnam. Vietnam. Pada sebuah embok peringatan Perang Vietnam di Amerika Serikat terukir ribuan nama putera-putera Amerika Serikat yang tewas, namun nampaknya tanpa suatu kebanggaanpun. Mereka tewas tidak karena membela tanah air mereka. Pernyataan Ho Chi Minh tersebut di atas mengajarkan kepada rakyatnya, agar kesetiaan kepada partai, bagaimanapun pentingnya sebagai alat persatuan perjuangan, harus segera diakhiri, ketika harus berhadapan dengan kepentingan negara. Inilah hakikat ajaran kebangsaanTiba-tiba saja pernyataan Paman Ho itu menjadi amat relevan dengan saat kita harus memperingati Hari Sumpah Pemuda kali ini yang bertepatan dengan situasi global pasca peruntuhan negara-negara komunis di Eropa. 84
  • 85. Perekat Nasional Mungkin ungkapan tersebut telah pula diucapkan oleh negarawan lain, seperti JF Kenaedy, dan diucapkan pertama kalinya oleh negarawan manapun. Namun marilah kita baca ungkapan tersebut dengan makna yang berlawanan. Misalnya, kesetiaanku kepada golongan mulai, manakala kesetiaan kepada negara mulai mereda. Dua tahun akhitakhir ini kita menyaksikan pergelaran besar berupa bentrokan antar etnik di berbagai negeri bekas negara-negara komunis di Eropa Timur. Sekarang kita sedang mcnyaksikan perjoangan antara hidup dan mati di antara tiga etnik, Serbia, Bosnia dan Croatia, meski mereka hidup di atas sepotong tanah yang sama di sudut Balkan. Dahulu mereka hidup rukun dalam sebuah negara, yaitu negara komunis Yugoslavia. Juga sedang kita saksikan perang saudara di antara etnik Georgia dan etnik Abkhazia, yang sedang berkecamuk, meski sama-sama bangsa yang dahulu rukun dan damai di bawah Uni Sovyet. Menjelang kematian Josef Bros Tito, pejuang, negarawan, dan kepala negara Yugoslavia yang seperti halnya Bung Karno, telah berhasil menyatukan negaranya. Dunia sudah meramalkan betapa bangsa itu bakal hancur berantakan. Mereka bakal terkoyak-koyak koyak oleh perbedaan kepentingan. Ternyata apa yang dikhawatirkan itu terjadi, meski telah disusun kepemimpinan kolektif sebagai ganti Tito. Tidak lama setelah komunisme tidak lagi menjadi ideologi bangsa, berantakanlah persatuan di antara etnik maupun negara bagian. Bukan hanya itu, bahkan semangat etnosentrisine makin merebak, sehingga mengalahkan semangat integrasi bangsa yang telah dibina sekian lama. Setiap negara bagian, lebih-lebih yang di latarbelakangi persamaan etnik maupun agama tiba-tiba menjadi pusat kesetiaan tunggal. Kesetiaan kepada negara nasional dalam format lama mutai ditinggalkan. Tiba tiba pula ikatan etnik berubah menjadi ikatan “negara nasional” datam format baru yaitu kebangsaan dalam arti kesamaan etnik. Apa yang tertadi di Bosnia – Herzegovina itu terjadi pula di Georgia, bekas republik di Uni Soviet. Kesetiaan pada etnik tiba-tiba berubah menjadi semangat perjuangan, ketimbang kesetiaan pada keutuhan Republik Georgia dalam format barupun. Eduard Shevardnadze yang semasa kejayaan Uni Soviet dihormati oleh 85
  • 86. seluruh bangsa di Rusia, tiba-tiba terlempar ke sudut Georgia, dan hanya dicintai dan dipatuhi oleh etnik Georgia. Sementara kaum separatis Abkibazia bertekad untuk menerkam dan menggulingkannya dari kursi kepresidenan Republik Georgia itu. Alasannya jelas, yaitu karena dia bukan berasal dari etnik yang sama. Sumpah Pemuda Paling tidak ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari kasus-kasus di bekas negara komunis terkemuka di Eropa tersebut. Pertama, bahwa sesuatu idealisme berupa cita-eita membangun negara nasional hanya dapat terwujud kalau ada ideologi tutiggal yang dapat menjadi perekat. Ideologi koinunisine - terlepas dari sikap kita yang berbeda - telah lama menunjukkan kemampuan sebagai perekat nasionalisme beberapa bangsa besar seperti Sovyet Rusia maupun negara - negara di Eropa Timur. Semula dianggap mustahil kalau ajaran itu bisa hancur berantakan dan ditinggalkan oleh para pendukungnya. lronisnya, ternyata bahkan kehancuran itu bukan disebabkan oleh serangan dari luar, melainkan karena ditinggalkan oleh para pendukungnya sendiri yang mulai jemu dengan semangat totalitarian yang dikembangkannya. Kedua, nampaknya diperlukan semangat persatuan bangsa, yang mampu mengesampingkan berbagai ikatan primordial, demi semangat untuk tetap survive atau bertahan hidup. Manusia itu memang aneh. Begitu besar cintanya kepada diri sendiri, sehingga ingin selalu survive. Justru pada saat itu juga setiap individu mencari teman yang samasama mempunyai kekhawatiran akan nasib kelangsungan hidup sendiri. Kemudian mereka mengikat diri dalam suatu kerja sama, meski harus mulai mengurangi kebebasan individual. Inilah yang disebut sebagai kontrak sosial. Dalam skala yang lebih besar, setiap etnik maupun komunitas, dengan alasan yang sama, mulai menjalin kontrak dengan etnik maupun komunitas lain. Lalu muneullah gejala bangsa. Selanjutnya setiap bangsa akan mengikat kontrak dengan bangsa lain juga, agar tidak musnah oleh ulah bangsa lain. Namun manakala dalam format baru itu, kebebasan dirinyn makin terganggu, mulailah proses desintegrasi kembali merebak. Masing-masing akan mengobarkan kembali semangat priinordialisme, berupa kesetiaan 86
  • 87. pada ikatan-ikatan emosional sepenti kesamaan agama maupun kesamaan etnik. Secara emosional kita dapat beranggapan, bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa tidak dapat dihancurkan oleh siapapun. Dan oleh karenanya kita merayakan Hari Kesaktian Pancasila setelah berhasil menggagalkan usaha pemberontakan G30S/PKI pada akhir September 1965 Sebaliknya secara rasional tentu saja kita sadar bahwa ideologi Pancasila itu harus tetap dikembangkan agar tetap menjadi semnangat integrasi bangsa. Pandangan tentang Pancasila sebagai ideologi terbuka, misalnya merupakan salah satu upaya strategis agar Pancasila tetap dapat diterima sebagai satu-satunya ideologi bangsa Indonesia, dan tetap berfungsi sebagai perekat kesatuan bangsa. Sejarah telah menunjukkan kepada kita, betapa semangat “bhineka tutiggal ika” telah betul-betul menjiwai para pemuda pada tahun 1928, dengan dirumuskannya ikrar Suinpah Pemuda yang terkenal itu : Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Itu merupakan prestasi amat besar bagi upaya integrasi bangsa Apresiasi kita akan makin tinggi terhadap prestasi itu kalau kita mau membayangkan betapa sulitnya gagasan persatuan dapat dikembangkan pada saat itu, justru ketika penjajah selalu mengemmbangkan cara-eara “divide et impera”. Pada saatsaat itu masing-masing subsistem sedang menikmati dan menggandrungi kekhasan diri dalam semangat sektarian mereka, dalam wujud kesamaan agama, kesamaan etnik, kesamaan asal usul, strata sosial dan sebagainya. Prestasi tersebut tidak lain merupakan wujud dari kemampuan diri untuk mengesampingkan segala perbedaan yang ada secara emosional, budaya maupun alaini, dan menekan segala dorongan yang lebih mengutamakan kesetiaan pada ikatan primordial. Sebaliknya mereka pada saat itu mampu menyatukan tekad untuk segera merealisasikan cita-cita persatuan bangsa. Proses Pembudayaan Di sinilah letak relevansi pernyataan Ho Clii Minh dengan peringatan Hari Suinpah Peinuda kaii ini. Karena meskipun pada saat itu wujud Indonesia sebagni negara nasional belum ada, namun tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia sebagai Nusa, sebagai Bangsa, dan sebagai Bahasa telah ada. Kendati deinikian kita tidak boleh berkhayal bahwa persatuan dan persatuan bangsa itu akan selalu dengan sendirinya lestari, dengan 87
  • 88. alasan semangat Sumpah Pemuda telah menjiwai perilaku bamgsa kita. Sejarah telah memberikan kita pelajaran amat berharga, banwa negara besar semacam Uni Soviet yang dipateri dengan ideologi nasional sejak 1918 pun dapat hancur berantakan. Kuncinya lain tidak adalah mewaspadai dan menjaga jangan sampai seinangat provinsialisme maupun separatisme mengalahkan semangat Sumpah Pemuda itu sendiri, Caranya bukan sekadar dengan pidato pembinaan politik maupun cerainah akadeinik, melainkan dengan pembudayaan sikap dan perilaku sehari-hari sebagai proses budaya, tentu saja dalam kondisi sosial politik yang mendukungnya. (28) SUARA MERDEKA 28 Okttober 1993) 10. MEMAKNAKAN HARI PAHLAWAN Menurut para ahii psikologi sosial, manakala seseorang atau sekelompok manunia sedang mengalami fnistrasi dalam hidupnya karena misalnya apa-apa yang dirasakannya benardan seharusnya terjadi tidak terwujud, maka biasanya mereka mencari berbagai cara untuk melarikan diri dari tekanan itu. Salah satu pilihan ialah mencari kepuasan dalam dunia mistik atau kemudian orang itu lambat laun menjadi pengelamun nomer wahid, bak anak pubertas yang sedang dilamun asmara. Pelarian berikutnya ialah membayangkan kejayaan masa lampau. Atau bernostalgia menurut istilah lama yang kembali menjadi pupuler. Dan nampaknya cara orang bernostalgia itu bermacam - macam, menurut selera serta kemahiran yang dirnillki. Orangpun misalnya beramai - ramai bersimposium untuk 88
  • 89. merumuskan betapa jayanya peranan orang-orang muda masa lampau. Maka direncanakanlah suatu langkah besar untuk menynsun sejarah perjuangan pemuda di Repubilk ini, sepanjang masa. Lewat forum itu tokoh - tokoh itu akan menikmati kejayaan masa - masa lalu mereka. Tentu saja banyak maksud baik yang bisa disalurkan lewat proyek tersebut, antara lain agar generasi masa kini dan masa datang dapat mengambil suri tauladan dari perjuangan para pendahulu kita itu. Lalu para budayawan pun bersarasehan tentang pasal kreatifitas bangsa, sambil mengamati kejayaan masa lalu dalam berkreasi untuk nusa dan bangsa, terus menerus mengeluh mengapa generasi sekarang menjadi generasi yang rendah kreatifitasnya. Bahkan ada iagi yang menjadi tidak habis fikir mengapa generasi masa kinipun nampaknya kurang patriotik, rendah swmangat nasionalisme, dan sebagainya. Wawancara dengan Arwali Pahlawan Barangkali anda kurang setuju dengan perumpamaan di atas bila dikaitkan dengan kecenderungan bernostalgia tadi. Tapi, izinkanlah cerita ini diteruskan dulu. Kadangkala saya mengikuti renungan suci pada malam - malam peringatan Hari Pahlawan di Makam Pahiawan dan bermaksud mengadakan wawancara dengan para arwah pahlawan, tentang apa - apa yang sebenarnya terjadi pada masa silam. Tetapi medium apa puia yang bisa dipergunakan untuk keperluan ltu? Waktu kecil saya sering beramai - ramai menggunakan medium jailangkung untuk keperluan permainan, tapi kemudian menyadari bahwa medium itu kurang akurat. Kami sering merasa dibohongi waktu itu. Dan sekarang belum pula saya coba menggunakan metode metafisis, seperti yang pernah digunakan untuk meneliti kelengkapan tawarikh Wali Sanga, oleh sementara ahli metafisika. Laiu saya baca sebuah tulisan menarik dalam sebuah buku- yang mengutip The New York Times terbitan tahun 1965. Barangkali saya telah menemukan sebuah medium yang memadai. Anda masin ingat film TV “The Time Tunnel”? Senacam itulah medium kita kali ini, yaltu buah tulisan Russel Baker yang berjudui Observer: VE. Day Plus 7, 305. yang disajikan dengan terjemahan amat bebas. Tamu dari Masa Depan 89
  • 90. Ketika itu Perang Dunia II baru saja usai, dan tak satupun suara bedil meletup. Di sebuah barak darurat tempat sekelompok pasukan Sekutu sedang menunggu pasukan pengganti, tiba - tiba muncul seseorang asing, masih muda dengan setelan jas berkancing enam dan dengan rambut potongan the Beatle, yang muncul begitu saja dari 'mesin waktu'. Lalu muncullah sebuah pertanyaan mengejutkan. + Untuk apa sebenarnya anda sekalian selama ini berperang? Tahu tidak? Dan dengan serta merta seorang G.I. menjawab pertanysan itu. - Tentu kami berperang, eh kami beijuang, untuk mempertanankan demokrasi. Antara lain untuk menolong lnggris Raya. + Kalau demikian anda telah gagal. Percuma saja - Lho, anda minta dihajar, ya. Kalau saja kami tidak sedeng kecapaian, pasti anda telah kuhantam. GI tadi nampak betul–betul geram. - Mengapa anda berkata begitu? +Kalian betul-betul membuang-buang waktu saja. Anda tidak percaya, bahwa dalam dasawarsa ini saja lnggris Raya akan tak tertolong lagi, akan invalid. Dan bukan oleh siapa - siapa, tapi oleh tekanan dri Amerika Serikat. - Anda ini betul-betul keterlaluan. Tentunya anda seorang 'oknum' propagandis Nazi, ya? Anda mau mengadu domba antara bangsa Amerika dengan bangsa Inggris. Dan sebentar lagi anda pasti akan mencoba memecah belah kami dengan Sekutu Besar kami Sovyet Rusia . + Tak salah lagi; jawab tamu berambut gonndrong itu dengan mantap.Dalam waktu lima tahun mendatang. sebagian dari anda akan menyebut sang Sekutu Besar Sovuet itu sebagai ‘Sang Penghianat’. Percaya saja, sambungnya dengan kalem. - Lemparkan saja bajingan ini. + Sabar dulu, bung. Apa pula alasan bung terjun ke medan pertempunan ini? - Menghancurkan Jerman, tentu saja. + Nah, kalau demilian bung, sia-sia saja pengorbanan itu. Karena dalam waktu lima tahun mendatang kalian akan membiayai pembangunan Jerman kembali. Dengan uang 90
  • 91. gnjl kalian, bung. Dan selama lima belastaliun berikutnya, Amerika harus menanggung risiko pula untuk berperang, untuk Jerman itu. Jenybfjibab besar sebagian dari anda masih hidup waktu itu. Seetelah memberi kketerangan itu orang tadi tertawa terkekeh–kekeh. - Nanti dulu, bagaimana pula dengan Asia? = Ya betul, seru seorang penerbang. = Katakanlah bshwa kami akan segera berbalik mencumbu "Japs" (istilah jekan buat Jepang? - Lalu kami memerangi Cina. Beitu? Lalu bergetarlah barak itu oleh ketawa seluruh penghuuninya mencemoohkan tamu itu. + Jadi kalian akan mengatakan banwa kalian bermaksud menghancurleburkan Jepang? Tanya tamu dari ‘mesin waktu’ itu lagi. - Apa pula ini? + Begini. Kali inipun kalian sia-sia saja menghancurkan Jepang. Tunggu saja, dalam jangka waktu dua pulun tahun mendatang, kalian akan membangun kembali Jepang. Dan bangsa itu akan menjadi sekutu kalian di kawasan Pasifik yang paiing akrab. Dan anak - anak kalian tidak akan memanggil mereka Japs, melainkan Jepang yang perkasa. = Tak mungkin, seru seorang prajurit. Hari ini mereka teiah hangus oleh bom atom kami, sebagai ganti pembokongan mereka atas Pearl Harbour. + Itupun percuma saja. Kelak dua puluan tahun lagi, anak -anak kalian yang sekandang banyaknya dan sengsara ini, sama sekali tidak ingat lagi peristiwa Pearl Harbor. Balikan mereka akan menyesali pemboman atas Horishima dan Nagasaki itu. = Mereka akan kami gampar. + Itu tidak bakalan terjadi. Mereka sudah kapok perang. Mereka tidak lagi menggubris kalian. Amerika telah berubah. Dunla sudan berubah. Para petani lebih senang tinggal di kota - kota. Dan orang - orang kota sebaliknya lebih menyenangi tinggal di pedusunan. Jalan jalan desa telah beraspal, sementara kota enjadi makin berantakan. Uang telah diganti 91
  • 92. dengan kartu - kartu kredit. Dan ingat, anak - anak kalian bertampang persis saya inl. Kemudian secepat kilat pemuda itu lenyap menyelinap ke dalam ‘mesin waktu’ kembali ke tahun 1965. Dan selanjutnya asyik ber A Go Go di keremangan ruangan yang sumpeg dengan asap rokok. Wawancara Imajiner Laiu mengapa kita tidak mencoba memasuki ‘mesin wakin’ dan menjelajahi masa derni masa dalam sejarah negeri kita ini, dan mengadakan wawancara imejiner dengan pelaku - pelaku sejarah masa itu? Kita bisa menyusun seperangkat pertanyaan. Kita susun pula seperangkat jawaban imajiner, harapan - harapan para pelaku sejarah waktu itu, motivasi yang mendasari penjuangan mereka, semangat yang membakar dada mereka, cita-cita serta tujuan setiap tindakan maupun ikrar mereka. Lalu kita pun dapat memperkirakan betapa jauh kesenjangan yang terdapat di antara harapan dengan kenyataan, antara semangat masa lampau dengan semangat masa kini, antara tujuan yang hendak dicapai dengan prestasi yang teiah dicapai, dan seterusnya. Dalam kesempatan itu kita dapat “melaporkan” apa-apa yang sesungguhnya telah teijadi - masa kini. Kesenjangan bukanlah sesuatu aib. Oleh karenanya tidak usah kita tutup - tutupi. Sejarah manusia pada hakekatnya adalsh rentetan perubaban demi perubahan. Dan terjadinya sesuatu kondisi berubah yang tak sesuai dengan harapan kita bukan pula suatu aib. Perubahan itu sendiri adalah suatu indikator, bahikan sebuah variasi respons yang ditimbulkan oleh berbagai faktor. Yang penting bagi kita sekarang ialah mengembangkan kemampuan kita untuk selalu mengontrol sumber - sumber, proses serta arah perubahan itu sendiri. Itulah barangkail yang dimaksudkan oleh van Peursen sebagai syarat dalam menyusun sesuatu strategi kebudayaan. Untuk itu kita yang hidup pada masa ini harus selaiu mengadakan dialog - dialog yang jujur yang bersifat nasional, mengenai berbagai masalah. Sebab dalam kenyataan kita memang tidak dapat mengadakan dialog dengan orang masa lalu dengan menggunakan ‘mesin waktu’ yang hidup itu. Dengan inipun kita teiah memilih salah satu oara untuk memperingati Hari Pahiawan. 92
  • 93. (SUARA MERDEKA 10 Nopember 1989) 11. HAKIKAT MAKNA PERISTIWA 10 NOPEMBER Para guru Sejarah dan PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) sering mengatakan betapa besar makna peristiwa 10 November 1945, dalam mengobarkan semangat patriotisme serta semangat revolusioner bangsa yang baru bebas dari penjajahan, untuk mepertahankan kemerdekaan. Yang ditekankan adalah keberanian para pemuda Surabaya unrak merobek bendera triwarna (merah putih biru-Red), bendera Kerajaan Belanda dan mengibarkan dwiwama (merab putill-Red), bendera Republik Indonesia di atas atap Hotel Simpang di Tunjungan Serabaya. Penjelasan semaeam itu selalu membangkitkan pertanyaan para pelajar, apa yang membanggakan dari perjuangan-perjuangan bersenjata pada saat-saat itu, kalan akhirnya hanya kalah perang dan memakan korban jiwa dan raga dalam jumlah yang besar? Harus diingat bahwa peristiwa 10 November 1945, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan bukan merupakan kasus yangberdiri sendiri dan meletus tanpa terduga sebeIumnya. Pristiwa 10 November merupakan puneak dari perang Surabava, yang telah meletus sejak penghujung bulan Oktoher, sebagai bagian dari gerakan perlawanan rakyat unutk melucuti persenjataan Jepang setelah Jepang dikalahkan oleh Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. Kemudian api peperangan menjadi berkobar, justru karena Jenderal Mallaby dari Inggris terbunuh dalam insiden tersebut. Karena itu tentara lnggris pun murka dan menghajar para pejuang patriot Indonesia. Apa manfaat peristiwa 10 November, yang kemudian diresmikan sebagai Hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia itu? Apakah sekadar mempunyai makna sebagai tumbal, martir atau syuhada? Bertempur atau Berunding? Pandangan semacam itu tampaknya juga dikemukakan oleh orang dewasa, yang menghendaki pendekanan diplomasi dengan kaum penjajah. Sejarah memuat kenyataan adanya dua kubu di kalangan pemimpin bangsa waktu itu. Yaitu mereka yang 93
  • 94. menghendaki pelidekatan peperangan melawan kekuatan penjajah dan mereka yang menghendaki perundingan. Kubu pertama dipelopori oleh kelompok oposisi, yang se1alu mengobatkan langkahlangkan perangatau perlawanan bersenjata dalammengusir penjajah. Kubu kedua tidak lain adalah sikap resmi yang dianut oleh pihak pemerintah. Kubu pertama dipersonifikasi dengan Tan Malaka dan kawan-kawannya, sedangkan kubu kedua dipersotilikasi dengan Sutan Syahrir. Perang pena di antara duapandangan yang berbeda itu, bisa kita ikuti lewat media massa atau brosur-brosur yang disebarkan masing-masing kubu. Kubu Syahrir menyebarkan brosur yang berjudul ‘Perjoeangan Kita’ yang berhadapan dengan brosur ‘Moeslihat’ yang dikeluarkan pihak Tan Malaka. Masing- masing mempertahankan kebenaran pandangan sendiri dan mencela pandangan lawan politiknya. Sebetulnya tidak hanya ada dua kubu, tetapi tiga. Sebab pihak tentara tid secara fanatik memihak salah satu kubu. Pihak Tentara Keamanan Rakyat (TKR) betada di antara kedua tebing ini, yang selalu menentang langkah yang berunding. Perbedaan pandangan itu sering menjadi semacam ejekan. Kaum yang memilih cara-cara perundingan sering melemparkan cercaan, dengan mengatakan bahwa yang dilakukan oleh para gerilyawan sekadar melarikan diri dari kenyaman, dan hanya mondar-mandir dari hutan ke hutan. Sementara itu kaum oposisi dengan sengit mencela bahwa perundengan yang dilakukan hanya mempersempit wilayah kekuasaan RI dari waktu ke waktu. Sikap resmi pemerintah daiam menanggapi meletusnya pertempunan bersenjata, antara lain dapat kita lihat dari pernyataan Bung Karno dalam menghadapi pertempuran di Magelang Oktober 1945. Dia dengan tegas menyatakan dalam amanat PYM (Paduka Yang Mulia) Presiden RI kepada rakyat yang bertempur di Magelang mengatakan, “Soedara-soedara yang bertempoer di Magelang sekali lagi saja minta kepada soedarasoedara oemtoek menghentikan pertempoeran, saja tidak mengatakan bahwa saja tidak menghargai semangat soedara- soedara. Saja mengetahoei bohwa soedarn-soedara mendasarkan oesaha soedara-soedara itoe atas alasan yang saya hargai. Tetapi ada tjara lain oentoek mentjapai kepoeasan hati soedara-soedara. Berhentilah dengan pertempoeran”. (Warta Inidonesia, Semanang. Joemat ~ 2November l945). 94
  • 95. Hams diangat banwa perang Surabaya itu meletus sewaktu pihak Republik yang diwakili oleh Presiden Soekamo dengan Menteri Pertahan an Amir Syarifudin sedang berada di Surabaya, untuk melakukan perundingan dengan pihak Sekutu yang menolak cara pendekatan pertempuran, sebagaimana yang meletus di beberapa daerah, seperti di Semarang dan Magelang pada penghujung bulan Oktoleer. Perang Surabaya Dalam pertempuran yang merupakan insiden berdarah di Surabaya itu, pihak pemuda kita mungkin kalah, namun kekalahan itu tidak mengecilkan arti pengorbanan para pemuda tersebut. Memang belum ba nyak dikemukakan mengenai kegagalan tersebut, seperti diakui oleh salah seorang pelaku sejarah, yaitu Muhammad Noer, putra Madura yang bekas Gunernur Jawa Timur. Muhammad Noer menyayangkan kegagalan para pemuda di awal perang kemerdekaan, untuk mengusai persediaan senjata dari arsenal angkatan laut Jepang di Batu Poron, di seberang Tanjung Perak. Padahal pergudangan timbunan senjata itu dikomandani oleh seorang kplonel, yang berarti bahwa gudang persenjama tersebut dikawal oleh sekitar satu resimen tentara Jepang. Mungkin jalan sejarah perjuangan Indonesia akan lain seandainya senjata-senjata Itu jatuh ke tangan kita sewaktu menghadapi serbuan tentara Inggris pada pertemputan Surabaya 10 November 1945. Demikian penuturan Muhammad Noer dalam diskusi sejarah lokal “Revolusi Kemerdekaan 1945-1950” yang diselenggarakan baru-baru ini di Semarang. Perang Surabaya itu kemudian menimbulkan berbagai sikap yang mendominasi kalangan TKR, yang sebagaimana kita ketahui, telah mendirikan Markas Tinggi TKR di Yogyakarta. Menurut doktrin TKR pada waktu itu, tentara akan mengikuti dua lini, pettempuaan dan diplomasi. Perdebatan yang timbul menyusul insiden berdarah di Surabaya itu ada dua. ikap pertama beranggapan sudah waktunya mengobarkan pertempuran melawan Belanda dengan jalan menciptakan "lebih banyak Surabaya". agar Belanda tidak mempunyai waktu untuk mengonsolidasi kekuatannya. Sikap kedua beranggapan, tidak bijaksana menciptacan "lebih banyak Surabaya", karena hanya menimbulkan kesan, bahwa 95
  • 96. kekuatan tentara amat terbatas dalatn melakukan ofensi (Dr. TB.Simatupang. 1988). Tampaknya strategi kedua yang dipilih oleh tentara, dengan iangkah- langkah melakukan konsolidasi kekuatan, dan kalau perlu tentara meninggalkan kota-kota dan menjalankan perang rakyat semesta di luar kota. Meskipun dernikian keterlibatan tentara dalam perundingan sebelum Perundingan Linggarjati hanya terbatas pada perundingan untuk mengadakan gencatan senjata. Karena itu menurut pengakuan Sirnatupang, dia pernah menyertai Pak Dinaan atau Pak Urip ke Jakarta. Namun daalam perundingan mengenai isi Persetujuan Linggarjati, TKR tidak dilibatkan. Logika Clausewitz Setiap pemimpm perang modern seIalu mengingat logika Clausewitz -seorang pemikir strategi peren dari Austria. Menurutya kegiatan pertempuran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan perundingan. Tak ayal, perundingan- perundingan Linggajati, Renville, atau KMB, diselenggarakan menynsul insiden-insiden berdarah berkepanjangan di antara tentara pendudukan dengan perlawanan kaum gerilyawan. Biasanya disela oleh tenggang waktu tertentu gencatan senjata. Hanyakadangkala ada penampilan politikus yang tidak konsisten. Misalnya Amir Syafifildin yang meskipun menandatangani Peijanjian Renville sebagai Perdana Menteri, namun waktu memimpin oposisi melawan PM Bung Hatta, mencerca Perjanjian Renvrne.Insideninsiden berdarah ini oleh Belanda dikesankan sebagai permainan kanak-katiak yang didalangi oleh segelintir kolaborator Jepang di yang didukung oleh "tekanan" TKR. Inilah hakikat makna peristiwa 10 November1945, yang panlas disebut sebagai Hari Pahlawan. (29) (SUARA MERDEKA 9 November 1994) 96
  • 97. KERANJANG DUA :. 97
  • 98. HISTORIOGRAFI A. KONSEPTUAL 1.. PENULISAN HADITS SEBAGAI HASIL KAJIAN SEJARAH pendahuluan 98
  • 99. Banyak anggapan bahwa bidang kajian agama (Islam) sering diasosiasikan dengan dogma dan doktrin. Sampai sekarang, kita beranggapan pula bahwa sistematika penulisan Qur'an bukan merupakan karya manusia, melainkan hasil petunjuk dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW ketika dilakukan review atas struktur dan isi Qur'an menjelang akhir hayat Rasulullah. Ketentuan itu mencakup tata urutan surat maupun ayat dalam setiap surat. Namun sementara itu, kita yakin pula bahwa proses kodifikasi Qur'an merupakan hasil ijtihad manusia, termasuk dalam hal-hal yang teknis sifatnya. Misalnya bahwa setiap ayat disusun atas dasar persaksian para sahabat Nabi, berkenaan dengan potongan ayat yang diakui pernah didengar dari Nabi ketika menyampaikan wahyu itu kepada para sahabat. Dengan demikian, ada jaminan secara ilmiah mengenai kebenaran materiil yang disampaikan dan yang selanjutnya ditulis sebagai Kitab Suci. Untuk itu, setiap pelapor harus pula berani angkat sumpah yang disertai dengan dua saksi mata/telinga. Dalam pada itu, Hadits yang diyakini sebagai sumber syariat Islam kedua mengalami pula proses ilmiah dalam proses penyusunannya. Berbeda dengan proses kodifikasi Qur'an yang dilakukan hanya beberapa tahun setelah Nabi wafat, tepatnya di masa Khalifah Utsman, proses kodifikasi Hadits justru baru dimulai sejak abad ketiga sepeninggal Nabi, yang berarti sudah tidak lagi ada saksi mata yang masih hidup. Tentu saja, hal itu membawa implikasi dan konsekuensi mengenai otentisitas materi Hadits. Ternyata, para ulama Hadits memiliki metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena telah dilakukan langkah-langkah yang sesuai dengan prosedur ilmiah yang sangat canggih. Berangkat dari anggapan bahwa penulisan Hadits tidak lain adalah juga penulisan sejarah, maka harus dilakukan tinjauan atas dasar historiografi (ilmu penulisan sejarah) kalau kita ingin membahas mengenai metode penulisan Hadits tersebut. Tulisan pendek berikut ini merupakan upaya untuk melakukan pembahasan atas prosedur penulisan Hadits yang sebenarnya terjadi, yang dilakukan para muhaditsin atau ulama ahli Hadits. Kasus Mu'ad bin Jabal menunjukkan betapa penting kedudukan Qur'an dan Hadits dalam kehidupan formal masyarakat beragama Islam. Dia adalah seorang calon gubernur 99
  • 100. Yaman semasa hidup Rasulullah. Dalam pidato pelantikannya terjadilah dialog yang terkenal itu. "Dengan apa akan kau hukumi masalah-masalah yang akan kau hadapi nanti dalam tugasmu, ya Mu'ad ?", tanya Rasulullah. "Dengan Qur'an, ya Rasulullah". "Kalau tak kau jumpai ayat yang relevan?" "Saya akan menggunakan Sunahmu". "Kalau tak kau jumpai juga sunahku yang relevan?" "Akan saya gunakan ijtihad". Jawabnya tegas. Nabi membenarkan jawaban itu. Ijtihad adalah studi atau telaah dengan mendasarkan pada apa-apa yang tersirat di dalam Qur'an maupun Hadits dengan menggunakan nalar dalam melakukan studi tersebut. Hadits ialah semua ucapan, perilaku, sikap serta sikap diam Rasulullah tentang segala macam perilaku hidup yang menunjukkan ciri Islam. Jadi disini berlaku azas argumentum ex silentio atau diam itu tanda seuiju. Sering pula istilah Hadits diganti dengan Sunah, yang berarti perbuatan Nabi. Dan perbuatan atau sunah itu pastilah pernah disaksikan oleh para sahabat, meskipun dimungkinkan terjadi subjektivitas dari pemberita Sunah tersebut. Dalam literatur Barat seringkali digunakan istilah tradisi Islam atau Tradition of Islam. Sedangkan Qur'an ialah semua perkataan atau firman Tuhan yang disampaikan kepada Rasulullah dengan perantaraan Malaikat Jibril. Sebagai firman Tuhan, maka Qur'an merupakan sumber hukum, sebagai tempat orang Islam bertanya dalam memecahkan segala masalah kehidupan, baik dalam bidang ritus peribadatan maupun bidang hubungan sosial atau mu`malah. Ini adalah sesuatu yang mutlak, sebagai konsekuensi dari pengakuan diri bahwa "Tiada Tuhan melainkan Allah". Selagi Nabi Muhammad masih hidup tidak ada kesukaran bagi umat Islam dalam menafsirkan isi firman dalam Qur'an, karena Rasulullah adalah penafsir Qur'an yang paling jelas. Tafsir itu kadangkala tercermin dalam sunah atau Hadits Nabi. Itulah sebabnya, Hadits dianggap sebagai sumber hukum kedua. Semua masalah yang tak dapat dipecahkan oleh umat dapat segera ditanyakan kepada Rasulullah. Kadangkala jawaban atas pertanyaan umat itu datang berupa wahyu, yaitu berupa firman Tuhan, namun kadangkala pula jawaban itu hanya berupa orientasi Rasulullah sendiri atas dasar nalar beliau atau berupa wahyu yang tidak tersurat, dalam arti tidak sederajat dengan bunyi 100
  • 101. Qur'an. Kadangkala kalau jawaban Rasulullah berupa Sunah itu tidak berkenan di sisi Allah, maka segera Tuhan Allah memberikan koreksi berupa firman yang kemudian daiang dalam kasus tersebut. Itulah sebabnya, umat Islam mempercayai penuh kedudukan Hadits sebagai 'explanatory power' dalam masalah-masalah hidup umat Islam. Kesulitan datang ketika kemudian Rasulullah wafat. Padahal, Nabi tidak pernah memerintahkan untuk mengkodifikasikan segala firman Tuhan maupun Sunah beliau, meskipun Nabitidak pernah pula melarang upaya beberapa pengikut beliau atau para sahabat beliau untuk mencatat itu semua. Mengenai usaha kodifikasi Qur'an tidak mengalami kesulitan, karena menjelang wafat beliau telah mengadakan review atas isi Qur'an dihadapan para penghafal Qur'an dengan bimbingan Malaikat Jibril. Kemudian usaha kodifikasi selengkapnya bisa diselesaikan ketika belum lagi dua puluh tahun Nabi wafat, yaitu pada masa Khalifah Utsman. Proses kodifikasi Qur'an dilakukan dengan teliti sekali di bawah panitia negara pimpinan Harris bin Tsabit. Prosedur yang dilakukan adalah setiap orang yang mengaku mengetahui atau hafal sepotong ayat dari Qur'an diberi kesempatan untuk mengemukakannya di hadapan panitia tentang kapan dan di mana ayat itu didengar dan bagaimana bunyi ayat tersebut. Pengakuan itu dikukuhkan dengan sumpah dan dengan mengajukan paling sedikit tiga orang saksi mata. Hasil kodifikasi itu kemudian dituliskan ke dalam enam buah naskah baku sebagai hasil kerja panitia negara tersebut dan disebarkan ke berbagai wilayah kedaulatan Islam pada masa Khalifah Utsman tersebut. Hasil kodifikasi itu dianggap sebagai naskah yang paling Sahih dan diyakini tidak akan pernah berubah barang satu huruf pun sampai dunia kiamat (Tafsir Al Qur'an terbitan Departemen Agama RI). Masalah yang lebih menarik adalah berkenaan dengan proses kodifikasi Hadits. Segi menariknya itu bukan saja timbul karena telah beredar berbagai Hadits palsu segera setelah Nabi wafat, melainkan juga, dan lebih-lebih, karena proses itu telah memakan waktu yang lama sekali, yaitu tidak kurang dari tiga abad setelah Nabi wafat. Selama waktu itu terus terjadi proses-proses seleksi, interpretasi, dan sintesis sebelum akhirnya tercipta Hadits yang dianggap baku (Hadits as 'written) itu. Sampai sekarang, Kitab Sahih Bukhari-Muslim dianggap sebagai kitab yang paling sahih setelah Qur'an dan dianggap sebagai Hadits yang baku. Akibatnya telah berkembang cabang disiplin tersendiri dalam 101
  • 102. Islamologi, yang dikenal sebagai "Mustalahat al- Hadits", "Dirayat al- Hadits" atau "Ushul al- Hadits" di samping cabang-cabang disiplin lainnya, seperti Ushul al-Fiqh, Ilmu Kalam, Tarikh, Mantiq, Nahwu, Sharaf, Tafsir, Akhlaq, dan sebagainya. Sebelum Ibnu Khaldun dikenal sebagai penganut kritisisme dalam ilmu sejarah, seperti yang telah dinilai oleh Tucydides, seorang sejarawan di dunia Barat, para Muhaditsin (ahli bidang Hadits) telah melakukan prosedur kritik dalam penulisan 'Hadits sebagai fakta sejarah. Mereka mempersoalkan otentisitas (keaslian) dengan melakukan kritik ekstern maupun kredibilitas atau kritik intern terhadap materi hadits (matan hadits) maupun terhadap sumber (sanad), sebelum sesuatu hadits dapat digolongkan menjadi "Hadits sahih, hasan ataupun dhaif, yang masing-masing merupakan kategorisasi Hadits atas dasar kualitasnya sebagai sumber hukum. Tulisan ini dimaksudkan sebagai uraian pendek mengenai proses serta prosedur yang telah dilampaui oleh para muhaditsin, yang dinilai mempunyai kualifikasi ilmiah yang cukup sah. Mula-mula akan dipaparkan mengenai tahap-tahap penulisan Hadits, kemudian mengenai kritik terhadap Hadits, yang kemudian disusul dengan uraian mengenai kualifikasi Hadits. Kritisisme sebagai prosedur dalam penelitian dan penulisan sejarah bukan merupakan barang baru, karena telah dipraktikkan sejak masa Tucydides. Akan tetapi, pencantuman rentetan sumber berita (perawi Hadits) yang betul-betui pernah berjumpa, yang hidup dari generasi ke generasi hingga sampai sumber utama, bagi setiap hadits adalah sesuatu yang dapat dipeitimbangkan untuk dipergunakan dalam menguji kredibilitas sumber sejarah. Di sinilah keunggulan para ahli Hadits dalam melakukan studi sejarah secara kritis. TAHAP-TAHAP PENULISAN HAD1TS A. Tahap Pertama Menurut Guillaume dalam ' Tradition of Islam', selagi Nabi masih hidup, beliau merupakan satu-satunya pemimpin dalam segala hal, balk kerohanian maupun keduniawian. Hadits atau tradisi dalam arti teknis dapat dikata baru timbul setelah beliau meninggal (Maulana Muhamad All, 1977). 102
  • 103. Semasa hidup Rasulullah sudah ada, kecenderungan menuliskan Hadits aupun Qur'an, seperti dikatakan pada pendahuluan di muka. Terhadap hal itu, Nabi tidak pernah bersikap melarang. Para sahabat Nabi (yaitu mereka yang memeluk agama Islam pada masa hidup Nabi) biasa menuliskan ayat-ayat Qur'an maupun Hadits pada pelepahpelepah pohon kurma, kulit-kulit domba ataupun unta yang telah dikeringkan dsb. Akan tetapi pada umumnya, mereka lebih suka menghafalkan kalimat-kalimat suci tersebut. Kecenderungan terakhir ini didukung oleh kebiasaan atau tradisi mereka dalam menghayati kesusasteraan mereka yang sangat bersifat oral (lisan). Mereka mengenal apa yang dikenal sebagai kahin, yaitu seniman yang menyampaikan syair-syair secara lisan (Hitti, 1960). Abu Hurairah adalah seorang dari kelompok As-habus suffah,yang dianggap sebagai orang yang paling banyak memberitakan Hadits. Oleh karena itu dianggap sebagai sumber Hadits yang paling produktif. Keunggulannya itu diperoleh karena kedudukannya sebagai salah seorang dari As-habus suffah tadi, yaitu sekelompok sahabat Nabi yang karena kedudukan ekonominya yang amat sederhana, tidak mempunyai rumah dan oleh karena itu mereka menempati sebagian dari serambi masjid di Madinah. Hidup mereka teramat sederhana, akan tetapi mereka mempunyai kesempatan paling banyak dalam berkonsultasi dengan Nabi, balk ketika Nabi memberlkan pengajian di serambi mesjid maupun ketika Nabi menerima tamu. Akibatnya mereka mempunyai banyak sekali kesempatan untuk merekam pendapat, sikap ataupun sikap diam Nabi dalan menanggapi berbagai masalah hidup maupun keagamaan, yang notabene adalah Sunah Nabi atau Hadits. Mereka juga bertugas untuk mengajarkan agama kepada para tamu yang datang dari luar Madinah, yang pada waktu itu menjadi kota Nabi, yaitu Ibukota Negara Islam pertama di dunia. Sementara itu, Siti Aisyah sebagai istri Nabi juga merupakan orang yang banyak sekali memberitakan Hadits, terutama mengenai masalah-masalah hidup yang sedikit sekali disampaikan di luar lingkungan rumah tangga, maupun tentang segi kehidupan yang pribadi namun harus diberitakan kepada umat. Beberapa sahabat Nabi lainnya yang dianggap sebagai sumber primer dalam pengumpulan Hadits (data primer) ialah Umar bin Khattab, Ibnu Umar, Abu Saad al- Khudri, Jabir Ibnu Abdullah. Pada saat itu, orang masih selalu mengandalkan pada kemampuan hafalan dalam mengadakan koleksi Hadits. 103
  • 104. Hampir semua Hadits disampaikan atau dikomunikasikan dengan jalan lisan, dari mulut ke mulut. B. Tahap Kedua Tahap kedua dalam penulisan Hadits dimulai sejak Nabi wafat. Pada saat, itu produksi Hadits sudah terhenti. Sementara itu, Nabi sebagai tempat menguji langsung kebenaran sesuatu Hadits telah pula tiada. Dalam pada itu telah berkembang suatu kecenderungan baru, yaitu lahirnya ribuan Hadits yang dijajakan sebagai Hadits asli, padahal tidak jarang yang sama sekali tidak pernah keluar dari Nabi dan bahkan dapat bertentangan dengan pendapat Nabi. Berbagai alasan yang dipergunakan oleh para pengedar Hadits palsu itu adalah tingginya kredibilitas atribut Hadits bagi setiap ungkapan ataupun pernyataan. Ini berarti bahwa umat sangat percaya pada setiap ungkapan yang disebut Hadits. Hadits-hadits baru itu yang diintervensikan ke dalam masyarakat Islam terdapat yang dikategorikan sebagai Kisah- kisah Israiliah, yaitu ungkapan-ungkapan non Islam yang disebarluaskan oleh orang Yahudi atau bekas penganut agama Yahudi (dan juga Nasrani) yang telah masuk Islam, baik dengan maksud jahat maupun karena tidak sengaja dilakukan. Dengan sendirinya, keadaan ini amat membingungkan umat. Sejak itu dilakukan upaya seleksi interpretasi dan sintesis terhadap Hadits dengan cara yang lebih rumit. Seperti halnya yang dilakukan dalam proses kodifikasi Qur'an, maka dalam masalah penulisan Hadits pun mulai dilakukan syahadah atau persaksian dari sejumlah saksi mata bagi setiap penemuan Hadits. Kebutuhan akan Hadits yang asli sebagai pencerminan ajaran Islam yang murni, lebih-lebih dibutuhkan karena masyarakat Islam telah makin berkembang dalam jumlah. Orang-orang Islam baru, yang tidak sempat melihat atau tidak sezaman dengan Rasulullah, menginginkan lebih banyak fakta tentang Nabi tersebut, maka usaha penulisan sejarah Nabi pun mulai dirasakanperlunya. Untuk keperluan tersebut peranan sangat besar dipegang oleh para sahabat yang dianggap amat berkompeten dalam hal Hadits, yaitu Abu Hurairah, Siti Aisyah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amar, Anas bin Malik dsb. (Maulana Muhamad Alt, 1977). 104
  • 105. Para penelaah Hadits kemudian melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai tempat yang ada kalanya amat jauh dalam rangka mencari kesaksian para sumber primer untuk memperoleh data primer sesuatu Hadits. Tidak jarang untuk memperoleh suatu keyakinan tentang sahihnya sesuatu Hadits, para penelaah harus melakukan kunjungan bolak-balik ke Kairo, Bagdad, Damaskus, Isfahan, dan sebagainya. Pendek kata, caracara kritis dengan mengadakan wawancara langsung terhadap para saksi mata sebagai sumber sejarah primer, sepeiti yang dilakukan oleh ahli sejarah Tucydides (Louis Gottschalk, 1969), telah dilakukan oleh muhaditsin pada tahap ke dua ini. Pada tahap inipun, mereka masih tetap mengandalkan pada kemampuan hafalan setiap saksi mata (isnad). Bahkan, seluruh proses penulisan kembali Hadits amat tergantung pada kemampuan hafalan seseorang yang dijadikan salah satu persyaratan menjadi seorang perawi (pelapor Hadits) atau isnad (sumber Hadits). C. Tahap Ketiga Ketika generasi sahahat, yaitu generasi yang sezaman dengan masa hidup Nabi dan yang sekaligus menjadi generasi saksi mata (termasuk mereka yang tidak beragama Islam, tetapi diakui sah sebagai sumber primer) meninggal dunia, timbullah kesulitan baru dalam proses pengumpulan Hadits. Kondisi ini mengawali tahapan baru dalam proses penulisan Hadits tersebut, yaitu tahapan ketiga. Gejala menarik dalam periode ini ialah, bahwa sumber Hadits telah ergeser dari yang bersifat perorangan ke perguruan- perguruan, yang letaknya amat berpencar-pencar. Akibatnya, penelaahan Hadits telah berpusat di pusat-pusat ilmu pengetahuan agama itu. Di sana timbul unsur baru dalam bidang ilmu Hadits ini, yaitu unsur sanad. Sanad adalah jamak dari isnad (sumber Hadits). Dalam Dirayat al Hadits istilah sanad mengandung pengertian sebagai rangkaian sumber yang bertanggung jawab atas sesuatu Hadits yang diberitakan. Kecenderungan untuk selalu memberitakan sesuatu Hadits itu timbul sebagai akibat pesan Rasulullah (Hadits) di dalam khutbah terakhir dalam masa hayatnya, yang berbunyi "Hendaklah orang yang hadir di sini menyampaikan amanat ini kepada orang yang tidak hadir"(Bukhari-Muslim). Hadits tersebut merupakan stimulan 105
  • 106. bagi setiap Muslim untuk selalu mengkomunikasikan setiap HaditsRasulullah di manapun berada. Sebagai akibat lanjut dari dimasukkannya unsur sanad itu, maka iperlukan catatan mengenai rangkaian isnad atau sumber Hadits tersebut. Akan tetapi, materi Hadits tetap dihafalkan oleh para sahabat yang masih hidup sepeninggal Nabi. Bagi orang Islam pada waktu itu, hafalan tidak menjadi masalah, karena mereka sudah terbiasa dalam menghafal Qur'an. Dalam sejarah tercatat Khalifah Umar bin Abdul Aziz (atau dikenal juga sebagai Umar II) dari dinasti Umayah yang memerintah di Damaskus di sekitar tahun 90 Hijriah, sebagai pejabat yang pertama kali memerintahkan untuk mengumpulkan Hadits secara resmi dan kemudian menuliskannya. Akan tetapi, sejarah tidak mencatat sesuatu naskah hasil kerja Khalifah tersebut. Barangkali hal tersebut disebabkan oleh pendeknya masa pemerintahannya. D. Tahap Keempat Periode keempat ini merupakan periode di mana Hadits lebih serius ditelaah di perguruan-perguruan. Penulisan Hadits mulai mantap dilakukan. Dalam periode ini, rentetan perawi makin banyak diperoleh untuk setiap Hadits sehingga suatu Hadits tertulis makin dirasakan perlunya. Dalam periode ini pula terbit sebuah Kitab Hadits pertama yang beredar dan dijadikan buku teks dalam perguruan yang dipimpin oleh penulis Hadits itu sendiri, ialah Imam Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Dia hidup dalam pertengahan abad kedua Hijriah. Karyanya yang bernama Muwaththa’ itu merupakan buku Hadits yang hanya berisi kehidupan Islam sehari-hari dalam peribadatan. Jadi tidak mencakup berbagai masalah kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan hamba Tuhan. Secara metodologis, karya Bin Juraij tersebut sejajar dengan karya Bukhari, yaitu dalam taraf kesahihan Hadits yang disampaikannya. Hanya pada karya Bin Juraij, sanad yang dipergunakan ialah sanad orang-orang yang hanya melibatkan saksi mata perorangan. E. Tahap Kelima 106
  • 107. Tahap ini berada pada sekitar abad ke tiga Hijriah dan telah menghasilkan karyakarya besar Hadits. Cirinya terletak pada penulisannya yang mendasarkan pada faktor sanad. Ini berarti mengusut sesuatu Hadits melalui serangkaian perawi atau para penutur Hadits sampai pada mata rantai terakhir, yaitu Rasulullah sendiri. Biasanya pada saat itu dijelaskan bahwa adalah Nabi “mengatakan sesuatu atau Nabi melakukan sesuatu”. Dari jenis penulisan ini yang terkenal ialah ‘Kitab Musnad’karya Imam Ahmad bin Hambal. Beliau adalah pendiri Madzab Hambali, salah sebuah dari empat madzab dalam Islam. Dia hidup sekitar 164-241 Hijriah. Dia juga menulis jami', yaitu sebuah himpunan Hadits lain. Musnad sendiri berisi 30.000 buah Hadits. Penults Hadits lain yang tersohor ialah Muhamad bin' Ismail al- Bukhari (wafat 279 H.), Muslim (wafat 261 H.), Abu Dawud (wafat 275 H.), Turmudzi (wafat 279 H.), Ibn Majah (wafat 283 H.) serta Nasa’i (wafat - 303 H.). Kitab-kitab tersebut telah disusun menurut bab-bab yang didasarkan pada permasalahan secara sistematis. Dalam urutan penulis Hadits yang terkenal, Bukhari menempati kedudukan paling atas dalam kelompok Hadits yang paling sahih. Kelompok itu terdiri dari enam buah buku Hadits hingga dikenal sebagai Kutub as Sittah (Kitab yang enam), sedangkan kelompok Hadits yang mendapat rekomendasi oleh kedua penulis Hadits terke- muka Bukhari dan Muslim dikenal sebagai As Sahihani atau Dua Yang Sahih. Kelebihan Bukhari dalam penulisan Hadits terletak pada beberapa hal-hal sebagai berikut: 1. Dia adalah penulis Hadits yang menggunakan model yang termasuk modern, yaitu menggunakan kritik ekstern de- ngan cara menguji otentisitas matan (keaslian materi Hadits) dan kritik intern dengan menguji kredibilitas sanad (bisa dipercayanya sumber Hadits). Model tersebut kemudian diikuti oleh para penulis Hadits berikutnya. 2. Dia hanya mau menerima kesahihan sesuatu Hadits kalau ada suatu bukti, bahwa antara perawi yang mendahului dan yang berikutnya dalam satu rangkaian perawi, betul-betui pemah hertemu dan tidak hanya dinyatakan hidup sezaman. Kecuali itu para perawi tersebut betul-betul dapat dipercaya, tidak pernah berbohong. Di samping itu, perawi harus masih sehat akal dalam artian tidak pikun. 107
  • 108. 3. Dia mempunyai ketajaman otak lebih dibanding dengan rekan-rekannya sesama ahli Hadits. Dia hafal di luar kepala tidak kurang dari 200.000 buah Hadits, lengkap dengan rangkaian sanad-nya. 4. Dalam setiap bab yang penting dalam Kitab Haditsnya, selalu didahului kutipan sebuah ayat Qur'an yang dianggap relevan. Qur'an itu dianggap sebagai batu uji bagi kesahihan Hadits. Akibat proses seleksi tersebut, Bukhari hanya berhasil membukukan idak lebih dari 7.397 buah Hadits yang dikategorikan sahih, dari 600.000 buah Hadits yang berhasil dihimpunnya, seperti disebutkan di atas. Sejumlah 200.000 buah di antaranya dapat dihafalnya di luar kepala. Ini berarti bahwa sebagian besar Hadits yang ada masih diragukan kesahihannya, menurut Guillaume. Sedangkan menurut Muir dalam 'Life of Mahomet' atau 'Riwayat Muhammad', bahkan hanya 4000 buah Hadits yang dianggap betul-betul mempunyai sumber yang dapat dipercaya. Perlu diingat bahwa jumlah yang 600.000 itu tercapai karena banyak Hadits yang karena perbedaan isnad, meskipun matannya sama, kemudian dinyatakan Hadits berdiri sendiri. Karya Hadits terbesar dalam sejarah ini dianggap sebagai ‘masterpiece’, sehingga dapat disebut pula sebagai kitab yang paling sahih setelah Qur'an. Seorang ulama Islam terkenal bernama Ibnu Taimiyah mengatakan: "Tak ada di bawah kolong langit ini sesuatu kitab yang lebih sahih daripada Al- Bukhari dan Muslim, sesudah Al-Qur'an" (Hasbi Ash Shiddieqy, 1976). Kitab tersebut diselesaikannya dalam 16 tahun, dengan melakukan sembahyang sunah dua rakaat setiap menyelesaikan sebuah Hadits. Dengan diterbitkannya Kitab Sahih Bukhari-Muslim itu, maka sebetulnya selesailah tahapan-tahapan penulisan Hadits. Setelah masa itu hampir tidak terdengar lagi usaha untuk menguji kesahihan kedua karya besar tesebut dalam ilmu Hadtis. Jadi, umat Islam sekarang cenderung merasa puas kalau untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan duniawi maupun keagamaan mereka, karena tinggal berkonsultasi pada kitabkitab Hadits tersebut. Sebuah perguruan yang terkenal dengan nama Darul Hadits, yang mempunyai cabang pula di Indonesia, mempunyai tuntutan agar setiap pengajar Hadits, kapan dan di manapun kini mengajar, harus dapat menunjukkan kedudukannya dalam rangkaian 108
  • 109. perawi sejak penyusun sesuatu kitab Hadits. Rangkaian tersebut harus berupa hubungan guru-murid. Di Indonesia, perguruan ini tidak banyak mempunyai penganut karena dianggap terlalu pelik. Sementara itu, aliran Syiah, seperti yang secara mayoritas dianut di Iran, mempunyai Kitab Hadits sendiri yang bersifat eksklusif. Mereka tidak mengakui setiap Hadits yang tidak diriwayatkan oleh penganut aliran tersebut, yaitu Syiah, yang dianggap pewaris sah darah kenabian karena merasa menjadi keturunan Sayidina Ali yang menjadi Khalifat ke empat, pengganti Khalifah Utsman. Sebaliknya, semua ulama Hadits di luar penganut Syiah telah menpersyaratkan "bukan penganut Syiah" bagi setiap sanad yang dianggap sahih karena dianggap tidak mempunyai kredibilitas tinggi sebagai perawi Hadits. Ini merupakan konsekuensi dari sebuah friksi dalam agama yang mempunyai latar belakang politik. KRITIK TERHADAP HADITS Sebagaimana setiap penulisan sejarah yang ingin menyajikan kebenaran sejarah seobjektif mungkin dan seotentik mungkin, maka para muhadisin telah melewati proses seleksi, interpretasi, dan sintesis dalam menyusun kembali Hadits. Prosedur yang diikuti dengan mengikuti dua jalur, yang masing-masing mengikuti pengujian atas sanad (sumber Hadits) dan atas matan (materi Hadits). Jauh sebelum Ibn Khaldun, yang dinilai oleh para orientalis sebagai sarjana Muslim yang menggunakan kritik sejarah dalam mencari kebenaran, para muhaditsin beberapa abad sebelumnya telah mengikuti jejak Tucydides dalam menelusuri jejak-jejak sejarah guna mendapatkan kepastian mengenai sesuatu fakta dengan konsep ilmu penulisan sejarah yang dikenal di negeri-negeri Barat. Metodologi penulisan Hadits ini akan didekati sehingga diharapkan akan diperoleh gambaran yang lebih konsepsional. Beberapa istilah mungkin terasa dipaksakan dan ini sulit dihindari. A. Kredibilitas atau Kritik Intern Masalah isnad atau rangkaian perawi yang dianggap sebagai 109
  • 110. rangkaian mata rantai penanggung jawab kesahihan sesuatu Hadits menjadi salah satu aspek penting dalam upaya pengujian Hadits. Ini muncul ketika Hadits telah menjadi bahan diskusi dalam perguruan-perguruan Islam pada awal generasi tabi‘in, yaitu ketika generasi sahabat telah meninggal. Tabi‘in ialah generasi yang tidak sezaman dengan masa hidup Nabi. Setiap orang yang mengaku memiliki sebuah berita berupa Hadits harus dipersoalkan dari mana Hadits tersebut diperoleh. Dan selanjutnya dipertanyakan pula dari mana si pemberita sebelumnya itu mendapatkan Hadits serta dengan cara bagaimana berita tersebut diperoleh. Rangkaian pemberita itu harus ditelusuri hingga diketemukan mata rantai terakhir yang mendapatkannya dari Rasulullah. Ini menyangkut masalah kedudukan seorang perawi dalam rangkaian isnad dan menyangkut kualitas isnad itu sendiri. Segi lain yang dipermasalahkan ialah kualitas perawi itu sendiri dipandang dari segi materiil maupun intelegensia serta agama, yaitu tentang bagaimana kualitas iman, hubungan antar manusia serta kemampuan hafalan seorang perawi. Setiap ulama Hadits mempunyai kriteria sendiri dalam memberikan penekanan serta penilaian tentang aspek-aspek persyaratan yang dipergunakan. Akan tetapi, pada dasarnya secara garis besar di antara mereka mempunyai kesamaan. Dalam buku Tradition of Islam, Guillaume mengatakan bahwa penyelidikan perlu dilakukan terhadap tabiat para perawi, apakah mereka benar-benar memuaskan dipandang dari sudut moral dan agama. Misalnya, apakah mereka dinodai dengan ajaran yang menyimpang dari agama, apakah mereka mempunyai reputasi kerakusan atau mempunyai kemampuan untuk menyampaikan apa yang mereka dengar? Akhirnya mereka harus sanggup berdiri sebagai saksi yang kesaksiannya akan diterima oleh pengadilan (Maulana Muhamad Ali, 1977). Pada garis besarnya dapat disebutkan beberapa persyaratan untuk mempertimbangkan kredibilitas sumber Hadits bila dilakukan kritik atas dasar intern terhadap rangkaian sumber Hadits sebagai berikut, seperti dikemukakan dalam buku Maulana Muhamad Ali juga: 1. Para perawi memiliki sifat adil, yaitu orang yang ucapan serta keputusannya dapat dipercaya atau orang yang tak mau menyimpang Dari jalan benar. 110
  • 111. 2. Para perawi memiliki kualitas tammuddlabihi, yaitu mampu menangkap dan merawat sesuatu Hadits dengan hafalan yang baik. 3. Para perawi harus dalam keadaan muttashilus sanad, yakni mengalami kontak fisik secara langsung. Artinya antara seorang perawi terdahulu dengan perawi berikutnya harus pemah hertemu dan tidak sekedar pernah hidup dalam satu zaman tertentu yang sama. Bukhari dan Muslim tidak sepakat dalam persyaratan muttashilus sanad, dalam artian pandangan mereka berbeda. Bukhari amat menekankan perlunya ada pertemuan bermuka-muka di antara dua rawi yang disebutkan berurutan, sedangkan Muslim menganggap cukup kalau seorang perawi memperoleh berita itu dari guru yang pernah bertemu dengan perawi yang dimaksud. Di sini tampak bahwa Muslim amat menekankan adanya kepercayaan pada guru, yang dinilai dapat dipercaya karena kedudukannya sebagai ulama pengajar. Kemudian perlu dikemukakan bahwa ada beberapa cara untuk mengetahui kualitas serta kredibilitas seorang rawi. Untuk menguji sifat adil misalnya, Hasbi Ash Shiddieqy mengemukakan beberapa hal sebagai berikut: 1. Mengacu pada daftar yang telah disusun oleh para ulama ahli Hadits, berdasarkan penilaian masyarakat terhadap reputasi atau nama baik seseorang. Pada umumnya disepakati bahwa hampir semua sahabat Nabi dikualifikasikan sebagai bersifat adil. 2. Dengan menerima persaksian paling tidak dua orang anggota masyarakat tentang sifat perawi yang dimaksud untuk menguji apakah seorang perawi itu dhabith atau kokoh ingatannya atau tidak, antara lain dilakukan sbb.: (Hasbi Ash Shiddieqy,1958) 3. Membandingkan riwayat atau Hadits yang dimaksud dengan riwayat atau Hadits yang diberitakan oleh sumber lain. Dengan kata lain juga dilakukan cara mengacu pada sumber yang dianggap lebih kokoh ingatannya. 111
  • 112. 4. Mengadakan diskusi dengan tokoh tersebut. Dengan kata lain dapat diketahui relevansi dengan sumber yang lebih tinggi, konkordansi dengan Hadits yang diriwayatkan orang lain serta konsistensi dengan Hadits yang diberitakan sendiri. Untuk menguji kualitas muttashilus sanad, yaitu persambungan antara Sumber satu dengan lainnya, diperlukan pengujian yang rumit dan ketekunan yang tinggi. Dalam hal ini asas argumentum ex silentio tidak berlaku, sebab yang diperlukan adalah kepastian bahwa seseorang betul-betui pernah bertemu. Jadi tidak berarti bahwa karena tidak ada sanggahan, maka berita yang disampaikan seorang perawi dengan sendirinya diakui kebenarannya. B. Otentisitas atau Kritik Ekstern Wafatnya Nabi telah menyebabkan makin membengkaknya Hadits tidak saja dalam jumlah, melainkan lebih-lebih dalam isinya yang amat bervariasi. Dalam bukunya yang terkenal 'Mukaddimah'', Ibn Khaldun mengatakan bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang ummi atau buta tulis-baca. Mereka tidak mempunyai perpustakaan maupun ilmu pengetahuan. Untuk mengetahui lebih banyak rahasia alam, mereka menanyakannya kepada para Ahli Kitab, yaitu penganut agama Nasrani maupun Yahudi. Meskipun demikian, pengetahuan orang Nasrani dan Yahudi itu tetap seperti orang awam sehingga ketika mereka akhirnya berpindah agama menjadi Islam, mereka tetap mempercayai kepercayaan lama. Dari sanalah asal-mula timbulnya gejala intervensi 'kisah-kisah Israiliah' ke dalam kepercayaan Islam. Akibatnya tafsir Qur'an dan Hadits Nabi amat banyak dipenuhi kisah-kisah Israiliah itu (Maulana Muhamad Alt, 1977). Akibatnya diperlukan upaya yang serius untuk membersihkan segala Intervensi itu. Lebih-lebih manakala terdapat pula gejala kesengajaan untuk memasukkan Haditshadits palsu berupa berbagai ungkapan yang sama sekali tidak pernah di sebutkan oleh Rasulullah. Jadi, masalah yang timbul ialah bagaimana menemukan Hadits-hadits yang dapat dianggap otentik, yaitu Hadits yang betul-betui pernah dikatakan oleh Rasulullah atau betul-betui merupakan sikap Rasulullah. Kritik ekstern dimaksudkan untuk menguji kesahihan sesuatu Hadits berdasarkan analisis terhadap matan atau materi Hadits. 112
  • 113. Dalam historiografi dikenal beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengadakan kajian bagi otentisitas sesuatu materi sejarah. Mula-mula harus diperhatikan faktor anakronisme (ketidakcocokan waktu), yang meliputi bahan yang dipergunakan untuk menuliskan sesuatu dokumen, seperti kertas, mesin ketik, alat tulis yang dipergunakan dsb. Anakronisme itupun meliputi gaya bahasa, gaya tulisan, idiom maupun masalah yang diungkapkan dalam materi sejarah tersebut. Untuk mencapai akurasi sangat dibutuhkan beberapa ilmu bantu, seperti filologi, ilmu kimia, ilmu sosiologi, dan sebagainya. Dalam filologi dikenal prosedur yang dikenal dengan kritik teks (Louis Gottschalk, 1975). Di kalangan para muhaditsin juga dikenal beberapa ketentuan yang digunakan dalam mengadakan pengujian terhadap kesahihan sesuatu Hadits berdasarkan kritik terhadap materinya Kita mengenal, misalnya, Syah Abdul Aziz yang dalam bukunya Ujalah Nafi'ah, yang telah berhasil menyimpulkan berbagai ketentuan yang biasa dipergunakan oleh para muhaditsin dalam menyeleksi Hadits. Menurut ketentuan itu, sesuatu Hadits tidak boleh diterima (tidak sahih) kalau keadaan tersebut adalah sebagai berikut: 1. jIka Hadits tersebut bertentangan dengan fakta-fakta sejarah. 2. Jika Hadits tersebut diriwayatkan oleh orang Syiah maupun orang Khariji dan Hadits tersebut berisi cercaan terhadap keluarga Nabi. Akan tetapi bila Hadits tersebut mendapat penguatan (konfirmasi) berdasarkan kesaksian yang tidak memihak, maka Hadits tersebut dapat diterima. 3. Jika Hadits tersebut bersifat mewajibkan umat untuk mengetahui serta engamalkannya padahal Hadits hanya diberitakan oleh seorang perawi (tidak ada korporasi) atau Hadits ahad (tunggal perawi). 4. Jika dapat dibuktikan bahwa Hadits tersebut sengaja dibuat- buat. 5. Jika Hadits tersebut bertentangan dengan akal sehat atau bertentangan dengan ajaran ajaran Islam yang jelas. 6. Jika Hadits tersebut menguraikan sesuatu peristiwa, yang jika peristiwa tersebut sungguh-sungguh terjadi, niscaya peristiwa itu diketahui dan diceritakan oleh orang banyak, padahal orang banyak tidak bercerita tentang kejadian tersebut. Jika masalah maupun kata-kata yang digunakan artinya kata-katanya cocok 113
  • 114. dengan idiom Arab atau masalah yang diceritakan tidak pantas dengan martabat Nabi. 7. Jika Hadits itu berisi ancaman hukuman berat atas perbuatan dosa biasa dan berisi pemberian ganjaran besar atas amal yang tidak begitu besar. 8. Jika Hadits itu menerangkan pemberian ganjaran oleh Nabi kepada orang yang berbuat baik. 9. Jika ada pengakuan bahwa Hadits itu dibuat-buat belaka. Aturan semacam itu secara eksplisit tercantum dalam buku Maudhuat karya Mullah Ali Qari, Fathul Mughit karya Ibn al-Jauzi serta Nuzhat alNazhar karya Ibnu Hajar (Maulana Muhamad Alt, 1977). Akhirnya sebagai batu uji terakhir dari setiap Hadits ialah ayat Qur'an. Sebuah Hadits yang bertentangan dengan isi Qur'an dengan sendirinya tidak dapat diterima kesahihannya, meskipun Hadits itu menurut pertimbangan sanad-nya. sangat memenuhi syarat (sahib sanad-nya). Itulah sebabnya, hampirpada setiap awal bab pada Kitab Haditsnya, Bukhari mencantumkan ayat Qur'an yang relevan sebagai tempat Hadits itu mengacu. Sekedar beberapa contoh akan dicantumkan beberapa buah Hadits yang tidak diterima oleh muhaditsin atas pertimbangan persyaratan tersebut di atas, sebagai berikut: 1. Buah terong itu adalah penawar segala penyakit. 2. Sesungguhnya Allah menciptakan kuda betina, lalu Dia memacunya, rnaka berpeluhlah kuda itu. Maka Allah menciptakan diri-Nya dari kuda itu. 3. Memandang warna hijau adalah suatu ibadat. 4. Barang siapa memelihara ayam putih, niscaya tak akan didekati setan. 5. Umur dunia adalah 7000 tahun. 6. Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf tujuh kali keliling Kabah, dan bersembahyang dua rakaat di Maqam Ibrahim. 7. Anak zina tidak masuk sorga hingga tujuh keturunan. 8. Barang siapa mempunyai anak dan dinamakannya Muhamad, maka dia dan anaknya masuk sorga. 114
  • 115. 9. Barang siapa bersembahyang dhuha sekian rakaat, niscaya diberi pahala tujuh puluh Nabi. 10. Barang siapa membaca kalimat La ilaha illallah, niscaya dijadikan Allah Untuknya seekor burung yang mempunyai tujuh puluh lidah. Pada setiap lidah ada tujuh puluh ribu bahasa yang memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. Dan masih ratusan ribu lagi Hadits yang sebenarnya bukan Hadits yang dianggap telah diintervensikan ke dalam khazanah Hadits yang seringkali membaur ke dalam kepercayaan umat Islam yang tidak kritis. KUALIFIKAS1 HAD1TS Ketekunan dan kesabaran para ahli Hadits sepanjang beberapa generasi telah berhasil menginventarisasikan, menyeleksi dengan jalan melakukan pengujian atau kritik intern dan ekstern, memberikan penilaian atas dasar kualitas otentitas maupun kredibilitas sumber, mengadakan klasifikasi secara sistematis, dan akhirnya membukukan hasil penelaahan mereka dalam kitab Hadits terkenal. Proses seleksi, interpretasi, dan sintesis telah dijalankan oleh muhaditsin bagaikan para ahli historiografi melaksanakan tugas mereka dalam menyusun sejarah dalam arti subjektif atau lebih dikenal dengan nama "history as written". Demikian pula, para muhaditsin telah secara subjektif menghasilkan berbagai "Hadits as written", atau Hadits sebagaimana tertulis, artinya bukan Hadits sebagaimana sesungguhnya terjadi. Harus dipahami bahwa Hadits atau sejarah sebagaimana terjadi (as a fact) hanya Tuhan yang tahu. Berikut ini merupakan sistematika hasil kualifikasi dan klasifikasi Hadits yang dikemukakan secara singkat dan mengambang, dalam arti tidak njlimet dan mendalam. A. Kualifikasi Dikhotomis Karya pertama yang besar sumbangannya dalam ilmu Hadits adalah keberhasilan para muhaditsin mengelompokkan berbagai Hadits yang bergalau dalam masyarakat Islam, menjadi dua secara hitam-putih. Di satu pihak terdapat Hadits yang 115
  • 116. betul-betui Hadits dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya dalam hal sanad serta matannya. Dan di lain pihak terdapat apa yang dikenal sebagai Hadits palsu. Itu adalah Hadits yang disebut maudhu'. Para muhaditsin menyebutnya Hadits yang dibikin-bikin, yang menjadi gugur karena kepalsuan dan kebohongan perawi-nya. Ungkapan-ungkapan itu datang bukan dari Rasulullah, melainkan yang sengaja diintervensikan dengan berbagai maksud dengan mengandalkan pada legalitas Hadits Rasulullah. Ternyata ada beberapa motif yang mendorong perbuatan orang emalsukan Hadits itu, yang menurut penelitian dapat digolongkan: 1. Mencemarkan agama Islam yang dilakukan oleh "kaum zindiq" , yaitu mereka yang tak menyenangi Islam. 2. Memalsukan Hadits untuk tujuan mengokohkan sesuatu ungkapan atau pendapat mereka dengan membonceng pada legalitas Hadits. 3. Untuk memikat hati para pendengar yang dilakukan oleh para juru cerita atau kahin. 4. Untuk mengambil hati para penguasa negara oleh para ulama tertentu dalam "melegalisasikan" beberapa kegemaran dan kebaikan para penguasa. 5. Untuk mendapat legalitas agama bagi fatwa atau ajaran yang tak berdasar agama. 6. Untuk mendapat legalitas agama bagi cerita-cerita Israiliah. 7. Untuk mendapatkan legalitas agama yang dilakukan oleh kaum 'vested interest' dari kalangan kelompok politik, etnis, dan sebagainya (Hasbi Ash Shidieqy, 1976). B. Kualifikasi yang Mempunyai Implikasi Hukum Penilaian terhadap Hadits yang diperkirakan atau bahkan diyakini sebagai Hadits yang datang dari Rasulullah yang dilakukan dengan kriteria yang terdapat dalam prosedur kritik intern maupun ekstern seperti tersebut di muka akhirnya membagi Hadits ke dalam tiga kelas. Ketiganya didasarkan atas derajat kualifikasi kecocokannya dengan 116
  • 117. persyaratan yang dituntut hagi kesahihan suatu Hadits. Ketiga kelas itu yakni sahih, hasan, dan dhaif. 1. Hadits Sahih Suatu Hadits dapat digolongkan menjadi berkualitas sahih (valid) atau benar kalau Hadits tersebut memenuhi persyaratan yang dituntut bagi keotentikan matan maupun kredibilitas sanad. Salah sebuah takrif (definisi) mengatakan bahwa Hadits disebut sahih kalau Hadits tersebut terjamin lafal (ejaan)-nya dan keburukan susunannya, terjamin maknanya dari menyalahi yat atau berita mutawatir, dan isnadnya bersambung-sambung dengan orang yang adil serta kuat ingatannya (Hasbi Ash Shiddieqy, 1976). Ini berarti sahih matan maupun sanad-nya. Yang dimaksud dengan berita mutawatir ialah berita atau Hadits yang sangat tinggi mutu sanad-nya, karena diberitakan oleh banyak sekali jalur isnad atau rangkaian perawi. Paling sedikit ada sepuluh isnad yang semuanya mempunyai kredibilitas tinggi, baik pada generasi sahabat, tabi'in maupun tabi'in at-tabi'in. Hadits yang demikian ini sudah terjamin kesahihannya. Selanjutnya Hadits sahih masih dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan lain, yaitu sahih li dzatihi (sahih dengan sendirinya) dan li ghairihi (sahih karena unsur lain). Yang dimaksud dengan Hadits sahib li dzatihi ialah Hadits yang betul-betui sahih dengan sendirinya, tanpa bantuan unsur lain. Hadits ini memenuhi persyaratan sebuah Hadits sahih seperti: sanad-nya bersambung-sambung tanpa ada mata rantai yang digugurkan, terjamin dari menyalahi ayat, diberitakan oleh perawi yang adil dan sangat kuat ketekunan dan daya ingatnya. Manakala salah sebuah persyaratan itu tak dipenuhi, akan tetapi diimbangi dengan banyaknya jalur isnad yang ikut memperkuat, maka Hadits tersebut menjadi berkualitas sahih li Ghairihi, yaitu karena bantuan dari unsur baru. 3. Hadits Hasan Sebetulnya kualifikasi hasan dalam llmu Hadits merupakan hal yang baru, karena semula hanya ada dua pembagian, yaitu yang sahih dan yang dhaif (lemah, tidak sahih). 117
  • 118. Ini menunjukkan adanya moderasi dalam pembagian mutu Hadits yang tergolong hasan. Karena ia berada di antara yang sahih dan yang dhaif, yaitu manakala salah satu dari persyaratan Hadits sahih tidak dipenuhi. Begitu ada unsur yang dapat mengimbangi atau menutupi kekurangan itu dengan unsur lain yang lebih ketat, maka naiklahkelas Hadits tersebut menjdi sahih li ghairihi. Terhadap Hadits hasan-pun dilakukan pengelompokan menjadi dua, yaitu hasan li dzatihi dan hasan li ghairihi. Kalau mutu hasan itu datang, dengan sendirinya akan disebut hasan li dzatihi. Sebaliknya kalau mutu hasan itu terjadi akibat adanya imbangan dari unsur baru yang lebih kuat, akan disebut hasan li ghairihi. 3. Hadits Dhaif Hadits yang memiliki derajat kesahihan rendah sekali disebut Hadits yang lemah atau dhaif, artinya sangat lemah sebagai bahan argumentasi dalam pengambilan hukum. Ini terjadi karena Hadits itu memiliki lebih banyak persyaratan, yaitu ditolak sebagai Hadits sahih. Sebagian kecil saja persyaratan dapat dipenuhi. Begitu rendahnya derajatnya hingga tidak dapat dicapai kualifikasi hasan-pun. Hal ini terjadi pertama-tama karena terdapat perawi yang gugur atau dinyatakan gugur karena tidak memenuhi syarat sebagai perawi. Bila perawi yang gugur berada pada awal sanad, disebut mu'alaq, yaitu perawi pada generasi sahabat. Sedangkan sebutan Hadits yang mursal, kalau perawi yang dinyatakan gugur berada pada generasi tabi'in. Bila perawi yang gugur itu berada secara berantai dalam rangkaian isnad, maka dinyatakan sebagai Hadits mu'dal, tetapi bila perawi yang dinyatakan gugur itu tidak beriringan, meski lebih dari satu, dinyatakan sebagai munqathi Selanjutnya Ibn Hajar dalam kitab Nuzhatun Nashar menyebutkan beberapa kelas Hadits dhaif berdasarkan jenis atau derajat cacat yang dihubungkan dengan perawi. Disebutkan antara lain: a. Hadits yang dhaif karena terbukti perawi telah mendustakan Hadits tersebut disebut maudhu' (tidak terpakai/ditolak). b. Hadits yang cacat karena perawi tertuduh dusta, dinamai matruk (ditinggalkan atau tidak dipedulikan). 118
  • 119. c. Hadits yang cacat karena perawi banyak berbuat kekeliruan disebut munkar (salah, tak sesuai). d. Hadits yang syad atau mahfudh, yaitu bila isi beritanya tidak mendapat penguatan dari yang lain, atau tidak mendapat konfirmasi. e. Hadits yang disebut mu'allal atau yang sakit, karena adanya beberapa cacat yang tidak jelas. f. Hadits yang makluh atau dijungkirbalikkan susunan sanad hingga bersifat anakronis. g. Hadits yang bernama mudraj, yaitu Hadits yang mendapat berbagai tambahan atau sisipan kata. h. Dan masih banyak lagi golongan Hadits (Habsi Ash-Shidieqy, 1976). 1. Implikasi Hukum Tidak terdapat kesepakatan di antara para ulama Hadits mengenai derajat kekuatan masing-masing Hadits tersebut sebagai hujjah (argumentasi) dalam menentukan hukum sesuatu perbuatan. Sedangkan terhadap hadits sahih tidak terdapat perselisihan paham betapa kuatnya hadits sahih sebagai pedoman dalam menentukan hukum sesuatu perbuatan (sebagai hujjah). Perselisihan timbul manakala mereka membicarakan Hadits yang hasan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Hadits hasan dapat dipergunakan sebagai hujjah dalam membuat dalil. Sebaliknya sebagian lagi beranggapan bahwa hanya yang sahih saja yang dapat dipergunakan sebagai landasan hukum setelah Qur'an. Dalam hal Hadits dhaif-pua, perselisihan pendapat itu terus berlangsung, tentang apakah Hadits dhaif dapat atau tidak dipakai sebagai landasan pengambilan hukum. Sebagian ulama menganggap bahwa Hadits dhaif dapat saja dipergunakan sebagai hujjah dalam menentukan hukum, asal tidak menyangkut akidah atau keyakinan. Jadi, hanya yang menyangkut masa lalu perbuatan baik-buruk. Sebaliknya kelompok ulama yang lebih keras berpendapat bahwa hanya Hadits sahih yang boleh dipakai sebagai hujjah dalam mengambil setiap keputusan agama. C. Kualifikasi Didasarkan atas Sanad 119
  • 120. 1. Hadits Mutawatir Ada fakta yang diperoleh karena menghayati secara langsung sebagai saksi kuping maupun ada fakta yang diperoleh dari tangan kedua (data sekunder). Sebuah fakta atau berita (Hadits) yang dibawakan atau diberitakan oleh sejumlah saksi mata dan di antara mereka tidak ada kemungkinan terjadi suatu persekongkolan untuk menyatakan kebohongan akan membuat mutu fakta tersebut menjadi sangat meyakinkan (signifikan). Para muhaditsin menyebutnya sebagai mencapai taraf yaqin. Hadits yang demikian itu disebut sebagai Hadits mutawatir. Gejala korborasi itu selanjutnya juga terdapat pada perawi tingkat ke dua pada generasi tabi'in. Ini menyebabkan tingkat mutawatir itu naik. Terhadap Hadits mutawatir para muhaditsin bersepakat untuk memasukkannya ke dalam Hadits yang sahih dengan sendirinya, karena amat meyakinkan sifat sahih-nya. Terhadap Hadits jenis itu tidak lagi perlu dilakukan pengujian atas otentisitasnya, sebagaimana orang tidak meragukan lagi kebenaran atau otentiknya ayat Qur'an setelah dilakukan pengujian sanad dengan persaksian. Di sini tidak pula dilakukan. Persaksian karena adanya korborasi atau pengakuan dari banyak sekali sumber pada generasi sahabat tentang kebenaran matan tersebut. Pada dasarnya tak ada batas jumlah sumber dalam korborasi itu, namun biasanya dianggap cukup kalau terdiri dari 10 saksi mata atau lebih. Selanjutnya para muhaditsin mengelompokkan Hadits mutawatir menjadi tiga kelas mutawatir lafdhi, mutawatir ma'nawi, dan mutawatir 'amali. Disebut Hadits mutawatir lafdhi manakala seluruh lafal secara harfiah tidak berbeda pada Hadits hadits yang diberitakan oleh banyak sekali PErawi. HadiTs mutawatir ma'nawi dimaksudkan untuk Hadis yang meskipun lafalnya tidak sama benar, tetapi mempunyai makna atau arti yang bersamaan. Perlu diketahui bahwa berbeda dengan Qur'an yang setiap penukilan tidak boleh berbeda satu hurufpun, maka Hadits dapat dinukil (dikutip) tidak usah dengan kalimat yang sama persis. Sedangkan yang disebut sebagai Hadits mutawatir 'amali ialah Hadits yang telah dilaksanakan oleh baik Nabi atau umat secara nyata. Jadi dalam hal ini semua umat telah mengamalkan Hadits tersebut dalam perbuatan. 120
  • 121. 2. Hadits Ahad Pembagian ini bertumpu pada gradasi saja dari jumlah saksi mata yang enjadi sumber berita. Hadits yang diberitakan oleh sekelompok saksi mata yang tidak mencapai jumlah yang memungkinkan menjadi Hadits mutawatir, disebut Hadits Ahad. Kelompok ini dibagi pula menjadi dua golongan ialah Hadits masyhur dan Hadits ghairu masyhur. Yang ghairu masyhur terdiri dari dua kategori, yaitu yang aziz dan yang gharib. Disebut Hadits masyhur kalau suatu Hadits sudah tersebar dan termashur di seantero sahabat. Popularitas sebuah Hadits dibatasi pula oleh derajat keterlibatan mereka dalam Hadits. Oleh karena itu, ada katagori: masyhur di kalangan ulama Hadits, masyhur di kalangan awam. Tentu saja ini memberikan konsekuensi pada derajat pembobotannya sebagai hahan hujjah. Disebut Hadits Aziz kalau jumlah pemberita, yaitu para saksi mata tidak lebih dari dua orang pada tiap mata rantai perawi Misalnya, si A dan si B mendengar dari Rasulullah. Si A menyampaikan berita itu kepada C dan D, sedangkan si B menyampai kannya kepada si E dan D. Demikian seterusnya. Manakala tiap mata rantai itu hanya ditempati oleh hanya satu perawi saja, maka jumlah Hadits itu menjadi gharib. Kalau perawi tunggal itu terdapat pada sanad generasi sahabat, Hadits itu akan disebut gharib mutlak. Sedangkan manakala perawi tunggal itu terdapat pada generasi tabi'in akan disebut Hadits gharib nisbi. Sebuah Hadits yang masyhur menurut para ulama ahli Hadits tidak encari taraf signifikansi atau yaqin dalam memberikan sesuatu penjelasan melainkan hanya pada taraf dhan (dugaan). Artinya hanya diasumsikan (diduga) otentik, jadi mempunyai explanatory power yang lebih rendah bila dibandingkan dengan Hadits mutawatir. D. Contoh Berikut ini sebuah contoh mengenai jalur isnad yang berbeda tentang satu Hadits yang sama dan diberitakan oleh penulis Hadits yang berbeda, yaitu Sahihani BukhariMuslim. Jalur pertama: Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang diperoleh dari Al Humaidi, yang diperoleh dari Sofyan, yang diperoleh dari Yahya bin Sa'id, yang 121
  • 122. diperoleh dari Ahamad bin Ibrahim, yang diperoleh dari Alqamah, yang diperoleh dari Umar, yang mendengar, bahwa Rasulullah mengatakan ... (kemudian diikuti oleh suatu materi Hadits). Jalur kedua: Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang diperoleh dari Abdullah bin Maslamah, yang diperoleh dari Malik, yang diperoleh dari Yahya bin Sa'id, yang diperoleh dari Ahmad bin Ibrahim, yang diperoleh dari Alqamah, yang diperoleh dari Urnar, yang didengar langsung dari Rasul yang mengatakan ... (dst. berisi materi Hadits). 4. PENUTUP A. Kesimpulan Hadits ialah ucapan, perbuatan, dan sikap diam Nabi Muhamad yang elah menjadi fakta dan realita di kalangan umat Islam, yang kemudian diyakini dan diamalkan sebagai ajaran agama. Di kalangan cendekiawan terdapat keraguan terhadap kesahihan seluruh Hadits yang telah beredar dalam umat. Oleh karena itu, timbullah upaya-upaya untuk mengadakan pengujuan terhadap seluruh Hadits tersebut. Gejala kritisisme dalam penulisan sejarah yang telah dikenal sejak zaman Tucydides, telah pula dipraktekkan oleh para muhaditsin (sarjana ahli Hadits). Mereka melakukan kritik intern untuk menguji kredibilitas sumber Hadits (sanad). Mereka juga melakukan kritik ekstern dalam menguji otentisitas materi Hadits (matan). Melalui proses seleksi, interpretasi, dan sintesis para ulama Hadits telah berhasil menyajikan karya-karya Hadits sebagai suatu "Hadits as written". Dengan sendirinya, Hadits-hadits itu berada dalam arti subjektif dan mempunyai kualifikasi yang bervariasi. Kemampuan para sarjana Hadits di kalangan umat Islam telah dituntut untuk menghasilkan karya-karya besar itu, lebih-lebih karena orang Arab tidak mempunyai tradisi menuliskan semua fakta sejarah dalam rekaman sejarah mereka. Mereka cenderung menghafalkan seluruh fakta. Oleh karena itu, kemampuan menghafal merupakan salah satu persyaratan yang dituntut bagi kredibilitas seorang sumber Hadits. Syarat lain menyangkut pula masalah kualitas dalam beragama, hidup sebagai anggota 122
  • 123. masyarakat serta kecerdasan. Yang lebih menarik ialah adanya persyaratan bagi terdapatmya urutan, dengan dasar kontak pribadi di antara para sumber Hadits. Pengelompokan Hadits menjadi berbagai kelas menunjukkan kehati-hatian para muhaditsin dalam melaporkan hasil penentuan dan studi mereka. Adapun penggunaan masing-masing kelompok akan tergantung pada ulama ahli hukum (fikih), bagaimana penggunaannya sebagai bahan hujjah. Kesimpulan yang dapat dipetik ialah antara lain: 1. Penyusunan Hadits telah menggunakan prosedur ilmiah yang tinggi dengan menggunakan proses seleksi, interpretasi, dan sintesis sehingga merupakan karya ilmiah yang tinggi. 2. Cara-cara tersebut telah memberikan sumbangan besar bagi metode historiografi. 3. Fakta tersebut menunjukkan kepada dunia betapa hati-hati para ulama ahli Hadits (muhaditsin) dalam upaya mencari kebenaran karena rasa tanggungjawab mereka ke hadapan mahkamah Tuhan maupun sejarah. B. Saran-saran Mungkin tidak banyak yang dapat dipetik dari metodologi penulisan Hadits ini bagi sejarawan dan penults sejarah di Indonesia, karena banyak prosedur yang tidak termasuk baru bila dibanding dengan metodologi penulisan sejarah yang telah berkembang yang diterima dari teoritisi Barat. Meskipun demikian, prosedur kritisisme yang berjalan dinilai sah sebagai suatu penulisan sejarah. Oleh karena itu tidak ada jeleknya kalau cara-cara itu disajikan sebagai bahan perbandingan. Penelaahan yang lebih mendalam mengenai prosedur yang digunakan oleh para muhaditsin dalam penulisan Hadits akan merupakan usaha yang bermanfaat guna menemukan cara-cara yang dapat diterapkan bagi historiografi di Indonesia, terutama dalam mengungkapkan fakta-fakta sejarah daerah di mana masih belum banyak bahan sejarah tertulis dikumpulkan. Kebanyakan dari saksi mata atau yang menerima cerita dari orang tuanya, masih mendasarkan pada kekuatan ingatan para responden yang menjadi saksi mata.. @@@ 123
  • 124. DAFTAR BACAAN Al-Bukhari, Kitab Sahib Bukhari. Berg, C. C, 1974. Penulisan Sejarah Jawa, (terjemahan oleh S. Gunawan) Jakarta Bhatara. Gardiner, Patrick, 1961. The Nature of Historical Explanation,, London, Oxford niversity Press - Amen House. Gottschalk, Louis, 1975. Mengerti Sejarah, (terjemahan Nugroho Notosutanto) Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. Hasbi Ash- Shiddieqy, T.M., 1958. Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jakarta. Penerbit Bulan Bintang. 1976. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits Jilid I, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang. Maulana Muhamad Ali, 1977. Islamologi (Dinul Islam), Darul Kutubul Islamiyah (terjemahan oleh Kaelani dan H. Bahrun), Jakarta: Penerbit PT. Ichtiar Baru. Saefudin Zuhri, 1980. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya Di Indonesia, Bandung: Penerbit PT. Al Ma'arif. Departemen Agama RI, 1966. Tafsir Al Qur'an, Jakarta. 124
  • 125. @@@ CATATAN Tulisan di atas berasal dari risalah berjudul Prosedur Penulisan Hadits, yang terbit pada tahun 2000, dan disajikan ulang untuk buku ini. 2. LEGENDARISASI TOKOH SEJARAH PENDAHULUAN Salah satu segi menarik dari diri manusia iaiah keterikatannya dengan atribut, atau julukan yang ditempelkan pada diri seseorang karena dianggap memiliki karakcteristik tertentu yang sesuai dengan makna atribut tersebut. Laina-kelamaan nampaknya gejala tersebut menjadi semacam obscsi, di mana orang merasa tergantung pada perlunya menyandang atau diberi sandangan atau atribut tertentu, yang memberikan kesan khas pada orang tersebut atau tokoh tertentu. Menurut sahibul hikayat, balikan sejenis manusia 125
  • 126. yang karena sangat dihormati dalarn masyarakat yang mengikuti garis ibu, kemudian diberi julukan 'perempuan', artinya yang diempukan, yang diperempu, yang dihormati sebagai seorang empu. Dan lama kelamaan julukan itu sudah berubah menjadi nama jenis, yaitu manusia yang bukan bejehis kelarnin lelaki. Dalam pada itu manusia tetap mengernbangkan sifat atau karakternya sehingga kemudian muneul berbagai sifat atau karakter yang khas pula, yang memberikan ciri khas kepada penyandang ciri tersebut. Mereka yang meniliki sifat licik seperti kancil, misainya akan mendapat julukan Si Kancil. Demikian juga akan mendapat julukan Buaya Darat, manakala pada dirinya terdapat sifat-sifat "kebuayaan" pada dirinya, menurut pandangan orang lain. Julukan juga diberikan kepada mereka berkenaan dengan peranan mereka dalam masyarakat pada suatu penggalan sejarah tertentu, seperti dikenal orang pada masa tertentu. Sehingga kita kemudian mengenal tokoh-tokoh dengan nama dan julukan Yahya Sang Pembaptis, Soekarno Sang Proklamator, Cromwell Lord The Protector, Pizarro El Conquesitadores, ataupun Don Juan, The Great Lover dan sebaganya Sementara itu di dalam masyarakat Indonesia kita kenal juga julukan-julukan panjang yang diberikan kepada sejumlah tokoh, karena dianggap memang pantas menyandang julukan tersebut. Misainya kita kenal julukan bagi penguasa Mataram yang panjang itu, Kanjeng Sultan Hamengku Bowono Senopati Hing Alogo Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Kalifatulah Tanah Jawi. Masalah yang kita hadapi adalah bagaimana gejalagejala sosial budaya semacam itu dapat dijelaskan. PERANAN PERSEPSI MANUsIA Pengetahuan manusia mengenai setiap objek amatlah terbatas. Lantas dengan pengetahuan yang terbatas itu manusia membentuk sistem keyakinan tertentu mengenai sesuatu, yang terbatas pula sifatnya, di sekitar objek tersebut, sehingga tak ayal lagi mereka memiliki cara tertentu dalam memandang serta memperlakukan objek tersebut. Untuk keseluruhan itu orang menyebutnya sebagai persepsi tentang sesuatu objek tertentu, yang bisa berupa sesuatu konsep, orang, masyarakat, nilai dan sebagainya. Tak dapat disangsikan lagi, bahwa sifat persepsi itu amatlah subjektif, selektif, serta temporer. Meskipun dernikian dapat dikatakan, baliwa persepsi itu pada seseorang relatif bersifat 126
  • 127. konstan atau stabil. Sifatnya yang selektif dan subyektif itu membuat kualitas, persepsi mengenai sesuatu objek mengalani pergeseran. Di dalam masyarakat yang masih amat tergantung pada alam dikenal pengertian sakral (suci) dan profan (cernar), dikenal pula konsep magis maupun gejala kekuatan yang supra natural, yang metafisik, yang dianggap mempunyai kekuatan mempengaruhi dan bahkan menentukan segala sesuatu yang fana ini. Di satu sisi, persepsi mereka mengenai lingkungan fisik maupun rohani, telah membentuk sistem mitologi, yaitu sejumlah atau sekelompok peranan supra natural yang dimiliki oleh alam besar atau makrokosmos, di luar diri kita yang merupakan mikrokosmos. Kemudian muncullah julukan-julukan seperti: Zeus Sang Pencipta, Venus Sang Pencinta, Herkules YangPerkasa, Brahma Sang Pencipta, Wisnu Sang Pemelihara, Syiwa Sang Perusak, Allah Tuhan Bapa, Yesus Sang Penebus Dosa, Sang Adi Budha, Gautama Sang Manusia Budha, Hyang Widi Wase, Kang Murbeng Dumadi, Allah AlKhalik, Ar Ralirnan, Setan Sang Penggoda, Iblis YangTerkutuk dan seterusnya. Dalarn hubungan sosial yang lebih nyata, di mana sifat hubungan saling pengaruh lebih bersifat nyata, kita mengenal juga sejumlah tokoh dengan julukan-julukan khas. Misalnya, Yahya Sang Pembaptis, Daud Yang Perkasa, Firaun Yang Angkara Murka, Iskandar Zul Karnaen, Muharnad Al Amin, Jengis Khan Sang Penakluk, Umar Al-Faruk, Richard Si Hati Singa, Columbus Penemu Benua Amerika, Penembahan Senopat Pendiri Dinasti Mataram, bahkan juga Hitler Der Fiffirer, Musolni 11 Duce, Idi Amin Dada, dan juga Soekarno Penggali Poncasila. Dan ja~ pula dilupakan Soeharto Bapak Pembangunan. Mereka adalah tokoh-tokoh legendaris dan yang dilegendariskan. TOKOH LEGENDARIS DAN LEGENDARISASI TOKOH Semula, pengertian legenda memang tidak lebih dari ceritera yang diyakini olch rakyat sesuatu daerah, mengenai tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan asal usul sesuatu gejala alam. Misalnya, legenda Malim Kundang, legenda Sangkuriang dan sebagainya yang masing-masing dikaitkan dengan Batu Merintih di pantai Sumatera Barat dan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Kemudian, legenda juga mengandung pengertian atau mencakup ceritera-ceritera mengenai tokoh historis, yang tersebar di kalangan rakyat banyak, mengenai kehidupan maupun pengalarnan yang benarbenar terjadi maupun yang tidak benar-benar terjadi. Meskipun dernikian sebagian besar rakyat 127
  • 128. meyakini kisah-kisah tersebut sebagai benar-benar terjadi. Kita mengenal misalnya, ceritera mengenai Panembahan Senopati pendiri Mataram yang dikaitkan dengan perkawinannya secara rohani dengan Nyi Roro Kidul, Penguasa Laut Setatan; kisah Jan Pieter Zooncoen yang digambarkan sebagai anak Baron Sekeber yang kawin dengan seorang keturunan Raja Pajajaran; hikayat Ken Arok sebagai putera Dewa Brahma dengan Ken Endog, yang rakyat jelata: juga ceritera tentang Sultan Agung sebagai keturunan yang mengikuti garis keturunan Nabi Adam, sekaligus juga mengikuti garis keturunan Batara Kala; demikian pula kisah Ayattulah Khumaeni, yang dilyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad. Ceritera-ceritera semacam itu dimaksudkan untuk memitoskan mereka sebagai tokoh-tokoh yang dianggap memiliki legitimasi sebagai penyandang getar pemimpin. Dalam masyarakat di mana proses legitimasi atau pengabsahan didasarkan atas keturunan darah, maka diusahakan meyakinkan pendukungnya, yaitu rakyat, bahwa penguasa tersebut betul- betul mempunyai darah yang diturunkan yang berasal dari para pendiri kekuasaan. Namun dalam kenyataan hidup, dalarn perjalanan sejarah dapat terjadi sejumlah kasus di mana seseorang tokoh, yang meskipun semula tidak memiliki hak mewarisi kepemimpinan, kernudian menduduki kedudukan tersebut dengan berbagai jalan. Keadaan semacan itu dianggap membuat goncangan dalam keseimbangan jagad raya magis, yang bertentangan dengan falsafat Jawa yang mementingkan azas keseirnbangan, keserasian dan keselarasan hidup, oleh karena itu diperlukan proses legitirnasi berupa proses legendarisasi tokoh tersebut. Sejarah Indonesia, terutama di Jawa menunjukkan berbagai bukti sebagai contoh mengenai cara diperolehnya kekuasaan oleh para pemimpin. Menurut Benedict R.0.G. Anderson dalam bukunya "The Ideas of Power in Javanese Culture", kalau tidak dengan jalur turun temurun, maka jalur yang dilalui adalah lewat 'geger' ataupun 'kekalutan'. Atau paling tidak proses tersebut didahului oleh 'geger' atau 'kekalutan' tadi. Cara itu diperkuat dengan diterimanya wahyu oleh pemimpin, yang melandasi seluruh keabsahan kekuasaan yang diterimanya dari sumber kekuasaan, dan merupakan jarninan bagi suksesnya kepemimpinan penguasa baru tersebut. Jalur kedua yang biasanya dilalui dalam proses diperolehnya kekuasaan adalah, dimilikinya sesuatu pusaka, yang merupakan simbol kekuasaan yang menghubungkan status barunya itu dengan penguasa terdahulu. Misalnya 128
  • 129. pusaka tersebut dapat berupa sebiiah keris yang dianggap rnempunyai kekuatan atau magis tertentu. Di sanalah letak falsafah komunitas sejarah yang dimiliki oleh ide-ide kekuasaan di Jawa. Kasus Ken Arok maupun Panembahan Senopati yang sebenarnya berasal dari orang kebanyakan, dan kemudian berhasil mengangkat dirinya ke atas puncak kekuasaan kerajaan di Jawa, merupakan bukti historis dari kebenaran anggapan Anderson. Mereka sampai ke puncak kekuasaan menjadi Raja Jawa, dengan melalui proses 'geger' ataupun 'kekalutan'. Dalam sejarah Indonesia baru fenomena tersebut dapat kita saksikan ketika menyaksikan munculnya Soekarno manpun Soeharto menjadi 'Raja Jawa', yang masingmasing juga bermula dengan pecahnya 'kekalutan' ataupun meletusnya 'geger'. Kalau pada kasus Ken Arok dikenal 'geger' yang membawa kematian Empu Gandring maupun Tunggul Ametung, dan kasus Panembahan Senopati mengenal 'geger' melawan lasykar Pajang, maka kasus Soekarno mengenal Perang Dunia II maupun perang-perang kemerdekaan dalarn membela Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan kasus Soeharto mengenal 'geger' Pemberontakan G30S/PKI, yang telah mengantarkan kedua tokoh tersebut ke puncak kekuasaan sebagai 'Raja Jawa' tersebut. Tidaklah berlebihan kalau rakyat kemudian mempersepsi Paneasila manpun konsep Nasakom pada masanya, sebagai 'pusaka' yang tetap dipegangi Soekarno ketika akan naik ke puncak kekuasaan dan berhasil mempertahankan kekuasaan untuk waktu yang relatif lama. Pancasila sendiri menurut Pidato Lahirnya Pancasila, berhasil digali dan disampaikan untuk pertama kalinya kepada rakyat dalam sidang PPKI pada 1 Juni 1945, setelah scmalam suntuk beliau bertirakat dan tidak tidur. Perlu kita ingat kembali betapa tirakat bagi orang Jawa merupakan upaya untuk memperolch sesuatu kekuatan magis. Dan untuk selama waktu yang lama sekali Pancasila tersebuy masih diyakini sebagai hasil galian Soekarno tersebut. Dalam pada itu konsistensi atau kelanggengan Soekarno dalam mempertahankan konsep Nasionalisme, Islarnisme dan Sosialisme (nama salah satu ajaran Soekarno) dan menampilkannya kembali dalam wujud konsep Nasakom, selama masa-masa terakhir kekuasaannya sebagai 'Raja Jawa', menunjukkan betapa beliau terikat secara magis dengan kedua konsep tersebut. Penjelasan beliau bahwa kedua ajaran tersebut merupakan perumusan dari ajaran nenek moyang yang telah diakui kebenarannya, dan oleh karenanya patut dipertahankan dan diamalkan, menunjukkan 129
  • 130. betapa beliau seolah secara spiritual dan magis terikat oleh 'pusaka' tersebut. Selanjutnya Anderson juga mengingatkan kita pada eara- cara pemegang kekuasaan tradisional mempertahankan kekuasaan atau ‘kasekten’ mereka. Ceritera-ceritera wayang engenai pefistiwa 'manjingnya' jiwa Raja Patra pada diri Arjnna, atau 'merasuknya' jiwa Begawan Bagaspati pada diri Yudistira, kemudian terjadi pula pada diri Soekarno yang kemasukan ajaran-ajaran Nasionalisme, Agama, serta Komunisme ke dalam jiwanya yang amat bersifat akomodatif dan sinkrttis itu. Seperti Arjuna yang memandang jiwa Raja Patra sebagai 'kasekten' atau 'power', dan Yudistira memandang jiwa Begawan Banaspati sebagai 'kasektcn' atau 'power', naka Soekarno pun memandang ketiga ajaran yang nampaknya saling kontradiktif itu sebagai ‘kasekten’ atau 'power'. Dan sekaligus Soekarno ingin mempertahankan konsep kelangsungan atau kontinuitas sejarah sebagai falsafah sejarah. Bagaimana pula dengan kemungkinan adanya 'pusaka' yang mengikat kepemimpinan Seharto dengan kelangsungan sejarah? Kepemimpinan Orde Baru sebagaimana kita ketahuu tidak dapat dilepaskan dari terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret, yang merupakan dokumen historis yang rnengantarkan peralihan kepemimpinan dari Prestden Soekarno ke tangan Jenderal Soeharto. Secara formal sejak terbitnya Surat Parintah Sebelas Maret (Supersemar) jenderal Soeharto telah menerima atau memperoteh 'power' dari pemegang kekuasaan sebelumnya, yaitu Presiden Soekarno. Namun sangatlah menarik persepsi orang jawa mengenai Supersemar itu, yang sekaligus difahami tidak saja sebagai legalitas sebuah kekuasaan, melainkan juga (dan lebih- lebih) difahami sebagai semacam 'pusaka' yang dengan sendirinya bermuatan 'kasekten' pula. Kata 'Surat' tak ayal lagi telah menimbulkan asosiasi pada makna 'serat' pada 'Serat Kalimosodo' atau semacam ‘Cupu Manik Astagina', yang merupakan lambang kekuasaan itu sendiri. Dengan pemahaman ini proses pergantian kepemimpinan dari Presiden Soekarno ke tangan Jenderal Soeharto, telah memenuhi 'syarat' terjadinya proses kelangsungan sejarah atau kontinuitas sejarah pula. Proses legendarisasi masih berlangsung terus, terutama terhadap para tokoh yang menurut konsep kepemimpinan turun temurun tidak berhak menjadi pemimpin ataupun raja. Kisah mengenai Ken Arok yang dikatakan sebagai putera Dewa Brahma dengan Ken Endog, maupun kisah Panembahan Senopati yang dikatakan menjadi kekasih sekaligus suami Nyal Loro 130
  • 131. Kidul, merupakan proses rasionalisasi atau pembenaran agar sesuai dengan ide-ide tentang kekuasaan menurut falsafah Jawa. Artinya, orang-orang kebanyakan seperti Ken Arok dan Panembaaan Senopati, sebenarnya bukan 'orang kebanyakan', melainkan keturunan Dewa atanpun sangat berkaitan dengan 'Kang mbahu rekso' di kawasan tertentu. Oleh karenanya mereka berhak atas kedudukan sebagai 'Raja Jawa'. Jadi tidaklah berlebihan pula manakala orang-orang kebanyakan seperti Soekarno dan Soeharto berhasil menjadi 'Raja Jawa' pula. Bukan karena proses demokrasi, yang membuat kedua tokoh nasional tersebut menjadi Presiden atau menurut penalaran Jawa sebagai 'Raja Jawa', narnun sebaliknya, karena keduanya nierupakan keturunan 'bukan orang kebanyakan'. Oleb karenanya tidaklah mengagetkan secara budaya, manakala untuk kedua tokoh tersebut disusun sitsilah khayali sebagai pembenaran atau rasionalisasi yang cocok dengan ide-ide Jawa mengenai sumber 'power' atau kasekten' yang telah dimiliki oleh kedua tokoh tersebut. Sebagaimana kita tahu masih berkembang adanya keyakinan pada sebagian rakyat, bahwa Soekarno memiliki darah keturunan Raja-raja Singasari, Raja Jayabaya maupun Sunan Kalijaga, yang mengalir pada diri beliau. Bahkan disebutkan pula betapa Soekarno juga memiliki darah keturunan para penguasa Belanda, karena menurut logika tersebut tidaklah mungkin orang kebanyakan dapat menjadi penguasa Jawa. Pada akhir dasawarsa 70 an telah berkembang pula kisah-kisah khayali yang menghubungkan Presiden Soeharto dengan darah ningrat yang mengalir dari Susuhanan Raja Jawa yang bernama Hamengku Buwono VIII. Demikian pula masih berkembang kisah mengenai peristiwa 'samadi' atau 'tirakatan' yang dilakukan otch Jenderal Soeharto di lautan, ketika malam pembantaian para Jenderal TNI oleh pasukan Cakrabirawa/ PKI itu berlangsung. Malam tirakatan atanpun samadi itu selain dikaitkan dengan proses perolehan kekuasaan yang kemudian dimiliki oleh Jenderal yang kemudian menjadi 'Raja Jawa' itu. Secara pribadi maupun secara resmi oteh pemerintahan Soeharto, kisah-kisah semacarn itu telah dibantah untuk kepentingan meluruskan fakta sejarah, dan sekaligus sebagai proses pendidikan bagi masyarakat. Namun pada tingkat 'budaya diam' kisah 'kenyataan magis' seperti versi pertama tadi, tetap berkembang dalam masyrakat. Dan masih sebagai pada ingatan kita betapa Sawito telah mendakwakan diri menerima wangsit sebagai keturunan Raja Brawijaya, untuk membenarkan tindakannya, sebagai 131
  • 132. calon penggariti Presiden Soeharto yang direncanakan lewat proses "penyerahan kekuasaan" model Sawito. Bagaimana gejala sosial semacam itu dapat diterangkan? Menurut konsep Jawa sebagaimana dikatakan clch R.0.0. Anderson, pertama-tama ‘power is concrete’. Artinya bahwa kekuasaan/power/kasekten berasal dari Tuhan, yang dituangkan menjadi satu dengan kekuatan Alam itu sendiri. Dan karena kekuasaan itu datangnya dari sumber yang sama, yaitu Tuhan, maka jenis kekuasaan itupun sama, dan bisa dipegang oleh siapapun. Itulah sebabnya idea kedua adalah 'power is homogeneous'. Dan pengertian ini dapatlati difahami, baliwa kekuasaan dapat diberikan kepada siapa pun, dengan lebih d.ahulu mendapat tanda kekuasaan itu, yaitu datangnya wahyu, ndaru ataupun pulung Kedatangan saat itu dibarengi dengan datangnya gejala alam yang bagaikan bintang gemerlapan, biru berkilauan, atau kadangkala bagaikan bola pijar berwarna putih atau kuning. Itulah sebabnya orang kebanyakan seperti Ken Arok, Penembahan Senopati, Soekarno, maupun Soeharto juga dapat memillki kekuasaan itu. Tapi Sawito gagal. Orang-orang dari luar budaya Jawa diharapkan dapat memahami pula, betapa menurut prinsip ketiga bahwa 'the quantum of power in the universal is constant'. Artinya, bahwa kekuatan yang ada di jagad raya ini sarna, ajeg maupun pasti. Oleh karenanya kekuatan itu tidak datang dari unsur manapun di jagad raya ini, juga tidak merupakan produk dari organisasi manapun, juga tidak ada kaitan dengan kekayaan maupun kekuatan senjata siapapun. Tidak juga datang dari rakyat. Oleh karenanya, sebagai prinsip keempat dapat disebutkan bahwa, 'power does not raise the question of legitimacy'. Artinya baliwa kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang tokoh, menurut gagasan kekuasaan Jawa, tidak perlu mendapat pengabsahan atau legitimasi dari rakyat. Sementara itu dalam masyarakat di mana perbuatan kepahlawanan merupakan kebajikan tertinggi, maka upaya legendarisasi dengan latar belakang kepahlawanan biasa disusun orang. Hampir tak seorangpun bangsa Yugoslavia misalnya, yang mengingkari kepahlawanan Yosip Bros Tito dalam memimpin pasukan partisan melawan kezaliman Sang Fuhrer. Cerita semacam itu betul-betul merupakan realita yang amat diyakini kebenarannya oleh rakyat Yugoslavia. Demikian pula ceritera kepahlawanan Charles De Gaule, yang telah berhasil mengobarkan semangat perlawanan bangsa Perancis untuk mengusir penjajahan bangsa Jerman di bawah Hitler selama Perang Dunia II, sangat 132
  • 133. diyakini dan dikagumi para pengagum de Gaule. Demikian juga kepahlawanan Mao Zedong di mata rakyat RRT dalam mengusir pasukan pendudukan Jepang dari tanah Ieluhur mereka amat dikagumi rakyatnya. Dan masih banyak lagi pahlawan dari lain bangsa yang juga tetap dikagumi tanpa melalui proses rasionalisasi atau proses pembenaran, seperti yang terjadi dengan para tokoh pahlawan kita tersebut di atas SIAPA YANG BERKEPENTINGAN Masih banyak lagi ceritera-ceritera legendaris, yang scolah-oiah sangat khayali sifatnya, yang memenuhi khazanah pustaka dunia, baik yang dinyatakan secara tertulis mau pun yang berkembang dari mulut ke mulut. Orang Turki mengenal juga tokoh Kemal Pasha Ataturk, Bapak Republik Turki Moderen; orang Jerman pada masanya juga sangat mengaguni Fuhrer mereka, yaitu Hitler; orang Italia juga memitoskan Il Duce mereka Benito Musolini; pada masanya orang-orang Uganda juga mencintai dan mengagumi pemimpin mereka Idi Amin Dada, meskipun untuk masa berikutnya terjadi proses de-Amnnisasi. Hal yang sama juga terjadi di RRC, yaitu terjadinya proses deMaoisasi, di Rusia terjadi proses de-Stalinisasi. Sementara itu bangsa Indonesia telah pula mengalarni proses pendewaan tokoh legendaris Soekarno, yang menyandang julukan yang amat panjang, yaitu Paduka Yang Mulia (PYM), Presiden Seumur Hidup, Doktor Insinytir Haji Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi (PBR), Penyambung Lidah Rakyat, Sang Proklamator, dan sekaligus Penggali Pancasila. Kemudian setelah masa klimaksnya pada masa Pemberontakan G30S/PKI, disusul dengan masa de-Soekarnoisasi, sehingga tinggallah satu gelaran saja bagi beliau, yaitu Prokiamator. Atau paling-paling Presiden Pertama epublik Indonesia. Pada menjrlang Pemilu untuk memilih Presiden pada tahun 1983, kita semua menyaksikan suatu proses legendarisasi terhadap Presiden Soeharto, yaitu ketika menjelang Pemilu tersebut terjadi gelombang pernyataan pada hampir semna lapisan masyarakat, yang mengusulkan agar MPR hasil Pemilu nantinya mengangkat presiden Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Gelaran semacam itu dipandang tepat diberikan kepada beliau, yang dinilai telah menunjukkan keberhasilannya dalam membangun bangsa dan rakyat Indonesia. Pada dasawarsa 60 an bangsa Indonesia telah 133
  • 134. pula menyaksikan proses semacam itu, yaitu agar MPRS mengangkat Presiden Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup Republik Indonesia, serta memberikan gelaran-gelaran lainnya. Lepas dari kemungkinan terdapatnya 'aktor intelektual' di balik seluruh proses tersebut, proses itu sondiri yang ditujukan kepada MPR atau MPRS telah menandai adanya pergeseran pengakuan atas sumber kekuasaan, di maria rakyat dipandang sebagai tokoh nitos. Sehingga terjadilah proses legitimasi atas proses lahirnya pemimpin oleh rakyat sebagai sumber kekuasaan. Apa yang sebenarnya terjadi di baik proses-proses sosial budaya tersebut? Siapakah yang sebenarnya berkepentingan dalam proses semacam itu? Tidak ayal lagi seluruh proses itu timbul dari jenis persepsi yang ada pada manusia, bangsa atau warga masyarakat, mengenai tokoh yang bersangkutan maupun tata nilai yang diakui kebenarannya dalam masyarakat. Yang dimakaud adalah, bagairnana pengetahuan mengenai sesuatu objek, bagaimana keyakinan mengenai hal tersebut serta bagaimana cara memandang masyarakat mengenai hal tersebut. Setelah itu muncullah respon emosional itu, yaitu proses legendarisasi. Ada empat faktor detenninan yang secara teoritik melatar bolakangi timbulnya persepsi tertentu pada setiap individu, yaitu faktor lingkungan fisik maupun sosial, strultut kejiwaa, tujuan/harapan, serta pengalaman masa lampau dari setiap individu maupun sesuatu masyarakat sebagai kelompok individu. Itulah menurut tiga sekawan Krech, Crutotifield dan Ballachey dalam buku beriudul "individual in Society". Namun yang paling menarik dari keempat faktor determinan tersebut adalah faktor tutuan/harapan. Setiap manusia atau kelompok manusia mempunyai tujuan agar hidup mereka enjadi lebih baik di masa depan. Dan lag'" mereka pun mendambakan ketenangan maupun kepuasan dalam hidup. Dalam banyak hal manusia banyak menemukan dunia gelap sebagai limngkungan hidup mereka Oleh karenanya sangatlah masuk akal kalau manusia kemudian membentuk konsep kekuatan-kekuatan supra natural yang bakal memberikan perlindungan serta bantuan untuk tercapainya tujuan serta harapan hidup itu. Adakalanya manusia meyakini bahwa jawaban itu telah datang berupa konsep dari agama langit, namun tidak jarang yang mempercayakan diri atas datangnya jawaban dari konsep yang bersifat intuitif yang serba spekulatif. Sementara itu ada pula yang mempercayakan 134
  • 135. diri pada konsep-konsep yang rasional bahkan llmiah. Namun bukan tidak mungkin terjadi pembauran atas landasan konseptual dalam memandang lingkungan. Dalam skala yang lebih khas, sekelompok manusia di Jawa meyakini akan datangnya tokoh-tokoh semacam Imam Mahdi, Rata Adil, Erucakra dan sebagainya yang merupakan persoflifikasi kekuatan supra natural tersebut dalam memberikan harapan pada manusia. Keyakinan ini Iebih dikenal sebagai mileniarisme, yang mendambakan datangnya 'masa depan yang cemertang' itu. Dalam konteks atau kaitan inilah, mucul tokoh-tokoh seperti Ken Arok, Panembahan Senopati, Diponegoro, KH. Tubagus Ismail, Soekarno, dan balikan Soeharto, yang dicerap (dipersepsi) sebagai tokoh yang akan membawa semacam 'collective dream' tersebut menjadi kenyataan. Dalam masyarakat yang masih bersifat paternalistik, gejala semacarn itu dapat dipandang pula sebagai kecenderungan 'dependensi' atau gejala ketergantungan masyarakat terhadap mereka yang dianggap lebih tua, lebih pandai, lebih bertuah, tebig sakti dan sebagainya. Namun demikian tidak dapat dipungkiri kemungkinan adanya dominasi ketiga faktor determinan lain seperti disebutkan di muka, yaitu lingkungan fisik/sosial, strnktur kejiwaan, dan pengalaman masa lampau. Di samping itt, gejala dependensi masyarakat sering muncul dalam wujud 'kelatahan', yang muncul dalam bentuk 'gelombang kebulatan tekad' yang tidak lain merupakan bentuk konformitas sosial. Inilah peranan faktor lingkungan osial yang diperkirakan ikut memberikan andil atas kevenderungan osial budaya tersebut. Pengalaman masa lampau yang dialami oleh perorangan maupun kelompok manusia , maupun struktu kejiwaan yang erupakan kompleks kualitas kejiwana manusia, tak urung juga memberikan sumbangan dalam melatar belakangi kecenderungan sosial bndaya tersebut. Misalnya, bukan tidak rnungkin bahwa timbulnya 'gelombang kebulatan tekad' dalarn proses legendarisasi tersebut telah berperan amat aktif seluruh anggota masyarakat yang mempunyai interes (kepentingan) politik tertentu yang a sosial. Kita masih dapat mengingat bagaimana kaum komunis telah berteriak paling nyaring daiam proses legendarisasi terhadap Soekarno. PENUTUP Demikianlah sejurnlah upaya konseptual untuk rancoba memberikan penjelasan 135
  • 136. terhadap fenomena-fenomena sosial budaya yang lama sekali berkembang dalam hubungan sosial, lewat penelusuran proses sejarah. Dengan cara ini diharapakan kita dapat lebih memahami kecenderungan sosial budaya dalam masyarakat, dan terhindar dari kesalah fahaman. @@@ DAFTAR BACAAN Anderson, Benedict R.O.G., 1979, The Idea of Power in Javanese Culture, New York. Geertz, Clifford, 1964, The Religion of Java, London. Geertz, Hidred, 1963, Indonesian Culture and Communities, New Haven Koentjaraningrat, 984, Kebudayaan Jawa, Jakarta. Krech, David, et al., 1962, Individual in Society, Tokyo : McGraw – Hill, Kogakhusha Ltd. Kuncaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa, Jakarta : PN Balai Pustaka Sartono Kartodirdjo, 1972, Agrartan Radicalism in Java: Its setting and development, aca. @@@ 136
  • 137. ------------------------------------------------------------------------------------------------------Cataatan: Tulisan di atas merupakan naskah pidato ilmiah yang dibacakam dalam rangka upacara Dies Natalis IKIP Semarang ke 24 pada tahun 1989. Naskah asli tulisan tersebut pernah mengalami pertimbangan serius oleh panitia Dies Natalis pada saat itu, karena isinya dianggap “berbahaya” kepemimpinan Sukarno dan kontroversial, maupun Suharto. terutama Panitia karena khawatir menyebut-nyebut pada kebijakan Pangkopkamtib kalau naskah pidato tersebut diloloskan. 3. KOMENTAR PERS. PROSES LEGENDARISASI TOKOH MASIH BERJALAN Presiden Soeharto maupun almarhum Presiden Soekarno pernah diisukan sebagai keturunan raja. Hal itu terjadi karena proses legendarisasi tokoh masih berlangsung terus hingga kini, terutama terhadap para tokoh yang menurut konsep kepemimpinan turun temurun, tidak berhak menjadi pemimpin ataupun raja. Demikian antara lain diungkapkan Dr. Abu Su`ud, salah seorang ahli sejarah IKIP Negeri Semarang dalam pidato ilmialanya ketika berlangsung Dies Naialis ke-24 IKIP Negeri Semarang, di auditorium perguruan tinggi tersebut, Kamis kemarin (30 Maret 1989). 137
  • 138. LEGENDARIS Dikatakan, semula pengertian legenda memang tidak lebih dari ceritera yang diyakini oleh rakyat suatu daerah, mengenai tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan asal-usul sesuatu gejala alam. Misalnya legenda Malin Kundang dari Tanah Minang ataupun legenda Sangkuriang dari Tanah Sunda, dan sebagainya. Dalam perkembangannya kemudian, legenda juga mengandung pengertian atau mencakup ceritera- ceritera mengenai tokoh histori, yang tersebar di kalangan rakyat banyak, ruengenai kehidupan maupun pengalaman yang benar-benar terjadi maupun tidak pernah terjadi. Meskipun demikian, sebagian rakyat meyakini kisah - kisah tersebut sebagai benar - benar terjadi.Kita mengenal misalnya, ceritera mengenai Panembahan Senopati yang dikaitkan dengan perkawinan rohaninya dengan Nyi Roro Kidul (penguasa laut selatan). Alkisah Jan Peterszoen Coen yang digambarkan sebagai anak Baron Sekeber yang kawin dengan keturunan Raja Pajajaran. Kemudian hikayat Ken Arok yang katanya sebagai putera Dewa Brahma dengan Ken Endog, seorang wanita desa. Ada 1agi yang mengkaitkan Suitan Agung sebagai keturunan garis Nabi Adam, sekaligas mengikuti garis Bathara Guru. Demikian juga kisah Ayatolah Khumaeni yang diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad. Dan masih banyak lagi. Ceritera - ceritera semacam itu memang dimaksudkan untuk memitoskan mereka sebagai tokoh - tokoh yang dianggap memiliki legimitasi sebagal penyandang gelar pemimpin. Dalam masyarakat di mana proses legitimasi atau pengabsahan didasarkan atas keturunan darah, maka diusahakan menyakinkan pendukungnya yaitu rakyatbahwa penguasa tersebut betul- betul mempunyai darah yang di turunkan yang berasal dari para pendiri kekuasaan. PAK HARTO Doktor Abu Su`ud mengatakan, sebagaimana kita tahu, masih berkembang adanya keyakinan pada sebagian rakyat, bahwa almarhum Presiden Soekarno memiliki darah keturunan raja-raja Singosari, Raja Jayabaya maupun Sunan Kalijaga. Bahkan 138
  • 139. disebutkan pula, betapa Soekarno juga memiliki darah keturunan para penguasa Belanda. Semua proses legitimasi itu untuk menunjukkan bahwa Soekarno bukan orang kebanyakan. Menurut logika tersebut di atas tidaklah mungkin orang kebanyakan dapat menjadi raja Jawa atau bahkan Indonesia. Pada akhir Dasawarsa 7O'an telah berkembang pula kisah- kisah khayali yang menghubungkan Presiden Soeharto dengan darah ningrat yang mengalir dari Susuhunan Raja Jawa yang bernama Hamengku Buwono ke-8. Akhirnya secara resmi maupun pribadi kisah- kisah macam itu telah dibantah untuk kepentingan pembenaran fakta sejarah dan sekaligus sebagai proses pendidikan bagi masyarakat, tambahnya. Pidato ilmiah Dr. Abu Su`ud memang cukup menarik para pengunjung yang hadir dalam Dies Natalis IKIP Negeri tersebut. Di samping menyoroti pemimpin dan legendarisasi, juga dari berbagi aspek lain. MisaInya tokoh Jawa, harus punya pegangan semacam keris atau barang keramat lainnya untuk mengukuhkan kepemimpinannya. Di sanping itu, ada juga tokoh pemimpin yang lahir bukan dari Iegenda, tetapi dari "gegeran" atau kekalutan. Contohnya Ken Arok dengan gegeran Ganter melawan Tunggul Amelung, Bung Karno dengan gegeran Revolusi '45 dan Pak Harto dengan gegeran G.30.S/PKI.(C.20). (Suara Merdeka, 31 Maret 1990) 139
  • 140. 4. MITOS 3,5 ABAD TERJAJAH Setiap bangsa pasti memiliki mitos yang lahir secara tidak disengaja, namun kemudian dikembangkan sebagai sebuah instrumen untuk kepentingan nation and character building. Salah satu mitos yang selama ini dikembangkan, bangsa Indonesia telah mengalami masa penjajahan kerajaan BeIanda selama 35O tahun. Masa itu kemudian ditambah 3,5 tahun berada di bawah penjajahan balatentara Dai Nippon. Celakanya, mitos itu justra membuat kecenderungan berpikir apologis pada hanipir semua tingkat warga masyarakat. Yaitu kecenderungan untuk selalu mengkambing hitamkan pada lamanya masa penjajahan yang nyaris tidak masuk akal itu, setiap kali bangsa kita mernpunyai penampilan yang tidak membanggakan. Seperti kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, kepicikan, dan kelambanan dalam kerja. Tentu saja dampak negatif itu bukan yang diharapkan sebagai nation and character building yang dipadukan 140
  • 141. dalam pendidikan poutik oleh para pendidik bangsa kita. Taruhlah itu sebagai kecelakaan. Sudah barang tentu yang dimaksud semula dengan mitos tiga setengah abad berada di bawah penjajahan bangsa Eropa, plus seumur jagung (baca: 3,5 tahun masa penjajahan Jepang, bukan munculnya perasaan rendah diri ataupun sikap apologis tadi. Pastilah yang dimaksudkan agar bangsa kita segera bangkit dari ketergantungan pada kekuatan asing, dan selanjutnya mau belajar dari pengalaman sejarah, dan tidak menjadi keledai yang terantuk dua kali pada batu sandungan yang sama. Tidak Meninggalkan Sejarah. Tidak hanya Bung Karno yang menghendaki agar kita tidak sekali-kali meninggalkan sejarah. Artinya agar kita tidak melupakan kejadian-kejadian sejarah bangsa sendiri. Oleh karena itu sejak kita duduk di SD semua pelajar sudah belajar sejarah. Sementara itu Pak Harto juga berbicara tentang sejarah. Harapannya, agar kita tidak terbelenggu oleh sejarah. Konteks pembicaraannya memang berbeda dengan pernyataan Bung Karno.Yang dimaksud Pak Harto adalah agar kita sebagai bangsa harus selalu bergerak maju. , dan meninggalkan masa lalu sebagai inspirasi dan sebagai guru, dan bukan hanya termangu-mangu mengenang kejayaan masa lampau. Lima puluh tahun berada dalam alam kemerdekaan dan diperintah oleh bangsa sendiri tentu saja bukan merupakan masa yang lama untuk ukuran umur bangsa. Oleh karenanya peringatan HUT kemerdekaan kali ini tidak usah diibaratkan dengan Tahun Emas. Bukan pula Zaman Keemasan. Meskipun demikian masa itu sudah cukup lama bagi suatu generasi untuk mawas diri dan belajar dari pengalaman. Selama separuh umur republik bangsa ini telah mengalami berbagai pengalaman pahit namun segera dengan sadar dikoreksi perjalanan sejarahnya. Saat merayakan masa 50 tahun masa kemerdekaan seperti sekarang ini adalah masa yang tepat adalah untuk melakukan proses perenungan itu. Termasuk ke dalamnya melakukan perbaadingan dengan pengalaman sejarah bangsa tetangga serta bangsa lain. Daya Sentripetal 141
  • 142. Masa awal kedatangan bangsa-bangsa asing di Indonesia di akhir' abad 16, merupakan pertanda kemerosotan dalarn sifat hubungan antarbangsa, sekaligus juga merupakan masa keberhasilan daya sentripetal- internal dalam melakukan konsolidasi kekuatan sosial, ekonomi, dun poIitik, sehingga bisa menciptakan kesatuan dan tradisi besar (great tradition) berupa negara. Mungkin belum berupa negara nasional, namun cukup untuk hanya dianggap sebagai negara suku (etnic state). Yang dimaksud adalah kedaulatan di bawan Syah Iskandar Muda di Aceh misalnya, yang merupakan pusat kekuatan sosial ekonomi dan sekaligus politik untuk wilayah Indonesia Barat. Di wilayah Indonesia Tengah, muncullah kekuatan integratif- sentripetal yang setara, yang berpusat di Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung Anyokrokusumo. Dalam pada itu di kawasan 1ndonesia Timur, Sultan Hasanudin yang dijuluki “ayam jantan dari timur”, telah menegakkan kekuatan nyata (real power) yang berpusat di Kerajaan Makassar. Nampaknya daya sentripetal ini tidak bisa tidak dijiwai oleh semangat Islam, sebagaimana ditulis oieh Dr Helius Syanasudin dalam “Pola Tarik Ulur Sentripetal dan Sentrifugal dalam Sejarah Indonesia”. (Minibar Pendidikan IKIP Bandung No 3, Tahun XII 1993). Daya sentripetal itu kemudian berhadapan dengan kekuatan sentrifugal- eksternal yang datang dari kekuatan penjajah asing, yang dikenal dengan istilah devide et impera. Bahkan mereka mampu mengubah semangat primordial di antara suku bangsa di Indonesia menjadi daya sentrifugal yang destruktif bagi semangat integratif bangsa kita. Belum lagi posisi alami geografis Indonesia yang berbentuk “tanah air” yang telah ikut manjadi daya sentrifugal yang disintegratif. Secara individual masing-masing sentra kekuatan sosial, ekonomi dan politik tersebut di atas cukup tangguh. Namun tidak adanya kordinasi di antara masing-masing kekuatan nasional itu di saat itu, dan tiap-tiap kekuatan tidak berkembang secara maksimal akibatnya mereka tidak mampu mengusir kekuatan penjajah. Hal itulah yang secara konvensional dianggap sebagai kelemahan bangsa Indonesia dalam melawan dan mengusir kekuatan penjajah. Sekali lagi kita menghadapi mitos. Betulkah variabel tersebut yang menghambat keberhasilan kita mengusir penjajah? Bukankah dalam berbagai episode sejarah terbukti bangsa Indonesia berhasil penjajah, seperti terbukti 142
  • 143. Karaeng Galesung yang bekerja sama dengan Untung Surapati telah berhasil mengusir penjajah? Nampaknya ada variabel determinan yang menjadi kunci ketidakberhasilan upaya mengusir penjajah. Lantas kekuatan apa? Era Penjajahan Catatan sejarah dunia menunjukkan adanya “era penjajahan” dalam sifat hubungan antarnegara. Untuk memperlunak dampak psikis merasa terjajah Muhammad Yamin melakukan rekonstruksi dala periodisasi sejarah nasional Indonesia. Untuk itu dia mengjukan uusul istilah periode “hubungan antatbangsa” sebagai ganti istilah periode masa penjajahan. Dalam periode itu memang ada masanya sifat hubungan antar bangsa itu tidak seimbang , karena inisiatif selalu berada di tangan bangsa Barat. Termasuk inisiatif dalam menentukan bentuk perjanjian dengan para penguasa nasional yang amat merugikan bangsa Indonesia. Nampaknya hubungan yang tidak seimbang dalam hubungan antar bangsa pada saat itu bersifat mondial, sehingga nyaris bisa disebut sebuah era. Pada saat itu inisiatif selalu berada di fihak Barat, karena memiliki berbagai keunggulan dalam bidang teknologi dan semangat petrualangan. Semangat yang membuat mereka mendoiminasi hubungan antar bangsa itu adalah gold, glotry and gospel, yaitu kekayaan, balas dendam dan penyebaran agama Nasrani. Kemudian lahirlah era baru dalam hubungan antar bangsa yang ditandai kekuatan ikut campurnya negara ketiga maupun supra negara yang menjadi ciri utama diplomasi antar bangsa. Hampir tidak satupun bangsa yang terjajah dapat melepaskan diri dari cengkeraman penjajah, kecuali ketika telah ikut campur proses diplomasi antar bangsa. Nampaknya hanya Vietnamlah yang dalam arti kata sesungguhnya dapat memerdekakan diri dari kekuatan asing, baik Perancis maupun Amerika, tanpa ikut campur kekuatan diplomasi antar bangsa. Sejarah mencatat, kombinasi antara patriotisme, heroisme, dan kelihaian diplomasi antar bangsa telah mengantar bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Ada tiga pelajaran yang bisa kita petik dari uraian tersebut di atas. Pertama, “mitos 3,5 abad masa terjajah” memberi danpak negatif bagi nation and character 143
  • 144. buiilding. Kedua, “era penjajahan” merupakan fenomena mondial, dan ketiga, aspek “diplomasi antar bangsa” merupakan variabel determinan bagi proses pembebasan dari penjajahan. (SUARA MERDEKA, 5 Mei 1995) oOo 144
  • 145. B. MONOGRAFI TENTANG PERANG DIPONEGORO 1. DI SANA-SINI ADA MAKAM PANGERAN DIPONEGORO Pada suatu hari, seorang reporler sebuah surat kabar memancing komentar saya tentang berita ditemukannya makam Diponegoro di Demak, yang konon didapat lewat wangsit oieh Sumito. Dengan tegas saya katakan bahwa pengakuan Sumito itu amat spekulatif. Bisa benar, bisa juga salah. Oleh karenanya, diperlukan proses pembuktian lewat penelitian teoritik maupun penelitian lapangan. Bahwa berita itu bermula dari wangsit tentu saja tidak dengan serta merta harus ditolak. Para detektif di Amerika pun tak segan-segan menggunakan jasa paranormal dalam mencari sisik-melik misteri tindak kejahatan ataupun rajapati. Namun pelacakan selanjutnya menjadi tugas para ditektif profesional. Kalau kita memang penasaran, dapat saja melacak kebenaran adanya makam yang berisi jenazah manusia di tempat yang diisyaratkan tersebut. Kalau memang benar ada jenazah tertanam di sana, tahap selanjumya adalah melakukan pengujian secara ilmiah dengan cennat, yang menupakan tugas bagian forensik serta dinas purbakala. Sudah dapat kita duga bahwa kita bakal menghadapi kesulitan dalam melakukan identifikasi jenazah yang sudah cukup larna, lebih-lebih manakala identitas Pangeran Diponegoro fisik sendiri tidak banyak kita ketahui. Misalnya, tahukah kita susunan gigi tokoh sejarah itu, karena tidak ada berita adanya ciri rahang pahlawan masa abad 19 tersebut. Selanjutnya untuk menguji kebenaran jenazah seseorang di masa lampau juga diperlukan pengujian umur jenazah. Secara teoritis. para petugas tak bakal mengalami kesulitan, karena dinas purbakala juga mempunyai ilmunya, dengan menggunakan proses pengujian kimiawi. Dengan teknik pengujian semacam kita tidak akan terkecoh oleh suatu sosok jenazah dengan umur yang tidak sesuai dengan umur sejarahnya. 145
  • 146. Kerangka Sejarah Peetanyaan yang seterusnya harus terjawab adalah apakah penemuan itu tidak mengubah kerangka atau cerita sejarah seperti yang sudah kita kenal sekarang dan sebelumnya (histoty as writen) Pangeran Diponegoro. Tentu saja temuan itu tak akan mengubah kerangka sejarah, dalam hal ini sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Kalau ada perubahan itu hanya sekitar masa-masa akhir hayatnya. Kepastian itu beralasan, karena sebagian besar sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro sudah diketahui dan ditulis dalam berbagai dokumen. Tidak pennah ada keraguan tentang kebenaran episode sejarah di tanah Jawa yang dikenal dalam literatur Belanda sebagai De Orloog van Jawa atau Perang Jawa itu. Dalam masa sejarah, sebagai lawan dari masa pra sejarah, di mana sumber-sumber tertulis merupakan alas pembuktian utama, penemuan kerangka jenazah, instrumen peperangan, maupun puing-puing bangunan, tidak punya makna yang berarti untuk terjadinya perubahan kerangka sejarah. Kalaupun ada pengaruhnya, hanyalah dalam alur cerita sejarah. Tidak demikian halnya kalau temuan iitu berkaitan dengan suatu episode dalam masa purba ketika rekaman tertulis hanya merupakan tambaban, karena kebanyakan bukti sejarah terdiri atas peninggalan tak bertulis. Jadi seandainya ternyata ada bukti amat meyakinkan secara arkhaeologis Pangeran Diponegoro dimakamkan di Demak, seperti diributkan akhir-akhir ini, atau dimakamkan di Madura, sebagaimana dikemukakan Amen Budiinan, sejarah Perang Diponegoro tidak mengalami perubahan. Paling-paling muncul pertanyaan terbaru, yattu bagaimana kelanjutan cerita sejarah Pangeran Diponegoro setelah ia dibuang ke Sulawesi Utara. Mengapa kemudian ia “bisa kembali” ke Madura ataupun ke Jawa Tengah? Kemauan siapakah jenazah iiu dipindahkan? Apakah untuk menghindari terbentuknya kelompok fanatikus di daerah pemakaman, seperti konon dilakukan terhadap jenatah Untung Suropati? Ataukah ada latar belakang lain, seperti terjadi dengan pemindahan makam Napoleon Bonaparte maupun Lenin ke tempat yang sekarang, yang dekat dengan masyarakat pendukungnya? Bagaimanapun, kerangka utama sejarahnya tidak akan berubah, sebab didukung berbagai dokumen yang meyakinkan sebelumnya. 146
  • 147. Kultus Kubur? Sebenarnya kita tak perlu merisaukan adanya pro dan kontra tenang upaya pelacakan atas kebenaran adanya makam Pangeran Diponegoro di Demak. Pelacakan itu makin cepat makin baik, agar masyarakat tidak penasaran terlalu lama. Penemuan itu sendiri tak akan mengganggu stabilitas negata maupun ketahanan nasional. Seperti beberapa tahun lalu, ketika masyatakat santer membicarakan isu tentang masih hidupnya Supriyadi, pahlawan Peta yang sudah diyakini teiah meninggal di Blitat, tidak perlu ada kebijakan pemerintah yang mematikan isu itu. Biarkan mereka yang yakin Supriyadi masih hidup mengemukakan segala bukti sejarah untuk mendukung keyakinan mereka. Dan Sejarah, sebagai ilmu, dapat mengakomodasikan kemungkinan timbulnya lebih dari satu versi, yang masing-masing sah sebagai history as writen. Sedang bagaimana yang sebenarnya terjadi sebagai history as a fact, tetap merupakan misteri. Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad pernah dimunculkan anggapan bahwa saat kelahiran (maulud) Nabi bukan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah. Tentu saja pandangan ini amat merisaukan masyarakat muslim, terutama yang betpandangan pintu ijtihad telah tertutup. Sebalikhya pihak yang menempatkan pandangan yang melawan anggapan itu betanggapan, dengan pandangannya itu, bahwa perubahan kecil ita tidak akan mengganggu gugat akidah Islamiah. Alasan mereka adalah, Senin l2 Rabiul Awal merupakan hasil political will, karena pada masa itu bangsa Arab belum mempunyai kebiasaan mencatat saat kelahiran seseorang. Dan lagi ketika Muhammad lahir beliau belum merupakan tokoh yang perlu diingat hari kelahirannya. Titi mangsa itu tampaknya hanya diambil dengan analogi pada hari wafat maupun hari hijrah Muhammad, yang keduanya sudah logis kalau diingat karena Muhammad sudah menjadi tokoh historis. Lebih-lebih Muhammad waktu dilahirkan bukan merupakan tokoh yang pantas dicatat hari kelahirannya. Hal yang sama juga terjadi pada ketentuan Hari Jadi Semarang, yang juga merupakan political will. Yang lebih perlu diwaspadai dengan isu makam Pangeran Diponegoro adalah kemungkinan mencuatnya motivasi tak sehat, berupa kultus kubur, seperti yang berkembang di sekitar makam-makam ”orang suci”. Kekhawatiran itu tentu saja beralasan, mengingat kebiasaan penduduk yang amat mengagungkan makam-makam 147
  • 148. 1eluhurr. (29) (SUARA MERDEKA, 5-2- 1994) 2. PERANG DIPONEGORO (Ditinjau dari Segi Militer) : Perang akan selalu dimenang-kan oleh pihak yang paling sedikit membuat kesalahan. BAB I PENDAHULUAN Banyaklah sudah karangan yang ditulis atau pidato yang diucapkan pada hari-hari wafatnya Pangeran Diponegoro, tentang diri Pangeran Diponegoro dan perjuangannya, hingga demikian tidak asinglah lagi bagi kita siapa sebenarnya tokoh perjuangan kemerdekaan pada abad ke 19 ini. Riwayat hidupnya telah banyak dikenal melalui tulisan-tulisan yang khusus mengenang masa-masa perjuangan beliau dalam memimpin perjuangan melawan penjajah Belanda, dalam usaha mengusir segala bentuk penjajahan dari muka bumi Indonesia. Kisah perjuangannya dalam meminpin rakyat Indonesia untuk menjatuhkan segala kekuatan sosial yang ada pada bumi Indonesia untuk mengusir dan menggulingkan segala praktek kelaliman, mengikis segala pengaruh buruk kebudayaan Barat yang telah mengotori kesucian kebudayaan Indonesia. Perjuangannya untuk memulihkan dan menegakkan kembali susunan masyarakat yang kuat dan bersih dari pengaruh buruk dari kebudayaan Barat, telah banyak menarik minat para penulis Indonesia. Pada umumnya tinjauan mereka itu berkisar pada sebab-sebab yang bersifat sosial ekonomis, yaitu bagaimana keadaan masyarakat dan ekonomi penduduk Jawa pada saat-saat sebelum peperangan. Akhirnya juga bagaimana akibat sosial ekonomis peperangan itu yang nampak pada masyarakat Jawa serta pada pemerintahan pendudukan Belanda. Akan tetapi masih sangat sedikit bahan bacaan dalam bahasa Indonesia yang menguraikan segi-segi peperangan itu sendiri. Sedang daripadanya kita dapat mengambil banyak teladan, umpamanya bagaimana strategi dan taktik yang dipergunakan oleh Diponegoro selama peperangan yang berlangsung antara 1825 – 1830. 148
  • 149. Penulis bertolak dari anggapan dasar bahwa peperangan yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro ialah merupakan suatu perang kemerdekaan. Dibawah ini akan dimajukan alasan penulis yang mendasari anggapan tersebut. Terlebih dahulu akan diuraikan dengan secara sederhana apakah hakekad-hakekad perang itu dan bagaimana pendapat para ahli tentang perang. Kemudian juga atas dasar alasan manakah perang yang dikobarkan oleh Diponegoro itu dapat disebut suatu perang kemerdekaan. Bagaimana pertimbangan kekuatan kedua belah pihak yang berperang akan dibicarakan pula, yaitu bagaimana kekuatan dipihak Diponegoro dan bagaimana pula kekuatan dipihak sekutu. Penulis dengan dasar menggunakan istilah sekutu untuk pihak lawan Diponegoro kendatipun Diponegoro dalam setiap kesempatan selalu menegaskan bahwa yang diperangi hanyalah kekuasaan Belanda. Dalam sebuah kesempatan ketika pasukan Diponegoro terpaksa membinasakan saudaranya sendiri, yaitu dalam pertempuran pada tanggal 30 Juli 1826 di Nglengkong, beliau menulis sepucuk surat untuk menegaskan pendiriannya. Surat itu antara lain berbunyi sebagai berikut: “Sripaduka menulis setjarik surat kepada hamba tentang meninggalnja adinda Murdaningrat dan pamanda Panular, dan jang lain-lain (meninggal karena tewas dalam peperangan dan dibunuh oleh tentara Diponegoro); keadan itu berlaku, karena melanggar aturan; berani melawan kami, sedangkan kami sekali-kali tidak ada mengandung maksud berperang dengan sanak saudara sendiri. Sebaliknja kami selalu berharap, supaja mereka sesuai dengan perasaan kami dan supaja bentji kepada Belanda ……dst.1 Akan tetapi kita tidak dapat memungkiri adanya kenyataan sejarah, bahwa selain mengerahkan segala tenaga tempur yang terdiri dari orang-orang Belanda dan Eropa lainnya, Belanda juga telah mengajukan tenaga tempur dari suku-suku bangsa pribumi Indonesia untuk berperang dipihak mereka. Sejarah telah membuktikan bahwa bantuan pasukan dari Maluku, seperti dari Ambon dari Sultan Ternate dan Tidore ikut memperkuat pasukan-pasukan Belanda. Demikian pula bala bantuan didatangkan juga dari Makasar dan putera-putera Gunung dari Arafuru. Tidak sedikit pula bantuan dari 1 M.D. Sagimun, Pahlawan Diponegoro Berjuang , Cabang bag. Bahasa dan urusan adat istiadat dan cerita rakyat Jawa. Kebudayaan Dep. P. P dan K. Jogjakarta, 1960, hal. 135 149
  • 150. tentara Sultan Sumenep, Mangkunegaran dan Susuhunan Surakarta. Dan jangan dilupakan orang-orang perantauan yang dipersenjatai dan disuruh berperang dipihak Belanda. Mula-mula kita dapati pasukan-pasukan Diponegoro memperoleh kemenangankemenangan taktis ditiap medan pertempuran, pada tahun-tahun pertama peperangan. Akan tetapi kemudian ternyata berturut-turut sampai akhir peperangan, pasukan-pasukan Diponegoro selalu didera kekalahan-kekalahan baik taktis maupun strategis. Dalam Bab yang membicarakan masalah itu, penulis akan memberikan ulasan mengenai sebab-sebab dan latar belakangnya. Termasuk kedlamnya gambaran mengenai perimbangan kekuatan yang dipunyai oleh kedua belahpihak yang berlawanan. Juga bagaimana bentuk strategi yang dijalankan oleh kedua belah pihak yang berperang. Baik juga penulis mencantumkan sekedar arti istilah-istilah teknis yang sering kita jumpai dalam karangan ini, taktik dan strategi. Karl Von Clausewitz memberikan rumusannya sbb: “Taktik ialah teori mengenai pemunggunaan kekuatan-kekuatan militer dalam pertempuran-pertempuran, sedang strategi ialah teori mengenai penggunaan pertempuran untuk tujuan perang.”2 Dengan perkataan lain maka istilah strategi mengandung pengertian kebijaksanaan umum yang dipunyai oleh setiap pimpinan dari setiap pihak yang berperang, dalam melaksanakan peperangan dan dalam usaha mencapai tujuan-tujuan peperangan. Sedangkan taktik mengandung pengertian yang lebih sempit, yaitu kebijaksanaan yang diambil oleh pimpinan-pimpinan pasukan untuk mencapai tujuan pertempuran. Sebagai tambahan, dalam bab terakhir penulis akan memberikan rangkuman dan kesimpulan mengenai karangan ini. Dalam karangan pendek ini penulis berpengharapan bahwa kita dapat mengambil pelajaran dari masa lampau. Dan kemudian dapat menentukan sikap yang lebih matang untuk menghadapi hidup masa kini dan masa datang, sesuai dengan hahekad tujuan pendidikan sejarah. Dengan perkataan lain kita dapat menampung, meskipun hanya sebagian kecil, amanat penderitaan bangsa kita pada suatu episode yang bergelora yaang meskipun telah gagal akan tetapi tidak sia-sia dalam rangka keseluruhan perjuangan bangsa. Semoga kita tidak menyia-nyiakan amanat penderitaan rakyat dari generasi yang 2 Karl Von Clausewitz, Tentang Perang (terjemahan R. Soesatyo, Mayor Inf.) Pembimbing, Jakarta, 1954, hal. 150
  • 151. lampau, supaya dengan demikian kita dapat bertindak dengan lebih matang untuk berjuang dalam rangka menyelesaikan revolusi bangsa Indonesia. Semoga berhasil. BAB I PERANG KEMERDEKAAN 1. Hakekat Perang. 2. Dalam suatu perdebatan, seorang kawan dengan secara berseloroh mengatakan bahwa ilmu sejarah sangat penting artinya dalam kehidupan manusia. Lebih jauh dia mengatakan bahwa seandainya tidak ada ilmu sejarah maka tidak akan ada perang Dunia ataupun peperangan yang lain didunia ini. Sepintas lalu pernyataan kawan saya itu amat menggelikan. Betapa amat menggelikannya dan terbaliknya jalan pikirannya itu. Akan lebih tepat barang kali kalau dia mengatakan kalau didunia ini tidak ada peperangan apapun, maka tidak akan ada ilmu sejarah. Walaupun pernyataan itupun tidak semuanya benar, tetapi dalam satu segi ada kebenarannya. Sejarah manusia memangdiwarnai oleh perjuangan-perjuangan untuk mempertahankan hidup dan seringnya dilanjutkan dengan bentrokan-bentrokan bersenjata yang disebut perang. Hal ini terjadi sepanjang sejarah kemanusiaan, sejak permulaan adanya peradaban sampai pada masa-masa di mana manusia telah mencapai peradaban yang tinggi. Memang benar bahwa sejarah bukanlah ilmu pengetahuan yang khusus membicarakan peperangan-peperangan melulu, akan tetapi karena perang sebagai salah satu gejala dalam masyarakat manusia yang paling menentukan dalam perkembangan manusia, maka dengan sendirinya perang telah banyak mengambil tempat dalam halaman-halaman kitab sejarah kemanusiaan. Bahkan dalam pertunjukan-pertunjukan wayang, perang merupakan inti pertunjukan, karena disitulah digambarkan suatu bentrokan antara pihak kebenaran melawan pihak kejahilan. Pihak kejahilan digambarkan dengan segala bentuk yang menakutkan dan dengan bentuk lahir berupa raksasa. Sebaliknya pihak kebenaran digambarkan dengan bentuk yang tampan dan umumnya dengan bentuk lahir yang lembut. Dan pertunjukan selalu akan berakhir dengan kemenangan ada dipihak yang mewakili kebenaran. Itupun moral pertunjukan kesenian, akan tetapi dalam dunia kenyataan, maka tidak selamanya dalam bentrokan antara pihak yang mewakili kebenaran melawan pihak yang mewakili 151
  • 152. kejahilan selalu diakhiri pihak dengan kemenangan yang mewakili kebenaran. Banyaklah faktor yang ikut menentukan jalannya peperangan yang berlangsung. Hingga tidak jarang pihak yang mewakili kejahilan memperoleh kemenangan, walaupun hanya bersifat sementara. Dalam hal ini maka berarti pihak yang mewakili kebenaran untuk sementara waktu mengalami kegagalan dalam usaha mempertahankan kebanaran itu. Dalam sejarah Indonesia banyak sekali contoh yang menunjukkan bahwa rakyat Indonesia telah mengalami kegagalan dalam berjuang mengusir penjajah Belanda. Dari sejarah pula kita dapat mengetahui bahwa perang dapat merupakan ahli kimia ajaib, yang telah merobah keadaan mayarakat tertentu dengan secara mendadak. Keadaan masyarakat tertentu tiba-tiba berubah warna sama sekali sebagai akibat dari peperangan yang baru saja berlangsung. Beberapa susunan pemerintahan baru tiba-tiba bermunculan dibagian dunia ke II. Republik Indonesia muncul pada 17 Agustus 1945 segera setelah selesai perang pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Kenyataan itu memeberikan bukti bahwa hampir semua perkembangan sejaran dan peradapan manusia diisi oleh peristiwaperistiwa perang. Nyatalah disini bahwa perang merupakan suatu sebab dari kejadiankejadian penting dalam peradapan manusia, walaupun tentu saja bukan satu-satunya sebab. Banyaklah contoh yang menunjukkan bahwa kejadian-kejadian yang bersifat “kebetulan” sering berhasil menciptakan perubahan-perubahan dalam peradapan manusia. Diceritakan bahwa jatuhnya sebuah apel masak dikebun pada akhir tahun 1687 telah membuat Isaac Newton 1 menemukan hukum gaya berat semesta. Penemuan Isaac Newton itu merupakan penyempurnaan teori Galileo dan Kepler tentang peredaran benda-benda langit. Dan yang lebih penting ialah karena ternyata merupakan pertanda bagi naiknya zaman pencerahan dalam bidang fisika. Sebuah peristiwa lagi terjadi pada tahun 1520. pada waktu itu anak-anak buah ketiga perahu yang dipimpin oleh Colombus sedang merasa putus asa disebuah titik dilautan Atlantik, ketika tiba-tiba terjadi badai yang menyerat perahu-perahu tersebut. Ke pantai sebuah benua baru. Peristiwa itu kemudian menjadi pembuka zaman baru2, yaitu zaman kolonisaai secara besar-besaran ke benua baru itu yang kemudian terkenal dengan Benua Amerika. 1 Louis L Snyder, Abad Pemikiran (terjemahan Nyoman S Pendit), Bhratara, Jakarta, 1961, hal. 29. Jean Canu, Sejarah Anerika Serikat (terjemahan Mr. Nany Suwondho), Pustaka Rakyat N.V., Jakarta 1953, hal. 5. 2 152
  • 153. Bertolak dari kenyataan di atas sampailah kita pada kesempatan untuk membicarakan perang Diponegoro, ialah suatu peristiwa dalam sejarah Indonesia yang meninggalkan bukti-bukti berupa catatan bertarich. Dan peristiwa itu telah berlangsung dari tahun 1825 sampai dengan awal 1830. Lalu apakah hakekad perang sebenarnya ? Dan mengapa peristiwa yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur antara 1825 – 1830 itu disebut perang? Setiap terdengar perkataan perang terbayang di depan mata kita suatu pertarungan mempertaruhkan jiwa raga antara dua belah pihak atau lebih, dimana masing-masing pihak berusaha mengalahkan lawannya dengan kekuatan senjata. Gambaran itu sesuai benar dengan pendapat orang – orang yang selalu disebut-sebut namanya setiap kali orang membicarakan perang, yaitu Karl van Clausewitz. Didalam bukunya yang berjudul “Tentang Perang” dijelaskannya bahwa baginya “perang merupakan suatu pergulatan secara secara besar-besaran, dimana masing-masing pihak memaksa pihak lawannya dengan kekuatan jasmaninya, untuk supaya tunduk kepadanya”.3 Dengan pengertian baru ini kita hendaknya mencoba menjawab pertanyaan yang mungkin timbul dalam pikiran kita, apakah peristiwa yang terjadi pada suatu masa antara 1825-1830 disebagian pulau Jawa itu dapat disebut perang? Jawabannya dengan tegas ialah benar. Sejarah dengan tegas telah membuktikan ada dua belah pihak yang saling bertentangan. Di satu pihak berdiri Diponegoro yang mendapat dukungan yang merata dari sebagian besar penduduk Jawa. Dipihak lain berdiri kekuasaan Belanda yang bersekutu dengan kekuasaan-kekuasaan pemerintahan, seperti kesultanan Yogyakarta, Kesunanan Surakarta, Keadipaten Mangkunagaran serta pihak Monconegaran, dibawah pimpinan Letnan Jendral Marcus de Kock. Kemudian timbul lagi pertanyaan, pihak mana yang berusaha mendesakkan kehendaknya terhadap pihak lain? Jawabannya tentu saja kedua belah pihaklah yang telah sama-sama mendesakkan kehendaknya. Pihak Belanda selalu mendesakkan kehendaknya kepada pihak Diponegoro. Dan dan kehendak itu banyak sekali wajahnya. Pihak Belanda antara lain telah mendesakkan atau memaksakan cara hidup baru, suatu kebudayaan baru kepad pihak Diponegoro dan kepada masyarakat Jawa. 3 Karl von Clausewitz, op cit. hal. 1 153
  • 154. Di lain pihak maka Diponegoro sebagai lambang kehendak rakyat, berusaha pula mempertahankan pendiriannya. Dan pendiriannyapun berwajah banyak. Diantaranya penolakan masuknya pengaruh kebudayaan Barat yang buruk terhadap masyarakat Jawa, terutama dikalangan tinggi. Pihak Belanda hendaknya mau menghargai cara hidup dn kebudayaan Indonesia, khususnya di Jawa dan mau pula menghargai atau menghormati harga diri Pangeran Diponegoro beserta rakyatnya. Dalam pertentangan itu masingmasing pihak telah mempergunakan seluruh tenaga jasmani dan rohaninya, hingga timbullah pergulatan senjata yang dasyat. Itulah hakekad perang. Setiap uraian perang tidaklah mungkin bersifat obyektif, hingga uraian itu bersifat deskriptif, selama penulisnya masih berasal dari salah satu pihak yang berperang. Setiap buku yang ditulis oleh pihak Belanda tentang perang Diponegoro, dalam setiap kesempatan akan mengatakan bahwa pihak Diponegorolah yang tidak benar, karena telah mengadakan pembangkangan dan pemberontakan melawan kekuasan yang ada.dan dengan demikian maka pihak belandalah yang benar. Akan tetapi di pihak Diponegoro dengan sendirinya mempunyai pendapat yang berlainan, yaitu pihak Belandalah yang bersalah, karena selalu mengadakan penindasan terhadap rakyat Indonesia, dalam hal ini di Jawa. Dan setiap pengemban amanat penderiataan rakyat dengan tegas akan memilih tempat di belakang pendapat Diponegoro itu. Hingga dengan demikian penulis dengan sendirinya tanpa ragu-ragu mempergunakan julukan yang tegas bagi perang yang terjadi pada waktu itu, seperti dalam uraian mendatang ini. 2. Perang Diponegoro Sebagai Perang Kemerdekaan. Perkataan Diponegoro didepan perkataan perang dimaksudkan untuk memberi ciri dan tekanan bahwa daalam perang itu yang memegang peranan penting ialah Pangeran Diponegoro. Jadi bukan Trunojoyo ataupun pahlawan yang lain. De Stuers memberikan julukan La Guerre de Java atau perang Jawa untuk peristiwa yang sama, dengan menganggap remeh peranan Pangeran Diponegoro sebagai seorang pengatur strategi perang yang telah berlangsungselama lima tahun di tanah Jawa. Dia hanya memberikan tekanan kepada tempat terjadinya peristiwa perang itu, yaitu tempet terjadinya kegiatan Belanda. Kita bisa membandingkan julukan perang Korea dan perang Pasifik, untuk 154
  • 155. memberikan tekanan bahwa perang-perang itu terjadi di tanah Korea dan yang satunya diperairan lautan Pasifik. Kita mengenal pula julukan Perang Boer ataupun Perang Punisia untuk membedakan bahwa perang yang pertama adalah melawan bangsa Boer dan yang kedua melawan bangsa Punisia. Dengan pemberian perang Diponegoro ini selain untuk memberikan tekanan pada peranan Diponegoro, penulis hendak menyatakan bahwa keterangan Diponegoro mempunyai hubungan erat dengan sifat perang itu sendiri, yaitu perang kemerdekaan. Akan tetapi sebelum memberikan bukti bahwa perang yang dilakukan oleh Diponegoro dan pasukannya itu merupakan perang kemerdekaan, maka lebih dahulu baiklah kita ketahui apa yang disebut perang kemerdekaan itu. Perang idak lain dan tidak bukan adalah lanjutan dari pada politik dengan cara lain. Maka kita lihat perang bukan saja merupakan suatu tindakan politik, namun juga sesungguhnya suatu alat politik, suatu lanjutan dari pergaulan politik, yang melanjutkannya dengan cara – cara lain.4 Itu adalah perumusan Clausewitz yang paling mashur diantara perumusanperumusan yang lainnya tentang perang. Perumusannya itu memberikan jawaban bahwa perang sebenarnya hanyalah alat saja, jadi bukan tujuan. Bila hubungan antara dua negara atau antara rakyat dengan pemerintahnya, ataupun antara suatu bangsa yang terjajah dengan suatu bangsa yang kebetulan menjadi penguasa, tidak memberikan kepuasan dalam bidang politik, maka keadaan “damai” itu tidak mungkin lebih lama lagi dapat dipertahankan. Dengan demikian maka dicarilah jalan untuk mendapatkan kepuasan politik itu. Dan salah satu cara atau alternatif yang paling exstrim yang dapat diambil yaitu mengobarkan peperangan dengan maksud supaya pihaknya akan mendapatkan kepuasan politik itu. Dan kalau kita akan berbicara dalam rangka hukum sebab akibat, maka pada tingkat pertama perang merupakan suatu akibat, yaitu akibat dari konstelasi politik dari masyarakat tertentu pada masa tertentu. Dengan demikian maka sifat akibat tidak akan menyimpang dari sifat percaturan politik pada waktu itu. Perkembangan politik di tanah Jawa, khususnya didaerah Mataram pada waktu itu, yaitu sebelum pecah perang adalah demikian rupa, hingga rakyat dan sebagian para 4 Karl von Clausewitz, op cit. hal. 27. 155
  • 156. bangsawan merasakan adanya suasana politik yang tidak memuaskan. Perkataan politik disini jangan diartikan dalam hubungan pemerintahan saja, akan tetapi juga dalam hubungan dengan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat. Suasan apolitik pada waktu itu sangat menguntungkan pihak Belanda. Pada hati rakyat sangat deras timbulnya kesadaran bahwa keadaan buruk itu tidak mungkin lebih lama lagi dipertahan kan terus. Demikian juga perasaan itu terdapat pula pada dada para bagsawan. Kesadaran itu lebihlebih menggerakkan hati pemimpin-pemimpin rakyat. Seperti Pangeran Diponegoro, Pangeran Mangkubumi, Kyai Modjo, Sentot Prawirodirdjo dsb. Untuk segera berusaha mengubah keadaan pada waktu itu. Dan pendirian serta keyakinan yang terdapat pada dada mereka itu tidak mungkin lagi dapat diubah. Bila dengan jalan damai pemerintah jajahan tidak mau mengubah sikap dan tidak pula mau menghargai sikap Diponegoro dan rakyatnya, maka tidak ada pilihan lain kecuali diambilnya di jalan perang untuk mencapai politik itu tadi. Dengan demikian pergulatan dengan senjatapun dimulailah. Karena pihak yang merasa tidak puas dengan konstelasi politik pada waktu itu adalah bagsa yang terjajah. Maka perang yang dilakukan oleh pihak yang terjajah untuk mengusir pihak yang menjajah itu, untuk mencapai kemerdekaan bangsanya, disebut perang kemerdekaan. Nyatalah disini bahwa motif dari perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh rakyat dan pemimpin-pemimpinnya, ialah hasrat untuk kemerdekaan diri dari belenggu penjajahan dalam semua bidang kehidupan. Jelas sekali tujuan politik dari perang itu ialah membentuk suatu negara dan masyarakat Indonesia yang bebas dari pemerasan penjajah. Dengan perkatan lain merupakan reaksi dari keadan dimana kemerosotan moral sangat merajalela dan beban rakyat begitu berat sebagai akibat penetrasi Belanda. Istilah perang kemerdekaan ini juga merupakan reaksi terhadap istilah yang di ajukan oleh Jean Gottmann. Dalam kerangkanya yang berkepala perkembangan perang kolonial perancis, dia antara lain mengatakan bahwa peristiwa itu adalah “Sebagai perang 156
  • 157. kolonial”.5 Sedangkan professor Q. Wright6, seorang penulis sejarah militer, dalam bukunya yang berjudul “A Study of war” menyebutkan, bahkan, perang-perang yang terjadi terjadi selama kurun masa antara tahun 1789-1914 ialah perang kapitalisasi, artinya perang yang bertujuan untuk menanamkan kapital-kapital pada daerah-daerah jajahan. Hal itu disebabkan karena perbedaan tempat dari mana orang memandang persoalan itu. Kalau pihak penjajah dipandang sebagai subyek dan pihak yang terjajah dipandang sebagai obyek, maka benarlah apa yang dikatakan oleh kedua orang penulis dari Barat itu. Akan tetapi sebagai bangsa yang telah mengalami betapa pahit rasanya terjajah selama tiga setengah abad, maka saya berpendapat tidak adalah istilah yang lebih herois dan dengan demikian lebih tepat untuk menamai perang yang demikian itu sebagai perang kemerdekaan. 5 Baca karangan Jean Gottmann : Perkembangan Perang Kolonial Perancis, dalam buku Edward Mead Earle, Penyusun-prnyusun Strategi Perang Modern, Bhratara, Jakarta 1962, hal. 201-221. 6 Edward Mead Earle, ibid, hal. 246. Prof. Q. Wright membagi sejarah peperangan dalam kurun masamasa yang baik sekali: a) Kurun mas pemakaian senjata api (1450-1648), b) kurun masa tentara profesional dan perang dinasti (1648-1789), c) kurun masa kapitalisasi (1789-1914), dam d) Kurun masa perang total (1914-1942). 6 157
  • 158. BAB II PERIMBANGAN KEKUATAN 1. Casus Belli. Kalau mau dituliskan secara terperinci sebab-sebab timbulnya perang Diponegoro, maka uraian itu akan merupakan buku yang berjilid-jilid tebalnya, sebab akan berisi cetusan perasaan tidak puas yang diderita oleh lapisan masyarakat di Jawa Tengahsejak mulainya ada bentuk penjajahan pada pertengahan abad ke 17. semua kegagalan yang dialami perang-perang kemerdekaan yang terjadi pada masa-masa sebelum 1825 juga merupakan sebab-sebab timbulnya perang Diponegoro itu. Saat pemerintahan Amangkurat I (1645-1677) dikenal sebagai langkah yang tidak menunjukkan keperwiraan bagi tradisi Mataram. Tradisi menentang penjajahan yang telah dirintis oleh Sultan Agung (1613-1645), telah dirusakan oleh Amangkurat I, sebab raja ini telah secara jurudis mengakui adanya kekuatan asing di Batavia yang berbentuk V.O.C. Tindakan itu dibuktikan adnya perjanjian yang diadakan dengan V.O.C. yang terjadi pad 1646, antara lain berisi : 1. Mataram mengakui Belanda di Batavia 2. Mataram boleh berdagang dengan merdeka di seluruh Indonesia kecuali dengan : a) Ternate, Ambon dan Banda b) Pelayaran ke Malaka atau melalui Malaka harus memakai surat izin Belanda. 2. V.O.C. tiap-tiap tahun mengirimkan utusan ke Mataram. 1 Selanjutnya keadaan di Jawa menjadi lebih buruk lagi selama pemerintahan Amangkurat II, yang hanya karena ingin tetap sebagai Susuhunan di Mataram, telah memberikan kesempatan lebih banyak lagi kepada Belanda untuk menguasai tanah Jawa. Perjanjian yang diadakan pada 1677 antara Amangkurat II dengan pihak Belanda antara lain berbunyi : 1. Mataram membajar 250.000 rejal dan 3.000 pikol beras dibajar 3 kali dalam tiga tahun. 1 R. Moh. Ali, Perjuangan Feodal Indonesia, Ganaco N.V. Jakarta Bandung, 1963, hal. 130. 158
  • 159. 2. Pelabuhan DJawa semuanja terbuka bagi V.O.C. 3. V.O.C. mendapat daerah Kerawang dan Priangan. 4. Ongkos perang selandjutnja ditaksir 20.000 rejal harus dibajar oleh Mataram (tiap-tiap bulan).2 Dari kegiatan ini dapatlah kita maklumi betapa Belanda telah menghujamkan cakar kolonialismenya ke bumi Indonesia. Profesor Dr. D. H. Burger telah mentafsirkan keadaan sejak 1677 itu Mataram telah menjadi “semacam” protektorat” kompeni”. 3 Dengan demikian maka kekuasaan atau pemerintahan atas bangsanya sendiri telah hilang. Kemudian kita mengetahui bahwa keadan yang merupakan awal dari ikut campur tangan asing itu telah membangkitkan tokoh-tokoh seperti Trunojoyo dan Untung Suropati untuk mengadakan pemberontakan menurut istilah Belanda. Masing-masing telah terjadi sekitar tahun 1674-1679 dan sekitar tahun 1683-1706. Akan tetapi sejarah telah membuktikan bahwa teknik Belanda yang lebih unggul telah memadamkan api perlawanan bersenjata itu. Kemudian sejarah juga membuktikan bahwa sejak itu Belanda mulai melakukan campur tangan dalam segala bidang kehidupan di tanah Jawa, terutama didaerah “kekuasaan” Mataram. Sebagai pihak yang bersikap sebagai “protektor” maka Belanda mulai menguasai perekonomian tanah Jawa. Belanda yidak lagi berdagang secara bebas, tetapi sebaliknya mulai menjalankan monopoli atas pemasukan barang-barang import ke wilayah Mataram dan juga atas pelemparan hasil-hasil bumi Mataram. Setelah selesai perang mahkota ketiga (11755), maka selain Belanda telah benarbenar menguasai daerah-daerah diluar Mataram, yang lebih menyedihkan ialah terpecahnya “wilayah” Mataram menjadi empat “kekuasaan” yang kecil-kecil. Sebagai akibat perjanjian Gianti pada 1755 timbullah “kekuasaan” baru seperti Kesunanan Surakarta dibawah seorang Paku Buwono Kesultanan Yogjakarta dibawah Hamengku Buwono. Dalam tahun 1757 muncullah Mangkunegaran sebagai “kekuasaan” baru di Surakarta dan pada tahun 1812 di Jogjakarta muncullah “kekuasaan” Pakualaman. Semua kerajaan itu baik dalam bidang pemerintahan maupun dalam bidang ekonomi betul-betul 2 R. Moh. Ali, ibid. hal. 134. D. H Burger, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, jilid I (disadur oleh Prof. Dr. Prayudi Atmosudirjo), P. N. Pradja paramita, Jakarta 1960, hal. 68. 3 3 159
  • 160. tidak mempunyai kemerdekaan sama sekali. Profesor Dr. D. H. Burger dalam bukunya Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia Menggambarkan sebagai “negara pekerjaan dan pencerahan wajib saja kepada Belanda ……”4 Dalam hal demikian itu maka kebudayaan dan cara hidup orang Belanda yang burukburuk mudah saja mempengaruhi kalangan atas setiap kerajaan di Jawa. Para bangsawan Jawa mulai dibius oleh minuman keras dan kebiasaan Belanda yang buruk. Sementara rakyatnya selalu saja menderita akibat buruknya. Kemudian tidak sedikit para bangsawan yang mulai menyadari betapa merusaknya segala akibat penetrasi Belanda itu. Semuanya itu sangat menyinggung kemurnian perasaan timur dan adat pusaka moyang mereka. Perubahan-perubahan yang berkali-kali diadakan oleh pemerintah-pemerintah penjajah Belanda dan Inggris, yang pad hakekadnya sangat merugikan rakyat dan kalangan bangsawan di Jawa, melahirkan situasi yang baik sekali untuk timbulnya perasan tidak puas yang dapat mencetuskan praktek-oraktek perlawanan terhadap penjajah. Gambaran itu semua menunjukkan kepada kita betapa rapatnya hubungan kejadian-kejadian yang satu dengan yang lain dalam sejarah Indonesia yang merupakan kelangsungan cerita sejarah yang bulat. Menunjukkan pula sebuah episode dalam sejarah Indonesia sebenarnya mempunyai sumbernya pada kejadian-kejadian masa lampau. Teringatlah penulis pada ucapan Lyautey, sssalah seorang tokoh militer Perancis abad ke 19, seorang yang telah berhasil merumuskan gagasan dan doktrin madzab militer kolonial Perancis. Dalam memberikan ulasan terhadap perang-perang kemerdekaan yang digambarkan sebagai pemberontakan perampok-perampok, dia mengatakan bahwa tindakan gerombolan perampok itu ialah sebagai tanaman yang tumbuh di atas tanah tertentu saja.” Cara yang paling efisien untuk menghentikan menjalarnya tanaman itu ialah dengan menjadikan tanah itu tidak cocok bagi pertumbuhannya”.5 Bagaimana sebenarnya keadan tanah dan bumi Indonesia, dalam hal ini di Jawa? Keadaannya merupakan bumi yang subur bagi tanaman yang liar itu. Semak belukar perasan tidak puas telah merimba. Kita masih ingat perasan tidak puas dan perang-perang kemerdekaan yang dipimpin oleh Sultan Agung, Trunojoyo, Untung Suropati dsb. yang juga terjadi di bumi yang sama. Semak-semak itu memang telah berkali-kali dicabuti, akan tetapi berkali-kali pula tumbuh lagi. Ibarat rumpun ilalang yang setelah dibakar 4 5 Prof. Dr. D. H. Burger, ibid. hal. 78. Edward Mead Earle, op cit. hal. 208. 160
  • 161. habis, tunas-tunasnya tidaklah musnah. Pada saat hujan jatuh untuk pertama kalinya, ilalang itu tumbuh dan meratalah kembali rumpun ilalang diseluruh bumi itu. Demikian pula dengan semangat perang kemerdekaan di Indonesia. Seperti halnya dengan tunastunas ilalang, maka tunas-tunas api kemerdekaan itu secara kodrati, secara hukum alam, pasti akan tumbuh segera setelah hujan pertama jatuh. Dan hujan yang ditunggu-tunggu itu jatuh pada kira-kira pertengahan bulan Juli 1925 atau tegasnya pada tanggal 20 Juli 1825. peristiwa itu sudah begitu terkenal, sehingga tidak perlu diuraikan dengan panjang lebar lagi. Pada pertengahan tahun 1825 itu, seorang bangsawan Mataram berpangkat Patih yang sangat tunduk kepada Belanda, memberikan perintah untuk melebarkan jalan raja dari Yogjakarta ke Magelang dengan melalui sebidang tanah milik Pangeran Diponegoro, tanpa memberitahukan lebih dahulu kepada beliau. Bahkan sebagaian tanah perkuburan yang sangat dihormati beliau telah dibongkar guna keperluan pembuatan jalan tadi. Dan reaksi yang kemudian timbul dari pihak Diponegoro sungguh sangat bersifat ksatria. Selain menyuruh mencabuti seluruh tonggak yang dipancangkan disepanjang tanah beliau, Pangeran Diponegoro mengirimkan surat protes. Dan manakala surat jawaban atas surat protes itu tidak kunjung datang, bahkan yang tiba ialah berita kabar angin bahwa Pangeran Diponegoro akan ditangkap, lebih-lebih bila tentara yang ditugaskan untuk mengepung kediaman Diponegoro telah ada disekitar tempat beliau, maka tegaslah sudah bahwa api perang kemerdekaan segera harus dikobarkan. Suara salvo yang keluar dari senapan-senapan tentara Belanda yang mengepung puri Tegalrejo, memberikan pertanda bahwa pernyataan perang telah diumumkan. Dan permulaan perang itu justru datang dari pihak Belanda. Secara beralasan sebenarnya kekhawatiran akan meletusnya apa yang disebut perang Jawa itu telah timbul jauh sebelum tahun 1825, yaitu sejak 1802, dengan adnya usul dari Dirk van Hogendorp6 mengenai perubahan struktur masyarakat pada bidang sosial dan ekonomi, yang kemudian dilaksanakan oleh Daendels dan Raffles. Usul itu seperti sudah kita maklumi adalah mengenai usaha menghilangkan sistem feodal, dimana para bangsawan Jawa merupakan tuan-tuan tanah. Kemudian ternyata bahwa para bangsawan itulah yang pali banyak mendukung perang kemerdekaan yang kemudian berkobar, walaupun bukan oleh alasan tersebut itu saja. Tindakan Belanda itu ternyanta membuat 6 D.H. Burger, op cit. hal. 171. 161
  • 162. bumi Jawa itu menjadi sangat subur untuk tumbuhnya tanaman liar tadi. Selanjutnya tindakan Belanda didaerah jajahannya itu merupakan pupuk yang baik untuk menumbuhkan jenis tumbuhan tadi. Sayang sekali “nasihat” yang diberikan oleh seorang kolonial Perancis di Tonkin kepada Belanda baru datang pada akhir abad ke 19. nasihat itu mengatakan bahwa “…….Orang mesti membajak tanah yang sudah ditaklukkan itu, lalu memagarinya dan kemudian menanaminya dengan padi yang baik ……”7 Oleh karena Belanda tidak memandang gawat keadaan di Jawa pada waktu itu, maka dikirimlah tentaranya pada sebelum tahun 1825 sebagai ekspedisi ke Minangkabau, Makasar dan Saparua, karena didaerah-daerah itu sedang terjadi pula pemberontakan bersenjata melawan Belanda. Seperti sudah kita ketahui pada 1819 Belanda melakukan ekspedisi ke Palembang karena Sultan Nadjamudin tidak mau mengakui kekuasan Belanda. Pada 1822 timbul perang Paderi di Minangkabau yang sangat memerlukan balabantuan dari Jawa. Sementara itu untuk memaksa raja Bone yang bergelar Aru Palaka, supaya mentaati isi perjanjian Bongaya yang diadakan oleh Belanda dengan Sultan Hasanudin pad 1667, Belandapun harus mengerahkan tentaranya ke Makasar. Sedang sebelum itu, yaitu pada 1817 dipulau Ambon telah berkobar pula perang kemerdekaan yang dipimpin oleh Pattimura. Jadi ditanah Jawa pada waktu itu sedang kekurangan tentara. Pada saat yang gawat itulah, dengan perantaraan kaki tangannya yaitu Patih Danurejo , Residen Jogjakarta Smissaert dan sekretarisnya Chevallier telah melakukan tindakan yang boleh dianggap sebagai pancingan untuk mengibarkan perang baru. Besar kemungkinannya bahwa tindakan pancingannya itu memang sengaja dilakukan, dengan sombong kedua pejabat itu pernah mengatakan bahwa “….. Diponegoro tidak ada artinya dan tidak sama harganya dengan satu penggalan kelewang Belanda ……”8 Akan tetapi kemudian sejarah membuktikan bahwa perkiraan itu mereka terhadap kekuatan Diponegoro itu sama sekali tidak benar. Bahkan ternyata kemudian Smissaertlah yang pagi-pagi telah berteriak-teriak meminta bantuan kepada Surakarta, waktu dia dan tentaranya yang terdiri dari 200 orang, beserta keluarga Keraton Yogjakarta terkurung dalam benteng “Vredeburg”. 7 8 Edward Mead Earle, op cit. hal. 208. Muhammad Yamin, Sejarah Peperangan Diponegoro, Yayasan Pembangunan, Jakarta, 1950. hal. 106. 162
  • 163. Dan bukanlah tidak mungkin bahwa alasan penyekoresan dan pemecatan atas diri Smissaert sebagai Residen Yogjakarta oleh de Kocktidak hanya berlatar belakang kecurangan pejabat itu dalam bidang ekonomi saja- seperti kita ketahui dia telah berusaha mengambil keuntungan harta benda untuk dirinya sendiri dari kesulitan pemerintah jajahan, umpamanya saja pembesar itu sampai hati menimbun keperluan-keperluan tentara seperti beras, padi, bahkan gabah dan rumput untuk keperluan sendiri. 9 Bukan tidak mungkin bahwa alasan yang dipakai de Kock untuk memecat dia itu adalah tindakannya yang sangat ceroboh dalam bidang militer, karena pejabat itu telah memancing-mancing timbulnya perang, justru pada saat-saat posisi Belanda sedang tidak menguntungkan. Karena dalam saat-saat gawat seperti itu dia telah membiarkan Chevallier menyerang puri Tegalrejo. Dan peristiwa itulah yang tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai sebab langsung pecahnya perang Diponegoro atau dengan perkataan lain disebut c a s u s b e l l i dari dari suatu perang kemerdekaan yang berlangsung antara 20 Juli 1825 sampai 28 Maret 1830. 2. Kekuatan Diponegoro a. Faktor non militer. Bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui perincian kekuatan yang ada pada pihak Diponegoro, karena kurangnya keterangan dokumenter yang khusus menguraikan hal tersebut. Akan tetapi dengan sumber-sumber yang penulis telaah, penulis hendaknya memaparkan secara sederhana. Beberapa faktor sangat menguntungkan posisi Diponegoro dalam perang yang dihadapinya. Keadaan alam, misalnya merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam suatu perlawanan rakyat menentang penjajah. Ternyata keadaan seluruh wilayah dengan segala gejalanya seperti hutan-hutan, pegunungan, rawa-rawa, jalan-jalan setapak dan suangai-sungai yang terdapat didaerah itu tidak asing lagi bagi rakyat yangmendukung perang itu. Dengan demikian maka pasukan Diponegoro mudah mencari tempat perlindungan dan mudah pula melakukan serangan sekonyong-konyong dalam 9 Sagimun M.D, op cit. hal. 97-98 163
  • 164. melaksanakan perang gerilya. Daerah-daerah Kedu, Banyumas dan Bagelan tempat dimana pasukan-pasukan Diponegoro beroperasi adalah daerah-daerah yang dikenal baik oleh mereka. Akibatnya semua lerenga dan lembah, semua punggung gunung, semua liku-liku jalan setapak, dan hutannya dapat mereka pergunakan dalam gerakan mundur mereka ataupun dalam mengadakan serangan mendadak. Hal itu sangat menguntungkan dalam usaha memelihara moril yang tinggi dari pasukan serta keberanian mereka. Dengan demikian mereka akan selalu merasa bermain dirumah sendiri. Hal itu sangat membantu memelihara semangat bertempur mereka. Daerah Jawa Tengah yang seolah-olah ditaburi gunung-gunung, lembah-lembah yang curam, hutan-hutan lebat dan sungai-sungainya yang deras arusnya, beserta desadesa yang dikelilingi oleh rumpun-rumpun bambu yang tinggi, seolah-olah merupakan barikade alam yang sukar ditembus bagi pertahanan mereka. Sungai-sungainya yang berarus deras dan bertebing sampai setinggi 30 kaki didaerah-daerh pegunungan, serta padang-padang ilalang dn semak-semak gelagah yang tingginya sampai mencapai 4 atau 5 kaki dan musim penghujan yang lama, merupakan kombinasi yang sangat menguntungkan pihak Diponegoro dalam menjalankan taktik perang gerilya. Selain itu faktor manusia juga merupakan faktor yang menentukan juga. Faktor itu tidak dapat dikesampingkan dalam setiap perjuangan massa. Setiap pemimpin perjuangan akan selalu mencari simpati rakyat sebanyak-banyaknyadan berusaha mendapatkan dukungan yang banyak untuk mensukseskan perjuangannya. Apalagi dalam perjuangan bersenjata semacam peperangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Diponegoro itu, dimana manusia memiliki potensi yang sangat berarti baik ditinjau secara taktis maupun secara strategis peperangan. Dari pihak mereka dapat diambil tenaga-tenaga cadangan yang militan. Dari pihak mereka dapat pula diambil kegunaan lain seperti sumbangansumbangan berupa bekal hidup selama perjuangan bersenjata itu berlangsung. Gambarannya seperti air danau yang memberi hidup kepada ikan. Kepada merekalah para pejuang mengharapkan perlindungan dan pertahanan hidup selama masa perjuangan melawan tentara penjajah yang lebih kuat seperti ikan yang mengharapkan perlindungan air danau. Rakyat yang selama masa penjajahan mengalami penderitaan, terutama dalam bidang ekonomi, sudah lama merasa tidak puas dengan keadaan waktu itu, hingga keinginan memberontak telah ada pada diri mereka. Tinggallah menunggu datangnya 164
  • 165. pemimpin yang akan menggalang semangat dan yang kemudian akan mengobarkan api perjuangan. Pada saat itu muncullah tokoh seperti Pangeran Diponegoro. Dan hampir seluruh rakyat dan bangsawan Mataram dengan serta merta menggabungkan diri dengan Diponegoro, segera setelah mendengar berita bahwa peperangan telah pecah. Dan merekalah tenaga-tenaga yang mula-mula menjadi tumpuan segala harapan Pangeran Diponegoro. Faktor selanjutnya ialah faktro simpati dari luar. Tentu saja Diponegoro tidak dapat mengharapkan datangnya simpati dari negara-negara lain diluar Indonesia. Karena belum adanya komunikasi yang dapat memberitahukan dengan serentak tentang pemberontakan itu. Dan lagi Diponegoro tidak memiliki perahu-perahu besar yang dapat bergerak cepat untuk meminta bantuan dari luar, seperti yang pernah dilakukan oleh Adipati Unus waktu mengepung kota Malaka yang sejak 1511 jatuh di tangan Portugis. Dipati Unus waktu itu telah meminta bantuan berupa armada kapal perang dari Aceh, sebagai sama-sama negara maritim. Akan tetapi hal yang demikian itu tidak dapat dilakukan oleh Diponegoro. Meskipun demikian Belandan tetap berusaha supaya Diponegoro tidak mempunyai kontak dengan dunia luar. Ini dibuktikan dengan adanya dua buah kapal perang Belanda dipantai selatan didekat muara aliran sungai-sungai Progo dan Bogowonto, yaitu kapalkapal “de Haay” dan “de Leye”.10 Akan tetapi tidak berarti bahwa perjuangan Diponegoro tidak mendapat simpati dari pengusa-penguasa daerah. Begitu pemberontakan itu dimulai di Mataram, beritanya sudah sampai didaerah-daerah lain, dengan perantaraan suarat ataupun kurir Diponegoro yang dikirimkan ke darah Rembang, Jepara, Bagelan dsb. di bawah ini tercamtum slinan sepucuk surat yang dirulis oleh Diponegoro guna mengobarkan perjuangan penduduk Kedu. Surat itu tertulis dalam bahasa Melayu sebagai berikut: Soerat ini datang dari saja Kandjeng Goesti Pangeran Diponegoro serta Pangeran Mangkoeboemi di Djokjakarta Adiningrat kepada semua kawan di Kedoe, menyatakan bahwa sekarang negeri Kedoe sudah saja minta. Orang semoeanya moesti tahu tentang hal ini, laki-laki, perempoean, besar, ketjil tidak perlu diseboetkan satoe persatoe. Adapun orang jang saja suruh namanja Kazan Bazari; djikalau soedah mengikoeti soerat 10 Sagimun M. D, op cit. hal. 199. 165
  • 166. oendangan saja ini, biarlah lekas sedia sendjata, biar reboet negeri dan betoelkan agama Rosoel. Djikalau ada yang berani tidak maoe pertjaja akan bencinya soerat saja ini, maka dia saja potong lehernja. Kemis, tanggal 5, boelan Hadji tahoen Be (31 Djuli 1825).1 1 Sambutan atas surat semacam itu datang dari berbagai daerah dengan pengiriman tenaga-tenaga tempur ke Mataram atau dengan mengadakan persiapan pemberontakan di daerah masing-masing. Nyatalah bahwa ketiga faktor tersebut, mula-mula tidak bersifat militer atau non militer. Akan tetapi perang tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat militer saja. Seperti pemimpin Diponegoro telah berhasil mengubah faktor-faktor yang tidak bersifat militer itu menjadi faktor sangat penting dalam bidang strategi dasar untuk pertahanan dan perlawanan rakyat. Akan ternyata nanti bahwa semua wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi medan pertempuran. Pemimpin-pemimpin daerah diberi kekuasaan untuk membuka front-front baru dalam peperangan melawan Belanda, mesti doktrin perang regular pada dasarnya tidak menghendaki pembukaan front lebih dari satu, kalau keadaan tidak memaksa, apalagi bagi pihak yang kurang kuat dalam persenjataannya. Akan tetapi Diponegoro berani mengabaikan doktrin tersebut. Karena faktor alam dan tenaga juang yang militan berpihak kepadanya, maka dimana-mana bermunculan front-front yang bersifat elastis, artinya pasukan Diponegoro itu mudah sekali memindahkan tempat kegiatan meraka. Dan hal itu sangat membingungkan pihak lawan. Pada babak terakhir peperangan, Diponegoro seolah-oleh menjadi “single fighter”, karena pembantunya seorang demi seorang meninggalkannya seperti al: o putranya sendiri yang bernama Dipokusumo memihak kepada Susuhunan pada tanggal 17 Maret 1827. o Kyai Mojo tertangkap pada tanggal 16 Nopember 1928. o Pangeran Mangkubumi turun ke kota pada tanggal 28 September 1928 11 Muhammad Yamin, op cit. hal.41. 166
  • 167. Dan Sentot sendiri beserta para pemimpin militer lainnya menjarah pada 24 o Oktober 1829. Maka pada saat itu dipusatkanlah daerah pertahanannya di sekitar Bagelan, Banyumas dan Kedu. Pemusatan didaerah-daerah tersebut bukanlah suatu tindakan yang dilakukan secara kebetulan saja, akan tetapi merupakan suatu sikap yang benar-benar telahdiperhitungkan atas pengetahuan dan keadaan rakyat dan daerah Bagelan, Banyumas dan Kedu itu mempunyai nilai strategis yang baik sekali. Pangeran Diponegoro mengetahui benar watak rakyat dari setiap daerah yang memihak kepadanya. Misalnya rakyat Kedu sangat baik dalam setiap perjuangan, asal jangan dibawa keluar daerahnya sendiri. Rakyat Mataran tanpa ada kekhawatiran apapun dapat berperang dimana saja. Sebaliknya rakyat dari daerah Pajang dan Surakarta hanya mau berperang untuk sekali perjuangan saja. Selanjutnya putera-putera Madiaun sangat agresif pada tingkat pertama perjuangan, tetapi selanjutnya jiwanya menjadi kurang bersemangat lagi. Itu semua diketahui oleh Pangeran Diponegoro dan hal itu merupakan bukti bahwa beliau memperhatikan kegunaan ilmu bumi militer. 12 Jadi dengan demikian dapatlah diketahui bahwa tindakan Diponegoro yang seolah-olah menggantungkan nasib perjuangannya kepada penduduk daerah-daerah tersebut, tadi benar-benar merupakan sikap yang telah diperhitungkan. Kesimpulan yang demikian itu memang beralasan, sebab kemudian dalam perjuangan kemerdekaan dalam abad ke 20, bermunculanlah tokoh-tokoh m8iliter dari daerah-daerah tersebut. Seperti Jendral Sudirman yang dibesarkan di darah Banyumas, Jendral Gatot Subroto dan Jendral Urip Sumoharjo bahkan pemimpin gerombolah pemberontak D.I./T.I.i. yang terkenal gigih dalam membela keyakinannya dan kuat bertahan di dalam hutan selama tiga belas tahun lebih, juga putera daerah Banyumas. Namanya Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Sekali lagi dalam pertengahan abad ke 20 wilayah dan rakyat ketiga darah itu pernah memegang peranan penting dalam perang kemerdekaan segara setelah kekuasaan Jepang roboh. Ketiga wilayah itu dan rakyatnya kembali merupakan air danau bagi ikan yang hendak mempertahankan hidup. 12 Muhammad Yamin, op cit. hal. 91. 167
  • 168. b. Faktor-faktor yang bersifat militer. Faktor kekuatan militer mula-mula tidak dimiliki oleh Diponegoro. Tidak ada pasukan bersenjatapun yang dimiliki, apa lagi pasukan yang telah mendapat didikan dan latihan secara teratur yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan. Hal itu memang tidak mungkin bisa terjadi, karena pihak Belanda sudah terang tidak memperbolehkan tokoh seperti Diponegoro memiliki pasukan bersenjata. Diponegoro sendiri tidak pernah memikirkan hal itu, karena kepergian beliau ke Tegalrejo bukanlah dimaksudkan untuk mempersiapkan suatu pemberontakan bersenjata. Seperti sudah dikatakan dalam bab terdahulu, maka tindakan Diponegoro itu hanyalah merupakan suatu kelanjutan tindakan politik untuk menentang Belanda tanpa perlawanan bersenjata. Akan tetapi kemudian tiba-tiba berubah menjadi perang, sebab perang telah dimulai oleh pihak Belanda. Dan bila jalan pemberontakan itu telah dimulai, maka peristiwa yang kemudian terjadi sesuai benar dengan pendapat Karl Marx mengenai pemberontakan. Karl Marx telah menulis karangan yang dimuat dalam the New York Tribune dengan judul Revolution and Counter Revolution yang menyatakan bahwa : “…… sekali dimulai (pemberontakan itu. Penyusun), maka bertindaklah kamu dengan ketetapan yang paling besar dan pihak yang offensip. Kedudukan bertahan berarti berakhirnya setiap pemberontakan bersenjata …….. Kejutkanlah musuhmu ………”13 Dan memang benar Diponegoro telah bertindak tidak kepalang tanggung. Sebagai seorang bangsawan yang memiliki kecakapan militer, maka disusunlah dengan segera kekuatan perlawanan. Selarong sebagai daerah berbukit dan berhutan campuran yang terletak di sebelah tenggara kota Yogjakarta dipilihnya sebagai pangkalan pertama. Dengan perlengkapan senjata mereka telah siap buat bertempur. Menurut de Stuers persenjataan pasukan Diponegoro terdiri dari keris dan tombak yang panjangnya sepulah sampai lima belas kaki, sebagai senjata yang sangat efektif. Akan tetapi banyak pula diantara mereka yang dipersenjatai dengan bedil.14 13 Edward Mead Earle, op cit. hal. 139. De Stuers, Memoires Sur La Guerre De L’ile De Java, De 1825-1830, A Leyde, Chez S & J. Lachmans, Amsterdam 1833, hal. 4 - 5. 14 168
  • 169. Sambil lau dalam pertempuran-pertempuran yang menyusul diusahakanlah memperoleh tambahan persenjataan dan perlengkapan militer lainnya.umpamanya saja dalam pertempuran singkat, yang berupa penghadangan yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpin oleh Mulya Sentika atas sebuah pasukan balabantuan Belanda yang datang dari Semarang untuk Jogjakarta dibawah pimpinan Kapten Kumsius, pasukan Diponegoro memperoleh persenjataan buat lebih dari 200 orang. Pertempuran itu terjadi didekat pisangan, sebuah daerah diantara Jogjakarta dan Magelang. Selain senjata mereka juga memperoleh rampasan uang tunai itu hanya sebesar 50.000 perak. Menurut De Stuers maka rampasan uang tunai hanya berjumlah 30.000 perak.15 Dalam pertempuran lain bahkan pasukan Diponegoro berhasil mendapatkan rampasan peran yang terdiri dari wagon-wagon, kereta-kereta dan bahkan meriam beserta amunisinya dan sejumlah besar alat-alat lain yang dipergunakan dalam peperangan.16 Perlengkapan-perlengkapan itu semua membuata pasukan Diponegoro menjadi lebih maju dalam persenjataannya. c. Organisasi militer Diponegoro Masalah ini sangat menarik sebab merupakan salah satu jawaban dari pertanyaan yangtimbul mengapa sebuah kesatuan yang serba sangat kurang dalam persenjataannya, sampai kuat bertahan hingga lima tahun lamanya dalam melancarkan serangannya terhadap Belanda dan sekutunya yang telah mempunyai pengalaman militer yang terbaru dalam perang Napoleon di daratan Eropah. Kita tidak bisa menyamakan keadaan yang terjadi pada waktu itu dengan keadaan gerombolan pemberontak Kartosuwiryo dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan waktu yang dipakai oleh pasukan-pasukan Diponegoro, yaitu sampai lebih dari tiga belas tahun di hutan-hutan, tetapi mereka mempunyai faktor-faktor yang masing-masing berbeda. Kita tahu bahwa gerombolan Kartosuwiryo mempunyai sumber bantuan dari luar negeri. Selain itu pasukannya hampir tidak pernah melakukan serangan-serangan ke pusat-pusat kedudukan lawannya, satu hal yang sering sekali dilakukan oleh pasukan-pasukan Diponegoro. Pengepungan kota Yogjakarta pada saat-saat pertama pecah perang serta pengepungan dan serangan 15 16 De Stuers, i b i d. hal. 42. De Stuers, i b i d. hal. 8. 169
  • 170. terhadap Surakarta pada tanggal 15 Oktober 1826 adalah dua diantara sekian bukti kebenaran pernyataan itu. Dan salah satu rahasia keunggulan itu terletak pada adanya organisasi militernya dan susunan stafnya yang efektif. Susunan stafnya itu tentu saja belum merupakan susunan hierarki militer seperti yang kita kenal sekarang ini. Yang terdapat pada waktu itu ialah sekedar adanya pembagian tugas sesuai dengan kemampuan para penanggung jawabnya. Diponegoro sebagai tokoh yang menjadi pusat segala kegiatan, menduduki jabatan kepala negara dengan gelar Sultan, sebagai lambang persatuan perjuangan. Disamping itu beliau juga bertindak sebagai panglima tertinggi tentara pembebasan dengan pangkat Senopati hing alogo. Tugasnya ialah menentukan kebijaksanaan dalam rangka strategi perjuangan dan pertahanan. Dalam hal ini beliau didampingi oleh penasihat-penasihat militernya seperti pangeran Ngabei dan Sentot Priwirodirjo. Sedang setiap pemimpin militer didaerah mempunyai wewenang yang cukup luas dalam menentukan kebijaksanaan sendiri dalam bidang strategi dan taktik. Pangeran Diponegoro juga sekaligus menjabat pimpinan agama Islam dengan gelar Sajidin Panotogomo Kalipatullah. Dalam menjalankan tugas ini beliau didampingi oleh penasihatnya yaitu Kyai Mojo. Jabatan-jabatan itu telah secara resmi diterima oleh Diponegoro dalam suatu upacara resmi di Dekso pad awal tahun 1826, dimana secara resmi beliau mendapat gelar Sultan Abdulhamid Herucokro Amirul MukmininSajidin Panotogomo Kalipatullah Tanah Jawi. Penobatan itu dilakukan dengan upacara adat dan agama dalam suasana peperangan. Profesor Muhammad Yamin membandingkan peristiwa itu dengan peristiwa penobatan Raja Erlangga di dalam hutan selama beliau mengembara. Juga peristiwa itu mirip dengan penobatan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit di hutan Tarik. Pangeran Mangkubumi selain mempunyai kedudukan sebagai penesihat dalam bidang pemerintahan, juga menjadi kepala staf bagian perumahan. Dalam staf operasi duduklah tokoh-tokoh seperti Pangeran Ngabei Joyokusumo, Sentot Prawirodirjo dan Kyai Mojo. Yang terakhir ini juga diserahi tugas sebagai penasehat urusan pemeliharaan rohani. Hingga dengan demikian beliau telah mewarnai perjuangan kemerdekaan itu dengan sifat keagamaan. 170
  • 171. Dalam perkembangan selanjutnya selama perang berlangsung, Diponegoro telah membangun tentaranya menjadi suatu tentara yang teratur, dimana setiap pasukan memiliki ciri-ciri tertentu untuk mengadakan pembedaan diantara berbagai pasukan. Setiap pakaian itu mempunyai pakaian seragam yang tertentu, panji-panji tertentu pula serta mempunyai nama-nama tertentu yang masing-masing dipimpin oleh komandan tertentu. Akan tetapi pembagian pasukan-pasukan tadi tidaklah menuru pembagian seperti pada tentara regular,seperti terdiri dari Batalyon, peleton dan regu. Kepala-kepala pasukan itu pada umumnya berpangkat pangeran atau Tumenggung. Untuk jelasnya di bawah ini kami cantumkan perinciannya : 1. Pasukan Bulkios, berada dibawah komandannya yang bernama Pasya Hasan Munadi, jumlahnya mencapai 400 orang. 2. Pasukan Barjumuah, dipimpin oleh Abdulrahman dan jumlahnya sampai 140 orang. 3. Pasukan Turkios, yang dikomandani oleh Pangeran Prawiro Kusumo mempunyai kekuatan sebanyak 300 orang. 4. Ketiga pasukan ini mengenakan sorban yang berwarna putih dan berbaju atau jubah yang berwarna hijau. 5. pasukan Harkios, dibawah Pangeran Notoprono, mempunyai kekuatan 300 orang dan semuanya mengenakan sorban yang berwarna hijau dengan baju atau jubah yang berwarna hijau pula. 6. Pasukan Pinilih, langsung dibawah komandan Pasya Sentot Priwirodirjo. Pasukan ini mempunyai kekuatan 250 orang dengan ciri sorban belang hitam putih serta baju atau jubah merah. 7. Pasukan Larban dipimpin oleh Tumenggung Joyo Lelono dengan pasukannya sebanyak 140 orang. 8. Pasukan Naseran dibawah pimpinan Tumenggung Prawiroloyo, jumlahnya 300 orang. 9. Kedua pasukan ini ditandai dengan sorban yang berwarna hitam dan baju/jubah hitam pula. 171
  • 172. 10. Pasukan Suropadah yang dikomandani oleh putera Pangeran Diponegoro sendiri mempunyai jumlah prajurit 100 orang. Sorbannya berwarna belang biru putih, demikian juga warna baju atau jubahnya. 11. Pasukan yang bernama Sipuding terdiri para santeri, ulama-ulama, berjumlah sebanyak 140 orang. Pemimpinnya bernama Syeh Hansari. 12. Pasukan Jagir dikepalai oleh Pasya Joyo Sendirgo, jumlah Passukanya ada 800 orang. Seperti juga anggota pasukan Sipuding, maka pasukan inipun mengenakan sorban putih. Demikian pula warna baju dan jubahnya. 13. Pasukan Surotandang adalah pasukan yang langsung dibawah Damuredjo. 14. Pasukan Djajengan mempunyai komandan yang bernama Pasja Kerto Pengaalasan. Kekuarannya terdiri dari 600 orang prajurit. Kedua pasukan tadi memakai tanda tersendiri, yaitu menggunakan surban berwarna merah, sedang warna baju dan jubahnya ialah putih 15. Pasukan Surjogomo berjumlah 144 orang, keistimewaannya ialah karena dipimpin oleh pangeran Diponegoro langsung. 16. Sedang pasukan Wanengprang yang mempunyai kekuatan 500 orang prajurit dipimpin oleh Pasja Mertonegoro. Kedua pasukan tersebut terakhir ini mengenakan sorban yang berwarna belang putih. Demikian pula warna baju dan jubah yang mereka pakai.17 Kecuali itu mereka juga menjadi panji-panji yang berbeda-beda pula. Ada yang hanya terdiri dari gambar palang dengan warna yang bermacam-macam pula, dan ada lagi yang memakai gambar ular. Selain itu ada pula panji-panji yang dihiasi huruf-huruf arab atau ayat-ayat Al Quran. 3. Kekuatan Belanda dan sekutunya Walaupun pada dasarnya lawan Diponegoro dan pasukannya adalah kekuasaan kolonialisme Belanda di Indonesia, akan tetapi pada kenyataannya Diponegoro harus berhadapan dengan pasukan-pasukan yang terdiri dari bukan orang17 De Stuers, op cit. hal 92-93 172
  • 173. orang Belanda, yaitu dengan prajurit-prajurit sebangsa sendiri. Ini adalah akibat permainan politik devide et impera yang dijalankan Belanda untuk mencapai tujuan dalam waktu secepat mungkin dengan menggunakan tenaga sesedikit mungkin. Dalam kesempatan ini dipakailah pasukan-pasukan penduduk asli berasal dari Madura, Ambon, Makasar dan sebagainya. Mereka berada di bawah satu komando, yaitu komanda Belanda. Disamping itu maka pemerintah-pemerintah Mangkunegaran, Pakualaman dan Surakarta adalah kekuatan-kekuatan yang memihak dan memilih berperang dipihak Belanda. Semuanya itu sangat menguntungkan pihak Belanda yang justru sangat membutuhkan bantuan, berupa pasukan-pasukan. Datangnya pasukan-pasukan balabantuan dari kedua daerah Monconegaran yang masing-masing dipimpin oleh bupati Kediri Tjakraningrat dan bupati Madiun R.M.T. Prawirohardjo menambah kekuatan Belanda. Kemudian datang pula balabantuan dari Makasar, Madura dan dari Maluku yang terakhir ini terutama datang dari Tidore, Ambon, Ternate dan Buton. Segera setelah perang pecah maka seluruh kekuatan militer Belanda diseluruh Jawa, terutama dari daerah-daerah pantai utara Jawa dikerahkan untuk melawan Diponegoro dan pasukan-pasukannya Jendral Marcua de kock sendiri sengaja datang ke Jawa Tengah. Pada 30 Juli jendral itu menemui Susuhuran guna membicarakan tambahan balabantuan. Dan balabantuan dari Jakarta, Surabaya dan Semarang berdatangan ke wilayah Kedu, Bagelen dan Mataram. Sementara itu tentara-tentara dikaresidenan Bayumas, Kedu, Bagelen dan dari karisedenan lain di pantai utara Jawa Tengah dan dikedua daerah Monconegaran bertahan mati-matian menghadapi kegiatan para pemberontak di wilayah masing-masing. Tentara Belanda yang dikirim ke Bone ditarik kembali pada awal September 1825 guna memperkuat pasukan sekutu. Tentara itu dipimpin oleh seorang perwira yang nantinya banyak disebut-sebut dalam peperangan besar itu, yaitu jenderal Van Geen. Kemudian datang pula Sollewijn dengan tentaranya dari Kalimantan ke tanah Jawa. Juga pasukan balabantuan dari negeri Belanda didatangkan ke Jawa. Akan tetapi walaupun tentara sekutu dengan organisasinya yang teratur dan persenjatannya yang sangat unggul, ditambah lagi dengan keahlian Belanda untuk mengembangkan strategi devide et imperanya, akan tetapi masih tidak dapat menandingi pasukan-pasukan Diponegoro yang sangat mobil, karena mereka bermain diwilayah 173
  • 174. sendiri. Pada tahun-tahun pertama peperangan, pihak Belanda selalu menderita kekalahan-kekalahan taktis hampir ditiap medan pertempuran. Akan tetapi kemudian pada babak-babak terakhir peperangan, Belanda telah pula mengembangkan pengalamanya dalam bidang militer sebagai hasil yang mereka peroleh dalam perang Napoleon didaratan Eropa. Betapa buruknya posisi pihak Belanda dalam perang Diponegoro itu diakui oleh de Stuers, seorang mayor tentara kerajaan Belanda yang diperbantukan di Markas Besar staf umum selama perang berkobar. Di dalam bukunya yang berjudul Memoires sur la guerre de l’ile de java, dia memilih dalam introduksinya mengenai medan pertempuran antara lain sebagai berikut : En effet, les nonbreuses montagnes escarpees, les epaises forets, les precipices imposibles a fanchir, les plaines submergees, les chemins impracticables, les torrents impeteuex qui ravagents le terrain, er mille autres accidents qui tiennent de la nature d’un sol toujours inegal et dechiru sont autant d’obsttacles perquin surmontables qui entravent les operations des troupes regulieres.18 Maksudnya bahwa sesungguhnya sejumlah pegunungan yang terjadi, hutan-hutan belantara yang lebat, lembah-lembah yang sukar dituruni, dataran-dataran yang tergenang air, dijalanan yang sangat sukar dilalui, arus dahsyat yang kemudian merusaki permukaan bumi dan beribu peristiwa alam yang selalu bengis dan tidak mengenal kasihan, kesemuanya merupakan halangan-halangan yang amat tidak menguntungkan bagi operasi-operasi pasukan regular. Pasukan-pasukan Belanda yang didatangkan dari daratan Eropa banyak mengalami kesukaran ketika harus bertempur ditanah Jawa. Walaupun mereka telah mendapatkan latihan-latihan militer yang terbaru, tapi di tanah Jawa ini mereka harus menghadapi keadaan medan yangsangat berbeda dan sangat asing. Mereka juga harus menghadapi tantangan yang tentu saja sangat kejam dirasakannya. Udara panas di daerah tropis, lebih-lebih pada musim kemarau dirasakan sangat memeras tenaga mereka. Dan musim penghujan merupakan tantangan yang sangat dahsyat pula. Akan 18 De Stuers, op.cit.hal.4. 174
  • 175. tetapi tentu saja bukan karena dinginnya, sebab mereka sudah biasa merasakan udara yang lebih dingin lagi. Hujan lebat di daerah tropis sering sekali menghalangi rencana operasi militer yang jatuh pada sekitar tahun 1825 telah menghentikan operasi-operasi militer mereka. Dalam menjalankan opersai tidak jarang mereka harus melewati daerah pajapaja yang biasanya menjadi sarang penyakit tropis. Dan bila wabah malaria itu kemudian menjangkiti mereka, maka sudah terang hal itu akan sangat menghalangi jalannya operasi yang mereka adakan. Itulah salah satu sebab disamping sebab-sebab yang lain, mengapa pada saat permulaan perang mereka hampir selalu menderita kekalahan-kekalahan ditiap medan pertempuran. Dengan demikian maka dapatlah dimaklumi mengapa kemudian markas besar tentara Belanda memperbanyak balabantuan yang terdiri dari bangsa pribumi. Balabantuan itu didatangkan dari Makasar, Ambon, dan dari Maluku serta dari daerah Jawa sendiri, yang sangat cocok untuk dipakai dalam pertempuran-pertempuran ditanah Jawa. Belanda mengetahui bahwa pasukan-pasukan yang didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia itu, pada umumnya mempunyai reputasi yang baik dalam pertempuran. Untuk sekedar menunjukkan betapa besar bantuan yang telah diperoleh pihak Belanda dari pasukan balabantuan pribumi itu, dibawah ini kami cantumkan namanama perwira bangsa pribumi yang telah memeroleh tanda-tanda jasa dalam perang yang mereka namakan Perang Jawa, berupa medali-medali emas dan perak dari pemerintah dijajahan Belanda.  Tumenggung Wironegoro, berpangkat letnan kolonel dari pasukan-pasukan Sultan Yogjakarta.  Pangeran Suryodiningrat dan Pangeran Suryomataram dari legiun Mangkunegaran.  Mayor Tjakraningrat, komandan pasukan balabantuan dari Madura.  Pangeran Kamto, seorang kapten balabantuan dari Sumenep.  Letnan Kalu dan Balu serta marsekal Muhamad dari barisan Djajeng Sekar.  Mayor Kulabat sebagai komandan balabantuan yang datang dari Ternate.  Major Syarifudin, menjadi komandan pasukan –pasukan dari Tidore. 175
  • 176.  Letnan Sigera dan Letnan Sariman, komandan-komandan pasukan yang berada dari Jawa.19 tu hanyalah sebagian saja dari serentetan nama-nama yang terdapat dalam daftar yang dibuat oleh Belanda. Klimaks dari kekuatan pihak Belanda yang dipergunakan untuk menindas perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu ialah pemakaian atau penggunaan strategi perang baru yang berupa pengembangan secara intensip usaha pengepungan dengan tujuan mempersempit daerah bergerak para pejuang kemerdekaan. Caranya dengan menjabarkan benteng-benteng dihampir segenap daerah. Setiap benteng itu dihubungkan dengan benteng yang lain oleh pasukan-pasukan yang mobil. Merekalah yang selalu mengadakan perondaaan di wilayah-wilayah sekitar benteng-benteng itu. Mereka pulalah yang selalu memberikan supply bahan makanan dan amunisi dari benteng-benteng itu. Hingga dengan demikian penggunaan cara baru itu merupakan alat peperangan yang mempunyai nilai-nilai taktis yang sangat unggul dan akhirnya merupakan strategi yang sangat berhasil. Strategi baru itu menjadi terkenal dengan nama Benteng Stelsel atau Aturan Benteng. Pada gilirannya nanti akan kami jumpai lagi uraian tentang Benteng Stelsel itu secara lebih khusus dan dalam hubungannya dengan jalannya peperangan juga bagaimana hasil-hasil operasi dengan mempergunakan strategi baru iu. BAB III : PERANG YANG MEMBAKAR PULAU JAWA 1. Unlimited War. Kalau kita bentangkan peta pulau Jawa dan kita percikan tinta merah diatasnya, maka seolah-olah pada waktu yang bersamaan bermunculan dengan merata bintik-bintik merah di atas peta. Gambaran itu seperti bermunculannya pejuang-pejuang api peperangan di banyak tempat meluas di tanah Jawa pada saat terbakarnya oleh api peperangan 19 De Stuers, op.cit.hal.216-217 176
  • 177. kemerdekaan melawan penjajah Belanda, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Diponegoro. Jika tidak terpaksa maka dalam setiap perang regular setiap pemimpin militer akan sedapat mungkin menghindari suatu peperangan yang tidak terbatas atau suatu unlimited war, dalam keadaan yang demikian itu maka sekaligus seluruh kekuatan pasukan akan dihadapkan dalam adu tenaga dalam sejumlah besar frout. Akan tetapi Diponegoro mempunyai pandangan lain tentang hal itu. Tentunya karena Diponegoro menginsafi benar bahwa sebagai pasukan yang tidak regular pasukannya mempunyai kondisi lain yang tentunya tidak dimiliki oleh pasukan-pasukan regular. Berbeda dengan pasukan regular, maka pasukan Diponegoro jarang sekali mengadakan perang terbuka, artinya suatu peperangan dimana kedua pasukan beradu muka secara tidak mempunyai perlindungan. Beberapa peristiwa yang terjadi selama masa Selarong dan masa Dekso menjadi tempat pertahanan pasukan Diponegoro, menunjukkan bahwa beliau sangat menghindari apa yang lazim disebut sebagai perang terbuka itu, walaupun perang yang terjadi pada ketika itu ialah jenis perang posisi-yaitu perang untuk memperebutkan posisi atau kedudukan tertentu. Barangkali karena menyadari akan ada mobilitas atau kelincahan pasukan yang sangat besar dan menyadari pula bahwa dalam suatu perang gerilya. Posisi bukalnlah merupakan faktor yang mutlak menentukan kemenangan akhir, maka Diponegoro telah mengorbankan posisinya di Selarong, dengan tujuan mencapai kemenangan atau keuntungan yang lain dalam bidang strategi, yaitu mencegah suatu pengorbanan tenaga yang sia-sia saja dipihaknya. Selarong bukanlah merupakan sebuah kota seperti yang digambarkan oleh Muhamad Yamin dalam bukunya Sejarah Peperangan Diponrgoro, akan tetapi hanyalah sebuah desa dengan beberapa perumahan perumahan yang tidak banyak jumlahnya. Selebihnya hanyalah buki-bukit kapur dengan hutan-hutan bambu serta tanaman jambu liar dan pohon-pohon kelapa. Karena tempatnya berbukit-bukit dan bergua-gua, maka daerah itu sangat baik untuk tempat pangkalan bagi pasukan-pasukan Diponegoro. Akan tetapi tempat yang sejak awal peperangan dipakai sebagai pangkalan itu, pada awal bulan oktober tahun 1825 telah diserahkan tanpa perlawanan kepada pihak Belanda. Peristiwa 177
  • 178. itu terjadi pada waktu Belanda dengan sekutu mengadakan opersai gabungan ke daerah Selarong yang dipimpin oleh Jenderal Van Geen. Demikian juga yang terjadi dengan pangkalan di Dekso. Waktu pasukan gabungan datang menyerbu, benteng itu telah ditinggalkan oleh Diponegoro dan pasukannya. Peristiwa itu terjadi pada awal bulan Juli tahun 1826. Pasukan-pasukan Diponegoro sekali lagi telah menghindari suatu perang terbuka dan kemudian mencari kesempatan yang baik guna mengadakan serangan yang mendadak sebagai pembalasan. Keadaan yang tidak ideal bagi serangan yang fatal untuk pihak musuh itu tiba-tiba atau terjadi disebuah jurang di daerah Kasuran. Pada waktun itu lewatlah sebuah iringiringan tentara Belanda yang dipimpin oleh Van Geen. Mereka baru saja kembali dari suatu operasi yang gagal dan akan kembali kepangkalannya di Jogjakarta. Pada waktu iring-iringan itu lewat dengan lesungnya pada suatu daerah yang lengang, tiba-tiba pasukan Diponegoro dibawah Komandan Alibasja Sentot prawirodirdjo datang menyerangnya dengan serentak. Serangan yang berhasil itu terjadi pada 26 Juli 1826. Taktik offensip seperti itulah yang menyebabkan pasukan-pasukan Diponegoro yang walaupun sangat inferiur atau lemah dalam persenjataannya, masih dapat mengadakan serangan tak terbatas atau sebuah unlimited war tadi, dan telah berhasil mengulur waktu peperangan hingga selama lima tahun lamanya. Kalau kita menyaksikan dalam peta yang menggambarkan terjadinya peperangan yang terjadi pada waktu itu, nyatalah bahwa pada saat yang hampir bersamaan berkobarlah pertempuran-pertempuran di daerah yang merata. Di daerah Probolinggo tidak jauh dari Megelang, rakyat mulai mengobarkan peperangan pada tanggal 26 Juli 1825, dan masih dalam tahun itu juga, yaitu 1825 berkobarlah peperangan dengan membuka front-front baru didaerah yang luas. Seperti misalnya dalam bulan Agustus pasukan-pasukan rakyat telah mengganggu garis pertahanan Belanda dari Pekalongan hingga Semarang. Sedangkan diwilayah Monconegaran seperti di Pacitan, terjadi pula pemberontakan pada tanggal 9 Oktober dan di Ngawi bahkan sampai dua kali terjadi peristiwa yang serupa, yaitu pada 23 bulan September, dan sekali lagi pada 13 bulan Nopember. Pada tahun 1826 lebih banyak lagi bentrokan bersenjata terjadi. Disekitar kota lama Plered bahkan terjadi dua kali pertempuran yang sangat dahsyat, dan yang 178
  • 179. merupakan salah satu perang posisi yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro untuk mempertahankan benteng lama itu. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 bulan April dan yang kedua pada tanggal 9 Juni, sedangkan dikaki pegunungan Menoreh terjadi pula pertempuran hebat pada tanggal 8 bulan Juli dan pada tanggal 9 bulan Agustus, 28 bulan Agustus dan tanggal 15 Oktober, berturut-turut terjadi di pula pertempuran-pertempuran masing-masing di Kedjiwan, Delangu dan di Gawok yang kesemuanya terdapat disekitar Surakarta. Dan tahun 1827pun dipadati oleh pertempuran-pertempuran dibeberapa daerah. Yang paling berarti ialah pecahnya pemberontakan di Radjegwesi pada tanggal 28 bulan Nopember, yang merupakan awal berkorbannya daerah Rembang. Dengan sendirinya daerah-daerah seperti Tuban dan Surabaya yang keduanya merupakan pintu daerah perdagangan Belanda, menjadi terancam ketenangannya. Itu semuanya hanya beberapa contoh untuk menunjukkan betapa besar kesanggupan Diponegoro untuk membuka perang tak terbatas dan pada suatu kekhawatiran bahwa nantinya pasukannya akan tersobek-sobek di beberapa daerah. Hal itu sekali lagi disebabkan karena Diponegoro selalu menghindari suatu peperangan terbuka, dan sebaliknya selalu mengintensipkan suatu taktik perang gerilya. Pasukannya yang mengenal baik keadaan daerah atau medan dan yang sifatnya sangat mobil dalam arti mudah sekali digerakkan dengan lincah, dapat mempraktekkan taktik seekor lebah yang tiba-tiba datang menyengat dan mengganggu mangsanya. Seperti seekor harimau, dan segera setelah itu melarikan diri. Keadaan Belanda pada waktu itu memang tidak menguntungkan, karena expedisi-expedisi Belanda sering dilancarkan dari tempat-tempat yang jauh dari daerah sasaran, sedangkan perlengkapannya biasanya berat-berat. Kadangkadang mereka tidak menjumpai musuh dalam operasi yang mereka adakan, kemudian mereka terpaksa pulang dengan jalan kaki. Keadaan mereka sangat lesu. Maka tidak jarang mereka kemudian menderita kecapaian dan kelsuan, hingga dengan demikian kesiapsiagaan mereka tidak lagi bulat. Dan dalam keadaan seperti itu mereka merupakan sasaran yang sangat rawan bagi kaum gerilya Diponegoro. Hingga kesudahan dari operasi-operasi yang semacam itu sudah dapat diterka sebelumnya. 179
  • 180. 2. Perang Strategi Kalau kita perhatikan tempat-tempat tercetusnya peperangan atau tempat-tempat dimana telah terjadi kontak antara tentara Belanda dengan pasukan-pasukan Diponegoro pada peta-peta bumi, maka akan terbukti bahwa tempat-tempat itu mempunyai arti strategis yang ideal dan seperti sudah dipertimbangkan benar-benar. Gambarannya adalah seperti suatu proses pengepungan terhadap kota-kota yang dianggap sangat strategis buat Belanda atau setidak-tidaknya mempunyai maksud untuk memotong garis pertahanan musuh dengan jalan memencilkan dua atau lebih daerah atau pusat-pusat pertahanan Belanda sekaligus. Dikuasainya daerah Selarong oleh pasukan Diponegoro pada saat mulai meletusnya peperangan, sangat menguntungkan pihak Diponegoro karena Selarong adalah tempat yang sangat tampak sebagai pangkalan batu loncatan untuk mengepung kota Yogyakarta. Mengingat besarnya arti strategis daerah Selarong itu, maka ketika Jendral De Kock berhasil memasuki kota Yogyakarta dengan pasukannya pada tanggal 25 September 1825, tindakan operasinya yang mula-mula dilakukan ialah menyerang Selarong. Untuk keperluan itu maka dikirimnya sepasukan tentaranya dibawah mayor Sollewijo serta Letnan Kolonel Achenbach dan dibantu oleh pasukan-pasukan bumi putera di bawah Penembahan Sumenep, Pangeran Purbojo, Pangeran Ario Mataram, serta Pangeran Surjodiningrat dan Pangeran Surjaning Prang. Operasi gabungan itu diperjajakan kepada Jendral Van Geen. Sedangkan balabantuan dari Bagelen dan Kedu dibawah letnan kolonen Clecreus dan letnan kolonel Homberg beserta mayor De Bast mempunyai tugas untuk menghadang kalau-kalau pasukan Diponegoro merembes kesebelah timur. Selanjutnya dalam usaha mengepung kota Magelang, pasukan-pasukan Diponegoro mulai mengadakan serangan-serangan yang dimulai dari Probolinggo dengan kekuatan lebih dari 3000 orang yang terjadi pada tanggal 26 Juli 1826. Pasukan itu telah menyebrangi kali Elo dan mulai bergerak kearah Magelang, kemudian disusul dengan terjadinya pertempuran di Kalijengking yang dipimpin oleh Muhammad Usman Alibasja Abdulkadir dan Hadji Mustafa. Menghadapi ancaman yang merupakan kemajuan pasukan Diponegoro itu, tindakan yang dilakukan oleh komandan pasukan Belanda di 180
  • 181. Kedu major Du perpon, ialah menarik mundur segala pasukan yang menduduki pos-pos pertahanan disekitar Magelang, seperti Parakan, Prapag, Putjang, Sadegan, Sodongan, Borobudur, dan Kalijengking dan dipusatkan di Magelang untuk memperkuat pertahanan disana. Oleh karena pasukan-pasukan itupun dirasa kurang mampu untuk menghadapi kemajuan pasukan-pasukan Diponegoro, maka dimintanya juga pasukan bantuan dari karisidenan lain. Untuk itu maka dikirimkanlah balabantuan dari Surakarta dibawah letnan kolonenl Cochius. Selain itu maka untuk menganggu daerah-daerah Belanda di Pekalongan, Semarang dan Magelang, pihak Diponegoro telah menaruh pangkalan didaerah Ledok. Ledok ialah sebuah daerah yang sangat strategis yang terletak diperbukitan dihulu sungai Seraju. Dari sana dapat selalu diadakan pengangguan diketiga daerah Belanda tersebut tadi. Sementara itu didaerah Semarang sendiri dan Rembang telah menyala api peperangan baru yang lebih teratur. Kegiatan itu dijiwai oleh seorang bangsawan tinggi yang bernama Pangeran Serang. Api pemberontakan itu meluas kedaerah Kudus, Demak, Grobogan dsb. Dan dengan sendirinya telah merupakan kepungan terhadap daerah Semarang dari sebelah timur dan dari sebelah selatan kota Surabaya sendiri dan kedua daerah Monconegaran telah terancam pula ketentramannya dengan pecahnya perang di Radjegwesi, Ngawi, dan di Patjitan. Dalam perang memperebutkan daerah Plered antara pasukan-pasukan Belanda dengan pasukan Diponegoro tercatat suatu pertempuran posisi yang banyak memakan korban dikedua belah pihak. Plered adalah sebuah tempat yang mempunyai posisi sangat baik dalam arti kemiliteran dan bagi tujuan politik perang Diponegoro. Semula kota itu akan dijadikan lambang dan pusat pembentukan masyarakat yang diinginkan Diponegoro, suatu masyarakat yang lepas dari pengaruh buruk kebudayaan barat. Seperti halnya Selarong, letak plered sangat tepat untuk dijadikan batu loncatan dan pengepungan kota Yogyakarta dari sebelah timur. Belanda merasa sangat khawatir selama Plered masih ada di tangan Diponegoro, sebab dengan demikian maka kedudukan Yogyakarta sebagai lambang dominasi politik dan ekonomi Belanda didaerah Mataram akan selalu terancam dari sebelah timur. Oleh karena itu, maka tidak heranlah bila kedua 181
  • 182. belah pihak sama-sama mengerahkan tenaga besar sekali untuk dapat menguasai tempat itu. Expedisi Belanda untuk merebut benteng Plered berangkat pada suatu hari pada tanggal 16 bulan April 1826 dibawah jendral Van Geen sendiri. Walaupun kemudian benteng Plered tersebut dapat direbutnya dari tangan Diponegoro, akan tetapi ternyata kemudian bahwa operasi tersebut secara strategis tidak mempunyai arti dan tidak mempunyai hasil seperti yang diharapkan semula, oleh karena sebagai ternyata kemudian benteng Plered tersebut dapat direbut kembali dari tangan Belanda oleh pasukan Diponegoro. Begitu pentingnya, arti benteng itu dalam arti militer bagi pihak Belanda, hingga belanda merencanakan penyerbuan sekali lagi untuk merebut benteng tadi. Dan pada pagi hari kira 2 jam 2 pagi di bulan Juni tanggal 9 tahun itu juga, jadi sesudah kira-kira dua bulan setelah expedisi yang pertama, barangkali tentara sekutu dengan pasukan yang lebih besar menyerbu Plered. Mereka datang dari dua jurusan yang pertama datang dari jurusan Yogyakarta, sedang yang sebuah lagi berangkat dari tanjung tirto, sebuah pusat balabantuan dari legian Mangkunegaran. Operasi gabungan itu diperjajakan pelaksanaannya ketangan kolonel Cochius. Kekuatannya adalah 900 orang infantri, 150 anggota kavaleri dan balabantuan dari pasukan bumiputera yang terdiri dari 3000 orang bersenjata. Pasukan itu diperlengkapi dengan dua belas pucuk meriam. Sementara itu benteng tua itu dipertahankan oleh pasukan jajengan yang dipimpin oleh Pasja Xerto Pengalasan. Mereka dengan gagah berani telah berjuang mempertahankan kedudukan mereka. Dalam pertempurannya itu pihak Diponegoro mengalami kerugian besar sekali. Baik secara taktis maupun secara strategis mengalami kekalahan empat ratus anggota pasukan Kerto Pengalasan telah gugur dalam pertempuran mati-matian mempertahankan nama bangsanya dan memperbaiki benteng itu supaya jangan lepas dari tangan mereka. Tapi ternyata benteng itu akhirnya mereka lepaskan juga. Segera setelah terjadi bencana itu, pasukan Diponegoro dibawah Sentot Prawirohardjo dan Prawirokusumo telah mengimbangi kekalahan mereka dengan sebuah kemenangan gilang gemilang dalam sebuah pertempuran didekat kasuran. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 26 Juli 1826. Pada waktu itu sebuah iring-iringan tentang Belanda 182
  • 183. sedang berusaha mencari tempat perlindungan pasukan-pasukan Diponegoro. Mereka melewati suatu tempat yang sangat baik untuk dibedang. Kedua pemimpin pasukan Diponegoro itu memerintahkan pasukannya untuk tersembunyi di belakang pagar bambu yang cukup tinggi. Dan untuk menjaga supaya kuda-kuda mereka tidak bersuara, mereka telah memberi garam kepada mulut-mulut kuda mereka. Kemudian dengan serta merta mereka mengadakan serangan. Karena serangan yang datangnya tidak disangka-sangka itu, maka tentara Belanda tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan perlawanan yang sepadan dengan kekuatan yang sebenarnya ada pada mereka. Akibatnya tentara Diponegoro dapat memperoleh gilang gemilang.1 Pada tanggal 30 bulan itu juga pasukan Diponegoro telah mendapat kesempatan lagi untuk menebus kekalahan di Plered. Kesempatan itu datang pada waktu sepasukan tentara Belanda dengan sekutunya kembali dari expedisi yang gagal di Dekso. Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, setelah menyebrangi sungai Religa, irin-iringan yang dipimpin oleh letnan Haubert tiba-tiba mendapat serangan yang sangat mendadak dan sangat cepat dari sepasukan gerilyawan Diponegoro. Dengan serentak mereka datang dan dengan serentak pula mereka menghilang, setelah mereka berhasil memusnahkan hampir seluruh iring-iringan pasukan Belanda dengan sekutunya. Gerilyawan yang mengadakan serangan itu terdiri dari pasukan Pinilih yang dipimpin oleh Sentot Prawirohardjo. Mereka telah berhasil menewaskan selain komandan pasukan Belanda itu sendiri, juga dua orang pengganti Pangeran Diponegoro yang menjadi wali sultan, yaitu Pangeran Murdaningrat dan Pangeran Panular. Peristiwa itu terkenal dengan sebutan kemenangan Nglengkong, sebab peristiwa itu terjadi didesa Nglengkong. Nyatalah sudah bahwa serangan-serangan yang mendadak menjadi ciri seranganserangan Sentot Prawirohardjo, dan ternyata serangan-serangan yang demikian itu mempunyai nilai taktis yang besar dan membawa hasil yang baik. Untuk mengalihkan perhatian Belanda, pasukan-pasukan Diponegoro melakukan semacam hidjrah ketimur dan membuka front pertempuran baru disekitar Surakarta. Dalam masa itu tercatat tiga kali pertempuran, yaitu di Kedjiwan, Delangu dan di Gawok. Ketiga pertempuran itu menurut beberapa peninjau sejarah merupakan pertempuran yang terakhir selama kejayaan pasukan Diponegoro, sebelum mereka menarik diri ke daerah 1 Sagimun M.D, op cit.hal.131. 183
  • 184. antara sungai-sungai Progo dan Bogowonto. Bagaimana kesudahan dan jalan pertempuran-pertempuran yang terjadi diketiga tempat itu, kami uraikan di bawah ini. 3. Manoeuvre Cannae Dimedian Kejiwaan (9 Agustus 1826) Beberapa peristiwa sejarah yang terjadi dibeberapa negeri dalam waktu yang tidak bersamaan ataupun yang bersamaan sering kelihatan hampir serupa. Hal itu berlaku pula dalam sejarah peperangan. Pada waktu orang menghadapi serangan Hitler dalam Perang Dunia kedua kewilayah Rusia pada musim dingin tahun 1940, orang teringat kembali akan serangan yang pernah dilakukan oleh Napoleon tepat 128 tahun sebelumnya atas daerah yang sama. Dan kesudahan kampanye-kampanye itu sama benar, yaitu kekalahan bagi pihak yang menyerang dan banyak lagi peristiwa semacam itu yang terjadi dalam panggung sejarah dunia. Setiap penulis sejarah militer akan selalu teringat pada suatu peristiwa dalam perang Punisia kedua, yang berlangsung dari tahun 218 hingga 201 SM, antara bangsa Romawi melawan bangsa dari kerajaan Carthago. Peristiwa itu menjadi terkenal karena dalam pertempuran di Cannae sebuah kesatuan Carthago yang berjumlah lebih kecil, kira-kira sebanyak 50.000 orang yang ada dibawah komando Hannibal, telah berhasil mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah lebih banyak, yaitu sebanyak 70.000 orang. Selain itu tentara Hannibel bukanlah tentara yang masih segar seperti tentara Romawi, sebab tentara Hannibel telah mengalami pertempuran-pertempuran selama menyebrangi pegunungan Pirenia dan pegunungan Alpen. Sedang pertempuran itu sendiri terjadi didaerah Romawi, jadi posisi Romawi sebenarnya jauh lebih menguntungkan jika dibanding dengan posisi pasukan Hannibel. Akan tetapi dalam pertempuran itu Hannibel telah berhasil memperoleh kemenangan akhir, apa gerangan rahasia kemenangan Hannibel dalam pertempuran di Cannae yang terjadi pada 2 Agustus tahun 216 SM. Kunci kemenangan itu terletak pada keahlian Hannibel dalam mengadakan taktik manoeuvrenya. Mula-mula pasukannya menghadapi pasukan lawan dalam formasi (susunan atau bentuk) garis cembung kedepan ditengah-tengah. Kemudian pasukannya dibiarkan melengkung kedalam pada waktu menerima serangan dari pihak lawan. Dan 184
  • 185. pada waktunya maka tibalah taraf ketiga, tiba-tiba kedua sayap kanan dan kirinya datang menjepit pasukan musuh yang terletak ditengah-tengah pasukannya. Hasil manoeuvre itu ialah 45.000 orang meninggal dari pihak Romawi, 3000 orang tertawan dan sisanya dapat melarikan diri. Sedangkan dari pihak Hannibel hanya 5500 orang meninggal. Konsepsi yang direncanakan oleh Hannibal yang kemudian menjadi terkenal itu, mashur dengan nama konsepsi Cannae.2 Kemudian orang suka sekali membanding-bandingkan menoeuvre yang hampir mirip dengan menoeuvre yang dilancarkan oleh Hannibal itu dengan konsepsi Cannae tersebut. Selama perang Diponegoro juga pernah terjadi suatu menoeuvre yang dilancarkan oleh Diponegoro terhadap pasukan tentara sekutu, yang berjalan hampir mirip dengan konsepsi Cannae tadi. Tentu saja terdapat perbedaan dalam konsisinya, sebab dalam pertempuran selama perang Diponegoro itu, pihak Diponegoro mempunyai tentara yang lebih banyak. Pertempuran itu terjadi didesa Kedjiwan, suatu tempat tidak jauh dari Surakarta. Pada tanggal 9 Agustus 1826 pasukan Diponegoro yang berjumlah 3000 orang bertahan dibelakang sebuah jurang yang dalam tetapi sempit. Medan dibelakangnya sangat jelek, sebab merupakan sawah yang jelek. Pasukan sekutu dibawahi mayor Sollewijn mempunyai kekuatan 100 orang infanteri, 200 orang infanteri dari legiun Mangkunegaran, 50 orang pertikaman bangsa Madura, 500 orang barisan milisi Mangkunegaran, 40 orang prajurit Djajeng Sekar dan sepasukan kecil kavaleri. Akan tetapi pasukan yang berjumlah kecil itu mempunyai keunggulan dalam bidang persenjataan dan perlengkapan militer lainnya, sebab mereka memiliki meriam dengan peluru ukuran 2 pond dan dua mortir Coehoonn. Mereka menyusun formasi bertempur diseberang jurang. Sedang artileri mereka ditempatkan dikedua sisi mereka dan barisan Djajeng Sekar serta barisan pertikaman berada dilini kedua. Mula-mula pasukan Diponegoro mulai memancing-mancing dengan salvo tembakan senapan ringan yang segera dibalas oleh Artileri musuh dengan lebih gencar. Setelah bertahan selama setengah jam, pasukan Diponegoro mulai mengadakan pencingan kedua, yaitu dengan mengadakan gerakan mundur. Dalam kesempatan ini, maka dengan dilindungi oleh tembakan-tembakan artileri, pasukan musuh yang terdiri dari Pasukan Djajeng Sekar, milisi Mangkunegaran dan satu peleton pasukan Belanda mulai 2 Asisten Kepala Pusat Sejarah Militer, Pengantar Sejarah Militer untuk Secapa, Publikasi Resmi Pusat Sejarah Militer, Bandung, 1959.hal.37-38. 185
  • 186. mengadakan serangan dengan jalan menyebrangi jurang untuk mengejar pasukan Diponegoro. Dan sebentar kemudian seluruh kekuatan 8 sekutu dikerahkan untuk mengadakan pengejaran. Pada tingkat kedua ini pasukan-pasukan Diponegoro menderita banyak kerugian, sebab keadaan medannya sangat jelek, hingga mereka tidak dapat mengadakan perlawanan sambil melakukan gerakan mundur. Akan tetapi pada saat itu pasukan Diponegoro telah berhasil menarik sayap kiri pasukan Belanda kekaki sebuah bukit dimana dibelakangnya sebagian besar pasukan Diponegoro sedang menyusun kekuatan. Apa yang kemudian terjadi mudah sekali diduga, ialah bahwa dalam sekejap mata pasukan-pasukan Diponegoro mengadakan penyerangan terhadap tentara Belanda dan milisi Mangkunegaran yang berada tepat dibawah mereka. Karena sifat pendadakan dalam serangan itu, tentara musuh jadi panik dan akibatnya menarik dan menyeret pasukan-pasukan lainnya. Dan pada saat itulah seluruh pasukan Diponegoro secara serentak dan tiba-tiba melakukan peningkaran terhadap pasukan musuh. Dalam keadaan begini tentu saja artileri musuh tidak dapat digunakan dengan efektif.3 Dan hasil dari manoeuvre pasukan Diponegoro yang demikian itu ialah pertamatama musuh menjadi kocar-kacir. Daya guna persenjataannya dan peralatan lain yang baik tidak berguna lagi. Pasukan Diponegoro bahkan berhasil merebut alat-alat artileri musuh. Sebagian pasukan musuh berhasil dimusnahkan, sisanya berhasil melakukan gerakan mundur. Untunglah bagi sisa-sisa pasukan sekutu yang melarikan diri itu, sebab tidak berapa lama kemudian datanglah pasukan balabantuan dari Le Bron de Vexela dan dengan lindungan mereka pasukan yang melarikan diri itu berhasil mencapai pos yang terdekat yaitu pos Kalasan. 4. Pertempuran Gawok dan Benteng Stelsel Perang akan selalu dimenangkan oleh pihak yang paling sedikit membuat kesalahan. Semboyan itu sudah menjadi pedoman bagi ahli-ahli peperangan sejak zaman Romawi. Dan bukti-bukti selalu menunjukkan kebenaran semboyan tersebut. Bila sebuah pasukan telah banyak membuat kesalahan, baik dalam bidang strategis maupun dalam bidang 3 E.H. Bahrudin, Perang Partisan, Yayasan Pustaka Militer, Bandung, 1954.hal.54-56. 186
  • 187. taktis, sedangkan mereka tidak dapat segera menduga akan adanya kesalahan-kesalahan itu. Kejadian yang demikian itu telah menimpa pasukan Diponegoro dan pemimpinnya. Peperangan di Gawok telah dianggap sebagai saat titik balik dari masa-masa kejayaan pasukan-pasukan Diponegoro dimedan peperangan, karena sejak kejadian-kejadian itu boleh dikata pasukan-pasukan Diponegoro tidak lagi membuat inisiatip penyerangan yang berarti. Sejak itu pasukan-pasukan Diponegoro tidak lagi menduduki posisi sebagai penyerang, akan tetapi bahkan telah berbalik menjadi pihak yang bertahan. Sejak itu keadaan menunjukkan bahwa sebaliknya pasukan-pasukan Diponegoro berhasil dipecah belah. Pasukan intinya bahkan berhasil digiring kesuatu daerah dan kemudian dengan mudah dapat dimusnahkan, atau kemudian kepada mereka disodorkan suatu rencana perundingan yang sangat tidak menguntungkan. Pertempuran yang terkenal itu terjadi pada tanggal 15 bulan kesepuluhan 1826. Dalam usaha untuk merebut kota Surakarta pasukan Diponegoro telah memotong garis pertahanan Belanda antara Yogyakarta dan Surakarta. Dan setelah terjadi suatu pertempuran yang merupakan pertempuran pendahuluan yang terjadi di Kedjiwan, seperti telah disebutkan tadi. Dan pertempuran di Delangu, maka ditempat pangkalan sementara yaitu didesa Gawok terjadilah suatu kontak bersenjata antara pasukan Belanda dengan pasukan Diponegoro. Pertempuran itu dianggap istimewa, sebab sebelum pertempuran terjadi, Pangeran Diponegoro dan Kyai Modjo masing-masing mempunyai pendapat yang agak berlainan mengenai kebijaksanaan yang harus diambil terhadap masalah yang sedang dihadapi. Kyai Modjo sebagai orang Surakarta-tegasnya dari daerah padjangmenganggap penting jatuhnya kota Surakarta ketangan pasukan Diponegoro, karena selain disana terdapat banyak simpatisan dan kawan-kawan serta murid-murid Kyai Modjo, juga karena jatuhnya kota itu akan mempunyai pengaruh terhadap jalannya peperangan. Setidak-tidaknya Belanda akan merasa kehilangan sebuah pangkalan yang cukup penting bagi strategi peperangan, yaitu kota Surakarta. Akan tetapi tidak demikian halnya pandangan Diponegoro. Beliau yang sangat bersifat sentimentil dan yang selalu beranggapan bahwa maksud peperangan yang dilancarkan ialah memerangi Belanda, bukan untuk merusak keraton bangsa sendiri, tidak menyetujui penyerbuan atas kota Surakarta itu. Akan tetapi entah bagaimana jalan perundingan itu, rupa-rupanya 187
  • 188. pandangan Kyai Modjo lah yang kemudian dijalankan. Dengan begitu maka rencana penyerbuan terhadap kota Surakarta dijalankan. Dalam langkah pendahuluan selagi pasukan Diponegoro masih berada tidak jauh dari Surakarta, yaitu didesa Gawok, pasukannya telah menjumpai lawan, yaitu tentara Cochius. Tentara Cochius itu bergabung dengan tentara Susuhunan Surakarta yang dipimpin oleh Susuhanan sendiri. Selain itu ikut juga berperang pasukan yang datang dari Yogyakarta yang dipimpin oleh jendral Van Geen. Kesudahan peperangan itu sangat menyedihkan bagi pihak Diponegoro. Diponegoro sendiri dalam peperangan itu mendapat luka-luka badan yang cukup parah, yaitu pada kaki kiri sebelah bawah tumit, dada sebelah kiri dan tangan sebelah kanannya. Beliau terpaksa tidak dapat melanjutkan memimpin peperangan. Dan setelah menyerahkan pimpinan peperangan kepada Pangeran Bei, dengan dipikul diatas tandu beliau meninggalkan medan peperangan menuju kearah lereng gunung Merapi. Kekalahan Diponegoro menurut beberapa penulis disebabkan karena tidak bulatnya rencana strategi dalam penyerangan terhadap kota Surakarta.4 Dalam peperangan maka hukum besilah yang berlaku. Kalau tidak membunuh maka dialah yang akan dibunuh oleh musuh. Perasaan kasihan yang tumbuh pada diri seseorang dalam peperangan ada merupakan semacam racun yang memperlemah semangat. Dan bila perasaan yang demikian itu tumbuh pada diri pemimpin perjuangan seperti pangeran Diponegoro, maka hal itu amatlah mempengaruhi moril para prajuritnya. Dalam sejarah tercatat bahwa dalam peperangan itu pasukan Diponegoro telah mengalami kekalahan, baik taktis maupun strategis, sebab selain Pangeran Diponegoro menderita cedera dalam peperangan itu, juga tentaranya mengalami banyak korban dan maksud untuk merebut kota Surakarta sama sekali gagal. Sebab kedua ialah karena tidak adanya konsolidasi atas hasil – hasil peperangan yang sudah lalu dan atas kemajuan peperangan yang mereka peroleh. Pada diri mereka cepat sekali dihinggapi penyakit yang paling bebahaya dalam setiap peperangan yaitu V.D. atau Victory Desease, ialah penyakit yang sembuh karena dimabuk kemenangan dalam peperangan yang lalu. Kemudian mereka kurang dapat memperhitungkan situasi yang bakal datang. Dengan demikian maka kemenangan taktis yang selalu mereka peroleh 4 Sagimun M.D.op cit.hal.152-153 188
  • 189. dihampir tiap medan pertempuran, tidak dapat mereka pergunakan sebagai kemenangan strategis. Dan mereka tetap tidak dapat mengambil manfaat dari pengalaman masa lampau yang telah mereka capai. Kemenangan yang mereka peroleh dalam pertempuran di Kedjiwan dan kemenangan yang kemudian menyusul yaitu dimedan Delangu, dimana pasukan Bulkios dibawah Sentot Prawirohardjo berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang menduduki Delangu, sebenarnya merupakan dua pendahuluan yang sangat baik bagi pasukan Diponegoro untuk merebut kota Surakarta. Akan tetapi karena tidak adanya konsolidasi atas kemenangan tadi dan karena didahului oleh datangnya kegairahan atas kemenangan tadi, Pasukan-pasukan Diponegoro menjadi kurang waspada dan kurang kesiap-siagaannya untuk menghadapi tugas mendatang. Kalau mereka tidak keburu dipengaruhi oleh kegairahan atas kemenangan dan dengan demikian mereka tidak buruburu “mengambil cuti” kedaerah Radjasa dan kalau seandainya tidak timbul perselisihan pendapat antara Kyai Modjo dengan Pangeran Diponegoro mengenai kebijaksanaan atas nasib Surakarta, maka kesudahan peperangan barangkali akan sama sekali berlainan dengan yang telah terjadi yang ternyata sangat menyedihkan. Akan tetapi semuanya telah terjadi. Itulah sejarah. Berbeda sekali dengan yang terjadi pada pihak Belanda. Kegagalan-kegagalan yang telah mereka alami selama hampir dua tahun menghadapi perang gerilya, telah membuat mereka berkesimpulan bahwa cara yang selama itu mereka praktekkan tidak tepat dan harus mereka ganti dengan yang baru. Dan cara baru itu segera mereka ketemukan. Caranya dengan memecah belah pasukan-pasukan Diponegoro menjadi suatu kesatuan yang terpisah-pisah. Kemudian berusaha mempersempit daerah bergerak musuh. Sementara itu mereka berusaha terus mempersempit daerah bergerak pasukan inti Diponegoro, yaitu dengan mendirikan pos-pos pertahanan yang disebut benteng. Benteng-benteng itu tersebar dihampir seluruh wilayah yang tadinya dikuasai Diponegoro dan antara benteng-benteng itu selalu diadakan kontak dengan perantaraan pasukan-pasukan yang selalu bergerak. Dengan demikian maka pertahanan didalam benteng itu selalu dijaga supaya tidak terasing. Lingkaran perbentengan itu makin maju dan makin sempit, hingga dengan demikian daerah bergerak pasukan Diponegoro makin menjadi sempit. Strategi baru itu seperti sudah kita maklumi bernama Benteng Stelsel. 189
  • 190. Dikombinasikan dengan usaha sebanyak mungkin mengadakan hubungan dengan para pemimpin perjuangan dan mengadakan perjanjian – perjanjian dengan mengajukan syarat-syarat yang menarik, maka strategi itu ternyata merupakan strategi yang berhasil sebagai usaha anti gerilya. Pada mulanya pihak pemimpin tentara pendudukan Belanda di Jawa masih meragukan kegunaan strategi baru itu. Apalagi mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk mengongkosi pelaksanaan strategi baru itu sangat mahal. Bisa dimaklumi sifat ragu-ragu itu karena justru pada saat itulah pemerintah jajahan Belanda sedang kekurangan keuangan. Ekses yang nyata-nyata dirasakan akibat buruknya pada bidang keuangan itu terbukti nanti sesudah peperangan berakhir, Belanda melancarkan strategi dasar baru bagi bidang keuangan dan ekonomi. Strategi baru itu terkenal dengan nama Aturan Tanam Paksa. Akan tetapi itu adalah persoalan nanti. Persoalan yang sangat mendesak yang harus segera diselesaikan pada waktu itu ialah bagaimana caranya menyelesaikan perang dengan cepat dan baik hasilnya. Setelah menginsafi benar bagaimana kegunaan strategi baru yang disodorkan didepannya dan yang kemudian diketahui betapa efektifnya kerja benteng stelsel tadi bagi mempercepat berakhirnya peperangan, maka atas nama pemerintah dijajahan Belanda di Jawa, Jendral De Kock mengambil keputusan yang termasuk berani. Strategi benteng harus lebih diintensipkan. Persoalan tidak lagi dititik beratkan pada masalah biaya. Ini semacam perjudian, kalau tidak menang maka kekalahanlah yang akan diperoleh. Karena De Kock sudah dapat melihat kegunaan strategi baru itu dan menginsafi bahwa keuntungan yang bakal diterima adalah besar, yaitu berakhirnya peperangan dengan segera. Dengan demikian maka taruhannyapun diperbesar, dan taruhan itu telah diletakkan. Segera setelah itu maka dimedan sebelah timur, yaitu dikedua daerah Monconegaran dan sekitarnya, bermunculanlah benteng-benteng seperti di Rembang. Banjar, Jatirogo, Tuban, Radjegwesi, Planturan, Flora, Pamotan dan di Babat. Sementara itu diwilayah Kataran dan sekitarnya sudah berdiri benteng-benteng seperti di Minggir, Grobjag, Bantul, Brosot, Puluwatu, Kedjiwan, Tlagapinian, Danalaja, Pasargede, Trajem, Djatinom, Delangu dan sebagainya. Juga didaerah-daerah Kedu, Banyumas dan Bagelen seolah-seolah tumbuh benteng-benteng seperti di Pakeongan, Kemit, Pandjer, dan 190
  • 191. Merden. Semuanya ditaksir tidak kurang dari 165 buah benteng yang meluas dari daerah Madiun disebelah Timur kedaerah Banyumas disebelah barat. Dan sementara benteng-benteng itu sudah tersebar disentero daerah Mataram, Bagelen, Banyumas, Kedu dan dikedua daerah Monconegaran, sejumlah besar para bangsawan yang ikut memimpin pasukan-pasukan Diponegoro satu persatu mengundurkan diri dari peperangan dan memenuhi ajakan Belanda untuk menyerah. Alasannya ada seribu satu macam. Tahun-tahun 1828 dan 1829 adalah tahun-tahun yang tidak menguntungkan bagi Diponegoro. Amat menyedihkan kejadiannya bila kita ingat bahwa banyak para perwira dari pasukan Diponegoro yang menyerah, termasuk juga para penasihatnya seperti Kyai Modjo, Alibasja Sentot dan Mangkubumi, sedang posisi pasukan intinya sudah tidak menguntungkan, yaitu terkurung diantara dua aliran sungai Prego dan Bogowonto. Pada sekitar tahun 1828 diketahui bahwa Pangeran Diponegoro ada didaerah Pengasi, diseberang barat kali Progo, mendengar berita tentang posisi Pangeran Diponegoro, maka Belanda segera melakukan gerakan-gerakan pengurungan. Sudah jelas bahwa maksud Belanda ialah mendesak pasukan-pasukan Diponegoro ketempat bergerak yang lebih sempit, yaitu di daerah yang dibatasi oleh kedua aliran sungai Progo dan Bogowonto, dan disebelah selatan dibatasi oleh samudera Indonesia. Dan dari ketiga daerah disekitarnya Belanda maju terus dalam usahanya untuk menangkap Pangeran Diponegoro hidup atau mati. Rencana yang akan dijalankan adalah sebagai berikut : Dari sebelah barat tentara Belanda dibawah mayor Buschkens akan menjaga batas alam kali Bogowonto. Mereka datang dari Bageleh sementara itu tentara-tentara yang dipimpin oleh mayor Michiels direncanakan akan datang dari arah barat laut yaitu dari arah daerah Ledok. Sedang kolonel Cleerens akan memotong dari arah utara yang berasal dari Magelang, mereka dibantu oleh tentara yang dipimpin oleh Pangeran Mangkuningrat, Pangeran Ario Kusumujudo dan mayor Puspowinoto. Dan dari arah timur bergeraklah pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ledel. Demikian pula pasukan-pasukan letnan kolonel Sollewijn dan kolonel Cochius sudah bergerak dari arah Yogyakarta ke arah Pengasi. Dan seperti sudah kita maklumi, di pantai selatan diantara dua aliran kali Progo dan Bogowonto selalu siap dua buah kapal Belanda yaitu “De Naay” dan “De Leye”. 191
  • 192. Demikian rapinya rencana pengepungan, hingga setiap ahli strategi perang akan mengambil kesimpulan bahwa tidak lama lagi Pangeran Diponegoro akan tertangkap di Pengasi ini. Akan tetapi seperti sering terjadi dimana-mana, banyak kali terjadi hal-hal yang bersifat kebetulan atau keberanian alami dari seorang pejuang yang dapat datang tiba-tiba merubah keadaan dengan secara ajaib. Demikian juga yang telah terjadi disekitar Pengasi itu. Belanda kemudian menyadari bahwa ada suatu faktor yang tidak diperhitungkan, yaitu adanya seorang pemimpin militer dari pasukan Diponegoro yang cakap yang memiliki kepandaian perang secara alami, walaupun masih muda usia, yang bernama Alibasja Sentot Prawirohardjo. Seorang yang mempunyai reputasi baik sekali dalam setiap medan pertempuran dimasa-masa yang lalu. Segera setelah menerima jabatan sebagai pengganti Gusti Basja (nama lengkapnya Gusti Iman Ngabdulhamid Alibasja), kemudian mendapat tugas yang sangat berat karena hasilnya sangat menentukan dalam operasi yang dilakukannya. Tugasnya ialah menerobos blokade Belanda disebelah barat untuk mencapai daerah Bagelen. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dengan hasil yang gemilang. Pasukannya yang dikejar oleh mayor Buschkens, segera berhenti didesa Kraja dan dengan tiba-tiba membuka sebuah perangkap. Hasil perangkap itu ialah beratus anggota pasukan Buschkens tewas, lebih dari 400 pucuk senapan disita, demikian pula beberapa pucuk meriam dan sejumlah amunisi. Ini terjadi pada bulan Oktober 1828. dan pada bulan berikutnya yaitu bulan Nopember, pasukannya telah berhasil menerobos gelang pengepungan Belanda dan berhasil mencapai Bagelen dengan selamat. Akibatnya sangat jelek bagi Belanda, sebab dengan demikian terbukalah kembali pintu daaerah Mataram ke Bagelen yang lebih buruk lagi akibat dari gerakan Sentot itu ialah bahwa Sentot telah berhasil membawah Diponegoro kedaerah Bagelen. Dan ini merupakan prestasi yang besar dan sangat mengagumkan baik bagi lawan maupun bagi kawan sendiri. Cara penyebrangan yang dipakai untuk membawa lari Diponegoro itu sebetulnya sangat klasik, akan tetapi sering dipergunakan, yaitu penipuan dan mengelabuhi mata musuh tentang arah sebenarnya dari tujuan gerakan tentara Diponegoro. Seperti halnya waktu Napoleon berhasil menyingkapkan blokade armada Inggris dipantai Afrika Utara atau tegasnya di Mesir. Mula-mula Napoleon pura-pura mempersiapkan suatu expedisi 192
  • 193. yang besar kearah pedalaman Mesir. Rencana itu dipersiapkan secara menyolok sekali, supaya pihak Inggris mengira bahwa betul-betul Napoleon akan mengadakan gerakan besar-besaran ke pedalaman Mesir. Dan diharapkan Inggris akan mengadakan pemusatan kekuatan di pedalaman dan meninggalkan pantai Mesir dengan kekuatan yang tidak berarti. Betul juga diperkirakan Napoleon. Dengan begitu secara sembunyi-sembunyi Napoleon dengan beberapa pasukannya meninggalkan daratan Mesir dan menuju arah daratan Perancis dengan selamat, tanpa mengalami gangguan dari pasukan Inggris yang pada waktu itu sebenarnya merupakan hantu yang menjadi tujuh lautan termasuk juga laut Mediteran. Demikian juga yang telah dilakukan oleh Sentot pada waktu hendak menerobos blokade Belanda diperbatasan Mataram dengan Bagalen. Dengan pura-pura akan mengadakan hijrah ke daerah padang dengan jalan menyebrangi kali Progo, tiba-tiba rombongan Diponegoro yang dipimpin oleh Sentot membelok kebarat. Dan dalam beberapa hari saja rombongan itu dengan selamat berhasil mencapai Bagelen. Akan tetapi perjalanan yang dilalui oleh rombongan itu tidaklah begitu mudah. Setelah menyeberangi sungai Bogowonto dengan menuruti kali lerang ke barat, mereka juga harus melewati beberapa blokade Belanda. Waktu mereka sampai ke desa Ayar, rombongan itu harus menginap dahulu, kemudian menghindari penjagaan-penjagaan Belanda yang dipimpin oleh perwira bernama Blondeau. Sementara itu di dalam usahanya yang direncanakan oleh Belanda untuk mengadakan pengepungan daerah antara dua aliran kali Progo dan Bogowonto, ternyata Belanda tidak menemui jalan yang semula yang terdapat pada kertas. Setiap kali mereka melangkah maju dan bermaksud mengadakan semacam “beach head” atau batu loncatan pada daerah-daerah tertentu, mereka selalu mendapat perlawanan yang sengit dari pasukan-pasukan Diponegoro. Hanya dengan susah payah dan setelah meninggalkan korban yang besar, Belanda umpamanya baru berhasil memasuki Grogol dan lalu mendirikan benteng di sana. Demikian juga yang terjadi di Beliga dan sebagainya. Dan bila kemudian kemajuan dari gelang perbentengan itu telah nyata tercapai, tiba-tiba kijang buruan itu ternyata lepas kembali. Seperti sudah kita maklumi bahwa Diponegoro telah berhasil keluar dari daerah Mataram. 193
  • 194. Kegagalan itu hampir saja menggulingkan De Kock dari kedudukannya, karena dicela komisaris Jenderal Du Bus. Dan untuk lebih mengintensipkan strategi benteng itu, maka De Kock melipat gandakan usaha mengadakan hubungan dengan para pemimpin pemberontak dan juga mengadakan perundingan-perundingan dengan mereka, terutama dengan Diponegoro, akan tetapi kesempatan mengadakan perundingan dengan Diponegoro itu belum juga tiba. Diangkatnya Sultan Sepuh Belanda di atas tahta Mataram sejak 1826 yang dimaksudkan supaya diponegoro menghentikan perlawanan terhadap Belanda, atau setidak-tidaknya para pengikutnya akan menghindarkan diri dari Diponegoro, ternyata tidak membawa hasil. Orang tua yang tidak beruntung itu wafat pada usia 80 tahun pada tahun 1828. Tindakan yang dilakukan oleh Belanda untuk menghentikan perlawanan rakyat untuk melengkapi strategi Benteng stelsel itu, ialah dengan menangkapi anggota keluarga Diponegoro, seperti putera dan istri beliau. Akan tetapi harapan untuk dengan segera mengakhiri perang atau setidak-tidaknya mengadakan perundingan dengan Diponegoro belum juga terlaksana. 5. Perjuangan Terakhir Sebagai “Single Fighter”. Kekalahan di Gawok pada tahun 1826 tidaklah berarti benar bahwa perlawanan Diponegoro menjadi surut. Yang benar ialah bahwa perlawanannya tidak lagi bersifat offensip atau menyerang. Dan perjuangnya tidak lagi menunjukkan kemajuan-kemajuan. Walaupun perlawanan itu masih muncul dimana-mana. Segera setelah kekalahan di Gawok terjadi pula pertempuran sengit diSingosari dan di sekitar Jatianom. Tapi pertempuran-pertempuran itu lebih merupakan semacam pertempuran sambil lalu saja yang dilakukan sambil mengadakan perjalanan hijrah ke pegunungan kelir, yang kemudian menjadi pangkalan baru. Memang di daerah Ledok juga terjadi pertempuran sengit yang dipimpin oleh Imam Musbah dan Mas Lurah. Juga di daerah Semarang berkobar pula perlawanan bersenjata menentang Belanda, dibawah pangeran Serang. Dan juga di kedua daerah Monconegaran meletus pula peperangan di bawah Sosrodilogo. Akan tetapi perlawanan dan pertempuran itu lebih merupakan perlawanan lokal saja karena kurang adanya koordinasi. Akibatnya perlawanan itu tidak berlangsung lama. 194
  • 195. Pada 21 bulan enam 1827, pangeran Serang menyerah bersama Pangeran Notoprodjo, dengan 850 orang prajutritnya. Sosrodilogo sendiri menyerah pada tanggal 3 oktober 1828. Dan perlawanan di daerah Ledok sudah boleh dikatakan berhenti pada awal 1827. Yang merupakan ciri yang amat menyedihkan dari babakan peperangan Diponegoro setelah peperangan di Gawok ialah banyaknya penyerahan yang dilakukan oleh para pemimpin pejuang. Selain yang baru saja disebutkan, maka yang lebih menyedihkan ialah tindakan-tindakan penyerahan yang terjadi diantara pemimpin-pemimpin pejuang didalam inti pasukan. Pada akhir tahun 1826 pangeran Mangkudiningrat menyerah kepada Belanda. Diikuti kemudian oleh Pangeran Surjo Metaram dan pangeran Prang Wedono pada 19 Januari 1827. Putera Pangeran Diponegoro sendiri, Pangeran Dipokusumo memihak kepada Susuhunan pada 7 Maret 1827. Diikuti kemudian oleh putera pangeran Mangkubumi, yaitu pangeran Notodiningrat pada 18 April. Belum lagi terhitung beberapa pahlawan yang telah gugur dalam peperangan. Kita sebutkan diantaranya Gusti Basja. Pada bulan September 1829 gugurlah Pangeran Ngabei. Demikian pupa telah meningggal Djojokusumo. Kyai Modjo sejak “perselisihannya” dengan Diponegoro mengenai strategi pengepungan kota Surakarta, selanjutnya boleh dikata berjuang secara tersendiri saja. Pusat perjuangannya kini dipusatkan di Padjang. Dua kali beliau mengadakan perundingan dengan Belanda untuk menyelesaikan tujuan untuk peperangan. Akan tetapi kemudian nasib buruk telah menimpa beliau, ketika kemudian pihak Belanda mengetahui tempat persembunyian beliau. Dan pada 16 Nopember 1828, beliau ditangkap oleh Belanda. Selanjutnya pahlawan itu dibuang ke Menado. Selanjutnya Belanda terus melancarkan pengepungan terhadap Diponegoro. Bahkan pada pertengahan September 1829 De Kock mengeluarkan semacam selebaran untuk memberikan hadiah bagi mereka yang berhasil menangkap Diponegoro, hidup atau mati. Belanda dalam pada itu telah berhasil memecah belah kedudukan pasukan dari Diponegoro. Tempat kedudukan Diponegoro jauh dari tempat Sentot. Pada waktu itu Diponegoro sudah meningggalkan daerah kedu, sedang Sentot dengan tentaranya bergerilya di Yogyakarta selatan di sebelah timur kali opak Demikian pula tempat 195
  • 196. kedudukan Mangkubumi, yang terpisah berpuluh km, dari tempat Diponegoro bertahan. Ini terjadi pada triwulan terakhir tahun 1829. Kemudian berita yang sampai ketelinga Diponegoro betul-betul sangat mengejutkan, karena Sentot bersama tentaranya telah memenuhi hasrat Belanda untuk meletakkan senjata. Ini terjadi pada tanggal 16 Oktober 1829 di Imogiri. Sedang satu bulan sebelumnya yaitu pada tanggal 28 September pangeran Mangkubumi pun telah menyerahkan diri kepada Belanda. Peristiwa lain yang amat mengejutkan Diponegoro ialah ditangkapnya istri Diponegoro bersama anak kandungnya, Raden Ayu Gianti di tepi kali opak. Prawirokusumo sendiri menyerah bersama 20 seorang Bupati segera setelah Sentot menyerah. Nyatalah sudah betapa gentingnya keadaan dipihak Diponegoro. Dan kalau kita adakan balas kekuatan antara kedua belah pihak yang berperang pada waktu itu, maka keadaannya makin tidak seimbang. Disatu pihak Belanda makin mempunyai keyakinan penuh bahwa perang akan segera berakhir dengan kemenangan ada pihaknya. Di lain pihak keadaan makin genting. Para pendukung sudah makin menipis. Dan Diponegoro boleh dikata seperti seorang “Single fighter”, beliau melakukan perlawanan menentang Belanda sendirian saja. Hanya satu faktor yang masih menguntungkan, ialah bahwa alam masih berpihak kepada beliau. Beliau masih selalu bisa terlindung dari kejaran-kejaran Belanda. Selain itu penduduk daerah Bagelen, Banyumas dan Kedu masih selalu merupakan air danau bagi ikan yang hidup didalamnya. Hingga dengan demikian Belanda masih belum dapat menangkap Diponegoro, hidup atau mati. Dan oleh karenanya Belanda masih melancarkan lagi permintaannya kepada Diponegoro untuk mengadakan perundingan-perundingan menghemat tenaga. Masa antara 20 Januari sampai dengan April 1829 resminya dianggap sebagai saat genjatan senjata, sebab pada waktu itu Belanda telah menghubungi Diponegoro untuk mengadakan perundingan. Dengan perantaraan Kyai Mojo yang lebih dahulu telah ditangkap, Belanda mengadakan perundingan dengan Diponegoro. Ternyata perundingan itu telah mengalami kegagalan sebelum dimulai, sebab Belanda telah mengajukan prasarat yang tidak dapat dipenuhi oleh pihak Diponegoro, yaitu supaya Diponegoro jangan mengajukan permintaan yang tinggi. 196
  • 197. Dalam bulan April tahun itu juga Belanda mengajak berunding lagi. Tapi perundingan itupun terakhir dengan kegagalan pula. Dengan demikian maka pertempuranpun berkobar pula. Pada suatu hari di bulan Oktober 1829, setelah pertempuran berkobar lagi, pasukan Diponegoro sedang dikejar oleh pasukan Belanda, ketika kemudian berpisah dari pasukannya. Dengan hanya diikuti oleh dua orang pemuda yang masih hijau dalam pengalaman, yaitu Roto dan Banteng wareng dan dua ekor kuda yang bernama Sri Gentaju dan Sri Krena, Diponegoro meneruskan perjalanannya kearah daerah gunung Menoreh. Untuk menghindarkan diri dari buruan pihak Belanda yang selalu mengejar dibelakangnya, mereka menerjunin jurang yang ada didepannya, dengan diiringi oleh hujan peluru dan tombak musuh. Tetapi untunglah tidak satupun senjata itu yang mengenai Pangeran Diponegoro dan pengiringnya. Setelah pertempuran itu reda, dijumpailah kedua ekor kuda kesayangannya tidak lagi bersama beliau. Kemudian dengan tetap diiringi oleh kedua pemuda muda usia tadi, beliau melanjutkan perjalanannya kedaerah Kedu. Gambaran itu menunjukkan betapa buruknya keadaan Diponegoro waktu itu. Seakanakan benarlah gelaran “single fighter” bagi Pangeran Diponegoro. Akan tetapi tidak tepat benarlah istilah yang demikian itu untuk Diponegoro, sebab Diponegoro masih mempunyai kepercayaan penuh atas dukungan rakyat Bagelan,Banyumas dan Kedu. Beliau bahkan ssudah mengadakan tindakan darurat, yaitu menggantikan pembantupembantu yang telah tidak ada dengan putera-putera ketiga daerah tadi. Akan tetapi pengganti-pengganti itu adalah terdiri dari tenaga-tenaga yang belum berpengalaman banyak.7 Dan bila kemudian Diponegoro terpaksa menerima ajakan berunding yang disodorkan oleh pihak Belanda, dalam hal ini oleh Kolonel Cleerens, hal itu semata-mata karenabeliau menginginkan suatu gencatan senjata. Dan sementara itu diharapkan Diponegoro dapat menyusus kembali kekuatannya. Selain itu juga dimaksudkan untuk mencoba mencari suatu jalan lain untuk mencapai tujuan politiknya. Akan tetapi kemudian Belanda mempergunakan kesempatan perundingan itu untuk menangkap 7 Muhammad Yamin, op cit. hal. 97. 197
  • 198. Pangeran Diponegoro, dengan melanggar segala peraturan tata tertib perundingan antara dua pihak yangberlawanan, karena Belanda ingin lekas-lekas mengakhiri perang. Demikianlah pada sekitar jam 11.00 siang tanggal 28 bulan Maret tahun 1830 Pangeran Diponegoro telah dikhianati, justru pada waktu sedang diadakan perundingan tingkat tinggi. Sejarah membuktikan bahwa pengkapan yang mashur itu atas diri Pangeran Diponegoro, diikuti kemudian oleh berakhirnya peperangan yang dimulai pada 20 Juli 1825. disatu pihak perang itu telah berakhir dengan kegagalan, karena tidak mencapai tujuan politik yang telah digariskan semula, yaitu melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda. Sementara itu dilain pihak perang telah berakhir dengan baik, meskipun dengan melalui jalan yang tidak terhormat. BAB IV PENUTUP DAN PENILAIAN Perang telah berakhir pada tanggal 28 Maret 1830, yaitu dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro, oleh pihak musuh yaitu Belanda. Penangkapan tu sendiri menjadi termashur, karena terjadi pada saat gencatan senjata yang telah sama-sama disetujui, yaitu pada waktu di adakan perundingan puncak antara pihak Belanda yang diwakili oleh Jendral Dekock sebagai panglima tertinggi tentara pendudukan Belanda di Jawa dan Pangeran Diponegoro yang mewakili seluruh kemauan rakyat yang sedang berjuang. Tempat terjadinya perundingan yang cemar itu di Magelang. Menyedihkan sekali bahwa perjuangan bersenjata melawan penjajah itu tidak diteruskan, karena tidak ada lagi pemimpin lain yang berani mengambil inisiatif. Sejarah telah membuktikan bahwa perang yang telah dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro itu telah gagal. Gagal akan tetapi tidak sia-sia, demikian kata Bung Karno dalam kata sambutannya dalam peringatan seratus tahun wafatnya Pangeran Diponegoro. Tidak siasia sebab antara lain semangat perjauangan beliau untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah airnya, telah memberikan inspirasi kepada kita yang hidup setelah beliau, untuk melanjutkan perjuangan beliau yang belum selesai.8 Untuk lebih menunjukkan bahwa perjuangan beliau itu memang tidak sia-sia, maka kita akan sedikit mengadakan penilaian terhadap perang yang telah berlangsung selama 8 Sagimun M.D. op cit. hal. 439-441. 198
  • 199. lima tahun itu. Dengan demikian maka kita akan lebih banyak belajar dari pengalaman masa silam. Dan mmemang hakekad ilmu sejarah ialah memberikan kepada kita banyak sekali pelajaran yang terdiri dari peristiwa-peristiwa masa lampau. Dalam permulaan tulisan kita sudah sepakat mengenai sifat-sifat perlawanan bersenjata yang telah dilakukan oleh Pangeran Diponegorodan pasukannya, yaitu suatu perang kemerdekaan. Artinya sebagai kelanjutan dari bentrokan dalam bidang politik antara sebagian besar rakyat di Jawa melawan Belanda. Bentrokan itu kemudian telah berubah menjadi peperangan sebagai jalan lain untuk mendapatkan kemerdekaan dalam segala bidang, kehidupan, maka perang yang telah mereka lakukan, seperti sudah kita sepakati tadi ialah perang kemerdekaan. Kedua belah pihak sebenarnya dalam keadaan belum siap untuk berperang, akan tetapi kedua belah pihak sama-sama mempunyai kondisi yang khas. Pihak Diponegoro pada hakekadnya sudah matang untuk berperang, akan tetapi tidak pernah terpikirkan untuk memulai mengambil inisiatif itu. Oleh karena itu mereka tidak pernah memiliki persiapan-persiapan untuk berperang, apalagi karena konstelasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan untuk mengadakan persiapan-persiapan tersebut. Akibatnya mereka tidak mempunyai kekuatan tempur yang teratur ataupun perlengkapan militer yang lebih rapi.akan tetapi pada tingkat pertama peperangan, Diponegoro mempunyai banyak sekali faktor yang sangat menguntungkan, yang dapat mengobarkan semangat pertempuran itu. Diponegoro mempunyai bala bantuan dari rakyat yang berdiri dipihaknya. Sedangkan alam dengan segala speknya, seperti hutan-hutan, gunung-gunung, dan musim penghujan dsb. sangat menguntungkan posisi mereka. Simpati yang datang dari para bangsawan dari daerah-daerah dan para bangsawan Mataram merupakan kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan, sebab mereka mempunyai banyak pengaruh dikalangan rakyat. Diponegoro juga mempunyai penasihat-penasihat militer yang cakap, yang mempunyai reputasi yang baik dalam setiap pertempuran. Mereka sering lebih mengutamakan pemakaian taktik penghadangan, pendadakan, pengejutan dan sebagainya yang terkenal dengan sebutan perang gerilya, dan sedapat mungkin mereka menghindari perang terbuka. Ditambah sistem pembagian tugas dan sifat kepemimpinan yang kharismatis dari Diponegoro, maka semua faktor tersebut dapat mengimbangi kalemahan pasukanpasukan Diponegoro dalam bidang persenjataan danperlengkapan perang. Akibatnya 199
  • 200. ialah dipeoleh kemenangan-kemenangan taktis dan hampir setiap pertempuran, terutama selama tahun-tahun permulaan pertempuran. Nantinya akan kita ketahui faktor-faktor baru datang yang menyebabkan pihak Diponegoro menglami kkekalahan-kekalahan taktis maupun strategis, hingga kemudian mereka mengalami kegagalan pada akhir peperangan. Pihak Belanda sendiri walaupun jauh sebelum pecah perang sudah mempunyai dugaan akan timbulnya perang, akan tetapi mereka tidak mempunyai dugaan bahwa perang itu akan cepat datang. Atau setidak-tidaknya mereka barangkali memang tidak menghendaki perang, sebab pada saat hampir yang bersamaan tentaranya sedang diperlukan untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan yang terjado dipulau lain, seperti yang terjadi di Minangkabau, Banjarmasin dan Bone. Sampai dengan bulan Agustus 1825 Jendral De Kock masih belum bersedia untuk berperang. Beberapa jalan ditempuhnya untuk sedapat mungkin menghentikan peperangan sebelum terlambat, terutama dengan jalan menghubungi Diponegoro dengan surat. Dan manakala usahausaha itu menglami kegagalan, maka dengan tergesa-gesa dicari bala bantuan untuk menambah kekuatan guna secepat mungkin menghentikan peperangan. Terbukti kemudian walaupun balabantuan itu berdatangan dari daratan Eropah dan dari para bangsawan yang dapat diperalat oleh Belanda, pasukan-pasukan Belanda itu hampir ditiap medan pertempuran dapat dikalahkan. Organisasinya yang cukup baik dan persenjataannya yang cukup modern bagi saat itu tidak dapat mempertahankan daya gunanya, berhubung mussuh yang dihadapinya tidak hanya satu jenis. Selain harus berhadapan dengan partisan Diponegoro, mereka juga harus berhadapan dengan alam yang sangat mengganggu mereka, tetapi sebaliknya sangat berpihak kepada Diponegoro. Selain itu strategi yang mereka kembangkan selama dua tahun pertama peperangan sangat tidak sepadan untuk menghadapi taktik perang gerilya. Berkali-kali mengirimkan tentara regular yang lengkap persenjataannya, berjalan kearah tempat sasaran operasi yang kadang-kadang sangat jauh letaknya, sangat tidak seimbang kalau menghadapi pasukan-pasukan yang sangat lincah geraknya, walaupun berjumlah sangat sedikit. Apalagi karena yang dihadapi ialah pasukan-pasukan yang merasa bermain dirumah sendiri, macam pasukan-pasukan Diponegoro. 200
  • 201. Dua pasukan yang memiliki kekuatan yangtidak seimbang dalam bidang persenjataan dan peralatan perang lainnya saling beradu kekuatan. Hasilnya sangat menakjubkan yaitu banyaknya kemenangan yang dipeoleh pihak yang lemah persenjataannya. Akan tetapi karena pihak yang mula-mula mendapat kekalahan, dapat dan mau belajar dari pengalaman masa lampau, maka pada waktu peperangan memasuki tahun ketiga, lukisan peperangan Diponegoro menjadi betul-betul berbeda dari gambaran semula. Pihak Belanda yang hampir selalu menderita kekalahan, kemudian menyadari bahwa untuk menghadapi perang gerilya haruslah dipergunakan strategi baru untuk mengganti strategi yang selama itu dipakai tetapi selalu menderita kekalahan. Musuh harus segera dapat dipecah belah dengan mutlak dan dipencilkan dari pemimpinnya yang bersifat kharismatis. Pasukan inti harus dapat didesak kedaerah yang terbatas dan sempit, hingga moril prajuritnya jadi merosot. Strategi baru itu terkenal dengan nama Benteng Stelsel, sebab praktek pengepungan juga mereka lakukan itu dilakukan dengan mendirikan benteng-benteng dibeberapa tempat. Dikombinasikan dengan sebanyak mungkin berusaha mendekati para pejuang yang kurang kuat imannya dengan jalan sebanyak mungkin mendekati dan menawarkan syarat-syarat yang menarik bagi perjanjian untuk meletakkan senjata, maka strategi baru itu sangat cocok untuk menghadapi para gerilyawan Diponegoro. Apalagi bila ditambah dengan aktivitas dan ndaya guna para infiltran Belanda yang memeras batang tubuh kekuatan pasukan Diponegoro dari dalam. Dan walaupun pasukan perlawanan pasukan-pasukan Diponegoro tidak menjadi turun oleh adanya strategi baru itu, akan tetapi karena makin berkurangnya tenaga-tenaga perjauangan yang menjadi penggerak perjuangan itu sendiri, baik karena telah gugur ataupun telah berhasil dipikat oleh Belanda ataupun telah dapat ditangkap oleh pihak Belanda, maka akhirnya Pangeran Diponegoro sebagai motor utama perjuangan bersenjata itu menerima ajakan Belanda untuk mengadakan perundingan. Akhir dari perundingan yang diadakan di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830 itu sudah menjadi terkenal, yaitu nahwa pada saat itu Pangeran Diponegoro ditangkap oleh perintah Jendral De Kock. Akan tetapi penangkapan yang mashur atas diri Pangeran Diponegoro itu, hanyalah merupakan pukulan terakhir saja yang menentukan kegagalan Pangeran Diponegoro. Hingga dengan demikian maka sempurnalah kegunaan strategi Belanda untuk mengakhiri perang yang telah membakar pulau Jawa itu. 201
  • 202. Dilain pihak perang telah berakhir dengan kegagalan. Kalau kita mau meneliti sebab-sebab kegagalan yang dialami oleh perjuangan Diponegoro itu maka terdapatlah beberapa hal yang patut disebutkan. 1. Sebab-sebab Subyektif. Termasuk kedalamnya segala kondisi yang terdapatdalam tubuh pasukan Diponegoro dan strategi yang dijalankan oleh Diponegoro. Dalam bidang taktik pada umumnya pasukan Diponegoro unggul, walaupun persenjataan sangat lemah. Ini disebabkan karena adanya persyaratan-persyaratan tadi. Akan tetapi strategi perlawanan yang dipunyai oleh Pangeran Diponegoro kurang kompak dan kurang matang. Walaupun banyak contohyang menunjukkan bahwa pengepungan kota-kota yang penting banyak dilakukan oleh pasukan-pasukan Diponegoro, seperti terhadap kota Jogjakarta, Magelang, akan tetapi seterusnya tak menunjukkan konsekwensinya dalam tindakan-tindakan selanjutnya. Hal itu nampak karena pada waktu menghadapi masalah pengepungan terhadap Surakarta, terjadi keragu-raguan pada pucuk pimpinan. Dengan demikian pengepungan terhadap daerah-daerah yang strategis bukanlah merupakan ciri yangkhas bagi strategi mereka. Lalu apakah yang menjadi strategi utama adalah mengulur waktu dengan maksud melelahkan lawan, dan kemudian pad sat yang tepat akan mengadakan usul perundingan yang menguntungkan pihaknya? Ternyata strategi inipun tidak dilaksanakan dengan konsekwen, sebab banyak contoh menunjukkan bahwa pasukannya diboroskan dalam perang posisi seperti yang terjadi di Plered dan Gawok. Hingga dengan demikian maka kemenangan akhir yang sangat diharapkan tidak kunjung mereka peroleh. Sedang sebab selanjutnya dari kekalahan dan kegagalan yang mereka peroleh adalah karena tidak adanya usaha yang mereka lakukan untuk mengadakan konsolidasi terhadap kemenangan-kemenangan taktis yangmereka peroleh pada masa lampau. Pada umumnya mereka terlapau cepat dihinggapi penyakit mabuk kemenangan atau terkenal sebagai Victory Desease, hingga sering sekali mereka menjadi lengah dalam menghadapi tugas-tugas mendatang. 202
  • 203. 2. Sebab-sebab obyektif Sebab-sebab ini berasal dari pihak lawan. Faktor pertama yang harus kita akui ialah keunggulan Belanda dan sekutunya dalam bidang persenjataan. Selain itu kita mengenai juga kemahiran mereka untuk mengadakan politik pemecah balah dan adu dombadiantara suku-suku bangsa yang ada di Indonesia. Dan kelihan mereka dalam menarik para bangsawan dan pendukung pemberontak yang lain untuk berhenti mengangkat senjata adalah juga merupakan sebab-sebab kegagalan perlawanan bersenjatayang diadkan oleh Diponegoro. Tidak dapat juga diabaikan kepandaian pihak Belanda untuk berani mempelajari pengalaman mereka pada masa lampau dan kemudian keberanian mereka untuk dengan segera mengubah strategi mereka, manakala strategi yangmereka pergunakan pada waktu itu tidak menguntungkan mereka. Hingga dengan demikian maka timbullah kemajuan dalam jalannya peperangan. Akhirnya sifat Zakelijk bangsa Belanda dalam perang sangat menolong mereka. Dengan begitu mereka tidak lagi mudah dan tidak selalu dipengaruhi oleh permainan perasaan. Hal itu menyebabkan mereka menyadari benar hakekada hukum besi yang selalu berlaku didalam peperangan. Barang siapa tidak lebih dahulu mau membunuh lawan maka dia sendirilah yang akan dibunuh oleh lawan. Dengan demikian maka peristiwa penangkapan atas diri Pangeran Diponegoro, walaupun sangat melanggar hukumperang, akan tetapi yang menjadi tujuan perang bagi belanda adalah menangkap Diponegoro yang dianggap sebagai motor pemberontakan bersenjata, maka ditangkaplah Pangeran Diponegoro. Dan karena sifat kharismatis beliau merupakan paranan utama dalam usaha memimpin perjuangan, maka akibat dari penangkapan itu menjadi lebih buruk jadinya. Seperti kemudian ternyata dalam sejarah, maka untuk waktu yang cukup lama setelah Diponegoro tertangkap, tidak pernah lagi terdapat perang kemerdekaan dalam bentuk yang sebenarnya. Setelah masa itu boleh dikata untuk sementara waktu dalam abad ke 19 tidak muncul lagi pemimpin atau pelopor yang melanjutkan usaha perjuangan Diponegoro yang telah gagal itu. Amatlah tragis kedengarannya,akan tetapi ini adalah kenyataan sejarah. Bagi kita sebagai putera-putera bangsa yang selalu masih berjuang, maka banyaklah pelajaran yang kita peroleh dari kejadian-kejadian pada masa itu. 203
  • 204. Dengan perasaan yang penuh keprihatinan kita menyaksikan bahwa perjauangan yang pernah dipelopori oleh Pangeran Diponegoro itu telah gagal mencapai tujuan akhir peperangan. Akan tetapi sekali lagi kita menginsafi bahwa walaupun perjuangan itu telah gagal, akan tetapi tidaklah sia-sia. Banyaknya pelajaran berharga yang telah diajarkan oleh kegagalan itu kepada kita. Dan pelajaran itu betul-betul telah membuat kita berhasil dalam salah satu segi dari keseluruhan rangka perjuangan kita. Hasil yang nyata ialah bahwa kita telah dapat memerdekakan diri dari kungkungan penjajahan Belanda, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. GAMBAR 1 204
  • 205. GAMBAR 2 205
  • 206. DAFTAR BACAAN Ali, R. Mohamad, Perjuangan Feodal Indonesia, Ganaco, N. V. Bandung, Jakarta, 1963. _______________, Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, Bhratara, Jakarta, 1961. Asisten Kepala Pusat Sejarah Militer, Sejarah Militer Untuk Calon Perwira, Publikasi Resmi Pusat Sejarah Militer, cetakan I, Bandung, 1959. Auwyong Peng Koen, Dengan bantuan F. J. E. Tan, Perang Pasifik 1941 – 1945. Bagian Penerbitan Keng Po, Jakarta, 1958. Bahruddin, E. H, Perang Partisan, Penerbit Yayasan Pustaka Militer, Bandung, 1954. Balai kursus tertulis Pendidikan Guru, Sejarah Nasional, jilid I C no. 142. Bandung. Berg, H. J. van den, cs, Asia dan Dunia sejak 1500, J.B. Wolters, Jakrta, - Groningen, 1954. Burger, D. H, Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia jilid I, saduran Prayudi Atmosudirjo, P. N. Prajnya Paramita, Jakarta,1960. Canu, Jean, Sejarah Amerika Serikat, Penerbit Pustaka Rakyat, Jakarta, 1953. Clausewitz, Karl von, Tentang Perang, terjemahan R. Soesattyo, mayor infantri, Pembimbing bagian penerbitan, Jakarta, 1954. 206
  • 207. Dunant, Henry, Sebuah Kenang-kenangan di Solferino, Balai Pustaka, Jakarta, 1951. Earle, Edward Mead, Penyusun-penyusun Strategi Perang Modern, diterjemahkan oleh Sumantri Mertodipuro cs. Bhratara- Yayasan Franklin bagian Penerbit, JakartaNew York 1962. Kompilasi Sejarah Militer, Jendral Sudirman, Seri bagian biografi Militer dan Pejuang Indonesia, Publikasi Resmi Pusat Sejarah Militer, Bandung, 1959. Louw, P. J. P, De Java Oorlog I, Batavia Lands drukkerij, 1904 ‘s Hage M. Nyhoff. Nasution, M. A, S, dan M. Thomas, Buku Penuntun Membuat Thesis, Usaha Penerbit Jaya Sakti, Jakarta, 1961. Nasution, A. H, Pokok-pokok Gerilya , Pembimbing, Jakarta,1954 Nazir, Perang Gerilya, Penerbit C.V. Pembimbing, Jakarta, 1961. __________, “Pikiran Rakyat”, Selasa/Rabu, tanggal 5 dan 6 Juni 1962, tahun ke XIII, no. 4 dan 5. Puar, Yusuf Abdullah,”Panji Masyarakat”, no. 20 tanggal 28 – 3 – ’60. Radjab, Muhamad, Perang Paderi di Sumatera Barat (1803 – 1838), Perpustakaan Perguruan Kementrian P.P dan K, Jakarta, 1954. Sagimun, M. D, Pahlawan Diponegoro Berjuang, Cabang bagian bahasa/ Urusan Adat Istiadat Jawatan Kebudayaan Departemen P.P dan K, Yogyakarta 1960. Snyder, Louis L, Abad Pemikiran, terjemahan Nyoman S. Pendit, Bhratara – Yayasan Penerbit Fanklin, Jakarta – new York 1962. 207
  • 208. ____________, Dunia Dalam Abad ke 20, terjemahan Suwarno Hadiatmojo, Usaha Penerbit Jaya Sakti, Jakarta. Soegondo, R. , Ilmu Bumi Militer Indonesia I dan II, Penerbit Pembimbing, Jakarta 1960. Soeroto, Indonesia ditengah-tengah Dunia dari Abad ke Abad jilid I, II dan III, Jambatan, Jakarta 1963. Stuers, F.V. A. de, Memoires Sur La Guerre De L’ile De Java de 1825 a 1830, Aleyde, Chez S – j. Luchtmans, Amsterdam 1833. Sukanto, Sekitar Yogyakarta 1755 – 1825 Penjanjian Gianti – Perang Diponegoro, Mahabarata, Jakarta – Amsterdam 1952 _______, Sentot Alias Alibasah Abdulmustopo Prowirodirjo – Senopati Diponegoro, N.V. Pustaka Asli – Jakarta – Bandung – Amsterdam – New York – Sydney 1951. Yamin, Muhammad, Sejarah Peperangan Diponegoro Pahlawan Kemerdekaan Indonesia, Yayasan Pembangunan, Jakarta 1950. 208
  • 209. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------CATATAN Tulisan di atas merupakan penulisan adaptasi dari naskah skripsi Sarjana Muda pada Jurusan Sejarah Fakultas Ileguruan Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Bandung, Juli 2964 3. KEPEMIMPINAN PANGERAN DIPONEGORO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH “All the world’s a stage and all the men and women mereley players: They have their exits and their entrances; And one man in his time plays many parts (Sumber :peare’s As You Like It) 1. Pendahuluan Dengan mengutip bagian puisi karya Shakespeare dalam As You Like It seperti tertera di atas, tulisan ini bermaksud menyoroti segi kepemimpinan Pangeran Diponegoro dari perspektif sejarah. Dari uraian kata yang penuh makna tersebut di atas, dapat ditangkap bahwa Shakespeare hendak menggambarkan proses kehidupan di dunia ini sebagai panggung (stoge) sandiwara, yang para pemainnya tidak lain adalah manusia itu sendiri. Secara silih berganti para pemain naik ke panggung untuk memainkan peranannya masing-masing, (sudah barang tentu harus) sesuai dengan naskah (script), perintah (order), kemampuan interpretasi dan apresiasi terhadap lakon yang harus 209
  • 210. dimaikan. Analog dengan panggung teater di atas, maka manusia dalam proses sejarah dapat digambarkan sebagai pelaku (aktor) sejarah yang secara dinamis memainkan perannya masing-masing (taking-role) sesuai dengan kedudukan (position) yang dimilikinya dalam konteks sosio-kultural dan ikatan spatial dan temporal masing-masing. Berangkat dari metapora Shakespearedi atas, maka pembahasan tentang kepemimpinan dan kepahlawanan tokoh Pangeran Diponegoro akan dipusatkan pada persoalan yang menyangkut tentang kedudukan dan peranan Pangeran Diponegoro dalam panggungsejarah masyarakat Indonesia. Dengan pertanyaan apa, siapa, bagaimana dan mengapa Diponegoro memiliki tempat penting dalam sejarah-sejarah Indonesia akan mengantarkan kedudukan dan perannya dalam sejarah dan masyarakat Indonesia. Pertanyaan itu sekaligus juga akan mengrahkan penjelasan mengenai masalah kepahlawanan dan kepemimpinan Diponegoro. Untuk menjawab pertanyaan di atas diperlukan wawasan pendekatan sejarah yang komprehensif, yang dapat memberikan landasan interpretasi kritis terhadap tokoh Diponegoro dalam proses sejarah. Dalam hubungan itu maka perlu diperhatikan segi-segi berikut. Pertama, tokoh Diponegoro perlu ditempatkan dalam perspektif sejarah yang berwawasan nasion Indonesia sebagai pusat (Indonesia – centrism). Kedua, Diponegoro perlu ditempatkan dalam struktur dan interaksi sosio-kultural dari jamannya. Ketiga, tokoh Diponegoro perlu dipandang sebagai tokoh simbolis yang mengambil peran penting (“role-taking”) dalam proses interaksi simbolis (symbolic interaction) dari masyarakat pendukungnya dalam menghadapi kekuatan-kekuatan indogen dan eksogen. Diponegoro perlu ditempatkan dalam perspektif nasion, yang dimaksud adalah penempatan tokoh Diponegoro dalam wawasan sejarah yang mengacu pada proses integrasi nasion Indonesia. Wawasan sejarah semacam itu akan dapat membantu dalam menjelaskan dua masalah pokok. Pertama, yaitu masalah makna peristiwa sejarah (historical events) yang melibatkan pelaku sejarah (historical actors), dan kedua, masalah pelaku sejarahnya, di sini yaitu Pangeran Diponegoro. Yang pertama, menyangkut penjelasan yang berkaitan dengan makna peristiwa perang Diponegoro atau perang Jawa (Java-Oorlog atau Java War) pada tahun 1825 – 1830, dalam proses sejarah pembentukan kesatuan nasion Indonesia. Yang kedua, maksudnya ialah menyangkut kedudukan dan peranan tokoh Diponegoro dalam perspektif proses perjuangan 210
  • 211. pembentukan kesatuan nasion yang sama. Secara luas wawasan pendekatan semacam itu juga penting artinya dalam menjelaskan berbagai segi lain yang berkaitan dengan masalah tentang latar sejarah (historical – setting), kausalitas, proses, kedudukan (position), peranan (role), makna (meaning) dan bobot aksi dan pertisipasi (action and participation capacity), kepemimpinan (leadership) dan kepahlawanan (hero), dalam hal ini yang dimiliki Diponegoro. Secara metodologis penggunaan perspektif sejarah yang mengacu pada integrasi nasion penting sekali artinya dalam proses informasi teoritis yang dapat menerangkan gejala-gejala sejarah mana yang bersifat lokal dan mana yang bersifat supra – lokal atau nasional. Dengan kerangka konseptual yang sama, juga akan dapat diterangkan pertanyaan- mengenai perbuatan dan perilaku (pelaku) sejarah mana yang bermakna individu, subyektif, primoedial, parokial dan etnis, dan tindakan dan tingkah laku mana yang dipandang bermakna sebaliknya yaitu kolektif, obyektif, modern, supra lokal dan nasion. Dalam kaitan yang sama, kerangka konseptual di atas dengan demikian akan dapat menjelaskan sejauh mana peristiwa perang Diponegoro dan peristiwa yang semacam lainnya (Perang Padri), 1821-1837); perang Aceh, 1837-1904, dll.) bersifat lokal dan sejauh mana bersifat supra lokal atau “nasional”. Seperti halnya persoalan di atas, maka persoalan lainnya juga akan dapat diterangkan. Pertanyaan mengenai kapan seorang pelaku sejarah akan dipandang sebagai tokoh lokal, dan kapa seorang pelaku sejarah yang lain akan dapat dipandang sebagai tokoh sejarah nasional. Konseptual semacam itu menjadi penting dalam menjelaskan tentang bagaimana tokoh Diponegoro harus dipandang, dan demikian juga dengan tokohtokoh lainnya (Imam Bonjol, Teuku Umar, Si Singamangaraja, dll.) Selanjutnya penempatan tokoh Diponegorodalam perspektif interaksi sosiokultural, dalam hubungan ini akan lebih memperluas wawasan penjelasan (Explanation) tersebut di atas. Dengan menggunakan perspektif interaksi simbolik (simbolic interaction) dan peranan (role perspective atau theory), berbagai jaringan hubungan antara kedudukan (position /status), peranan (role), harapan (Exectation), situasi (situation) dan aksi (action) yang dimainkan oleh Diponegoro sebagai pelaku (actor) sejarah dapat diterangkan. Perspektif teoritis ini juga alkan penting dalam mendasari 211
  • 212. penjelasan yang menyangkut dimensi tingkah laku (behavior), Perilaku (attitude), peranan (role) dan dimensi-dimensi yang disebabkan oleh kekuatan indogen dan eksogen yang dalam hal ini telah menimbulkan pecahnya perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830 di Jawa. 2) Latar Sejarah : Perang Diponegoro, 1825 – 1830 Pergantian masa dari abad XVIII ke abad XIX di Indonesia ditandai dengan berbagai perubahan besar. Di satu pihak, terlihat adanya gejala perluasan kekuasaan politik secara ekstensif dan intensif atas wilayah Indonesia, yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda sebagai pengganti pemerintah VOC. Di lain pihak, sebaliknya, terjadi kemerosotan kekuasaan kerajaan-kerajaan tradisional sebagai akibat penetrasi politik kolonial Belanda. Wilayah teritorial, otonomi kekuasaan, kekuatan militer, sumber ekonomi, kawula, kemerdekaan dan kedaulatan kerajaan-kerajaan di berbagai daerah Indonesia menjadi semakin kecil, atau bahkan hilang seluruhnya karena jatuh ke tangan kekuasaan penjajah, yang berarti hapusnya suatu kerajaan. Ada pula yang kerajaan pada lahiriah tampak seperti masih hidup, akan tetapi sebenarnya tidak lebih dari pada sebuah boneka dari kekuasaan asing, karena sudah tidak memiliki kekuasaan dan kedaulatan yang berarti lagi. Selain gajala di atas, terdapat pula gejala kemunduran kehidupan ekonomi bagi semua lapisan masyarakat tanah jajahan sebagai akibat peningkatan proses ekstraksi ekonomis yang dibawa oleh penetrasi sistem kapitalistis barat. Gajala kemerosotan kekuasaan politik dan kemunduran kehidupan ekonomi tersebut telah menyebabkan timbulnya telah menyebabkan timbulnya gejala ketidakpuasan, ketegangan, kekisruhan, perpecahan dan pertentangan, serta pergolakan. Berbagai gejala yang tersebut di atas, hampir semuanya terdapat di lingkungan kerajaan Mataram di Jawa. Secara umum kerajaan Mataram mengalami kemunduran besar, semenjak mangkatnya Sultan Agung pada pertengahan abad XVII. Sedikit demi sedikit wilayah Mataram di pulau Jawa jatuh ke tangan Belanda, bersama dengan pusat sumber kekayaan ekonominya. Daerah kekuasaan Mataram di Jawa Barat, daerah pesisir utara Jawa, sejumlah daerah di Jawa Timur, yang semuanya merupakan daerah potensial, secara berangsur-angsur jatuh ke 212
  • 213. tangan VOC. Akibatnya pada akhir abad ke XVIII dan awal abad XIX wilayah kerajaan Mataram menjadi sempit dan hanya berpusat pada wilayah Yogyakarta dan Surakarta serta beberapa daerah sekitarnya yang kurang potensial. Sementara itu pusat pemerintahan kerajaan telah terpecah-pecah menjadi beberapa bagian, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman. Kesemuanya tidak merupakan kerajaan yang memiliki kemerdekaan dan kedaulatan yang penuh, melainkan merupakan pemerintahan “boneka” dari Belanda. Mengapa sampai terjadi kemerosotan yang demikian, tidak lain karena pengganti Sultan agung umumnya lemah, suka berkompromi dengan pihak Belanda, tidak ada ketegaran untuk menentang kehadiran kekuasaan asing seperti pendahulunya. Terbagi-baginya kerajaan sering diawali dengan terjadinya pertantangan dan pergolakan kekuasaan di antara para pewaris kerajaan. Karena itu kerajaan menjadi lemah, suram, kurang wibawa, banyak konflik, penuh intrik, persekongkolan dan banyak perpecahan di antara golongan elite keraton yang berbeda-beda orientasi dan idiologinya. Suasana lingkungan kerajaan semacam itu sangat mendukung bagi terjadinya pergolakan. Kekuasaan pemerintah Belanda atas istana dan wilayah kerajaan, di lain pihak, cenderung makin kuat dan terpusat. Kekuasaan Belanda tidak hanya sangat menentukan dalam pengangkatan dan penobatan raja dan pengangkatan para pejabat kerajaan, akan tetapi juga dalam memasukkan unsur-unsur gaya kehidupan Barat ke lingkungan kerajaan, seperti dalam segi-segi seremonial, etiket, tradisi, pergaulan, kemewahan dan adat kebiasaan baru yang sering dianggap bertentangan dengan tradisi Jawa. Di luar keraton, yaitu di daerah pedesaan, keadaan penduduk umumnya banyak mengalami hambatan dan kesulitan akibat dari berbagai penerapan sistem perekonomian yang cenderung membawa ekstraksi ekonomis seperti tersebut di atas. Berbagai sistem persewaan (verpachtingren), penarikan bea cukai, bea toll dan tindakan pemerasan yang menurut sumber banyak dilakukan oleh orang-orang cina atau golongan sosial lain, telah menyuilitkan dan memerosotkan kehidupan ekonomi rakyat kecil. Kemerosotan kehidupan masyarakat kecil tidak hanya dalam segi ekonomi saja, tapi di mana-mana juga terdapat kemerosotan segi moral, sebagai akibat dari meningkatnya perjudian, permadatan, peminum-minuman keras, pelacuran dan perbanditan. Menurut tradisi lokal penyebab kemerosotan moral masyarakat tersebut sering dirujuk pada lima jenis penyakis 213
  • 214. sosial yang terkenal dengan sebutan Ma-lima (Jawa = main, madon, minum, madat, dan maling), sebenarnya gejala kemerosotan moral atau demoralissi bukan hanya terjadi di kalangan wong cilik, melainkan juga melanda golongan priyayi, termasuk sementara anggota bangsawan keraton. Secara singkat dapat dikatakan bahwa selama periode 1812-1825 telah timbul ketidakpuasan dan kekisruhan di Jawa sebagai akibat dari hal-hal tersebut di atas. Peningkatan campur tangan Barat dalam urusan keraton terasa, terutama di keraton Yogyakarta. Demikian juga konflik, intrik dan korup makin meluas. Sementara itu penyewaan tanah-tanah penduduk di Jawa Tengah oleh pengusaha Barat dan Cina untuk perkebunan tebu, kopi dan indigo juga makin bertambah luas, terutama di daerah tanah lungguh (apanage) milik para bangsawan karena kebutuhan keuangan. Sementara itu dalam tahun 1816-1824 di Yogyakarta tercatat banyak terjadi kasus pemerasan dan penyelewengan yang dilakukan oleh para penarik pajak dan bea toll, terutama dari orangorang Cina. Gangguan keamanan, pencurian, perbandita, dan kejahatan merajalela di daerah Yogyakarta dan sekitarnya dalam periode yang sama, sebagai akibat kesulitan perekonomian. Sementara itu para bangsawan banyak yang kehilangan tanah-tanah apanage dan pengurangan sumber kehidupan disamping banyak mendapat tekanan dari pihak Belanda. Keadaan semacam itu telah memasakkan situasi untuk memecahkan pergolakan. Pergolakan segera meletus ketika seorang bangsawan terkemuka, Pangeran Diponegoro, yaitu putera tertua Sultan Hamengkubuwono III, melancarkan aksi penentangan terhadap campur tangan pemerintah Belanda terhadap keraton dan situasi korup di lingkungan punggawa keraton. Pergolakan disulut dengan peristiwa bentrokan antara pengikut Diponegoro dengan pasukan keraton di bawah Patih Danurejo IV, musuh Diponegoro, sehubungan dengan pembuatan jalan yang menuju Tegalrejo, tempat kediaman Diponegoro, pada sekitar bulan Mei 1825. bentrokan itu segera meluas dan meningkatkan ketegangan dan situasi konflik, mencapai puncaknya pada tanggal 20 Mei 1825 dengan berkobarnya peperangan melawan Belanda oleh Diponegoro di Tegalrejo, dan segera meluas secara cepat ke berbagai wilayah Yogyakarta dan Surakarta, serta dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Diponegoro segera keluar dari Tegalrejo untuk mengobarkan peperangan 214
  • 215. melawan belanda dan kaki tangannya. Demikianlah awal pecahnya perang Jawa yang berlangsung sejak tahun 1825 hingga 1830. Perlawanan Diponegoro mendapat sambutan luas dari berbagai pihak, baik dari kalangan rakyat pedesaan maupun dari golongan bangsawan, pejabat, ulama dan para pemuka rakyat lainnya. Dari 29 bangsawan terkemuka yang ada di keraton Yogyakarta, 15 orang diantaranya bergabung dengan Diponegoro. Selain itu 41 orang dari 88 bupati senior, juga mendukung Diponegroro, demikian juga para ulama dan kyai serta santrinya di lingkungan pesantren ikut menjadi tulang punggungnya, terutama tokoh ulama terkemuka Kyai Mojo. Dukungan terhadap Diponegoro dapat dibuktikan pula dari luasnya peta daerah pertempuran. Apabila diperhatikan medan pertempuran menyebar secara luas, tidak hanya di daerah pusat kota Yogyakarta, Surakarta, akan tetapi juga terjadi di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Kedu, Banyumas, Pekalongan, Semarang, Pati, Bojonegoro, Madiun, Kediri dan daerah sekitarnya. Peristiwa, Medan dan jalannya pertempuran yang terjadi selama pecahnya perang Diponegoro, kiranya cukup dapat diikuti dalam berbagai sumber historiografi perang Diponegoro, baik dari sumber-sumber Belanda maupun sumber lokal. Cukup disebut di sini dari sumber Belanda misalnya karya penting Louw dan Klerck (6 jilid), Ridder de Stuers, Weitzel, Hogemen, disamping karya-karya lainnya termasuk tulisan Johan Fabricius. Sumber lokal, kiranya cukup banyak, terutama barupa karya Babad, baik yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro sendiri sewaktu di pengasingan maupun yang ditulis oleh penulis lainnya, yang mencakup golongan yang pro dan kontra terhadap Perang Diponegoro. Peperangan berakhir ketika Pangeran Diponegoro terkecoh ke dalam meja perundingan di Magelang pada bulan Mei 1830, karena perundingan yang direncanakan oleh pihak Belanda hanyalah sebagai perangkap untuk menangkapnya. Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Menado, dan kemudian dipindahkan ke Makasar sampai akhir hayatnya (8 Januari 1855). Perang Diponegoro ditujukan kepada Belanda dan keraton cukup banyak membawa korban dan biaya yang tidak sedikit bagi pihak Belanda. Menurut salah sebuah sumber tidak kurang dari 8000 pasukan Eropa dan 7000 pasukan bumiputra meninggal dan menghabiskan biaya tidak kurang dari 20 juta gulden. Demikian juga korban yang jatuh di pihak pasukan Diponegoro tidak terhitung jumlahnya. Menurut sementara 215
  • 216. sumber disebutkan bahwa tidak kurang dari 200.000 orang Jawa menunggal, dan hampir separoh penduduk Yogyakarta hilang. Dari keterangan di atas dapat dijelaskan bahwa perang Diponegoro termasuk perang besar menurut ukuran jamannya, dan cukup besar pengaruhnya dalam kehidupan nasional pemerintah Belanda pada waktu itu. Bagi pemerintah Belanda, perang Diponegoro merupakan perang yang mengerahkan dana dan kekuatan militer secara besar-besaran. Perang itu telah melibatkan hampir seluruh kekuatan militer Belanda yang ada di Indonesia, tetapi juga telah menghabiskan dana keuangan yang tidak sedikit, yang kemudian menjadikan penyebab kemerosotan keuangan pemerintah Belanda pada periode itu. Mengpa sistem tanam paksa (Kultur stelsel) kemudian diterapkan pada masa sesudah perang Diponegoro selesai, alasannya antara lain adalah untuk memperbaiki kebobrokan kas Negara akibat banyak membiayai peperangan. 3. Hakekat perang Diponegoro Sekalipun Perang Diponegoro relatif belangsung singkat yaitu dalam tahun 18251830, akan tetapi memiliki makna yang luas. Secara politik peperangan Diponegoro merupakan manifestasi dari sikap penentangan dari kekuatan lokal terhadap kekuasaan Barat yang datang dari luar dan bersifat raksasa (massive), internasional, terorganisir rapi, dan lebih maju. Kehadiran kekuasaan Barat di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara pada umumnya dapat dipandang sebagai kekuatan eksogen dan arus besar (mainstrams) yang mengancam eksistensi kemerdekaan dan kedaulatan politik negara tradisionaldi daerah-daerah Indonesia. Ancaman kekuasan Barat semacam ini sejak dini telah disadari oleh Sultan Agung pada abad ke XVII. Akibat dari kekuasaan Barat memang telah terbukti membawa proses disintegrasi bagi kekuatan-kekuatan politik, sosial dan kultural masyarakat dilingkungan karajaan Jawa. Karena itu Pangeran Diponegoro pada dasarnya merupakan eksogen yang bersifat destruktif dan disintegratif. Diponegoro dan para pendampingnya pada umumnya sadar akan ancaman bahaya destruktif yang datang dari kekuasaan kolonial Belanda, karena itu gerakan perlawanannya juga bercorak sebagai gerakan protes yang dijiwai oleh semangat anti kolonial. 216
  • 217. Di sisi lain peperangan ini juga menggambarkan suatu reaksi terhadap golongan penguasa keraton yang telah mantap, tetapi tidak memiliki tanggung jawab sosial dan bertindak sewenang-wenang. Maka dari itu peperangan Diponegoro juga cenderung bersifat anti birokrat dan anti keraton. Sangat besar dukungan kalangan petani dan golongan bawah yang tertindas dan terperas terhadap peperangan ini. Karena itu semangat peperangan ini juga dijiwai oleh nafas pencarian keadilan dan perlindungan. Justru dari kalangan ini Diponegoro mampu memobilisasi kekuatan pasukan dan logistik yang menentukan kelancaran peperangan secara terbuka ataupun secara gerilya. Gelar “Ratu Adil”yang melekat pada Diponegoro selama perang, pada dasarnya berkaitan dengan massa pendukungnya yang sebagian besar dari kalangan bawah yang tertindas. Golongan semacam ini yang memimpikan untuk memperoleh keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan, yang menjadi pendukung kepercayaan mistis simbolis akan kehadiran “juru selamat” yang dilambangkan pada tokoh Diponegoro. Pergolakan yang dilancarkan oleh Diponegoro dan pengikutnya pada dasarnya juga ditujukan untuk menentang akses yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan struktural dan kultural sebagai akibat penetrasi kekuasaan Barat yang membawa kemerosotan moral, baik dikalangan bangsawan keraton maupun masyarakata umumnya. Karena itu satu sisa dari gerakan perlawanan ini bercorak sebagai gerakan anti kemerosotan moral, dan anti kultur Barat. Maka dari itu gerakan peperangan yang dilancarkan oleh Diponegoro dapat juga disebut sebagai “gerakan kebudayaan tandingan” (Counter-Culture-Movement). Inti dari gerakan ini antara lain hendak menangkal ancaman budaya Barat dan hendak melestarikan inti kebudayaan Jawa sebagai sumber kekuatan untuk menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari perang ini ialah unsur agama Islam. Peperangan tidak hanya di dukung secara fisik oleh kekuatan golongan ulama, kyai dan para santri dari kalangan pesantren, akan tetapi juga didukung oleh moral dan idiologi ajaran Islam. Malah semangat dan idiologi Islam memasuki tempat penting dalam proses pembentukan organisasi dan mobilisasi pendukung perjuangan Diponegoro. Idiologi Perang Sabil dan Jihad fi Sabilillah serta semboyan anti kafir terdapat dalam faset-faset perjuangan Diponegoro selama itu. Dengan demikian salah satu sisi 217
  • 218. perjuangan keagamaan. Dalam hubungan ini relevan apabila Michael Adas menyebut Diponegoro sebagai Prophets of Rebbelion (Nabi Pemberontakan). Dengan demikian perang Diponegoro dapat dipandang sebagai perang yang memiliki dimensi banyak dan berskala nasional. Karena itu corak peperangan cenderung bersifat total, mencakup keseluruhan hakekat kehidupan dan daerah dukung luas, serta pengaruh yang jauh. Gerakan peperangan Diponegoro memang bersifat tradisional dan konservatif karena tidak dapat lepas dari situasi jamannya, sehingga tidak mampu menghadapi pihak lawan yang telah lebih maju. Hal ini merupaka salah satu ciri dari kelemahan corak perjuangan dari masa tradisional. 4. Pangeran Diponegoro: Kepemimpinan dan Kepahlawanan Penyorotan kepemimpinan dan kepahlawanan tokoh Diponegoro pada dasarnya adalah penyorotan tentang aktualisasi tokoh sejarah dalam realita kahidupan pada masa lampaunya. Kepemimpinan dan kepahlawanan pada dasarnya adalah suatu bentuk kualitas kepribadian individu yang memiliki makna dalam hubungan kehidupan kolektif. Sebagai bagian dari kualitas diri, pelaku sejarah kepemimpinan merupakan ekspresi simbolis dari aktualisasi respons integratif terhadap tantangan lingkungan kehidupan pada jamannya. Ideologi, perspektif dan orientasi pemikiran yang mendasari sang pelaku sejarah diperoleh dari hasil proses interaksi sosial di lingkungan jamannya. Kelahiran kepemimpinan dan kepahlawanan dengan demikian lekat dengan lingkungan dan kondisi struktural dan kultural masyarakat dan jamannya. Unsur-unsur kepribadian yang sarwa terkemuka, utama, dan bagus (Primacy, Primus, Elite), sarwa sadar dan memiliki tanggung jawab sosial tinggi serta berjiwa besar dan memiliki daya nalar yang jauh adalah unsur-unsur kepribadian yang mendasari terbentuknya orang terkemuka, pemimpin atau orang besar. Menurut Oswald Spengler “orang besar” (the great men) atau pahlawan (hero) adlah “jiwa jamannya” (the spirit of his time) atau “sukma kebudayaannya” (the soul of his culture). Maksudnya tokoh “orang besar” dan “pahlawan” tidak lain adlah “jati diri”, “jiwa” atau “inti” dari masyarakatnya, kebudayaan dan jaman yang menjadi tempat sang pahlawan dan pemimpin dilahirkan dan berkarya. 218
  • 219. Kelahiran pahlawan dan pemimpin tidak dengan sendirinya atau semata-mata atas pilihannya sendiri. Akan tetapi dalam batas-batas tertentu kelahiran kepemimpinan dan kepahlawananjuga ditentukan oleh tuntutan dan keharusan (necessity) dari masyarakat, kebudayaan dan jamannya. Kebutuhan jaman (needs of the period) yang mengharuskan kelahiran kepemimpinan atau kepahlawanan dapat berbeda-beda, baik sifat maupun bentuknya, yaitu metafisikal (metaphysical), ideal, kultural, politik dan ekonomis. Demikian jenis-jenis, apabila meminjam tipologi Weber maka akan dapat dibedakan antara tipe tradisional, kharismatis dan yang legal-rasional. Dari keterangan di atas, maka dapat dikemukakan, bahwa tuntutan masyarakat dan jamannya telah menempatkan Diponegoro sebagai tokoh “pemimpin”, “pahlawan” dan “orang besar” pada jamannya. Sesuai dengan kedudukan Diponegoro telah memainkan peranan sebagai “anak jaman”, “juru bicara” dan “pejuang” masyarakat dan kebudayaannya untuk membela kemerdekaan, kedaulatan, keadilan, kepribadian, kehidupan dan agama. Sebagai anak jamannya ia telah mengintegrasikan dirinya dengan tuntutan masyarakatnya. Diponegoro telah mampu menghadapi lingkungan masyarakat pada jamannya secara kritis dan mampu menginterpretasikan situasi jamannya secara tepat, serta mampu mengaktualisasikan gagasan dan pikirannya dalam bentuk perbuatan dan aksi-aksi perjuangannya. Dengan kata lain Diponegoro telah berpikir, berbuat, dan berkorban. Apabila disimak hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk perjuangan yang diyakininya. Akhirnya yang dihabiskan dalam pembuangan menegaskan Diponegoro merupakan pemimpin dan pahlawan sejati. Inti kepemimpinan Diponegoro pada dasarnya sejajar dengan hakekat perjuangannya. Pertama, mengutamakan kemerdekaan dan kebebasan, tercermin dari corak perjuangannya yang bercorak anti kolonial dan anti keraton. Kedua, mengutamakan kejujuran, tercermin dari sifat perjuangnnya yang bersifat anti kebathilan dan kejahatan dilingkungan keraton. Ketiga, mengutamakan kemandiriandan percaya kepada diri sendiri, yang tercermin dari sikap hidupnya yang melapaskan diri dari ikatan istana dan tinggal di luar keraton. Keempat, sikap merakyat dan melindungi yang lemah, tercermin dari kediamannya yang ada di tengah-tengah rakyat biasa dan juga berjuang untuk pembebasan penderitaan rakyat. Kelima, sikap berani dan memiliki pendirian yang teguh. 219
  • 220. Keenam, sikap hidup dan perjuangannya yang bersifat religius. Ketujuh, berakar kepada kebudayaan masyarakatnya. Secara simbolis semangat dan jiwa kepemimpinan Diponegoro pada dasarnya juga dapat dilacak dari makna gelar-gelar yang dipakai selama peperangan. Beberapa gelar yang penting antara lain sebagai berikut. Pertama, gelar Diponegoro yang berbunyi : “Sultan Ngabdulkamid Erucakro Sayidin Panotogomo Kalifat Rosulullah SAW”). Kedua, “Sultan Ngabdulkamid Erucakro Amirulmukminina Kalifat Rosulullah Hamengkubuwono Senopati Ingalaga Sabilullah Ing Tanah Jawa”. Yang pertama dapat ditafsirkan bahwa Sultan Ngabdulkamid adalah Ratu Adil (Erucakra), pemuka dan pembina Agama, dan Kalifat utusan Allah. Yang kedua kira-kira berarti bahwa Sultan Ngabdulkamid, adalah Ratu Adil, pemmpin kaum mukmin, khalifat dari utusan Allah, Hamengkubuwono, Panglima Perang Sabil di Jawa. Dengan demikian tersirat adanya citra kepemimpinan yang berorientasi kepada keadilan, kesalehan, ketakwaan, bersikap seperti khalifat, berwibawa, perang di jalan Allah demi kebenaran. 5. Penutup Pangeran Aryo Diponegoro (1785-1855) adalah seorang tokoh pemimpin, pejuang dan pahlawan dalam perang Jawa (1825-1830). Ia dilahirkan sebagai seorang bangsawan keraton Yogyakarta, yaitu putera tertua Sultan Hamengkubuwono III, dan seorang muslim dan sekaligus juga seorang Jawa. Diponegoro memiliki pengalaman pribadi yang dalam, baik dalam pengalaman keagamaan maupun kehidupan, yang mungkin mendasari sikapnya yang kritis terhadap lingkungan sekitarnya dan jamannya. Proses dialog antara dirinya dengan lingkungan sosial dan kulturnya melahirkan kesadaran dan kearifan pribadinya dalam menghadapi perubahan-perubahan yang sedang terjadi di sekitarnya. Penetrasi kekuasaan Kolonial dan dampaknya terhadap kemerosotan sosial dan kultural masyarakatnya ditanggapi secara positif dan integratif. Ia berani menentang arus besar yang sedang melanda dalam daerah Indonesia, dengan melancarkan protes, penentangan dan peperangan yang harus ditebusnya dengan segala pengorbanan jiwa dan raganya. Sikap dan perbuatannya yang demikian itu hanyalah ad pada seorang yang berjiwa besar dan berjiwa pahlawan. Keputusannya untuk 220
  • 221. mengobarkan peperangan yang cukup memakan waktu hanyalah mungkin terjadi pada orang yang memiliki jiwa pemimpin yaitu berani dan bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dipikirkan dan dikatakannya. Karena sikap dan perbuatannya yang demikian itulah Diponegoro memiliki tempat penting dalam masyarakatnya. Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa perang Diponegoro adalah perang melawan arus besar pemerintahan kolonialis Belanda, yaitu musuh dari semua rakyat di wilayah Indonesia. Perang Diponegoro memiliki dimensi nasional, di atas dimensi lokal. Demikian juga tokoh Diponegoro memiliki dimensi nasional, di samping tokoh yang memiliki dimensi lokal. Dalam proses sejarah pembentukan nasion Indonesia, perang Diponegoro memiliki tempat sebagai salah satu unsur dinamis dari masyarakat Indonesia. Mulai kepemimpinan dan kepahlawanan Diponegoro masih relevan untuk dipakai secara pragmatis dalam pembinaan kesadaran nasional, cinta tanah air dan dalam pembinaan sosok kepemimpinan di masa datang. @@@ DAFTAR BACAAN Adas, Michael, Prophets of Rebellion, Millenarian Protest movements against the European Colonial Order. Cambridge, London etc.: cambridge University Press, 1987. Carey, P.B.R.,”Javanese Histories of Diponegoro: The Buku Kedung Kebo, Its Authorship and Histirical Importance”. BKI, 130 (1874), hlm. 259-288. Febricious, Johan, Diponegoro (De Java-Oorlog van 1825 tot 1830. den Haag: Leopold, 1976. Hagemen, J., Geschiedenis van den Oorlog van 1825 tot 1830. Batavia, 1856. Kemp, P.H. van der, “Diponegoro, een geschiedkundig Hamlet Type”, BKI, XLVI (1896). Halm. 201. 221
  • 222. Louw, P.J.F., dan E.S. de Klerck, De Java Oorlog van 1825-1830. 6 jilid, s’Hage: M. Nijhoff, 1889. Rickles, M.C., “ Diponegoro’s Early Inspirational Exsperience”. BKI, 130 (1974),hlm, 227-258. Turner, Jonathan H., The Struckture Of Sociological Theory. Georgetown, Ontario; Irwin-Dorsey Ltd., 1978. __________________________________________________________ Makalah disusun dan disajikan oleh DR. Djoko Surjo dari Jurusan Sejarah Fakultas sastra Universitas Gajah Mada dalam Seminar Sehari Perang Diponegoro di Universitas Diponegoro, 20 Februari 1990 4. KONFLIK-KONFLIK YANG MENDAHULUI DAN MEMARANGKAN PERANG DIPONEGORO Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan memahami lebih dalam peristiwa meledak dan berkobarnya perang Diponegoro yang oleh Belanda disebut “De Java 222
  • 223. Oorlog”, artinya “perang Jawa”, maka kita perlu mengetahui pangkal dan awal mula konflik antara VOC (Belanda) dan kerajaan Mataram yang merdeka, berdaulat dan begitu jaya serta besar kekuasaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) dapat sebegitu merosot kekuasaannya, pengaruh wibawanya menjadi sebuah atau beberapa buah kerajaan kecil yang hanya dapat menari mengikuti irama genderang VOC (Belanda). Kerajaan Mataram yang pada abad ke XVII begitu jaya, berkuasa, ditakuti dan disegani baik oleh kawan maupun lawan, pada abad ke XIX sudah menjadi kerajaan yang terpecah-belah, hilang kemerdekaan dan kedaulatannya serta sangat bergantung kepada Belanda. Pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma menduduki tahta kerajaan Mataram, kerajaan Mataram adalah kerajaan Jawa yang terbesar sesudah kerajaan Majapahit. Wilayah kekuasaan dan pengaruhnya meliputi seluruh pulau Jawa, kecuali kerajaan Banten dan Batavia (Jakarta) yang pada waktu itu diduduki dan dikuasai oleh VOC (Belanda). Sultan Agung Hanyakrakusuma berusaha mewujudkan cita-cita dan usaha eyangnya (Panembahan Senopati), yakni mempersatukan seluruh pulau Jawa dibawah kekuasaanya. Cita-cita Sultan Agung Hanyakrakusuma itu jelas ditentang dan dihalang-halangi oleh VOC (Belanda). Oleh karena itu maka Batavia yang diduduki oleh VOC (Belanda) harus direbut dan dikuasai. Sampai dua kali tentara Mataram menyerang Batavia, yakni pada tahun 1628 dan pada tahun 1629. sungguhpun memiliki angkatan darat yang dahsyat dengan prajurit-prajurit yang gagah berani serta sangat berpengalaman di pelbagai medan pertempuran, namun Sultan Agung Hanyakrakusuma tidak berhasil merebut dan menguasai Batavia dari tangan VOC (Belanda). Sungguhpun tidak berhasil merebut dan menguasai Batavia, namun sebaliknya selama Sultan Agung Hanyakrakusuma memerintah kerajaan Mataram, selama itu pula VOC (Balanda) tidak berani menginjakkan telapak kaki kekuasannya di bumi Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya. Selain di pulau Jawa, Kerajaan Mataram juga mempunyai beberapa wilayah kekuasaan di pulau Kalimantan bagian Selatan. Setelah dua kali menaklukkan Batavia yang diduduki oleh VOC (Belanda), maka sejak tahun 1630 Sultan Agung Hanyakrakusuma mencurahkan perhatiannya kepada pembangunan kerajaan 223
  • 224. Mataram. Dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma kerajaan Mataram menjadi sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera. Hal ini dapat dilihat serta diukur dari kemajuan kebudayaan, kesenian dan kesusastraan yang berkembang. Hanya di negeri yang makmur dan sejahtera, hanya di negeri yang murah sandang serta murah pangan, kebudayaan, kesenian dan kesusasteraan dapat maju dan berkembang dengan baik. Di samping sastra Gending, yakni buku filsafat yang dikatakan ciptaan Sultan Agung Hanyakrakusuma sendiri, buku-buku sastra yang lain seperti Nitisruti, Nitisastra, Astabrata dan ramayana Kakawin dan lain-lainnya sangat digemari dan banyak di gemari dan banyak dibaca. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma banyak perubahan dan pambaharuan yang dilakukan, antara lain : Perayaan yang dikenal sebagai sebagai “gerebeg” disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi Muhammad saw. Maka dikenal nama “Gerebeg Poso” (Puasa) dan “Gerebeg Mulud”. Gamelan sekaten yang hanya dibunyikan pada Gerebeg Mulud atas kehendak Sultan Agung Hanyakrakusuma dipukul di halamam Masjid Besar. Hitungan tahun Saka yang berdasarkan perjalanan matahari yang berbeda dengan tahun Hijriah yang berdasarkan peredaran bulan pada tahun 163 atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusuma tidak lagi ditambah dengan hitungan peredaran bulan seperti atau sesuai dengan tahun Hijriah. Banyak lagi perubahan dan pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan pada masa pemerinthan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Semuanya itu merupakan indikatorindikator bahwa pad masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya, makmur dan sejahtera. II Sultan Agung Hanykrakusuma wafat pad tahun 1645. Baginda digantikan oleh putera baginda yang bergelar Sultan Amangkurat I. Sultan Amangkurat I inilah yang mengadakan perjanjian persahabatan dengan VOC (Belanda). Di dalam perjanjian itu VOC (Belanda) dan kerajaan Mataram berjanji akan saling membantu jikalau salah satu di antara mereka ada yang tertimpa kesukaran. TINDAKAN INI ADALAH SUATU BLUNDER, SUATU KESALAHAN BESAR. 224
  • 225. Tindakan ini adalah tindakan politik yang sangat besar pengaruh dan akibatnya di dalam sejarah Indonesia dan di dalam sejarah Kerajaan Mataram khususnya. Dengan perjanjian itu terbukalah pintu yang selebar-lebarnya dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi VOC (Belanda) untuk mengembangkan sayap kekuasaannya dan memperluas pengaruhnya di pulau Jawa khususnya dan di Indonesia umumnya. Dengan dalih mematuhi perjanjian tahun 1646 itulah VOC (Belanda) dengan mudah “sebagai kawan yang baik” mencampuri urusan dalam negeri kerajaan Mataram. Dan hal ini kemudian memang dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh VOC (Belanda). Marilah kita coba mengkaji pengaruh dan akibat buruk BLUNDER yang dilakukan oleh Amangkurat I dengan mengadakan perjanjian persahabatan dengan VOC (Belanda) pada tahun 1646 itu : I. Pada tahun 1674 Trunajaya, seorang Pangeran Madura mengadakan pemberontakan terhadp kekuasaan Mataram. Trunajaya dibantu oleh orang Makasar di bawah pimpinan Karaeng Galesong. Pasukan-pasukan pemberontak berhasil menduduki Plered yang pada waktu itu menjadi ibu kota kerajaan Mataram. Plered terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta sekarang. Pada tanggal 2 Juli 1677, Sultan Amangkurat I lari menyelamatkan diri. Baginda bermaksud hendak meminta bantuan kepada VOC Belanda yang telah menjadi sekutunya. Akan tetapi di dalam perjalanan baginda jatuh sakit, lalu wafat. Baginda dimakamkan di Tegalwangi atau Tegalarum, beberapa kilometer di sebelah selatan kota Tegal. Baginda digantikan oleh putera baginda yang kemudian bergelar Amangkurat II. VOC (Belanda) membantu Amangkurat II dan berhasil memadamkan pemberontakan Trunajaya. Bantuan VOC (Belanda) itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Sebagai imbalan jasa atas bantuan yang telah diberikan VOC (Belanda) itu VOC Belanda menerima : 1. Daerah Krawang, sebagian daerah Priangan dan daerah Semarang. 2. Pelabuhan-pelabuhan di pantai utara dikuasai oleh VOC (Belanda). 3. Ekspor beras dan hasil bumi yang lainnya dan impor barang-barang dari luar serta seluruh perdagangan melalui lautan jatuh ke tangan VOC (Belanda) Dengan demikian, maka kekuasaan dan pengaruh kerajaan Mataram mulai dikurangi dan jatuh ke tangan VOC (Belanda). 225
  • 226. II. Pada tahun 1702 Sultan Amangkurat II wafat. Baginda digantikan oleh putera baginda yang bergelar Amangkurat III alias Sunan Mas bersekutu dengan Untung Suropati yang menjadi musuh besar VOC (Belanda). Kemudian VOC (Belanda) membantu pangeran Puger (paman Sunan Mas) yang berselisih dengan Sunan Mas. Dengan bantuan VOC (Belanda) Pangeran Puger dapat menaiki tahta kerajaan Mataram dan bergelar Susuhunan Paku Buwono I. Kali inipun bantuan VOC (Belanda) yang licik tidak diberikan dengan cuma-cuma. Kali inipun kerajaan Mataram harus mengurangi lagi pengaruh dan kekuasaannya, yakni : 1. Daerah Priangan, Cirebon dan Madura bagian timur jatuh ke tangan VOC (Belanda) 2. Raja bebas dari hutang-hutang Raja yang terdahulu selama VOC (Belanda) memegang monopoli perdagangan di Mataram. 3. Di ibukota Mataram (Kartasura) VOC atau Belanda menempatkan sepasukan tentaranya. Untung Surapati akhirnya tewas dan Sunan Mas dapat di tawan, kemudian dibuang dan diasingkan ke Ceylon (Srilangka). Pada tahun 1719 Sunan Paku Buwono I wafat. Baginda diganti oleh putera baginda yang kemudian bergelar Sultan Amangkurat IV (1719 – 1726). Di dalam masa pemerintahan Sultan Amangkurat IV ini suasana di dalam kerajaan Mataram makin bertambah keruh. Pada masa itu Pangeran Arya Mataram, mengadakan pemberontakan. Beliau-beliau menentang VOC (Belanda) yang mulai banyak mencampuri urusan dalam negeri kerajaan Mataram. Pada 1723 pemberontakan ini berakhir. III. Pada tahun 1726 Sultan Amangkurat IV wafat. Baginda digantikan oleh putera baginda yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwono II inilah terjadi peristiwa yang di dalam Sejarah Indonesia terkenal sebagai “Pembantaian Orang-orang Cina” atau di dalam bahasa Belanda disebut “Chinezen Moord”. Pada tanggal 10 Oktober 1740 orang-orang Belanda di bawah pemerintahan Gubernur Jendral Andrian Valckenier (1737-1741) melancarkan aksi pembantaian terhadp orang-orang Cina di Batavia (Jakarta). Maka orang-orang Cina yang banyak jumlahnya di Jakarta, bahkan diseluruh pulau Jawa bergolak. Di mana-mana terjadi perlawanan terhadap VOC (Belanda) : di daerah-daerah Semarang, Banyumas, Cirebon. Demikian pula di ibu 226
  • 227. kota Mataram, yakni di Kartasuraa. Tangsi Belanda di Kartasura diserang dan pemimpin pasukan-pasukan Belanda, yakni Van Velsen mati terbunuh. Karena Sunan Paku Buwono II loyal terhadap VOC (Belanda), maka kaum pelawan dan orangorang yang benci kepada Belanda mengangkat Raden Mas Garendi (cucu Sunan Mas yang dibuang oleh Belanda ke Ceylon) sebagai Susuhunan. Beliau ini dikenal dalam sejarah sebagai Sunan Kuning. Mungkin gelar Sunan Kuning itu ada kaitannya dengan pemberontakan orang-orang Cina yang dikenal pula sebagai bangsa kulit kuning. Pada tanggal 30 Juni 1742 kaum pemberontak yang tidak senang terhadap sikap Sunan Paku Buwono II yang loyal terhadap VOC (Belanda) menyerang Kartasura dan menyerbu kraton. Paku Buwono II dapat lolos dan menyingkir ke Ponorogo. Kali inipun VOC (Belanda) datang membantu sebagai “kawan yang baik”. Pada tanggal 24 Desember 1742 Sunan Paku Buwono II dapat kembali menduduki tahta kerajaannya dan memasuki kratonnya. Kali inipun “Belanda yang baik hati” menuntut imbalan atas jasa-jasanya : 1. Seluruh pantai utara pulau Jawa jatuh ke tangan VOC (Belanda) 2. Seluruh daerah di sebelah timur Pasuruhan, selanjutnya Surabaya, Madura, Rembang dan Jepara tidak lagi menjadi daerah takluk kerajaan Mataram. 3. Patih kerajaan Mataram, yakni pegawai tertinggi yang menjalankan seharihari hanya boleh diangkat dengan persetujuan VOC (Belanda). 4. Biaya tangsi Belanda ditanggung oleh Susuhunan. 5. Sebagai pengganti daerah-daerah dan hak-hak Sunan yang hilang, Sunan mendapat bayaran berupa uang. Dengan demikian kekuasaan dan pengaruh serta kewibawaan kerajaan Mataram makin merosot dan Sunan makin bergantung kepada VOC (Belanda). Sunan Paku Bowono memindahkan kratonnya ke Solo atau Surakarta. IV. Keadan kerajaan Mataram makin suram. Mas Said yang dikenal sebagai Sambernyawa masih tetap mengadakan perlawanan. Pada akhir pemerintahan Paku Buwono II terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi, yakni saudara Sunan Paku Buwono II sendiri. Sebabnya Sunan Paku Buwowo II mengingkari janjinya. 227
  • 228. Pada tahun 1749 Sunan paku Buwono II wafat. Baginda digantikan oleh putera baginda yang kemudian bergelar paku Buwono III. Perlawanan Pangeran Mangkubumi berakhir dengan diadakannya pada tanggal 13 Pebruari 1755 sebuah perjajian di sebuah desa yang dikenal dengan nama Giyanti. Perjanjian itu disebut perjajian Giyanti. Perjanjian ini sangat terkenal karena membagi dua kerajaan Mataram yang sudah susut menjadi dua bagian, yakni: 1. Kerajaan Yogyakarta yang diperintah oleh Sultan Hamengku Buwono I. 2. Kerajaan Surakarta yang diperintah oleh Susuhunan Paku Buwono III. Dengan demikian maka Panngeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Hamengku Buwono I adalah sultan Yogyakarta yang pertama. Mas Said alias Sambernyawa yang masih meneruskan perlawanannya, pada tanggal 24 Pebruari 1757 berdamai dengan Susuhunan Paku Buwono III. Atas usaha Gubernur Hartingh, pada tanggal 17 Maret 1757, di Salatiga diadakan persetujuan antara Susuhunan Paku Buwono III dan Sambernyawa alias Mas Said. Di dalam persetujuan itu disepakati, bahwa Mas Said mendapat sebagian wilayah Susuhunan dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara dan dengan singkat beliau dikenal pula sebagai Mangkunegara I. Kemudian, yakni pada zaman pendudukan Inggris Kesultanan Yogyakarta juga terbagi menjadi dua bagian, yakni; Yogyakarta dan Paku Alaman. Dengan demikian, maka campur tangan kaum penjajah bangsa asing (Belanda) kerajaan Mataram yang pada zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma begitu jaya dan berkuasa, akhirnya setelah jauh susut kekuasaan dan pengaruh serta wibawanya terpecah belah lagi manjadi empat buah kerajaan kecil yang sangat bergantung kepada kaum penjajah bangsa asing (Belanda), yakni : 1. Surakarta yang diperintah oleh keturunan Paku Buwono 2. Mangkunagaran yang diperintah oleh keturunan Mangkunagara 3. Yogyakarta yang diperintah oleh keturunan Hamengku Buwono 4. Paku Alaman yang diperintah oleh keturunan Paku Alam. Kita telah melihat bahwa di kerajaan Mataram sering terjadi “Perang Mahkota” atau “Perang Suksesi” yang amat banyak menimbulkan kakacauan dan kekaruhan yang sangat merugikan kerajan Mataram sendiri. Kerajaan yang begitu jaya dan berkuasa, 228
  • 229. makin lama makin susut kekuasaannya, pengaruh dan wibawanya, karena kerajaan Mataram sendiri pada tahun 1646 yang mulai membuka pintu serta memberi kesempatan kepada VOC (Belanda) untuk mencampuri urusan dalam negeri kerajaan Mataram. Itulah tindakan politik yang merupakan blunder (kesalahan besar) yang telah dilakukan oleh Sultan Amangkurat I dengan mengadakan perjanjian persahabatan dengan VOC (Belanda). Dengan siasat yang licik, yakni dengan memecah belah dan mengadu domba serta “sebagai kawan yang baik” memberikan bantuan kepada pihak dan saat yang sudah diperhitungkan, Belanda berhasil memperluas kekuasan dan memperbesar pengaruhnya. Hal ini sangat dipermudah dan diperbesar kemungkinannya oleh sistem poligami yang dijalankan serta dilazimkan oleh raja-raja dari kaum bangsawan Mataram. Seseorang sering mempunyai lebih dari satu orang permaisuri atau padmi selain dari itu Raja dan bahkan juga kaum bangsawan lainnya mempunyai lagi selir yang sering amat banyak jumlahnya. Pada tiap pergantian Raja wafat atau (turun tahta) sering terjadi pertikaian, permusuhan , bahkan peperangan antara golongan-golongan (putera-putera atau saudara-saudara Raja) yang ingin atau merasa dirinya berhak untuk menggantikan Raja yang wafat atau Raja yang turun tahta. Maka di dalam kraton terjadilah intrig, helatmenghelat, iri-mengiri, cemburu-mencemburui, curiga-mencurigai, bahkan bunuhmembunuh antara kelompok-kelompok yang bersaingan itu. Tahta kerajaan menjadi rebutan : Maka terjadilah apa yang disebut “Perang Mahkota” atau “Perang Suksesi” antara anak-anak Raja atau saudara-saudara raja yang berambisi untuk menduduki tahta kerajaan yang kosong. Hal inilah yang mempermudah kaum penjajah untuk mempergunakan dengan sebaik-baiknya politik “devide et impera”nya. Demikianlah yang terjadi pada kerajaan Mataram : namun keadaan di dalam kraton tidaklah menjadi lebih baik. Keadan keruh berjalan terus. Di dalam kraton-kraton itu selalu terjadi intrig, persaingan, helatmenghelat, iri-mengiri, cemburu-mencemburui serta curiga-mencurigai. Hal ini diperbesar dan lebih dikobarkan lagi oleh kaum penjajah yang memang sangat mahir mempergunakan senjata memecah belah dan mengadu domba bangsa Indonesia yang ternyata memang senang dipecah-belah dan diadu-domba. 229
  • 230. III Perang Diponegoro yang oleh Belanda disebut “De Java Oorlog” yang berlangsung dengan dahsyat selama lima tahun (dari tahun 1825 s/d 1830) sangat erat hubungannya dengan suasana keruh dan suram di dalam kraton Yogyakarta, terutama pada zaman pertentangan antara Sultan Hamengku Buwono II atau Sultan Sepuh dan pengikut-pengikut beliau di satu pihak dan Sultan Hamengku Buwono III atau Sultan Raja di lain pihak. Sultan Hamengku Buwono I yang dihormati serta dimuliakan oleh orang-orang Yogyakarta sebagai seorang pendiri dan pembangun kerajaan Yogyakarta, wafat pada tanggal 24 Maret 1792 dalam usia lebih dari 83 tahun. Baginda digantikan oleh putera baginda yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono II. Baginda dinobatkan pada tanggal 2 April 1792. Dalam bulan Januari 1807 Mr. Herman Daendels diangkat sebagai Gubernur Jendral. Baru pada tanggal 14 Januari 1808, jadi setahun kemudian, Daendels dapat menjalankan kewajibannya. Gubernur Jendral Daendels dikenal sebagai seorang yang keras dan sering mempergunakan tangan besi untuk memaksakan keinginankeinginannya. Jalan raya yang membujur seluruh pulau Jawa, yakni dari Anyer di sebelah barat sampai ke Banyuwangi di sebelah timur terkenal sebagai “Jalan Raya Daendels”. Jalan raya itu dibuat atas perintah Daendels dalam usaha memperkuat pertahanan Belanda terhadap kemungkinan serangan Inggris. Pada waktu itu kerajaan Belanda yang diperintah oleh Lodewijk Napoleon sedang bermusuhan dengan kerajaan Inggris. Lodewijk Napoleon adalah saudara Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis yang terkenal. Tindakan Daendels di daerah kesultanan Yogyakarta menimbulkan konflik antara Daendels (Belanda) dan Sultan Hamengku Buwono II (kesultanan Yogyakarta).Daendels menetapkan peraturan tata tertib dan tata cara baru. Sebelum peraturan yang ditetapkan oleh Daendels itu keluar, Residen Yogyakarta (demikian pula Residen Surakarta) harus menunjukkan penghormatannya kepada Raja (Sultan Yogyakarta dan Susuhunan Surakarta). Pada waktu berkunjung ke Kraton, para Residen itu tidak boleh naik kereta, akan tetapi harus berjalan kaki melalui alon-alon utara. Para Residen itutidak boleh memakai payung. Di dalam upacara kunjungan resmi para Residen itu harus berdiri dan 230
  • 231. mempersembahkan sirih atau minuman kepada Raja yang tinggal saja tetap duduk di tempat nya. Para Residen itu juga harus duduk pada kursi atau tempat duduk Raja. Menurut pandangan Daendels peraturan itu sangat merendahkan derajat dan martabat kekuasaan Belanda. Oleh karena itu, maka Daendels pad tanggal 28 Juli 1808 menetapkan peraturan yang baru. Di kerajaan Surakarta dan Yogyakarta para Residen diganti gelarnya menjadi “Minister” sebagai pembesar yang mewakili pemerintahan Belanda. Jikalau Minister atau Residen berkunjung kepada raja (Sultan Yogyakarta atau Susuhunan Surakarta) mereka tidak lagi berjalan kaki melalui alun-alun utara, akan tetapi mereka itu datang berkereta dan dikawal oleh seorang komandan dengan 12 (dua belas) orang dragonders atau prajurit berkuda. Jikalau wakil pemerintahan Belanda itu tiba dan turun dari kereta maka ia dibukakan pintu dan harus dipayungi. Minister atau Residen itu tidak boleh lagi mempersembahkan sirih atau minuman kepada Raja yang hanya tinggal tetap saja duduk ditempatnya. Ada orang yang khusus berselang-seling mempersembahkan minuman kepada Raja dan kepada wakil pemerintah Belanda itu. Tempat duduk Minister atau Residen sebagai wakil pemerintah Belanda tidak boleh lebih rendah dari pada tempat duduk Raja. Peraturan yang dibuat Daendels itu menaikkan gengsi wakil pemerintah Belanda, akan tetapi mengurangi lagi harkat dan derajat kemuliaan Raja. Hal ini jelas menimbulkan kekecewaan bagi orang-orang kraton. Belanda mulai makin banyak mencampuri urusan dalam negeri kerajaan. Maka Sultan Hamengku Buwono II tidak setuju dengan peraturan baru yang ditetapkan oleh Gbernur Jendral Daendels itu. Sementara itu di daerah kerajaan Yogyakarta terjadi kekacauan-kekacauan. Yang dituduh menyebabkan dan menjadi biang keladi kekacauan-kekacauan itu adalah Raden Rangga Prawiradirja III, Bupati Wadana Mancanegara kerajaan Yogyakarta yang juga menjadi anak mantu Sultan Hamengku Buwono II. Selain itu Sultan Hamengku Buwono II juga memecat Patih Danureja II karena patih itu banyak membantu Belanda. Ketiga hal itulah yang menjadi pokok konflik antara Daendels (Belanda), dan Sultan Hamengku Buwono II (kerajaan Yogyakarta). Hal ini terbukti dari tuntutan-tuntutan Daendels kepada Sultan Hamengku Buwono II : 231
  • 232. 1. Mengembalikan Danurejo II pada kedudukannya semula sebagai Patih Kerajaan Yogyakarta. 2. 3. Menyerahkan Raden Rangga Prawiradirja III. Sultan Hamengku Buwono II harus menerima dan mentaati peraturan yang telah ditetapkan oleh Belanda. Akhirnya dengan tangan besi, yakni dengan sebuah tentara ekspedisi Daendels memaksa Sultan Hamengku Buwono II dipaksa turun tahta dari kerajaan dan dalam bulan Januari 1811 digantikan oleh putera baginda yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono III. Akan tetapi Daendels memperbolehkan Sultan Hamengku Buwono II alias Sultan Sepuh tetap tinggal di Kraton. Jadi dapat kita bayangkan betapa keruhnya suasana di dalam kraton Yogyakartayang diciptakan oleh Gubernur Jendral Daendels : 1. Di dalam kraton ada seorang bekas Raja yang dipaksa turun tahta kerajaannya. Raja ini mempunyai banyak pengikut yang setia dan simpatisan yang terdiri dari patriot-patriot Mataram/yogyakarta yang membenci orangorang dan kaum penjajah bangsa asing yang makin merajalela. Kelompok ini terkenal sebagai kelompok kesepuhan (Sultan Hamengku Buwono II dikenal pula sebagai Sultan Sepuh). 2. Ada seorang Raja, anak Raja yang tua (Sultan Sepuh) dinobatkan oleh Belanda. Baginda harus memerintah didampingi oleh Patih (Danureja II) yaang tidak disenangi, bahkan dibenci oleh Raja yang dipaksa turun dari tahtanya. Tidak heran jikalau di dalam kraton Yogyakarta terjadi kekaruhan dan kesuraman, bahkan kekacauan yang luar biasa. Maka terjadi intriges, helat-menghelat, iri-mengiri, curigamencurigai. Yang satu berusaha menjatuhkandan menyingkirkan, bahkan mencelakakan saingannya dan jikalau perlu dengan cara-cara yang melanggar kesusilaan dan peri kemanusiaan. Hal ini bukan tidak mungkin pula dengan sengaja diciptakan oleh Belanda yang memang senang dan sangat mahir mempergunakan senjata adu domba dan devide et imperanya. 232
  • 233. Selain dari itu Daendels banyak pula merugikan kerajaan Yogyakarta. Kerajaan Yogyakarta diharuskan menanggungbiaya tentara ekspedisi yang dikerahkan oleh Daendels untuk memaksa Sultan Hamengku Buwono II menuruti keinginankeinginannya. Kerajaan Yogyakarta harus menyerahkan beberapa daerahnya kepda Belanda, antara lain sebagian daerah Kedu, daerah Jipang (Bojonegoro), daerah Japan (Mojokerto0 dan lain-lainnya. Suasana keruh di dalam kraton Yogyakarta ini dilihat, didengar, dialami, dihayati, serta diketahui betul-betul oleh Pangeran Diponegoro. Pada waktuitu beliau sudah dewasa. Beliau dilahirkan pada tahun 1785. Pada tanggal 16 Mei 1811 Daendels digantikan oleh J.W. Janssens sebagai Gubernur Jendral. Hanya beberapa bulan saja Jan Willem Janssens menjalankan tugasnya, karena tidak lama kemudian tentara Inggris menyerang dan menguasi pulau Jawa serta seluruh Indonesia. Janssens menyerah kepada Inggris di Tuntang Jawa Tengah, pada tanggal 18 September 1811. Inggris menjajah Indonesia dari tahun 1811 s/d tahun 1816. Kesempatan yang baik itu digunakan oleh Sultan Sepuh (HB II) untuk merebut kembali tahta kerajaan Yogyakarta. Sungguhpun sudah diletakkan segala peraturan yang telah dibuat dan diputuskan oleh pemerintah Belanda tetap berlaku dan diakui oleh pemerintah Inggris, namun Sultan Sepuh (HB II) tetap menjadi sultan dan menduduki tahta kerajaan Yogyakarta, sedangkan Sultan Raja (HB III) kembali menjadi Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Putera Mahkota. Sultan Sepuh (HB II) mengangkat Sindunegara menjadi Patih kerajaan Yogyakarta. Kemudian Raffles kembali ke Batavia (Jakarta). Suasna di Yogyakarta bertambah keruh. Setelah merasa dirinya kuat, maka Sultan Sepuh (HB II) mengadakan pembersihan. Orang-orang yang bekerjasama dengan Sultan Raja (HB III) pada masa Daendels dipecat, bahkan ditangkap. Tidak heran jikalau Sultan Raja (HB III) sendiri merasa gelisah. Maka terjadilah persaingan bahkan pertentangan antara golongan kesepuhan dan pengikut-pengikut Sultan Raja (HB III). Maka peristiwa yang terjadi di kerajaan Banten pada akhir abad ke 17 (1680), yakni pertentangan bahkan permusuhan antara Sultan Ageng yang memusuhi Belanda dan Sultan Haji (Anak Sultan Ageng Tirtayasa berulang di kraton Yogyakarta. 233
  • 234. Kaum kesepuhan terkenal sangat senang, bahkan benci kepada orang-orang Barat (inggris dan Belanda) yang terlalu banyak mencampuri urusan dalam negeri kerajaan Yogyakarta. Di dalam hal ini Pangeran Diponegoro tergolong kaum kesepuhan. Pangeran Diponegoro juga sangat membenci kaum penjajah dan pengaruh besar asing yang merusak kehidupan bangsanya. Namun sebagai seorang anak tertua Pangeran Diponegoro banyak dan sering memberikan buah pikiran – buah pikiran yang berguna kepada ayah beliau (Sultan Raja alias Sultan HB. III) Ketika Rafflesia meminta agar supaya perjanjian-perjanjian yang telah dibuat dan disepakati dengan pemerintahan Belanda, terutama yang mengenai daerah-daerah kerajaan Yogyakarta yang diserahkan kepada “ Gupernemen” harus ditaati dan Sultan Sepuh menolak, maka terjadilah konflik antara Raffles (Inggris) dan Sulatan Sepuh. Sultan Raja berpihak kepada Inggris/Raffles. Akhirnya dengan sebuah tentara ekspedisi Raffles berhasil mengalahkanSultan Sepuh (HB II) ditawan dan dibuang oleh Inggris ke Penang (Malaysia), yang kemudian setelah Inggris menyerahkan kembali kekuasaannya kepada Belanda, Sulatan Sepuh oleh Belanda dipindahkan ke Ambon (Maluku). Pada tanggal 28 Juni 1812 Sultan Raja kembali diangkat menjadi Sultan Kerajaan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Guwono III. Kali inipun Kerajaan Yogyakarta banyak menderita. Harta keyakayaan Sultan dan Kerajaan Yogyakarta banyak yang dirampas oleh prang-orang Inggris. Sultan dan Kerajaan Yogyakarta tidak lagi memungut bea (cukai pada pasar-pasar). Sultan juga melepaskan keuntungan-keuntungan dari hasil penjualan madat atau candu, sarang burung, kayu jati dan lain-lainnya. Sebagai penggantinya Sultan tiap tahun menerima sejumlah uang dari pemerintah Inggris. Sultan dan kerajaan Yogyakarta makin bergantung kepada kekuasaan pemerintah kolonial. Sultan Yogyakarta harus pula melepaskan hak-haknya atas tanah-tanah Kedu, Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan. Dalam bulan Maret tahun 1813 Pangeran Natakusuma menerima sebagaian tanah Sultan Yogyakarta dan diangkat sebagai penguasa (Raja) di tanah itu dengan gelar Paku Alam I. Dearahnya disebut Paku Alaman. Pada tanggal 3 Nopember 1814 Sultan Hamengku Buwono IV yang dikenal pula sebagai Sultan Jarot. Jadi Sultan Hamengku Buwono IV (Sultan Jarot) adalah adik seayah lain ibu pangeran Diponegoro. Pada tanggal 19 Agustus 1816 Inggris menyerahkan 234
  • 235. kekuasaannya kembali kepada Belanda. Yang diangkat oleh pemerintah Belanda menjadi Gubernur Jenderal ialah Van Der Capellen (1816 – 1826). Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van der Capellen inilah Perang Diponegoro pecah. Pada masa itu penyewaan tanah kepada orang-orang swasta, terutama kepada orang-orang Eropa (Belanda) makin merajalela. Penyewaan tanah dilakukan secara besarbesaran. Bahkan sampai-sampai Residen Yogyakarta sebagai pegawai tertinggi Belanda di Yogyakarta sendiri ikut-ikut pula menyewa tanah. Demikianlah Residen Yogyakarta yang bernama Narhuys turut menyewa tanah Merapi. Penyewaan tanah secara besarbesaran ini mempunyai aspek ekonomis, politis dan sosial- budaya yang sangat merugikan. Rakyat menjadi makin miskin dan melarat hidupnya diperas oleh Tuan tanahtuan tanah yang serakah. Kekuasaan dan pengaruh bangsa asing secara langsung terhadap rakyat yang sangat patuh makin lama makin besar. Beberapa kali Pangeran Diponegoro memperingatkan kepada kakaknya yakni Sultan Jarot (Sultan HB IV) tentang bahaya dan akibat buruk penyewa tanah yang makin meluas itu terhadap nasib kerajaan Mataram. Akan tetapi segala usaha damai Pangeran Diponegoroitu tidak berhasil. Sultan tidak dapat menghindari pengaruh kehidupan Barat. Cara hidup tuan tanah orang-orang Eropa (Belanda) yang konsumtif dan boros yang banyak yang ditiru. Pesta-pesta mabok-mabokan makin merajalela. Pada tanggal 6 Desember 1822 Sultan jarot (HB. IV) dengan sekonyong-konyong wafat dalam tamasya). Pihak lawan dan orang-orang yang tidak senang kepada Pangeran Diponegoro, terutama orang-orang Belanda, melontarkan tuduhan dan fitnahan bahwa Pangeran Diponegoro yang meracun adiknya itu (Sultan Jarot alias Sulatan Hamengku Bowono IV), karena Pangeran Diponegoro sendiri ingin menjadi Sultan Yogyakarta. Sungguh suatu tuduhan dan fitnahan yang sangat rendah, keji dan kotor. Sultan Hamengku Buwono IV digantikan oleh putera baginda yang masih kecil (lahir 25 Januari 1820) yang bernama Menol. Karena Sultan Hamengku Buwono V alias Sultan Menol masih sangat kecil (belum berusia tiga tahun), maka dibentuklah sebuah badan perwakilan yang terdiri dari empat orang, yakni : 1. Kanjeng Ratu Ageng (nenek perempuan Sultan Menol) 2. Kanjeng ratu Kencana (Ibu Sultan Menol) 3. Pangeran Mangkubumi (Putera HB II) 235
  • 236. 4. Pangeran Diponegoro. Akan tetapi kemudian Pangeran Diponegoro mengundurkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan itu. Hal ini dipergunakan lagi terutama oleh Belanda sebagai bukti, bahwa Pangeran Diponegoro sangat berambisi untuk menjadi Sultan. IV Belanda memang selalu menyabarkan fitnah dan tuduhan bahwa Pangeran Diponegorommemberontak, karena Pangeran Diponegoro sangat berambisi menjadi Raja. Hal ini sengaja dilontarkan oleh Belanda untuk merendahkan tekad dan tujuan perjuaangan Pangeran Diponegoro dan kawan-kawan beliau, tetapi sebenarnya untuk menutupi dan membenarkan tindakan-tindakan kolonialnya yang lalim dan sewenangwenang. Pemberontakan dan perlawanan rakyat yang dimpin oleh Pangeran Diponegoro dan kawan-kawan beliau itu meledak dan membakar hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak lain karena kelaliman dan kesewenang-wenangan kaum penjajah bangsa asing (Belanda) Yogyakarta adalah tanah yang amat subur bagi timbulnya perlawanan rakyat menentang kelaliman kaum penjajah bangsa asing. Di Kesultanan Yogyakarta seluruh lapisan masyarakat banyak mengalami penderitaan dan penghinaan. Golongan atasnya yang terdiri dari Raja atau Sultan atau keluarga baginda serta kaum bangsawan mengalami penghinaan danperlakuan yang menurut adat-istiadat pada waktu itu sangat menyinggung perasaan. Martabat kemuliaan dan harga diri meraka tercoreng-moreng oleh kaum penjajah bangsa asing. Rakyat makin lama makin menderita. Selain dari pada harus membayar bermacam-macam pajak, rakyat ditindas dan diperas oleh sistem pembayaran tol atau bea (cukai). Orang-orang yang lewat daerah beawan (tolgarders) membayar bea (cukai) untuk barang-barang yang mereka bawa. Karena keuntungannya sangat menarik, maka jumlah tolgarders atau beawan itu makin meningkat. Nafsu angkara murka mereka makin lama makin bergelora dan merajalela. Bahkan anak kecil yang sedang didukung atau sedang digendong oleh ibunya dianggap pula barang yang harus dikenakan bea (cukai). Kemudian para pemungut bea atau cukai sering berlaku kurang ajar dan berani menggeledahi badan wanita-wanita yang lewat. 236
  • 237. Lebih menderita lagi hidup rakyat di tanah kerajaan seperti di daerah Yogyakarta. V Pengusaha bangsa Eropa, terutama bangsa Belanda mulai merajalela. Mereka biasanya terdiri dari pensiunan militer dan keturunan petani-petani Belanda. Mereka leluasa menyewa tanah Raja dan para bangsawan. Para pemilik tanah itu lazimnya tidak hanya menjadi pemilik tanah saja, akan tetapi mereka dapat dikatakan menjadi raja-raja kecil di tanah-tanah yang dimiliki dan dikuasainya. Terlebih-lebih mereka yang menyewa tanah di daerah Kerajaan (Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta dan Paku Alaman). Mereka menguasai tanah-tanah itu beserta isinya). Meraka tidak hanya mendapatkan tanah saja, akan tetapi mereka juga mendapatkan tenaga kerja yang patuh, rajin, dan sangat murah, bahkan boleh dikatakan tenaga cuma-cuma. Dengan upah yang tidak seberapa mereka bekerja berat untuk kepentingan para tuan-tuan tanah. Penindasan dan pemerasan berjalan terus. Para pembesar kerajaan yang bertanggung jawab tidak berbuat apa-apa untuk meringankan beban rakyat. Mereka sudah sangat terpengaruh dan sangat dikuasai oleh penjajah bangsa asing. Bahkan Patih Danureja yang sangat setia dan patuh pada Belanda menambah lagi beban rakyat yang sudah sangat menderita hidupnya itu dengan bermacam-macam tindakan yang sangat merugikan rakyat. Keadaan di dalam kratonpun sangat menyedihkan , pengaruh kebudayaan dan kehidupan Barat makin merajalela. Raja dan para pembesar kraton sering mengadakan pesta-pesta dan makan-makan. Di dalam pesta-pesta dan makanmakan itu selalu dihidangkan minuman keras. Semua hal ini sangat memilukan hati Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro sering tampil membela nasib rakyat yang menderita akibat pemerasan dan perlakuan yang sewenang-wenang. Namun Belanda selalu melontarkan tuduhan dan fitnahan bahwa Pangeran Diponegoro licik, tidak dapat dipercaya serta berambisi keras untuk menjadi Sultan dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari buku tentang Pangeran Diponegoro atau “De Java Oorlog” sendiri. Perang Diponegoro bukanlah suatu peperangan yang dijalankan secara membabi buta tanpa tujuan. Perang Diponegoro bukanlah suatu peperangan yang dipimpin oleh orang-orang yang 237
  • 238. berangasan, gelap mata, orang-orang jahat yang serakah, yang berambisi menjadi Raja dan sebagainya. Perang Diponegoro terbukti didukung oleh tidak kurang dari 20 (dua puluh ) orang Pangeran, anak cucu dan saudara-saudara Sultan-sultan HB I, HB II, HB III yang merasa terpanggil untuk berjuang untuk membela panji-panji kerajaan Mataram yang makin memudar. Dalam pimpinan tertinggi kita mengetahui antara lain : 1. Paangeran Mangkubumi, putera Sultan HB II. Jadi beliau adalah paman atau mamak Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro bertindak sebagai penasihat Agung 2. Pangeran Ngabehi Jayakusuma yang lebih dikenal dengan singkatannya Pangeran Bey. Beliau adlah putera Sultan HB II (Sultan Sepuh). Beliau adalah seorang panglima Perang yang gugur dan dimakamkan di atas Singi dialiran Sungai Progo. 3. Kyai Mojo, seorang ulama terkenal dari Mojo (Solo). Beliau inilah yang memberi corak dan nafas Islam dalam perang Diponegoro. Kyai Mojo ditangkap dengan tipu muslihat oleh Belanda, lalu dibuang bersama dengan pengikut-pengikut beliau ke daerah Tondano Minahasa (Sulawesi Utara). Kyai Mojo wafat dalam pembuangan di Tondano pad tanggal 20 Desember 1849 dan dimakamkan di dekat kota Tondano, Minahasa (Sulawesi Utara). Keturunan Kyai Mojo dan pengikut-pengikut beliau berkembang biak di Sulawesi Utara dan dikenal sebagai orang-orang “Jaton” artinya orang-orang Jawa Tondano. Mereka tetap menjadi penganut agama Islam di tengah-tengah masyarakat Kristen di Sulawesi Utara. 4. Sentot Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja adalah Putera raden Rangga Prawiradirja III yang tewas dalam perlawanan menentang Gubernur Jenderal Daendels. Sentot juga wafat dalam pertempuran di Bengkulu (Sumatera) pada tanggal 17 April 1855 setalah lebih dahulu dipergunakan oleh Belanda di Sumatera Barat untuk Memadamkan perlawanan kaum Paderi. Perang Diponegoro memang didukung oleh bangsawan-bangsawan Mataram yang merasa terhina dan tersinggung harga dirinya. Perang Diponegoro didukung oleh rakyat tertindas yang membenci dan menentang penjajahan bangsa asing yang serakah dan penuh angkara murka. Meraka berjuang dengan sadar dan rela mengorbankan apa saja, bahkan nyawa mereka sekalipun, untuk mengusir kaum penjajah bangsa asing yang lalim 238
  • 239. dan sewenang-wenang. Jika kalau perang Diponegoro karena ambisi Pangeran Diponegoro saja untuk menjadi Raja, maka tidak mungkin jikalau peperangan itu dapat berlangsung dengan hebatnya sampai hampir lima tahun lamanya. Rakyat hidup melarat dan sangat menderita. Golongan atas (kaum bangsawan) pun tidak dapat dikatakan hidup makmur dan sejahtera, karena pengaruh kebudayaan dan cara hidup berat mereka hidup sangat konsumtif, suka berpesta-pora, boros dn tenggelam dalam hutang. Demikianlah keadaan di Jawa Tengah dan Jawa pada umumnya serta keadaan di Yogyakarta khususnya. Keadaan sudah sangat eksplosif dan masak untuk meledakkan peperangan melawan kaum penjajah yang lalim. Rakyat hanya menanti seorang patriot ksatria yang menyulut sumbu peperangan. Namun perang Diponegoro didahului oleh insiden-insiden yang membuat suasana makin panas. Pada pertengahan tahun 1825 atas perintah kaum penjajah Belanda Patih Danurejo menyuruh membuat dan memperlebar jalan. Patih Danureja terkenal sebagai pembesar kerajaan Yogyakarta yang sangat setia dan patuh pada kaum penjajah Belanda. Membuat dan memperlebar jalan itupun ia lakukan dengan sangat patuh atas perintah kaum penjajah Belanda. Jalan yang akan dibuat dan diperlebar itu melalui daerah Tegalreja yang menjadi milik Pangeran Diponegoro. TANPA MEMBERITAHUKAN DAN TANPA IZIN pemilik tanah itu, yakni Pangeran Diponegoro, Patih Danureja menyuruh orang-orangnya menancapkan pancang-pancangnya sebagai tanda bahwa tanah itu “akan digarap” oleh Belanda. Perbuatan itu sungguh sewenang-wenang : Apalagi karena dalam melaksanakan perbuatan yang sewenang-wenang itu ada tanah perkuburan orang-orang yang dihormati Pangeran Diponegoro yang dibongkar dengan seenaknya saja tanpa seizin dan tanpa sepengetahuan Pangeran Diponegoro. Apasaja di dunia ini memang ada batasnya: Betapapun luasnya benua, benua itu pasti ada batas atau pantainya. Demikian pula betapapun luasnya samudera, samudera itu pasti ada tepinya. Demikian pula dengan kesabaran Pangeran Diponegoro: Pangeran Diponegoro mengajukan protes yang keras. Beliau meminta agar Patih Danurejo dipecat. Akan tetapi Residen Yogyakarta yang bernama A.M. Misseart membela Danureja, karena Danureja sangat setia dan sangat patuh kepada kaum penjajah Belanda. Di sini kita melihat bahwa sejarah berulang: Sulatan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh) sangat membenci Patih Danureja II, karena patih itu sangat setia dan 239
  • 240. patuh kepada kaum penjajah Belanda (Daendels). Sekarang Pangeran Diponegoro juga tidak senang kepada patih Danureja IV, karena patih itu sangat setia dan patuh akepada kaum penjajah Belanda (Residen Smisseart). Pembesar kerajaan Yogyakarta itu lebih setia kepada kaum penjajah Belanda dan tidak memperhatikan kepentingan karajaan dan nasib rakyat yangmenderita. Keadaan makin meruncing dan panas: Setiap kali pancang-pancang ditancapkanatas perintah patih Danureja, setiap kali pula Pangeran DDIponegoro menyuruh orang-orang beliau mencabut pancang-pancang itu. Suasana makin tegang antara patih Danureja dan anak buahnya serta Belanda di satu pihak dan Pangeran Diponegoro dan anak buahnya serta pengikut-pengikut beliau di lain pihak. Kemudian, yakni pada tanggal 20 Juli 1825 pasukan-pasukan Belanda dengan sekonyong-konyong menyerang Pangeran Diponegoro di tempat kediaman beliau di Tegalreja. Serangan Belanda yang tiba-tiba itu dibalas dengan spontan dn segera oleh rakyat yang telah siap membela pemimpin mereka. Demikianlah Perang Diponegoro atau “De Java Oorlog” pecah dan berlangsung dengan sengitnya sampai lima tahun lamanya yakni dari tanggal 20 Juli 1825 sampai dengan tanggal 8 Maret 1830, yakni dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro dengan tipu muslihat yang licik dengan cara yang tidak mengenal malu pada hari itu dalam suatu perundingan di kota Magelang (Jawa Tengah ) Pangeran Diponegoro mula-mula dibuang ke kota Manado di Sulawesi Utara, yakni pada tahun 1834 Pangeran Diponegoro dipindahkan dan ditawan di Fort Rotterdam (Benteng Ujung Pandang) di kota Makassar atau Ujung Pandang di Sulawesi Selatan. Akhirnya sesudah mengalami hidup di dalam tahanan Belanda kurang lebih 25 (dua puluh lima ) tahun lamanya, maka pada tanggal 8 Januari 1855 Pangeran Diponegoro wafat dalam usia kira-kira 70 (tujuh puluh) tahun. Kewafatan Pangeran Diponegoro dikuatkan oleh sebuah proses- verbal yang ditanda tangani oleh sebuah panitia yang terdiri dari pejabat-pejabat yang kompeten, yakni : 1. Assistant Resident en Magistraat J.G. CRUDELBACH, 2. Majoor der infanteric J. LION, dan 3. Officier van fezodheid der eerste klasse F.A.M. SCHMITZ. 240
  • 241. Perang Diponegoro amat banyak membawa kerugian bagi kaum penjajah Belanda, baik berupa kerugian berupa harta benda dan keuangan yang tak ternilai harganya bagi rakyat berupa harta benda, darah dan air mata derita serta nyawa beribu-ribu rakyat yang sangat menderita akibat penjajahan bangsa asing yang lalim dan penuh angkara murka. Selama perang Diponegoro yang berlangsung lima tahun lamanya itu, tidak kurang dari 8.000 orang tentara Belanda yang menemui ajalnya. Suatu jumlah yang cukup besar menurut ukuran perang pada zaman itu. Biaya yang harus dikeluarkan oleh kaum penjajah Belanda untuk memadamkan perang Diponegoro itu kurang lebih f 20.000.000 (dua puluh juta gulden). Suatu jumlah yang tidak kecil arti dn nilainya pada masa itu. Apalagi mengingat kas dan ekonomi negeri Belanda pada saat itu sangat menyedihkan keadaannya. Perang Diponegoro betul-betul telah menggoncangkan dan hampir saja menumbangkan serta menghancurkan sendi-sendi kekuasaan penjajahan Belanda pada abad ke 19. vI Di dalam bukunya “The Exspansion of England” yang ditulis pada tahun 1883, Sir John Robert Seeley (1834-1895) antara lain dikatakan : ”We learn history to be wise for the event”. Artinya kurang lebih : ”Kita belajar sejarah agar kita bijaksana dalam menghadapi sesuatu peristiwa”. Jadi membaca dan belajar sejarah barulah ada manfaatnya jikalau hal itu membuat kita berpikir, bersikap dan bertindak bijaksana dalam menghadapi masa depan. Sejarah memang merupakan sumber inspirasi atau ilham yang tak habis-habisnya bagi bangsa yang ingin dan pandai memetik serta mengambil sari-sari yang banyak terkandung di dalamnya. Sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Perang Diponegoro khususnya AMAT BANYAK mengamdung nilai edukatif dan nilai inspiratif. Sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Perang Diponegoro khususnya amat banyak dapat memberikan pendidikan serta inspirasi atau ilham kepada kita bangsa Indonesia dan terutama kepada Generasi Muda Indonesia untuk membangun masa depan tanah airnya yang gilang –gemilang. Namun yang sangat relevan dan amat penting untuk dikemukakan di sini adalah, bahwa Generasi Muda sebelum abad ke 20 telah berjuang dengan gagah berani dan dengan tulus ikhlas serta rela mengorbankan apa saja, bahkan nyawanya sekalipun. Namun mereka belum berhasil menghalau dan mengusir penjajahan 241
  • 242. bangsa asing dari bumi tanah air yang tercinta. Sebab utamanya adalah karena mereka masih mudah dipecah-belah dan masih senang diadu-domba oleh kaum penjajah bangsa asing. Harus disadari pula bahwa kaum penjajah bangsa asing (Belanda) memang sangat pandai dan amat mahir mempergunakan senjata ampuh mereka yang dikenal dengan nama “devide et impera” atau pecah-belah dan jajahlah. Generasi Muda sebelum abad dua puluh masih berjuang secara daerah demi daerah, secara suku demi suku. Mereka ternyata belum mampu melawan dan mengalahkan senjata ampuh kaum penjajah bangsa asing (Belanda) yang kita kenal dengan nama “devide et impera”. Generasi muda Kebangkitan Nasional Indonesia mulai belajar dari sejarah serta sadar, bahwa keinginan untuk merdeka dan cita-cita untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing tidak hanya cukup berbekal dengan semangat patriotisme lokal, kegagahberanian, kerelaan berkorban saja, akan tetapi keinginan dan cita-cita itu harus didukung dan ditopang pula terutama oleh rasa persatuan dan kesatuan kebangsaan Indonesia yang padu, kokoh dan kuat. Indonesia merdeka harus dicapai melalui pergerakan kebangsaan Indonesia. Demikianlah pada awal abad ke 20, yakni pada tanggal 20 Mei 1908 mulai dirintis perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui pergerakan kebangsaan Indonesia. Peristiwa itu dikenal di dalam Sejarah Nasional Indonesia sebagai HARI KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA. Kemudian Generasi Sumpah Pemuda Indonesia lebih banyak lagi belajar dari Sejarah Indonesia. Mereka makin sada, bahwa senjata “devide et impera” kaum penjajah bangsa asing, hanya dapat dikalahkan serta dapat dilumpuhkan dengan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia yang kokoh dan kuat. Jikalau pada masa Generasi Muda Kebangkitan Nasional Indonesia kata dan pengertian INDONESIA, batas wilayahnya dan bangsa yang menghuninya masih samar-samar, bahkan kabur, maka Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 telah menegaskan, bahwa : 1. Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, Tanah Indonesia. 2. Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. 3. Kami Putera dan Puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. 242
  • 243. Maka makin jelaslah bahwa kita mempunyai satu tumpah darah, yakni yang wilayahnya membentang dari Sabangdi sebelah barat sampai Merauke di sebelah timurdan dari pulau Minahaasa di sebelah utara sampai ke pulau Rotadi di sebelah selatan. Jelas adat istiadat dan kebudayaan, namun ditegaskan pula bahwa kita dalam semboyan : ”BHINNEKA TUNGGAL IKA”. VII Demikian pula bahwa kita bangsa indonesia menjunjung tinggi satu bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia yang dulu masih disebut bahasa Melayu. Dengam senjata TRISULA itulah, SATU NUSA, SATU BANGSA, DAN SATU BAHASA kita bangsa Indonesia siap melawan dan mengalahkan kaum penjajah dengan senjata devide et impera. Dengan lebih banyak lagi belajar dari sejarah, dilandasi oleh persatuan dan kesatuan nasional Indonesia yang kokoh, kuat didukung oleh semangat nasionalisme, patriotisme dan heroisme Indonesia serta tekad “Merdeka atau Mati” angkatan 45 akhirnya berhasil menegakkan’ membeladan mempertahankan proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. dengan semangat persatuan dan kesatuan nasional yangkokoh –kuat Angkatan 45 akhirnya dapat mengusir kaum penjajah bangsa asing dari bumi tanah air Indonesiayang tercinta ini. Ada pepatah atau peribahasa bahasa asing (Belanda) yang mengatakan :”EEN EZELSTOOT ZICH NIET VOOR DE TWEEDE KEER OF DEZELFDE STEEN”. Artinya : “Seekor keledai tak akan untuk kedua kalinya terantuk pada batu yang sama”. Meksudnya bahwa seekor binatang yang paling bodoh sekalipun, seperti halnya seekor keledai, tidak akan mengulangi perbuatan atau kesalahan yang telah membawa celaka baginya. Demikian pula tentunya kita bangsa Indonesia : kita telah belajar dari sejarah bahwa kita bangsa Indonesia dapat dijajah oleh bangsa Belanda yang tidak seberapa jumlahnya dan amat kecil tanah airnya jika dibandingkan dengan luas tanah air kita, tidak mudah dipecah-pecah dan senang diadu-domba. Kita dapat dikalahkan dan ditaklukkan oleh bangsa Belanda yang tidak seberapa jumlahnya karena kita tidak bersatu sebagai bangsa Indonesia. Di bawah pimpinan pahlawan-pahlawan yang gagah berani seperti Teuku Umar, dari Aceh, Imam Bonjol daro Sumatera Barat, Sulatan Hasanudin dari 243
  • 244. Sulawesi Selatan, Pattimura dari Maluku, dan Pangeran Diponegoro dari Jawa kita belum dapat mengusir kaum penjajah bangsa asing dari bumi tanah air Indonesia yang tercinta, karena kita belum bersatu padu sebagaii bangsa Indonesia. Demikian pula pada penjajahan Jepang. Di mana-mana di seluruh Indonesia terjadi perlawanan rakyat Indonesia menentang kelaliman dan kekejaman tentara Jepang yang serakah : di Sukamanah (Tasikmalaya, Jawa Barat) di bawah pimpinan Kyai Haji Zainal Mustafa ; di Cot Plieng, Lhokseumawe (Aceh) di bawh pimpinan Teuku Abdul Jalil ; di Kalimantan Barat di mana lebih dari 20.000 orang (dua puluh ribu) orang yang dibantai secara kejam oleh tentara Jepang ; di desa Unra’ , kecamatan Awangpone (Sulawesi Selatan) di bawah pimpinan Haji Temmale dan di Blitar (Jawa Timur) terjadi pemberontakan tentara PETA di bawah pimpinan Supriyadi, Kuradi dan kawan- kawannya. Sayang sekali perlawanan-perlawanan rakyat melawan tentara Jepang yang lalim dan kejam di seluruh Indonesia itu belum dilandasi cita-cita dan tujuan kemerdekaan nasional bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Perlawanan-perlawanan rakyat di seluruh Indonesia itu tidak dilancarkan secara Nasional, serentak dan serempak pada saat atau momentum yang tepat. Oleh karena itu, maka perlawanan-perlawanan rakyat di seluruh Indonesia itu dapat dilokalisir, lalu dipatahkan oleh tentara Jepang yang kejam.perlawnan rakyat melawan kaum penjajah bangsa asing yang dilakukan secara Nasional, dilandai oleh cita-ciata dan tujuan kemerdekaan nasional bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang dilakukan secara serempak dan serentak serta pada saat atau momentum yang tepat barulah terjadi dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jadi sejarah telah mengajarkan kepada kita bangsa Indonesia, bahw kita dapat dijajah oleh bangsa asing yang tidak seberapa jumlahnya karena kita mudh dipecah-belah dan sering diadu-domba. Di dalam penjajahan bangsa asing itulah kita mengalami bencana yang hebat. Kita telah terjerumus kedalam lembah kemiskinan dan kehinaan yang luar biasa. Sejarah juga telah mengajarkankepada kita bangsa Indonesia, bahwa kita belum dapat mengalahkan dan mengusir kaum penjajah bangsa asing dari bumi tanah air Indonesiayang tercinta karena kita belum bersatu padu secara nasional sebagai SATU 244
  • 245. BANGSA, yang mempunyai SATU TANAH AIR, yakni BANGSA INDONESIA YANG BERTANAH AIR INDONESIA. Jadi jikalau sekarang kita bangsa Indonesia, masih juga mau berpecah- belah dan masih juga senang diadu-domba, maka kita lebih bodah daripada seekor keledai yang tidak mau terantuk untuk kedua kalinya pada batu yang sama. Jadi kita jangan mau lagi mengulangi kesalahan-kesalahan pada masa lalu yang telah membawa bencana dan mala petaka bagi kita. Oleh karena itu maka kita harus tetap memelihara dan melestarikan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. Kita harus selalu mengumandangkan lagu SATU NUSA SATU BANGSA, dan SATU BAHASA di dalam dada kita. Semboyan : “BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH” masih tetap relevan dan tetap harus disegarkan di dalam lubuk hati Generasi penerus bangsa Indonesia di dalam perjuangannya mengisi kemerdekaan yang telah direbut, dibela dan dipertahankan dengan pengorbanan yang tak ternilai harganya berupa harta benda, darah dan air mata, derita rakyat serta nyawa beribu-ribu pahlawan kita. Semangat persatuan dan kesatuan nesional Indonesia masih harus tetap bergelora di dada Generasi Penerus Bangsa Indonesia untuk berjuang mewujudkan cita perjuangan bangsa Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Akhirnya, marilah kita berdoa, semoga kita bangsa Indonesia selalu mendapat perlindungan dan rakhmat serta taufik dan hidayat Tuhan Yang Maha Esa. Amin ya Rabbal ‘alamin ! BACAAN YANG DIPERGUNAKAN 1. Graaf, H.J. de : “Geschiedenis van Indonesia” N.V. Uitgeverij W. Van Hoeve ‘s Gravenhage Bandung 1949 2. Sagimun M. D Pahlawan Diponegoro Berjuang, Gunung Agung, Jakarta 1965. 245
  • 246. 3. Sagimun M.D, Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Fasisme Jepang, Penerbit P.T. Inti Idayu Press, Jakarta 1985 4. Sagimun M.D, Peranan Pemuda Dari Sumpah Pemuda Sampai Proklamasi, Bina Aksara, Jakarta, 1989. 5. Sutjipto Wirjosuparto, DR, R.M., Sedjarah Indonesia, Djilid II, Indira, 1961. _________________________________________________________ Makalah disusun dan disajikan oleh Sagimu MD dalam Seminar Sehari tentang Perang Diponegoro , yang diselenggaraksn oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, pada 20 Februari 1990 246
  • 247. 5. MEWARISI SENMANGAT JUANG PANGERAN DIPONEGORO 1. PENDAHULUAN Penggunaan Diponegoro untuk nama Komando Daerah Militer (KODAM) IV Jawa Tengah nampaknya mempunyai latar belakang serta konsekuensi yang positif. Di satu sisi kawasan kerja KODAM IV memang meliputi kawasan Jawa Tengah yang juga merupakan bagian terbesar dari kawasan atau teritori peperangan yang terjadi sejak 1825 hingga 1830, yang lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro. Perang tersebut dalam literatur Barat juga dikenal dengan nama “Perang Jawa”, karena memang meletus dan berkobar di kawasan Jawa. Bagi bangsa Indonesia perang tersebut merupakan bukti luapan semangat perjuangan anti penjajahan, yang dipelopori oleh Pangeran Diponegoro dan didukung oleh seluruh penduduk tanah Jawa yang memiliki semangat juang yang sama dengan pemimpin penuntun mereka, Pangeran Diponegoro. Selanjutnya perang tersebut juga mendapat dukungan serta simpati seluruh bangsa Indonesia, mesti tidak kebetulan sezaman dengan peristiwa perang tersebut. Komando Daerah Militer (KODAM) IV Jawa Tengah termasuk ke dalam mereka yang meski tidak sezaman dengan peristiwa patriotik dan heroik itu, namun amat menghargai dan mengagumi kisah perjuangan tersebut. Dengan demikian sudah sewajarnya kalau kemudian KODAM IV mengabadikan nama Diponegoro menjadi nama kebanggaan, sehingga bernama KODAM IV / Diponegoro. Sebagai konsekuensi itu semua, di samping untuk mengabadikan nama Pangeran Diponegoro menjadi KODAM IV secara resmi, seluruh jajaran KODAM IV /Diponegoro tersebut dibebani tanggung jawab moril untuk selalu mempertahankan dan bahkan mengobarkan semangat juang Perang Diponegoro tersebut dalam pengabdiannya sebagai pengawal Pancasila. Untuk itu dipandang perlu seluruh penduduk Jawa Tengah, terutama seluruh KODAM IV / Diponegoro, memahami lebih baik seluruh alur perjuangan Pangeran Diponegoro. Dan pemahaman seperti itu hanya akan diperoleh seandainya kita dapat mengikuti jalan cerita perjuangan itu sendiri, serta pembahasannya. Sajian mengenai perang Diponegoro kali ini tidak hanya menekankan pada sifatnya yang deskriptif naratif, yang hanya menekankan pada uraian faktual, melainkan lebih 247
  • 248. mengutamakan pada sifatnya yang deskriptif analitis. Lebih dari itu uraian kali ini juga mencoba menggunakan pendekatan dari segi militer, agar lebih mendekati pada relevansi dengan maksud penerbitan buku ini di samping mendasarkan pada buku “Rumpun Diponegoro dan Pengabdiannya” terbitan Dinas Sejarah Militer Kodam VII/ Diponegoro, yang bekerjasama dengan C.V. Borobudur Megah Semarang (1977), juga mengacu pada “Perang Diponegoro “, skripsi yang disusun oleh Abu Su’ud dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Sejarah IKIP Bandung (1964), yang meninjau perang kemerdekaan itu dari segi militer. Bagian kedua karangan ini berisi uraian singkat mengenai asal-usul Pangeran Diponegoro dan rangkuman perkembangan peperangan, sejak awal peperangan hingga babakan terakhir peperangan, termasuk masa pasca peperangan. Selanjutnya bagian ketiga berisi uraian jalannya peperangan beserta pembahasannya. 2. Rangkuman Perang Diponegoro a.Asal-Usul Pangeran Diponegoro Diponegoro dilahirkan pada hari Jum’at Wage 8 Muharram Tahun Be 1712, WukuWayang, yang kalau diperhitungkan dengan penanggalan Masehi bertepatan dengan tanggal 11 Nopember 1785. Menurut silsilah, Pangeran Diponegoro adalah putera Sultan Hamengku Buwono III, yang mendapat julukan dengan nama Sultan Raja. Ini berarti Diponegoro merupakan cucu Sultan Sepuh alias Sultan Hamengku Buwono I, pendiri dan cikal bakal Kerajaan Yogyakarta Hadiningrat. Dari silsilah dapat diketahui, bahwa beliau merupakan saudara tua Sultan Jarot alias Sultan Hamengku Buwono IV, dan sekaligus merupakan juga paman Sultan Menol alias Sultan Hamengku Buwono V. dari garis ibu mengalir pada diri Diponegoro darah Madura, yaitu Raden Ajeng Mangkorowati, yang berasal dari Pacitan. Kakek Diponegoro dari garis keturunan ibunya itu seorang Bupati, yang konon mempunyai darah Madura. Menurut tradisi Jawa sudah jelas bahwa Pangeran Diponegoro merupakan keturunan para penguasa di Jawa, yang tentu saja amat dihormati oleh rakyat sebagai keturunan raja-raja Jawa. Ketinggian martabatnya di mata rakyat tidak hanya karena 248
  • 249. beliau mempunyai darah bangsawan, maupun juga karena sifat dan perangai beliau yang terpuji dan selalu berpihak pada kepentingan rakyat. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau simpati rakyat selalu berada di pihak Pangeran, ketika peperangan yang lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro itu berkobar. Hampir seluruh rakyat yang tertindas di Jawa tengah, para ulama serta pejuang pembela keadilan dengan tidak raguragu berbaris di belakang beliau dalam mengobarkan peperangan melawan penjajahan Belanda yang angkara murka. Konon pada suatu ketika, waktu Sultan Hamengku Buwono I duduk di dalam serambi keraton, segera menitahkan bayi yang baru dilahirkan dari garba Raden Ajeng Mangkorowati untuk dibawa menghadap. Setelah memperhatikan sejenak jabang bayi tersebut, bersabdalah beliau kepada permaisuri sebagai berikut : “Adinda, ketahuilah, bahwa adalah kehendak Yang Maha Kuasa bahwa cicit kita ini telah ditentukan kelak akan memusnahkan orang-orang Belanda. Adapun bagaimana akhir perjuangannya hanya Tuhan jualah yang mengatahui. Anak ini akan melebihi saya. Oleh karena itu, adinda harus memelihara dengan baik-baik bayi ini.”. Nantinya sejarah membuktikan bahwa kehendak baginda Hamengku Buwono I tersebut menjadi kenyataan, karena bayi yang dimaksud tersebut kelak dikenal dengan sebutan pangeran Diponegoro. Waktu masih kecil Diponegoro dipanggil dengan nama Ontowiryo, dan telah mendapat kelengkapan pendidikan agama Islam. Selama masa kanak-kanaknya Diponegoro mendapatkan pendidikan dari nenenda Ratu Ageng di kediaman beliau di Tegalrejo dengan pendidikan kesalehan beragama, karena nenenda tersebut dikenal sebagai Ratu yang saleh dan taat menjalankan agama. Di tangan beliaulah Pangeran Diponegoro mendapat dasar pendidikan agama maupun kebatinan. Pengeran Diponegoro memang seorang keturunan bangsawan tinggi, namun beliau dikenal sebagai seorang yang sederhana, rendah hati, hidupnya. Sampai –sampai seorang tokoh lawan politiknya, Cakranegara, mengakui keadaan tersebut dan beranggapan bahwa Diponegoro merupakan lambang atau suri tauladan bagi hidup orang-orang saleh dan sederhana. Sebagai keturunan bangsawan, Pangeran Diponegoro sebetulnya dapat hidup mewah dan penuh keduniawian, namun dalam kenyataannya beliau lebih memilih hidup penuh kesederhanaan dan keprihatinan. 249
  • 250. Kesederhanaan dan keprihatinan hidup yang dipilih oleh Pangeran Diponegoro tadi terlihat nyata dalam sikapnya yang tegas terhadap tawaran ayahanda beliau, Sultan Hamengku Buwono III, untuk menggantikan menjadi Sultan, manakala masanya telah tiba. Di dalam serat Cakranegara disebutkan, bahwa Pangeran Diponegoro dengan tegas menolak tawaran akan jabatan terhormat itu, dan sebaliknya merelakan jabatan Sultan tersebut kepada adik beliau. Sementara Diponegoro akan selalu menunjukkan tanggung jawabnya sebagai Pangeran dengan tekad untuk selalu memberikan nasihat serta bantuan kepada kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono IV, yang juga dikenal dengan sebutan Sultan Jarot. Namun ternyata kemudian, bahwa segala nasihat beliau yang menunjukkan keprihatinan beliau mengenai hubungan kesultanan dengan penjajah Belanda sering tidak mendapat tanggapan dari pihak kesultanan. Pola hidup, cara hidup, dan bahkan kedaulatan Sultan berada di bawah maupun kedaulatan Belanda sebagai penjajah. Semua itu membuat tekad Pangeran Diponegoro makin bulat untuk menentang dan mengusir penjajah Belanda dari bumi Jawa, yang secara nyata berujud meletusnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa. b. Rangkuman Jalan Peperangan 1) Kasus pematokan tanah-tanah milik Diponegoro di kawasan Tegalrejo, lebih-lebih yang mengenai tanah makam leluhur beliau, dianggap sebagai awal penyebab meletusnya peperangan (casus belli) yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830). Pematokan itu dilakukan atas tanah yang akan dibebaskan guna pembuatan jalan baru, merupakan kebijaksanaan Residen Yogyakarta A.H. Smissaert. Dalam pelaksanaannya kebijaksanaan itu dilakukan oleh Patih Danurejo IV, yang amat memihak kepentingan pemerintah kolonial Belanda, pada 20 Juli 1825. 2) Peperangan itu berkobar untuk pertama kalinya di Tegalrejo, dengan diawali oleh letusan salvo senapan kaum penjajah, yang ditujukan ke rumah kediaman Diponegoro di Tegalrejo, yang sejak lama menjadi tempat tinggal yang nyaman dari gangguan dan campur tangan Belanda. Selanjutnya passukan Pangeran Diponegoro yang dipimpin langsung oleh Pangeran beserta 250
  • 251. para pahlawan dan ulama pendukungnya dipusatkan di Gua Selarong. Gua itu sendiri selama ini merupakan tempat Pangeran Diponegoro melakukan tafakur, dan selanjutnya telah diubah menjadi pusat komando pertempuran pihak penentang keangkaramurkaan penjajahan Belanda. Dalam persenjataan dan ketrampilan peperangan pihak Belanda unggul, lebih-lebih karena Belanda telah mendapatkan pengalaman serta ilmu peperangan yang diperoleh di Eropah, yang merupakan ajang peperangan antar bangsa. Namun sementara itu Pangeran Diponegoro dan pasukan Pangeran Diponegoro mendapat keuntungan dari pendukung yang boleh dikata tak terbatas maupun alam yang sangat berpihak kepada mereka, baik untuk kepentingan logistik maupun strategi peperangan. 3) Segera setelah peperangan meletus, maka secara hampir serentak seluruh kawasan di Jawa Tengah, dan bahkan sebagian Jawa Timur, berubah menjadi ajang peperangan. Perang yang menjadi bersifat “Unlimited War” itu telah membakar kawasan-kawasan Kedu, Bagelan, Banyumas, Surakarta, Yogyakarta, Semarang dan Pekalongan. Bahkan peperanganpun telah membakar daerah Blora. Dalam banyak medan pertempuran pasukan Diponegoro sering memperoleh kemenangan taktis, namun sayang sekali hampir tidak pernah memperoleh kemenangan strategis. Hal itu terutama sekali karena pasukan Diponegoro selalu berada dalam posisi bertahan. Dan lagi sasaran akhir peperangan itu berbeda bagi pihak Belanda dan pihak Diponegoro. Tidaklah seimbang kalau diingat, bahwa sasaran akhir pihak Belanda “hanyalah” menaklukkan Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin seluruh pasukan, sementara sasaran akhir pasukan Diponegoro tidaklah sekedar menaklukkan Letnan Jenderal de Kock, melainkan mengusir Belanda dari bumi pertiwi. 4) Secara strategis sebetulnya Pangeran Diponegoro mempunyai keunggulan, sebab dalam mengawali pertempuran Diponegoro mengembangkan konsep kesatuan komando dengan dipusatkannya telah segala bentuk kekuasaan, militer, sipil, maupun spiritual, di tangan Diponegoro. Yang dimaksud adalah gelaran panjang yang dikaitkan dengan kepemimpinan Diponegoro, yaitu Sultan Abdulhamid Herucokro Amurul Mukminin Sayidin 251
  • 252. Panotogomo Kalipatullah Tanah Jawi. Penobatan itu dilakukan dalam suasana peperangan dengan upacara adat dan keagamaan, yang menurut Prof. Muhammad Yamin dapat dibandingkan dengan peristiwa penobatan raja Erlangga di dalam hutan selama beliau mengambara, atau peristiwa penobatan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit di hutan Tarik. Namun pengelolaan selanjutnya segala keunggulan itu tidak dapat mengembangkannya menjadi kemenangan akhir. Sebaliknya secara perlahan-lahan tetapi pasti kobaran semangat peperangan makin mengecil, dan sampai akhirnya padam. 5) Diawali dengan dikembangkannya sistem “Perang Benteng” oleh Beland a dalam upaya mendapatkan kemenangan strategis atas Diponegoro, yang kemudian disusul dengan rangkaian perdamaian dengan para petinggi pasukan Diponegoro, maka tercapailah tujuan itu, yaitu pangeran dipaksa untuk duduk di meja perundingan yang sangat nista itu. Peristiwa-peristiwa tersebut ini menunjukkan betapa tragisnya akhir peperangan Diponegoro itu. Tanggal 28 September 1829 Pangeran Mangkubumi yang merupakansimbol dukungan kaum bangsawan, namun telah rapuh dimakan usia, meletakkan senjata. Disusul kemudian dengan berhasil ditangkapnya ibunda Pangeran Diponegoro beserta puteri beliau Den Ayu Mertonegoro, pada tanggal 14 Okktober tahun itu juga. Kemudian, setelah diawali dengan masa perundingan pada 17 Oktober 1829, sang pendekar yang masih belia namun amat mengagumkan itu, yaitu Sentot Prawirodirjo menyatakan menyerah pada tanggal 24 Oktober 1829. Lalu tibalah saat yang mengenaskan itu. Pangeran Diponegoro mulai termakan oleh tipu muslihat Belanda, karena pada 8 Maret 1830, jam 12.00 Pangeran Diponegoro mulai meninggalkan hutan, menuju meja perundingan di Magelang. Tindakan itu sebagai tindak lanjut hasil perundingan di Soka pada 16 Maret 1830, antara Cleerens dengan pangeran Diponegoro. Sejarah kemudian mencatat, bahwa pada tanggal 28 Maret 1830 tiba di Magelang, untuk bertemu dengan de Kock, setelah beliau menunda maksud pertemuan itu selama bulan Ramadhan penuh. Lalu terjadilah penghianatan itu, yaitu ketika sang Jenderal secara culas menangkap pangeran Diponegoro untuk dijadikan tawanan perang, setelah lebih 252
  • 253. dahulu melucuti para pengawal beliau, termasuk ketiga putera beliau, Dipo Anom, Dipo Atmojo dan Raden Mas Jemet. Selanjutnya pada 28 Maret 1830, jam 11.00 Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dengan kereta, dengan dikawal 1 detasemen kawal. Dan pada tanggal 5 April 1830, beliau diangkut ke Batavia untuk dihadapkan di depan meja hijau kaum kolonial. Vonis itu keluar pad 30 April, yang menentukan hukuman buang ke Menado. Maka pada 12 Juni 1830, tepat jam 11.00 tawanan itu dimasukkan ke dalam benteng Amsterdam di Menado sebagai orang buangan. Pada 1834 beliau dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makasar, sampai saat wafat beliau pada tanggal 8 Januari 1855. 6). Konon untuk menyelenggarakan perang Jawa itu pemerintah jajahan Belanda telah mengeluarkan dana tidak kurang dari 25 juta gulden. Sedangkan kurban dipihak Belanda mencapai 15.000 tentara, yang mencakup 8.000 orang bangsa Eropah, dan 7.000 orang bangsa pribumi. 3. Perang Diponegoro ditinjau dari Aspek Militer a. Perang Diponegoro Sebagai Perang Kemerdekaan Setiap mendengar perkataan perang terbayanglah di depan mata kita suatu pertarungan jiwa, raga maupun harta, yang terjadi antara dua atau lebih pihak, di mana masing-masing pihak berusaha mengalahkan lawannya dengan kekuatan senjata ataupun tipu muslihat. Gambaran itu sesuai benar dengan pendapat seseorang yang selalu disebutsebut setiap kali orang membicarakan perang, yaitu karl von Clausewitz. Di dalam bukunya yang berjudul “Tentang Perang” dijelaskannya, bahwa baginya “perang merupakan suatu pergaulatan secara besar-besaran, dimana masing-masing pihak memaksa pihak lawannya dengan kekuatan jasmaninya, untuk supaya tunduk kepadanya” (1954: 1). Sejarah kemudian membuktikan, bahwa antara tahun 1825 hingga 1830, di kawasan tanah Jawa telah terdapat dua fihak yang saling bertentangan. Di satu pihak berdiri Pangeran Diponegoro, yang mendapat dukungan penuh dari seantrro penduduk tanah Jawa, di lain pihak berdiri dengan angkuhnya kekuasan penjajah Belanda, yang 253
  • 254. bekerja sama dengan sekutu mereka yang terdiri dari kekuasan tradisional pribumi, seperti Kesultanan Yogyakarta, Kesunanan Surakarta, maupun Kadipaten Mangkunegaran. Kekuasaan sekutu tersebut berada di bawah Komando Letnan Jenderal Marcus de Kock. Masing-masing fihak sedang memaksakan kehendak kepada fihak lainnya, dengan menggunakan kekuatan senjata maupun tipu muslihat. Betul-betul sebuah peperangan sedang berkobar di antara keduan belah fihak. Menurut Clausewitz (1954: 27), “perang tidak lain merupakan lanjutan politik dengan cara lain.” Jadi perang merupakan suatu tindakan politik, melainkan juga sesungguhnya suatu alat politik, suatu lanjutan pergaulan politik, yang melanjutkannya dengan cara-cara lain. Perkembangan politik di tanah Jawa, khususnya di darah Mataram disekitar tahun 20 an , terasa mencekam, menekan fihak rakyat, dan sebaliknya amat menguntungkan fihak Belanda. Karena yang merasakan ketidakpusan adalah rakyat yang terjajah, maka perang yang kemudian meletus antara fihak yang terjajah melawan fihak penjajah, disebut perang kemerdekaan. Penamaan ini sekaligus merupakan reaksi atas pendapat Jean Gottmann, yang menyebut perang-perang seperti perang yang terjadi di Vietnam, ketika rakyat berjuang melawan penjajah Perancis, sebagai “perang kolonial” (Edward Mead Earle, 1962:201-221). Dalam pada itu Profesor Q. Wright beranggapan, ketika melakukan pembagian peperangan ke dalam kurun-kurun waktu 1789-1914 lebih tepat kalau disebut “Perang Kapitalisasi” (Edward Mead Earle, 1962:201-221). Meskipun perang Diponegoro atau yang juga dikenal sebagai perng Jawa dapat dimasukkan ke dalam kategori Gottmann maupun Wright, namun lebih tepat disebut sebagai “Perang Kemerdekaan”, karena lebih memenuhi hakekat makna perjuangan bangsa Indonesia. b. Unlimited War Kalau kita bentangkan peta pulau Jawa, dan kita percikkan tinta merah di atasnya, maka seolah-olah pada saat yang bersamaan bermunculanlah dengan merata bintik-bintik merah di atas PETA. Gambaran itu seperti bermunculannya cetusan-cetusan api peperangan di banyak tempat yang meluas di tanah Jawa. Dan bintik-bintik itu makin merata dan makin meluas. Demikianlah kira-kira keadaan di tanah Jawa pada saat berkobarnya Perang Diponegoro. 254
  • 255. Jika tidak kerana terpaksa, dalam setiap peperangan reguler setiap pemimpin militer akan sedapat mungkin menghindari suatu peperangan yang tidak terbatas atau unlimited war. Dalam keadaan yang demikian itu, sekaligus seluruh kekuatan pasukan akan dihadapkan dalam adu tenaga dalam sejumlah front (medan perang). Namun demikian Pangeran Diponegoro mempunyai pandangan lain tentang hal tersebut. Tentunya hal itu terjadi karena Diponegoro mempunyai keinsafan betapa sebagai pasukan yang tidak reguler pasukannya mempunyai kondisi lain, yang tidak dimiliki oleh pasukan reguler. Sebagai pasukan yang tidak reguler, pasukan Diponegoro jarang sekali mengadakan perang terbuka, di mana kedua pasukan berhadpan tanpa mempunyai perlindungan . Selama masa Selarong dan masa Dekso, Diponegoro berusaha menghindari pertemuan secara terbuka, meskipun perang yang terjadi itu jenis perang posisi, yaitu perang untuk memperebutkan posisi strategis. Barangkali hal itu dilakukan oleh Diponegoro karena mereka menyadari akan mobilitas atau kelincahan pasukan untuk bergerak dalam perang gerilya, sedangkan posisi bukan merupakan faktor yang mutlak menentukan kemenangan akhir. Selarong bukanlah merupakan sebuah kota seperti digambarkan oleh Muhammad Yamin dalam bukunya “Sejarah Perang Diponegoro”, melainkan hanya sebuah desa dengan beberapa perumahan penduduk yang tidak banyak jumlahnya. Selebihnya adalah bukit-bukit kapur dengan hutan bambu dan tanaman jambu liar dan pepohonan kelapa. Karena tempatnya berbukit-bukit dan bergua-gua, maka tempat itu sangat baik untuk tempat pangkalan bagi pasukan Diponegoro. Namun tempat yang sangat baik itu terpaksa pada bulan Oktober 1825 harus dilepaskan kepada fihak Belanda, yang telah melakukan serangan dengan pasukan gabungan di bawah van Geen. Demikian pula yang terjadi dengan pangkalan Dekso, yang terpaksa diserahkan kepada Belanda, pada awal Juli 1826. Pasukan Diponegoro sekali lagi menghindari perang terbuka, namun sebaliknya mencari kesempatan yang baik guna mengadakan serangan mendadak sebagai pembalasan. Taktik penyerangan mendadak itulah yang menyebabkan pasukan Diponegoro hanya, meskipun sngat lemah dalam persenjataan, masih dapat melakukan serangan yang terbatas atau limited war tadi, dan telah berhasil mengulur waktu peperangan sampai lima tahun lamanya. 255
  • 256. Kalau kita menyaksikan dalam peta yang menggambarkan jalannya peperangan pada waktu itu, nyatalah bahwa pada saat yang bersamaan, berkobarlah pertempuranpertempuran di banyak daerah secara merata. Di daerah Probolinggo, tidak jauh dari Magelang, rakyat mulai mengobarkan peperangan pada tanggal 26 Juli 1825. Dan masih dalam tahun itu juga, berkobarlah peperangan di daerah lain. Pada Agustus 1825 pasukan rakyat mulai mengganggu garis pertahanan Belanda dari Pekalongan hingga Semarang. Sedangkan di wilayah Monconegaran seperti Pacitan, terjadi pupa pemberontakan rakyat pada tanggal 10 Oktober. Dan di luar Ngawi bahkan sampai dua kali terjadi peristiwa yang serupa, yaitu pada tanggal 23 September dan 13 Nopember. Pada tahun 1826 lebih anyak lagi bentrokan bersenjata terjadi . misalnya di sekitar kota tua Plered, bahkan terjadi dua kali pertempuran yang dahsyat, yang merupakan parang posisi untuk memperebutkan benteng lama, pada 16 April dan 9 Juni. Sedangkan di kaki pegunungan Menoreh terjadi pula pertempuran hebat pada 8 Juli. Dan pada 9 Agustus, 28 Agustus serta 15 Oktober, secara berurutan terjadi pertempuran-pertempuran di Kejiwan, Delanggu, dan di Gawok, yang semuanya terletak di kawasan Surakarta. Dan tahun 1827 di dipadati dengan pertempuran-pertempuran di Rajegwesi, 28 Nopember, yang merupakan awal pertempuran di Rembang. Selanjutnya menyusullah pertempuranpertempuran di Tuban dan Surabaya. Itu semuanya merupakan beberapa contoh bertapa benarnya anggapan mengenai kesanggupan Diponegoro mengobarkan unlimited war tersebut. c. Perang Strategi Kalau diperhatikan tempat-tempat terjadinya peperangan atau pertempuran dalam peta, akan terbukti bahwa tempat-tempat tersebut mempunyai arti strategis yang ideal, dan nampaknya sudah diperhitungkan benar-benar sebelumnya. Gambarannya adalah seperti suatu proses pengepungan terhadap kota-kota yang dianggap sangat strategis buat Belanda atau setidak-tidaknya mempunyai maksud untuk memotong garis pertahanan musuh, dengan jalan memotong atau memencilkan dua atau lebih daerah atau pusat pertahanan Belanda. Dikuasai daerah Selarong oleh pasukan Diponegoro, misalnya, sangat menguntungkan fihak Diponegoro, Karena Selarong merupakan tempat yang 256
  • 257. sangat tepat sebagai pangkalan batu loncatan untuk mengpung Yogyakarta. Mengingat besarnya arti strategis Selarong itu, maka ketika de Kock berhasil memasuki Yogyakarta pada 25 September 1825, tindakan operasional yang segera dilakukan olehnya adalah merupakan Selarong, di bawah pimpinan mayor Sollewijn dan Letkol Achenbach, dan dibantu oleh pasukan-pasukan bumi putera di bawah penembahan Sumenep, Pangeran Purboyo, Pangeran Aryo Mataram serta pasukan Pangeran Suryadiningrat dan Pangeran Suryaningrat. Selanjutnya dalam usaha mengepung kota Magelang, pasukan Diponegoro memulai serangan lewat Probolinggo dengan kekuatan 3000 orang pada 26 Juli 1826, dengan menyeberangi sungai Elo. Kemudian disusul dengan terjadinya pertempuranpertempuran di Kalajengking. Sebagai akibatnya Belanda melakukan penarikan pasukanpasukan di sekitar Magelang, seperti Parakan, Parapag, Pucang, Sadegan Sodongan Borobudur dan Kalajengking. Selain itu untuk mengganggu daerah-daerah Belanda di Pekalongan, Semarang, maupun Magelang pihak Diponegoro telah menaruh pangkalan di daerah Ledok, yang terletak di perbukitan di hulu sungai Serayu. Tempat itu sangat strategis untuk mengadakan gangguan terhadap ketiga daerah yang dikuasai Belanda tadi. Sementara itu daerah Semarang mendapat ancaman dari kantong-kantong konsentrasi pasukan Diponegoro di daerah-daerah Rembang, Kudus, Demak, maupun Grobogan. Sedangkan Surabaya nampaknya terancam dengan kegiatan militer pasukan Diponegoro di Rajegwesi, Ngawi, maupun Pacitan, yang sekaligus mengancam kedua daerah Monconegaran. Plered yang merupakan daerah sangat strategis menjadi ajang pertempuran antara pasukan Belanda dengan Diponegoro yang selalu ingin memperebutkannya secara militer maupun politik Plered tak ayal lagi memang merupakan daerah-daerah strategis. Untuk itu kedua fihak mengerahkan tenaga tempur mereka habis-habisan. Dalam pertempuran-pertempuran kedua belah fihak Diponegoro banyak mencatat kemenangan taktis namun akhirnya oleh keunggulan teknologi perang mereka Belanda dapat merebut daerah-daerah strategis tersebut. Lebih-lebih setelah Belanda melancarkan kombinasi strategis serangan, yaitu: “Perang Benteng”. dan “Masa Perundingan”. Maka fihak Diponegoro makin terjepit dan digiring ke dalam jaring penghianat oleh Belanda yang dengan sangat culas menghianati perjanjian dengan menangkap pemimpin dan jiwa peperangan itu, yaitu Pangeran Diponegoro. Di satu fihak perang telah berakhir 257
  • 258. dengan kegagalan Karena tidak berhasil mencapai tujuan politik yaitu mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Sementara itu di lain fihak perang telah berakhir dengan baik, yaitu memadamkan “Pemberontakan” yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro meski dengan jalan yang tidak terhormat, yaitu menangkap lawan perundingan yaitu Pangeran Diponegoro. 4. Penutup dan Penilaian Perang telah berakhir pada tanggal 28 Maret 1830 yaitu dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh musuh atau lawan perangnya, yaitu Belanda. Penangkapan itu menjadi termasyhur, karena terjadi pada saat gencatan senjata yang telah sama-sama disetujui pada saat itu sedang terjadi perundingan puncak antara fihak Belanda, yang diwakili oleh Letnan Jenderal Marcus de Kock sebagai panglima tertinggi tentara pendudukan Belanda di Jawa, dengan Pangeran Diponegoro yang mewakili seluruh kehendak rakyat di tanah Jawa yang sedang berjuang melawan keangkara murkaan Belanda. Tempat terjadinya perundingan yang cemar di Magelang. Menyedihkan sekali bahwa perjuangan bersenjata melawan pejajahan Belanda tidak diteruskan, Karena nampaknya tidak adalagi pemimpin yang berani tampil mengambil prakarsa untuk memimpinnya, sejarah telah membuktikan bahwa perang yang telah dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro itu telah gagal. Gagal, namun tidak sia-sia kata Bung Karno dalam salah satu sambutan pada Hari peringatan wafat Pangeran Diponegoro. Gagal, karena tidak berhasil mengusir penjajahan Belanda pada abad 19. Tidak sia-sia, karena semangat perjuangan Pangeran Diponegoro untuk mengusir penjajahan Belanda dari tanah air, telah memberikan inspirasi kepada kita yang hidup setelah beliau, untuk melanjutkan perjuangan beliau yang belum selesai (Sagimun M.D., 1960: 439-441). Untuk lebih menunjukkan perjuangan itu memang tidak sia-sia, maka akan sedikit diadakan penilaian (evaluasi) terhadap perang yang telah berlangsung selama lima tahun itu. Dengan demikian kita dapat lebih banyak belajar dari pengalaman masa silam, karena pada hakekatnya mempelajari sejarah memang mencari pelajaran peristiwa dari masa silam. 258
  • 259. a. Kesiapan Perang Kedua pihak sebenarnya dalam keadaan belum siap untuk berperang, namun keduanya sama-sama mempunyai kondisi yang khas. Fihak Diponegoro sebenarnya sudah matang untuk perang, akan tetapi tidak pernah berpikir untuk memulai mengambil prakarsa untuk memulai perang. Oleh karena itu mereka tidak pernah memiliki persiapan-persiapan untuk berperang, apalagi karena konstelasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan untuk mengadakan persiapan-persiapan tersebut. Akibatnya mereka tidak mempunyai kekuatan tempur yang teratur ataupun kekuatan militer yang lebih rapih. Namun demikian pada tingkat awal peperangan, Diponegoro mempunyai banyak sekali faktor yang menguntungkan yang dapat mengobarkan semangat pertempuran. Diponegoro mempunyai sumberdaya manusia yang siap siaga untuk melaksanakan peperangan. Sementara itu alam dengan segala aspeknya, seperti gunung, hutan, dan musim hujan sangat menguntungkan posisi mereka. Jangan pula dilupakan simpati para bangsawan Mataram, para ahli peperangan maupun para pemuka masyarakat yang terdiri dari para ulama dsb. merupakan modal amat berharga untuk pelaksanaan peperangan jangka waktu panjang, yaitu perang gerilya. Ditambah lagi faktor kharisma Pangeran sendiri, yang mampu menggerakkan roda peperangan hampir seluruh penduduk tanah Jawa. Hanya karena faktor-faktor baru datang sajalah, peperangan itu kemudian dimenangkan oleh fihak lawan. Fihak Belanda sendiri, walaupun jauh sebelum pecah perang sudah mempunyai dugaan akan timbulnya perang, namun mereka tidak mempunyai dugaan bahwa perang itu akan datang begitu cepat. Atau barangkali mereka memang tidak menghendaki peperangan, sebab pada saat hampir bersamaan, tentara mereka sedang diperlukan untuk memadamkan “pemberontakan” yang terjadi di pulau-pulau lain, seperti di Minangkabau, Banjarmasin maupun Bone. Sampai dengan bulan Agustus 1825 Jendral de Kock masih menunjukkan keengganannya untuk berperang. Beberapa jalan telah dicoba untuk menghentikan perang sebelum betul-betul berkobar membakar tanah Jawa, terutama dengan jalan menghubungi Pangeran Diponegoro dengan surat. Dan manakala usahausaha itu tidak berhasil, maka dengan sangat terburu-buru maka dicarinya balabantuan 259
  • 260. tambahan untuk segera menghentikan peperangan itu. Terbukti kemudian, meski balabantuan dari daratan Eropah segera datang, dan balabantuan dari para bangsawan pribumi yang dapat dibujuk segera siap bertempur, pasukan Belanda itu hampir di setiap medan pertempuran menderita kekalahan taktis. Organisasi yang cukup baik dan modern dari sistem pertahanan Belanda ternyata tidak dapat menghasilkan dayaguna yang tinggi, berhubung musuh yang dihadapi memang tidak hanya tunggal. Selain harus menghadapi pesukan tentara Diponegoro, mereka harus pula menghadapi alam yang tidak bersahabat, dan bahkan sebaliknya sangat menguntungkan fihak Diponegoro yang mengembangkan taktik perang gerilya. Ternyata dengan belajar dari pengalaman, fihak Belanda berhasil mengembangkan strategi perang baru, yang dikenal dengan nama “Strategi Perang Benteng”. Yang dikombinasikan dengan pendekatan diplomasi (perundingan). Dan kemudian sejarah mencatat, meskipun strategi itu tidak membuat semangat dan kualitas peperangan Diponegoro menurun, namun system peperangan Diponegoro menjadi kurang efektif. Banyak para pemimpin perang Diponegoro yang gugur, atau tertangkap, dan banyak pula yang mulai turun semangat karena bujukan Belanda, kemudian meninggalkan medan peperangan karena menyerah. Maka seolah-olah Pangeran Diponegoro hanya tampil sebagai “Single Fighter” dalam peperangan yang maha luas kawasannya itu, sampai akhirnya motor peperangan itu berhasil digiring ke meja perundingan yang dilumuri keculasan fihak Belanda. Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda, dan padamlah seluruh kobaran api peperangan dahsyat yang telah membakar tanah Jawa dari 1825 hingga 1830. b. Sebab-sebab Kekalahan Untuk sekedar agar kita dapat belajar dari pengalaman sejarah, maka ada baiknya kalau kita dapat menduga-duga sejumlah faktor yang merupakan penyebab kekalahan peperangan pada fihak pasukan Diponegoro sebagai berikut. 1) Sebab-sebab Subyektif 260
  • 261. Termasuk kedalam kategori sebab subyektif ini adalah segala kondisi yang terdapat dalam tubuh pasukan Diponegoro dan strategi yang dijalankan oleh Pangeran Diponegoro. Dalam bidang taktik pada umumnya pasukan Diponegoro unggul. Walaupun persenjataan sangat inferiur. Ini disebabkan Karena adanya persyaratanpersyaratan tadi. Akan tetapi strategi perlawanan yang dipunyai oleh pangeran Diponegoro kurang kompak dan kurang matang. Walau banyak contoh yang menunjukkan bahwa pengepungan kota-kota yang penting banyak dilakukan oleh Diponegoro, akan tetapi tindakan ikutannya tidak menunjukkan konsistensi. Hal tersebut kelihatan jelas dalam kasus pengepungan Surakarta, terdapat keragu-raguan pada fihak pucuk pimpinan. Jadi nampaknya pengepungan terhadap daerah-daerah penting bukan merupakan ciri khas dari strategi mereka, malainkan nampaknya hanya merupakan cara untuk mengulur waktu dengan maksud melelahkan lawan saja, dan selanjutnya pada saat yang tepat akan mengajukan usul perundingan yangmenguntungkan fihaknya. Ternyata strategi inipun tidak dilaksanakan secara konsekuaen, sebab ternyata dalam banyak kasus menunjukkan bahwa pasukan Diponegoro diboroskan dalam perang-perang posisi, seperti yang terjadi di Plered dan Gawok. Hingga dengan demikian kemenangan akhir yang diharapkan tidak kunjung mereka peroleh. Sedangkan sebab selanjutnya dari kekalahan dan kegagalan yang mereka peroleh, adalah karena tidak adanya usaha yang mereka lakukan untuk mengadakan konsolidasi terhadap kemenangan-kemenangan taktis yang telah dipeoleh pada mas lalu. Pada umumnya mereka terlampau banyak dihnggapi penyakit mabuk kemenangan atau dikenal sebagai “victory desease”, sehingga seringkali mereka menjadi lengah dalam menghadapi tugas-tugas mendatang. 2) Sebab-sebab Obyektif Sebab-sebab obyektif ini berasal dari fihak lawan. Faktor pertama yang harus diakui ialah keunggulan Belanda dan sekutunya dalam bidang persenjataan. Selain itu kita menganal juga faktor kemahiran fihak Belanda dalam memecah-belah atau mengdu- 261
  • 262. domba di antara para bangsawan serta para pendukung Diponegoro. Agar bersedia mengangkat senjata di fihak Belanda atau paling tidak berada di fihak Diponegoro. Kelebihan lain yang dimiliki Belanda adalah kemampuan atau kemauan untuk berani belajar dari pengalaman masa lampau, dan selanjutnya mengubah strategi peperangan, manakala strategi lama tidak menguntungkan. Dengan demikian dicapailah kamajuan dalam gerakan perang mereka. Akhirnya sifat lugas mereka dalam perang sangat menolong mereka, sehingga tidak mendapat pengaruh jelek dari permainan perasaan. Hal itu menyebabkan mereka menyadari hakekad hukum besi yang selalu berlaku dalam peperangan. Barangsiapa tidak mau membunuh fihak lawan, maka dia akan terbunuh dalam peperangan itu. Dengan fikiran seperti itu, maka kasus penangkapan atas diri Pangeran Diponegoro, walaupun sangat melanggar hukum perang, namun karena yang menjadi tujuan peperangan bagi Belanda adalah menghentikan peperangan dengan jalan memotong jalur kepemimpinan kharismatik mereka, yaitu Pangeran Diponegoro, maka ditangkaplah Pangeran Diponegoro. Akibat penangkapan itu sungguh menakjubkan. Bukan saja peperangan itu kemudian dapat berhenti berkobar, melainkan juga untuk waktu yang cukup lama tidak lagi terdapat perang kemerdekaan dalam bentuk yang sebenarnya. Sejak itu sampai dipenghujung abad 19 tidak muncul lagi pemimpin atau pelopor yang mampu melanjutkan usaha perjuangan Diponegoro yang gagal itu. Amatlah tragis kedengarannya, namun bagaimanapun ini kenyataan sejarah. Dengan perasaan penuh keprihatinan kita menyaksikan, bahwa perjuangan yang telah dipelopori oleh Pangeran Diponegoro telah gagal dalam mencapai tujuan akhir peperangan, yaitu mengusir penjajahan Belanda dari tanah air tercinta. Akan tetapi sekali lagi kita menginsafi bahwa walaupun perjuangan telah gagal, namun tidak sia-sia. Banyak pelajaran berharga telah diajarkan kepada kita lewat kegagalan itu. Dan pelajaran itu betul-betul telah membuat kita berhasil dalam salah satu segi dari keseluruhan rangka perjuangan kita. Hasil nyata itu adalah, bahwa kita telah dapat memproklmasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. 262
  • 263. _____________________________________________________________ Tulisan di atas merupakan bagian dari kontribusi penulis untuk mengisi buku yang dikeluarkan oleh Kodam IV Diponegoro dalam rangka ulang tahun Kodam IV Diponegoro tahun 1990 6. PANGERAN DAN PETANI SEBUAH ALIANSI KRATON-DESA DALAM PERANG DIPONEGORO Milanipun balanya dareg rapetung sagunging wong desa tumur dadya brandhal sami genging trisna mring Pangeran Diponegoro (Oleh sebab itu tak terkira banyak pengikutnya semua orang desa turut menjadi pengacau karena cintanya kepada Pangeran Diponegoro). (Biografi Ko Ho Sing, h. 25, pupuh 40) Mengapa disebut “Perang Jawa” ? Adalah menarik bahwa hanya ada dua peristiwa perang kolonial yang diakui Belanda sebagai perang besar, perang yang meliputi seluruh wilayah etnis tetentu, yaitu “De Java-Oorlog” atau “Perang Jawa” yang lebih kita kenal sebagai “Perang 263
  • 264. Diponegoro”, dan “De Atjeh-Oorlog” atau “Perang Aceh”. 1 Kiranya, hal ini berangkat dari suatu penilaian bahwa dari sekian banyak peperangan yang dilakukan Belanda untuk menjajah Indonesia, hanya kedua peperangan itulah yang melibatkan sebagian besar rakyat dari segala lapisan dan meliputi sebagian besar wilayah mereka. Selain faktor keluasan lingkup spasial dan lingkup partisipasi dari pendukung peperangan, juga faktor waktu, biaya dan pengorbanan sangatlah menonjol baik pada Perang Diponegoro maupun Perang Aceh, dibandingkan dengan berbagai perang dan pemberontakan lain. Tidak kurang dari 200.000 orang gugur dalam Perang Diponegoro ditambah hutang pemerintah Belanda 32 juta gulden, sedang Perang Aceh menelan korban sedikitnya 59.500 orang gugur disertai kerugian di pihak Belanda sebanyak 131 juta gulden.2 Khusus mengenai Perang Diponegoro, mengapa Belanda memberi sebutan “Perang Jawa”, ada beberapa alasan dapat dikemukakan disini. Pertama, dilihat dari aspek spasial perang ini yang bermula dari Yogyakarta meluas dengan cepatnya ke seluruh Jawa Tengah dan separuh Jawa Timur. Dapat dikatakan seluruh daerah Kejawen dilanda peperangan dan hampir semua orang Jawa bangkit mengangkat senjata atau terlibat dalam perang. Kedua, Perang Diponegoro adalah perang terbesar dari suku bangsa Jawa melawan kekuasaan kolonialisme Belanda. Sebagian besar rakyat Jawa, khususnya para petani di pedesaan berjuang di pihak Pangeran Diponegoro dan baru dapat dipadamkan setelah lima tahun. Perang ini merupakan perang terakhir dari kerajaan tradisional Jawa, atau kekuasaan politik yang bercorak feodalistik dan primordial di Jawa untuk mencoba menegakkan diri melawan kekuasaan kolonialisme Barat dan modern dan sekuler. Satu masalah teramat penting dalam Perang Diponegoro adalah mengapa perang ini memperoleh dukungan begitu besar dari daerah-daerah di Jawa (Tengah dan Timur) padahal hampir semua bupati berpihak kepada Belanda? Mengapa rakyat petani mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro yang hampir tak mereka kenal sebelumnya? Bagaimanakah jalinan hubungan antara sang Pangeran sebagai golongan bangsawan dengan para petani sebagai golongan wong cilik? Adakah perbedaan motivasi antara bangsawan dan petani dalam mendukung perang ini? Makalah ini akan mencoba membahas rangkaian permasalahan tersebut. 1 *Makalah disajikan dalam Seminar Sehari Sejarah Pangeran Diponegoro yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro Semarang, 20 Pebruari 1990. 264
  • 265. Struktur Kerajaan Mataran pasa Abad XVIII-XIX Seperti pada umumnya kerajaan-kerajaan tradisional yang sudah berkembang di Nusantara, Mataram merupakan kerajaan bercorak feodalitistik yang berpusat pada raja. Sebagai penguasa tunggal ia memerintah secara langsung inti kerajaan (negara-gung) dari ibu kota kerajaan (Kuthanegara) melalui pejabat dalam sistem birokrasi yang hirarkis sebagai pelaksana kekuasaannya. Kekuasaan di berbagai wilayah di luar wilayah inti kerajaan (jabarangkah, mancanegara dan pesisiran) diserahkan kepada penguasa daerah (bupati) yang memerintah atas nama raja. Kebanyakan dari meraka adalah penguasa daerah setempat yang ditaklukan Mataram, kemudian melalui ikatan perkawinan dengan keluarga raja diizinkan memerintah di daerahnya. Dapat pula kerabat raja atau pegawai kerajaan ditempatkan di daerah taklukan atau luar inti kerajaan.3 Dengan adanya ikatan kekerabatan antara raja dengan para pejabat dan para penguasa daerah terciptalah suatu jaringan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah yang diharapkan dapat memperkokoh kekuasaan raja dan daerah yang diharapkan dapat memperkokoh kekuasaan raja dan menjamin loyalitas para pejabat dan penguasa daerah terhadap raja. Namun sistem ini mengandung kelemahan karena di satu pihak raja Mataram yang berkuasa secara mutlak kurang didukung oleh lembaga birokrasi yang kuat dan mampu mengadakan pengawasan efektifitas di daerah. Hal ini antara lain disebabkan sulitnya komunikasi dan transportasi ke daerha-daerah. Di pihak lain adanya sistem pengangkatan pejabat dan penguasan daerah yang bersifat pribadi serta lemahnya kekuasaan golongan bangsawan menyebabkan seringnya terjadi perang perebutan tahta, karena hanya sebagai rajalah kelanggengan kekuasaan di segala bidang dapat diperoleh.4 Disamping struktur kerajaan yang bersifat feodalistik dan hirakris, raja Mataram bertumpu pada nilai-nilai magis dan religius yang hidup dalam pandangan hidup Jawa tentang manunggaling kawula lan gusti, menyatunya hamba / rakyat dan raja. Pandangan hidup yang berakar dari sinkretisme kebudayaan Hindu dan mistik Jawa ini menggambarkan tercapainya keseimbangan dan kesejahteraan hidup melalui penyatuan jiwa individual (atman, micro-cosmos) dengan jiwa alam semesta (brahman, macrocosmos), atau bersatunya manusia dengan Tuhan. Raja yang dilambangkan sebagai titisan dewa adalah menyatu dengan rakyat, yang satu melindungi dan memancarkan 265
  • 266. berkah, yang lain melaksanakan perintah-perintahnya dengan patuh, maka tercapailah kesejahteraan dan stabilitas negara, atau tata tentrem kerta raharja. 5 Nilai magis religius ini menjadi salah satu jaminan tunduknya rakyat kepada raja dan tiadanya oposisi melawan raja. Namun demikian rajapun dituntut menjadi raja yang adil dan bijaksana dalam memerintah rakyat. Pengaruh islam yang datang kemudian tidak banyak merubah pandangan magis religius ini, sedang konsep dewa-raja diubah menjadi raja sebagai khalifatulah (wakil Tuhan di dunia) yang juga suci. 6 Dalam kenyataan, patuh tidaknya rakyat tergantung dari penilaian apakah raja bertindak adil dan bijaksana sesuai dengan harapan mereka. Hubungan Kratof dan Desa Sistem ekonomi kerajaan Mataram, seperti masyarakat feodal pada umumnya, masih bersifat agraris sehingga penguasaan tanah merupakan kekuatan ekonomis yang utama. Secara formal raja menguasai seluruh tanah di kerajaannya, meskipun secara faktual hanya tanah yang dibudidayakan atas perintah dan biaya raja merupakan tanah miliknya pribadi (siti narawita dalem). Selanjutnya raja meminjamkan tanah kepada para pejabat dan pegawai sebagai gaji (siti lungguh) selama mereka memangku jabatan atau aktif bekerja.7 Khusus kepada anggota keluarga raja, sanak saudara, orang berjasa atau mereka yang dikasihi raja diberikan tanah permenen (siti ganjaran). Akan halnya tanah yang berad di luar wilayah inti kerajaan, raja menyerahkan kekuasaannya kepada bupati kepala daerah. Mereka berkewajiban memungut pajak atas tanah-tanah tersebut (siti majegan) dan menyerahkannya kepada raja pada waktu mereka resmi menghadap raja dua kali setahun (seba).8 Para pejabat dan kerabat raja penguasa tanah kemudian mengontrakkan tanah-tanah meraka kepada deman desa yang bersedia membayar pajak, baik berupa hasil bumi, tenaga kerja atau uang. Pada gilirannya para demang desa ini mengontrakkan kembali tanah-tanah ini kepada para bekel (sebagian besar adalah kepala desa). Para bekel inilah yang menggarap tanah-tanah bersama-sama dengan beberapa petani lain (sikep) sebagai anak buah mereka, dan sebagai pembayar pajak yang sebenarnya.9 Melalui sistem pengontrakan tanah-tanah pertanian dan sistem pemungutan pajak inilah terjalin hubungan antara raja, para bangsawan dan pejabat (priyayi) atau secara 266
  • 267. kolektif disebut golongan atas (bendara) dan rakyat petani (wong cilik). Dalam konsep sosial politik dan sosial budaya dapat disebut sebagai hubungan antara lingkungan kraton dan pedesaan. Secara konkret petani menjalin hubungan dengan golongan atas ini melalui pembayaran pajak atau bekerja-wajib di rumah pembesar atau yang menguasai lungguh di desa. Pada masa perang petani direkrut sebagai prajurit atau tenaga angkutan. Seluruhnya diurus oleh bekel yang menjadi patron petani di desa dan demang sebagai penguasa beberapa desa (kini kecamatan). Sebagai kawula kerajaan para petani mempunyai kesadaran bahwa ia mengabdi bendara dengan cara memenuhi kewajibankewajiban pajak dan kesetiaan sebagai pengikutnya dalam, dan sebagai imbalannya ia mendapat berkah keselamatan dari raja dan sang bendara. Namun demikian petani juga mempunyai rasa keadilan apakah sang bendara menuntut pajak yang wajar atau telah menindasnya dengan tuntutan yang berlebih-lebihan. Apabila beban pajak dirasakan terlalu berat, petani akan melakukan protes dengan berbagai cara dan sangat responsif terhadap ajakan untuk mengadakan pemberontakan yang akan melepaskan mereka dari beban penderitaan.10 Selain bendara di kota dan petani di desa masih ada tokoh ketiga yaitu kyai atau ulama dengan kelompok santrinya yang tinggal di lingkungan pedesaan. Kyai yang memiliki pondok pesantren merupakan golongan elit desa, pemimpin informal yang sangat dihormati rakyat petani karena reputasinya sebagai orang “suci”, menguasai ilmu agama Islam yang tinggi dan sering dianggap memiliki kekuatan gaib. Sebagian dari para ulama ini mempunyai hubungan-hubungan yang akrab dengan kraton, sebagai penasehat raja serta mendidik putra bangsawan dalam hal keagamaan. Golongan kyai dan ulama mempunyai pengaruh yang besar dalam menggerakkan rakyat pendesaan melawan penguasa dengan ideologi perang sabil. Demikian pula mereka dapat bersekutu dengan kelompok bangsawan yang ingin merebut tahta kerajaan.11 Penetrasi Kolonial, Kerawanan Sosial Ekonomi di Pedesaan dan Krisis Integritas Kraton. 267
  • 268. Awal abad XIX merupakan awal dari penetrasi kolonial yang sesungguhnya di Jawa. Sejak tahun 1800 setelah runtuhnya VOC Jawa diperintah secara langsung oleh pemerintah Negeri Belanda. Kolonialisme semakin dalam menghunjamkan kukunya ke dalam masyarakat Jawa melalui perebutan-perebutan wilayah kerajaan pribumi yang semakin luas, selalu perubahan – perubahan kelembagaan guna meningkatkan eksploitasinya dalam rangka menegakkan negara kolonial. Daendels memulainya dengan membentuk birokrasi moderen dengan jajaran pejabat pribumi yang digaji uang dan pejabat-pejabat Belanda sebagai atasan mereka. Pada masa pemerintahan Daendels Kesultanan Banten dihapuskan (1808). Ia mengambil sebagian wilayah-wilayah Kesultanan Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta melalui campur tangan yang semakin besar dalam masalah pemerintahan di kerajaan-kerajaan tersebut. 12 Raffles melanjutkan aneksasi bebagai wilayah kerajaan Yodyakarta dan Surakarta seperti daerah-daerah Kedu, Grobogan, Jipang (Bojonegoro), Japan dan Wirasama (sekitar Mojokerto), setelah melancarkan serbuan ke kraton Yogyakarta akibat konflik dengan Sultan Hamengku Buwono II (1812).13 Ia juga menghapuskan Kesultanan Cirebon pada tahun yang sama.14 Penghinaan dan kekalahan politik yang diderita kraton Yogyakarta terasa semakin mendalam karena jabatan patih sebagai pejabat ekslusif tertinggi justru harus diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah kolonial dan dengan sendirinya loyal kepada pemerintah Belanda. Melalui patih ini residen Belanda mengadakan campur tangan mengenai kebijaksanaan pemerintah kerajaan, seperti pengangkatan-pengangkatan Sultan baru, pemilihan dewan perwalian sultan yang masih kecil (Hamengku Buwono V) dan segala intrik istana yang dapat menguntungkan Belanda. 15 Lebih-lebih setelah diperkenalkannya gaya hidup Barat oleh Belanda dan sebagian para bangsawan. Ini sangat menusuk perasaan para sentana (keluarga raja), nayaka (pejabat tinggi) dan para pemuka agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam.16 Konflik politik dan konflik budaya yang semakin menggerogoti wibawa kraton Yogyakarta ini semakin dipertajam lagi dengan kondisi ekonomi para bangsawan di Yogyakarta maupun Surakarta yang diperburuk oleh politik Van de Capellen. Dia memerintahkan pengembalian tanah-tanah lungguh yang semula disewa oleh pengusaha perkebunan Belanda (1816-1823) kepada para bangsawan yang menyewakannya. Sebagai akibatnya para pengusaha Belanda menuntut pengembalian uang sewa tanah 268
  • 269. beserta bunganya kepada para penguasa lungguh yang tentu saja tidak mungkin mengembalikannya tanpa mereka jatuh miskin.17 Bahkan sebelum timbulnya masalah pengembalian sewa tanah ini pun sebagian pejabat dan bangsawan kerajaan telah berkurang pendapatan mereka, disebabkan lungguh mereka berada di daerah-daerah yang direbut Raffles (1812). Para priyayi dan sentana ini terpaksa menerima gaji dalam bentuk uang atau tanah yang ditempat lain yang jauh lebih sedikit daripada penghasilan mereka dahulu. Meningkatnya situasi konflik dalam posisi yang semakin merugikan bagi sebagian priyayi dan sentana ini menimbulkan dendam mereka yang kian membara kepada Belanda dan kelompok kraton lain yang menjadi sekutunya. Mereka hanya menantikan munculnya seorang pemimpin untuk melakukan kraman, yaitu memberontak melawan kekuasaan kolonial Belanda dan sekutunya. Situasi para petani di pedesaan tidak lebih baik pada perempatan pertama abad XIX. Perubahan-perubahan yang dilakukan pemerintah kolonial dalam rangka memantapkan penjajahannya membawa dampak pada kehidupan petani. Pembangunan prasarana oleh Daendels untuk kepentingan baik militer, pemerintahan dan ekonomis menuntut pengerahan tenaga besar-besaran. Pemerintah memanfaatkan sistem kerja-wajib tradisional untuk kepentingan umum seperti pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Pelabuhan dan benteng pertahanan. Untuk itu para petani di desa-desa dikerahkan besarbesaran untuk kerja-wajib umum (heerendiensten) yang menelan korban 10.000 orang mati dan puluhan ribu lainnya minggat ke wilayah kerajaan Jawa (Yogyakarta dan Surakarta).18 Penerapan sistem pajak tanah baru atau landrente oleh Raffles sejak tahun 1813 menambah berat beban rakyat petani. Semula landrente yang dibayar dengan uang ini menjadi satu-satunya pajak tanah. Pajak-pajak lain, termasuk kerja-wajib, dihapuskan. Dalam kenyataan pajak uang sulit dilaksanakan karena sebagian daerah belum mengembangkan ekonomi uang. Banyak petani terjerat hutang kepada Cina untuk membayar landrente dengan akibat petani menjadi sasaran pemerasan. Kerja wajib tidak dapat dihapuskan dan berbagai pungutan lain masih sering dilakukan.19 Di wilayah kerajaan Jawa yang tidak dikenakan sistem landrente, beban pajak petani tidak lebih ringan, sistem penyewaan tanah lungguh para bangsawan secara bertingkat-bertingkat kepada para demang, kemudian turun ke bekel sampai petani 269
  • 270. menyebabkan jumlah sewa atau pajak petani yang harus dibayar adalah paling besar. Lebih-lebih sejak wilayah kerajaan Jawa makin dipersempit sedang jumlah pegawai keluarganya semakin bertambah, eksploitasi tanah lungguh menjadi semakin berat.20 Keadaan ini makin diperburuk oleh penarikan berbagai cukai seperti cukai bandar atau pintu gerbang jalan-jalan dan cukai pasar yang mencegat setiap orang yang melaluinya. Pemungutan cukai dikontrakkan kepada orang-orang Cina yang sangat berkuasa dalam merogoh kantong pedagang dan petani, bila perlu dengan kekerasan. Tidaklah mengherankan bila orang-orang Cina pengontrak bandar ini sangat dibenci rakyat desa.21 Daerah kerajaan Jawa yang diambil Inggris seperti Kedu mengalami eksploitasi yang parah karena pungutan landrente makin lama makin tinggi, kerja-wajib makin hari makin bertambah, sementara cukai bandar dan pasar belum dihapus. Cukai baru dipungut melalui monopoli penjualan garam dan candu. 22 Tekanan eksploitasi ekonomis yang demikian berat di pedesaan Jawa menyebabkan lahirnya kelompok orang-orang yang tersisih, yaitu petani miskin yang tak mampu membayar pajak yang tinggi atau petani-petani tanpa lahan pertanian yang tak mampu menguasai lahan sendiri karena tingginya pajak. Mereka menjadi kuli gladhag pengangkut barang, menjadi pengembara atau menjadi pencuri atau kecu (perampok). 23 Adanya perbanditan, menurut Hobsbawn termasuk social banditry, menyebabkan rawannya situasi di pedesaan, khususnya di bidang kemanan. 24 Penduduk desa setiap malam harus siap siaga menjaga rumah mereka masing-masing karena setiap saat pencuri dapat memasuki rumah. Selain itu gerombolan kecu dapat secara mendadak menyerbu desa. Sasaran mereka adalah orang-orang kaya seperti orang-orang Cina pengontrak bandar, pengontrak penjualan candu dan pedagang yang memiliki banyak uang kontan. Bahkan mereka berani merampok ondercollecteur yang menyimpan banyak uang pembayaran landrente. Juga bekel yang kaya tidak luput dari sasaran mereka. 25 Gerombolan kecu ini secara paksa memasuki rumah korban, merampas uang dan barangbarang berharga dan mengancam penduduk apabila berani melaporkan kepada kepala desa atau penguasa keamanan daerah (gunung). Adalah menarik bahwa gerombolan kecu atau brandal ini juga dapat digunakan untuk alat politik. Sultan Hamengku Buwono II misalnya, pernah mengadakan kerja 270
  • 271. sama dengan gerombolan kecu untuk mengganggu keamanan di daerah gupernemen, sebagai pembalasan terhadap pengambilan beberapa wilayah kerajaan dan sikap Daendels yang tak mau menghargai Sultan.26 Kerawanan sosial di pedesaan mencapai puncaknya menjelang Perang Diponegoro ketika Gunung Merapi meletus pada tahun 1822, menghancurkan sebagian sawah-sawah di Kedu Selatan, peristiwa ini disusul oleh masa paceklik yang panjang karena musim kering dan melonjaknya harga beras.27 Situasi kritis ini semakin mematangkan situasi pecahnya suatu pemberontakan yang akan menyelamatkan rakyat petani dari keputusasaan mengatasi bencana yang mengancam subsistensi mereka. Diponegoro, Pengeran Santri dan Penyelamat Pangeran Diponegoro adalah saudara seayah dengan Sultan Hamengku Buwono IV. Sebagai putra sentana ia termasuk golongan bangsawan yang mempunyai status tinggi di mata rakyat. Menurut tradisi kraton Mataram, para bangsawan tinggal di sekitar kraton meskipun dia mempunyai lungguh di pedesaan di daerah tertentu. Bahkan bupati kepala daerah sering diharuskan tinggal di ibukota kerajaan, apabila terdapat kecurigaan dia akan memberontak.28 Dengan demikian jarang terjadi komunikasi langsung antar rakyat desa sebagai kawula dengan bendara mereka. Jarak sosial mereka sebagai wong cilik cukup jauh dengan pembesar yang menguasai daerah atau menguasai tanah lungguh yang mereka garap. Sebagian besar dari para petani di desa mungkin tak pernah bertemu dengan bendara mereka, karena masalah penyetoran pajak telah diurus oleh bekel sebagai wakil mereka. Berbeda dengan kebiasaan hidup para bangsawan, Diponegoro justru dibesarkan di Tegalrejo tempat lungguh buyutnya: Ratu Ageng, permaisuri Hamengku Buwono I, pendiri dinasti kesultanan Yogyakarta. Tinggalnya Ratu Ageng di desa menimbulkan kharisma tersendiri di kalangan para petani. Terlebih lagi hidupnya saleh, religius dan mempunyai hubungan yang akrab dengan para kyai dan ulama. Hal ini menyebabkan dia sangat dihormati oleh masyarakat desa-desa di sekitarnya. Dalam lingkungan pedesaan dengan penghayatan agama Islam yang sangat mendalam, namun tetap diasuh dalam nilai-nilai budaya Jawa serta adat istiadat kraton oleh buyutnya, Diponegoro tumbuh sebagai sosok pemimpin yang mengakar di kalangan masyarakat 271
  • 272. desa. Ia sangat akrab dengan para petani dan elit pedesaan. Ia mengelola tanah lungguhnya dengan produktif dan mengetahui para petani yang menggarap tanahnya. Oleh sebab itu ia tidak termasuk bangsawan yang mengeksploitasi petani dengan menuntut pajak lungguh yang sangat tinggi. Kemurahan hari seorang bendara kepada wong cilik ini menyebabkan Diponegoro sangat populer di lingkungan para petani yang menjamin loyalitas mereka sebagai pengikut-pengikut yang setia.29 Selanjutnya hubungan Diponegoro yang akrab dengan para ulama, kyai dan kunjungannya ke berbagai pesantren telah menumbuhkan ikatan-ikatan yang kuat dengan golongan santri. Latihan-latihan kerohanian yang dilakukan dengan tekun dalam bertapa, tirakat hingga seperti diakuinya sendiri mengalami penampakan gaib serta wahyu yang diterimanya sebagai orang yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan bangsa dan menegakkan agama Islam, makin meyakinkan dirinya untuk sewaktu-waktu tampil sebagai pemimpin memperjuangkan cita-citanya. 30 Untuk itu ia jelas mendapat dukungan dari para kyai dan ulama yang tersebar di berbagai daerah. Dalam kaitannya sebagai keluarga raja dan dalam kedudukannya sebagai wali Sultan Hamengku Buwono V, Diponegoro mempunyai hubungan yang cukup luas di lingkungan kraton. Kecerdasan dan kemampuannya yang luas mengenai hukum dan pemerintahan, hidupnya yang saleh dan integritasnya sebagai pangeran senior menyebabkan ia dihormati oleh sultan dan para bangsawan, dan disegani oleh kelompok yang tidak menyukainya. Bagi kelompok bangsawan yang merasa dirugikan oleh politik Belanda dan melihat krisis kewibawaan pemerintah yang tidak lagi mencerminkan kerajaan merdeka, keberanian Diponegoro menentang Belanda memberikan keyakinan bahwa dialah pemimpin yang mereka nantikan untuk mengenyahkan kekuasaan asing dan kafir, serta menegakkan kembali kerajaan Yogyakarta yang merdeka. Dengan demikian Diponegoro muncul sebagai pemimpin tradisional yang penuh kharisma, baik dari kualitas pribadinya yang memiliki keunggulan, maupun karena dorongan situasi masyarakat Jawa yang kritis.31 Dukungan yang diperolehnya dari petani, bangsawan, dan santri, bahkan juga dari golongan under world yaitu gerombolan dalam masyarakat Jawa pada masa itu.32 Semua faktor inilah yang menyebabkan perang dapat meluas ke seluruh wilayah kerajaan Yogyakarta dan Surakarta, ke wilayah yang direbut pemerintah kolonial sejak 1808 dan wilayah gupernemen yang lain.33 272
  • 273. Menurut Burger Perang Diponegoro tidak hanya suatu pemberontakan untuk melawan kekuasaan Barat, melainkan juga pemberontakan untuk mempertahankan struktur masyarakat feodal lama dalam kerajaan Jawa. 34 Bila dilihat perang ini memang didukung oleh separuh golongan bangsawan dan pejabat. Di kraton Yogyakarta 15 dari 29 pangeran berpihak kepada Diponegoro, 41 dari 88 orang bupati, dan 78 orang demang juga memilih pihaknya. Para bangsawan ini melalui demang mereka masing-masing dan para bekel bawahan mereka merekrut para petani di desa-desa menjadi prajurit. Ketika Diponegoro dinobatkan oleh rakyat sebagai Sultan di Selarong, ia menyusun hirarki pemerintahan yang tak jauh berbeda dengan struktur feodalistik Mataram yang lama. Namun demikian ada gejala perubahan yang menarik. Di beberapa desa di Bagelen yang berpihak kepada Diponegoro, tanah-tanah lungguh dihapuskan. Sebagai imbalannya petani diwajibkan mengirim prajurit beserta uang biaya hidup mereka. 35 Atau desa itu mengirim tenaga kuli setiap hari. Tampaknya ada dua usaha ke arah komunalisasi tanah, seperti terjadi pada masa Tanam Paksa kemudian. Masalah lain yang menarik adalah dukungan dari para petani di pedesaan di daerahdaerah bekas wilayah Mataram seperti Kedu dan Grobogan, yang telah menjadi daerah gupernemen sejak 1812. Walaupun para bupati dan sebagian demang di Kedu memihak Belanda, sebagian besar petani Kedu dipimpin bekel mereka atau atas inisiatif sendiri turut berperang di pihak Diponegoro.36 Bahkan banyak para petani di Karesidenan Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Rembang melarikan diri karena mereka dipaksa untuk menjadi prajurit melawan Diponegoro atau bekerja wajib angkutan perang.37 Dukungan serta solidaritas yang besar dari para petani dari Tegal atau Banyumas sebelah barat hingga Madiun di Jawa Timur untuk mendukung Diponegoro menunjukkan adanya motivasi tertentu yang berkaitan dengan kepentingan mereka sendiri. Dengan peperangan ini petani mempunyai harapan membebaskan diri dari himpitan beban kesengsaraan hidup seperti tekanan pajak, ketidakamanan serta mahalnya bahan pangan. Seperti pandangan Peter Carey dan Michael Adas, para petani melihat Diponegoro sebagai penjelmaan Ratu Adil, penguasa yang akan membebaskan mereka dari segala jenis eksploitasi dan pemerintahannya membawa kemakmuran, keadilan dan kedamaian.38 273
  • 274. Demikian pula golongan agama dengan para santrinya, yang berhasil membangkitkan semangat rakyat dengan ideologi perang sambil memberikan dukungan penuh pda Diponegoro dengan tujuan mengenyahkan orang Barat yang kafir, yang telah menodai nilai-nilai agama Islam. Bahwa Perang Diponegoro dapat bertahan selama lima tahun meskipun berhadapan dengan kekuasaan asing dan sekutunya yang memiliki organisasi dan teknologi canggih, adalah karena kesetiaan para petani, sekutu dan pendukung utamanya. Sampai saat-saat akhir peperangan, ketika semua sekutu serta sahabat meninggalkannya, dan dia dikejarkejar untuk ditangkap, tak seorang petanipun tega melaporkan kepada musuh. Juga ketika Diponegoro turun ke pesanggrahan Magelang untuk mengadakan perundingan dan berakhir dengan penangkapan, para petani datang berbondong-bondong menghadap dia. Mereka membawa berbagai bahan makanan sebagai persembahan.39 Rakyat petani yang sederhana itu tetap mengharap Diponegoro, sang Ratu Adil, menyelamatkan mereka. CATATAN BELAKANG 1) Lihat antara lain P.J. F. Low, 1894-1909, De Java Oorlog Van 825-1830, vol. I,II,III dan E.S. de Klerck, dengan judul sama Vo.IV,V,VI, Batavia, Martinus Nijhoff, H.J. De Graaf, 1949, Gesch. Van Indonesia. Batavia, Verhoeve. E.S. de Klerck 1912, De Atjeh Oorlog, Het Valstan Van de Oorlog, Vol.I. S. Gr Hage: M. Nij Hofb. E.B. Kusltra, 1885, Beschrijoij van de Atjeh-Oorlog. Tiga Jilid. S. Gravenhage: De gebraeders van Kleef.M.C.Ricklefs, 1981, A History of Modern Indonesia, London: MacMillan, h.113; Ibrahim Alfian, 1987, Perang di Jalan Allah Jakarta: Sinar Harapan, h, 266, 267. 2) Lihat Soemarsaid Moertono, 1974, State and Stalecraft in Old Java, Ithaca: Cornell University, h.111-116. 3) B. Schrieke, 1959, Indonesia Sociological Studies, II, Bandung / The Hague: W. van Hoeve, h.217-229. 4) Moertono, op,cit, h.14-20; Onghokham, 1983, Rakyat dan Negara, Jakarta : Sinar Harapan, h.93-95. 274
  • 275. 5) Gelar raja Yogyakarta yang resmi adalah Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalogo Ngabdurahman Sayidin Panatagama Kalipatuloh. Lihat M.C. Ricklefs, 1974, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749-1792, London: Oxford University Press, h.78; Moertono, op.cit, h.28-29. 6) Lihat G.P.Rouffaer, 1931, “Vorstenlander”, Over druk, Adatrechtbundel XXXIV, D, 81,h.54,62. 7) Loc.Cit 8) A.M. Djulianti Suroyo, 1989, Kerja Wajib Sebagai Eksploitasi Kolonial. Disertasi tidak diterbitkan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, h.78-80 9) Mengenai berbagai jenis protes petani serta sebab-sebab protes, lihat Sartono Kartodirejo, 1973, Protest Movementsin Rural Java, Singapore: Oxford University Press, Bab I, “Introductory”, h.1-20. 10) Dalam Sejarah kita kenal misalnya Perang Trunojoyo, lihat H.J.de Graaf, 1948, Greschiedenis Van Indonesia, S. Graven hage / Bandung: W.Van Hoeve, h.212-218. 11) Ibid.,h.362-370 12) Ibid.,h.376- 377; Rouffaer, op.cit.,h.13 13) Graaf, op.cit.,h.375-376. 14) Peter Carey, 1986, Asal Usul Perang Jawa, terjemahan Redaksi AZ, Jakarta: Pustaka Azet, h.55-63. 15) Ibid.,h. 67-70. 16) Tentang persewaan tanah lungguh oleh pengusaha Belanda lebih jauh lihat D.H.Burger, De Ontsluiting van Java’s Binnenland voor het wereld Verkeer, Wageningen, h. 84-87. 17) J.S. Bastin, 1957, The native Policy of Sir Stamford Raffles in Java and Sumatra, Oxford: Clarendon Press, h.66. 18) Burger, (1939), op.cit., h. 73-75. 19) Peter Carey, 1986, “Waiting for the Just King: The Agrarian World of SouthCentral Java from Giyanti (1955) to the Java War (1825-1830), “Modern Asian Studies, 20, I, h.67-80. 20) Peter Carey (1984), “Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java, 1755-1825,” Indonesia, (37), h. 16-19, 27, 33, 36. 275
  • 276. 21) Van Hogendorp, “Over de Staat”, “Collectie Baud 177, Ministerie Van Kolonien, Algemeene Rijksarchief (MK ARA). 22) Carey (1986), op.cit., h. 82-83. 23) Pertumbuhan perbanditan secara menyolok pada masa tertentu erat kaitannya dengan situasi pedesaan yang dilanda krisis, antara lain oleh merosotnya kemakmuran. Lihat E.J. Hobsbawm, 1972, Bandits, Harmondsworth: Penguinn Booksm h. 22-26. 24) Lihat arsip kerisdenan Kedu, “Proceedinga” (1815), Kedu 23 a, Arsip Nasional RI (ARNAS). 25) Lihat protes Daendels kepada Sultan Hamengkubuwono II, termuat dalam surat jawaban Sultan sekitar 1810, British Library, Add. MS. 12341, f. 240-244, dalam Peter Carey, 1980, The Archieve of Yogyakarta, I, Oxford: The British Academy, h. 73-74. 26) Harga padi per pikul waktu itu f5, - (1822), sedang harga tahun-tahun sesudah perang hanya antara f1, 25-f3,- (1837). Lihat “Historisch Overzigt 1830-1870”, Residentie Archief, Pasar Ikan 1068, ARNAS. 27) Schrieke, op.cit., h. 217-221. 28) Carey (1986 a), op. cit., h. 42. 29) Peter Carey, 1986 b), Ekologi Kebudayaan Jawa dan Kitab Kedung Kebo, Terjemahan Redaksi PA, Jakarta: Pustaka Azet, h.22-43. 30) Mengenai berbagai tipe kepemimpinan lebih jauh lihat antara lain Robert A. Nisbet, 1970, The Social Bond, New York: Alfred A. Knopf, h. 119-135; lihat juga Soerjono Soekanto, 1982, Sosiologi. Suatu Pengantar, jakarta: Rajawali, h. 285-292. 31) Carey (1986 a), op. cit, h. 68. 32) Lihat Sagimun M.D., 1960, Pahlawan Diponegoro Berjuang, Jogjakarta: Tjabang Bagian Bahasa ? urtan Adat Istiadat dan Cerita Rakyat Jawatan Kebudayaan Departemen P.P. dan K; Soekesi Soemoatmodjo, 1973, “Perang Diponegoro,” dalam A. Sartono Kartodirjo, ed., 1973, Sejarah Perlawanan-perlawanan terhadap Kolonialisme, Jakarta: Departemen pertahanan Keamanan, Pusat Sejarah ABRI, h. 123-161. 276
  • 277. 33) D.H. Burger, 1975, Sociologisch-Economische Geschiedenis van Indonesia, I, Wageningen: Landbouwschool, h. 85-86. 34) W.B. Bergsma, 1896, Eindresume, III, Batavia: Landsch Drukkerij, Bijlage, h. 511. 35) Lihat uraian lengkap dalam Louw dan De Klerck, op.cit. 36) Bergsma, op.cit., h. 71, 119, 125, 162, 185, 198. 37) Lihat Michael Adas, 1988, Ratu Adil, terjemahan M. Tohir effendi, Jakarta: Rajawali, h. 168-173; juga Carey (1986 b), op.cit., h. 25-43. 38) Lihat Babad Diponegoro, 1983, alih aksara Ambaristi dan Lasman Marduwiyota, Jakarta: Balai Pustaka untuk Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, II, h. 399-406. @@@ 277
  • 278. __________________________________________________________ Makalah disusun dan disajikan oleh DR. A.M.. Djuliati Suroyo dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip dalam Seminar sehari Sejarah Perang Diponegoro, 20 Februari 1990 7. SOSOK PANGERAN DIPONEGORO DALAM NASKAH-NASKAH JAWA Dalam kepustakaan Jawa terjumpai sejumlah naskah mengenai biografi dan perjuangan Pangeran Diponegoro. Namun karena keterbatasan waktu untuk menyampaikan uraian ini, dengan sengaja mutalaah ini hanya terbatas membicarakan sosok Pangeran Diponegoro berdasarkan naskah autobiografi Babad Diponegoro dan sebuah naskah Babad Diponegoro dari bupati Purworejo I Raden Adipati Cakranegara, yang terkenal juga dengan nama Buku Kedhung Kebo. Keduanya koleksi Bagian Naskah Perpustakaan Nasional di Jakarta. (Naskah Br 149 dan KBG 5). Dalam naskah autobiografi Babad Diponegoro Pangeran Diponegoro menuturkan dirinya sebagai seorang pribadi yang sangat saleh dan taat kepada agama Islam. Ketatannya kepada agama Rasul ini sudah jelas tersebab dari pendidikan yang diterimanya sejak kecil di Tegalrejo di bawah asuhan nenek buyutnya, Kanjeng Ratu Ageng, istri Sultan Hamengku Buwono I. Di samping itu, Pangeran Diponegoro juga diceritakan senang sekali berkelana, berkhalwat dan berkumpul dengan wong cilik. Beliau sering bertapa dengan sangat bermati raga dan memakai pakaian serba jelek. Oleh karena itulah jarang orang mengetahui kejatian dirinya. Jika identitas dirinya ini sampai ketahuan guru para santri, Pangeran Diponegoro segera pergi. Pangeran Diponegoro memang senang berkumpul dengan para santri yang berasal dari kalangan rakyat kecil dan sama-sama nista seperti dirinya. 278
  • 279. Sebab itu, menurut penuturan naskah autobiografi Babad Diponegoro selanjutnya, Pangeran Diponegoro sering berpindah-pindah pondok. Jika Kanjeng Pangeran merasa bosan di pesantren, Kanjeng Pangeran pindah ke hutan, gunung, jurang yang berbatu-batu karang, gua dan kadang-kadang berkelana di sepanjang pesisir. Jika bulan Ramadhan tiba Kanjeng Pangeran beribadat di dalam gua yang sunyi. Dari naskah autobiografi Babad Diponegoro maupun naskah Buku Kedhung Kebo kita juga dapat menyimpulkan, Pangeran Diponegoro mempunyai watak yang keras. Penulis sejarah Belanda Hageman malah menyebutnya “brangasan”. Perwatakan ini nampak jelas dalam menghadapi patih Danureja yang berkali-kali telah melakukan perbuatan yang sangat menyinggung harkat dirinya sebagai wali raja. Setelah berperang melawan Belanda kita melihat penampilan Pangeran Diponegoro sebagai seorang panglima dan sekaligus sebagai seorang sultan yang sangat piawai dalam berdiplomasi menghadapi pihak Belanda. Ketaatannya kepada agamanya tidak beringsut sedikit pun, juga setelah beliau harus menghadapi berbagai macam masalah pelik yang sangat menyulitkan perjuangannya. Ketegarannya luar biasa. Satu demi satu para pemimpin perangnya telah meninggal atau menyeberang ke pihak Belanda. Beliau juga harus menghadapi sedemikian banyak problem dengan Kyai Mojo dan Alibasah Sentot Prawirodirjo yang keduanya menghendaki sebagian dari kekuasaan beliau sebagai seorng Sultan. Kendati demikian, beliau tetap meneruskan perjuangannya. Bahkan, setelah fisik beliau melemah karena serangan penyakit demam, beliau tetap berdiri di depan menghadapi pihak Belanda. Naskah autobiografi Babad Diponegoro dan Buku Kedhung Kebo menunjukkan betapa beratnya upaya pihak Belanda menghadapi dirinya pada saat-saat sulit semacam itu. Beranjak dari sinilah barang kali sudah saatnya bagi kita untuk menanyakan , “Benarkah Pangeran Diponegoro pernah bertemu dengan Jendral De Kock di Magelang, yang kemudian telah menangkap dan mengantarnya ke tempat pengasingannya di Manado dan Makasar sebagai tawanan negara?”. Baik naskah autobiografi Babad Diponegoro maupun naskah Buku Kedhung Kebo mengakui kebenaran penuturan sejarah yang sangat terkenal dan telah klasikal ini. Namun, beberapa prasasti dan sumber-sumber sejarah lain di Sumenep justru telah menyangkal kebenaran penuturan tersebut. Tokoh yang tertangkap sebenarnya bukan 279
  • 280. Pangeran Diponegoro, tapi seorang sahabatnya, yang dengan sengaja telah ditampilkannya sebagai dirinya menghadapi siasat pihak Belanda. Dialah Muhammad Jiko Maturi yang dengan dibekali “ngelmu” telah berhasil mengelabuhi pihak Belanda. Memang, inilah akhirnya yang terjadi. Sebuah skandal sejarah yang benar-benar luar biasa. Pihak Belanda berpikir dapat menipu Pangeran Diponegoro dan menangkapnya dengan paksa demi mengakhiri perang Jawa yang hampir-hampir membangkrutkan pemerintahannya di Indonesia. Tidak tahunya mereka justru telah berhasil dikelabuhi oleh Pangeran Diponegoro sendiri. Sebuah naskah tentang sejarah raja-raja Madurayang ringkasannya pernah diterbitkan oleh Pelmer van den Broek pada tahun 1877 menyajikan sebuah fragmen menarik yang barang kali dapat menguatkan dugaan kita. Dalam naskah ini dituturkan, ketika Pangeran Diponegoro datang ke Magelang dari Menoreh dalam rangka perundingannya dengan Jendral De Kock, beliau telah naik seekor kuda berwarna coklat tua, memakai jubah putih, serban hijau, sedang mukanya disembunyikan di belakang sebuah cadar dari kain kasa putih. Data ini sudah barang tentu menarik perhatian kita dan menimbulkan pertanyaan, Mengapa Pangeran Diponegoro sampai mengenakan cadar muka dari kain kasa? Apa sebenarnya maksudnya? Apakah perbuatan ini tidak merupakan suatu siasat agar para pengikut beliau tidak mengetahui, bahwa sosok yang datang dan naik kuda itu sebenarnya Pangeran Diponegoro palsu? Dalam penuturan sejarah Pangeran Diponegoro sering kita dengar, ketika Pangeran Diponegoro bertemu dengan Jendral De Kock di Karesidenan Magelang, beliau disertai oleh putera beliau, Pangeran Diponegoro Anom yang dalam naskah autobiografi Babad Diponegoro dikenal sangat berani. Mengapa Pengeran Diponegoro Anom sampai diam saja melihat perbuatan Jendral De Kock yang semena-mena? Apakah ini tidak menguatkan sangka-sangka kita, bahwa sosok yang bertemu dengan Jendral De Kock sebenarnya bukan Pangeran Diponegoro, tapi Muhammad Jiko Maturi? Inilah sebuah masalah, yang saya rasa, harus mendapatkan perhatian cermat dari para peserta seminar ini. Sebuah masalah yang sangat pelik memang, tapi harus segera dipecahkan, justru karena keberadaan sumber-sumber sejarah baru mengenai Pangeran Diponegoro dari Sumenep. Benarkah sumber-sumber ini merupakan sumber-sumber 280
  • 281. sejarah yang sahih? Jika benar demikian, lalu bagaimana halnya dengan naskah autobiografi Babad Diponegro? Siapa sebenarnya penulis naskah ini? Pertanyaan ini sangat penting, karena hingga dewasa ini justru belum pernah diketahui naskah asli dari Babad Diponegoro ini. Masyarakat Sumenep – terutama keturunan Pangeran Diponegoro percaya, bahwa betapapun, kesejarahan Pangeran Diponegoro yang benar pasti akan terungkap. Bahkan mereka tidak lupa menyampaikan wasiat Pangeran Diponegoro, bahwa kejelasan tersebut akan terjadi kelak pada masa keturunannya yang ketujuh. Pada hal, keturunan Pangeran Diponegoro di Madura sekarang telah mencapai keturunan yang ketujuh. @@@ 281
  • 282. ----------------------------------------------------------------------------------------------------Makalah disusun dan disajikan oleh Amen Budiman, sejarawan dari Semarang, dalam Seminar Sehari Sejarah Perang Diponegoro, diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip Semarang pada 20 Fwbruari 1990 KERANJANG KETIGA : 282
  • 283. PENGAJARAN SEJARAH 1. SEJARAH DAN PEMDIDIKAN A. PENDAHULUAN 1. Sejarah dan Pendidikan 283
  • 284. Judul di atas agak membingungkan dan penuh teka-teki. Berikut ini akan kita bicarakan satu persatu. Kemungkinan yang pertama adalah, bahwa yang dimaksud adalah Pendidikan Sejarah. Kalau itu yang dimaksud, tentu yang dimaksudkan adalah kegiatan pendidikan melalui pengenalan peristiwa-peristiwa sejarah atau ilmu sejarah, seperti dikembangkan di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menghasilkan calon-calon pendidikan atau pengajar, atau guru, seperti IKIP. LPTK ini menyiapkan para calon tenaga guru bidang studi, termasuk guru sejarah. Kemungkinan kedua yang dimaksudkan adalah Sejarah Pendidikan. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kegiatan pendidikan bagi calon ahli ilmu sejarah atau sejarawan. Sebagai calon sejarawan mereka mendapat berbagai bidang kajian sejarah khusus. Misalnya Sejarah Eropa, Sejarah Amerika, Sejarah, Indonesia dsb. Di samping itu mereka juga menyelenggarakan kajian tentang Sejarah Intelektual, Sejarah Kesenian, Sejarah Pendidikan, Sejarah Sosial, maupun Sejarah Mentalita. Kegiatan kajian sejarah tersebut diselenggarakan di Fakultas Sastra pada sesuatu Universitas. 2. Masalah yang timbul. Sejunlah masalah yang dihadapi sekarang adalah : a. Dapatkah atau mampukah bidang studi sejarah berperan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan nasional? Ini merupakan masalah konseptual. b. Dapatkah secara kelembagaan sekolah melaksanakan peranan atau fungsi bidang studi sejarah dalam mancapai tujuan pendidikan nasional tersebut? c. Dapatkah atau siapkah secara kurikuler fungsi dan peranan bidang studii sejarah dikembangkan unituk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut? B. DAPATKAH SEJARAH MENGAJARKAN SESUATU Pernyataan yang nenjadi klasik mengenai kegunaan sejarah telah dikemukakan oleh Hirodotus, yaitu " Historia Vitae Magistra".Sojarah merupakan guru kehidupan, katanya. Artinya bahwa sejarah memiliki kemampuan untuk digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang dikehendaki umat manusia, karena pada hakekatnya 284
  • 285. sejarah umat manusia memang berisi pengalaman manusia yang penuh dengan pelajaran tentang hidup. 1.Fungsi Sejarah Mengenai fungsi sejarah bagi kehidupan umat unnusia nampaknya tergantung dari pemahaman tentang sejarah itu sendiri, yang amat bervariasi sepanjang sejarah. a. Sejarah berfungsi genesis, oleh karenanya bersifat deskriptif dan informatif. Dalam hal ini sejarah berisi rangkaian fakta yang dianggap menarik untuk dikisahkan dari generasi ke generasi. Sejarah hanya berisi hal-hal tentang what, who, when, where serta how. Sejarah dengan demikian lebih merupakan hasil sastra atau buah karya seni manusia, yang amat patut dikisahkan atau didongengkan (histcay as art ) . b. Sejarah berfungsi didaktis, oleh karcnanya penyajian bahan sejarah dipilih fakta mengenai pengalaman masa lalu yang membanggakan, menyedihkan dan sebagainya yang dikomunikasikan kepada generasi baru untuk tujuan mengobarkan semangat. Berbagai nilai luhur (ideal) bangsa ingin ditanamkan lewat sejarah, agar terjadi proses sosialisasi dalam generasi baru, untuk menunbuhkan semangat kepahlawanan, patriotisme, nasionalisme, dan sebagainya. c. Sejarah sebagai kajian ilmu. Aliran Sejarah Baru (New Historisism) amat menekankan pada perlunya penyajian fakta sejarah secara lebih objektif, apa adanya, dan lugas. Sejarah oleh karenanya harus