Asuhan keperawatan pada luka bakar
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Asuhan keperawatan pada luka bakar

  • 8,177 views
Uploaded on

ASKEP PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR

ASKEP PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
8,177
On Slideshare
8,173
From Embeds
4
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
70
Comments
0
Likes
1

Embeds 4

http://octojames.blogspot.com 4

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN LUKA BAKAR By. OCTO ZULKARNAIN,.S.Kep.Ns Octojames.blogspot.com
  • 2. Definisi Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam
  • 3. Etiologi 1. Luka Bakar Suhu Tinggi(Thermal Burn) a. Gas b. Cairan c. Bahan padat (Solid) 2. Luka Bakar Bahan Kimia (chemical Burn) 3. Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn) 4. Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)
  • 4. Fase Luka Bakar A. Fase akut. Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut. Sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
  • 5. B. Fase sub akut. Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan: 1. Proses inflamasi dan infeksi. 2. Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional. 3. Keadaan hipermetabolisme.
  • 6. C. Fase lanjut. • Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. • Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
  • 7. Klasifikasi Luka Bakar : Dalamnya luka bakar Kedalaman Penyebab Penampilan Ketebalan partial superfisial (tingkat I) Warna Jilatan api, sinar Kering tidak ada Bertambah ultra violet gelembung. merah. (terbakar oleh Oedem minimal matahari). atau tidak ada. Pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas. Perasaan Nyeri
  • 8. Kedalaman Penyebab Penampilan Warna Perasaan Lebih dalam Kontak dengan Blister besar dan Berbintik-bintik Sangat dari bahan air atau lembab yang yang kurang nyeri ketebalan bahan padat. ukurannya jelas, putih, partial Jilatan api bertambah besar. coklat, pink, (tingkat II) kepada Pucat bila ditekan daerah merah Superfisial pakaian. dengan ujung coklat. Jilatan jari, bila tekanan Dalam langsung dilepas berisi kimiawi. kembali. Sinar ultra violet.
  • 9. Kedalaman Ketebalan sepenuhnya (tingkat III) Penyebab Penampilan Kontak dengan bahan cair atau padat. Nyala api. Kimia. Warna Kering disertai kulit Putih, kering, mengelupas. hitam, coklat Pembuluh darah tua.Hitam. seperti arang Merah. terlihat dibawah kulit yang Kontak dengan arus mengelupas. listrik. Gelembung jarang, dindingnya sangat tipis, tidak membesar. Tidak pucat bila ditekan. Perasaan Tidak sakit, sedikit sakit. Rambut mudah lepas bila dicabut.
  • 10. Luas Luka Bakar Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atau rule of wallace yaitu: 1) Kepala dan leher : 9% 2) Lengan masing-masing 9% : 18% 3) Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36% 4) Tungkai masing-masing 18% : 36% 5) Genetalia/perineum : 1%
  • 11. Berat Ringannya Luka Bakar Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain : o Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh. o Kedalaman luka bakar. o Anatomi lokasi luka bakar. o Umur klien. o Riwayat pengobatan yang lalu. o Trauma yang menyertai atau bersamaan.
  • 12. AMERICAN COLLEGE OF SURGEON Membagi Dalam: Parah – critical: Tingkat II : 30% atau lebih. Tingkat III : 10% atau lebih. Tingkat III : pada tangan, kaki dan wajah. Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.
  • 13. Sedang – moderate: a) Tingkat II : 15 – 30% b) Tingkat III : 1 – 10%
  • 14. Ringan – minor: a) Tingkat II : kurang 15% b) Tingkat III : kurang 1%
  • 15. Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar Perubahan Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama) Tingkatan diuretik (12 jam – 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari Pergeseran Vaskuler ke Hemokonsent Interstitial ke Hemodilusi. cairan insterstitial. rasi oedem vaskuler. ekstraseluler. pada lokasi luka bakar.
  • 16. Perubahan Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama) Tingkatan diuretik (12 jam – 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari Fungsi renal. Aliran darah Oliguri. renal berkurang karena desakan darah turun dan CO berkurang. Kadar Na+ Defisit sodium. sodium/natrium. direabsorbsi oleh ginjal, tapi kehilangan Na+ melalui eksudat dan tertahan dalam cairan oedem. Peningkatan Diuresis. aliran darah renal karena desakan darah meningkat. Kehilangan Na+ Defisit sodium. melalui diuresis (normal kembali setelah 1 minggu).
  • 17. Perubahan Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama) Tingkatan diuretik (12 jam – 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari K+ dilepas Hiperkalemi sebagai akibat cidera jarinagn sel-sel darah merah, K+ berkurang ekskresi karena fungsi renal berkurang. Kadar protein. Kehilangan Hipo protein ke proteinemia. dalam jaringan akibat kenaikan Kadar potassium. K+ bergerak Kadar kembali ke potassium. dalam sel, K+ terbuang melalui diuresis (mulai 4-5 hari setelah luka bakar). Kehilangan protein waktu berlangsung terus Kadar protein.
  • 18. Perubahan Tingkatan diuretik Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama) (12 jam – 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari Keseimbangan nitrogen. Katabolisme jaringan, Keseimbangan kehilangan protein nitrogen negatif. dalam jaringan, lebih banyak kehilangan dari masukan. Katabolisme jaringan, Keseimbangan kehilangan protein, nitrogen negatif. immobilitas. Keseimbnagan asam basa. Metabolisme anaerob Asidosis metabolik. karena perfusi jarinagn berkurang peningkatan asam dari produk akhir, fungsi renal berkurang (menyebabkan retensi produk akhir tertahan), kehilangan bikarbonas serum. Kehilangan sodium bicarbonas melalui diuresis, hipermetabolisme disertai peningkatan produk akhir metabolisme. Asidosis metabolik.
  • 19. Perubahan Tingkatan hipovolemik ( s/d 48-72 jam pertama) Tingkatan diuretik (12 jam – 18/24 jam pertama) Mekanisme Dampak dari Mekanisme Dampak dari Respon stres. Eritrosit Lambung. Jantung. Terjadi karena Aliran darah renal trauma, berkurang. peningkatan produksi cortison. Terjadi karena Luka bakar termal. panas, pecah menjadi fragil. Curling ulcer (ulkus Rangsangan central pada gaster), di hipotalamus dan perdarahan peningkatan jumlah lambung, nyeri. cortison. MDF meningkat 2x Disfungsi jantung. lipat, merupakan glikoprotein yang toxic yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar. Terjadi karena sifat Stres karena luka. cidera berlangsung lama dan terancam psikologi pribadi. Tidak terjadi pada Hemokon sentrasi hari-hari pertama. Akut dilatasi dan paralise usus. Peningkatan jumlah kortison Peningkatan zat CO menurun MDF (miokard depresant factor) sampai 26 unit, bertanggung jawab terhadap syok spetic.
  • 20. Indikasi Rawat Inap Luka Bakar 1. Luka bakar grade II: * Dewasa > 20% * Anak/orang tua > 15% 2. Luka bakar grade III. 3. Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll.
  • 21. Penatalaksanaan Resusitasi A, B, C. a. Airway (bebaskan jalan nafas) b. Breathing (Pernafasan): - Udara panas : mukosa rusak, oedem, obstruksi. - Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin : iritasi, Bronkhokontriksi , obstruksi, gagal nafas. c. Circulation: Gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler : hipovolemi relatif, syok, ATN, gagal ginjal. Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka
  • 22. Resusitasi cairan : Baxter. Dewasa : Baxter. RL 4 cc x BB x % LB/24 jam. Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal: RL : Dextran = 17 : 3 2 cc x BB x % LB. Kebutuhan faal: < 1 tahun : BB x 100 cc 1 – 3 tahun : BB x 75 cc 3 – 5 tahun : BB x 50 cc ½ diberikan 8 jam pertama ½ diberikan 16 jam berikutnya.
  • 23. Hari kedua: Dewasa : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin. ( 3-x) x 80 x BB gr/hr 100 (Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt. Anak : Diberi sesuai kebutuhan faal.
  • 24. • Monitor urine dan CVP. • Topikal dan tutup luka - Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik. - Tulle. - Silver sulfa diazin tebal. - Tutup kassa tebal. - Evaluasi 5 – 7 hari, kecuali balutan kotor.
  • 25. Obat – obatan: – Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian. – Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur. – Analgetik : kuat (morfin, petidine) – Antasida : kalau perlu
  • 26. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
  • 27. Pengkajian Aktifitas/istirahat: Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus. Sirkulasi: Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
  • 28. Integritas ego: Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan. Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah. Eliminasi: Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.
  • 29. • Makanan/cairan: Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah. • Neurosensori: Gejala: area batas; kesemutan. Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).
  • 30. • Nyeri/kenyamanan: Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri. • Pernafasan: Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). Tanda: serak; batuk mengi; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).
  • 31. Keamanan: Tanda: Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seperti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar. Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).
  • 32. Pemeriksaan Diagnostik:  LED: mengkaji hemokonsentrasi.  Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.  Gas darah arteri (GDA)  Sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.  BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.  Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.  Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.  Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.  Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.
  • 33. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b.d obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia. Luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterdatasan pengembangan dada. 2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan perdarahan. 3. Resiko gangguan pertukaran gas b.d cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher. 4. Resiko tinggi infeksi b.d Pertahanan primer tidak adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
  • 34. 5. Nyeri b.d Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka. 6. Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi neurovaskuler perifer b.d Penurunan/interupsi aliran darah arterial/vena, contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan edema. 7. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh b.d status hipermetabolik (sebanyak 50 % – 60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein. 8. Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.
  • 35. Resiko Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif 1. Tinggikan kepala tempat tidur. Hindari penggunaan bantal di bawah kepala, sesuai indikasi 2. Dorong batuk/latihan nafas dalam dan lakukan perubahan posisi (sering). 3. Lakukan hisapan lendir (bila perlu) pada perawatan ekstrem, pertahankan teknik steril. 4. Tingkatkan istirahat suara tetapi kaji kemampuan untuk bicara dan/atau menelan sekret oral secara periodik. 5. Amati perubahan perilaku/mental contoh gelisah, agitasi, kacau mental. 6. Awasi 24 jam keseimbngan cairan, perhatikan variasi/perubahan.
  • 36. 7. Lakukan program kolaborasi meliputi : - Berikan pelembab O2 melalui cara yang tepat, contoh masker wajah - Awasi/gambaran seri GDA - Kaji ulang seri rontgen - Berikan/bantu fisioterapi dada/spirometri intensif. - Siapkan/bantu intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi.
  • 37. 8. Kaji refleks gangguan/menelan; perhatikan pengaliran air liur, ketidakmampuan menelan, serak, batuk mengi.Awasi frekuensi, irama, kedalaman pernafasan ; perhatikan adanya pucat/sianosis dan sputum mengandung karbon atau merah muda. 9.Auskultasi paru, perhatikan stridor, mengi/gemericik, penurunan bunyi nafas, batuk rejan. 10. Perhatikan adanya pucat atau warna buah ceri merah pada kulit yang cidera
  • 38. Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan 1. Mulai terapi IV yang ditentukan dengan jarum lubang besar (18G), lebih disukai melalui kulit yang telah terluka bakar. Bila pasien menaglami luka bakar luas dan menunjukkan gejala-gejala syok hipovolemik, bantu dokter dengan pemasangan kateter vena sentral untuk pemantauan CVP. 2. Koordinasi dg dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam, haus, takikardia, CVP < 6 mmHg, bikarbonat serum di bawah rentang normal, gelisah, TD di bawah rentang normal, urine gelap atau encer gelap.
  • 39. 3. Konsultasi dokter bila manifestasi kelebihan cairan terjadi. 4. Berikan antasida yag diresepkan atau antagonis reseptor histamin seperti simetidin 5. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : - Diuretika contohnya Manitol (Osmitrol) - Kalium - Antasida
  • 40. 6. Pantau: - Tanda-tanda vital setiap jam selama periode darurat, setiap 2 jam selama periode akut, dan setiap 4 jam selama periode rehabilitasi. - Jumlah & Warna urine  Masukan dan haluaran setiap jam selama periode darurat, setiap 4 jam selama periode akut, setiap 8 jam selama periode rehabilitasi. - Hasil-hasil DL dan laporan elektrolit. - Berat badan setiap hari. - CVP (tekanan vena sentral) setiap jam bila diperlukan. - Status umum setiap 8 jam.
  • 41. 7. Lakukan program kolaborasi meliputi : - Pasang / pertahankan kateter urine - Pasang/ pertahankan ukuran kateter IV. - Berikan penggantian cairan IV yang dihitung, elektrolit, plasma, albumin. 8. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium ( Hb, elektrolit, natrium ).
  • 42. 9. Observasip Perkirakan drainase luka dan kehilangan yang tampak 10. Ukur lingkar ekstremitas yang terbakar tiap hari sesuai indikasi 11. Pantau perubahan mental 12. Observasi distensi abdomen,hematomesis,feces hitam 13. Pantau Hemates drainase NG dan feces secara periodik.
  • 43. Resiko Gangguan Pertukaran Gas 1. Anjurkan pernafasan dalam dengan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam selama tirah baring. 2. Pertahankan posisi semi fowler, bila hipotensi tak ada. 3. Untuk luka bakar sekitar torakal, beritahu dokter bila terjadi dispnea disertai dengan takipnea. Siapkan pasien untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan
  • 44. 4. Pantau laporan GDA dan kadar karbon monoksida serum.Beriakan suplemen oksigen pada tingkat yang ditentukan. Pasang atau bantu dengan selang endotrakeal dan tempatkan pasien pada ventilator mekanis sesuai pesanan bila terjadi insufisiensi pernafasan (dibuktikan dengan hipoksia, hiperkapnia, rales, takipnea dan perubahan sensorium).
  • 45. Resiko Tinggi Infeksi 1. Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka bakar luas yang mengenai area luas tubuh. Gunakan linen tempat tidur steril, handuk dan skort untuk pasien. Gunakan skort steril, sarung tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Tempatkan radio atau televisis pada ruangan pasien untuk menghilangkan kebosanan. 2. Bila riwayat imunisasi tak adekuat, berikan globulin imun tetanus manusia (hyper-tet) sesuai pesanan
  • 46. 3. Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jaringan nekrotik (debridemen) sesuai pesanan. Berikan mandi kolam sesuai pesanan, implementasikan perawatan yang ditentukan untuk sisi donor, yang dapat ditutup dengan balutan vaseline atau op site. 4. Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Gunakan sarung tangan steril dan berikan krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka bakar dengan ujung jari. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka.
  • 47. 5. Beritahu dokter bila demam drainase purulen atau bau busuk dari area luka bakar, sisi donor atau balutan sisi tandur. Dapatkan kultur luka dan berikan antibiotika IV sesuai ketentuan. 6. Mulai rujukan pada ahli diet, berikan protein tinggi, diet tinggi kalori. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral.
  • 48. 7. Pantau: - Penampilan luka bakar (area luka bakar, sisi donor dan status balutan di atas sisi tandur bial tandur kulit dilakukan) setiap 8 jam. - Suhu setiap 4 jam. - Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
  • 49. Nyeri 1. Berikan analgesik narkotik yang diresepkan dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas.Pertahankan pintu kamar tertutup, tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan. 2.Berikan ayunan di atas tempat tidur bila diperlukan.
  • 50. 3. Bantu dengan pengubahan posisi setiap 2 jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan tambahan sesuai kebutuhan, khususnya bila pasien tak dapat membantu membalikkan badan sendiri
  • 51. Resiko Tinggi Gangguan Perfusi Jaringan 1. Untuk luka bakar yang mengitari ekstermitas atau luka bakar listrik, pantau status neurovaskular dari ekstermitas setaip 2 jam.Pertahankan ekstermitas bengkak ditinggikan. 2. Beritahu dokter dengan segera bila terjadi nadi berkurang, pengisian kapiler buruk, atau penurunan sensasi. Siapkan untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.
  • 52. Gangguan integritas kulit 1. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi. 2. Tinggikan area graft bila mungkin/tepat. Pertahankan posisi yang diinginkan dan imobilisasi area bila diindikasikan. 3. Pertahankan balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi. 4. Cuci sisi dengan sabun ringan, cuci, dan minyaki dengan krim, beberapa waktu dalam sehari, setelah balutan dilepas dan penyembuhan selesai.
  • 53. 5. Lakukan program kolaborasi : - Siapkan / bantu prosedur bedah/balutan biologis. 6. Pantau dan catat ukuran, warna, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.Lakukan perawatan luka bakar yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.
  • 54. Daftar Pustaka             Brunner and suddart. (1988). Textbook of Medical Surgical Nursing. Sixth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 1293 – 1328. Carolyn, M.H. et. al. (1990). Critical Care Nursing. Fifth Edition. J.B. Lippincott Campany. Philadelpia. Hal. 752 – 779. Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya. Doenges M.E. (1989). Nursing Care Plan. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). F.A. Davis Company. Philadelpia. Donna D.Ignatavicius dan Michael, J. Bayne. (1991). Medical Surgical Nursing. A Nursing Process Approach. W. B. Saunders Company. Philadelphia. Hal. 357 – 401. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Goodner, Brenda & Roth, S.L. (1995). Panduan Tindakan Keperawatan Klinik Praktis. Alih bahasa Ni Luh G. Yasmin Asih. PT EGC. Jakarta. Guyton & Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. Volume I. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.